Cigiringsing yang tiada bising

Oktober 23, 2008

Kampung halamanku kini di Cigiringsing, yang, dari tempat ini aku bisa memandang Bandung dari atas. Rasa syukurku telah sepantasnyalah disampaikan kepada Maha Pemberi, karena tidak semua orang diberi rezeki berupa tempat tinggal yang pemandangannya demikian indah serta cuacanya demikian sejuk, dan situasinya demikian damai. Maka untuk itu aku tuliskan sebuah puisi:

ANUGRAH TUHAN

cinta-Mu telah mengantarku
pada rumah yang indah
dengan hiasan di mata cerah
kelap-kelip lampu malam Kota Kembang

cinta-Mu telah menelan hatiku
pada gairah hidup segar
dengan matahari pagi nan binar
ceria tawa anak-anak tercinta buah kasih

bulan, bintang, dan lampu-lampu di atas Bandung
cerah terlihat bagai gambaran jiwaku
dekapan malam mengatupkan mata
jiwa mengembara ke alam nyata

cinta-Mu telah membawaku pada keindahan
pada senyum penuh kasih istriku
pada canda riuh-rendah anak-anakku
serta sinar mata penuh do’a tulus bunda

cinta-Mu
dan itulah anugrah-Mu, Tuhanku…

Bandung yang indah permai kini menjadi lambang tanah Sunda yang diburu  setiap orang yang mencari kehidupan dan kenikmatan. Kadang aku prihatin dan sedih, maka bersenandunglah aku melalui puisiku:

TANAH SUNDA

bila udara kenikmatan
adalah udara Nusantara
maka udara inti ejakulasi
adalah udara Tanah Sunda

bila denyut Nusantara
adalah denyut nadi Jakarta
maka katup jantung Indonesia
adalah lemah cai Sunda

dan,
berbondong-bondong orang
mengayun langkah indah
dalam udara
dan denyut Sunda

Bandung yang semakin seksi ini semakin diburu oleh  orang, karena di dalamnya seluruh kenikmatan Nusantara bisa dirasakan di sini. Bandung, kota Parahyangan, semakin lama semakin panas dan merangsang. Oleh karena itu, diilhami oleh Priangan si Jelita-nya Ramadhan K.H. (Alm.) kutulis puisi:

PRIANGAN

reguklah kenikmatan
dari tubuhku
yang molek
dan anggun

maka:
mengakanglah
tubuh-tubuh yang perkasa
dengan cinta dan cita-cita
di atas selangkangan
Priangan nan jelita

Tapi, dalam balutan keindahan  Bandung ini, terdapat luka-luka hati warganya yang terpaksa menerima keadaan yang tidak dikehendakinya. Mereka banyak yang tergusur dari tanahnya, tempat lahir dia dan nenek moyangnya, tempat bermain dan bercanda kala kanak-kanak dulu. Kini tinggal kenangan yang menyesakkan. Aku bersenandung dengan hati yang mendung:

tanah ini indah, sayang
dengan semilir angin
dari bukit yang rimbun dedaunan
tangkai-tangkai padi menguning melambai
mengajak bercengkrama
tentang nasib tanah yang dipijaknya
yang sebentar lagi ditanami gedung megah

tanah ini indah, sayang
dengan kehangatan sinar mentari
dan senandung merdu burung nuri
pipit memadu kasih dalam gesekan daun padi
getaran cinta berahi Dewi Sri
sementara lenguh lembu serak tanda sedih
sebentar lagi traktor kan memusnahkan kuningnya padi

tanah ini indah, sayang
dengan lambaian merah putih
dan hiruk-pikuk pekik ‘merdeka’
lika-liku jalan dengan mobil-mobil mewah
tuan tanah versi 63 tahun Indonesia
kemerdekaan versi konglomerat dan politikus muda
dengan backing orang tua dan kakeknya

tanah ini indah, sayang
tetapi, kini bukan tanahku lagi
bahkan diriku pun bukan milikku
bila aku dan tanah ini milikku
tentu aku bisa mengatakan “tidak!”
kala gubukku digusur dengan harga murah
dan tawa dipaksa ditukar linangan air mata

tanah ini indah, sayang….

Memang, belakangan ini Bandung semakin riuh, banyak masalah yang harus diselesaikan guna mengembalikan citranya yang dulu pernah disandangnya: Paris van Java.

dulu kau indah bagai mawar
senyummu merekah bagai rembulan
pipimu merah tersinari mentari
langkahmu anggun bagai sang Dewi

dulu aku berdebar kala dekat denganmu
harum tubuhmu melenakan hatiku
tutur sapamu menentramkan kalbuku

dan, kini setelah lama
aku terkesima kembali berjumpa

siangmu mendung tiada senyum
kembangku pecah, warnanya pucat
pada usiamu kini tubuhmu takterawat

Tapi, Bandung dari Cigiringsing tetap kelihatan indah!

Cag, ah……..

Wassalam

Fikmin # Nu Nyirorot #

November 25, 2013

Ieu mah lain bohong, tapi kanyataan nu saujratna. Kamari basa hate keur kakalayangan di awang-awang nu ditalitimbaan ku benang katresna, di handap aya mojang nu ngapungkeun langlayangan cinta. Pas amprok di mega malang, rek dibandring kalah ngolembar semu nu hambar. Terus diudag-udag, kalah diulur, digolongan, les teu katingali deui. Angin leler, tungtungna hate nyirorot ka handap. Dinu iuh-iuh tangkal kasmaran, kasampak hunyuran nu masih beureum dipapaes ku kembang warna-warni. Aya haseup kaluar lalaunan pinuh ku kecap, “di dieu geus kakubur rasa cinta nu can mekar sampurna, tapi bakal sirungan deui mun aya nu nyiraman ku kembang kaasih….”

STUDI TERHADAP MASYARAKAT INDONESIA

November 6, 2010

Setiap generasi menulis sejarahnya sendiri berdasarkan perspektif dan optiknya sendiri. Baik jiwa zaman maupun ikatan kebudayaannya menuntut agar dilakukan rekonstruksi sejarah komunitasnya yang lebih memadai serta sesuai dengan situasi generasinya. Dengan demikian baik sudut pandangan maupun pendekatan atau problematiknya lebih dicocokkan dengan konteks situasional, maka dalam menghadapi setiap hasil rekonstruksi sejarah sangat perlu menyoroti pengarang serta latar belakang  dunia intektualnya, sehingga sifat dan hakikat karya itu lebih mudah diidentifikasikan.
Kajian kesejarahan, seperti juga halnya dengan studi keilmuan lainnya, umumnya bercorak monografis, yang ingin mempelajari satu-dua tema pokok –apapun mungkin corak tema pokok itu— yang telah dirumuskan dengan jelas. Tentu bisa juga dibayangkan bahwa kajian monografis tersebut berangkat dari pertanyaan pokok yang jelas, pendekatan metodologi tertentu, dan tidak jarang, dari asumsi teoritis yang tertentu pula.  Berbagai corak kajian monografis telah dihasilkan tentang Indonesia. Kalau sekiranya kita hanya membatasi tinjauan pada karya monografi yang diterbitkan sesudah Perang Dunia II saja –agar tak jauh-jauh melihat ke belakang— maka beberapa corak kajian dapat dibedakan.
Pertama, dan yang paling menonjol, ialah monografi tentang sejarah politik. Seri monografi sejarah Mataram dari de Graaf adalah contoh yang mudah diingat, karena telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Seri monografi ini bukan saja satu-satunya yang paling lengkap mengisahkan sejarah politik Mataram, sejak awal sampai terpecah menjadi dua, tetapi juga dengan jelas memperlihatkan bagaimana secara metodologis sumber-sumber Jawa, yang tampak sepintas lalu serba aneh dan mitologis itu, bisa dipakai sebagai sumber untuk mengadakan rekonstruksi sejarah naratif, yang berkisah. Dipersenjatai dengan pengetahuan yang mendalam tentang bahasa, filologi, dan kebudayaan Jawa, de Graf mencoba mencari “fakta” sejarah di balik segala macam corak symbol cultural dari sumber asli itu. Ia mengujinya dengan sumber-sumber Belanda, baik hasil perjalanan, buku harian, atau laporan VOC. Dalam usaha membandingkan sumber asli dengan sumber Belanda ini, ia boleh dianggap sebagai pelopor. Sikapnya yang tidak apriori terhadap sumber domestik ini dipertahankannya dengan baik ketika ia mengadakan serangan balik terhadap sikap skeptic Berg, yang cenderung menilai semua sumber Jawa itu tak lain daripada ekspresi kultural belaka. Kepeloporannya ini diikuti –dengan lebih canggi–  oleh Merle Ricklefs dalam bukunya yang terkenal, Sultan Mangkubumi, yang menceritakan proses yang biasa disebuit sebagai “perang suksesi”, Perjanjian Giyantiyang membagi dua Mataram, dan sejarah awal kesultanan Yogyakarta, di bawah pemerimntah Hamengkubuwono I. sambil lalu tetapi mendalam juga, Ricklefs juga membicarakan dampak pembagian Mataram terhadap kesadaran kultural dan pandangan kesejarahan Jawa. Setelah buku ini, Recklefs juga telah melanjutkan kajiannya tentang kesunanan Surakarta dan kesultanan Yogyakarta. Dengan sikap penghargaan terhadap sumber domestik yang sama, Peter Carey juga telah melakukan seri studi  tentang Dipenogoro dan zamannya.dari sudut jumlah tentu sudah bisa diduga bahwa studi tentang zaman modern dan kontemporer, yaitu periode dari tahun 1900sampai sekarang, sangat dominan.apalagi kalau dalam  corak  sejarah  politik  ini  dimasukkan  pula –dan memang semestinya— sejarah militer. Nasotion menulis sebelas jilid tentang sejarah Perang Kemerdekaan, di samping buku-buku lain yang menyangkut sejarah kemiliteran di Indonesia. Studi tentang revolusi saja entah berapa banyaknya.
Kedua, sejarah intelektual atau pemikiran. Harus diakui bahwa pada umumnyastuidi ini masih pada tahap analisis filologis teks-teks yang bahkan serba terputus satu dengan yang lainnya.maka kitapun berkenalan dengan berbagai studi  tentang babad, serat, piwulang, suluk,  dan sebagainya. Dan memang studi-studi tersebut meskipun sama  sekali tidak melupakan konteks sejarah dari teks yang dipelajari dan sangat bermanfaat dalam proses rekonstruksi sejarah, tidak mempunyai claim menulis sejarah. Soebardi umpamanya,pernah menulis disertasi yang diterbitkan tentang Serat Cabolek, karangan Jasadipura, pujangga abad ke-18 dari kraton Surakarta. Dari studi filologis ini, kita juga bisa mengetahui perjalanan pemikiran tentang hubungan Islam dengan “negara”. Dari artikel panjang Drewes tentang Serat Darmagandul –sebuah serat yang cukup menghebohkan dan sempatm menimbulkan kerawanan social ketika diterbitkan oleh sebuah penerbit di Kediri–  kita bisa mengetahui  corak pemikiran lain tentang Islam dan “kejawaan”. Tetapi karya Zoetmulder tentang Sastra Jawa Kuno, Kalangwan, bisa disebut sebagai usaha yang paling serius untuk memperkenalkan sejarah pemikiran Jawa Kuno. Tulisan Moertono tentang State and statecraft boleh juga dianggap sebagai sejarah pemikiran politik Jawa. Bertolak dari teks-teks Jawa, yang tersimpan dalam Perpustakaan Radyapustaka, Surakarta, Nancy Florida dapat juga memperlihatkan bahwa penajaman batas-batas intelektual antara “kejamen” dan “Islam” lebih banyak merupakan “konstruksi kolonial”. Hal yang sama juga bisa dilihat Laurie Sears setelah menganalisis cerita wayang. Dengan pemakaian pendekatan post-modernis tentang Jawa, John Pamberton juga telah menyumbangkan cara pemahaman baru tentang dinamika pemikiran Jawa.
Ketiga, sejarah sosial. Dalam tradisi penulisan sejarah akademis di tanah air kita, sejarah sosial praktis berarti tiga hal. Pertama, penulisan tentang perubahan sosial –tentang urbanisasi dan proses urbanisme, pelebaran diferensiasi kerja, mobilitas sosial— yang tentu melibatkan kemungkinan perubahan status, dan sebagainya. Tulisan Burger tentang “perubahan struktur di Jawa”, yang diterbitkan dalam beberapa nomor majalah Indonesie, dan satu-dua tulisan Sartono, mengenai pendidikan perubahan status, untuk sekadar menyebuit beberapa nama, berada di wilayah ini. Meskipun  dimaksud sebagai studi sosiologi, karya Selo Soemardjan tentang “perubahan sosial di Yogyakarta” tentu bisa juga dicatat. Beberapa karya mutakhir yang terbit di negeri Belanda, seperti umpamanya disertasi seorang sejarawan muda, van den Doel tentang birokrasi yang secara puitis diberi judul De Stille Macht, bisa digolongkan ke dalam kategori ini. Kedua, sejarah agraris, yang membicarakan dinamika hubungan antara petani dengan tanah mereka dalam menghadapi intervensi kekuatan luar yang keras mengancam, adalah sasaran kajian dari sekian banyak disertasi S3 dalam ilmu sejarah yang diajukan di UGM. Umumnya studi sejarah agraris ini bercorak sosial-ekonomis. Jadi boleh juga disebut sebagai sejarah sosial-ekonomis. Soalnya ialah kajian ini paling dekat hubungannya dengan sejarah ekonomi, yang sampai sekarang tahap perkembangannya masih sangat awal. Ketiga, sebagai sejarah ‘non-elite’ atau sejarah dari mereka yang “diam”. Inilah natara lain dihasilkan oleh Sartono dalam studinya tentang pemberontakan petani. Sambil lalu tentu bisa dikatakan bahwa kini semakin terasa betapa pentingnya kita mengetahui dinamika (atau keresahan?) dari “mereka yang diam” ini.
Beberapa corak studi sejarah yang lain masih pada tahap awal. Sejarah kebudayaan masih terpenggal-penggal atas berbagai aktivitas kebudayaan. Sebagian  masih erat kaitannya dengan arkeologi. Sebagian lain, yang disebut sejarah kesenian, masih belum terbebas dari pengetahuan tentang seni per se. Sejarah sastra masih belum jauh beranjak dari penyusunan kronologi para pengarang dan karya mereka. Sejarah maritim masih merupakan bagian yang disinggung sambil lalu dalam sejarah politik atau sosial. Tetapi kesemua cabang ini telah mulai memperlihatkan tanda-tanda awal pendewasaan. Perkembangan kritik sastra yang sejak akhir tahun 1970-an semakin marak, dengan segala macam semiotik, hermeneutik, struktural genetik, dan entah apa lagi, bukan saja telah mempengaruhi cara melihat teks sastra dan usaha melihat sejarah sastra tetapi juga memberi inspirasi bagi sejarah kebudayaan pada umumnya. Dan begitulah seterusnya.
Namun, seorang sejarawan terkemuka Perancis, Denys Lombard telah mengadakan studi sejarah –yang di Indonesia belum umum dilakukan–  yang mencakup seluruh corak di atas. Hasil penelitiannya ditulis dalam tiga jilid buku yang diberi judul Nusa Jawa Silang Budaya.
Dilihat sepintas lalu maka studi Lombard ini adalah sebuah usaha yang amat ambisius.  Karena dengan studinya ini ia berusaha dan cukup berhasil, untuk mencakup keseluruhan data yang dimunculkan oleh studi di atas –jika bukan secara eksplisit, setidaknya terpantul secara implisit. Jika tidak dengan jelas dia katakan masalahnya, setidaknya terbayang bahwa ia mengetahui persoalannya.  Malah lebih daripada itu, Lombard juga membicarakan lingkungan alam dan geografis dengan  memadai. Alam dan geografi ini bukanlah sekadar stage  atau panggung tempat berlangsungnya “sejarah”, tetapi adalah pula bagian dari proses sejarah. Dari studi ini kelihatan pula bahwa Lombard berusaha dengan sepenuhnya untuk memahami dan memakaikan berbagai disiplin. Ia bercerita tentang masalah bangunan dan arsitektur sama lancarnya dengan ia berkisah tentang sastra atau tentang lalu lintas ekonomi ataupun tentang gaya hidup yang antara lain diwujudkan dalam kebiasaan berpakaian dan perkembangan mode. Memang pada tingkatnya yang paling ideal pendekatan Lombard ini menjadikan ilmu sejarah, seperti kata Braudel dengan bangga, “sebuah pasar bersama dari ilmu-ilmu kemanusiaan”. Hasrat seperti ini pulalah sesungguhnya yang menjadi tekad  Lucien Febvre dan Marc Bloch ketika mereka menerbitkan majalah  Annales (1929), yang kemudian dipakai sebagai nama “mazhab” penulisan sejarah yang mereka pelopori. Dengan majalah Annales, mereka ingin membongkar dinding-dinding yang membatasi sejarah dari kajian sosial dan ekonomi, bukan dengan teori yang serba meninggi, tetapi dengan “fakta dan contoh”.
Namun satu hal yang paling menonjol dan yang segera tampak kalau studi Lombard dibandingakn dengan corak studi sejarah yang biasa kita kenal, ialah bahwa studi ini sepertti menghindari “peristiwa” atau “kejadian” –yaitu hal-hal yang biasa menjadi unsur utama dalam setiap studi sejarah. Bukankah hal utama yang dimasalahkan  oleh sejarawan adalah  penyelesaian masalah kronikel yang bisa menjawab bertanyaan “aapa, di mana, bila, dan siapa”? keempat pertanyaan pokok ini adalah unsur utamauntuk menentukan sebuah even atau evenement, “kejadian-kejadian” yang direkonstruksi dan diterangkan. Bahkan studi Sartono tentang “mereka yang diam” itu berkisar pada  “kejadian-kejadian” yang direkonstruksi dan diterangkan. Buku Lombard memang kadang-kadang bercerita, hanya saja cerita itu bukanlah tentang “kejadian” sebagai event yang harus direkonstruksi dan diterangkan, tetapi sebagai bagian atau ilustrasi atau bukti dari kehadiran dan keberlakuan sebuah bentukan struktural yang diperagakannya. Jika “kejadian” atau event telah diperlakukan sebagai “surface history” atau lapisan atas sejarah saja, maka janganlah diharapkan studi ini akan muncul dengan heroes atau culprits. Actor sejarah dan kejadian dan peristiwa yang unik tak lagi memainkan peranan penting untuk menerangkan situasi sosial. Pendekatan ini sebenarnya,lagi-lagi kata Braudel, “melampaui individu dan kejadian tertentu yang khas”. Lombard pun mengatakan juga bahwa, “Bagi sejarawan mentalitas, yang lebih menarik adalah kelompok atau masyarakat cendikiawan, yang memungkinkan penggambaran suatu suasana atau suatu arah perkembangan”. (I, 73).
Dalam sejarah pemikiran sejarah dan historiografi, pendekatan ini bisa dilihat sebagai penolakan terhadap kecenderungan neo-Kantian, yang setelah membedakan dua corak pengetahuan, yaitu Naturwissenschaft dengan Geisteswissenschaft, mengatakan bahwa jika yang pertama bisa memberikan erklaren (“keterangan”) maka yang kedua memberikan verstehen (“pemahaman”). Verstehen, menurut Diltheys dan juga Collingwood, ialah kesediaan dan kemampuan sang sejarawan untuk merasakan atau menghidupkan kembali dalam perasaannya (Erlebnis, menurut istilah Dilthey), seakan-akan dialah aktor sejarah yang dikisahkannya itu. Tetapi bagi pendekatan dan teori sejarah mazhab Annales yang dipakai Lombard, hal ini tidak bisa dikatakan “scientific”, karena semuanya sangat bergantung pada kemampuan imajinasi sang sejarawan –jadi sesuatu yang sifatnya sangat individual bahkan subjektif. Bagi mazhab Annales, perilaku individu dalam sejarah hanya bisa dimengerti dalam konteks masyarakat, bukan dari ilmu jiwa, atau sejenisnya.  Bukankah individu itu berbuat dalam konteks peranannya sebagai bagian dari denyut masyarakatnya? Masyarakat ini mewujudkan  dirinya dalam hal-hal yang konkret yang bisa kita amati, seperti tak ubahnya kita mengamati gejala alam. Masyarakat terwujud dalam pranata dan kelembagaan dan peninggalan material yang konkret. Inilah yang pernah disebut oleh Durkheim, salah seorang pelopor sosiologi modern, sebagai “faktor sosial”, sesuatu yang bisa dipahami dari dirinya sendiri.
Verstehen (Perancis, comprendre), kata Lucien Fervre, tidaklah langsung bisa didapatdari savior atau “pengetahuan”. ”Pemahaman” tentang perilaku manusia, katanya seperti menyambung Durkheim, hanyalah mungkin didapatkan dalam sebuah konteks keterkaitan, dalam corak hubungan dari kejadian-kejadian perilaku itu. Jadi, “pemahaman” tentang perilaku manusia dalam bentuknya yang konkret itu sesungguhnya meniscayakan adanya keterangan  kausalitas.
Andai saja kecenderungan Weberian yang sangat menonjol di kalangan sejarawan Indonesia, yang agak sadar teori, bisa dikesampingkan sebentar, dan berusaha memahami karya Lombard dari sudut pendekatan yang dipakainya –sesuatu yang lebih Durkhaimian daripada Weberian— maka kita pun akan terdorong juga untuk berdecak menyatakan rasa kagum. Ia seakan-akan dengan patuh mengikutikeharusan ideal yang dinukilkan oleh Lucien Febvre tentang bagaimana sejarah harus ditulis.semuanya, kata sang peletak dasar histoire totale  ini: ”Kata, tanda, pemandangan, titel, (hak tanah), hamparan padang, gerhana bulan,.. dengan satu kata, segala sesuatu yang dimiliki manusia, tergantung pada manusia, melayaninya, menyatakan dirinya dan menandai kehadirannya, aktivitas, selera dan bentuk keberadaan” (Febvre, 1973:34). Dan Lombard memang berusaha sejauh mungkin melaksanakannya.
Tetapi hal ini dilakukannya bukan karena patuh saja. Ia  melakukannya, karena memang ia tidak saja melihat sejarah –atau lebih tepat kenyataan sejarah, seperti yang dikatakan oleh Febvre— adalah sesuatu yang bersifat multidimensional, tetapi juga hirarkis. Dalam  susunan hirarki ini, maka kejadian dan peristiwa, apalagi kejadian politik, berada di tingkat yang paling rendah, sedangkan struktur berada di tingkat yang tertinggi. Kalau dalam sejarah politik, yang berkisah tentang dinamika yang terjadi dalam wilayah kekuasaan, bahkan juga dalam sejarah pemikiran atau intelektual, yang menguraikan tahap-tahap dalam perenungan manusia tentang hakikat alam, manusia, dan masyarakat, dengan segala keterkaitannya, menjadikan struktur sebagai latar belakang untuk menerangkan kejadian dan peristiwa, maka tidak demikian halnya dengan corak penulisan sejarah yang dipakai Lombard. Struktur  bukanlah latar belakang atau background, tetapi foreground. Struktur  adalah sejarah itu sendiri.
Kalau struktur telah menjadi foreground –sesuatu yang dari sudut dimensi waktu bisa sangat longgar— tidaklah mengherankan jadinya jika Lombard, bila perlu atau bila kejelasan uraian tentang struktur menghendakinya, bisa mondar-mandir melampaui berbagai lapisan waktu, yang biasanya dijadikan para sejarawan yang menekankan event sebagai tonggak-tonggak yang harus diperhatikan dengan baik. Begitulah umpamanya ketika ia berbicara tentang kerajaan konsentrik di zaman kuno, Lombard bisa saja mengulang kembalikisah Hamengkumuwono IX yang seakan-akan mendengar suara “eyangnya”untuk tak terlalu memperhatikan isi kontrak kesultanan dengan pemerintah Hindia Belanda.
Tetapi bagaimanakah harus diterangkan pendekatan Lombard yang memulai sejarahnya dari periode yang paling mutakhir, yaitu “batas-batas pembaratan”? Setelah lebih dulu menguraikan perubahan yang pelan dari situasi geografis –mulai dari keadaan geologis yang menetap sampai dengan tumbuhnya kota-kota dan terbentangnya jaringan jalan dan sebagainya— seraca agak mendadak terasa, Lombard memperkenalkan dirinya kembali. Ia  adalah orang Eropa yang datang ke Jawa. Ia   bercerita mengapa orang Eropa tertarik pada Jawa dan bagaimana komunitas Eropa mulai terbentuk dan selanjutnya bagaimana proses “pembaratan” terjadi di kalangan pribumi. Dalam proses ini, Lombard, si Eropa, telah menjadi bagian dari struktur yang dibentuknya. Maka kita pun menemukan pula sikap akademis selanjutnya dari pendekatan sejarah yang dipakai Lombard, yaitu meniadakan pembedaan dua corak realitas –yang dilihat dan dialami oleh aktor sejarah, yang berbuat atau berada dalam situasi kesejarahan yang direkonstruksi, dan yang diamati oleh pengamat alias sejarawan. Realitas adalah apa yang telah diungkapkan itu, terlepas daripada sang aktor melihatnya atau tidak. Yang jelas dualisme realitas ditiadakan.
Studi Lombard memperlihatkan juga perkembangan baru dari mazhab Annales. Dalam salah satu tulisannya, salah seorang tokoh mazhab ini yang paling terkemuka, LeRoy Ladurie, pernah membagi sejarah mazhab ini atas dua periode. Pertama, periode sebelum 1945, ketika “sejarah struktural kualitatif” sangat dominan. Kedua, setelah 1945, di saat “sejarah kuantitatif dari conjonctures” memegang peranan penting. Dan ia adalah salah seorang tokoh utama di dalam periode kedua. Kalau periode pertama lebih mementingkan sejarah sosial dan sejarah mentalitas, maka yang kedua lebih kepada masalah sosial-ekonomi dan demografis. Dengan segala macam angka tentang turun naiknya kecenderungan ekonomi, tentu bisa juga dibayangkan betapa membosankannya tulisan corak kedua ini bagi mereka yang ingin membaca karya sejarah sebagai sebuah karya literer. Dalam dua jilid bukunya, yang berjudul Southeast Asia in the Age of Commerce, Tony Reid menulis sejarah Asia Tenggara seperti halnya Braudel mempelajari Dunia Laut Tengah, sebagai contoh karya periode kedua. Tetapi, sudah sejak akhir tahun 1970-an atau awal 1980-an, sejalan dengan perkembangan teori yang terjadi di luar mazhab Annales, seperti munculnya tulisan-tulisan Foucault, Roland Barthes, Derrida, dan lain-lain, yang mempersoalkan kembali hakikat sejarah dan makna teks dan simbol, dan sebagaimnya, kecenderungan baru, yang seakan-akan kembali ke asal –ke perhatian Bloch dan Febvre—  yaitu  sejarah sosial dan mentalitas. Dan Lombard berada dalam kecenderungan baru, yang kembali ke asal ini.
Ia menulis l’histoire des mentalites Jawa. Dengan studi ini ia ingin menjawab pertanyaan pokok, bagaimanakah secara historis perilaku masyarakat Jawa bisa dipahami? Maka, seperti telah disinggung di atas, yang direkonstruksinya adalah proses pembentukan struktur mentalite sosial, bukan uurutan peristiwa dengan para aktornya. Dengan begini bisa jugalah dipahami mengapa ia memulai buku dengan lebih dulu membicarakan lapisan waktu yang paling mutakhir, ketika Jawa harus berhadapan dengan dunia asing, yang sekaligus memperkenalkan kolonialisme dan konsep “modernitas” yang baru. Dan struktur mentalitas yang telah terbentuk itu diterangkannya ke belakang, ketika corak encounter lain, yang juga telah memberikan lapisan kultural yang fundamental, terbentuk. Tampaknya Lombard menyetujui sepenuhnya pendapat  Braudel yang mengatakan bahwa “ada beberapa unsur yang permanen dan selalu hidup dalam wilayah peristiwa kebudayaan yang sedemikian luas”.
Setiap aliran dalam ilmu pengetahuan , termasuk sejarah, tentu saja tak terbebas dari kritik. Memang berbagai kritik telah dilancarkan. Ada yang mengatakan, karena aliran ini asyik mengumpulkan semua dan membicarakan semua, maka studi yang dihasilkan oleh sejarawan dari aliran ini tidak mempunyai fokus yang jelas, bahkan juga kehilangan kekhasan. Ada pula yang mengatakan bahwa pendekatan ini sangat “deskriptif dan taksonomis”. Dalam perdebatannya dengan majalah Annales Raymond Aron, sosiolog dan pemikir sosial dan sejarah Perancis yang terkenal, mengatakan bahwa baginya mazhab ini tak berhasil mengatasi hubungan antara struktur dan peristiwa, karena itu ia lebih baik berpaling saja kepada Max Weber. Tentu perlu juga dicatat bahwa Aron memang sangat kritis terhadap teori Durkheim, yang telah mempengaruhi Bloch dan Febvre. Berbagai macam kritik lain telah juga dilontarkan. Tetapi,  bukankah sejarah sebenarnya adalah wilayah perdebatan? Sekali sejarah telah berhenti diperdebatkan maka yang terjadi tidaklah didapatkannya  accepted history secara konsensus, tetapi terhentinya kegairahan intelektual. Dengan ini berarti pula terhentinya proses pembebasan imajinasi dari tirani waktu.

STUDI TERHADAP MASYARAKAT INDONESIA
BERDASARKAN WAKTU
1000 TAHUN NUSANTARA

1000
1006 :
Sriwijaya menghancurkan ibu kota Kerajaan Mataram di Jawa sebagai balasan atas serangan Mataram pada 992. Raja Mataram, Dharmawangsa tewas. Menantu Dharmawangsa, Airlangga menyelamatkan diri ke Jawa Timur.
Perdaganghan Jawa-Maluku-Sumatra-Malaka sudah ramai.
1019:
Airlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan. Hukum dibukukan dalam kitab Siwasasono. Kali Brantas dibendung. Pemeluk Hindu maupun Budha di Kahuripan dilindungi. Toleransi antar-umat beragama berkembang.
Saudara Airlangga, Anak Wungsu mengembangan kebudayaan Jawa Kuno di Bali.
Kesenian wayang mulai berkembang.
1030:
Empu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha (Perkawinan Arjuna).
1042:
Airlangga membagi Kahuripan menjadi Jenggala dan Panjalu (Kediri) demi anak-anaknya.
1049:
Airlangga wafat.
1069:
Penulisan naskah Rawiaton Sabeu’ah di Aceh.

1100
1125:
Empu Panuluh menulis Hariwangsa dan Gatotkacasraya.
Empu Dharmaja menggubah Smaradhahana (Kidung Cinta).
1150:
Jayabaya berkuasa di Kediri setelah menaklukkan Jenggala.
1157:
Jayabaya memerintahkan Empu Sedah menggubah Bharata Yudha untuk membenarkan aneksasi Kediri atas Jenggala.

1200
1200:
Pembukaan sawah lahan basah di dataran tinggi Jawa Timur (Tumapel, Lumajang, Blambangan). Semula sawah basah hanya dikembangkan di dataran rendah yang relatif datar.

1222:
Ken A(ng)rok mendirikan Singasari. Sebelum berkuasa, Ken Arok merebut kekuasaan di Tumapel, Kediri, dari Tunggul Ametung. Kudeta pertama di Tumapel.
1227:
Putra Tunggul Ametung, Anusapati jadi raja Singasari setelah membunuh Ken Arok.
1247:
Tohjaya membunuh Anusapati.
1250:
Tohjaya terbunuh dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Jaya Wisnuwardhana, putra Anusapati.
1268:
Kertanegara menjadi raja di Singasari setelah ditabalkan lebih dulu sebagai putra mahkota oleh Wisnuwardhana. Sinkretisme Hindu dengan Budha berkembang.
1275:
Kertanegara melancarkan ekspedisi Pamalayu untuk menyerang Kerajaan Melayu di Jambi. Jambi minta bantuan kepada Kubilai Khan pada 1281.
1284:
Kertanegara menguasai Bali.
1289:
Utusan Kubilai Khan mengundang Kertanegara datang ke Peking sebagai tanda tunduk kepada Mongol. Kertanegara menolak, dan merusak wajah sang utusan.
1290:
Kertanegara menguasai Sriwijaya.
1291:
Marco Polo singgah di Kalimantan, Sumatra, dan Malaka, dalam perjalanan ke Venesia.
1292:
Kertanegara tewas dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Jayakatwang. Menantu Kertanegara, Wijaya mendapat izin Kertanegara untuk tinggal di Desa Tarik. Balatentara Mongol mendarat di Tuban pada bulan November untuk menghukum Kertanegara.
1293:
Pasukan Wijaya dan Mongol menyerang Kediri. Tentara Mongol menggunakan mesiu ketika bertempur. Penggunaan mesiu pertama dalam perang di Jawa. Raden Wijaya  balik menyerang balatentara Mongol.
1294:
Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit dan ditabalkan sebagai raja.
1295:
Islam masuk Kerajaan Pasai.
1297:
Raden Wijaya mengirim utusan ke Beijing untuk berdamai. Kubilai Khan senang dan tidak lagi menuntut Raja Jawa datang ke Beijing.

1300
1309:
Jayanegara menjadi raja Majapahit. Ra Kuti memberontak, tetapi bisa ditumpas berkat kesetiaan pasukan Bhayangkara pimpinan Gajah Mada.
1328:
Tanca membunuh Jayanegara. Konon Tanca balas dendam karena Jayanegara mencabuli istrinya.
1329:
Tribhuanatunggadewi Jayawinsnuwardhani jadi wali negeri Majapahit.
1331:
Gajah Mada diangkat sebagai Patih Majapahit.
1333:
Majapahit menyerang Pajajaran. Setahun kemudian menyerang Bali.

1347:
Atas nama Majapahit, Adityawarman menguasai Pagaruyung, Sumatra Barat.
1350:
Mahapatih Gajah Mada mengucapkan Amukti Palapa dalam acara penabalan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit.
1357:
Majapahit  membantai seluruh (pasukan) pengiring calon pengantin Dyah Pitaloka dari    Pajajaran yang sedianya akan dinikahkan dengan Hayam Wuruk. Pembantaian itu terkenal dengan sebutan Perang Bubat.
1364:
Gajah Mada meninggal.
1365:
Empu Prapanca menulis Deca-Warnana atau lebih terkenal sebagai Negara Kertagama.
1367:
Empu Tantular mulai menggubah Arjunawijaya.
1377:
Armada laut Majapahit menyerbu Palembang.
1389:
Hayam Wuruk meninggal digantikan oleh  Wikramawardhana.
Empu Tantular menyelesaikan Sutasoma.

1400
1400:
Islam masuk ke Aceh.
1406:
Perang Paregreg antara Wikramawardhana melawan Wirabumi untuk merebut tahta Majapahit.
1414:
Masjid pertama berdiri di Ambon.
1426:
Kelaparan melanda Jawa.
1447:
Kertawijaya jadi Raja Majapahit. Pada 1451 Kertawijaya terbunuh dan Rajasawardana naik tahta.
1475:
Islam masuk Ternate dan  Tidore.
1478:
Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak.

1500
1509:
Portugis tiba di Malaka.
1511:
Armada Portugis menyerang Malaka.
1512:
Pengembara Portugis, Francisco Serrao menjelajah sampai ke Maluku dan memberi kabar tentang kekayaan alam Nusantara kepada Magellan.
1515:
Potugis sampai di Pulau Timor.
1518:
Sebuah naskah berbahasa Sunda memberi istilah tulis untuk batik.
1522:
Utusan Gubernur Portugis di Malaka, Henrique Leme mendapat izin Pajajaran untuk mendirikan benteng di Sunda Kalapa.
Banten minta pertolongan Portugis melawan Demak.
1524:
Nurullah (Fatahillah) menyebarkan Islam di Pajajaran.
Penguasa Demak mulai menggunakan gelar Sultan.
1526:
Portugis mendirikan benteng di Timor.
1527:
Majapahit runtuh.
Walisongo menyebarkan Islam.
Portugis datang ke Sunda Kalapa, tetapi diusir oleh Fatahillah. Fatahillah mengganti Sunda Kalapa menjadi Jayakarta.
1529:
Raja Portugis dan Spanyol sepakat Maluku jadi milik Portugis, sementara Filipina untuk Spanyol.
1546:
Misionaris Katolik Franciscus Xaverius menjelajahi Morotai, Ambon, dan Ternate.
1577:
Ki Ageng Pamanahan mendirikan Kotagede.
1580:
Penulis mistik besar Aceh, Hamzah Fansuri menulis  Asrarul Arifin, Syarabul Asyikin, dan Al-Muntahi.
1581:
Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram untuk menggenapi janji Joko Tingkir.
1583:
Pementasan pertama wayang gedong pada era Sultan Hadiwijaya di Kesultanan Pajang.
1596:
Ekspedisi Belanda pimpinan Conelis de Houtman tiba di Banten.

1600
1600:
Elizabeth I of England meresmikan East India Company.
Bukhari menulisTajus Salatin (Mahkota Raja-raja). Isi buku sering disejajarkan dengan Il Principe, karya  Machiavelli (Italia).
1602:
Pengusaha-pengusaha Belanda membentuk  Vereenigde Oost-Indische Conpagnie (VOC).

1611:
VOC mendirikan pos di Jayakarta.
1615:
Koran Memorie der Nouvelles terbit atas perintah Gubwernur Jenderal JP Coen. Cikal bakal Koran di Nusantara walau masih ditulis tangan.
1617:
VOC mendirikan sekolah pertama untuk warga Eropa di Jayakarta.
1619:
VOC mengubah Jayakarta menjadi Batavia, sebagai kenangan  untuk Uni Provinsi-provinsi Nederland (Republik Bataaf) yang melawan pendudukan Spanyol.
Kecuali yang berasal dari Eropa, VOC mengelompokkan penduduk Batavia berdasarkan ras, asal daerah, dan pekerjaan.
1620:
VOC memberi hak istimewa  kepada Siauw Bing Kong dan Gouw Tjai untuk menimbang barang. Subkontrak pertama VOC kepada kelompok non-Eropa.
1621:
De Tragedie van Banda. Banda Neira dihancurkan oleh VOC dalam pertempuran selama dua minggu.
1624:
Sultan Agung menghancurkan Madura. Sebagian besar penduduknya dipindah ke Jawa.
1625:
Surabaya dihancurkan oleh Sultan Agung.
1628:
Serangan pertama Mataram ke Batavia.
1629:
Serangan kedua Mataram ke Batavia.
Tanaman tebu diperkenalkan di Banten.
1640:
Nuruddin al-Raniri menulis Bustan al-Salatin (Taman Raja-raja).
Perdebatan tentang paham Islam  antara Nuruddin al-Raniri (paham ortodoks) melawan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin  Sumatrani dari Pasai (paham wujudiyah).
1641:
Musik keroncong mulai berkembang di Batavia.
Pertama kali istilah batik muncul dalam literatur Eropa di Daghregister, Batavia.
1645:
Sultan Agung membangun makam Raja Mataram di Imogiri.
1648:
Pementasan pertama wayang klitik.
1650:
Phoa Bing Ham menyudahi pembangunan  Molenvliet (sekarang Gajah Mada), di Batavia.
1651:
Sekolah Latin di Batavia dengan sistem in de kost (numpang tinggal).
1659:
Tjitboek (semacam almanak) karya Kornelis Pijl, buku pertama yang dicetak di Batavia.
1663:
VOC memilah warga Ambon menjadi Ambon Islam dan Ambon Kristen. Kedua kelompoik diperlakukan berbeda.
Ulama Aceh, Abdurrauf Singkel menyelesaikan Mir’at  at-Tullab.
1668:
Industri percetakan mulai berkembang di Jawa.
1669:
VOC memperkenalkan kopi Caffea Arabica  di Jawa.

1700
1709:
Gubernur Jenderal Van Hoorn pulang ke Belanda dengan membawa harta hasil korupsi selama berkuasa di Batavia. Korupsi merajalela karena pelaku tidak dihukum.
1719:
Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon mewajibkan warga non-Eropa menyembah sambil jongkok jika berpapasan dengan petinggi VOC. Warga Eropa hanya diwajibkan menundukkan kepala.
1735:
Kantor arsip VOC berdiri di Batavia.
Pasar Tanahabang di Batavia berdiri.
1737:
VOC mendirikan sekolah untuk anak-anak Cina miskin.
1740:
De Chinezenmoord, pembantaian warga Cina di Batavia. Sekurangnya 10.000 orang tewas.
1743:
Gubernur Jenderal Van Imhoff mendirikan Academie der Marine (Sekolah Maritim).
1744:
Surat Kabar Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementes terbit pada bulan Agustus. Koran itu sering disebut sebagai koran pertama yang dicetak walaupun pada 1712 sudah ada koran yang terbit di Batavia. Dua tahun kemudian Bataviasche Nouvelles dilarang terbit oleh pemerintah.
1746:
Kantor pos pertama di Batavia.
Katalog Bataviasche Apotheek berisi daftar obat tradisional yang digunakan di Batavia terbit.
1749:
Parlemen Belanda (Staten Generaal) menunjuk Raja Willem IV  sebagai penguasa tertinggi VOC.
1750:
Alat penyosoh gabah mekanik yang bertenaga dua-tiga ekor lembu, berkapasitas    150 kg beras/hari diperkenalkan untuk mengganti lesung tradisional (30 kg/hari).
1755:
Perjanjian Giyanti membagi Mataram menjadi Kasunanan (Surakarta) dan Kasultanan (Yogyakarta).
1756:
Hamengkubuwono I pindah ke Keraton Ngayogyakarta.
1759:
VOC memberi perlakuan khusus kepada Cina Peranakan (Geschoren Chineezen) supaya tidak membaur dengan Bumiputera (Inlanders). Tetapi, kedua kelompok malah semakin membaur.
1760:
Pementasan pertama wayang orang.

1778:
Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perhimpunan Batavia untuk Kesenian dan Ilmu Pengetahuan) berdiri.
1786:
Panduan wisata pertama karya Hofhout terbit.
1797:
Nederlands Zendelinggenootschap (Perserikatan Misionaris Nederland) berdiri.
1799:
Pada 31 Desember VOC bubar setelah dinyatakan bangkrut oleh Pemerintah Nederland. Sebanyak 40 kelompok masyarakat bentukan VOC di Batavia melebur hingga tinggal kelompok Eropa, Cina, dan Bumiputera. Dari 128.000 penduduk Batavia, hanya 600 orang dari golongan Eropa.

1800
1800:
Istilah djagoeng untuk Zea mais muncul dalam Plakaatboek, dipetik dari kata “jawa agung” atau “jawawut besar”.
1808:
Daendels memulai pembangunan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) Anyer-Panarukan.
Pembangunan pangkalan angkatan laut di Surabaya.
1810:
Koran Bataviasche Koloniale Courant terbit atas dorongan Daendels. Koran pertama yang memuat iklan dan bisa dianggap cikal bakal koran modern di Hindia-Belanda.
1811:
Belanda menyerah kepada Inggris di Tuntang. Thomas Stamford Raffles mulai berkuasa di Batavia. Raffles mengelompokkan penduduk jadi dua, Eropa dan Bumiputera.
Yogyakarta dan Surakarta menyewakan tanah kepada swasta, meniru cara Daendels.
1813:
Raffles memperkenalkan pajak tanah (land-rent) untuk mengganti kewajiban menyerahkan hasil bumi warisan Belanda. Upaya itu gagal karena banyak penduduk buta huruf.
1814:
Tim peneliti Inggris melaporkan keberadaan Candi Borobudur dan Candi Prambanan ke Eropa untuk pertama kali.
Serat Centini mulai ditulis atas perintah KGPAA Amengkunagara III.
1815:
Gunung Tambora di Sumbawa meletus, melontarkan 80 km kubik materi vulkanik. Abu letupan menghalangi sinar matahari sehingga salju turun di utara AS pada musim panas, semacam efek musim dingin nuklir. Korban tewas 92.000 orang, sebagian besar karena kelaparan.
Sicietiet Harmonie jadi klab pertama di Batavia.
Raja Willem IV mengeluarkan UU Pemerintahan untuk Negeri Jajahan (Regingsreglement).
1816:
Inggris menyerahkan Hindia-Belanda kepada Belanda.
1817:
Raffles menerbitkan History of Java.
Caspar Georg Carl Reinwardt merancang Kebun Raya Bogor.
1818:
Sekolah rendah Eropa berbahasa Belanda untuk golongan Eropa, Timur Asing, dan Bumiputera terkemuka (Europeesche Lagereschool) berdiri di Batavia.
1819:
Tabung termometris pertama untuk vaksinasi tiba di Batavia dari London.
1820:
Afdeling voor Inlandse Zaken (Jawatan Urusan Bumiputera) berdiri.
1821:
Penyakit kolera mewabah di Jawa menyusul gagal panen padi.
Schouwburg teater Batavia berdiri.
1823:
Percetakan swasta pertama di Hindia-Belanda.
1824:
Traktat London, 17 Maret. Semenanjung Malaka jadi milik Inggris, sementara Riau milik Belanda.
Nederlandsche Handel-maatschappij-NHM (Perusahaan Dagang Negeri Belanda) berdiri.
Sekolah kejuruan Instituut voor de Opvoeding van Jonge-Jufvrouwen untuk wanita golongan Eropa berdiri.
1825:
Perang Jawa antara Diponegoro melawan Belanda berkecamuk sejak 20 Juli sampai 23 Maret 1930. Belanda tidak sanggup menutup biaya perang sebesar 20 juta gulden hingga tertarik dengan gagasan  Cultuurstelsel (Tanam Paksa).
1826:
Bibit teh dari Jepang ditanam di Kebun Raya Bogor.
1830:
Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memulai Tanam Paksa di Jawa (kecuali Surakarta dan Yogyakarta), Sumatra Barat, dan Sulawesi Utara. Aturan wajib kerja 66 hari untuk petani molor sesuka hati penguasa.
Pelat cetak pertama untuk huruf Jawa.
Kapal uap pertama singgah di Nusantara.
Koninklijk Nesderlands Indische Leger-KNIL (Tentara Kerajaan Hindia-Belanda) berdiri pada 4 Desember.
1832:
Institut Bahasa Jawa (Instituut voor de  Javaansche Taal) di Surakarta atas prakarsa Nederlands Zendelinggenootschap.
1833:
Istilah rupiah mulai dipakai untuk mata uang yang beredar.
1834:
Sekolah pendidikan guru (Kweekschool) swasta pertama di Ambon.
1836:
Regeringsreglement (RR) 1836 menghapus pasal tentang pendidikan rakyat dari RR sebelumnya. Bosch yakin Tanam Paksa tidak memerlukan rakyat terdidik.
1837:
Gubernur Jenderal Dominique Jacques de Eerens mewajibkan pegawai Belanda di Nusantara punya ijazah bahasa Melayu dan satu bahasa Nusantara.
1840:
Pustokorojo Purwo  oleh Ronggowarsito.
Babad Giyanti oleh Josodipuro.

1841:
Hoei membuka perkebunan teh di Bagelen.
FJH Baijer mendirikan bengkel mesin modern swasta pertama di Surabaya.
1842:
J Munnich membuat foto Istana Gubernur Jenderal di Batavia. Foto pertama di Jawa.
1843:
Kelaparan di Cirebon akibat Tanam Paksa.
1846:
Wabah penyakit berkecamuk di Jawa sampai 1850.
Raja Ali Haji Gurindam Dua Belas.
1848:
Pohon sawit (Elaeis guinaeensis) ditanam untuk pertama kali di Bogor.
Keputusan Raja Nederland tanggal 30 September 1848 Nomor 95 tentang sekolah dasar negeri untuk golongan Bumiputera.
1849:
Abdullah bin Abdukl Kadir Munsyi mengeritik orang Melayu yang mengabaikan bahasa sendiri lewat Hikayat Abdullah.
N.V. Oost Borneo Maastchappij membuka tambang batubara pertama di Pengaran, Kalimantan Timur.
1850:
Natuurkundige Vereeniging in Nederlandsch-Indie (Perkumpulan Ilmu Alam Hindia Belanda).
Kelaparan di Jawa akibat Tanam Paksa. Penduduk Jawa sudah merosot 60% akibat Tanam Paksa dan wabah.
Batik dengan teknik cap mulai diproduksi.
Vaksinasi cacar di Hindia Belanda dilakukan oleh mantra kesehatan yang beragama Islam.
1851:
Sekolah Dokter Jawa (School voor Inlandsche Geneeskundigen) di Batavia.
Sekolah pendidikan guru negeri (Kweekschool) pertama di Surakarta.
1852:
Bibit singkong dari Suriname ditanam di Bogor.
1853:
Pabrik pengurai gula dan sirup pertama berdiri di Jawa.
1854:
Kina mulai ditanam di Priangan oleh Hasskarl.
Gulden menjadi mata uang tunggal di Hindia Belanda.
Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1796-1854), merintis gaya penulisan “aku”.
Regeringsreglement 1854 memilah penduduk Hindia Belanda menjadi Eropa, Timur Asing (Cina, Moor, Arab), dan Bumiputera.
1855:
Bromartani, Koran berbahasa dan beraksara Jawa pertama.
1856:
Saluran telegraf pertama Batavia-Buitenzorg (Bogor).
Sekolah kejuruan (Ambachtsschool) swasta pertama di Batavia berdiri.
1857:
Pelukis Kerajaan Belanda, Raden Saleh Sjarief Bestaman menyelesaikan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang merupakan revisi atas lukisan J.W. Piene-man. Adegan penangkapan diubah sedemikian rupa sehingga mencerminkan antipati Raden Saleh terhadap penindasan Belanda.
1859:
Pemerintah Belanda melarang perbudakan di Hindia Belanda.
Belanda dan Inggris menetapkan batas Kalimantan di sebelah barat.

1860:
Douwes Dekker menerbitkan Max Havelaar of De Koffivellingen der Nederlandsche Handelmaatschappy (Pelelangan Kpi dari Maskapai Dagang Belanda) atau Max Havellar, dengan nama samara Multatuli dari bahasa Latin yang artinya “saya telah banyak menderita”.
Hindia Belanda membuka impor beras.
Sekolah menengah negeri Gymnasium Willem III untuk golongan Eropa di Batavia.
1862:
Tanam paksa lada berakhir.
1864:
Prangko Hindi9a Belanda pertama.
Tanam paksa cengkeh dan pala berakhir.
Belanda mengadakan riset penanaman karet di Jawa dan Sumatra.
Jalur kereta api Semarang-Tanggung diresmikan.
1865:
Tanam paksa nila, teh, dan kayu manis berakhir.
Belanda memperkenalkan tembakau di Deli, Sumatra.
Sekolah Raja (Hoofdenschool) berdiri di Tondano.
1866:
Tanam paksa tembakau berakhir.
1867:
Sekolah Menengah Atas (HBS- Hogere Burger-school) untuk Eropa dan bumiputera terkemuka.
1868:
Belanda membuka tambang minyak di Cirebon. Penambangan minyak pertama di Jawa.
1870:
Pemerintah mengeluarkan Undang-undang Gula (SuikerWet) dan Undang-undang Agraria (Agrarische Wet).
Swastanisasi di sector pertanian mulai berkembang.
Saluran kabel telegraf bawah laut Batavia-Singapura.
Krisis kop[i di Jawa.
1871:
Traktat Sumatra membatalkan penghormatasn Belanda atas kedaulatan Aceh.
Undang-undang tentang Pendidikan di Hindia Belanda.
1872:
Benjamin Frederick Matthes menerbitkan jilid pertama buku Sureq I La Galigo dalam aksara Bugis. Penyusunnya adalah Arung Pancana Toa.
1873:
Perang berkecamuk di Aceh sampai 1903.
Nederlandsch-Indische Spoorwegsmaatschappij (Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda) berdiri.
1875:
Haji Djamari memperkenalkan rokok kretek. Nama “kretek” diambil dari suara cengkeh terbakar “kretek…kretek…”.

