STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT TRADISIONAL: SEBUAH PENGANTAR SOSIOLOGI EKONOMI

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Batasan

Sosiologi adalah kajian ilmiah tentang kehidupan sosial manusia. Sosiolog berusaha mencari tahu tentang hakekat dan sebab-sebab dari berbagai pola pikiran dan tindakan manusia yang teratur dan dapat berulang. Berbeda dengan psikolog, yang memusatkan perhatiannya kepada karakteristik pikiran dan tindakan seorang individu, sosiolog hanya tertarik kepada pikiran dan tindakan yang dimunculkan seseorang sebagai anggota suatu kelompok atau masyarakat. Namun, perlu diingat, sosiologi adalah disiplin ilmu yang luas dan mencakup banyak hal, dan ada banyak jenis sosiologi yang mempelajari sesautu yang berbeda dengan tujuan yang berbeda-beda.

Secara konvensional, sosiologi dibagi dua, yaitu  sosiologi mikro dan sosiologi makro. Sosiologi Mikro menyelidiki berbagai pola pikiran dan perilaku yang muncul dalam kelompok-kelompok yang relatif berskala kecil. Sosiolog mikro tertarik kepada berbagai gaya komunikasi verbal dan non-verbal dalam hubungan sosial face-to-face, proses pengambilan keputusan oleh para hakim, formasi dan integrasi kelompok perkawanan, dan pengaruh keanggotaan seseorang dalam suatu kelompok terhadap pandangan dunianya.

Sebaliknya, Sosiolog makro mengkaji berbagai pola sosial berskala besar. Ia memusatkan perhatiannya kepada masyarakat sebagai keseluruhan dan berbagai unsur pentingnya, seperti ekonomi, sistem politik, pola kehidupan keluarga, dan bentuk sistem keagamaannya. Ia juga memusatkan perhatiannya kepada jaringan kerja dunia dari berbagai masyarakat yang saling berintegrasi.

Perhatian buku ini cenderung kepada sosiologi makro, karena akan mengakaji ekonomi dan politik secara  makro-sosiologis dalam pengertian yang  luas. Di sini akan dilakukan pengujian sistematik tentang kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan penting di antara berbagai masyarakat, dan  juga memperhatikan sifat-sifat perubahan yang dialami berbagai masyarakat tersebut. Oleh karena itu, kajiannya banyak menggunakan berbagai konsep, teori, dan temuan dari  ilmu sosial yang berbeda, yaitu Antropologi dan Sejarah.

Antropologi adalah bidang kajian yang sangat luas tentang manusia. Ia sebenarnya merupakan disiplin ilmu gabungan yang terdiri dari empat sub-bidang yang berbeda, meski mempunyai keterkaitan yang dekat. Antropologi budaya bertujuan memahami pola-pola kehidupan sosial yang terorganisasi di kalangan masyarakat pra-industrial atau tribal. Perhatian utama antropologi budaya adalah pembuatan berbagai etnografi atau laporan deskriptif yang rinci tentang cara-cara hidup masyarakat tribal yang hidup pada zaman sekarang. Namun, perhatian antropologi budaya tentu saja lebih dari sekadar deskripsi tentang berbagai kebudayaan belaka. Banyak di antara mereka yang menghabiskan banyak waktu untuk berusaha membangun teori yang bertalian secara logis tentang pola-pola budaya yang berbeda-beda. Karena itu, upaya antropologi budaya bersifat menjelaskan dan juga deskriptif.

Antropologi fisik pada dasarnya memusatkan diri kepada upaya memahami perjalanan evolusi biologis menusia dengan memanfaatkan catatan tentang sisa-sisa kehidupan manusia purbakala yang sudah memfosil. Antropologi Linguistik mengkaji sifat dan formasi berbagai bahasa manusia dan hubungan antara berbagai bahasa dan pola kehidupan sosial ini. Arkeologi adalah cabang antropologi yang memusatkan diri kepada peninggalan manusia kuno. Dengan mengkaji peninggalan manusia terdahulu, arkeolog ingin mempelajari berbagai pola kehidupan sosial mereka dan juga berbagai perubahan sosial penting yang terjadi di masa lalu. Sub-sub bidang antropologi ini mempunyai hubungan dekat satu dengan yang lainnya, dan praktisi dari salah satu sub-bidang ini sering kali memanfaatkan  temuan-temuan dari salah satu atau lebih sub-bidang lain.

Sejarah adalah bidang kajian yang sangat luas dan beragam dan berkepentingan mendeskripsikan serta menjelaskan apa yang telah terjadi di masa lalu, dan banyak sejarawan mengkaji berbagai aspek karakteristik kehidupan sosial masyarakat di masa lalu.

Banyak temuan dan teori sejarah dan antropologi yang menjadi bagian penting buku ini. Berbagai temuan dan teori ini dihubungkan dengan berbagai temuan dan teori yang dihasilkan para sosiolog tentang sifat masyarakat industrial kontemporer. Hasilnya adalah sosiologi makro (ekonomi dan politik) yang didasarkan atas kajian komparatif dan historis yang sangat luas. Hanya melalui pendekatan yang luas inilah, sifat dan rangkaian sebab akibat dalam kehidupan sosial manusia dapat dimengerti secara tepat. Inilah sebenarnya tujuan utama penelitan sosiologis.

Seperti dikatakan sebelumnya, sosiologi adalah kajian ilmiah tentang kehidupan sosial. Karakteristik ilmu yang paling distinktif adalah pendekatannya yang bersifat empirik. Para ilmuwan menuntut agar semua pernyataan yang diklaim sebagai kebenaran tunduk kepada pengujian yang cermat dan diuji dengan fakta yang diperoleh melalui observasi terhadap alam. Klaim atas kebenaran dikatakan valid atau sahih dalam arti ilmiah bukan karena ia mempunyai alasan yang secara intuitif masuk akal, atau karena disampaikan oleh seorang  atau kelompok orang yang terhormat atau memiliki otoritas. Ia dikatakan valid hanya sejauh ia sesuai dengan fakta yang sudah diketahui.

Banyak ilmuwan yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan pekerjaan dasar yang bersifat deskriptif: melakukan identifikasi, karakterisasi atau klasifikasi terhadap berbagai gejala yang diamati. Namun, tujuan ilmu bukanlah membuat deskripsi semata, kegiatan tersebut hanyalah tahap awal dari penelitian ilmuah. Tujuan akhir ilmu adalah menjelaskan: identifikasi sebab-sebab dasar gejala yang diteliti. Penjelasan ilmiah dalam sosiologi dilakukan melalui konstruksi berbagai strastegi teoritis dan teori. Strategi teoritis adalah rangkaian yang sangat global yang terdiri dari asumsi-asumsi dasar, konsep dan prinsip-prinsip yang mengarahkan. Ia dirancang untuk diterapkan terhadap gejala sosial dalam pengertian yang paling luas. Tujuannya adalah melahirkan teori-teori spesifik dan mendorong berbagai macam penelitian untuk menguji teori tersebut. Teori adalah sebuah pernyataan spesifik atau serangkaian pernyataan spesifik yang saling berhubungan  yang dirancang untuk menjelaskan gejala tertentu. Dengan demikian sebuah teori jauh lebih sempit dan spesifik dari strategi teoritis. Strategi teoritis umumnya diterapkan terhadap serangkaian gejala dan terdiri dari sangat banyak teori yang saling berkaitan. Walaupun berbagai teori yang saling berkaitan ini diterapkan terhadap gejala-gejala yang berbeda, namun mempunyai banyak kesamaan, karena semuanya berasal dari rangkaian asumsi, konsep, dan prisip yang secara global sama.

Sosiolog melakukan pengujian empiris baik terhadap strategi teoritis maupun terhadap teori. Sebuah strategi teoritis dikatakan baik hanya sejauh ia melahirkan teori-teori spesifik yang ditegakkan atas pengujian empiris yang cermat. Kita dapat sangat yakin kepada sebuah strategi teoritis yang telah melahirkan dan terus akan melahirkan banyak teori yang kuat (well-supported). Sebaliknya, strategi teoritis yang hanya didukung oleh teori-teori yang tidak begitu kuat dan banyak di antaranya yang tidak berlaku dinilai lemah. Strategi teoritis semacam ini tidak cukup meyakinkan dan tidak banyak membantu dalam teoritisasi dan penelitian lebih lanjut.

Penting dicatat, semua strategi teoritis memuat paling tidak beberapa teori yang ditolak sebagai sebuah kesalahan, tetapi penolakan  terhadap satu teori bukan merupakan dasar yang cukup untuk menolak sebuah strategi teoritis secara keseluruhan. Sejauh sebuah strategi teoritis didukung oleh banyak teori yang kuat, maka mempertahankannya dapat dibenarkan, tanpa mempersoalkan fakta bahwa sebagian teorinya tidak dapat diterima.

Kini, terdapat sejumlah strategi teoritis yang berbeda-beda dalam sosiologi makro. Semua strategi teoritis ini, tentu saja, mempunyai pendukung dan penyanggahnya masing-masing. Namun itu menandakan bahwa Sosiologi sebagai llmu terus berkembang.

2.  Stratesi Teoritis

a.  Stategi Idealis

Para sosiolog telah lama berdebat tentang kelebihan relatif pendekatan idelais dibanding materialis dalam mengkaji kehidupan sosial manusia. Pendekatan idealis berusaha menjelaskan ciri dasar kehidupan sosial dengan merujuk kepada daya kreatif pikiran manusia. Pendukung pendekatan ini percaya bahwa keunikan manusia terletak dalam fakta bahwa manusia memberikan makna-makna simbolik bagi tindakan-tindakan mereka. Manusia menciptakan rangkaian gagasan dan cita-cita yang rinci dan menggunakan susunan mental ini dalam mengarahkan pola perilaku mereka. Berbagai karakteristik pola perilaku yang berbeda-beda dalam masyarakat yang berbeda dilihat sebagai hasil serangkaian gagasan dan cita-cita yang berbeda pula. Namun, para idealis biasanya tidak banyak memberikan perhatian kepada problem bagaimana serangkaian gagasan dan cita-cita yang berbeda tersebut muncul pada saat pertama kalinya, dan inilah kelemahan serius teori mereka.

Salah satu versi idelisme kontemporer yang paling terkenal terdapat pada karya antropolog Perancis, Claude Levi-Strauss (1963). Ia mengajukan sebuah pendekatan dalam kajiannya terhadap berbagai masyarakat, yang dikenal dengan strukturalisme. Gagasan pokok di belakang pendekatan ini adalah bahwa manusia, di mana pun juga, mempunyai kecenderungan untuk berpikir dalam kaitan dengan pertentangan kembar (binary-oppsitionsI), atau tegasnya pasangan konsep yang saling bertentangan. Kecenderungan berpikir dalam kaitan pertentangan kembar ini diyakini sangat melekat dalam pikiran manusia. Pertentangan kembar dasar meliputi juga pasangan-pasangan, seperti lelaki/perempuan, alam/kebudayaan, bumi/langit, mentah/matang, tanah/air, dan seterusnya. Organisasi masyarakat pun pada dasarnya, menurutnya, mengikuti pola pertentang kembar yang sangat penting dalam kebudayaan atau masyarakat yang ada kini.

Sherry Ortner (1974) menerapkan teori strukturalis untuk menjelaskan peranan jenis kelamin dalam berbagai kebudayaan dunia. Secara khusus dia berusaha menjelaskan mengapa wanita secara universal merupakan jenis kelamin yang  tersubordinasi –mengapa dalam setiap masyarakat, wanita dan aktivitas mereka dinilai rendah. Penjelasan atas kenyataan ini, menurutnya, meliputi pertentangan kembar “álam-kebudayaan”, sebuah pertentangan yang mendasar dalam semua masyarakat. Dalam pikiran manusia, wanita diasosiasikan dengan “älam” dan lelaki dengan “kebudayaan”. Wanita dilihat lebih dekat dengan alam, baik dalam kaitannya  dengan proses pisik maupun aktivitasnya. Wanita mengalami menstruasi, hamil, menyusui, dan mempunyai hubungan dekat  dengan anak-anak; dengan fakta ini membuat wanita tampak lebih dekat dengan alam dibandingkan dengan lelaki. Sebaliknya, lelaki dilihat lebih dekat dengan kebudayaan, karena mereka lebih dekat dengan berbagai aktivitas budaya –seperti politik dan agama- dimana manusia mengatasi (trancend) alam. Karena secara universal manusia meletakkan kebudayaan di atas alam, maka secara universal wanita dipandang rendah.

Versi idealisme lainnya terdapat pada tulisan-tulisan Talcott Parsons (1937, 1966). Ia mengatakan bahwa setiap masyarakat adalah jalinan makna, kepercayaan, dan nilai yang dianut bersama. Kepercayaan dan nilai suatu masyarakat dapat membentuk struktur cara-cara dasar mereka dalam mengorganisasikan kehidupan sosialnya. Sebagai contoh, ia melihat masyarakat Barat modern sebagai sangat terorganisasi dengan bingkai dasar nilai-nilai kekristenan dan demokrasi liberal. Ia percaya bahwa karena orang Barat telah mengembangkan sistem nilai politik dan keagamaan ini, mereka mampu memecahkan problem kemasyarakatan tertentu yang masih menimpa banyak masyarakat lain, yang anggotanya hidup dengan nilai dan kepercayaan yang sangat berbeda.

b. Strategi Materialis

Para materialis menolak keras berbagai jenis teori idealis. Alih-alih memberikan prioritas kepada gagasan dan cita-cita sebagai sebab atas suatu tindakan, mereka berusaha menjelaskan ciri-ciri dasar kehidupan masyarakat dalam kaitannya dengan kondisi praktis-material dari eksistensi manusia. Kondisi-kondisi ini  meliputi sifat lingkungan fisik, tingkat teknologi, dan sistem organisasi ekonomi. Para materialis melihat berbagai faktor ini sebagai  pembentuk prasyarat dasar eksistensi manusia. Bagian terpenting  dari kehidupan manusia adalah adaptasi terhadap lingkungan fisik, dan ini  harus dilakukan dengan menciptakan teknologi dan sistem ekonomi. Sekali teknologi dan sistem ekonomi diciptakan, maka ia akan menentukan sifat pola-pola sosial lain yang dilahirkan masyarakat manusia. Jenis teknologi dan sistem ekonomi yang berbeda akan melahirkan jenis pola-pola sosial yang berbeda pula. Bahkan, para materialis umumnya menganggap gagasan dan cita-cita manusia berasal dari pola-pola sosial yang diciptakan sebelumnya. Sebagaimana para idealis, mereka juga mengakui  kapasitas kreatif pikiran manusia. Namun, mereka berpendapat bahwa gagasan dan cita-cita bukanlah sesuatu yang lahir dengan sendirinya, tertapi lahir sebagai respon terhadap berbagai kondisi material dan sosial yang telah mapan.

Pendekatan materialis terhadap kehidupan sosial mulai muncul melalui karya teoritisi sosial Jerman, Karl Marx (1818-1883) dan Friedrich Engels (1820-1895). Marx dan Engels (1846) mengembangkan apa yang disebut sebagai “konsepsi materialis tentang sejarah”, yang kemudian dikenal dengan materialisme historis (sering pula disebut Materialisme Dialektis). Ini adalah pendekatan teoritis terhadap kehidupan sosial yang dikembangkan sebagai perlawanan langsung terhadap idealisme yang saat itu banyak berkembang dalam filsafat Jerman. Walaupun materialisme historis dibangun terutama sebagai alat untuk memahami masyarakat  kapitalis modern, Marx dan Engels menganggapnya dapat diterapkan juga terhadap seluruh kahidupan masyarakat menusia, baik masa lalu maupun masa kini.

Marx dan Engels  membagi masyarakat manusia ke dalam dua komponen pokok. Salah satu di antaranya disebut sebagai infrastruktur, kadang-kadang disebut juga pola produksi. Selanjutnya infrastruktur dibagi ke dalam dua kategori: kekuatan-kekuatan produksi dan hubungan-hubungan produksi. Kekuatan-kekuatan produksi terdiri atas bahan mentah yang diperlukan masyarakat dalam produksi ekonomi, yaitu tingkat teknologi yang tersedia dan sifat khusus dari berbagai sumber alam, seperti kualitas tanah. Hubungan-hubungan produksi merujuk kepada pemilikan atas kekuatan-kekuatan produksi. Marx dan Engels mengatakan bahwa pada sebagian masyarakat, kekuatan-kekuatan produksi dimiliki secara komunal oleh seluruh masyarakat, tetapi dalam masyarakat lain pemilikan pribadi atas kekuatan produksi telah terjadi. Kelompok yang memegang kekuatan produksi dapat memaksa kelompok lain bekerja untuk mereka. Mereka juga mengatakan bahwa beberapa bentuk hubungan pribadi dalam produksi yang berbeda terjadi dalam berbagai masyarakat yang berbeda.

Komponen penting lain dalam masyarakat menusia yang diidentifikasi Marx dan Engels adalah suprastruktur. Komponen ini terdiri atas semua aspek kehidupan masyarakat yang tidak termasuk ke dalam infrastruktur, seperti politik, hukum, kehidupan keluarga, agama, serta gagasan dan cita-cita. Mereka berpendapat bahwa infrastruktur dan suprastruktur masyarakat saling berkaitan. Walaupun dinyatakan bahwa suprastruktur terkadang dapat mempengaruhi infrastruktur, mereka mengatakan bahwa arus utama hubungan kausal itu bergerak dari infrastruktur ke suprastruktur. Dengan kata lain, mereka percaya bahwa pola-pola pikiran dan tindakan manusia yang terdapat dalam suprastruktur masyarakat pada umumnya dibentuk oleh ciri-ciri infrastruktur masyarakat tersebut. Mereka juga memandang bahwa perubahan sosial dalam suprastruktur terjadi karena adanya perubahan yang telah terjadi di dalam infrastruktur masyarakat. Inilah esensi materialisme mereka.

Materialisme Marx dan Engels lama ditolak oleh banyak sosiolog sebagai strategi yang lemah dalam mengkaji kehidupan sosial. Namun, akhir-akhir ini, pandangan ini bangkit kembali secara meyakinkan, dan banyak sosiolog kontemporer mengikuti prinsip dasar hubungan kausal materialistis yang diajukan oleh Marx dan Engels. Bagaimanapun juga, banyak sosiolog kontemporer yang tetap menolak prinsip ini, baik secara keseluruhan maupun sebagian saja. Para idealis kontemporer umumnya menolak secara keseluruhan, dengan lebih suka membalikkan arah hubungan kausal yang dianut dalam strategi Marxian. Namun sebagian dari mereka hanya menolak sebagiannya saja, dengan menyatakan bahwa ia memang mempunyai validitas tetapi juga terlampau menyederhanakan hakekat realitas sosial. Para sosiolog ini seringkali mengusulkan penggabungan strategi materialis dengan strategi idealis. Mereka berpendapat bahwa kehidupan sosial adalah hasil bersama dari kondisi material dan juga gagasan dan cita-cita.

c. Fungsionalisme

Stretegi teoritis yang dikenal dengan fungsionalisme muncul menjadi bagian dari analisis sosiologis pada tahun 1940-an. Strategi teoritis ini mencapai masa kejayaannya pada tahun 1950-an. Pada saat itu fungsionalisme menjadi strategi teoritis standar yang diikuti mayoritas sosiolog, dan hanya sebagian kecil menentangnya. Namun, mulai tahun 1960-an dominasinya mendapat tantangan keras dan teori-teorinya semakin dipertanyakan. Akan tetapi, meskipun mayoritas sosiolog saat ini tampak tidak menganjurkan pendekatan fungsional dalam mengkaji kehidupan sosial, fungsionalisme masih tetap didukung secara serius oleh kelompok minoritas yang signifikan secara sosiologis. Dalam kenyataannya, sejak awal tahun 1980-an, seorang fungsional terkemuka muncul, yaitu  J.C. Alexander (1982, 1984, 1985).

Secara esensial, prinsip-prinsip pokok fungsionalisme adalah sebagai berikut: (1) Masyarakat merupakan sistem yang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan saling bergantung, dan setiap bagian tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap bagian-bagian lainnya. (2) Setiap bagian dari sebuah masyarakat eksis karena bagian tersebut memiliki fungsi penting dalam memelihara eksistensi dan stabilitas masyarakat secara keseluruhan; karena itu eksistensi satu bagian tertentu dari masyarakat dapat diterangkan apabila fungsinya bagi masyarakat sebagai keseluruhan dapat diidentifikasi. (3) Semua masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya, yaitu mekanisme yang dapat merekatkannya menjadi satu; salah satu bagian penting dari mekanisme ini adalah komitmen para anggota masyarakat kepada serangkaian kepercayaan dan nilai yang sama. (4) Masyarakat cenderung mengarah kepada suatu keadaan ekuilibrium atau homeostatis, dan gangguan pada salah satu bagiannya cenderung menimbulkan  penyesuaian pada bagian lain agar tercapai harmoni atau stabilitas. (5) Perubahan sosial merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat, tetapi bila itu terjadi juga, maka perubahan itu pada umumnya akan membawa kepada konsekuensi yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan.

Para penganut fungsionalisme telah memperlihatkan minat kepada perdebatan antara penganut materialisme dengan penganut idealisme, meskipun sebagian kecil dari mereka telah secara eksplisit memilih berpihak kepada salah satunya. Walaupun sebagian fungsionalis sangat berpihak kepada pandangan idealis, kebanyakan mereka mengambil posisi di tengah-tengah, dengan berargumentasi bahwa baik faktor material maupun faktor gagasan dan cita-cita, keduanya mempunyai pengaruh yang krusial kepada sifat dasar pola-pola sosial. Posisi ini konsisten dengan klaim tipikal  penganut fungsionalisme bahwa masyarakat merupakan sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung, yang saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Adapun kritik penting yang diarahkan kepada fungsionalisme dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Fungsionalisme cenderung terlalu menekankan bahwa masyarakat menusia itu bersifat harmonis, stabil, dan merupakan sistem yang terintegrasi dengan baik
  2. Karena penekanan yang berlebihan kepada harmoni dan stabilitas, fungsionalis cenderung mengabaikan konflik sosial, yang merupakan ciri dasar dari kebanyakan masyarakat.
  3. Dengan terlalu melebih-lebihkan harmoni sosial dan meremehkan konflik sosial, fungsionalis cenderung mengarah kepada bias konservatif dalam mengkaji kehidupan sosial; yakni mereka cenderung mendukung perlunya mempertahankan segala pengaturan yang ada dalam sebuah masyarakat.
  4. Dalam mengkaji sebuah masyarakat mereka pada umumnya hanya mengkaji satu titik masa tertentu (masa kini), sehingga menerapkan pendekatan yang jelas-jelas a-historis dalam mengkaji kehidupan sosial.
  5. Karena fungsionalis mengabaikan dimensi historis dalam mengkaji kehidupan sosial, mereka sangat sulit menerangkan perubahan sosial.

Perlu dibedakan antara fungsionalisme dengan analisis fungsional (functional-analysis).  Fungsionalisme mencakup prinsip-prinsip substantif dasar yang telah disebutkan di atas. Sementara analisis fungsional berbeda secara distinktif dengan itu. Analisis fungsional menyajikan taktik metodologis dasar yang mengasumsikan bahwa fenomena tertentu harus dianalisis dan dipahami dari sudut pandang signifikansi adaptifnya, yakni dari titik yang menguntungkan dari kegunaannya dalam memenuhi tujuan atau sasaran tertentu. Analisis fungsional sering digunakan dalam ilmu-ilmu sosial terlepas dari prinsip-prinsip fungsionalisme di atas.  Dalam kenyataannya, para teoritis sosial yang sangat menentang fungsionalisme seringkali menggunakan bentuk-bentuk analisis fungsional dalam membangun teori mereka. Karl Marx, misalnya, ditolak keras oleh fungsionalisme modern, tetapi dia seringkali menggunakan sebuah tipe analisis fungsional. Ketika dia menegaskan bahwa gagasan dan cita-cita suatu masyarakat harus dipahami dalam kaitannya dengan tujuan-tujuan yang mendukung kelompok sosial yang kuat, dia jelas menggunakan analisis fungsional.

Cara berpikir yang lain tentang perbedaan antara fungsionalisme dengan analisis fungsional adalah dengan mengetahui tingkatan analisis yang digunakan oleh masing-masing. Ciri pokok fungsionalisme adalah gagasan tentang kebutuhan masyarakat (societal needs). Para fungsionalis percaya bahwa masyarakat sangat serupa dengan organisme biologis, karena mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar masyarkat dapat melangsungkan keberadaannya atau setidaknya agar dapat berfungsi dengan baik. Ciri-ciri dasar kehidupan sosial –struktur sosial–  muncul untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ini. Walaupun gagasan tentang kebutuhan masyarakat ini mungkin terlihat dan sangat masuk akal; namun melalui pemeriksaan ternyata sulit dipahami, kalau tidak benar-benar bersifat mistik. Pemikiran yang cermat akan menunjukkan bahwa masyarakat tidak dapat mempunyai kebutuhan dalam pengertian yang sebenarnya, hanya individu yang mempunyainya. Walaupun betul bahwa orang mengembangkan kebutuhan tertentu sebagai hasil dari kehidupan bersama, kebutuhan ini masih berupa kebutuhan dari sesuatu yang kongkrit; kebutuhan orang yang berdarah-daging, dan hukan kebutuhan dari abstraksi yang disebut masyarakat. Analisis fungsional mengakui pembedaan yang krusial ini dan  menjadikannya dasar dari pola penelitiannya. Mereka yang menggunakan analisis fungsional (tetapi tidak menganut fungsionalisme) menyatakan bahwa tujuan atau sasaran yang dipenuhi oleh fenomena sosial tertentu selalu merupakan tujuan atau sasaran orang-orang atau kelompok sosial yang kongkret. Analisis fungsional mengakui bahwa apa yang kita sebut sebagai masyarakat bukan merupakan sebuah entitas yang berdiri sendiri, namun sebagai suatu kumpulan orang yang berinbteraksi dengan cara-cara tertentu untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan hasrat mereka.

Ktirik utama terhadap fungsionalisme yang disebutkan di atas itu valid; namun ia tidak berlaku bagi analisis fungsional.

d.  Strategi Teoritis Konflik

Teori konflik mulai muncul di Amerika pada tahun 1960-an. Sebenarnya, kemunculan teori konflik merupakan kebangkitan kembali berbagai gagasan yang diungkapkan oleh Karl Marx dan Max Weber (1864-1920). Walaupun keduanya adalah teoritisi konflik dan saling bersepakat dalam beberapa hal penting, namun keduanya mengembangkan  versi teori konflik yang agak berbeda. Karena itu, teori konflik modern terpecah menjadi dua tipe pokok, yaitu teori konflik neo-marxian dan teori konflik neo-weberian. Versi neo-marxian lebih dikenal dan berpengaruh daripada versi neo-weberian.

Hal yang sama bagi semua teori konflik adalah penolakan terhadap gagasan bahwa masyarakat cenderung kepada beberapa konsensus dasar atau harmoni, di mana struktur masyarakat bekerja untuk kebaikan setiap orang.   Para   teoritisi   konflik   memandang   konflik   dan pertentangan –ke-pentingan dari berbagai individu dan kelompok yang saling bertentangan– sebagai determinan utama dalam pengorganisasian kehidupan sosial. Dengan kata lain, struktur dasar masyarakat sangat ditentukan oleh upaya yang dilakukan oleh berbagai individu dan kelompok untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas yang akan memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan mereka. Karena sumber daya ini, dalam kadar tertentu selalu terbatas, maka konflik untuk mendapatkannya selalu terjadi. Marx dan Weber menerapkan gagasan umum ini dalam teori sosiologi mereka dengan cara yang berbeda, yang mereka pandang menguntungkan.

Marx berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang terstruktur antara berbagai individu dan kelompok muncul terutama melalui terbentuknya hubungan pribadi dalam produksi. Sampai pada titik tertentu dalam evolusi kehidupan manusia, hubungan pribadi dalam produksi mulai menggantikan kepemilikan komunal atas kekuatan-kekuatan produksi. Dengan demikian, masyarakat  terpecah menjadi kelompok yang memiliki dan yang tidak memiliki kekuatan produksi –menjadi kelas-kelas sosial. Dalam masyarakat yang telah terbagi berdasarkan kelas, kelas sosial yang memiliki kekuatan produksi dapat mensubordinasikan kelas sosial yang lain dan memaksa kelompok tersebut untuk bekerja memenuhi kepentingan mereka sendiri. Jadi, kelas dominan menjalin hubungan dengan kelas yang tersubordinasi dalam sebuah proses eksploitasi ekonomi. Secara alamiah, kelas yang tersubordinasi ini akan marah karena dieksploitasi dan terdorong untuk memberontak terhadap kelas dominan serta menghapuskan hak-hak istimewa mereka. Tetapi kelas dominan, karena mengetahui adanya kemungkinan pemberontakan dari kelas bawah, menciptakan aparat politik yang kuat –negara yang mempu menekan pemberontakan tersebut dengan kekuatan.

Dengan demikian, Marx memandang eksistensi hubungan pribadi dalam produksi dengan kelas-kelas sosial sebagai elemen kunci dalam banyak masyarakat. Dia percaya bahwa hubungan-hubungan kelas sosial memainkan peranan yang krusial dalam membentuk pola-pola sosial suatu masyarakat, seperti sistem politik dan agama. Dia juga berpendapat bahwa pertentangan  antara kelas dominan dan kelas yang tersubordinasi memainkan peranan  sentral dalam menciptakan bentuk-bentuk penting perubahan sosial. Sebenarnya, menurutnya, sejarah dari semua masyarakat yang ada sampai saat ini adalah sejarah pertentangan kelas.

Strategi konflik marxian modern pada dasarnya merupakan formalisasi dan elaborasi dari gagasan-gagasan di atas. Beberapa prinsip utama strategi ini adalah sebagai berikut:

  1. Kehidupan sosial pada dasarnya merupakan arena konflik atau pertentangan di antara dan dalam kelompok-kelompok yang bertentangan.
  2. Sumber-sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik merupakan hal penting, yang berbagai kelompok berusaha merebutnya.
  3. Akibat tipikal dari pertentangan ini adalah pembagian masyarakat menjadi kelompok yang determinan secara ekonomi dan kelompok yang tersubordinasi.
  4. Pola-pola sosial dasar suatu  masyarakat sangat ditentukan oleh pengaruh sosial dari kelompok yang secara ekonomi merupakan kelompok yang determinan.
  5. Konflik dan pertentangan sosial di dalam dan di antara berbagai masyarakat melahirkan kekuatan-kekuatan yang menggerakkan perubahan sosial.
  6. Karena konflik dan pertentangan merupakan ciri dasar kehidupan sosial, maka perubahan sosial menjadi hal yang umum yang sering terjadi.

Harus diperjelas bahwa strategi konflik marxian secara esensial lebih merupakan strategi materialis ketimbang idealis. Hal ini tidak mengherankan, karena kenyataan menunjukkan bahwa Marx pengusul gagasan teoritis yang bersifat materialistis dan konflik ini. Para teoritisi konflik marxian memandang konflik sosial muncul terutama karena adanya upaya untuk memperoleh ekses kepada kondisi material yang menopang kehidupan sosial, dan mereka melihat kedua fenomena ini sebagai determinan krusial bagi pola-pola sosial pada suatu masyarakat.

Titik persimpangan antara Marx dan Weber adalah menyangkut pandangan materialisme yang belakang ini. Weber percaya bahwa konflik terjadi dengan cara yang lebih luas daripada sekadar kondisi-kondisi material dasar (R. Collins, 1985a). Weber mengakui bahwa konflik dalam memperebutkan sumber daya ekonomi merupakan ciri dasar kehidupan sosial, tetapi dia berpendapat bahwa banyak tipe konflik yang lain yang juga terjadi. Dia menganggap konflik dalam arena politik sebagai sesuatu yang sangat fundamental. Baginya, kehidupan sosial dalam kadar tententu merupakan pertentangan untuk memperoleh kekuasaan dan dominasi oleh sebagian individu dan kelompok tertentu terhadap yang lain, dan dia tidak menganggap pertentangan untuk memperoleh kekuasaan ini hanya semata-mata didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan ekonomi. Sebaliknya, dia melihatnya, dalam kadar tertentu sebagai tujuan pertentangan itu sendiri. Weber berpendapat bahwa pertentangan untuk memperoleh kekuasaan  tidak hanya terbatas pada organisasi politik formal, tetapi juga terjadi di dalam setiap tipe kelompok, seperti organisasi keagamaan dan pendidikan.  Tipe konflik kedua yang seringkali ditekankan oleh Weber adalah konflik dalam hal gagasan dan cita-cita. Dia berpendapat bahwa orang seringkali tertantang untuk  memperoleh dominasi dalam hal pandangan dunia mereka, baik itu doktrin keagamaan, filsafat sosial, ataupun konsep tentang gaya hidup kultural yang terbaik. Lebih dari itu, gagasan dan cita-cita tersebut bukan hanya dipertentangkan, tetapi dijadikan senjata atau alat dalam pertentangan lainnya, misalnya pertentangan politik. Jadi, orang dapat berkelahi untuk memperoleh kekuasaan, dan pada saat yang sama, berusaha saling meyakinkan satu sama lain bahwa bukan kekuasaan itu yang mereka tuju, tetapi kemenangan prinsip-prinsip yang secara etis dan filosofis benar.

Jelaslah, Weber bukanlah seorang materialis ataupun idealis. Dalam kenyataannya, dia biasa disebut sosiolog modern sebagai contoh seorang pemikir yang mengkombinasikan pola penjelasan materialis dan idealis dalam pendekatan sosiologis yang bersifat menyeluruh. Jadi,  Weber berpendapat bahwa gagasan bukan semata hasil dari kondisi-kondisi material yang ada, tetapi keduanya seringkali memiliki signifikansi kausalnya sendiri-sendiri.

Marx dan Weber juga bersimpangan jalan menyangkut kemungkinan untuk memecahkan konflik dasar dalam masyarakat masa depan. Marx berpendapat bahwa karena konflik pada dasarnya muncul dalam upaya meperoleh akses terhadap kekuatan produksi, sekali kekuatan ini dikembalikan kepada kontrol seluruh masyarakat, maka konflik dasar tersebut akan dapat dihapuskan. Jadi, sekali kapitalisme digantikan dengan sosialisme, kelas-kelas akan terhapuskan dan pertentangan kelas akan berhenti. Weber memiliki pandangan jauh lebih pesimistik dalam hal ini. Dia percaya bahwa pertentangan merupakan salah satu prinsip kehidupan sosial yang sangat kukuh dan tidak bisa dihilangkan. Dalam satu tipe masyarakat masa depan, baik kapitalis, sosialis, maupun tipe lainnya, orang-orang akan tetap selalu bertarung memperebutkan berbagai sumber daya. Karena itu, Weber menduga bahwa pembagian atau pembelahan sosial adalah ciri permanen dari semua masyarakat yang sudah kompleks, walaupun tentu saja akan mengambil bentuk-bentuk dan juga tingkat kekerasan yang secara substransial sangat bervariasi.

Walaupun pendekatan konflik Marxian dan Weberian telah dianut oleh banyak sosiolog modern, tidak berarti pendekatan ini mendapat dukungan universal.

e.  Strategi Teoritis Evolusioner

Strategi teoritis evolusioner adalah strategi yang berusaha mendeskripsikan dan menjelaskan rangkaian-rangkaian perubahan sosial yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Evolusionis pada umumnya berpendapat bahwa banyak masyarakat yang telah mengalami perubahan-perubahan yang umumnya serupa dari zaman dahulu sampai sekarang, dan mereka berusaha keras mengidentifikasi sifat-sifat perubahan ini dan menjelaskan mengapa perubahan itu terjadi.

Erik Olin Wright (1983) memberikan konsepsi tentang teori evolusioner yang lebih tepat. Dia mengatakan bahwa semua teori evolusioner mengandung beberapa karakteristik berikut:

  1. Mereka mengorganisasikan sejarah ke dalam sebuah tipologi tahap-tahap.
  2. Mereka mengasumsikan  bahwa penyusunan tahap ini menunjukkan arah kecenderungan perkembangan yang dialami masyarakat.
  3. Mereka mempostulatkan bahwa probabilitas terjadinya gerakan ke tahap yang lebih lanjut (“lebih maju”) melebihi probabilitas terjadinya gerakan ke tahap sebelumnya (“lebih rendah”).
  4. Mereka mengidentifikasi adanya mekanisme atau serangkaian mekanisme yang konon dapat menjelaskan gerakan dari satu tahap ke tahap lainnya.