1876:
Karet mulai ditanam di Jawa.
Sekolah Rendah Pertama untuk wanita golongan Eropa di Batavia.
1877:
Artikel Pieter Brooshoof di emarangsche Courant berjudul Geef Indie wat Indies is (Kembalikan kepada rakyat Hindia Belanda apa yang merupakan miliknya).
1878:
Tanam paksa gula berakhir.
1880:
Koelie Ordonnantie (Peraturan Kuli) keluar. Majikan boleh menghukum kuli yang dikontrak bila perjanjian kontrak dilanggar.
Pangkalan angkatan laut dibangun di Tanjungpriok.
1882:
Hama menghancurkan tanaman tebu di Jawa.
1883:
Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus. Ledakannya setara 5.000 megatos bom hidrogen. Gelombang pasang (tsunami) setinggi 30 meter menerpa pesisir Lampung dan Banten. Korban tewas setidaknya 36.000 jiwa.
1884:
Krisis gula tebu di Jawa.
Ekspor kopra pertama dari Jawa.
Lim Kim Hok menerbitkan buku Tatabahasa Melayu, pertama yang dibuat oleh non-Belanda.
1885:
Penambangan timah di Bangka dan Belitung, dan minyak bumi di Langkat, Sumatra.
1886:
Dr. Eykman mendirikan Laboratorium Anatomi Patologis dan Bakteriologi.
1887:
Krisis ekonomi melanda Jawa.
1890:
Dordtsche Petroleum Mij. Berdiri untuk mengelola lading minyak di Rembang, Surabaya, Cepu.
1891:
Belanda dan Inggris menetapkan batas Kalimantan di sebelah timur.
Eugene  Dubois menemukan fosil Pithecanthropus erectus di Trinil.
1896:
Seruan Ir. Hendrikus Hubertus van Kol, Geen roof meer ten bate van Nederland (Berhentilah merampok Hindia Belanda demi kepentingan Nederland).
1898:
Belanda membujuk uleebalang di Aceh melawan pemimpin Islam.
Lapangan golf pertama dibangun di Surabaya.
Indische Bond, perhuimpunan Indo berdiri.
1899:
Conrad Theodor van Deventer menulis Een Eereschuld (Utang Budi) di De Gids.
1900
1900:
Sekolah Rendah di Bandung, Magelang, dan Probolinggo untuk mempersiapkan Bumiputera sebagai pegawai.
Tiong Hoa Hwee Koan, perhimpunan Tionghoa berdiri.
Pemutaran film bisu pertama di Batavia pada awal Desember.
1901:
Ratu Wilhelmina mengumumkan Poliitik Etis untuk Hindia Belanda. Nama dinukil dari tulisan Brooshoolf Die Etische Koers in de Koloniale Politiek.
Ejaan Van Ophuysen berlaku.
Dinas Arkeologi berdiri untuk mengurus candi di Jawa.
Pengalihan Tata Niaga Candu (Opium Regie) ke tangan pemerintah mendorong pengusaha Tionghoa menanamkan modal di sector lain.
1902:
Belanda mengakhiri larangan naik haji.
School Tot Opleiding Van Indische Artsen – STOVIA (Sekolah Dokter Bumi Putera) berdiri.
Volkscredietwezen (Jawatan Pegadaian dan Sistem Perkreditan Rakyat) berdiri.
1903:
Landbouwschool (sekolah pertanian) pertama berdiri.
UU tentang desentralisasi kekuasaan (kleine decentraliastie) di Hindia Belanda.
1904:
Belanda dan Portugis membagi Timor menjadi dua.
Johannes B van Heutsz menjadi Gubernur Jenderal. Tak lam,a kemudian mengganti Lange Verklaring (Perjanjian Panjang) dengan Korte Verklaring (Perjanjian Pendek).
1905:
Serikat Buruh  pertama untuk pekerja pembangunan jaringan kereta api berdiri.
Jamiyat Cheir, organisasi warga keturunan Arab pertama, berdiri di Batavia.
Jepang mengalahkan Rusia. Runtuh sudah mitos tentang bangsa Eropa yang tak terkalahkan.
1906:
Pembukaan perkebunan karet di Sumatra.
Majalah olahraga Hindia Belanda Indische Sport terbit.
Technnisch Onderwijs (sekolah teknik) Konongin Wilhelmina School berdiri di Batavia.
1907:
Novelis Bumiputera pertama, Tirto Adhi Soerjo mendirikan Koran dagang berbahasa Melayu, Medan Prijaji dengan modal F 75.000 yang berasal dari pemodal Bumiputera. Pada 1903, Torto Adhi Soerjo sudah menerbitkan Koran Soenda Berita, tetapi tidak berumur panjang karena tidak sukses sebagai bisnis.
Volksschool (sekolah desa) berbahasa daerah kelaas dua pertama.
1908:
VSTP (Serikat Buruh Jalan Kereta Api) menerima anggota Bumiputera.
Bapai Pustaka berdiri.
JM Gantvoort mendirikan biro pariwisata yang resmi di Batavia.
Hollandsch Chineescheschool, sekolah rendah untuk golongan Timur Asing dengan bahasa pengantar Belanda berdiri.
Budi Oetomo berdiri.
Indische Vereeniging berdiri di Nederland.
1909:
Kliring antarbank pertama.
Sekolah Hukum (Rechtsschool)  pertama berdiri.
1910:
Ekspedisi Belanda di Pulau Komodo melaporkan keberadaan Varanus  komodoensis.
Koran berbahasa Cina Sin Po  terbit.
Saluran telepon pertama Batavia-Surabaya.
1911:
Abendanon menerbitkan surat-surat RA Kartini dengan judul Door Duis-ternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
1912:
Serika Dagang Islam didirikan  oleh Kiai Haji Samanhudi.
Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah.
Keuangan Hindia Belanda dan Nederland mulai dipisah.
Indische Partij didirikan oleh Douwes Dekker, Tjipto Mangunkuusumo, dan Ki Hajar Dewantoro dengan cita-cita: “Hindia Bebas dari Nederland”. Mereka menggunakan teknik penggalangan massa secara besar-besaran (rally massa) pada hari deklarasi. Rally massa pertama di Hindia Belanda.
JJ Pangemanan mendirikan organisasi pemuda Roekoen Minahasa.
1913:
Kartini Fonds didirikan di Belanda untuk membantu pendidikan perempuan di Jawa.
Soewardi Soerjaningrat menulis Als in eens Nederlander was (Seandainya Saya Warga Negara Belanda) di De Express.
1914:
MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) untuk Bumiputer dan Timur Asing.
Solah Bumiputera berbahasa pengantar Belanda Hollandsch Inlandscheschool (HIS) pertama untuk golongan Bumiputera dari bangsawan, pegawai negeri, dan tokoh terkemuka.
HJFM Sneevliet mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV).
Organisasi pemuda Pagoejoeban Pasoendan terbwentuk di Batavia.
Perdebatan antara Soetatmo Soeriokoesoemo yang mempertahankan paham nasionalisme Jawa melawan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang membela paham nasionalisme Hindia.
Candi Borobudur mulai direstorasi.
1915:
Sekolah menengah umum  Algemeene Middelbareschool (AMS) pertama. Bagian A untuk kebudayaan, bagian B untuk pengetahuan alam.
Organisasi pemuda se-Jawa mendirikan Tri Koro Dharmo. Suku Jawa demikian domonan sampai-sampai pelajar Sunda dan Madura enggan bergabung.
1916:
Staten-Generaal di Belanda mengizinkan pembentukan Volksraad di Hindia Belanda.
1917:
Organisasi wanita Aisyiyah berdiri.
Organisdasi pemuda se-Sumatra Jong-Sumatranen Bond berdiri.
Indische Vereeniging, Chung Hwa Hui, dan Perhimpunan Indologi membentuk Perserikatan Pelajar Indonesia (Indonesische Verbond van Studeerenden).
Gerakan kepanduan De Nederlandsch-Indische Padvinders berdiri pada 4 September.
Tanam paksa kopi berakhir.
1918:
Volksraad bersidang. Sebanyak 36 % anggota adalah Bumiputera. Masa demokrasi terbatas.
Organisasi pemuda Sarekat Soematra didirikan di Batavia.
Tri Koro Dharmo mengubah nama jadi Jong Java.
Organisasi Jawa Dwipa berkampanye menentang feodalisme Jawa. Pemakaian bahasa Jawa kromo  dianjurkan diganti Jawa ngoko.
Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum mengumumkan “Janji 18 November” (November Belofte) tentang pemberian otonomi kepada Hindia Belanda.
TK Suprana mendirikan usaha “Djamoe Djago” di Wonigiri dan memperkenalkan jamu berwujud serbuk. Awal industri jamu di Indonesia.
“Peristiwa Garut”. Haji Hasan dan keluarga dibunuh polisi setelah menolak menyerahkan padi kepada penguasa. Sejak itu penguasa Hindia Belanda mulai menghadapi pergerakan kebangsaan dengan kekerasan.
Polisi Rahasia (Algemeene Recherchedients) dibentuk.
Kerusuhan antar-suku meletus di Kudus pada 13 Oktober. Persaingan bisnis antara pengusaha rokok kretek Bumiputera dengan Tionghoa jadi salah satu sebab.
Eksperimen pertama untuk pemancar radio di Malabar, Jawa Barat.
1919:
KLM membuka penerbangan Amsterdam-Batavia.
1920:
Technische Hoogeschool (sekarang Institut Teknologi Bandung) berdiri di Bandung.
M Yamin, kumpulan puisi Tanah Air.
Organisasi pemuda Persarikatan Madoera berdiri di Surabaya.
Organisasi pemuda Sarekat Ambon berdiri di Semarang.
Lakon ketoprak politik Babad Ki Ageng Mangir oleg Tjipto Mangoenkoesoemo. Kesenian ketoprak mulai berkembang sebagai media pergerakan kebangsaan.
ISDV mengubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia.
1921:
Organisasi pemuda Persatuan Timor berdiri di Makasar.
Orservatorium Boscha berdiri di Lembang.
1922:
Marah Roesi menerbitkan Sitti Noerbaja.
Ki Hadjar Dewantoro mendirikan Nationaal Onderwijs Taman Siswa.
Indische Vereeniging berubah menjadi Indonesische Vereeniging.
1923:
Lembaga Pasteur pindah dari Batyavia ke Bandung.
Organisasi pemuda Kaoem Betawi berdiri di Batavia.
Pernyataan asas Indonesische Vereeniging tentang: kedaulatan rakyat dalam pemerintahan bangsa Indonesia, percaya pada kemampuan sendiri, dan persatuan.
1924:
Layanan pos udara pertama dari Batavia ke Amsterdam.
Sekolah Hukum Tinggi (Rechts Hogeschool) berdiri di Jakarta.
Buku Gedenkboek Indonesische Vereeniging 1908-1923 terbit di Nederland. Pada sampul luar terdapat gambar bendera merah-putih ddan di bagian tengah  ada kepala banteng.
1925:
BRV (Bataviasche Radio Vereeniging) pemancar radio pertama di Batavia berdiri di Waltevreden, di Hotel Des Indes.
Perhimpunan Indonesia (PI) berdiri.
Jong Islamieten Bond berdiri.
Pementasan pertama wayang kancil oleh Bo Liem.
1926:
Kiai Haji Hasjim Asjari mendirikan Nahdatul Ulama.
Loetoeng Kasaroeng, film bisu pertama yang diproduksi di Hindia Belanda.
Kiai Iljas memperkenalkan pelajaran huruf latin di Tebu Ireng.
Rencana PKI memberontak terbongkar setelah kawat rahasia dari Abdoelmoetalib jatuh ke tangan pemerintah. Pemberontakan pertama melawan kolonialis Belanda oleh partai politik.
Pidato Mohammad Hatta selaku Ketua PI “Struktur Perekonomian Dubnia dan Pertentangan Kekuasaan” (Ecinimische weerldbouw en machtstegenstellingen).
“KOnvensi Hatta-Samaoen”. Intinya, PI sebagai partai rakyat kebangsaan Indonesia dan PKI mengakui kepemimpinan PI.
1927:
Soekarno mendirikan PNI (Perserikatan Nasional Indonesia).
Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Poliitik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) didirikan, dan diresmikan pada Juli 1928. Semua organisasi menerima cita-cita kebangsaan di atas kedaerahan, lapisan social, dan agama.
1928:
Poeteosan Congres Pemoeda Pemoeda Indonesia: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Lagu Indonesia Raya dilantunkan oleh WR Soepratman.
Saluran telepon internasional Batavia-Belanda dibuka.
Indonesie Vrij, pledoi Hatta di Nederland.
Dr. Soetomo, Dr. Samsi, dan Ir. Anwari mendirikan bank untuk orang Indonesia bernama “Bank Nasional Indonesia” di Surabaya.
1929:
Kelompok pandu bergabung dalam “Persaudaraan Antara Pandu Indonesia” kecuali Hizbul Wathan.
Pertunjukan film “bersuara” pertama di Princesse Schouwburg, Surabaya.
1930:
“Indonesia Menggugat”, pledoi Soekarno di Pengadilan Negeri (Landraad) Bandung.
1931:
Kioninklijke  Nederlandsch Indische Luchtvaart Mij – KNILM (Maskapai Penerbangan Kerajaan Hindia Belanda) berdiri.
1932:
Soekarno merumuskan konsep “Nasionalisme-Marhaenistis”.
1933:
Poedjangga Baroe oleh Sutan Takdir Alisjahbana.
Ter Haar, Oppenoorth, von Koeningswald menemukan fosil  Pithecantropus soloensis di Ngandong, Blora.
Awak kapalasal Eropa dan Indonesia di kapal  De Zeven Provicien memberontak karena penurunan gaji, tetapi pers asing mengaitkan dengan pergerakan kemerdekaan.
Kelompok pergerakan kebangsaan mendirikan Solose Radio Vereeniging (SRV).
1936:
Kereta api malam pertama dengan trayek Batavia-Surabaya. Bis untuk umum mulai beroperasi.
“Petisi Soetardjo”. Soetardjo Kartohadikoesoemo mengajukan petisi ke Volksraad berisi permohonan kepada Ratu dan Staten General supaya menetapkan konferensi untuk merumuskan pemberian otonomi bertahap kepada Hindia Belanda antara wakil Hindia Belanda dan Nederland dengan kedudukan sederajat.
1937:
Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) berdiri. Ketua: Agus Djaja, Sekretaris: Soedjojono.
Kantor Berita Antara berdiri.
Kelompok “Dardanella” tampil di Rangoon, di hadapan Jawaharlal Nehru. Rombongan stambul Indonesia pertamayang tampil di mancanegara.
1938:
Orang asing pertama sampai di Lembah Baliem, Irian.
Armijn Pane menerjemahkan Door Duisternis Tot Lich (Habis Gelap Terbitlah Terang) ke bahasa Melayu.
Organisasi radio non-pemerintah “Perikatan Perkumpulan  Radio Ketimuran” (PPRK) diasahkan sebagai badan hukum.
1939:
Gabungan Politik Indonesia (GAPI) berdiri.
1941:
Von Koeningswald menemukan fosil Meganthropus palaeojavanicus.
1942:
Jepang menduduki Indonesia.
Chairil Anwar menulis puisi Nisan.
1943:
Jepang menyekap misionaris Kristen asal Eropa. Agama Kristen mulai berkembang dengan corak Nusantara.
Tan Malaka menenerbitkan Madilog (Materialisme-Dialektika-Logika).

1944:
Istilah “rupiah” mulai dipakai untuk menggantikan “gulden” sebagai nama mata uang di Indonesia.
1945:
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Tentara Keamanan Rakyat dibentuk.
Akademi Militer Tangerang berdiri.
Perang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia mulai berkecamuk di Nusantara.
1946:
Ibu kota RI pindah ke Yogyakarta.
Kabinet RI dirombak dengan tambahan Departemen Agama.
Oeang Republik Indonesia menjadi mata uang RI.
Persatuan Wartawan Indonesia berdiri.
1947:
Ejaan Soewandi berlaku.
1948:
Idrus menulis Kesusastraan Indonesia.
Pekan Olahraga Nasional pertama di Solo.
PKI memberontak di Madiun.
1949:
Konferensi Meja Bundar.
Universitas Gadjah Mada berdiri di Yogyakarta.
Presiden RI Soekarno kembali ke Jakarta sebagai Presiden Reopublik IndonesiaSerikat (RIS).
Nilai tukar rupiah dipatok Rp 3,8 per dolarAS.
1950:
“Gunting Sjafruddin”. Semua uang NICA dan De Javasche Bank digunting. Potongan sebelah kiri jadi alat pembayaran yang sah  dengan nilai separuh dari nilai awal.
Usmar Ismail mendirikan Perfini dadn membuat film Long March Siliwangi dan Enam Djam di Djogdja.
NV Garuda Indonesia Airways berdiri.
Pemerintah mengharuskan wanita Bali berpakaian lebih lengkap bila berada di tempat umum.
1951:
Garuda Pancasila menjadi lambang negara RI.
1952:
Nilai tukar rupiah ditetapkan Rp 11,40 per dolar AS.
1953:
Agama mulai jadi mata pelajaran di sekolah.
Per 1 Juli De Javasch Bank menjadi Bank Indonesia.
1955:
Konferensi Asia Afrika di Bandung.
Pemilihan Umum multipartai untuk memilih anggota Parlemen dan Konstituante. Sebanyak 39 juta pemilih memberikan suara. Awal demokrasi parlementer.
1957:
SOB (Staat van Oorlog Beleg). Negara dinyatakan dalam keadaan darurat.
1958:
Indonesia merebutPiala Thomas, lambang supremasi bulu tangkis dunia beregu putra untuk pertama kali.
Jenderal AH Nasution mengemukakan gagasan tentang peran social-politikABRI dalam Dies Natalis Akademi Militer (AMN).
1959:
Ejaan Melindo.
Nilai rupiah merosot 90% setelah pemerintah memangkas nilai rupiah (sanering) per 24 Agustus.
Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Era Demokrasi Terpimpin.
1960:
Lima dari delapan anak-anak Koeswoyo mendirikan Kus Bros. Mereka adalah Koesjono (Jon, 27 tahun), Koestono (Tony, 23), Koesnomo (Nomo, 20), Koesyono (Yon, 17), dan Koesroyo (Yok, 16). Pada 1963 berubah menjadi Kus Bersaudara, alalu Koes Bersaudara (1965), dan akhirnya Koes Plus (1969).
Music dangdut mulai berkembang. Kelompok yang memainkannya dikenal sebagai “Orkes Melayu”.
1962:
Took Serba Ada Sarinah berdiri di Jl MH Thamrin Jakarta. Muda-mudi memanfaatkan Sarinah sebagai ajang cuci-mata.
Siaran pertama Televisi Republik Indonesia.
1963:
Pemerintah memperkenalkan celana pendek  untuk penduduk Irian Jaya.
1964:
Pemerintah menetapkan nilai rupiah Rp 250 per dolar AS.
1965:
Istilah “mahasiswa” mulai menggantikan “pemuda” dalam perbincangan politik.
“Pembantaian Uang”. Rp 1.000 dinilai Rp 1.
“Gerakan 30 September”. PKI dituduh sebagai pelaku gerakan.
1966:
Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto lewatSurat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Namun naskah asli Supersemar tidak jelas rimbanya.
Anak-anak muda membuat stasiun pemancar radio amatir, cikal bakal radio siaran swasta.

1967:
Soeharto menjadi Presiden RI kedua.
UU PMA berlaku, disusul UU PMDN. Keduanya menguntungkan pemodal baru, tidak kepada pemodal lama. Pemodal lama, yang umumnya pribumi, cemburu kepada pemodal baru yang umumnya Tionghoa.
1968:
Taman Ismail Marzuki didirikan oleh Gubernur DKI Ali Sadikin dan beberapa seniman.
Rudy Hartono menyabet  gelar All England yang pertama.
1969:
Konsep Pelita (Pembangunan Lima Tahun) mulai dijalankan.
1970:
Penjadwalan kembali utang Indonesia. Pembayaran utang pokok mulai 1970 sampai 1999.
Nilai tukar rupiah ditetapkan Rp 378 per dolar AS.
Bahasa prokem mulai mewabah di Jakarta.
1971:
Nilai tukar rupiah menjadi Rp 415 per dolar AS menyusul pembebasan dolar AS dari ikatannya dengan emas berdasarkan aturan Bretton Woods.
1972:
Ejaan Yang Disempurnakan berlaku.
1973:
Perang di Timur Tengah memicu harga minyak bumi naik (oil shock).
Piala Citra dilombakan dalam Festival Film Indonesia di Jakarta.
1974:
Malapetaka Lima belas Januari (Malari).
Pembangunan pemukiman secara besar-besaran di Depok untuk kelas menengah. Era Perumnas dimulai.
Presiden Soeharto mencetuskan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Prasetya Pancakarsa) dan menjadi Ketetapan MPR  pada 1978.
1975:
Indonesia merebut Piala Uber, lambang supremasi bulutangkis dunia beregu putri.
Pasukan RI masuk ke Timor Timur.
1976:
Timor Timur jadi bagian RI.
Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) berdiri.
Roket Delta 2914 membawa Satelit Palapa A1 mengorbit bumi di 108 derajat Bujur Timur.
1977:
Bursa Efek Jakarta dibuka.
1978:
Indonesia menganut “Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali” per 15 November. Rupiah ditetapkan Rp 625 per dolar AS.
1979:
Oil Shock kedua.
1980: program “ABRI Masuk Desa” mulai dijalankan.
1981:
Pramoedya Ananta Toer menerbitkan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, dua novel pertama dari Tetralogi. Novel ketiga Jejak Langkah (1985), dan keempat Rumah Kaca (1988).
1983:
Penembak Misterius (Petrus) membunuh preman-preman di pelosok Indonesia.
Nilai tukar rupiah ditetapkan  Rp 970 per dolar AS.
1984:
Kewajiban menggunakan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi di Indonesia.
Bank Indonesia menerbitkan “Sertifikat Bank Indonesia”.
Kerusuhan di Tanjungpriok.
1985:
Indonesia menerima penghargaan FAO (Food ang Agriculture Organization) atas sukses swasembada beras.
Bank Indonesia memperkenalkan “Surat Berharga Pasar Uang”.
1986:
Nilai tukar rupiah Rp 1.644 per dolar AS.
1987:
Laporan tentang kasus HIV (human immunodeficiency virus)/ AID (acquired immunodeficiency syndrome) pertama di Indonesia.
Gedung bioskop dengan beberapa layar sekaligus (Cineplex) mulai berkembang.
“Gebrakan Sumarlin I”. Pemerintah mewajibkan empat BUMNmenarik deposito senilai Rp 1,3 trilyun untuk membeli SBI.
1988:
Becak dilarang beroperasi di Jakarta per April 1990 menurut Perda No.11/1988.
Paket Kebijakan 27 Oktober 1988. Salah satu butir memperkenankan bank swasta berdiri dengan modal disetor Rp 10 milyar. Jumlah bank tabungan segera melonjak jadi 220 dari 111.
1989:
Orang asing diizinkan masuk ke Timor Timur.
Siaran televise swasta pertama (RCTI).
1990:
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) berdiri.
1991:
Aparat keamanan menembaki pelayat di Santa Cruz, Timor Timur.
“Gebrakan Sumarlin II”. Pemerintah mewajibkan 12 BUMN menarik deposito senilai Rp 8 trilyun untuk membeli SBI.
1992:
Susy Susanti mempersembahkan medali emas  pertama  untuk Indonesia dari cabang bulu tangkis tunggal putri; kemudian disusul Alan Budikusumah untuk emas kedua dari cabang bulu tangkis tunggal putra pada Olimpiade Barcelona.
Tsunami setinggi 26 meter menyapu Flores. Lebih dari seribu orang tewas.
1994:
Usaha Internet Service Provider (ISP) mulai berkembang di Jakarta. Sampai 1995 setidaknya  ada 14.000 pemakai internet di Indonesia. Sebanya 10.000 orang di Jakarta, 1.000 orang di Bandung, dan 3.000 orang di Suirabaya.
Perrtemuan pemimpin negarta APEC di Bogor, mendeklarasikan perdagangan bebas mulai 2002.
1995:
Keputusan Presiden No 82-83 tahun 1995 tentang pembukaan lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan dengan dalih mempertahankan swasembada pangan. Proyek itu tidak hanya gagal, bahkan merusak struktur tanah gambut.

1996:
Kerusuhan di Jakarta (27 Juli), Situbondo (10 Oktober), Tasikmalaya (26 Desember), dan Sanggau Ledo (30 Desember).
Kasus HIV pertama pada bayi.
1997:
Kebakaran hutan melanda Kalimantan. Asap kebakaran menyebar ke negara tetangga.
Gagal panen di berbagai pelosok Nusantara karena El Nino dan La Nina.
Rupiah dibebaskan dari ikatan dengan dolar AS pada 14 Agustus jam 09.00. nasib rupiah diserahkan ke tangan pasar. Nilai tukar rupiah l;angsung melemah 10% pada hari itu juga. Awal krisis ekonomi.
1998:
Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent di hadapan Direktur IMF Michael Camdessus.
Nilai tukar rupiah mencapai Rp 16.000 per dolar AS pada Februari 1998. Masyarakat panik dan memborong barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Empat mahasiswa Universitas Tri Sakti, Jakarta, gugur tertembak setelah berdomontrasi.
Kerusuhan 13-15 Mei meletus di Jakarta dan Solo dengan sasaran suku Tionghoa.
Mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR menuntut Sidang Istimewa MPR. Presiden Soeharto mundur dari jabatan.  Bachruddin Jusuf Habibie menjadi Presiden RI ketiga.
Pemerintah mengumumkan 40 juta orang rawan pangan. Indonesia memerlukan impor beras 3,5 juta ton menurut FAO.
1999:
Pemilu pada 7 Juni. Pemilu kedua setelah 1955 yang dinilai terlaksana secara jujur dan adil. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memperoleh suara terbanyak.
Kiai Haji Abdurrahman Wahiod menjadi Presiden RI pertama yang terpilih lewat pemungutan suara. Calon presiden dari PDIP, Megawati Sukarniputri kalah suara, tetapi menang dalam pemilihan wakil presiden. Kerusuhan sempat meletus di Bali dan Solo menyusul kekalahan Megawati.
Timor Timut merdeka lewat referendum yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Adullah, Taufik, dkk. 1993. Film Indonesia Bagian I (1900-1950).Jakatra: Dewan Film Nasional.
Geertz, Clifford, 1963. Agricultural Involution: The Processes of Ecological Change in Indonesia.. University of California Press.
Lombard, Denys, 1996. Nusa Jawa Silang Budaya. Jakarta: Gramedia Putaka Utama.
Mestoko, Sumarsono, dkk. 1985. Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Moerdowo, RM. 1982. Wayang: It’s Significance in Indonesia Society. Jakarta: Balai Pustaka.
Pieter Creutzberg dan JTM van Laanen., 1987. Sejarqah Statistik Ekonomi Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Poesponegoro, m.d. dan Notosusanto, Nugroho, 1984. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Redaksi KPG, 1998 &1999. Illustration Database: Krisis Ekonomi, Jilid I sampai XII. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Simbolon, Parakitri T, 1995. Menjadi Indonesia I. Jakarta, Kompas.
Simbolon, Parakitri T, 1999. Pesona Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Smith, Edward C, 1983. Sejarah Pembreidelan Pers Indonesia. Jakarta: Grafiti Pres.
Soebagyo. 1977. Sejarah Pers Indonesia. Jakarta: Dewan Pers.
Tim Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976/1977. Sejarah Seni Rupa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tim Penulis LP3ES, 1995. Bank Indonesia: Dalam Kilasan Sejarah Bangsa. Jakarta: LP3ES.
Tim Redaksi, 1980. Ensiklopedi Indonesia Jilid 1-7. Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve.
Tim Redaksi, 1998. Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 1-18. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.
Toa, Arung Pancana, 1995. I La Galigo; menurut naskah NBG 188. Jakarta: Djambatan.
Toer, Pramoedya A., dkk, 1999. Kronok Revolusi Indonesia Bagian I  (1945). Jakartya: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Toer, Pramoedya A. dkk, 1999. Kronik Revolusi Indonesia Bagian II (1946). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Zoetmulder, P.J. 1983. Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
Majalah/Suratkabar:
Scientific American, Far Eastern Economic Review, National Geographic, Kompas.

EKOLOGI POLITIK

November 3, 2010

KATA PENGANTAR

Perlahan-lahan, umat manusia terbiasa dengan cuaca yang berubah dan cenderung menjadi ekstrem. Mengikuti pemberitaan, masih segar dalam ingatan bagaimana China dan Pakistan dihantam banjir dahsyat berkepanjangan, menelan korban ratusan nyawa. Sementara itu, di Rusia gelombang panas menimbulkan kebakaran hutan hebat. Sementara itu, di Tanah Air sendiri, pelajaran sekolah dasar yang membagi negeri dalam dua musim—kemarau dan hujan—sulit dipercaya lagi karena April-Oktober yang harusnya musim kemarau diwarnai hujan dengan curah tinggi.

Mengamati fenomena itu, mantan reporter lingkungan The New York Times, Andrew C Revkin, menulis, (cuaca) yang ekstrem itu kini sudah jadi lumrah/biasa (IHT, 9/9). Kalau hanya itu, meski merisaukan, manusia masih bisa berupaya menanggulangi. Yang lebih serius, menurut Revkin, ekstremitas cuaca ini hanya pendahulu (preview) dari fenomena mendatang—yang tentunya lebih hebat—bila emisi (karbon) tak bisa dikendalikan.

Jika ini merupakan ”kebenaran yang tak mengenakkan” seperti dikatakan Al Gore, memang itulah yang kini dirasakan manusia, yang gencar menyemprotkan karbon ke udara semenjak dimulainya Revolusi Industri di pertengahan abad ke-18.

Seperti juga disinggung Revkin, sejak berpuluh tahun lalu, ilmuwan telah meramalkan bahwa di dunia yang telah dipanaskan gas-gas rumah kaca, cuaca yang berpotensi mendatangkan bencana—seperti gelombang panas, kekeringan, dan banjir—akan terjadi dengan frekuensi kian meningkat. Dalam lingkup lokal, frekuensi terjadinya hujan lebat disertai petir atau puting beliung hebat bisa menjadi salah satu rujukan.

Menanggapi fenomena cuaca ekstrem yang dipicu pemanasan global ini, sebetulnya manusia telah mengambil langkah. PBB menyelenggarakan Konferensi Perubahan Iklim, meskipun bangsa-bangsa tampaknya masih dibelenggu kepentingan nasional masing-masing, sehingga kesepakatan global untuk pengurangan emisi masih sulit dicapai.

Desember ini di Meksiko akan berlangsung pertemuan internasional untuk mencapai kesepakatan pemangkasan karbon. Berdasarkan pengalaman Konferensi Kopenhagen tahun silam, nuansa pesimisme mulai muncul.

Selain mengupayakan pemangkasan emisi karbon, manusia juga mengupayakan pemanfaatan energi baru lebih ramah lingkungan meskipun penggunaan bahan bakar fosil yang memancarkan karbon masih dominan hingga kini. Ini pula yang oleh sebagian kalangan dilihat sebagai pilihan lebih masuk akal dibandingkan dengan pemangkasan emisi karbon secara drastis dan segera.

Pandangan yang disebut terakhir itu muncul dari penulis buku Cool It: The Skeptical Environmentalist’s Guide to Global Warming, Bjorn Lomborg, yang kini juga menjadi Kepala Pusat Konsensus Kopenhagen. Dalam artikelnya di Project Syndicate (The Jakarta Post, 14/9), Lomborg menyebutkan hasil yang diperoleh dari pertemuan para ekonom yang diminta mengkaji ongkos yang harus dibayar untuk menanggulangi emisi karbon.

Dalam laporan berjudul ”Smart Solutions to Climate Change” yang terbit bulan ini dimuat pula pemikiran ekonom iklim Richard Tol yang menegaskan bahwa janji besar pemangkasan karbon yang drastis, segera, merupakan strategi yang salah.

Lebih jauh ditambahkan, agar peningkatan suhu terjaga di bawah 2 derajat celsius, seperti yang dijanjikan negara-negara industri (G-8), pengurangan emisi yang harus dilakukan pada pertengahan abad ini adalah 80 persen. Dengan itu, kerugian akibat iklim yang bisa dihindari adalah 1,1 triliun dollar AS. Namun, pada sisi lain, upaya itu juga akan menghambat pertumbuhan dengan kerugian 40 triliun dollar AS per tahun.

Itu sebabnya, menurut Lomborg, strategi yang lebih jitu dari pemangkasan karbon adalah peningkatan secara besar-besaran riset dan pengembangan energi alternatif.

Di tengah berbagai keruwetan akibat ongkos, akibat perbedaan pendapat yang tajam antarnegara dalam penerapan strategi, ada lagi pandangan lain yang dikemukakan terkait emisi karbon dan pemanasan global.

Mengutip laporan sampul jurnal triwulanan The American Scholar, kolumnis George Will (Newsweek, 20/9) menulis bahwa ”Bumi tidak peduli jika Anda mengendarai sebuah (mobil) hibrida”. Di dalam jurnal tersebut ada juga esai yang ditulis oleh salah seorang peraih Hadiah Nobel Fisika tahun 1998, yakni Robert B Laughlin, yang kalimat kuncinya dikutip di awal tulisan ini.

Merusak Bumi yang tua ini, menurut Laughlin, jauh lebih mudah dibayangkan daripada dilaksanakan. Sebelum ini sudah ada banyak letusan gunung berapi, tumbukan meteor, semua perusakan dengan kedahsyatan melebihi apa yang bisa dilakukan oleh manusia, toh Bumi masih baik-baik saja.

Menarik memang fakta yang dikemukakan oleh Will. Bahkan, ketika manusia membakar habis semua bahan bakar fosil dan emisi karbonnya memenuhi atmosfer, Bumi akan mampu melarutkan sebagian besar karbon tersebut, mungkin setelah satu milenium, ke lautan. Kalau sudah dilarutkan, tingkat konsentrasi karbon paling hanya sedikit lebih tinggi daripada saat ini. Sisa karbon dioksida di atmosfer kemudian akan ditransfer ke batuan hingga dalam puluhan atau ratusan ribu tahun konsentrasi gas rumah kaca ini di laut dan udara akan kembali ke tingkat sebelum manusia muncul.

Dalam kurun waktu manusia, itu proses sepanjang masa. Namun, dalam skala geologi yang jutaan tahun, itu bak sekejap mata.

Apa yang diuraikan George Will di The American Scholar menjelaskan bagaimana Bumi memiliki dayanya sendiri untuk memulihkan diri. Satu yang tak dapat dilakukan adalah membalik kepunahan biodiversitas, seperti memunculkan kembali dinosaurus.

Persisnya di sini pula manusia didorong untuk berbuat baik terhadap Bumi, karena tanpa kesadaran itu, bisa jadi spesies manusia sendiri yang akan punah sebagaimana dinosaurus dan spesies lain yang sudah punah sebelum ini. Tentu Bumi juga memiliki suratan nasibnya dalam konteks evolusi Matahari, tetapi itu baru akan terjadi lebih dari satu miliar tahun mendatang.

Dengan demikian, mengerjakan hal yang baik bagi Bumi jelas pertama-tama ditujukan untuk pengamanan pelestarian Homo sapiens dan keragaman hayati.

Tulisan ini dibuat guna menyadarkan kita sebagai warga dunia, bahwa dunia ini semakin rentan karena ulah tangan-tangan manusia yang serakah. Manusia, yang memang memiliki sifat dasar egois, ingin menguasai seluruh alam ini tanpa memperhitungkan bahwa apabila alam ini dirusak demikian parah, akan ikut memusnahkan dirinya sendiri.

Jelas, isi tulisan ini jauh dari sempurna, karena selain tipis, referensinya juga sangat sedikit. Malahan ada referensi yang belum sempat tertuliskan, karena antara waktu penyusunan dan naik cetak sangat sempit. Namun, bukan itu alasan yang paling utama. Yang jelas, memang pengetahuan penulis sangat minim.

Tulisan ini ini ditulis dengan menggunakan pendekatan historis, antropologis, dan sosiologis.  Oleh karena itu, membaca tulisan ini membutuhkan kejelian dalam membacanya, karena akan terasa sedikit membosankan sebab ada paragraf-paragraf diulang-ulang; hal ini tidak bisa dihindari agar pemahamannya tidak terpotong-potong.

Seperti disebutkan di atas, tulisan ini jauh dari sempurnya. Tiada yang lebih diharapkan dari pembaca selain memaafkan penulis yang telah berani menampilkan ketidaksempurnaan ini. Namun, semoga di balik ketidaksempurnaan ini ada manfaat yang bisa ditarik para pembaca.

Semoga kita selalu mendapatkan perlindungan dari-Nya. Amin.

Bandung, September 2009.

BAB I

PENDAHULUAN

Dunia yang kita diami ini semakin lama semakin terancam kelestariannya. Bukan karena dunia memang sudah tua, namun karena ulah manusia yang menempatinya. Manusia telah merusak alam tempat mereka tinggal. Darat dan laut mereka eksploitasi tanpa mengindahkan masa depan anak-cucu mereka. Hutan digunduli, dan setiap harinya dunia kehilangan 10 ha hutannya karena dibabat manusia. Lautnya pun tidak disisakan. Pantai direklamasi sampai terumbu karangnya tempat biota laut hidup dan mencari makan musnah. Atau kalau bukan karena reklamasi pantai, maka laut dirusak terumbu karangnya oleh tangan-tangan serakah pencari ikan dengan bom atau racun. Contohnya, Indonesia memiliki terumbu karang terluas di dunia, yaitu 7.500 km, tapi yang baik tinggal 7%, 63% rusak parah, dan yang musnah 30%. Itu semua bukan karena alam, tetapi karena ulah manusia yang serakah dan tidak menghiraukan masa depan.

Buku ini, meskipun tipis, mencoba menguraikan akar permasalahan keserakahan manusia tersebut sehingga mereka berani menghancurkan satu-satunya alam tempat berpijaknya. Dimulai dengan uraian tentang biosfir dan ekumene. Hal ini penting, agar kita menyadari bahwa makhluk yang diberi nama oleh Teilhard de Chardin sebagai biosfir ini akan habis apabila manusia tidak memelihara alam sebagaimana mestinya. Dan, apabila biosfir musnah, maka musnah pula isi bumi ini, alias kiamat!

Keserakan manusia semakin menjadi-jadi setelah terjadi Revolusi Industri di Inggris lalu dipolitisasi oleh Negara. Perusakan atas nama kepentingan “pembangunan” dilakukan oleh sebuah Negara, baik di dalam negerinya sendiri maupun di negeri orang. Mereka tidak mau tahu bahwa meskipun perusakan itu dilakukan di negeri orang (lain) tapi dampaknya akan mengglobal, karena negaranya ada pada bulatan bumi yang sama. Sehingga apabila di belahan bumi lain rusak alamnya akan mempengaruhi iklim seluruh permukaan bumi. Manusia harus menyadari bahwa alam itu akam membentuk peradaban manusia, bukan sebaliknya. Oleh karena itulah maka di sini pun akan dibahas tentang ekumene, meskipun tidak terlalu lengkap.

Meskipun Revolusi Industri telah berlalu beberapa abad yang lampau, namun dampaknya akan terus terasa. Sekarang kita bisa merasakan bagaimana gerahnya bumi kita ini. Daerah yang tadinya sejuk –seperti Bandung—kini terasa panas. Apalagi daerah yang tadinya panas, semakin menyengat. Alam dan peradaban itu sesungguhnya saling mempengaruhi. Manusia yang menghargai alam dan mengelola alam dengan baik adalah manusia yang memiliki peradaban yang tinggi. Tetapi, karena kemajuan ilmu semakin menumbuhkan rasa kepenasaran manusia untuk mengembangkan keserakahannya dan egoismenya, maka timbullah keinginan untuk menguasai alam dan seluruh isinya, termasuk manusia di luar dirinya. Akibatnya, terjadilah perang di mana-mana. Ekumene, tempat peradaban manusia bersemi, terancam kelestariannya. Keserakahan manusia yang menciptakan budaya modern yang tidak menghargai sesama makhluk, baik manusia maupun non-manusia.

Demikian pentingnya permasalahan pelestarian alam ini, maka dalam buku yang tipis ini kita akan membahas tentang biosfir, ekumene, dan kebudayaan. Kebudayaan penting dibahas secara teoritis, supaya kita tahu mengapa manusia suka merusak alam, dan meskipun sudah banyak terjadi bencana yang ditimbulkannya, manusia tidak jera-jeranya terus saja –malahan secara sistematis— memporakporandakan bumi yang satu ini tanpa memikirkan bahwa anak-cucunya juga membutuhkannya. Kebudayaan modern ini bermula dari Revolusi Industri di Inggris. Oleh karena itulah, maka dalam pembahasannya, yang menjadikan objek dalam buku ini adalah negara yang secara langsung bersinggungan dengan Revolusi Industri. Indonesia, meskipun pernah dijajah oleh Belanda, tidak dibahas karena penjajah Belanda tidak mengakibatkan rakyat jajahannya memiliki budaya modern. Lain dengan Inggris dan Prancis, misalny.

BAB II

BIOSFIR SEBAGAI SARANA KEHIDUPAN

 

Biosfir adalah istilah yang diciptakan oleh Teilhard de Chardin, yang merujuk ke sebuah lapisan tanah kering, air, dan udara yang tipis yang menyelimuti sekeliling bola bumi. Sekarang ini biosfir merupakan satu-satunya habitat –yang selalu bisa diakses—bagi seluruh spesies kehidupan di muka bumi ini.

Volume biosfir secara rijid terbatas, dan hanya berisikan persediaan sumber-sumber yang terbatas pula, sehingga berbagai spesies kehidupan harus menata diri untuk mempertahankan hidupnya. Sebagian sumber –yang terbatas ini– bisa diperbaharui, dan sebagian lainnya tidak tergantikan. Spesies apapun yang memanfaatkan sumber-sumber yang dapat diperbaharui ataupun menguras sumber-sumber yang tidak dapat diganti, berarti sedang berusaha memusnakan dirinya sendiri. Jumlah spesies yang telah punah dan meninggalkan jejak-jejak dalam catatan geologis sangat banyak dibandingkan dengan jumlah yang masih bisa bertahan hidup.

Dalam hal luasnya, biosfir sangatlah kecil. Batas atasnya mungkin sama dengan ketinggian maksimum stratosfir yang masih bisa dilalui pesawat terbang. Batas bawahnya adalah kedalaman di bawah permukaan bagian solidnya yang masih bisa ditambang dan dibor oleh para insinyur. Ketebalan biosfir, antara dua batas itu, cukup tipis bila dibandingkan dengan panjang radius bola bumi yang dilapisinya, seperti kulit halus pada manusia. Dan bola bumi ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan palnet-palnet besar matahari lainnya. Bola bumi ini juga jauh sekali jaraknya dari palnet-planet tersebut yang “mengelilingi” matahari dalam ortbitnya masing-masing, yang sebenarnya tidak berbentuk bulat tetapi elips. Selanjutnya, matahari kita hanyalah salah satu dari matahari-matahari yang nyaris tidak terhingga jumlahnya yang membentuk galaksi kita, dan galaksi kita juga hanyalah salah satu dari galaksi-galaksi yang jumlahnya tidak diketahui (semakin banyak galaksi yang diketahui seiring dengan semakin canggihnya teleskop kita). Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan dimensi-dimensi bagian dari kosmos fisik yang kita ketahui, dimensi-dimensi biosfir kita tak terhingga kecilnya.

Biosfir tidak sama tuanya dengan planet bumi yang diselimutinya. Biosfir adalah sebuah pertumbuhan yang tidak normal –orang bisa menyebutnya dengan lingkaran atau kerak—yang terjadi lama setelah lapisan kulit palnet bumi ini cukup dingin bagi komponen-komponennya, yang aslinya berupa gas untuk mencair dan memadat. Hampir bisa dipastikan bahwa hanya biosfirlah yang kini ada dalam tata surya kita, dan mungkin dalam tata surya kita ini tidak ada biosfir lain yang telah atau akan ada. Tentu saja tata surya ini, seperti biosfir kita, hanya sejumput yang sangat kecil dari bagian kosmos fisik yang telah diketahui. Mungkin matahari-matahari lain –yang banyak jumlahnya—memiliki planet-planet. Dan, di antara planet-planet ini ada sebagian yang, seperti planet-planet kita juga, mengelilingi matahari-mataharinya dengan suatu jarak di mana mereka, seperti planet-planet kita, dapat menumbuhkan biosfir-biosfir yang membungkus permukaannya. Tetapi, kalaupun sesungguhnya ada potensi biosfir-biosfir lain, kita tidak percaya begitu saja bahwa biosfir-biosfir ini benar-benar bisa didiami oleh makhluk-makhluk hidup, seperti biosfir kita. Dalam sebuah habitat yang potensial bagi kehidupan, potensialitas ini tidak selalu teraktualisasikan.

Konfigurasai fisik dari materi yang terstruktur secara organik telah diketemukan. Tetapi, sebagaimana telah diketahui sebelumnya, muatan-muatan fisik dari kehidupan, kesadaran, dan tujuannya tidak sama seperti juga kehidupan, kesadaran dan tujuan itu sendiri. Kita tidak tahu bagaimana atau mengapa kehidupan, kesadaran, dan tujuan telah ada mengitari permukaan planet kita. Namun kita mengetahui bahwa konstituen-konstituen material biosfir kita telah diredistribusikan secara spasial dan disusun kembali secara kimiawi akibat interaksi antara organisme hidup dan materi anorganik. Kita mengetahui bahwa terciptanya organisme-organisme “primnitif” menjadi filter yang menyaring radiasi yang secara terus-menerus membombardir biosfir kita dari matahari dan sumber-sumber eksternal lain, sehingga kekuatan radiasi tersebut bukan hanya dapat ditoleransi tetapi juga ramah terhadap bentuk-bentuik kehidupan yang “lebih tinggi” (istilah “lebih tinggi” ini berarti lebih dekat dengan bentuk kehidupan spesies homo sapiens –sebuah penggunaan kata yang sifatnya relatif dan subjektif).

Kita juga mengetahui bahwa materi yang terkandung di dalam biosfir telah dan selalu bertukar tempat atau “didaur ulang” antara bagiannya yang, pada suatu momentum, tidak bernyawa sekaligus bernyawa. Dan, dalam bagian yang bernyawa, sebagian berupa flora dan sebagian lagi fauna. Dalam bagian yang berupa fauna, sebagian anggotanya non-manusia dan sebagian lagi manusia. Biosfir ini ada dan bertahan hidup berkat keseimbangan kekuatan-kekuatan sensitif yang mengatur dan mempertahankan diri. Konstituen-konstituen dari biosfir ini bersifat interdependen, dan manusia bergantung pada hubungannya dengan biosfir sisanya, sama seperti konstituen-konstituen kekinian yang lain.

Dengan berpikir, manusia dapat membedakan dirinya dari menusia lain, dari bagian biosfir lain, dan dari bagian alam semesta yang bersifat fisik dan spiritual. Watak manusia, termasuk kesadaran dan suara hati secara fisiknya, juga terletak di dalam biosfir, dan kita tidak mempunyai bukti bahwa manusia individual atau umat manusia secara keseluruhan memiliki, atau dapat memiliki, eksistensi yang melampaui kehidupannya sendiri di biosfir ini. Jika biosfir berhenti menjadi habitat bagi kehidupan, maka manusia, sejauh pengetahuan kita, akan mengalami kepunahan yang kemudian juga akan menimpa setiap bentuk kehidupan lain.

Pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki sekarang menunjukkan sebuah kesimpulan bahwa habitat warga biosfir di permukaan planet bumi akan selalu dibatasi oleh selimut ini sebagai tempat kehidupan dalam bentuk yang kita kenal. Meskipun mungkin ada biosfir-biosfir lain yang bisa ditinggali oleh warga biosfir kita, kita tidak akan mungkin menjangkau dan mengkoloninya karena kemungkinan ini tidak bisa dinalar. Senyatanya, fantasi ini hanyalah utopia.

Jika kita berkesimpulan bahwa biosfir kita, yang selama ini menjadi satu-satunya habitat kita, juga merupakan satu-satunya habitat fisik yang selama ini kita miliki, maka sebenarnya kesimpulan tersebut mengingatkan kita untuk mengkonsentrasikan pikiran dan upaya pada biosfir ini: untuk meneliti sejarahnya, meramalkan prospeknya, dan untuk melakukan segala sesuatu yang dapat menjamin bahwa biosfir ini –bagi kita biosfir satu-satunya—akan tetap bisa ditempati sampai akhirnya tidak bisa ditempati lagi (uninhabitable) akibat kekuatan-kekuatan kosmis yang berada di luar kendali kita.

Kekuatan material manusia kini telah meningkat sedemikian pesat, sehingga dapat membuat biosfir menjadi tidak bisa ditempati lagi. Hal ini akan menghasilkan akibat yang mematikan dalam jangka waktu yang dapat diperkirakan, jika penduduk bumi ini tidak mengambil langkah-langkah bersama yang tepat dan hati-hati untuk mengurangi polusi dan eksploitasi yang membebani biosfir ini, karena kerakusan manusia yang berpikiran cupet. Di lain pihak, kekuatan material manusia tidak akan mampu untuk menjamin bahwa biosfir akan tetap bisa ditinggali jika kita sendiri tidak menahan diri untuk tidak merusaknya.

Kita harus menyadari, bahwa karena keterbatasannya, biosfir ini tidak sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri. Persediaan energi fisik biosfir –yang menjadi sumber materi kehidupan dan juga sumber kekuatan fisik yang ada di dalam alam tak bernyawa yang kini telah dimanfaatkan manusia—tidak berasal dari dalam biosfir sendiri. Energi fisik ini telah dan selalu dipancarkan ke biosfir dari matahari, dan juga dari sumber-sumber kosmis lain, dan peran biosfir ketika menerima radiasi vital dari luar batas-batasnya sekedar bersifat selektif.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa biosfir ini menyaring radiasi yang membombardirnya. Biosfir meloloskan sinar-sinar yang memberi kehidupan dan menolak sinar-sinar yang mematikan. Tetapi radiasi yang melimpah di biosfir dari sumber-sumber eksternal ini akan terus melimpah ruah selama filternya tidak aus dan sejauh sumber-sumber radiasi itu tetap tidak berubah; dan matahari kita, seperti setiap matahari lain dalam kosmos bintang selalu mengalami perubahan sepanjang masa. Dimungkinkan bahwa, di kelak kemudian hari, sebagian perubahan kosmis ini, baik di matahari atau bintang-bintang lain akan mengubah proses radiasi yang diterima oleh biosfir sehingga membuat biosfir ini tidak bisa ditempati lagi. Jika biosfir kita ini terancam oleh bencana semacam ini, tampaknya kekuatan material manusia tidak akan mungkin cukup untuk menahan perubahan yang mematikan dalam sandiwara kekuatan-kekuatan kosmis ini.

Sekarang mari kita bahas komponen-komponen biosfir dan sifat hubungan-hubungan di antara mereka. Ada tiga komponen biosfir; pertama, materi yang tak pernah kunjung hidup meskipun memperoleh sebuah struktur organik; kedua, materi organik; ketiga, materi tak bernyawa yang pernah hidup dan pernah bersifat organik serta masih mempertahankan sebagian sifat dan kekuatan organiknya. Kita mengetahui bahwa biosfir ini lebih muda usianya daripada planet yang diselimutinya. Kita juga mengetahui bahwa, di dalam biosfir ini, kehidupan dan kesadaran tidak dimiliki oleh materi yang diasosiasikan dengan keduanya. Lapisan materi yang kini menjadi sebuah biosfir dahulu pernah sepenuhnya tidak bernyawa dan tidak sadar, sebagaimana sebagian terbesar materi bola bumi sekarang ini. Kita tidak tahu bagaimana atau mengapa bagian dari bahan material biosfir ini pada akhirnya menjadi tidak bernyawa, juga tidak tahu bagaimana atau mengapa, pada fase terkemudian, bagian materi yang hidup ini menjadi sadar. Kita dapat mengajukan pertanyaan balik yang sama: bagaimana dan mengapa kehidupan dan kesadaran menjelma? Tetapi atas dasar pertanyaan balik ini masih juga jauh dari diri kita.

Komponen eks-organik biosfir sangat besar, dan komponen ini menjadi sebagian sumber terpenting bagi berlangsungnya hidup manusia. Sebelumnya, sudah merupakan pengetahuan yang jamak bahwa batu-batu dan pulau-pulau karang dihasilkan oleh beribu-ribu binatang sangat kecil yang bertumpuk-tumpuk memadat dan menjadi batu tiruan. Selama berpuluh-puluh abad, proses yang dilakukan oleh binatang-binatang sangat kecil ini membentuk areal tanah kering yang cukup besar di dalam biosfir yang bisa ditempati oleh bentuk-bentuk kehidupan non-akuatik. Makhluk-makhluk hidup yang sangat kecil tetapi banyak sekali dan tidak kenal lelah ini telah membentuk sebuah agregat area daratan terpencil yang lebih kokoh daripada kekuatan aktivitas vulkanik tak bernyawa yang dahsyat, yang menandingi binatang-binatang kecil dalam membuat batu karang di bawah air, hingga tersembullah sebuah pulau di atas permukaan air laut.

Kini juga telah menjadi pengetahuan bersama bahwa batu bara adalah produk dari sisa-sisa pepohonan yang telah mati. Demikian juga, bahwa tanah yang subur berasal dari olahan tubuh-tubuh cacing dan peran berjenis-jenis bakteri yang menempatinya, yang dengan cara demikian mempertinggi kemampuan tanah untuk menyediakan makanan bagi tumbuh-tumbuhan. Tetapi, orang awam masih saja terkejut jika seorang geolog mengatakan kepadanya, bahwa batu kapur yang merusak mata dan terdapat di sebagian puncak gunung adalah hasil dari timbunan kerang atau tulang bianatang-binatang laut selama berabad-abad di dasar laut; dan bahwa timbunan-timbunan horizontal materi yang pernah bersifat organik direbahkan –dalam pengertian skala waktu para geolog—oleh kontraksi kerak bumi hingga dikerutkan menjadi bentuk-bentuk seperti yang sekarang ini. Orang awam ini lebih terkejut lagi jika dikatakan bahwa timbunan-timbunan obat pencahar subterranean yang banyak sekali mungkin merupakan materi eks-organik –katakanlah sejenis batu bara yang berbeda dengan bijih besi atau granit; bahan-bahan yang tidak pernah melewati fase organik dalam konfigurasi molekul-molekul konstituennya.

Jumlah materi eks-organik yang luar biasa banyak di biosfir ini menarik perhatian kita untuk mencermati beberapa aspek sejarah kehidupan yang membingungkan (yang disebut secara salah sebagai “evolusi”, yang berarti tidak asli, padahal sekadar “hamparan” dari sesuatu yang telah ada secara laten). Kehidupan telah terdiferensiasikan menjadi sejumlah genera (bentuk jamak dari genus) dan spesies yang berbeda-beda, dan setiap spesies direpresentasikan dengan sejumlah anggotanya. Berlipatgandanya spesies dan anggotanya ini menjadi syarat yang memungkinkan adanya kemajuan kehidupan dari yang relatif sederhana dan lemah menjadi organisme yang relatif kompleks dan kuat. Tetapi harga yang harus dibayar oleh kemajuan melalui pembagian dan diferensiasi ini adalah persaingan dan perseteruan.

Masing-masing spesies, dan masing-masing anggota dari setiap spesies, bersaing dengan yang lainnya untuk mendapat konstituen-konstituen biosfir, baik yang tidak bernyawa atau bernyawa, yang bagi spesies tertentu, merupakan sumber dalam arti sarana yang efektif untuk mempertahankan kehidupan. Dalam sebagian kasus, persaingan ini terjadi secara tidak langsung. Satu spesies, atau satu anggota spesies, membunuh spesies lain bukan dengan cara memangsa atau membasminya, tetapi dengan merebut banyak sekali suatu sumber yang, bagi kedua pesaing itu, merupakan salah satu kebutuhan hidup. Ketika anggota-anggota spesies fauna non-manusia ini saling berhadapan untuk memperebutkan makanan, air, atau pasangan lawan jenis, maka yang kalah dianggap meminta seperempat bagian dan akan menerimanya dari sang pemenang sebagai pengganti kekalahannya. Umat manusia hanya dianggap sebagai fauna yang saling bertarung sampai mati dan membunuh kaum perempuan, anak-anak, orang tua, dan lakli-laki “musuhnya”. Bentuk kekejaman manusia yang aneh ini dilanggengkan di Vietnam, dan kekejaman ini diabadikan –makanya sangat dikutuk—dalam karya seni terkenal yang digubah selama 5.000 tahun terakhir: misalnya, lukisan Narmer; relief gelap Eannatum; the stele of Naramsin dan monumen-monumen karya para penerus Assyria yang berusaha menyamainya; epos Yunani Homerik; dan tiang Trajan.

Oleh karena itu, proses maju kehidupan ini pada titik terbaiknya menjadi bersifat parasitik dan pada titik terburuknya menjadi bersifat predator. Dunia fauna menjadi parasit bagi dunia flora; binatang (biasanya non-laut) tidak akan hidup bila tumbuhan tidak ada sebagai sumber udara dan makanan pemberi hidupnya. Sebagian spesies binatang mempertahankan hidupnya dengan cara membunuh dan mengganyang binatang-binatang dari spesies lain; dan manusia menjadi salah satu karnivora semenjak diturunkan dari tempat berlindungnya di atas pepohonan dan menginjakkan kakinya di tanah untuk mengambil kesempatan membunuh atau dibunuh. Korban-korban dari proses maju kehidupan ini adalah spesaies-spesies yang telah musnah dan beberapa yang masih bisa bertahan hidup tetapi secara terus menerus disembelih. Manusia telah membudidayakan beberapa spesies binatang untuk diperas hasilnya –susu atau madu—selama binatang-binatang itu masih hidup dan kemudian dibunuh secara kasar untuk diambil dagingnya sebagai makanan, juga tulang, urat, kulit, dan bulunya sebagai bahan baku berbagai peralatan dan pakaian.

Umat manusia juga saling memangsa. Kanibalisme dan perbudakan telah dipraktekkan di masyarakat yang sangat maju –kanibalisme ini banyak terdapat di Meso-Amerika pra-Kolombia, misalnya, dan perbudakan di masyarakat Graeco-Yunani, Islam, dan Barat Modern. Seorang budak adalah manusia yang diperlakukan seolah-olah menjadi binatang piaraan, dan perlakuan aneh manusia pada binatang ini secara implisit diakui oleh gerakan untuk menghapuskan praktek perbudakan manusia selama dua abad terakhir. Lebih dari itu, pembebasan budak secara yuridis tidak benar-benar membebaskan mereka, karena seorang manusia yang bebas secara yuridis masih dapat dieksploitasi dengan hina. Sebuah kolonus Romawi abad ke-4 yang secara nominal bebas, dan juga sebuah Decurion Romawi kontemporer, secara de facto kurang bebas dibandingkan dengan seorang budak penggembala atau pimpinan budak atau juru tulis budak di rumah tangga kerajaan, atau dibandingkan dengan seorang mamluk (kata Arab ini berarti “direduksi menjadi sekedar benda”). Orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat yang dibebaskan secara yuridis pada tahun 1862, dengan alasan yang jelas, sebagian besar dari mereka kini justru merasa lebih buruk dibanding satu abad yang lalu, bahwa hak-hak asasi mereka ditolak oleh masyarakat kulit putih sebagai sesama warga negara –meskipun tahun 2009 presiden terpilih Amerika Serikat dari kalangan kulit hitam.

Kekejaman manusia yang paling keji adalah pembunuhan dalam bentuk ritual pengorbanan manusia. Pembunuhan telah banyak dikecam ketika motifnya iri hati atau kebencian pribadi. Pembunuhan sebagai hukuman juga telah ditolak secara progresif. Bukan hanya dendam kesumat pribadi tetapi juga eksekusi resmi sekarang telah dihapus di beberapa negara. Pembunuhan ritual juga dilarang dalam kasus-kasus persembahan korban manusia kepada dewa-dewa, di mana dewa-dewa itu dianggap sebagai dewa suatu sumber daya alam –misalnya dewa hujan, dewa panen, dewa ternak; tujuan pengorbanan itu untuk memperahankan kehidupan manusia. Namun demikian, sejak manusia menguasai alam non-manusia, dewa-dewa yang disembah secara taat dan fanatik, dan tanpa sesal itu telah digantikan oleh kekuasaan kolektif terorganisasi yang dengannya manusia menguasai alam non-manusia.

Negara-negara yang berdaulat telah menjadi puncak objek penyembahan manusia selama 5.000 tahun terakhir; dan objek-objek ini menjadi dewa-dewi yang meminta dan menerima banyak sekali pengorbanan manusia. Negara-negara yang berdaulat terus saja saling berperang, dan dalam peperangan ini masing-masing negara membutuhkan anak-anak muda terpilih untuk membunuh penguasa-penguasa negara “musuhnya” dengan resiko dirinya dibunuh oleh korban-korban yang diincarnya. Masih hangat dalam ingatan, dalam Perang Irak, tentara Amerika Serikat dan sekutunya yang menyerang Negara merdeka Irak, telah membunuh atau dibunuh dalam perang yang bukan hanya dianggap absah, tetapi juga bernilai guna bagi kemenangan penyerangnya. Pembunuhan dalam perang, juga dalam eksekusi hukuiman mati, secara paradoks dimaafkan sebagai “bukan pembunuhan”.

Apakah proses maju kehidupan di biosfir ini telah menjadi begitu dihargai di atas penderitaan? Apakah seorang manusia lebih bernilai daripada sebatang pohon, atau sebatang pohon lebih berharga daripada sejentik amuba? Proses maju kehidupan hanya akan mengunggulkan sebagian spesies, jika kita mengukur keunggulan ini dengan kekuasaan semata. Sejauh ini, manusia adalah spesies yang paling kuat, tetapi manusia itu sendiri berwatak jahat. Manusia itu khas dalam watak jahatnya, begitu juga manusia khas ketika menyadari apa yang sedang diperbuat dan dipilihnya.

Penyair William Blake, yang memandang makhluk hidup secara tradisional sebagai hasil ciptaan dewa mirip manusia, sangat terpesona dengan penciptaan harimau. Tetapi, seekor harimau, tidak seperti manusia dan dewa pencipta hipotetis, tidaklah berdosa. Ketika seekor harimau memuaskan rasa laparnya dengan cara membunuh dan memangsa korbannya, ia tidak merasa bersalah. Di lain pihak, akan menjadi suatu perbuatan yang sangat buruk, tidak sewajarnya dan tidak bermakna, jika seorang dewa menciptakan seekor haramau untuk memangsa kambing dan manciptakan manusia untuk membunuh haramau, serta menciptakan basil dan virus untuk mempertahankan kelangsungan spesiesnya dengan cara membunuh manusia en mase.

Makanya sepintas lalu, proses maju kehidupan tampak jahat –jahat secara objektif, sekalipun kita membuang kepercayaan bahwa kejahatan ini telah diciptakan dengan sengaja oleh seorang dewa yang pasti lebih jahat dari manusia yang juga mempunyai kekuatan. Namun demikian, penilaian sepintas lalu terhadap konsekuensi-konsekuensi dari proses maju kehidupan ini memberi kesaksian bahwa, selain ada kejahatan di dalam biosfir ini, juga ada hati nurani yang menyalahkan dan membenci kejahatan tersebut.

Hati nurani ini terletak di dalam diri manusia. Kebencian hati nurani menusia terhadap kejahatan terbukti ketika manusia juga mampu berbuat kebaikan. Kita pun mengetahui dari pengalaman bahwa manusia dapat, dan kadang-kadang melakukannya, berbuat tidak egois dan tidak untuk kepentingannya sendiri sampai mengorbankan diri demi saudara-saudartanya. Kita juga mengetahui bahwa pengorbanan diri tidaklah menjadi kebenaran eksklusif manusia. Motif klasik pengorbanan diri adalah cinta seorang ibu kepada anak-anaknya, dan ibu manusia tidaklah sendirian dalam mengorbankan diri. Cinta pengorbanan diri ibu juga diketemukan dalam spesies-spesies mamalia lain serta burung.

Lebih jauh lagi, semua spesies yang mempertahankan kehidupannya dengan cara mereproduksi diri bekerja sama di antara dua anggotanya yang berlawanan jenis kelamin yang tidak secara langsung menguntungkan individu-individu itu, tetapi memberikan jasa bagi spesiesnya untuk menjaga dari kepunahan. Dengan sebuah pandangan panoramik, kita juga bisa melihat bahwa jalinan antara berbagai spesies hidup tidak semata-mata berupa persaingan dan konflik. Ketika hubungan antara dunia flora dan dunia fauna dalam satu aspek berupa pihak yang dieksploitasi dan parasit-preditor, dalam aspek lain dua dunia ini berlaku sebagai mitra yang bekerja demi kepentingan bersama untuk menjaga biosfir ini agar tetap bisa ditinggali oleh flora dan fauna. Jalinan kerja sama ini menjamin, misalnya, distribusi dan sirkulasi oksigen dan karbon dioksida dalam sebuah gerakan ritmis yang memungkinkan adanya kehidupan.

Makanya proses maju kehidupan di biosfir ini tampak dengan sendirinya menunjukkan dua kecenderungan yang saling antitetis dan bertentangan. Ketika seorang manusia meneliti sejarah biosfir sampai saat sekarang, dia menemukan bahwa biosfir telah melahirkan kejahatan dan kebaikan, kesalahan dan kebenaran. Dua kecenderungan ini tentu saja merupakan konsep-konsep eksklusif manusia. Hanya makhluk yang memiliki kesadaran yang dapat membedakan antara buruk dan baik, serta dapat memilih antara perbuatan yang salah dan yang benar. Konsep-konsep ini tidak dikenal oleh makhluk-makhluk hidup non-manusia, dan mereka dianggap buruk atau baik hanya oleh penilaian manusia.

Apakah ini berarti bahwa ukuran-ukuran etis dibuat secara arbitrer oleh kekuasaan manusia, dan bahwa kekuasaan ini tidak relevan dengan fata-fakta kehidupan dan oleh karenannya merupakan utopia? Kita mungkin terpaksa berkesimpulan seperti ini, jika manusia hanya menjadi pengamat dan penilai yang melihat dan menilai biosfir dari luar. Pastinya manusia adalah seorang pengamat sekaligus penilai. Peran-peran ini merupakan akibat wajar dari fakultas kesadarannya dan kekuatan serta kebutuhan berikut yang tidak terhindarkan untuk menentukan pilihan-pilihan etis dan membuat penilaian-penilaian etis. Namun manusia juga merupakan sebuah cabang pohon kehidupan. Kita adalah salah satu hasil dari proses maju kehidupan. Hal ini berarti bahwa ukuran dan penilaian etis manusia inheren di dalam biosfir dan oleh karenanya dalam keseluruhan realitas yang salah satu bagiannya adalah biosfir ini. Makanya kehidupan dan kesadaran, kebaikan dan keburukan tidak kurang realnya dibandingkan dengan ukuran-ukuran materi dalam biosfir. Meskipun kita menebak bahwa materi merupakan sebuah konstituen primordial dari realitas, tetap saja kita tidak memiliki alasan untuk menduga bahwa manifestasi-manifestasi non-material dari realitas tidak bersifat primordial.

Walaupun demikian, dalam proses maju kehidupan di biosfir ini, kesadaran telah menampakkan diri pada diri manusia dalam kurun yang relatif belakangan, dan sekarang kita telah menyadari, secara perlahan dan samar-samar, bahwa kehadiran manusia membawa ancaman bagi kemampuan biosfir untuk tetap bisa ditinggali bagi seluruh bentuk kehidupan, termasuk umat manusia itu sendiri.

Sampai saat ini, persaingan dan konflik yang merupakan satu aspek dari proses maju kehidupan telah menyebabkan punahnya banyak spesies, dan juga mengakibatkan kematian premature yang kejam dan menyakitkan bagi anggota seluruh spesies yang tidak terhingga jumlahnya. Manusia telah mengorbankan dirinya, selain menimbulklan kematian spesies predator pesaingnya dan mamusnahkan sejumlah spesies tanaman. Bahkan ikan hiu, bakteri dan virus tidak lagi menjadi tandingan bagi manusia sebagai antagonisnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini kehancuran spesies-spesies tertentu dan anggota individual spesiesnya tidak terlihat membawa ancaman bagi keberlangsungan hidupnya sendiri. Kini kepunahan sebagian spesies hidup telah membuka kesempatan bagi spesies lain untuk tumbuh.

Manusia menjadi spesies yang paling berhasil di antara seluruh spesies lain dalam menguasai konstituen-konstituen biosfir lain, baik yang tak bernyawa maupun yang bernyawa. Ketika fajar kesadarannya menyingsing, manusia menjumpai dirinya sebagai rahmat bagi alam non-manusia; dia berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa alam non-maniusia, dan dia mencapai kemajuan secara progresif untuk tujuan ini. Selama 10.000 tahun yang silam, manusia menentang seleksi alam dengan cara menawarkan seleksi manusia agar bisa meraih kekuasaan tersebut. Dia membudidayakan tanaman dan binatang demi kepentingannya sendiri, dan dia berusaha membuang sebagian spesies lain yang dianggap tidak berguna. Dia menamakan spesies yang tidak diinginkannya itu sebagai “makhluk-makhluk liar dan hina”, dan ketika memberikan julukan pejoratif ini, sebenarnya dia sedang berusaha sekuat-kuatnya untuk membasmi makhluk-makhluk tersebut. Sejauh ini, manusia telah berhasil menggantikan seleksi alam dengan selekasi manusia, manusia telah mereduksi sejumlah spesies.

Namun demikian, selama fase pertama kariernya, yang berjalan sangat panjang, manusia tidak berbuat banyak seperti yang dilakukan sebagian makhluk hidup mitranya dari spesies lain. Piramida di Guzah dan Teotihuacan, dan gunung-gunung buatan manusia di Cholula dan Sakai, mengecilkan candi-candi dan katedral-klatedral serta “gedung-gedung pencakar langit” pada zaman selanjutnya, namun monument-monumen manusia yang paling masif masih relatif kecil dibandingkan dengan hasil kerja binatang-binatang kecil yang telah membentuk pulau-pulau karang. Menjelang fajar peradaban, sekitar 5.000 tahun yang lalu, manusia telah menyadari keunggulan kekuatannya di biosfir ini. Sebelum permulaan tahun Masehi, manusia telah mengetahui bahwa biosfir adalah sebuah selimut terbatas yang melingkupi permukaan sebuah bintang, yakni bola bumi. Sejak abad ke-15, bangsa-bangsa Eropa telah merekrut dan mendiami sebagian permukaan tanah biosfir yang dulunya masih jarang penduduknya. Sekalipun begitu, sampai generasi sekarang, manusia terus saja berperilaku seolah-oleh persediaan sumber-sumber biosfir yang tidak dapat diperbaharui, seperti bahan tambang, tidak akan habis, dan seolah-olah laut dan udara tidak bisa terkena polusi.

Yang benar adalah bahwa, sampai dua puluh lima tahun ketiga abad ke-20, manusia masih saja memandang rendah peningkatan kekuasaan modernnya yang mempengaruhi biosfir. Peningkatan ini diakibatkan oleh dua perkembangan baru: pertama, aktivitas penelitian ilmiah yang sistematis dan terencana serta penerapannya menjadi teknologi canggih; kedua, pemanfaatan energi fisik yang nyata atau laten dalam konstituen-konstituen biosfir tak bernyawa demi tujuan-tujuan kemanusiaan. Misalnya, energi air yang selalu mengalir ke bawah menuju laut yang sebelumnya berasal dari air laut yang naik ke atmosfir sebagai uap hujan. Semenjak pecahnya Revolusi Industri di Inggris dua ratus tahun yang lampau, daya gravitasi air, yang sebelumnya lebih kecuil manfaatnya dibanding penggilingan padi, telah dipergunakan untuk menjalankan mesin pabrik berbagai jenis komoditas material. Kekuatan air juga telah ditingkatkan dengan cara dikonversi menjadi kekuatan arus dan listrik. Listrik dapat dihasilkan dari kekuatan fisik air terjun alami atau buatan, tetapi air tidak dapat dikonversi menjadi uap tanpa dipanasi dengan pembakaran bahan bakar, dan semua ini telah digunakan bukan hanya untuk mengkonversi kekuatan air menjadi kekuatan uap dan listrik, tetapi juga untuk menggantikan penggunaan kekuatan air dalam bentuknya yang paling potensial sekalipun. Lebih dari itu, arang kayu sebagai bahan bakar pelengkap telah digantikan dengan bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui: batu bara, minyak tanah, dan kemudian uranium.

Uranium, bahan bakar yang baru dieksploitasi paling belakangan, mengeluarkan energi atom, tetapi, untuk memanipulasi kekuatan raksasa ini, manusia sejak tahun 1945 telah memulai reka-upayanya yang berakibat fatal bagi Phaethon setengah dewa mitis ini ketika manusia merampas kereta dewanya yang suci, yakni matahari. Kuda-kuda yang menarik kereta Helios meloncat tidak keruan ketika mengetahui bahwa saisnya diambil alih oleh tangan-tangan makhluk yang lemah. Kuda-kuda itu berjumpalitan semuanya, dan biosfir akan terbakar menjadi kerak jika Zeus tidak menyelamatkannya dari kehancuran dengan cara cepat-cepat menyemburkan halilintar yang menyambar remplacant anak dewa matahari yang lancung itu. Mitos Phaethon adalah sebuah alegori resiko yang manimpa manusia karena bermain-main dengan energi atom. Masih ditunggu apakah manusia akan mampu mamanfaatkan kekuatan materi yang dahsyat ini tanpa tertimpa kemalangan. Daya materinya tidak ada yang menandingi, tetapi sampah radioaktif ekornya beracun. Kini manusia telah membuat kekacauan dengan suatu proses yang dengannya biosfir –dewi bumi kehidupan– telah terisi oleh radiasi sinar matahari yang memberi kehidupan, bukannya mematikan. Prestasi teknologi ilmiah manusia ini, bersama dengan dampak-dampak Revolusi Industri sebagai prestasi sebelumnya yang lebih rendah, kini telah mengancam biosfir menjadi tidak lagi bisa ditempati.

Oleh karena itu, kita sekarang berdiri di titik balik sejarah biosfir dan sejarah pendek salah satu produk dan warganya, yakni manusia. Umat manusia adalah anak-anak pertama dari dewi bumi yang bisa menaklukkan ibunda kehidupannya ini dan merebutnya secara paksa dari tangan ayah kehidupan, yaitu matahari sebagai kekuatan yang menakutkan. Manusia telah membiarkan kekuatan ini terlepas dari biosfir, telanjang dan marah, untuk pertama kalinya sejak biosfir menjadi habitat kehidupan. Kini kita tidak tahu apakah manusia mau atau mampu menghindari perusakan Phaethon demi dirinya sendiri dan sesama makhluk-makhluk hidup lain.

Manusia adalah spesies hidup pertama di biosfir kita yang telah menggenggam kekuasaan untuk menghancurkan biosfir dan akibatnya memusnahkan diri sendiri. Sebagai organisme psikomatik, manusia adalah pelaku, seperti setiap bentuk kehidupan lain, bagi hukum alam yang tidak dapat ditawar-tawar. Manusia, seperti sesama makhluk hidup lain, adalah bagian integral dari biosfir, dan, jika biosfir kemudian dibuat menjadi tidak bisa ditempati lagi, manusia beserta seluruh sapesies lain akan punah.

Biosfir mampu melabuhkan kehidupan karena merupakan sebuah campuran yang bisa mengatur diri antara komponen-komponen yang saling melengkapi, dan, sebelum kelahiran manusia, tidak ada satupun komponen biosfir –organik, eks-organik atau anorganik— yang memperoleh kekuatan untuk merusak keseimbangan permainan kekuatan-kekuatan yang lembut teratur yang dengannya biosfir menjadi rumah kehidupan yang ramah. Spesies hidup pra-manusia yang terlalu lemah atau terlalu agresif untuk mengikuti irama biosfir dimusnakan oleh permainan irama ini jauh sebelum kelemahan atau agresivitasnya menjadi ancaman yang mengacaukan irama biosfir sebagai tempat bergantung bagi kehidupannya dan kehidupan semua spesies lain. Biosfir jauh lebih kuat daripada warga pra-manusianya.

Manusia adalah warga biosfir pertama yang lebih kuat daripada biosfir itu sendiri. Pencapaian kesadaran manusia telah memungkinkannya untuk membuat pilihan-pilihan dan oleh karenanya bisa merancang serta menerapkan rancangan-rancangnnya untuk mencegah alam agar tidak memusnahkan manusia sebagaimana alam telah memusnahkan spesies lain yang menyulitkan dan mengancam biosfir secara keseluruhan. Manusia dapat bertahan hidup sampai dia bahkan telah merusak biosfir jika memilih untuk merusaknya, tetapi, jika sekali lagi memang ini pilihannya dia tidak bisa mengelak dari pembalasan yang akan menimpanya. Seandainya manusia merusak biosfir, maka dia justru akan memusnakan dirinya serta semua bentuk kehidupan psikosomatik lain di depan wajah ibu kehidupan, dewi bumi.

Dari sini kita dapat melakukan sebuah penelitian retrospektif atas sejarah pertemuan antara dewi bumi dan manusia, anak-anaknya yang paling kuat dan enigmatik, selama ini. Enigma ini tersembunyi di dalam fakta misterius bahwa manusia di antara warga biosfir lain adalah juga warga dari realitas lain –sebuah realitas spiritual yang non-material dan tidak bisa dilihat. Dalam biosfir ini, manusia adalah makhluk psikosomatik yang berbuat di sebuah dunia materi dan terbatas. Di dunia aktivitas ini, tujuan manusia, semenjak sadar, ialah untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa lingkungan non-manusianya, dan dalam keseharian kita manusia telah menuai keberhasilan atas usahanya –mungkin sampai dia tidak mampu melakukannya sendiri. Namun rumah lain yang ditempati manusia, yakni dunia spiritual, juga merupakan bagian integral dari total realitas. Dunia spiritual ini berbeda dari biosfir karena bersifat non-materi dan tidak terbatas. Dalam kehidupan spiritualnya manusia mengetahui bahwa misinya adalah untuk berusaha, bukan menjadi penguasa material atas lingkungan non-manusia, tetapi untuk menjadi penguasa spiritual atas dirinya sendiri.

Dua tujuan yang saling berlawanan, dan dua ideal berbeda yang dengannya menginspirasikan dua tujuan tersebut, telah dipaparkan dalam karya-karya terkenal. Tujuan klasik manusia untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa biosfir salah satunya tertuang dalam Qur’an surat an-Nahl ayat 13:

Dan segala yang diciptakn-Nya

Bagimu di bumi

Yang aneka ragam warnanya,

Semua itu merupakan tanda

(Kekuasaan Tuhan)

Bagi orang yang menerima peringatan.

Jika seorang manusia kehilangan jiwanya, dia akan berhenti menjadi manusia; karena esensi manusia adalah kesadaran atas kehadiran spiritual di balik fenomena, dan jiwalah, bukan organisme psikomatik, yang bisa menghubungkan manusia dengan spiritual, atau bahkan identik dengannya dalam pengalaman mistik.

Karena hidup, sebagaimana dia menjalani kehidupan sewajarnya, di biosfir sekaligus di dunia spiritual, manusia sebenarnya seorang amfibi, dan, di masing-masing dunianya di mana dia tinggal, manusia memiliki sebuah tujuan. Akan tetapi, manusia tidak dapat memburu kedua tujuan tersebut secara sekaligus, atau menjadi kedua ahli itu sepenuh hati. Salah satu tujuannya dan salah satu keseriusannya harus lebih didahulukan, atau bahkan harus diperlakukan secara eksklusif jika keduanya memang tidak bisa disandingkan dan direkonsiliasikan (biosfir atau spiritual?). Manakah yang harus dipilih? Perdebatan tentang masalah ini berlangsung secara terbuka di India semasa generasi Budha sekitar pertengahan millennium terakhir sebelum Masehi. Sementara di Barat perdebatan yang terbuka terjadi pada generasi St. Francis dari Assisi abad ke-13. Pada kesempatan tersebut, mengambil kedua pilihan yang saling berlawanan tersebut berarti mengambil jalan antara yang ditempuh oleh seorang ayah dan seorang anak. Isu ini yang diperdebatkan secara implisit sejak terbitnya fajar kesadaran; karena salah satu kebenaran dasar yang tersingkap oleh kesadaran manusia adalah ambivalensi moral watak manusia. Namun demikian, di sebagian besar waktu dan tempat sampai sekarang ini,orang-orang menghindar untuk membuka suatu persoalan yang mendiorong Budha dan St. Francis memutuskan ikatan-ikatan alamiahnya dengan keluarga mereka. Hanya pada generasi kitalah pilihan ini menjadi tak terhindarkan bagi umat manusia secara keseluruhan.

Pada generasi kita, persaingan antarmanusia untuk menguasai seluruh biosfir sedang menebarkan ancaman kekalahan bagi kamauan-kemauan manusia dengan cara merusak biosfir dan memusnahkan kehidupan, termasuk kehidupan manusia itu sendiri. Sejak abad ke-13 manusia Barat tampaknya telah menghargai Fransesco Bernardone, seorang santa yang menanggalkan warisan bisnis kekayaan keluarganya dan dihormati dengan stigma Kristus karena dukungannya pada Perempuan Miskin. Tetapi teladan yang diikuti oleh orang barat ini bukanlah St. Francis, orang Barat berusaha melebihi ayah sang santa, yakni Pietro Barnardone, seorang saudagar pakaian besar yang berhasil. Sejak meletusnya Revolusi Industri, manusia modern telah mendedikasikan dirinya secara lebih obsesif dibandingkan para pendahulunya dalam mencari tujuan yang telah digariskan sebelum kelahirannya.

Tampaknya seolah-olah manusia tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari pembalasan kekuasaan dan kerakusan materi jahatnya, kecuali dia dapat mengubah hatinya yang akan mendorongnya untuk menjauhi tujuan keduniawian dan mengikuti ideal yang sebaliknya. Penderitaannya sekarang akibat perbuatannya sendiri menghadapkan dirinya pada sebuah tantangan yang kokoh. Dapatkah manusia mengajak dirinya untuk menerima, sebagai aturan perilaku praktis bagi orang-orang dengan moralitas sewajarnya, ajaran-ajaran yang didakwahkan dan dipraktekkan oleh orang-orang saleh, yang sampai sekarang masih dipandang sebagai nasihat-nasihat kesempurnaan utopis bagi l’homme moyen sensual? Perdebatan panjang tentang isu ini yang tampaknya mendekati klimaks pada zaman kita sekarang merupakan tema sejarah kekinian pertemuan antara manusia dengan dewi bumi.

BAB III

EKUMENE SEBAGAI LANDASAN PERADABAN

Ekumene (Oikoumene) adalah sebuah istilah Yunani yang sudah menjadi kata sehari-hari pada Zaman Hellenis dalam sejarah Yunani. Ekumene berkembang, pertama-tama ke barat dan kemudian ke timur, dari domain aslinya membentang sampai laut Aegean. Ekspansinya ke arah barat sampai di pantai-pantai Atlantik di Eropa dan Afrika Barat Laut serta di pulau terbesar di Eropa Barat yang tidak berpantai, yakni Inggris. Ekspansi selanjutnya ke arah timur dibuka oleh penaklukan Aleksander Agung dan keruntuhan Kerajaan Persia Pertama, dan zaman pasca Aleksander dalam sejarah Helenis adalah masa ketika istilah “Ekumene” menjadi lazim. Makna harfiahnya adalah “Yang Didiami (bagian dari dunia)”, tetapi dalam prakteknya, orang-orang Yunani yang membuat dan menggunakan kata ini membatasi penerapannya pada wilayah dari bagian dunia yang didiami oleh apa yang disebut masyarakat “beradab”. Para anggota masyarakat jenis ini menyebut dirinya “beradab” sampai zaman kita sekarang, ketika pengalaman kita yang mengerikan dan memalukan atas kekejaman-kekejaman manusia telah mengajarkan kepada kita bahwa keberadaban tidak pernah menjadi sebuah fakta yang sungguh-sungguh terjadi, namun hanyalah suatu upaya atau cita-cita yang, hingga kini, selalu jauh dari sasarannya yang ambisius.

Bahkan dalam penggunaan aslinya yang terbatas, dimana orang-orang barbar di pinggir-pinggir peradaban diabaikan, ekumene Yunani pasca Aleksander hanya mencakup domain-domain peradaban yang telah akrab di mata orang-orang Yunani itu sendiri. Semenjak setidaknya awal generasi sejarawan Herodotus pada abad ke-5 SM, orang-orang Yunani kurang begitu menyadari keberadaan peradaban “Hyperborean” yang menjalin kontak dengan negara-negara-kota kolonial Yunani di sepanjang pantai utara Laut Hitam, melalui jalan kecil yang melintasi padang rumput Eurasia yang merupakan daerah pedalaman kontinental koloni-koloni maritim Yunani. Kita bisa menduga bahwa, sekalipun mereka disebut “orang-orang Hyperborean”, mereka menempati, bukannya “di luar Angin Utara”, tetapi bagian timur padang rumput tadi, dan mereka sebenarnya adalah orang-orang Cina, yang dikenal oleh orang-orang Yuanni dan Romawi pasca Aleksanderian sebagai “Seres” atau “Sinae”.

Sebelum sebagian besar dunia Graeco-Romawi bersatu secara politik dalam kerajaan Romawi, sutera diimpior ke dunia Graeco-Romawi melalui darat dan laut; tetapi apa yang disebut orang-orang “beradab” di ujung timur dan barat Dunia Kuno ini hanya sedikit mengetahui eksistensi mereka, demikian juga sebaliknya. Orang-orang Cina yang sama dengan “Ekumene” Yunani adalah “Semua yang berada di bawah langit, tetapi, bagi orang Cina, Ta Ch’in, replika Kerajaan Cina yang besar di ujung barat benua, sama kaburnya dengan orang-orang Sinae atau Seres atau Hyperborean bagi masyarakat Yunani dan Romawi. Dua ekstrimitas di benua ini saling berhubungan secara lambat –mula-mula bersifat sementara. Pada abad ke-13 melalui kerja sama di seluruh pantai di padang Eurasia di Kerajaan Mongol yang besar sekali tetapi usianya pendek, dan kemudian bersifat permanen semenjak sebelum berakhirnya abad ke-15 melalui pengembaraan laut oleh orang-orang Eropa Barat. Sementara itu, peradaban-peradaban Meso-Amerika dan Andean di Amerika Selatan tidak dikenal oleh penduduk Dunia Kuno sampai pendaratan pertama Columbus di Amerika yang menghadap ke Samudra Atlantik. Namun peradaban-peradaban Meso-Amerika dan Peru telah merekah menjadi kekuasaan besar klasik pada permulaan era Kristen, sedangkan periode anteseden “formatif” kebudayaan-kebudayaan tinggi Amerika mungkin telah dimulai –di Meso-Amerika—pada permulaan peradaban-peradaban Dunia Kuno kecuali Sumero-Akkadia dan Mesir Fir’aun.

Jika kita menggunakan istilah Ekumene dalam pengertian harfiah habitat manusia, kita dapat melihat bahwa luas ekumene yang sebenarnya lebih besar daripada wilayah dunia “beradab” yang dikenal oleh orang-orang Yunani dan Romawi, tetapi kita juga dapat melihat bahwa Ekumene yang komprehensif ini jauh lebih kecil dibanding biosfir kita. Sebagian terbesar dari permukaan biosfir berupa laut, dan selubung udaranya merupakan sebagian terbesar dari volume biosfir. Laut dipercaya sebagai habitat asli kehidupan, dan sampai sekarang laut masih kaya dengan flora dan fauna. Nenek moyang manusia telah mengetahui bagaimana cara melintasi permukaan sungai dan laut dengan perahu dan kapal, dan bagaimana cara menyelam –tidak terlalu dalam dan lama— di bawah permukaan laut; tetapi di atas, atau di dalam air; manusia hanyalah seorang pelancong; mereka bukan warga air –senyatanya mereka bukanlah spesies akuatik.

Pada abad ke-20, manusia telah menciptakan pesawat terbang; tetapi dalam mengarungi udara, manusia telah didahului bertahun-tahun yang lampau oleh serangga, burung, kelelawar, meski tidak ada kelelawar, burung, serangga atau manusia yang dapat hidup di udara sebagaimana ikan dan spesies mamalia air hidup di air. Di udara, tidak ada spesies hidup yang bisa menjadi lebih dari sekedar pelancong. Sebuah spesies bersayap mungkin bergantung pada bakat kemampuannya di udara untuk melangsungkan kehidupannya, tetapi tidak dapat melepaskan dasar-dasar kerja kelautan atau akuatik. Bahkan burung-burung dapat bertengger di atas kabel-kabel telepon dan membuat sarang dari tanah liat untuk merawat anak-anaknya.

Ekumene manusia seluruhnya berada di atas permukaan tanah biosfir, meskipun warga manusia di Ekumene kadang bergerak melewari permukaan air, dan sekarang juga melintasi udara, dalam melakukan perjalanan dari satu tempat ke tampat lain di Ekumene ini. Akan tetapi, Ekumene sangat tidak bisa menjadi co-existensive dengan permukaan tanah dan luas wilayahnya, di pesisir daratan kering, bergelombang sebagaimana diilustrasikan oleh kekeringan mematikan yang terjadi di Sahel, yakni sabuk pedalaman Savanah di Afrika antara bekas ujung selatan Sahara dan ujung utara hutan hujan tropis. Wilayah Ekumene yang bergelombang ini sebagian disebabkan oleh perubahan-perubahan fisiografis dan iklim yang tidak diciptakan manusia dan bahkan belum bisa dimodifikasi dengan kemampuan manusia yang ada, dan sebagian lagi disebabkan oleh perilaku manusia, baik yang disengaja maupun tidak. Agen-agen non-manusia yang telah membentuk ekumene menguasai manusia sampai 10.000-12.000 tahun terakhir.

Dalam sejarah planet bumi, perubahan-perubahan fisiografis dan iklim selama proses pembentukan planet ini besar sekali. Barangkali perubahan-perubahan ini merupakan yang paling ekstrim dan paling keras di permukaan bola bumi ini. Relik-relik tumbuhan dan binatang yang telah memfosil di lapisan kerak bumi yang pada zaman geologis berada di atas permukaan bumi sebelum munculnya manusia, menunjukkan bahwa daerah-daerah yang kini beriklim dingin atau sub-artik dahulunya beriklim tropis. Mengenai perubahan-perubahan iklim regional ini, terdapat beberapa alternatif penjelasan. Salah satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa sumbu bola bumi telah melengkung tajam, dan bahwa titik-titik di permukaan bumi yang kini menjadi kutub utara dan selatan dahulunya pernah berada tepat di atau di dekat ekuator; tetapi jika ini benar, maka kita mengalami kesulitan untuk mengetahui bagaimana bumi berusaha mempertahankan regularitas gerak rotasi dan orbit eliptikalnya tanpa terlempar oleh pergeseran sikap berdirinya yang niscaya itu. Penjelasan alternatif menyebutkan bahwa benua-benua yang ada sekarang mungkin telah bergerak melintasi permukaan bumi, seolah-olah seperti rakit-rakit yang bertebaran di sebuah rawa, bukannya seperti batu ubin yang bercokol di karang. Teori pergeseran continental ini, sebagaimana teori pergantian kutub, masih diperdebatkan dan mungkin tidak bisa diverifikasi, tetapi dalam bentuk tertentu tampaknya banyak diikuti dan dipercaya dengan pertimbangan bahwa, tidak seperti teori alternatif, teori pergeseran tersebut mendalilkan, bukan sebuah reorientasi keseluruhan bola bumi, tetapi sekedar perubahan konfigurasi kerak bumi.

Namun demikian, enigma tentang fosil-fosil tropis yang kini merupakan zona-zona non-tropis adalah masalah zaman geologis yang selama berjuta-juta tahun mendahului kemunculan hominid pertama. Fenomena iklim yang berbarengan dengan kemunculan hominid di biosfir ini merupakan serangkaian periode glasial yang bergantian dengan proses pelumeran selama zaman pleistosin –yaknia selama 2 juta tahun terakhir. Glasiasi terbaru (menjadi gegabah kalau kita berasumsi bahwa ini merupakan glasiasi pungkasan sepanjang zaman) melapangkan jalan terjadinya pencairan sekitar 12.000 atau 10.000 tahun yang silam.

Selama piriode-periode glasial, bongkahan-bongkahan es tampaknya tidak pernah menutupi selain bagian kecil dari permukaan tanah biosfir. Wilayah yang terglasiasi ini sebagian besar berada di dua kutub dunia, dengan beberapa bidang glasiasi terisolir di gunung-gunung tinggi yang tidak jauh dari ekuator. Namun demikian, glasiasi parsial ini sementara waktu terkecualikan dari sebagian tanah subur Ekumene (misalnya di Skane, di bagian kepulauan Denmark, di Midlothian, dan di Caithness) yang sangat produktif setelah diolah. Lebih dari itu, glasiasi-glasiasi lokal mengubah rasio antara laut dan daratan sehingga menjadi lebih banyak daratan. Begitu besar volume air terkumpul sementara dan tidak bergerak di dalam bongkahan-bongkahan es, sehingga permukaan laut turun cukup banyak di seluruh wilayah bumi. Dasar laut-laut yang dangkal tersembul ke atas dan kering; laut-laut yang sempit menjadi semakin sempit; beberapa selat terjembatani oleh tanah genting. Jika diukur dengan kedalaman tengah laut dan rasio laut-daratan di permukaan planet bumi ini, dampak global dari glasiasi-glasiasi lokal tersebut cukup kecil; tetapi dampak ini terasa cukup besar jika dilihat sebagai kesempatan ekspansi Ekumene manusia di sebuah zaman di mana sarana transportasi manusia tidak lebih dua kakinya dan di mana seni membuat kapal dan navigasi masih sangat belia.

Bahkan ketika kita bisa melakukan migrasi dengan mudah, berkat turunnya permukaan laut untuk sementara, keberanian hominid awal dalam memperluas Ekumene mengagumkan di mata manusia sekarang. Ini disebabkan, dalam satu setengah abad terakhir, kita telah menciptakan serangkaian alat angkut bermesin yang dimulai dengan kapal mesin dan rel kereta api lalu disusul dengan kendaraan darat bermesin dan pesawat terbang. Kita tidak akan begitu terkejut dengan ekspansi hominid ketika kita melihat prestasi-prestasi primata non-hominid terkait. Prestasi-prestasi primata non-hominid ini telah menjajah Amerika, Asia beserta semenanjung dan pulaunya yang tak berpantai. Di lain pihak, tidak ada genus dari keluarga hominid kecuali genus homo, dan tidak ada spesies dari gernus homo selain homo sapien yang telah mencapai benua Amerika lewat laut dari Afrika Timur dekat ekuator dan bagian selatan. Seluruh warga manusia pra-Columbian yang masih bertahan hidup di Amerika berasal dari wakikl-wakil homo sapien yang menuju Amerika lewat darat dari pedalaman selama glasiasi terbaru yang menimbulkan kesulitan itu. Orang-orang Amerika pra-Columbian datang dari pelosok timur laut Asia melalui sebuah tanah genting sementara yang kemudian tenggelam di bawah selat-selat Behring; hanya orang-orang Amerika pra-Columbian dan pionir-pionir Norse dari pelosok timur Eropa Asia yang telah berhasil melintasi Samudra Atlantik.

Jika homo sapien, seperti hominid-homonid sesamanya yang kini telah punah, pertama muncul di Afrika Timur yang beriklim tropis, maka jarak geografis yang dilalui oleh perjalanan kakinya dari sana menuju Tierra del Fuego pasti cukup panjang, demikian juga waktu tempuhnya. Lebih dari itu, manusia, seperti fauna lain, bersifat mobil; dia tidak diam saja di bumi, seperti kebanyakan flora biosfir; namun flora ini telah menyebar ke segala penjuru sama luasnya dengan penyebaran fauna untuk menyebarkan dirinya. Akan tetapi, ketika semua ini telah dipaparkan, ternyata rentang ekspansi yang dilakukan oleh manusia Zaman Batu luar biasa. Manusia telah sampai di Tierra del Fuego dan juga Australia setidaknya pada awal circa 6.000 SM, meskipun, bahkan ketika permukaan laut berada di titik terendah, perjalanan darat dari Asia ke Australia terhalangi oleh lautan selebar 30 mil antara Kalimantan dan Sulawesi. Tour de force manusia Zaman Batu yang paling mengagumkan adalah kolonisasi Polynesia, termasuk Pulau Easter. Dalam 500 tahun terakhir, orang-orang Eropa Barat dan jajahan-jajahannya di luar negeri telah mengeksplorasi seluruh permukaan biosfir. Mereka telah mencapai kutub utara dan selatan. Namun, kecual di dua daerah kutub ini, mereka menemukan tempat-tempat baru yang belum didiami oleh warga manusia pra-Eropa.

Zaman dulu, karena hidup di daerah-daerah tropis di mana tidak ada dedaunan yang menutupi tubuh telanjangnya dari sengatan matahari, manusia perlu menutupi tubuhnya dengan bulu tiruan; dan mereka juga perlu mengenakan pakaian untuk mempertahankan kehidupannya di daerah-daerah dingin atau sub-artik yang membuat beku tubuh manusia. Pemburu anjing laut Eskimo dan penggembala nomaden Arab menyelimuti tubuhnya tebal-tebal, orang Eskimo denga kulit dan orang Badui dengan pakaian wol. Penguasaan manusia atas api memungkinkan untuk memperluas Ekumenenya lebih jauh lagi. Pada saat sekarang, teknologi modern sedang dipakai untuk memperluas areal eksploitasi, jika bukan areal habitasi, menuju utara Rusia dan Kanada.

Bongkahan-bongkahan es yang menutupi pedalaman Greenland dan jauh lebih banyak permukaan benua antartik masih di luar batas-batas Ekumene, dan demikian juga sebagian kantong hutan hujan tropis, tanah pegunungan yang diselimuti salju, dan gurun pasir kering. Namun manusia tampaknya lebih mampu hidup di wilayah beriklim yang luas daripada makhluk primata lain.

Luas konfigurasi Ekumene belum berubah secara mencolok sejak resesi glasia terakhir sekitar 12.000 atau 10.000 tahun yang silam. Permukaan tanah kering biosfir yang bisa ditempati hanya berisi sebuah benua, yakni Asia, beserta jazirah-jazirah dan pulau-pulaunya yang tak berpantai. Jazirah-jazirah Asia paling menonjol adalah Eropa, Arab, India, dan Indo-Cina. Jazirah Indo-Cina merupakan yang terbesar di atara keempat jazirah tersebut karena membentang dari Malaya sampai Australia dan Selandia Baru. Sebenarnya, bagian tengahnya melengkung dan sebagian tenggelam, dan Australia kini terpisah dari daratan pokok Asia oleh lautan sempit kepulauan Indonesia –kawasan selat dan pulau yang rumit sekali. Tiga pulau tanpa pantai Asia terbesar adalah Afrika dan dua Amerika. Pulau yang paling jauh adalah Antartika. Afrika dihubungkan ke Asia oleh tanah genting Suez, dan Amerika Selatan ke Amerika Utarq oleh tanah genting Panama. Dua tanah genting ini telah berubah menjadi selat-selat tiruan sejak ditembus oleh terusan-terusan buatan manusia. Selat alamiah yang terpenting adalah Selat Malaka, yang menjadi pemisah antara Samudra Hindia dan Pasifik.

Jalur-jalur komunikasi terbaik untuk mengantar penumpang atau muatan dari satu bagian ekumene ke bagian lainnya berada di luar batas-batas ekumene; karena media yang pakling kondusif adalah udara dan air; dan elemen-elemen ini bisa dilewati tetapi tidak bisa didiami. Sebelum terciptanya kereta api uap sebagai pengangkut dengan relnya pada abad ke-19, tranportaasi air (sungai dan alut) lebih cepat dan murah daripada tranportasi darat. Sebelum terciptanya rel kereta api, kekuatan penggerak perjalanan dan transportasi manusia adalah otot manusia itu sendiri dan binatang. Di lain pihak, di air, kekuatan otot manusia untuk mendayung perahu telah dilengkapi dengan layar yang memanfaatkan kekuatan angin sebelum menyingsing fajar peradaban. Angin merupakan kekuatan fisik tak bernyawa pertama yang dimanfaatkan oleh manusia; angin juga kekuatan alam pertama yang dicampakkan. Manusia menjadi kelebihan sumber daya ketika kekuatan-kekutan fisik tak bernyawa lain dimanfaatkan untuk mengoperasikan mesin.

Pada masa trasnsportasi air, garis komunikasi utama ditentukan oleh konfigurasi permukaan air di biosfir ini. Jalur air yang paling berharga adalah selat (selian Selat Malaka, ada pula terusan sempit yang menghubungkan Laut Hitam dengan Aegean, Selat Gibraltar, Selat Dover, dan terusan yang menghubungkan Laut Baltik dengan Laut Utara). Jalur air di daerah pedalaman yang berfungsi adalah sungai-sungai berarus lambat. Contoh klasiknya adalah sungai Nil di bawah Air Terjun Pertama. Di atas bentangan sungai Nil ini, sebuah perahu layar dapat bergerak begitu saja ketika ada di bagian hilir dan mengibarkan layar ketika ada di bagian hulu, karena di Mesir angin utara berhembus. Lebih dari itu, setelah Mesir terbuka bagi orang luar, tidak ada pemukiman atau lahan manusia atau bahkan pertambangan di Mesir yang jauh dari jalur air. Sebelum terciptanya rel kereta api, sarana komunikasi di Mesir lebih baik dari negara manapun.

Pada masa transfortasi air, permukaan tanah ekumene yang penting adalah yang menjadi rute pengangkutan dari satu laut atau sungai ke laut atau sungai lain. Mesir itu sendiri merupakan sebuah rute pengangkutan, sejak hulu Nil sampai Mediterraean, dan, dari sungai Nil sampai pantai Laut Merah, ada sebuah rute pengangkutan pendek dari lengan Delta paling timur sampai Suez melalui Wadi Tumilat, dan lainnya melalui Wadi Hammamat dari Coptos, di Mesir Atas, sampai Qusayr Lama (Leukos Limen). Sebenarnya rute pangangkutan yang melintasi Tanah Genting Suez antara Laut Merah dan Mediterranean adalah bagian dari sebuah area rute pengangkutan lebih luas yang mencakup Mesir ke barat dan Irak ke timur. Di area ini, Mediterranean, yang merupakan sebuah bendungan air Samudra Hindia, saling terpisahkan oleh tanah kering yang sempit, dan jalur dari Mediterranean sampai Laut Merah melalui sungai Nil ditiru oleh jalur ke Teluk Persia melalui Eufrat.

Jalur-jalur kuminikasi yang unik ini membuat Mesir dan Asia Barat Daya menjadi pusat “geopolitik” Ekumene di Dunia Kuno. Tentu saja tidaklah kebetulan jika daerah ini juga merupakan tempat lahirnya kebudayaan Neolitik pertama, dan kemudian dua peradaban paling awal. Dua rute pengangkutan lain juga memiliki nilai penting sejarah yang tinggi: rute antara sungai-sungai yang bermuara keLaut Baltik dan yang bermuara ke Laut Kaspia dan Laut Hitam, dan rute yang melintasi daratan Cina Utara antara daerah-daerah Yangtse rendah, Hwai, Sungai Kuning dan Pei Ho –sebuah rute pengangkutan yang telah diubah menjadi jalan sungai dengan cara menggali Terusan Agung. Namun demikian, rute-rute Cina dan Rusia berada di pinggir Ekumene Dunia Kuno. Nilai penting historis rute-rute ini diungguli oleh rute tengah antara Mediterranean dan Samudra Hindia.