Selanjutnya, Wright menjelaskan bahwa teori-teori evolusioner itu tidak memerlukan asumsi bahwa rangkaian tahap-tahap itu ketat dan berlaku sama bagi setiap masyarakat, atau bahwa evolusi sosial merupakan semacam proses otomatis yang menyingkapkan tendensi-tendensi atau potensionalitas laten yang melekat dalam setiap masyarakat. Mereka juga tidak memerlukan asumsi bahwa gerakan ke arah yang lebih maju selalu terjadi. Gerak mundur (regressi) diakui sebagai kejadian yang mungkin saja terjadi, dan diakui sepenuhnya bahwa bagi banyak masyarakat dan pada banyak zaman dalam sejarah, kondisi yang tidak berubah dalam jangka waktu yang panjang (sebagai kebalikan dari transformasi sosial) merupakan urutan normal bagi segala sesuatu. Adalah penting dikatakan bahwa pandangan ini dapat dipertahankan dan sangat dimengerti, karena masih ada miskonsepsi tentang hakekat teori-teori evolusioner.

Beberapa pendekatan evolusioner terhadap kehidupan sosial sangat popule,r baik di kalangan sosiolog maupun antropolog yang hidup pada paruh kedua abad XIX. Dalam kenyatannya, teori evolusioner mendominasi kedua disiplin ilmu ini pada saat itu. Salah seorang  evolusioner terkemuka adalah  filosif dan sosiolog Inggris, Herbert Spencer (1820-1903), yang mengembangkan sebuah teori evolusi sosial yang sangat mirip dengan teori evolusi biologis Darwin. Spencer berusaha memahami proses terjadinya segala sesuatu di alam semesta dengan merediksi ke dalam prinsip universal tunggal yang disebut “hukum evolusi”. Menurut hukum ini, segala sesuatu di alam semesta ini memiliki kecenderungan “berkembang dari keadaan yang tidak tentu, kacau, dan seragam kepada keadaan yang  dapat ditentukan, teratur, dan beragam”. Apa yang dimaksudkannya adalah bahwa segala sesuatu cenderung berkembang dari bentuk yang sederhana dan tidak terspesialisasi menjadi bentuk yang terspesialisasi dan kompleks. Ia melihat kecenderungan universal ini sebagai kunci utama dalam melihat semua teka-teki besar alam semesta. Ia menganggap evolusi masyarakat manusia sebagai tidak lain dari sebuah contoh kecil dari tendensi kosmologis yang melekat pada sifat alam semesta.

Evolusionis terkemuka lainnya adalah ahli hukum dan antropolog amatir Amerika, Lewis Henry Morgan (1818-1881). Morgan banyak memberi perhatian kepada evolusi teknologis. Dia membagi sejarah manusia ke dalam tiga tahap besar, yaitu kebuasan, barbarisme, dan peradaban. Tahap kebuasan adalah tahap pada saat  orang menggantungkan hidupnya dengan berburu binatang liar dan meramu tanaman liar. Transisi ke tahap barbarisme ditandai dengan domestikasi berbagai binatang dan tanaman tersebut serta adanya perbaikan tambahan dalam teknologi yang digunakan. Munculnya tahap peradaban menandai transisi dari “masyarakat primitif” (ia menyebutnya Societas)  ke “masyarakat sipil” (ia menyebutnya civitas). Morgan memandang perkembangan alpabet fonetik dan tulisan sebagai karakteristik utama tahap ini.

Gagasan para evolusionis ini terasa provokatif, namun gagasan-gagasan tersebut mengandung sejumlah kekeliruan yang patut dipertanyakan. Salah satunya adalah kecenderungan menggunakan deskripsi transformasi evolusioner semata sebagai penjelasan bagi transformasi itu sendiri. Kecenderungan ini adalah karakteristik yang menonjol dalam karya Spencer. Spencer berpendapat bahwa evolusi sosial  adalah sesuatu yang melekat pada semua masyarakat, dan tampak menganggap observasi ini cukup menjelaskan mengapa evolusi sosial terjadi. Tetapi sekadar untuk dicatat bahwa evolusi cenderung terjadi tanpa menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Catatan lain dalam pemikiran evolusionis abad XIX adalah etnosentrisme mereka. Mereka memandang masyarakat mereka sendiri (peradaban Barat) lebih unggul dari semua masyarakat lainnya, dengan menyatakan bahwa masyarakat pada tahap-tahap evolusioner awal menunjukkan penilaian yang rendah kepada masyarakat mereka sendiri. Dengan demikian, mereka mengklaim bahwa evolusi sosial merupakan indikasi bagi kemajuan, bagi perbaikan secara umum dalam rasionalitas, kebahagiaan  dan moralitas manusia. Mereka cenderung melihat peradaban Barat sebagai titik akhir evolusi sosial, sebagai puncak milenium kemajuan manusia. Inilah pandangan yang secara tegas ditolak oleh banyak sosiolog dan antropolog modern sekarang ini. Karena beberapa cacat ini dan cacat lainnya, pemikiran evolusionos menghadapi kritik tajam yang muncul menjelang akhir abad XIX. Ketika kritik terhadapnya memuncak, evolusionisme akhirnya diabaikan oleh banyak ilmuwan sosial. Sepanjang beberapa dekade awal abad XX, para ilmuwan sosial mengalihkan perhatian kepada pertanyaan dan problem selain yang menyangkut perubahan sosial jangka panjang. Tetapi evolusionisme tidaklah mati sama sekali, ia hanya tertidur. Pada awal tahun 1940-an, ia bangkit kembali secara signifikan, dan seluruh problem yang menyangkut perubahan evolusioner jangka panjang kembali menyibukkan pikiran banyak ilmuwan sosial. Pendekatan-pendekatan evolusioner terhadap kehidupan sosial sekarang dianut banyak sosiolog dan antropolog.

Meskipun demikian, sekarang tidak ada strategi evolusioner tunggal dalam mengkaji masyarkat manusia. Banyak teori evolusioner yang berbeda-beda, kebanyakan di antaranya dapat ditempatkan dalam salah satu dari dua strategi evolusioner yang berbeda, yaitu strategi evolusioner fungsionalis dan strategi evolusioner materialis. Walaupun kedua strategi ini bersifat evolusioner dalam arti yang dikatakan di atas, keduanya sebenarnya lebih banyak perbedaan daripada persamaannya. Asumsi-asumsi yang mereka buat tentang  berbagai peristiwa evolusioner dan cara mereka menjelaskannya menunjukkan perbedaan mencolok yang penting diketahui.

Strategi evolusioner fungsionalis mencakup penerapan pendekatan fungsionalis dalam mengkaji evolusi sosial (A.D. Smith, 1973). Dalam strategi ini evolusi sosial dipandang terutama sebagai sebuah proses diferensiasi sosial, proses meningkatnya kompleksitas masyarakat. Ketika masyarakat bergerak maju, mereka mengembangkan diversitas bagian-bagian yang semakin bertambah, dan bagian-bagian ini saling terkait satu dengan lainnya secara rumit. Meningkatnya diferensiasi yang terjadi akan mengakibatkan semakin besarnya kapasitas adaptif. Dengan adanya diversitas internal yang semakin meningkat, masyarakat menjadi semakin mampu melakukan adaptasi  secara berhasil dengan lingkungan mereka. Implikasinya jelas bahwa masyarakat yang lebih kompleks lebih unggul dari masyarakat yang kurang komplkes.

Para pemikir evolusioner fungsionalis pada umumnya memandang evolusi sosial sebagai hasil dari berbagai kebutuhan masyarakat yang bersifat fungsional sebagai sistem yang menyeluruh. Oleh karena itu, evolusioner dianggap mengarah kepada konsekuensi-konsekuensi yang menguntungkan bagi seluruh masyarakat. Pandangan ini merupakan ciri yang sangat menonjol dari karya Talcott Parsons (1966), teoritisi evolusioner fungsionalis yang paling terkemuka. Parsons mengklaim, misalnya, bahwa evolusi stratifikasi sosial –ketidaksamaan dalam kekayaan dan kekuasaan—merupakan hasil utama dari evolusi sosial, karena menimbulkan konsekuensi-konsekuensi menguntungkan bagi para anggota masyarakat secara keseluruhan. Dia percaya bahwa anugrah yang tidak sama bagi anggota masyarakat merupakan alat yang memotivasi beberapa individu untuk memperoleh posisi tanggung jawab dan kewenangan yang penting. Para individu dan kelompok yang memiliki hak-hak istimewa akan memanfaatkan posisi kewenangan mereka untuk melakukan berbagai aktivitas yang akan menguntungkan para anggota masyarakat lainnya. Karena itu, Parsons memandang munculnya stratifikasi sosial sebagai “terobosan” evolusioner yang penting.

Pendekatan evolusioner fungsional hampir tidak melakukan perbaikan terhadap gagasan-gagasan pokok teoritisi evolusioner abad XIX, dan ia cenderung melahirkan cacat-cacat yang sama. Sebagai contoh, strategi evolusioner fungsionalis cenderung memandang masyarakat Barat kontemporer sebagai masyarakat yang paling mampu melakukan adaptasi dibandingkan dengan semua masyarakat lainnya, yang pada umumnya adalah masyarakat yang berskala kecil, sederhana, dan memiliki kapasitas adaptif yang rendah. Pandangan ini sangat etnosentris. Lebih-lebih pendekatan  evolusioner fungsionalis jelas menghadapi kritik yang sama dengan yang dihadapi fungsionalisme secara umum, karena ia hanya menyajikan penerapan fungsionalisme dalam mengkaji proses-proses evolusioner. Sebagaimana fungsionalis lainnya, evolusionis fungsinalis terlampau menekankan harmoni masyarakat, meremehkan tingkat dan daya guna konflik sosial, dan berpendirian bahwa ciri-ciri masyarakat muncul karena keperluan fungsional. Karena itu, sebagaimana fungsionalis menyajikan pendekatan yang lemah dalam mengkaji perubahan sosial jangka panjang.

Stratregi evolusioner materialis beda lagi. Pendekatan ini mencakup penerapan sebuah strategi materialis yang menyeluruh dalam memahami evolusi sosial. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa perubahan sosial pada umumnya berawal dari kondisi-kondisi material yang menopang sebagai kehidupan. Perubahan-perubahan ini, sekali terjadi, akan memulai perubah-an-perubahan yang saling berangkai dalam pola-pola sosial sebuah masyarakat dan dalam gagasan dan cita-citanya. Berbeda dengan evolusionis fungsionalis, evolusionis materialis tidak mengasumsikan bahwa perubahan-perubahan evolusioner akan mengarah kepada bentuk-bentuk adaptasi masyarakat yang lebih baik. Mereka tidak berasumsi bahwa perubahan evolusioner membawa kepada keuntungan yang bertambah bagi semua masyarakat. Sebaliknya, mereka menekankan bahwa perubahan-perubahan tersebut mungkin akan membawa kepada merosotnya kualitas hidup bagi kebanyakan anggota masyarakat. Evolusionis materialis berpendirian bahwa konflik dan pertentangan merupakan unsur penting yang sangat menentukan dalam kehidupan sosial manusia, dan mereka percaya bahwa berbagai gejala ini sangat berkaitan dengan proses perubahan evolusioner. Mereka berbendapat bahwa konflik dan pertentangan merupakan sebab-sebab dan akibat-akibat dari evolusi sosial. Dengan  demikian ada afinitas yang kuat antara strategi evolusioner materialis dengan strategi konflik marxian.

f. Eklektisisme

Kebanyakan ilmuwan sosial menganut salah satu atau lebih strategi teoritis yang baru saja kita dibacarakan. Mereka menggunakan strategi yang dianggap lebih tepat sebagai alat yang kurang lebih eksklusif dan memberi orientasi bagi pemikiran dan membimbing upaya-upaya penelitian mereka. Namun, sejumlah ilmuwan sosial yakin bahwa secara intelektual tidak dapat dibenarkan hanya bersikukuh pada satu pendekatan tertentu. Para ilmuwan ini mengkalim bahwa lebih baik mengakui kegunaan semua pendekatan yang ada. Pandangan ini dikenal sebagai eklektisisme. Mereka yakin bahwa masing-masing pendekatan memberikan pemahaman terhadap realitas yang valid secara parsial, dan apabila semua pendekatan ini digunakan dengan melakukan kombinasi, maka sebuah pemahaman yang lebih lengkap akan tercapai. Salah satu versi eklektisisme berpendirian bahwa masalah-masalah yang berbeda harus diterangkan dengan menggunakan pendekatan yang berbeda pula. Sementara penganut eklektisisme yang lain bertindak lebih jauh dari itu, dan mengklaim bahwa setiap masalah tertentu harus ditengkan dengan menggunakan pendekatan ganda. Sebagian mereka ada yang lebih ekstrim lagi. Mereka berpendirian bahwa apa yang disebut dengan “kebenaran” ilmiah itu tidak ada, dan karena itu tidak ada penjelasan yang ‘tepat’ bagi sebuah gejala. Berbagai pendekatan teoritis yang berbeda-beda dapat dikatakan membentuk cara pandang –yang kurang lebih sama-sama valid—  bagi gejala tersebut.

Para penganut pendirian ini suka berpikir bahwa pendirian mereka lebih dapat dipertanggungjawabkan karena ia terbuka, dan penolakan terhadap pandangan eklektisisme merupakan indikasi dogmatisme dan kekakuan. Apa yang gagal diakui oleh penganut pandangan ini adalah, bahwa mereka tidak lebih terbuka dari pihak yang mereka kritik karena bersikap dogmatis.

Mereka sendiri berpegang teguh kepada pandangan-poandangan tertentu secara ironi, mereka perpegang teguh kepada pandangan bahwa tidaklah dapat dibenarkan bagi seseorang berpegang kepada sesuatu pandangan tertentu. Dengan demikian, pertanyaan tentang keterbukaan sikap dan dogmatisme adalah isu yang tidak benar.

Problem utama dengan eklektisisme adalah karena pendirian tersebut akan membawa kepada kekacauan teoritis yang gawat (Harris, 1979; Sanderson, 1987). Karena berbagai strategi teoritis yang berbeda menggunakan asumsi-asumsi dan prinsip-prisnsip yang tidak hanya berbeda tetapi seringkali kontradiktif, menerima semua strategi yang valid berarti menerima adanya kontradiksi internal. Sebagai contoh, seseorang tidak mungkin menjadi teoritisi fungsionalis dan teoritisi konflik secara sekaligus dalam waktu yang sama, karena kedua strategi ini menawarkan interpretasi yang bertentangan tentang realitas sosial. Problem kontradiksi internal dan inkonsistensi hanya akan menjadi semakin buruk bila lebih dua pendekatan dipakai secara bersamaan.

Tujuan utama ilmu  adalah untuk mencapai pemahaman yang koheren dan utuh terhadap semua gejala yang relevan (Maxwell, 1974a,b). Penjelasan yang koheren dan utuh dicapai apabila penjelasan atas suatu gejala sangat terkait dengan penjelasan bagi gejala-gejala yang lain. Semakin sedikit prinsip yang digunakan, dan semakin besar jumlah dan keragaman gejala-gejala yang diterangkan oleh prinsip-prinsip ini, maka semakin baik penjelasan yang ia berikan. Eklektisisme langsung menyimpang dari tujuan ini, dan karena itu merupakan strategi yang lemah bagi pengembangan ilmu. Tujuan ini hanya bisa dicapai apabila para ilmuwan mengikatkan diri kepada strategi tertentu dan berusaha menjelaskan gejala dengan strategi tersebut sejauh yang dapat dilakukan. Tentu saja, tidak ada strategi teoritis yang dapat menjelaskan segala hal. Dari waktu ke waktu berbagai strategi lain dimanfaatkan untuk menjelaskan fenomena tertentu. Tetaapi melakukan ini tidaklah harus menganut elektisisme; ini sekadar mengakui bahwa betapa kompleks dan beragamnya gejala-gejala sosial yang dikaji seorang ilmuwan.

 

 

 

 

BAB 2

EVOLUSI MANUSIA

1. Prinsip-prinsip Evolusi

Gagasan tentang evolusi yang menerangkan bahwa bentuk-bentuk kehidupan berkembang dari satu bentuk ke bentuk lain melalui mata rantai tranformsi dan modifikasi yang tidak pernah putus, sebenarnya bukanlah Darwin yang pertama kalinya mengemukakannya. Gagasan itu  diperkirakan sudah ada sejak zaman Yunani Kuno. Banyak pelopor sebelum Darwin, termasuk kakeknya sendiri, mengakui adanya keragaman dan diversitas kehidupan dengan mengajukan hipotesis tentang modifikasi evolusioner. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Darwin bukan orang satu-satunya yang mempercayai adanya evolusi. Keistimewaan sumbangan Darwin terhadap pemikiran evolusioner terletak pada mekanisme yang menurutnya menentukan evolusi tersebut. Mekanisme ini ia sebut seleksi alam. Gagasan tentang evolusi melalui seleksi alam ini merupakan gagasan utama dalam bukunya yang sangat terkenal, Origin of Species, dan prinsip teoritis ini akhirnya diterima oleh semua biolog dan antropolog fisik modern sebagai kunci untuk menjelaskan proses-proses evolusioner.

Darwin telah mencapai pemahaman yang koheren, meski tidak lengkap, tentang evolusi, walaupun dia tidak mengetahui tentang proses hereditas (pewarisan karakter). Ketika dia menerbitkan bukunya itu (1859), ilmu genetika belum ada. Baru Gregor Mondel-lah  yang mengemukakan prinsip-prinsip yang menentukan pewarisan karakter berdasarkan serangkaian eksperimen terhadap tanaman kacang, dan menerbitkan temuannya itu pada tahun 1865. Namun hasil karyanya tidak mendapatkan perhatian serius, dan Darwin serta para ilmuwan pengikutnya terpaksa mempertahankan teori seleksi alamnya  dari kritik yang menyerangnya tanpa pengetahuan  yang memadai tentang proses hereditas. Kenyataan ini mengakibatkan teori ini berada dalam posisi mudah diserang sepanjang abad XIX, dan mengakibatkan ia tidak banyak mendapat dukungan secara intelektual.

Nemun, kenyataan ini segera berubah.pada pergantian ke abad XX, prinsip-prinsip hereditas yang telah dikemukakan Mendel dibangkitkan kembali dan diterapkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih definitif tentang bagaimana seleksi alam berlangsung secara nyata. Pada awal 1930-an, ilmu genetika telah meluas ke kajian tentang sifat hereditas dalam seluruh populasi makhluk hidup, dan ilmu yang sekarang dikenal dengan genetika populasi terbentuk. Hal ini memberikan dorongan yang sangat kuat bagi teori seleksi alam, dan gagasan besar Darwin sejak saat itu dapat dipertahankan dan diuraikan secara jauh lebih definitif. Biologi evolusioner dan genetika populasi kemudian bergabung menjadi “sintesis modern” atau disebut dengan teori evolusi sintetika modern (Dobzhansky, 1962; Huxley, 1942; Simpson, 1949, 1953).

Teori sintetika modern, atau kadang-kadang disebut juga neo-darwinisme, memberikan landasan intelektual penting, dan melaluinya para biolog evolusioner kontemporer memahami proses evolusi biologis. Namun, sejak awal tahun 1970-an sebagian evolusionis mulai menantang sebagian asumsi landasan intelektual tersebut. Sebagai contoh, Niles  Eldredge dan Stephen Jay  Gould (1972); serta Gould dan Eldredge (1977) menantang asumsi neo-darwinis yang menyatakan bahwa modifikasi-modifikasi evolusioner berlangsung lamban dan bertahap. Sebagai gantinya, dia mengajukan perspektif yang mereka sebut theory of  punctuated  equilibrium. Perspektif ini menyatakan bahwa evolusi biologis terjadi dengan modifikasi yang cepat dan tiba-tiba, berlawanan dengan yang terjadi pada organisme yang tidak berubah.  Namun, tantangan ini masih sangat kontroversial dan belum dapat diterima oleh kebanyakan biolog evolusioner.

Karena buku ini tidak bertugas menerangkan evolusi biologis secara menyeluruh –dan memang penulis juga bukan seorang biolog–  maka kita akan langsung beralih kepada permasalahan evolusi yang berhubungan dengan tujuan buku ini.

2.  Evolusi Manusia

Perkembangan terpeniting dalam evolusi yang terjadi pada manusia adalah perkembangan kebudayaan, yang kehadirannya membedakan manusia dari semua makhluk lainnya. Munculnya kebudayaan jelas sangat berkaitan dengan evolusi otak dan perkembangan kemampuan belajar. Namun, lebih khusus lagi, kebudayaan dimungkinkan berkembang oleh perkembangan pola komunikasi manusia yang unik, yaitu komunikasi simbolik. Walaupun semua makhluk melakukan komunikasi –yakni, mentransmisikan informasi tertentu secara behavioral— namun hanya manusia yang melakukannya dengan menggunakan simbol-simbol.

a.  Komunikasi Simbolik

Sistem komunikasi non-manusia sangat bervariasi dan menggunakan berbagai organ tubuh. Sebagaimana komunikasi manusia, komunikasi binatang terdiri dari unsur vokal dan non-vokal. Pada tingkat non-vokal, komunikasi  terjadi melalui penggunaan  indera pencium, peraba, dan penglihatan. Lebah madu mengkomunikasikan informasi adanya sumber makanan baru dengan melakukan “tarian mengibas-ngibas” yang membentuk angka delapan (E.O. Wilson, 1975). Sejumlah primata dan mamalia lainnya menandai daerah teritorial mereka dengan mengencinginya untuk mengecilnya nyali  makhluk lain yang bermaksud merambahnya. Simpanse saling bertepuk tangan dan muka serta berciuman dengan penuh perasaan (Jolly, 1972). Pada tingkat vokal, beberapa primata dan mamalia lainnya mengeluarkan berbagai suara yang masing-masing mengandung informasi.

Walaupun sangat bervariasi, semua sistem komunikasi non-manusia memiliki satu ciri dasar, yaitu semua didasarkan atas penggunaan tanda (sign) dan isyarat (signal). Ciri tenpenting sebuah tanda adalah hubungan antara tanda tersebut dengan makna yang ingin disampaikannya diletakkan secara genetik. Tarian lebah madu, lenguh sapi, lolongan serigala, semuanya merupakan tindakan komunikasi yang terprogram secara genetik dengan batas-batasnya yang ketat. Dengan demikian, tanda merupakan mekanisme komunikasi yang bersifat tertutup, atau non-produktif; maknanya telah ditentukan secara ketat sebelumnya, dan tidak ada makna baru yang dapat ditambahkan.

Berbeda dengan komunikasi manusia yang didasarkan atas simbol-simbol. Simbol berbeda dengan tanda, karena maknanya yang bersifat arbitrer. Makna sebuah simbol ditentukan oleh mereka yang menggunakannya dengan cara tertentu, dan dengan demikian simbol tidak terlalu terbatas sebagaimana tanda. Berlawanan dengan tanda, simbol bersifat terbuka dan produktif. Simbol-simbol dapat memiliki makna yang baru atau berbeda (bahkan memiliki beberapa makna sekaligus) bergantung kepada penggunaan dalam konteks apa pemakainya meletakkannya. Baik tanda maupun simbol keduanya menyampaikan informasi, tetapi karena sifatnya yang terbuka, produktif, maka simbol dapat menyampaikan informasi secara lebih efisien. Simbol bukan hanya membuat komunikasi semakin efisien, ia juga dapat mengkomunikasikan informasi dalam jumlah yang lebih banyak dan lebih kompleks dibandingkan dengan yang dapat dilakukan oleh tanda.

Simbol-simbol tertentu memberikan unsur pembentuk bagi kepandaian yang khas manusia, yaitu kepandaian berbahasa.  Bahasa dapat didefinisikan sebagai penataan berbagai simbol yang kompleks. Dengan perkembangan bahasa, manusia melintasi sebuah pintu gerbang evolusioner.

Hockett dan Ascher (1964) mencirikan empat karakteristik utama bahasa yang sebenarnya (true-language). Pertama, bahasa mengandung kualitas keterbukaan (openness). Simbol-simbol yang merupakan unsur pembentuk bahasa dapat mengambil makna yang baru dan bermacam-macam, sebagai lawan dari sistem tanda yang maknanya sudah ditentukan sebelumnya. Di samping itu, pembicara dapat mengutarakan ungkapan-ungkapan baru yang belum pernah diucapkan atau didengar sebelumnya. Ini membuat bahasa menjadi produktif karena ia mempu melahirkan ungkapan-ungkapan baru, makna-makna baru, dan kombinasi baru dari berbagai ungkapan dan makna yang baru. Kedua,  bahasa dikarakterisasikan dengan ciri yang disebut displacement. Displacement merujuk kepada kemampuan membicarakan sesuatu yang tidak ada di depan mata, sesuatu yang ada di masa lalu atau masa depan, atau untuk sesuatu yang tidak pernah ada. Sebaliknya, tanda terikat kepada situasi tertentu yang relevan dengan pengungkapannya. Hockett dan Ascher mencatat, misalnya, bahwa siamang tidak mengeluarkan panggilan untuk makan kecuali bila mereka sudah menemukan makanan. Ketiga, dualitas susunan merupakan karakteristik khusus bahasa. Di satu pihak, bahasa merupakan susunan serangkaian unit suara dasar, masing-masing tidak bermakna apabila tidak dihubungkan dengan yang lain. Dan di pihak lain, merupakan susunan yang mengkom-binasikan unit-unit suara yang terpisah itu ke dalam urutan yang telah disepakati sehingga membuatnya bermakna. Sistem tanda jarang mempunyai dualitas seperti itu, dan setiap pengungkapan mengandung satu makna, dan sudah ditentukan sebelumnya. Keempat, bahasa ditransmisikan dengan belajar. Transmisi ini jelas bertolak belakang dengan transmisi sistem simbol yang berlangsung secara genetik.

b.  Asal Usul Bahasa

Tidak diketahui dengan pasti kapan dan bagaimana bahasa  muncul untuk pertama kalinya. Para ahli bahasa banyak berbeda pendapat tentang kapan bahasa mulai tercipta. Sebagian menandangnya sebagai perkembangan evolusioner yang relatif baru munculnya, barangkali tidak lebih dari 100.000 tahun yang lalu, sementara sebagian yang lainnya yakin bahwa bahasa telah berkembang sejak sejuta tahun yang lalu.

Karya terkenal yang berusaha mengetahui asal-usuh bahasa adalah karya Hockett dan Ascher (1964). Kedua ilmuwan ini berusaha mendeskripsikan proses tahap demi tahap sejak sistem penyebutan tertutup nenek moyang berkembang menjadi bahasa yang sebenarnya. Mereka memulai dengan mendeskripsikan ciri-ciri dasar  yang terkandung dalam sebuah sistem penyebutan, yang masing-masing ada hubungannya dengan situasi yang terjadi secara berulang-ulang dan penting secara biologis. Situasi tersebut meliputi, antara lain, penemuan makanan, pendeteksian bahaya, keinginan berkawan, penunjukkan tempat tinggal seseorang, hasrat seks, dan terjadinya penderitaan. Ketika nenek moyang kita keluar dari hutan dan mulai hidup di alam datar, maka tangan, yang sebelumnya diperlukan untuk memanjat dan berayun di hutan, dapat dipergunakan untuk keperluan lain. Tangan dipergunakan untuk berbagai tujuan, seperti membuat dan membawa senjata dan peralatan kasar, membawa makanan yang diperoleh. Selanjutnya, ini mengakibatkan mulut, yang semula dipergunakan untuk membawa sesuatu, dapat digunakan untuk sesuatu pekerjaan yang lain. Hockett dan Ascher berpendapat bahwa kegunaan baru mulut adalah berbicara.

Pada titik evolusioner sejarah inilah Hockett dan Ascher memandang awal munculnya bahasa. Mereka memandang bahasa muncul dari “pembukaan” sistem penyebutan. Adalah memungkinkan, misalnya, membayangkan sebuah situasi dimana urutan huruf, katakanlah ABCD, memberikan makna “äda makanan di sini”, sementara rangkaian EFGH berarti “äda bahaya”. Dapat dipahami bahwa dalam satu situasi di mana ada makanan dan juga bahaya, mungkin melahirkan ungkapan baru, ABGH, yang berari “makanan dan bahaya”. Hockett dan Ascher mengatakan bahwa ini sangat menyerupai tahap awal yang diperlukan dalam pembukaan sistem penyebutan, dan dengan demikian merupakan tahap awal ke arah bahasa yang sebenarnya.

Tentu saja, ungkapan baru ABGH itu sendiri hanyalah sebuah sebutan baru dan bukan simbol; mungkin dapat disebut penyebutan gabungan. Namun, sebutan baru tersebut adalah sebutan yang lebih rumit, karena ia mentransmisikan lebih banyak informasi dengan cara yang lebih efisien. Akhirnya, Hoclett dan Ascher berpendapat bahwa seluruh sistem penyebutan gabungan  tersebut pasti berkembang, sistem tersebut pasti telah ditransmisikan kepada generasi baru dengan mengandalkan pengajaran. Sistem tersebut, yang disebut Hockett dan Ascher sebagai pra-bahasa, pasti telah berfungsi sebagai tali penghubung antara sistem penyebutan yang tertutup pada masa yang lebih awal dengan bahasa yang sebenarnya.

Pra-bahasa ini, walaupun melahirkan sejenis “sistem penyebutan terbuka”, tidak mengandung salah satu unsur penting bahasa sebenarnya, yaitu dualitas susunan. Akhirnya, dengan perkembangan lebih lanjut dari sistem penyebutan dalam kaitannya dengan jumlah dan kerumitan penyebutan, ini juga berkembang. Ciri-ciri dasar suara menunjukkan serangkaian komponen fonologis dasar yang dapat dikombinasikan ke dalam susunan yang telah disepakati dan memberikan makna-makna yang telah  dilekatkan secara arbitrer. Hockett dan Ascher memandang bahwa yang terpenting dalam proses ini adalah bahwa ini telah terjadi sekitar sejuta tahun yang lalu. Dengan mengembangkan sebuah sistem bahasa yang sebenarnya, umat manusia telah melintasi apa yang hanya dapat dianggap sebagai ambang pintu perjalanan evolusioner yang kritis.

c. Signifikansi Fungsional Bahasa

Evolusi bahasa merupakan evolusi yang mempunyai signifikansi krusial bagi umat manusia, karena ia meratakan jalan bagi munculnya kebudayaan, sehingga sistem peralatan, pikiran dan tindakan kompleks yang telah memberikan  kepada manusia cara-cara beradaptasi yang sangat efektif. Sehubungan dengan itu, Leslie White (1949:33) menegaskan bahwa kemampuan penggunaan simbollah yang melahirkan kebudayaan dan penggunaan simbollah yang dapat mempertahankan kebudayaan. Tanpa simbol, tidak akan ada kebudayaan. Dengan simbol  itulah kebudayaan disimpan dan ditransmisikan. Simbol yang dimaksud adalah simbol yang kompleks, yang disebut bahasa.

Sebagian ilmuwan menyatakan bahwa penekanan kepada simbol-simbol sebagai basis kebudayaan ini merefleksikan bentuk tersembunyi dari idealisme. Carolyn Fluehr-Lobban (1986), misalnya, mengkontraskankan penekanan kepada simbol yang diberikan White dengan argumen Frederich Engels tentang peran buruh –manipulasi lingkungan alam melalui penggunaan alat-alat—  dalam penciptaan kebudayaan. Dia menjelaskan bahwa teori Engels adalah teori meterialis yang mengungguli posisi idealis White. Ini adalah argumen yang meragukan.

Teori White tidak dalam posisi idealis. Posisi idealis adalah posisi yang menyatakan bahwa kandungan khas konstruksi simbolik manusia –bentuk tertentu yang diambil dalam waktu dan tempat tertentu– lah  yang membentuk kebudayaan. Walaupun posisi White sebagai orang yang menekankan bahwa kapasitas general manusia  untuk melakukan simbolisasilah  yang memungkinkan munculnya kebudayaan; sesungguhnya kapasitas untuk menyimpan dan mentransmisikan informasilah yang memungkinkan kebudayaan muncul dan terakumulasi sepanjang waktu. Posisi ini benar-benar konsisten dengan penekanan Engels kepada peran buruh dan pembuatan peralatan. Dalam kenyataannya, sebagaimana telah ditegaskan, pembuatan alat manusiawilah yang menggerakkan sebuah rantai peristiwa dalam evolusi manusia, yang akhirnya mengakibatkan munculnya kemampuan melakukan simbolisasi.

d. Komunikasi Simbolik

Hasil usaha mengajarkan dasar-dasar bahasa kepada kera yang dilakukan baru-baru ini telah melahirkan keraguan akan keunikan kapasitas manusia dalam melakukan simbolisasi. Banyak ilmuwan menyimpulkan dari hasil pengajaran tersebut bahwa komunikasi simbolik bukanlah monopoli manusia, dan karena itu, jarak lebar antara manusia dengan makhluk hidup lainnya tidak selebar yang dulu diyakini orang.

David Premack (1970) mengajarkan sejenis simbol kepada seekor simpanse muda yang bernama Sarah. Sarah diminta untuk meletakkan sejumlah potongan plastik pada sebuah papan tulis bermagnet, masing-masing potongan plastik tersebut berisi satu kata, dan rangkaiannya akan menyajikan sebuah kalimat. Sarah tampaknya dapat menggunakan sekitar 130 kata. Lebih dari itu, dalam sebuah eksperimen jangka panjang yang terkenal dalam pengajaran bahasa, Gardner and Gardner (1969) berusaha mengajar simpanse Washoe sebuah sistem  yang lebih rumit dan rinci. Washoe diajari penggunaan Bahasa Tanda Amerika untuk Deaf (Ameslan). Dia diajarai bahasa ini dengan sistem hadiah dan melalui bimbingan langsung, dan dia juga mencari sejumlah kata dengan observasi langsung. Dia akhirnya menguasai kosa kata lebih dari 1000 kata; di samping itu, dia mampu menguntai  kata-kata ini menjadi satu ke dalam sejumlah kalimat pendek. Beberapa eksperimennya yang lebih baru mengajarkan dasar-dasar kemampuan berbahasa kepada gorila. Psikolog Francine Peterson dari Universitas Stanford sangat berhasil mengajari Koko, seekor gorila betina muda, Ameslan. Pada laporan terakhir, Koko telah mengasai hampir 300 kosa kata dan mampu mengkombinasikannya ke dalam beberapa kalimat panjang (J.A. Hill, 1978).

Hasil dari berbagai eksperimen ini tampak bertentangan dengan argumen bahwa simbolisasi, dan dengan demikian juga bahasa, adalah kapasitas unik manusia. Semua kera besar jelas mampu menggunakan, secara terbatas, dasar-dasar  sistem komunikasi simbolik. Namun, tampaknya tidaklah bijaksana terlampau cepat membuat kesimpulan yang tergesa-gesa dan dramatis dengan mendasarkan diri kepada temuan-temuan tersebut. Harus diingat bahwa kera-kera ini diajari penggunaan simbol-simbol oleh manusia, bukan oleh kera yang lain. Walaupun kera sudah belajar menggunakan sebagian kecil simbol, mereka tidak menciptakannya. Sejauh yang kami ketahui, hanya manusialah yang menggunakan simbol-simbol.

3.  Masyarakat dan Kebudayaan

a.  Pola Organisasi Masyarakat

Suatu spesies makhluk hidup bersifat sosial apabila para anggotanya hidup bersama, berinteraksi, dan bergantung satu sama lain untuk mempertahankan hidupnya. Manusia adalah makhluk sosial karena mereka hidup bersama dalam berbagai kelompok yang terorganisasi yang kita sebut masyarakat. Namun ini bukan khas manusia saja, karena banyak sekali spesies makhluk hidup yang hidup bermasyarakat, dan pola organisasi masyarakat tersebut tidak terbatas pada spesies yang disebut lebih maju. Banyak serangga yang hidup bersama dalam kelompok-kelompok sosial yang kompleks, masing-masing anggotanya sangat saling bergantung satu sama lainnya dalam mempertahankan hidup. Ringkas kata, kehidupan sosial merupakan gejala yang sangat umum dalam kehidupan makhluk hidup.