Di rute Mesir dan Asia Barat Daya yang dominan ini, lalu lintas berfokus pada dua “jalan lingkar”. Salah satunya ada di Syria, antara tonjolan barat sungai Eufrat dan pojok timur laut Laut Mediterranean; jalan lingkar lainnya ada di Afganistan sekarang ini, sebuah hamparan Barisan Hindu Kush yang ditembus oleh jalan-jalan yang menghubungkan lembah-lembah atas sungai Oxus dan Jaxartes dengan lembah atas sungai Indus. Syria bagian utara dihubungkan oleh rute laut dan darat dengan Mesir; oleh laut dengan seluruh pantai Mediterranean dan bendungan-bendungannya dan, melalui tanah genting Gibraltar, dengan Samudra Atlantik; oleh darat, naik ke lembah utara jauh dua hulu sungai Eufrat, dengan Pintu-pintu Kaspia dan Lembah Oxus-Jaxartes dan India, dan, melaui Selat Malaka, dengan Samudra Pasifik. Afganistan dihubungkan dengan Mesopotamia dan Syria bagian utara dan melintasi padang rumput Eurasia; dengan Cina via Sinkiang; dengan India melalui jalan-jalan yang menembus Barisan Sulaiman.

Sebelum menciptakan rel-rel kereta api dan pesawat terbang, lalu lintas yang bertitik temu di, dan memencar dari, dua “jalan lingkar” tersebut di atas menggunakan transportasi air, lewat sungai atau laut yang memungkinkan. Ketika orang-orang dan muatan terpaksa berjalan lewat darat pada masa sebelum dimulainya mekanisasi, manusia berada dalam genggaman kekuasaan tanah lapang. Gunugn-gunung dapat dielakkan atau diatasi; hutan-hutan, baik yang dingin maupun tropis, merupakan penghalang besar; padang-padang rumput menjadi luar biasa kondusif. Sebenarnya, tiga kawasan padang rumput tiga terbesar yang saling bersambungan –Eurasia, Arab, dan Afrika Utara- menjadi hampir sama kondusifnya dengan laut itu sendiri ketika manusia membudidayakan binatang-binatang pengangkutan: keledai, kuda, dan, di atas semuanya, onta. Dengan bantuan bunatang tunggangan, binatang pembawa muatan, dan binatang penarik, manusia dapat melintasi padang rumput nyaris sama cepatnya dengan ketika manusia menyeberangi laut; tetapi penggunaan kedua sarana angkutan itu membutuhkan keteraturan dan disiplin. Sebuah karavan, seperti seekor biri-biri, harus memiliki seorang kapten, dan atruan-aturannya harus ditaati.

Bahkan ketika padang-padang rumput, serta laut dan sungai yang dilayari, dimanfaatkan untuk menjadi jalur komunikasi antarbagian Ekumene yang berbeda, media transportasi milik manusia ini tetap tidak mencukupi sampai terbitnya fajar Zaman Mesin. Bahkan dengan sarana-sarana yang tidak mencukupi ini, kerajaan-kerajaan hidup bersama dan dijalankan secara bersama dan berhasil, serta agama-agama yang para juru dakwahnya berusaha mengkonvensikan seluruh manusia memperoleh dan mempertahankan para pemeluknya di wilayah yang lebih luas di banding wilayah kerajaan sekular manapun. Kerajaan Persia Pertama, Kerajaan Cina, Kerajaan Romawi, Kekhalifahan Arab, dan tiga agama besar –Budha, Kristen dan Islam—adalah monumen-monumen kejayaan kekuasaan-kekuasaan manusia atas rintangan-rintangan fisik. Tetapi batas-batas keberhasilan mereka juga menunjukkan batas-batas sejauh mana praktek kehidupan masyarakat-masyarakat manusia tanpa bantuan alat-alat komunikasi mekanis yang telah diciptakan sejak permulaan abad ke-19.

Bukti paling kuat atas keterbatasan alat komunikasi sebelum permulaan abad mesin adalah sejumlah bahasa yang berbeda, dengan lokalitasnya di daerah-daerah Ekumene yang berlainan, yang tidak saling memiliki kesamaan.kata-kata adalah hasil dari sebuah fakultas manusia yang universal. Tidak pernah ada sebuah komunitas manusia yang tidak mempunyai kata-kata. Dua fakta ini secara bersamaan menunjukkan bahwa, sebelum homo sapien menyebar ke seluruh jengkal tanah biosfir dari Afrika Timur di khatulistiwa (jika daerah ini merupaakan tempat pemunculan pertama spesies genus homo), manusia secara keseluruhan pasti sedang dalam proses membuat bahasa, tapi belum sepenuhnya mampu mengembangkan potensialitasnya ini. Hipotesis ini akan menerangkan bagaimana semua komunitas manusia mempunyai bahasa, tapi bahasa-bahasa mereka, tidak seperti manusia yang berbicara dengannya, tidak seluruhnya saling bersaudara secara nyata. Tentu saja, hanya manusia, yang kita kenal melalui relik-relik selain tulang dan alat-alat, yang merupakan seluruh wakil dari satu-satunya spesies yang masih bertahan hidup. Kita tidak tahu, dan kita tidak mempunyai alat untuk menyibaknya, apakah spesies genus homo lain atau genera dari keluarga hominid belajar untuk berbicara, atau apakah kemampuan berbicara ini hanya khas homo sapien.

Bahasa-bahsa yang diketahui dan dipakai oleh komunitas-komunitas berbeda dari spesies kita sendiri memliki luas jangkauan yang berbeda-beda pula.

Di hutan-hutan tropis di Afrika Barat, sebelum hutan-hutan ini dibabad oleh orang-orang luar yang masuk ke Afrika ada berbagai bahasa yang kiranya tidak saling berhubungan secara dekat. Jangkauan masing-masing bahasa tersebut sangat terbatas. Warga kedua desa yang hanya dipisahkan oleh beberapa mil hutan mungkin tidak dapat saling berkomunikasi dengan kata-kata secara baik. Lingua franca mereka adalah gerak bisu. Bahasa-bahasa vokal yang kini hidup di Afrika Barat berasal dari luar: Bahasa Hausa, sebagai contoh, dari padang Afrika Utara dan bahasa Francis serta Inggirs dari daerah pantai.

Berkebalikan dengan hutan yang relatif sulit ditembus, laut mengantarkan bahasa-bahasa Melayu ke arah timur laut sampai di Philipina dan ke arah barat daya sampai di Madagaskar. Laut juga telah mengantarkan penyebaran bahasa Polynesia ke seluruh pulau Oceania, sama jauhnya jarak dari benua Asia dengan jarak antara pulau Easter dan Selandia Baru. Laut Mediterranean pernah mengantarkan penyebaran bahasa Punic, Yunani, dan Latin di sekitar pantai-pantainya, dan Samudra Atlantik menyebarkan bahasa Spanyol, Portugis, Inggris, dan Prancis dari Eropa Barat ke Amerika. Padang rumput juga mengantarkan penyebaran bahasa-bahasa nyaris sejauh yang dilakukan laut. Mula-mula bahasa-bahasa Indo-Eropa dan kemudian bahasa-bahasa Turki telah melintasi padang Eurasi dan menyebar melampaui pantai-pantainya dengan arah yang berlawanan. Bahasa Arab menyebar dari jazirah Arab melintasi padang Afrika Utara sampai ke pantai Samudra Atlantik.

Diseminasi bahasa melaui media non-manusia yang kondusif ini diperkuat oleh penyebaran manusia yang sengaja dalam bentuk aktivitas misionaris keagamaan, penaklukan militer, organisasi politik, dan perdagangan. Suku-suku dan para pengeran kerajaan Aramae tidak berdaya secara politik; mereka ditaklukkan oleh orang-orang Assyria; namun bahasa Aramaik tersebar ke seluruh Asia Barat Daya, dan huruf Aramaik tersebar sampai ke Mongolia dan Mansyuria, akibat penggunaan bahasa Aramaik di lingkungan pemerintahan Assyria dan Kerajaan Persia Pertama serta penggunaan liturgisnya oleh gereja-gereja Kristen Nestoria dan Manichae. Di lain pihak, keberhasilan bahasa Yunani dalam menggantikan bahasa Aramaik sebagai lingua franca di Asia Barat Daya dan Mesir merupakan akibat penaklukkan militer Kerajaan Persia Pertama oleh Alexander Agung, dan penaklukan militer juga menjadi agen penyebarluasan bahasa-bahasa romantik ke arah tumur sampai Rumania dan ke arah barat sampai Cile dari daerah kecil yang berbahasa asli Latin membentang ke bawah sampai sungai Tiber Italia.

Dalam sejarah Ekumene, rezim-rezim yang berbeda memainkan peran kepemimpinan pada waktu yang berbeda-beda pula. Jika Afrika Timur bagian khatulistiwa dan selatan sebenarnya merupakan tempat kelahiran hominid dan, di tengah-tengahnya, kelahiran spesies sapien dari genus homo, maka Afrika Timur dan Ekumene awalnya memiliki batas-batas yang sama. Sebelum berakhirnya Zaman Palaeolitik Tinggi, Ekumene telah meluas dari Afrika Timur melewati sebagian besar benua Asia, dan umat manusia sedang menjajah Amerika. Pada fase ini, peran kepemimpinan rezim-rezim tersebut tampak telah sampai di pinggiran selatan bongkahan es Eropa Utara, di mana para pemburu zaman Palaeolitik Tinggi menemukan hewan yang melimpah ruah sebelum es mencair. Namun demikian, keunggulan Eropa pada zaman ini mungkin hanyalah sebuah ilusi akibat kurangnya informasi yang kita miliki. Jika jejak-jekak yang ditinggalkan oleh manusia Palaeolitik Tinggi pada akhirnya diketemukan secara lengkap di belahan dunia selebihnya sebagaimana yang terlah ditemukan di Eropa, maka gambaran ini bisa jadi tampak lain.

Kita dapat meresa lebih pasti bahwa, pada Zaman Neolitik, peran kepemimpinan ini dimainkan oleh Asia Barat Daya dan batas-batas paling utara lembah Nil, dan bahwa Sumer –tanah baru di lembah rendah Tigris dan Eufrat—adalah tempat kelahiran perdagangan paling awal, meskipun, selama zaman Neolitik, bagian Asia Barat Daya ini tidak bisa ditempati. Abad k-13 ketika tanah baru yang melimpah ruah ini akhirnya tidak lagi produktif, menjadi saksi peran kepemimpinan di Ekumene yang dimainkan oleh Mongolia selama dua generasi pendek, berkat kondusivitas padang Eurasi dan mobilitas, keberanian serta kedisiplinan para penggembala nomaden Eurasia. Orang-orang Mongol itu menundukkan seluruh daerah penting benua Asia; hanya jazirah-jazirah dan pulau-pulaunya yang tak berpantai yang tetap tak terjamah. Kemudian, pada abad ke-15, peran pemimpin di Ekumene diambilalih oleh Eropa Barat ketika pasukan laut mereka menguasai samudranya –sebuah media kondusif yang jauh lebih luas daripada padang Eurasia.

Ketika, pada abad ke-20, Eropa Barat kehilangan hegemoni ekumenisnya karena dua perang saudara, peran kepemimpinan beralih ketangan Amirika Serikat. Tapi tampaknya seolah-olah kuasa pengaruh Amerika di Ekumene akan berlangsung sama singkatnya dengan kuasa pengaruhn Mongol sebelumnya. Masa depan masih menjadi teka-teki, tetapi kelihatannya dalam babak sejarah Ekumene selanjutnya peran kepemimpinan mungkin berpindah dari Amerika ke Asia Timur.

BAB IV

DAMPAK REVOLUSI INDUSTRI :

SEBUAH KAJIAN EKOLOGI POLITIK

Selama 1763-1871 yang luar biasa, terjadilah sebuah peristiwa terpenting dan fenomenal, yakni meningkatnya kekuasaan manusia yang drastis dan tiba-tiba atas sesama manusia dan alam semesta non-manusia. Peningkatan kekuasaan manusia ini dicapai berkat inovasi sosial dan inovasi teknologi. Efesiensi tentara dan buruh induistri meningkat karena mereka berdisiplin tinggi dan bekerja dengan mesin-mesin dan senjata-senjata yang tingkat kemampuannya sangat tinggi yang tidak pernah ada sebelumnya, serta karena pekerjaan mereka diatur secara baik.

Tentara professional yang berdisiplin mulai dibentuk di Barat menjelang berakhirnya abad ke-17. Dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya pada abad ke-18, rezimentasi yang telah diterapkan di barak-barak militer kemudian diterapkan dalam pabrik-pabrik, dan sebuah teknik yang telah dipakai untuk memberi lubang-lubang senjata diterapkan untuk membuat piston-piston pada mesin-mesin uap. Dalam bidang non-militer, peningkatan kekuasaan manusia yang tiba-tiba ini menjustifikasi sebuah revolusi, yakni revolusi teknologi dan ekonomi, meskipun permulaannya tidak diketahui secara persis sebagaimana meletusnya revolusi politik atau revolusi perang.

Revolusi tekbnologi dan ekonomi yang dimulai di Inggris pada seperempat ketiga abad ke-18 mengubah kehidupan pertanian, peternakan, dan industri. Padatahun 1871, revolusi ini telah menyebar ke luar Inggris hingga Eropa continental dan mulai masuk ke Amerika Utara dan Jepang. Pada awal millennium ke-2 ini, revolusi industri ini masih terus berlangsung dan belum tampak kapan akan berakhir. Namun, apa yang tampak jelas adalah bahwa pada saat itu Revolusi Industri telah membalikkan hubungan antara manusia dan biosfir.

Manusia, tentu saja, telah mengukuhkan keberadaannya di biosfir ini, tetapi sampai sekarang mereka, seperti semua makhluk hidup lain di biosfir ini, harus hidup dalam batas-batas toleransi biosfir. Spesies apa pun yang hidup melampaui batas-batas toleransi ini pasti beresiko musnah. Senyatanya, semua spesies, termasuk manusia, hidup di sini atas kemurahan hati biosfir. Akan tetapi, sekarang Revolusi Industri menyebabkan biosfir ini justru beresiko dimusnahkan oleh manusia. Mengingat manusia tinggal di biosfir ini dan tidak mungkin hidup tanpanya, daya upaya manusia untuk membuatnya tak bisa ditempati lagi sebenarnya merupakan ancaman yang dibuat oleh manusia terhadap kelangsungan hidupnya sendiri.

Peningkatan daya manusia selama dekade-dekade terakhir pada abad ke-18 terbatas di Inggris, tetapi prestasi Inggris ini telah disamai oleh prestasi negara-negara Barat lain pada 1871. Hal ini membuat Barat secara keseluruhan lebih maju daripada semua negara lain di ekumene ini. Dominasi dunia oleh Barat tersebut merupakan peristiwa terpenting kedua pada 1763-1871. Peristiwa terpenting ketiga adalah reaksi di sejumlah negara non-Barat terhadap tekanan yang dilakukan Barat. Peristiwa terpenting keempat atau terakhir yang patut dicatat adalah bergolaknya masalah-masalah domestik Barat sendiri. Dan, Revolusi Industri tidak dapat digambarnya hanya oleh salah satu peristiwa terpenting terasebut. Walaupun dimulai di sebuah negara Barat, Revolusi Industri merupakan sebuah peristiwa yang terjadi di biosfir yang sangat luas.

Tujuan para perancang Revolusi Pertanian dan Industri di Ingris adalah meningkatkan produksi kekayaan materi secara maksimal. Periastiwa ini berlangsung pada saat yang tepat, karena, satu generasi sebelumnya, jumlah penduduk Inggris dan beberapa negara Barat lain mulai bertambah secara cepat seperti pertambahan penduduk di Cina sejak abad ke-17. Akan tetapi para perancang revolusi tersebut tidak berniat mencukupi kebutuhan kolektif masyarakat mereka; peningkatan produksi itu dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan secara individual. Mereka berhasil meningkatkan GNP secara dramatis, tetapi juga meningkatkan ketidakmerataan distribusi keuntungan dan distribusi kepemilikan tanah dan tanaman sebagai instrumen-instrumen produksi.

Beberapa cara kerja tradisional yang relative tidak efesien –misalnya, pertanian berskala kecil dan kombinasi antara pertanian jenis ini dan industri berskala kecil pula, terutama pemintalan dan penenunan– macet total. Produksi, baik pertanian maupun industri, sekarang ditata dalam unit-unit berskala besar dengan peralatan yang canggih dan mahal. Perubahan-perubahan simultan ini mulai mendorong perpindahan penduduk dari desa-desa ke kota-kota industri baru. Pada saat yang sama, urbanisasi ini merenggut independensi ekonomi sebagian besar migran yang sebelumnya hidup mandiri. Seiring dengan pertambahan penduduk yang cepat, persentasi buruh yang hanya mampu menjual jasa (tenaga) meningkat tajam jika dibandingkan dengan persentase majikan dan orang yang bekerja mandiri.

Perubahan keadaan hidup dan kerja, serta perubahan distribusi pendapatan dan kekayaan menyebabkan naiknya GNP tetapi harus dibayar dengan terciptanya ketidakadilan dan penderitaan. Tidak ada standar objektif untuk menilai adil-tidaknya undang-undang parlemen yang mengatur pengalokasian dan pembatasan tanah yang sebelumnya milik umum jadi milik pribadi. Pembagian keuntungan industri di antara pemilik pabrik, investor dan juga buruh juga diperselisihkan. Yang jelas adalah bahwa pembatasan tanah jadi milik pribadi ini menyebabkan banyak pemilik tanah-tanah yang sempit di pedesaan tidak dapat memperoleh penghidupan dari tanah-tanah mereka itu, dan bahwa, ketika para bekas petani ini menjadi buruh industri, mereka juga hampir tidak mungkin hidup denga upah mereka.

Inilah konsekuensi-konsekuensi manusiawi yang paradoksal dan menyedihkan dari peningkatan produksi kekayaan materi. Penyebab dari masalah-masalah sosial ini adalah tujuan para pemilik pabrik dalam mendirikan pabrik mereka yang menandai bergeraknya roda Revolusi Industri. Stimulus yang mendorong mereka adalah sifat rakus, dan sifat rakus ini sekarang tidak bisa dikendalikan oleh norma-norma tradisional, yakni hukum, adat istiadat, dan hati nurani.

Dalam sebuah buku yang berpengaruh, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776), seorang professor Skotlandia, Adam Smith, menggariskan bahwa, jika setiap individu diberi kebebasan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya sendiri, masyarakat secara keseluruhan akan mencapai tingkat kemakmuran yang tertinggi. Sayangnya, syarat-syarat yang Adam Smith sendiri paparkan berkenaan dengan tesisinya itu diabaikan, dan bagaimanapun tesis tersebut tidak masuk akal. Peningkatan produktivitas melalui permainan bebas yang mewadahi sifat rakus disertai dengan pemborosan dan kekacauan dalam kompetisi, dan kompetisi ekonomi yang tak terbatas menciptakan jauh lebih banyak korban daripada pemenang.

Buruh industri menjadi kelas social baru yang teralienasi dari masyarakatnya yang menuntut kelas tersebut eksis tetapi tidak menyediakan aturan main yang adil. Satu-satunya senjata yang dimiliki buruh pabrik untuk mempertahankan diri adalah daya tawar kolektif terhadap majikan-majikan mereka. Syarat terbentuknya daya tawar kolektif yang kuat adalah solidaritas monolitik. Karenya, buruh terpaksa tunduk pada sebuah tirani mereka sendiri untuk melawan tirani majikan-majikan mereka yang mengungkung mereka. Para blackleg (buruh yang tetap bekerja ketika rekan-rekannya mogok) yang mengkhianati kekuatan kolektif mereka diintimidasi. Di Inggris, kekuatan kolektif buruh setelah dilarang pada 1799 dilegalkan pada 1824-5. Dan, sebenarnya perang antarkelas telah dimulai bersamaan dengan meledaknya Revolusi Industri, dan perang ini menyebar dari Inggris ke negara-negara lain.

Majikan dan pemilik pabrik sebagai musuh-musuh buruh bukan hanya berwatak bengis, tetapi juga pintar, berani, dan sulit dikalahkan. Richard Arkwright (1732-92), penemu mesin pintal, yang beroleh kekayaan dengan mematenkan temuan-temuan yang mungkin kini bukan hanya miliknya, lebih khas daripada James Watt (1736-1819), seorang penemu yang beruntung mendapatkan banyak mitra yang memungkinkan memperoleh sejumlah hadiah materi berkat kejeniusannya. Kebanyakan penemu, yang menjadi modal penting bagi Revolusi Industri, membuka kemungkinan bagi para memilik pabrik yang lebih cekatan untuk mendapatkan keuntungan materi. Kebanyakan penemu ini mencoba-coba cara membuat temuan-temuan secara empiris.

Watt adalah perkecualian: dia menguasai sain dan tekonologi seperti bertemu dengan jodohnya. Inspirasinya yang ditemukan di Universitas Glasgow berbuah di pabrik Matthew Boulton di Brimingham. Watt tidak mengenyam bangku kuliah, tetapi dia memperoleh keuntungan intelektual berkat persahabatannya dengan sorang profesor kimia, Joseph Black (1728-99). Pada abad ke-19, para akademisi ilmu kimia, khususnya di universitqas-universitas Jerman, mulai menerapkan ilmu mereka ke dalam proses-proses industri secara langsung dan sistematis.

Penyempurnaan-penyempurnaan mesin uap yang menentuklan oleh Watt membuat mesin ini sangat berguna untuk produksi industrial dan penambahan daya tarik lokomotiof, serta untuk pemompaan, yang sebelumnya telah banyak dipergunakan. Kapal uap pertama berlayar pada 1807, dan kereta uap pertama diluncurkan pada 1829. Mesin uap adalah sebuah mesin, dan penggunaan mesin adalah cirri teknologis yang mencolok dalam Revolusi industri.

Sebenarnya, alat-alat perlengkapan hidup sama tuanya dengan umur umat manusia itu sendiri, tetapi sebuah alat hanya melengkapi daya otot masnusia tanpa pernah bisa menggantikan tempatnya. Misalnya, daya tangan manusia dilengkapi dengan tombak, sekop, dayung, atau panah, tetapi alat-alat ini hanya bermanfaat ketika dipergunakan oleh manusia. Sebuah mesin membebaskan manusia dari pekerjaan fisik. Mesin ini bekerja untuk menusia dengan skala dan kecepatannya melampaui kemampuan fisik manusia. Ketika seorang manusia telah membuat sebuah mesin, dia cukup memencet tombol untuk menghidupkannya, kemudian mengawasi dan menjaganya agar tetap bekerja dengan baik. Sampan digerakkan dengan kekuatan fisik tangan manusia yang dibantu dengan dayung. Kapal layar digerakkan oleh angin, dan orang yang menjalankannya tidak membutuhkan kekuatan fisik untuk mendorongnya. Kapal layar adalah sebuah mesin, demikian juga –dengan definisi yang sama—senapan (yang berbeda dengan busur panah).

Kapal layar diciptakan pada sekitar 5.000 tahun sebelum dimulainya Revolusi Industri di Inggris, tetapi, sebelum terjadinya Revolusi Industri, penggunaan mesin –yang berbeda dari penggunaan alat-alat [non mesin]—masih jarang. Sekarang, penggunaan mesin telah menjadi biasa, dan bentuk-bentuk energi fisik non-makhluk hidup yang ditiru dalam mesin tidak terbatas pada angin, air, letusan [gunung], dan uap. Pada 1844, listrik berhasil digunakan untuk mengirim pesan lewat telegraf. Penemuan alat-alat logam menciptakan sebuah pekerjaan baru, yaitu pandai besi. Penemuan mesin uap menciptakan pekerjaan baru lain, ayaitu tukang mesin.

Kekuatan angin dan air memiliki dua kelebihan: bersih dan tidak pernah habis. Berbeda halnya, uap harus dihasilkan dengan membakar bahan bakar, dan asap sebagai hasil sampingan dari pembakaran itu mengotori udara. Polusi ini niscaya dan mengerikan, tetapi polusi tersebut masih ditoleransi sejauh tidak lebih dari sekadar gangguan lokal. Belum sampai dua abad Revolusi Industri bergulir, umat manusia telah menyadari bahwa dampak-dampak dari mesinisasi mengancam biosfir. Polusi global, bukan lokal, dapat membuat biosfir tidak bisa ditempati lagi oleh semua spesies, dan manusia tidak mungkin lagi tinggal di sana jika sumber-sumber daya alam yang tidak tergantikan habis, padahal manusia tidak bisa hidup tanpa sumber-sumber ini.

Sebelum terjadi Revolusi Industri, manusia telah merusak beberapa bagian dari biosfir ini. Sebagai contoh, manusia membuat tanah-tanah di lereng bukit jadi tandus karena menebangi pohon-pohon sebagai tempat menyimpan air bagi tanah tersebut. Manusia merusak hutan lebih cepat daripada mereboisasinya, dan dia menambang logam-logam yang sama sekali tidak tergantikan. Sebelum, meniru energi fisik alam semestas kedalam mesin-mesin yang berskala sangat besar, sebenarnya menusia tidak mempunyai kuasa untuk merusak dan menghancurkan biosfir tanpa bisa memperbaikinya lagi. Pada saat itu, udara dan air masih menjadi sumber daya alam yang tak terbatas, dan persediaan kayu dan logam masih sangat banyak dibandingkan dengan kekuatan manusia untuk menghabiskannya. Saat itu, setelah menusia menghabiskan satu tambang dan membabat habis sebuah hutan, selalu ada tambang-tambang baru dan hutan-hutan perawan lain yang menunggu untuk dieksploitasi. Namun, dengan Revolusi Industri, manusia menjatuhkan ancaman terberat yang pernah ada terhadap biosfir. Termasuk terhadap manusia itu sendiri.

Sebelum Revolusi Industri, orang-orang Barat telah mulai menguasai sesama manusia. Pada abad ke-16, orang-orang Spanyol menundukkan penduduk Meso-Amerika dan Andean dan melenyapkan peradaban mereka. Selama 1757-64, Maskapai India Timur milik Inggris menguasai Bengali, Bihar, dan Orissa. Pada 1799-1818, maskapai Inggris ini menaklukkan seluruh anak benua India sampai ke sebelah tenggara sungai Sutlej. Mereka melakukannya secara leluasa karena menguasai laut dan arena. Pada 1809 membuat perjanjian dengan Rajit Singh, seorang pendiri Kerajaan Sikh, yang di dalamnya kedua belah pihak menerima sungai Sutlej sebagai batas antara wilayah-wilayah taklukkan mereka. Pada 1845-9, maskapai Inggris tersebut meneruskan upaya menaklukkan dan aneksasi terhadap Kerajaan Sikh di Punjab. Sementara itu, pada 1768-74, Rusia mengalahkan Kekhalifahan Ustmaniyah secara telak ;pada 1798 Prancis menduduki Mesir, dan pada 1830 mulai menaklukkan Algeria; pada 1840 tiga Negara Barat dan Rusia mengalahkan seorang raja muda Utsmaniyah yang berani di Mesir, yaitu Muhammad Ali, dari arah Syria dan Palestina. Pada 1839-42, maskapai Inggrias tersebut mengalahkan Cina secara dramatis. Dan, pada 1853, sebuah skuadron laut Amerika memaksa pemerintah Tokugawa untuk menerima pendaratannya ke Jepang. Jepang tahu bahwa dirinya tak berdaya untuk mencegah tamu tak diundang ini dengan kekuatan senjata.

Keberhasilan militer negara-negara Barat dan sebuah negara Ortodoks Timur yang telah terbaratkan, yakni Rusia, harus dutebus dengan kekalahan-kekalahan mereka pada waktu kemudian. Pada abad ke-17, Portugal dikalahkan oleh pasukan Jepang dan Abyssinia. Sepasukan Inggris yang menginvasi Afganistan pada tahun 1839-42 dihancurleburkan. Namun, pada 1817, negara-negara Barat itu dan Rusia telah mendominasi seluruh dunia.

Sebelum Revolusi Industri di Inggris, Tsar Rusia, Peter Agung, telah mengetahui bahwa satu-satunya cara yang dapat menyelamatkan negara non-Barat dari dominasi Barat adalah menciptakan sebuah tentara model baru seperti tentara-tentara Barat yang dibentuk pada zaman Peter. Peter juga menyadari bahwa tentara ala Barat ini harus didukung dengan teknologi, perekonomian, dan pemerintahan a la Barat juga. Kegemilangan dominasi militer Barat dan Rusia yang telah terbaratkan atas negara-negara non-Barat antara 1757 dan 1853 menggerakkan penguasa sebagian Negara yang merasa terancam untuk meniru apa yang telah dilakukan Peter Agung.

Contoh-contoh penguasa ternama yang melakukan westernisasi pada abad pertama sejak bergulirnya Revolusi Industri di Inggris adalah Rajit Singh (berkuasa 1799-1838), pendiri Negara Sihk penerus, di Punjab, kekhalifahan Afgan Abdali; Muhammad Akli, raja Padishah Utsmaniyah di Mesir sejak 1805 sampai 1848; Mahmud II, raja Padishah Ustmaniyah (berkuasa 1808-39); Raja Mongkut di Thailan (berkuasa 1851-68); dan sejumlah pimpinan Jepang yang, atas nama kekaisarannya, menghancurkan rezim Tokugawa dan mengambilalih pemerintah Jepang pada 1868. Para permimpin yang melakukan Westernisasi ini lebih berpengaruh dalam sejarah ekumene daripada pemimpin-pemimpin Barat saat itu. Mereka berhasil membatasi dominasi Barat dengan mengkapanyekan cara hidup Barat modern di negara-negara non-Barat.

Jika prestasi-prestasi semua negara Barat tersebut di atas luar biasa, para perancang Revolusi Meiji di Jepang pun sangat berhasil. Mereka adalah anggota-anggota kelas militer tradisional yang memiliki privilese, meskipun hidup miskin, yaitu samurai. Shogun Tokugawa ambruk setelah memberikan sedikit perlawanan. Kemudian, mayoritas samurai rela untuk melepaskan privilese mereka. Sekelompok kecil dari mereka yang memberontak pada 1877 dikalahkan dengan mudah oleh sebuah pasukan Jepang a la Barat baru yang beranggotakan para petani terlatih yang sebelum 1868, dilarang memiliki senjata.

Muhammad Ali dan Mahmud II tidak mengawali langkahnya dengan mulus. Sebagaimana Peter Agung, mereka merasa tidak dapat mulai membentuk tentara a la Barat sebelum membubarkan tentara tradisional mereka. Peter membasmi Streltsy Moskwa (“Pasukan Pemanah”) secara masal pada 1698-9; Muhammad Ali melenyapkan orang-orang Mamluk Mesir pada 1811, dan Mahmud II menghapus para janizary Utsmaniyah pada 1826. Semua tentara a la Barat yang baru ini menunjukkan sepak terjang yang bagus. Muhammad Ali mulai membangun angkatan daratnya yang baru pada 1819 dan angkatan lautnya pada 1821.

Pada 1825, semasa kauasaan Mahmud II. pasukan petani Mesir yang terlatih dengan baik nyaris berhasil menguasai kembali parapengacau Yunani yang berani tetapi tidak disiplin. Orang-orang Yunani ini bisa selamat berkat intervnsi Prancis, Inggris, dan Rusia yang menghancurkan pasukan Mesir dan Turki pada 1927 dan memaksa anak Muhammad Ali, Ibrahim, mengevakuasi orang-orang Yunani pada 1828. Pada 1833, Ibrahim menaklukkan Syria tetapi gagal masuk ke Istambul hanya karena intervensi Rusia demi kepentingan Mahmud II. Tentara Muhammad Ali lebih kuat daripada tentara Mahmud II, karena dia mulai membentuknya lebih awal. Mahmud II tidak dapat memulainya sebelum 1826, tahun ketika dia menghapuskan janizary. Namun, dalam perang Rusia-Turki pada 1828-9, tentara petaninya dengan model baru yang terlatih ini melakukan perlawanan yang jauh lebih liat daripada tentara Utsmaniah kuno dalam perang Rusia-Turki pada 1768-74, 1787-92, dan 1806-12.

Rajit Singh, sebagaimana tokoh yang sezaman dengannya, Muhammad Ali, merekrut bekas pasukan Napoleon sebagai perlatih militer. Inggris berhasil mengalahkan pasukan Sikh yang terlatih a la Barat pada 1845-6 dan lagi pada 1848-9, tetapi dua perang ini dimenangkan Inggris dengan usaha yang lebih keras dan korban yang lebih banyak daripada penaklukkan mereka sebelumnya atas seluruh India kecuali Punjab.

Para penguasa non-Barat yang melaksanakan westernisasi negara-negara mereka tidak dapat melakukan hanya dengan bantuan segelintir penasihat dan pelatih Barat. Mereka harus menemukan atau menciptakan sekelompok pribumi mereka jadi sebuah kelas yang berpendidikan Barat yang dapat menghadapi orang-orang Barat dalam kedudukan yang kurang lebih setara dan dapat menjadi mediator antara Barat dan rakyat mereka yang belum terbaratkan. Pada abad ke-17 dan 18, pemerintah Utsmaniyah mendapatkan kelas baru seperti ini yang siap pakai, yakni penduduk Ustmaniyah Yunani yang telah mengenal Barat karena mereka menempuh pendidikan di sana atau menjalin hubungan dagang dengan orang-orang Barat.

Peter Agung di Rusia, Muhammad Ali di Mesir, dan maskapai Inggris di India harus menciptakan kelas mediator yang juga mereka butuhkan. Di Rusia kelas ini disebut intelligentsia, sebuah kata serapan dari bahasa Prancis yang mendapat akhiran dari bahasa Rusia. Selama 1763-1871, kelas intelligentsia tumbuh di setiap negara yang jatuh ke tangan kekuasaan Barat atau menyelamatkan diri dari penderitaan semacam ini dengan melakukan westernisasi untuk mempertahankan independensi politiknya. Seperti para pemilik pabrik dan buruh industri yang tumbuh di Inggris pada abad itu, kaum intellegetsia non-Barat adalah sebuah kelas baru, dan pada 1970-an kelas ini mengukuhkan perannya yang besar dalam sejarah umat manusia.

Intelligentsia dibentuk oleh pemerintah untuk memenuhi tujuan-tujuan pemerintah itu sendiri, tetapi kelas ini segera menyadari bahwa dirinya memegang posisi kunci di dalam masyarakatnya, dan dalam setiap kasus, kelas ini kemudian melangkah ke jalur yang independen. Pada 1821, invasi pangeran Yunani eks-Utasmaniyah, Aleksander Ypsilantis, atas kekhalifahan Utsmaniyah memberi pelajaran pada pemerintah Utsmaniyah bahwa kaum intelligentsia-nya tidak bisa diandalkan lagi. Pada 1825, konspirasi para petinggi militer Rusia yang berpendidikan Barat untuk menentang Tsar Nicholas I, tetapi kaum intelligentsia menunjukkan isyarat untuk tumbuh kembali. Ini terjadi bukan hanya di Rusia tetapi juga di sejumlah negara lain yang telah melakukan westernisasi.

Hidup di antara dua dunia –inilah peran kaum intelligentsia— adalah sebuah laku spiritual, dan di Rusia pada abad ke-19 laku spiritual ini melahirkan kesusastraan adi luhung yang tidak tertandingi pada zaman itu. Novel-novel Turgenev (1818-83), Dostoyevsky (1821-81), dan Tolstoy (1828-1910) merupakan kekayaan sastra dunia.

Dibandingkan dengan Revolusi Industri di Inggris dan pengaruh Barat di negara-negara non-Barat, bidang-bidang kultural dan politik Barat pada 1763-1871 dinomorduakan –sangat buruk meskipun sebenarnya bidang-bidang ini berkembang jika dilihat dari sejarah perkembangan kedua bidang tersebut dalam konteks global. Pada abad ini, tokoh-tokoh seni peradaban Barat adalah orang-orang Jerman. Immanuel Kant (1724-1804) adalah filosof Barat terbesar, dan Goethe (1749-1832) adalah penyair Barat terbesar pada abad ini. Dua tokoh Jerman termasyhur ini lebih bersinar daripada dua meteor Inggris yang brilian, Shelley (1792-1822) dan Keats (1795-1821). Mozart (1756-91) dan Beethoven (1770-1827) membawa musik klasik Barat ke puncak kejayaannya. Perlu dicatat bahwa keunggulan budaya Jerman itu pada zaman modern dalam sejarah Barat berkebalikan dengan kekuatan politik dan kemakmuran ekionominya. Musik Jerman berkembang setelah berakhirnya Perang Tiga Puluh Tahun, tetapi kemudian layu setelah berdirinya Reich Kedua.

Dalam bidang sains, Edward Jenner (1749) membuktikan pada 1798 bahwa kekebalan terhadap penyakit cacar dapat diperoleh dengan vaksinasi, dan pada 1857 Louis Pasteur (1822-95) membuktikan keberadaan bakteri. Sebelum panyakit cacar dan bakteri diketahui, dua preditor yang memangsa manusia dan binatang piaraan ini telah menelan lebih banyak koraban jiwa daripada binatang-binatang karnivora yang telah manusia tundukkan pada zaman Palaeolitik Tinggi. Setelah teridentifikasi, akhirnya bakteri juga dapat diatasi oleh manusia. Sekarang tidak ada musuh yang mematikan bagi manusia di biosfir ini kecuali manusia itu sendiri.

Aplikasi sains jadi teknologi membuat manusia semakin dan semakin hebat. Aplikasinya jadi pengobatan preventip menyebabkan pertambahan populasi manusia di bosfir ini sangat akseleratif; dan penurunan angka kematian yang lebih cepat daripada angka kelahiran disusul dengan pemakaian alat-alat kontrasepsi. Pada tahun yang sama, 1798, ketika Jenner membuktikan kemanjuran vaksinasi cacar, T.R. Malthus menerbitkan bukunya, Essay on Population, dan buku ini mengilhami Charles Darwin (1809-82) untuk memaparkan konsepnya tentang perjuangan untuk mempertahankan hidup (struggle for life) sebagai sub judul dari The Origin of Species (1859).

Satu abad sebelum Darwin, Buffon menyempal dari doktrin tradisional agama-agama Yahudi bahwa berbagai spesies makhluk hidup telah diciptakan sekali untuk selamanya, sebagai entitas-entitas yang berbeda dan kekal, oleh Tuhan yang Mahakuasa. Tesis Buffon bahwa keanekaragaman spesies merupakan hasil dari proses perubahan dalam rentang waktu yang lama diikuti dalam bidang geologi oleh Charles Lyell (1797-1875), yang karyanya, Principles of Geology (1830-3), juga telah dibaca Darwin. Tesis Darwin mengejutkan kaum Kristen Ortodoks. Kata-kata “seleksi” dan “kelangsungan ras-ras yang lebih kuat” (preservation of favoured reces) mengindikasikan mitos Yahudi tentang “orang-orang terpilih”. Meskipun Darwin membuang postuilat tentang Tuhan Sang Pencipta, dia menggantinya dengan hipotesis tentang seleksi alam impersonal pada serangkaian mutasi yang teramati tetapi tidak terjelaskan.

Gagasan revolusioner Darwin bukanlah penjelasannya tentang mekanisme perubahan biologis, tetapi pembuktiannya bahwa hidup di biosfir ini bersifat dinamis, bukan statis. Darwin membuktikan dalam biologi apa yang telah Hegel (1770-1831) tunjukkan dalam filsafat. Hegel menggambarkan hidup dalam proses perubahan dalam dimensi waktu. Dia menerjemahkan fenomena perilaku seksual –yang melahirkan keturunan dengan ciri-ciri yang berasal dari masing-masing induknya—ke dalam istilah-istilah intelektual: tesis, antitesis, dan sintesis. Mendel (1822-84) menemukan hukum-hukum genetika; dia dapat merumuskan hukum-hukum ini secara kuantitatif. Dia mempublikasikan temuan-temuannya ini pada 1864-6, tetapi temuan-temuannya tetap tidak dikenal sampai Darwin dibicarakan banyak orang. Temuan-temuannya itu tetap diabaikan sampai 1900.

Dalam bidang militer dan politik, abad ini menjadi saksi atas kemerdekaan Amerika Serikat setelah mengalami Perang Revolusi (1776-83); pemulihan persatuan dan kesatuan setelah Perang Sipil (1861-5); dan ekspansi geografisnya ke Amerika Utara menyusuri pantai-pantai (1783-1853). Abad yang sama juga manyaksikan upaya Prancis pada 1797-1815 melalui Napoleon untuk menyatukan kembali Dunia Barat secara politis di bawah dominasi Prancis yang sebelumnya pernah dilakukan Louis XIV dalam peperangan 1667-1713. Akibat dari kegagalan Napoleon adalah terbentuknya negara nasional Italia pada 1859-70 dan Jerman pada 1866-71. Maka, pada abad tersebut, penataan politik Dunia Barat sebagai sekumpulan negara nasional yang berdaulat dan merdeka mengalami kemajuan, tetapi upaya untuk menyatukan Barat secara politis justru menyebabkan kemunduran.

Perluasan territorial Prancis oleh Napoleon jauh lebih besar daripada yang pernah dilakukan oleh Louis XIV. Namun, dalam interval antara dua masa ekspansi militer Prancis yang berurutan ini, luas Dunia Barat bertambah sebanding dengan perluasan wilayah-wilayah taklukkannya. Louis XIV lebih berhasil dalam menguasai Dunia Barat dengan ukuran yang lebih sempit pada 1700 daripada Napoleon dalam menguasai Duinia Barat dengan ukuran yang jauh lebih luas pada1800. Sementara itu, Rusia, India, dan Amerika Utara telah dikuasai oleh Barat; wilayah geografis Rusia secara militer sebenarnya tak terbatas. Saat itu, wilayah-wilayah taklukkan Barat telah menjadi kekuatan ekonomi yang menentukan. Dan, selama perang-perang Napoleon, semua wilayahn taklukan ini berada dalam kekuasaan ekonomi Inggris berkat kemenangan atas Prancis di lautan.

Bekas koloni-koloni Inggris di Amerika Utara telah memerdekakan diri secara politis, tetapi mereka tetap mencari keuntungan melalui hubungan dagang dengan Inggris. Demikain juga yang terjadi di bekas koloni-koloni Spanyol dan Portugal di Amerika, ketika mereka meraik kemerdekaan secara insidental akibat invasi Napoleon ke Semenanjung Iberia. Sumber-sumber material di luar Barat adalah bahan bakar perang bagi Inggris dan juga buah dari kemenangannya atas Napoleon. Pada 1821, bekas dominion-dominion Spanyol di Amerika, dan bekas dominion Portugal, yakni Brasil, menyusul kemerdekaan Amerika Serikat secara politis. Namun, secara ekonomis, negara-negara Amerika Latin menjadi, dan Amerika Serikat terus menjadi, bagian pasar luar negeri bagi produk-produk industri mekanis Inggris.

Beberapa revolusi yang meletus di Dunia Barat selama 1763-1871 memiliki ciri yang berlainan. Revolusi Industri di Inggris bersifat teknologis, ekonomis, sosial, bukan politis, meskipun mempunyai imbas politis non-revolusi ketika pada 1832 sebuah plakat reformasi yang dikeluarkan parlemen Inggris mulai mengalihkan kekuasaan politiknya dari para pemilik tanah pedesaan ke kelas menengah urban. Revolusi yang mengubah bekas koloni-koloni Inggris di Amerika Utara jadi Amerika Serikat bukanlah revolusi teknologi, ekonomi, atau sosial, tetapi revolusi politik. Revolusi Prancis yang dimulai pada 1789 bersifat politik, ekonomi, dan sosial. Revolusi Prancis ini mengalihkan kekuasaan politik dari raja ke kelas menengah urban, dan mengalihkan kepemilikan tanah dari kaum aristokrat ke kaum petani secara besar-besaran.

Di Inggris pada saat yang sama, para pemilik tanah yang sempit dipaksa jadi kaum buruh tani yang berupah, atau dipaksa keluar dari tempat tinggalnya di pedesaan untuk menjadi buruh industri yang berupah juga. Sebaliknya, di Amerika Serikat, para pemilik tanah tetap bertahan dan bahkan menguasai tanah-tanah yang masih perawan sampai ke barat, yang diikuti oleh para imigran yang haus tanah dari desa-desa Eropa. Amerika Serikat tetap merupakan, dan Prancis menjadi, sebuah komunitas warga yang mandiri kecuali sebagian besar budak hitam Afrika di negara-negara bagian selatan Amerika Serikat dan sebagian kecil buruh urban yang seragam di Prancis.

Perbudakan atas orang-orang Afrika dan importasi mereka ke permukiman-permukiman Eropa di Amerika sama buruknya dengan akibat penemuan “Dunia Baru” Eropa Barat oleh Columbus sebagai penaklukan atau pengusiran penduduk Amerika pra-Columbus. Selama 1763-1871, status yuridis perbudakan dihapus di sebagian besar Amerika: di Haiti antara 1793 dan 1803, di seluruh kerajaan kolonial Prancis pada 1848, dan di kerajaan kolonial Brasil pada 1833, di Amerika Serikat pada 1863, dan di Brasil secara perlahan-lahan antara 1871 dan 1888. Penghapusan perbudakan di Haiti dilakukan dengan revolusi dan perang selama sepuluh tahun, sedangkan di Amerika Serikat dengan perang saudara pada 1861-5. Namun, penghapusan perbudakan, baik dengan cara damai maupun kekerasan, meninggalkan masalah ekonomi dan sosial.

Di Amerika Serikat, dan di Prancis sampai 1871, para pekerja industri yang berupah masih menjadi penduduk minoritas. Pembukaan tanah-tanah perawan di Amerika Serikat dan penguasaan tanah yang luas oleh kaum petani di Prancis menyelamatkan dua negara Barat ini dari migrasi massif para pekerja bekas warga desa di kota-kota. Di Inggris migrasi seperti ini merupakan konsekuensi dari Enclosure Act. Akan tetapi, di Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris buruh industri tetap teralienasi dari “kemapanan” kelas menengah, dan mereka tidak dapat memperbaiki nasib mereka baik dengan cara damai maupun kekerasan.

Kelas menengah yang merancang Revolusi Prancis pada 1789 mengeksploitasi kebencian golongan proletariat urban, tetapi mereka tidak melakukan apapun untuk mengurangi penderitaan golongan proletariat itu. Alih-alih mengurangi penderitaan, dalam hal ini mereka justru berperilaku seperti musuh-musuh mereka di Inggris. Kelas menengah Prancis memangkas belenggu-belenggu tradisional terhadap kebebasan usaha ekonomi swasta., yang sebelumnya melindungi kelompok masyarakat ekonomi lemah. Slogan laissez-faire, laissez-passer –yakni, hapus pembatasan terhadap produksi industri dan hapus bea cukai untuk transportasi barang-barang—menggema di Prancis, tetapi segera saja sebuah undang-undang yang melarang tuntutan-tuntutan tersebut dibuat di Prancis pada 1791, delapan tahun sebelum pembuatan undang-undang serupa di Inggris.

Di Prancis upaya-upaya golongan ploretariat Paris untuk mengubah revolusi politik jadi revolusi sosial dilumpuhkan oleh kekuatan militer pada 1795, 1848, dan 1871. Gerakan kaum buruh urban Prancis dimentahkan oleh kelas menengah dan kaum petani. Di Inggris buruh industri menaruh harapan pada unionisme perdagangan dan reformasi politik yang telah lebih maju daripada apa yang telah dicapai pada 1832. Gerakan Chartis pada 1837-48 semata-mata bertujuan politik, dan, meskipun Chartisme lama kelamaan mereda, reformasi politik lanjutan terjadi di Inggris pada1867-72. Akan tetapi, pemberian hak suara kepada kelas pekerja industri Inggris, seperti pembebasan budak secara yuridis di Amerika, mengecewakan mereka karena tidak segera menghasilakn perbaikan kehidupan mereka secara mendasar.

Kesengsaraan kaum buruh industri dan persetujuan kelas menengah secara diam-diam atas ketidakadilan sosial; ini membangkitkan kemarahan Karl Marx (1818-83) dan mendorongnya untuk menciptakan agama Yahudi keempat, yakni Marxisme. Marxisme –sebagaimana Budhisme— secara teoritis bersifat atheistic, tetapi –sebagaimana Darwinisme— menciptakan tiruan bagi Yahweh, Tuhan Yahudi. Tuhan tiruan buatan Darwin adalah alam semesta, yang aksi selektifnya melanggengkan “ras-ras yang lebih kuat”. Tuhan tiruan buatan Marx adalah “keniscayaan historis” (historical necessity), dan “orang-orang terpilihnya” adalah golongan ploretariat industrial. Marx coba menghibur golongan proletariat yang sedang menderita dengan menunjukkan keniscayaan sebuah revolusi yang baik yang di dalamnya konflik antara kelas proletariat dan kelas menengah akan berakhir dengan terbentuknya masyarakat tanpa kelas.

Walau Marx tidak sempat menyaksikan terhapusnya ketidakadilan sosial, seorang filantropis Jenewa yang sezaman dengannya, Hendri Dunant (1828-1910), berhasil mengurangi penderitaan tentara-trentara yang sedang bertempur dengan melahirkan Konvensi Jenewa pertama pada 1864 dan membentuk Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross).

Selama 1763-1871, Inggris memainkan peran utama, baik dalam kebaikan maupun keburukan, bukan hanya di Barat tetapi juga di seluruh dunia. Dalam babakan sejarah Barat sebelumnya, Inggris keluar sebagai pemenang perang atas Prancis untuk menguasai Amerika Utara dan India. Dengan kemenangan ini, Inggris membuka jalan bagi bekas koloni-koloninya di Amerika Utara untuk menumbangkan kekuasaan Inggris dan menjadi Amerika Serikat yang merdeka dengan wilayah seluas Kerajaan Rusia. Inggis sendiri kini menyatukan seluruh anak benua India secara politis untuk pertama kalinya dalam sejarah, dan berhasil menegakkan kembali cengkramannya ketika pasukan India Maskapai India Timur meraih kemenangan pada 1857-9.

Inggris juga membagi keuntungan, atau tanggung jawab, dengan Rusia dan Spanyol setelah mengalahkan Napoleon. Kegagalan upaya terakhir untuk menyatukan Dunia Barat secara politik menjadikan Dunia Barat terbagi-bagi jadi sejumlah Negara lokal merdeka yang berdaulat pada abad ketika Revolusi Industri melengkapi banyak negara dengan alat-alat perang yang luar biasa destruktif. Ketika menyerang dan mengalahkan Cina pada 1839-42, Inggris memberikan pukulan yang mematikan pada sebuah rezim yang telah memberikan kedamaian dan stabilitas bagi banyak sekali penduduk Cina selama hampir dua millennium.

Tindakan-tindakan Inggris ini luar biasa, tetapi yang paling luar biasa pada periode ini adalah tindakannya dalam melahirkan Revolusi Industri. Dalam membidani lahirnya Revolusi Industri, ingris merobohkan perimbangan kekuatan antara biosfir dan manusia, dan hal ini pada akhirnya menciptakan daya manusia untuk membuat biosfir tidak dapat ditinggali oleh semua bentuk kehidupan, termasuk manusia itu sendiri.

Pada awal milenium kedua ini, solah-olah biosfir terancam bahaya banjir, polusi, dan, mungkin pada puncaknya, tidak mungkin lagi ditempati lagi oleh bentuk kehidupan apa pun akibat ulah salah satu makhluk dan penghunuinya sendiri, yaitu manusia. Kalau kita melihat ke belakang, tampaknya bahwa kekuasaan manusia atas biosfir telah meningkat dengan cepat. Sebelum menjadi “manusia”, manusia tidak mempunyai senjata dan baju besi yang telah terpasang di tubuhnya, tetapi dia dikaruniai akal yang dapat berpikir dan membuat rencana,. Dia memiliki dua organ fisik, akal dan tangan, yang merupakan instrumen material bagi pemikiran, rencana, dan upaya untuk mencapai tujuan dengan aksi fisik.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa alat-alat kehidupan sama tuanya dengan pemikiran manusia. Kemampuan untuk membuat dan menggunakan alat-alat memungkinkan manusia memenangkan persaingan hidup di biosfir ini selama Zaman Palaeolitik Tinggi, mungkin 70.000/40.000 tahun yang lampau, manusia menguasai biosfir, tetapi baru pada awal Revolusi Industri –dua ratus tahun yang lampau—manusia menjadi penguasa yang dominan. Dalam dua abad terakhir, manusia telah memperbesar kekuasaan materialnya sehingga dia mengancam keselamatan biosfir, tetapi, sayangnya, dia tidak mengasah potensi spiritualnya. Kesenjangan antara kekuasaan material dan spiritual semakin lebar, dan ini sungguh memprihatinkan. Mengasah potensi spiritual manusia adalah satu-satunya cara yang memungkinkan untuk menyelamatkan biosfir –dan manusia itu sendiri—dari kehancuran akibat kerakusannya yang telah dilengkapi dengan kemampuan yang luar biasa.

Pada akhir abad kedua puluh, dampak kemampuan destruktif manusia yang luar biasa itu ditunjukkan oleh sejumlah gejala. Populasi manusia di biosfir bertambah sangat cepat, dan pertambahan penduduk itu terkonsentrasi di kota-kota besar. Karena mayoritas penduduk masih miskin, pertumbuhan kota-kota tersebut terutama berupa proliferasi kota-kota kecil kumuh yang parisitis yang ditempati oleh kaum migran pengangguran, dan memiliki kemungkinan untuk menjadi pengangguran, dari desa-desa sebagai tempat tinggal dan kerja meyoritas umat manusia sejak ditemukannya pertanian pada awal Zaman Neolitik.

Kota-kota ini menyebarkan perangkap ke seluruh dunia yang berupa alat-alat mekanis melalui jalur darat dan udara secara cepat. Penduduk minoritas yang memproduksi komoditas-komoditas industri, atau bahan-bahan makanan dan bahan-bahan mentah organik, dengan proses-proses mekanis yang semakin canggih dan berdaya tinggi ini mengotori air dan udara yang menyelimuti biosfir dengan limbah-limbah buangan, belum lagi ketika mereka merusak flora dan fauna (manusia dan non-manusia) dengan operasi-operasi militer yang sangat destruktif.

Pada 1871 dan mungkin bahkan 1944, sebelum ditemukannya teknologi untuk memecah atom, masih sulit dipahami jika seluruh laut dan atmosfir bumi dapat terkena polusi yang mematikan akibat tindakan sebuah produk biosfir, yaitu manusia. Kemampuan manusia untuk membuat biosfir tak dapat ditinggali lagi tampak jelas dalam pemusnahan sejumlah spesies non-manusia yang belum dijinakkan. Sementara itu, manusia itu sendiri dan binatang-binatang peliharaan tidaklah kebal dari ancaman tersebut. Sebagian dari mereka juga sedang teracuni oleh bahan-bahan yang dihasilkan secara taksengaja dari aktivitas-aktivitas manusia yang disengaja.

Pertumbuhan fisik kota-kota tersebut terasa luar biasa. Ankara dan Athena telah berubah dari kota-kota kecil menjadi megalopolises sejak 1922, daerah pedesaan Jepang yang indah di dekat Selat Shimonoseki telah berubah jadi jalan-jalan dan rumah-rumah. Di Indonesia, Bandung yang merupakan kota kecil dan berhawa sejuk kini menjadi kota metropolitan yang sesak penduduk dan panas.

Bagi penduduk Barat, Agustus 1914 menjadi awal sebuah trauma. Periode 1914-sekarang adalah masa kesengsaraan bagi seluruh umat manusia akibat perbuatan mereka sendiri. Dalam periode ini, dua perang dunia meletus sebagai sebuah kejahatan yang mahadahsyat dan mematikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Genosida dilakukan orang-orang Turki terhadap penduduk Armenia, orang-orang Jerman terhapat Yahudia, orang-orang Hindu terhadap orang-orang Muslim India dan sebaliknya, orang-orang Serbia terhadap Muslim Chechna. Orang-orang Palestina, Tibet, dan mayoritas penduduk pribumi Afrika di bagian selatan juga menjadi korban.

Salah satu dari apa yang disebut “perang agama” masih berkecamuk secara liar di Irlandia Utara. Kelas menengah Barat, seperti kaum migran non-Barat dari desa-sdesa ke kota-kota kumuh, mengalami kemunduran hidup yang sangat mencolok. Adapun periode 1871-1913 mungkin merupakan zaman keemasan dalam memori orang-orang Barat kelas menengah. Namun, jika periode 1871-2009 secara keseluruhan ditinjau kembali, tampak jelas bahwa optimisme yang merebak selama 1871-1913 telah hilang.

Orang-orang Barat tidak ingin melihat berakhirnya perang; sebagian dari mereka –misalnya di Jerman dan negara-negara Balkan— berharap tidak hanya meletusnya kembali peperangan tetapi juga coba-coba memicunya. Akan tetapi, perang-perang yang terbayang dalam benak orang-orang Jerman yang sangat gemar berperang adalah perang-perang pendek semacam perang Bismarckian, bukan perang-perang Napoleon yang panjang, atau Perang Tiga Puluh Tahun yang dahsyat pada tahun 1618-48 di Jerman, atau perang saudara yang hebat pada 1861-5 di Amerika Serikat.

Perang Cina-Jepang pada 1894-5, perang Spanyol-Amerika pada 1898, Perang Afrika Selatan pada 1899-1902, dan Perang-perang Balkan pada 1912-13 senyatanya bersifat lokal dan pendek. Bahkan, Perang Rusia-Turki pada 1877-8 dan Perang Rusia-Jepang pada 1904-5 hanyalah konflik-konflik regional yang tidak meliputi banyak wilayah dunia. Kerusakan dan kehancuran hidup manusia yang luas akibat berbagai penindasan (1850-73) rezim T’ai-p’ing dan pemberontakan-pemberontakan lain di Cina terhadap rezim Manchu tidak lagi di klim oleh orang-orang Barat sebagai penderitaan khas masyarakat Oriental ketika dan di mana masyarakat itu belum dikuasai oleh kaum Kristen.

Prestasi-prestasi yang mendasari optimisme di atas sebenarnya cukup mengesankan. Namun, setiap prertasi tersebut tidak sempurnya dan di dalamnya mengandung bibit-bibit kerkacauan. Pada tahun 2000-an, ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan itu amat jelas, tetapi antara 1871 ddan 1914 tidak begitu mudah dilihat.

Misalnya, pembebasan budak di Rusia pada 1861, dan mulai –pada 1871—di hapusnya perbudakan di negara perbudakan terakhir, Brasil, tampak seperti tonggak-tonggak sejarah yang agung menuju milenum baru. Akan tetapi, pembebasan budak-budak di Rusia tidak memuaskan kerakusan mereka atas kepemilikan tanah, dan pembebasan budak-budak hitam secara yuridis pun tidak serta merta menghapus prasangka, diskriminasi, dan konflik rasial. Sementara itu, buruh industri yang telah bebas secara yuridis tidak juga melakukan revolusi sosial Marxis di manapun, tetapi di negara-negara Barat kehidupan ekonomi mereka membaik secara pelan-pelan, dan perbaikan kehidupan mereka ini disertai dengan perbaikan kondisi-kondisi kerja mereka.

Namun, pekerjaan mekanis semakin tidak memuaskan secara spiritual seiring dengan setiap jengkal kemajuan teknologi. Penemuan ban-berjalan dan perakitan mesin meningkatkan produktivitas dan menurunkan “harga” spiritualitas yang mengubah menusia jadi komponen-komponenm mesin “yang diatur secara ilmiah”. Kehidupan buruh industri kini secara material lebih baik, tetapi sekalipun telah disogok untuk menjadi budak-budak pabrik seperti ini, mereka masih teralienasi secara spiritual dari masyarakatnya yang menuntut kelas sosial baru ini untuk memenuhi tujuan-tujuan kelas menengah.

Terbentuknya negara nasional Jerman dan Italia secara utuh pada 1870-1 tampak menstabilkan struktur politik ekumene. Negara nasional yang berdaulat sekarang dianggap sebagai sebuah unit politik standar, dan sejak 1871 tidak ada perang lagi kecuali Perang Rusia-Jepang pada 1904-5, yang melibatkan dua kekuasaan besar atau lebih. Perang Rusia dengan Turki pada 1877-8 dan dengan Jepang pada 1904-5 masing-masing berakhir tanpa melibatkan Ingris. Lembah Oxus-Jaxartes dan Turkmenistan, sampai ke perbatasan-perbatasan Barat Laut Afganistan, telah dianeksasi oleh Rusia pada 1865-85, dan saat itu Perang Rusia-Inggris tidak jadi meletus.

Antara 1881 dan 1904, semua negara Afrika, kecuali dua negara yang masih bebas dari kekuasaan Eropa Barat pada 1871 berada di bawah kendali Inggris, Prancis, Jerman, Belgia, atau Portugal secara langsung atau tidak langsung tanpa timbul peperangan di antara negara-negara itu dalam bersaing menguasai wilayah Afrika. Abyssinia (setelah bernama Ethiopia, yang awalnya menembati daerah Sudan Timur sekarang ini) turut ambil bagian dalam perebutan wilayah Afrika ini, dan berhasil mengalahkan Italia secara terlak pada 1896. Liberia, sebuah pemukiman kolonial bagi budak-budak hitam Amerika yang telah bebas, tetap merdeka berkat perlindungan Amerika Serikat. Namun, semua negara dan penduduk Afrika lainnya kehilangan kemerdekaannya.

Setelah kekalahn Cina yang telak dari Jepang pada 1894-5, Inggris, Rusia, Jerman, dan Prancis mulai membagi-bagi wilayah Cina di antara mereka sendiri, sebagaimana mereka telah membagi-bagi wilayah Afrika. Di Asia Timur, seperti di Afrika, mereka tidak sampai saling berperang selama berbagi daerah kekuasaan.

Hal tersebut tampaknya merupakan pertanda baik bagi terciptanya perdamaian antara dua kekuasaan besar. Setelah Kaisar Jerman, Willian II memecat Bismarck pada 1890, dia mulai menunjukkan isyarat-isyarat provokatif. Meskipun demikian, seolah-olah ekumene terus hidup damai dan tertib berkat kerja sama dua kekuasaan besar tersebut. Sekarang terdapat delapan negara besar, dan hanya tiga di antaranya –Rusia, Amerika Serikat, dan Jepang—yang berada di luar Eropa. Walaupun negara-negara Eropa itu berdaulat, pada 1911 tak sebuah negara Eropa pun kecuali Rumania dan Turki meminta agar orang asing yang masuk ke wilayah mereka membawa paspor. Di pedalaman Yunani, orang dapat menukar uang emas dengan uang perak Prancis, Italia, Belgia, atau Yunani. Batas-batas politik belum menjadi batas-batas atau hambatan-hambatan moneter bagi pertualang-petualang pribadi.

Akan tetapi, ada beberapa tanda yang manakutkan dalam gambaran damai tersebut. Prancis tidak terima dengan wilayahnya yang hilang yang terpaksa diserahkannya kepada Jerman pada 1871. Penduduk wilayah ini juga tidak senang menjadi warga Reich Jerman Kedua; wilayah ini masih berstatus sebagai Reichsland; pemerintah kekaisaran Jerman memberikan status otonom bagi salah satu bagian milik Reich; Bismarck dihantui dengan “mimpi buruk koalisi”, dan setelah dia “jatuh”, mimpi buruk itu segera menjadi kenyataan. Prancis dan Rusia segera membuat sebuah perjanjian yang dilengkapi dengan konvensi militer pada 1892-3; Prancis dan Inggris membuat perjanjian pada 1904; dan Rusia dan Inggris melakukannya pada 1907. Pada 1898, Jerman mulai bersaing dengan Inggris di laut. Rencana-rencana yang kompetitif untuk mobilisasi dan operasi-operasi laut dan militer selanjutnya sedang disusun oleh lima negara Eropa tersebut dan Rusia.

Semenjak berdirinya Italia dan Jerman sebagai negara nasional yang utuh pada 1870-1, negara nasional dianggap sebagai sebuah unit politik yang alamiah, normal, dan benar. Namun, anggapan ini tidak kuat mengingat orang-orang Eropa Timur belum memperoleh negara-negara nasional sendiri meskipun orang-orang Eropa Barat, termasuk orang-orang Belgia yang dwibahasa dan Swis yang catur bahasa, telah memiliki negara-negara nasional sendiri. Orang-orang Polandia, sebagai contoh, tidak mempunyai negara merdeka sendiri; mereka adalah penduduk Rusia, Prusia, atau Austria. Negara-negara nasional Yunani, Bulgaria, Serbia, dan Rumania berusaha mendapatkan “wilayah-wilayah tak tertebus” yang masih dikuasai oleh Utsmaniyahdan Habsburg.

Monarki Habsburg yang multinasional sebagai salah satu dari delapan negara besar merupakan anomali di sebuah dunia yang menjadikan negara-negara nasional sebagai unit-unit politik standar. Di Kekaisaran Rusia, sekitar sepertiga penduduknya bukanlah orang-orang yang berkebangsaan Rusia Agung. Negara nasional Jerman meliputi penduduk minoritas Polandia, Denmark, dan Prancis yang belum terasimilasi. Italia masih memiliki “wilayah-wilayah yang tak tertebus” (istilah ini berasal dari bahasa Italia) di perbatasannya dengan monarki Habsburg. Pendeknya, “prinsip penentuan jadi negara sendiri”, yang memberikan stabilitas politik bagi Eropa Barat setelah berlaku di sini pada 1871, sekarang menjadi sebuah ideal yang eksplosif dan subversif di Eropa Timur.

Dan struktur politik ekumene di malam meletusnya Perang Dunia I tersayat-sayat oleh kegagalan Eropa Timur menyesuaikan diri dengan negara-negara nasional Eropa Barat yang sampai sekarang menjadi standar yang diterima secara luas. Akan tetapi, keadaan politik dunia tetap genting sekalipun, sebelum 1914, semua “wilayah-wilayah tak tertebus” telah disatukan dengan negara-negara nasional berdasarkan kehendak mereka sendiri, dan sekalipun semua wilayah taklukan telah berubah menjadi negara-negara nasional yang berdaulat. Ekumene telah terbagi-bagi secara politis jadi unit-unit lokal yang saling independen, dan, karenyanya, terseret ke dalam sebuah konflik yang tak terselesaikan antara tuntutan-tuntutan politik manusia dan kebutuhan-kebutuhan ekonomi mereka.

Negara nasioanal lokal adalah sebuah ideal politik bagi masyarakat Barat dan masyarakat-masyarakat lain yang terus bertambah jumlahnya yang mengadopsi lembaga-lembaga [politik] Barat. Kekuatan nasionalisme orang-orang Barat ditunjukkan oleh perlawanan mereka yang berhasil terhadap upaya-upaya suksesif Charles V, Philip II, Louis XIV, dan Napoleon untuk menyatukan Wilayah Kristen Ortodoks Timur secara politis sebagaimana pada masa Theodosius I dan Charlemagne. Namun, ideal poliitik negara nasional menjadi sebuah anakronisme ekonomi sejak timbulnya ekumene baru melalui penguasaan teknik navigasi oleh orang-orang Cina, Portugal, dan Spanyol pada abah ke-15. Univikasi ekonomi ekumene, yang telah dimulai oleh orang-orang Portugal dan Spanyol, didorong selangkah lebih maju oleh Revolusi Industri di Inggris.

Sampai saat itu, kebanyakan barang yang diperjualbelikan dalam perdagangan dunia adalah barang-barang mewah. Namun, akibat Revolusi Industri, perdagangan tersebut semakin merncakup barang-barang kebutuhan hidup. Para pengusaha Inggris yang membidani lahirnya Revolusi Industri memperoleh keuntungan dari investasi mereka dalam pembuatan mesin-mesin dengan melakukan “lokakarya dunia” di Inggris. Sejak saat itu, Inggris secara gencar mengekspor produk-produk manufaktur, dan mengimpor bahan-bahan mentah dan makhluk, dalam skala global. Perdagangan dunia ini melanggengkan ketegangan-ketegangan global ketika, pada 1871, Jerman, Amerika Serikat, dan negara-negara lain mencabut mobnopoli Inggris dengan mengikuti langkah-langkah para pengusahanya.

Awal unifikasi ekonomi ekumene ditandai dengan penemuan kapal layar Portugal yang dapat berlayar dalam jangka waktu lama. Penyempurnaan-penyempurnaan kapal layar ini dirayakan dengan pembentukan Uni Telegraf Internasional (International Telegraphic Union) pada 1864 dan Uni Pos Internasional (International Postal Union) pada 1875. Pada saat itu, umat manusia bersandar pada unifikasi ekonomi global, tetapi tetap enggan, dalam bidang politik, untuk meninggalkan pertikaian antarnegara. Keadaan yang canggung ini terus berlangsung sekalipun menimbulkan malapetaka yang disebabkannya sejak 1914. Dislokasi masalah-masalah kemanusiaan sebagai konsekuensinya menjadi luar biasa ekstrim sehingga kini mengancam kelumpuhan seluruh umat manusia kecuali minoritas petani dan peternak yang masih bertahan hidup dengan apa yang mereka hasilkan atau kumpulkan untuk mereka sendiri, tanpa terpengaruh oleh pasar dunia.

Tubuh, tinggi, dan kecepatan kapal layar Barat modern disempurnakan selama setengah abad (1840-90), ketika ia kalah bersaing dengan kapal uap, pesaingnya yang telah diciptakan oleh Revolusi Industri. Zaman ini juga merupakan zaman terakhir bagi musik “klasik” Barat, yang mencapai puncak kejayaannya pada pergantian abahd ke-18 menuju abad ke-19 dalam karya-karya Beethoven. Gaya lukisan Barat modern mencapai puncaknya ketika, setelah 1600, keunggulannya diambil alih dari orang-orang Italia dan Fleming oleh orang-orang Spanyol dan Belanda. Kapal layar “klasik” dicampakkan setelah Watt secara pasti menyempurnakan kapal uap.

Gaya lukisan naturalis digusur oleh penemuan fotografi. Selama 43 tahun (1871-1913) yang kelihatannya tenang dan makmur, para pelukis dan komposer secara sengaja memecahkan sebuah tradisi panjang dan mencari-cari bentuk-bentuk ekspresi yang sangat berbeda. Jelaslah bahwa mereka merasakan gaya seni “klasik” mereka telah berakhir, seperti penambangan batu bara yang ketinggalan zaman atau kedinastian Cina yang usang. Pada pada akhir abahd ke-20, tampak bahwa para seniman Barat mulai menyadari, selama berlangsungnya iklim yang tenang, badai yang menghantam generasi Barat mendatang. Seniman-seniman itu memiliki antene psikis yang sensitif terhadap, dan dapat merasakan, peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.

Jika kita coba secara seimbang mengulas balik pengalaman-pengalaman dan perilaku-perilaku umat manusia pada periode 1871-1913, hal pertama yang harus dicatat adalah banyaknya penemuan dan penciptaan yang luar biasa. Orang-orang Barat telah membuat temuan-temuan dan ciptaan-ciptaan berharga selama tiga abad sebelumnya, dan pada awal abad ini mereka telah melampaui prestasi-prestasi temuan dan ciptaan sebelumnya. Freud (1856-1939) menjelaskan perilaku bawah sadar dalam psikis manusia. Einstein (1879-1955) membuktikan bahwa fisika Newton memiliki keterbatasan dalam menjelaskan realitas. Einstein melebarkan sayap fisika dengan mengakui bahwa proses pengamatan adalah proses interaksi. Pengamat adalah bagian dari kosmos fisik yang geraknya dalam ruang dan waktu sedang diamatinya.

Penemuan keberadaan dan sifat elektron oleh J.J. Thomson pada 1897 menunjukkan bahwa kata “atom” adalah sebuah nama yang salah. Sebuah atom terbukti bukanlah sebuah entitas yang tak terbagi; ia adalah miniature tata surya. Strukturnya ditemukan oleh Ernest Rutherford (1871-1937) pada 1904. Dia mengidentifikasi nucleus atom, dan dia berhasil memecahnya pada 1919. Komposisi nucleus itu sendiri diungkap oleh penemuan James Chadwick tentang keberadaan dan sifat netron pada 1932. Temuan-temuan dalam fisika ini telah mendorong para fisikawan, atas inisiatif Niels Bohr (1885-1962), untuk mengakui sebuah kebenaran epistimologis. Sebuah peristiwa yang identik dapat dialami dengan dua cara yang bukan hanya berbeda tatapi tidak saling kompitabel dan tidak dapat dialami secara simultan. Namun, kedua cara ini sahih dan sangat diperlukan.

Karet dipakai untuk membuat bola bagi olahraga-olahraga keras di Meso-Amerika sebelum Cortes mendarat di sana. Minyak tanah menjadi sebuah bahan rahasia bagi senjatam mematikan Kekaisaran Romawi Timur, yaitu “api Yunani”. Periode 1871-1913 menyaksikan dua bahan mentah ini yang digunakan, secara berurutan, untuk membuat ban dan sebagai bahan bakar mesin-mesin pembakaran-dalam. Hal ini memungkinkan pembuatan mobil dan pesawat terbang yang dapat menempuh perjalanan panjang, dan temuan aviasi ini membuat manusia jadi makhluk di biosfir yang mampu terbang selain serangga, burung, dan kelelawar.

Manusia pun telah membuat sebuah kemajuan yang dramatis dalam eksplorasi geografis dan historis. Orang-orang Barat telah sampai di kedua kutub bumi dan juga mendarat di satelit bumi, bulan. Mereka menggali delapan Troy yang ditemukan tumpang tindih, selain menemukan reruntuhan peradaban-peradaban Minoan, Mycenaean, dan Indus, dan mendapati bahwa bahasa yang dipakai dalam tulisan “Linier –B” adalah bahasa Yunani.

Temuan dan ciptaan terpenting yang dibuat selama seratus tahun terakhir adalah dalam ilmu kedokteran dan bedah. Kemajuan penggunaan obat bius (ditemukan pada 1840-an) memungkinkan para ahli bedah melakukan operasi-operasi yang sebelumnya mustahil, dan ini berpouncak pada transplantasi organ. Nyamuk diketahui sebagai pembawa demam kuning pada 1881 dan malaria pada 1897-9, dan temuan-temuan ini memungkinkan pencegahan terhadap kedua penyakit tersebut. DDT (dichloro-diphenyl-trichloreothane) ditemukan pada 1942 untuk membunuh serangga, yang merupakan pesaing pokok non-manusia bagi manusia untuk menguasai biosfir.

Temuan-temuan dan ciptaan-ciptaan Barat ini merupakan buah yang hebat dari semangat, imajinasi, dan akal manusia, tetapi pengaruh-pengaruh temuan dan ciptaan tersebut pada kehidupan manusia bersifat ambivalen. Misalnya, teknik aviasi Barat yang baru, jika digabungkan dengan temuan bahan peledak Cina yang lebih dahulu, memungkinkan negara-negara yang suka berperang menjatuhkan bom-bom dari udara. Senjata pemusnah ini dapat menyapu bersih baik tentara musuh maupun penduduk sipil yang telah, dengan perjuangasn keras sejak berakhirnya abad ke-17, dibedakan demi melindungi penduduk sipil dalam keadaan perang.

Kurang dari setengah abad setelah ditemukannya elektron pada 1897, dan hanya tiga belas tahun setelah ditemukannya netron pada 1932, dua bom berkekuatan amat besar dengan pemecahan nucleus-nukleus dan atom-atomnya dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Mobil memberi manusia mobilitas supertinggi yang tidak pernah dicapai sebelumnya, dan ini berakibat pada perluasan kota ke wilayah-wilayah pedesaan dan pada kemacetan jalan. Pada 2009, asap buangan mobil dan pesawat terbang mengancam rusaknya atmosfir bumi sehingga tidak dapat dihirup oleh manusia.

Penurunan angka kematian dan bertambah panjangnya usia harapan hidup berkat kemajuan ilmu kedokteran dan bedah yang luar biasa adalah berita gembira yang ditanggapi secara tak menyenangkan. Penurunan angka kematian, yang lebih cepat daripada penurunan angka kelahiran, menyebabkabn pertambahan penduduk dunia semakin tinggi. Kecanggihan medis untuk memperpanjang usia manusia menimbulkan pro dan kontra. Pertanyaan apakan perpanjangan ini akan atau tidak akan menciptakan kejahatan dalam kasus ini atau itu menimbulkan persoalan-persoalan moral yang sebelumnya tak terbayangkan oleh para dokter, pasien, keluarga, dan tenam-teman pasien.

Sebelum meletusnya Revolusi Industri, dua peran pokok pemerintah adalah menegakkan dan menjaga hukum dan ketertiban dalam negeri, dan memerangi pemerintah-pemerintah dan negara-negara asing. Kondisi kerja dan kehidupan sebuah kelas sosial baru, yakni kaum buruh pabrik mekanis, yang tidak manusiawi akibat Revolusi Industri memaksa pemerintah memainkan peran ketiganya: menjamin kesejahteraan sosial rakyatnya. Undang-undang pertama tentang perlindungan buruh pabrik dibuat di Inggris pada 1802. Di Jerman antara 1883 dan 1889, Bismarck memperluas peran sosial pemerintah dengan membuat undang-undang yang menjamin pemberian asuransi kepada orang-orang sakit, para korban kecelakaan, manula (manusia lanjut usia), dan orang-orang lemah lainnya. Standar-standar kemanusiaan Jerman yang baru ini ditiru oleh Inggris sebelum pecahnya Perang Dunia I.

Pengakuan bahwa pemerintah berkewajiban mencukupi kesejahteraan rakyatnya adalah sebuah kemajuan etis yang baik dalam bidang politik. Sekarang, sebagian besar negara industri menjadi sebuah organisasi kesejahteraan, selain organisasi penegak hukum dan penggelar perang. Akan tetapi, negara kesejahteraan (welfare state) masih menjadi sebuah isu kontroversial. Penyediaan layanan-layanan publik bagi mayoritas penduduk miskin menuntut pemungutan pajak pendapatan tambahan yang tinggi terhadap minoritas penduduk yang kaya. Oleh karena itu, penentangan kelompok minoritas terhadap undang-undang tentang jaminan kesejahteraan rakyat bukannya tidak membawa kepentingan tertentu, sehingga keberatan mereka yang bersifat etis dan psikologis itu mengundang kecurigaan.

Keberatan mereka adalah bahwa negara kesejahteraan akan melemahkan semangat para penerima layanan publik tersebut, dan pada akhir abad ke-20 pengalaman menunjukkan bahwa keberatan yang kedengarannya bagus itu sebagian dipicu oleh berbagai peristiwa. Di sejumlah negara yang telah begitu jauh memberikan layanan publik bagi kesejahteraan rakyat, pemahaman bahwa manusia itu sendirilah yang bertanggung jawab untuk mencukupi hidupnya melemah, standar kecakapan kerja menurun, dan –yang lebih membingungkan—kenaikan standar hidup diimbangi dengan menurunnya norma kejujuran. Selain itu, tumbuhlah sebuah minoritas miskin residual –sebagian adalah imigran sementara atau permanen dari negara-negara miskin—dengan kehidupan, terutama perumaham mereka, yang sangat buruk.

Di negara-negara yang masih didominasi oleh sektor ekonomi swasta dan yang pemerintahannya “demokratis” (yakni parlementer), undang-undang tentang kesejahteraan rakyat dengan dukungan serikat-serikat kerja memungkinkan mayoritas pekerja industri mengubah perimbangan daya tawar antara mereka dan kelas menengah. Para pekerja di kantor-kantor layanan publik yang bertugas memenuhi kebutuhan-kebutuhan material harian rakyat sekarang memiliki daya tawar yang sangat kuat. Para pekerja yang dimaksud adalah buruh pelabuhan, penambang, dan buruh di instansi-instansi penyedia listrik dan air dan pembuangan sampah. Sementara itu,daya tawar guru melemah, sebab guru tidak dapat segera melumpuhkan kehidupan masyarakat dengan mogok kerja, meskipun dalam jangka panjang peran sosial mereka setidaknya sama besar dengan peran buruh.

Para pedagang dengan daya tawar yang tinggi menjadi penguasa tertinggi dalam rezim ekonomi swasta. Mereka menentang gagasan untuk membatasi kebebasan penawaran kolektif. Keinginan mereka untuk mengeksploitasi daya tawar mereka yang semakin tinggi demi keuntungan mereka sendiri adalah alamiah, dan ini juga selaras dengan filosofi laissez-faire, yang pertama-tama diteriakkan oleh para pengusaha kelas menengah tetapi merugikan buruh industri. Sekarang, jelaslah bahwa mekanisme kerja secara progresif di seluruh dunia membuat kehidupan ini tidak toleran terhadap siapa saja, jika mekanisasi itu tidak diimbangi dengan peningkatan intervensi pemerintah secara progresif juga (inilah sosialisme, sebuah ideologi yang diimani kaum buruh industri secara lancing).

Jika serikat-serikat kerja yang memiliki posisi tawar yang strategis menegaskan kekuatan mereka di negara-negara yang berpemerintahan parlementer, di Uni Sovyet buruh industri dan buruh tani diatur oleh pemerintahan yang otoriter. Pemerintah Uni Sovyet menganut ideologi Marx tetapi tidak mengubah praktik-praktik pendahulunya, Tsar. Lenin (Vladimir Ilyich Ulianov, 1870-1924), salah seorang tokoh besar abad ke-19, mengguling rezim yang dibangun di atas kekuatan tentara dengan mendirikan rezim yang lebih kuat tetapi sama karakternya. Lenin dan para penerusnya di Kremlin juga mengikuti langkah Peter Agung dalam memodernisasi teknologi Rusia secepat mungkin.

Revolusi Rusia pada 1917 dimotori oleh minoritas intelligentsia Marxis sayap (“mayoritarian”) Bolshevik dan dibantu oleh kaum petani. Kaum petani Rusia ingin memiliki tanah, sedangkan kaum petani Prancis telah memperolehnya selama Revolusi Prancis pada 1798-97. Akan tetapi, di Rusia Komunis tanah dengan cepat dinasionalisasi dan digarap dalam unit-unit yang berskala besar. Tujuan kebijakan ini sama dengan tujuan dibuatnya Enclosure Acts di Inggris, yaitu untuk meningkatkan produktivitas. Namun, di Uni Sovyet sampai sebelum berhembusnya glasnost dan perestroika yang dihembuskan pemimpin terakhirnya, Mikail Gorbachev, kebijakan tersebut tetap mendapatkan perlawanan pasif dari kaum petani.

Dengan cara otoriter, Uni Sovyet, sebagaimana Inggris pada waktu itu, adalah sebuah negara kesejahteraan, yang berkebalikan dengan rezim Tzar sebelumnya di Rusia. Misalnya, pemberantasan buta huuruf telah dilakukan secara besar-besaran, dan kekayaan telah didistribusikan secara lebih merata. Akan tetapi, semua negara kesejahteraan, apapun warna ideologis mereka, tetap menjadi negara-negara penggelar perang. Dua perang dunia, 1914-18 dan 1939-45, melebihi perang-perang saudara di Cina pada 1850-73 dalam hal jumlah korban dan besarnya kerusakan yang ditimbulkan. Semua perang itu jahat, termasuk perang-perang singkat Bismarckian dengan tujuan-tujuan yang terbatas. Kejahatan dua perang dunia pada abad ke-20 diperburuk oleh “genosida” (pemusnahan penduduk sipil). Dalam Perang Dunia I, pasukan Turki melakukan genosida terhadap penduduk Armenia, sedangkan dalam Perang Dunia II tentara Jerman melakukannya terhadap kaum Yahudi.

Insiden-insiden dalam Perang Dunia itu yang memperlihatkan kejahatan dan kedunguan manusia dan masih bisa dibaca oleh anak cucu kita secara jelas adalah perlawanan rakyat Turki pada 1919-22 terhadap para pemenang Perang Dunia I, dan perlawanan rakyat Inggris pada 1940-1 terhadap tentara Jerman yang saat itu menjadi pemenang untuk sementara waktu. Rakyat kedua bangsa ini memiliki semangat untuk melawan, meskipun mereka menghadapi kebengisan dan tidak melihat kemungkinan untuk mengelak dari kekalahan dan kehancuran. Mereka beruntung memiliki pemimpin-pemimpin –Kamal Ataturk dan Winston Churchill—yang membangkitkan semangat bersama untuk mengatasi kesulitan pada saat yang genting itu.

Ataturk memimpin rakyat Turki bukan hanya untuk memenangkan perang demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka, tetapi juga untuk melakukan Westernisasi yang revolusioner guna melanjutkan apa yang telah dirintis oleh Mahmud II. Ataturk, seperti Lenin, adalah seorang intelligentsia yang menumbangkan rezim yang membentuk kelas ini di negaranya. Ataturk juga bertindak seperti Lenin dalam menggunakan kekerasan untuk menuntaskan pekerjaan penting. Mahatma Gandhio (1869-1948) juga seorang intelligentsia yang melakukan revolusi politik. Namun strateginya adalah non-kekerasan dan non-kerja sama, dan tujuan ekonominya adalah, bukan mengantarkan India ke dunia industri dengan segenap peralatan mekaniknya, melainkan memotong ikatan-ikatan ekonomi India dari dunia industry tersebut.

Rakyat India tidak memenuhi seruan Gandhi untuk kembali ke metode-metode produksi industr pramekanis, dan akhirnya mereka gagal mewujudkan ideal dan praktik Gandhi untuk menghindari penggunaan kekerasan. Ketika, pada 1947, Inggris pergi dari India dan Kerajaan India-Inggris dibagi menjadi Uni India dan Pakistan, orang-orang Hindu dan Muslim saling melakukan genosida sembari saling memisahkan diri. Pada akhirnya, inilah biaya penghapusan imperialisme Barat di anak benua India yang harus dibayar mahal.

Lantas, apa dampak imperialisme Barat, yang merupakan salah satu ciri menonjol dalam sejarah ekumene?

Penguasa-penguasa Barat yang menjajah rakyat non-Barat bersalah atas berbagai perilaku kejam mereka –misalnya, pembunuhan rakyat India oleh pasukan Inggris di Amritsar pada 1919, dan luka dan cacat yang menimpa orang-orang yang masih bisa bertahan hidup. Akan tetapi, penghapusan kerajaan-kerajaan kolonial juga disertai dengan perilaku kejam terhadap rakyat yang diberi kemerdekaan. Di anak benua India, pembantaian orang-orang Muslim dan Hindu secara timbal balik pada 1947 kemudian disusul di Bangladesh dengan pembantaian serupa antara kaum Muslim yang berbahasa Urdu dan yang berbahasa Bengali. Sebelum tentara India menyerang tentara Pakistan di Bangladesh, telah ada rasa permusuhan di perbatasan barat antara dua negara-penerus Kerajaan India-Inggris itu. Kevakuman akibat dihapusnya kerajaan-kerajaan kolonial Eropa Barat membuka jalan pecahnya perang-perang saudara dan aksi-aksi kekerasan terhadap penduduk sipil Vietnam, Sudan Selatan, Burundi, Kongo, dan Nigeria. Meledaknya aksi kekerasan ini adalah biaya pembebasan politik yang harus dibayar. Kerajaan-kerajaan kolonial ini dipaksakan kepada penduduk taklukan demi tujuan-tujuan pendiri kerajaan itu sendiri. Namun, pembentukan kerajaan-kerajaan kolonial ini mempunyai sebuah dampak insidental, yaitu memberi penduduk taklukan perdamaian domestik selama rezim-rezim asing itu masih berkuasa.

Pada akhir abad ke-20 wilayah-wilayah non-Eropa di bawah kekuasaan negara-negara Eropa Barat telah berkurang sehingga tinggal beberapa semenanjung dan pulau, kecuali wilayah-wilayah taklukan Portugal di daratan utama Afrika. Akan tetapi, di Afrika Selatan, orang-orang asli Eropa yang independen secara politis masih menguasai mayoritas penduduk Afrika, dan di Palestina rumah-rumah dan harta benda orang-orang pribumi Arab Palestina diambilalih oleh warga Israel imigran. Selain itu, di sejumlah negara Afrika, kekuasaan Eropa Barat telah digantikan oleh dominasi sekelompok penduduk lokal Afrika atas tetangga-tetangga mereka yang lemah. Cengkraman bekas Kekaisaran Rusia dan Cina atas penduduk Asia non-Rusia dan non-Cina memperkenalkan rezim-rezim komunis kepada mereka. Kerajaan-kerajaan kolonial darat milik dua negara kontinental ini hidup lebih lama daripada kerajaan-kerajaan kolonial transmarine milik negara-negara Eropa Barat yang seumur jagung.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa secara politis ekumene terbagai menjadi negara-negara lokal yang berdaulat, sedangkan di bidang teknologi dan ekonomi ekumene menjadi sebuah satu-kesatuan global. Ketidaksesuaian di bidang politik pada satu pihak dan di bidang teknologi dan ekoniomi pada pihak lain ini adalah akar penderitaan umat manusia. Maka, sebenarnya sekarang ini dibutuhkan suatu bentuk pemerintahan global untuk menjaga perdamaian antara sebuah komunitas lokal dan komunitas lainnya, dan untuk membangun kembali keseimbangan antara manusia dan bagian dari biosfir lainnya. Sebab, sekarang ini keseimbangan tersebut telah dirusak oleh semakin besarnya kekuatan material manusia akibat dari Revolusi Industri.

Kebesaran dan impersonalitas peristiwa-peristiwa yang berskala global itu menakutkan. Generasi yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan kelangsungan hidup umat manusia justru mengancamnya dengan memecah belah keutuhan kehidupan dunia jadi semakin banyak bagian yang lebih kecil. Bertambah banyaknya negara lokal berdaulat seiring dengan bertambah banyaknya “disiplin” akademis, dan halm ini membuat dunia bisnis tidak bisa diatur dan informasi tidak bisa dimengerti. Kekacauan ini tidak sedang diatasi, tetapi justru dibiarkan menggurita sampai pada tingkat yang sama sekali tidak bisa dikendalikan.

Umat manusia sedang mengalami krisis yang sama buruknya dengan dua perang dunia terdahulu. Keadaan ini sangat membingungkan. Senyatanya, manusia masih mempunyai harapan untuk bertahan hidup di boisfir ini selama 2.000 juta tahun mendatang, jika perilakunya tidak terlalu cepat membuat biosfir ini segera tak bisa ditinggali lagi. Kini, manusia mempunyai kekuatan material untuk membuat biosfir ini segera tak bisa ditinggali lagi. Karenyanya, mungkin orang-orang yang masih bisa menghir upudara segar sebentar lagi akan dilibas oleh bencana buatan manusia yang menghancurkan biosfir dan manusia beserta seluruh bentuk kehidupan lainnya.

Masa depan biosfir ini tidak diketahui karena ia belum datang. Potensi-potensi biosfir ini sesungguhnya tak terbatas. Maka, masa depan tidak dapat diprediksi dengan menghitung-hitung masa lampau. Apa yang telah terjadi kemarin niscaya dapat terulang kembali, jika kondisi-kondisinya tetap sama. Akan tetapi, masa lampau tidak mesti terulang; keterulangan ini hanyalah salah satu dari kemungkinan-kemungkinannya yang tak diketahui jumlahnya. Sebagian kemungkinan tidak terlihat karena tidak memiliki preseden, dan memang sebelumnya tidak ada preseden yang mengindikasikan betapa besarnya kekuasaan manusia atas biosfir selama dua abad lebih (sejak 1763). Dalam situasi yang membingungkan ini, hanya ada satu prediksi yang pasti benar. Manusia, anak dari bumi sang ibu pertiwi, tidak akan membunuh ibunya sendiri jika ia peduli kepadanya. Dan, hukumaan atas pembunuhan ini, jika benar-benar terjadi, adalah pembinasaan diri manusia itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Adorno, T.W. 1950. The Authoritarian Personality. New York: W.W. Norton

Anderson, Benedict R. O’G. 1970. “The Idea of Power in Javanese Culture”. In Claire Holt (ed.), Culture and Politics in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press.

Anderson, B. 1983. Imagined Communities. London: Verso.

Apter, David E. 1963. “Political Religion in the New Nations” . In Clifford Geertz (ed.) Old Societies and New States. New York: The Free Press.

Apter, David. E. 1985. Pengantar Analisa Politik Jakarta: LP3ES.

Asad, Talal. 1983. “Anthropological Conceptions of Religion: Reflections on Geertz”. In Man No. 2, 1983.

Ayoob, M. 1996. “State making, state breaking, and state failure. In Crocker and Hampson (eds) Manging Global Chaos: Sources of and Responses to International Conflict. Washington, DC: Creative Associates International Inc.

Azar, E. 1979. “Peace amidst development”. International Interactions, 6 (2): 203-40

Azar, E. 1986. Protracted international conflict: ten propositions. In Azar and Burton, International Conflict Resolution: Theory and Practice. Sussex: Weatsheaf.

Azar, E. 1990. The Management of Protracted Social Conflict: Theory and Cases. Aldershot: Dartmouth.

Azar, E. 1991. “The analysis and management of protracted social conflict. In Volkan, Montville and Julius (eds). The Psychodynamics of International Relationship, vol. II. Lexington, MA: D.C. Heath.

Azar, E. and Cohen, S. 1981. “The transition from war to peace between Israel and Egypt. Journal of Conflict Resolution, 7 (4): 317-36.

Azar, E., Jureidini, P. and McLauren, R. 1978. “Protracted social conflict: theory and prasctice in the Middle East”. Journal of Palestine Studies 8 (1): 41-60.

Bendix, Reinhard, 1980. King or People: Power and the Mandate To Rule. Berkeley: University of California Press.

Berger, Peter L. 1986. The Capitalist Revolution. New York: Basic Books.

Binford, L.R. 1968. “Post Pleistocene adaptation”. In L.R. & S. Binford (ed.), New Perspectives in Archaelogy. Chicago: Aldine Publishing Co.

Bloomfield, L. and Leiss, A. 1969. Controlling Small Wars: A Strategy for the 1970s. New York: Knopf.

Bloomfield, L. and Moulton, A. 1997. Managing International Conflict: From Theory to Policy. New York: St Martin’s Press.

Bogna, R. & S.J. Taylor. 1975. Introduction to Qualitative Research Methods. New York: John Wiley.

Boulding, K. 1989. Three Faces of Power. Newbury Park, C.A.: Sage.

Brewer, Anthony. 1984. A Guide to Marx’s Capital. Cambridge, Eng; Melbourne: Cambridge U.P.

Brown, M. (ed). 1993. Ethnic Conflict and International Security. Princeton University Press.

Brown, M. (ed). 1996. The International Dimensions of Internal Conflict. Cambridge,MA: MIT Press.

Bull, H. and Waston, A. 1984. The Expansion of International Society. Oxford: Clarendon Press.

Buzan, B. 1991. People States and Fear: An Agenda for International security Studies in the Post-Cold War Era (2nd edn) Boulder, CO: Lynne Rienner.

Chazan, N., Mortimer, R. Ravenhill, J. and Rothchild, D. 1992. Politics and Society in Contemporary Africa. Boulder, CO: Lynne Rienner.

Chubin, S. 1993. “The South and the New World Order. Washington Quarterly, 16 (4): 87-107.

Clark, I. 1997. Globalization and Fragmentation: International Relations in the Twentieth Century. Oxford: Oxford University Press.

Curle, A. 1971. Making Peace. London: Tavistock.

Cohen, Jean L. & Andrew Areto. 1994. Civil Society and Political Theory. Cambridge, Massachussets: The MIT Press.

Conflict Management Group. 1993. Methods and Strategies in Conflict Prevention: Report of an Expert Consultation in Connection with the Activities of the CSCE High Commissioner on National Minoroties. Cambridge,MA: Conflict Management Group.

Connolly, William E. 1967. Political Science and Ideology. New York: Antherton Press.

Creative Associates. 1997. Preventing and Mitigating Violent Conflicts. Washington, DC: Creative Associates International, Inc.

Dahrendorf, Ralf. 1994. “Class and Calss Conflict in Industrial Society”. In David B. Grusky (ed.), Social Statification: Class, Race, and Gender in Sociological Perspective. Boulder-San Francisco-Oxford: Westview Press.

Darby, J. 1998. Scorpions in a Bottle: Conflicting Cultures in Northern Ireland. London: Minoruty Rights Publications.

Davies, J., Harff, B. and Speca, A. 1997. Dynamic Data for Conflict early Warning: Synergy in Early Warning. Toronto: Prevention/Early Warning Unit, Center for International and Security Studies.

Davies, N. 1996. Europe: A History. Oxford: Oxford University Press.

de Nevers, R. 1993. “Democratization and Ethnic conflict. In Brown (ed): 61-78.

Deutsch, M. 1973. The Resolution on Conflict: Constructive and Destructive Precesses. New Haven: Yale University Press.

Diamond, Larry & Marc F. Plattner. 1994. Nationalism, Ethnic Conflict, and Democracy. The Johns Hopkins University Press.

Esty, D. et al. 1995. State Failure Task Force Final Report. Vol. 1: Science Applications International Corporation Inc.

Fisher, Ronald J. 1997. Interactive Conflict Resolution. Syracuse, New York: Syracuse University Press.

Francis, D. 1994. “Power and Conflict Resolution”. International Alert, Conflict Resolution Training in the North Caucasus Georgia and the South of Russia. London: International Alert, 11-20 April 1994.

Galtung, J. 1969. “Conflict as a way of life”. In Freeman (ed.), Progress in Mental Health. London: Churchill.

Galtung, J. 1996. Peace by Peaceful Means: Peace and Conflict Development and Civilization. London: Sage.

Garstin, L.H. 1954. Each Age Is A Dream: A Study in Ideology. New York: Old Oregon.

Geertz, Clifford. 1965. “Ideology as a Cultural System”. In David After (ed.), Ideology and Discontent. New York: The Free Press.

Geertz, Clifford. 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Glazer, N. 1983. Ethnic Dilemmas 1964-1982. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Goodenough, W.H. 1957. “Cultural Anthropology and Linguistics”. In P. Garvin (ed.), Report of the Seventh Annual Round Table Meeting on Linguistics and Language Study. Monograph Series on Language and Linguistics, 9. Washington, D.C.: Georgetown University.

Goodenough, W.H. 1961. “Cultural Evolution”. In Daedalus 90.

Gurr, T. 1993. Minorities at Risk: A Global View of Ethnopolitical Conflict. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Gurr, T. 1998. ”Assessing risks of future ethnorebellions”. In Gurr (ed), Peoples Versus States. Washington: United States Institute of Peace.

Gurr, T. and Harff, B. 1994. Ethnic Conflict in World Politics. Boulder, CO: Westview Press.

Gurr, T. and Harff, B. 1996. Early Warning of Communal Conflicts and Genocide: Linking Empirical Research to International Responses. Tokyo: United Nations University.

Haryono, A. 1986. Kamus Penemu. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.

Helman, G. and Ratner, S. 1992-3. “Saving failed states”. Foreign Policy, 89 (Winter): 3-30.

Holsti, K. 1996. The State, War, and the State of War. Cambridge: Cambridge University Press.

Horowitz, D. 1985. Ethnic Groups in Cinflict. Berkeley, CA: University of California Press.

Horowitz, D. 1991. “Making moderation pay: the comparative politics of ethnic conflicts management. In Mintville (ed), Cinflict and Peacemaking in Multiethnic societies. New York: Lexington Books.

Huntington, S. 1997. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York: Simon and Schuster.

Ilchman, Warren F & Norman Thomas Uphoff. 1969. The Political Economy of Change. Berkeley: University of California Press.

Jackson, R. 1990. Quasi-states, Sovereignty, international Relations and the Third World. Cambridge: Cambridge University Press.

Jongman, A. and Schmid, A. 1998. World Conflict and Human Right Map. Leiden: Leiden University.

Keesing, Roger M. 1981a. ”Theories of Culture”. In Ronald W. Casson (ed.), Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives. New York: Macmillan Publishing Co.,Inc.

Keesing, Roger M. 1981b. Cultural Anthropology: A Contemporary Perspective I, Secon Edition. CBS College Publishing.

Kennedy, P. 1993. Preparing for the Twenty First Century. London: Harper Collins.

Kerma, C. 1974. Creative Tension: The Life and Thought of Kenneth Boulding. Ann Arbor: Michigan.

Kim, S. and Russett, B. 1996. “The new politics of voting alignments in the United Nation General Assembly. International Organization, 50: 629-52.

Kriesberg L. 1982. Social Conflicts. Englewood Cliffs,N.J.: Prentice-Hall

Leach, Edmund. 1986. Social Anthropology. Glasgow: Fontana Press.

Lederach, J. 1995. Preparing for Peace: Conflict Transformation Across Culture. New York: Syracuse University Press.

Leech, Geoffrey, 1981. “Colour and Kinship: Two Case Study in Universal Semantics”. In Ronald W. Casson (ed.), Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives. New York: Macmillan Publishing Co., Inc.

Lichbach, M. 1989. “Än evaluation of ‘does economic inequality breed conflict?’ studies”. World Politics, 41 (4): 431-71.

Lijphart, A. 1995. “Self-determination versus pre-determination of ethnic minorities in power-sharing system”. In Kymlicka (ed), The Rights of Minority Cultures. Oxpord: Oxpord University Press.

Mannheim, Karl. 1979 (1936). Ideology & Utopia. London & Henley: Routledge and Kegal Paul

Mansfield, E. and Snyder, J. 1995. “Democratization and the danger of war. International Security, 20 (1): 5-38.

McGarry, J. and O’Leary, B. (eds) 1993. The Politics of Ethnic Conflict RegulationI. London: Routledge.

Merkl, Peter H. 1967. Continuity and Change. New York: Harper and Row.

Miall, Hugh; Oliver Ramsbotham; & Tom Woodhouse. 1999. Contemporary Conflict Resolution. Cambridge: Polity Press.

Mitchell, C. 1981. The Structure of International Conflict. London: Macmillan.

Montesquieu. 1992. Surat-surat Dari Persia (Terjemahan dari bahasa Prancis oleh Okke Zaimar). Jakarta: Dian Rakyat.

Moore, Wilbert E. 1961. “The Social Framework of Economic Development”. In R. Braibanti & J.J. Spengler (ed.), Tradition, Values, and Socio-Economic Development. Durham, Nort Carolina: Duke University Press.

Munck, R. 1986. The Difficult Dialogue: Marxism and Nationalism. London: Zed Books.

Nye, J. 1993. Understanding International Conflicts; An Introduction to Theory and History. New York: Harper Collins.

Palombara, Joseph La. 1966. “Decline of Ideology: A Dissent and an Interpretation”. In American Political Science Review LX, 1, March 1966.

Pennock, J. Roland. 1979. Demicratic Political Theory. Princeton: Princeton University Press.

Posen, B. P. 1993. “The security dilemma and ethnic conflict. In Brown (ed).: 103-24.

Pye, Lucian W. 1965. “Introduction: Political Culture and Political Development”. In Lucian W. Pye and Siney Verba (ed.), Political Culture and Political Development. Princeton: Princeton University Press.

Rogers, P. and Raamsbotham,O. 1999. “Peace research — past and future. Political Studies (forthcoming).

Rejai, Mostafe. 1971. “Political Ideology: Theoritical and Comparative Perspectives”. In Mostafe Rejai (ed.), Decline of Ideology? Chicago: Aldine-Atherton.

Ryan,S. 1990. Ethnic Conflict and International Relations. Brookfield,V.T.: Dartmouth.

Sartori, Giovanni. 1969. “Politics, Ideology, and Belief Sysytem”. In American Political Science Review 3, No.2. June 1969.

Schwartz, T. 1978. “Where is the Culture? Personality as the Distributive Locus of Culture”. In G.D. Spindler (ed.), The Making of Psychological Anthreopology. Berkeley: University of California Press.