Meskipun demikian, kehidupan sosial tidaklah terdistribusi secara acak di antara berbagai spesies makhluk hidup. Status evolusioner suatu spesies melahirkan hubungan langsung dengan kelaziman pola organisasi masyarakat. Semakin bertahan hidup suatu spesies dalam skala kehidupan  phylogenetik, semakin besar kemungkinan memperthankan kehidupan sosial yang terorganisasi. Dengan demikian, walaupun hanya sebagian serangga yang hidup bermasyarakat, kebanyakan binatang mamalia bersifat sosial dan semua primata menjalankan kehidupan mereka dalam kerangka kemasyarakatan.

Namun, adalah kesalahan serius apabila menganggap bahwa masing-masing masyarakt lebah, simpanse, dan manusia sama secara fundamental. Sifat khas  dasar berbagai kehidupan sosial menunjukkan perbedaan yang mencolok satu sama lainnya. Kehidupan sosial lebah, semut, dan tawon bersifat kompleks dan rumit, tetapi perilaku sosial spesies tersebut sepenuhnya diatur oleh mekanisme instingtual. Kehidupan sosial serangga terprogram dengan serangkaian respons perilaku yang sudah baku. Belajar sebenarnya tidak berperan sama sekali dalam tindakan meraka.

Deskripsi tentang dasar perilaku sosial semacam itu tidak berlaku bagi primata non-manusia. Sebagai contoh, walaupun kebanyakan kehidupan sosial simpanse ditentukan secara genetik, penelitian baru-baru ini menunjukkan dengan jelas bahwa belajar memainkan peranan yang signifikan dalam perilaku sosial mereka. Peranan belajar dalam hal ini merupakan sebuah ilustrasi dari prinsip umum bahwa semakin besar kompleksitas evolusioner sebuah organisme, semakin besar pengaruh belajar (van der Berghe, 1978).

Prinsip ini membantu memahami dasar kehidupan sosial manusia, karena dalam spesies manusialah peranan belajar melebihi peranan yang dimainkan faktor-faktor biologis  dalam menentukan perilaku sosial. Tetapi, tidaklah cukup sekadar mengklaim bahwa perilaku sosial manusia sangat ditentukan oleh kegiatan belajarnya. Perlu ditegaskan  bahwa perilaku manusia dipelajari melalui kebudayaan, dan dengan demikian, masyarakat manusia berbeda dengan masyarakat berbagai spesies lainnya, merupakan sistem yang diatur secara kultural.

b.   Adaptasi Manusia

Konsep kebudayaan tidak dapat diabaikan dalam mengkaji perilaku manusia dan masyarakatr manusia. Sayangnya tidak ada kesepakatan universal tentang makna konsep ini. Kroeber dan Kluckhohn dalam bukunya, Culture: A Critical Review of Concepts and Definition (1952) memperlihatkan batapa ambiguitisnya konsep budaya. Beberapa antropolog menganggap budaya sebagai perilaku sosial. Bagi yang lain, budaya sama sekali bukanlah perilaku. Bagi sebagian orang, kapak, batu, dan tembikar; tarian dan musik; mode dan gaya merupakan budaya. Sementara itu, bagi yang lain lagi, tidak ada objek material bisa dijadikan budaya.

Salah satu definisi tertua mengenai budaya dikemukakan oleh antropolog Inggris, E.B. Tylor (1871). Ia mengatakah bahwa budaya adalah:

“…complex whole which include knowledge, belief, arts, morals, laws, custom, and other  capabilities and habbits aquired by man as member of society.”

Linton (1945) mendefinisikan budaya sebagai:

“… the configuration of learned behavior and results of behavior whose component elements are shared and transmitted by members of a particular society”

Sementara itu, Kroeber dan Parson membatasi budaya sebagai:

“… transmitted and created content and  ppattens of value, ideas and other symbolic-meaningful systems as factors in the shaping of human behavior and the  artifacts prodused through  behavior”

Menurut  Judistira K. Garna (1996:99),  konsep Kroeber dan Kluckhohn (1952) yang mengatakan bahwa budaya adalah “pola, eksplisit dan implisit, tentang dan untuk perilaku yang dipelajari dan diwariskan melalui simbol-simbol yang merupakan prestasi khas manusia, termasuk perwujudannya dalam benda-benda budaya”,  lebih modern bila dibandingkan dengan konsep kultur (Jerman) dan civilization (peradaban Inggris dan Perancis), yang berlaku pada saat itu.

Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa ada empat karakteristik utama kebudayaan. Pertama, kebudayaan mendasarkan diri kepada sejumlah simbol. Simbol sangat esensial bagi kebudayaan karena ia merupakan mekanisme yang diperlukan untuk menyimpan dan mentransmisikan  sejumlah besar informasi yang membentuk kebudayaan. Kedua, kebudayaan itu dipelajari dan tidak bergantung kepada pewarisan biologis dalam transmisinya. Ketiga, kebudayaan adalah sistem yang dipikul bersama oleh para anggota suatu masyarakat; yakni ia merupakan representatif dari para anggota masyarakat yang dipandang lebih secara kolektif daripada secara individual. Walaupun ada perbedaan tingkat penerimaan berbagai anggota masyarakat terhadap pola kebudayaan mereka, kebudayaan secara definisi adalah presentatif dari para anggota masyarakat yang dipandang secara kolektif. Keempat,  kebudayaan cenderung terintegrasi.  Berbagai bagian atau komponen kebudayaan cenderung menyatu sedemikian rupa sehingga konsisten satu dengan lainnya, di samping konflik, friksi, dan kontradiksi yang juga ada.

Signifikansi riel kebudayaan adalah sifat adaptifnya. Kebudayaan telah menciptakan bagi manusia sebuah alat adaptasi baru terhadap kondisi kehidupannya, dan pola adaptasi ini jauh melebihi adaptasi biologis. Pada tingkat Phylogenetik yang lebih rendah, masyarakat itu sendiri merupakan mekanisme adaptif yang berkembang dari proses evolusi biologis yang panjang. Ketika masyarakat berkembang ke tingkat kompleksitas yang lebih tinggi, dan ketika berbagai kondisi dikembangkan untuk lahirnya sistem simbol dari sistem penyebutan, kebudayaan itu sendiri muncul sebagai sebuah hasil evolusioner. Ketika semua ini terjadi, tahapan telah sampai kepada perkembangan sosio-kultural di mana kebudayaan menyainginya, dan akhirnya menggantikan biologi sebagai basis utama adaptasi manusia.

c.   Khas Manusia

Penemuan baru-baru ini, yang menunukkan bahwa sebagian primata non-manusia seringkali menggunakan berbagai bentuk alat yang sangat sederhana, membuat sejumlah pengamat untuk menentang sebuah kebijaksanaan (wisdom) konvensional bahwa kebudayaan adalah milik khas manusia. Simpanse, misalnya, telah menunjukkan bahwa mereka menggu-nakan sebatang rumput sebagai alat sederhana untuk mengeluarkan anai-anai dari lubangnya. Bahkan ternyata simpanse membuat atau membentuk alat ini sebelum menggunakannya (Jolly, 1972). Telah ditemukan bahwa kelompok-kelompok kera macaque Jepang telah mengembangkan praktek mencuci kentang segar dan gandum sebelum mereka memakannya. Praktek-praktek ini dipelajari oleh anggota kelompok lain, walaupun dengan cara pengamatan dan bukan dengan cara pengajaran langsung (Jolly, 1972).

Bentuk penggunaan alat yang sangat sederhana ini harus dipandang sebagai bentuk awal kebudayaan. Bentuk penggunaan tersebut berbeda pada kelompok-kelompok yang ada dalam spesies yang sama, dan karena itu mereka belajar dan mengikuti pola perilaku yang tidak dapat dianggap sebagai hasil pewarisan biologis. Namun, tidaklah tepat untuk menarik kesimpulan dramatis tentang kebudayaan non-manusia. Walaupun primata non-manusia memiliki beberapa unsur awal kebudayaan, dan dengan demikian pembedaan antara manusia dengan primata lainnya harus dianggap sebabagi pembedaan kuantitatif, perbedaan kuantitatif ini begitu besar sehingga layak untuk mengatakan bahwa kebudayaan adalah hasil manusia yang unik untuk semua tujuan praktis. Dalam pengertian teknis, manusia bukan hanya makhluk yang berkebudayaan, tetapi tentu saja mereka mem-punyai kelebihan luar biasa dalam menciptakannya dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Tidak ada peneliti yang pernah menemukan sekelompok simpanse yang menyembah dewa-dewaa, melamar penganten perempuan dengan membayar sesuatu, atau membuat lukisan pada dinding-dinding gua.

d.  Transmisi Kebudayaan

Karena kemampuan khas manusia untuk belajar, kebanyakan sosiolog dan antropolog sangat menekankan proses sosialisasi. Sosialisasi adalh proses di mana manusia berusaha menyerap isi kebudayaan yang berkembang di tempat kelahirannya. Kebanyakan ilmuwan sosial ini percaya bahwa proses inilah di mana generasi tua banyak sekali menghabiskan waktunya untuk mentransmisikan kebudayaan kepada generasi penerusnya, dan generasi penerusnya biasanya banyak sekali menerima kesan dari berbagai upaya pengajaran tersebut. Karena itu, sulit menolak bahwa proses sosialisasi merupakan aspek krusial pengalaman manusia di mana saja, dan dengan demikian konsep sosialisasi adalah konsep yang penting secara sosiologis. Namun,  mengakui semua ini tidak sama artinya dengan menyetujui bahwa konsep tersebut mempunyai nilai teoritis yang penting. Dengan kata lain, walaupun sosialisasi merupakan bagian fundamental dari kehidupan manusia di mana saja, mengandalkan adanya proses ini tidak dapat banyak membantu mengapa sistem kultural bertahan sepanjang waktu. Dan ia tidak membantu kita sama sekali menjelaskan bagaimana dan mengapa kebudayaan mengalami perubahan, atau tegasnya, bagaimana ia muncul pertama kali.

Masalah yang rumit dan agak kabur ini memerlukan beberapa penjelasan. Cara yang sangat menyenangkan dalam mendekati masalah ini adalah yang dilakukan oleh George Homans (1984). Sebagaimana ditujukkan Homans, banyak sosiolog yang menjelaskan perilaku manusia sebagai “äkibat kebudayaan”. Mereka berpendapat bahwa orang bertindak dan berpikir dengan cara tertentu karena mereka telah disosialisasikan ke dalam kebudayaan tertentu yang mereka terima sebagai sesuatu yang benar, tepat, dan wajar. Walaupun penjelasan ini benar dalam kadar tertentu, namun ia terlalu menyederhanakan masalah. Homans menyebut mereka yang mengandalkan penjelasan tentang perilaku manusia dengan cara semacam ini sebagai “penipu kebudayaan” (culturevulture). Keberatannya kepada “penipu kebudayaan” sangat berdasar dan jelas. Sebagaimana yang ia katakan, apa yang diabaikan penjelasan ini adalah apa yang benar-benar ingin kita jelaskan terlebih dahulu, yaitu mengapa kebudayaan secara orisinal mengambil bentuk tertentu. Dengan kata lain, tidaklah baik mengatakan bahwa orang menyerap isi kebudayaan mereka, ketika yang perlu dijelaskan adalah bagaimana ia menjadi jenis kebudayaan tertentu yang kepadanya menusia menjadi terikat secara emosional dan memandang sangat perlu ditransmisikan.

Keberatan Homans kepada penipu kebudayaan sangat beralasan, ketika kita menyadari bahwa masalah paling fundamental yang ingin dijelaskan oleh sosiolog adalah bagaimana dan mengapa kebudayaan berubah. Apakah kita dapat mengandalkan proses sosialisasi? Bagaimanapun juga, perubahan sebenarnya terjadi tanpa adanya sosialisasi, dan ia lebih merupakan  modifikasi ketimbang pemeliharaan isi kebudayaan tertentu. Bagaimana kita dapat menjelaskan perubahan dengan menggunakan sebuah konsep yang secara eksplisit dirancang untuk menjelaskan tidak adanya perubahan?

Tetapi ketika kita membahas tentang kontiunitas dan  stabilitas pun, bukan perubahan, maka konsep sosialisasi tersebut tampaknya tidak membantu. Sebagaimana diakui Homans dan banyak sosiolog serta antropolog, yang sebenarnya menjelaskan kontinuitias kebudayaan dari satu generasi ke generasi selanjutnya bukanlah proses sosialisasi, tetapi kenyataan bahwa anggota masyarakat penerusnya memberikan respon dan beradaptasi dengan sejumlah kenyataan historis yang sama dengan kenyataan yang dihadapi generasi sebelumnya. Ketika kenyataan-kenyataan historis ini berubah, maka orang akan mengubah cara mereka memberikan respon dan beradaptasi, walaupun berhadapan dengan tekanan keras dari para pendahulu mereka agar mempertahankan pola-pola responsi lama.

Dengan demikian, sosialisasi merupakan bagian pengalaman manusia yang senantiasa ada dan bersifat universal. Dengan menggunakan konsep sosialisasi, kita dapat belajar tentang keinginan kuat generasi tua untuk mentransmisikan isi kebudayaan kepada keturunan mereka. Pada tingkat kehidupan sehari-hari dan saling interaksi antarindividu yang bersifat mikro-sosiologis, konsep ini mungkin sangat bernilai. Tetapi bagi sosiologi makro, ia tidak membantu sama sekali secara teoritis dan dalam menjelaskan sesuatu. Ia tidak dapat menjelaskan tentang struktur makro masyarakat dan transmisi struktur makro sepanjang zaman.

e.  Etnosentrisme dan Relativisme Kultural

Ciri dasar kehidupan manusia yang segera disadari oleh para antropolog dan sosiolog yang serius adalah tingkat diversitas yang luar biasa banyaknya dalam sistem sosiokultural. Para ilmuwan sosial seringkali berhadapan dengan berbagai kebudayaan yang sangat berbeda dengan kebudayaan mereka sendiri.  Perasaan takut dan shock yang sering dialami oleh para antropolog yang berkerja di lapangan ketika pertama kali berhadapan dengan kebudayaan yang sangat berbeda dideskripsikan secara gamblang oleh Napoleon Chagnon, ketika ia pertama kali bertemu dengan  suku Indian Yanomamo di Amerika Selatan (Chagnon, 1983:10-11). Kejutan budaya yang dialami Chagnon tidak terbatas bagi ilmuwan sosial profesional saja. Ia dapat saja dialami oleh semua orang yang tiba-tiba menghadapi cara hidup yang sangat berbeda dengan cara hidupnya sendiri. Reaksi yang lahir dari gejala ini adalah apa yang disebut dengan etnosentrisme, yaitu kecenderungan seseorang untuk memandang hidupnya sendiri sebagai cara hidup yang paling unggul dari semua cara hidup yang lain. Jadi, Chagnon tercekam atas apa yang ia saksikan karena kebudayaan industrial Barat hampir tidak membekalinya untuk menghadapi gejala semacam: busur ditarik, ketelanjangan, ingus hijau yang mengalir dari hidung, dan kekotoran ketika ia mendatangi suku tersebut sebagai seorang tamu. Pada tingkat yang sangat substansial, kita adalah hasil dari kebudayaan kita sendiri, dan sebenarnya kita dikondisikan untuk menganggap cara hidup kita sendiri sebagai cara yang paling menyenangkan, dan kebudayaan lain dipandang memberikan gaya hidup yang kurang menyenangkan.  Etnosentrisme adalah gejala universal manusia. Suku Yanomamo sendiri tidak terlepas dari hal itu. Chagnon melaporkan bahwa karena dia bukan orang Yanomamo, mereka cenderung menganggapnya kurang manusiawi. Yanomamo adalah  salah satu dari banyak masyarakat  dunia yang suka bermusuhan dan perang, namun ketika Chagnon menceritakan kepada mereka tindakan orang Amerika dalam perang Vietnam, mereka secara moral merasa jijik dan menganggap perilaku semacam itu sebagai biadab dan tidak menusiawi.

Etnosentrisme melahirkan problem khusus dalam melakukan penelitian pada kebudayaan lain, karena, jika cukup kuat, ia akan menjadi penghalang yang serius untuk dapat melakukan kajian yang objektif dan akurat. Seandainya Chagnon tidak dapat mengendalikan etnosentrisme, dia tidak akan pernah mampu menyelesaikan proyek penelitiannya dengan baik. Antropolog dan sosiolog  telah melawan masalah ini dengan mengembangkan doktrin yang berlawanan yang dikenal dengan relativisme kultural. Relativisme kulutural ini merupakan doktrin yang menyatakan bahwa tidak ada kebudayaan yang secara inheren lebih superior atau inferior dari kebudayaan yang lain. Tetapi karena setiap kebudayaan merupakan solusi adaptif terhadap problem-problem fundamental menusia, maka semua kebudayaan “sama-sama sah”. Penganut relativisme kultural percaya bahwa standar suatu kebudayaan tidak dapat digunakan untuk mengevaluasi kebudayaan yang lain, dan karena itu standar untuk mengevaluasi kebudayaan hanyalah standar yang dimiliki kebudayaan itu sendiri. Jika doktrin ini kita terapkan untuk menilai nilai susila pembunuhan terhadap perempuan (pembunuhan secara selektif terhadap anak perempuan) di kalangan suku Yanomamo, semua kita dapat berkata, “walaupun salah menurut kita, itu betul menurut mereka, dan tidak dapat dikutuk secara kategoris”. Dan kita akan memberikan pengakuan bahwa pembunuhan tersebut “benar” bagi suku Yanomamo karena ia menyajikan solusi adaptif atas problem eksistensi manusia.

Sebagai sebuah perspektif moral atau etis, relativisme kultural telah banyak menerima kritik keras, dan ia tidak membentuk sebuah sistem etika yang memuaskan (Kohlberg, 1971; Patterson, 1977). Problem-problem yang menyertainya sudah banyak diketahui. Sebagai salah satu contohnya, ia dapat dengan cepat  jatuh ke dalam “penyakit yang sekaligus obatnya” (Kohlberg, 1971). Yakni, ia akan mengakibatkan adanya  “persetujuan terhadap praktek-praktek yang pada dasarnya tidak manusiawi” (Hatch, 1983:81). Misalnya, perspektif penganut relativisme kultural yang ketat akan mendesak kita mengesahkan praktek-praktek seperti pengusiran yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina, penyerangan Amerika Serikat terhadap Irak, perbudakan, Gang pemerkosa wanita pada suku Yanomamo, dan banyak lagi gejala kultural yang secara moral terasa menjijikkan jika dipandang dengan standar yang masuk akal –semuanya atas nama toleransi terhadap cara hidup yang lain. Di samping itu, relativisme kultural tampak mengekalkan semacam  “tirani adat” dengan meninggalkan sedikit sekali atau tidak ada sama sekali ruang bagi otonomi individu (Hatch, 1983).

Dalam kenyataannya, batas-batas relativisme kultural tampak jelas hanya bagi banyak relativis kultural sendiri, sebagian mereka melanggar prinsip mereka sendiri dalam praktek yang mereka lakukan, walaupun mereka secara formal mengakui relativisme kultural. Misalnya, Ruth Benedict, salah seorang arsitek utama relativisme kultural pada dekade awal abad XX, secara konsisten mengurangi pendirian relativismenya sendiri. Dalam bukunya yang terkenal, Pattern of Culture (1943), ia dengan jelas menunjukkan preferensinya kepada sifat-sifat kultural tertentu, di antara yang lainnya, dengan memperlihatkan rasa tidak suka tertentu kepada berbagai kebudayaan yang di dalamnya kekuatan memainkan peranan penting.

Elvin Hatch (1983) menganjurkan suatu cara bagi relativisme kultural untuk mengatasi kekurangan-kekurangan dasarnya sambil mempertahankan apa yang dipandang bernilai dan untuk mengembangkan toleransi. Ia mengajukan apa yang disebut “prinsip humanistik” sebagai alat untuk menilai kebudayaan lain. Prinsip ini menyatakan bahwa berbagai kebudayaan dapat dievaluasi dalam kaitannya dengan, apakah ia membahayakan orang atau tidak, baik dengan cara penyiksaan, pengorbanan, perang, represi politik, eksploitasi, dan seterusnya. Prinsip ini juga menilai kebudayaan dengan melihat seberapa baik ia menyediakan keperluan material bagi para anggotanya, misalnya sejauh mana manusia bebas dari kemiskinan, kekurangan gisi, penyakit, dan seterusnya. Terlepas pari kepentingan ini, kebudayaan tidak dapat dinilai bermakna.

Walaupun usulan Hatch tampak merupakan perbaikan terhadap relativisme kultural, sayangnya persoalan etis yang rumit itu tidak dapat dipecahkan dengan mudah. Sangat diragukan bahwa versi relativisme kulturalnya Hatch yang sudah banyak dimodifikasi tersebut inipun dapat diambil sebagai filsafat etis yang dapat diterima sebagai yang banar. Namun, di samping penolakan  kepada kedua versi relativisme kultural ini,  harus diakui bahwa relativisme kultural ada gunanya dan diperlukan sebagai semacam premis yang secara praktis memberikan panduan dalam melakukan eksplolasi sifat berbagai sistem sosiokultural. Karena itu ia mempunyai nilai metodologis, jika tidak etis. Ia mempunyai nilai metodologis karena ia mengharuskan pengujian terhadap pola-pola budaya dalam kaitannya dengan karakter adaptifnya. Tanpa relativisme kultural sebagai alat metodologis, kita akan berhadapan dengan berbagai budaya lain yang mempunyai serangkaian penyangga kultural, yang hasilnya pasti akan  mengekalkan ketidaktahuan, daripada menerangkan cara kerja dasar dari berbagai sistem sosiokultural.

f.   Subkultur dan Budaya Tandingan

Istilah kebudayaan (culture)  biasanya digunakan untuk menyebut seluruh cara hidup suatu masyarakat yang dipandang sebagai sebuah keutuhan. Namun, dalam sistem sosiokultural masyarakat yang sangat kompleks, seperti masyarakat industrial Barat, penting untuk mengakui  sifat pola-pola budaya yang beragam yang ada dalam masyarakat tersebut. Untuk alasan ini, para sosiolog mengembangkan konsep subkultur dan budaya tandingan.

Subkultur  adalah budaya yang lebih kecil yang ada dalam kerangka kebudayaan yang lebih besar. Anggota subkultur mengikuti pola budaya khas yang dalam beberapa hal berbeda dengan budaya yang ada dalam kerangka budayanya yang lebih besar, namun pada saat yang sama umumnya menerima dan mengikuti pola budaya yang lebih besar. Para mahasiswa, misalnya, membentuk subkultur dalam arti bahwa mereka bertindak dan berpikir dengan cara yang berbeda dalam beberapa hal dari kebudayaan Indonesia sebagai sebuah keseluruhan. Kelompok-kelompok etnis yang beragam dalam masyarakat industrial yang kompleks –kelompok-kelompok yang dibedakan  atas dasar asal budaya dan suku bangsa–  memperlihatkan pola-pola subkultur yang berbeda karena mereka mengikuti cara bertindak dan berpikir yang agak unik. Para profesor, dokter, buruh pabrik, artis, dan atlet profesional juga membentuk perbedaan-perbedaan subkultur tertentu; perbedaan-perbedaan ini muncul karena perbedaan pekerjaan. Banyak subkultur yang lain terdapat dalam masyarakat yang kompleks, tentu saja, dengan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti ras, agama, wilayah, dan kelas sosial yang berfungsi sebagai kriteria penting untuk pembeda subkultural.

Sebagaimana subkultur, budaya tandingan memiliki pola budaya berbeda yang ada dalam kebudayaan yang lebih luas. Namun, berbeda dengan sibkultur, anggota budaya tandingan biasanya tidak mengikuti pola budaya yang dominan. Sebagai gantinya, budaya tandingan cenderung didasarkan atas perlawanan terhadap, atau penolakan terhadap pola yang dominan tersebut. Sebagian budaya tandingan pada dasarnya bersifat revolusioner sehingga mereka dianggap sebagai usaha melakukan perubahan fundamental dalam kebudayaan yang dominan. Namun, kebanyakan budaya tandingan tidak diilhami oleh maksud-maksud revolusioner semacam itu, sebaliknya, mereka pada umumnya merupakan lingkaran terorganisasi yang menarik diri dari arus utama kehidupan budaya. Dalam kategori ini dapat dimasukkan kelompok-kelompok seperti “hippies” pada tahun 1960-an. Salah satu budaya tandingan yang paling baru muncul di masyarakat Indonesia adalah kelompok “berambut punk” pada tahun 1980-an.

BAB 3

EVOLUSI  SOSIOKULTURAL

1.   Sistem Sosiokultural

Berbagai cara mengkompartementalisasikan berbagai sistem sosio-kultural telah diajukan oleh para ilmuwan sosial. Namun, buku ini memakai prosedur yang serupa dengan prosedur yang dikembangkan Marvin Harris (1979), yang telah menyajikan skema kompartementalisasi yang menguraikan perbedaan terkenal yang dibuat oleh Marx antara infrastruktur dan suprastruktur. Skema ini adalah alat analisis yang sangat berguna untuk memahami struktur dan sistem sosiokultural yang berlaku.

Komponen Dasar Sistem Sosiokultural

Superstrutur                    Ideologi umum 

Ideologis                         Agama

Ilmu pengetahuan

Kesenian

Kesusastraan

Struktur Sosial                Ada (atau tidak ada) stratifikasi sosial

Ada (atau tidak ada) stratifikasi rasial dan etnis

Politik (polity)

Pembagian kerja secara seksual dan ketidaksamaan secara seksual

Keluarga dan kekerabatan

Pendidikan

Infrastruktur Material      Teknologi

Ekonomi

Ekologi

Demografi

Ekonomi

Ekologi

Demografi

Kepolitikan (polity)

Teknologi

a.  Infrastruktur Material

Infrasruktur material berisi bahan-bahan dan bentuk-bentuk sosial yang berkaitan dengan upaya manusia mempertahankan hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya. Infrastruktur sebuah masyarakat adalah komponen yang paling dasar dalam pengertian bahwa tanpa itu, maka dia tidak akan mungkin bertahan secara fisik. Infrastruktur ini terdiri dari empat sub unit dasar, yaitu:

  1. Teknologi. Teknologi  terdiri atas informasi, peralatan, teknik, yang dengannya manusia beradaptasi dengan lingkungan fisiknya (Lenski, 1970). Ia tidak hanya berisi peralatan atau objek yang bersifat fisik atau kongkret, tetapi juga pengetahuan yang dapat diaplikasikan manusia dengan cara tertentu. Dengan demikian, kursi, bantal, dan mobil adalah unsur-unsur  teknologi, tetapi pengetahuan tentang bagaimana menjinakkan dan memelihara tanaman dan binatang liar juga termasuk teknologi.
  2. Ekonomi. Ekonomi suatu masyarakat adalah  sistem yang teratur di mana barang dan jasa dihasilkan, didistribusikan, dan dipertukarkan di antara para individu dan masyarakat. Produksi merujuk kepada berbagai hal, sepeti barang apa yang diproduksi, oleh siapa, alat dan teknik apa yang digunakan, dan siapa yang memiliki bahan-bahan dasar yang masuk ke dalam proses produksi. Distribusi meliputi cara barang-barang yang telah diproduksi itu dialokasikan ke berbagai individu dan kelompok dalam masyarakat. Pertukaran dilakukan apabila para individu atau kelompok menyerahkan sesuatu yang berharga kepada orang lain sebagai ganti barang berharga lain yang dia peroleh darinya. Cara sebuah masyarakat mendistribusikan barang dan jasa umumnya bergantung kepada cara barang dan jasa tersebut diproduksi.
  3. Ekologi. Ekologi meliputi seluruh lingkungan fisik yang terhadapnya manusia harus beradaptasi. Ia meliputi sifat-sifat tanah, sifat iklim, pola hujan, sifat kehidupan tanaman dan binatang, serta tersedianya sumber daya alam. Dalam pengertian yang ketat, ekologi bukanlah bagian dari sistem sosiokultural; ia merupakan lingkungan eksternal yang terhadapnya sistem sosiokultural harus menyesuaikan diri. Namun, karena faktor ekologis seringkali merupakan determinal krusial bagi berbagai aspek kehidupan sosial, maka di sini ekologi diperlukan sebagai komponen dasar sistem sosiokultural.
  4. Demografi. Faktor demografi adalah faktor yang meliputi sifat dan dinamika penduduk manusia. Kepadatan dan jumlah penduduk, pertumbuhan, kemerosotan, atau stabilitasnya, serta komposisi umur dan jenis kelamin merupakan hal yang penting diketahui dalam mengkaji suatu masyarakat. Faktor demografis juga mencakup teknik pengaturan penduduk atau pengendalian kelahiran dan intensitas penerapan teknik tersebut.

b.  Struktur Sosial

Komponen sistem sosiokultural berisi pola-pola kehidupan sosial yang teratur yang dipakai di kalangan para anggota suatu masyarakat, selain pola-pola sosial yang termasuk dalam infrastruktur.  Harus dicatat bahwa struktur sosial selalu merujuk kepada pola perilaku aktual, sebagai lawan dari kesan-kesan atau konsepsi-konsepsi mental yang dimiliki orang tentang pola-pola tersebut. Dengan kata lain, struktur sosial berisi apa yang dilakukan orang secara aktual, bukan apa yang mereka katakan telah mereka lakukan, bukan pula apa yang mereka pikir mereka lakukan, atau yang mereka pikir harus mereka lakukan. Untuk tujuan ini, struktur sosial berisi enam sub unit:

  1. Ada (atau tidak adanya) stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial merujuk kepada adanya kelompok-kelompok dalam masyarakat yang tidak sama kekayaan dan kekuasaannya. Tidak semua masyarakat memiliki stratifikasi sosial. Dalam mengkaji sebuah masyarakat, sangat penting mengetahui apakah ada stratifikasi di dalamnya atau tidak; jika ada, sifat dan tingkat stratifikasi tersebut harus pula diketahui secara pasti.
  2. Ada (atau tidak adanya) stratifikasi etnis dan rasial. Ini merujuk kepada apakah ada atau tidak ada kelompok-kelompok dalam masyarakat yang mungkin dibedakan berdasarkan karakteristik rasial atau etnis; dan jika ada, apakah masing-masing kelompok menempati posisi sama antara satu dengan lainnya. (Kelompok-kelompok rasial adalah kelompok yang bisa dibedakan atas dasar karakteristik-karakteristik yang bisa dilihat secara fisik; kelompok etnis adalah kelompok yang memperlihatkan perbedaan-perbedaan kultural). Banyak masyarakat dalam sejarah manusia yang tidak mempunyai stratifikasi rasial atau etnis. Namun pada beberapa ratus tahun yang lalu, stratifikasi rasial/etnis telah menjadi ciri penting dari banyak masyarakat yang kompleks.
  3. Politik. Ini merujuk kepada cara-cara terorganisasi sebuah masyarakat dalam memelihara hukum dan aturan internal, juga cara-cara mengatur dan melakukan hubungan antarmasyarakat. Semua masyarakat mempunyai sistem politik, walaupun sifat sistem tersebut sangat bervariasi dari masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.
  4. Pembagian kerja secara seksual dan ketidaksamaan secara seksual. Ini meliputi cara di mana lelaki dan perempuan dialokasikan pada tugas dan peran tertentu dalam pembagaian kerja sosial. Ia juga mencakup cara dan tingkat sejauh mana lelaki dan perempuan menduduki posisi tingkatan, kekuasaan, dan hak-hak yang tidak sama dalam sebuah masyarakat. Walaupun pembagian kerja secara seksual dan ketidaksamaan secara seksual merupakan kenyataan universal,  sangat banyak variasi bentuknya di antara berbagai masyarakat.
  5. Keluarga dan kekerabatan. Semua masyarakat mempunyai sistem keluarga dan kekerabatan, atau pola-pola sosiokultural yang teratur yang mengatur pelaksanaan perkawinan dan reproduksi. Namun, sekali lagi, sifat khas sistem ini sangat bervariasi dari masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya. Lebih dari itu, sub-sub kultur yang berbeda dalam suatu masyarakat seringkali memperlihatkan perbedaan pola keluarga dan kekerabatan.
  6. Pendidikan. Pendidikan adalah sistem pengajaran kultural atau intelektual yang formal atau semi formal. Kebanyakan masyarakat mempunyai sistem pendidikan yang tidak begitu formal, tetapi tidak ada masyarakat yang tidak mengembangkan prosedur untuk mentransmisikan pengetahuan, keterampilan, atau nilai kepada generasi berikutnya.

c.  Suprastruktur Ideologis

Suprastruktur ideologis meliputi cara-cara yang telah terpolakan, yang dengan cara tersebut para anggota masyarakat berpikir, melakukan konseptualisasi, menilai, dan merasa, sebagai lawan kata dari apa yang mereka lakukan secara aktual. Kalau struktur merujuk kepada perilaku, maka suprastruktur merujuk kepada pikiran. Suprastruktur mencakup beberapa sub komponen berikut:

  1. Ideologi umum. Ini merujuk kepada karakteristik kepercayaan, nilai dan norma yang menonjol dalam suatu masyarakat atau dalam beberapa bagian dari suatu masyarakat. Kepercayaan memberikan asumsi-asumsi kognitif tentang apa yang benar dan apa yang salah. Kepercayaan ini menyangkut hakekat alam semesta, teknik pendidikan anak yang bagaimana yang menghasilkan anak-anak berkepribadian sehat, perbedaan-perbedaan apa  yang ada antara lelaki dengan perempuan, dan masih sangat banyak lagi. Nilai adalah konsepsi tentang sesautu yang bernilai yang didefinisikan secara sosial. Ia menentukan pemahaman kita tentang apa yang baik dan buruk, indah atau jelek, disukai atau tidak disukai, dan seterusnya. Norma menunjukkan standar atau aturan bersama yang berkaitan dengan tindakan sosial yang pantas dan tidak pantas. Ia adalah perintah dan larangan yang berusaha ditanamkan suatu masyarakat ke dalam diri para anggotanya. Semua masyarakat menciptakan kepercayaan, nilai, dan norma, tetapi diversitas gejala ini sangat besar.
  2. Agama. Agama berisi kepercayaan dan nilai bersama yang bersinggungan dengan kayakinan akan adanya kekuatan dan kekuasaan sesuatu yang bersifat supernatural. Adanya kekuatan dan kekuasaan sesuatu yang adikodrati itu umumnya dianggap secara langsung mencampuri jalannya suatu masyarakat, atau paling tidak, mempunyai hubungan tidak langsung dengannya. Seperti banyak komponen sistem sosiokultural lainnya, agama merupakan ciri universal kehidupan sosial manusia.
  3. Ilmu (sains-science). Ilmu  adalah serangkaian teknik untuk memperolah pengetahuan  dengan mendasarkan kepada observasi dan pengalaman (yaitu pengumpulan bukti-bukti faktual, demonstrasi, dan pembuktian dan lain-lain). Ia tidak hanya meliputi teknik dan prosedur untuk menghasilkan pengetahuan, tetapi juga bangunan akumulatif pengetahuan itu sendiri. Dengan memahaminya seperti ini, ilmu  bukanlah bagian kebudayaan yang bersifat universal, tetapi hanya berkembang di tempat dan dalam waktu tertentu.
  4. Kesenian. Kesenian adalah komponen sosiokultural yang bersifat universal. Ia berisi kesan-kesan atau pengungkapan-pengungkapan simbolik yang mempunyai nilai estetis, emosional, atau intelektual bagi para anggota suatu masyarakat atau bagian dari suatu masyarakat. Kesan-kesan dan pengungkapan-pengungkapan simbolik yang dibicarakan ini bersifat fisik.
  5. Kesusastraan. Kesusastraan juga berisi kesan-kesan atau pengungkapan-pengungkapan simbolik yang mempunyai nilai estetis, emosional, atau intelektual. Namun, dalam hal ini kesan-kesan atau pengungkpan-pengungkapan  lebih bersifat verbal (lisan maupun tulisan) daripada bersifat fisik. Dengan pemahaman seperti ini, mite, legenda, dan drama Shakespeare semuanya dianggap sebagai kesusastraan.