Schmid, A. 1997. “Ëarly Warning of Violent Conflict”. In P. Schmid (ed), Violent Crime and Conflict. Milan: ISPAC.

Sherman, F. 1987. Pathway to Peace: The United Nations and the Road to Nowhere. Pennsylvania: Pennsylvania State University.

Sisk, T. 1996. Power Sharing and International Mediation in Ethnic Conflict. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Smith, A. 1986. The Ethnic Origins of Nations. Oxford: Blackwell.

Smith, A. 1995. Nations and Nationalism in Global Era. Cambridge: Polity Press.

Snow, D. 1996. Uncivil Wars: International Security and the New Internal Conflicts. Boulder, CO: Lynne Rienner.

Suganami, H. 1996. On the Causes of War. Oxford: Clarendon Press.

Toynbee, Arnold. 1976. Mankind and Mother Earth: A Narrative History of the Word. New York and London: Oxford University Press.

van der Merwe, H. 1999. Pursuing Justice and Peace in South Africa. London: Routledge.

Weber, Max. 1978. Economy and Society. 2 volumes. Edited by Guenther Roth and Claus Wittich. Berkeley: University of California Press.

Weidner, Edward. 1968. “Development Change and the Social Sciences: Conclusion”. In. A Gallaher, Jr. , Perspectives in Developmental Change. Lexington: University of Kentucky Press.

Zartman, W. 1997. “Toward the resolution of international conflicts. In Zartman and Rasmussen (eds), Peacemaking in International Conflict: Methods and Techniques. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Zartman, W. (ed) 1996. Elusive Peace: Negotiating an End to Civil Wars. Washington, DC: Brookings Institution.

BUDAYA POLITIK DAN KONFLIK: SUATU TINJAUAN PUSTAKA

November 3, 2010

1. Konsep Budaya

Kroeber dan Kluckhohn (1952) memperlihatkan batapa ambiguitisnya konsep budaya. Beberapa antropolog menganggap budaya sebagai perilaku sosial. Bagi yang lain, budaya sama sekali bukanlah perilaku. Bagi sebagian orang, kapak, batu, dan tembikar; tarian dan musik; mode dan gaya merupakan budaya. Sementara itu, bagi yang lain lagi, tidak ada objek material bisa dijadikan budaya.

Salah satu definisi tertua mengenai budaya dikemukakan oleh E.B. Tylor (1871), bahwa budaya adalah: “…complex whole which include knowledge, belief, arts, morals, laws, custom, and other capabilities and habbits aquired by man as member of society.”

Linton (1945) mendefinisikan budaya sebagai: “… the configuration of learned behavior and results of behavior whose component elements are shared and transmitted by members of a particular society”

Kroeber dan Parson membatasi budaya sebagai: “… transmitted and created content and ppattens of value, ideas and other symbolic-meaningful systems as factors in the shaping of human behavior and the artifacts prodused through behavior”

Menurut Judistira K. Garna (1996:99), konsep Kroeber dan Kluckhohn (1952) yang mengatakan bahwa budaya adalah “pola, eksplisit dan implisit, tentang dan untuk perilaku yang dipelajari dan diwariskan melalui simbol-simbol yang merupakan prestasi khas manusia, termasuk perwujudannya dalam benda-benda budaya”, lebih modern dibandingkan dengan konsep kultur (Jerman) dan civilization (peradaban Inggris dan Perancis), yang berlaku pada saat itu. Goodenough (1957) telah mengemukakan bahwa kebanyakan definisi dan pemakaiannya telah mengaburkan perbedaan penting antara pola untuk dan pola dari perilaku. Kenyataannya, kata Goodenough, para pakar antropologi berbicara tentang dua tatanan semesta yang sangat berbeda jika mereka menggunakan istilah budaya, dan terlalu sering mereka mondar-mandir antara kedua pengertian itu.

Pertama, budaya digunakan untuk mengacu pada “pola kehidupan suatu masyarakat: kegiatan dan pengaturan material dan sosial yang berulang secara teratur” yang merupakan kekhususan suatu kelompok manusia tertentu (Goodenough, 1961:521-528). Dalam pengertian ini, istilah budaya telah mengacu ke dalam fenomena benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang bisa diamati “di sana”. Kedua, istilah budaya dipakai untuk mengacu pada sistem pengetahuan dan kepercayaan yang disusun sebagai pedoman manusia dalam mengatur pengalaman dan persepsi mereka, menentukan tindakan, dan memilih di antara alternatif yang ada. Pengertian budaya yang demikian ini mengacu pada dunia gagasan.

Apabila para pakar arkeologi berbicara tentang budaya masyarakat tani Asia Tenggara Purba sebagai suatu sistem adaptasi, maka mereka menggunakan konsep tersebut menurut pengertian yang pertama. Itu adalah cara kehidupan dalam ekosistem yang merupakan kekhususan masyarakat tertentu. “Budaya ialah semua cara yang bentuknya tidak di bawah kendali keturunan, yang berfungsi membantu penyesuaian individu dan kelompok terhadap masyarakat ekologinya.” (Binford, 1968:323).

Roger M. Keesing (1981a) membatasi budaya sebagai suatu sistem pemikiran, yang mencakup sistem gagasan yang dimiliki bersama, sistem konsep, aturan serta makna yang mendasari dan diungkapkan dalam tata cara kehidupan manusia. Budaya yang didefinisikan seperti itu mengacu pada hal-hal yang dipelajari manusia, bukan hal-hal yang mereka kerjakan dan perbuat. Sebagaimana yang dikatakan Goodenough (1961:522), pengetahuan ini memberikan: “patokan guna menentukan apa, …guna menentukan bisa jadi apa, …guna menentukan bagaimana kita merasakan, …guna menentukan apa yang harus diperbuat tentang hal itu, dan …guna menentukan bagaimana melakukannya”. Konsep pemikiran mengenai budaya yang demikian ini bukanlah sesuatu yang baru, Kluckhohn dan Kelly mengajukan definisi budaya berupa “rancangan hidup” sejalan dengan definisi Goodenough. Namun, Keesing keberatan karena hal itu tidaklah berarti tanpa masalah filsafat; dan untuk itu banyak orang merasa segan untuk mempostulasikan entitas “mentalistik” demikian. Kesulitan yang mula-mula timbul dalam mengkaji budaya, menurut Keesing (1981b) ialah bahwa makala tidak terbiasa melakukan analisis pola budaya. Karenanya, banyak orang sering terjebak ke dalam etnosentrisme dalam memandang budaya orang lain.

Selanjutnya, budaya tidak terdiri atas benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang dapat diamati, dihitung, dan diukur saja, melainkan terdiri atas gagasan dan makna yang dimiliki bersama. Clifford Geertz (1992) memberikan contoh menarik tentang kejapan mata (tidak sengaja) dan kedipan mata yang disengaja. Sebagai peristiwa lahiriah, keduanya mungkin serupa, karena pengukuran kedua kedipan itu tidak mungkin menemukan perbedaan. Kedipan yang satu adalah tanda, kode yang mengandung makna yang sama bagi orang Amerika; namun, mungkin tidak akan bisa dimengerti oleh orang Eskimo atau Aborigin. Hanya dalam kesemestaan makna yang dimiliki bersama, bunyi-bunyi dan peristiwa-peristiwa fisik bisa dipahami dan selanjutnya bisa meneruskan informasi.

Keesing (1981b) menuturkan suatu cerita antropologi yang bisa memberikan gambaran tentang corak makna budaya. Seorang wanita Bulgaria menjamu makan teman-teman suaminya (suaminya adalah orang Amerika). Salah seorang tamu adalah seorang mahasiswa dari Asia. Setelah para tamu menghabiskan isi piringnya, ia bertanya kepada para tamu jika ada yang ingin tambah lagi –karena di Bulagria, tuan rumah akan merasa malu apabila membiarkan tamunya masih lapar. Si mahasiswa Asia menerima tawaran tambah lagi, berturut-turut sampai tiga kali. Akhirnya, ketika ia sedang menyantap tambah yang keempat kalinya, si mahasiswa Asia terkulai di lantai. Namun, di negerinya, hal itu lebih baik daripada menghina nyonya rumah karena menolak makanan yang telah disediakan. Seorang nyonya rumah yang menawarkan tambah sampai dua atau tiga kali bukanlah bagian dari budaya bangsa Bulgaria; tetapi dasar konseptual yang terletak di belakang tindakannya, pola dari makna yang menjadikannya terpahami, adalah budaya Bulgaria. Budaya bangsa Bulgaria adalah sesuatu yang dipelajari, sesuatu yang berada di benak orang Bulgaria, dengan begitu budaya itu tidak dapat dikaji atau diamati secara langsung. Si wanita Bulgaria itu juga tidak dapat mengisahkan premis-premis dan prinsip-prinsip yang menjadi dasar perilakunya. Banyak sekali aturan tersembunyi dari pemahamannya, sebagaimana tersembunyi dari pemahaman kita.

Bila berkata bahwa budaya Bulgaria merupakan suatu sistem pemikiran, bahwa itu dinyatakan di benak orang Bulgaria, menurut Keesing (1981b), kita telah membuat masalah filsafat yang sulit. Apakah itu berarti bahwa budaya pada dasarnya merupakan sistem kejiwaan yang terdapat di benak setiap orang? Apakah budaya Bulgaria itu “ada di benak” setiap orang Bulgaria?

Goodenough (1961) akan mengiyakan pertanyaan di atas. Namun, seperti dinyatakan Keesing, akan membawa ke masalah filsafat yang sulit sekali. Geertz berpendapat bahwa makna-makna budaya adalah umum dan realisasinya terdapat pada masing-masing pemikiran orang. Suatu sandi untuk berkomunikasi ada dalam pengertian yang berada di luar pengetahuan perseorangan tentang hal itu. Sebuah kuartet Beethoven ada dalam pengertian yang menembus individu-individu yang mengetahuinya, memainkannya, dan mencetak buku musiknya.

Persoalan-persoalan ini menjadi lebih jelas apabila melihat salah satu sistem pengetahuan budaya, yaitu bahasa; seperti bahasa Sunda. Apakah bahasa Sunda terdiri atas semua versi yang sedikit berlainan dari dialek-dialek yang diketahui oleh setiap individu, atau apakah sebagai suatu sistem, sesuatu yang berada di atas dan melampaui pengetahuan tiap individu?

Dikatakan “di atas dan melampaui” pengetahuan masing-masing individu adalah karena : Pertama, bahasa Sunda sudah ada sebelum orang dalam lingkungan berbahasa Sunda dilahirkan dan belajar bahasa tersebut. Dengan demikian, bahasa Sunda itu ada di antara perorangan dan bukan di dalam diri perorangan. Kedua, tidak seorang pun mengetahui semua kata-kata dalam bahasa Sunda atau penggunaannya. Ketiga, bahasa Sunda sebagai sistem dalam beberapa hal menembus ragam perorangan setiap individu, ini bisa meliputi ucapan, penggunaan tatabahasa, dan sebagainya, walaupun hal-hal tersebut bersifat personal, dan bukan bagian dari bahasa. Keempat, cara bahasa mengalami perubahan tampaknya tidak bergantung kepada apa yang masing-masing individu ketahui dan bagaimana mereka menggunakannya. Kelima, bahasa Sunda sebagai suatu sandi akan tetap lestari, melalui buku-buku dan rekaman-rekaman, walaupun para penuturnya meninggal.

Namun tulisan adalah penemuan manusia yang belum begitu lama, dan perekaman suara adalah sesuatu yang mutakhir. Sekian banyak bahasa orang Indian dan orang Aborigin punah sama sekali, dan bahasa-bahasa itu hanya lestari sebagai sistem pengetahuan di benak beberapa orang, yang selanjutnya punah ketika penutur terakhir meninggal. Banyak pakar bahasa modern sekarang yakin bahwa memahami bagaimana bahasa mengalami perubahan, harus melihat pada ragam bahasa yang ada, pada apa yang “diketahui” oleh setiap individu – secara tidak sadar – tentang bahasanya. Jadi, dalam pengertian ini, bahasa terletak di benak setiap orang, bukan melayang-layang di atas masyarakat.

Suatu hal yang penting, yaitu bahwa semua bahasa ternyata mempunyai rancangan susunan dasar yang sama, dan ada alasan kuat untuk menarik suatu kesimpulan bahwa rancangan ini kebanyakan didasarkan pada pemrograman logika dan susunan benak kita. Apabila beranggapan bahwa bahasa berada pada masyarakat dan bukan di benak penuturnya, maka akan tergoda untuk percaya bahwa adanya suatu bahasa angan-angan adalah sesuatu yang mungkin. Pada kenyataannya, hanya bagian yang sangat kecil dari bahasa yang telah ditemui dalam masyarakat manusia yang dapat dipelajari dan digunakan oleh makhluk berotak seperti manusia.

Para pakar, seperti halnya Geertz (1992), berpendapat bahwa budaya adalah sistem dari tujuan masyarakat, bukannya sandi perorangan di benak setiap anggota masyarakat –menunjuk ke arah pengertian “budaya Bulgaria” yang telah ada sebelum dan terlepas dari kelahiran setiap orang Bulgaria. Bahwa budaya –seperti misalnya bahasa Bulgaria– terdiri atas kaidah-kaidah yang menembus benak-benak perorangan, dan sebagai suatu sistem konseptual, budaya Bulgaria tersusun dan mengalami perubahan menurut cara-cara yang tidak mudah dipahami jika memandangnya sebagai suatu susunan yang diketahui oleh setiap orang Bulgaria.

Pandangan ini mendapat tantangan dari Schwartz (1978) dan Talal Asad (1983). Schwartz yang menyodorkan “model distribusi budaya” mengatakan bahwa distribusi budaya di antara para anggota masyarakat menembus keterbatasan perorangan dalam penyimpangan, penciptaan, dan penggunaan masa budaya. Model distribusi budaya memperhitungkan, baik keragaman maupun kebersamaan. Keragaman yang meningkatkan inventaris budaya, tetapi adalah persamaan yang menjawab taraf komunikabilitas (kemampuan untuk berkomunikasi) dan koordinasi (Schwartz, 1978:427).

Pandangan distribusi budaya seperti ini dapat menghitung berbagai segi pandang yang berbeda tentang tata cara kehidupan perempuan dan pria, muda dan tua, spesialis dan non-spesialis. “Budaya” dipandang sebagai himpunan pengetahuan yang masing-masing orang memiliki andil menurut cara dan taraf yang berbeda. Schwartz (1978:472) menguraikan bahwa:

pengetahuan pakar garis keturunan, di Manus (sebuah pulau di Papua Nugini) …tersedia guna mengartikan berbagai peristiwa yang terjadi, dan kalau dia mati tanpa mewariskan pengetahuan ini kepada anak didiknya, budaya yang bersangkutan mengalami perubahan yang sangat berarti.”

Di sini sampai pada inti persoalan, bahwa di dalam masyarakat Manus dan Bulgaria yang sesungguhnya, pengetahuan tentang dunia yang tersusun di benak masing-masing orang beragam dari orang yang satu ke orang yang lain; dari sub kelompok ke sub kelompok yang lain; dari daerah satu ke daerah yang lain; ragam menurut umur, jenis kelamin, pengalaman hidup, dan visi. Namun, setiap orang memiliki sandi yang sama, yang terutama tersembunyi di bawah sadar, yang memungkinkan mereka mampu berkomunikasi, hidup dan bekerja di dalam kelompok, antisipasi dan menafsirkan perilaku mereka satu sama lain. Mereka membagi dunia yang berisi makna yang umum, walaupun titik pandang masing-masing orang berbeda. Di dalam menjelaskan “budaya”, para pakar antropologi berusaha menangkap apa yang dimiliki bersama, sandi dari kaidah-kaidah yang dimiliki bersama, dan makna-makna umum. Kita menguraikan suatu sistem budaya atau suatu budaya jika fokus kita tertuju pada unsur-unsur yang umum dari sandi yang berlaku di dalam masyarakat (seperti halnya jika pakar bahasa berbicara tentang “bahasa Sunda” dan bukan dialek atau ragam perorangan). Dalam dunia nyata, pengetahuan yang diuraikan sebagai budaya, selalu didistribusikan di antara individu di dalam masyarakat.

Sementara itu menurut Talal Asad (1983), konsep kebudayaan yang dikemukakan oleh Geertz itu menggambarkan hubungan antara simbol-simbol budaya dan kehidupan sosial sebagai suatu “hubungan satu arah”, bahwa simbol-simbol budaya menginformasikan, mempengaruhi, dan membentuk kehidupan sosial. Dengan melihat simbol-simbol budaya sebagai sesuatu yang sui generis (terbentuk dengan sendirinya), sama sekali tidak ditunjukkan dalam konsep Geertz ini bagaimana nilai-nilai budaya dipengaruhi oleh pengalaman manusia dalam kehidupan sehari-hari. Pendapat Asad seperti ini secara tajam mengungkapkan kelemahan konsep kebudayaan yang bersifat interpretatif. Untuk menutupi kelemahan konsep Geertz tersebut, Asad menunjuk “teori praktek”, yang mungkin dapat mengisi kelemahan itu.

Teori praktek ini menekankan “keterlibatan si subjek” dalam proses konstruksi budaya. Seperti dikemukakan Asad, kelemahan pendekatan interpretatif adalah tidak dijelaskannya bagaimana, misalnya, seorang Bugaria sebagai “subjek” dapat ikut membentuk nilai-nilai budaya Bulgaria. Teori praktek mencoba menjelaskan hal ini dengan mengatakan bahwa di antara manusia dengan kebudayaannya terdapat suatu proses interaksi terus-menerus, bahwa manusia mencoba mengolah dan mengkonstruksi simbol-simbol budaya demi kepentingannya dalam kondisi sosial, ekonomi, dan politik tertentu. Usaha-usaha manusia untuk mengkonstruksi simbol atau nilai budaya itulah yang disebut “praktek” (practice).

Implikasi dari konsep budaya demikian ialah, bahwa simbol-simbol ataupun nilai-nilai yang terkandung dalam suatu kebudayaan senantiasa bersifat cair, dinamik, dan sementara, karena keberadaannya bergantung pada praktek pelakunya yang berada pada konteks sosial tertentu, yang sudah barang tentu mempunyai kepentingan tertentu pula. Akibat lain dari pendekatan praktek adalah, bahwa suatu kebudayaan hanya dapat terwujud dalam kaitannya dengan “subjek”, yaitu melalui prakteknya; dan salah satu praktek yang sangat unik, karena secara langsung mengkonstruksi kebudayaan adalah “wacana” (discourse). Wacana adalah bentuk penuturan verbal yang berkaitan erat dengan kepentingan si penutur. Jadi, dalam kasus tamu Bulgaria itu, tawaran tuan rumah Bulgaria itu dalam konteks sebagai tuan rumah yang berkepentingan untuk tidak mengecewakan tamunya.

Dengan pengertian konsep praktek, dapat dilihat bahwa setiap wacana tentang kebudayaan tidak terlepas dari kepentingan dan kekuasaan. Dalam suatu masyarakat, umumnya terdapat sejumlah wacana tentang kebudayaan bersangkutan, yang bisa saja saling bertentangan. Namun, biasanya salah satu di antaranya akan menjadi wacana dominan apabila memperoleh dukungan kekuasaan.

Adapun menurut Keesing (1981b), “budaya” selalu merupakan suatu komposisi, suatu abstraksi yang diciptakan untuk menyederhanakan analitik. Untuk tujuan lain, seperti halnya para pakar bahasa, bisa menjelaskan keragaman regional, lokal, atau sub-kelompok sebagai “sub-budaya”; dan ini pun suatu abstraksi dari pelbagai corak keragaman pengetahuan perorangan. Keesing membuat penyederhanaan semacam itu agar dapat menangkap dan menjelaskan unsur-unsur yang dimiliki bersama dari pengetahuan yang didistribusikan secara sosial, sebagai suatu sistem. Namun berbahaya jika abstraksi yang diciptakan ini dianggap mempunyai bentuk nyata, suatu keberadaan, suatu wujud dan penyebab, yang sebenarnya tidak ada. Banyak orang cenderung berbicara tentang “budaya” seolah-olah sebagai suatu pelaku menyebab (“budaya mereka menyebabkan mereka mempunyai pandangan luas”) atau makhluk yang sadar (“budaya Barat menghargai individualitas”). Mereka berbicara seolah-olah “budaya” bisa bertindak (“budaya mereka telah beradaptasi dengan lingkungan barunya”) atau berbicara seolah-olah “budaya” itu semacam kelompok, bahwa seseorang bisa bergabung (“anggota dari budaya lain”). Kita, demikian Keesing, perlu menjaga diri dari godaan untuk menganggap budaya sebagai sesuatu yang nyata dan memperlakukannya sebagai suatu “benda nyata”. Dengan demikian hendaklah ingat bahwa ini adalah suatu abstraksi yang berguna, dari pengetahuan yang berserakan pada orang-orang di dalam masyarakat.

2. Konsep Budaya Politik

Politik (politica), menurut Plato dan Aristoteles adalah suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik (polity) yang baik. Di dalam polity semacam itu manusia akan hidup bahagia karena memiliki peluang untuk mengembangkan bakat, hidup dengan rasa kemasyarakatan yang akrab, dan hidup dalam suasana moralitas yang tinggi. Kini batasan politik semacam itu telah terdesak oleh definisi-definisi lain yang lebih menekankan pada “upaya” (means) untuk mencapai masyarakat yang baik, seperti kekuasaan, pembuatan keputusan, kebijakan, dan alokasi nilai. Pengertian politik sebagai usaha untuk mencapai suatu masyarakat yang lebih baik, yang oleh Merkl (1967: 13) disebut sebagai “usaha dalam mencapai suatu tatanan sosial yang baik serta keadilan” –walaupun samar-samar– tetap hadir sebagai latar belakang suatu tujuan kegiatan politik. Namun, perlu disadari bahwa persepsi mengenai “baik” dan “adil” dipengaruhi oleh nilai-nilai dan ideologi masing-masing.

Di sini hanya perlu ditekankan bahwa dalam penyelenggarannya, kegiatan politik, di samping segi-segi baik, juga mencakup segi-segi negatif, karena manusia sebagai penyelenggara politik memiliki dua tabiat yang kontras, yaitu naluri baik dan buruk, rasa cinta dan benci, setia dan khianat, bangga dan malu, sabar dan marah (Apter, 1985:5). Budaya politik merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat, dengan ciri-ciri khas. Istilah “budaya politik” mencakup masalah legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses pembuatan kebijaksanaan pemerintah, kegiatan partai –partai politik, serta gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah.

Kehidupan politik mencakup segala sesuatu yang mengatur kekuasaan masyarakat dalam mengarahkan kehidupan anggota-anggotanya pada tujuan yang dikehendaki bersama. Namun, kegiatan politik tidak hanya terbatas pada kepentingan atau kekuasaan politik; melainkan memasuki pula dunia keagamaan, kegiatan ekonomi dan sosial, kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat. Budaya politik langsung mempengaruhi kehidupan politik dan penentuan keputusan nasional dan regional yang menyangkut pola pengalokasian sumber-sumber masyarakat untuk membangun ekonomi.

Budaya politik merupakan sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh masyarakat, namun harus disadari bahwa tidak ada satu masyarakat pun yang setiap anggotanya mempunyai satu budaya politik yang sama dan seragam, termasuk negara sosialis sekalipun. Lucian Pye (1965:15) mengatakan bahwa di dalam semua sistem politik selalu terdapat perbedaan yang fundamental antara kebudayaan pemimpin serta pemegang kekuasaan dengan kebudayaan massa rakyat, baik rakyat yang dalam kondisi dieksploitasi maupun rakyat yang dianggap terhormat dan dihargai. Sekalipun masyarakatnya mempunyai kehidupan demokrasi yang tinggi, perbedaan tersebut tetap ada, walaupun pemimpin-pemimpin politik mencoba meyakinkan bahwa mereka sejiwa dan mengemban suara rakyat.

Dengan demikian, dalam setiap masyarakat terdapat budaya politik rakyat kecil di samping budaya politik elite. Masing-masing memiliki perbedaan, apalagi di negara-negara Dunia Ketiga. Para elite merupakan orang-orang yang memiliki pendidikan yang tinggi; sementara rakyat kecil sebaliknya, bahkan lebih parah lagi karena mereka mungkin saja buta huruf dan tidak memahami lingkungan politik dan mudah terbawa arus politik yang kuat. Massa rakyat umumnya pengikut, tidak memiliki basis kekuatan kecuali apabila mereka diorganisasikan.

Pada kasus Indonesia, Benedict R. O’G Anderson (1970: 50) menulis bahwa kebudayaan Indonesia cenderung membagi masyarakat secara tajam antara kelompok elite dengan kelompok massa. Bagi seorang Indonesia tidak ada pilihan lain, apabila tidak menjadi pemimpin, ia harus menjadi orang biasa sebagai pengikut. Pendapat Anderson setidaknya masih dapat dilihat pada sebagian besar rakyat Indonesia di zaman Reformasi ini.

Berbicara tentang budaya politik, harus pula membicarakan tentang ideologi, karena ideologi sebagai bagian dari budaya politik. Pada umumnya istilah “ideologi dipakai untuk mencerminkan suatu pandangan hidup atau sikap mental. Secara khusus, ideologi diartikan sebagai “suatu perangkat pandangan serta sikap-sikap dan nilai-nilai, atau suatu orientasi berpikir tentang manusia dan masyarakat (Adorno, 1950:2).

Sebagai suatu pola pemikiran, ideologi bukan hanya dapat dimiliki oleh seseorang, namun juga dimiliki bersama oleh anggota masyarakat secara luas. Adorno (1950) mengatakan, bahwa kita dapat berbicara tentang seluruh ideologi dari seseorang atau ideologi dalam bidang-bidang tertentu, misalnya politik, ekonomi, agama, golongan minoritas, dan sebagainya. Ideologi dapat pula berkembang bebas tanpa bergantung pada seseorang; dan ideologi-ideologi tersebut hidup sebagai akibat dari latar belakang sejarah masyarakat yang bersangkutan, dan dari pancingan peristiwa-peristiwa baru yang timbul di dalamnya.

Adapun isi ideologi (Garstin, 1954:4) pada umumnya terdiri atas:

(1) pola pemikiran atau falsafah tentang alam semesta, seperti kegaiban jagat, pacuan sejarah, dan nasib manusia; (2) gagasan tentang makna hidup di dunia, atau analisis tentang kondisi kehidupan manusia masa kini menurut pandangan filsafat.; (3) pengharapan yang terumus pada tujuan hidup, atau proyeksi tentang masa depan; dan (4) analisis tentang tindak manusia yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang diramalkan dan yang harus terjadi di masa yang akan datang.

Studi tentang ideologi biasanya mengungkapkan hakekat ideologi yang sangat kompleks, karena ada yang melihat bahwa ideologi itu negatif, di samping ada yang melihatnya netral. Hal yang bersikap negatif biasanya melihat bahwa ideologi yang diperjuangkan orang banyak disebabkan oleh faktor-faktor emosi dan pemikiran ekstrim serta tidak rasional. Selain dari itu, ideologi juga penuh dengan mitos (myth), sistem kepercayaan, dan nilai-nilai yang mengarah pada gerakan-gerakan berisi tentang konsep manusia maupun masyarakat, legitimasi maupun kekuasaan, yang mengakar dan merupakan kebiasaan yang saling menguatkan (Rejai, 1971:10).

Bagaimanapun pandangan orang, dan apapun bedanya antara ideologi yang dipegang dengan realitas yang ada, studi tentang ideologi tetap bermanfaat, karena ideologi selalu bekerja pada kehidupan manusia dan menentukan perilaku politik.

Studi klasik yang dilakukan oleh Karl Mannheim (1979) tentang ideologi menunjukkan bahwa pikiran manusia selalu diwarnai oleh pikiran-pikiran sosial yang hidup di masyarakat. Persepsi manusia tentang realitas maupun tingkah lakunya dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran tersebut. Clifford Geertz (1965:47-48) pun sependapat dengan Mannheim, dan lebih jauh mengatakan bahwa manusia sebenarnya dihambat / dilemahkan oleh keyakinan yang subjektif. Manusia hidup dengan prasangkanya dan sekaligus objektivitasnya. Untuk itu, Geertz menyebut sebagai “Paradoks Mannheim” dan merupakan dilema yang tidak terselesaikan, tetapi, secara keseluruhan Geertz benar, bahwa hal itu merupakan ironi kecil dari sejarah intelektual modern yang istilah “ideologi” itu sendiri menjadi sangat diidiologisasi.

Sifat paradoks dari ideologi ini dipertajam oleh Joseph La Palombara (1966:5) yang mengatakan bahwa ideologi dapat saja bersifat dogmatik, namun tidak selalu demikian; yang dapat saja bersifat khayalan (utopia) meskipun tidak seharusnya; dapat pula penuh dengan retorika, tetapi tidak selalu. Pelombara cenderung melihat kenyataan peranan negatif maupun positif dari ideologi dalam kehidupan manusia; dengan demikian, baginya ideologi merupakan konsep yang netral.

Namun bukan hanya Palombara saja yang melihat ideologi dalam kerangka yang lebih luas. William E. Connolly (1967:2) pun demikian, dengan pandangannya bahwa ideologi adalah suatu kumpulan keyakinan tentang lingkungan sosial politik, yang mencoba menerangkan pada kita bagaimana suatu sistem diorganisasi, cita-cita apa yang harus diperjuangkan, lembaga dan saluran mana yang dapat dimanfaatkan secara efektif. Lebih lanjut Connolly mengatakan bahwa ideologi dapat mengandung asumsi dan keyakinan yang mungkin belum diuji kebenarannya, namun pada taraf tertentu langsung diyakininya. Hal ini akan lebih mungkin terjadi apabila ilmu dan data empirik masih langka di masyarakat itu.

Dalam usaha memahami lebih jauh tentang ideologi marilah lihat dua masalah berikut:

  1. Masalah objektivitas dan subjektivitas dalam studi ilmiah yang mempertanyakan tentang peranan ideologi, prasangka, atau praduga dalam usaha mencari kebenaran.
  2. Masalah peranan ideologi dalam proses politik yang sesunguhnya terjadi di masyarakat.

Bagi Sartori (1969:389) dibedakan antara “ideologi dalam ilmu” dengan “ideologi dalam politik”. Massalah yang pertama berhubungan dengan pertanyaan apakah pikiran dan pengetahuan manusia diarahkan oleh ideologi. Kalau demikian, sampai di mana pengaruh tersebut perlu dibatasi agar persyaratan objektivitas dalam kegiatan ilmiah masih dapat dijamin. Kedua memandang ideologi sebagai sumber utama yang menentukan pola dan arah proses sosial dan politik di masyarakat; dalam hal ini masalah ideologi dilihat dari fungsinya dalam sistem politik yang ada.

Apabila Sartori membahas ideologi dari sudut polaritas antara masalah teori intelektual (kegiatan ilmiah) dan masalah praktis (kegiatan politik praktis), maka Geertz tidak melihat perbedaan pemakaian ideologi dalam kegiatan teori maupun praktis. Geertz menekankan perbedaan antara pemikiran yang bersifat ideologi dengan pemikiran yang bersifat ilmiah, baik dalam kegiatan teori maupun kegiatan praktis (Geertz, 1965: 71 – 72). Geertz berpendapat bahwa kedua pola pemikiran tersebut mempunyai kesamaan pula, yaitu keduanya berusaha mengetehui persoalan sebenarnya yang terjadi dalam kenyataan dan ingin memperoleh fakta yang benar. Namun konflik antara keduanya tetap ada, karena ilmu masih tetap mempertanyakan kembali kebenaran di dalamnya dan asumsi-asumsi dasarnya sebelum hal-hal tersebut diterapkan.

Apabila klasifikasi (taksonomi) Geertz bersifat psiko-budaya, maka Mannheim (1979 : 40) membuat klasifikasi secara sosiologi, yang mengatakan bahwa waktu terjadi krisis terhadap ketentraman sosial politik masyarakat, maka biasanya muncul paling sedikit dua kekuatan yang saling bertentangan, yaitu kelompok yang memerintah dan kelompok yang merasa tertindas. Setiap kelompok memilih ideologinya yang kontras. Kelompok penguasa cenderung mempertahankan ideologi yang dianggap berlaku, sedangkan kelompok tertindas menanamkan pemikiran yang utopis. Perbedaan kedua kelompok itu adalah sebagai berikut:

  1. apabila kelompok penguasa mencoba mengurangi konflik sambil berusaha memelihara status-quo pada sistem sosial, ekonomi, dan politik, maka kelompok tertindas selalu tidak puas dengan kondisi yang ada di masyarakat, dan mereka berusaha meningkatkan konflik dalam rangka merombak sistem yang ada;
  2. apabila kelompok penguasa memelihara pemikiran-pemikiran yang ada karena dianggap sesuai dengan kondisi masyarakat di segala zaman dan situasi, maka kelompok tertindas selalu mencari ide-ide yang sama sekali baru guna mengembangkan masyarakat ideal;
  3. apabila perkembangan pikiran kelompok penguasa terikat pada interest dari unsur-unsur yang ada pada kelompok penguasa sehingga pemikiran itu mengaburkan persepsinya tentang kondisi yang sebenarnya terjadi di masyarakat; maka pada kelompok tertindas, meski juga terikat pada interes dan interpretasi kaum tertindas, namun mereka lebih suka kepada konflik untuk memperbesar pengaruh di masyarakat –walaupun dengan konflik itu bisa menimbulkan perpecahan dan melemahkan pengaruhnya.

Mannheim menyadari bahwa kedua kelompok tidak hanya memelihara pemikiran yang realisitik, namun juga utopis. Misalnya, kelompok penguasa merintis ide-ide masa depan yang bersifat transendental, yang harus duperjuangkan, namun tidak boleh mempengaruhi secara langsung status quo. Di sini memperlihatkan adanya jurang yang lebar antara retorika dengan realita. Hal ini menumbuhkan dengan subur idealis-idealis dan utopis-utopis pada massa rakyat. Ini berarti pula, pilihan dan ruang gerak para penguasa yang terdiri atas kelompok yang berekonomi kuat dan politikus kuat semakin sempit. Kecenderungan ini akan terjadi apabila ideologi kelompok-kelompok di masyarakat dipenuhi dengan impian-impian (utopis) yang tidak realistik.

Kerangka analisis yang disajikan Mannheim tersebut sangat berguna, terutama tentang perbedaan-perbedaan penting antara budaya politik kelompok elite dan massa rakyat. Namun perlu dikemukakan di sini bahwa kedua kelompok tersebut tidak selalu saling bertentangan. Malah dalam kenyatannya seringkali para elite mengambil peranan penting dalam pembentukan budaya politik yang dapat mempersatukan semua kelompok masyarakat untuk pembangunan nasional. Selain dari itu, juga perembesan yang intensif dari perubahan sosial telah menimbulkan disorientasi di antara massa rakyat, sehingga mereka semakin membutuhkan kepemimpinan elite dalam memberikan orientasi baru tentang masalah-masalah hidup, sehingga rakyat dapat memakainya untuk menghadapi persoalan-persoalan baru dan untuk berpartisipasi secara tepat dalam pembangunan nasional (Geertz, 1965: 65).

Dalam hal ini Apter menambahkan bahwa massa rakyat mengharapkan para elite pemerintahan dapat mengatur dan menyediakan segala kebutuhan hidup mereka. Bila memang masyarakat merasa bahwa peranan mereka tidak banyak dalam menentukan tingkat produktivitas nasional, maka terpaksa pemerintah mengambil peranan utama. Hal ini membawa akibat, kepemimpinan pemerintah cenderung mempertajam sentralisasi serta monopolistik dalam mengatur kegiatan ekonomi. Selain dari itu, rakyat akan pasif dalam menghadapi pembangunan ini. Dalam kondisi yang demikian, masyarakat hanya aktif apabila ada mobilisasi massa untuk patuh mengikuti pemimpin sepenuhnya. Atau, apabila ada inisiatif masyarakat dalam mengembangkan kewirausahaan, maka kegiatan tadi cenderung terorientasi pada pencarian perlindungan bantuan dan subsidi pemerintah. Itu pula yang terjadi di Indonesia sejak Orde Baru berkuasa.

Pemerintahan yang kuat yang disertai sifat pasif dari rakyatnya, biasanya mempunya budaya politik yang menurut Apter bersifat political religion (agama politik). Politik yang dikembangkan berdasarkan ciri-ciri agama cenderung mengatur secara ketat setiap aspek kehidupan anggota masyarakatnya (Apter, 1963:59). Budaya politik tersebut merupakan usaha campuran politik dengan ciri-ciri keagamaan, yang, kedua bidang kehidupan tersebut merupakan kekuatan paling dominan dalam masyarakat tradisional di negara-negara Dunia Ketiga. Beberapa gejala paradoks hampir selalu dijumpai pada agama politik, yaitu pemerintahannya kuat dan tegas namun justru memancing ketidakstabilan politik; pengendalian terhadap sentralisasi sangat kuat namun justru sulit memobilisasi masyarakat secara luas –hanya kelompok-kelompok masyarakat tertentu saja yang dapat dimobilisasi; adanya perubahan oreintasi yang pesat ke arah pembangunan, tetapi ikatannya kepada tradisi semakin kuat –karena sifat-sifat agama umumnya berorientasi ke masa lampau; penggunaan kekerasan yang meningkat untuk menghadapi oposisi, namun justru menyuburkan antagonisme dan pembekuan terhadap kreativitas yang dibutuhkan guna mendekung pembangunan. Tidak semua gejala yang bertentangan itu benar-benar terjadi,namun potensi ke arah timbulnyan konflik-konflik tersebut selalu ada pada budaya politik yang bersifat agama politik.

Lebih jauh Apter menegaskan bahwa kondisi politik yang terlalu sentralisasi dengan peranan birokrasi atau militer yang terlalu kuat, akan banyak mempengaruhi perilaku anggota masyarakat dan akhirnya mempengaruhi terhadap pembangunan nasional. Kemudian Edward Weidner (1968: 240) menambahkan bahwa kondisi sosial, politik, dan intelektual yang diciptakan elite pada akhirnya merupakan faktor penentu arah, corak, dan sasaran yang dicapai oleh proses pembangunan di negara berkembang. Strategi-strategi pembangunan dari pemerintah, universitas, dunia usaha, dan organisasi lainnya pada dasarnya merupakan variabel-variabel independen. Mereka adalah perencana perubahan. Sebaliknya, bidang pembangunan –ekonomi, sosial, politik, teknologi– sebenarnya merupakan variabel dependen. Namun banyak jenis variabel lain yang menyusup dan mempengaruhi kedua kelompok variabel di atas. Salah satu di antaranya ialah lingkungan politik yang mungkin paling luas pengaruhnya.

Budaya politik para elite dalam kurun waktu tertentu mungkin tetap kuat pengaruhnya, atau bahkan berkurang, yang menurut Wilbert E. Moore (1961: 519-520) bahwa nilai-nilai mungkin agak lambat perubahannya, dan nilai-nilai tersebut sering berfungsi sebagai penghambat perubahan. Beberapa macam nilai dapat berubah, menyesuaikan diri dengan kondisi yang sedang terjadi di masyarakat; dan malah ada pula yang hilang lenyap.

Warren F. Ilchman dan Norman Thomas Uphoff (1969:214) menambahkan bahwa apabila budaya politik dianggap sebagai proses alamiah dari infrastruktur politik, maka hal itu tidak berarti bahwa pertumbuhan budaya politik tidak mengandung campur tangan atau pengaruh manusia. Namun, apabila budaya politik serta kondisi yang diciptakannya merupakan warisan yang harus diterima oleh setiap generasi sebagai “pemberian alam” (natural endowment), maka budaya politik tersebut sulit berubah, kecuali aspek-aspek pinggirannya saja. Perubahan besar dapat terjadi apabila ada suatu peristiwa yang memang bertujuan untuk merombak norma-norma yang ada, dan benar-benar menyentuh dasar-dasar kehidupan masyarakat banyak.

Mannheim (1979) membedakan ideologi ke dalam tiga jenis utama. Pertama, ideologi yang dapat muncul kalau seseorang atau sekelompok orang tidak menyadari lagi inkongruensi atau ketidakcocokan di antara gagasan yang ada padanya dengan kenyataan konkret yang tengah dihadapi. Kedua, ideologi juga muncul kalau sekelompok orang dapat menyingkapkan ketidakcocokan itu, tetapi mereka justru tidak melakukannya karena ada kepentingan yang bersifat pragmatis atau emosional, yang barangkali akan dirugikan kalau ketidakcocokan itu dibuka kedoknya. Ketiga, ideologi juga terbentuk kalau orang melakukan penipuan secara sengaja demi untuk mempertahankan diri atau untuk mencapai suatu tujuan dan kepentingan tertentu.

Secara lebih antropologis, tindakan seseorang dalam dunia sosial biasanya dibimbing oleh norma dan nilai-nilai yang ada dalam dunia simboliknya. Dalam bidang moral dan keagamaan hal itu berarti bahwa perbuatan seseorang diandaikan mengikuti apa yang dia percayai sebagai baik dan benar. Namun demikian, kalau dalam prakteknya dia ternyata tidak sanggup melakukan apa yang dia percayai, dia akan cenderung mempercayai saja apa yang dilakukannya.

Secara umum suatu pemikiran dinamakan ideologis apabila pemikiran tersebut tidak mencerminkan situasi yang konkret, namun pada saat yang bersamaan pemikiran ini dapat diintegrasikan secara harmonis dengan kehidupan umum yang terdapat dalam situasi tersebut (Kleden, 2001:xxix). Kleden mengambil contoh dari sejarah Eropa, kalangan gereja, dan khususnya kalangan klerus selama abad pertengahan, yang mengajarkan bahwa memang ada semacam Firdaus yang menanti setiap orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi Firdaus itu tidak berada di sini, namun dalam dunia yang lain, yang berbeda dari dunia tempat kita hidup sekarang ini. Selama Firdaus itu ditempatkan di suatu dunia lain, maka pemikiran ini dapat diintegrasikan dengan kehidupan Kristen Abad Pertengahan, dan berfungsi sebagai semacam ideologi yang justru memperkuat struktur sosial, yang ditandai oleh peranan yang amat dominan dari gereja. Namun demikian, menjelang berakhirnya Abad Pertengahan, ketika struktur sosial yang bersifat eklesiastik ini mulai goyah, muncul gerakan yang dengan penuh semangat ingin mewujudkan Firdaus itu dalam bentuk millenial kingdom (kerajaan seribu tahun) di dunia ini, hanya dengan bermodalkan harapan, emosi dan kepercayaan yang bersifat ekstatik. Pada saat ini, gagasan tentang Firdaus itu berubah dari ideologi menjadi utopia.

Perbedaan pokok antara ideologi dan utopia ialah bahwa sekalipun keduanya sama-sama mengandung pandangan yang penuh distorsi tentang keadaan konkret yang sedang dihadapi, namun ideologi cenderung mempertahankan dan memperkuat status quo, sedangkan utopia akan mengguncang struktur sosial yang ada. Berdasarkan perspektif waktu, dan tempat suatu ideal dalam waktu, Mannheim (1979 ) membedakan empat macam utopia.

Pertama, chiliasme , yaitu pandangan utopian yang menolak proses sejarah; karena itu, ruang dan waktu dalam pandangan ini dinafikan. Ciri dari tiap chiliasme adalah terfokusnya perhatian hanya pada masa sekarang di tempat ini, yang dianggap bukan produk masa lampau, dan bukan juga persiapan untuk masa depan, melainkan suatu absolute presentness, yang penuh makna dan berkah, dan harus direbut dengan seketika. Hal yang membedakan chiliasme dari jenis utopia lainnya ialah bahwa sumber kekuatannya bukanlah pada ide-ide yang diyakini, melainkan pada energi yang bersifat orgiastik dan ekstatik. Di sini terlihat kesamaan yang mencolok antara faham chiliasme dan gerakan mistik, yaitu kepercayaan akan adanya kairos (the God of Opportunity), yaitu masa kini yang dianggap dipenuhi oleh keabadian, namun masa kini yang penuh makna dan berkah itu tidak pula dianggap sebagai akhir zaman yang dijanjikan dalam eskatologi. Itulah sebabnya, mengapa chiliasme menolak dan bertentangan dengan milenarianisme yang justru berharap pada datangnya Ratu Adil di masa depan. Revolusi yang dijalankan dengan penuh gairah, tidak dianggap sebagai jalan terakhir mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara rasional, melainkan dijadikan prinsip kreatif untuk mewujudkan masa kini yang dirahmati. Pemberontakan-pemberontakan petani biasanya digerakkan oleh motif-motif chiliastik, karena penderitaan yang mereka alami seringkali sudah terlalu berat untuk memungkinkan mereka menunggu dan mengharapkan datangnya masa depan yang lebih baik.

Kedua, konservatisme, yaitu jenis utopia yang menempatkan segala ideal di masa lampau. Kaum konservatif pada dasarnya tidak terdorong untuk memikirkan gagasan. Mereka hidup tenang dalam suatu struktur sosial yang sudah menguntungkan mereka, dan yang mereka pandang sebagai sudah sewajarnya demikian. Perhatian kepada gagasan dan pemikiran baru muncul tatkala mereka harus berhadapan dengan kelas oposisi yang mempertanyakan posisi dominan dari kaum konservatif ini dalam struktur sosial yang ada. Ide-ide konservatif kemudian muncul secara ex post facto dan berfungsi sebagai pembenaran terhadap posisi sosial yang mereka nikmati. Karena itulah utopia kaum koinservatif selalu mengambil bentuk kontra-utopia. Perbedaan utama dengan utopia liberal ialah bahwa liberalisme menekankan Sollen, yaitu apa yang harus dilakukan, tingkah laku yang harus diubah atau diperbaharui dan struktur sosial yang harus mengalami rekonstruksi yang menyeluruh. Sebaliknya, kaum konservatif justru menekankan Sein, yaitu membenarkan dan mempertahankan apa yang sudah ada. Dalam pandangan konservatif, gagasan kaum liberal mungkin bagus dan bermanfaat, tetapi masih mengawang dan belum teruji dalam praktek dan belum terwujud dalam kenyataan. Kebebasan dan kemungkinan yang dipuja-puja kaum liberal itu, dalam kenyataannya selalu terbtas sifatnya. Menurut kaum konservatif, akan lebih bijaksana apabila berpegang pada apa yang sudah ada daripada mengimpikan segala sesuatu yang belum tentu dapat dilaksanakan. Itulah sebabnya bahwa kaum konservastif dengan conservative quietism-nya, biasanya berhasil menjinakkan ide-ide pembaharuan, bahkan tidak jarang dengan menggunakan cara-cara yang irasional.

Ketiga, utapia liberalisme atau liberalisme humanitarian, yang muncul dari rasa tidak puas atau bahkan dari konflik dengan tertib masyarakat yang ada. Cara kerja kaum liberal adalah menyusun suatu konsep yang dianggapnya benar, dan dapat menjadi pegangan dan ukuran untuk membangun suatu masyarakat baru yang lebih baik di masa depan, yang berlainan dari susunan masyarakat yang ada yang dianggapnya tidak benar. Orientasi waktu kaum liberal bukanlah masa lampau (seperti yang ada pada kaum konservatif), bukan juga masa kini (yang ada pada kaum chiliast), tetapi masa depan. Apabila kaum chiliast cenderung menolak kebudayaan dan semua pencapaian melalui pendidikan, sebagai pemenuhan yang bersifat prematur dari hasrat terdalam yang hanya terpuaskan dalam kairos, maka kaum liberal sebaliknya, mereka dapat menghargai kebudayaan dan hasil-hasil pendidikan, sambil memandang dirinya sebagai pengeritik yang bertugas memberikan gagasan dan norma-norma etis yang akan memperbaiki kebudayaan yang ada. Di sini kaum chiliast memandang dirinya sebagai creative destroyer yang harus menghancurkan semuanya, supaya membiarkan keabadian masuk ke dalam masa kini tanpa terhalang (Mannheim, 1979:198)

Chiliasme mengandalkan semangat yang berkobar dan terserapnya orang ke dalam ekstase, sementara kaum liberal mengandalkan gagasan dan konsep-konsep rasional. Ide kaum liberal pada dasarnya bergerak di antara konsepsi visioner kaum chiliast yang mengandalkan campur tangan langsung dari Tuhan, dan gagasan kaum konservatif yang sibuk memikirkan bagaimana mempertahankan posisi dominan mereka dalam struktur sosial yang ada. Dilihat dari perspektif stratifikasi sosial, maka chiliasme adalah utopia kaum tani yang tertindas, konservatisme adalah utopia kaum feodal yang menguasai pemilikan tanah, sedangkan liberalisme adalah utopia kaum borjuasi baru dan kaum intelektual. Adapun motor yang menggerakkan semangat kaum liberal adalah pandangan sejarah yang unilinear yang dibimbing oleh the idea of progress, berupa kepercayaan bahwa keadaan sekarang dan struktur sosial yang ada, akan bergerak manuju kondisi yang semakin hari semakin rasional. Saat terpenuhinya harapan (yang oleh kaum chiliast ditempatkan di masa kini), oleh kaum liberal ditempatkan di masa depan pada suatu titik kulminasi dari evolusi sejarah. Gagasan ini jelas sangat diperkuat oleh perkembangan kapitalisme, yang sangat mengutamakan rasionalitas, dan menguatnya Darwinisme sosial yang mendapatkan ilhamnya dari teori evolusi. Perkembangan suatu spesies biologis dari bentuk yang kurang sempurna ke arah bentuk yang semakin sempurna, diandaikan berjalan paralel dengan perkembangan struktur sosial dari susunan yang kurang rasional ke arah susunan yang lebih rasional.

Keempat, utopia sosialis, yang mempunya kesamaan yang mencolok dengan utopia liberal dalam hal perspektif waktu. Keduanya berorientasi ke masa depan, dengan perbedaan utama, bahwa masa depan kaum liberal bersifat indeterminate, yaitu bersifat terbuka dan tidak tentu kapan tercapainya, sedangkan masa depan kaum sosialis diberi kerangka dan batas-batas yang lebih spesifik berupa keruntuhan sistem kapitalisme dan berakhirnya kebudayaan kapitalis. Keduanya menentang utopia konservatif yang menerima dan mempertahankan tertib sosial yang sudah ada sebagai ideal yang terbaik, dan sekaligus juga menolak entusiasme chiliastik yang percaya bahwa energi yang ekstatik dapat menciptakan masa sekarang yang baru sama sekali secara mendadak. Perbedaan pokok dengan kaum liberal ialah penolakan kaum sosialis bahwa keadaan dapat diperbaiki hanya dengan mengusulkan gagasan-gagasan etis sebagaimana diyakini oleh kaum liberal. Menurut paham kaum sosialis, perubahan yang benar barulah tercapai kalau struktur sosial diubah sama sekali, melalui hilangnya kesenjangan antara mereka yang menguasai alat-alat produksi material dengan mereka yang hanya dapat memberikan tenaga kerja. Ide dalam pengertian kaum sosialis bukanlah sarana yang mengubah sejarah, karena ide-ide itu sendiri adalah produk sejarah, dan lahir dari posisi sosial seseorang dalam struktur sosial yang ada. Keadilan baru tercapai kalau segala jenis ketidaksederajatan diakhiri, karena ketidaksederajatan adalah sumber utama ketidakadilan.

3. Kesederajatan dan Ketidaksederajatan

Struktur politik, dan khususnya struktur kekuasaan politik, selalu menimbulkan ketidaksamaan dan ketidaksederajatan (inequality). Reinhard Bendix ( 1980) mencoba membuktikan dan melukiskan kenyataan ini dalam survei historis dan sosiologis yang luas, yang mencakup lima negara (Jepang, Rusia, Kerajaan Jerman dan Prusia, serta Inggris). Dari studinya itu, Bendix (1980:16) menemukan, bahwa “authority and inequality are basic dimensions of all social structures”, dan juga “where authority is present, inequality between rulers and ruled will accur”.

Kekuasaan, menurut Bendix, mengalami berbagai perubahan bentuk, tetapi dalam pola dasarnya dapat disederhanakan ke dalam dua bentuk utama. Pertama, kekuasaan raja (bersama kekuasaan kaum bangsawan) yang dianggap berasal dari Tuhan atau kekuatan supernatural, dan karena itu dibenarkan oleh kehendak Ilahi. Penyelidikan Bendix tentang kekuasaan raja dan aristokrasi di lima negara tersebut mencakup kurun waktu 11 abad, yaitu antara tahun 500 sampai dengan abad ke-16. Kedua, mandat untuk memerintah yang diberikan oleh rakyat dan dibenarkan oleh rakyat. Sejarah perkembangan mandat untuk memerintah atau demokrasi di Barat dimulai dengan revolusi-revolusi yang terjadi di Inggris dan Perancis pada abad ke-17, disusul revolusi industri di Inggris pada abad ke-18, kemudian oleh gerakan reformasi di Jerman dan Jepang pada abad ke-19, dan dilanjutkan oleh revolusi kaum Bolsevik pada abad ke-20. Peralihan dari dua bentuk kekuasaan itu berhubungan dengan soal siapa yang menjadi unsur pembenaran dan pengesahan kekuasaan tersebut. Dalam kerajaan, seorang raja berlindung di balik dalil vox Dei vox populi (suara Tuhan adalah suara rakyat), sedangkan dalam demokrasi berlaku dalil vox populi vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan).

Apa pun wujud dan bentuknya, kekuasaan, sebagaimana ditunjuk oleh studi Bendix, akan dengan sendirinya menghasilkan ketidaksederajatan (inequality), yang dalam prakteknya dibenarkan karena adanya legitimasi, yaitu keyakinan umum bahwa kekuasaan yang dijalankan itu bukan hanya absah sifatnya, tetapi merupakan kekuasaan yang layak dan pantas dijalankan. Dalam sistem kerajaan, ketidaksamaan dan ketidaksederajatan itu diterima mungkin karena adanya perasaan hormat dan ketundukan kepada kehendak Tuhan yang dianggap menampakkan diri dalam pribadi dan tindakan seorang raja. Dalam sistem demokrasi ketidaksamaan dan ketidaksederajatan itu diterima karena struktur sosial selalu mengimplikasikan adanya hierarki dalam hak dan kewajiban.

Dalam arti itu, ketidaksederajatan adalah kenyataan yang tidak dapat dielakkan. Hal yang masih dapat dicegah ialah keadaan bahwa ketidaksederajatan itu menyebabkan terjadinya terlalu banyak ketidakadilan (injustice). Ketidaksederajatan terbentuk dari perbedaan hak, misalnya hak pengusaha (yang harus mendapatkan untung agar usahanya dapat berjalan terus) dan hak buruh (yang harus mendapat upah yang layak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkannya dan biaya kebutuhan hidupnya). Ketidaksederajatan ini akan berubah menjadi ketidakadilan apabila upah minimum buruh sebagaimana ditetapkan oleh undang-undang tidak dipenuhi dan tidak dilaksanakan oleh pengusaha. Ketidakadilan juga akan terjadi kalau buruh menuntut upah sedemikian tingginya, sehingga pengusaha itu hampir tidak memperoleh keuntungan sama sekali, sehingga tidak sanggup melakukan investasi dan reinvestasi untuk pengembangan usaha selanjutnya.

Para penganut marxisme ortodoks barangkali tidak akan menerima distingsi ini yang dicoba dibuat di antara ketidaksederajatan (inequality) dan ketidakadilan (injustice). Asumsi dasar marxisme ortodoks ialah anggapan bahwa keuntungan pengusaha hanya didapat dari kesanggupan atau kelihaian memperlakukan buruh secara tidak adil, dengan cara membayar kepada buruh kurang dari apa yang menjadi hak buruh. Kapitalisme –menurut Marx— adalah sistem ekonomi yang hanya dapat hidup dan berkembang karena adanya nilai lebih (surplus value), berupa bagian upah buruh yang menjadi hak buruh, tetapi tidak dibayarkan kepada buruh, dan malah dicaplok oleh pengusaha untuk memupuk modalnya dan memperbesar keuntungannya. Semua ini terjadi karena adanya ketidaksederajatan antara para pengusaha yang merupakan kelas pemilik alat produksi dan kelas buruh yang hanya memiliki tenaga kerja. Masyarakat adil baru tercipta kalau ketidaksederajatan itu dapat dihilangkan oleh revolusi sosial yang menghilangkan kelas-kelas sosial. Sebagaimana terbukti kemudian, keinginan Marx untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas itu lebih merupakan suatu harapan dan impian etis yang bersifat utopian, tetapi hampir tidak ada contoh soalnya dalam kenyataan sejarah dan kenyataan sosiologis. Di negara-negara komunis segera terlihat ketidaksederajatan yang amat mencolok antara mereka yang menjadi anggota partai dan pimpinan partai, yang diberikan berbagai fasilitas dan privilese, dengan anggota masyarakat biasa.

Pertentangan antara keinginan akan terciptanya kesederajatan menyeluruh dan kenyataan sosiologis yang kuat tentang selalu hadirnya ketidaksederajatan adalah pertentangan yang dalam catatan sejarah sudah berusia sejak sejarah manusia dapat ditelusuri. Ketika pada abad ke-4 sebelum Masehi di dalam negara kota Athena mulai diperkenalkan dan dipraktekkan gagasan kemerdekaan politik dan kesamaan setiap warga, maka sekurang-kurangnya dua pertiga dari seluruh penduduk Athena berada dalam status budak belian. Dalam masa modern setelah berkembangnya filsafat sosial di Eropa pada paro kedua abad ke-18 hingga abad ke-19, terlihat bahwa tokoh-tokoh pembela kesederajatan ini, dalam hidupnya sehari-hari, tidak dapat menghindar dari ketidaksederajatan yang secara teoritis tidak mereka benarkan. Filosof Perancis, Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), penganjur kebebasan alamiah untuk setiap orang, lepas dari ikatan kebudayaan dan pendidikan, tercatat sebagai seorang aristokrat yang manja dan eksentrik. Thomas Jefferson di Amerika (1743-1826) yang menganjurkan gagasan kesamaan atau kesedarajatan semua orang, yang kemudian dimasukkan ke dalam Declaration of Independence Amertika Sertikat, ternyata selama hidup hingga akhir hayatnya adalah seorang pemilik budak belian. Demikian pula Karl Marx (1818-1883), yang dianggap nabi mayarakat tanpa kelas, melewatkan tiga puluh tahun terakhir hidupnya dalam lingkungan kelas menengah yang menyenangkan di Highgate dan mempekerjakan beberapa pelayan di rumahnya.

Dalam kaitan itu, menurut Edmund Leach (1986:81), rumusan “semua orang dilahirkan sama sederajat” (all men are born equal) dalam pakteknya ditafsirkan sebagai “semua orang semacam kita dilahirkan sama sederajat” (all men who are people like us are born equal). Prasangka-prasangka yang tersembunyi dalam rumusan itu harus diperiksa kembali, baik prasangka yang berhubungan dengan kelas sosial, gender, tingkat usia dan pendidikan, maupun latar belakang kebudayaan.

Selama masa penjajahan Belanda di Hindia Belanda sampai dengan diterapkannya Politik Etis pada awal abad ke-20, orang-orang yang dianggap sama sederajat tentulah orang-orang kulit putih, sedangkan pribumi sebagai bangsa terjajah tidak dianggap sama sederajat. Hal ini tampak dari istilah gelijkstelling / gelijkgesteld, yaitu status yang diberikan kepada orang-orang pribaumi melalui suatu prosedur hukum yang membuatnya sama sederajat dengan orang-orang Belanda. Dalam pola hubungan sosial yang bersifat patron-klien maka yang dianggap sama sederajat adalah mereka yang termasuk dalam kelompok patron (seperti para priayi), sedangkan kelompok klien (seperti wong cilik) tidak dianggap sama sederajat. Begitu pula tuduhan kaum feminis yang mengingatkan kita akan prasangka-prasangka gender dalam hubungan ini. Yaitu, bahwa tekanan tradisi patriarki yang masih sangat kuat dalam berbagai masyarakat, sering mengakibatkan bahwa yang dianggap dan diperlakukan sama sederajat biasanya hanya laki-laki dewasa, sedangkan perempuan dan anak-anak tidak termasuk di dalamnya. Sama pula halnya dalam masyarakat dengan elitisme yang kuat, yang dianggap sama sederajat adalah anggota suatu elite, sedangkan mereka yang berada di luar lingkaran tersebut tidak dianggap sama sederajat.

Inkongruensi ini sudah dimulai sejak awalnya di Athena pada abad ke-4 sebelum Masehi, ketika demokrasi mulai diperkenalkan dalam negara kota tersebut. Pada masa itu di Athena dikenal dua komunitas yang amat berbeda, yaitu polis (city-state, negara kota) yang merupakan wilayah publik dan politik, dan oikos atau rumah tangga yang merupakan wilayah privat atau komunal. Apa yang dinamakan pengelompokkan politik atau kehidupan politik hanya terwujud dalam polis, yang diatur dalam peraturan-peraturan hukum (ethos). Sebaliknya, rumah tangga atau oikos diatur oleh kebijaksanaan kepala keluarga atau kepala komunitas. Pertemuan antara masyarakat dengan negara sebagai suatu peristiwa politik hanya terjadi dalam polis atau negara kota, sedangkan kehidupan rumah tangga dan kehidupan komunal diperlakukan sebagai unsur residual yang ditampung dalam oikos. Kebebasan politik dan kesederajatan berlaku bagi anggota polis, tetapi kaum perempuan, anak-anak, dan hamba sahaya tidak mempunyai kebebasan politik dan tidak diperlakukan sama sederajat karena mereka hanya anggota oikos yang berada di luar hukum (Cohen & Areto, 1994:84-86).

Inkongruensi ini sendiri dapat dipandang dari beberapa perspektif yang dapat memberi makna yang berbeda-beda. Dari segi ilmiah (sosiologis) harapan akan terciptanya suatu kesederajatan yang menyeluruh bisa saja dianggap sebagai wishful thingking. Sebaliknya, dari segi filsafat sosial gagasan tentang kesederajatan yang menyeluruh ini tidak boleh dibuang begitu saja, karena tanpa adanya cita-cita tersebut tidak akan ada kontrol terhadap melebarnya jurang antara kaya-miskin, dan tidak ada pula landasan kuat untuk memperjuangkan keadilan yang lebih baik. Peter L. Berger (1986: 194-209) menunjukkan dalam uraiannya tentang kapitalisme, bahwa aspek mitis yang diilhami oleh harapan akan kesamaan dan kesederajatan inilah yang menyebabkan bahwa marxisme sebagai doktrin politik bisa saja mati, tetapi marxisme sebagai suatu mitos tentang masa depan yang lebih adil tetap akan terus hidup.

Tidak mengherankan bahwa banyak intelektual –baik di negara maju maupun di negara berkembang– yang hidup dalam masyarakat kapitalis, tertarik kepada sosialisme, terutama kepada segi-seginya yang bersifat fideistis, sebagaimana dimaksudkan oleh Gramsci, yaitu inspirasi yang berhubungan dengan spiritualitas, moral dan semangat kuasi-religius. Salah satu akibat yang dibawa oleh pertumbuhan kapitalisme adalah gejala yang oleh Max Weber dinamakan Entzauberung der Welt atau disentchantment of the world, yaitu hilangnya daya pesona dunia, karena tersingkirnya imaji-imaji mito-puitis akibat tekanan sekularisasi dalam kapitalisme secara umum dan industrialisasi secara khusus. Hutan tinggal menjadi sumber kayu untuk bahan mebel atau bahan bangunan, dan bukan lagi tempat orang menjalankan ritual, yang berhubungan dengan kepercayaan akan adanya roh-roh yang menjaga pohon dan bunga di rimba. Kekeringan inspirasi mitis yang diakibatkan oleh kapitalisme kemudian diimbangi oleh mitos-mitos baru yang dibawa oleh sosialisme berupa harapan akan terwujudnya masa depan yang lebih adil, persaudaraan antara semua orang yang tidak lagi dibeda-bedakan berdasarkan posisinya secara sosial, dan hilangnya konflik dan kekerasan, karena tidak ada lagi perjuangan kelas untuk memperebutkan alat-alat produksi (Berger, 1986).

4. Konflik

Banyak pakar ilmu sosial yang memberikan batasan atau definisi tentang konflik, namun semuanya memiliki esensi yang sama. Deutsch (1973) mengatakan bahwa konflik muncul kapan saja ketika kegiatan yang tidak cocok terjadi. Sementara itu, Mitchell (1981) mendefinisikan konflik sebagai hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki, atau yang merasa memiliki sasaran-sasaran yang tidak sejalan. Adapun Kriesberg (1982) mengatakan bahwa sebuah konflik muncul ketika dua pihak atau lebih percaya bahwa mereka mempunyai tujuan yang tidak cocok. Kemudian, Hugh Miall, Oliver Ramsbotham, dan Tom Woodhouse (1999:5) mendefinisikan konflik dengan lebih rinci seperti berikut:

Conflict is an intrinsic and inevitable aspect of social change. It is an expression of the heterogeneity of interests, values and beliefs that arise as new formations generated by social change come up against inherited constraints.”

Teori konflik mulai muncul di Amerika pada tahun 1960-an. Sebenarnya, kemunculan teori konflik merupakan kebangkitan kembali berbagai gagasan yang diungkapkan oleh Karl Marx (1818-1883) dan Max Weber (1864-1920). Walaupun keduanya adalah teoritisi konflik dan saling bersepakat dalam beberapa hal penting, namun keduanya mengembangkan versi teori konflik yang agak berbeda. Karena itu, teori konflik modern terpecah menjadi dua tipe pokok, yaitu teori konflik neo-marxian dan teori konflik neo-weberian. Versi neo-marxian lebih dikenal dan berpengaruh daripada versi neo-weberian.

Hal yang sama bagi semua teori konflik adalah penolakan terhadap gagasan bahwa masyarakat cenderung kepada beberapa konsensus dasar atau harmoni, di mana struktur masyarakat bekerja untuk kebaikan setiap orang. Para teoritisi konflik memandang konflik dan pertentangan –ke-pentingan dari berbagai individu dan kelompok yang saling bertentangan– sebagai determinan utama dalam pengorganisasian kehidupan sosial. Dengan kata lain, struktur dasar masyarakat sangat ditentukan oleh upaya yang dilakukan oleh berbagai individu dan kelompok untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas yang akan memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan mereka. Karena sumber daya ini, dalam kadar tertentu selalu terbatas, maka konflik untuk mendapatkannya selalu terjadi. Marx dan Weber menerapkan gagasan umum ini dalam teori mereka dengan cara yang berbeda, yang mereka pandang menguntungkan.

Marx berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang terstruktur antara berbagai individu dan kelompok muncul terutama melalui terbentuknya hubungan pribadi dalam produksi. Sampai pada titik tertentu dalam evolusi kehidupan manusia, hubungan pribadi dalam produksi mulai menggantikan kepemilikan komunal atas kekuatan-kekuatan produksi. Dengan demikian, masyarakat terpecah menjadi kelompok yang memiliki dan yang tidak memiliki kekuatan produksi –menjadi kelas-kelas sosial. Dalam masyarakat yang telah terbagi berdasarkan kelas, kelas sosial yang memiliki kekuatan produksi dapat mensubordinasikan kelas sosial yang lain dan memaksa kelompok tersebut untuk bekerja memenuhi kepentingan mereka sendiri. Jadi, kelas dominan menjalin hubungan dengan kelas yang tersubordinasi dalam sebuah proses eksploitasi ekonomi. Secara alamiah, kelas yang tersubordinasi ini akan marah karena dieksploitasi dan terdorong untuk memberontak terhadap kelas dominan serta menghapuskan hak-hak istimewa mereka. Tetapi kelas dominan, karena mengetahui adanya kemungkinan pemberontakan dari kelas bawah, menciptakan aparat politik yang kuat –negara yang mempu menekan pemberontakan tersebut dengan kekuatan.

Dengan demikian, Marx memandang eksistensi hubungan pribadi dalam produksi dengan kelas-kelas sosial sebagai elemen kunci dalam banyak masyarakat. Dia percaya bahwa hubungan-hubungan kelas sosial memainkan peranan yang krusial dalam membentuk pola-pola sosial suatu masyarakat, seperti sistem politik dan agama. Dia juga berpendapat bahwa pertentangan antara kelas dominan dengan kelas yang tersubordinasi memainkan peranan sentral dalam menciptakan bentuk-bentuk penting perubahan sosial. Sebenarnya, menurutnya, sejarah dari semua masyarakat yang ada sampai saat ini adalah sejarah pertentangan kelas.

Strategi konflik marxian modern pada dasarnya merupakan formalisasi dan elaborasi dari gagasan-gagasan di atas. Beberapa prinsip utama strategi ini adalah sebagai berikut:

  1. Kehidupan sosial pada dasarnya merupakan arena konflik atau pertentangan di antara dan dalam kelompok-kelompok yang bertentangan.
  2. Sumber-sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik merupakan hal penting, yang berbagai kelompok berusaha merebutnya.
  3. Akibat tipikal dari pertentangan ini adalah pembagian masyarakat menjadi kelompok yang determinan secara ekonomi dan kelompok yang tersubordinasi.
  4. Pola-pola sosial dasar suatu masyarakat sangat ditentukan oleh pengaruh sosial dari kelompok yang secara ekonomi merupakan kelompok yang determinan.
  5. Konflik dan pertentangan sosial di dalam dan di antara berbagai masyarakat melahirkan kekuatan-kekuatan yang menggerakkan perubahan sosial.
  6. Karena konflik dan pertentangan merupakan ciri dasar kehidupan sosial, maka perubahan sosial menjadi hal yang umum yang sering terjadi.

Harus diperjelas bahwa strategi konflik marxian secara esensial lebih merupakan strategi materialis ketimbang idealis. Hal ini tidak mengherankan, karena kenyataan menunjukkan bahwa Marx pengusul gagasan teoritis yang bersifat materialistis dan konflik ini. Para teoritisi konflik marxian memandang konflik sosial muncul terutama karena adanya upaya untuk memperoleh ekses kepada kondisi material yang menopang kehidupan sosial, dan mereka melihat kedua fenomena ini sebagai determinan krusial bagi pola-pola sosial pada suatu masyarakat.

Titik persimpangan antara Marx dan Weber adalah menyangkut pandangan materialisme yang belakang ini. Weber percaya bahwa konflik terjadi dengan cara yang lebih luas daripada sekadar kondisi-kondisi material dasar ( Collins, 1985). Weber mengakui bahwa konflik dalam memperebutkan sumber daya ekonomi merupakan ciri dasar kehidupan sosial, tetapi dia berpendapat bahwa banyak tipe konflik yang lain yang juga terjadi. Dia menganggap konflik dalam arena politik sebagai sesuatu yang sangat fundamental. Baginya, kehidupan sosial dalam kadar tententu merupakan pertentangan untuk memperoleh kekuasaan dan dominasi oleh sebagian individu dan kelompok tertentu terhadap yang lain, dan dia tidak menganggap pertentangan untuk memperoleh kekuasaan ini hanya semata-mata didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan ekonomi. Sebaliknya, dia melihatnya, dalam kadar tertentu sebagai tujuan pertentangan itu sendiri. Weber berpendapat bahwa pertentangan untuk memperoleh kekuasaan tidak hanya terbatas pada organisasi politik formal, tetapi juga terjadi di dalam setiap tipe kelompok, seperti organisasi keagamaan dan pendidikan. Tipe konflik kedua yang seringkali ditekankan oleh Weber adalah konflik dalam hal gagasan dan cita-cita. Dia berpendapat bahwa orang seringkali tertantang untuk memperoleh dominasi dalam hal pandangan dunia mereka, baik itu doktrin keagamaan, filsafat sosial, ataupun konsep tentang gaya hidup kultural yang terbaik. Lebih dari itu, gagasan dan cita-cita tersebut bukan hanya dipertentangkan, tetapi dijadikan senjata atau alat dalam pertentangan lainnya, misalnya pertentangan politik. Jadi, orang dapat berkelahi untuk memperoleh kekuasaan, dan pada saat yang sama, berusaha saling meyakinkan satu sama lain bahwa bukan kekuasaan itu yang mereka tuju, tetapi kemenangan prinsip-prinsip yang secara etis dan filosofis benar.

Jelaslah, Weber bukanlah seorang materialis ataupun idealis. Dalam kenyataannya, dia biasa disebut sosiolog modern sebagai contoh seorang pemikir yang mengkombinasikan pola penjelasan materialis dan idealis dalam pendekatan sosiologis yang bersifat menyeluruh. Jadi, Weber berpendapat bahwa gagasan bukan semata hasil dari kondisi-kondisi material yang ada, tetapi keduanya seringkali memiliki signifikansi kausalnya sendiri-sendiri.

Marx dan Weber juga bersimpangan jalan menyangkut kemungkinan untuk memecahkan konflik dasar dalam masyarakat masa depan. Marx berpendapat bahwa karena konflik pada dasarnya muncul dalam upaya meperoleh akses terhadap kekuatan produksi, sekali kekuatan ini dikembalikan kepada kontrol seluruh masyarakat, maka konflik dasar tersebut akan dapat dihapuskan. Jadi, sekali kapitalisme digantikan dengan sosialisme, kelas-kelas akan terhapuskan dan pertentangan kelas akan berhenti. Weber memiliki pandangan jauh lebih pesimistik dalam hal ini. Dia percaya bahwa pertentangan merupakan salah satu prinsip kehidupan sosial yang sangat kukuh dan tidak bisa dihilangkan. Dalam satu tipe masyarakat masa depan, baik kapitalis, sosialis, maupun tipe lainnya, orang-orang akan tetap selalu bertarung memperebutkan berbagai sumber daya. Karena itu, Weber menduga bahwa pembagian atau pembelahan sosial adalah ciri permanen dari semua masyarakat yang sudah kompleks, walaupun tentu saja akan mengambil bentuk-bentuk dan juga tingkat kekerasan yang secara substransial sangat bervariasi.

Walaupun pendekatan konflik Marxian dan Weberian telah dianut oleh banyak sosiolog modern, tidak berarti pendekatan ini mendapat dukungan universal. Namun demikian, Disertasi ini lebih condong kepada pendekatan yang dilakukan oleh Weber.

Suatu kebiasaan khas dalam konflik adalah pemberian prioritas yang tinggi guna mempertahankan kepentingan pihaknya sendiri. Apabila kepentingan A bertentangan dengan kepentingan B, maka A cenderung mengabaikan kepentingan B, atau secara aktif menghancurkannya.

Setidaknya ada lima pendekatan terhadap konflik, yang dibedakan oleh tinggi rendahnya perhatian, baik kepada diri sendiri ataupun kepada orang lain. Pertama, gaya “pertikaian”, yaitu apabila seseorang mempunyai keperdulian yang tinggi terhadap kepentingannya sendiri namun terhadap kepentingan orang lain keperduliannya rendah. Kedua, gaya mengalah, yaitu mengimplikasikan perhatian yang lebih terhadap kepentingan pihak lain ketimbang kepentingan diri sendiri. Ketiga, gaya menghindari konflik dan mengundurkan diri; gaya ini menunjukkan keperdulian yang rendah bagi diri sendiri dan bagi pihak lain. Keempat, adalah menyeimbangkan perhatian pada diri sendiri dengan pihak lain, mencari kompromi dan mencoba mengakomodasikan kepentingan kedua belah pihak. Alternatif kelima, memberikan penghargaan yang tinggi bagi kepentingan diri sendiri dan kepentingan pihak lain; ini mengimplikasikan penegasan yang kuat terhadap kepentingan sendiri, tetapi juga menyadari aspirasi dan kebutuhan pihak lain, berusaha untuk mencari hasil penyelesaian masalah secara kreatif (Ibid, 1999:6).

Apa yang terjadi ketika pendekatan konflik bagi kedua belah fihak dipertimbangkan secara bersama-sama? Pihak-pihak yang bertikai biasanya cenderung melihat kepentingan mereka sebagai kepentingan yang bertentangan secara diametrikal. Hasil yang diperoleh adalah hasil kalah-menang (satu pihak kalah, pihak yang lain menang) atau kompromi (mereka membagi perbedaan-perbedaan yang ada). Namun, dalam konflik dengan kekerasan, biasanya kedua-duanya sama-sama kalah (Fisher, 1997:1-5).

Jika tidak ada yang mampu memaksakan sebuah hasil atau bersedia untuk kompromi, pihak yang bertikai dapat memaksakan biaya yang sangat besar pada masing-masing pihak, yang pada akhirnya semua pihak berakhir dalam keadaan lebih buruk dibandingkan dengan jika mereka menggunakan strategi yang lain. Ketika yang bertikai menyadari hal ini, biasanya timbul motif kuat –yang didasarkan pada kepentingan sendiri— untuk mencapai hal yang lain, umpamanya berkompromi untuk mencapai penyelesaian dengan hasil menang-menang. Spektrum hasil yang seperti ini dapat lebih luas dibandingkan dengan apa yang diharapkan oleh pihak-pihak yang bertikai.

Secara tradisional, tugas penyelesaian konflik adalah membantu pihak-pihak yang merasakan situasi yang mereka alami sebagai sebuah situasi zero-sum (keuntungan diri sendiri adalah kerugian pihak lain) agar melihat konflik sebagai keadaan non-zero-sum (dimana kedua belah pihak dapat memperolah hasil atau keduanya dapat sama-sama tidak memperoleh hasil), kemudian membantu pihak-pihak yang bertikai ke arah hasil yang positif. Gambar 1 di bawah ini menunjukkan beragam hasil yang mungkin terjadi pada konflik antara Cain (Kabil) dan Abel (Habil).




Titik mana saja yang menuju ke kanan lebih baik bagi Abel. Setiap titik yang menuju ke atas lebih baik bagi Cain. Dalam kitab suci, yang menang adalah yang dibantu oleh Tuhan. Cain melihat situasi sebagai konflik zero-sum: pada angka 1 (hasil terbaiknya) dia memperoleh perkenan Tuhan, pada angka 2 (hasil paling jelek pada dirinya) Tuhan berpihak pada Abel. Semua kemungkinan yang lain terletak pada garis 1 sampai dengan 2 di mana Tuhan membagi perkenan-Nya, kurang lebih sama antara dua saudara ini. Angka 3 menggambarkan sebuah posisi komrpomi yang mungkin terjadi. Tetapi ada diagonal lain yang menggambarkan hasil bukan zero-sum, yang lebih menarik jika ditinjau dari perspektif penyelesaian konflik, yaitu kerugian bersama yang sebenarnya terjadi (titik 0) ketika Abel dibunuh oleh Cain, dan Cain kehilangan pertolongan Tuhan, sedangkan keuntungan bersama tidak mereka peroleh (angka 4) jika masing-masing menjadi pelindung saudaranya sendiri.

Bagaimana mungkin kedua belah pihak membingkai kembali posisi mereka jika mereka secara diametris bersebrangan? Salah satu gagasan klasik dalam penyelesaian konflik adalah membedakan antara posisi pihak yang bertikai dengan kepentingan serta kebutuhan tersembunyi mereka. Sebagai contoh, dua tetangga bertikai tentang sebatang pohon. Masing-masing dari mereka mengklaim bahwa pohon tersebut berada di tanah milik merka. Tidak ada kompromi yang mungkin dicapai, karena pohon tidak mungkin digergaji menjadi dua. Tetapi kepentingan salah seorang dari mereka adalah memanfaatkan buah pohon tersebut, dan kepentingan pihak lain adalah keteduhan yang diberikannya. Ryan (1990) mengatakan bahwa kepentingan sering kali lebih mudah direkonsiliasikan dibandingkan dengan posisi, karena biasanya ada sejumlah posisi yang mungkin memuaskan kepentingan yang tersembunyi, dan beberapa posisi tersebut dapat saling mengisi. Persoalannya akan menjadi lebih sulit jika konflik terjadi atas nilai-nilai –yang sering kali tidak dapat dinegosiasikan– atau hubungan yang perlu diubah untuk menyelesasikan konflik, meskipun ada prinsip yang sama dalam mencari tingkat kecocokan yang lebih dalam yang mendasari motif-motif mereka. Sejumlah analis membatasi dengan mengidentifikasi kepentingan dasar manusia (sebagai contoh: identitas, keamanan, kebertahanan untuk hidup) sebagai akar motif yang lain. Konflik yang sulit didamaikan dilihat sebagai akibat dari pengabaian terhadap kebutuhan semacam ini, dan konflik hanya dapat diselesaikan ketika kebutuhan itu dipenuhi. Argumen yang menimbulkan harapan dari analisis ini adalah ketika kepentingan dapat merupakan subjek bagi kelangkaan relatif, namun tidak demikian halnya dengan kebutuhan dasar relatif (sebagai contoh: keamanan bagi satu pihak diperkuat oleh keamanan yang lain). Sepanjang konflik diterjemahkan ke dalam bahasa kebutuhan (seperti konflik yang terjadi di Banten), sebuah hasil yang memuaskan kedua belah pihak akan dapat ditemukan.

Dalam beberapa peristiwa konflik, seringkali dibutuhkan peran pihak ketiga, yang dalam intervensinya diharapkan dapat mengubah dinamika konflik. Dalam hal ini, masukan pihak ketiga dapat mengubah struktur konflik dan menimbulkan sebuah pola komunikasi yang berbeda. Dengan demikian, memungkinkan pihak ketiga menyaring atau melihat kembali pesan-pesan, sikap dan perilaku mereka yang berkonflik. Intervensi ini dapat mengurangi spiral umpan balik.

Pihak ketiga itu harus “mempunyai kekuasaan”, ketika dia memberikan dorongan bagi penyelesaian konflik. Istilah “kekuasaan” memiliki dua makna. Di satu pihak istilah ini bermakna kekuasaan untuk memerintah, menertibkan, melaksanakan –kekuasaan yang memaksa atau kekuasaan yang “keras”. Di lain pihak istilah ini bermakna kekuasaan untuk melahirkan kerja sama, untuk melegitimasi, untuk memberi inspirasi –kekuasaan yang perpuasif atau kekuasaan yang “lunak”. Kekuasaan yang keras selalu penting dalam konflik dengan kekerasan; tetapi sebaliknya, kekuasaan yang lunak penting dalam konflik yang dikelola secara damai. Kenneth Boulding (1989) menamakan kekuasaan yang pertama sebagai “kekuasaan yang mengancam” (“do what I want or I will do what you don’t want”). Mengikuti para ahli teori manajemen-kerja negosiasi, lebih jauh ia membedakan dua bentuk kekuasaan lunak, yaitu “pertukaran kekuasaan”. Ini diasosiasikan dengan pendekatan tawar menawar dan kompromi (“do what I want and I will do what you want”), dan “kekuasaan integratif” yang diasosiasikan dengan persuasi dan pemecahan masalah jangka panjang yang bersifat transformatif (“together we can do something that is better for both of us”). Para pemecah konflik mencoba menggeser penekanan dari penggunaan kekuatan atau kekuasaan ancaman menuju ke penggunaan kekuasaan yang dapat dipertukarkan dan diintegrasikan.

Pihak ketiga, seperti para politisi dan pemerintah, dapat menggunakan semua bentuk kekuasaan ini. Dilihat dari segi intervensi pihak ketiga adalah berguna untuk membedakan antara mediator yang berkuasa, atau “mediator dengan otot”, yang membawa sumber kekuasaan mereka, dengan mediator yang tidak mempunyai kekuasaan, yang perannya ditentukan hanya untuk komunikasi dan fasilitas. Diplomasi jalur I melibatkan jabatan pemerintah atau perwakilan antarpemerintah, yang dapat menggunakan jasa, media, dan teknik yang baik dalam memberi imbalan atau hukuman atau memaksakan hasil tertentu, yang secara tipikal ada bersama-sama dengan garis menang-kalah atau garis tawar menawar (antara angka 1, 3, dan 2 dalam Gambar 1 di atas). Diplomasi jalur II, sebagai kebalikannya, melibatkan mediator bukan pejabat pemerintah yang tidak mempunyai kemampuan untuk memberikan penghargaan atau hukuman. Mereka bekerja dengan pihak-pihak atau dengan konstituen mereka untuk memfasilitasi kesepakatan, mendorong pihak-pihak yang terlibat untuk melihat keadaan yang sulit sebagai sesuatu yang terletak sepanjang garis kalah-kalah atau menang-menang (antara angka 0, 3, dan 4 dalam Gambar 1 di atas) dan untuk menemukan hasil yang saling menguntungkan.

Secara garis besar, konflik dapat dibedakan atas konflik simetris dengan konflik tidak simetris. Konflik kepentingan antara fihak-fihak yang relatif sama adalah contoh konflik simetris. Namun konflik dapat juga muncul antara pihak-pihak yang tidak sama, seperti konflik antara minoritas dengan mayoritas, sebuah pemerintahan yang sudah mapan dengan kelompok pemberontak, seorang majikan dengan karyawannya. Ini adalah konflik yang tidak simetris. Di sini, akar konflik terletak bukan pada masalah atau kepentingan tertentu dalam struktur dan hubungan antara mereka. Karenanya, struktur peran dan hubungan ini tidak dapat diubah tanpa menimbulkan konflik.

Penyelesaian konflik klasik, menurut sebagian pakar konflik, berlaku hanya pada konflik simetris. Dalam konflik yang strukturnya tidak simetris yang kuat selalu menang, sedangkan pihak yang lemah selalu kalah. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik jenis ini adalah dengan mengubah strukturnya, tetapi hal ini tidak menjadi keinginan pihak yang lebih kuat. Sehingga di sini tidak ada hasil menang-menang, dan pihak ketiga harus menggabungkan kekuatan dengan pihak yang lemah untuk menghasilkan pemecahan.

Akan tetapi, dari sudut pandang lain, konflik yang tidak simetris bahkan menimbulkan korban pada masing-masing pihak. Menindas harus bersipat menindas, meskipun tidak begitu menindas seperti ketika menjadi pihak yang ditindas. Ada resiko bagi pihak yang kuat dalam mempertahankan diri mereka sendiri dalam kekuasaan dan menjaga pihak yang lemah tetap berada di bawah. Dalam sebuah konflik tidak simetris yang akibatnya sangat keras, resiko hubungan menjadi sesuatu yang tidak dapat ditahan oleh kedua belah pihak. Hal ini kemudian membuka kemungkinan bagi penyelesaian konflik melalui pergeseran dari struktur hubungan yang sudah ada menuju ke struktur hubungan yang lain.

Peran pihak ketiga adalah membantu dengan transformasi ini, jika perlu berkonfrontasi dengan pihak yang kuat. Ini bermakna mentransformasikan hubungan yang tidak damai, hubungan yang tidak seimbang ke dalam hubungan yang penuh damai dan dinamis. Gambar 2 di bawah memperlihatkan bagaimana jalan dari hubungan yang tidak damai menuju ke hubungan yang damai, yang dapat melibatkan peningkatan sementara dalam konflik ketika orang-orang menyadari kekuasaan yang tidak seimbang mempengaruhi mereka (tingkatan 1, pendidikan atau kehati-hatian), mengorganisasi diri mereka sendiri dan mengartikulasikan keluhan mereka (tingkatan 2, konfrontasi), mensejajarkan diri dengan mereka yang mempunyai kekuasaan yang lebih besar (tingkatan 3, negosiasi), dan akhirnya bergabung dalam restrukturasi hubungan yang lebih adil dan lebih pantas (tingkat 4, resolusi).



Banyak cara yang dapat didekati tanpa menggunakan paksaan. Ada taktik a la Gandhi: “mengatakan yang benar pada kekuasaan”, mempengaruhi dan membujuk para pemegang kekuasaan. Kemudia ada taktik memobilisasi gerakan massa, meningkatkan solidaritas, melakukan demonstrasi, menuntut perubahan. Meningkatkan kesadaran konflik di antara pendukung eksternal dan internal fihak yang kuat untuk dapat memperlemah rezim (seperti yang terjadi pada tahun 1998 ketika mahasiswa menentang Orde Baru). Struktur kekuasaan yang tidak setara adalah tidak stabil, karena dipengaruhi oleh beragam jenis penopang; karenanya menghilangkan penyangganya dapat meruntuhkan struktur yang tidak seimbang. Taktik yang lain adalah memperkuat dan memberdayakan pihak yang lemah. Pihak yang lemah dapat menarik diri dari hubungan yang tidak seimbang dan mulai membangun hubungan yang baru, yakni pendekatan institusi paralel. Cara damai menggunakan kekuasaan yang lunak untuk bergerak ke arah hubungan yang lebih seimbang.

Pada akhir tahun 1960-an, Galtung (1969, 1996:72) mengajukan sebuah model konflik yang berpengaruh, yang meliputi konflik yang simetris ataupun konflik yang tidak simetris. Dia mengatakan bahwa konflik dapat dilihat sebagai sebuah segi tiga, dengan kontradiksi ‘Contradiction’ (C), sikap ‘Attitude’ (A), dan perilaku ‘Behaviour’ (B) (lihat Gambar 3 di bawah).



Di sini kontradiksi (contradiction) yang merujuk pada dasar situasi konflik, yang termasuk “ketidakcocokan tujuan” yang ada atau yang dirasakan oleh pihak-pihak yang bertikai, menurut Mitchell (1981:18) disebabkan oleh “ketidakcocokan antara nilai sosial dan struktur sosial”. Dalam sebuah konflik yang tidak simetris, kontradiksi ditentukan oleh pihak-pihak yang bertikai, hubungan mereka dan benturan kepentingan inheren antara mereka dalam berhubungan. Sikap (attitude) yang dimaksud termasuk persepsi pihak-pihak yang bertikai dan kesalahan persepsi antara mereka dan dalam diri mereka sendiri. Sikap ini dapat positif atau negatif, tetapi dalam konflik dengan kekerasan, pihak-pihak yang bertikai cenderung mengembangkan stereotipe yang merendahkan masing-masing, dan sikap ini sering kali dipengaruhi oleh emosi seperti ketakutan, kemarahan, kepahitan, dan kebencian. Sikap tersebut termasuk elemen emotif (perasaan), kognitif (keyakinan), dan konatif (kehendak). Para analis yang menekankan aspek subjektif ini dikatakan mempunyai pandangan ekspresi terhadap sumber-sumber konflik. Perilaku (behaviour) adalah komponen ketiga. Perilaku dapat termasuk kerja sama atau pemaksaan, gerak tangan atau tubuh yang menunjukkan persahabatan atau permusuhan. Perilaku konflik dengan kekerasan dicirikan oleh ancaman, pemaksaan, dan serangan yang merusak. Para analis yang menekankan aspek objektif mengatakan bahwa sumber konflik itu adalah hubungan struktural, kepentingan material, dan perilaku yang bertentangan.

Galtung berpendapat bahwa tiga komponen harus muncul bersama-sama dalam sebuah konflik total. Sebuah struktur konflik tanpa sikap atau perilaku yang bersifat konflik merupakan sebuah konflik laten (atau konflik struktural). Galtung melihat konflik sebagai proses dinamis yang ketiga komponennya, yaitu struktur, sikap, dan perilaku secara konstan berubah dan mempengaruhi satu sama lainnya. Ketika kepentingan pihak-pihak yang bertikai masuk ke dalam formasi konflik, maka muncullah konflik, yang salah satu di antara mereka akan menjadi penindas. Kemudian pihak-pihak yang bertikai mengorganisasikan diri di sekitar struktur ini untuk mengejar kepentingan mereka. Mereka mengembangkan sikap yang membahayakan dengan perilaku yang bersifat konflik. Dengan begitu formasi konflik mulai tumbuh dan berkembang. Sebagaimana yang biasa terjadi, konflik dapat melebar, menarik pihak-pihak yang berada di luar, sehingga terseret masuk ke dalam konflik itu. Hal ini seringkali merumitkan tugas menyelesaikan konflik asal atau konflik inti. Bagaimanapun juga pada akhirnya, dalam penyelesaian konflik harus melibatkan seperangkat perubahan dinamis yang memungkinkan penurunan perilaku konflik, perubahan sikap, dan mentransformasikan hubungan atau kepentingan yang berbenturan, yang berada dalam inti struktur konflik.

Gagasan yang berhubungan dengan gagasan Galtung, adalah perbedaan antara kekerasan langsung (anak-anak dibunuh), kekerasan struktural (anak-anak mati dalam kemiskinan), dan kekerasan budaya (apapun yang membutakan kita atau membenarkan bentuk kekerasan). Kita dapat mengakhiri kekerasan langsung dengan perubahan perilaku konflik, kekerasan struktural dengan memindahkan kontradiksi struktural dan ketidakadilan, serta kekerasan budaya dengan mengubah sikap.

Model lain dalam mendekati konflik adalah Dinamika Konflik. Model ini melihat formasi konflik muncul dari perubahan sosial, kemudian membawanya menuju pada proses transformasi konflik kekerasan atau konflik tanpa kekerasan. Kemudian melahirkan perubahan sosial di mana individu atau kelompok yang ditekan atau disingkirkan dapat muncul untuk mengartikulasikan kepentingan mereka dan menantang norma-norma dan struktur kekuasaan yang ada.

Sebagai respon terhadap pola konflik tidak simetris yang berlaku, model transformasi konflik yang diperkenalkan oleh Curle di atas (Gambar 2) telah dikembangkan lebih jauh oleh Francis (1994) seperti Gambar 4 di bawah.



Asimetri yang inheren dalam situasi kekuasaan yang tidak seimbang dan kebutuhan yang tidak terpenuhi –yang akhirnya membawa pada konfrontasi terbuka– berkurang dengan meningkatnya kesadaran, mobilisasi, dan pemberdayaan. Mobilisasi dan konfrontasi lanjutan dapat mengikuti, atau transformasi kemampuan penyelesaian konflik dapat cukup jauh menjangkau guna mengakomodasi perubahan sosial dan politik secara damai di masa depan dalam sebauh proses pelembagaan yang disepakati. Elemen yang ada dalam kotak besar pada Gambar 4 adalah elemen yang secara tradisional dilihat sebagai penyelesaian konflik, tetapi elemen-elemen ini dapat juga dilihat guna memainkan peran pelengkap dalam proses transformasi hubungan tidak simetris yang lebih besar (van der Merwe, 1999: 1-8).

Akhirnya, adalah berharga juga memperhatikan bahwa tujuan penyelesaian konflik adalah bukan untuk menghilangkan konflik, yang tampaknya mustahil dan, seperti yang dibuat menjadi jelas dalam model Curle tentang trasformasi konflik yang tidak simetris, seringkali tidak dikehendaki. Tujuan penyelesaian konflik pada penelitian ini adalah mentransformasi konflik dengan kekerasan yang ada atau yang berpotensi untuk ada menjadi proses perubahan sosial atau politik yang penuh damai (tanpa kekerasan). Ini adalah tugas yang tidak mungkin berakhir karena bentuk-bentuk dan sumber-sumber baru konflik terus bermunculan.

Bandung, 16 Februari 2009

DAFTAR PUSTAKA

Adorno, T.W. 1950. The Authoritarian Personality. New York: W.W. Norton

Anderson, Benedict R. O’G. 1970. “The Idea of Power in Javanese Culture”. In Claire Holt (ed.), Culture and Politics in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press.

Anderson, B. 1983. Imagined Communities. London: Verso.

Apter, David E. 1963. “Political Religion in the New Nations” . In Clifford Geertz (ed.) Old Societies and New States. New York: The Free Press.

Apter, David. E. 1985. Pengantar Analisa Plitik Jakarta: LP3ES.

Asad, Talal. 1983. “Anthropological Conceptions of Religion: Reflections on Geertz”. In Man No. 2, 1983.

Ayoob, M. 1996. “State making, state breaking, and state failure. In Crocker and Hampson (eds) Manging Global Chaos: Sources of and Responses to International Conflict. Washington, DC: Creative Associates International Inc.

Azar, E. 1979. “Peace amidst development”. International Interactions, 6 (2): 203-40

Azar, E. 1986. Protracted international conflict: ten propositions. In Azar and Burton, International Conflict Resolution: Theory and Practice. Sussex: Weatsheaf.

Azar, E. 1990. The Management of Protracted Social Conflict: Theory and Cases. Aldershot: Dartmouth.

Azar, E. 1991. “The analysis and management of protracted social conflict. In Volkan, Montville and Julius (eds). The Psychodynamics of International Relationship, vol. II. Lexington, MA: D.C. Heath.

Azar, E. and Cohen, S. 1981. “The transition from war to peace between Israel and Egypt. Journal of Conflict Resolution, 7 (4): 317-36.

Azar, E., Jureidini, P. and McLauren, R. 1978. “Protracted social conflict: theory and prasctice in the Middle East”. Journal of Palestine Studies 8 (1): 41-60.

Bendix, Reinhard, 1980. King or People: Power and the Mandate To Rule. Berkeley: University of California Press.

Berger, Peter L. 1986. The Capitalist Revolution. New York: Basic Books.

Binford, L.R. 1968. “Post Pleistocene adaptation”. In L.R. & S. Binford (ed.), New Perspectives in Archaelogy. Chicago: Aldine Publishing Co.

Bloomfield, L. and Leiss, A. 1969. Controlling Small Wars: A Strategy for the 1970s. New York: Knopf.

Bloomfield, L. and Moulton, A. 1997. Managing International Conflict: From Theory to Policy. New York: St Martin’s Press.

Bogna, R. & S.J. Taylor. 1975. Introduction to Qualitative Research Methods. New York: John Wiley.

Boulding, K. 1989. Three Faces of Power. Newbury Park, C.A.: Sage.

Brewer, Anthony. 1984. A Guide to Marx’s Capital. Cambridge, Eng; Melbourne: Cambridge U.P.

Brown, M. (ed). 1993. Ethnic Conflict and International Security. Princeton University Press.

Brown, M. (ed). 1996. The International Dimensions of Internal Conflict. Cambridge,MA: MIT Press.

Bull, H. and Waston, A. 1984. The Expansion of International Society. Oxford: Clarendon Press.

Buzan, B. 1991. People States and Fear: An Agenda for International security Studies in the Post-Cold War Era (2nd edn) Boulder, CO: Lynne Rienner.

Chazan, N., Mortimer, R. Ravenhill, J. and Rothchild, D. 1992. Politics and Society in Contemporary Africa. Boulder, CO: Lynne Rienner.

Chubin, S. 1993. “The South and the New World Order. Washington Quarterly, 16 (4): 87-107.

Clark, I. 1997. Globalization and Fragmentation: International Relations in the Twentieth Century. Oxford: Oxford University Press.

Curle, A. 1971. Making Peace. London: Tavistock.

Cohen, Jean L. & Andrew Areto. 1994. Civil Society and Political Theory. Cambridge, Massachussets: The MIT Press.

Conflict Management Group. 1993. Methods and Strategies in Conflict Prevention: Report of an Expert Consultation in Connection with the Activities of the CSCE High Commissioner on National Minoroties. Cambridge,MA: Conflict Management Group.

Connolly, William E. 1967. Political Science and Ideology. New York: Antherton Press.

Creative Associates. 1997. Preventing and Mitigating Violent Conflicts. Washington, DC: Creative Associates International, Inc.

Dahrendorf, Ralf. 1994. “Class and Calss Conflict in Industrial Society”. In David B. Grusky (ed.), Social Statification: Class, Race, and Gender in Sociological Perspective. Boulder-San Francisco-Oxford: Westview Press.

Darby, J. 1998. Scorpions in a Bottle: Conflicting Cultures in Northern Ireland. London: Minoruty Rights Publications.

Davies, J., Harff, B. and Speca, A. 1997. Dynamic Data for Conflict early Warning: Synergy in Early Warning. Toronto: Prevention/Early Warning Unit, Center for International and Security Studies.

Davies, N. 1996. Europe: A History. Oxford: Oxford University Press.

de Nevers, R. 1993. “Democratization and Ethnic conflict. In Brown (ed): 61-78.

Deutsch, M. 1973. The Resolution on Conflict: Constructive and Destructive Precesses. New Haven: Yale University Press.

Diamond, Larry & Marc F. Plattner. 1994. Nationalism, Ethnic Conflict, and Democracy. The Johns Hopkins University Press.

Esty, D. et al. 1995. State Failure Task Force Final Report. Vol. 1: Science Applications International Corporation Inc.

Fisher, Ronald J. 1997. Interactive Conflict Resolution. Syracuse, New York: Syracuse University Press.

Francis, D. 1994. “Power and Conflict Resolution”. International Alert, Conflict Resolution Training in the North Caucasus Georgia and the South of Russia. London: International Alert, 11-20 April 1994.

Galtung, J. 1969. “Conflict as a way of life”. In Freeman (ed.), Progress in Mental Health. London: Churchill.

Galtung, J. 1996. Peace by Peaceful Means: Peace and Conflict Development and Civilization. London: Sage.

Garna, Judistira K. 2001. Pendekatan Etnografi ke Arah Kebijakan Kebudayaan dalam Perkembangan Peradaban Indonesia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Antropologi dan Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. Bandung: Departemen Pendidikan Nasional – UNPAD.

Garna, Judistira K. 1999. Metode Penelitian: Pendekatan Kualitatif. Bandung: Primaco Akademika c.v.

Garna, Judistira K. 1996. Ilmu-ilmu Sosial: Dasar-dasar Posisi. Bandung: Penerbit Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

Garstin, L.H. 1954. Each Age Is A Dream: A Study in Ideology. New York: Old Oregon.

Geertz, Clifford. 1965. “Ideology as a Cultural System”. In David After (ed.), Ideology and Discontent. New York: The Free Press.

Geertz, Clifford. 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Glazer, N. 1983. Ethnic Dilemmas 1964-1982. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Goodenough, W.H. 1957. “Cultural Anthropology and Linguistics”. In P. Garvin (ed.), Report of the Seventh Annual Round Table Meeting on Linguistics and Language Study. Monograph Series on Language and Linguistics, 9. Washington, D.C.: Georgetown University.

Goodenough, W.H. 1961. “Cultural Evolution”. In Daedalus 90.

Gurr, T. 1993. Minorities at Risk: A Global View of Ethnopolitical Conflict. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Gurr, T. 1998. ”Assessing risks of future ethnorebellions”. In Gurr (ed), Peoples Versus States. Washington: United States Institute of Peace.

Gurr, T. and Harff, B. 1994. Ethnic Conflict in World Politics. Boulder, CO: Westview Press.

Gurr, T. and Harff, B. 1996. Early Warning of Communal Conflicts and Genocide: Linking Empirical Research to International Responses. Tokyo: United Nations University.

Helman, G. and Ratner, S. 1992-3. “Saving failed states”. Foreign Policy, 89 (Winter): 3-30.

Holsti, K. 1996. The State, War, and the State of War. Cambridge: Cambridge University Press.

Horowitz, D. 1985. Ethnic Groups in Cinflict. Berkeley, CA: University of California Press.

Horowitz, D. 1991. “Making moderation pay: the comparative politics of ethnic conflicts management. In Mintville (ed), Cinflict and Peacemaking in Multiethnic societies. New York: Lexington Books.

Huntington, S. 1997. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York: Simon and Schuster.

Ilchman, Warren F & Norman Thomas Uphoff. 1969. The Political Economy of Change. Berkeley: University of California Press.

Jackson, R. 1990. Quasi-states, Sovereignty, international Relations and the Third World. Cambridge: Cambridge University Press.

Jongman, A. and Schmid, A. 1998. World Conflict and Human Right Map. Leiden: Leiden University.

Keesing, Roger M. 1981a. ”Theories of Culture”. In Ronald W. Casson (ed.), Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives. New York: Macmillan Publishing Co.,Inc.

Keesing, Roger M. 1981b. Cultural Anthropology: A Contemporary Perspective I, Secon Edition. CBS College Publishing.

Kennedy, P. 1993. Preparing for the Twenty First Century. London: Harper Collins.

Kerman, C. 1974. Creative Tension: The Life and Thought of Kenneth Boulding. Ann Arbor: Michigan.

Kim, S. and Russett, B. 1996. “The new politics of voting alignments in the United Nation General Assembly. International Organization, 50: 629-52.