2.  Hakikat Evolusi Sosiokultural

a.   Evolusi Sosiokultural

Suatu problem yang berkaitan dengan penggunaan istilah evolusi untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam berbagai sistem sosiokultural adalah, bahwa makna harfiyah istilah itu sendiri menyesatkan. Sebagaimana dinyatakan oleh Elman Service (1971), istilah ini berasal dari bahasa Latin, evolutis, yang berarti “pembukaan gulungan”. Ini jelas menyiratkan bahwa evolusi mencakup suatu “pembentangan” atau “perkembangan”, sebuah proses di mana sistem sosiokultural mulai menyadari kemungkinan-kemungkinan potensial yang sejak awal melekat di dalam dirinya. Ia menyiratkan bahwa evolusi adalah gerakan ke arah “tujuan” akhir, bahwa berbagai masyarakat  berkembang dengan cara yang sama sehingga embrio yang matang menjadi organisme yang sehat yang hidup di luar tubuh induknya. Masalahnya adalah, karena evolusi sosiokultural tidak sama dengan pengertian di atas. Sebagaimana dalam hal evolusi biologis, tidak ada “tujuan” akhir  bagi evolusi sosikultural. Tidak ada “perkembangan” ke arah keadaan akhir.

Untuk menghindari salah pengertian tentang hakikat evolusi sosiokultural, perlu diperjelas makna harfiyah istilah tersebut dan bahaya-bahaya yang ada di dalamnya. Sebagai upaya awal untuk mendekati pemahaman tentang istilah ini, di sini evolusi sosiokultural didefinisikan sebagai sebuah proses perubahan di mana satu bentuk sosiokultural beralih ke bentuk yang lain. Dengan mengkonseptualisasikannya seperti ini, evolusi sosiokultural adalah sebuah proses perubahan yang lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Perubahan kuantitatif adalah perubahan dari jumlah yang kurang menjadi jumlah yang lebih atau sebaliknya. Sebaliknya, perubahan kuantitatif adalah perubahan di mana suatu jenis atau bentuk baru menggantikan jenis atau bentuk lama. Tentu saja, perubahan kualitatif itu sendiri adalah hasil dari serangkaian perubahan kuantitatif yang terjadi sebelumnya. Ketika perubahan-perubahan kuantitatif terakumulasi dalam waktu tertentu, maka ia akhirnya akan menghasilkan suatu transformasi yang kita istilahkan dengan perubahan kualitatif. Namun, kita dapat dengan sungguh-sungguh berbicara tentang transformasi evolusioner sampai tingkat perubahan kualitatif dapat tercapai. Dengan demikian, peralihan suatu masyarakat dari masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada kegiatan meramu dan berburu ke masyarakat yang meggantungkan hidup pada kegiatan pertanian, merupakan sebuah perubahan evolusioner, begitu juga dengan peralihan dari pertanian ke industri. Demikian juga, munculnya pembagian kelas sosial dalam suatu masyarakat yang tidak pernah ada sebelumnya, adalah sebuah perubahah evolusioner. Namun, pertambahan jumlah desa dalam suatu masyarakat bukanlah perubahan evolusioner apabila desa-desa baru tersebut hanyalah tiruan dari desa-desa yang sudah ada.

Tetapi, ada pengertian tentang evolusi yang agak lebih dari pengertin yang disiratkan dengan gagasan tentang perubahan kualitatif. Karena itu, untuk melengkapi definisi  tentang evolusi sosiokultural di atas, kita perlu menambahkan bahwa perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang menunjukkan arah yang pasti. Yang dimaksud adalah, bahwa evolusi sosiokultural adalah perubahan terpola yang metampakkan sebuah kecenderungan yang bersifat linear. Sebagai contoh, perubahan-perubahan pada tingkat teknologi yang menambah kecanggihan dan efesiensi peralatan dan teknik produksi, yang menunjukkan kecenderungan yang terarah. Kecenderungan itu juga diindikasikan oleh pertambahan, tingkat, dan intensitas ketidaksamaan kelas sosial.

Banyak penganut evolusioner berpendapat bahwa arah kecenderungan utama dalam evolusi sosiokultural adalah bertambahnya kompleksitas masyarakat (Parsons, 1966; 1977). Robert Carneiro (1972), misalnya, menyatakan bahwa dalam kenyataannya inilah yang dimaksud dengan evolusi –perubahan yang mengarah kepada semakin kompleksnya masyarakat–  dan bahwa pemakaian konsep yang lain akan melemahkan dan mengurangi pengertiannya. Namun, walaupun harus diakui bahwa kompleksitas masyarakat yang terus meningkat merupakan dimensi penting dalam evolusi sosial, tidak dapat dibenarkan menganggapnya sebagai satu-satunya dimensi, atau dimensi yang terpenting. Evolusi sosiokultural mempunyai banyak dimensi, dan dengan demikian memiliki banyak arah kecenderungan, dan kita tidak akan membatasi  diri untuk hanya menganlisis satu dimensi saja.

Evolusi sosiokultural meliputi, baik seluruh sistem sosiokultural maupun komponen-komponen terpisah dari sistem tersebut. Yang biasanya terjadi adalah bahwa perubahan berawal dari satu komponen (atau sub komponen) dan perubahan ini menimbulkan perubahan-perubahan pada komponen yang lain. Seluruh mata rantai sebab dan akibat bergerak sehingga akhirnya menghasilkan transformasi pada seluruh sistem sosiokultural.

Sebagian ilmuwan telah menegaskan perbedaan antara istilah sejarah dan evolusi. Yang paling terkenal dalam hal ini adalah Leslie White (1945). Argumen White adalah bahwa sejarah berkaitan dengan berbagai peristiwa atau perubahan yang unik, sementara evolusi meliputi pola-pola karakteristik perubahan masyarakat manusia secara umum. Menurut pandangan ini, sejarah membatasi perhatian seseorang kepada detil-detil tertentu dalam perubahan historis yang terjadi dalam suatu masyarakat, sedangkan evolusi meliputi analisis seseorang terhadap karakteristik-karakteristik perubahan yang teratur dan sistematik dari semua atau hampir semua masyarakat.  Walaupun ada justifikasi terhadap pembedaan yang dibuat White, pembedaan ini agak artifisial dan berlebihan. Semua perubahan dalam sistem sosiokultural dapat dianggap evolusioner sejauh ia meliputi transformasi yang bersifat kualitatif dan terarah pada seluruh atau salah satu atau lebih bagian-bagiannya. Ini benar, apakah perubahan-perubahan tersebut terjadi hanya pada satu masyarakat atau apakah ada perubahan yang sama yang terjadi dalam ratusan masyarakat (Harris, 1968). Namun, walaupun benar, paling tidak menurut semangat pernyataan White, kita akan berusaha memahami transformasi-transformasi evolusioner penting yang menandai sejumlah besar masyarakat dunia.

Kecermatan khusus harus diberikan untuk menghindari identifikasi evolusi sosiokultural dengan kemajuan (progress). Ini adalah kesalahan besar para evolusionis terkemuka abad XIX. Para pemikir ini cenderung menafsirkan perbaikan dalam rasionalitas, moralitas, dan kebahagiaan manusia sebagai evolusi, dan karena kesalahan ini mereka dikritik secara tepat oleh para ilmuwan yang muncul belakangan. Istilah kemajuan adalah konsep moral dan harus tidak boleh dipakai pada data yang dikumpulkan dalam usaha ilmiah untuk memahami pola-pola dasar perubahan evolusioner. Karena semua masyarakat memberikan, dalam kadar tertentu, solusi adaptif terhadap berbagai kebutuhan dasar manusia, adalah kesalahan yang sangat serius mengasumsikan bahwa sebagian masyarakat lebih unggul  dari masyarakat lain hanya karena ia terjadi lebih belakangan dalam sejarah atau karena ia secara evolusioner lebih kompleks.

b.  Evolusi Paralel, Konvergen, dan Divergen

Evolusi sosiokultural bukanlah proses tungga yang terjadi dengan cara yang sama pada seluruh masyarakat. Sebagaimana evolusi biologis, evolusi sosiokultural mempunyai karakter “ganda”(Sahlins, 1960). Pada satu sisi, ia merupakan proses yang meliputi transformasi menyeluruh pada masyarakat manusia. Ia memperlihatkan suatu karakter umum dan pola terarah dalam semua masyarakat yang mengalaminya. Proses ini biasanya dikenal dengan evolusi umum (general evolution). Di sisi lain, evolusi sosiokultural memperlihatkan diversifikasi adaptif yang mengikuti banyak garis yang berbeda-beda dalam banyak masyarakat. Rincian-rincian spesifik dari perubahan evolusioner umumnya berbeda dari satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya. Pola perubahan ini secara tipikal disebut evolusi spesifik (spesific evolution) (Sahlins, 1960).

Pembedaan ini dapat lebih diperjelas dengan memperkenalkan tiga konsep tambahan yaitu evolusi paralel, konvergen, dan divergen (Harris, 1968). Evolusi paralel terjadi apabila dua atau lebih masyarakat berkembang dengan cara yang sama dan pada tingkat yang pada dasarnya sama. Sebagai contoh, mulai sekitar 10.000 tahun yang lalu komunitas-komunitas manusia di berbagai wilayah dunia secara independen mulai memelihara tanaman dan binatang serta menopang hidup mereka dengan bertani daripada meramu dan berburu. Penerapan pertanian dalam berbagai komunitas ini menimbulkan perubahan-perubahan yang sangat serupa dalam seluruh pola sosiokulturalnya.  Evolusi konvergen terjadi ketika berbagai masyarakat yang semula berbeda, berkembang dengan cara yang membuat mereka semakin serupa. Amerika Serikat dan Jepang, misalnya, telah berkembang mengikuti garis konvergen dalam seratus tahun yang lalu. Evolusi divergen terjadi ketika berbagai masyarakat yang semula sama berkembang mengikuti garis yang semakin berbeda. Contoh paling baik untuk gejala ini adalah hasil dari perbandingan antara Jepang dan Indonesia (Geertz, 1963). Kedua masyarakat ini sangat serupa pada awal abad XVII, tetapi sekarang keduanya sangat berbeda: Jepang adalah bangsa industrial modern dengan standar hidup yang tinggi, sementara Indonesia adalah negara miskin dan terbelakang.

Namun, bukti yang kuat menunjukkan bahwa evolusi paralel dan konvergen merupakan gambaran yang lebih dominan dalam sejarah manusia ketimbang evomusi divergen (Harris, 1968).

c.  Kontinuitas, Devolusi, dan Kepunahan

Evolusi sosiokultural merupakan ciri yang melekat pada kehidupan sosial, dan tidak ada masyarakat yang sama sekali statis atau tidak berubah. Namun, ada beberapa contoh masyarakat yang barangkali tidak mengalami perubahan signifikan selama ribuan tahun. Gejala ini dikenal dengan kontinuitas sosiokultural. Banyak masyarakat peramu dan pemburu, misalnya, yang dapat bertahan sampai sekarang, dan kebanyakan mereka barangkali tidak mengalami perubahan penting selama ratusan atau ribuan tahun.

Karena itu harus dipertanyakan mengapa sebagaian masyarakat mengalami berbagai transformasi besar, tetapi masyarakat lain tidak mengalaminya. Evolusi sosiokultural adalah sebuah hasil adaptif terhadap berbagai kondisi yang sedang berubah. Masyarakat berkembang untuk memenuhi berbagai permintaan dan kebutuhan baru. Dalam situasi yang tidak berubah, pola sosiokultural yang ada mencukupi untuk memecahkan problem dasar eksistensi manusia, dan tidak ada perubahan evolusioner yang perlu terjadi. Jadi, sebagaimana evolusi, kontinuitas merupakan sebuah proses adaptif. Keduanya akan terjadi bergantung apakah kondisi yang melatarbelakanginya yang diperlukan bagi eksistensi dan kesejahteraan manusia mengalami perubahan atau tetap sama seperti semula.

Kebanyakan masyarakat manusia dalam kadar tertentu ditandai oleh stabilitas ataupun transformasi evolusioner.  Namun, dalam beberapa kasus, suatu masyarakat dapat mengalami perubahan devolusioner, yaitu berubah menyurut ke bentuk yang mempunyai karakter tahap evolusioner sebelumnya. Ini dapat berarti menurunnya kompleksitas masyarakat, atau mungkin hilangnya kohesi sosial. Ilustrasi yang sangat baik untuk kejadian seperti ini dapat diperoleh dari deskripsi tentang suku Ik di Uganda yang dibuat oleh Colin Turnbull (1972). Suku Ik adalah masyarakat pemburu dan peramu yang telah mengalami penderitaan ekonomi ketika tradisi berburu yang masih hidup beralih ke perternakan yang diprogramkan oleh pemerintah Uganda. Peristiwa ini mempercepat keruntuhan sistem sosiokultural suku Ik. Dengan hilangnya cara-cara menopang hidup mereka yang bersifat tradisional, dan karena peralihan ke pertanian sulit atau tidak mungkin dilakukan, suku Ik mengalami kemerosotan substansial dalam jumlah penduduk, kehilangan basis kohesi politik, dan bahkan mengalami erosi dalam hubungan antara para anggota keluarga. Hasilnya adalah cara hidup dengan ikatan sosial antara semua anggota masyarakat sudah hancur.

Contoh lain dari tranformasi devolusioner adalah runtuhnya kekaisaran Reomawi pada abad V Masehi. Roma telah menciptakan kekaisaran yang sangat besar, yang meluas dari Mesir di sebelah selatan sampai kepulauan Inggris di utara. Berbagai wilayah kekuasaan tersebut dihubungkan dengan sistem jalan yang sangat bagus, dan kekaisaran tersentralisasi secara ekonomi, politik dan militer. Ketika kekaisaran akhirnya runtuh setelah kemerosotan yang berlangsung lama dan pelan-pelan, Eropa menyusut menjadi wilayah luas yang dipenuhi dengan desa-desa atau kerajaan-kerajaan kecil yang berdiri sendiri secara ekonomi.

Tentu saja, sebagian masyarakat akan mengalami penyusutan secara menyeluruh. Proses ini dikenal dengan  kepunahan sosiokultural. Nasib seperti ini telah terjadi pada banyak masyarakat pemburu dan peramu yang hidup sekarang ini, begitu juga pada berbagai masyarakat yang kompleksitas evolusionernya lebih tinggi. Sebuah sistem sosiokultural dapat menjadi punah karena musnahnya para anggota masyarakatnya secara fisik ataupun karena keterserapannya dalam masyarakat lain melalui penaklukan politik. Kedua proses ini sering terjadi dalam masyarakat manusia, terutama sejak munculnya kapitalisme modern pada abad XVI. Sebagai contohnya, Amerika Selatan pernah  dipenuhi dengan ratusan suku Indian. Dengan kemunculan dan ekspansi peradaban Amerika yang baru, kebanyakan anggota suku-suku ini terbunuh dalam  perang berdarah. Mereka yang tersisa akhirnya dikumpulkan di tempat-tempat penampungan, dan cara hidup mereka yang asli umumnya hilang.

d.   Adaptasi – Adaptedness

Buku ini menekankan karakter adaptif dari evolusi sosiokultural, dengan demikian, banyak sekali menggunakan konsep adaptasi sosiokultural. Sayangnya, konsep adaptasi sangat banyak diperselisihkan dalam sosiologi modern. Sebagian sosiolog menolak sama sekali konsep ini, dengan menyatakan bahwa ia secara inheren merupakan konsep fungsionalis yang jelas mempunyai konotasi konservatif (Zeitlin, 1973; Giddenss, 1981). Para sosiolog ini lalu mengusulkan agar konsep tersebut dibuang. Namun perombakan radikal tersebut tidak perlu dilakukan. Yang diperlukan bukan pembuangan terhadap konsep tersebut, tetapi klarifikasi yang cermat tentang pengertiannya.

Titik awal yang menentukan adalah seringkali pembedaan yang terlupakan antarta adaptasi (adaptation) dan keadaan di mana masyarakat telah beradaptasi (adaptedness). Elliott Sober (1984) telah menegaskan bahwa pembedaan ini penting untuk berpikir tentang evolusi biologis, dan argumennya dapat diperluas kepada evolusi sosiokultural. Perbedaan kedua konsep ini secara esensial adalah  perbedaan antara asal-usul suatu trait (ciri, sifat) sosiokultural dan konsekuensi-konsekuensi trait tersebut terhadap  individu (dan keturunan mereka) yang melahirkannya.  Kita mungkin dapat berkata bahwa adaptasi adalah suatu trait sosial yang muncul  sebagai akibat adanya kebutuhan, tujuan dan hasrat para individu. Dengan mengatakan seperti ini, trait ini membawa kepada suatu bentuk adaptedness, untuk mengatakan bahwa trait tersebut secara aktual efektif dalam memuaskan kebutuhan, tujuan dan hasrat individu yang melahirkannya sebagai sebuah adaptasi.  Sekarang, biasanya keduanya –adaptasi dan adaptedness— saling berhubungan, tetapi seringkali ada perkecualian di sini, dan perkecualian ini sangat signifikan dalam melakukan analisis sosiologis. Untuk mengilustrasikan perbedaan ini, kita dapat memandang adaptasi yang secara aktual membawa kepada adaptedness, dan tidak sebaliknya, paling tidak dalam perjalanan yang panjang.

Para petani India yang beragama Hindu selama beratus-ratus tahun menganggap  lembu sebagai binatang suci yang tidak boleh disembelih dan dikonsumsi. Gejala yang sangat menarik dan seringkali ganjil ini dapat dianggap sebagai sebuah adaptasi yang diciptakan para petani Hindu dalam mengatasi kondisi-kondisi teknologis, demografis, ekonomis, dan ekologis yang mereka hadapi. Dari semua yang tampak, adaptasi ini membawa kepada adaptedness, sehingga, karena keadaan mereka, para petani Hoindu tersebut jauh lebih baik memiliki kepercayaan itu daripada tidak. Jadi, adaptasi dan adaptedness saling berhubungan.

Namun,  pertimbangkanlah dua contoh lain di mana adaptasi membawa kepada akibat yang berbeda. Pada zaman modern ini, ukuran jumlah keluarga cenderung besar di banyak negara yang lebih miskin, karena di negara-negara ini kebanyakan orang hidup dengan bentuk pertnian tradisional. Petani dalam masyarakat ini menginginkan keluarga yang besar jumlahnya karena dengan memiliki banyak anak, semakin banyak menambah tanaga petani, dan semakin banyaknya petani, maka semakin mempunyai kesempatan yang besar untuk  memperbaiki produktivitas pertanian dan tingkat kesejahteraan ekonomi mereka. Karena itu, keluarga besar adalah sebuah adaptasi menurut pandangan setiap pasangan petani itu, dan adaptasi ini dapat membawa kepada adaptedness. Namun, sesuatu yang bersifat adaptif untuk sementara waktu bagi sepasang petani mungkin tidak adaptif bagi semua pasangan dalam jangka panjangnya. Efek menyeluruh dari keluarga besar petani ini adalah tingkat pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi bagi masyarakat secara keseluruhan, dan hasil akhir dari proses ini adalah semakin besarnya beban penduduk terhadp sumber daya yang ada, sehingga standar hidup bagi masing-masing pasangan petani semakin rendah. Jadi, apa yang semula merupakan adaptasi, secara paradoksal berakhir dengan  maladaptif dalam jangka panjang. Biolog Garret Hardin (1968) memberikan nama bagi proses ini dan proses serupa lainnya dengan nama grafik: ”Tragedi Bersama”.

Contoh lain dari jenis proses ini adalah ekspansi pendidikan dalam berbagai masyarakat modern. Sebab utama ekspansi pendidikan modern  adalah kompetisi di kalangan individu untuk memperoleh sertifikat pendidikan. Para individu berusaha memperoleh serifikat ini karena nilai ekonomisnya –yaitu kemampuannya untuk memperoleh pekerjaan yang diinginkan. Ketika semakin banyak individu yang memperoleh diploma dan ijazah, maka nilainya segera merosot karena meningkatnya penawaran para pemegang sertifikat tersebut di kalangan penduduk. Apa yang harus dilakukan seseorang dengan ijazah yang sudah menjadi murah? Mereka dapat menurunkan pilihan pekerjaannya, atau mereka tetap bertahan lebih lama di sekolah dan memperoleh ijazah yang lebih tinggi. Jika banyak orang memilih tindakan yang kedua, maka pendidikan terus meluas, dan nilai ijazah untuk memperoleh pekerjaan terus menurun, yang keduanya menunutut adanya gelombang pencarian ijazah yang baru, dan siklus tersebut terus berlanjut. Apa yang kita lihat di sini adalah proses melingkar yang berjalan sendiri. Dan jelaslah bahwa sebuah proses yang semula merupakan adaptasi –sebagai respon individu untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya—tetapi akhirnya melahirkan konsekuensi-konsekuensi  maladaptif dalam jangka panjang  –ijazah semakin murah, semakin banyak waktu yang dihabiskan sekolah, dan seterusnya.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa konsep adaptasi adalah konsep yang sulit dan kabur, sehingga harus dipahami secara bijaksana. Contoh-contoh ini juga berhubungan dengan peringatan lain tentang pemakaian konsep tersebut, yaitu agar ia tidak dikacaukan dengan beberapa ajaran tentang apa yang “baik” atau “disukai secara moral”.  Klaim tentang adaptasi adalah sebuah penilaian ilmiah tentang bagaimana berbagai jenis pola sosiokultural muncul, bertahan, dan berubah. Sebaliknya klaim tentang “kebaikan” sangat berbeda dengan itu. Ia adalah penilaian tentang apakah kita suka atau menyetujui sesuatu yang dilakukan orang. Dengan demikian, adalah sangat mungkin untuk secara sempurna mengidentifikasi sebuah pola sosiokultural sebagai sebuah adaptasi (dan adaptif) serta merasakan kejijikan moral terhadap pola tersebut. Sebagai contoh, suku Indian Yanimamo di Amerika Selatan secara teratur saling membunuh dalam perang berdarah dan membunuh sejumlah anak perempuan mereka, namun praktek tersebut dapat dipandang sebagai praktek yang sangat adaptif (Harris, 1974; 1987). Memahami kenyataan ini berarti membuat statemen ilmiah, dan bukan penilaian apakah ia dapat diterima secara moral.

Kita juga perlu memperoleh kejelasan tentang jenis unit tempat konsep adaptasi diterapkan –tentang apa yang beradaptasi.  Sebagian sosiolog  menyatakan bahwa adaptasi itu terjadi pada keseluruhan sistem sosiokultural. Ini dibenarkan, terutama oleh fungsionalis dan evolusionis fungsionalis (Parsons, 1966; 1971). Tetapi pendapat semacam itu tidak tepat. Sebagaimana telah disebutkan bahwa sistem sosiokultural tidak dapat diperbandingkan dengan organisme atau orang perorangan; ia tidak mempunyai hasrat dan kebutuhan, dan dengan demikian ia tidak dapat beradaptasi dengan sesuatu. Karena hanya orang perorangan yang mempunyai hasrat dan kebutuhan, maka hanya orang perorangan yang dapat  merupakan unit adaptasi. Tentu saja, kita kadang-kadang berbicara tentang, apakah sebuah trait sosiokultural bersifat adaptif atau tidak bagi sekelompok orang atau bahkan bagi masyarakat secara keseluruhan. Tetapi ketika kita membicarakannya, maka jelas bahwa kita hanya dapat merujuk kepada sekumpulan individu, dan dari sudut pandang masing-masing individulah adaptasi  atau adaptedness  dinilai.

Ini mendorong kita untuk mengakui titik krusial lain yang ditekankan oleh para teoritisi konflik, yaitu bahwa sebuah pola sosiokultural yang adaptif mungkin tidak menguntungkan secara sama bagi semua individu atau kelompok dalam sebuah masyarakat. Seringkali terjadi sebuah pola yang menguntungkan sebagian individu atau kelompok merupakan pola yang maladaptif bagi sebagian yang lain. Memang, jika masyarakat semakin kompleks secara evolusioner, maka semakin sering ini terjadi. Kapitalisme industrial pada masa awal, misalnya, adaptif bagi para pemilik perusahaan yang kaya, tetapi sangat maladaptif bagi ribuan pekerja pabrik yang mati karena kelaparan, kurang gisi, dan penyakit (Engels, 1845). Dan ini sangat berbeda dengan kapitalisme modern sebagai pola yang adaptif bagi sekelompok kecil penduduk dunia. Adalah sangat penting mengakui bahwa sama sekali tidak tepat mengklaim bahwa adaptedness adalah kualitas yang meningkat sepanjang evolusi sosiokultural. Banyak para evolusionis yang menyamakan evolusi sosiokultural dengan adaptedness yang lebih baik, dengan menyatakan bahwa secara evolusioner, masyarakat-masyarakat yang lebih belakangan telah meningkatkan “kapitalis adaptif” mereka. Gagasan ini diajukan dengan sangat serius oleh Parsons dan para evolusionis fungsionalis lainnya, tetapi gagasan ini juga didukung oleh sebagian  evolusionis materialis (Childe, 1936; White, 1959). Namun buku ini menolak pandangan tersebut, yang cenderung kepada etnosentrisme dan sulit didukung dengan kriteria objektif ilmiah (Granovetter, 1979). Bentuk-bentuk sosiokultural baru muncul sebagai adaptasi, tetapi adaptasi yang dipilih ini lebih bersifat adaptasi yang lebih baru daripada adaptasi yang lebih baik.

Akhirnya,  harus diakui bahwa tidak semua pola sosiokultural merupakan adaptasi, dan dengan demikian konsep adaptasi tidak memiliki daya serap universal. Tetapi walaupun kita tidak dapat menggunakan konsep ini pada setiap tempat dan waktu, kita masih jauh lebih baik jika memilikinya daripada tidak. Memang, dengan memiliki pandangan tentang adaptasi sebagai unsur yang mengarahkan, kita akan berada pada posisi mengenali trait-trait sosiokultural mana yang bukan merupakan adaptasi dan mengapa demikian.

e.  Perbedaan Evolusi Biologis dengan Evolusi Sosiokultural

Para ilmuwan sosial sejak lama tertarik kepada hubungan antara  evolusi biologis dan evolusi sosiokultural. Kedua proses ini mempunyai persamaan dan juga perbedaan signifikan, dan barangkali ada gunanya membahasnya secara garis besar..

Dua kesamaan dasar antara kedua jenis evolusi ini dapat dikenali. Pertama, baik evolusi biologis maupun sosiokultural, keduanya merupakan proses adaptif (juga, dalam pengertian adaptasi dan adaptedness). Bentuk biologis baru, sebagaimana pola  sosiokultural baru, pada umumnya muncul sebagai adaptasi terhadap keadaan yang berubah. Kedua, kedua bentuk evolusi tersebut memiliki karakter “ganda” yang diidentifikasi oleh Marshall Sahlins: keduanya memperlihatkan kecenderungan yang mengarah mengikuti berbagai pengaruh yang ada pada banyak jalur-jalur yang spesifik.

Kita dapat beranjak lebih jauh dan berkata bahwa proses evolusi paralel, divergen dan konvergen berlaku baik kepada evolusi biologis  maupun evolusi sosiokultural. Ini benar secara teknis, tetapi ia bisa juga menyesatkan, karena kebanyakan evolusi biologis ternyata merupakan evolusi divergen (istilah biologisnya cladogenesis). Kebanyakan evolusi biologis meliputi radiasi adaptif berbagai spesies pada tingkat phylogenetik yang sama, dan peralihan evolusioner ke tingkat-tingkat phylogenetik yang baru relatif jarang terjadi (Stebbins, 1969; 1974).  Sebaliknya, kebanyakan evolusi sosiokultural merupakan evolusi konvergen dan paralel. Ini berarti bahwa evolusionis biologis menghabiskan banyak waktu mereka untuk mengkaji munculnya bentuk-bentuk kehidupan yang unik, sementara evolusionis sosial memusatkan perhatian mereka kepada munculnya pola-pola sosiokultural yang sama di berbagai kawasan dunia (Sanderson, 1990).

Perbedaan kedua meliputi sejauh mana evolusi sosiokultural dapat dikatakan didasarkan atas sebuah proses seleksi alam.  Karena banyak evolusi sosiokultural mencakup seleksi terhadap trait-trait yang adaptif, ia juga mencakup semacam proses seleksi alam (Carneiro, 1985). Namun, ini hanya benar secara garis besarnya saja. Secara lebih ketat, cara kerja seleksi alam dalam dunia biologis sangat berbeda dengan cara yang berlaku pada kehidupan sosial. Perbedaannya meliputi sumber perbedaan yang mendasari perbedaan cara kerjanya. Kita telah melihat bahwa dalam evolusi biologis berbagai variasi yang diseleksi untuk dipelihara atau dihambat            -mutasi genetik- muncul dengan cara-cara yang betul-betul acak. Walaupun sebagian evolusionis sosial menyatakan bahwa variasi sosiokultural juga muncul dengan cara yang sama (Campbell, 1965; Langton, 1979), kenyataannya  sangat berbeda. Banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa kebanyakan inovasi sosiokultural dilakukan secara sengaja dan sama sekali tidak acak.

Dua perbedaan lain antara  evolusi dalam dua kenyataan ini juga penting. Salah satunya berkaitan dengan kecepatan perubahan. Evolusi sosiokultural jauh lebih cepat, dan diperkirakan terjadi  pada 99% sejarah manusia (hampir tiga juta tahun), pada jangka waktu itu yang selainnya berubah dengan sangat lamban. Ternyata evolusi sosiokultural berkembang dengan sendirinya, sehingga kecepatan perubahannya sekarang sangat tinggi (kecepatan evolusi sosiokultural  yang luar biasa ini  jelas terkait dengan kenyataan bahwa berbagai perbedaan sosiokultural lebih bersifat disengaja dan bertujuan daripada acak). Akhirnya, ada proses evolusioner sosiokultural yang dikenal dengan diffusi, yang tidak ada paralelnya dalam dunia biologi. Diffusi meliputi penyebaran trait sosiokultural dari saru sistem sosiokultural ke sistem sosiokultural yang lain. Ini dapat terjadi melalui peminjaman secara sengaja atau melalui pemaksaan sejumlah trait oleh masyarakat yang lebih kuat terhadap yang lebih lemah. Diffusi sering kali dilakukan untuk penemuan, dalam arti bahwa suatu masyarakat dapat mengambil dari masyarakat lain apa yang dianggap penting untuk mengembangkan diri sendiri (Ingold, 1986). Tidak ada persamaan proses ini dalam dunia alamiah. Organisme tidak dapat meminjam gen dari organisme lain untuk mengatasi kondisi lingkungannya yang berubah.

3.  Pendekatan Materialis Terhadap Strukitur dan Evolusi Ssosiokultural

Pertanyaan terpenting tentang sistem sosiokultural  menyangkut sebab-sebab adanya kekhasan dan terjadinya perubahan. Pendekatan materilis  kontemporer dalam mengkaji kehidupan sosial menemukan pijakan dalam “konsepsi materialis tentang sejarah” yang dikemukakan Marx dan Engels. Bagaimanapun juga, versi  modern dari strategi materialis adalah elaborasi substansial terhadap gagasan mereka. Sebagaimana Marx dan Engels, materialis kontemporer melihat berbagai faktor material, seperti teknilogi dan ekonomi sebagai termasuk sebab musabab utama dalam kehidupan sosial. Tetapi mereka juga memperluas pengertian tentang faktor-faktor material, sehingga mencakup variabel-variabel ekologis dan demografis, dan mereka memandangnya sebagai sebab musabab penting tambahan dalam berbagai gejala sosiokultural. Dengan demikian, materialisme kontemporer merupakan versi lebih kompleks dan canggih dari versi Marxian aslinya. Juru bicara kontemporer yang paling gencar bagi strategi teoritis materialis adalah Marvin Harris (1974; 77; 79), yang gagasan-gagasannya meletakkan dasar bagi banyak argumen teoritis materialis yang dikembangkan dalam buku ini.

Pendekatan materialis adalah sebuah strategi teoritis umum yang dirancang untuk menjelaskan ciri-ciri dasar sistem sosiokultural dan perubahan-perubahan evolusioner yang bersifat paralel, divergen, dan konvergen yang dialami ciri-ciri dasar tersebut. Ia juga dirancang untuk menjelaskan kontinuitas, devolusi, dan kepunahan sosiokultural. Dalam kenyatannya, seluruh kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan sosiokultural mempunyai arena aplikasinya sendiri-sendiri. Karena pendekatan materialis merupakan sebuah strategi teoritis,  “banyak terori” materialis spesifik yang termasuk di dalamnya.

a.  Sifat Umum Pendekatan Materialis

Pendekatan teoritis materialis yang dipakai dalam buku ini  menegaskan bahwa infrastruktur masyarakat merupakan penentu utama bagi strukturnya, dan pada giliran berikutnya, struktur merupakan penentu superstrukturnya. Yakni, kondisi-kondisi infrastruktur merupakan penentu utama pola-pola dasar perilaku interpersonal suatu masyarakat, dan pola-pola perilaku ini pada gilirannya melahirkan pola-pola pemikiran khas yang memberikan justifikasi dan interpretasi terhadap kenyataan-kenyataan perilaku. Karena itu, berbagai gagasan menemukan asal-usulnya dalam pola-pola perilaku kongkrit yang secara sistematis dilakukan oleh para anggota suatu masyarakat, dan pola-pola perilaku ini berkesesuaian dengan kondisi-kondisi infrastrutural di mana orang memecahkan problem dasar eksistensi manusia.

Tentu saja, pendekatan materialis adalah suatu cara menjelaskan, baik struktur maupun evolusi sistem sosiokultural. Sebagai sebuah pendekatan terhadap evolusi, ia menyatakan bahwa perubahan biasanya berawal dari satu atau lebih faktor infrastruktural. Perubahan-perubahan dalam infrastruktural selanjutnya melahirkan perubahan-perubahan yang mempengaruhi bagi struktur maupun suprastruktur. Jadi, perubahan dalam pola berpikir biasanya bergantung kepada perubahan-perubahan yang terjadi sebelumnya dalam pola perilaku, dan pola perilaku ini sendiri pada umumnya merupakan akibat dari perubahan-perubahan infrastruktural yang terjadi sebelumnya.

Stretegi meterilis menyatakan bahwa faktor-faktor infrastruktural merupakan penentu utama, tetapi bukan satu-satunya, berbagai gejala struktural dan suprastruktural. Sebenarnya, superstruktur dan struktur  memiliki independensi parsial dari infrastruktur, dan ia kadang-kadang dapat berlaku sebagai kekuatan-kekuatan kausal pada dirinya sendiri. Namun dampak struktur dan superstruktur terhadap infrastruktur lebih kecil daripada sebaliknya.

Satu kelebihan utama pendekatan materialis ialah, karena ia memberikan serangkaian prioritas penelitian agar logis bagi pengkajian terhadap kehidupan sosiokultural. Sebagaimana dinyatakan Marvin Harris (1979), ia mengarahkan peneliti untuk memulai penelitiannya tentang faktor-faktor penentu gejala-gejala sosiokultural dengan mempertimbangkan kondisi-konsi infrastruktural. Bisa saja kondisi-kondisi ini memberikan kunci untuk menjelaskan gejala yang dipersoalkan. Jika sebuah penelitian yang tekun gagal mengungkapkan dampak kausal dari faktor-faktor infrastruktural, seorang peneliti dibenarkan mengalihkan pengujian kepada kondisi-kondisi struktural sebagai sebab-sebab yang mungkin bagi suatu gejala. Kegagalan menemukan sebab-sebab struktural, selanjutnya, membolehkan peneliti untuk memeriksa kemungkinan ada sebab-sebab yang bersifat superstruktural. Dengan demikian, sebab-sebab superstruktural mungkin dicari hanya setelah peneliti gagal menunjukkan berlakunya sebab-sebab infrastruktural dan struktural.  Jenis pendekatan ini jauh lebih baik daripada dengan pendekatan lain yang dipakai oleh para peneliti lain, yaitu yang membalikkan prosedur yang bergerak dari superstruktur ke struktur ke infrastruktur, atau yang mengasumsikan bahwa ketiga komponen tersebut mempunyai pengaruh kausal timbal balik satu sama lain.

Pembahasan singkat tentang pendekatan materialis ini sangat menyederhanakan hakikat sebab musabab dalam sistem sosiokultural. Ia tidak mempertajam, misalnya, faktor atau faktor-faktor infrastruktural khusus yang  secara kausal paling penting dalam situasi yang ada. Namun, adalah tidak mungkin untuk mengungkapkan pengaruh ini secara abstrak. Dengan mengandalkan gejala yang sedang diteliti, suatu faktor (atau kombinasi faktor-faktor) infrastruktural barangkali merupakan sebab utama yang terpenting.  Dalam kasus tertentu, faktor teknologi mungkin merupakan faktor terpenting sementara dalam kasus ini, faktor ekologis, demografik, dan ekonomi dapat dipandang sebagai faktor utama. Spesifikasi untuk menentukan pernyataan  yang tepat tentang sebab infrasturktural, hanya dapat diberikan  setelah melalui penelitian terhadap gejala-gejala sosiokultural yang kongkrit.