Kleden, Ignas. 2001. Menulis Politik: Indonesia Sebagai Utopia. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Kriesberg L. 1982. Social Conflicts. Englewood Cliffs,N.J.: Prentice-Hall

Leach, Edmund. 1986. Social Anthropology. Glasgow: Fontana Press.

Lederach, J. 1995. Preparing for Peace: Conflict Transformation Across Culture. New York: Syracuse University Press.

Leech, Geoffrey, 1981. “Colour and Kinship: Two Case Study in Universal Semantics”. In Ronald W. Casson (ed.), Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives. New York: Macmillan Publishing Co., Inc.

Lichbach, M. 1989. “Än evaluation of ‘does economic inequality breed conflict?’ studies”. World Politics, 41 (4): 431-71.

Lijphart, A. 1977. Democracy in Plural Societies. New Haven, CT: Yale University Press.

Lijphart, A. 1995. “Self-determination versus pre-determination of ethnic minorities in power-sharing system”. In Kymlicka (ed), The Rights of Minority Cultures. Oxpord: Oxpord University Press.

Magnis-Suseno, Franz. 1988. Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.

Mannheim, Karl. 1979 (1936). Ideology & Utopia. London & Henley: Routledge and Kegal Paul

Mansfield, E. and Snyder, J. 1995. “Democratization and the danger of war. International Security, 20 (1): 5-38.

McGarry, J. and O’Leary, B. (eds) 1993. The Politics of Ethnic Conflict RegulationI. London: Routledge.

Merkl, Peter H. 1967. Continuity and Change. New York: Harper and Row.

Miall, Hugh; Oliver Ramsbotham; & Tom Woodhouse. 1999. Contemporary Conflict Resolution. Cambridge: Polity Press.

Mitchell, C. 1981. The Structure of International Conflict. London: Macmillan.

Moore, Wilbert E. 1961. “The Social Framework of Economic Development”. In R. Braibanti & J.J. Spengler (ed.), Tradition, Values, and Socio-Economic Development. Durham, Nort Carolina: Duke University Press.

Munck, R. 1986. The Difficult Dialogue: Marxism and Nationalism. London: Zed Books.

Nye, J. 1993. Understanding International Conflicts; An Introduction to Theory and History. New York: Harper Collins.

Palombara, Joseph La. 1966. “Decline of Ideology: A Dissent and an Interpretation”. In American Political Science Review LX, 1, March 1966.

Pennock, J. Roland. 1979. Demicratic Political Theory. Princeton: Princeton University Press.

Posen, B. P. 1993. “The security dilemma and ethnic conflict. In Brown (ed).: 103-24.

Pye, Lucian W. 1965. “Introduction: Political Culture and Political Development”. In Lucian W. Pye and Siney Verba (ed.), Political Culture and Political Development. Princeton: Princeton University Press.

Rogers, P. and Raamsbotham,O. 1999. “Peace research — past and future. Political Studies (forthcoming).

Rauf, Maswadi. 1996. “Konflik Politik dan Integrasi Nasional”. Dalam Saafroedin Bahar dan A.B. Tangdililing (ed.), Integrasi Nasional: Teori, Masalah dan Strategi. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Rejai, Mostafe. 1971. “Political Ideology: Theoritical and Comparative Perspectives”. In Mostafe Rejai (ed.), Decline of Ideology? Chicago: Aldine-Atherton.

Ryan,S. 1990. Ethnic Conflict and International Relations. Brookfield,V.T.: Dartmouth.

Sartori, Giovanni. 1969. “Politics, Ideology, and Belief Sysytem”. In American Political Science Review 3, No.2. June 1969.

Schwartz, T. 1978. “Where is the Culture? Personality as the Distributive Locus of Culture”. In G.D. Spindler (ed.), The Making of Psychological Anthreopology. Berkeley: University of California Press.

Schmid, A. 1997. “Ëarly Warning of Violent Conflict”. In P. Schmid (ed), Violent Crime and Conflict. Milan: ISPAC.

Sherman, F. 1987. Pathway to Peace: The United Nations and the Road to Nowhere. Pennsylvania: Pennsylvania State University.

Sisk, T. 1996. Power Sharing and International Mediation in Ethnic Conflict. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Smith, A. 1986. The Ethnic Origins of Nations. Oxford: Blackwell.

Smith, A. 1995. Nations and Nationalism in Global Era. Cambridge: Polity Press.

Snow, D. 1996. Uncivil Wars: International Security and the New Internal Conflicts. Boulder, CO: Lynne Rienner.

Suganami, H. 1996. On the Causes of War. Oxford: Clarendon Press.

Suharto, 2001. Banten Masa Revolusi, 1945-1949: Proses Integrasi dalam Negara kesatuan Repulbik Indonesia. Disertasi UI.

van der Merwe, H. 1999. Pursuing Justice and Peace in South Africa. London: Routledge.

Weber, Max. 1978. Economy and Society. 2 volumes. Edited by Guenther Roth and Claus Wittich. Berkeley: University of California Press.

Weidner, Edward. 1968. “Development Change and the Social Sciences: Conclusion”. In. A Gallaher, Jr. , Perspectives in Developmental Change. Lexington: University of Kentucky Press.

Zartman, W. 1997. “Toward the resolution of international conflicts. In Zartman and Rasmussen (eds), Peacemaking in International Conflict: Methods and Techniques. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Zartman, W. (ed) 1996. Elusive Peace: Negotiating an End to Civil Wars. Washington, DC: Brookings Institution.

MUN SAYAH MIANG TI HEULA

November 3, 2010

Pisaminggueun Ki Haji mangkat, kuring jeung ki sobat, Sentot masih sempet ngobrol. Ngahaja kuring jeung Sentot datang ngalayad Ki Haji anu cenah geus lila nandangan kasakit. Kasakitna teh teu puguh, poe ieu nyeri na tikoro nepi ka teu bisa nelen, isukanna eungap teu bisa napas, isukna deui panonna sabeulah teu bisa beunta. Geus puguh ari awak mah cenah asa disasaak, nyeri satulang sandi. Ka dokter teu aya tapakna, malah mah geus ka rumah sakit di Singapura sagala.

Nuhun sobat-sobat geus ngahaja datang kadieu. Tah, kieu bubuktianana kuring teh. Awak tinggal tulang dibungkus ku kulit. Geus teu bisa walakaya. Ngan alhamdulillah ari ingetan mah teu dipundut ku Gusti teh,” Ki Haji nyaritana dareuda.

Kuring jeung Sentot silih pelong.

Asa karek kamari ieu kuring jeung Ki Haji jalan-jalan dina motor bari silih tempas silih eledan. Harita balik kuliah wayah lohor Ki Haji ngajak neang kabogohna di Sumedang. Ber bae kuring jeung Ki Haji indit numpak vesva. Kuring nu nyetiran. Datang ka Sumedang kasampak si mojang donto anu jadi buah hate Ki Haji teh keur aya di golodog. Atuh ningali kabogohna datang teh kacida giakna. Sagala disuguhkeun, malahan mah dahar ge rencang sanguna ngahaja ngabedahkeun heula balong anu aya di tukangeun imahna. Ma’lum atuh boga kabogoh mahasiswa. Jaman harita, mahasiswa teh masih aya regaan. Balikna hujan ngagebret. Di hareupeun pabrik Gran Tex ujug-ujug aya anu meuntas teu luak-lieuk, hampir bae katabrak. Motor dierem tapi ngagolosor, da jalanna leueur, atuh da hujanna gede kacida. Ki Haji langsung turun tina motor, nyampeurkeun nu hampir katabrak tea. Teu antaparah deui, bari nyarita rada nyereng, Ki Haji ngan gewewek bae nangkeup bari nyium. Anu nu dicium teh cecerewetan. Sihoreng nu meuntas teh budak awewe.

Ki Haji teh memang beuki heureuy. Hiji waktu kabeneran kuliah keur teu aya dosenna, nya bring bae kuring jeung Ki Haji ulin ka kosan Euis, babaturan sakelas, deukeut kampus. Ari imah kosan teh muka. Da geus wanoh tea, bus bae kuring jeung Ki Haji teh asup ka imah. Ki Haji lungak-longok ka dapur. Geus rada lila bet teu embol-embol. Na ari teu pati lila cerewet teh sora nu boga imah ngajerit di kamer bari disambung ku sora Ki Haji ngabarakatak seuri ngeunah naker. Sihoreng Ki Haji teh saenggeus ningali di dapur euweuh sasaha terus ngalongok kamer anu muka, di jero aya nu keur ngagoler bari ngaguher. Atuh langsung dieleketek nu ngaguher teh, nepi ka cecerewetan.

Na, ari ayeuna, Ki Haji kaayaanna pikahariwangeun. Panon sabeulah peureum, lain lolong ieu mah, tapi teu bisa dikiceupkeun. Da ari nu gering mah kudu dihibur, nya kuring jeung Sentot teh ngobrolkeun hal-hal anu matak ngagumbirakeun bae.

Sigana mah Ki Haji teh babaturan nu pangbeungharna. Teu rek disebut kitu kumaha, coba bae, imahna aya dua, nu hiji kamerna 10 masing-masing 4X5 meter. Di unggal kamer aya jambanan kumplit cai panas. Sakuriling imah aya tamanan anu kembangna rupa-rupa. Ceuk pamajikanna anggrek ge aya 50 macem. Imah nu hijina mah teu nyaho dan can pernah kadinya. Tadina mah kuring teh rada su’udon, boa-boa Ki Haji teh korupsi. Tapi barang kuring ngobrol jeung supirna, tetela Ki Haji teh boga usaha anu jugala. Manehna teh boga pausahaan ekspor-impor, salian ti eta boga bisnis kana lateks jeung sawit. Paingan meni lubak libuk.

Yeuh, sobat-sobat, tetela materi anu kacida lobana teh ari keur gering kieu mah teu bisa diasaan ngeunahna, teu bisa diicip-icip ni’matna.” Ki Haji nyaritana semu humandeuar. “Sigana mah sayah teh tereh mulih ka jati mulang ka asal.”

Ih, sing sabar, sobat. Sagala panyakit ge aya ubarna,” ceuk kuring ngupahan.

Tapi cek dokter hese obatna teh. Eta teh cek dokter RS Siloam basa sayah diopname,”

Enya hampura basa keur diopname teh teu ngalayad, da teu nyaho,” Sentot tamada.

Teu nanaon,da jarauh. Ngan salila di RS Siloam teh sayah boga pangalaman anu aheng, anu nyadarkeun hate, nepi ka sayah ayeuna geus siap lamun dipundut ku Gusti Nu Mahasuci ge.”

Pangalaman naon eta teh?” Kuring hayang buru-buru nyaho.

Pan sayah teh ditempatkeun di kamer nu pangluhurnya. Ari di Siloam mah teu kaci ditungguan pasien teh. Tah, tengah peuting ujug-ujug keueung bae; ari ti kajauhan katingali lampu patingkarelip. Ku sabab keueung teh teu bisa disinglar-singlar, nya sayah teh nyokot hp, maksudna mah rek nelepon pamajikan, rek ngobrol jeung pamajikan, tamba keueung. Tapi tetela telepon teh teu nyambung-nyambung. Ari ditingali, pulsana beak. Subhanallah, Gusti, di kamer ngan ukur sorangan, ti kajauhan katingali lampu nyaangan dunya, rek ngageroan batur teu bisa da teu boga pulsa. Sayah teh ngado’a, muga-muga pamajikan nelepon; da kalah cape nu nungguan. Pamajikan mah di imah meureun nyangka sayah teh keur istirahat, padahal boro-boro istirahat. Nu jelas mah sapeupeuting teu ngeunah cicing. Keueung teh matak aneh. Meureun kieu maot teh, hate noroweco sorangan. Nu maot teh siga jalma boga hp tapi teu boga pulsa; teu bisa ngahubungi tapi bisa dihubungi. Mana balik ti Siloam teh langsung bae ngumpulkeun saanak-pamajikan, rek amanat, peupeujeuh engke lamun sayah geus ninggalkeun dunya wayahna kiriman do’a, da nu maot mah ngan ukur bisa narima…., narima kiriman do’a. Lamun euweuh nu ngiriman do’a, meureun kacida kasiksana. Pangalaman harita ge keur di Siloam kacida sangsarana, komo di alam kubur meureun….” Ki Haji nyaritana teh dareuda.

Kuring jeung Sentot sedih ngadenge Ki Haji ngadongengkeun pangalamanna di rumah sakit teh.

Mana sayah ge rek amanat ka dulur-dulur, lamun sayah miang ti heula, kiriman sayah do’a. Ngan sakitu nu dipiharep teh.”

Ngadenge kitu teh, teu kuat kuring jeung Sentot ngagabrug Ki Haji. Tiluan paungku-ungku. Duh Gusti, pasihan landong dulur kuring, dina jero hate kuring ngajerit ka Gusti.

Saminggu ti harita, dina poe Kemis malem Juma’ah minggu kahiji bulan puasa taun 2005, jam 11 peuting, Ki Haji ngantunkeun. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Nun Gusti, mugi kersa ngahapunten samudaya kalepatan Ki Haji, mugi diangken janten umat Rasulullah saw. Mugi Ki Haji dipasihan Jannatunna’im. Amin.

 

Cigiringsing Garden, 22 Mei 2010.

Pangemut-ngemut ka jenatna H. Suherlan, Drs., M.Pd. (Kandidat Doktor UNJ).

 

PULANG

November 3, 2010

Memang aku ini gila. Minimal kata temanku. Gila karena aku ingin pulang. Ya, pulang ke tanah airku, tempat ibuku melahirkanku. Tempat aku dulu menyusu ke tetek ibuku. Tempat dulu waktu kecil aku bertengkar dengan saudara-saudaraku. Tempat dulu aku bermanja-manja dengan nenek dan kakekku. Tempat dulu waktu aku dipalak preman saat pulang sekolah di SMP. Tempat dulu aku jatuh dari pohon melinjo saat memetik tangkil. Pokoknya, tempatku dulu yang penuh kenangan manis dan pahit!

Ya, memang aku gila. Minimal kata temanku.

Di sini, di kota yang penuh dengan gelimang harta serta ditemani istri yang jelita, justru aku ingin pulang. Padahal kata “pulang” itu harus dipertanyakan. Bukankah aku di tanah air sudah tidak punya siapa-siapa? Seluruh keluargaku telah berpulang, direnggut Sunami! Bahkan pondasi rumahnya pun sudah tidak dapat diketemukan lagi. Jadi, aku pulang ke mana? Kepada siapa? Makanya aku dikatakan gila, minimal oleh teman-temanku.

Setamat SMA takdirku dijalani di negara kapitalis ini. Negara yang riuh rendah dengan kejar-kejaran ambisi dan keserakahan. Dan aku berlayar dalam lautan kapitalisasi, yang di dalamnya banyak sekali binatang-binatang yang siap mencabik dan menelan kalau aku keliru mengemudi perahu dan terbalik. Ternyata keberuntungan selalu menyertaiku, sehingga aku menjadi salah seorang pendatang yang sukses. Setiap langkahku berarti dolar, dan setiap lirikanku adalah keuntungan. Sekelilingku penuh dengan orang yang siap melayani. Tentu saja setiap orang yang bertemu denganku tidak ada yang berani bertabrakan pandangan dengan mataku.

Tapi, meskipun aku diprotes istriku, aku tetap ingin pulang.

“Siapa yang akan kautemui di sana?”

“Suasana.” Jawabku.

“Ok, kalau hanya ingin suasana, kita pergi ke sana, tapi sebagai turis.” Istriku memberikan jalan.

“Tidak. Aku ingin menetap di sana. Urusan ada atau tidak ada famili, toh seluruh orang di sana masih familiku.” Jawabku tegas.

Bukankah jawaban kepada istriku itu benar? Meski aku telah puluhan tahun tinggal di negara ini, tidak mengubah warna kulitku. Kulitku tetap sawo matang, meskipun setiap saat aku bergaul dengan penduduk setempat yang bule. Lidahku masih lancar berbahasa Indonesia, meskipun sehari-hari makananku a la Barat. Mimpiku masih menggunakan bahasa daerah, meskipun aku tidur dengan istriku yang berbahasa Inggris.

“Tapi di sana kita akan kesulitan.” Istriku berkilah.

“Pada setiap permulaan langkah pasti dimulai dengan awal yang lambat; dan pada setiap kesulitan yang ditemui bukan berarti tidak bisa diselesaikan.” Jawabku yakin.

“Apa kau masih belum sadar bahwa negaramu itu sedang kacau?” Istriku mencoba memberikan wawasan.

“Kacau dan damai itu relatif, bergantung kepada sudut pandang kita. Toh kebahagiaan kita juga bagi orang lain mungkin kelihatannya sebagai penderitaan.” Jawabku serius.

“Maksudnya kita tidak bahagia?”

“Bukan begitu maksudnya. Kita ini jelas bahagia; karena bagiku kebahagian itu apabila engkau menikmati hidup ini dengan keceriaan, lalu dengan keceriaan itu kau curahkan seluruh enerjinya ke dalam lautan cinta. Selanjutnya, kau bikinkan perahu khusus untukku agar kubisa berlayar dalam ombak cintamu. Dan akupun bisa berenang dan menyelam (kalau perlu sambil minum) dalam lautan cintamu itu.” Jawabku puitis.

Aku sadar bahwa meskipun aku menerangkan dengan berbagai alasan serta dibumbui dengan rayuan pulau kelapa sekalipun, istriku akan menganggap bahwa keinginanku untuk pulang adalah suatu langkah yang keliru. Langkah yang gila! Makanya, pasti dia mengadakan “perlawanan”, karena baginya hidup di negeri yang penuh kenangan bagiku, tetap sesuatu yang gelap.

“Saya dengar di negerimu itu para istrinya mudah diperdaya, dan atas nama agama atau adat mereka disakiti oleh para suaminya. Apakah engkaupun ingin pindah ke sana agar bisa memperlakukanku demikian?” Istriku mencoba “menyerang” keinginanku dari sisi yang sangat sensitif.

“Well. Ternyata pengetahuanmu tentang negeriku semakin banyak. Memang banyak orang yang berkelakuan demikian. Tapi bukan monopoli di sana. Bukankah di sinipun banyak juga yang begitu?” Jawabku membela.

“Saya terpaksa harus membaca tentang negerimu. Ternyata di negerimu memang perlakuan laki-laki terhadap wanita itu telah berjalan sepanjang sejarah negeri itu. Coba saja kita mundur ke awal abad ke-20. Bahkan seorang yang dijadikan sebagai pahlawan emansipasi saja ternyata seorang yang kalah. Bukan kalah dalam tanda kutip, ini benar-benar kalah! Hanya karena dia sering surat-menyurat dengan orang Belanda dan surat-suratnya diterbitkan oleh si Belanda itu dengan judul Indonesianya Habis Gelap Terbitlah Terang maka jadilah dia sebagai pahlawan. Padahal dia adalah orang yang kalah akan kehendak seorang pria yang mengatasnamakan adat istiadat! Dia harus tunduk untuk dijadikan sebagai istri kedua; dan dia tunduk, tidak melawan; apalagi mengubah adat istiadat yang membelenggu itu! Lalu, emansipasinya dari segi apa? Dia telah berbuat apa untuk bangsa ini kecuali surat-menyurat? Bukankah banyak perempuan di negerimu ini yang sangat hebat, baik sebelum maupun sesudah atau bahkan sezaman dengan Kartini, dari pemikiran maupun tindakannya? Tapi bahkan mereka tidak ditonjolkan ke permukaan sejarah? Atau dengan ditonjolkannya Kartini sebagai pahlawan adalah politik kaum laki-laki Indonesia agar para perempuannya meniru kepatuhan Kartini? Kepatuhan seorang yang memiliki pemikiran yang cemerlang tetapi kalah di lapangan? Mungkin ini juga bisa, karena presiden pertamamu saja istrinya banyak…..” Istriku seperti jaksa yang sedang menuntut pesakitan.

Ketidaksetujuan untuk pindah ini istriku menyerangku melalui kisah Kartini. Memang pernyataan istriku ini logis semua. Padahal dalam sejarah ini hanya satu pejuang perempuan yang gagal, yang mati bukan dalam kancah perjuangannya. Tetapi mati setelah menyerah dan kembali terjajah adat kolot! Tetapi justru yang kalah inilah yang dijadikan sebagai ikon pahlawan wanita. Mungkin juga ini jawaban mengapa wanita Indonesia sekarang masih memperjuangkan masalah gender; karena mereka salah menetapkan pahlawannya!

Saya jadi teringat kepada dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentunya Kartini masuk di dalamnya. Padahal, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa.

Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik pria maupun wanita. Tokoh wanita kedua adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.

Jadi, bila dibandingkan dengan kedua wanita hebat itu, sebetulnya Kartini tidak ada apa-apanya. Barangkali benar kata istriku.

Tapi meskipun ditentang bukan hanya oleh belahan jiwaku, yaitu si jelita yang bermata cemerlang bagai bintang kejora, namun aku tetap berniat untuk pindah ke negeriku yang kata orang penuh dengan carut-marut. Bukan sebagai turis. Istriku tentu saja harus ikut, karena tidak mungkin aku berangkat tanpa dia.

”Darling, jangan engkau berpikir bahwa aku akan memperlakukanmu seperti suami Kartini memperlakukan istri-istrinya. Ingat, aku bukan bangsawan Jawa pada zaman penjajahan. Aku adalah laki-laki negeriku yang lahir setelah revolusi fisik dan berpendidikan modern. Dan yang lebih penting lagi, aku adalah laki-laki yang selalu setia kepada keluarganya; yang selalu mencurahkan cintanya seratus persen tanpa potongan harga…” Aku mencoba menerangkanengan sepenuh hati.

”Tapi kau akan meninggalkan pekerjaannmu di sini, padahal itu adalah hasil perjuanganmu membanting tulang. Berarti kaupun akan meninggalkan teman-temanmu yang telah menggantungkan hidupnya pada usahamu itu; apa kau tega?” Istriku bersitegang.

Duh, benar-benar istriku itu gambaran seorang perempuan yang selalu merisaukan masa depan, baik untuk dirinya, keluarganya, maupun orang lain.

 

Cigiringsing Garden, 20 April 2010.

LAPORAN KEPADA TUHAN

November 3, 2010

 

Tuhan,

Aku yakin bahwa Kau pun sudah tahu

Tapi tetap aku ingin mengadu

Tentang kejadian di alam milik-Mu

 

Tuhan,

Kau ciptakan makhluk

Dari semut sampai pelanduk

Semua binatang kepada-Mu menunduk

Bahkan gajah dan badak serta hiu dan paus di laut

 

Tetapi,

Makhluk yang Kau ciptakan dengan kemuliaan

Dengan empat sumpah-Mu* pada saat pembuatan

Dengan kebebasan-Mu yang telah diberikan

Telah menggunakan kecerdasannya untuk kerusakan

 

Tuhan,

Ternyata manusia telah menyalahgunakan kepercayaan-Mu

Yang telah mengangkatnya sebagai khalifah-Mu

Mereka selalu bersumpah atas nama-Mu

Padahal mereka telah berbuat tidak sesuai aturan-Mu

 

Tuhan,

Segala tanda-tanda-Mu yang berupa peringatan

Telah mereka abaikan dengan kebanggaan:

Tuhan tidak pernah meninggalkan

Dan kami masih dalam Tuntunan”

 

Tuhan,

Mereka tidak mengerti tanda-tanda

Mereka telah bebal karena terlalu bangga dengan benda

Hingga mereka lupa bahwa tidak akan selalu muda

Dan hidup akan berakhir dalam keranda

 

Tuhan,

Manusia telah menghancurkan alam ini

Demi nafsu yang selalu bergelora dalam diri

Ilmu mereka gunakan sebagai dalil

Bahwa mereka di alam ini telah telah berbuat adil

 

Tuhan,

Adakah batas keserakahan mereka

Sehingga bisa menyelamatkan alam semesta?

Bisakan mengurangi kemunafikan mereka

Sehingga Nama-Mu tidak dicatut semana-mena?

 

 

Tuhan,

Akupun tahu bahwa Engkau memberikan kebebasan

Kami bisa memilih apa yang menyenangkan

Kami bisa berdalih tentang segala kesalahan

Kamipun bisa mengatakan bahwa itu bukan keserakahan

 

Tetapi,

Kebebasan itu telah membuat dunia semakin panas

Pohon-pohonan kering meranggas

Binatang banyak yang mati memelas

Dan sesama manusia saling menerkam ganas

 

Tuhan,

Engkau telah menunjukkan jalan

Namun kami telah buta tidak keruan

Langkah kami tidak sesuai Seruan

Seakan jalan telah tertutup awan

 

Karenanya:

 

Tuhan,

Tolonglah kami

Selamatkan kami

Getarkan nurani kami

Lelehkan air mata kami

Takadkan hati kami

Murnikan niat kami

Sujudkan wajah kami

Tegakkan kesadaran kami

Luruskan pandangan kami

Langkahkan kaki kami

Gerakkan tangan kami:

 

Untuk melestarikan alam milik-Mu

Dan kami tidak mengakui kecuali sebagai khalifah-Mu

 

Tuhan….

Amin

 

 

Bandung, 12 Januari 2010.

 

*) Dalam penciptaan manusa, Tuhan bersumpah dengan empat hal:

- Watini

- Wazzaituni

-Watturisin

-Wahadzal baladil amin

SATIRE (7)

November 3, 2010

Awan menggantung hitam pekat menghalangi pandanganku sampai ke langit. Tapi aku yakin di baliknya langit masih tetap biru. Sementara angin dingin menelusup di antara sela-sela jaketku yang tebal, mengakibatkan kehangatan tubuhkuku terganggu. Sementara di boncengan Mio-ku istriku terus mengaduh. Perut istriku memang sudah besar, karena usia kehamilannya sudah sampai waktu melahirkan.

Masih lama, Mas? Aduh, perutku sakit sekali.” Istriku merintih.

Sebentar lagi, sayang. Tuh, sudah kelihatan kliniknya.” Aku mencoba menghiburnya.

Klinik yang kami tuju adalah klinik bersalin. Aku sendiri baru sekarang akan menginjakkan kaki di klinik bersalin, karena ini adalah persalinan pertama istriku. Sementara pemeriksaan rutin kehamilan biasanya dilakukan di bidan Anune. Tapi bidan Anune sekarang sedang pergi berlibur dengan keluarganya, terpaksa aku membawa istriku ke klinik ini.

Tanpa melirik kanan-kiri, aku langsung membimbing istriku masuk dan mendaftar. Pada saat istriku sudah merebahkan tubuhnya, aku disuruh keluar oleh bidan. Sambil jalan-jalan di halaman klinik, aku membaca plang: KLINIK BERSALIN BIDAN HJ. ROFIAH. Oh, bidan ini namanya Rofiah.

Rofiah….Rofiah…. Rasanya nama itu pernah akrab di telingaku. Aku terus mengingat-ingat. Oh, iya, sekarang aku ingat. Dulu kakakku pernah punya pacar namanya Erof Rofiah. Kebetulan pula pada saat itu Erof sedang sekolah di sekolah kebidanan. Apakah mungkin bidan yang sedang membantu istriku melahirkan itu Erof pacar kakakku dulu?

Meskipun orang desa yang jauh dari kota, kakakku bukan orang yang suka minder. Kakakku selalu jadi penggerak pemuda di desaku. Pada saat itu aku masih kecil. Jarak usia antara aku dan kakakku itu 11 tahun. Maklum kakakku anak pertama sementara aku anak terkecil.

Suatu ketika di desaku kedatangan tiga orang pelajar dari sekolah kebidanan yang akan melaksanakan kerja praktek. Ketiga siswa itu Empo, yang rambutnya dipotong pendek dan agak tomboi; Tuti yang rambutnya ikal sebahu tubuhnya agak montok; dan Erof yang memiliki tubuh ramping agak tinggi serta rambut lurus. Dari ketiganya, yang paling cantik adalah Erof, dan dialah yang dijadikan pacar oleh kakakku.

Nama Erof Rofiah itu sering muncul dalam ingatanku, karena peristiwa yang cukup menggoncangkan dalam kahidupan keluarga kami. Sifat kakakku yang selalu penuh dengan rasa percaya diri dan selalu ingin memperlihatkan kemampuannya kepada orang lain, mengakibatkan ibuku sakit, karena sawah yang dijadikan sebagai sandaran hidupnya harus melayang. Dan peristiwa itu terjadi pada saat kakakku sedang berpacaran dengan Erof!

Pak, Pak!” Tiba-tiba ada yang mernepuk bahuku, mengagetkan sekali sehingga lamunanku buyar. Ternyata seorang perawat. “Istri Bapak sudah melahirkan. Bayinya laki-laki, Pak,” katanya sambil tersenyum.

Alhamdulillah,” jawabku sambul langsung lari-lari kecil menghampiri kamar bersalin.

Kulihat istriku yang wajahnya lelah tapi memancarkan kebahagiaan tersenyum kepadaku. Aku menghampirinya dan kucium keningnya. Lalu kuhampiri bidang yang sedang mengurus bayiku.

Alhamdulillah proses melahirkannya lancar, bayinya juga sehat,” sambil menyerahkan bayiku kepadaku. Lalu kuadzani di kedua telinganya. “Sudah siap namanya, belum?” Bidan bertanya.

Sudah siap, Bu. Akan saya beri nama NOTO HAGUMBA.”

Gagah sekali namanya. Artinya apa?” Bidan bertanya kembali.

Itu singkatan dari kelima nama presiden kita. No dari Sukarno, To dari Suharto, Ha dari Habibi, Gu dari Gus Dur, M dari Megawati, Ba dari Bambang Yudoyono,” jawabku menerangkan dengan bangga. “Siapa tahu anak sayapun sukses seperti mereka.”

Istri dan anakku dirawat di klinik itu selama tiga hari, dan selama tiga hari itu pula aku bolak balik ke klinik. Pada suatu ketika aku mendapat kesempatan untuk mengobrol agak lama dengan bidan.

Maaf Bu Bidan, rasanya saya sudah akrab dengan nama Ibu. Apakah Ibu pernah datang ke desa Subur Jaya di kabupaten Ladang Tengah?” Tanyaku membuka percakapan.

Subur Jaya? Oh, di Ladang Tengah?” Lama dia merenung. “Ya, saya pernah kerja praktek di sana pada saat saya masih sekolah.” Dia menerangkan. “Memangnya Bapak berasal dari sana?”

Ya, saya dari Subur Jaya. Pantesan nama Ibu rasanya pernah akrab di telinga saya.”

Saya punya kenangan di sana. Tapi itu kenangan masa silam,” dia menerawang.

Ya, masa sekolah itu masa yang paling indah, ya Bu,” aku memancing.

Benar. Saya dulu di Subur Jaya pernah menjalin cinta. Cinta monyet atau cinta kilat namanya. Pokoknya indah sekali. Tapi setelah kembali ke sekolah lalu lulus, saya tidak pernah bertemu lagi dengannya. Entah dia sekarang sudah menjadi apa…”

Dia sudah punya cucu, Bu, dari semua anaknya.” Jawabku sambil melihat rona wajahnya.

Dia siapa, Pak? Saya kan belum menyebut namanya.” Dia balik memandang wajahku.

Kang Aok bukan, Bu?” Jawabku tersenyum.

Kok tahu?” Dia terbengong-bengong heran.

Saya kan adiknya, yang dulu sering dibawa main ramai-ramai.”

Oooh, Tuhanku….Jadi ini Ijad yang suka saya tuntun dulu?” Dia kaget, hampir saja memelukku kalau tidak segera menguasai dirinya.

Pertemuan dengan Bu Erof, membuka semakin lebar kenangan pahit keluargaku, terutama ibuku. Tapi aku tidak pernah menyalahkan Erof. Yang salah adalah kakakku, yang terlalu bangga dengan namanya. Kakakku itu selalu menyebut namanya AOK sebagai singkatan dari ANAK ORANG KAYA. Padahal ibu kami itu hanyalah petani miskin yang hanya memiliki tanah 240 tumbak.

Sebagai orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, malahan cenderung mendekati takabur, dia sering bertindak tanpa perhitungan yang matang. Apalagi kalau sedang dikelilingi teman-temannya. Sedikit dipuji, dia langsung memberikan balas jasa kepada si pemuji.

Suatu ketika teman-temannya mengajak berdarmawisata. Langsung saja Kang Aok mebuat rencana, dan tempat yang dituju adalah Waduk Jatiluhur. Maka diumumkanlah kepada masyarakat desa bahwa pemuda akan menyelenggarakan piknik ke Jatiluhur, dan siapapun boleh ikut dengan membayat tiket sekian rupiah. Ternyata gayung bersambut, banyak warga desa yang mendaftarkan diri sebagai peserta piknik. Setelah mencukupi satu bus, maka berangkatlah menuju ke Jatiluhur.

Setelah piknik usai ternyata meninggalkan beberapa masalah. Ongkos bus belum lunas, malahan baru dibayar setengahnya! Kakakku, yang selalu membanggakan diri sebagai ANAK ORANG KAYA, terjebak oleh utang yang jumlahnya pada saat itu tidak sedikit. Dia diancam mau dilaporkan kepada polisi bila dalam waktu tertentu tidak melunasinya!

Pada saat ditanya oleh ibuku tentang ongkos bus yang tidak dibayarkan, kakaku menjawabnya dengan menangis bahwa uang itu habis dipakai foya-foya dengan pacarnya. Dipakai membeli berbagai kebutuhan sang pacar, karena malu bila tidak membelikan apa-apa yang diminati oleh sang pujaan hati. Diapun mengatakan bahwa bila dalam waktu dekat tidak dibayar, pihak bus akan mengadukannya ke polisi.

Ibuku, yang hidupnya tidak ada yang membantu karena ayah sudah meninggal pada saat aku bayi, wajahnya berubah menjadi kuyu dan semakin tua. Beliau tidak mau kalau anaknya harus berurusan dengan hukum, apalagi kalau sampai harus dipenjara. Tapi beliau tidak memiliki harta selain rumah dan 240 tumbak tanah sawah. Akhirnya dengan berat hati beliau menjual 120 tumbak sawahnya, agar anaknya tidak masuk bui!

Setelah lolos dari ancaman yang membahayakan itu, sifat Kang Aok tidak berubah. Dia bikin ulah yang lain, yang juga mendebarkan hati ibu yang semakin sepuh. Bahkan sampai setua sekarangpun, pada saat Kang Aok sudah bercucu dari semua anaknya, kelakuannya tidak pernah berubah.

Suatu ketika, pada saat berkumpul di rumah ibu, Kang Aok seperti biasa selalu mengbesar-besarkan dirinya. Dalam pembicaraan itu saya menyentil tentang sawah yang telah dijual ibu untuk menolongnya dari tuntutan pemilik bus, tapi dia dengan kasar tidak mengakuinya.

Kamu tahu dari mana? Demi Allah aku tidak pernah merusak harta orang tua. Awas kamu sekali lagi bilang demikian!”

Kang, meski saya pada saat kejadian masih kecil, saya tahu semuanya; jadi jangan membohongi diri sendiri, karena banyak saksinya yang masih hidup. Apalagi dengan bersumpah demikian,” aku menjawab dengan suara agak keras.

Memang aku tak pernah merusak harta orang tua.Siapa yang akan kamu jadikan saksi, aku tidak takut!” Jawabannya semakin pongah.

Pembicaraan ini diakhiri dengan sumpah serapah yang tidak pantas, apalagi diucapkan oleh Kang Aok yang pernah menjadi santri di beberapa pesantren. Pada saat itu ibuku menangis.

Dan pada suatu ketika, ibu meneleponku agar aku menjemput beliau, karena sudah rindu kepada cucunya yang masih balita, yaitu anakku. Di jalan beliau berurai air mata, katanya Kang Aok memarahi beliau karena sesuatu dan lain hal. Astagfirullah, aku beristigfar. Bukankah Kang Aok itu tahu bahwa memperlakukan orang tua demikian kasar itu akan mengakibatkan ketidakbaikan bagi dirinya? Apalagi usia ibu sudah menjelang 85 tahun.

Duh….

 

Cigiringsing Garden, 11 Mei 2010.

SATIRE (6)

November 3, 2010

Sebagai seorang pejabat nomor satu dan paling berkuasa di daerahku, jelas aku berhak mengatur daerah kekuasaanku sesuai dengan seleraku. Biasanya aku tidak akan mengatakan tentang hak sebagai penguasa, namun dalam mengatur warga dan daerahku ini aku akan mengatakan “demi ketertiban daerah kita”, “demi kemajuan daerah kita”, “demi keamanan daerah kita”, “demi keindahan daerah kita”, dan demi-demi lainnya yang tentunya disambungkan dengan kata “kita”, supaya kelihatan bahwa itu bukan “demi kepentingan kekuasaan saya”. Kata “kita”, dalam diplomasi politik harus dipakai guna menanamkan tanggung jawab, bahwa kebijakan itu dimabil oleh masyarakat, bukan oleh penguasa; sementara penguasa hanyalah menjalankan keputusan yang dikehendaki masyarakat! Memang, sebagai seorang penguasa, aku dituntut untuk pandai bersilat lidah dan lihai berkelit. Ibarat seorang pesilat tangguh, aku harus pandai memainkan berbagai jurus supaya tidak pernah tersentuh oleh serangan lawan.

Sebagai daerah tujuan wisata, daerah kuasaanku harus selalu kelihatan rapi dan bersih. Tentu saja akupun harus selalu memperhatikan aspirasi orang yang ingin ikut membantu terselenggaranya pembangunan berbagai sarana dan prasarana, agar daerahku selalu berada di garda paling depan dalam hal kemajuan. Maka, jangan heran apabila di daerahku tidak pernah sepi dari pembangunan. Program kerjaku yang paling banyak diminati oleh orang-orang yang berkepentingan dengan pembangunan adalah relokasi daerah kumuh. Yang dimaksudkan dengan daerah kumuh bisa mengacu ke lokasi perumahan padat penduduk maupun pasar tradisional.

Berbicara tentang kekumuhan memang ribed sekali. Bayangkan, mereka telah kami beri pengertian tentang lokasi mereka yang sudah tidak layak, namun mereka tetap tidak bergeming pada saat kami beri kesempatan untuk pindah tempat. Bahasa pembangunannya “direlokasi”. Hal ini karena perumahan yang mereka tempati keadaannya sudah tidak layak ditinggali lagi karena terlalu pengap, kotor, dan gelap karena rumahnya berdempetan. Kalau kebakaran akan sulit dipadamkan. Artinya, keselamatan warga tidak bisa dijamin. Sementara pasar tradisional, demikian pula. Selain becek dan sangat kotor, atap bangunannya pun sudah banyak yang bocor, sehingga kalau hujan datang semakin menjijikan. Selain dari itu, jalan pun suka dipakai berjualan oleh pedagang yang tidak punya jongko/lapak. Akhirnya kemacetan tidak bisa dihindari.

Jadi kita harus bagaimana?” Sekda bertanya kepadaku.

Kita minta pendapat DPRD,” jawabku tanpa semangat.

Kan sudah. DPRD sudah menyerahkan kepada kita. Merekapun pusing memikirkan tingkah para pemilihnya itu,” Sekda menerangkan.

Kalau Satpol PP sudah bertindak?” Tanyaku.

Sudah, tapi kan itu hanya untuk para pedagang di pinggir jalan, pedagang kaki lima. Untuk yang di dalam pasar mereka tidak bisa bertindak.” Jawab Sekda putus asa.

Ya sudah, kalau begitu kita ambil tindakan terakhir,” jawabku singkat.

Maksud Bapak seperti pembicaraan di rapat kemarin?” Sekda penuh harap.

Ya, siapkan saja orangnya. Besok pagi harus sudah beres!” Aku sudah mengambil keputusan.

Pada setiap pagi aku selalu berolah raga jogging mengelilingi komplek perumahan pejabat pemda tempat tinggal kami. Setiap pulang jogging aku selalu istirahat di teras sambil menikmati kopi panas dan koran yang baru sampai. Ternyata koran pagi ini mengabarkan bahwa pasar Anu terbakar semalam. Api tidak sempat dipadamkan karena cepat sekali api menghanguskan seluruh bangunan pasar tradisional itu. Kerugian diperkirakan ratusan juta, karena barang para pedagang banyak yang tersimpan di kios.

Di kantor, Sekda melaporkan bahwa misinya sudah sukses dilaksanakan. Akupun langsung bertindak supaya tidak ada fitnah, yaitu langsung pergi maninjau pasar yang terbakar itu. Dengan memperlihatkan wajah yang berduka, aku mengajak bicara para pemilik kios yang bergerombol. Mereka mengadukan, bahwa harta mereka yang menjadi ladang penghidupannya habis terbakar.

Sabar Bu, Insya Allah nanti pun terganti lagi. Ini adalah cobaan. Tuhan tidak akan memberi cobaan yang tidak bisa diselesaikan oleh makhluk-Nya.” Dengan suara lirih aku pun mengucapkan kata-kataku itu dengan “penuh kesedihan”. Sementara cahaya dari blits kodak wartawan menerangi rona wajahku.

Sesampainya di kantor, beberapa wartawan dari televisi sudah menunggu untuk mewawancaraiku. Dan benar, pada sore harinya wajahku sudah nampang dalam televisi. Di sana aku bicara bahwa kebakaran dimungkinkan dari konsleting listrik, maklum kabelnya sudah banyak yang terbuka. Selanjutnya agar para pedagang tidak lama menganggur maka akan dibangun pasar pengganti agak jauh dari lokasi yang sekarang. Sementara di lokasi yang terbakar akan dibangun sebuah pusat perbelanjaan. Adapun koran pagi memberitakan bahwa aku berbicara dengan para pedagang yang telah kehilangan barang dagangannya dan seluruh kios di pasar itu dengan penuh haru dan iba. Wajahku di koran itu terlihat sedih dan mau menangis. Berhasil!

Tidak ada masalah yang mengganjal rencana pembangunan pasar itu, Pak?” Tanya Ketua DPRD pada saat kami sedang tenis bareng.

Alhamdulillah, Pak Ketua. Ya, kalau demo mahasiswa sih wajar, namanya juga mahasiswa, masih idealis.” Jawabku agar nyidir Ketua DPRD.

Iya, asal jangan anarkis,” katanya.

Aku jadi ingat pada saat mahasiswa. Ketua DPRD ini seangkatan denganku, hanya beda fakultas. Dia sebagai aktivis yang suka mengkoordinasikan para demonstran. Dengan TOA tergantung di lehernya dia memaki para pejabat dengan orasinya yang menggebu-gebu. Diapun tidak segan-segan menyuruh para demonstran untuk membuka paksa pagar kantor yang didemo, yang akhirnya pagar itu jebol. Tapi itu dulu. Sekarang dia sebagai Ketua DPRD, kata-katanya penuh hikmah dan kebijakan.

Karena satu almamater dan satu angkatan itulah, maka kami tidak pernah membuka front. Apalagi dalam beberapa hal ada kesamaan hobi. Padahal pandangan politik kami tidak sama. Dia dari Partai X sementara aku dari Partai Y. Namun karena kepentingan kami sama, hubungan kami jadi seperti gula dengan manisnya, bagai lampu dengan terangnya, bak lebah dengan madunya. Seiring sejalan. Mesra.

Bagaimana dengan rencana pembangunan Mall di Z, sudah mulai pembebasannya?” Dia bertanya tentang rencana pembangunan Mall di komplek perumahan kumuh yang sudah dirapatkan dan sudah disetujui oleh DPRD.

Sulit sekali merelokasi penduduk itu. Rencananya, nanti lebaran kami akan mengambil tindakan.” Jawabku.

Mengapa harus lebaran?” Dia heran.

Kalau lebaran banyak penduduk di sana yang mudik, jadi konsekuensinya tidak terlalu berat,” jawabku dengan enteng.

Ya, memang aku sudah memberikan intruksi kepada Sekda agar melaksanakan rencana yang sama dengan pasar tradisional, tapi nanti pada saat penduduk daerah itu relatif kosong. Waktu yang paling tepat untuk itu adalah pada saat mereka banyak yang mudik lebaran!

Ya, terserah Bapak, nanti saya di DPRD akan mengkondisikan,” Dia memberikan janji. Tentu saja tidak gratis!

 

 

Bandung, 22 Januari 2010.

SATIRE (5)

November 3, 2010

 

Kamu sudah mau menikah, padahal belum bekerja?” Dudung heran waktu aku memberitahukan bahwa dua bulan lagi akan menikahi pacarku.

Sudah, aku sudah bekerja,” jawabku.

Di mana?”

Ya di rumah. Aku kan punya bengkel kerja,” aku menerangkan.

Kalau di rumah bukan bekerja namanya. Kata pacarku pun bekerja itu di kantor, jadi PNS, jadi polisi atau jadi tentara.” Katanya tanpa emosi.

Aku tidak berbakat jadi PNS; apalagi jadi polisi dan tentara,” jawabku datar.

Pacarmu tidak keberatan kamu bukan pekerja kantoran?” Kembali Dudung bertanya.

Pacarku itu bukan tipe istri pegawai kantoran; tapi tipe istri seorang wiraswasta,” jawabku takacuh.

Berbahagialah kamu. Aku sendiri belum bisa melamar pacarku, karena ia menuntut aku jadi PNS dulu.” Dudung menghiba.

Kamu kan punya toko, tidak usah jadi PNS pun hidupmu sudah sejahtera…”

Kalau ukurannya hanya uang sih, memang begitu. Tapi pacarku selalu berpikir tentang harga diri. Katanya, kalau jadi PNS akan banyak orang yang menghormati, karena memiliki kedudukan….” Kata Dudung perlahan.

Lalu kamu sudah berusaha untuk jadi PNS?” Aku bertanya penasaran.

Sudah. Tiga bulan yang lalu aku sudah ikut tes, namun hasilnya belum diumumklan. Seminggu yang lalu ada orang yang datang, katanya panitia penerimaan PNS. Dia menjanjikan, kalau ingin lulus katanya harus menyediakan uang dua puluh lima juta. Dia bisa memperjuangkan.” Katanya lagi.

Apa? Duapuluh lima juta? Kalau aku punya uang segitu banyak, akan kugunakan sebagai penambah modal, bukan malahan diberikan kepada orang lain yang belum tentu juntrungnya.” Kataku yakin.

Ya itulah, akupun berpikir demikian. Kalau aku sekarang memberi uang demi PNS, berarti aku harus mengurangi modal dagangku. Bisa-bisa aku bangkrut. Padahal kamupun tahu, aku berdagang kan sejak SMP. Dari sanalah aku membiayai sekolahku dan sekolah adik-adikku.” Dia kelihatan murung.

Lagi pula, kalau kamu nyogok, dosa.”

Iya, kemarin di pengajian, Ustad Harun pun menerangkan, bahwa yang nyogok dan yang disogok serta penghubungnya sama-sama berdosa dan pasti masuk neraka. Naudzubillahi min dzalik!” Jawabnya.

Memangnya pacar kamu belum diberi pengertian?” Tanyaku penasaran.

Sudah. Tapi tetap saja dia menyuruh aku mencoba dulu ikut tes,”

Terus sekarang sudah ikut tes, bagaimana kalau dalam pengumuman kelulusan namamu tidak ada?”

Bagiku tidak masalah. Tapi bagi keberlangsungan hubunganku barangkali akan jadi kendala.” Matanya menerawang jauh.

Emangnya kamu tidak memiliki yang lain selain dia?” Aku memancing.

Dia kan satu-satunya pacarku sejak SMA.” Jawabnya.

Itu sih salah kamu. Sebaiknya pacar itu jangan hanya satu, misalnya lima. Calon presiden, gubernur, atau bupatipun harus banyak, padahal masa kerjanya hanya lima tahun. Apalagi ini calon istri, yang masa kerjanya seumur hidup. Sehingga apabila ada masalah semacam ini tidak kelimpungan, masih banyak pilihan,” kataku bercanda. Padahal akupun tidak pernah memiliki pacar yang lain. Cinta pertamaku adalah calon istriku ini. Mudah-mudahan saja menjadi cinta terakhir. Mudah-mudahan pula nanti setelah berumah tangga kami selalu dilimpahi dengan berbagai kebahagiaan.

Manusia memang aneh. Sering menuntut hal-hal yang tidak sesuai dengan kepribadian orang yang dituntutnya. Contohnya Dudung; dia kan seorang wirausahawan tulen. Sejak sekolah di SMP dia sudah berusaha,membuka warung di rumahnya, maksud saya di rumah orang tuanya. Bukan warung kepunyaan orang tuanya. Jauh sebelum pergi sekolah, pada saat orang lain masih dibuai mimpi indah (barangkali juga mimpi yang mengerikan!) Dudung sudah pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan dagangannya. Pada saat dia ada di sekolah, dagangannya ditunggui oleh orang tuanya, dan pada saat dia sudah ada di rumah kembali dialah yang mengurus dagangannya itu. Sekarang dia sudah memiliki toko yang cukup besar dan banyak pelanggannya, tiba-tiba dituntut oleh pacarnya agar dia banting setir jadi pegawai orang lain demi suatu gengsi. Padahal, meskipun dia lulus jadi PNS, belum tentu dia bahagia, karena jiwa dia adalah jiwa bebas seorang wirausahawan.

Aku juga sering berpikir, apakah sudahi saja hubunganku dengannya lalu mencari yang lain. Masa tidak ada yang mau?” Dia menjawab gurauanku itu.

Iya Dung, pikiran itu harus terus dikembangkan,” aku memberi semangat.

Tapi di pihak lain, aku kan sudah demikian lama berhubungan dengan dia. Rasanya tidak tega.”

Nah, itulah kebaikan hatimu. Tapi kebaikan yang semacam itu akan menjadi bumerang bagi dirimu sendiri.”

Ya, akupun juga berpikir seperti itu,” jawabnya pelan.

Ingat, Dung, jodoh itu tidak ditentukan oleh lamanya berpacaran. Bisa saja seseorang sudah berpacaran lama tapi menikahnya dengan orang lain, yang baru bertemu beberapa bulan, atau bahkan beberapa hari saja.” Saya mencoba memberikan pencerahan.

Berbicara tentang panitia penerimaan PNS itu, pacarku bilang bahwa sebaiknya turuti saja…”

Jangan! Ingat kata Ustad tadi. Tuhan pun menyuruh kita berusaha dengan cara yang baik dan halal. Artinya, dalam mencari rezeki prosesnya harus diperhatikan. Karena kalau prosesnya tidak benar, maka rezeki yang kita makan meskipun itu gaji kita, tetap tidak halal! Kita jadi PNS karena nyogok, maka semua rezeki yang didapat karena ke-PNS-an kita, itu haram! Bayangkan, berapa tahun kita PNS, selama itu pulalah rezeki yang kita dan keluarga kita makan adalah rezeki yang haram!” Aku mencoba menerangkan, bagaikan seorang ustad.

Sejauh itukah?” Dudung bengong.

Ya. Keharaman itu timbul karena jabatan kita didapat dengan cara nyogok; padahal kalau kita tidak nyogok kita tidak mendapatkan pekerjaan itu. Orang lain yang berhak yang akan mendapatkannya. Artinya kita telah menyabot hak orang lain. Di sanalah keharamannya: kita telah mengambil hak orang lain!” Aku menerangkan dengan semangat.

Astagfitullah al-‘Adzim.” Dudung istigfar.

Kata Iman Syafi’i, makanan yang haram itu akan mempengaruhi tingkah laku orang yang memakannya,” sambungku. “Beliau menerangkan dalam kitabnya yang terkenal, AL-UMM, bahwa apabila sanak keluarga kita memiliki tingkah laku yang tidak senonoh atau moralnya yang tidak terpuji, janganlah menyalahkan lingkungan pergaulannya. Tapi bertanyalah pada diri kita, sudah diberi makan apa dan dari mana (dan bagaimana cara mendapatkan rezekinya), sehingga mereka memiliki akhlak yang tidak terpuji?”

Subhanallah! Jadi bukan hanya lingkungan yang mewarnai akhlak manusia itu?” Wajah Dudung merah, seperti mau menangis.

 

Bandung, 13 Januari 2010.

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.