Berkaitan dengan problem di atas, fakta menunjukkan bahwa hubungan-hubungan kausal ada di dalam, dan bukan hanya di antara, berbagai komponen sosiokultural itu sendiri. Faktor ekologis dan demografik, misalnya, termasuk determinan utama terhadap tingkat teknologi, dan tingkat teknologi selanjutnya merupakan faktor penting yang mempengaruhi sistem ekonomi. Lebih dari itu, ada stratifikasi sosial, yang merupakan unsur struktur sosial, merupakan faktor penentu penting bagi unsur-unsur  struktur yang lain. Walaupun berbagai problem ini disinggung di sini, namun bukan merupakan upaya untuk memasukkan semua hubungan kausal yang ada di dalam dan di antara komponen-komponen dasar sosiokultural, ke dalam formulasi pandangan  materialis kita yang abstrak. Melakukan ini akan membuatnya sulit dipakai, dan dengan demikian mengurangi kegunaannya sebagai sebuah alat analisis yang bersifat umum.

b.  Prioritas Logis Infrastruktur

Ada dua cara pokok pendekatan materialis terhadap kehidupan sosial dapat ditunjukkan sebagai strategi yang lebih baik dibandingkan dengan strategi lain yang sekarang ada dalam ilmu sosial. Salah satu cara adalah  menundukkan strategi materialis kepada pengujian empiris yang rinci dan ketat terhadap sejumlah besar perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan sosiokultural. Jika sebuah strategi materialis berhasil menjelaskan sejumlah besar perbedaan dan persamaan ini, maka kegunaan teoritis pendekatan ini dapat dikukuhkan.  Buku ini mengambil posisi bahwa pengujian empiris yang ketat semacam itu telah dilakukan dalam skala yang cukup luas, dengan hasil yang cukup memuaskan, sehingga kebergunaan pendekatan ini tidak dapat lagi diragukan secara serius. Suatu pendekatan materialis tidak dapat menjelaskan semua gejala sosiokultural yang relevan, tetapi memang tidak ada pendekatan yang dapat berbuat seperti itu. dalam satu peristiwa. Pendekatan materialis jauh lebih berhasil memberikan penjelasan daripada pesaingnya yang lain; ini merupakan justifikasi yang cukup untuk pemakainya sebagai strategi teoritis yang bersifat umum.

Cara lain untuk menjustifikasi pilihan ini adalah, karena strategi materialis lebih mendasarkan dirinya kepada dasar-dasar logis daripada empiris. Dinyatakan bahwa faktor-faktor  infrastruktural mempunyai prioritas kausal yang logis atas faktor-faktor struktural dan superstruktural. Materialis memandang variabel-variabel infrastruktural lebih utama karena ia membantu cara-cara dasar di mana manusia memecahkan problem kehidupannya yang paling dasar.  Sebelum manusia dapat memformulasikan aturan perkawinan, mengorganisasikan sistem politik dan membangun konsep keagamaan yang abstrak, mereka harus mengorganisasikan cara bagaimana mereka dapat bertahan hidup.

4.  Prinsip- Prinsip Strategi Teoritis Evolusi Materialis

Pendekatan evolusioner materialis terhadap kehidupan sosial  memiliki beberapa prinsip penting yang berfungsi sebagai tema-tema yang mengarahkan seluruh kelanjutan buku ini.

a.  Prinsip Adaptasi sosiokultural

Prinsip adaptasi sosiokultural menyatakan bahwa berbagai gejala sosiokultural merupakan konsekuensi adaptif terhadap kebudayaan  dan hasrat dasar manusia. Ini berarti bahwa pola-pola sosial umumnya diciptakan oleh manusia, sebagai respon rasional terhadap masalah-masalah dasar yang harus mereka pecahkan. Ketika sifat dari masalah-masalah ini berubah,  respon terhadapnya pun berubah pula.  Semua peringatan  yang telah kita bicarakan tentang pemakaian istilah adaptasi dan adaptedness sepenuhnya berlaku dalam aplikasi prinsip ini.

b.  Prinsip Konflik

Prinsip konflik sebenarnya berasal dari strategi teoritis konflik, tetapi ia juga secara tipikal memainkan peran penting dalam pemikiran banyak materialis. Prinsip ini menyatakan bahwa konflik atau pertentangan  di antara berbagai individu dan kelompok untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas, merupakan kejadian yang senantiasa ada dalam kehidupan sosial, dan bahwa konflik tersebut merupakan determinan penting bagi pola-pola sosiokultural dasar. Konflik sangat sering terjadi untuk memperebutkan sumber daya material yang menopang kehidupan manusia. Konflik tersebut sering membawa kepada stratifikasi sosial, yaitu formasi pola-pola sosiokultural di mana sebagian kelompok memenangkan dominasi ekonomi dan politik terhadap yang lain. Pola-pola stratifikasi sosial yang muncul memainkan peran signifikan dalam pembentukan berbagai aspek kehidupan sosiokultural lainnya.

Prinsip konflik menegaskan bahwa orang-orang umumnya bertindak untuk memaksimalkan kepentingan mereka sendiri, apakah sebagai individu atau sebagai anggota kelompok sosial yang lebih besar. Di bawah banyak kondisi, usaha untuk memaksimalkan kepentingan individu atau kelmpok tersebut mengakibatkan lahirnya konflik dan dominasi, serta subordinasi pola ekonomi dan politik yang terstruktur. Pola-pola ini seringkali melahirkan konflik dan pertentangan  yang lebih dalam. Para individu seringkali bekerja sama satu sama lain karena mereka menyadari bahwa kerja sama tersebut penting bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan mereka. Gejala ini diberi nama kerja sama antagonistik atau kepentingan diri yang tercerahkan (Lenski, 1966).

c.  Prinsip Determinisme Infrastruktural

Prinsip determinan infrastruktural, prinsip terpenting dari semua prinsip strategi evolusioner materialis, sudah dibahas. Ia menegaskan bahwa faktor-faktor infrastruktural  merupakan penentu utama bagi penataan struktural dan superstruktural. Ia dirancang untuk menjelaskan seluruh rentang perbedaan dan persamaan  yang lahir dari kontinuitas, devolusi, dan kepunahan sosiokultural.

d.  Prinsip Integrasi Sosiokultural

Prinsip integrasi sosiokultural merujuk kepada kecenderungan  komponen-komponen pokok sistem sosiokultural untuk menyatu ke dalam keseluruhan sistem yang kurang lebih konsisten. Satu jenis infrastruktur tertentu hanya cocok dengan sejumlah terbatas struktur dan superstruktur. Walaupun tidak mungkin membuat prediksi yang tepat tentang sifat struktur dan superstruktur berdasarkan pengetahuan tentang infrastruktur, adalah memungkinkann untuk mengindikasikan struktur dan infrastruktur yang jarang atau tidak akan pernah terdapat pada  infrastruktur tertentu. Sebagai contoh, pemerintahan-pemerintahan yang tersentralisasi tidak pernah ditemukan di kalangan masyarakat pemburu dan peramu, tetapi semua masyarakat industrial modern menerapkannya. Demikian juga, masyarakat yang menopang hidup mereka dengan pertanian sederhana untuk memenuhi persediaan makanan mereka, biasanya memiliki kelompok kekerabatan yang rumit yang disebut clan, tetapi kelompok keluarga semacam itu tidak pernah ditemukan dalam masyarakat industrial modern.


BAB 4

POLA-POLA TEKNOLOGI SUBSISTENSI PRA-INDUSTRIAL

Untuk dapat bertahan hidup, semua masyarakat harus membangun sistem teknologi dan ekonomi. Teknologi dan ekonomi adalah dua bidang yang sangat terkait dalam semua masyarakat, tetapi tidak berarti keduanya sama. Teknologi suatu masyarakat terdiri atas peralatan, teknik, dan pengetahuan, yang diciptakan anggotanya untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan mereka. Sedangkan ekonomi suatu masyarakat berisi cara-cara yang diorganisasikan secara sosial, dengan cara tersebut barang dan jasa diproduksi dan didistribusikan. Bab ini memulai pembahasan tentang evolusi teknologi, yang di sini dikonsepsikan sebagai teknologi sumsistensi, atau teknologi yang secara langsung berkaitan dengan usaha menopang hidup. Pembahasan dibatasi dalam  lima jenis teknologi subsistrensi dan diatur menurut urutan evolusioner yang umum, yaitu berburu dan meramu, hortikultura sederhana, hortikultura intensif, agrarisme atau pertanian intensif, dan pastoralisme. Yang menjadi perhatian di sini adalah sifat-sifat teknologi subsistensi ini sekaligus juga alasan mengapa teknologi subsistensi yang satu menggantikan yang lain dalam sejarah evolusioner spesies manusia.

1.  Masyarakat Pemburu dan Peramu

Sekitar 99% dari sejarah perjalanan hidupnya, umat manusia menopang hidup mereka sepenuhnya dengan berburu binatang liar dan meramu hasil dari tanaman liar. Monopoli cara hidup berburu dan meramu dalam kehidupan manusia tidak berakhir sampai 10.000 tahun yang lalu, ketika sebagian masyarakat mulai menopang hidupnya dengan pertanian. Dalam waktu 10.000 tahun berjalan, masyarakat pemburu-peramu semakin berkurang, dan hanya sedikit yang tersisa sekarang. Kebanyakan mereka terdapat  di lokasi-lokasi geografis yang relatif terpencil, seperti di wilayah kering dan semi kering Australia, daerah hutan pusat hujan dan padang pasir sebelah selatan Afrika dan Kutub Utara. Masyarakat ini mungkin tidak akan bertahan dalam beberapa dasawarsa lagi,. Dan pada awal abab XXI, cara hidup berburu dan meramu ini diperkirakan  akan hanya merupakan peninggalan sejarah yang diketahui melalui etnografi dan arkeologi.

Kebanyakan pengetahuan kita tentang masyarakat pemburu-peramu sekarang ini didasarkan atas karya penelitian lapangan yang dilakukan  pada masyarakat pemburu-peramu yang masih bertahan hingga sekarang. Tidak dapat diketahui secara pasti, sejauh mana berbagai masyarakat ini menyerupai  keadaan masyarakat pemburu dan peramu pada masa-masa pra-sejarah. Pastilah ada sejumlah perbedaan, tetapi mungkin juga terdapat banyak kesamaan yang mencolok. Dalam peristiwa tertentu, deskripsi tentang cara hidup berburu dan meramu yang diikuti, didasarkan terutama kepada hasil penelitian etnografik kontemporer.

Kehidupan peramu dan pemburu dalam kelompok-kelompok kecil dikenal dengan kelompok lokal (lokal bands). Kelompok-kelompok ini berjumlah sekitar 25 sampai 50 orang lelaki, perempuan, dan anak-anak yang bekerja sama dalam upaya menopang kehidupan mereka. Masing-masing kelompok lokal kurang lebih otonom secara politik, dan secara ekonomi merupakan unit yang hidup dengan swasembada. Namun, banyak kelompok lokal yang  dihubungkan dengan ikatan perkawinan ke dalam unit kultural yang lebih luas, yang kadang-kadang dikenal dengan suku. Suku adalah jaringan berbagai kelompok yang semua anggotanya mengikuti pola kultural yang sama dan berbicara dengan bahasa yang sama pula. Lebih dari itu, komposisi masing-masing kelompok lokal berubah secara konstan. Orang seringkali berpindah  dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain. Gerak perpindahan itu dapat terjadi karena perkawinan atau kebutuhan untuk menciptakan keseimbangan yang lebih baik antara jumlah penduduk dan persediaan makanan.

Para pemburu-peramu umumnya menggantungkan diri kepada pengumpulan sebagian besar makanan mereka. Richard Lee (1968) memperkirakan bahwa masyarakat pemburu-peramu kontemporer memperoleh hampir 65% makanan mereka dari mengumpulkan berbagai jenis makanan, dan dia percaya bahwa gambaran ini banyak kesamaannya dengan berbagai aktivitas subsistensi masyarakat peramu-pemburu masa pra-sejarah. Namun, biasanya lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk aktivitas berburu, dan daging adalah makanan yang nilainya jauh lebih tinggi.

Karena pemburu-peramu lebih merupakan pengumpul ketimbang penghasil makanan, mereka harus mengembara ke wilayah geografis yang luas dalam usaha mencari makanan. Dengan demikian, mereka umumnya  nomadik, dan jarang membangun tempat permanen.

Penemuan teknologi masyarakat pemburu-peramu sangat terbatas. Alat dan senjata yang digunakan secara langsung untuk menopang hidup umumnya terdiri dari tombak, busur dan anak panah, jaring dan parangkap yang digunakan untuk berburu, dan tongkat penggali untuk meramu. Alat-alat tersebut kasar dan sederhana, umumnya terbuat dari batu, kayu, tulang, atau bahan alamiah lainnya. Biasanya hanya sedikit atau tidak ada teknik untuk penyimpanan atau pemeliharaan, dan dengan demikian, makanan biasanya dikonsumsi secara langsung atau dalam jangka waktu yang pendek.

Struktur masyarakat pemburu-peramu paling sederhana dibanding-kan dengan semua masyarakat manusia. Pembagian kerja didasarkan atas umur dan perbedaan jenis kelamin secara sangat ketat. Tanggung jawab utama untuk menopang hidup biasanya jatuh kepada orang-orang yang berusia setengah baya, dan para anggota masyarakat muda dan tua kurang dibebani tanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan  subsisten kelompok.  Berburu dilkakukan oleh para lelaki, dan meramu oleh para perempuan. Walaupun perempuan kadang-kadang juga berburu atau memasang perangkap untuk binatang-binatang yang kecil, mereka tidak pernah telibat dalam berburu binatang besar. Demikian juga, lelaki kadang-kadang melakukan aktivitas meramu, tetapi mereka adalah peramu penting dalam masyarakat  yang bukan pemburu-peramu. Masyarakat peramu-pemburu terkenal tidak begitu terspesialisasi dalam pekerjaan selain tugas-tugas subsistensi. Tidak ada “pembuat panah” atau “pembuat busur” spesialis. Setiap lelaki membuat semua alat-alat yang dibutuhkan dalam usaha subsistensi. Demikian juga kaum perempuan.

Unit subsistensi utama di kalangan pemburu-peramu adalah keluarga, dan karena itu kehidupan ekonomi dapat diistilahkan bersifat familistik (Service, 1966). Namun, masing-masing keluarga dalam setiap kelompok lokal disatukan dalam sebuah unit ekonomi yang menyeluruh. Walaupun masing-masing keluarga memenuhi kebutuhan subsistensinya sendiri-sendiri, mereka juga memberikan kontribusi secara signifikan bagi subsistensi keluarga lain dalam kelompoknya.

Masyarakat pemburu-peramu sangat dikenal dalam  hal kegagalan mereka menghasilkan surplus ekonomi, kelebihan barang melebihi keperluan subsistensi. Banyak yang percaya bahwa hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan mereka melakukan itu, sebuah ketidakmampuan yang dikarenakan kehidupan marginal dan genting. Penelitian kontemporer menunjukkan hal yang sebaliknya. Para ilmuwan sosial sekarang  pada umumnya setuju bahwa kegagalan menghasilkan surplus disebabkan tidak adanya kebutuhan untuk itu. Karena sumber daya alam selalu tersedia untuk diambil, maka alam itu sendiri menjadi sejenis gudang yang sangat besar.

Para ilmuwan sosial biasanya menggambarkan masyarakat pemburu-peramu dalam ungkapan yang sangat negatif. Secara luas diyakini bahwa mereka menjalani kehidupan  yang genting dan sulit, suatu kehidupan di mana orang harus bekerja keras dan lama sekadar untuk memenuhi taraf kehidupan subsistensi yang sederhana. Namun, dalam waktu seperempat abad terakhir,  para ilmuwan sosial secara radikal membuang pandangan tentang masyarakat pemburu-peramu seperti ini. Sahlins (1972), misalnya, memandang mereka sebagai suatu “masyarakat asli yang makmur”. Dengan istilah ini, yang dimaksud bukan berarti mereka kaya dan menikmati pemilikan  material yang melimpah ruah, tetapi bahwa mereka dapat memenuhi semua kebutuhan dan keinginan material mereka dengan kerja minimum. Untuk menilai pernyataan Sahlins ini, kita perlu melihat secara cermat standar hidup masyarakat pemburu-peramu dan berapa lama dan keras mereka bekerja.

Di samping adanya kenyataan bahwa sebenarnya semua masyarakat pemburu-peramu kontemporer berada di lingkungan marginal, lingkungan ini seringkali berubah menjadi lingkungan yang sangat berlimpah dengan sumber daya. Sebagai contoh, Richard Lee (1968) manyatakan bahwa masyarakat !Kung San (tanda ! diletakkan untuk suara ceklekan dalam bahasa)  di Afrika bagian selatan mampu menggantungkan hidup kepada berbagai ragam sumber makanan yang cukup baik. Sumber makanan pokok mereka adalah mongongo, dan ribuan pon biji ini membusuk setiap tahun tanpa dipungut. Lebih dari itu, habitat !Kung  mengandung 84 spesies tanaman lain yang juga dapat dimakan, dan kegiatan meramu yang dilakukan oleh !Kung tidak pernah menghabiskan semua tanaman yang tersedia pada satu wilayah. Demikian juga, James Woodburn (1968) telah menunjukkan bahwa masyarakat Hadza, Tanzania, menikmati sejumlah binatang yang sangat berlimpah, dan dia berpendapat bahwa hampir tidak dapat dibayangkan mereka akan mengalami kelaparan. Jadi, tampaknya masyarakat !Kung dan  Hadza mencapai standar hidup yang sangat mencukupi keperluan subsisten dasar manusia.

Kesan ini dikuatkan oleh survey yang dilakukan Mark Cohen (1989) dalam usaha mengkaji makanan dan gisi di kalangan banyak kelompok pemburu-peramu.  Peninjauan yang dilakukan Cohen terhadap berbagai  kajian manunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat  pemburu-peramu umumnya menikmati makanan yang sangat memenuhi standar gisi. Beberapa kelompok, seperti !Kung, mungkin jarang memperoleh sejumlah kalori yang cukup, tetapi makanan mereka dilimpahi protein hewani dan berbagai bahan makanan bergisi. Tampak juga, bahwa kebanyakan masyarakat pemburu-peramu menderita kelaparan dan kurang makan secara musiman, dan kadang-kadang bencana kelaparan terjadi. Namun, bukan hal yang tidak biasa terjadi pada masyarakat maju lainnya. Penduduk pertanian menetap juga mengalami kesulitan semacam ini, dan sangat mungkin terjadi dalam ukuran yang lebih besar.

Jika masyarakat pemburu-peramu umumnya menikmati kananan yang mencukupi, seberapa lama dan keras mereka harus bekerja untuk memperolehnya? Sejumlah bukti menunjukkan bahwa kebanyaka kelompok ini tidak bekerja keras dan dalam waktu lama. Dengan memeriksa data yang terkumpul tentang berbagai aktivitas subsistensi kelompok pemburu-peramu Arnhem Land di Australia bagian utara, Sahlins menyatakan bahwa kelompok-kelompok tersebut tidak bekerja keras atau secara terus-menerus, sehingga pencarian kebutuhan subsistensi hanya dilakukan sebentar-sebentar, dan banyak sekali waktu luang yang tersedia. Dengan cara yang sama, Lee (1979) mengkalkulasi bahwa rata-rata orang dewasa pada masyarakat !Kung menghabiskan hanya 17 jam per minggu untuk aktivitas mencari makanan. Woodburn (1968) menunjukkan bahwa masyarakat  Hadza memperoleh makanan yang cukup dengan relatif mudah, dan kahidupan bagi mereka bukanlah pergumulan eksistensi yang sulit. Dia percaya bahwa mereka menghabiskan waktu dan energi yang lebih sedikit dalam memenuhi kebutuhan subsistensi dibandingkan dengan tetangga mereka yang hidup bertani.

Kajian-kajian lain tentang aktivitas subsistensi masyarakat pemburu-peramu tidak banyak dilakukan, paling tidak karena tidak terpublikasi secara luas.  Kalau data Lee tentang pola kerja masyarakat !Kung dikumpulkan pada musim kering, John Yellen (1977) mengkaji sekelompok masyarakat !Kung pada musim hujan. Dia menemukan bahwa selama musim hujan tahun itu, mereka bekerja lebih lama, walaupun tidak jelas secara pasti seberapa lamanya.  Data Yellen secara pasti menguji data yang diperoleh oleh Lee, tetapi tidak dapat dikatakan meruntuhkan tesis dasarnya tentang masyarakat asli yang makmur. Walaupun kita anggap bahwa !Kung bekerja pada musim hujan dua kali lebih keras daripada musim kering, maka sepanjang tahun mereka hanya menghabiskan waktu mencari makanan rata-rata sekitar 25 jam perminggu.

Kim Hill, Hillard Kaplan, Kristen Hawkes dan Ana Magdalena Hurtado (1985)  telah menganalisis berbagai aktivitas subsistensi masyarakat Ache di Paraguay. Mereka menemukan bahwa lelaki Ache menghabiskan banyak waktu mereka untuk berburu  -mungkin sebanyak 40-50 jam perminggu—dan mereka menyimpulkan analisis ini dari gambaran Sahlins, bahwa masyarakat pemburu-peramu yang bekerja sedikit, tidak benar. Namun, kajian ini harus dilihat dalam konteks yang tepat. Ache adalah masyarakat hutan tropis, dan binatang biasanya diperkirakan sangat langka pada lingkungan ini (Harris, 1977). Maka tidaklah mengherankan, bahwa lelaki Ache menghabiskan begitu banyak waktu untuk berburu. Ache bukanlah kasus yang baik untuk membuat generalisasi yang luas tentang pola kerja masyarakat pemburu-peramu.

Akan tampak, setelah semua dikatakan dan dianalisis, bahwa tesis Sahlins tentang masyarakat asli yang makmur sangat memadai. Ini tampaknya benar, terutama ketika kita menyadari bahwa kebanyakan yang kita tahu tentang standar hidup dan pola kerja pemburu-peramu didasarkan atas kelompok-kelompok pemburu-peramu kontemporer. Karena hampir semua kelompok ini hidup di lingkungan-lingkungan marginal, maka masyarakat pemburu-peramu masa pra-sejarah, yang kebanyakan mereka  berada di lingkungan yang lebih baik, tentu juga hidup lebih baik. Kita harus menghindari meromantisasi gaya hidup pemburu-peramu sebagai gaya hidup sorga primitif. Jelas, itu adalah oversimplikasi yang sulit diterima. Namun, peramu-pemburu memang hidup jauh lebih baik dari apa yang biasa kita bayangkan. Sebagaimana disimpulkan Elizabeth Cashdan (1989:26), sekarang memungkinkan untuk “membongkar dengan yakin stereotipe  lama bahwa masyarakat pemburu-peramu harus bekerja sepanjang waktu hanya untuk memperoleh makan yang cukup.” Dan juga memungkinkan untuk membongkar dengan yakin stereotipe lama bahwa masyarakat pemburu-peramu tidak memperoleh makanan yang baik.

  1. 2. Masyarakat Hortikultura Sederhana

a.  Revolusi Neolitik

Walaupun masyarakat pemburu-peramu mungkin sudah mengetahui sejak 10.000 tahun yang lalu bagaimana cara menjinakkan (domesticate) tanaman dan binatang, belum sampai 10.000 tahun yang lalu sebagian mereka mulai hidup menetap di desa-desa dengan mempraktekkan pertanian. Transisi manusia ke pola kehidupan pertanian (bahasa teknisnya, hortikultura) dikenal  dengan Revolusi Neolitik. Sebenarnya, istilah revolusi neolitik agak menyesatkan, karena tidak ada transisi revolusioner yang bersifat tunggal. transisi ke pertanian terjadi secara independen di beberapa bagian dunia yang berbeda dan dalam waktu yang berbeda..

Penerapan pertanian terjadi pada pertama kalinya di Timur Tengah. Tanaman terpenting yang  didomestikasikan adalah  gandum dan gerst (barley), sementara binatang piaraan terpenting adalah biri-bri, kambing, dan babi. Proses domestikasi tersebut tampaknya mengikuti munculnya desa-desa permanen yang diorganisasi di saat memanen tanaman liar seperti gandum dan gerst. Setelah munculnya pertanian di Timur Tengah, ia menyebar melalui difusi ke Eropa, walaupun tanaman yang didomestikasikan banyak mengalami perubahan agar sesuai dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Namun, begitulah keadaan saat itu, sebelum komunitas pertanian menjadi umum di Eropa, dan 5.500 tahun yang lalu pertanian menjadi umum dilakukan di seluruh kepulauan Britania.

Komunitas pertanian muncul secara independen di dua wilayah Dunia Lama (Old World) yang lain, yaitu Cina dan Asia Tenggara. Kehidupan desa menetap tampak muncul di Cina 6.000 tahun yang lalu, walau belum dapat dipastikan kapan awalnya. Tanaman dan binatang yang didomestikasikan adalah biji-bijian dan babi, serta padi dan kedelai didatangkan kemudian. Pertanian di Asi Tenggara sudah mulai sejak 9.000 tahun yang lalu, dan tanaman pokok  yang didomestikasikan adalah padi, kedelai, dan ubi rambat.

Pertanian juga diterapkan secara independen di dua wilayah Dunia Baru (New World), yaitu di Mesoamerika dan Peru. Asal-usul pertanian di dunia baru diperkirakan mulai 9.000 tahun yang lalu, walaupun kehidupan desa menetap  belum berkembang luas sampai beberapa ribu tahun kemudian. Tanaman terpenting yang didomestikasikan adalah maize (semacam jagung), nenek moyang sejenis tanaman yang bernama teosinte. Secara umum, tanaman di Dunia Baru sangat berbeda dengan tanaman yang berkembang di Dunia Lama. Di samping maize, termasuk juga bunga bakung, qouinoa, buncis berbiji besar, labu, tomat, kentang, lada Chile, dan kakao. Berlawanan dengan Dunia Lama, Dunia Baru umumnya jarang  mendomestikasikan binatang, tampaknya ini disebabkan oleh jarangnya species yang cocok untuk keperluan tersebut. Satu-satunya binatang yang benar-benar penting disomestikasikan di Peru (Dunia Baru) adalah lama, sekitar 5.500 tahun yang lalu.

b.  Masyarakat Hortikultur Sederhana Kontemporer

Masyarakat pertanian yang pertama tidaklah menopangkan hidupnya dengn pertanian yang sebenarnya, tetapi dengan hortikultura sederhana. Sejumlah masyarakat hortikultura sederhana tetap bertahan sampai masa dunia modern. Kebanyakan mereka terdapat di Melanesia, rangkaian kepulauan di Pasifik Selatan (umumnya dikatakan termasuk New Guinea) dan di beberapa wilayah Amerika Selatan. Penelitian etnografik yang luas telah dilakukan terhadap masyarakat ini, dan hasil penelitian telah memberikan dasar pada pembahasan buku ini.

Masyarakat hortikultura sederhana tinggal di desa-desa kecil, biasanya terdiri dari 100 – 200 orang. Walaupun desa-desa yang secara substansial lebih besar dari ini ada, tetapi jarang terjadi. Setiap desa pada dasarnya berdiri sendiri secara ekonomi dan politik. Namun ikatan antardesa yang penting juga ada. Perkawinan sering terjadi antarindividu yang berasal dari desa yang berbeda, dan orang yang tinggal di desa-desa terpisah sering kali bersama-sama dalam berbagai upacara seremonial. Para anggota dari desa-desa yang berhubungn secara kultural dan bahasa, secara kolektif membentuk sebuah suku, sebuah unit sosiokultural yang bisa terdiri dari puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu orang.

Kebanyakan  masyarakat hortikultura sederhana tinggal di lingkungan berhutan lebat dan mempraktekkan teknik penanaman yan dikenal dengan tebas-dan-bakar  (biasa juga disebut ladang berpindah). Teknik bertanam ini dimulai dengan penebasan sebidang hutan dan kemudian membakar hasil tebasan yang sudah dikumpulkan. Abu yang tertinggal berfungsi sebagai pupuk, dan biasanya tidak ada tambahan pupuk yang lain.  Kemudian bibit ditanam di ladang yang sudah dibersihkan ini  (biasanya besarnya tidak lebih dari satu are) dengan bantuan tongkat penggali, tongkat panjang yang ujungnya tajam dan keras. Ladang yang telah ada mungkin ditanami hanya dengan satu jenis bibit, tetapi praktek yang lebih umum adalah menanam beberapa bibit tambahan di samping tanaman utama (Sahlins, 1968). Tugas membersihkan dan mempersiapkan ladang umumnya jatuh kepada kaum lelaki, sementara tugas menanam dan memanen  umumnya dipandang sebagai tanggung jawab kaum perempuan.

Karena abu kayu yang dibakar umumnya merupakan satu-satunya pupuk, penanaman dengan cara tebas-dan-bakar berkaitan dengan kesuburan tanah yang berjangka pendek. Abu yang dihasilkan lenyap karena hujan dalam jangka waktu satu atau dua tahun, dan karena alasan inilah sebidang tanah hanya bisa ditanami untuk jangka waktu itu. ia kemudian harus dibiarkan dan tidak ditanami lagi dalam waktu yang cukup lama agar hutan dapat tumbuh kembali, dengan demikian memungkinkan untuk menghasilkan abu lagi.  Periode pengosongan itu biasanya berlangsung 20-30 tahun. Ketika hutan sudah lebat, maka proses menebas, membakar, dan menanami dapat dimulai kembali.

Karena sistem tebas-dan-bakar memerlukan periode kosong yang panjang, maka masyarakat yang mempraktekkannya harus memiliki tanah yang jauh lebih luas daripada tanah yang sedang ditanami pada saat tertentu. Tuntutan  penggunaan tanah ini meletakkan batas-batas kepadatan penduduk, dan masyarakat hutan tropik yang hidup dengan cara seperti ini menjaga kepadatan penduduk mereka  tak kurang dari 10 orang permil persegi (Sahlins, 1968).

Tumbuhan yang ditanam sebagian besar adalah tanaman yang dapat dimakan. Namun, sejumlah masyarakat tersebut juga mempunyai binatang yang telah didomestikasikan. Babi yang telah didomestikasikan, misalnya, terdapat di seluruh Melanesia. Tetapi kebanyakan masyarakat hortikultura sederhana jarang mendomestikasikan binatang, dan kelompok-kelompok banyak mengandalkan kegiatan berburu atau mencari ikan untuk persediaan protein hewani mereka.

Masyarakat hortikultura sederhana menghasilkan makanan yang lebih banyak untuk setiap bidang tanah dibandingkan masyarakat pemburu dan peramu. Sebagian mereka bahkan menghasilkan surplus ekonomi dalam jumlah kecil. Namun tidak dapat disimpulkan dari kenyataan ini bahwa mereka menikmati standar hidup yang lebih tinggi.

3.  Masyarakat Hortikultura Intensif

Banyak masyarakat hortikultura sederhana yang diantarkan oleh revolusi neolitik dalam waktu tertentu kepada  kehidupan masyarakat horti-kultura intensif. Tidak dapat diragukan bahwa ratusan masyarakat hortikultura intensif telah ada selama beberapa ribu tahun dalam sejarah manusia. Sampai masuknya Eropa pada akhir abad XVIII, masyarakat tersebut tersebar ke seluruh Polynesia, rangkaian pulau yang luas di Pasifik Selatan, meliputi kepulaian Hawai, Tahiti, dan Tonga, dan masih banyak lagi. Sebelum akhir abad XIX, mereka merambah seluruh bagian sub-sahara Afrika yang luas. Amerika Selatan dan Asia Tenggara juga merupakan kawasan di mana banyak masyarakat hortikultura intensif bertempat tinggal. Namun, sekarang mereka tinggal sedikit. Kebanyakan mereka terdapat di berbagai bagian sub-sahara Afrika, dan mungkin di beberapa bagian Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Seperti masyarakat hotikulutra sederhana, masyarakat hortikultura intensif menggantungkan hidupnya pada hasil kebun sendiri, dan mereka menanam dengan metode tebas-dan-bakar. Sebagian memelihara binatang ternak, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan berburu dan menangkap ikan. Tetapi, masyarakat hortikultura intensif berbeda dengan masyarakat hortikultura sederhana dalam beberapa hal penting. Satu perbedaan prinsip adalah panjangnya waktu penggunaan ladang sebelum dijadikan ladang kosong. Masyarakat hortikultura sederhana umumnya membiarkan ladang mereka kosong sampai 20 atau 30 tahun sebelum menanamnya kembali. Sebaliknya, masyarakat hortikultura intensif memperpendek periode kosong menjadi sekitar 5 sampai 6 tahun. Kompensasi atas penurunan kesuburan tanah karena ditanami lebih sering, masyarakat hortikultura intensif selanjutnya memupuki tanah dengan menambahkan  semacam humus atau pupuk kandang.

Pemendekan periode kosong menimbulkan efek yang nyata, yakni berubahnya hutan yang lebat menjadi semak-semak. Tanah yang sudah dibersihkan dari semak-semak harus dipersiapkan untuk ditanami dengan cara yang tidak perlu sesulit membersihkan tanah dari hutan. Dengan demikian, kebanyakan masyarakat hortikultura intensif telah menemukan atau menggunakan cangkul untuk mempersiapkan tanah untuk ditanami.

Sebagian masyarakat hortikultura intensif mempergunakan unsur-unsur teknologi di samping atau sebagai pengganti metode yang ada. Masyarakat hortikultura intensif Polynesia, misalnya, walaupun tidak pernah menggunakan cangkul, membuat ladang berjenjang dan beririgasi. Maka jelaslah bahwa masyarakat hortikultura intensif telah mencapai tingkat perkembangan teknologi yang melebihi teknologi yang dicapai masyarakat hortikultura sederhana. Juga jelas, bahwa orang bekerja lebih keras dan lebih lama dalam sistem hortikultura intensif. Mempersiapkan ladang  dengan cangkul, membuat ladang berjenjang dan beririgasi membutuhkan dan menghabiskan lebih banyak kegiatan. Karena orang bekerja lebih keras dan lebih ama, dan karena ladang yang ada ditanami lebih sering, maka jelaslah mengapa pola teknologi subsistensi ini disebut sebagai hortikultura intensif.

Dibandingkan dengan hortikultura sederhana, hortikultura intensif sangat produktif untuk masing-masing unit ladang.  Masyarakat hortikultura intensif, ternyata, menghasilkan surplus ekonomi yang nyata, dan surplus ini digunakan untuk menopang sekelompok orang yang tidak terlibat langsung dalam produksi pertanian. Dalam banyak masyarakat hortikultura intensif, anggota kelas ini dipandang, paling tidak secara teoritis, sebagai pemilik semua tanah, dan dalam semua masyarakat semacam itu mereka mengarahkan banyak aktivitas ekonomi.  Standar hidup mereka lebih tinggi dari semua orang yang lainnya. Standar hidup kebanyakan masyarakat hortikultura intensif sulit ditentukan, tetapi dapat dilihat bahwa standar hidup mereka berbeda sedikit dari yang terdapat pada masyarakat hortikulktura sederhana. Namun tidak boleh dilupakan, bahwa masyarakat hortikultura intensif bekerja lebih keras hanya untuk mencapai hasil material yang kurang lebih sama.

4.  Masyarakat Agraris

Masyarakat agraris pertama muncul kira-kira 5.000 sampai 6.000 tahun yang lalu di Mesir dan Mesopotamia, dan agak belakangan sedikit di Cina dan India. Masyarakat agraris belum lama terdapat di banyak bagian dunia. Sejak masyarakat agraris muncul untuk pertama kalinya, sampai sekarang mayoritas manusia hidup secara agraris. Sejauh menyangkut cara hidup ini sekarang, pada umumnya bentuknya sudah sangat berubah pada berbagai masyarakat yang, paling tidak secara parsial, telah mengalami industrialisasi dan menjadi bagian dari ekonomi kapitalis. Karena itu, tidak ada lagi masyarakat  agraris murni yang tersisa di dunia sekarang. Lantas, seperti apakah bentuk masyarakat agraris di masa lalu?

Masyarakat agraris menyandarkan hidup kepada pertanian murni. Tanah dibersihkan dari semua tanaman dan ditanami dengan menggunakan bajak dan binatang-binatang dipergunakan untuk menarik bajak. Ladang dipupuk secara besar-besaran, terutama dengan pupuk kandang. Ketika tanah ditanami dengan cara ini, maka ia  dapat dipergunakan secara agak berkesinambungan. Dengan demikian, periode kosong sangat pendek atau bahkan tidak ada lagi. Para petani sering menanami sebidang tanah tertentu setiap tahun, dan dalam beberapa kasus, panen dapat dipungut dari ladang yang sama lebih dari sekali dalam setahun.

Sejumlah masyarakat agraris sudah ada di berbagai wilayah dimana curah hujan cukup untuk menumbuhkan tanaman. Masyarakat agraris di seluruh Eropa, misalnya, adalah masyarakat pertanian tadah hujan. Tetapi di banyak masyarakat lain, iklim kering dan semi kering telah membuat pertanian tadah hujan tak mungkin berkembang, dan para petani harus membangun  sistem irigasi untuk mengairi pertanian. Para petani di Mesir Kuno, Mesopotamia, Cina, dan India, misalnya, mempraktekkan pertanian irigasi.

Para petani bekerja lebih banyak  daripada anggota berbagai tipe masyarakat sebelumnya (Minge-Klevana, 1980). Tugas membersihkan tanah, membajak, menabur dan memanen, memelihara binatang, dan seterusnya memerlukan tenaga kerja yang banyak. Apabila sistem irigasi harus dibangun, maka orang pun bekerja lebih keras. Karena usaha mereka, para petani menghasilkan lebih banyak hasil untuk tiap unit tanahnya dibandingkan dengan penghasilan masyarakat hortikultura, dan kebanyakan menghasilkan surplus ekonomi. Tetapi, usaha dan juga surplus ekonomi yang makin besar tidak menghasilkan standar hidup yang lebih tinggi. Sebenarnya standar hidup mereka rendah, dalam keadaan tertentu lebih rendah daripada yang dinikmati oleh anggota masyarakat hortikultura.

Kebanyakan  anggota masyarakat agraris adalah para petani (peasants). Mereka adalah produsen utama, orang yang menanami ladang, dari hari ke hari. Eric Wolf (1966) menyebut mereka penanam tergantung (dependent cuktivator), karena mereka berada dalam hubungan ketergan-tungan politik ekonomi atau subordinat kepada para pemilik tanah. Mereka sendiri seringkali tidak punya tanah, tetapi hanya dibolehkan memakai. Dalam pengertian ini, mereka hanyalah para penyewa tanah. Dalam kasus di mana para petani mempunyai tanah sendiri, mereka jauh dari penguasaan penuh atas nasib produk dari tanah mereka. Tetapi tidak semua produsen utama dalam masyarakat agraris adalah petani. Sebagian adalah para budak. Budak berbeda dari petani, karena mereka secara hukum dimiliki dan dapat diperjualbelikan. Dalam sebagian masyarakat agraris, misalnya di Romawi dan Yunani Kuno, para budak melebihi jumlah petani.

5. Masyarakat Pastoralis

Pastoralisme  (atau nomadisme pastoralis) mulai muncul kira-kira 3.000 – 3.500 tahun yang lau sebagai adaptasi subsistensi yang sangat terspesialisasi terhadap lingkungan kering atau semi kering. Walau muncul lebih belakangan dari pertanian murni, teknologi subsistensi ini secara evolusioner tidak lebih tinggi, atau lebih maju dari teknologi subsistensi pertanian, tetapi hanya merupakan adaptasi khas di beberapa wilayah di mana pertanian tidak mungkin atau sangat sulit dilakukan. Masyarakat pastoralis menggantungkan kehidupannya kepada sekumpulan binatang gembalaan. Mereka menggembalakan sekumpulan  binatang sepanjang tahun, dan berpindah secara musiman bersama kumpulan gembala/ternak mereka untuk mencari padang rumput (pasture). Karena itulah mereka dinamakan nomadisme pastoralis. Binatang yang paling umum dipelihara adalah biri-biri, kambing, onta, sapi, dan kadang-kadang rusa kutub. Sebagian kelompok pastoralis menggantungkan hidup mereka hanya pada satu spesies binatang, sementara yang lain memelihara beberapa spesies. Sebagian masyarakat pastoralis, yang kadang-kadang disebut masyarakat pastoralis “sejati”, tidak melaksanakan aktivitas pertanian sama sekali. Kelompok-kelompok ini memperoleh produk pertanian melalui hubungan dagang dengan tetangga mereka yang menjalankan pertanian. Namun, tidak jarang terjadi kelompok pastoralis juga  menjalankan pertanian untuk melengkapi makanan yang diperoleh  dari peternakan binatang mereka; tetapi ini selalu sangat bersifat sekunder di samping kegiatan menggembala.

Kebanyakan masyarakat pastoralis terdapat di wilayah-wilayah kering  di Asia Barat Daya, Afrika Utara, dan padang rumput Afrika Timur. Biri-biri, kambing, dan onta adalah binatang yang paling umum diternakkan di Asia dan Afrika Utara, sementara Afrika Timur terkenal dengan peternakan sapi. Pastoralisme  juga terdapat di wilayah-wilayah hutan di Eurasia Utara, dan di sini peternak rusa kutub mendominasi.

Masyarakat Pastoralis hidup dan melakukan perpindahan dalam kelompok-kelompok yang relatif kecil, biasanya tidak lebih dari 100 – 200 anggota. Kepadatan penduduk sangat rendah, biasanya kurang dari lima orang per-mil persegi.

Kebanyakan makanan masyarakat pastoralis, tentu saja, berasal dari peternakan hewan mereka, terutama dengan susu, daging, dan darah. Di Afrika Timur, misalnya, banyak kelompok pastoral memiliki campuran darah dan susu sebagai makanan pokok. Walaupun produk-produk pertanian mencukupi makanan mereka, tapi bagi sekelompok lain hanya melakukan itu pada tingkat yang sangat kecil.

6.  Evolusi  Teknologi Pra-Industri

Sekarang kita harus mempertimbangkan sebuah pertanyaan krusial tentang bagaimana menerangkan evolusi teknologi pra-industrial dari satu tahap ke tahap selanjutnya.

Pernah dipercaya secara luas oleh para ilmuwan sosial bahwa semua jenis teknologi berkembang dengan sendirinya, dengan kekuatan independennya sendiri. Menurut pandangan mereka, perubahan-perubahan teknologi terjadi sebagai hasil kumulatif kekuatan inventif spesies manusia. Di samping itu, dirasakan bahwa kapanpun bentuk teknologi baru muncul, orang secara otomatis mengadopsinya karena mereka menyaksikan manfaat yang diberikan.

Banyak ilmuwan sosial telah meninggalkan pandangan tentang perubahan teknologi seperti ini. Sebagai gantinya, mereka mengikuti pandangan yang diajukan Ester Boserup (1965; 1981), yang menyatakan bahwa  orang tidak mempunyai keinginan inheren untuk meningkatkan tingkat teknologi mereka. Dia mempostulatkan bahwa orang ingin hidup dengan cara seserhana dan semudah mungkin. Kecenderungan mereka adalah memenuhi kebutuhan subsistensinya dengan bekerja sesedikit mungkin. Karena menggunakan teknologi baru secara aktual mengakibatkan manusia bekerja lebih keras, mereka tidak akan beralih ke metode baru tanpa kondisi khusus yang memaksa untuk melakukannya. Boserup percaya bahwa kondisi penting yang memaksa manusia untuk meningkatkan teknologinya adalah tekanan penduduk. Tekanan penduduk muncul ketika pertumbuhan penduduk menekan sumber makanan. Ketika jumlah mulut  yang harus diberi makan bertambah, satu titik akhirnya dicapai dimana orang  mulai menghabiskan sumber makanan dan mengalami penurunan tajam dalam standar hidup merka. Boserup menegaskan bahwa pada titik inilah manusia mulai mengintensifkan produksi. Mereka menggunakan bentuk teknologi baru dan bekerja lebih keras serta lama untuk memproduksi lebih banyak makanan untuk memberi makan lebih banyak orang. Masyarakat hortikultura sederhana, misalnya, mulai menggunakan teknik-teknik masyarakat hortikultura intensif. Begitu juga masyarakat hortikultura intensif mungkin berpindah ke pertanian yang menggunakan bajak.

Harus disadari bahwa argumen Boserup tidak mengasumsikan bahwa peralihan ke teknologi yang lebih intensif akan membawa ke standar hidup yang lebih baik. Evolusi dari satu tingkat teknologi  ke tingkat teknologi yang lain pada umumnya bersinggungan dengan penurunan standar kehidupan. Argumennya jelas bahwa penerapan pertanian yang lebih intensif diperlukan untuk mempertahankan  standar hidup setinggi mungkin di bawah tekanan jumlah penduduk yang semakin besar.

Mark Cohen (1977; 1985) percaya bahwa argumen Boserup relevan untuk memahami asal-usul peranian di seluruh dunia. Cohen menyatakan bahwa  masyarakat pemburu-peramu barangkali sejak lama sudah mengerti bagaimana mendomestikasikan tanaman dan hewan, tetapi mereka baru menggunakannya setelah waktu berjalan sekitar  mungkin 6.000 tahun setelah itu. Tampaknya, mereka tidak melihat adanya keuntungan mempraktekkan pertanian dan mungkin mereka melihatnya sebagai cara hidup yang lebih baik ketimbang mengumpulkan makanan dari gudang alamiah. Memang, ketika masyarakat pemburu-peramu kontemporer ditanyai etnograf tentang mengapa mereka tidak mempraktekkan pertanian, mereka biasanya menjawab begini, “Mengapa kami harus bekerja lebih keras untuk hidup yang tidak lebih baik dari hidup kami sekarang?” Richard Lee (1979), misalnya, menanyai suku !Kung bernama /Xashe tentang mengapa orang !Kung tidak ikut mempraktekkan pertanian yang dilakukan tetangga mereka, dan /Xashe menjawab, “Mengapa kami menanam ketika begitu banyak biji mongongo di dunia?” Jika masyarakat pemburu-peramu kuno sudah tahu bagaimana menanam bibit tetapi mengelak melakukannya, apa yang akhirnya memaksa mereka untuk beralih ke cara hidup pertanian? Cohen percaya bahwa alasannya adalah “krisis makanan” yang disebabkan pertambahan penduduk. Dia berpendapat bahwa kelompok pemburu-peramu di beberapa wilayah dunia akhirnya kehilangan kemampuan lingkungan mereka untuk menopang standar hidup yang layak. Apabila ini terjadi, mereka dipaksa untuk memproduksi makanan sendiri untuk mengatasi “krisis makanan”. Mereka akhirnya bersedia bekerja keras, karena mereka akan memperoleh sesuatu dengan cara tersebut.

Teori Cohen tentang asal-usul pertanian tidak sepenuhnya disetujui oleh para arkeolog modern, yang paling berkompeten untuk menilainya. Meski teori tersebut sangat masuk akal dalam hubungan dengan apa yang kita tahu tentang sikap masyarakat pemburu-peramu modern tentang  praktek pertanian, dan sejumlah antropolog dan arkeolog modern telah mengembangkan beberapa teori tentang asal-usul pertanian dengan memberikan peran signifikan kepada tekanan penduduk (Binford, 1968; Flannery, 1973; Harner, 1970; Harris, 1977). Tetapi, walaupun masih banyak keraguan tentang sebab awal munculnya pertanian, ilmuwan sosial lebih tahu pasti tentang peranan tekanan penduduk terhadap intensifikasi produksi pertanian. Boserup sendiri memberikan bukti kuat tentang perubahan tingkat kepadatan penduduk terhadap pola produksi ekonomi. Sebagai contoh, dia menunjukkan fakta pertambahan penduduk Jepang dari sekitar 1.600 ke sekitar 1.850 yang diikuti oleh perubahan intensitas produksi (1965:6). Boserup juga menyatakan bahwa penurunan kepadatan penduduk diikuti oleh regresi aktual dalam teknik penanaman.

Banyak penelitian tambahan yang mendukung pandangan  bahwa takanan penduduk adalah sebab utama evolusi teknologi pra-industri. Peningkatan sistem produksi pertanian yang intensif tampaknya muncul sebagai respon terhadap jumlah penduduk yang meningkat di berbagai wilayah dunia seperti Amerika Selatan, New Guinea, Mesoamerika Kuno, dan Mesopotamia Kuno (Carneiro, 1968; Clarke, 1966; Sanders, 1972; Adams, 1972).

Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, walaupun teori demografik tentang intensifikasi pertanian telah banyak mendapat sambutan, sebagian ilmuwan sosial tetap mengajukan kritik. George Cowgill (1975) dan Benjamin White (1982), misalnya, menyatakan bahwa teori tersebut secara tidak tepat mengasumsikan adanya kecenderungan alamiah penduduk manusia untuk bertumbuh. White menyatakan bahwa pertambahan penduduk tidak bersifat alamiah atau otomatis, tetapi bergantung kepada berbagai keadaan sosial, ekonomi, dan politik. Dia berpendapat bahwa karena tidak ada kecenderungan inheren dalam pertambahan penduduk manusia, maka tekanan penduduk tidak dapat diandalkan secara logis sebagai sebab kamajuan dalam tingkat teknologi pertanian.

Tetapi walaupun benar bahwa perubahan demografik dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, tidaklah berati tidak ada kecenderungan inheren bagi pertambahan penduduk di kebanyakan masyarakat pra-industrial. Ada bukti kuat bahwa masyarakat pra-industrial memberikan perhatian yang sangat besar kepada upaya pengaturan jumlah penduduk, dan ini menunjuk-kan bahwa mereka bangkit melawan realitas biologis yang potensial. Secara khusus, adanya pembunuhan terhadap anak perempuan di berbagai belahan dunia, merupakan bukti kuat dari kebutuhan manusia untuk mengendalikan jumlah mereka.

Perubahan demografik berinteraksi dengan cara yang sangat kompleks dengan berbagai komponen sistem sosiokultural, tetapi hal ini hampir tidak dapat dianggap sebagai sebab universal dalam evolusi sosiokultural. Peristiwa evolusioner yang lebih baru, seperti Revolusi Industrial atau pemiskinan dua pertiga penduduk dunia kontemporer, muncul karena disebabkan beberapa sebab yang berbeda-beda. Tetapi, pada tingkat pra-industrial, pertambahan penduduk tampaknya merupakan taruhan terbaik kita sebagai rangsangan kritis bagi kemajuan teknologi subsistensi. Paling tidak, belum ada orang yang mengajukan teori yang meyakinkan seperti teori tekanan penduduk.

BAB 5

SISTEM EKONOMI PRA-KAPITALIS

1. Pendahuluan

Setiap masyarakat mempunyai sistem ekonomi yang terjalin sangat dekat  dengan pola teknologi subsistensinya. Namun,  ada perbedaan krusial antara ekonomi dan teknologi. Teknologi meliputi alat, teknik, dan pengetahuan yang dimiliki para anggota masyarakat, dan digunakan dalam proses pemenuhan kebutuhan hidup. Aktivitas ekonomi tidak mungkin ada tanpa teknologi. Ekonomi berisi hubungan-hubungan sosial yang mengorganisasikan produksi, distribusi, serta pertukaran barang dan jasa dalam suatu masyarakat. Produksi adalah proses yang diorganisasikan secara sosial di mana barang dan jasa diciptakan. Pertanyaan tentang siapa yang memiliki kekuatan-kekuatan produksi dan bagaimana mereka memutuskan penggunaan kekuatan-kekuatan ini adalah pertanyaan yang menyangkut produksi. Distribusi adalah proses alokasi barang dan jasa yang diproduksi oleh masyarakat –siapa mendapat apa, bagaimana dan mengapa. Pertukaran barang dan jasa adalah proses perpindahan sesuatu yang berharga dengan memperoleh pengembalian sesuatu yang lain, misalnya pertukaran hadiah atau barang jualan di sebuah pasar.

Bab ini membahas sistem ekonomi yang ada sebelum berkembang-nya ekonomi pasar kapitalis dunia, atau, jika ada sekarang, memperlihatkan karakteristik ekonomi yang non-kapitalis. Perhatian utama buku ini adalah memperlihatkan cara-cara yang membedakan dan menyamakan antara sistem ekonomi pra-kapitalis dan sistem ekonomi kapitalis.

2.  Produksi Untuk Dipakai – Dijual

Semua barang mempunyai dua jenis nilai yang berbeda, yang umum dikenal dengan nilai guna dan nilai tukar. Nilai pakai sebuah barang adalah kegunaannya secara langsung, manfaatnya diperoleh pemakainya ketika ia mempergunakannya menurut cara yang diinginkannya. Sebagai contoh, nilai guna sebuah sepatu adalah manfaat bagi pemakainya sebagai alat yang melindungi kaki, menjaga kaki tetap hangat dan kering. Demikian juga, nilai guna sebuah mobil adalah kegunaannya sebagai kendaraan pengangkut.

Tetapi sepatu, mobil, dan semua benda lainnya juga mempunyai jenis nilai lain  yang disebut nilai tukar. Nilai tukar barang-barang ini adalah nilai barang yang akan diperoleh ketika ia dipertukarkan dengan barang lain. Sebagai contoh, jika seseorang setuju memberikan 300 pasang sepatu kepada seseorang sebagai ganti dari mobil, maka nilai tukar mobil dalam situasi ini adalah 300 pasang sepatu. Dengan cara lain, kita dapat mengatakan bahwa nilai tukar sepatu adalah 1/300 nilai tukar mobil. Nilai tukar dapat diperhitungkan menurut barang berharga yang lain, atau dengan perantaraan medium tukar, yaitu uang. Dalam masyarakat kapitalis yang didasarkan kepada pasar, nilai tukar hampir semua dikalkulasikan dengan uang, tetapi dalam masyarakat pra-kapitalis, nilai tukar barang sering kali dihitung dengan barang lain selain jenis uang.

Walaupun semua barang dalam semua sistem ekonomi mempunyai nilai tukar dan nilai guna, sistem ekonomi itu sendiri cenderung diorganisasikan, terutama, menurut salah satu dari dua jenis nilai ini. Masyarakat pra-kapitalis diorganisasikan melalui berbagai aktivitas di mana produksi barang untuk nilai guna adalah perhatian satu-satunya produsen. Dalam kasus ini, barang diproduksi agar dapat dikonsumsi, bukan agar dapat ditukarkan dengan barang lain. Apabila jenis aktivitas ini mendominasi tindakan ekonomi, maka sistem ekonomi produksi untuk dipakai (production-for-use-economy) dinyatakan berlaku.

Sebaliknya, kapitalisme modern, memproduksi sejumlah besar barang terutama untuk nilai tukarnya, untuk sejumlah uang yang akan diberikannya  bagi produsen kapitalis ketika barang tersebut dijual di pasar.  Tentu saja barang-barang ini mempunyai nilai guna; kalau tidak, tidak ada orang yang terterik membelinya. Tetapi ia bukan nilai yang utama. Motivasi kapitalis modern untuk memproduksi barang lebih berhubungan dengan nilai tukar daripada nilai gunanya. Dengan demikian, kapitalisme modern adalah suatu ekonomi produksi untuk dijual (production-for-exchange economy) atau ekonomi di mana produksi untuk dijual lebih diprioritaskan dari produksi untuk dipakai.

Tidak bisa dibenarkan anggapan bahwa sistem ekonomi produksi untuk dipakai tidak mempunyai nilai produksi untuk dijual. Sebenarnya sistem ekonomi ini juga menjalankan produksi untuk dijual, paling tidak dalam kadar yang kecil. Jelaslah bahwa produksi untuk dijual memainkan peran yang sangat sekunder dalam berbagai jenis ekonomi ini. Tak bisa dibenarkan juga anggapan bahwa sistem ekonomi produksi untuk dipakai  hanya dapat  memenuhi kebutuhan subsistensi para anggotanya saja. Sebaliknya, banyak sistem ekonomi kapitalis menghasilkan kekayaan yang sangat besar dan menandai ketidaksamaan ekonomi di kalangan para anggotanya. Namun, titik tekannya adalah bahwa kekayaan dan ketidaksamaan tidak muncul dari hubungan produksi untuk dijual, tetapi dari hubungan produksi untuk dipakai. Hanya dalam kapitalisme modern terdapat kekayaan dan ketidaksamaan ekonomi yang besar muncul terutama dari hubungan produksi untuk dijual.

3.  Pola Pemilikan dalam Masyarakat Pra-Kapitalis

Ketika mempertimbangkan bagaimana barang diproduksi dalam semua masyarakat, pertanyaan pentingnya adalah, siapa yang memiliki kekuatan-kekuatan produksi –yakni, siapa yang memiliki berbagai sumber daya yang paling signifikan dalam melakukan berbagai aktivitas produksi. Dalam kapitalisme modern, kekuatan-kekuatan produksi vital pada prinsipnya dimiliki oleh sebagian penduduk yang kecil sekali jumlahnya, dan kelompok kapitalis kecil ini mengarahkan seluruh proses produksi ekonomi. Dalam masyarakat sosialis modern, seperti Korea Utara dan Kuba, pemilikan kekuatan-kekuatan produktif berada di tangan pemerintah, yang mengklaim mengarahkan produksi untuk kebaikan seluruh masyarakat. Dengan demikian, baik dalam kapitalisme modern maupun sosialisme modern, proses produksi sangat ditentukan oleh oprang-orang atau kelompok-kelompok yang memiliki sumber daya penting.

Dalam masyarakat pra-kapitalis juga, produksi ekonomi ditentukan oleh keinginan dan pilihan para pemilik kekuatan-kekuatan produksi. Ada gunanya membedakan empat pola pemilikan dalam masyarakat pra-kapitalis, yaitu: Komunisme Primitif, pemilikan oleh keluarga besar (lineage ownership), pemilikan oleh pemimpin (chiefly ownership), dan pemilikan  seigneurial. Berbagai jenis pemilikan ini tidak mencakup seluruh pola pemilikan kekayaan dalam ekonomi pra-kapitalis, dan ada variasi penting dalam masing-masing jenis pemilikan ini, tetapi berbagai jenis yang disebutkan ini kurang lebih representatif dari berbagai cara pengorganisasian pemilikan kekayaan di dunia pra-kapitalis.

a.  Komunisme Primitif

Pada pertengahan abah XIX, Karl Marx berspekulasi bahwa pola kehidupan ekonomi paling awal dalam sejarah manusia adalah apa yang diistilahkannya sebagai komunisme primitif. Dengan istilah ini, yang dimaksud Marx adalah  suatu jenis masyarakat, yang untuk memenuhi kebutuhan  subsistensinya dengan berburu dan meramu atau bentuk-bentuk pertanian sederhana, dan semua sumber daya alam yang penting dimiliki secara bersama. Pemilikan peribadi atas berbagai sumber daya oleh individu atau kelompok kecil tidak ada dalam jenis masyarakat ini.

Walaupun banyak ilmuwan sosial yang menantang  pandangan Marx ini, ilmu sosial kontemporer memberikan bukti kuat bahwa pandangan Marx pada dasarnya tepat. Mayoritas masyarakat pemburu-peramu yang dikaji oleh para antropolog modern, menunjukkan pola pemilikan setara atas sumber daya secara akurat dikarakterisasikan oleh pandangan Marx tentang komunisme primitif. Walaupun kebanyakan aktivitas ekonomi dalam masyrakat pemburu-permu berpusat seputar keluarga, semua individu dalam masyarakat tersebut mempunyai akses yang sama terhadap sumber daya alam yang diperlukan untuk subsistensi mereka. Tidak ada orang di antara kelompok pemburu-peramu yang dapat digusur oleh orang atau kelompok lain. Mereka mempunyai kesempatan yang sama dalam memburu binatang, meramu tumbuhan, memanfaatkan telaga, atau berkemah di atas tanah. Dengan demikian, setiap orang memiliki berbagai sumber daya ini secara kolektif. Dalam kenyataannya, sebagian masyarakat pemburu-peramu tidak membatasi pemilikan sumber daya ini kepada anggota kelompok lokalnya sendiri, namun mereka memberikan akses yang sama terhadap berbagai sumber daya yang ada kepada semua indivudu atau kelompok yang membutuhkan (Woodburn, 1968). Bahkan dalam contoh-contoh di mana sumber daya dapat “dimiliki”  secara pribadi oleh keluarga tertentu, namun secara tipikal tidak ada pembatasan yang ditentukan terhadap keluarga lain untuk menggunakannya. Di kalangan masyarakat !kung, misalnya, telaga seringkali dikatakan “dimiliki” oleh keluarga tertentu, tetapi keluarga ini tidak menghalangi keluarga lain memanfaatkannya (Lee, 1968; 1972).

Adalah benar bahwa dalam masyarakat pemburu-peramu, barang seperti permata dan benda seni dimiliki secara pribadi, tetapi kenyataan ini tidak membatalkan  pernyataan bahwa komunisme primitif adalah pola pemilikan utama dalam masyarakat pemburu-peramu. Permata dan benda seni bukan bagian dari kekuatan-kekuatan produksi, seperti yang disebut Marx sumber daya yang diperlukan untuk produksi ekonomi. Tetapi ia merupakan barang yang secara lebih tepat disebut sebagai kekayaan pribadi. Karena tidak digunakan dalam proses produksi, sifat pemilikan ini tidak relevan bagi tesis Marxian tentang komunisme primitif. Apalagi kemudian kita menemukan bahwa kekayaan pribadi jarang disimpan sebagai milik pribadi; tetapi menggilirkannya di kalangan para anggota kelompok, dan dengan demikian berguna bagi seluruh komunitas.

b.  Pemilikan oleh Keluarga Besar

Di kalangan banyak masyarakat hortikultura, komunisme primitif dalam pengertian yang ketat biasanya tidak ada. Sebagai gantinya, masyarakat hortikultura yang lemah memiliki pola pemilikan yang dapat disebut dengan sangat baik sebagai pemilikan  oleh keluarga besar (lineage ownership). Pemilikan ini terjadi ketika kelompok keluarga berskala besar, yang dikenal dengan lineage (atau kadang-kadang clan), memiliki kekayaan secara bersama. Tentu saja, dalam masyarakat tersebut bentuk kekayaan yang paling penting adalah tanah. Ketika keluarga besar memiliki tanah secara bersama, maka para anggota kelompok tersebut berpartisipasi dalam pemanfaatan tanah tersebut hanya karena mereka anggota keluarga besar tersebut.  Hak mereka untuk menggunakan tanah hanya diberikan oleh keluarga besar dalam bentuk kerja bersama; pemimpin keluarga besar, yang bertindak sebagai wakil dari keluarga besar secara keseluruhan, memberikan hak-hak ini.

Pemilikan oleh keluarga besar serupa dengan komunisme primitif dalam hal bahwa keduanya bukan merupakan bentuk pemilikan kekayaan pribadi. Kekayaan masih dimiliki dan digunakan secara bersama. Tetapi ada perbedaan penting antara komunisme primitif dan pemilikan oleh keluarga besar. Pemilikan  oleh keluarga besar lebih eksklusif  atau lebih terbatas karena membuat pemilikan dan penggunaan sumber daya berharga  bergantung kepada keanggotaan kelompok keluarga. Dalam berbagai masyarakat yang menganut pemilikan oleh keluarga besar, tidak semua anggota masyarakat mempunyai akses yang sama terhadap kekuatan-kekutan produksi, walaupun semua anggota adalah anggota keluarga besar yang sama. Dengan demikian, pemilikan oleh keluarga besar selangkah meninggalkan komunisme primitif dan menuju kepada pemilikan pribadi. Namun, ia lebih dekat dengan komunisme primitif daripada dengan pemilikan pribadi, karena dalam pemilikan oleh keluarga besar yang sebenarnya, para anggota keluarga besar itu sendiri mempunyai akses yang relatif sama terhadap sumber daya.

c.   Pemilikan oleh Pemimpin

Pemilikan oleh pemimpin adalah variasi evolusioner dari pemilikan oleh keluarga besar. Pola ini biasanya terdapat pada masyarakat hortikultura yang lebih intensif, walaupun juga terdapat  pada sebagian kecil masyarakat pemburu-peramu. Pemilikan oleh pemimpin muncul ketika seorang individu yang kuat –seorang pemimpin—yang merupakan pemimpin keluarga besar, atau seluruh desa, atau jaringan desa-desa yang luas, menyatakan pemilikan pribadi atas tanah yang ada dalam kekuasaannya dan berusaha menggusur hak-hak menggunakan tanah pada orang-orang yang hidup di atasnya. Untuk menggunakan tanah, orang-orang ini harus mengikuti batasan-batasan produksi tertentu, seperti menyerahkan sebagian hasil panen mereka kepada pimpinannya.

Sebenarnya, pemilikan atas semua tanah yang ada   oleh seorang pemimpin tidak benar-benar terjadi. Hak pemilikan  pemimpin tidaklah “senyata” yang bisa diungkapkan. Masyarakat  Kpelle Liberia di Afrika Barat adalah masyarakat hortikultura intensif dengan pola pemilikan oleh pemimpin, namun hak pemilikan pemimpin sangat terbatas. Gibbs (1965:200-201) menjelaskan tentang masyarakat Kpelle, bahwa secara formal, tanah dikatakan “dimiliki” oleh pemimpin tertinggi, yang membaginya menjadi bagian-bagian kepemimpinan untuk setiap kota, dengan menggunakan pohon kapuk dan kola, anak sungan dan bukit-bukit sebagai perbatasannya. Setiap pemimpin kota membagi tanah di kotanya menjadi empat bagian, dengan menggunakan tanda-tanda perbatasan yang sama. Bagian-bagian ini, selanjutnya dibelah lagi mejadi petak-petak untuk setiap “keluarga”  atau keluarga besar yang tidak terkenal. Karena semua orang dalam berhak atas pemanfaatan bagian tanah yang ada, pemimpin keluarga besar tidak dapat menolak membaginya untuk masing-masing pimpinan rumah tangga di keluarga besar tersebut. Sekali tanah itu dipetak-petak, maka ia tetap menjadi milik keluarga besar dan kembali kepada sesepuh wilayah atau “pemiliknya” semula hanya bila keluarga besar tersebut habis sama sekali, atau terjadi berbagai peristiwa yang tidak umum. Dengan demikian, walaupun seorang pemimpin kota, sesepuh wilayah, atau kepala keluarga besar, seperti pimpinan tertinggi, dikatakan “pemilik tanah”, masing-masing sebenarnya adalah pengurus, pemegang tanah bagi mereka yang diwakili.

Sebenarnya, dalam situasi sehari-hari, pimpinan rumah tangga yang kepadanya tanah telah dialokasikan, juga disebut sebagai pemilik tanah. Dia yang memutuskan bibit apa yang akan ditanam selama waktu tertentu dan berapa bagian dari tanah tersebut yang akan dibiarkan kosong. Kebanyakan ladang dimiliki secara individu oleh para pimpinan rumah tangga dan dikerjakan dengan bantuan kelompok rumah tangga petani atau kelompok yang bekerja bersama.

Dengan demikian, walaupun para pemimpin adalah  pemilik resmi di kalangan masyarakat Kpelle, kekuasaan para pemimpin tampak sangat terbatas. Karena orang biasa adalah pembuat keputusan harian dalam hal pemanfaatan produktif tanah, maka orang-orang ini adalah juga pemiliknya.

d.  Pemilik Seigneurial

Walaupun pemilikan oleh pemimpin menghadirkan perkembangan  signifikan  ke arah pemilikan pribadi, ia banyak memiliki karakteristik pemilikan oleh kaluarga besar, dan tidak dapat dikatakan sebagai pola pemilikan pribadi yang sebenarnya. Pemilikan pribadi yang sebenarnya tercapai melalui evolusi menjadi pemilikan  seigneurial. Pemilikan seigneurial muncul makala sekelompok kecil orang, umumnya dikenal sebagai tuan tanah (bahasa Prancisnya:  seignuers), mengkalim pemilikan pribadi atas sebidang tanah yang di atasnya hidup dan bekerja para petani dan budak yang membayar rente, pajak, dan berbagai pengabdian tenaga kepada para tuan tanahnya. Tidak ada hal yang dibuat-buat dalam hal jenis pemilikan ini, karena para tuan tanah mempunyai kekuasaan tak terbatas terhadap orang lain dalam memanfaatkan tanah, dan orang tersebut seringkali tidak menentukan  keputusan harian  tentang bagaimana tanah harus dipergunakan secara produktif.

Pemilikan seigneurial merupakan karakteristik kebanyakan masyarakat agraris berskala besar, walaupun kadang-kadang terdapat juga di beberapa masyarakat hortikultura intensif tertentu. Jelasklah bahwa pola ini berhubungan dengan pola produksi pertanian yang sangat intensif. Pada masyarakat Eropa zaman pertengahan, di bawah sistem ekonomi politik yang dikenal dengan feodalisme, pemilikan seigneurial berlaku selama beberapa abad antara jatuhnya kekaisaran Romawi dan muncul kapitalisme modern. Mengikuti Max Weber (1978; aslinya 1923), Eric Wolf (1966) menyebut karakteristik jenis pemilikan seigneurial masyarakat Eropa zaman pertengahan dengan pemilikan patrimonial. Dalam jenis pemilikan ini, tanah dimiliki secara pribadi oleh kelas tuan tanah yang mewarisinya melalui garis keluarga dan secara pribadi mengatur penanamannya. Wolf mengidentifikasi jenis lain dari pemilikan seigneurial yang disebut pemilikan prebendal.  Pemilikan prebendal ada ketika tanah dimiliki oleh pemerintah yang kuat dan menunjuk para pejabat untuk mengawasi penanamannya dan menarik hasil darinya.  Seperti dikatakan Wolf, pemilikan prebendal pada umumnya berhubungan  dengan adanya negara birokratis terpusat –seperti Kekaisaran Sasanid Persia, Kekaisaran Ottoman, Kekaisaran Mogul di India, dan Cina Tradisional. Pengorganisasian politik kekaisaran ini berusaha membatasi hak pewarisan tanah dan menarik upeti, dan sebagai gantinya menegaskan hak penuh pemerintah, raja lalim, yang tidak mengakui semua kekuasaan yang berada di bawahnya.

e.  Pemilikan Lawan Penguasaan

Evolusi hak atas kekayaan merupakan gerakan yang terus menerus berlangsung dari hak-hak komunal menuju ke hak-hak pribadi, dari hak setiap orang untuk memanfaatkan sumber daya vital sampai hanya sebagian orang yang memanfaatkan sepenuhnya sumber daya yang tersedia. Tetapi untuk memahami secara jelas apa saja dimensi penting dari pemilikan ini, perlu dihindari konsep pemilikan yang sempit dan legalistik, yaitu konsep pemilikan sebagai “hak milik”. Yang penting bukanlah hak milik, tetapi penguasaan (kontrol). Sebagai contoh, keluarga tertentu dalam masyarakat !Kung memiliki telaga, yakni memiliki “hak milik” atasnya. Tetapi pemilikan ini bukan dalam pengertian “hak milik”, karena mereka tidak memiliki kemampuan dan kecenderungan untuk mencegah keluarga lain memanfaatkan telaga tersebut. Dengan demikian, di kalangan masyarakat !Kung, penguasaan atas telaga bersifat komunal, dan inilah dimensi yang terpenting. Dalam nada yang sama, di Eropa zaman pertengahan terdapat banyak petani bebas yang memiliki tanah sendiri, yakni, mempunyai “hak milik”. Namun para petani ini secara efektif tidak dapat menguasai secara penuh tanah mereka sendiri, karena kelas tuan tanah memegang hak administratif untuk memungut pajak terhadap mereka dan menguasai mereka dalam hal yang lainnya. Dengan demikian, para petani memiliki tanah sendiri, tetapi tuan tanah sangat menguasainya. Sekali lagi, penguasalah yang menentukan apa yang terjadi dalam sebuah sistem produksi, dan kapan pemilikan dan penguasaan tidak berkaitan, yang terakhir inilah yang harus menjadi perhatian para ilmuwan sosial.

4.  Pola Distribusi dalam Masyarakat Pra-Kapitalis

Evolusi pola pemilikan kekayaan dalam masyarakat pra-kapitalis berhubungan erat dengan evolusi pola distribusi sumber daya. Semakin mempribadi sistem pemilikan, semakin tidak merata sistem distribusi. Adalah berguna membicarakan empat pola distribusi utama dalam masyarakat pra-kapitalis, yaitu  resiprositas (reciprocity), redistribusi murni (pure redistribution), redistribusi parsial (partial redistribution), dan ekspropriasi.

a.  Resiprositas

Resiprositas adalah kewajiban membayar kembali kepada orang lain atas apa yang mereka berikan atau lakukan untuk kita, atau dalam tindakan nyata membayar kembali kepada orang lain. Ada dua jenis resiprositas, yaitu  balanced resiprocity dan generalized resiprosity. Balanced resiprosity terjadi apabila para individu diwajikan memberikan pengembalan yang setara, seringkali langsung, kepada orang lain. Balanced resiprosity dapat diidentifikasi dengan kenyataan bahwa individu dengan sengaja dan terbuka mengkalkulasi apa yang mereka berikan kepada orang lain dan secara terbuka dinyatakan sifat pengembalian yang akan diperoleh. Setiap pihak yang berinteraksi mengharapkan keuntungan, tetapi ada harapan yang jelas akan adanya keuntungan timbal balik, dan jarang ada ëksploitasi.

Generalized reciprosity terjadi apabila para individu diwajibkan memberikan kepada orang lain tanpa mengharapkan pengembalian yang setara atau langsung. Berlawanan  dengan balanced reciprosity, generalized resiprosity tidak menggunakan kesepakatan terbuka atau langsung antara pihak-pihak yang terlibat. Ada harapan yang bersifat umum  bahwa pengembalian setara atau hutang ini akan tiba saatnya, tetapi tidak ada batas waktu tertentu untuk pengembalian, juga tidak ada spesifikasi mengenai bagaimana pengembalian itu dilakukan. Istilah pengembalian dalam generalized  reciprosity sangat semar.

Marvin Harris (1974) menyatakan bahwa seseorang dapat mengatakan generalized reciprosity adalah bila pola distribusi berlaku dengan mencatat apakah orang mengatakan “Terima kasih”. Sebagaimana yang ditulis Harris (1974:124), apabila generalized reciprisity merupakan pola distributif, adalah tidak sopan secara terus terang mengucapkan  terima kasih setelah menerima benda material atau jasa. Di kalangan masyarakat Semai, Malaysia Tengah, misalnya, tidak pernah ada orang yang menyatakan terima kasih atas daging yang diberikan pemburu dengan bagian yang betul-betul sama untuk semua kawannya. Robert Dentan, yang hidup bersama masyarakat Semai, menemukan bahwa mengatakan terima kasih sangat tidak sopan karena ucapan itu menunjukkan bahwa anda tidak mengkalkulasi besarnya potongan daging yang diberikan kepada anda, atau anda tidak merasakan surprise oleh keberhasilan dan kemurahan hati sang pemburu.

Seseorang juga dapat mengatakan bahwa mengatakan terima kasih tidak sopan apabila generalized reciprosity merupakan pola distribusi yang berlaku, karena dalam pola seperti ini memberikan sesuatu kepada orang lain adalah tugas sosial, bukan tindakan kemurahan hati.

Walaupun generalized reciprosity terjadi dalam kadar tertentu dalam semua masyarakat, ia membentuk esensi dasar dalam kehidupan ekonomi masyarakat pemburu-peramu, di mana ia seringkali berlaku. Masyarakat pemburu-peramu terkenal dengan pembagian makanan yang berlaku umum. Para individu secara teratur memberikan makanan kepada orang lain dan menerima makanan sebagai pengembaliannya. Ketika seorang lelaki kembali ke perkemahan dengan binatang yang telah dibunuhnya, dia akan membaginya menjadi beberapa bagian dan membagikannya, biasanya pertama-tama kepada anggota keluarganya dan kemudian kepada anggota kelompok yang lain. Begitu juga, para wanita secara teratur memberikan bagian-bagian makanan yang mereka ramu. Ketika seorang pemburu memberikan daging kepada orang lain, dia hanya berharap akan mendapatkan pengembalian pada saat yang lain. Pemburu mungkin memberikan kepada orang lain berkali-kali tanpa terjadi pengembalian dan tanpa menyebut-nyebutnya. Dia mengerti bahwa kesempatan itu sangat baik, sehingga tindakannya akhirnya akan memperoleh balasan. Kegagalan memberikan balasan hanya akan menjadi sebab keprihatinan  dan konflik apabila tampak bahwa seseorang hanya menjadi “tukan bonceng” orang lain.

Apabila generalized reciprosity  merupakan ciri yang merasuk ke dalam kehidupan ekonomi, berbagi dan kerendahan hati individu menjadi kebiasaan sosial yang diwajibkan.

Satu alasan mengapa generalized reciprosity merupakan pola distribusi yang dominan dalam masyarakat pemburu-peramu, adalah karena adanya kecenderungan untuk berbagi di kalangan manusia yang belum terkena pengaruh buruk kekayaan pribadi. Namun, penjelasan ini tampak meragukan karena ia mengungkapkan gambaran yang terlalu romantik tentang masyarakat pemburu-peramu. Alasan yang lebih masuk akal adalah, adanya keperluan akan bentuk kerja sama yang dekat di kalangan anggota kelompok tersebut. Para peramu-pemburu sangat saling bergantung satu sama lainnya agar dapat bertahan hidup. Walaupun sumber daya pada umumnya tidak terlalu terbatas, namun ketersediannya sangat fluktuatif. Dengan demikian, seorang lelaki mungkin saja menghadapi nasib sial yang panjang dalam perburuannya. Jika orang lain tidak memberikan daging kepadanya selama masa itu, maka dia tidak akan bisa mendapatkan apa-apa. Mereka memberikan daging kepadanya karena mereka tahu bahwa mereka pun pada akhirnya akan mengalami nasib sial dalam perburuan, dan selama waktu itu mereka berharap akan menerima daging darinya. Karena itu, memberi orang lain secara teratur adalah membantu menjamin kesejahtraannya sendiri dalam jangka panjang (Weissner, 1982; Cashden, 1985). Dengan demikian, generalized reciprosity adalah contoh khusus dari gejala yang pada bagian sebelumnya kita identifikasikan sebagai kepentingan diri yang tercerahkan. Tidak ada sesuatu yang mengherankan dalam kenyataan bahwa masyarakat pemburu-peramu memperlihatkan penghinaan yang sangat tajam kepada seseorang yang kompetitif, mementingkan diri sendiri dan sombong. Orang semacam ini adalah ancaman langsung  atas kesejahteraan ekonomi orang lain, dan harus ditekan dengan keras agar mengubah cara hidupnya.

b.  Redistribusi Murni

Proses lain di mana barang disirkulasikan dalam masyarakat pra-kapitalis dikenal dengan distribusi murni. Ketika redistribusi terjadi, produk digilirkan dari satu rumah tangga ke sumber pusat dan kemudian dikembalikan lagi ke rumah-rumah tangga  dengan cara yang sistematik. Redistribusi berbeda dengan resiprositas, karena redistribusi adalah proses yang lebih formal yang meliputi perpindahan barang  ke tangan seseorang  atau suatu kelompok  yang merupakan titik pusat alokasi barang-barang tersebut.

Dikenal ada dua jenis redistribusi, yaitu redistribusi murni dan redistribusi parsial (Moseley and Wallerstein, 1978), kadang-kadang disebut redistribusi egaliter dan redistribusi berstratifikasi (Harris, 1975). Dalam redistribusi murni, proses redistribusi berlaku sempurna, dalam arti bahwa agen-agen redistribusi merealokasikan semua barang  tanpa  mengambil jatah ekstra untuk dirinya sendiri.  Dengan demikian, redistribusi murni berhubungan dengan kesamarataan ekonomi. Dalam redistribusi parsial, proses redistribusi berlaku tidak sempurna lantaran agen redistribusi mengambil bagian tertentu untuk dirinya sendiri. Dengan demikian, redistribusi parsial berhubungan dengan ketidakmerataan ekonomi.

Sistem ekonomi redistribusi murni, yang sangat umum dihubungkan dengan masyarakat  hortikultura, cara berlakunya agak berbeda-beda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Salah satu versi ekonomi redistributif  berlaku luas pada beberapa masyarakat hortikultura sederhana di Melanesia. Masyarakat ini memiliki orang-orang yang sangat ambisius, yang dikenal dengan orang besar. Orang-orang besar  adalah para individu yang mencari prestise dan kemasyhuran melalui peranan mereka sebagai pengorganisasi produksi ekonomis. Orang besar yang bercita-cita tinggi ini pada umumnya memulai karier dengan menanami kebun yang lebih besar dan memelihara peternakan babi yang lebih banyak. Dia melakukan ini dengan bantuan para keluarga dan tetangga dekat, yang bertaruh untuk keberhasilannya. Jika dia berhasil dalam usahanya meningkatkan produktivitas kebun dan peternakannya, dia akhirnya akan mengakumulasikan bahan makanan yang cukup untuk mengadakan pesta besar, yang pada saat itu bahan makanan ini akan diredistribusikan kepada anggota desa lain. Prestise dan kemasyhuran jatuh ke tangannya melalui pengadaan pesta yang sukses. Tetapi biasanya ada individu lain di desanya dengan keinginan yang sama untuk mengadakan pesta sendiri. Apabila ia secara konsisten mampu mengadakan pesta yang lebih besar daripada yang diadakan pesaingnya, dia biasanya dianggap sebagai orang besar desa dan memperoleh prestise yang tinggi. Tetapi jika ia tersendat dalam usahanya ini, maka statusnya akan lenyap dengan segera, dan akan digantikan oleh pesaing lain yang mengalahkannya. Juga, dia diharapkan akan bermurah hati dalam ditribusi berbagai produk dan memberikan penekanan kepada kesejahteraan seluruh desa. Orang besar yang tidak cukup murah hati dan terlalu banyak menyimpan untuk dirinya sendiri seringkali dibunuh.

Pencarian akan status yang tinggi pada sekelompok orang besar Melanesia yang bercita-cita tinggi ini menimbulkan konsekuensi-konsekuensi ekonomi yang nyata. Pencarian itu sangat memungkinkan produktivitas ekonomi membawa kepada peningkatan secara umum dalam kuantitas produk kebun, binatang ternak, ikan, dan berbagai produk ekonomi lainnya (Oliver, 1955). Sirkulasi barang juga meningkat secara substansial, karena persiapan pesta menyebabkan banyak terjadi pertukaran barang dan jasa. Di samping itu, biasanya ada peningkatan nyata dalam konsumsi banyak barang  oleh anggota seluruh desa. Jadi, proses penyelenggaraan pesta yang kompetitif adalah bagian vital dari sistem ekonomi hortikultura masyarakat Melanesia.

Para juru-bicara-Kaoka, suatu kelompok hotikultura sederhana di Melanesia, dikarakterisasikan sebagai suatu sistem  redistribusi orang besar klasik (Hogbin, 1964). Ungkapan asli untuk seorang pemimpin yang memiliki prestise dan kemasyhiuran adalah mwame-kama, secara harfiyah berarti “órang besar”. Penduduk asli pada umumnya setuju bahwa pada satu saat tertentu hanya ada satu orang besar yang sebenarnya dalam sebuah desa. Dia biasanya adalah seorang lelaki yang berumur lebih dari 40 tahun, terjamin kemakmurannya dan bermartabat, tinggal di rumah yang dibangun dengan sangat kukuh, sangat ramah tamah dan dihormati oleh desa-desa lain.

Untuk memperoleh dukungan keluarga dan tetangga, dalam rangka membentangkan karir untuk menjadi orang besar, seseorang harus kuat, juga lembut, cekatan, industrius, dan pengorganisasi yang baik. Ambisi seseorang untuk mengejar karir tersebut biasanya menjadi tampak pada awal usianya yang ketiga puluh. Ketika seseorang cenderung berusaha keras menjadi orang besar, dia memulai dengan menanami kebun yang lebih besar, sebuah tugas yang untuk itu dia mendapatkan bantuan dari para keuarga dekatnya. Dia juga berusaha meningkatkan jumlah ternah babinya. Apabila pada saat itu kebunnya subur dan dia mempunyai sekitar 10 babi yang gemuk serta beberapa babi yang lebih kecil, orang tersebut mulai mengatakan bahwa ia ingin membangun tempat tinggal yang baru, yang lebih besar dan lebih baik dari biasanya. Tindakan ini biasanya dianggap sebagai pernyataan kepada orang banyak bahwa dia adalah calon orang yang paling terhormat di kampungnya. Perayaan menandai akhir pekerjaan pembangunan tempat tinggal, yang disebut para juru-bicara-Kaoka sebagai “pesta untuk menggeser saingan”, ini sangat rumit.

Usaha untuk menjadi orang besar di desa  memerlukan pesta yang makin banyak dan makin besar. Jika seseorang dapat melanjutkan ke tingkat ini, dia akhirnya mungkin akan menjadi orang besar di desanya. Namun, sekalipun dia sudah berhasil, dia tidak akan pernah berhenti untuk memperoleh kemenangan. Segera setelah ukuran kebun dan binatang ternaknya mulai menyusut, dia akan turun menjadi orang yang tidak penting. Dia selalu berhadapan dengan para pesaing yang menunggu merebut tempatnya ketika dia tidak mampu terus meningkatkan produktivitas ekonominya.

Bagaimana menerangkan evolusi sistem redistribusi tersebut? Harris, 1974; 1977) berpendapat bahwa orang besar adalah seorang pengintensif ekonomi. Perannya adalah meningkatkan tingkat produksi di balik apa yang tampak. Harris percaya bahwa peningkatan dalam tingkat produksi ini memiliki signifikansi adaptif bagi kelompok hortikultura berskala kecil. Sebagaimana diterangkannya bahwa dalam situasi setiap orang memiliki ekses yang sama kepada alat-alat subsistensi,  pesta kompetitif tersebut berfungsi praktis untuk melindungi tenaga kerja dari menyurut ke tingkat produktivitas yang tidak menawarkan batas-batas keamanan dalam berbagai krisis, seperti perang dan kegagalkan panen.

Michael Harner (1975) memberikan penjelasan serupa, meski sedikit berbeda. Dia menteorisasikan bahwa sistem orang besar merupakan poroduk dari kelangkaan tenaga kerja. Apabila orang menanami tanah dengan metode hortikultura sederhana, hamparan tanah yang luas biasanya tidak tersedia, dan tenaga kerjanya, lebih dari tanahnya, merupakan sumber daya yang langka. Dalam kondisi kelangkaan tenaga kerja, peran orang besar bangkit sebagai mekanisme penting untuk mencapai kekuasaan dan prestise. Dengan demikian, Harner memusatkan perhatian kepada evolusi sistem orang besar dari titik pandang keuntungan bagi individu, sementara penjelasan Harris menekankan keuntungan masyarakat luas dari sistem orang besar. Meski demikian, penjelasan mereka tampak saling melengkapi daripada saling bertentangan; yakni, dalam situasi khusus ini, kepentingan diri individu dan kebutuhan ekonomi masyarakat secara bersamaan terpenuhi melalui berbagai aktivitas sosial yang sama.

Dengan memberikan penjelasan Harris tentang sistem orang besar, akan mudah dipahami mengapa orang besar tidak terdapat di kalangan mayarakat pemburu-peramu. Orang besar dalam masyarakat pemburu-peramu akan merupakan maladaptif secara ekonomi, karena mereka akan mengeksploitasi sumber daya alam melebihi perkembangan  pemulihan alamiahnya, dan dengan demikian  akan menghancurkan dasar-dasar ekologis dan ekonomis masyarakat pemburu-peramu. Jadi, penghargaan yang sangat besar terhadap pribadi-pribadi tertentu yang sangat menguntungkan  bagi banyak masyarakat hortikultura akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang mengenaskan bagi masyarakat pemburu-peramu.

c.  Redistribusi Parsial

Sistem redistribusi parsial sangat umum terdapat dalam suatu masyarakat di mana hortikultura intensif merupakan pola teknologi dan pemilikan oleh pemimpin merupakan pola hak atas kekayaan. Pemilikan oleh pemimpin merupakan aspek vital dari redistribusi parsial.

Marshall Sahlins (1963)  menyoroti perbedaan penting antara redistribusi murni dan redistribusi parsial dengan membandingkan sistem distribusional masyarakat Melanesia dan Polynesia. Sebagaimana yang ia katakan, kebanyakan masyarakat Melanesia mengembangkan hortikulutura berskala kecil dan sistem orang besar, sementara kebanyakan masyarakat Polynesia dikarakterisasikan dengan hortikultura intensif dan redistribusi parsial.

Orang besar dalam masyarakat Melanesia adalah orang-orang yang mencari prestise dan kemasyhuran dengan mengadakan pesta yang rumit. Namun, mereka hanya mempunyai sedikit sekali kekuasaan real terhadap para pemilihnya, presatise dan kemasyhuran mereka pun runtuh dengan cepat apabila pesta rumit mereka menyusut.  Sebaliknya, para pemimpin masyarakat Polynesia dilantik secara resmi melalui suatu sistem suksesi yang diwariskan. Para pemimpin ini memegang kekuasaan yang cukup kuat terhadap para pengikutnya, dan mereka mempunyai pengaruh ekonomi penting terhadap sejumlah besar orang awam. Salah satu tujuan mereka yang terpenting adalah memproduksi dan mempertahankan surplus ekonomi yang konstan. Mereka melaksanakan ini dengan memaksa orang untuk memberikan sebagian hasil penennya. Ini membawa kepada bentunya “perbendaharaan umum”, sebuah gudang besar yang dikuasai oleh pemimpin mereka. Pemanfaatan gudang ini meliputi banyak hal. Pemimpin menopang hidupnya beserta keluarga dari gudang tersebut. Mereka juga menggunakannya untuk tujuan lain, seperti mengadakan pertunjukan mewah bagi tamu yang dihormati, melaksanakan proyek kepentingan umum yang besar, seperti membuat irigasi, membangun candi, mensponsori kampanye militer, dan mendukung sejumlah besar para fungsionaris politik dan pejabat administratif. Di samping itu, beberapa bagian gudang tersebut juga diredistribusikan kepada orang-orang lain ketika dibutuhkan, dan pemimpin diharapkan bersikap murah hati untuk itu. Mereka yang tidak cukup murah hati atau menuntut banyak atas hasil panen rakyat kadang-kadang dibunuh.

Sistem redistribusi parsial masyarakat Polynesia bersifat redistributif, dalam arti bahwa mencakup arus barang berkesinambungan antara pemimpin dan rakyatnya. Namun, dalam kasus ini arus barang adalah arus yang tidak sama. Rakyat jelas memberi lebih banyak daripada yang mereka terima. Walaupun jelas sama pada prinsipnya dengan sistem redistribusi murni pada masyarakat hortikultura berskala kecil, sistem redistribusi yang diintensifkan pada masyarakat hortikultura yang maju ini berperan dalam melahirkan sistem ketidakmerataan ekonomis. Dengan demikian, mereka membentuk perkembangan evolusioner yang nyata melebihi tingkat redistribusi murni.

Harner (1975) mengemukakan bahwa faktor kunci di balik hasil evolusioner yang signifikan ini adalah keterbatasan tanah. Ketika tekanan penduduk memaksa kelompok hortikultura berskala kecil untuk mengembangkan metode penanaman yang lebih intensif, jelas tanah sedang menjadi sumber daya yang terbatas. Memang, inilah sebabnya mengapa setiap unit tanah tertentu harus ditanami secara lebih intensif. Keterbatasan tanah, dalam pandangan Harner, adalah akibat kompetisi yang semakin meningkat untuk mendapatkan tanah yang berharga, dan sebagian orang akhirnya mendapatkan ekses yang lebih besar daripada orang lain. Orang besar, dengan dasar kekuasaan yang relatif lemah mengandalkan usaha sendiri dan dibantu suka rela dari para pengikutnya, berubah menjadi pemimpin, yang dasar kekuasaannya semakin diperkuat melalui pengusaan mereka atas tanah.

d.  Ekspropriasi Surplus dan Eksploitasi

Ekspropriasi surplus adalah sebuah pola redistribusi yang paling umun terdapat dalam masyarakat agraris, yang diorganisasikan dalam sistem pemilikan kekayaan yang bersifat seigneurial. Ia terjadi apabila kelas tuan tanah memaksa kelas produsen yang bergantung secara ekonomi untuk menghasilkan surplus dari ladang mereka dan menyerahkan surplus tersebut kepadanya. Surplus tersebut ditarik dalam bentuk bunga pinjaman, berbagai jenis pajak, dan berbagai jenis pengabdian berupa tenaga.

Sebagian mereka yang mempelajari ekonomi pra-kapitalis, terutama sejarawan ekonomi Karl Polanyi (1957), tidak membedakan antara  ekspropriasi surplus dan redistribusi parsial. Sebagai gantinya, mereka menggunakan konsep redistribusi untuk diterapkan kepada  dua jenis aktivitas ekonomi tersebut. Namun, ini tampaknya sebagai kesalahan serius dan sangat menyesatkan. Ada beberapa perbedaan krusial antara ekspropriasi surplus dan redistribusi parsial, di sini disajikan dua hal penting. Perama, tuan tanah mempunyai kekuasaan yang jauh lebih besar daripada para pemimpin, dan mereka menggunakan kekuasaan ini untuk meletakkan lebih banyak beban ekonomi terhadap petani produsen daripada beban yang dapat diletakkan para pemimpin terhadap pengikut mereka. Kedua, arus barang dan jasa antara tuan tanah dengan petani  lebih senjang daripada arus barang berharga antara para pemimpin dengan orang awam. Arus barang berharga antara tuan tanah dengan petani jarang dideskripsikan sebagai redistribusi, karena sedikit sekali arus balik dari tuan tanah kepada petani.  Memang, arus barang berharga umumnya bersifat satu arah saja, yaitu dari petani ke tuan tanah. Walaupun dalam beberapa situasi tertentu ada kemiripan antara redistribusi parsial dan ekspropriasi  surplus, namun dalam banyak kasus tidaklah sulit untuk menyatakan apakah ekspropriasi surplus  atau redistribusi parsial yang terjdi dalam suatu masyarakat.

Di dalam sistem feodalisme Eropa abad pertengahan, ekspropriasi surplus merupakan pola redistribusi yang dominan. Para petani membayar rente khusus kepada para tuan tanah untuk menggunakan tanah mereka yang dibayar dengan hasil panen (rent in kind) atau dengan uang (cash rent), atau kombinasi keduanya. Pada masa-masa awal zaman feodal, rent in kind merupakan bentuk standar pembayaran rente; tetapi setelah sistem feodalisme berkembang pada abad tengah akhir, cash rent mulai menggantikan  rent in kind. Karena petani memproduksi untuk dirinya sendiri dan juga untuk tuan tanah, dia dan juga keluarganya harus  bekerja semakin keras untuk memenuhi beban ekonomi yang diletakkan di pundaknya. Para petani juga memikul beban ekonomi  dalam bentuk berbagai macam pajak. Sebagai contoh, petani harus membayar pajak untuk menggiling hasil panen mereka di penggilingan tuan tanah, pajak lain adalah untuk membakar roti mereka di oven tuan tanah, dan pajak lainnya adalah untuk memancing di kolam ikan tuan tanah. Karena para petani tidak mepunyai semua ini, mereka jatuh ke dalam ketergantungan kepada tuan tanah mereka. Jenis beban ekonomi ketiga yang dibebankan ke pundak petani Eropa abad pertengahan adalah pengabdian berupa tenaga. Para petani diminta menghabiskan begitu banyak hari kerja untuk bekerja di tanah milik tuan tanah, menggarap tanah dan memelihara ternak. Beban ini seringkali sangat memberatkan dan membuat petani tidak punya waktu untuk memenuhi kebutuhan subsistensi keluarganya, seperti mengerjakan tanahnya sendiri.

Di masa Romawi Kuno, sistem ekspropriasi surplus juga ada, tetapi sistem ini lebih mengandalkan tenaga para budak daripada petani. Persediaan budak yang sangat banyak diperoleh melalui penaklukan politik terhadap negeri orang lain. Tenaga budak jauh lebih murah daripada tenaga petani, dan karena itu merupakan bentuk tenaga kerja yang utama dalam masyarakat Romawi (Cameron, 1973). Banyak perkebunan masyarakat Romawi yang memiliki sejumlah besar budak untuk menggarapnya; Pliny, misalnya, menyebutkan sebuah perkebunan yang memiliki 4117 budak (Cameron, 1973). Ketika budak lebih merupakan bentuk tenaga kerja yang lebih penting daripada bentuk tenaga kerja petani, maka sistem ekspropriasi surplus lebih langsung dan terlihat jelas. Sebagai contoh, untuk mengkalkulasi pendapatan mereka, para tuan tanah Romawi hanya menentukan jumlah kekayaan yang dihasilkan para budak untuk mereka dan menguangkan untuk biaya mencari dan memelihara tenaga kerja budak.

Banyak ilmuwan yang menggunakan istilah eksploitasi untuk hubungan tuan tanah dengan petani, tuan tanah dengan budak, dan dalam kadar tertentu, pimpinan dengan rakyatnya. Pada saat yang sama, yang lain menolak penggunaan istilah ini. George Dalton, misalnya, menyatakan bahwa istilah tersebut sangat berprasangka dan ditunggangi emosi dan digunakan oleh mereka yang menyukai sistem ekonomi tertentu hanya untuk mengutuk. Karena Dalton percaya istilah ini digunakan hanya untuk menyebutkan ketidaksetujuan daripada melakukan analisis ilmiah, dia mengusulkan agar istilah tersebut dibuang dari kosa kata ilmuwan sosial. Namun, Dalton juga mengemukakan bahwa apabila istilah ini digunakan juga, maka itu bergantung kepada penilaian subjektif, apakah eksploitasi benar-benar terjadi atau tidak –yakni, apakah diri mereka sendiri  dieksploitasi atau tidak.

Jadi, Dalton yakin bahwa definisi dan kalkulasi objektif terhadap eksploitasi tidak mungkin tercapai, dan bahwa eksploitasi hanya dapat dikatakan ada jika ada orang menganggapnya ada. Dengan kata lain, jika seorang petani merasa tidak dieksploitasi oleh tuan tanahnya, maka dia tidak dieksploitasi.

Pendekatan Dalton terhadap eksploitasi sepenuhnya  subjektif dan tidak dapat diterima. Mengatakan bahwa eksploitasi tidak ada apabila orang tidak merasa dieksploitasi sangat serupa dengan mengatakan bahwa orang tidak menderita sakit hati jika mereka pikir mereka tidak sakit hati. Seperti sakit hati, eksploitasi adalah sebuah gejala objektif, dan karena itu harus dikonseptualisasikan dan diukur dengan kriteria objektif, bukan dengan pikiran dan perasaan  subjektif orang (Moore, 1966; Zeitlin, 1973).

Berikut ini ditawarkan definisi objektif tentang eksploitasi: eksploitasi terjadi apabila satu pihak terpaksa memberikan kepada pihak lain lebih dari yang mereka terima sebagai imbalannya. Ada dua aspek yang harus ditekankan dalam definisi ini. Pertama, eksploitasi secara jelas terjadi hanya  apabila dua pihak yang berhubungan menerima keuntungan yang tidak rata sebagai hasil hubungan mereka. Kedua, keuntungan yang tidak rata harus terjadi karena salah satu pihak  terpaksa untuk memberikan atau melakukan sesuatu. Yakni, satu pihak tidak secara suka rela terlibat dalam hubungan, atau jika ada kesukarelaan, adalah karena hubungan  alternatifnya tidak memberikan perbaikan dalam situasi ekonomis pihak tersebut.

Tetapi, sumber daya apa yang tidak pernah diberikan tuan tanah kepada para petani? Sebagaimana ditunjukkan Harris (1980), itu adalah penggunaan tanah secara bebas dan tidak dibatasi. Apabila mereka melakukan ini, maka hubungan antara tuan tanah dengan petani tidak akan tidak berimbang secara ekonomi, karena para petani kemudian tidak akan diwajibkan membayar rente, pajak, dan memberikan pelayanan kepada tuan tanah; dan pastilah mereka tidak akan berbuat begitu. Situasi ekonomi petani dengan demikian akan membaik, sementara kondisi tuan tanah akan merosot. Dengan kata lain, walaupun para tuan tanah menyediakan barang-barang berharga dan jasa bagi para petani, mereka tidak memberikan akses yang tidak terbatas atas sumber daya yang paling bernilai dalam masyarakat agraris. Jadi, tampaknya, adil untuk menyimpulkan bahwa petani menerima keuntungan yang tidak rata sebagai hasil dari hubungan mereka dengan para tuan tanah, mereka berbuat begitu karena ada di bawah tekanan tertentu, dan mereka terlibat dalam hubungan tersebut tidak secara sukarela atau karena tidak ada (atau mungkin sangat kurang) alternatif yang menarik. Oleh karena itu, tampaknya masuk akal untuk menyimpulkan bahwa petani dieksploitasi oleh tuan tanah.

Kemudian, apakah rakyat juga diekspolitasi oleh para pemimpin mereka? Mungkin ya, paling tidak dalam kadar tertentu, walaupun tampaknya kadar eksploitasi secara substansial lebih kurang dari hubungan petani-tuan tanah. Dalam kenyataan, tampaknya adil untuk menyatakan bahwa eksploitasi yang sangat awal, dalam pengertian yang evolusioner, terjadi juga dalam masyarakat hortikultura intensif dengan pola pemilikan dan sistem redistribusi parsial. Sistem orang besar dan redistribusi murni, dan juga sistem  generalized reciprocity dan balanced reciprocity, dikenal sebagai jarang mengandung unsur-unsur eksploitatif murni. Dalam kenyataannya, tampaknya inilah satu-satunya jenis sistem ekonomi dimana eksploitasi  tidak tampak sebagai bagian  dari kehidupan sosial yang sudah terstruktur.

5.  Munculnya Pasar-pasar Ekonomi

Institusi ekonomi yang dikenal sebagai pasar ada ketika orang menawarkan barang dan jasa untuk dijual kepada orang lain, dengan cara yang kurang lebih sistematis dan terorganisasi. Penting dibedakan antara pasar (market) dan tempat pasar (marketplace). Tempat pasar adalah bentuk fisik di mana barang dan jasa dibawa untuk dijual dan pembeli bersedia membeli barang dan jasa. Dalam masyarakat pra-kapitalis, tempat pasar adalah tempat fisik yang terdapat di sejumlah tempat yang ditentukan dalam masyarakat. Tetapi dalam kapitalisme modern, tempat pasar adalah  “tersebar”, yakni tersebar luas di seluruh masyarakat. Sebaliknya, pasar bukanlah tempat fisik, tetapi sebuah institusi sosial, atau serangkaian hubungan sosial yang terorganisasi di seputar proses membeli dan menjual sesuatu yang berharga.

a.  Hubungan Masyarakat dengan Pasar

Paul Bohannan dan George Dalton (1962) membedakan tiga jenis masyarakat dalam hubungannya dengan pasar, yaitu masyarakat tanpa pasar, masyarakat pasar periferal, dan masyarakat yang didominasi pasar.

Masyarakat tanpa pasar tidak mempunyai pasar maupun tempat pasar. Walaupun ada beberapa transaksi ekonomi yang didasarkan atas pembelian dan penjualan, namun itu hanya bersifat kasual, sedikit dan jarang terjadi. Karena masyarakat tanpa pasar tidak memiliki pasar, kebutuhan subsistensi tidak dipenuhi dengan prinsip-prinsip pasar, tetapi oleh mekanisme resiprositas dan redistribusi. Masyarakat !Kung, juru-bicara-Kaoka, dan Yanimamo adalah masyarakat tanpa pasar, karena sebenarnya mereka memang masyarakat pemburu-peramu dan hortikultura.

Masyarakat pasar periferal mempunyai tempat pasar, tetapi prinsip-prinsip pasar jelas tidak berfungsi untuk mengatur kehidupan ekonomi. Dalam masyarakat semacam ini, orang mungkin sering terlibat dalam aktivitas tempat pasar, sebagai pembeli ataupun penjual; tetapi aktivitas ini merupakan gejala ekonomi yang sangat sekunder. Orang tidak memenuhi keperluan subsistensinya melalui aktivitas tempat pasar, tetapi melalui resiprositas, redistribusi, dan eksproriasi. Dalam masyarakat pasar periferal, kebanyakan orang tidak memproduksi sesuatu untuk pasar atau dijual di pasar, atau mereka melakukannya hanya sebagai orang pasar sesekali.

Pasar periferal sangat sering terdapat  di kalangan masyarakat hortikultura, dan hampir universal dalam masyarakat agraris. Masyarakat Aztecs, masyarakat hortikultura yang sangat intensif yang mendominasi Mexico selama abad XV dan XVI, mempunyai pasar-pasar periferial yang cukup luas dan penting (Beals and Hoijer, 1971). Di seluruh kota kekaisaran Aztecs ada pasar-pasar besar, dan pasar-pasar ini dihubungkan satu dengan lainnya dan dengan ibu kota Aztecs, Tenochtitlan dengan sistem dagang keliling. Pasar besar terdapat di pinggiran kota Tenochtitlan, berlangsung lima hari sekali. Para calon pembeli datang ke pasar ini dari bermil-mil di sekitarnya untuk membeli berbagai barang yang ditawarkan di situ: emas, perak, permata, pakaian, coklat, tembakau, kulit binatang, alas kaki, budak, buah dan sayuran, garam, madu, peralatan, tembikar, perabot rumah tangga, dan banyak lagi barang lainnya.

Pasar-pasar periferal juga signifikan dalam masyarakat Eropa abad pertengahan (Heilbroner, 1985). Pasar di kota-kota kecil Eropa abad pertengahan adalah tempat di mana para petani akan membawa sebagian hasil panennya untuk dijual. Para pedagang dan pengrajin yang tinggal di berbagai kota ini, bagaimanapun juga, lebih penting bagi kehidupan pasar. Para pedagang dan pengrajin ini membuat barang untuk dijual di pasar-pasar dan menopang hidup mereka dari hasil penjualan tersebut. Eropa abad pertengahan juga mempunyai jenis aktivitas pasar yang khas, yang dikenal dengan pekan raya (fair). Ini adalah sejenis pasar keliling, yang biasanya diadakan setahun sekali di mana para pedagang dari seluruh Eropa datang menjual produk mereka. Pekan raya dilaksanakan bersamaan dengan hari keramat, perayaan keagamaan, dan ektivitas ekonomi yang intens. Pada pekan raya, para pedagang membawa sejumlah besar barang yang bermacam-macam untuk dijual, seperti sutera, kuda, obat, rempah-rempah, buku dan kertas dari kulit, dan masih banyak lagi (Heilbroner, 1985).

Masyarakat yang didominasi pasar memiliki baik pasar maupun tempat  pasar  (yaitu  pasar-pasar  yang “tersebar”) dan  prinsip-prinsip  pasar –prinsip membeli dan menjual barang menurut kekuatan permintaan dan penawaran–  yang menentukan semua keputusan penting dalam produksi, distribusi, dan pertukaran. Dalam masyarakat ini, berbagai jenis resirpositas dan redistribusi mungkin juga ada, tetapi sangat kurang signifikan. Satu-satunya masyarakat yang didominasi pasar adalah masyarakat yang dikarakterisasikan oleh kapitalisme modern. Namun, di sini perhatian kita  adalah kepada jenis karakteristik aktivitas pasar periferal yang sangat berkembang pada kebanyakan masyarakat agraris dan umumnya berlokasi di kota-kota.

b.  Aspek Pasar dalam Masyarakat Pra-Kapitalis

(1) Manufacturing  dan Serikat Buruh. Dalam masyarakat pra-kapitalis di mana manufacturing terjadi sebagai aktifitas  ekonomi  substansial –biasa-nya dalam skala kecil– umumnya terbatas pada rumah pengrajin dan beberapa toko kecil yang berlokasi di tempat pasar (Sjoberg, 1960). Workshop yang paling besar pun di masyaakat pra-kapitalis akan sangat kecil menurut standar manufakturing modern. Dengan tidak adanya pasar massa untuk barang-barang, dan dengan demikian sangat terbatas untuk pembentukkan modal, unit produktif pastilah tetap kecil.

Bentuk-bentuk spesialisasi pra-kapitalis terjadi lebih dalam kaitannya dengan produk daripada dengan proses produksi. Setiap pengrajin membentuk seluruh produksinya sendiri, dari awal sampai akhir. Sebagaimana yang dikatakan Gideon Sjoberg (1960:197), “Spesialisasi dalam produk seringkali mengakibatkan pengrajin menghabiskan seluruh waktunya untuk memproduksi barang-barang sejak dari bahan baku material; jadi, kita mempnyai tukang emas, tukang tembaga, tukang perak, penenun sutera, penenun wool, dan seterusnya, yang masing-masing mempunyai serikat kerja sendiri”. Di samping itu, pengrajin pra-kapitalis biasanya berfungsi sekaligus sebagai pedagang yang menjual produk akhirnya.

Sebenarnya, dalam masyarakat pra-kapitalis berskala kecil dengan sektor menufacturing yang signifikan, para pedagang dan pengrajin diorganisasi ke dalam organisasi kerja yang dikenal dengan serikat kerja. Berbagai serikat kerja dispesialisasikan menurut pekerjaan; mereka memasukkan semua orang yang melakukan pekerjaan yang sama atau cabang suatu pekerjaan yang sangat spesialis sebagai anggotanya. Sjoberg (1960), misalnya, menyebutkan satu persatu serikat pekerja berikut ini hanya di sebuah kota pra-kapitalis, Beijing pada tahun 1920-an: Para tukang  (Sacred  lu Pan Society), pengancing sepatu (Sawers of Boots and Shoes Guild; atau Double  Thread Guild),  toko jam (The Clock Watch Commercial Guild Association), toko kulit (Five Sages Hide and Skins Guild), pedagang sayuran (Green  or Fresh Vegetable Guild), tukang pangkas (Beauty the Face Guild), dan pelayan (Tea Guild).

Fungsi serikat kerja yang paling penting adalah menciptakan dan memelihara suatu monopoli atau jenis aktivitas ekonomi tertentu. Hak untuk memperoleh hampir semua pekerjaan  yang berkaitan dengan manufacturing atau perdagangan atau bahkan jasa, hanya mungkin melalui keanggotaan di dalam serikat kerja  yang menguasainya (Sjoberg, 1960:190).  Dalam menjalankan kekuasaan monopolistik atas berbagai pekerjaan, serikat kerja melakukan berbagai aktivitas. Sebagaimana ditunjukkan Sjoberg, mereka menentukan seleksi personal untuk suatu pekerjaan; melatih anggota, biasanya melalui hubungan guru-cantrik; meletakkan standar pekerjaan  para anggota; mengontrol output yang dihasilkan anggota; melindungi anggota dari pembatasan yang semena-mena yang mungkin dikenakan oleh lembaga pemerintahan atau keagamaan; dan membantu anggota mendirikan toko atau membeli bahan baku yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Jelasklah, serikat kerja memainkan peranan krusial dalam kehidupan pengrajin dan pedagang pra-kapitalis. Sebenarnya, secara kasar tujuan dasarnya dapat diperbandingkan dengan serikat buruh dan organisasi bisnis dan profesional zaman modern ini.

(2)  Penentuan Harga. Dalam kapitalisme modern, harga barang dan jasa ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran yang abstrak. Seseorang pergi  ke toko dan menemukan harga pasti yang ditetapkan  untuk suatu barang tertentu. Namun, harga dalam setting pra-kapitalis, tidak ditetapkan dengan cara seperti ini, tetapi ditetapkan oleh apa yang biasanya disebut tawar-menawar. Tawar-menawar tejadi apabila calon pembeli menanyakan berapa harga yang diminta penjual atas suatu barang, penjual menjawab, dan kemudian pembeli menawarkan harga lain, yang biasanya lebih murah daripada yang telah disebutkan penjual. Pembeli dan penjual kemudian tawar-menawar harga sampai akhirnya sebuah kesepakatan tercapai  atau pembeli pergi dengan perasaan tidak suka.

Tawar-menawar adalah pola tipikal penentuan harga dalam masyarakat di mana pasar massa tidak ada, dan dengan demikian pembeli dan penjual mempunyai sedikit pengetahuan tentang harga suatu barang. Di samping itu, karena tawar-menawar menghabiskan banyak waktu, waktu jelas bukan merupakan sumber daya yang berharga dan langka, sebagaimana dalam kapitalisme modern. Oleh karena itu, tawar-menawar hanya dapat terjadi dalam setting di mana orang jarang terburu-buru menyelesaikan tugas sehari-hari mereka.

(3)  Aktivitas Ekonomi Non-rasionalitas. Kapitalisme modern adalah jenis sistem ekonomi yang sangat rasional dalam pengertian bahwa ada keragaman teknik canggih yang digunakan dalam melakukan bisnis –ber-bagai teknik dirancang untuk memaksimalkan produktivitas ekonomi dan pertumbuhan. Dengan demikian, masyarakat kapitalisme modern menggunakan bentuk-bentuk akuntansi, keuangan, organisasi tempat kerja, dan pemasaran yang lebih maju dalam menjalankan aktivitas bisnis mereka, dan berbagai prosedur ini menentukan keberhasilan.

Namun, dalam pasar pra-kapitalis, pengorganisasian aktivitas ekonomi yang rasional itu pada umumnya tidak ada (Sjoberg, 1960). Aktivitas ekonomi non-rasionalitas (jangan dicampuradukkan dengan “ïrrasionalitas”) ini diekspresikan ke  dalam berbagai cara. Salah satunya, para pengrajin dan pedagang biasanya tidak mengikuti jadwal kerja yang mengikat secara ketat menurut jam. Sebaliknya, mereka sering mulai bekerja pada jam yang berbeda-beda dalam suatu hari, sesuai dengan sifat  dari aktivitas non-ekonomi lain yang dilakukan. Di samping itu, manufacturing pra-kapitalis dikarakterisasikan  oleh sedikitnya sinkronisasi usaha. Para pekerja dalam satu sektor manufacturing hanya sedikit mengetahui apa yang terjadi di berbagai sektor lain, dan mereka mengetahuinya sedikit apabila suatu usaha  untuk mengkoordinasikan  berbagai aktivitas mereka dengan aktivitas lain terjadi di berbagai sektor lain ini. Akhirnya, pemasaran barang dalam masyarakat pra-kapitalis tidak begitu terstandardisasi. Sebagai contoh, pedagang jarang memeriksa atau mensortir produk mereka, dan tidak begitu tegas standardisasi timbangan  dan ukuran.  Sebagaimana dikatakan Sjoberg, kurangnya standardisasi ini  berkaitan dengan tidak adanya pasar massa, dan dengan demikian sifat aktivitas pasar sangat mempribadi.

BAB 6

SIMPULAN

1. Sifat Dasar Stratifikasi Sosial

Perbedaan penting antara konsep ketidaksamaan sosial (social inequality) dengan stratifikasi sosial harus dipahami dengan jelas. Kelalaian memahami perbedaan penting ini akan membuat bingung tentang apakah struktur sosial benar-benar universal dalam kehidupan sosial.

Ketidaksamaan sosial  berkenaan dengan adanya perbedaan derajat dalam pengaruh atau prestise sosial antarindividu dalam suatu masyarakat tertentu. Ada dua segi penting dari definisi ini. Pertama, ketidaksamaan sosial hanya mengenai perbedaan antarindividu dalam pengaruh sosial, yaitu  aksi seorang  individu akan diikuti atau ditiru oleh individu lainnya; atau prestise,  yaitu apabila individu dihormati dan dihargai. Jadi, ketidaksamaan bukan berkenaan dengan derajat kekuasan atau kekayaan. Ketidaksamaan ada dan dapat terjadi dalam masyarakat tanpa perbedaan kekayaan atau pendapatan individu atau kelompok. Kedua, ketidaksamaan sosial mengimplikasikan ketidaksamaan antarindividu, bukan antar suatu kelompok yang berlainan. Apabila terjadi ketidaksamaan, individu mencapai kedudukan tertentu yang berbeda, tetapi mereka tetap sebagai indivudu bukan sebagai kelompok. Jadi, dapat dipahami, ketidaksamaan sosial adalah hal yang universal dalam masyarakat manusia, karena itu tidak ada masyarakat tanpa perbedaan antarindividu.

Berbeda dengan ketidaksamaan sosial, stratifikasi sosial berkenaan dengan adanya dua atau lebih kelompok bertingkat (ranked groups) dalam satu mesyarakat tertentu, yang anggota-anggotanya mempunyai kekuasaan, hak-hak istimewa, dan prestise yang tidak sama pula. Definisi tentang stratifikasi ini dipengaruhi oleh konsep tentang masyarakat stratifikasi (stratified societies) yang dikembangkan oleh antropolog Morton Fried. Menurut Fried (1967:186), masyarakat stratifikasi adalah masyarakat di mana anggota-anggota yang sama jenis kelamin dan umurnya tidak mendapat pendapatan atau penghasilan yang sama. Inti gagasan dalam definisi Fried adalah perbedaaan akses dalam memanfaatkan sumber daya. Ini jelas melampaui fakta ketidaksamaan dalam pengaruh, kekuasaan, dan hak-hak istimewa. Kekuasaan meliputi kapasitas beberapa individu untuk memerintah individu lainnya, walaupun di luar kehendaknya. Hak-hak istimewa berkenaan dengan kekayaan dan keuntungan material lainnya. Perbedaan dalam hak-hak istimewa juga merupakan bagian dari sistem stratifikasi, dan biasanya dalam masyarakat terstratifikasi ketidaksamaan prestise berasal dari ketidaksamaan kekuasaan dan hak-hak istimewa.

Karakteristik penting lain dari stratifikasi adalah  bahwa ia melibatkan kelompok, bukan individu. Tingkat kekuasaan, hak istimewa, dan prestise individu dalam masyarakat terstratifikasi bergantung pada keanggotaannya dalam kelompok-kelompok sosial, bukan pada karakteristik personalnya. Kelompok-kelompok yang tingkatannya berbeda-beda membentuk strata social (tunggal=stratum), atau lapisan sistem sosial-kultural secara menyeluruh, yang bersifat turun temurun. Karena itu, dalam masyarakat terstratifikasi, individu dilahirkan dalam suatu stratum sosial tertentu yang memberikan suatu kedudukan sosial dan identitas tanpa memperhatikan karakteristik personal mereka. Stratifikasi yang bersifat turun temurun ini jelas melahirkan ketidaksamaan. Dalam masyarakat tidak terstratifikasi, ketidaksamaan yang timbul (di luar umur dan jenis kelamin) terutama disebabkan oleh usaha dan kemampuan individual daripada penempatan sosial yang turun temurun.

Tidak diragukan lagi bahwa stratifikasi merupakan karakteristik universal masyarakat manusia. Tidak ada suatu masyarakat yang mana anggotanya sama (equal). Tetapi, ada juga masyarakat yang kurang terstratifikasi. Stratifikasi cenderung ditemukan pertama kali pada masyarakat-masyarakat yang telah berkembang pada tingkat perkembangan teknologi hotrikultural intensif; walaupun kadang-kadang hal ini ditemukan di masyarakat yang lebih primitif.  Namun, di samping fakta ini, ia merupakan ciri-ciri umum dalam banyak masyarakat, dan memang universal di semua masyarakat yang kompleks.

2. Stratifikasi Sosial dalam Perspektif Evolusioner

a. Ketidaksamaan Tanpa Stratifikasi

(1) Masyarakat Pemburu dan Peramu Sebagaimana telah diketahui, masyarakat pemburu dan peramu tidak terstratifikasi. Karakteristik perekonomian mereka tertumpu pada asas timbal balik, dengan kebersamaan dan kerja sama intensif seluruh anggota. Pemburu dan peramu pada umumnya menimbulkan “komunisme primitif”: prinsip tak memiliki (setidaknya hak untuk memakai) adalah komunal dan individu dapat memanfaatkan  sumber daya alam untuk kesejahteraannya. Karakteristik masyarakat pemburu dan peramu, tidak ditentukan oleh ketidaksamaan hak istimewa, dan karena itu tidak terdapat strata sosial.

Namun, ketiadaan strata sosial tidaklah berarti ada kesamaan derajat anggota dalam masyarakat pemburu dan peramu. Ketidaksamaan tetap terjadi, terutama ketidaksamaan prestise atau pengaruh sosial yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, dan karakteristik personal tertentu. Telah umum diketahui, bahwa laki-laki cenderung mendapat status yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita di antara pemburu dan peramu, begitu juga dengan anggota mansyrakat yang tua sering  mendapat penghormatan dan penghargaan lebih dibandingkan dengan yang masih muda. Di samping itu, mempunyai ciri-ciri atau kelebihan tertentu dapat menaikkan prestise. Seseorang yang mahir berburu, yang gagah berani, atau yang bijaksana selalu mendapat prestise tertinggi. Individu-individu seperti ini selalu dianggap sebagai pemimpin karena mereka dianggap paling dapat dipercayai dan dipatuhi di antara mereka.

Walau bagaimanapun, pengaruh dan prestise seseorang dalam masyarakat pemburu peramu tidak mengakibatkan mempunyai hak-hak istimewa khusus. Perlu diketahui juga bahwa pengaruh atau prestise dicapai dengan kemampuan dan usaha individu, tidak disebabkan oleh mekanisme sosial yang turun temurun. Prestise adalah  kegagalan dan keberhasilan personal. Individu harus sungguh-sungguh dalam mempertahankan kehormatan. Apabila kemampuan dan usaha-usaha yang dilakukan gagal, maka statusnya akan turun dan individu lain akan menggantikannya. Jadi, sebenarnya masyarakat pemburu dan peramu memberi kesempatan dan memperbolehkan individu untuk mencapai status tertinggi. Pada masyarakat seperti ini, penghargaan terhadap status sosial, usaha dan keterampilan tertentu berhubungan erat satu sama lain. Fakta ini berlainan dengan masyarkat yang mempunyai tingkat  stratifikasi yang lebih tinggi.

Penting diketahui bahwa derajat prestise dalam masyarakat peramu-pemburu lebih mudah dicapai dibandingkan dengan sifat prestise dalam masyarakat tingkat lain. Masyarakat pemburu dan peramu benci akan kesombongan dan pemuliaan diri, dan mereka memberikan sangsi yang berat terhadap individu yang demikian. Dalam masyarakat tersebut haruslah tercipta kesejahteraan umum dan kesamaan sosial. Dengan demikian, masyarakat ini dapat dikatakan sebagai masyarakat egaliter.

(2) Masyarakat Hortikultura. Masyarakat hortikultura sederhana mempunyai peluang yang lebih banyak bagi terciptanya ketidaksamaan sosial dibandingkan dengan masyarakat pemburu-peramu. Ketidaksamaan tentu merupakan karakteristik masyarakat hortikultura, bukan ketidaksamaan dalam arti hak istimewa dan kekayaan, tetapi ketidaksamaan dalam prestise. Dengan demikian, masyarakat hortikultura sederhana tidak terstratifikasi, tetapi lebih kepada apa yang disebut Freid sebagai “masyarakat bertingkat”. Menurut Frank (1967:109), masyarakat bertingkat  adalah masyarakat di mana posisi kedudukan (status) tinggi terbatas, sehingga tidak semua individu yang mempunyai kemampuan dapat mencapainya. Dengan kata lain, di dalam masyarakat bertingkat, terdapat sistem rangking prestise dengan beberapa posisi kedudukan tinggi yang terbatas, yang tidak memberikan keuntungan material.

Seperti telah dibahas di atas, masyarakat hortikultura sederhana pada umumnya menunjukkan perekonomian yang bergantung pada redistribusi yang egaliter. Sistem rangking prestise dalam masyarakat ini sangat erat kaitannya dengan pola redistribusi ini. Dalam banyak masyarakat hortikultura sederhana, individu bekerja keras, berkorban untuk dan juga meminta pertolongan sanak keluarganya.  Pada kahirnya, barulah dapat mengumpulkan hasil yang berarti dari ladang dan tanah mereka. Hasil ini kemudian digunakan untuk mengadakan pesta besar ketika datangnya waktu redistribusi secara umum. Individu yang berulang kali dapat menunjukkan keberanian mereka dalam mengadakan pesta yang berhasil, akan menduduki tingkat tertinggi. Ia kemudian akan membuat sangat iri, dihargai, dan dikagumi oleh masyarakat. Individu ini berkedudukan sebagai “örang besar” (big man).

Sebagai pengakuan terhadap orang besar ini suku Siuai memujanya dengan puji-pujian. Mereka juga sangat menghargai nama dan orang yang meduduki jabatan tinggi tersebut. Ia pada umumnya tidak dipanggil dengan nama pribadi, tetapi dengan nama keluarga atau cukup dengan mumi (orang besar) saja. Bahkan dalam surat keterangan, namanya tidak digunakan, tetapi menggunakan nama kelompoknya atau memakai nama salah satu pembantunya. Penghargaan atas namanya ini bahkan berlanjut setelah kematiannya.

b.  Timbulnya Strastifikasi Sosial

(1)  Masyarakat Hortikultura Intensif. Stratifikasi sosial timbul pada saat terjadi transisi menuju masyarakat hoirtikultura intensif.  Masyarakat ini seringkali menampilkan strata atau kelas sosial yang turun temurun, suatu ciri khas masyarakat terstratifikasi. Tiga strata sosial utama ( yakni pemimpin, sub-peminpin, massa) merupakan pola yang biasa terjadi. Jadi, perbedan kedudukan atau status pada masyarakat hortikultura sederhana, pada masyarakat hortikultura intensif ditransformasikan menjadi  ketidaksamaan, yang berarti perbedaan akses untuk pendapatan. Hal ini akan terlihat pada beberapa kelompok orang yang dipisahkan oleh kedudukan sosial, kekuasaan, pakaian dan hiasan, pola konsumsi barang dan jasa, keterlibatan dalam produksi ekonomi, adanya waktu untuk bersenang-senang, dan pola gaya hidup keseluruhan. Keanggotaan di dalam kelompok-kelompok ini didapat secara turun-temurun dan tidak berhubungan dengan kemakmuran atau kemampuan individual. Status sosial ditentukan oleh hubungan darah/keturunan dengan penguasa atau raja.

Namun, karena penguasa dan massa dihubungkan oleh tali kekerabatan, sistem stratifikasi yang terjadi memiliki batas-batas yang pasti. Tali kekerabatan berfungsi untuk memperlunak sifat dan akibat-akibat dari ketidaksamaan, dan penguasa tetap diharapkan dermawan akan hartanya dan  selalu memperhatikan kesejahteraan umum.  Menurut Lenski (1966), “ëtika redistribusi” tetap berlaku dalam masyarakat seperti ini; untuk mencegah penguasa menguasainya secara berlebihan. Walaupun kelas penguasa menikmati hak-hak istimewanya, para penguasa tetap dianggap sebagai “pemberi nafkah” yang harus terus menerus memperhatikan kebutuhan dan keinginan sanak keluarganya yang jauh di dalam kelas massa.

(2) Masyarakat Agraris. Dengan beralihnya masyarakat hortikultura intensif kepada masyarakat agraris, maka batas-batas yang terbentuk sebelumnya pada sistem stratifikasi menjadi hilang. Hilangnya etika redistribusi dan meregangnya tali kekerabatan di antara anggota kelas-kelas sosial yang berbeda, berhubugan erat dengan munculnya bentuk stratifikasi sosial yang ekstrim, di mana mayoritas masyarakat terseret ke dalam kemiskinan dan degradasi. Salah satu ciri kuat dalam masyarakat agraris adalah jurang yang luas dalam kekuasaan, hak istimewa, dan prestise yang terjadi antara kelas dominan dan subordinatnya. Tentu saja, masyarakat agraris adalah masyarakat yang paling terstratifikasi di antara semua masyarakat pra- industri.

Sistem stratifikasi agraris umumnya terdiri atas strata sosial berikut: (1) elite ekonomi-politik yang terdiri atas penguasa dan keluarganya serta kelas tuan tanah; (2) kelas penyewa; (3) kelas pedagang; (4) kelas rohaniwan; (5) kelas petani; (6) kelas seniman; (7) kelas “sampah masyarakat”. Empat kelas yang disebut pertama dianggap kelompok kelas yang memiliki hak-hak istimewa. Tetapi kelompok-kelompok yang memiliki hak istimewa terpenting tentu saja elit ekonomi politik: kelas penguasa dan pemerintah. Para petani, seniman, dan kelas terakhir merupakan kelas bawah, tetapi karena petani merupakan kelas terbesar, ia juga merupakan kelas yang paling tereksploitasi.

Pemerintah dalam masyarakat agraris –raja, penguasa, kaisar atau apapun namanya- adalah orang yang secara resmi menjadi pemimpin politik. Kelas penguasa terdiri atas mereka yang mempunyai tanah dan menerima ketuntungan dari pemilikan tersebut. Kenyataannya, kelas penguasa dan pemerintah biasanya merupakan tuan tanah sekaligus penguasa politik, dan hal ini merupakan hubungan penting antara kedua segmen kehidupan elite tersebut. Jumlah populasi mereka tidak lebih dari satu atau dua persen dari populasi keseluruhan tetapi menerima kira-kira ½ sampai 1/3  dari seluruh  kekayaan masyarakat.  Hubungan spesifik antara penguasa dengan kelas pemerintah bervariasi antara satu masyarakat agraris dengan masyarakat agraris lainnya. Dalam beberapa masyarakat, kekuasaan dan kekayaan penguasa berkurang  dan dibatasi oleh kelas pemerintah, dan kelas pemerintah tersebut memegang kekuasaan politik utama. Keadaan ini ditemukan, misalnya, di Eropa abad pertengahan. Dalam masyararakat agraris lain, seperti di Turki zaman Ottoman atau Moghul India, kekuasaan politik terkonsentrasi di tangan penguasa yang juga merupakan tuan tanah. Dalam keadaan seperti ini, hak prerogatif kelas pemerintah (dalam hal kekuasaan, pemilikan dan pengawasan atas tanah serta kekayaan) menjadi terbatas.

Terlepas dari hubungan khusus antara penguasa dengan kelas pemerintah, masing-masing kelas menikmati kekuasaan yang besar, hak-hak istimewa dan prestise dibandingkan dengan kelas-kelas lain. Surplus perekonomian hampir bisa dipastikan mengalir ke tangan alat ekonomi politik. Penguasa dalam masyarakat agraris umumnya menguasai kekayaan dalam jumlah besar. Di akhir abad XIV, misalnya, raja-raja Inggris memiliki pendapatan kira-kira 135.000 gulden per tahun, jumlah yang sama dengan 85% pendapatan gabungan antara 2.200 bangsawan dan para pengawal kerajaan. Bahkan beberapa  penguasa birokrat kerajaan mendapat bagian yang lebih besar lagi. Pada akhir abad XIX, di Cina, porsi untuk kelas pemerintah Cina (termasuk segmen Manchu dari kelas ini) diperkirakan menerima 645 juta tael per tahun, atau 24% dari GNP. Dengan rata-rata 450 tael per keluarga, segmen Cina dari kelas penguasa mempunyai pendapatan per tahun 20 kali lebih besar daripada masyarakat Cina lainnya.

Di bawah kelas penguasa  dan pemerintah dalam masyarakat agraris adalah strata sosial yang disebut kelas pengabdi. Kelas ini terdiri dari para fungsionaris, seperti pegawai pemerintahan, tentara profesional, pelayan rumah tangga, dan personel lain yang langsung mengabdi kepada kelas penguasa dan pemerintah. Lenski memperkirakan bahwa kelas ini terdiri atas 5% dari keseluruhan populasi masyarakat agraris. Peran penting dari kelas ini adalah sebagai penengah hubungan antara elite dengan massa. Menurut Lenski, kelas ini terdiri atas para pegawai yang pekerjaan sehari-hari mentransfer surplus ekonomi kepada kelas penguasa dan pemerintah. Hak-hak istimewa dan status sosial dari kelas ini sangat bervariasi, sebagian anggota dari kelas ini menikmati hak istimewa lebih banyak daripada beberapa kelas pemerintah yang berpangkat rendah. Anggota lain dari kelas tersebut tidak menikmati hak-hak istimewa sama sekali; kedudukan mereka dalam masyarakat ini sedikit lebih baik daripada kelas petani. Rata-rata kelas pengabdi ini menyumbangkan keuntungan yang besar bagi kekayaan yang dikuasai para atasan mereka.  Walaupun kelas pengabdi ini adalah kelas pelayan, kedudukan mereka masih lumayan baik karena dekat dengan kelas yang memiliki hak-hak istimewa dibandingkan dengan kelas yang jauh sama sekali.

Kelas pedagang merupakan kelas yang juga mempunyai hak istimewa. Pedagang, tentu saja berkecimpung dalam aktivitas perdagangan yang merupakan bagian penting dari perekonomian kota masyarakat agraris. Kelas pedagang sangat diperlukan oleh kelas elite karena menyediakan barang-barang mewah. Walaupun banyak pedagang yang tetap miskin, banyak juga yang menimbun harta mereka, dan bahkan sedikit dari mereka lebih kaya daripada kelas pemerintah. Namun di luar keuntungan material, para pedagang mempunyai prestise yang rendah. Dalam status tradisional Jepang dan Cina, misalnya, pedagang ditempatkan pada urutan paling bawah, bahkan di bawah kelas petani dan seniman. Dalam zaman pertengahan Eropa, pedagang mempunyai status lebih baik, tetapi mereka tetap dianggap lebih rendah oleh kelas pemerintah. Para pedagang sadar atas rendahnya status mereka, dan banyak yang berusaha menaikkannya untuk menyamai kelas pemerintah dengan meniru gaya hidup kelas tersebut.

Walaupun kelas rohaniwan dalam masyarakat agraris selalu terstratifikasi secara internal, umumnya kelas tersebut mendapat kedudukan yang istimewa. Tentu saja, rohaniwan sering memiliki kekayaan dalam masyarakat agraris, dan pola hubungan mereka sangat dekat pada kelas penguasa dan pemerintah. Di Mesir pada abad XII SM, dan Prancis pada abad XVIII, para rohaniwan mempunyai 15% dari seluruh tanah. Pada masa pre-reformasi di Swedia, gereja memiliki 21%, sementara di Ceylon, pendeta Budha menguasai 1/3 tanah. Hak-hak istimewa yang dimiliki rohaniwan ini disebabkan oleh persekutuan mereka dengan kelas elite. Kelas elite umumnya mencari rohaniwan untuk mendukung tindakan-tindakan eksploitatif dan penindasan mereka. Para rohaniwan kemudian mendapat imbalannya. Walaupun demikian, hak-hak istimewa rohaniwan bukannya tidak rapuh. Para elite politik sering melakukan penyitaan terhadap rohaniwan, yang menunjukkan hubungan antara rohaniwan dengan kelas eilte kadang-kadang goyah. Tambahan pula, tidak semua rohaniwan kaya dan mempunyai status tinggi. Pada abad pertengahan di Eropa, misalnya, rohaniwan terbagi menjadi pendeta tinggi dan bawah. Jika pendeta kelas atas hidup dalam hak-hak istimewa dengan latar belakang kemuliaannya, maka pendeta kelas bawah –yang jamaahnya adalah para pelayan– mempunyai gaya hidup yang sama dengan orang kebanyakan.

Dalam banyak masyarakat agraris, populasi terbesar adalah para petani. Sebagai suatu kelas, para petani mempunyai status ekonomi, politik, dan sosial yang lebih rendah. Keadaan perekonomian mereka pada umumnya serba kekurangan, walaupun kadar eksploitasi terhadap mereka bervariasi dari satu masyarakat ke masyarakat agraris lainnya. Beban umum yang menimpa para petani adalah pajak, sebagai alat utama  yang memisahkan surplus produksi dari mereka sendiri. Beban dan beratnya pajak sangat bervariasi. Selama era Tokugawa di Jepang, tinggi pajak hasil panen bervariasi dari 30%-70%. Di Cina kira-kira 40%-50% dari total produksi pertanian yang diklaim sebagai hak milik tuan tanah.

Banyak beban berat lain yang harus ditanggung petani selain pajak. Salah satunya adalah convee, atau kerja paksa. Sistem ini memaksa para petani untuk bekerja seharian untuk penguasa mereka dan negara. Di Eropa pada zaman pertengahan, misalnya, para petani dipaksa untuk mengerjakan tanah penguasa  pada hari-hari tertentu sepanjang tahun. Selama pembangunan  “The Great Wall” di Cina, para petani dipaksa bekerja hampir selama usia dewasa mereka. Di Sumedang Jawa Barat, Pangeran Kornel atas pesanan atasannya, Jendral Daendels, pada awal abad ke XIX memaksa para petaninya untuk mengerjakan jalan “Cadas Pangeran”. Beban para petani tidak berhenti pada kerja paksa dan pajak. Jika penguasa pengoperasikan penggilingan, tungku pembakaran  dan pembuatan arak, para petani diharuskan untuk menggunakannya dan membayarnya dengan layak. Dalam beberapa masyarakat agraris, penguasa dapat bebas mengambil apapun yang ia sukai milik sang petani tanpa membayar. Di Eropa pada abad pertengahan, apabila seseorang mati, maka penguasa dapat menyatakan bahwa itu adalah hasil dari kejahatan petani. Kemudian,  apabila anak gadis petani melangsungkan pernikahan tanpa sepengatahuan atau tidak direstui oleh penguasa, maka ayah si gadis terkena denda. Lebih jauh lagi, para bupati berhak memaksa calon istri atau bahkan istri petani yang dikehendaki untuk “dikawininya”. Untuk yang terakhir ini dikenal kisahnya di Cianjur Jawa Barat pada zaman bupati Wiratanudatar III, atau Dalem Dicondre (dibunuh pakai senjata condre).

Jelas bahwa kehidupan petani jelata sangat menyedihkan, hidup dalam keadaan kekurangan, para petani kekurangan makanan dari segi kualitas, kuantitas, dan jenisnya. Alat-alat rumah tangga sangat kurang, dan umumnya para petani tidur di tanah berselimutkan jerami. Kadang-kadang situasi begitu sulit untuk tinggal menetap. Petani terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya mencoba hidup dengan jalan lain.

Akibat dari rendahnya tingkat perekonomian yang diderita, para petani menduduki status yang paling bawah dalam seluruh masyarakat agraris. Perbandingan kualitas hidup petani dan elite bagaikan bumi dengan langit. Kelompok elite menganggap petani sebagai kelompok yang sangat rendah, bahkan sering diperlakukan tidak manusiawi. Dalam beberapa masyarakat agraris, petani diklasifikasikan persis seperti pengelompokkan ternak. Mereka sekadar dapat hidup, tidak dapat menikmati pendidikan, mengembangkan diri, dan terjebak oleh status mereka.

Di bawah kelas petani masih terdapat dua kelas lagi dalam tatanan masyarakat agraris. Salah satunya adalah kelas seniman, atau pengrajin, suatu kelas yang diperkirakan Lenski, 3-7% dari seluruh populasi.  Para seniman biasanya berasal dari para petani yang kehilangan hak milik. Walaupun pendapatan petani dan seniman tumpang tindih, pendapatan seniman biasanya lebih buruk daripada petani. Ternyata, banyak dari mereka hidup dalam kelaparan. Kelas paling bawah dari masyarakat agraris adalah apa yang disebut sebagai “sampah masyarakat”. Kelas ini diperkirakan sekitar 5-10%, dijumpai di daerah perkotaan. Mereka terdiri dari pengemis, pencuri, pelanggar hukum, pekerja serabutan, atau personal lain yang disebut Lenski (1966:281) sebagai “terpaksa hidup di bawah belas kasihan dan sedekah orang lain”. Kelompok ini hidup dalam perekonomian yang sangat rendah, kurang gisi dan sakit-sakitan, dan mempunyai angka kematian tinggi. Anak-anak petani miskin yang tidak mewarisi apa-apa sering jatuh ke dalam kelas yang malang ini.

Kedudukan seseorang dalam tatanan sosial masyarakat agraris ditentukan secara turun temurun. Banyak yang meninggal tetap sebagai anggota kelas dimana ia dilahirkan. Ini tidak berarti bahwa mobilitas sosial tidak mungkin atau tidak ada, mobilitas sosial  tetap terjadi dalam jumlah kecil. Namun, mobilitas ke atas jarang terjadi, lebih banyak mobilitas ke bawah. Seperti telah dibahas di atas, anak-anak petani yang tidak mewarisi apapun dari kedua orang tua sering menjadi seniman atau gelandangan. Sehingga kesempatan atau kemungkinan perbaikan kualitas hidup / kedudukan dalam masyarakat agraris sangat sulit.

Daftar Pustaka

Abbot, P. dan Wallace, C. 1990. An Introduction to Sociology: Feminist Perspective. London: Routledge.

Berger, P. 1966. Invitation to Sociology. London: Penguin.

Bohannan, Paul and George Dalton (eds.) 1962. Markets in Africa. Evanston, III: Northwestern University Press.

Boserup, Ester. 1965. The Condotions of Agricultural Growth. Chicago: Aldine.

Calvert, P. dan Calvert S. 1992. Sociology Today. Hemel Hempstead: Harvester Wheatsheaf.

Chagnon, Napoleon. 1983. Yanomamo: The Fierce People. New York: Holt, Rinehart, and Wiston.

Cohen, Mark N. 1977. The Food Crisis in Prehistory. New Haven: Yale University Press.

Collins, Randall. 1988. Theoretical Sociology. San Diego: Harcourt Brace Jovanovich.

Collin, Randal. 1985. Three Sociological Traditions. New York: Oxpord University Press.

Craib, I. 1968. Modern Social Theory. London: Heinemann.

Dahlberg, Frances. 1981. Women the Gatherer. New Haven: Yale University Press.

Dalton, George. 1967. Tribal and  Peasant Economies. Austin: University of Texas Press.

Fried, Morton. 1967. The Evolution of Political Society. New York: Random House.

Giddens, A.  1982. Sociology. Basingstoke: Macmillan.

Harner, Michael. 1970. “Populatiopn Pressure and the Social Evolution of Agriculturalist”. Southwestern Journal of Anthropology 26: 67-86.

Harris, Marvin. 1968. The Rise of Anthropology Theory. New York: Harper and Row.

Harris, Marvin. 1974. Cow pigs, War and Witches: The Riddles of Culture. New York: Random House.

Harris, Marvin. 1977. Cannibals and King: The Origins of Cultures. New York: Random House.

Harris, Marvin. 1979. Cultural Materialism: The Struggle for a Science of Culture. New York: Random House.

Harris, Marvin and Eric B. Ross. 1987. Death, Sex and Fertility: Population Regulation in Preindustrial and Developing Societies. New York: Columbia University Press.

Hatch, Elvin. 1983. Culture ang Morality: The Relativity of Values in Anthropology. New York: Columbia University Press.

Hockett, Charles F. and Robert Ascher. 1964. “The Human Revolution”. Current Anthropology 5: 135-168.

Hodges, Richard. 1988. Primitive and Peasant Markets. Oxford: Blackwell.

Lee, Richard B. 1979. The !Kung San: Man, Woman and Work in a Foraging Society. New York: Cambridge University Press.

Lenski, Gerhard E. 1966. Power and Privilege: A Theory of Social Stratification. New York: McGraw-Hill.

Marsh, I., dkk. 1996. Sociology ini Focus. Ormskirk: Causeway Press.

Marshall, G. 1990. In Praise of Sociology. London: Unwin Hyman .

Mills, C.W., 1959. The Sociological Imagination. New York: Oxford University Press.

Moore, S. 1987. Sociology Alive. Cheltenham: Stanley Thornes.

Nisbet, R. The Sociological Tradition. London: Heinemann.

O’Donnell, M. 1992. A New Introduction to Sociology. London: Thomas Nelson.

Patterson. Orlando. 1982. Slavery and Social Death: A Comparative Study. Cambridge, Mass: Harvard University Press.

Plattner, Stuart (ed.) 1989. Economic Anthropology. Stanford, Calif: Stanford University Press.

Popkins, Samuel L. 1979. The Rational Peasant. Berkeley: University of California Press.

Ritzer, George. 1988. Sociological Theory. New York: Knopf.

Sahlins, Marshall. 1958. Social Stratification in Polynesia. Seattle: University of Washington Press.

Sahlins, Marshall, 1972. Stone Age Economics. Chicago: Aldine.

Sanderson, Stephen K. 1990. Social Evolutionosm: A Critical History. Oxpord: Balckwell.

Scott, James C. 1976. The Moral Economy of the Peasant. New Haven: Yale University Press.

Scott, J. 1995. Sociological Theory. Cheltenham: Edward Elgar.

Slattery, M. 1993. Key Ideas in Sociology. London: Sage Publication.

Swingewood, A. 1984. A Short History of Sociological Thought. London: Macmillan.

Tucker, Robert C. (ed.). 1978. The Marx-Engels Reader. New York: Norton.

Zeitlin, Irving M. 1973. Rethinking Sociology: A Critique of Contemporary Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: