Archive for the ‘KARYA ILMIAH’ Category

STUDI TERHADAP MASYARAKAT INDONESIA

November 6, 2010

Setiap generasi menulis sejarahnya sendiri berdasarkan perspektif dan optiknya sendiri. Baik jiwa zaman maupun ikatan kebudayaannya menuntut agar dilakukan rekonstruksi sejarah komunitasnya yang lebih memadai serta sesuai dengan situasi generasinya. Dengan demikian baik sudut pandangan maupun pendekatan atau problematiknya lebih dicocokkan dengan konteks situasional, maka dalam menghadapi setiap hasil rekonstruksi sejarah sangat perlu menyoroti pengarang serta latar belakang  dunia intektualnya, sehingga sifat dan hakikat karya itu lebih mudah diidentifikasikan.
Kajian kesejarahan, seperti juga halnya dengan studi keilmuan lainnya, umumnya bercorak monografis, yang ingin mempelajari satu-dua tema pokok –apapun mungkin corak tema pokok itu— yang telah dirumuskan dengan jelas. Tentu bisa juga dibayangkan bahwa kajian monografis tersebut berangkat dari pertanyaan pokok yang jelas, pendekatan metodologi tertentu, dan tidak jarang, dari asumsi teoritis yang tertentu pula.  Berbagai corak kajian monografis telah dihasilkan tentang Indonesia. Kalau sekiranya kita hanya membatasi tinjauan pada karya monografi yang diterbitkan sesudah Perang Dunia II saja –agar tak jauh-jauh melihat ke belakang— maka beberapa corak kajian dapat dibedakan.
Pertama, dan yang paling menonjol, ialah monografi tentang sejarah politik. Seri monografi sejarah Mataram dari de Graaf adalah contoh yang mudah diingat, karena telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Seri monografi ini bukan saja satu-satunya yang paling lengkap mengisahkan sejarah politik Mataram, sejak awal sampai terpecah menjadi dua, tetapi juga dengan jelas memperlihatkan bagaimana secara metodologis sumber-sumber Jawa, yang tampak sepintas lalu serba aneh dan mitologis itu, bisa dipakai sebagai sumber untuk mengadakan rekonstruksi sejarah naratif, yang berkisah. Dipersenjatai dengan pengetahuan yang mendalam tentang bahasa, filologi, dan kebudayaan Jawa, de Graf mencoba mencari “fakta” sejarah di balik segala macam corak symbol cultural dari sumber asli itu. Ia mengujinya dengan sumber-sumber Belanda, baik hasil perjalanan, buku harian, atau laporan VOC. Dalam usaha membandingkan sumber asli dengan sumber Belanda ini, ia boleh dianggap sebagai pelopor. Sikapnya yang tidak apriori terhadap sumber domestik ini dipertahankannya dengan baik ketika ia mengadakan serangan balik terhadap sikap skeptic Berg, yang cenderung menilai semua sumber Jawa itu tak lain daripada ekspresi kultural belaka. Kepeloporannya ini diikuti –dengan lebih canggi–  oleh Merle Ricklefs dalam bukunya yang terkenal, Sultan Mangkubumi, yang menceritakan proses yang biasa disebuit sebagai “perang suksesi”, Perjanjian Giyantiyang membagi dua Mataram, dan sejarah awal kesultanan Yogyakarta, di bawah pemerimntah Hamengkubuwono I. sambil lalu tetapi mendalam juga, Ricklefs juga membicarakan dampak pembagian Mataram terhadap kesadaran kultural dan pandangan kesejarahan Jawa. Setelah buku ini, Recklefs juga telah melanjutkan kajiannya tentang kesunanan Surakarta dan kesultanan Yogyakarta. Dengan sikap penghargaan terhadap sumber domestik yang sama, Peter Carey juga telah melakukan seri studi  tentang Dipenogoro dan zamannya.dari sudut jumlah tentu sudah bisa diduga bahwa studi tentang zaman modern dan kontemporer, yaitu periode dari tahun 1900sampai sekarang, sangat dominan.apalagi kalau dalam  corak  sejarah  politik  ini  dimasukkan  pula –dan memang semestinya— sejarah militer. Nasotion menulis sebelas jilid tentang sejarah Perang Kemerdekaan, di samping buku-buku lain yang menyangkut sejarah kemiliteran di Indonesia. Studi tentang revolusi saja entah berapa banyaknya.
Kedua, sejarah intelektual atau pemikiran. Harus diakui bahwa pada umumnyastuidi ini masih pada tahap analisis filologis teks-teks yang bahkan serba terputus satu dengan yang lainnya.maka kitapun berkenalan dengan berbagai studi  tentang babad, serat, piwulang, suluk,  dan sebagainya. Dan memang studi-studi tersebut meskipun sama  sekali tidak melupakan konteks sejarah dari teks yang dipelajari dan sangat bermanfaat dalam proses rekonstruksi sejarah, tidak mempunyai claim menulis sejarah. Soebardi umpamanya,pernah menulis disertasi yang diterbitkan tentang Serat Cabolek, karangan Jasadipura, pujangga abad ke-18 dari kraton Surakarta. Dari studi filologis ini, kita juga bisa mengetahui perjalanan pemikiran tentang hubungan Islam dengan “negara”. Dari artikel panjang Drewes tentang Serat Darmagandul –sebuah serat yang cukup menghebohkan dan sempatm menimbulkan kerawanan social ketika diterbitkan oleh sebuah penerbit di Kediri–  kita bisa mengetahui  corak pemikiran lain tentang Islam dan “kejawaan”. Tetapi karya Zoetmulder tentang Sastra Jawa Kuno, Kalangwan, bisa disebut sebagai usaha yang paling serius untuk memperkenalkan sejarah pemikiran Jawa Kuno. Tulisan Moertono tentang State and statecraft boleh juga dianggap sebagai sejarah pemikiran politik Jawa. Bertolak dari teks-teks Jawa, yang tersimpan dalam Perpustakaan Radyapustaka, Surakarta, Nancy Florida dapat juga memperlihatkan bahwa penajaman batas-batas intelektual antara “kejamen” dan “Islam” lebih banyak merupakan “konstruksi kolonial”. Hal yang sama juga bisa dilihat Laurie Sears setelah menganalisis cerita wayang. Dengan pemakaian pendekatan post-modernis tentang Jawa, John Pamberton juga telah menyumbangkan cara pemahaman baru tentang dinamika pemikiran Jawa.
Ketiga, sejarah sosial. Dalam tradisi penulisan sejarah akademis di tanah air kita, sejarah sosial praktis berarti tiga hal. Pertama, penulisan tentang perubahan sosial –tentang urbanisasi dan proses urbanisme, pelebaran diferensiasi kerja, mobilitas sosial— yang tentu melibatkan kemungkinan perubahan status, dan sebagainya. Tulisan Burger tentang “perubahan struktur di Jawa”, yang diterbitkan dalam beberapa nomor majalah Indonesie, dan satu-dua tulisan Sartono, mengenai pendidikan perubahan status, untuk sekadar menyebuit beberapa nama, berada di wilayah ini. Meskipun  dimaksud sebagai studi sosiologi, karya Selo Soemardjan tentang “perubahan sosial di Yogyakarta” tentu bisa juga dicatat. Beberapa karya mutakhir yang terbit di negeri Belanda, seperti umpamanya disertasi seorang sejarawan muda, van den Doel tentang birokrasi yang secara puitis diberi judul De Stille Macht, bisa digolongkan ke dalam kategori ini. Kedua, sejarah agraris, yang membicarakan dinamika hubungan antara petani dengan tanah mereka dalam menghadapi intervensi kekuatan luar yang keras mengancam, adalah sasaran kajian dari sekian banyak disertasi S3 dalam ilmu sejarah yang diajukan di UGM. Umumnya studi sejarah agraris ini bercorak sosial-ekonomis. Jadi boleh juga disebut sebagai sejarah sosial-ekonomis. Soalnya ialah kajian ini paling dekat hubungannya dengan sejarah ekonomi, yang sampai sekarang tahap perkembangannya masih sangat awal. Ketiga, sebagai sejarah ‘non-elite’ atau sejarah dari mereka yang “diam”. Inilah natara lain dihasilkan oleh Sartono dalam studinya tentang pemberontakan petani. Sambil lalu tentu bisa dikatakan bahwa kini semakin terasa betapa pentingnya kita mengetahui dinamika (atau keresahan?) dari “mereka yang diam” ini.
Beberapa corak studi sejarah yang lain masih pada tahap awal. Sejarah kebudayaan masih terpenggal-penggal atas berbagai aktivitas kebudayaan. Sebagian  masih erat kaitannya dengan arkeologi. Sebagian lain, yang disebut sejarah kesenian, masih belum terbebas dari pengetahuan tentang seni per se. Sejarah sastra masih belum jauh beranjak dari penyusunan kronologi para pengarang dan karya mereka. Sejarah maritim masih merupakan bagian yang disinggung sambil lalu dalam sejarah politik atau sosial. Tetapi kesemua cabang ini telah mulai memperlihatkan tanda-tanda awal pendewasaan. Perkembangan kritik sastra yang sejak akhir tahun 1970-an semakin marak, dengan segala macam semiotik, hermeneutik, struktural genetik, dan entah apa lagi, bukan saja telah mempengaruhi cara melihat teks sastra dan usaha melihat sejarah sastra tetapi juga memberi inspirasi bagi sejarah kebudayaan pada umumnya. Dan begitulah seterusnya.
Namun, seorang sejarawan terkemuka Perancis, Denys Lombard telah mengadakan studi sejarah –yang di Indonesia belum umum dilakukan–  yang mencakup seluruh corak di atas. Hasil penelitiannya ditulis dalam tiga jilid buku yang diberi judul Nusa Jawa Silang Budaya.
Dilihat sepintas lalu maka studi Lombard ini adalah sebuah usaha yang amat ambisius.  Karena dengan studinya ini ia berusaha dan cukup berhasil, untuk mencakup keseluruhan data yang dimunculkan oleh studi di atas –jika bukan secara eksplisit, setidaknya terpantul secara implisit. Jika tidak dengan jelas dia katakan masalahnya, setidaknya terbayang bahwa ia mengetahui persoalannya.  Malah lebih daripada itu, Lombard juga membicarakan lingkungan alam dan geografis dengan  memadai. Alam dan geografi ini bukanlah sekadar stage  atau panggung tempat berlangsungnya “sejarah”, tetapi adalah pula bagian dari proses sejarah. Dari studi ini kelihatan pula bahwa Lombard berusaha dengan sepenuhnya untuk memahami dan memakaikan berbagai disiplin. Ia bercerita tentang masalah bangunan dan arsitektur sama lancarnya dengan ia berkisah tentang sastra atau tentang lalu lintas ekonomi ataupun tentang gaya hidup yang antara lain diwujudkan dalam kebiasaan berpakaian dan perkembangan mode. Memang pada tingkatnya yang paling ideal pendekatan Lombard ini menjadikan ilmu sejarah, seperti kata Braudel dengan bangga, “sebuah pasar bersama dari ilmu-ilmu kemanusiaan”. Hasrat seperti ini pulalah sesungguhnya yang menjadi tekad  Lucien Febvre dan Marc Bloch ketika mereka menerbitkan majalah  Annales (1929), yang kemudian dipakai sebagai nama “mazhab” penulisan sejarah yang mereka pelopori. Dengan majalah Annales, mereka ingin membongkar dinding-dinding yang membatasi sejarah dari kajian sosial dan ekonomi, bukan dengan teori yang serba meninggi, tetapi dengan “fakta dan contoh”.
Namun satu hal yang paling menonjol dan yang segera tampak kalau studi Lombard dibandingakn dengan corak studi sejarah yang biasa kita kenal, ialah bahwa studi ini sepertti menghindari “peristiwa” atau “kejadian” –yaitu hal-hal yang biasa menjadi unsur utama dalam setiap studi sejarah. Bukankah hal utama yang dimasalahkan  oleh sejarawan adalah  penyelesaian masalah kronikel yang bisa menjawab bertanyaan “aapa, di mana, bila, dan siapa”? keempat pertanyaan pokok ini adalah unsur utamauntuk menentukan sebuah even atau evenement, “kejadian-kejadian” yang direkonstruksi dan diterangkan. Bahkan studi Sartono tentang “mereka yang diam” itu berkisar pada  “kejadian-kejadian” yang direkonstruksi dan diterangkan. Buku Lombard memang kadang-kadang bercerita, hanya saja cerita itu bukanlah tentang “kejadian” sebagai event yang harus direkonstruksi dan diterangkan, tetapi sebagai bagian atau ilustrasi atau bukti dari kehadiran dan keberlakuan sebuah bentukan struktural yang diperagakannya. Jika “kejadian” atau event telah diperlakukan sebagai “surface history” atau lapisan atas sejarah saja, maka janganlah diharapkan studi ini akan muncul dengan heroes atau culprits. Actor sejarah dan kejadian dan peristiwa yang unik tak lagi memainkan peranan penting untuk menerangkan situasi sosial. Pendekatan ini sebenarnya,lagi-lagi kata Braudel, “melampaui individu dan kejadian tertentu yang khas”. Lombard pun mengatakan juga bahwa, “Bagi sejarawan mentalitas, yang lebih menarik adalah kelompok atau masyarakat cendikiawan, yang memungkinkan penggambaran suatu suasana atau suatu arah perkembangan”. (I, 73).
Dalam sejarah pemikiran sejarah dan historiografi, pendekatan ini bisa dilihat sebagai penolakan terhadap kecenderungan neo-Kantian, yang setelah membedakan dua corak pengetahuan, yaitu Naturwissenschaft dengan Geisteswissenschaft, mengatakan bahwa jika yang pertama bisa memberikan erklaren (“keterangan”) maka yang kedua memberikan verstehen (“pemahaman”). Verstehen, menurut Diltheys dan juga Collingwood, ialah kesediaan dan kemampuan sang sejarawan untuk merasakan atau menghidupkan kembali dalam perasaannya (Erlebnis, menurut istilah Dilthey), seakan-akan dialah aktor sejarah yang dikisahkannya itu. Tetapi bagi pendekatan dan teori sejarah mazhab Annales yang dipakai Lombard, hal ini tidak bisa dikatakan “scientific”, karena semuanya sangat bergantung pada kemampuan imajinasi sang sejarawan –jadi sesuatu yang sifatnya sangat individual bahkan subjektif. Bagi mazhab Annales, perilaku individu dalam sejarah hanya bisa dimengerti dalam konteks masyarakat, bukan dari ilmu jiwa, atau sejenisnya.  Bukankah individu itu berbuat dalam konteks peranannya sebagai bagian dari denyut masyarakatnya? Masyarakat ini mewujudkan  dirinya dalam hal-hal yang konkret yang bisa kita amati, seperti tak ubahnya kita mengamati gejala alam. Masyarakat terwujud dalam pranata dan kelembagaan dan peninggalan material yang konkret. Inilah yang pernah disebut oleh Durkheim, salah seorang pelopor sosiologi modern, sebagai “faktor sosial”, sesuatu yang bisa dipahami dari dirinya sendiri.
Verstehen (Perancis, comprendre), kata Lucien Fervre, tidaklah langsung bisa didapatdari savior atau “pengetahuan”. ”Pemahaman” tentang perilaku manusia, katanya seperti menyambung Durkheim, hanyalah mungkin didapatkan dalam sebuah konteks keterkaitan, dalam corak hubungan dari kejadian-kejadian perilaku itu. Jadi, “pemahaman” tentang perilaku manusia dalam bentuknya yang konkret itu sesungguhnya meniscayakan adanya keterangan  kausalitas.
Andai saja kecenderungan Weberian yang sangat menonjol di kalangan sejarawan Indonesia, yang agak sadar teori, bisa dikesampingkan sebentar, dan berusaha memahami karya Lombard dari sudut pendekatan yang dipakainya –sesuatu yang lebih Durkhaimian daripada Weberian— maka kita pun akan terdorong juga untuk berdecak menyatakan rasa kagum. Ia seakan-akan dengan patuh mengikutikeharusan ideal yang dinukilkan oleh Lucien Febvre tentang bagaimana sejarah harus ditulis.semuanya, kata sang peletak dasar histoire totale  ini: ”Kata, tanda, pemandangan, titel, (hak tanah), hamparan padang, gerhana bulan,.. dengan satu kata, segala sesuatu yang dimiliki manusia, tergantung pada manusia, melayaninya, menyatakan dirinya dan menandai kehadirannya, aktivitas, selera dan bentuk keberadaan” (Febvre, 1973:34). Dan Lombard memang berusaha sejauh mungkin melaksanakannya.
Tetapi hal ini dilakukannya bukan karena patuh saja. Ia  melakukannya, karena memang ia tidak saja melihat sejarah –atau lebih tepat kenyataan sejarah, seperti yang dikatakan oleh Febvre— adalah sesuatu yang bersifat multidimensional, tetapi juga hirarkis. Dalam  susunan hirarki ini, maka kejadian dan peristiwa, apalagi kejadian politik, berada di tingkat yang paling rendah, sedangkan struktur berada di tingkat yang tertinggi. Kalau dalam sejarah politik, yang berkisah tentang dinamika yang terjadi dalam wilayah kekuasaan, bahkan juga dalam sejarah pemikiran atau intelektual, yang menguraikan tahap-tahap dalam perenungan manusia tentang hakikat alam, manusia, dan masyarakat, dengan segala keterkaitannya, menjadikan struktur sebagai latar belakang untuk menerangkan kejadian dan peristiwa, maka tidak demikian halnya dengan corak penulisan sejarah yang dipakai Lombard. Struktur  bukanlah latar belakang atau background, tetapi foreground. Struktur  adalah sejarah itu sendiri.
Kalau struktur telah menjadi foreground –sesuatu yang dari sudut dimensi waktu bisa sangat longgar— tidaklah mengherankan jadinya jika Lombard, bila perlu atau bila kejelasan uraian tentang struktur menghendakinya, bisa mondar-mandir melampaui berbagai lapisan waktu, yang biasanya dijadikan para sejarawan yang menekankan event sebagai tonggak-tonggak yang harus diperhatikan dengan baik. Begitulah umpamanya ketika ia berbicara tentang kerajaan konsentrik di zaman kuno, Lombard bisa saja mengulang kembalikisah Hamengkumuwono IX yang seakan-akan mendengar suara “eyangnya”untuk tak terlalu memperhatikan isi kontrak kesultanan dengan pemerintah Hindia Belanda.
Tetapi bagaimanakah harus diterangkan pendekatan Lombard yang memulai sejarahnya dari periode yang paling mutakhir, yaitu “batas-batas pembaratan”? Setelah lebih dulu menguraikan perubahan yang pelan dari situasi geografis –mulai dari keadaan geologis yang menetap sampai dengan tumbuhnya kota-kota dan terbentangnya jaringan jalan dan sebagainya— seraca agak mendadak terasa, Lombard memperkenalkan dirinya kembali. Ia  adalah orang Eropa yang datang ke Jawa. Ia   bercerita mengapa orang Eropa tertarik pada Jawa dan bagaimana komunitas Eropa mulai terbentuk dan selanjutnya bagaimana proses “pembaratan” terjadi di kalangan pribumi. Dalam proses ini, Lombard, si Eropa, telah menjadi bagian dari struktur yang dibentuknya. Maka kita pun menemukan pula sikap akademis selanjutnya dari pendekatan sejarah yang dipakai Lombard, yaitu meniadakan pembedaan dua corak realitas –yang dilihat dan dialami oleh aktor sejarah, yang berbuat atau berada dalam situasi kesejarahan yang direkonstruksi, dan yang diamati oleh pengamat alias sejarawan. Realitas adalah apa yang telah diungkapkan itu, terlepas daripada sang aktor melihatnya atau tidak. Yang jelas dualisme realitas ditiadakan.
Studi Lombard memperlihatkan juga perkembangan baru dari mazhab Annales. Dalam salah satu tulisannya, salah seorang tokoh mazhab ini yang paling terkemuka, LeRoy Ladurie, pernah membagi sejarah mazhab ini atas dua periode. Pertama, periode sebelum 1945, ketika “sejarah struktural kualitatif” sangat dominan. Kedua, setelah 1945, di saat “sejarah kuantitatif dari conjonctures” memegang peranan penting. Dan ia adalah salah seorang tokoh utama di dalam periode kedua. Kalau periode pertama lebih mementingkan sejarah sosial dan sejarah mentalitas, maka yang kedua lebih kepada masalah sosial-ekonomi dan demografis. Dengan segala macam angka tentang turun naiknya kecenderungan ekonomi, tentu bisa juga dibayangkan betapa membosankannya tulisan corak kedua ini bagi mereka yang ingin membaca karya sejarah sebagai sebuah karya literer. Dalam dua jilid bukunya, yang berjudul Southeast Asia in the Age of Commerce, Tony Reid menulis sejarah Asia Tenggara seperti halnya Braudel mempelajari Dunia Laut Tengah, sebagai contoh karya periode kedua. Tetapi, sudah sejak akhir tahun 1970-an atau awal 1980-an, sejalan dengan perkembangan teori yang terjadi di luar mazhab Annales, seperti munculnya tulisan-tulisan Foucault, Roland Barthes, Derrida, dan lain-lain, yang mempersoalkan kembali hakikat sejarah dan makna teks dan simbol, dan sebagaimnya, kecenderungan baru, yang seakan-akan kembali ke asal –ke perhatian Bloch dan Febvre—  yaitu  sejarah sosial dan mentalitas. Dan Lombard berada dalam kecenderungan baru, yang kembali ke asal ini.
Ia menulis l’histoire des mentalites Jawa. Dengan studi ini ia ingin menjawab pertanyaan pokok, bagaimanakah secara historis perilaku masyarakat Jawa bisa dipahami? Maka, seperti telah disinggung di atas, yang direkonstruksinya adalah proses pembentukan struktur mentalite sosial, bukan uurutan peristiwa dengan para aktornya. Dengan begini bisa jugalah dipahami mengapa ia memulai buku dengan lebih dulu membicarakan lapisan waktu yang paling mutakhir, ketika Jawa harus berhadapan dengan dunia asing, yang sekaligus memperkenalkan kolonialisme dan konsep “modernitas” yang baru. Dan struktur mentalitas yang telah terbentuk itu diterangkannya ke belakang, ketika corak encounter lain, yang juga telah memberikan lapisan kultural yang fundamental, terbentuk. Tampaknya Lombard menyetujui sepenuhnya pendapat  Braudel yang mengatakan bahwa “ada beberapa unsur yang permanen dan selalu hidup dalam wilayah peristiwa kebudayaan yang sedemikian luas”.
Setiap aliran dalam ilmu pengetahuan , termasuk sejarah, tentu saja tak terbebas dari kritik. Memang berbagai kritik telah dilancarkan. Ada yang mengatakan, karena aliran ini asyik mengumpulkan semua dan membicarakan semua, maka studi yang dihasilkan oleh sejarawan dari aliran ini tidak mempunyai fokus yang jelas, bahkan juga kehilangan kekhasan. Ada pula yang mengatakan bahwa pendekatan ini sangat “deskriptif dan taksonomis”. Dalam perdebatannya dengan majalah Annales Raymond Aron, sosiolog dan pemikir sosial dan sejarah Perancis yang terkenal, mengatakan bahwa baginya mazhab ini tak berhasil mengatasi hubungan antara struktur dan peristiwa, karena itu ia lebih baik berpaling saja kepada Max Weber. Tentu perlu juga dicatat bahwa Aron memang sangat kritis terhadap teori Durkheim, yang telah mempengaruhi Bloch dan Febvre. Berbagai macam kritik lain telah juga dilontarkan. Tetapi,  bukankah sejarah sebenarnya adalah wilayah perdebatan? Sekali sejarah telah berhenti diperdebatkan maka yang terjadi tidaklah didapatkannya  accepted history secara konsensus, tetapi terhentinya kegairahan intelektual. Dengan ini berarti pula terhentinya proses pembebasan imajinasi dari tirani waktu.

STUDI TERHADAP MASYARAKAT INDONESIA
BERDASARKAN WAKTU
1000 TAHUN NUSANTARA

1000
1006 :
Sriwijaya menghancurkan ibu kota Kerajaan Mataram di Jawa sebagai balasan atas serangan Mataram pada 992. Raja Mataram, Dharmawangsa tewas. Menantu Dharmawangsa, Airlangga menyelamatkan diri ke Jawa Timur.
Perdaganghan Jawa-Maluku-Sumatra-Malaka sudah ramai.
1019:
Airlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan. Hukum dibukukan dalam kitab Siwasasono. Kali Brantas dibendung. Pemeluk Hindu maupun Budha di Kahuripan dilindungi. Toleransi antar-umat beragama berkembang.
Saudara Airlangga, Anak Wungsu mengembangan kebudayaan Jawa Kuno di Bali.
Kesenian wayang mulai berkembang.
1030:
Empu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha (Perkawinan Arjuna).
1042:
Airlangga membagi Kahuripan menjadi Jenggala dan Panjalu (Kediri) demi anak-anaknya.
1049:
Airlangga wafat.
1069:
Penulisan naskah Rawiaton Sabeu’ah di Aceh.

1100
1125:
Empu Panuluh menulis Hariwangsa dan Gatotkacasraya.
Empu Dharmaja menggubah Smaradhahana (Kidung Cinta).
1150:
Jayabaya berkuasa di Kediri setelah menaklukkan Jenggala.
1157:
Jayabaya memerintahkan Empu Sedah menggubah Bharata Yudha untuk membenarkan aneksasi Kediri atas Jenggala.

1200
1200:
Pembukaan sawah lahan basah di dataran tinggi Jawa Timur (Tumapel, Lumajang, Blambangan). Semula sawah basah hanya dikembangkan di dataran rendah yang relatif datar.

1222:
Ken A(ng)rok mendirikan Singasari. Sebelum berkuasa, Ken Arok merebut kekuasaan di Tumapel, Kediri, dari Tunggul Ametung. Kudeta pertama di Tumapel.
1227:
Putra Tunggul Ametung, Anusapati jadi raja Singasari setelah membunuh Ken Arok.
1247:
Tohjaya membunuh Anusapati.
1250:
Tohjaya terbunuh dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Jaya Wisnuwardhana, putra Anusapati.
1268:
Kertanegara menjadi raja di Singasari setelah ditabalkan lebih dulu sebagai putra mahkota oleh Wisnuwardhana. Sinkretisme Hindu dengan Budha berkembang.
1275:
Kertanegara melancarkan ekspedisi Pamalayu untuk menyerang Kerajaan Melayu di Jambi. Jambi minta bantuan kepada Kubilai Khan pada 1281.
1284:
Kertanegara menguasai Bali.
1289:
Utusan Kubilai Khan mengundang Kertanegara datang ke Peking sebagai tanda tunduk kepada Mongol. Kertanegara menolak, dan merusak wajah sang utusan.
1290:
Kertanegara menguasai Sriwijaya.
1291:
Marco Polo singgah di Kalimantan, Sumatra, dan Malaka, dalam perjalanan ke Venesia.
1292:
Kertanegara tewas dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Jayakatwang. Menantu Kertanegara, Wijaya mendapat izin Kertanegara untuk tinggal di Desa Tarik. Balatentara Mongol mendarat di Tuban pada bulan November untuk menghukum Kertanegara.
1293:
Pasukan Wijaya dan Mongol menyerang Kediri. Tentara Mongol menggunakan mesiu ketika bertempur. Penggunaan mesiu pertama dalam perang di Jawa. Raden Wijaya  balik menyerang balatentara Mongol.
1294:
Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit dan ditabalkan sebagai raja.
1295:
Islam masuk Kerajaan Pasai.
1297:
Raden Wijaya mengirim utusan ke Beijing untuk berdamai. Kubilai Khan senang dan tidak lagi menuntut Raja Jawa datang ke Beijing.

1300
1309:
Jayanegara menjadi raja Majapahit. Ra Kuti memberontak, tetapi bisa ditumpas berkat kesetiaan pasukan Bhayangkara pimpinan Gajah Mada.
1328:
Tanca membunuh Jayanegara. Konon Tanca balas dendam karena Jayanegara mencabuli istrinya.
1329:
Tribhuanatunggadewi Jayawinsnuwardhani jadi wali negeri Majapahit.
1331:
Gajah Mada diangkat sebagai Patih Majapahit.
1333:
Majapahit menyerang Pajajaran. Setahun kemudian menyerang Bali.

1347:
Atas nama Majapahit, Adityawarman menguasai Pagaruyung, Sumatra Barat.
1350:
Mahapatih Gajah Mada mengucapkan Amukti Palapa dalam acara penabalan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit.
1357:
Majapahit  membantai seluruh (pasukan) pengiring calon pengantin Dyah Pitaloka dari    Pajajaran yang sedianya akan dinikahkan dengan Hayam Wuruk. Pembantaian itu terkenal dengan sebutan Perang Bubat.
1364:
Gajah Mada meninggal.
1365:
Empu Prapanca menulis Deca-Warnana atau lebih terkenal sebagai Negara Kertagama.
1367:
Empu Tantular mulai menggubah Arjunawijaya.
1377:
Armada laut Majapahit menyerbu Palembang.
1389:
Hayam Wuruk meninggal digantikan oleh  Wikramawardhana.
Empu Tantular menyelesaikan Sutasoma.

1400
1400:
Islam masuk ke Aceh.
1406:
Perang Paregreg antara Wikramawardhana melawan Wirabumi untuk merebut tahta Majapahit.
1414:
Masjid pertama berdiri di Ambon.
1426:
Kelaparan melanda Jawa.
1447:
Kertawijaya jadi Raja Majapahit. Pada 1451 Kertawijaya terbunuh dan Rajasawardana naik tahta.
1475:
Islam masuk Ternate dan  Tidore.
1478:
Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak.

1500
1509:
Portugis tiba di Malaka.
1511:
Armada Portugis menyerang Malaka.
1512:
Pengembara Portugis, Francisco Serrao menjelajah sampai ke Maluku dan memberi kabar tentang kekayaan alam Nusantara kepada Magellan.
1515:
Potugis sampai di Pulau Timor.
1518:
Sebuah naskah berbahasa Sunda memberi istilah tulis untuk batik.
1522:
Utusan Gubernur Portugis di Malaka, Henrique Leme mendapat izin Pajajaran untuk mendirikan benteng di Sunda Kalapa.
Banten minta pertolongan Portugis melawan Demak.
1524:
Nurullah (Fatahillah) menyebarkan Islam di Pajajaran.
Penguasa Demak mulai menggunakan gelar Sultan.
1526:
Portugis mendirikan benteng di Timor.
1527:
Majapahit runtuh.
Walisongo menyebarkan Islam.
Portugis datang ke Sunda Kalapa, tetapi diusir oleh Fatahillah. Fatahillah mengganti Sunda Kalapa menjadi Jayakarta.
1529:
Raja Portugis dan Spanyol sepakat Maluku jadi milik Portugis, sementara Filipina untuk Spanyol.
1546:
Misionaris Katolik Franciscus Xaverius menjelajahi Morotai, Ambon, dan Ternate.
1577:
Ki Ageng Pamanahan mendirikan Kotagede.
1580:
Penulis mistik besar Aceh, Hamzah Fansuri menulis  Asrarul Arifin, Syarabul Asyikin, dan Al-Muntahi.
1581:
Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram untuk menggenapi janji Joko Tingkir.
1583:
Pementasan pertama wayang gedong pada era Sultan Hadiwijaya di Kesultanan Pajang.
1596:
Ekspedisi Belanda pimpinan Conelis de Houtman tiba di Banten.

1600
1600:
Elizabeth I of England meresmikan East India Company.
Bukhari menulisTajus Salatin (Mahkota Raja-raja). Isi buku sering disejajarkan dengan Il Principe, karya  Machiavelli (Italia).
1602:
Pengusaha-pengusaha Belanda membentuk  Vereenigde Oost-Indische Conpagnie (VOC).

1611:
VOC mendirikan pos di Jayakarta.
1615:
Koran Memorie der Nouvelles terbit atas perintah Gubwernur Jenderal JP Coen. Cikal bakal Koran di Nusantara walau masih ditulis tangan.
1617:
VOC mendirikan sekolah pertama untuk warga Eropa di Jayakarta.
1619:
VOC mengubah Jayakarta menjadi Batavia, sebagai kenangan  untuk Uni Provinsi-provinsi Nederland (Republik Bataaf) yang melawan pendudukan Spanyol.
Kecuali yang berasal dari Eropa, VOC mengelompokkan penduduk Batavia berdasarkan ras, asal daerah, dan pekerjaan.
1620:
VOC memberi hak istimewa  kepada Siauw Bing Kong dan Gouw Tjai untuk menimbang barang. Subkontrak pertama VOC kepada kelompok non-Eropa.
1621:
De Tragedie van Banda. Banda Neira dihancurkan oleh VOC dalam pertempuran selama dua minggu.
1624:
Sultan Agung menghancurkan Madura. Sebagian besar penduduknya dipindah ke Jawa.
1625:
Surabaya dihancurkan oleh Sultan Agung.
1628:
Serangan pertama Mataram ke Batavia.
1629:
Serangan kedua Mataram ke Batavia.
Tanaman tebu diperkenalkan di Banten.
1640:
Nuruddin al-Raniri menulis Bustan al-Salatin (Taman Raja-raja).
Perdebatan tentang paham Islam  antara Nuruddin al-Raniri (paham ortodoks) melawan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin  Sumatrani dari Pasai (paham wujudiyah).
1641:
Musik keroncong mulai berkembang di Batavia.
Pertama kali istilah batik muncul dalam literatur Eropa di Daghregister, Batavia.
1645:
Sultan Agung membangun makam Raja Mataram di Imogiri.
1648:
Pementasan pertama wayang klitik.
1650:
Phoa Bing Ham menyudahi pembangunan  Molenvliet (sekarang Gajah Mada), di Batavia.
1651:
Sekolah Latin di Batavia dengan sistem in de kost (numpang tinggal).
1659:
Tjitboek (semacam almanak) karya Kornelis Pijl, buku pertama yang dicetak di Batavia.
1663:
VOC memilah warga Ambon menjadi Ambon Islam dan Ambon Kristen. Kedua kelompoik diperlakukan berbeda.
Ulama Aceh, Abdurrauf Singkel menyelesaikan Mir’at  at-Tullab.
1668:
Industri percetakan mulai berkembang di Jawa.
1669:
VOC memperkenalkan kopi Caffea Arabica  di Jawa.

1700
1709:
Gubernur Jenderal Van Hoorn pulang ke Belanda dengan membawa harta hasil korupsi selama berkuasa di Batavia. Korupsi merajalela karena pelaku tidak dihukum.
1719:
Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon mewajibkan warga non-Eropa menyembah sambil jongkok jika berpapasan dengan petinggi VOC. Warga Eropa hanya diwajibkan menundukkan kepala.
1735:
Kantor arsip VOC berdiri di Batavia.
Pasar Tanahabang di Batavia berdiri.
1737:
VOC mendirikan sekolah untuk anak-anak Cina miskin.
1740:
De Chinezenmoord, pembantaian warga Cina di Batavia. Sekurangnya 10.000 orang tewas.
1743:
Gubernur Jenderal Van Imhoff mendirikan Academie der Marine (Sekolah Maritim).
1744:
Surat Kabar Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementes terbit pada bulan Agustus. Koran itu sering disebut sebagai koran pertama yang dicetak walaupun pada 1712 sudah ada koran yang terbit di Batavia. Dua tahun kemudian Bataviasche Nouvelles dilarang terbit oleh pemerintah.
1746:
Kantor pos pertama di Batavia.
Katalog Bataviasche Apotheek berisi daftar obat tradisional yang digunakan di Batavia terbit.
1749:
Parlemen Belanda (Staten Generaal) menunjuk Raja Willem IV  sebagai penguasa tertinggi VOC.
1750:
Alat penyosoh gabah mekanik yang bertenaga dua-tiga ekor lembu, berkapasitas    150 kg beras/hari diperkenalkan untuk mengganti lesung tradisional (30 kg/hari).
1755:
Perjanjian Giyanti membagi Mataram menjadi Kasunanan (Surakarta) dan Kasultanan (Yogyakarta).
1756:
Hamengkubuwono I pindah ke Keraton Ngayogyakarta.
1759:
VOC memberi perlakuan khusus kepada Cina Peranakan (Geschoren Chineezen) supaya tidak membaur dengan Bumiputera (Inlanders). Tetapi, kedua kelompok malah semakin membaur.
1760:
Pementasan pertama wayang orang.

1778:
Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perhimpunan Batavia untuk Kesenian dan Ilmu Pengetahuan) berdiri.
1786:
Panduan wisata pertama karya Hofhout terbit.
1797:
Nederlands Zendelinggenootschap (Perserikatan Misionaris Nederland) berdiri.
1799:
Pada 31 Desember VOC bubar setelah dinyatakan bangkrut oleh Pemerintah Nederland. Sebanyak 40 kelompok masyarakat bentukan VOC di Batavia melebur hingga tinggal kelompok Eropa, Cina, dan Bumiputera. Dari 128.000 penduduk Batavia, hanya 600 orang dari golongan Eropa.

1800
1800:
Istilah djagoeng untuk Zea mais muncul dalam Plakaatboek, dipetik dari kata “jawa agung” atau “jawawut besar”.
1808:
Daendels memulai pembangunan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) Anyer-Panarukan.
Pembangunan pangkalan angkatan laut di Surabaya.
1810:
Koran Bataviasche Koloniale Courant terbit atas dorongan Daendels. Koran pertama yang memuat iklan dan bisa dianggap cikal bakal koran modern di Hindia-Belanda.
1811:
Belanda menyerah kepada Inggris di Tuntang. Thomas Stamford Raffles mulai berkuasa di Batavia. Raffles mengelompokkan penduduk jadi dua, Eropa dan Bumiputera.
Yogyakarta dan Surakarta menyewakan tanah kepada swasta, meniru cara Daendels.
1813:
Raffles memperkenalkan pajak tanah (land-rent) untuk mengganti kewajiban menyerahkan hasil bumi warisan Belanda. Upaya itu gagal karena banyak penduduk buta huruf.
1814:
Tim peneliti Inggris melaporkan keberadaan Candi Borobudur dan Candi Prambanan ke Eropa untuk pertama kali.
Serat Centini mulai ditulis atas perintah KGPAA Amengkunagara III.
1815:
Gunung Tambora di Sumbawa meletus, melontarkan 80 km kubik materi vulkanik. Abu letupan menghalangi sinar matahari sehingga salju turun di utara AS pada musim panas, semacam efek musim dingin nuklir. Korban tewas 92.000 orang, sebagian besar karena kelaparan.
Sicietiet Harmonie jadi klab pertama di Batavia.
Raja Willem IV mengeluarkan UU Pemerintahan untuk Negeri Jajahan (Regingsreglement).
1816:
Inggris menyerahkan Hindia-Belanda kepada Belanda.
1817:
Raffles menerbitkan History of Java.
Caspar Georg Carl Reinwardt merancang Kebun Raya Bogor.
1818:
Sekolah rendah Eropa berbahasa Belanda untuk golongan Eropa, Timur Asing, dan Bumiputera terkemuka (Europeesche Lagereschool) berdiri di Batavia.
1819:
Tabung termometris pertama untuk vaksinasi tiba di Batavia dari London.
1820:
Afdeling voor Inlandse Zaken (Jawatan Urusan Bumiputera) berdiri.
1821:
Penyakit kolera mewabah di Jawa menyusul gagal panen padi.
Schouwburg teater Batavia berdiri.
1823:
Percetakan swasta pertama di Hindia-Belanda.
1824:
Traktat London, 17 Maret. Semenanjung Malaka jadi milik Inggris, sementara Riau milik Belanda.
Nederlandsche Handel-maatschappij-NHM (Perusahaan Dagang Negeri Belanda) berdiri.
Sekolah kejuruan Instituut voor de Opvoeding van Jonge-Jufvrouwen untuk wanita golongan Eropa berdiri.
1825:
Perang Jawa antara Diponegoro melawan Belanda berkecamuk sejak 20 Juli sampai 23 Maret 1930. Belanda tidak sanggup menutup biaya perang sebesar 20 juta gulden hingga tertarik dengan gagasan  Cultuurstelsel (Tanam Paksa).
1826:
Bibit teh dari Jepang ditanam di Kebun Raya Bogor.
1830:
Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memulai Tanam Paksa di Jawa (kecuali Surakarta dan Yogyakarta), Sumatra Barat, dan Sulawesi Utara. Aturan wajib kerja 66 hari untuk petani molor sesuka hati penguasa.
Pelat cetak pertama untuk huruf Jawa.
Kapal uap pertama singgah di Nusantara.
Koninklijk Nesderlands Indische Leger-KNIL (Tentara Kerajaan Hindia-Belanda) berdiri pada 4 Desember.
1832:
Institut Bahasa Jawa (Instituut voor de  Javaansche Taal) di Surakarta atas prakarsa Nederlands Zendelinggenootschap.
1833:
Istilah rupiah mulai dipakai untuk mata uang yang beredar.
1834:
Sekolah pendidikan guru (Kweekschool) swasta pertama di Ambon.
1836:
Regeringsreglement (RR) 1836 menghapus pasal tentang pendidikan rakyat dari RR sebelumnya. Bosch yakin Tanam Paksa tidak memerlukan rakyat terdidik.
1837:
Gubernur Jenderal Dominique Jacques de Eerens mewajibkan pegawai Belanda di Nusantara punya ijazah bahasa Melayu dan satu bahasa Nusantara.
1840:
Pustokorojo Purwo  oleh Ronggowarsito.
Babad Giyanti oleh Josodipuro.

1841:
Hoei membuka perkebunan teh di Bagelen.
FJH Baijer mendirikan bengkel mesin modern swasta pertama di Surabaya.
1842:
J Munnich membuat foto Istana Gubernur Jenderal di Batavia. Foto pertama di Jawa.
1843:
Kelaparan di Cirebon akibat Tanam Paksa.
1846:
Wabah penyakit berkecamuk di Jawa sampai 1850.
Raja Ali Haji Gurindam Dua Belas.
1848:
Pohon sawit (Elaeis guinaeensis) ditanam untuk pertama kali di Bogor.
Keputusan Raja Nederland tanggal 30 September 1848 Nomor 95 tentang sekolah dasar negeri untuk golongan Bumiputera.
1849:
Abdullah bin Abdukl Kadir Munsyi mengeritik orang Melayu yang mengabaikan bahasa sendiri lewat Hikayat Abdullah.
N.V. Oost Borneo Maastchappij membuka tambang batubara pertama di Pengaran, Kalimantan Timur.
1850:
Natuurkundige Vereeniging in Nederlandsch-Indie (Perkumpulan Ilmu Alam Hindia Belanda).
Kelaparan di Jawa akibat Tanam Paksa. Penduduk Jawa sudah merosot 60% akibat Tanam Paksa dan wabah.
Batik dengan teknik cap mulai diproduksi.
Vaksinasi cacar di Hindia Belanda dilakukan oleh mantra kesehatan yang beragama Islam.
1851:
Sekolah Dokter Jawa (School voor Inlandsche Geneeskundigen) di Batavia.
Sekolah pendidikan guru negeri (Kweekschool) pertama di Surakarta.
1852:
Bibit singkong dari Suriname ditanam di Bogor.
1853:
Pabrik pengurai gula dan sirup pertama berdiri di Jawa.
1854:
Kina mulai ditanam di Priangan oleh Hasskarl.
Gulden menjadi mata uang tunggal di Hindia Belanda.
Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1796-1854), merintis gaya penulisan “aku”.
Regeringsreglement 1854 memilah penduduk Hindia Belanda menjadi Eropa, Timur Asing (Cina, Moor, Arab), dan Bumiputera.
1855:
Bromartani, Koran berbahasa dan beraksara Jawa pertama.
1856:
Saluran telegraf pertama Batavia-Buitenzorg (Bogor).
Sekolah kejuruan (Ambachtsschool) swasta pertama di Batavia berdiri.
1857:
Pelukis Kerajaan Belanda, Raden Saleh Sjarief Bestaman menyelesaikan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang merupakan revisi atas lukisan J.W. Piene-man. Adegan penangkapan diubah sedemikian rupa sehingga mencerminkan antipati Raden Saleh terhadap penindasan Belanda.
1859:
Pemerintah Belanda melarang perbudakan di Hindia Belanda.
Belanda dan Inggris menetapkan batas Kalimantan di sebelah barat.

1860:
Douwes Dekker menerbitkan Max Havelaar of De Koffivellingen der Nederlandsche Handelmaatschappy (Pelelangan Kpi dari Maskapai Dagang Belanda) atau Max Havellar, dengan nama samara Multatuli dari bahasa Latin yang artinya “saya telah banyak menderita”.
Hindia Belanda membuka impor beras.
Sekolah menengah negeri Gymnasium Willem III untuk golongan Eropa di Batavia.
1862:
Tanam paksa lada berakhir.
1864:
Prangko Hindi9a Belanda pertama.
Tanam paksa cengkeh dan pala berakhir.
Belanda mengadakan riset penanaman karet di Jawa dan Sumatra.
Jalur kereta api Semarang-Tanggung diresmikan.
1865:
Tanam paksa nila, teh, dan kayu manis berakhir.
Belanda memperkenalkan tembakau di Deli, Sumatra.
Sekolah Raja (Hoofdenschool) berdiri di Tondano.
1866:
Tanam paksa tembakau berakhir.
1867:
Sekolah Menengah Atas (HBS- Hogere Burger-school) untuk Eropa dan bumiputera terkemuka.
1868:
Belanda membuka tambang minyak di Cirebon. Penambangan minyak pertama di Jawa.
1870:
Pemerintah mengeluarkan Undang-undang Gula (SuikerWet) dan Undang-undang Agraria (Agrarische Wet).
Swastanisasi di sector pertanian mulai berkembang.
Saluran kabel telegraf bawah laut Batavia-Singapura.
Krisis kop[i di Jawa.
1871:
Traktat Sumatra membatalkan penghormatasn Belanda atas kedaulatan Aceh.
Undang-undang tentang Pendidikan di Hindia Belanda.
1872:
Benjamin Frederick Matthes menerbitkan jilid pertama buku Sureq I La Galigo dalam aksara Bugis. Penyusunnya adalah Arung Pancana Toa.
1873:
Perang berkecamuk di Aceh sampai 1903.
Nederlandsch-Indische Spoorwegsmaatschappij (Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda) berdiri.
1875:
Haji Djamari memperkenalkan rokok kretek. Nama “kretek” diambil dari suara cengkeh terbakar “kretek…kretek…”.

1876:
Karet mulai ditanam di Jawa.
Sekolah Rendah Pertama untuk wanita golongan Eropa di Batavia.
1877:
Artikel Pieter Brooshoof di emarangsche Courant berjudul Geef Indie wat Indies is (Kembalikan kepada rakyat Hindia Belanda apa yang merupakan miliknya).
1878:
Tanam paksa gula berakhir.
1880:
Koelie Ordonnantie (Peraturan Kuli) keluar. Majikan boleh menghukum kuli yang dikontrak bila perjanjian kontrak dilanggar.
Pangkalan angkatan laut dibangun di Tanjungpriok.
1882:
Hama menghancurkan tanaman tebu di Jawa.
1883:
Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus. Ledakannya setara 5.000 megatos bom hidrogen. Gelombang pasang (tsunami) setinggi 30 meter menerpa pesisir Lampung dan Banten. Korban tewas setidaknya 36.000 jiwa.
1884:
Krisis gula tebu di Jawa.
Ekspor kopra pertama dari Jawa.
Lim Kim Hok menerbitkan buku Tatabahasa Melayu, pertama yang dibuat oleh non-Belanda.
1885:
Penambangan timah di Bangka dan Belitung, dan minyak bumi di Langkat, Sumatra.
1886:
Dr. Eykman mendirikan Laboratorium Anatomi Patologis dan Bakteriologi.
1887:
Krisis ekonomi melanda Jawa.
1890:
Dordtsche Petroleum Mij. Berdiri untuk mengelola lading minyak di Rembang, Surabaya, Cepu.
1891:
Belanda dan Inggris menetapkan batas Kalimantan di sebelah timur.
Eugene  Dubois menemukan fosil Pithecanthropus erectus di Trinil.
1896:
Seruan Ir. Hendrikus Hubertus van Kol, Geen roof meer ten bate van Nederland (Berhentilah merampok Hindia Belanda demi kepentingan Nederland).
1898:
Belanda membujuk uleebalang di Aceh melawan pemimpin Islam.
Lapangan golf pertama dibangun di Surabaya.
Indische Bond, perhuimpunan Indo berdiri.
1899:
Conrad Theodor van Deventer menulis Een Eereschuld (Utang Budi) di De Gids.
1900
1900:
Sekolah Rendah di Bandung, Magelang, dan Probolinggo untuk mempersiapkan Bumiputera sebagai pegawai.
Tiong Hoa Hwee Koan, perhimpunan Tionghoa berdiri.
Pemutaran film bisu pertama di Batavia pada awal Desember.
1901:
Ratu Wilhelmina mengumumkan Poliitik Etis untuk Hindia Belanda. Nama dinukil dari tulisan Brooshoolf Die Etische Koers in de Koloniale Politiek.
Ejaan Van Ophuysen berlaku.
Dinas Arkeologi berdiri untuk mengurus candi di Jawa.
Pengalihan Tata Niaga Candu (Opium Regie) ke tangan pemerintah mendorong pengusaha Tionghoa menanamkan modal di sector lain.
1902:
Belanda mengakhiri larangan naik haji.
School Tot Opleiding Van Indische Artsen – STOVIA (Sekolah Dokter Bumi Putera) berdiri.
Volkscredietwezen (Jawatan Pegadaian dan Sistem Perkreditan Rakyat) berdiri.
1903:
Landbouwschool (sekolah pertanian) pertama berdiri.
UU tentang desentralisasi kekuasaan (kleine decentraliastie) di Hindia Belanda.
1904:
Belanda dan Portugis membagi Timor menjadi dua.
Johannes B van Heutsz menjadi Gubernur Jenderal. Tak lam,a kemudian mengganti Lange Verklaring (Perjanjian Panjang) dengan Korte Verklaring (Perjanjian Pendek).
1905:
Serikat Buruh  pertama untuk pekerja pembangunan jaringan kereta api berdiri.
Jamiyat Cheir, organisasi warga keturunan Arab pertama, berdiri di Batavia.
Jepang mengalahkan Rusia. Runtuh sudah mitos tentang bangsa Eropa yang tak terkalahkan.
1906:
Pembukaan perkebunan karet di Sumatra.
Majalah olahraga Hindia Belanda Indische Sport terbit.
Technnisch Onderwijs (sekolah teknik) Konongin Wilhelmina School berdiri di Batavia.
1907:
Novelis Bumiputera pertama, Tirto Adhi Soerjo mendirikan Koran dagang berbahasa Melayu, Medan Prijaji dengan modal F 75.000 yang berasal dari pemodal Bumiputera. Pada 1903, Torto Adhi Soerjo sudah menerbitkan Koran Soenda Berita, tetapi tidak berumur panjang karena tidak sukses sebagai bisnis.
Volksschool (sekolah desa) berbahasa daerah kelaas dua pertama.
1908:
VSTP (Serikat Buruh Jalan Kereta Api) menerima anggota Bumiputera.
Bapai Pustaka berdiri.
JM Gantvoort mendirikan biro pariwisata yang resmi di Batavia.
Hollandsch Chineescheschool, sekolah rendah untuk golongan Timur Asing dengan bahasa pengantar Belanda berdiri.
Budi Oetomo berdiri.
Indische Vereeniging berdiri di Nederland.
1909:
Kliring antarbank pertama.
Sekolah Hukum (Rechtsschool)  pertama berdiri.
1910:
Ekspedisi Belanda di Pulau Komodo melaporkan keberadaan Varanus  komodoensis.
Koran berbahasa Cina Sin Po  terbit.
Saluran telepon pertama Batavia-Surabaya.
1911:
Abendanon menerbitkan surat-surat RA Kartini dengan judul Door Duis-ternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
1912:
Serika Dagang Islam didirikan  oleh Kiai Haji Samanhudi.
Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah.
Keuangan Hindia Belanda dan Nederland mulai dipisah.
Indische Partij didirikan oleh Douwes Dekker, Tjipto Mangunkuusumo, dan Ki Hajar Dewantoro dengan cita-cita: “Hindia Bebas dari Nederland”. Mereka menggunakan teknik penggalangan massa secara besar-besaran (rally massa) pada hari deklarasi. Rally massa pertama di Hindia Belanda.
JJ Pangemanan mendirikan organisasi pemuda Roekoen Minahasa.
1913:
Kartini Fonds didirikan di Belanda untuk membantu pendidikan perempuan di Jawa.
Soewardi Soerjaningrat menulis Als in eens Nederlander was (Seandainya Saya Warga Negara Belanda) di De Express.
1914:
MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) untuk Bumiputer dan Timur Asing.
Solah Bumiputera berbahasa pengantar Belanda Hollandsch Inlandscheschool (HIS) pertama untuk golongan Bumiputera dari bangsawan, pegawai negeri, dan tokoh terkemuka.
HJFM Sneevliet mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV).
Organisasi pemuda Pagoejoeban Pasoendan terbwentuk di Batavia.
Perdebatan antara Soetatmo Soeriokoesoemo yang mempertahankan paham nasionalisme Jawa melawan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang membela paham nasionalisme Hindia.
Candi Borobudur mulai direstorasi.
1915:
Sekolah menengah umum  Algemeene Middelbareschool (AMS) pertama. Bagian A untuk kebudayaan, bagian B untuk pengetahuan alam.
Organisasi pemuda se-Jawa mendirikan Tri Koro Dharmo. Suku Jawa demikian domonan sampai-sampai pelajar Sunda dan Madura enggan bergabung.
1916:
Staten-Generaal di Belanda mengizinkan pembentukan Volksraad di Hindia Belanda.
1917:
Organisasi wanita Aisyiyah berdiri.
Organisdasi pemuda se-Sumatra Jong-Sumatranen Bond berdiri.
Indische Vereeniging, Chung Hwa Hui, dan Perhimpunan Indologi membentuk Perserikatan Pelajar Indonesia (Indonesische Verbond van Studeerenden).
Gerakan kepanduan De Nederlandsch-Indische Padvinders berdiri pada 4 September.
Tanam paksa kopi berakhir.
1918:
Volksraad bersidang. Sebanyak 36 % anggota adalah Bumiputera. Masa demokrasi terbatas.
Organisasi pemuda Sarekat Soematra didirikan di Batavia.
Tri Koro Dharmo mengubah nama jadi Jong Java.
Organisasi Jawa Dwipa berkampanye menentang feodalisme Jawa. Pemakaian bahasa Jawa kromo  dianjurkan diganti Jawa ngoko.
Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum mengumumkan “Janji 18 November” (November Belofte) tentang pemberian otonomi kepada Hindia Belanda.
TK Suprana mendirikan usaha “Djamoe Djago” di Wonigiri dan memperkenalkan jamu berwujud serbuk. Awal industri jamu di Indonesia.
“Peristiwa Garut”. Haji Hasan dan keluarga dibunuh polisi setelah menolak menyerahkan padi kepada penguasa. Sejak itu penguasa Hindia Belanda mulai menghadapi pergerakan kebangsaan dengan kekerasan.
Polisi Rahasia (Algemeene Recherchedients) dibentuk.
Kerusuhan antar-suku meletus di Kudus pada 13 Oktober. Persaingan bisnis antara pengusaha rokok kretek Bumiputera dengan Tionghoa jadi salah satu sebab.
Eksperimen pertama untuk pemancar radio di Malabar, Jawa Barat.
1919:
KLM membuka penerbangan Amsterdam-Batavia.
1920:
Technische Hoogeschool (sekarang Institut Teknologi Bandung) berdiri di Bandung.
M Yamin, kumpulan puisi Tanah Air.
Organisasi pemuda Persarikatan Madoera berdiri di Surabaya.
Organisasi pemuda Sarekat Ambon berdiri di Semarang.
Lakon ketoprak politik Babad Ki Ageng Mangir oleg Tjipto Mangoenkoesoemo. Kesenian ketoprak mulai berkembang sebagai media pergerakan kebangsaan.
ISDV mengubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia.
1921:
Organisasi pemuda Persatuan Timor berdiri di Makasar.
Orservatorium Boscha berdiri di Lembang.
1922:
Marah Roesi menerbitkan Sitti Noerbaja.
Ki Hadjar Dewantoro mendirikan Nationaal Onderwijs Taman Siswa.
Indische Vereeniging berubah menjadi Indonesische Vereeniging.
1923:
Lembaga Pasteur pindah dari Batyavia ke Bandung.
Organisasi pemuda Kaoem Betawi berdiri di Batavia.
Pernyataan asas Indonesische Vereeniging tentang: kedaulatan rakyat dalam pemerintahan bangsa Indonesia, percaya pada kemampuan sendiri, dan persatuan.
1924:
Layanan pos udara pertama dari Batavia ke Amsterdam.
Sekolah Hukum Tinggi (Rechts Hogeschool) berdiri di Jakarta.
Buku Gedenkboek Indonesische Vereeniging 1908-1923 terbit di Nederland. Pada sampul luar terdapat gambar bendera merah-putih ddan di bagian tengah  ada kepala banteng.
1925:
BRV (Bataviasche Radio Vereeniging) pemancar radio pertama di Batavia berdiri di Waltevreden, di Hotel Des Indes.
Perhimpunan Indonesia (PI) berdiri.
Jong Islamieten Bond berdiri.
Pementasan pertama wayang kancil oleh Bo Liem.
1926:
Kiai Haji Hasjim Asjari mendirikan Nahdatul Ulama.
Loetoeng Kasaroeng, film bisu pertama yang diproduksi di Hindia Belanda.
Kiai Iljas memperkenalkan pelajaran huruf latin di Tebu Ireng.
Rencana PKI memberontak terbongkar setelah kawat rahasia dari Abdoelmoetalib jatuh ke tangan pemerintah. Pemberontakan pertama melawan kolonialis Belanda oleh partai politik.
Pidato Mohammad Hatta selaku Ketua PI “Struktur Perekonomian Dubnia dan Pertentangan Kekuasaan” (Ecinimische weerldbouw en machtstegenstellingen).
“KOnvensi Hatta-Samaoen”. Intinya, PI sebagai partai rakyat kebangsaan Indonesia dan PKI mengakui kepemimpinan PI.
1927:
Soekarno mendirikan PNI (Perserikatan Nasional Indonesia).
Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Poliitik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) didirikan, dan diresmikan pada Juli 1928. Semua organisasi menerima cita-cita kebangsaan di atas kedaerahan, lapisan social, dan agama.
1928:
Poeteosan Congres Pemoeda Pemoeda Indonesia: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Lagu Indonesia Raya dilantunkan oleh WR Soepratman.
Saluran telepon internasional Batavia-Belanda dibuka.
Indonesie Vrij, pledoi Hatta di Nederland.
Dr. Soetomo, Dr. Samsi, dan Ir. Anwari mendirikan bank untuk orang Indonesia bernama “Bank Nasional Indonesia” di Surabaya.
1929:
Kelompok pandu bergabung dalam “Persaudaraan Antara Pandu Indonesia” kecuali Hizbul Wathan.
Pertunjukan film “bersuara” pertama di Princesse Schouwburg, Surabaya.
1930:
“Indonesia Menggugat”, pledoi Soekarno di Pengadilan Negeri (Landraad) Bandung.
1931:
Kioninklijke  Nederlandsch Indische Luchtvaart Mij – KNILM (Maskapai Penerbangan Kerajaan Hindia Belanda) berdiri.
1932:
Soekarno merumuskan konsep “Nasionalisme-Marhaenistis”.
1933:
Poedjangga Baroe oleh Sutan Takdir Alisjahbana.
Ter Haar, Oppenoorth, von Koeningswald menemukan fosil  Pithecantropus soloensis di Ngandong, Blora.
Awak kapalasal Eropa dan Indonesia di kapal  De Zeven Provicien memberontak karena penurunan gaji, tetapi pers asing mengaitkan dengan pergerakan kemerdekaan.
Kelompok pergerakan kebangsaan mendirikan Solose Radio Vereeniging (SRV).
1936:
Kereta api malam pertama dengan trayek Batavia-Surabaya. Bis untuk umum mulai beroperasi.
“Petisi Soetardjo”. Soetardjo Kartohadikoesoemo mengajukan petisi ke Volksraad berisi permohonan kepada Ratu dan Staten General supaya menetapkan konferensi untuk merumuskan pemberian otonomi bertahap kepada Hindia Belanda antara wakil Hindia Belanda dan Nederland dengan kedudukan sederajat.
1937:
Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) berdiri. Ketua: Agus Djaja, Sekretaris: Soedjojono.
Kantor Berita Antara berdiri.
Kelompok “Dardanella” tampil di Rangoon, di hadapan Jawaharlal Nehru. Rombongan stambul Indonesia pertamayang tampil di mancanegara.
1938:
Orang asing pertama sampai di Lembah Baliem, Irian.
Armijn Pane menerjemahkan Door Duisternis Tot Lich (Habis Gelap Terbitlah Terang) ke bahasa Melayu.
Organisasi radio non-pemerintah “Perikatan Perkumpulan  Radio Ketimuran” (PPRK) diasahkan sebagai badan hukum.
1939:
Gabungan Politik Indonesia (GAPI) berdiri.
1941:
Von Koeningswald menemukan fosil Meganthropus palaeojavanicus.
1942:
Jepang menduduki Indonesia.
Chairil Anwar menulis puisi Nisan.
1943:
Jepang menyekap misionaris Kristen asal Eropa. Agama Kristen mulai berkembang dengan corak Nusantara.
Tan Malaka menenerbitkan Madilog (Materialisme-Dialektika-Logika).

1944:
Istilah “rupiah” mulai dipakai untuk menggantikan “gulden” sebagai nama mata uang di Indonesia.
1945:
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Tentara Keamanan Rakyat dibentuk.
Akademi Militer Tangerang berdiri.
Perang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia mulai berkecamuk di Nusantara.
1946:
Ibu kota RI pindah ke Yogyakarta.
Kabinet RI dirombak dengan tambahan Departemen Agama.
Oeang Republik Indonesia menjadi mata uang RI.
Persatuan Wartawan Indonesia berdiri.
1947:
Ejaan Soewandi berlaku.
1948:
Idrus menulis Kesusastraan Indonesia.
Pekan Olahraga Nasional pertama di Solo.
PKI memberontak di Madiun.
1949:
Konferensi Meja Bundar.
Universitas Gadjah Mada berdiri di Yogyakarta.
Presiden RI Soekarno kembali ke Jakarta sebagai Presiden Reopublik IndonesiaSerikat (RIS).
Nilai tukar rupiah dipatok Rp 3,8 per dolarAS.
1950:
“Gunting Sjafruddin”. Semua uang NICA dan De Javasche Bank digunting. Potongan sebelah kiri jadi alat pembayaran yang sah  dengan nilai separuh dari nilai awal.
Usmar Ismail mendirikan Perfini dadn membuat film Long March Siliwangi dan Enam Djam di Djogdja.
NV Garuda Indonesia Airways berdiri.
Pemerintah mengharuskan wanita Bali berpakaian lebih lengkap bila berada di tempat umum.
1951:
Garuda Pancasila menjadi lambang negara RI.
1952:
Nilai tukar rupiah ditetapkan Rp 11,40 per dolar AS.
1953:
Agama mulai jadi mata pelajaran di sekolah.
Per 1 Juli De Javasch Bank menjadi Bank Indonesia.
1955:
Konferensi Asia Afrika di Bandung.
Pemilihan Umum multipartai untuk memilih anggota Parlemen dan Konstituante. Sebanyak 39 juta pemilih memberikan suara. Awal demokrasi parlementer.
1957:
SOB (Staat van Oorlog Beleg). Negara dinyatakan dalam keadaan darurat.
1958:
Indonesia merebutPiala Thomas, lambang supremasi bulu tangkis dunia beregu putra untuk pertama kali.
Jenderal AH Nasution mengemukakan gagasan tentang peran social-politikABRI dalam Dies Natalis Akademi Militer (AMN).
1959:
Ejaan Melindo.
Nilai rupiah merosot 90% setelah pemerintah memangkas nilai rupiah (sanering) per 24 Agustus.
Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Era Demokrasi Terpimpin.
1960:
Lima dari delapan anak-anak Koeswoyo mendirikan Kus Bros. Mereka adalah Koesjono (Jon, 27 tahun), Koestono (Tony, 23), Koesnomo (Nomo, 20), Koesyono (Yon, 17), dan Koesroyo (Yok, 16). Pada 1963 berubah menjadi Kus Bersaudara, alalu Koes Bersaudara (1965), dan akhirnya Koes Plus (1969).
Music dangdut mulai berkembang. Kelompok yang memainkannya dikenal sebagai “Orkes Melayu”.
1962:
Took Serba Ada Sarinah berdiri di Jl MH Thamrin Jakarta. Muda-mudi memanfaatkan Sarinah sebagai ajang cuci-mata.
Siaran pertama Televisi Republik Indonesia.
1963:
Pemerintah memperkenalkan celana pendek  untuk penduduk Irian Jaya.
1964:
Pemerintah menetapkan nilai rupiah Rp 250 per dolar AS.
1965:
Istilah “mahasiswa” mulai menggantikan “pemuda” dalam perbincangan politik.
“Pembantaian Uang”. Rp 1.000 dinilai Rp 1.
“Gerakan 30 September”. PKI dituduh sebagai pelaku gerakan.
1966:
Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto lewatSurat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Namun naskah asli Supersemar tidak jelas rimbanya.
Anak-anak muda membuat stasiun pemancar radio amatir, cikal bakal radio siaran swasta.

1967:
Soeharto menjadi Presiden RI kedua.
UU PMA berlaku, disusul UU PMDN. Keduanya menguntungkan pemodal baru, tidak kepada pemodal lama. Pemodal lama, yang umumnya pribumi, cemburu kepada pemodal baru yang umumnya Tionghoa.
1968:
Taman Ismail Marzuki didirikan oleh Gubernur DKI Ali Sadikin dan beberapa seniman.
Rudy Hartono menyabet  gelar All England yang pertama.
1969:
Konsep Pelita (Pembangunan Lima Tahun) mulai dijalankan.
1970:
Penjadwalan kembali utang Indonesia. Pembayaran utang pokok mulai 1970 sampai 1999.
Nilai tukar rupiah ditetapkan Rp 378 per dolar AS.
Bahasa prokem mulai mewabah di Jakarta.
1971:
Nilai tukar rupiah menjadi Rp 415 per dolar AS menyusul pembebasan dolar AS dari ikatannya dengan emas berdasarkan aturan Bretton Woods.
1972:
Ejaan Yang Disempurnakan berlaku.
1973:
Perang di Timur Tengah memicu harga minyak bumi naik (oil shock).
Piala Citra dilombakan dalam Festival Film Indonesia di Jakarta.
1974:
Malapetaka Lima belas Januari (Malari).
Pembangunan pemukiman secara besar-besaran di Depok untuk kelas menengah. Era Perumnas dimulai.
Presiden Soeharto mencetuskan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Prasetya Pancakarsa) dan menjadi Ketetapan MPR  pada 1978.
1975:
Indonesia merebut Piala Uber, lambang supremasi bulutangkis dunia beregu putri.
Pasukan RI masuk ke Timor Timur.
1976:
Timor Timur jadi bagian RI.
Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) berdiri.
Roket Delta 2914 membawa Satelit Palapa A1 mengorbit bumi di 108 derajat Bujur Timur.
1977:
Bursa Efek Jakarta dibuka.
1978:
Indonesia menganut “Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali” per 15 November. Rupiah ditetapkan Rp 625 per dolar AS.
1979:
Oil Shock kedua.
1980: program “ABRI Masuk Desa” mulai dijalankan.
1981:
Pramoedya Ananta Toer menerbitkan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, dua novel pertama dari Tetralogi. Novel ketiga Jejak Langkah (1985), dan keempat Rumah Kaca (1988).
1983:
Penembak Misterius (Petrus) membunuh preman-preman di pelosok Indonesia.
Nilai tukar rupiah ditetapkan  Rp 970 per dolar AS.
1984:
Kewajiban menggunakan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi di Indonesia.
Bank Indonesia menerbitkan “Sertifikat Bank Indonesia”.
Kerusuhan di Tanjungpriok.
1985:
Indonesia menerima penghargaan FAO (Food ang Agriculture Organization) atas sukses swasembada beras.
Bank Indonesia memperkenalkan “Surat Berharga Pasar Uang”.
1986:
Nilai tukar rupiah Rp 1.644 per dolar AS.
1987:
Laporan tentang kasus HIV (human immunodeficiency virus)/ AID (acquired immunodeficiency syndrome) pertama di Indonesia.
Gedung bioskop dengan beberapa layar sekaligus (Cineplex) mulai berkembang.
“Gebrakan Sumarlin I”. Pemerintah mewajibkan empat BUMNmenarik deposito senilai Rp 1,3 trilyun untuk membeli SBI.
1988:
Becak dilarang beroperasi di Jakarta per April 1990 menurut Perda No.11/1988.
Paket Kebijakan 27 Oktober 1988. Salah satu butir memperkenankan bank swasta berdiri dengan modal disetor Rp 10 milyar. Jumlah bank tabungan segera melonjak jadi 220 dari 111.
1989:
Orang asing diizinkan masuk ke Timor Timur.
Siaran televise swasta pertama (RCTI).
1990:
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) berdiri.
1991:
Aparat keamanan menembaki pelayat di Santa Cruz, Timor Timur.
“Gebrakan Sumarlin II”. Pemerintah mewajibkan 12 BUMN menarik deposito senilai Rp 8 trilyun untuk membeli SBI.
1992:
Susy Susanti mempersembahkan medali emas  pertama  untuk Indonesia dari cabang bulu tangkis tunggal putri; kemudian disusul Alan Budikusumah untuk emas kedua dari cabang bulu tangkis tunggal putra pada Olimpiade Barcelona.
Tsunami setinggi 26 meter menyapu Flores. Lebih dari seribu orang tewas.
1994:
Usaha Internet Service Provider (ISP) mulai berkembang di Jakarta. Sampai 1995 setidaknya  ada 14.000 pemakai internet di Indonesia. Sebanya 10.000 orang di Jakarta, 1.000 orang di Bandung, dan 3.000 orang di Suirabaya.
Perrtemuan pemimpin negarta APEC di Bogor, mendeklarasikan perdagangan bebas mulai 2002.
1995:
Keputusan Presiden No 82-83 tahun 1995 tentang pembukaan lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan dengan dalih mempertahankan swasembada pangan. Proyek itu tidak hanya gagal, bahkan merusak struktur tanah gambut.

1996:
Kerusuhan di Jakarta (27 Juli), Situbondo (10 Oktober), Tasikmalaya (26 Desember), dan Sanggau Ledo (30 Desember).
Kasus HIV pertama pada bayi.
1997:
Kebakaran hutan melanda Kalimantan. Asap kebakaran menyebar ke negara tetangga.
Gagal panen di berbagai pelosok Nusantara karena El Nino dan La Nina.
Rupiah dibebaskan dari ikatan dengan dolar AS pada 14 Agustus jam 09.00. nasib rupiah diserahkan ke tangan pasar. Nilai tukar rupiah l;angsung melemah 10% pada hari itu juga. Awal krisis ekonomi.
1998:
Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent di hadapan Direktur IMF Michael Camdessus.
Nilai tukar rupiah mencapai Rp 16.000 per dolar AS pada Februari 1998. Masyarakat panik dan memborong barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Empat mahasiswa Universitas Tri Sakti, Jakarta, gugur tertembak setelah berdomontrasi.
Kerusuhan 13-15 Mei meletus di Jakarta dan Solo dengan sasaran suku Tionghoa.
Mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR menuntut Sidang Istimewa MPR. Presiden Soeharto mundur dari jabatan.  Bachruddin Jusuf Habibie menjadi Presiden RI ketiga.
Pemerintah mengumumkan 40 juta orang rawan pangan. Indonesia memerlukan impor beras 3,5 juta ton menurut FAO.
1999:
Pemilu pada 7 Juni. Pemilu kedua setelah 1955 yang dinilai terlaksana secara jujur dan adil. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memperoleh suara terbanyak.
Kiai Haji Abdurrahman Wahiod menjadi Presiden RI pertama yang terpilih lewat pemungutan suara. Calon presiden dari PDIP, Megawati Sukarniputri kalah suara, tetapi menang dalam pemilihan wakil presiden. Kerusuhan sempat meletus di Bali dan Solo menyusul kekalahan Megawati.
Timor Timut merdeka lewat referendum yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Adullah, Taufik, dkk. 1993. Film Indonesia Bagian I (1900-1950).Jakatra: Dewan Film Nasional.
Geertz, Clifford, 1963. Agricultural Involution: The Processes of Ecological Change in Indonesia.. University of California Press.
Lombard, Denys, 1996. Nusa Jawa Silang Budaya. Jakarta: Gramedia Putaka Utama.
Mestoko, Sumarsono, dkk. 1985. Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Moerdowo, RM. 1982. Wayang: It’s Significance in Indonesia Society. Jakarta: Balai Pustaka.
Pieter Creutzberg dan JTM van Laanen., 1987. Sejarqah Statistik Ekonomi Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Poesponegoro, m.d. dan Notosusanto, Nugroho, 1984. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Redaksi KPG, 1998 &1999. Illustration Database: Krisis Ekonomi, Jilid I sampai XII. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Simbolon, Parakitri T, 1995. Menjadi Indonesia I. Jakarta, Kompas.
Simbolon, Parakitri T, 1999. Pesona Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Smith, Edward C, 1983. Sejarah Pembreidelan Pers Indonesia. Jakarta: Grafiti Pres.
Soebagyo. 1977. Sejarah Pers Indonesia. Jakarta: Dewan Pers.
Tim Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976/1977. Sejarah Seni Rupa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tim Penulis LP3ES, 1995. Bank Indonesia: Dalam Kilasan Sejarah Bangsa. Jakarta: LP3ES.
Tim Redaksi, 1980. Ensiklopedi Indonesia Jilid 1-7. Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve.
Tim Redaksi, 1998. Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 1-18. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.
Toa, Arung Pancana, 1995. I La Galigo; menurut naskah NBG 188. Jakarta: Djambatan.
Toer, Pramoedya A., dkk, 1999. Kronok Revolusi Indonesia Bagian I  (1945). Jakartya: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Toer, Pramoedya A. dkk, 1999. Kronik Revolusi Indonesia Bagian II (1946). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Zoetmulder, P.J. 1983. Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
Majalah/Suratkabar:
Scientific American, Far Eastern Economic Review, National Geographic, Kompas.

EKOLOGI POLITIK

November 3, 2010

KATA PENGANTAR

Perlahan-lahan, umat manusia terbiasa dengan cuaca yang berubah dan cenderung menjadi ekstrem. Mengikuti pemberitaan, masih segar dalam ingatan bagaimana China dan Pakistan dihantam banjir dahsyat berkepanjangan, menelan korban ratusan nyawa. Sementara itu, di Rusia gelombang panas menimbulkan kebakaran hutan hebat. Sementara itu, di Tanah Air sendiri, pelajaran sekolah dasar yang membagi negeri dalam dua musim—kemarau dan hujan—sulit dipercaya lagi karena April-Oktober yang harusnya musim kemarau diwarnai hujan dengan curah tinggi.

Mengamati fenomena itu, mantan reporter lingkungan The New York Times, Andrew C Revkin, menulis, (cuaca) yang ekstrem itu kini sudah jadi lumrah/biasa (IHT, 9/9). Kalau hanya itu, meski merisaukan, manusia masih bisa berupaya menanggulangi. Yang lebih serius, menurut Revkin, ekstremitas cuaca ini hanya pendahulu (preview) dari fenomena mendatang—yang tentunya lebih hebat—bila emisi (karbon) tak bisa dikendalikan.

Jika ini merupakan ”kebenaran yang tak mengenakkan” seperti dikatakan Al Gore, memang itulah yang kini dirasakan manusia, yang gencar menyemprotkan karbon ke udara semenjak dimulainya Revolusi Industri di pertengahan abad ke-18.

Seperti juga disinggung Revkin, sejak berpuluh tahun lalu, ilmuwan telah meramalkan bahwa di dunia yang telah dipanaskan gas-gas rumah kaca, cuaca yang berpotensi mendatangkan bencana—seperti gelombang panas, kekeringan, dan banjir—akan terjadi dengan frekuensi kian meningkat. Dalam lingkup lokal, frekuensi terjadinya hujan lebat disertai petir atau puting beliung hebat bisa menjadi salah satu rujukan.

Menanggapi fenomena cuaca ekstrem yang dipicu pemanasan global ini, sebetulnya manusia telah mengambil langkah. PBB menyelenggarakan Konferensi Perubahan Iklim, meskipun bangsa-bangsa tampaknya masih dibelenggu kepentingan nasional masing-masing, sehingga kesepakatan global untuk pengurangan emisi masih sulit dicapai.

Desember ini di Meksiko akan berlangsung pertemuan internasional untuk mencapai kesepakatan pemangkasan karbon. Berdasarkan pengalaman Konferensi Kopenhagen tahun silam, nuansa pesimisme mulai muncul.

Selain mengupayakan pemangkasan emisi karbon, manusia juga mengupayakan pemanfaatan energi baru lebih ramah lingkungan meskipun penggunaan bahan bakar fosil yang memancarkan karbon masih dominan hingga kini. Ini pula yang oleh sebagian kalangan dilihat sebagai pilihan lebih masuk akal dibandingkan dengan pemangkasan emisi karbon secara drastis dan segera.

Pandangan yang disebut terakhir itu muncul dari penulis buku Cool It: The Skeptical Environmentalist’s Guide to Global Warming, Bjorn Lomborg, yang kini juga menjadi Kepala Pusat Konsensus Kopenhagen. Dalam artikelnya di Project Syndicate (The Jakarta Post, 14/9), Lomborg menyebutkan hasil yang diperoleh dari pertemuan para ekonom yang diminta mengkaji ongkos yang harus dibayar untuk menanggulangi emisi karbon.

Dalam laporan berjudul ”Smart Solutions to Climate Change” yang terbit bulan ini dimuat pula pemikiran ekonom iklim Richard Tol yang menegaskan bahwa janji besar pemangkasan karbon yang drastis, segera, merupakan strategi yang salah.

Lebih jauh ditambahkan, agar peningkatan suhu terjaga di bawah 2 derajat celsius, seperti yang dijanjikan negara-negara industri (G-8), pengurangan emisi yang harus dilakukan pada pertengahan abad ini adalah 80 persen. Dengan itu, kerugian akibat iklim yang bisa dihindari adalah 1,1 triliun dollar AS. Namun, pada sisi lain, upaya itu juga akan menghambat pertumbuhan dengan kerugian 40 triliun dollar AS per tahun.

Itu sebabnya, menurut Lomborg, strategi yang lebih jitu dari pemangkasan karbon adalah peningkatan secara besar-besaran riset dan pengembangan energi alternatif.

Di tengah berbagai keruwetan akibat ongkos, akibat perbedaan pendapat yang tajam antarnegara dalam penerapan strategi, ada lagi pandangan lain yang dikemukakan terkait emisi karbon dan pemanasan global.

Mengutip laporan sampul jurnal triwulanan The American Scholar, kolumnis George Will (Newsweek, 20/9) menulis bahwa ”Bumi tidak peduli jika Anda mengendarai sebuah (mobil) hibrida”. Di dalam jurnal tersebut ada juga esai yang ditulis oleh salah seorang peraih Hadiah Nobel Fisika tahun 1998, yakni Robert B Laughlin, yang kalimat kuncinya dikutip di awal tulisan ini.

Merusak Bumi yang tua ini, menurut Laughlin, jauh lebih mudah dibayangkan daripada dilaksanakan. Sebelum ini sudah ada banyak letusan gunung berapi, tumbukan meteor, semua perusakan dengan kedahsyatan melebihi apa yang bisa dilakukan oleh manusia, toh Bumi masih baik-baik saja.

Menarik memang fakta yang dikemukakan oleh Will. Bahkan, ketika manusia membakar habis semua bahan bakar fosil dan emisi karbonnya memenuhi atmosfer, Bumi akan mampu melarutkan sebagian besar karbon tersebut, mungkin setelah satu milenium, ke lautan. Kalau sudah dilarutkan, tingkat konsentrasi karbon paling hanya sedikit lebih tinggi daripada saat ini. Sisa karbon dioksida di atmosfer kemudian akan ditransfer ke batuan hingga dalam puluhan atau ratusan ribu tahun konsentrasi gas rumah kaca ini di laut dan udara akan kembali ke tingkat sebelum manusia muncul.

Dalam kurun waktu manusia, itu proses sepanjang masa. Namun, dalam skala geologi yang jutaan tahun, itu bak sekejap mata.

Apa yang diuraikan George Will di The American Scholar menjelaskan bagaimana Bumi memiliki dayanya sendiri untuk memulihkan diri. Satu yang tak dapat dilakukan adalah membalik kepunahan biodiversitas, seperti memunculkan kembali dinosaurus.

Persisnya di sini pula manusia didorong untuk berbuat baik terhadap Bumi, karena tanpa kesadaran itu, bisa jadi spesies manusia sendiri yang akan punah sebagaimana dinosaurus dan spesies lain yang sudah punah sebelum ini. Tentu Bumi juga memiliki suratan nasibnya dalam konteks evolusi Matahari, tetapi itu baru akan terjadi lebih dari satu miliar tahun mendatang.

Dengan demikian, mengerjakan hal yang baik bagi Bumi jelas pertama-tama ditujukan untuk pengamanan pelestarian Homo sapiens dan keragaman hayati.

Tulisan ini dibuat guna menyadarkan kita sebagai warga dunia, bahwa dunia ini semakin rentan karena ulah tangan-tangan manusia yang serakah. Manusia, yang memang memiliki sifat dasar egois, ingin menguasai seluruh alam ini tanpa memperhitungkan bahwa apabila alam ini dirusak demikian parah, akan ikut memusnahkan dirinya sendiri.

Jelas, isi tulisan ini jauh dari sempurna, karena selain tipis, referensinya juga sangat sedikit. Malahan ada referensi yang belum sempat tertuliskan, karena antara waktu penyusunan dan naik cetak sangat sempit. Namun, bukan itu alasan yang paling utama. Yang jelas, memang pengetahuan penulis sangat minim.

Tulisan ini ini ditulis dengan menggunakan pendekatan historis, antropologis, dan sosiologis.  Oleh karena itu, membaca tulisan ini membutuhkan kejelian dalam membacanya, karena akan terasa sedikit membosankan sebab ada paragraf-paragraf diulang-ulang; hal ini tidak bisa dihindari agar pemahamannya tidak terpotong-potong.

Seperti disebutkan di atas, tulisan ini jauh dari sempurnya. Tiada yang lebih diharapkan dari pembaca selain memaafkan penulis yang telah berani menampilkan ketidaksempurnaan ini. Namun, semoga di balik ketidaksempurnaan ini ada manfaat yang bisa ditarik para pembaca.

Semoga kita selalu mendapatkan perlindungan dari-Nya. Amin.

Bandung, September 2009.

BAB I

PENDAHULUAN

Dunia yang kita diami ini semakin lama semakin terancam kelestariannya. Bukan karena dunia memang sudah tua, namun karena ulah manusia yang menempatinya. Manusia telah merusak alam tempat mereka tinggal. Darat dan laut mereka eksploitasi tanpa mengindahkan masa depan anak-cucu mereka. Hutan digunduli, dan setiap harinya dunia kehilangan 10 ha hutannya karena dibabat manusia. Lautnya pun tidak disisakan. Pantai direklamasi sampai terumbu karangnya tempat biota laut hidup dan mencari makan musnah. Atau kalau bukan karena reklamasi pantai, maka laut dirusak terumbu karangnya oleh tangan-tangan serakah pencari ikan dengan bom atau racun. Contohnya, Indonesia memiliki terumbu karang terluas di dunia, yaitu 7.500 km, tapi yang baik tinggal 7%, 63% rusak parah, dan yang musnah 30%. Itu semua bukan karena alam, tetapi karena ulah manusia yang serakah dan tidak menghiraukan masa depan.

Buku ini, meskipun tipis, mencoba menguraikan akar permasalahan keserakahan manusia tersebut sehingga mereka berani menghancurkan satu-satunya alam tempat berpijaknya. Dimulai dengan uraian tentang biosfir dan ekumene. Hal ini penting, agar kita menyadari bahwa makhluk yang diberi nama oleh Teilhard de Chardin sebagai biosfir ini akan habis apabila manusia tidak memelihara alam sebagaimana mestinya. Dan, apabila biosfir musnah, maka musnah pula isi bumi ini, alias kiamat!

Keserakan manusia semakin menjadi-jadi setelah terjadi Revolusi Industri di Inggris lalu dipolitisasi oleh Negara. Perusakan atas nama kepentingan “pembangunan” dilakukan oleh sebuah Negara, baik di dalam negerinya sendiri maupun di negeri orang. Mereka tidak mau tahu bahwa meskipun perusakan itu dilakukan di negeri orang (lain) tapi dampaknya akan mengglobal, karena negaranya ada pada bulatan bumi yang sama. Sehingga apabila di belahan bumi lain rusak alamnya akan mempengaruhi iklim seluruh permukaan bumi. Manusia harus menyadari bahwa alam itu akam membentuk peradaban manusia, bukan sebaliknya. Oleh karena itulah maka di sini pun akan dibahas tentang ekumene, meskipun tidak terlalu lengkap.

Meskipun Revolusi Industri telah berlalu beberapa abad yang lampau, namun dampaknya akan terus terasa. Sekarang kita bisa merasakan bagaimana gerahnya bumi kita ini. Daerah yang tadinya sejuk –seperti Bandung—kini terasa panas. Apalagi daerah yang tadinya panas, semakin menyengat. Alam dan peradaban itu sesungguhnya saling mempengaruhi. Manusia yang menghargai alam dan mengelola alam dengan baik adalah manusia yang memiliki peradaban yang tinggi. Tetapi, karena kemajuan ilmu semakin menumbuhkan rasa kepenasaran manusia untuk mengembangkan keserakahannya dan egoismenya, maka timbullah keinginan untuk menguasai alam dan seluruh isinya, termasuk manusia di luar dirinya. Akibatnya, terjadilah perang di mana-mana. Ekumene, tempat peradaban manusia bersemi, terancam kelestariannya. Keserakahan manusia yang menciptakan budaya modern yang tidak menghargai sesama makhluk, baik manusia maupun non-manusia.

Demikian pentingnya permasalahan pelestarian alam ini, maka dalam buku yang tipis ini kita akan membahas tentang biosfir, ekumene, dan kebudayaan. Kebudayaan penting dibahas secara teoritis, supaya kita tahu mengapa manusia suka merusak alam, dan meskipun sudah banyak terjadi bencana yang ditimbulkannya, manusia tidak jera-jeranya terus saja –malahan secara sistematis— memporakporandakan bumi yang satu ini tanpa memikirkan bahwa anak-cucunya juga membutuhkannya. Kebudayaan modern ini bermula dari Revolusi Industri di Inggris. Oleh karena itulah, maka dalam pembahasannya, yang menjadikan objek dalam buku ini adalah negara yang secara langsung bersinggungan dengan Revolusi Industri. Indonesia, meskipun pernah dijajah oleh Belanda, tidak dibahas karena penjajah Belanda tidak mengakibatkan rakyat jajahannya memiliki budaya modern. Lain dengan Inggris dan Prancis, misalny.

BAB II

BIOSFIR SEBAGAI SARANA KEHIDUPAN

 

Biosfir adalah istilah yang diciptakan oleh Teilhard de Chardin, yang merujuk ke sebuah lapisan tanah kering, air, dan udara yang tipis yang menyelimuti sekeliling bola bumi. Sekarang ini biosfir merupakan satu-satunya habitat –yang selalu bisa diakses—bagi seluruh spesies kehidupan di muka bumi ini.

Volume biosfir secara rijid terbatas, dan hanya berisikan persediaan sumber-sumber yang terbatas pula, sehingga berbagai spesies kehidupan harus menata diri untuk mempertahankan hidupnya. Sebagian sumber –yang terbatas ini– bisa diperbaharui, dan sebagian lainnya tidak tergantikan. Spesies apapun yang memanfaatkan sumber-sumber yang dapat diperbaharui ataupun menguras sumber-sumber yang tidak dapat diganti, berarti sedang berusaha memusnakan dirinya sendiri. Jumlah spesies yang telah punah dan meninggalkan jejak-jejak dalam catatan geologis sangat banyak dibandingkan dengan jumlah yang masih bisa bertahan hidup.

Dalam hal luasnya, biosfir sangatlah kecil. Batas atasnya mungkin sama dengan ketinggian maksimum stratosfir yang masih bisa dilalui pesawat terbang. Batas bawahnya adalah kedalaman di bawah permukaan bagian solidnya yang masih bisa ditambang dan dibor oleh para insinyur. Ketebalan biosfir, antara dua batas itu, cukup tipis bila dibandingkan dengan panjang radius bola bumi yang dilapisinya, seperti kulit halus pada manusia. Dan bola bumi ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan palnet-palnet besar matahari lainnya. Bola bumi ini juga jauh sekali jaraknya dari palnet-planet tersebut yang “mengelilingi” matahari dalam ortbitnya masing-masing, yang sebenarnya tidak berbentuk bulat tetapi elips. Selanjutnya, matahari kita hanyalah salah satu dari matahari-matahari yang nyaris tidak terhingga jumlahnya yang membentuk galaksi kita, dan galaksi kita juga hanyalah salah satu dari galaksi-galaksi yang jumlahnya tidak diketahui (semakin banyak galaksi yang diketahui seiring dengan semakin canggihnya teleskop kita). Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan dimensi-dimensi bagian dari kosmos fisik yang kita ketahui, dimensi-dimensi biosfir kita tak terhingga kecilnya.

Biosfir tidak sama tuanya dengan planet bumi yang diselimutinya. Biosfir adalah sebuah pertumbuhan yang tidak normal –orang bisa menyebutnya dengan lingkaran atau kerak—yang terjadi lama setelah lapisan kulit palnet bumi ini cukup dingin bagi komponen-komponennya, yang aslinya berupa gas untuk mencair dan memadat. Hampir bisa dipastikan bahwa hanya biosfirlah yang kini ada dalam tata surya kita, dan mungkin dalam tata surya kita ini tidak ada biosfir lain yang telah atau akan ada. Tentu saja tata surya ini, seperti biosfir kita, hanya sejumput yang sangat kecil dari bagian kosmos fisik yang telah diketahui. Mungkin matahari-matahari lain –yang banyak jumlahnya—memiliki planet-planet. Dan, di antara planet-planet ini ada sebagian yang, seperti planet-planet kita juga, mengelilingi matahari-mataharinya dengan suatu jarak di mana mereka, seperti planet-planet kita, dapat menumbuhkan biosfir-biosfir yang membungkus permukaannya. Tetapi, kalaupun sesungguhnya ada potensi biosfir-biosfir lain, kita tidak percaya begitu saja bahwa biosfir-biosfir ini benar-benar bisa didiami oleh makhluk-makhluk hidup, seperti biosfir kita. Dalam sebuah habitat yang potensial bagi kehidupan, potensialitas ini tidak selalu teraktualisasikan.

Konfigurasai fisik dari materi yang terstruktur secara organik telah diketemukan. Tetapi, sebagaimana telah diketahui sebelumnya, muatan-muatan fisik dari kehidupan, kesadaran, dan tujuannya tidak sama seperti juga kehidupan, kesadaran dan tujuan itu sendiri. Kita tidak tahu bagaimana atau mengapa kehidupan, kesadaran, dan tujuan telah ada mengitari permukaan planet kita. Namun kita mengetahui bahwa konstituen-konstituen material biosfir kita telah diredistribusikan secara spasial dan disusun kembali secara kimiawi akibat interaksi antara organisme hidup dan materi anorganik. Kita mengetahui bahwa terciptanya organisme-organisme “primnitif” menjadi filter yang menyaring radiasi yang secara terus-menerus membombardir biosfir kita dari matahari dan sumber-sumber eksternal lain, sehingga kekuatan radiasi tersebut bukan hanya dapat ditoleransi tetapi juga ramah terhadap bentuk-bentuik kehidupan yang “lebih tinggi” (istilah “lebih tinggi” ini berarti lebih dekat dengan bentuk kehidupan spesies homo sapiens –sebuah penggunaan kata yang sifatnya relatif dan subjektif).

Kita juga mengetahui bahwa materi yang terkandung di dalam biosfir telah dan selalu bertukar tempat atau “didaur ulang” antara bagiannya yang, pada suatu momentum, tidak bernyawa sekaligus bernyawa. Dan, dalam bagian yang bernyawa, sebagian berupa flora dan sebagian lagi fauna. Dalam bagian yang berupa fauna, sebagian anggotanya non-manusia dan sebagian lagi manusia. Biosfir ini ada dan bertahan hidup berkat keseimbangan kekuatan-kekuatan sensitif yang mengatur dan mempertahankan diri. Konstituen-konstituen dari biosfir ini bersifat interdependen, dan manusia bergantung pada hubungannya dengan biosfir sisanya, sama seperti konstituen-konstituen kekinian yang lain.

Dengan berpikir, manusia dapat membedakan dirinya dari menusia lain, dari bagian biosfir lain, dan dari bagian alam semesta yang bersifat fisik dan spiritual. Watak manusia, termasuk kesadaran dan suara hati secara fisiknya, juga terletak di dalam biosfir, dan kita tidak mempunyai bukti bahwa manusia individual atau umat manusia secara keseluruhan memiliki, atau dapat memiliki, eksistensi yang melampaui kehidupannya sendiri di biosfir ini. Jika biosfir berhenti menjadi habitat bagi kehidupan, maka manusia, sejauh pengetahuan kita, akan mengalami kepunahan yang kemudian juga akan menimpa setiap bentuk kehidupan lain.

Pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki sekarang menunjukkan sebuah kesimpulan bahwa habitat warga biosfir di permukaan planet bumi akan selalu dibatasi oleh selimut ini sebagai tempat kehidupan dalam bentuk yang kita kenal. Meskipun mungkin ada biosfir-biosfir lain yang bisa ditinggali oleh warga biosfir kita, kita tidak akan mungkin menjangkau dan mengkoloninya karena kemungkinan ini tidak bisa dinalar. Senyatanya, fantasi ini hanyalah utopia.

Jika kita berkesimpulan bahwa biosfir kita, yang selama ini menjadi satu-satunya habitat kita, juga merupakan satu-satunya habitat fisik yang selama ini kita miliki, maka sebenarnya kesimpulan tersebut mengingatkan kita untuk mengkonsentrasikan pikiran dan upaya pada biosfir ini: untuk meneliti sejarahnya, meramalkan prospeknya, dan untuk melakukan segala sesuatu yang dapat menjamin bahwa biosfir ini –bagi kita biosfir satu-satunya—akan tetap bisa ditempati sampai akhirnya tidak bisa ditempati lagi (uninhabitable) akibat kekuatan-kekuatan kosmis yang berada di luar kendali kita.

Kekuatan material manusia kini telah meningkat sedemikian pesat, sehingga dapat membuat biosfir menjadi tidak bisa ditempati lagi. Hal ini akan menghasilkan akibat yang mematikan dalam jangka waktu yang dapat diperkirakan, jika penduduk bumi ini tidak mengambil langkah-langkah bersama yang tepat dan hati-hati untuk mengurangi polusi dan eksploitasi yang membebani biosfir ini, karena kerakusan manusia yang berpikiran cupet. Di lain pihak, kekuatan material manusia tidak akan mampu untuk menjamin bahwa biosfir akan tetap bisa ditinggali jika kita sendiri tidak menahan diri untuk tidak merusaknya.

Kita harus menyadari, bahwa karena keterbatasannya, biosfir ini tidak sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri. Persediaan energi fisik biosfir –yang menjadi sumber materi kehidupan dan juga sumber kekuatan fisik yang ada di dalam alam tak bernyawa yang kini telah dimanfaatkan manusia—tidak berasal dari dalam biosfir sendiri. Energi fisik ini telah dan selalu dipancarkan ke biosfir dari matahari, dan juga dari sumber-sumber kosmis lain, dan peran biosfir ketika menerima radiasi vital dari luar batas-batasnya sekedar bersifat selektif.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa biosfir ini menyaring radiasi yang membombardirnya. Biosfir meloloskan sinar-sinar yang memberi kehidupan dan menolak sinar-sinar yang mematikan. Tetapi radiasi yang melimpah di biosfir dari sumber-sumber eksternal ini akan terus melimpah ruah selama filternya tidak aus dan sejauh sumber-sumber radiasi itu tetap tidak berubah; dan matahari kita, seperti setiap matahari lain dalam kosmos bintang selalu mengalami perubahan sepanjang masa. Dimungkinkan bahwa, di kelak kemudian hari, sebagian perubahan kosmis ini, baik di matahari atau bintang-bintang lain akan mengubah proses radiasi yang diterima oleh biosfir sehingga membuat biosfir ini tidak bisa ditempati lagi. Jika biosfir kita ini terancam oleh bencana semacam ini, tampaknya kekuatan material manusia tidak akan mungkin cukup untuk menahan perubahan yang mematikan dalam sandiwara kekuatan-kekuatan kosmis ini.

Sekarang mari kita bahas komponen-komponen biosfir dan sifat hubungan-hubungan di antara mereka. Ada tiga komponen biosfir; pertama, materi yang tak pernah kunjung hidup meskipun memperoleh sebuah struktur organik; kedua, materi organik; ketiga, materi tak bernyawa yang pernah hidup dan pernah bersifat organik serta masih mempertahankan sebagian sifat dan kekuatan organiknya. Kita mengetahui bahwa biosfir ini lebih muda usianya daripada planet yang diselimutinya. Kita juga mengetahui bahwa, di dalam biosfir ini, kehidupan dan kesadaran tidak dimiliki oleh materi yang diasosiasikan dengan keduanya. Lapisan materi yang kini menjadi sebuah biosfir dahulu pernah sepenuhnya tidak bernyawa dan tidak sadar, sebagaimana sebagian terbesar materi bola bumi sekarang ini. Kita tidak tahu bagaimana atau mengapa bagian dari bahan material biosfir ini pada akhirnya menjadi tidak bernyawa, juga tidak tahu bagaimana atau mengapa, pada fase terkemudian, bagian materi yang hidup ini menjadi sadar. Kita dapat mengajukan pertanyaan balik yang sama: bagaimana dan mengapa kehidupan dan kesadaran menjelma? Tetapi atas dasar pertanyaan balik ini masih juga jauh dari diri kita.

Komponen eks-organik biosfir sangat besar, dan komponen ini menjadi sebagian sumber terpenting bagi berlangsungnya hidup manusia. Sebelumnya, sudah merupakan pengetahuan yang jamak bahwa batu-batu dan pulau-pulau karang dihasilkan oleh beribu-ribu binatang sangat kecil yang bertumpuk-tumpuk memadat dan menjadi batu tiruan. Selama berpuluh-puluh abad, proses yang dilakukan oleh binatang-binatang sangat kecil ini membentuk areal tanah kering yang cukup besar di dalam biosfir yang bisa ditempati oleh bentuk-bentuk kehidupan non-akuatik. Makhluk-makhluk hidup yang sangat kecil tetapi banyak sekali dan tidak kenal lelah ini telah membentuk sebuah agregat area daratan terpencil yang lebih kokoh daripada kekuatan aktivitas vulkanik tak bernyawa yang dahsyat, yang menandingi binatang-binatang kecil dalam membuat batu karang di bawah air, hingga tersembullah sebuah pulau di atas permukaan air laut.

Kini juga telah menjadi pengetahuan bersama bahwa batu bara adalah produk dari sisa-sisa pepohonan yang telah mati. Demikian juga, bahwa tanah yang subur berasal dari olahan tubuh-tubuh cacing dan peran berjenis-jenis bakteri yang menempatinya, yang dengan cara demikian mempertinggi kemampuan tanah untuk menyediakan makanan bagi tumbuh-tumbuhan. Tetapi, orang awam masih saja terkejut jika seorang geolog mengatakan kepadanya, bahwa batu kapur yang merusak mata dan terdapat di sebagian puncak gunung adalah hasil dari timbunan kerang atau tulang bianatang-binatang laut selama berabad-abad di dasar laut; dan bahwa timbunan-timbunan horizontal materi yang pernah bersifat organik direbahkan –dalam pengertian skala waktu para geolog—oleh kontraksi kerak bumi hingga dikerutkan menjadi bentuk-bentuk seperti yang sekarang ini. Orang awam ini lebih terkejut lagi jika dikatakan bahwa timbunan-timbunan obat pencahar subterranean yang banyak sekali mungkin merupakan materi eks-organik –katakanlah sejenis batu bara yang berbeda dengan bijih besi atau granit; bahan-bahan yang tidak pernah melewati fase organik dalam konfigurasi molekul-molekul konstituennya.

Jumlah materi eks-organik yang luar biasa banyak di biosfir ini menarik perhatian kita untuk mencermati beberapa aspek sejarah kehidupan yang membingungkan (yang disebut secara salah sebagai “evolusi”, yang berarti tidak asli, padahal sekadar “hamparan” dari sesuatu yang telah ada secara laten). Kehidupan telah terdiferensiasikan menjadi sejumlah genera (bentuk jamak dari genus) dan spesies yang berbeda-beda, dan setiap spesies direpresentasikan dengan sejumlah anggotanya. Berlipatgandanya spesies dan anggotanya ini menjadi syarat yang memungkinkan adanya kemajuan kehidupan dari yang relatif sederhana dan lemah menjadi organisme yang relatif kompleks dan kuat. Tetapi harga yang harus dibayar oleh kemajuan melalui pembagian dan diferensiasi ini adalah persaingan dan perseteruan.

Masing-masing spesies, dan masing-masing anggota dari setiap spesies, bersaing dengan yang lainnya untuk mendapat konstituen-konstituen biosfir, baik yang tidak bernyawa atau bernyawa, yang bagi spesies tertentu, merupakan sumber dalam arti sarana yang efektif untuk mempertahankan kehidupan. Dalam sebagian kasus, persaingan ini terjadi secara tidak langsung. Satu spesies, atau satu anggota spesies, membunuh spesies lain bukan dengan cara memangsa atau membasminya, tetapi dengan merebut banyak sekali suatu sumber yang, bagi kedua pesaing itu, merupakan salah satu kebutuhan hidup. Ketika anggota-anggota spesies fauna non-manusia ini saling berhadapan untuk memperebutkan makanan, air, atau pasangan lawan jenis, maka yang kalah dianggap meminta seperempat bagian dan akan menerimanya dari sang pemenang sebagai pengganti kekalahannya. Umat manusia hanya dianggap sebagai fauna yang saling bertarung sampai mati dan membunuh kaum perempuan, anak-anak, orang tua, dan lakli-laki “musuhnya”. Bentuk kekejaman manusia yang aneh ini dilanggengkan di Vietnam, dan kekejaman ini diabadikan –makanya sangat dikutuk—dalam karya seni terkenal yang digubah selama 5.000 tahun terakhir: misalnya, lukisan Narmer; relief gelap Eannatum; the stele of Naramsin dan monumen-monumen karya para penerus Assyria yang berusaha menyamainya; epos Yunani Homerik; dan tiang Trajan.

Oleh karena itu, proses maju kehidupan ini pada titik terbaiknya menjadi bersifat parasitik dan pada titik terburuknya menjadi bersifat predator. Dunia fauna menjadi parasit bagi dunia flora; binatang (biasanya non-laut) tidak akan hidup bila tumbuhan tidak ada sebagai sumber udara dan makanan pemberi hidupnya. Sebagian spesies binatang mempertahankan hidupnya dengan cara membunuh dan mengganyang binatang-binatang dari spesies lain; dan manusia menjadi salah satu karnivora semenjak diturunkan dari tempat berlindungnya di atas pepohonan dan menginjakkan kakinya di tanah untuk mengambil kesempatan membunuh atau dibunuh. Korban-korban dari proses maju kehidupan ini adalah spesaies-spesies yang telah musnah dan beberapa yang masih bisa bertahan hidup tetapi secara terus menerus disembelih. Manusia telah membudidayakan beberapa spesies binatang untuk diperas hasilnya –susu atau madu—selama binatang-binatang itu masih hidup dan kemudian dibunuh secara kasar untuk diambil dagingnya sebagai makanan, juga tulang, urat, kulit, dan bulunya sebagai bahan baku berbagai peralatan dan pakaian.

Umat manusia juga saling memangsa. Kanibalisme dan perbudakan telah dipraktekkan di masyarakat yang sangat maju –kanibalisme ini banyak terdapat di Meso-Amerika pra-Kolombia, misalnya, dan perbudakan di masyarakat Graeco-Yunani, Islam, dan Barat Modern. Seorang budak adalah manusia yang diperlakukan seolah-olah menjadi binatang piaraan, dan perlakuan aneh manusia pada binatang ini secara implisit diakui oleh gerakan untuk menghapuskan praktek perbudakan manusia selama dua abad terakhir. Lebih dari itu, pembebasan budak secara yuridis tidak benar-benar membebaskan mereka, karena seorang manusia yang bebas secara yuridis masih dapat dieksploitasi dengan hina. Sebuah kolonus Romawi abad ke-4 yang secara nominal bebas, dan juga sebuah Decurion Romawi kontemporer, secara de facto kurang bebas dibandingkan dengan seorang budak penggembala atau pimpinan budak atau juru tulis budak di rumah tangga kerajaan, atau dibandingkan dengan seorang mamluk (kata Arab ini berarti “direduksi menjadi sekedar benda”). Orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat yang dibebaskan secara yuridis pada tahun 1862, dengan alasan yang jelas, sebagian besar dari mereka kini justru merasa lebih buruk dibanding satu abad yang lalu, bahwa hak-hak asasi mereka ditolak oleh masyarakat kulit putih sebagai sesama warga negara –meskipun tahun 2009 presiden terpilih Amerika Serikat dari kalangan kulit hitam.

Kekejaman manusia yang paling keji adalah pembunuhan dalam bentuk ritual pengorbanan manusia. Pembunuhan telah banyak dikecam ketika motifnya iri hati atau kebencian pribadi. Pembunuhan sebagai hukuman juga telah ditolak secara progresif. Bukan hanya dendam kesumat pribadi tetapi juga eksekusi resmi sekarang telah dihapus di beberapa negara. Pembunuhan ritual juga dilarang dalam kasus-kasus persembahan korban manusia kepada dewa-dewa, di mana dewa-dewa itu dianggap sebagai dewa suatu sumber daya alam –misalnya dewa hujan, dewa panen, dewa ternak; tujuan pengorbanan itu untuk memperahankan kehidupan manusia. Namun demikian, sejak manusia menguasai alam non-manusia, dewa-dewa yang disembah secara taat dan fanatik, dan tanpa sesal itu telah digantikan oleh kekuasaan kolektif terorganisasi yang dengannya manusia menguasai alam non-manusia.

Negara-negara yang berdaulat telah menjadi puncak objek penyembahan manusia selama 5.000 tahun terakhir; dan objek-objek ini menjadi dewa-dewi yang meminta dan menerima banyak sekali pengorbanan manusia. Negara-negara yang berdaulat terus saja saling berperang, dan dalam peperangan ini masing-masing negara membutuhkan anak-anak muda terpilih untuk membunuh penguasa-penguasa negara “musuhnya” dengan resiko dirinya dibunuh oleh korban-korban yang diincarnya. Masih hangat dalam ingatan, dalam Perang Irak, tentara Amerika Serikat dan sekutunya yang menyerang Negara merdeka Irak, telah membunuh atau dibunuh dalam perang yang bukan hanya dianggap absah, tetapi juga bernilai guna bagi kemenangan penyerangnya. Pembunuhan dalam perang, juga dalam eksekusi hukuiman mati, secara paradoks dimaafkan sebagai “bukan pembunuhan”.

Apakah proses maju kehidupan di biosfir ini telah menjadi begitu dihargai di atas penderitaan? Apakah seorang manusia lebih bernilai daripada sebatang pohon, atau sebatang pohon lebih berharga daripada sejentik amuba? Proses maju kehidupan hanya akan mengunggulkan sebagian spesies, jika kita mengukur keunggulan ini dengan kekuasaan semata. Sejauh ini, manusia adalah spesies yang paling kuat, tetapi manusia itu sendiri berwatak jahat. Manusia itu khas dalam watak jahatnya, begitu juga manusia khas ketika menyadari apa yang sedang diperbuat dan dipilihnya.

Penyair William Blake, yang memandang makhluk hidup secara tradisional sebagai hasil ciptaan dewa mirip manusia, sangat terpesona dengan penciptaan harimau. Tetapi, seekor harimau, tidak seperti manusia dan dewa pencipta hipotetis, tidaklah berdosa. Ketika seekor harimau memuaskan rasa laparnya dengan cara membunuh dan memangsa korbannya, ia tidak merasa bersalah. Di lain pihak, akan menjadi suatu perbuatan yang sangat buruk, tidak sewajarnya dan tidak bermakna, jika seorang dewa menciptakan seekor haramau untuk memangsa kambing dan manciptakan manusia untuk membunuh haramau, serta menciptakan basil dan virus untuk mempertahankan kelangsungan spesiesnya dengan cara membunuh manusia en mase.

Makanya sepintas lalu, proses maju kehidupan tampak jahat –jahat secara objektif, sekalipun kita membuang kepercayaan bahwa kejahatan ini telah diciptakan dengan sengaja oleh seorang dewa yang pasti lebih jahat dari manusia yang juga mempunyai kekuatan. Namun demikian, penilaian sepintas lalu terhadap konsekuensi-konsekuensi dari proses maju kehidupan ini memberi kesaksian bahwa, selain ada kejahatan di dalam biosfir ini, juga ada hati nurani yang menyalahkan dan membenci kejahatan tersebut.

Hati nurani ini terletak di dalam diri manusia. Kebencian hati nurani menusia terhadap kejahatan terbukti ketika manusia juga mampu berbuat kebaikan. Kita pun mengetahui dari pengalaman bahwa manusia dapat, dan kadang-kadang melakukannya, berbuat tidak egois dan tidak untuk kepentingannya sendiri sampai mengorbankan diri demi saudara-saudartanya. Kita juga mengetahui bahwa pengorbanan diri tidaklah menjadi kebenaran eksklusif manusia. Motif klasik pengorbanan diri adalah cinta seorang ibu kepada anak-anaknya, dan ibu manusia tidaklah sendirian dalam mengorbankan diri. Cinta pengorbanan diri ibu juga diketemukan dalam spesies-spesies mamalia lain serta burung.

Lebih jauh lagi, semua spesies yang mempertahankan kehidupannya dengan cara mereproduksi diri bekerja sama di antara dua anggotanya yang berlawanan jenis kelamin yang tidak secara langsung menguntungkan individu-individu itu, tetapi memberikan jasa bagi spesiesnya untuk menjaga dari kepunahan. Dengan sebuah pandangan panoramik, kita juga bisa melihat bahwa jalinan antara berbagai spesies hidup tidak semata-mata berupa persaingan dan konflik. Ketika hubungan antara dunia flora dan dunia fauna dalam satu aspek berupa pihak yang dieksploitasi dan parasit-preditor, dalam aspek lain dua dunia ini berlaku sebagai mitra yang bekerja demi kepentingan bersama untuk menjaga biosfir ini agar tetap bisa ditinggali oleh flora dan fauna. Jalinan kerja sama ini menjamin, misalnya, distribusi dan sirkulasi oksigen dan karbon dioksida dalam sebuah gerakan ritmis yang memungkinkan adanya kehidupan.

Makanya proses maju kehidupan di biosfir ini tampak dengan sendirinya menunjukkan dua kecenderungan yang saling antitetis dan bertentangan. Ketika seorang manusia meneliti sejarah biosfir sampai saat sekarang, dia menemukan bahwa biosfir telah melahirkan kejahatan dan kebaikan, kesalahan dan kebenaran. Dua kecenderungan ini tentu saja merupakan konsep-konsep eksklusif manusia. Hanya makhluk yang memiliki kesadaran yang dapat membedakan antara buruk dan baik, serta dapat memilih antara perbuatan yang salah dan yang benar. Konsep-konsep ini tidak dikenal oleh makhluk-makhluk hidup non-manusia, dan mereka dianggap buruk atau baik hanya oleh penilaian manusia.

Apakah ini berarti bahwa ukuran-ukuran etis dibuat secara arbitrer oleh kekuasaan manusia, dan bahwa kekuasaan ini tidak relevan dengan fata-fakta kehidupan dan oleh karenannya merupakan utopia? Kita mungkin terpaksa berkesimpulan seperti ini, jika manusia hanya menjadi pengamat dan penilai yang melihat dan menilai biosfir dari luar. Pastinya manusia adalah seorang pengamat sekaligus penilai. Peran-peran ini merupakan akibat wajar dari fakultas kesadarannya dan kekuatan serta kebutuhan berikut yang tidak terhindarkan untuk menentukan pilihan-pilihan etis dan membuat penilaian-penilaian etis. Namun manusia juga merupakan sebuah cabang pohon kehidupan. Kita adalah salah satu hasil dari proses maju kehidupan. Hal ini berarti bahwa ukuran dan penilaian etis manusia inheren di dalam biosfir dan oleh karenanya dalam keseluruhan realitas yang salah satu bagiannya adalah biosfir ini. Makanya kehidupan dan kesadaran, kebaikan dan keburukan tidak kurang realnya dibandingkan dengan ukuran-ukuran materi dalam biosfir. Meskipun kita menebak bahwa materi merupakan sebuah konstituen primordial dari realitas, tetap saja kita tidak memiliki alasan untuk menduga bahwa manifestasi-manifestasi non-material dari realitas tidak bersifat primordial.

Walaupun demikian, dalam proses maju kehidupan di biosfir ini, kesadaran telah menampakkan diri pada diri manusia dalam kurun yang relatif belakangan, dan sekarang kita telah menyadari, secara perlahan dan samar-samar, bahwa kehadiran manusia membawa ancaman bagi kemampuan biosfir untuk tetap bisa ditinggali bagi seluruh bentuk kehidupan, termasuk umat manusia itu sendiri.

Sampai saat ini, persaingan dan konflik yang merupakan satu aspek dari proses maju kehidupan telah menyebabkan punahnya banyak spesies, dan juga mengakibatkan kematian premature yang kejam dan menyakitkan bagi anggota seluruh spesies yang tidak terhingga jumlahnya. Manusia telah mengorbankan dirinya, selain menimbulklan kematian spesies predator pesaingnya dan mamusnahkan sejumlah spesies tanaman. Bahkan ikan hiu, bakteri dan virus tidak lagi menjadi tandingan bagi manusia sebagai antagonisnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini kehancuran spesies-spesies tertentu dan anggota individual spesiesnya tidak terlihat membawa ancaman bagi keberlangsungan hidupnya sendiri. Kini kepunahan sebagian spesies hidup telah membuka kesempatan bagi spesies lain untuk tumbuh.

Manusia menjadi spesies yang paling berhasil di antara seluruh spesies lain dalam menguasai konstituen-konstituen biosfir lain, baik yang tak bernyawa maupun yang bernyawa. Ketika fajar kesadarannya menyingsing, manusia menjumpai dirinya sebagai rahmat bagi alam non-manusia; dia berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa alam non-maniusia, dan dia mencapai kemajuan secara progresif untuk tujuan ini. Selama 10.000 tahun yang silam, manusia menentang seleksi alam dengan cara menawarkan seleksi manusia agar bisa meraih kekuasaan tersebut. Dia membudidayakan tanaman dan binatang demi kepentingannya sendiri, dan dia berusaha membuang sebagian spesies lain yang dianggap tidak berguna. Dia menamakan spesies yang tidak diinginkannya itu sebagai “makhluk-makhluk liar dan hina”, dan ketika memberikan julukan pejoratif ini, sebenarnya dia sedang berusaha sekuat-kuatnya untuk membasmi makhluk-makhluk tersebut. Sejauh ini, manusia telah berhasil menggantikan seleksi alam dengan selekasi manusia, manusia telah mereduksi sejumlah spesies.

Namun demikian, selama fase pertama kariernya, yang berjalan sangat panjang, manusia tidak berbuat banyak seperti yang dilakukan sebagian makhluk hidup mitranya dari spesies lain. Piramida di Guzah dan Teotihuacan, dan gunung-gunung buatan manusia di Cholula dan Sakai, mengecilkan candi-candi dan katedral-klatedral serta “gedung-gedung pencakar langit” pada zaman selanjutnya, namun monument-monumen manusia yang paling masif masih relatif kecil dibandingkan dengan hasil kerja binatang-binatang kecil yang telah membentuk pulau-pulau karang. Menjelang fajar peradaban, sekitar 5.000 tahun yang lalu, manusia telah menyadari keunggulan kekuatannya di biosfir ini. Sebelum permulaan tahun Masehi, manusia telah mengetahui bahwa biosfir adalah sebuah selimut terbatas yang melingkupi permukaan sebuah bintang, yakni bola bumi. Sejak abad ke-15, bangsa-bangsa Eropa telah merekrut dan mendiami sebagian permukaan tanah biosfir yang dulunya masih jarang penduduknya. Sekalipun begitu, sampai generasi sekarang, manusia terus saja berperilaku seolah-oleh persediaan sumber-sumber biosfir yang tidak dapat diperbaharui, seperti bahan tambang, tidak akan habis, dan seolah-olah laut dan udara tidak bisa terkena polusi.

Yang benar adalah bahwa, sampai dua puluh lima tahun ketiga abad ke-20, manusia masih saja memandang rendah peningkatan kekuasaan modernnya yang mempengaruhi biosfir. Peningkatan ini diakibatkan oleh dua perkembangan baru: pertama, aktivitas penelitian ilmiah yang sistematis dan terencana serta penerapannya menjadi teknologi canggih; kedua, pemanfaatan energi fisik yang nyata atau laten dalam konstituen-konstituen biosfir tak bernyawa demi tujuan-tujuan kemanusiaan. Misalnya, energi air yang selalu mengalir ke bawah menuju laut yang sebelumnya berasal dari air laut yang naik ke atmosfir sebagai uap hujan. Semenjak pecahnya Revolusi Industri di Inggris dua ratus tahun yang lampau, daya gravitasi air, yang sebelumnya lebih kecuil manfaatnya dibanding penggilingan padi, telah dipergunakan untuk menjalankan mesin pabrik berbagai jenis komoditas material. Kekuatan air juga telah ditingkatkan dengan cara dikonversi menjadi kekuatan arus dan listrik. Listrik dapat dihasilkan dari kekuatan fisik air terjun alami atau buatan, tetapi air tidak dapat dikonversi menjadi uap tanpa dipanasi dengan pembakaran bahan bakar, dan semua ini telah digunakan bukan hanya untuk mengkonversi kekuatan air menjadi kekuatan uap dan listrik, tetapi juga untuk menggantikan penggunaan kekuatan air dalam bentuknya yang paling potensial sekalipun. Lebih dari itu, arang kayu sebagai bahan bakar pelengkap telah digantikan dengan bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui: batu bara, minyak tanah, dan kemudian uranium.

Uranium, bahan bakar yang baru dieksploitasi paling belakangan, mengeluarkan energi atom, tetapi, untuk memanipulasi kekuatan raksasa ini, manusia sejak tahun 1945 telah memulai reka-upayanya yang berakibat fatal bagi Phaethon setengah dewa mitis ini ketika manusia merampas kereta dewanya yang suci, yakni matahari. Kuda-kuda yang menarik kereta Helios meloncat tidak keruan ketika mengetahui bahwa saisnya diambil alih oleh tangan-tangan makhluk yang lemah. Kuda-kuda itu berjumpalitan semuanya, dan biosfir akan terbakar menjadi kerak jika Zeus tidak menyelamatkannya dari kehancuran dengan cara cepat-cepat menyemburkan halilintar yang menyambar remplacant anak dewa matahari yang lancung itu. Mitos Phaethon adalah sebuah alegori resiko yang manimpa manusia karena bermain-main dengan energi atom. Masih ditunggu apakah manusia akan mampu mamanfaatkan kekuatan materi yang dahsyat ini tanpa tertimpa kemalangan. Daya materinya tidak ada yang menandingi, tetapi sampah radioaktif ekornya beracun. Kini manusia telah membuat kekacauan dengan suatu proses yang dengannya biosfir –dewi bumi kehidupan– telah terisi oleh radiasi sinar matahari yang memberi kehidupan, bukannya mematikan. Prestasi teknologi ilmiah manusia ini, bersama dengan dampak-dampak Revolusi Industri sebagai prestasi sebelumnya yang lebih rendah, kini telah mengancam biosfir menjadi tidak lagi bisa ditempati.

Oleh karena itu, kita sekarang berdiri di titik balik sejarah biosfir dan sejarah pendek salah satu produk dan warganya, yakni manusia. Umat manusia adalah anak-anak pertama dari dewi bumi yang bisa menaklukkan ibunda kehidupannya ini dan merebutnya secara paksa dari tangan ayah kehidupan, yaitu matahari sebagai kekuatan yang menakutkan. Manusia telah membiarkan kekuatan ini terlepas dari biosfir, telanjang dan marah, untuk pertama kalinya sejak biosfir menjadi habitat kehidupan. Kini kita tidak tahu apakah manusia mau atau mampu menghindari perusakan Phaethon demi dirinya sendiri dan sesama makhluk-makhluk hidup lain.

Manusia adalah spesies hidup pertama di biosfir kita yang telah menggenggam kekuasaan untuk menghancurkan biosfir dan akibatnya memusnahkan diri sendiri. Sebagai organisme psikomatik, manusia adalah pelaku, seperti setiap bentuk kehidupan lain, bagi hukum alam yang tidak dapat ditawar-tawar. Manusia, seperti sesama makhluk hidup lain, adalah bagian integral dari biosfir, dan, jika biosfir kemudian dibuat menjadi tidak bisa ditempati lagi, manusia beserta seluruh sapesies lain akan punah.

Biosfir mampu melabuhkan kehidupan karena merupakan sebuah campuran yang bisa mengatur diri antara komponen-komponen yang saling melengkapi, dan, sebelum kelahiran manusia, tidak ada satupun komponen biosfir –organik, eks-organik atau anorganik— yang memperoleh kekuatan untuk merusak keseimbangan permainan kekuatan-kekuatan yang lembut teratur yang dengannya biosfir menjadi rumah kehidupan yang ramah. Spesies hidup pra-manusia yang terlalu lemah atau terlalu agresif untuk mengikuti irama biosfir dimusnakan oleh permainan irama ini jauh sebelum kelemahan atau agresivitasnya menjadi ancaman yang mengacaukan irama biosfir sebagai tempat bergantung bagi kehidupannya dan kehidupan semua spesies lain. Biosfir jauh lebih kuat daripada warga pra-manusianya.

Manusia adalah warga biosfir pertama yang lebih kuat daripada biosfir itu sendiri. Pencapaian kesadaran manusia telah memungkinkannya untuk membuat pilihan-pilihan dan oleh karenanya bisa merancang serta menerapkan rancangan-rancangnnya untuk mencegah alam agar tidak memusnahkan manusia sebagaimana alam telah memusnahkan spesies lain yang menyulitkan dan mengancam biosfir secara keseluruhan. Manusia dapat bertahan hidup sampai dia bahkan telah merusak biosfir jika memilih untuk merusaknya, tetapi, jika sekali lagi memang ini pilihannya dia tidak bisa mengelak dari pembalasan yang akan menimpanya. Seandainya manusia merusak biosfir, maka dia justru akan memusnakan dirinya serta semua bentuk kehidupan psikosomatik lain di depan wajah ibu kehidupan, dewi bumi.

Dari sini kita dapat melakukan sebuah penelitian retrospektif atas sejarah pertemuan antara dewi bumi dan manusia, anak-anaknya yang paling kuat dan enigmatik, selama ini. Enigma ini tersembunyi di dalam fakta misterius bahwa manusia di antara warga biosfir lain adalah juga warga dari realitas lain –sebuah realitas spiritual yang non-material dan tidak bisa dilihat. Dalam biosfir ini, manusia adalah makhluk psikosomatik yang berbuat di sebuah dunia materi dan terbatas. Di dunia aktivitas ini, tujuan manusia, semenjak sadar, ialah untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa lingkungan non-manusianya, dan dalam keseharian kita manusia telah menuai keberhasilan atas usahanya –mungkin sampai dia tidak mampu melakukannya sendiri. Namun rumah lain yang ditempati manusia, yakni dunia spiritual, juga merupakan bagian integral dari total realitas. Dunia spiritual ini berbeda dari biosfir karena bersifat non-materi dan tidak terbatas. Dalam kehidupan spiritualnya manusia mengetahui bahwa misinya adalah untuk berusaha, bukan menjadi penguasa material atas lingkungan non-manusia, tetapi untuk menjadi penguasa spiritual atas dirinya sendiri.

Dua tujuan yang saling berlawanan, dan dua ideal berbeda yang dengannya menginspirasikan dua tujuan tersebut, telah dipaparkan dalam karya-karya terkenal. Tujuan klasik manusia untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa biosfir salah satunya tertuang dalam Qur’an surat an-Nahl ayat 13:

Dan segala yang diciptakn-Nya

Bagimu di bumi

Yang aneka ragam warnanya,

Semua itu merupakan tanda

(Kekuasaan Tuhan)

Bagi orang yang menerima peringatan.

Jika seorang manusia kehilangan jiwanya, dia akan berhenti menjadi manusia; karena esensi manusia adalah kesadaran atas kehadiran spiritual di balik fenomena, dan jiwalah, bukan organisme psikomatik, yang bisa menghubungkan manusia dengan spiritual, atau bahkan identik dengannya dalam pengalaman mistik.

Karena hidup, sebagaimana dia menjalani kehidupan sewajarnya, di biosfir sekaligus di dunia spiritual, manusia sebenarnya seorang amfibi, dan, di masing-masing dunianya di mana dia tinggal, manusia memiliki sebuah tujuan. Akan tetapi, manusia tidak dapat memburu kedua tujuan tersebut secara sekaligus, atau menjadi kedua ahli itu sepenuh hati. Salah satu tujuannya dan salah satu keseriusannya harus lebih didahulukan, atau bahkan harus diperlakukan secara eksklusif jika keduanya memang tidak bisa disandingkan dan direkonsiliasikan (biosfir atau spiritual?). Manakah yang harus dipilih? Perdebatan tentang masalah ini berlangsung secara terbuka di India semasa generasi Budha sekitar pertengahan millennium terakhir sebelum Masehi. Sementara di Barat perdebatan yang terbuka terjadi pada generasi St. Francis dari Assisi abad ke-13. Pada kesempatan tersebut, mengambil kedua pilihan yang saling berlawanan tersebut berarti mengambil jalan antara yang ditempuh oleh seorang ayah dan seorang anak. Isu ini yang diperdebatkan secara implisit sejak terbitnya fajar kesadaran; karena salah satu kebenaran dasar yang tersingkap oleh kesadaran manusia adalah ambivalensi moral watak manusia. Namun demikian, di sebagian besar waktu dan tempat sampai sekarang ini,orang-orang menghindar untuk membuka suatu persoalan yang mendiorong Budha dan St. Francis memutuskan ikatan-ikatan alamiahnya dengan keluarga mereka. Hanya pada generasi kitalah pilihan ini menjadi tak terhindarkan bagi umat manusia secara keseluruhan.

Pada generasi kita, persaingan antarmanusia untuk menguasai seluruh biosfir sedang menebarkan ancaman kekalahan bagi kamauan-kemauan manusia dengan cara merusak biosfir dan memusnahkan kehidupan, termasuk kehidupan manusia itu sendiri. Sejak abad ke-13 manusia Barat tampaknya telah menghargai Fransesco Bernardone, seorang santa yang menanggalkan warisan bisnis kekayaan keluarganya dan dihormati dengan stigma Kristus karena dukungannya pada Perempuan Miskin. Tetapi teladan yang diikuti oleh orang barat ini bukanlah St. Francis, orang Barat berusaha melebihi ayah sang santa, yakni Pietro Barnardone, seorang saudagar pakaian besar yang berhasil. Sejak meletusnya Revolusi Industri, manusia modern telah mendedikasikan dirinya secara lebih obsesif dibandingkan para pendahulunya dalam mencari tujuan yang telah digariskan sebelum kelahirannya.

Tampaknya seolah-olah manusia tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari pembalasan kekuasaan dan kerakusan materi jahatnya, kecuali dia dapat mengubah hatinya yang akan mendorongnya untuk menjauhi tujuan keduniawian dan mengikuti ideal yang sebaliknya. Penderitaannya sekarang akibat perbuatannya sendiri menghadapkan dirinya pada sebuah tantangan yang kokoh. Dapatkah manusia mengajak dirinya untuk menerima, sebagai aturan perilaku praktis bagi orang-orang dengan moralitas sewajarnya, ajaran-ajaran yang didakwahkan dan dipraktekkan oleh orang-orang saleh, yang sampai sekarang masih dipandang sebagai nasihat-nasihat kesempurnaan utopis bagi l’homme moyen sensual? Perdebatan panjang tentang isu ini yang tampaknya mendekati klimaks pada zaman kita sekarang merupakan tema sejarah kekinian pertemuan antara manusia dengan dewi bumi.

BAB III

EKUMENE SEBAGAI LANDASAN PERADABAN

Ekumene (Oikoumene) adalah sebuah istilah Yunani yang sudah menjadi kata sehari-hari pada Zaman Hellenis dalam sejarah Yunani. Ekumene berkembang, pertama-tama ke barat dan kemudian ke timur, dari domain aslinya membentang sampai laut Aegean. Ekspansinya ke arah barat sampai di pantai-pantai Atlantik di Eropa dan Afrika Barat Laut serta di pulau terbesar di Eropa Barat yang tidak berpantai, yakni Inggris. Ekspansi selanjutnya ke arah timur dibuka oleh penaklukan Aleksander Agung dan keruntuhan Kerajaan Persia Pertama, dan zaman pasca Aleksander dalam sejarah Helenis adalah masa ketika istilah “Ekumene” menjadi lazim. Makna harfiahnya adalah “Yang Didiami (bagian dari dunia)”, tetapi dalam prakteknya, orang-orang Yunani yang membuat dan menggunakan kata ini membatasi penerapannya pada wilayah dari bagian dunia yang didiami oleh apa yang disebut masyarakat “beradab”. Para anggota masyarakat jenis ini menyebut dirinya “beradab” sampai zaman kita sekarang, ketika pengalaman kita yang mengerikan dan memalukan atas kekejaman-kekejaman manusia telah mengajarkan kepada kita bahwa keberadaban tidak pernah menjadi sebuah fakta yang sungguh-sungguh terjadi, namun hanyalah suatu upaya atau cita-cita yang, hingga kini, selalu jauh dari sasarannya yang ambisius.

Bahkan dalam penggunaan aslinya yang terbatas, dimana orang-orang barbar di pinggir-pinggir peradaban diabaikan, ekumene Yunani pasca Aleksander hanya mencakup domain-domain peradaban yang telah akrab di mata orang-orang Yunani itu sendiri. Semenjak setidaknya awal generasi sejarawan Herodotus pada abad ke-5 SM, orang-orang Yunani kurang begitu menyadari keberadaan peradaban “Hyperborean” yang menjalin kontak dengan negara-negara-kota kolonial Yunani di sepanjang pantai utara Laut Hitam, melalui jalan kecil yang melintasi padang rumput Eurasia yang merupakan daerah pedalaman kontinental koloni-koloni maritim Yunani. Kita bisa menduga bahwa, sekalipun mereka disebut “orang-orang Hyperborean”, mereka menempati, bukannya “di luar Angin Utara”, tetapi bagian timur padang rumput tadi, dan mereka sebenarnya adalah orang-orang Cina, yang dikenal oleh orang-orang Yuanni dan Romawi pasca Aleksanderian sebagai “Seres” atau “Sinae”.

Sebelum sebagian besar dunia Graeco-Romawi bersatu secara politik dalam kerajaan Romawi, sutera diimpior ke dunia Graeco-Romawi melalui darat dan laut; tetapi apa yang disebut orang-orang “beradab” di ujung timur dan barat Dunia Kuno ini hanya sedikit mengetahui eksistensi mereka, demikian juga sebaliknya. Orang-orang Cina yang sama dengan “Ekumene” Yunani adalah “Semua yang berada di bawah langit, tetapi, bagi orang Cina, Ta Ch’in, replika Kerajaan Cina yang besar di ujung barat benua, sama kaburnya dengan orang-orang Sinae atau Seres atau Hyperborean bagi masyarakat Yunani dan Romawi. Dua ekstrimitas di benua ini saling berhubungan secara lambat –mula-mula bersifat sementara. Pada abad ke-13 melalui kerja sama di seluruh pantai di padang Eurasia di Kerajaan Mongol yang besar sekali tetapi usianya pendek, dan kemudian bersifat permanen semenjak sebelum berakhirnya abad ke-15 melalui pengembaraan laut oleh orang-orang Eropa Barat. Sementara itu, peradaban-peradaban Meso-Amerika dan Andean di Amerika Selatan tidak dikenal oleh penduduk Dunia Kuno sampai pendaratan pertama Columbus di Amerika yang menghadap ke Samudra Atlantik. Namun peradaban-peradaban Meso-Amerika dan Peru telah merekah menjadi kekuasaan besar klasik pada permulaan era Kristen, sedangkan periode anteseden “formatif” kebudayaan-kebudayaan tinggi Amerika mungkin telah dimulai –di Meso-Amerika—pada permulaan peradaban-peradaban Dunia Kuno kecuali Sumero-Akkadia dan Mesir Fir’aun.

Jika kita menggunakan istilah Ekumene dalam pengertian harfiah habitat manusia, kita dapat melihat bahwa luas ekumene yang sebenarnya lebih besar daripada wilayah dunia “beradab” yang dikenal oleh orang-orang Yunani dan Romawi, tetapi kita juga dapat melihat bahwa Ekumene yang komprehensif ini jauh lebih kecil dibanding biosfir kita. Sebagian terbesar dari permukaan biosfir berupa laut, dan selubung udaranya merupakan sebagian terbesar dari volume biosfir. Laut dipercaya sebagai habitat asli kehidupan, dan sampai sekarang laut masih kaya dengan flora dan fauna. Nenek moyang manusia telah mengetahui bagaimana cara melintasi permukaan sungai dan laut dengan perahu dan kapal, dan bagaimana cara menyelam –tidak terlalu dalam dan lama— di bawah permukaan laut; tetapi di atas, atau di dalam air; manusia hanyalah seorang pelancong; mereka bukan warga air –senyatanya mereka bukanlah spesies akuatik.

Pada abad ke-20, manusia telah menciptakan pesawat terbang; tetapi dalam mengarungi udara, manusia telah didahului bertahun-tahun yang lampau oleh serangga, burung, kelelawar, meski tidak ada kelelawar, burung, serangga atau manusia yang dapat hidup di udara sebagaimana ikan dan spesies mamalia air hidup di air. Di udara, tidak ada spesies hidup yang bisa menjadi lebih dari sekedar pelancong. Sebuah spesies bersayap mungkin bergantung pada bakat kemampuannya di udara untuk melangsungkan kehidupannya, tetapi tidak dapat melepaskan dasar-dasar kerja kelautan atau akuatik. Bahkan burung-burung dapat bertengger di atas kabel-kabel telepon dan membuat sarang dari tanah liat untuk merawat anak-anaknya.

Ekumene manusia seluruhnya berada di atas permukaan tanah biosfir, meskipun warga manusia di Ekumene kadang bergerak melewari permukaan air, dan sekarang juga melintasi udara, dalam melakukan perjalanan dari satu tempat ke tampat lain di Ekumene ini. Akan tetapi, Ekumene sangat tidak bisa menjadi co-existensive dengan permukaan tanah dan luas wilayahnya, di pesisir daratan kering, bergelombang sebagaimana diilustrasikan oleh kekeringan mematikan yang terjadi di Sahel, yakni sabuk pedalaman Savanah di Afrika antara bekas ujung selatan Sahara dan ujung utara hutan hujan tropis. Wilayah Ekumene yang bergelombang ini sebagian disebabkan oleh perubahan-perubahan fisiografis dan iklim yang tidak diciptakan manusia dan bahkan belum bisa dimodifikasi dengan kemampuan manusia yang ada, dan sebagian lagi disebabkan oleh perilaku manusia, baik yang disengaja maupun tidak. Agen-agen non-manusia yang telah membentuk ekumene menguasai manusia sampai 10.000-12.000 tahun terakhir.

Dalam sejarah planet bumi, perubahan-perubahan fisiografis dan iklim selama proses pembentukan planet ini besar sekali. Barangkali perubahan-perubahan ini merupakan yang paling ekstrim dan paling keras di permukaan bola bumi ini. Relik-relik tumbuhan dan binatang yang telah memfosil di lapisan kerak bumi yang pada zaman geologis berada di atas permukaan bumi sebelum munculnya manusia, menunjukkan bahwa daerah-daerah yang kini beriklim dingin atau sub-artik dahulunya beriklim tropis. Mengenai perubahan-perubahan iklim regional ini, terdapat beberapa alternatif penjelasan. Salah satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa sumbu bola bumi telah melengkung tajam, dan bahwa titik-titik di permukaan bumi yang kini menjadi kutub utara dan selatan dahulunya pernah berada tepat di atau di dekat ekuator; tetapi jika ini benar, maka kita mengalami kesulitan untuk mengetahui bagaimana bumi berusaha mempertahankan regularitas gerak rotasi dan orbit eliptikalnya tanpa terlempar oleh pergeseran sikap berdirinya yang niscaya itu. Penjelasan alternatif menyebutkan bahwa benua-benua yang ada sekarang mungkin telah bergerak melintasi permukaan bumi, seolah-olah seperti rakit-rakit yang bertebaran di sebuah rawa, bukannya seperti batu ubin yang bercokol di karang. Teori pergeseran continental ini, sebagaimana teori pergantian kutub, masih diperdebatkan dan mungkin tidak bisa diverifikasi, tetapi dalam bentuk tertentu tampaknya banyak diikuti dan dipercaya dengan pertimbangan bahwa, tidak seperti teori alternatif, teori pergeseran tersebut mendalilkan, bukan sebuah reorientasi keseluruhan bola bumi, tetapi sekedar perubahan konfigurasi kerak bumi.

Namun demikian, enigma tentang fosil-fosil tropis yang kini merupakan zona-zona non-tropis adalah masalah zaman geologis yang selama berjuta-juta tahun mendahului kemunculan hominid pertama. Fenomena iklim yang berbarengan dengan kemunculan hominid di biosfir ini merupakan serangkaian periode glasial yang bergantian dengan proses pelumeran selama zaman pleistosin –yaknia selama 2 juta tahun terakhir. Glasiasi terbaru (menjadi gegabah kalau kita berasumsi bahwa ini merupakan glasiasi pungkasan sepanjang zaman) melapangkan jalan terjadinya pencairan sekitar 12.000 atau 10.000 tahun yang silam.

Selama piriode-periode glasial, bongkahan-bongkahan es tampaknya tidak pernah menutupi selain bagian kecil dari permukaan tanah biosfir. Wilayah yang terglasiasi ini sebagian besar berada di dua kutub dunia, dengan beberapa bidang glasiasi terisolir di gunung-gunung tinggi yang tidak jauh dari ekuator. Namun demikian, glasiasi parsial ini sementara waktu terkecualikan dari sebagian tanah subur Ekumene (misalnya di Skane, di bagian kepulauan Denmark, di Midlothian, dan di Caithness) yang sangat produktif setelah diolah. Lebih dari itu, glasiasi-glasiasi lokal mengubah rasio antara laut dan daratan sehingga menjadi lebih banyak daratan. Begitu besar volume air terkumpul sementara dan tidak bergerak di dalam bongkahan-bongkahan es, sehingga permukaan laut turun cukup banyak di seluruh wilayah bumi. Dasar laut-laut yang dangkal tersembul ke atas dan kering; laut-laut yang sempit menjadi semakin sempit; beberapa selat terjembatani oleh tanah genting. Jika diukur dengan kedalaman tengah laut dan rasio laut-daratan di permukaan planet bumi ini, dampak global dari glasiasi-glasiasi lokal tersebut cukup kecil; tetapi dampak ini terasa cukup besar jika dilihat sebagai kesempatan ekspansi Ekumene manusia di sebuah zaman di mana sarana transportasi manusia tidak lebih dua kakinya dan di mana seni membuat kapal dan navigasi masih sangat belia.

Bahkan ketika kita bisa melakukan migrasi dengan mudah, berkat turunnya permukaan laut untuk sementara, keberanian hominid awal dalam memperluas Ekumene mengagumkan di mata manusia sekarang. Ini disebabkan, dalam satu setengah abad terakhir, kita telah menciptakan serangkaian alat angkut bermesin yang dimulai dengan kapal mesin dan rel kereta api lalu disusul dengan kendaraan darat bermesin dan pesawat terbang. Kita tidak akan begitu terkejut dengan ekspansi hominid ketika kita melihat prestasi-prestasi primata non-hominid terkait. Prestasi-prestasi primata non-hominid ini telah menjajah Amerika, Asia beserta semenanjung dan pulaunya yang tak berpantai. Di lain pihak, tidak ada genus dari keluarga hominid kecuali genus homo, dan tidak ada spesies dari gernus homo selain homo sapien yang telah mencapai benua Amerika lewat laut dari Afrika Timur dekat ekuator dan bagian selatan. Seluruh warga manusia pra-Columbian yang masih bertahan hidup di Amerika berasal dari wakikl-wakil homo sapien yang menuju Amerika lewat darat dari pedalaman selama glasiasi terbaru yang menimbulkan kesulitan itu. Orang-orang Amerika pra-Columbian datang dari pelosok timur laut Asia melalui sebuah tanah genting sementara yang kemudian tenggelam di bawah selat-selat Behring; hanya orang-orang Amerika pra-Columbian dan pionir-pionir Norse dari pelosok timur Eropa Asia yang telah berhasil melintasi Samudra Atlantik.

Jika homo sapien, seperti hominid-homonid sesamanya yang kini telah punah, pertama muncul di Afrika Timur yang beriklim tropis, maka jarak geografis yang dilalui oleh perjalanan kakinya dari sana menuju Tierra del Fuego pasti cukup panjang, demikian juga waktu tempuhnya. Lebih dari itu, manusia, seperti fauna lain, bersifat mobil; dia tidak diam saja di bumi, seperti kebanyakan flora biosfir; namun flora ini telah menyebar ke segala penjuru sama luasnya dengan penyebaran fauna untuk menyebarkan dirinya. Akan tetapi, ketika semua ini telah dipaparkan, ternyata rentang ekspansi yang dilakukan oleh manusia Zaman Batu luar biasa. Manusia telah sampai di Tierra del Fuego dan juga Australia setidaknya pada awal circa 6.000 SM, meskipun, bahkan ketika permukaan laut berada di titik terendah, perjalanan darat dari Asia ke Australia terhalangi oleh lautan selebar 30 mil antara Kalimantan dan Sulawesi. Tour de force manusia Zaman Batu yang paling mengagumkan adalah kolonisasi Polynesia, termasuk Pulau Easter. Dalam 500 tahun terakhir, orang-orang Eropa Barat dan jajahan-jajahannya di luar negeri telah mengeksplorasi seluruh permukaan biosfir. Mereka telah mencapai kutub utara dan selatan. Namun, kecual di dua daerah kutub ini, mereka menemukan tempat-tempat baru yang belum didiami oleh warga manusia pra-Eropa.

Zaman dulu, karena hidup di daerah-daerah tropis di mana tidak ada dedaunan yang menutupi tubuh telanjangnya dari sengatan matahari, manusia perlu menutupi tubuhnya dengan bulu tiruan; dan mereka juga perlu mengenakan pakaian untuk mempertahankan kehidupannya di daerah-daerah dingin atau sub-artik yang membuat beku tubuh manusia. Pemburu anjing laut Eskimo dan penggembala nomaden Arab menyelimuti tubuhnya tebal-tebal, orang Eskimo denga kulit dan orang Badui dengan pakaian wol. Penguasaan manusia atas api memungkinkan untuk memperluas Ekumenenya lebih jauh lagi. Pada saat sekarang, teknologi modern sedang dipakai untuk memperluas areal eksploitasi, jika bukan areal habitasi, menuju utara Rusia dan Kanada.

Bongkahan-bongkahan es yang menutupi pedalaman Greenland dan jauh lebih banyak permukaan benua antartik masih di luar batas-batas Ekumene, dan demikian juga sebagian kantong hutan hujan tropis, tanah pegunungan yang diselimuti salju, dan gurun pasir kering. Namun manusia tampaknya lebih mampu hidup di wilayah beriklim yang luas daripada makhluk primata lain.

Luas konfigurasi Ekumene belum berubah secara mencolok sejak resesi glasia terakhir sekitar 12.000 atau 10.000 tahun yang silam. Permukaan tanah kering biosfir yang bisa ditempati hanya berisi sebuah benua, yakni Asia, beserta jazirah-jazirah dan pulau-pulaunya yang tak berpantai. Jazirah-jazirah Asia paling menonjol adalah Eropa, Arab, India, dan Indo-Cina. Jazirah Indo-Cina merupakan yang terbesar di atara keempat jazirah tersebut karena membentang dari Malaya sampai Australia dan Selandia Baru. Sebenarnya, bagian tengahnya melengkung dan sebagian tenggelam, dan Australia kini terpisah dari daratan pokok Asia oleh lautan sempit kepulauan Indonesia –kawasan selat dan pulau yang rumit sekali. Tiga pulau tanpa pantai Asia terbesar adalah Afrika dan dua Amerika. Pulau yang paling jauh adalah Antartika. Afrika dihubungkan ke Asia oleh tanah genting Suez, dan Amerika Selatan ke Amerika Utarq oleh tanah genting Panama. Dua tanah genting ini telah berubah menjadi selat-selat tiruan sejak ditembus oleh terusan-terusan buatan manusia. Selat alamiah yang terpenting adalah Selat Malaka, yang menjadi pemisah antara Samudra Hindia dan Pasifik.

Jalur-jalur komunikasi terbaik untuk mengantar penumpang atau muatan dari satu bagian ekumene ke bagian lainnya berada di luar batas-batas ekumene; karena media yang pakling kondusif adalah udara dan air; dan elemen-elemen ini bisa dilewati tetapi tidak bisa didiami. Sebelum terciptanya kereta api uap sebagai pengangkut dengan relnya pada abad ke-19, tranportaasi air (sungai dan alut) lebih cepat dan murah daripada tranportasi darat. Sebelum terciptanya rel kereta api, kekuatan penggerak perjalanan dan transportasi manusia adalah otot manusia itu sendiri dan binatang. Di lain pihak, di air, kekuatan otot manusia untuk mendayung perahu telah dilengkapi dengan layar yang memanfaatkan kekuatan angin sebelum menyingsing fajar peradaban. Angin merupakan kekuatan fisik tak bernyawa pertama yang dimanfaatkan oleh manusia; angin juga kekuatan alam pertama yang dicampakkan. Manusia menjadi kelebihan sumber daya ketika kekuatan-kekutan fisik tak bernyawa lain dimanfaatkan untuk mengoperasikan mesin.

Pada masa trasnsportasi air, garis komunikasi utama ditentukan oleh konfigurasi permukaan air di biosfir ini. Jalur air yang paling berharga adalah selat (selian Selat Malaka, ada pula terusan sempit yang menghubungkan Laut Hitam dengan Aegean, Selat Gibraltar, Selat Dover, dan terusan yang menghubungkan Laut Baltik dengan Laut Utara). Jalur air di daerah pedalaman yang berfungsi adalah sungai-sungai berarus lambat. Contoh klasiknya adalah sungai Nil di bawah Air Terjun Pertama. Di atas bentangan sungai Nil ini, sebuah perahu layar dapat bergerak begitu saja ketika ada di bagian hilir dan mengibarkan layar ketika ada di bagian hulu, karena di Mesir angin utara berhembus. Lebih dari itu, setelah Mesir terbuka bagi orang luar, tidak ada pemukiman atau lahan manusia atau bahkan pertambangan di Mesir yang jauh dari jalur air. Sebelum terciptanya rel kereta api, sarana komunikasi di Mesir lebih baik dari negara manapun.

Pada masa transfortasi air, permukaan tanah ekumene yang penting adalah yang menjadi rute pengangkutan dari satu laut atau sungai ke laut atau sungai lain. Mesir itu sendiri merupakan sebuah rute pengangkutan, sejak hulu Nil sampai Mediterraean, dan, dari sungai Nil sampai pantai Laut Merah, ada sebuah rute pengangkutan pendek dari lengan Delta paling timur sampai Suez melalui Wadi Tumilat, dan lainnya melalui Wadi Hammamat dari Coptos, di Mesir Atas, sampai Qusayr Lama (Leukos Limen). Sebenarnya rute pangangkutan yang melintasi Tanah Genting Suez antara Laut Merah dan Mediterranean adalah bagian dari sebuah area rute pengangkutan lebih luas yang mencakup Mesir ke barat dan Irak ke timur. Di area ini, Mediterranean, yang merupakan sebuah bendungan air Samudra Hindia, saling terpisahkan oleh tanah kering yang sempit, dan jalur dari Mediterranean sampai Laut Merah melalui sungai Nil ditiru oleh jalur ke Teluk Persia melalui Eufrat.

Jalur-jalur kuminikasi yang unik ini membuat Mesir dan Asia Barat Daya menjadi pusat “geopolitik” Ekumene di Dunia Kuno. Tentu saja tidaklah kebetulan jika daerah ini juga merupakan tempat lahirnya kebudayaan Neolitik pertama, dan kemudian dua peradaban paling awal. Dua rute pengangkutan lain juga memiliki nilai penting sejarah yang tinggi: rute antara sungai-sungai yang bermuara keLaut Baltik dan yang bermuara ke Laut Kaspia dan Laut Hitam, dan rute yang melintasi daratan Cina Utara antara daerah-daerah Yangtse rendah, Hwai, Sungai Kuning dan Pei Ho –sebuah rute pengangkutan yang telah diubah menjadi jalan sungai dengan cara menggali Terusan Agung. Namun demikian, rute-rute Cina dan Rusia berada di pinggir Ekumene Dunia Kuno. Nilai penting historis rute-rute ini diungguli oleh rute tengah antara Mediterranean dan Samudra Hindia.

Di rute Mesir dan Asia Barat Daya yang dominan ini, lalu lintas berfokus pada dua “jalan lingkar”. Salah satunya ada di Syria, antara tonjolan barat sungai Eufrat dan pojok timur laut Laut Mediterranean; jalan lingkar lainnya ada di Afganistan sekarang ini, sebuah hamparan Barisan Hindu Kush yang ditembus oleh jalan-jalan yang menghubungkan lembah-lembah atas sungai Oxus dan Jaxartes dengan lembah atas sungai Indus. Syria bagian utara dihubungkan oleh rute laut dan darat dengan Mesir; oleh laut dengan seluruh pantai Mediterranean dan bendungan-bendungannya dan, melalui tanah genting Gibraltar, dengan Samudra Atlantik; oleh darat, naik ke lembah utara jauh dua hulu sungai Eufrat, dengan Pintu-pintu Kaspia dan Lembah Oxus-Jaxartes dan India, dan, melaui Selat Malaka, dengan Samudra Pasifik. Afganistan dihubungkan dengan Mesopotamia dan Syria bagian utara dan melintasi padang rumput Eurasia; dengan Cina via Sinkiang; dengan India melalui jalan-jalan yang menembus Barisan Sulaiman.

Sebelum menciptakan rel-rel kereta api dan pesawat terbang, lalu lintas yang bertitik temu di, dan memencar dari, dua “jalan lingkar” tersebut di atas menggunakan transportasi air, lewat sungai atau laut yang memungkinkan. Ketika orang-orang dan muatan terpaksa berjalan lewat darat pada masa sebelum dimulainya mekanisasi, manusia berada dalam genggaman kekuasaan tanah lapang. Gunugn-gunung dapat dielakkan atau diatasi; hutan-hutan, baik yang dingin maupun tropis, merupakan penghalang besar; padang-padang rumput menjadi luar biasa kondusif. Sebenarnya, tiga kawasan padang rumput tiga terbesar yang saling bersambungan –Eurasia, Arab, dan Afrika Utara- menjadi hampir sama kondusifnya dengan laut itu sendiri ketika manusia membudidayakan binatang-binatang pengangkutan: keledai, kuda, dan, di atas semuanya, onta. Dengan bantuan bunatang tunggangan, binatang pembawa muatan, dan binatang penarik, manusia dapat melintasi padang rumput nyaris sama cepatnya dengan ketika manusia menyeberangi laut; tetapi penggunaan kedua sarana angkutan itu membutuhkan keteraturan dan disiplin. Sebuah karavan, seperti seekor biri-biri, harus memiliki seorang kapten, dan atruan-aturannya harus ditaati.

Bahkan ketika padang-padang rumput, serta laut dan sungai yang dilayari, dimanfaatkan untuk menjadi jalur komunikasi antarbagian Ekumene yang berbeda, media transportasi milik manusia ini tetap tidak mencukupi sampai terbitnya fajar Zaman Mesin. Bahkan dengan sarana-sarana yang tidak mencukupi ini, kerajaan-kerajaan hidup bersama dan dijalankan secara bersama dan berhasil, serta agama-agama yang para juru dakwahnya berusaha mengkonvensikan seluruh manusia memperoleh dan mempertahankan para pemeluknya di wilayah yang lebih luas di banding wilayah kerajaan sekular manapun. Kerajaan Persia Pertama, Kerajaan Cina, Kerajaan Romawi, Kekhalifahan Arab, dan tiga agama besar –Budha, Kristen dan Islam—adalah monumen-monumen kejayaan kekuasaan-kekuasaan manusia atas rintangan-rintangan fisik. Tetapi batas-batas keberhasilan mereka juga menunjukkan batas-batas sejauh mana praktek kehidupan masyarakat-masyarakat manusia tanpa bantuan alat-alat komunikasi mekanis yang telah diciptakan sejak permulaan abad ke-19.

Bukti paling kuat atas keterbatasan alat komunikasi sebelum permulaan abad mesin adalah sejumlah bahasa yang berbeda, dengan lokalitasnya di daerah-daerah Ekumene yang berlainan, yang tidak saling memiliki kesamaan.kata-kata adalah hasil dari sebuah fakultas manusia yang universal. Tidak pernah ada sebuah komunitas manusia yang tidak mempunyai kata-kata. Dua fakta ini secara bersamaan menunjukkan bahwa, sebelum homo sapien menyebar ke seluruh jengkal tanah biosfir dari Afrika Timur di khatulistiwa (jika daerah ini merupaakan tempat pemunculan pertama spesies genus homo), manusia secara keseluruhan pasti sedang dalam proses membuat bahasa, tapi belum sepenuhnya mampu mengembangkan potensialitasnya ini. Hipotesis ini akan menerangkan bagaimana semua komunitas manusia mempunyai bahasa, tapi bahasa-bahasa mereka, tidak seperti manusia yang berbicara dengannya, tidak seluruhnya saling bersaudara secara nyata. Tentu saja, hanya manusia, yang kita kenal melalui relik-relik selain tulang dan alat-alat, yang merupakan seluruh wakil dari satu-satunya spesies yang masih bertahan hidup. Kita tidak tahu, dan kita tidak mempunyai alat untuk menyibaknya, apakah spesies genus homo lain atau genera dari keluarga hominid belajar untuk berbicara, atau apakah kemampuan berbicara ini hanya khas homo sapien.

Bahasa-bahsa yang diketahui dan dipakai oleh komunitas-komunitas berbeda dari spesies kita sendiri memliki luas jangkauan yang berbeda-beda pula.

Di hutan-hutan tropis di Afrika Barat, sebelum hutan-hutan ini dibabad oleh orang-orang luar yang masuk ke Afrika ada berbagai bahasa yang kiranya tidak saling berhubungan secara dekat. Jangkauan masing-masing bahasa tersebut sangat terbatas. Warga kedua desa yang hanya dipisahkan oleh beberapa mil hutan mungkin tidak dapat saling berkomunikasi dengan kata-kata secara baik. Lingua franca mereka adalah gerak bisu. Bahasa-bahasa vokal yang kini hidup di Afrika Barat berasal dari luar: Bahasa Hausa, sebagai contoh, dari padang Afrika Utara dan bahasa Francis serta Inggirs dari daerah pantai.

Berkebalikan dengan hutan yang relatif sulit ditembus, laut mengantarkan bahasa-bahasa Melayu ke arah timur laut sampai di Philipina dan ke arah barat daya sampai di Madagaskar. Laut juga telah mengantarkan penyebaran bahasa Polynesia ke seluruh pulau Oceania, sama jauhnya jarak dari benua Asia dengan jarak antara pulau Easter dan Selandia Baru. Laut Mediterranean pernah mengantarkan penyebaran bahasa Punic, Yunani, dan Latin di sekitar pantai-pantainya, dan Samudra Atlantik menyebarkan bahasa Spanyol, Portugis, Inggris, dan Prancis dari Eropa Barat ke Amerika. Padang rumput juga mengantarkan penyebaran bahasa-bahasa nyaris sejauh yang dilakukan laut. Mula-mula bahasa-bahasa Indo-Eropa dan kemudian bahasa-bahasa Turki telah melintasi padang Eurasi dan menyebar melampaui pantai-pantainya dengan arah yang berlawanan. Bahasa Arab menyebar dari jazirah Arab melintasi padang Afrika Utara sampai ke pantai Samudra Atlantik.

Diseminasi bahasa melaui media non-manusia yang kondusif ini diperkuat oleh penyebaran manusia yang sengaja dalam bentuk aktivitas misionaris keagamaan, penaklukan militer, organisasi politik, dan perdagangan. Suku-suku dan para pengeran kerajaan Aramae tidak berdaya secara politik; mereka ditaklukkan oleh orang-orang Assyria; namun bahasa Aramaik tersebar ke seluruh Asia Barat Daya, dan huruf Aramaik tersebar sampai ke Mongolia dan Mansyuria, akibat penggunaan bahasa Aramaik di lingkungan pemerintahan Assyria dan Kerajaan Persia Pertama serta penggunaan liturgisnya oleh gereja-gereja Kristen Nestoria dan Manichae. Di lain pihak, keberhasilan bahasa Yunani dalam menggantikan bahasa Aramaik sebagai lingua franca di Asia Barat Daya dan Mesir merupakan akibat penaklukkan militer Kerajaan Persia Pertama oleh Alexander Agung, dan penaklukan militer juga menjadi agen penyebarluasan bahasa-bahasa romantik ke arah tumur sampai Rumania dan ke arah barat sampai Cile dari daerah kecil yang berbahasa asli Latin membentang ke bawah sampai sungai Tiber Italia.

Dalam sejarah Ekumene, rezim-rezim yang berbeda memainkan peran kepemimpinan pada waktu yang berbeda-beda pula. Jika Afrika Timur bagian khatulistiwa dan selatan sebenarnya merupakan tempat kelahiran hominid dan, di tengah-tengahnya, kelahiran spesies sapien dari genus homo, maka Afrika Timur dan Ekumene awalnya memiliki batas-batas yang sama. Sebelum berakhirnya Zaman Palaeolitik Tinggi, Ekumene telah meluas dari Afrika Timur melewati sebagian besar benua Asia, dan umat manusia sedang menjajah Amerika. Pada fase ini, peran kepemimpinan rezim-rezim tersebut tampak telah sampai di pinggiran selatan bongkahan es Eropa Utara, di mana para pemburu zaman Palaeolitik Tinggi menemukan hewan yang melimpah ruah sebelum es mencair. Namun demikian, keunggulan Eropa pada zaman ini mungkin hanyalah sebuah ilusi akibat kurangnya informasi yang kita miliki. Jika jejak-jekak yang ditinggalkan oleh manusia Palaeolitik Tinggi pada akhirnya diketemukan secara lengkap di belahan dunia selebihnya sebagaimana yang terlah ditemukan di Eropa, maka gambaran ini bisa jadi tampak lain.

Kita dapat meresa lebih pasti bahwa, pada Zaman Neolitik, peran kepemimpinan ini dimainkan oleh Asia Barat Daya dan batas-batas paling utara lembah Nil, dan bahwa Sumer –tanah baru di lembah rendah Tigris dan Eufrat—adalah tempat kelahiran perdagangan paling awal, meskipun, selama zaman Neolitik, bagian Asia Barat Daya ini tidak bisa ditempati. Abad k-13 ketika tanah baru yang melimpah ruah ini akhirnya tidak lagi produktif, menjadi saksi peran kepemimpinan di Ekumene yang dimainkan oleh Mongolia selama dua generasi pendek, berkat kondusivitas padang Eurasi dan mobilitas, keberanian serta kedisiplinan para penggembala nomaden Eurasia. Orang-orang Mongol itu menundukkan seluruh daerah penting benua Asia; hanya jazirah-jazirah dan pulau-pulaunya yang tak berpantai yang tetap tak terjamah. Kemudian, pada abad ke-15, peran pemimpin di Ekumene diambilalih oleh Eropa Barat ketika pasukan laut mereka menguasai samudranya –sebuah media kondusif yang jauh lebih luas daripada padang Eurasia.

Ketika, pada abad ke-20, Eropa Barat kehilangan hegemoni ekumenisnya karena dua perang saudara, peran kepemimpinan beralih ketangan Amirika Serikat. Tapi tampaknya seolah-olah kuasa pengaruh Amerika di Ekumene akan berlangsung sama singkatnya dengan kuasa pengaruhn Mongol sebelumnya. Masa depan masih menjadi teka-teki, tetapi kelihatannya dalam babak sejarah Ekumene selanjutnya peran kepemimpinan mungkin berpindah dari Amerika ke Asia Timur.

BAB IV

DAMPAK REVOLUSI INDUSTRI :

SEBUAH KAJIAN EKOLOGI POLITIK

Selama 1763-1871 yang luar biasa, terjadilah sebuah peristiwa terpenting dan fenomenal, yakni meningkatnya kekuasaan manusia yang drastis dan tiba-tiba atas sesama manusia dan alam semesta non-manusia. Peningkatan kekuasaan manusia ini dicapai berkat inovasi sosial dan inovasi teknologi. Efesiensi tentara dan buruh induistri meningkat karena mereka berdisiplin tinggi dan bekerja dengan mesin-mesin dan senjata-senjata yang tingkat kemampuannya sangat tinggi yang tidak pernah ada sebelumnya, serta karena pekerjaan mereka diatur secara baik.

Tentara professional yang berdisiplin mulai dibentuk di Barat menjelang berakhirnya abad ke-17. Dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya pada abad ke-18, rezimentasi yang telah diterapkan di barak-barak militer kemudian diterapkan dalam pabrik-pabrik, dan sebuah teknik yang telah dipakai untuk memberi lubang-lubang senjata diterapkan untuk membuat piston-piston pada mesin-mesin uap. Dalam bidang non-militer, peningkatan kekuasaan manusia yang tiba-tiba ini menjustifikasi sebuah revolusi, yakni revolusi teknologi dan ekonomi, meskipun permulaannya tidak diketahui secara persis sebagaimana meletusnya revolusi politik atau revolusi perang.

Revolusi tekbnologi dan ekonomi yang dimulai di Inggris pada seperempat ketiga abad ke-18 mengubah kehidupan pertanian, peternakan, dan industri. Padatahun 1871, revolusi ini telah menyebar ke luar Inggris hingga Eropa continental dan mulai masuk ke Amerika Utara dan Jepang. Pada awal millennium ke-2 ini, revolusi industri ini masih terus berlangsung dan belum tampak kapan akan berakhir. Namun, apa yang tampak jelas adalah bahwa pada saat itu Revolusi Industri telah membalikkan hubungan antara manusia dan biosfir.

Manusia, tentu saja, telah mengukuhkan keberadaannya di biosfir ini, tetapi sampai sekarang mereka, seperti semua makhluk hidup lain di biosfir ini, harus hidup dalam batas-batas toleransi biosfir. Spesies apa pun yang hidup melampaui batas-batas toleransi ini pasti beresiko musnah. Senyatanya, semua spesies, termasuk manusia, hidup di sini atas kemurahan hati biosfir. Akan tetapi, sekarang Revolusi Industri menyebabkan biosfir ini justru beresiko dimusnahkan oleh manusia. Mengingat manusia tinggal di biosfir ini dan tidak mungkin hidup tanpanya, daya upaya manusia untuk membuatnya tak bisa ditempati lagi sebenarnya merupakan ancaman yang dibuat oleh manusia terhadap kelangsungan hidupnya sendiri.

Peningkatan daya manusia selama dekade-dekade terakhir pada abad ke-18 terbatas di Inggris, tetapi prestasi Inggris ini telah disamai oleh prestasi negara-negara Barat lain pada 1871. Hal ini membuat Barat secara keseluruhan lebih maju daripada semua negara lain di ekumene ini. Dominasi dunia oleh Barat tersebut merupakan peristiwa terpenting kedua pada 1763-1871. Peristiwa terpenting ketiga adalah reaksi di sejumlah negara non-Barat terhadap tekanan yang dilakukan Barat. Peristiwa terpenting keempat atau terakhir yang patut dicatat adalah bergolaknya masalah-masalah domestik Barat sendiri. Dan, Revolusi Industri tidak dapat digambarnya hanya oleh salah satu peristiwa terpenting terasebut. Walaupun dimulai di sebuah negara Barat, Revolusi Industri merupakan sebuah peristiwa yang terjadi di biosfir yang sangat luas.

Tujuan para perancang Revolusi Pertanian dan Industri di Ingris adalah meningkatkan produksi kekayaan materi secara maksimal. Periastiwa ini berlangsung pada saat yang tepat, karena, satu generasi sebelumnya, jumlah penduduk Inggris dan beberapa negara Barat lain mulai bertambah secara cepat seperti pertambahan penduduk di Cina sejak abad ke-17. Akan tetapi para perancang revolusi tersebut tidak berniat mencukupi kebutuhan kolektif masyarakat mereka; peningkatan produksi itu dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan secara individual. Mereka berhasil meningkatkan GNP secara dramatis, tetapi juga meningkatkan ketidakmerataan distribusi keuntungan dan distribusi kepemilikan tanah dan tanaman sebagai instrumen-instrumen produksi.

Beberapa cara kerja tradisional yang relative tidak efesien –misalnya, pertanian berskala kecil dan kombinasi antara pertanian jenis ini dan industri berskala kecil pula, terutama pemintalan dan penenunan– macet total. Produksi, baik pertanian maupun industri, sekarang ditata dalam unit-unit berskala besar dengan peralatan yang canggih dan mahal. Perubahan-perubahan simultan ini mulai mendorong perpindahan penduduk dari desa-desa ke kota-kota industri baru. Pada saat yang sama, urbanisasi ini merenggut independensi ekonomi sebagian besar migran yang sebelumnya hidup mandiri. Seiring dengan pertambahan penduduk yang cepat, persentasi buruh yang hanya mampu menjual jasa (tenaga) meningkat tajam jika dibandingkan dengan persentase majikan dan orang yang bekerja mandiri.

Perubahan keadaan hidup dan kerja, serta perubahan distribusi pendapatan dan kekayaan menyebabkan naiknya GNP tetapi harus dibayar dengan terciptanya ketidakadilan dan penderitaan. Tidak ada standar objektif untuk menilai adil-tidaknya undang-undang parlemen yang mengatur pengalokasian dan pembatasan tanah yang sebelumnya milik umum jadi milik pribadi. Pembagian keuntungan industri di antara pemilik pabrik, investor dan juga buruh juga diperselisihkan. Yang jelas adalah bahwa pembatasan tanah jadi milik pribadi ini menyebabkan banyak pemilik tanah-tanah yang sempit di pedesaan tidak dapat memperoleh penghidupan dari tanah-tanah mereka itu, dan bahwa, ketika para bekas petani ini menjadi buruh industri, mereka juga hampir tidak mungkin hidup denga upah mereka.

Inilah konsekuensi-konsekuensi manusiawi yang paradoksal dan menyedihkan dari peningkatan produksi kekayaan materi. Penyebab dari masalah-masalah sosial ini adalah tujuan para pemilik pabrik dalam mendirikan pabrik mereka yang menandai bergeraknya roda Revolusi Industri. Stimulus yang mendorong mereka adalah sifat rakus, dan sifat rakus ini sekarang tidak bisa dikendalikan oleh norma-norma tradisional, yakni hukum, adat istiadat, dan hati nurani.

Dalam sebuah buku yang berpengaruh, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776), seorang professor Skotlandia, Adam Smith, menggariskan bahwa, jika setiap individu diberi kebebasan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya sendiri, masyarakat secara keseluruhan akan mencapai tingkat kemakmuran yang tertinggi. Sayangnya, syarat-syarat yang Adam Smith sendiri paparkan berkenaan dengan tesisinya itu diabaikan, dan bagaimanapun tesis tersebut tidak masuk akal. Peningkatan produktivitas melalui permainan bebas yang mewadahi sifat rakus disertai dengan pemborosan dan kekacauan dalam kompetisi, dan kompetisi ekonomi yang tak terbatas menciptakan jauh lebih banyak korban daripada pemenang.

Buruh industri menjadi kelas social baru yang teralienasi dari masyarakatnya yang menuntut kelas tersebut eksis tetapi tidak menyediakan aturan main yang adil. Satu-satunya senjata yang dimiliki buruh pabrik untuk mempertahankan diri adalah daya tawar kolektif terhadap majikan-majikan mereka. Syarat terbentuknya daya tawar kolektif yang kuat adalah solidaritas monolitik. Karenya, buruh terpaksa tunduk pada sebuah tirani mereka sendiri untuk melawan tirani majikan-majikan mereka yang mengungkung mereka. Para blackleg (buruh yang tetap bekerja ketika rekan-rekannya mogok) yang mengkhianati kekuatan kolektif mereka diintimidasi. Di Inggris, kekuatan kolektif buruh setelah dilarang pada 1799 dilegalkan pada 1824-5. Dan, sebenarnya perang antarkelas telah dimulai bersamaan dengan meledaknya Revolusi Industri, dan perang ini menyebar dari Inggris ke negara-negara lain.

Majikan dan pemilik pabrik sebagai musuh-musuh buruh bukan hanya berwatak bengis, tetapi juga pintar, berani, dan sulit dikalahkan. Richard Arkwright (1732-92), penemu mesin pintal, yang beroleh kekayaan dengan mematenkan temuan-temuan yang mungkin kini bukan hanya miliknya, lebih khas daripada James Watt (1736-1819), seorang penemu yang beruntung mendapatkan banyak mitra yang memungkinkan memperoleh sejumlah hadiah materi berkat kejeniusannya. Kebanyakan penemu, yang menjadi modal penting bagi Revolusi Industri, membuka kemungkinan bagi para memilik pabrik yang lebih cekatan untuk mendapatkan keuntungan materi. Kebanyakan penemu ini mencoba-coba cara membuat temuan-temuan secara empiris.

Watt adalah perkecualian: dia menguasai sain dan tekonologi seperti bertemu dengan jodohnya. Inspirasinya yang ditemukan di Universitas Glasgow berbuah di pabrik Matthew Boulton di Brimingham. Watt tidak mengenyam bangku kuliah, tetapi dia memperoleh keuntungan intelektual berkat persahabatannya dengan sorang profesor kimia, Joseph Black (1728-99). Pada abad ke-19, para akademisi ilmu kimia, khususnya di universitqas-universitas Jerman, mulai menerapkan ilmu mereka ke dalam proses-proses industri secara langsung dan sistematis.

Penyempurnaan-penyempurnaan mesin uap yang menentuklan oleh Watt membuat mesin ini sangat berguna untuk produksi industrial dan penambahan daya tarik lokomotiof, serta untuk pemompaan, yang sebelumnya telah banyak dipergunakan. Kapal uap pertama berlayar pada 1807, dan kereta uap pertama diluncurkan pada 1829. Mesin uap adalah sebuah mesin, dan penggunaan mesin adalah cirri teknologis yang mencolok dalam Revolusi industri.

Sebenarnya, alat-alat perlengkapan hidup sama tuanya dengan umur umat manusia itu sendiri, tetapi sebuah alat hanya melengkapi daya otot masnusia tanpa pernah bisa menggantikan tempatnya. Misalnya, daya tangan manusia dilengkapi dengan tombak, sekop, dayung, atau panah, tetapi alat-alat ini hanya bermanfaat ketika dipergunakan oleh manusia. Sebuah mesin membebaskan manusia dari pekerjaan fisik. Mesin ini bekerja untuk menusia dengan skala dan kecepatannya melampaui kemampuan fisik manusia. Ketika seorang manusia telah membuat sebuah mesin, dia cukup memencet tombol untuk menghidupkannya, kemudian mengawasi dan menjaganya agar tetap bekerja dengan baik. Sampan digerakkan dengan kekuatan fisik tangan manusia yang dibantu dengan dayung. Kapal layar digerakkan oleh angin, dan orang yang menjalankannya tidak membutuhkan kekuatan fisik untuk mendorongnya. Kapal layar adalah sebuah mesin, demikian juga –dengan definisi yang sama—senapan (yang berbeda dengan busur panah).

Kapal layar diciptakan pada sekitar 5.000 tahun sebelum dimulainya Revolusi Industri di Inggris, tetapi, sebelum terjadinya Revolusi Industri, penggunaan mesin –yang berbeda dari penggunaan alat-alat [non mesin]—masih jarang. Sekarang, penggunaan mesin telah menjadi biasa, dan bentuk-bentuk energi fisik non-makhluk hidup yang ditiru dalam mesin tidak terbatas pada angin, air, letusan [gunung], dan uap. Pada 1844, listrik berhasil digunakan untuk mengirim pesan lewat telegraf. Penemuan alat-alat logam menciptakan sebuah pekerjaan baru, yaitu pandai besi. Penemuan mesin uap menciptakan pekerjaan baru lain, ayaitu tukang mesin.

Kekuatan angin dan air memiliki dua kelebihan: bersih dan tidak pernah habis. Berbeda halnya, uap harus dihasilkan dengan membakar bahan bakar, dan asap sebagai hasil sampingan dari pembakaran itu mengotori udara. Polusi ini niscaya dan mengerikan, tetapi polusi tersebut masih ditoleransi sejauh tidak lebih dari sekadar gangguan lokal. Belum sampai dua abad Revolusi Industri bergulir, umat manusia telah menyadari bahwa dampak-dampak dari mesinisasi mengancam biosfir. Polusi global, bukan lokal, dapat membuat biosfir tidak bisa ditempati lagi oleh semua spesies, dan manusia tidak mungkin lagi tinggal di sana jika sumber-sumber daya alam yang tidak tergantikan habis, padahal manusia tidak bisa hidup tanpa sumber-sumber ini.

Sebelum terjadi Revolusi Industri, manusia telah merusak beberapa bagian dari biosfir ini. Sebagai contoh, manusia membuat tanah-tanah di lereng bukit jadi tandus karena menebangi pohon-pohon sebagai tempat menyimpan air bagi tanah tersebut. Manusia merusak hutan lebih cepat daripada mereboisasinya, dan dia menambang logam-logam yang sama sekali tidak tergantikan. Sebelum, meniru energi fisik alam semestas kedalam mesin-mesin yang berskala sangat besar, sebenarnya menusia tidak mempunyai kuasa untuk merusak dan menghancurkan biosfir tanpa bisa memperbaikinya lagi. Pada saat itu, udara dan air masih menjadi sumber daya alam yang tak terbatas, dan persediaan kayu dan logam masih sangat banyak dibandingkan dengan kekuatan manusia untuk menghabiskannya. Saat itu, setelah menusia menghabiskan satu tambang dan membabat habis sebuah hutan, selalu ada tambang-tambang baru dan hutan-hutan perawan lain yang menunggu untuk dieksploitasi. Namun, dengan Revolusi Industri, manusia menjatuhkan ancaman terberat yang pernah ada terhadap biosfir. Termasuk terhadap manusia itu sendiri.

Sebelum Revolusi Industri, orang-orang Barat telah mulai menguasai sesama manusia. Pada abad ke-16, orang-orang Spanyol menundukkan penduduk Meso-Amerika dan Andean dan melenyapkan peradaban mereka. Selama 1757-64, Maskapai India Timur milik Inggris menguasai Bengali, Bihar, dan Orissa. Pada 1799-1818, maskapai Inggris ini menaklukkan seluruh anak benua India sampai ke sebelah tenggara sungai Sutlej. Mereka melakukannya secara leluasa karena menguasai laut dan arena. Pada 1809 membuat perjanjian dengan Rajit Singh, seorang pendiri Kerajaan Sikh, yang di dalamnya kedua belah pihak menerima sungai Sutlej sebagai batas antara wilayah-wilayah taklukkan mereka. Pada 1845-9, maskapai Inggris tersebut meneruskan upaya menaklukkan dan aneksasi terhadap Kerajaan Sikh di Punjab. Sementara itu, pada 1768-74, Rusia mengalahkan Kekhalifahan Ustmaniyah secara telak ;pada 1798 Prancis menduduki Mesir, dan pada 1830 mulai menaklukkan Algeria; pada 1840 tiga Negara Barat dan Rusia mengalahkan seorang raja muda Utsmaniyah yang berani di Mesir, yaitu Muhammad Ali, dari arah Syria dan Palestina. Pada 1839-42, maskapai Inggrias tersebut mengalahkan Cina secara dramatis. Dan, pada 1853, sebuah skuadron laut Amerika memaksa pemerintah Tokugawa untuk menerima pendaratannya ke Jepang. Jepang tahu bahwa dirinya tak berdaya untuk mencegah tamu tak diundang ini dengan kekuatan senjata.

Keberhasilan militer negara-negara Barat dan sebuah negara Ortodoks Timur yang telah terbaratkan, yakni Rusia, harus dutebus dengan kekalahan-kekalahan mereka pada waktu kemudian. Pada abad ke-17, Portugal dikalahkan oleh pasukan Jepang dan Abyssinia. Sepasukan Inggris yang menginvasi Afganistan pada tahun 1839-42 dihancurleburkan. Namun, pada 1817, negara-negara Barat itu dan Rusia telah mendominasi seluruh dunia.

Sebelum Revolusi Industri di Inggris, Tsar Rusia, Peter Agung, telah mengetahui bahwa satu-satunya cara yang dapat menyelamatkan negara non-Barat dari dominasi Barat adalah menciptakan sebuah tentara model baru seperti tentara-tentara Barat yang dibentuk pada zaman Peter. Peter juga menyadari bahwa tentara ala Barat ini harus didukung dengan teknologi, perekonomian, dan pemerintahan a la Barat juga. Kegemilangan dominasi militer Barat dan Rusia yang telah terbaratkan atas negara-negara non-Barat antara 1757 dan 1853 menggerakkan penguasa sebagian Negara yang merasa terancam untuk meniru apa yang telah dilakukan Peter Agung.

Contoh-contoh penguasa ternama yang melakukan westernisasi pada abad pertama sejak bergulirnya Revolusi Industri di Inggris adalah Rajit Singh (berkuasa 1799-1838), pendiri Negara Sihk penerus, di Punjab, kekhalifahan Afgan Abdali; Muhammad Akli, raja Padishah Utsmaniyah di Mesir sejak 1805 sampai 1848; Mahmud II, raja Padishah Ustmaniyah (berkuasa 1808-39); Raja Mongkut di Thailan (berkuasa 1851-68); dan sejumlah pimpinan Jepang yang, atas nama kekaisarannya, menghancurkan rezim Tokugawa dan mengambilalih pemerintah Jepang pada 1868. Para permimpin yang melakukan Westernisasi ini lebih berpengaruh dalam sejarah ekumene daripada pemimpin-pemimpin Barat saat itu. Mereka berhasil membatasi dominasi Barat dengan mengkapanyekan cara hidup Barat modern di negara-negara non-Barat.

Jika prestasi-prestasi semua negara Barat tersebut di atas luar biasa, para perancang Revolusi Meiji di Jepang pun sangat berhasil. Mereka adalah anggota-anggota kelas militer tradisional yang memiliki privilese, meskipun hidup miskin, yaitu samurai. Shogun Tokugawa ambruk setelah memberikan sedikit perlawanan. Kemudian, mayoritas samurai rela untuk melepaskan privilese mereka. Sekelompok kecil dari mereka yang memberontak pada 1877 dikalahkan dengan mudah oleh sebuah pasukan Jepang a la Barat baru yang beranggotakan para petani terlatih yang sebelum 1868, dilarang memiliki senjata.

Muhammad Ali dan Mahmud II tidak mengawali langkahnya dengan mulus. Sebagaimana Peter Agung, mereka merasa tidak dapat mulai membentuk tentara a la Barat sebelum membubarkan tentara tradisional mereka. Peter membasmi Streltsy Moskwa (“Pasukan Pemanah”) secara masal pada 1698-9; Muhammad Ali melenyapkan orang-orang Mamluk Mesir pada 1811, dan Mahmud II menghapus para janizary Utsmaniyah pada 1826. Semua tentara a la Barat yang baru ini menunjukkan sepak terjang yang bagus. Muhammad Ali mulai membangun angkatan daratnya yang baru pada 1819 dan angkatan lautnya pada 1821.

Pada 1825, semasa kauasaan Mahmud II. pasukan petani Mesir yang terlatih dengan baik nyaris berhasil menguasai kembali parapengacau Yunani yang berani tetapi tidak disiplin. Orang-orang Yunani ini bisa selamat berkat intervnsi Prancis, Inggris, dan Rusia yang menghancurkan pasukan Mesir dan Turki pada 1927 dan memaksa anak Muhammad Ali, Ibrahim, mengevakuasi orang-orang Yunani pada 1828. Pada 1833, Ibrahim menaklukkan Syria tetapi gagal masuk ke Istambul hanya karena intervensi Rusia demi kepentingan Mahmud II. Tentara Muhammad Ali lebih kuat daripada tentara Mahmud II, karena dia mulai membentuknya lebih awal. Mahmud II tidak dapat memulainya sebelum 1826, tahun ketika dia menghapuskan janizary. Namun, dalam perang Rusia-Turki pada 1828-9, tentara petaninya dengan model baru yang terlatih ini melakukan perlawanan yang jauh lebih liat daripada tentara Utsmaniah kuno dalam perang Rusia-Turki pada 1768-74, 1787-92, dan 1806-12.

Rajit Singh, sebagaimana tokoh yang sezaman dengannya, Muhammad Ali, merekrut bekas pasukan Napoleon sebagai perlatih militer. Inggris berhasil mengalahkan pasukan Sikh yang terlatih a la Barat pada 1845-6 dan lagi pada 1848-9, tetapi dua perang ini dimenangkan Inggris dengan usaha yang lebih keras dan korban yang lebih banyak daripada penaklukkan mereka sebelumnya atas seluruh India kecuali Punjab.

Para penguasa non-Barat yang melaksanakan westernisasi negara-negara mereka tidak dapat melakukan hanya dengan bantuan segelintir penasihat dan pelatih Barat. Mereka harus menemukan atau menciptakan sekelompok pribumi mereka jadi sebuah kelas yang berpendidikan Barat yang dapat menghadapi orang-orang Barat dalam kedudukan yang kurang lebih setara dan dapat menjadi mediator antara Barat dan rakyat mereka yang belum terbaratkan. Pada abad ke-17 dan 18, pemerintah Utsmaniyah mendapatkan kelas baru seperti ini yang siap pakai, yakni penduduk Ustmaniyah Yunani yang telah mengenal Barat karena mereka menempuh pendidikan di sana atau menjalin hubungan dagang dengan orang-orang Barat.

Peter Agung di Rusia, Muhammad Ali di Mesir, dan maskapai Inggris di India harus menciptakan kelas mediator yang juga mereka butuhkan. Di Rusia kelas ini disebut intelligentsia, sebuah kata serapan dari bahasa Prancis yang mendapat akhiran dari bahasa Rusia. Selama 1763-1871, kelas intelligentsia tumbuh di setiap negara yang jatuh ke tangan kekuasaan Barat atau menyelamatkan diri dari penderitaan semacam ini dengan melakukan westernisasi untuk mempertahankan independensi politiknya. Seperti para pemilik pabrik dan buruh industri yang tumbuh di Inggris pada abad itu, kaum intellegetsia non-Barat adalah sebuah kelas baru, dan pada 1970-an kelas ini mengukuhkan perannya yang besar dalam sejarah umat manusia.

Intelligentsia dibentuk oleh pemerintah untuk memenuhi tujuan-tujuan pemerintah itu sendiri, tetapi kelas ini segera menyadari bahwa dirinya memegang posisi kunci di dalam masyarakatnya, dan dalam setiap kasus, kelas ini kemudian melangkah ke jalur yang independen. Pada 1821, invasi pangeran Yunani eks-Utasmaniyah, Aleksander Ypsilantis, atas kekhalifahan Utsmaniyah memberi pelajaran pada pemerintah Utsmaniyah bahwa kaum intelligentsia-nya tidak bisa diandalkan lagi. Pada 1825, konspirasi para petinggi militer Rusia yang berpendidikan Barat untuk menentang Tsar Nicholas I, tetapi kaum intelligentsia menunjukkan isyarat untuk tumbuh kembali. Ini terjadi bukan hanya di Rusia tetapi juga di sejumlah negara lain yang telah melakukan westernisasi.

Hidup di antara dua dunia –inilah peran kaum intelligentsia— adalah sebuah laku spiritual, dan di Rusia pada abad ke-19 laku spiritual ini melahirkan kesusastraan adi luhung yang tidak tertandingi pada zaman itu. Novel-novel Turgenev (1818-83), Dostoyevsky (1821-81), dan Tolstoy (1828-1910) merupakan kekayaan sastra dunia.

Dibandingkan dengan Revolusi Industri di Inggris dan pengaruh Barat di negara-negara non-Barat, bidang-bidang kultural dan politik Barat pada 1763-1871 dinomorduakan –sangat buruk meskipun sebenarnya bidang-bidang ini berkembang jika dilihat dari sejarah perkembangan kedua bidang tersebut dalam konteks global. Pada abad ini, tokoh-tokoh seni peradaban Barat adalah orang-orang Jerman. Immanuel Kant (1724-1804) adalah filosof Barat terbesar, dan Goethe (1749-1832) adalah penyair Barat terbesar pada abad ini. Dua tokoh Jerman termasyhur ini lebih bersinar daripada dua meteor Inggris yang brilian, Shelley (1792-1822) dan Keats (1795-1821). Mozart (1756-91) dan Beethoven (1770-1827) membawa musik klasik Barat ke puncak kejayaannya. Perlu dicatat bahwa keunggulan budaya Jerman itu pada zaman modern dalam sejarah Barat berkebalikan dengan kekuatan politik dan kemakmuran ekionominya. Musik Jerman berkembang setelah berakhirnya Perang Tiga Puluh Tahun, tetapi kemudian layu setelah berdirinya Reich Kedua.

Dalam bidang sains, Edward Jenner (1749) membuktikan pada 1798 bahwa kekebalan terhadap penyakit cacar dapat diperoleh dengan vaksinasi, dan pada 1857 Louis Pasteur (1822-95) membuktikan keberadaan bakteri. Sebelum panyakit cacar dan bakteri diketahui, dua preditor yang memangsa manusia dan binatang piaraan ini telah menelan lebih banyak koraban jiwa daripada binatang-binatang karnivora yang telah manusia tundukkan pada zaman Palaeolitik Tinggi. Setelah teridentifikasi, akhirnya bakteri juga dapat diatasi oleh manusia. Sekarang tidak ada musuh yang mematikan bagi manusia di biosfir ini kecuali manusia itu sendiri.

Aplikasi sains jadi teknologi membuat manusia semakin dan semakin hebat. Aplikasinya jadi pengobatan preventip menyebabkan pertambahan populasi manusia di bosfir ini sangat akseleratif; dan penurunan angka kematian yang lebih cepat daripada angka kelahiran disusul dengan pemakaian alat-alat kontrasepsi. Pada tahun yang sama, 1798, ketika Jenner membuktikan kemanjuran vaksinasi cacar, T.R. Malthus menerbitkan bukunya, Essay on Population, dan buku ini mengilhami Charles Darwin (1809-82) untuk memaparkan konsepnya tentang perjuangan untuk mempertahankan hidup (struggle for life) sebagai sub judul dari The Origin of Species (1859).

Satu abad sebelum Darwin, Buffon menyempal dari doktrin tradisional agama-agama Yahudi bahwa berbagai spesies makhluk hidup telah diciptakan sekali untuk selamanya, sebagai entitas-entitas yang berbeda dan kekal, oleh Tuhan yang Mahakuasa. Tesis Buffon bahwa keanekaragaman spesies merupakan hasil dari proses perubahan dalam rentang waktu yang lama diikuti dalam bidang geologi oleh Charles Lyell (1797-1875), yang karyanya, Principles of Geology (1830-3), juga telah dibaca Darwin. Tesis Darwin mengejutkan kaum Kristen Ortodoks. Kata-kata “seleksi” dan “kelangsungan ras-ras yang lebih kuat” (preservation of favoured reces) mengindikasikan mitos Yahudi tentang “orang-orang terpilih”. Meskipun Darwin membuang postuilat tentang Tuhan Sang Pencipta, dia menggantinya dengan hipotesis tentang seleksi alam impersonal pada serangkaian mutasi yang teramati tetapi tidak terjelaskan.

Gagasan revolusioner Darwin bukanlah penjelasannya tentang mekanisme perubahan biologis, tetapi pembuktiannya bahwa hidup di biosfir ini bersifat dinamis, bukan statis. Darwin membuktikan dalam biologi apa yang telah Hegel (1770-1831) tunjukkan dalam filsafat. Hegel menggambarkan hidup dalam proses perubahan dalam dimensi waktu. Dia menerjemahkan fenomena perilaku seksual –yang melahirkan keturunan dengan ciri-ciri yang berasal dari masing-masing induknya—ke dalam istilah-istilah intelektual: tesis, antitesis, dan sintesis. Mendel (1822-84) menemukan hukum-hukum genetika; dia dapat merumuskan hukum-hukum ini secara kuantitatif. Dia mempublikasikan temuan-temuannya ini pada 1864-6, tetapi temuan-temuannya tetap tidak dikenal sampai Darwin dibicarakan banyak orang. Temuan-temuannya itu tetap diabaikan sampai 1900.

Dalam bidang militer dan politik, abad ini menjadi saksi atas kemerdekaan Amerika Serikat setelah mengalami Perang Revolusi (1776-83); pemulihan persatuan dan kesatuan setelah Perang Sipil (1861-5); dan ekspansi geografisnya ke Amerika Utara menyusuri pantai-pantai (1783-1853). Abad yang sama juga manyaksikan upaya Prancis pada 1797-1815 melalui Napoleon untuk menyatukan kembali Dunia Barat secara politis di bawah dominasi Prancis yang sebelumnya pernah dilakukan Louis XIV dalam peperangan 1667-1713. Akibat dari kegagalan Napoleon adalah terbentuknya negara nasional Italia pada 1859-70 dan Jerman pada 1866-71. Maka, pada abad tersebut, penataan politik Dunia Barat sebagai sekumpulan negara nasional yang berdaulat dan merdeka mengalami kemajuan, tetapi upaya untuk menyatukan Barat secara politis justru menyebabkan kemunduran.

Perluasan territorial Prancis oleh Napoleon jauh lebih besar daripada yang pernah dilakukan oleh Louis XIV. Namun, dalam interval antara dua masa ekspansi militer Prancis yang berurutan ini, luas Dunia Barat bertambah sebanding dengan perluasan wilayah-wilayah taklukkannya. Louis XIV lebih berhasil dalam menguasai Dunia Barat dengan ukuran yang lebih sempit pada 1700 daripada Napoleon dalam menguasai Duinia Barat dengan ukuran yang jauh lebih luas pada1800. Sementara itu, Rusia, India, dan Amerika Utara telah dikuasai oleh Barat; wilayah geografis Rusia secara militer sebenarnya tak terbatas. Saat itu, wilayah-wilayah taklukkan Barat telah menjadi kekuatan ekonomi yang menentukan. Dan, selama perang-perang Napoleon, semua wilayahn taklukan ini berada dalam kekuasaan ekonomi Inggris berkat kemenangan atas Prancis di lautan.

Bekas koloni-koloni Inggris di Amerika Utara telah memerdekakan diri secara politis, tetapi mereka tetap mencari keuntungan melalui hubungan dagang dengan Inggris. Demikain juga yang terjadi di bekas koloni-koloni Spanyol dan Portugal di Amerika, ketika mereka meraik kemerdekaan secara insidental akibat invasi Napoleon ke Semenanjung Iberia. Sumber-sumber material di luar Barat adalah bahan bakar perang bagi Inggris dan juga buah dari kemenangannya atas Napoleon. Pada 1821, bekas dominion-dominion Spanyol di Amerika, dan bekas dominion Portugal, yakni Brasil, menyusul kemerdekaan Amerika Serikat secara politis. Namun, secara ekonomis, negara-negara Amerika Latin menjadi, dan Amerika Serikat terus menjadi, bagian pasar luar negeri bagi produk-produk industri mekanis Inggris.

Beberapa revolusi yang meletus di Dunia Barat selama 1763-1871 memiliki ciri yang berlainan. Revolusi Industri di Inggris bersifat teknologis, ekonomis, sosial, bukan politis, meskipun mempunyai imbas politis non-revolusi ketika pada 1832 sebuah plakat reformasi yang dikeluarkan parlemen Inggris mulai mengalihkan kekuasaan politiknya dari para pemilik tanah pedesaan ke kelas menengah urban. Revolusi yang mengubah bekas koloni-koloni Inggris di Amerika Utara jadi Amerika Serikat bukanlah revolusi teknologi, ekonomi, atau sosial, tetapi revolusi politik. Revolusi Prancis yang dimulai pada 1789 bersifat politik, ekonomi, dan sosial. Revolusi Prancis ini mengalihkan kekuasaan politik dari raja ke kelas menengah urban, dan mengalihkan kepemilikan tanah dari kaum aristokrat ke kaum petani secara besar-besaran.

Di Inggris pada saat yang sama, para pemilik tanah yang sempit dipaksa jadi kaum buruh tani yang berupah, atau dipaksa keluar dari tempat tinggalnya di pedesaan untuk menjadi buruh industri yang berupah juga. Sebaliknya, di Amerika Serikat, para pemilik tanah tetap bertahan dan bahkan menguasai tanah-tanah yang masih perawan sampai ke barat, yang diikuti oleh para imigran yang haus tanah dari desa-desa Eropa. Amerika Serikat tetap merupakan, dan Prancis menjadi, sebuah komunitas warga yang mandiri kecuali sebagian besar budak hitam Afrika di negara-negara bagian selatan Amerika Serikat dan sebagian kecil buruh urban yang seragam di Prancis.

Perbudakan atas orang-orang Afrika dan importasi mereka ke permukiman-permukiman Eropa di Amerika sama buruknya dengan akibat penemuan “Dunia Baru” Eropa Barat oleh Columbus sebagai penaklukan atau pengusiran penduduk Amerika pra-Columbus. Selama 1763-1871, status yuridis perbudakan dihapus di sebagian besar Amerika: di Haiti antara 1793 dan 1803, di seluruh kerajaan kolonial Prancis pada 1848, dan di kerajaan kolonial Brasil pada 1833, di Amerika Serikat pada 1863, dan di Brasil secara perlahan-lahan antara 1871 dan 1888. Penghapusan perbudakan di Haiti dilakukan dengan revolusi dan perang selama sepuluh tahun, sedangkan di Amerika Serikat dengan perang saudara pada 1861-5. Namun, penghapusan perbudakan, baik dengan cara damai maupun kekerasan, meninggalkan masalah ekonomi dan sosial.

Di Amerika Serikat, dan di Prancis sampai 1871, para pekerja industri yang berupah masih menjadi penduduk minoritas. Pembukaan tanah-tanah perawan di Amerika Serikat dan penguasaan tanah yang luas oleh kaum petani di Prancis menyelamatkan dua negara Barat ini dari migrasi massif para pekerja bekas warga desa di kota-kota. Di Inggris migrasi seperti ini merupakan konsekuensi dari Enclosure Act. Akan tetapi, di Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris buruh industri tetap teralienasi dari “kemapanan” kelas menengah, dan mereka tidak dapat memperbaiki nasib mereka baik dengan cara damai maupun kekerasan.

Kelas menengah yang merancang Revolusi Prancis pada 1789 mengeksploitasi kebencian golongan proletariat urban, tetapi mereka tidak melakukan apapun untuk mengurangi penderitaan golongan proletariat itu. Alih-alih mengurangi penderitaan, dalam hal ini mereka justru berperilaku seperti musuh-musuh mereka di Inggris. Kelas menengah Prancis memangkas belenggu-belenggu tradisional terhadap kebebasan usaha ekonomi swasta., yang sebelumnya melindungi kelompok masyarakat ekonomi lemah. Slogan laissez-faire, laissez-passer –yakni, hapus pembatasan terhadap produksi industri dan hapus bea cukai untuk transportasi barang-barang—menggema di Prancis, tetapi segera saja sebuah undang-undang yang melarang tuntutan-tuntutan tersebut dibuat di Prancis pada 1791, delapan tahun sebelum pembuatan undang-undang serupa di Inggris.

Di Prancis upaya-upaya golongan ploretariat Paris untuk mengubah revolusi politik jadi revolusi sosial dilumpuhkan oleh kekuatan militer pada 1795, 1848, dan 1871. Gerakan kaum buruh urban Prancis dimentahkan oleh kelas menengah dan kaum petani. Di Inggris buruh industri menaruh harapan pada unionisme perdagangan dan reformasi politik yang telah lebih maju daripada apa yang telah dicapai pada 1832. Gerakan Chartis pada 1837-48 semata-mata bertujuan politik, dan, meskipun Chartisme lama kelamaan mereda, reformasi politik lanjutan terjadi di Inggris pada1867-72. Akan tetapi, pemberian hak suara kepada kelas pekerja industri Inggris, seperti pembebasan budak secara yuridis di Amerika, mengecewakan mereka karena tidak segera menghasilakn perbaikan kehidupan mereka secara mendasar.

Kesengsaraan kaum buruh industri dan persetujuan kelas menengah secara diam-diam atas ketidakadilan sosial; ini membangkitkan kemarahan Karl Marx (1818-83) dan mendorongnya untuk menciptakan agama Yahudi keempat, yakni Marxisme. Marxisme –sebagaimana Budhisme— secara teoritis bersifat atheistic, tetapi –sebagaimana Darwinisme— menciptakan tiruan bagi Yahweh, Tuhan Yahudi. Tuhan tiruan buatan Darwin adalah alam semesta, yang aksi selektifnya melanggengkan “ras-ras yang lebih kuat”. Tuhan tiruan buatan Marx adalah “keniscayaan historis” (historical necessity), dan “orang-orang terpilihnya” adalah golongan ploretariat industrial. Marx coba menghibur golongan proletariat yang sedang menderita dengan menunjukkan keniscayaan sebuah revolusi yang baik yang di dalamnya konflik antara kelas proletariat dan kelas menengah akan berakhir dengan terbentuknya masyarakat tanpa kelas.

Walau Marx tidak sempat menyaksikan terhapusnya ketidakadilan sosial, seorang filantropis Jenewa yang sezaman dengannya, Hendri Dunant (1828-1910), berhasil mengurangi penderitaan tentara-trentara yang sedang bertempur dengan melahirkan Konvensi Jenewa pertama pada 1864 dan membentuk Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross).

Selama 1763-1871, Inggris memainkan peran utama, baik dalam kebaikan maupun keburukan, bukan hanya di Barat tetapi juga di seluruh dunia. Dalam babakan sejarah Barat sebelumnya, Inggris keluar sebagai pemenang perang atas Prancis untuk menguasai Amerika Utara dan India. Dengan kemenangan ini, Inggris membuka jalan bagi bekas koloni-koloninya di Amerika Utara untuk menumbangkan kekuasaan Inggris dan menjadi Amerika Serikat yang merdeka dengan wilayah seluas Kerajaan Rusia. Inggis sendiri kini menyatukan seluruh anak benua India secara politis untuk pertama kalinya dalam sejarah, dan berhasil menegakkan kembali cengkramannya ketika pasukan India Maskapai India Timur meraih kemenangan pada 1857-9.

Inggris juga membagi keuntungan, atau tanggung jawab, dengan Rusia dan Spanyol setelah mengalahkan Napoleon. Kegagalan upaya terakhir untuk menyatukan Dunia Barat secara politik menjadikan Dunia Barat terbagi-bagi jadi sejumlah Negara lokal merdeka yang berdaulat pada abad ketika Revolusi Industri melengkapi banyak negara dengan alat-alat perang yang luar biasa destruktif. Ketika menyerang dan mengalahkan Cina pada 1839-42, Inggris memberikan pukulan yang mematikan pada sebuah rezim yang telah memberikan kedamaian dan stabilitas bagi banyak sekali penduduk Cina selama hampir dua millennium.

Tindakan-tindakan Inggris ini luar biasa, tetapi yang paling luar biasa pada periode ini adalah tindakannya dalam melahirkan Revolusi Industri. Dalam membidani lahirnya Revolusi Industri, ingris merobohkan perimbangan kekuatan antara biosfir dan manusia, dan hal ini pada akhirnya menciptakan daya manusia untuk membuat biosfir tidak dapat ditinggali oleh semua bentuk kehidupan, termasuk manusia itu sendiri.

Pada awal milenium kedua ini, solah-olah biosfir terancam bahaya banjir, polusi, dan, mungkin pada puncaknya, tidak mungkin lagi ditempati lagi oleh bentuk kehidupan apa pun akibat ulah salah satu makhluk dan penghunuinya sendiri, yaitu manusia. Kalau kita melihat ke belakang, tampaknya bahwa kekuasaan manusia atas biosfir telah meningkat dengan cepat. Sebelum menjadi “manusia”, manusia tidak mempunyai senjata dan baju besi yang telah terpasang di tubuhnya, tetapi dia dikaruniai akal yang dapat berpikir dan membuat rencana,. Dia memiliki dua organ fisik, akal dan tangan, yang merupakan instrumen material bagi pemikiran, rencana, dan upaya untuk mencapai tujuan dengan aksi fisik.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa alat-alat kehidupan sama tuanya dengan pemikiran manusia. Kemampuan untuk membuat dan menggunakan alat-alat memungkinkan manusia memenangkan persaingan hidup di biosfir ini selama Zaman Palaeolitik Tinggi, mungkin 70.000/40.000 tahun yang lampau, manusia menguasai biosfir, tetapi baru pada awal Revolusi Industri –dua ratus tahun yang lampau—manusia menjadi penguasa yang dominan. Dalam dua abad terakhir, manusia telah memperbesar kekuasaan materialnya sehingga dia mengancam keselamatan biosfir, tetapi, sayangnya, dia tidak mengasah potensi spiritualnya. Kesenjangan antara kekuasaan material dan spiritual semakin lebar, dan ini sungguh memprihatinkan. Mengasah potensi spiritual manusia adalah satu-satunya cara yang memungkinkan untuk menyelamatkan biosfir –dan manusia itu sendiri—dari kehancuran akibat kerakusannya yang telah dilengkapi dengan kemampuan yang luar biasa.

Pada akhir abad kedua puluh, dampak kemampuan destruktif manusia yang luar biasa itu ditunjukkan oleh sejumlah gejala. Populasi manusia di biosfir bertambah sangat cepat, dan pertambahan penduduk itu terkonsentrasi di kota-kota besar. Karena mayoritas penduduk masih miskin, pertumbuhan kota-kota tersebut terutama berupa proliferasi kota-kota kecil kumuh yang parisitis yang ditempati oleh kaum migran pengangguran, dan memiliki kemungkinan untuk menjadi pengangguran, dari desa-desa sebagai tempat tinggal dan kerja meyoritas umat manusia sejak ditemukannya pertanian pada awal Zaman Neolitik.

Kota-kota ini menyebarkan perangkap ke seluruh dunia yang berupa alat-alat mekanis melalui jalur darat dan udara secara cepat. Penduduk minoritas yang memproduksi komoditas-komoditas industri, atau bahan-bahan makanan dan bahan-bahan mentah organik, dengan proses-proses mekanis yang semakin canggih dan berdaya tinggi ini mengotori air dan udara yang menyelimuti biosfir dengan limbah-limbah buangan, belum lagi ketika mereka merusak flora dan fauna (manusia dan non-manusia) dengan operasi-operasi militer yang sangat destruktif.

Pada 1871 dan mungkin bahkan 1944, sebelum ditemukannya teknologi untuk memecah atom, masih sulit dipahami jika seluruh laut dan atmosfir bumi dapat terkena polusi yang mematikan akibat tindakan sebuah produk biosfir, yaitu manusia. Kemampuan manusia untuk membuat biosfir tak dapat ditinggali lagi tampak jelas dalam pemusnahan sejumlah spesies non-manusia yang belum dijinakkan. Sementara itu, manusia itu sendiri dan binatang-binatang peliharaan tidaklah kebal dari ancaman tersebut. Sebagian dari mereka juga sedang teracuni oleh bahan-bahan yang dihasilkan secara taksengaja dari aktivitas-aktivitas manusia yang disengaja.

Pertumbuhan fisik kota-kota tersebut terasa luar biasa. Ankara dan Athena telah berubah dari kota-kota kecil menjadi megalopolises sejak 1922, daerah pedesaan Jepang yang indah di dekat Selat Shimonoseki telah berubah jadi jalan-jalan dan rumah-rumah. Di Indonesia, Bandung yang merupakan kota kecil dan berhawa sejuk kini menjadi kota metropolitan yang sesak penduduk dan panas.

Bagi penduduk Barat, Agustus 1914 menjadi awal sebuah trauma. Periode 1914-sekarang adalah masa kesengsaraan bagi seluruh umat manusia akibat perbuatan mereka sendiri. Dalam periode ini, dua perang dunia meletus sebagai sebuah kejahatan yang mahadahsyat dan mematikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Genosida dilakukan orang-orang Turki terhadap penduduk Armenia, orang-orang Jerman terhapat Yahudia, orang-orang Hindu terhadap orang-orang Muslim India dan sebaliknya, orang-orang Serbia terhadap Muslim Chechna. Orang-orang Palestina, Tibet, dan mayoritas penduduk pribumi Afrika di bagian selatan juga menjadi korban.

Salah satu dari apa yang disebut “perang agama” masih berkecamuk secara liar di Irlandia Utara. Kelas menengah Barat, seperti kaum migran non-Barat dari desa-sdesa ke kota-kota kumuh, mengalami kemunduran hidup yang sangat mencolok. Adapun periode 1871-1913 mungkin merupakan zaman keemasan dalam memori orang-orang Barat kelas menengah. Namun, jika periode 1871-2009 secara keseluruhan ditinjau kembali, tampak jelas bahwa optimisme yang merebak selama 1871-1913 telah hilang.

Orang-orang Barat tidak ingin melihat berakhirnya perang; sebagian dari mereka –misalnya di Jerman dan negara-negara Balkan— berharap tidak hanya meletusnya kembali peperangan tetapi juga coba-coba memicunya. Akan tetapi, perang-perang yang terbayang dalam benak orang-orang Jerman yang sangat gemar berperang adalah perang-perang pendek semacam perang Bismarckian, bukan perang-perang Napoleon yang panjang, atau Perang Tiga Puluh Tahun yang dahsyat pada tahun 1618-48 di Jerman, atau perang saudara yang hebat pada 1861-5 di Amerika Serikat.

Perang Cina-Jepang pada 1894-5, perang Spanyol-Amerika pada 1898, Perang Afrika Selatan pada 1899-1902, dan Perang-perang Balkan pada 1912-13 senyatanya bersifat lokal dan pendek. Bahkan, Perang Rusia-Turki pada 1877-8 dan Perang Rusia-Jepang pada 1904-5 hanyalah konflik-konflik regional yang tidak meliputi banyak wilayah dunia. Kerusakan dan kehancuran hidup manusia yang luas akibat berbagai penindasan (1850-73) rezim T’ai-p’ing dan pemberontakan-pemberontakan lain di Cina terhadap rezim Manchu tidak lagi di klim oleh orang-orang Barat sebagai penderitaan khas masyarakat Oriental ketika dan di mana masyarakat itu belum dikuasai oleh kaum Kristen.

Prestasi-prestasi yang mendasari optimisme di atas sebenarnya cukup mengesankan. Namun, setiap prertasi tersebut tidak sempurnya dan di dalamnya mengandung bibit-bibit kerkacauan. Pada tahun 2000-an, ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan itu amat jelas, tetapi antara 1871 ddan 1914 tidak begitu mudah dilihat.

Misalnya, pembebasan budak di Rusia pada 1861, dan mulai –pada 1871—di hapusnya perbudakan di negara perbudakan terakhir, Brasil, tampak seperti tonggak-tonggak sejarah yang agung menuju milenum baru. Akan tetapi, pembebasan budak-budak di Rusia tidak memuaskan kerakusan mereka atas kepemilikan tanah, dan pembebasan budak-budak hitam secara yuridis pun tidak serta merta menghapus prasangka, diskriminasi, dan konflik rasial. Sementara itu, buruh industri yang telah bebas secara yuridis tidak juga melakukan revolusi sosial Marxis di manapun, tetapi di negara-negara Barat kehidupan ekonomi mereka membaik secara pelan-pelan, dan perbaikan kehidupan mereka ini disertai dengan perbaikan kondisi-kondisi kerja mereka.

Namun, pekerjaan mekanis semakin tidak memuaskan secara spiritual seiring dengan setiap jengkal kemajuan teknologi. Penemuan ban-berjalan dan perakitan mesin meningkatkan produktivitas dan menurunkan “harga” spiritualitas yang mengubah menusia jadi komponen-komponenm mesin “yang diatur secara ilmiah”. Kehidupan buruh industri kini secara material lebih baik, tetapi sekalipun telah disogok untuk menjadi budak-budak pabrik seperti ini, mereka masih teralienasi secara spiritual dari masyarakatnya yang menuntut kelas sosial baru ini untuk memenuhi tujuan-tujuan kelas menengah.

Terbentuknya negara nasional Jerman dan Italia secara utuh pada 1870-1 tampak menstabilkan struktur politik ekumene. Negara nasional yang berdaulat sekarang dianggap sebagai sebuah unit politik standar, dan sejak 1871 tidak ada perang lagi kecuali Perang Rusia-Jepang pada 1904-5, yang melibatkan dua kekuasaan besar atau lebih. Perang Rusia dengan Turki pada 1877-8 dan dengan Jepang pada 1904-5 masing-masing berakhir tanpa melibatkan Ingris. Lembah Oxus-Jaxartes dan Turkmenistan, sampai ke perbatasan-perbatasan Barat Laut Afganistan, telah dianeksasi oleh Rusia pada 1865-85, dan saat itu Perang Rusia-Inggris tidak jadi meletus.

Antara 1881 dan 1904, semua negara Afrika, kecuali dua negara yang masih bebas dari kekuasaan Eropa Barat pada 1871 berada di bawah kendali Inggris, Prancis, Jerman, Belgia, atau Portugal secara langsung atau tidak langsung tanpa timbul peperangan di antara negara-negara itu dalam bersaing menguasai wilayah Afrika. Abyssinia (setelah bernama Ethiopia, yang awalnya menembati daerah Sudan Timur sekarang ini) turut ambil bagian dalam perebutan wilayah Afrika ini, dan berhasil mengalahkan Italia secara terlak pada 1896. Liberia, sebuah pemukiman kolonial bagi budak-budak hitam Amerika yang telah bebas, tetap merdeka berkat perlindungan Amerika Serikat. Namun, semua negara dan penduduk Afrika lainnya kehilangan kemerdekaannya.

Setelah kekalahn Cina yang telak dari Jepang pada 1894-5, Inggris, Rusia, Jerman, dan Prancis mulai membagi-bagi wilayah Cina di antara mereka sendiri, sebagaimana mereka telah membagi-bagi wilayah Afrika. Di Asia Timur, seperti di Afrika, mereka tidak sampai saling berperang selama berbagi daerah kekuasaan.

Hal tersebut tampaknya merupakan pertanda baik bagi terciptanya perdamaian antara dua kekuasaan besar. Setelah Kaisar Jerman, Willian II memecat Bismarck pada 1890, dia mulai menunjukkan isyarat-isyarat provokatif. Meskipun demikian, seolah-olah ekumene terus hidup damai dan tertib berkat kerja sama dua kekuasaan besar tersebut. Sekarang terdapat delapan negara besar, dan hanya tiga di antaranya –Rusia, Amerika Serikat, dan Jepang—yang berada di luar Eropa. Walaupun negara-negara Eropa itu berdaulat, pada 1911 tak sebuah negara Eropa pun kecuali Rumania dan Turki meminta agar orang asing yang masuk ke wilayah mereka membawa paspor. Di pedalaman Yunani, orang dapat menukar uang emas dengan uang perak Prancis, Italia, Belgia, atau Yunani. Batas-batas politik belum menjadi batas-batas atau hambatan-hambatan moneter bagi pertualang-petualang pribadi.

Akan tetapi, ada beberapa tanda yang manakutkan dalam gambaran damai tersebut. Prancis tidak terima dengan wilayahnya yang hilang yang terpaksa diserahkannya kepada Jerman pada 1871. Penduduk wilayah ini juga tidak senang menjadi warga Reich Jerman Kedua; wilayah ini masih berstatus sebagai Reichsland; pemerintah kekaisaran Jerman memberikan status otonom bagi salah satu bagian milik Reich; Bismarck dihantui dengan “mimpi buruk koalisi”, dan setelah dia “jatuh”, mimpi buruk itu segera menjadi kenyataan. Prancis dan Rusia segera membuat sebuah perjanjian yang dilengkapi dengan konvensi militer pada 1892-3; Prancis dan Inggris membuat perjanjian pada 1904; dan Rusia dan Inggris melakukannya pada 1907. Pada 1898, Jerman mulai bersaing dengan Inggris di laut. Rencana-rencana yang kompetitif untuk mobilisasi dan operasi-operasi laut dan militer selanjutnya sedang disusun oleh lima negara Eropa tersebut dan Rusia.

Semenjak berdirinya Italia dan Jerman sebagai negara nasional yang utuh pada 1870-1, negara nasional dianggap sebagai sebuah unit politik yang alamiah, normal, dan benar. Namun, anggapan ini tidak kuat mengingat orang-orang Eropa Timur belum memperoleh negara-negara nasional sendiri meskipun orang-orang Eropa Barat, termasuk orang-orang Belgia yang dwibahasa dan Swis yang catur bahasa, telah memiliki negara-negara nasional sendiri. Orang-orang Polandia, sebagai contoh, tidak mempunyai negara merdeka sendiri; mereka adalah penduduk Rusia, Prusia, atau Austria. Negara-negara nasional Yunani, Bulgaria, Serbia, dan Rumania berusaha mendapatkan “wilayah-wilayah tak tertebus” yang masih dikuasai oleh Utsmaniyahdan Habsburg.

Monarki Habsburg yang multinasional sebagai salah satu dari delapan negara besar merupakan anomali di sebuah dunia yang menjadikan negara-negara nasional sebagai unit-unit politik standar. Di Kekaisaran Rusia, sekitar sepertiga penduduknya bukanlah orang-orang yang berkebangsaan Rusia Agung. Negara nasional Jerman meliputi penduduk minoritas Polandia, Denmark, dan Prancis yang belum terasimilasi. Italia masih memiliki “wilayah-wilayah yang tak tertebus” (istilah ini berasal dari bahasa Italia) di perbatasannya dengan monarki Habsburg. Pendeknya, “prinsip penentuan jadi negara sendiri”, yang memberikan stabilitas politik bagi Eropa Barat setelah berlaku di sini pada 1871, sekarang menjadi sebuah ideal yang eksplosif dan subversif di Eropa Timur.

Dan struktur politik ekumene di malam meletusnya Perang Dunia I tersayat-sayat oleh kegagalan Eropa Timur menyesuaikan diri dengan negara-negara nasional Eropa Barat yang sampai sekarang menjadi standar yang diterima secara luas. Akan tetapi, keadaan politik dunia tetap genting sekalipun, sebelum 1914, semua “wilayah-wilayah tak tertebus” telah disatukan dengan negara-negara nasional berdasarkan kehendak mereka sendiri, dan sekalipun semua wilayah taklukan telah berubah menjadi negara-negara nasional yang berdaulat. Ekumene telah terbagi-bagi secara politis jadi unit-unit lokal yang saling independen, dan, karenyanya, terseret ke dalam sebuah konflik yang tak terselesaikan antara tuntutan-tuntutan politik manusia dan kebutuhan-kebutuhan ekonomi mereka.

Negara nasioanal lokal adalah sebuah ideal politik bagi masyarakat Barat dan masyarakat-masyarakat lain yang terus bertambah jumlahnya yang mengadopsi lembaga-lembaga [politik] Barat. Kekuatan nasionalisme orang-orang Barat ditunjukkan oleh perlawanan mereka yang berhasil terhadap upaya-upaya suksesif Charles V, Philip II, Louis XIV, dan Napoleon untuk menyatukan Wilayah Kristen Ortodoks Timur secara politis sebagaimana pada masa Theodosius I dan Charlemagne. Namun, ideal poliitik negara nasional menjadi sebuah anakronisme ekonomi sejak timbulnya ekumene baru melalui penguasaan teknik navigasi oleh orang-orang Cina, Portugal, dan Spanyol pada abah ke-15. Univikasi ekonomi ekumene, yang telah dimulai oleh orang-orang Portugal dan Spanyol, didorong selangkah lebih maju oleh Revolusi Industri di Inggris.

Sampai saat itu, kebanyakan barang yang diperjualbelikan dalam perdagangan dunia adalah barang-barang mewah. Namun, akibat Revolusi Industri, perdagangan tersebut semakin merncakup barang-barang kebutuhan hidup. Para pengusaha Inggris yang membidani lahirnya Revolusi Industri memperoleh keuntungan dari investasi mereka dalam pembuatan mesin-mesin dengan melakukan “lokakarya dunia” di Inggris. Sejak saat itu, Inggris secara gencar mengekspor produk-produk manufaktur, dan mengimpor bahan-bahan mentah dan makhluk, dalam skala global. Perdagangan dunia ini melanggengkan ketegangan-ketegangan global ketika, pada 1871, Jerman, Amerika Serikat, dan negara-negara lain mencabut mobnopoli Inggris dengan mengikuti langkah-langkah para pengusahanya.

Awal unifikasi ekonomi ekumene ditandai dengan penemuan kapal layar Portugal yang dapat berlayar dalam jangka waktu lama. Penyempurnaan-penyempurnaan kapal layar ini dirayakan dengan pembentukan Uni Telegraf Internasional (International Telegraphic Union) pada 1864 dan Uni Pos Internasional (International Postal Union) pada 1875. Pada saat itu, umat manusia bersandar pada unifikasi ekonomi global, tetapi tetap enggan, dalam bidang politik, untuk meninggalkan pertikaian antarnegara. Keadaan yang canggung ini terus berlangsung sekalipun menimbulkan malapetaka yang disebabkannya sejak 1914. Dislokasi masalah-masalah kemanusiaan sebagai konsekuensinya menjadi luar biasa ekstrim sehingga kini mengancam kelumpuhan seluruh umat manusia kecuali minoritas petani dan peternak yang masih bertahan hidup dengan apa yang mereka hasilkan atau kumpulkan untuk mereka sendiri, tanpa terpengaruh oleh pasar dunia.

Tubuh, tinggi, dan kecepatan kapal layar Barat modern disempurnakan selama setengah abad (1840-90), ketika ia kalah bersaing dengan kapal uap, pesaingnya yang telah diciptakan oleh Revolusi Industri. Zaman ini juga merupakan zaman terakhir bagi musik “klasik” Barat, yang mencapai puncak kejayaannya pada pergantian abahd ke-18 menuju abad ke-19 dalam karya-karya Beethoven. Gaya lukisan Barat modern mencapai puncaknya ketika, setelah 1600, keunggulannya diambil alih dari orang-orang Italia dan Fleming oleh orang-orang Spanyol dan Belanda. Kapal layar “klasik” dicampakkan setelah Watt secara pasti menyempurnakan kapal uap.

Gaya lukisan naturalis digusur oleh penemuan fotografi. Selama 43 tahun (1871-1913) yang kelihatannya tenang dan makmur, para pelukis dan komposer secara sengaja memecahkan sebuah tradisi panjang dan mencari-cari bentuk-bentuk ekspresi yang sangat berbeda. Jelaslah bahwa mereka merasakan gaya seni “klasik” mereka telah berakhir, seperti penambangan batu bara yang ketinggalan zaman atau kedinastian Cina yang usang. Pada pada akhir abahd ke-20, tampak bahwa para seniman Barat mulai menyadari, selama berlangsungnya iklim yang tenang, badai yang menghantam generasi Barat mendatang. Seniman-seniman itu memiliki antene psikis yang sensitif terhadap, dan dapat merasakan, peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.

Jika kita coba secara seimbang mengulas balik pengalaman-pengalaman dan perilaku-perilaku umat manusia pada periode 1871-1913, hal pertama yang harus dicatat adalah banyaknya penemuan dan penciptaan yang luar biasa. Orang-orang Barat telah membuat temuan-temuan dan ciptaan-ciptaan berharga selama tiga abad sebelumnya, dan pada awal abad ini mereka telah melampaui prestasi-prestasi temuan dan ciptaan sebelumnya. Freud (1856-1939) menjelaskan perilaku bawah sadar dalam psikis manusia. Einstein (1879-1955) membuktikan bahwa fisika Newton memiliki keterbatasan dalam menjelaskan realitas. Einstein melebarkan sayap fisika dengan mengakui bahwa proses pengamatan adalah proses interaksi. Pengamat adalah bagian dari kosmos fisik yang geraknya dalam ruang dan waktu sedang diamatinya.

Penemuan keberadaan dan sifat elektron oleh J.J. Thomson pada 1897 menunjukkan bahwa kata “atom” adalah sebuah nama yang salah. Sebuah atom terbukti bukanlah sebuah entitas yang tak terbagi; ia adalah miniature tata surya. Strukturnya ditemukan oleh Ernest Rutherford (1871-1937) pada 1904. Dia mengidentifikasi nucleus atom, dan dia berhasil memecahnya pada 1919. Komposisi nucleus itu sendiri diungkap oleh penemuan James Chadwick tentang keberadaan dan sifat netron pada 1932. Temuan-temuan dalam fisika ini telah mendorong para fisikawan, atas inisiatif Niels Bohr (1885-1962), untuk mengakui sebuah kebenaran epistimologis. Sebuah peristiwa yang identik dapat dialami dengan dua cara yang bukan hanya berbeda tatapi tidak saling kompitabel dan tidak dapat dialami secara simultan. Namun, kedua cara ini sahih dan sangat diperlukan.

Karet dipakai untuk membuat bola bagi olahraga-olahraga keras di Meso-Amerika sebelum Cortes mendarat di sana. Minyak tanah menjadi sebuah bahan rahasia bagi senjatam mematikan Kekaisaran Romawi Timur, yaitu “api Yunani”. Periode 1871-1913 menyaksikan dua bahan mentah ini yang digunakan, secara berurutan, untuk membuat ban dan sebagai bahan bakar mesin-mesin pembakaran-dalam. Hal ini memungkinkan pembuatan mobil dan pesawat terbang yang dapat menempuh perjalanan panjang, dan temuan aviasi ini membuat manusia jadi makhluk di biosfir yang mampu terbang selain serangga, burung, dan kelelawar.

Manusia pun telah membuat sebuah kemajuan yang dramatis dalam eksplorasi geografis dan historis. Orang-orang Barat telah sampai di kedua kutub bumi dan juga mendarat di satelit bumi, bulan. Mereka menggali delapan Troy yang ditemukan tumpang tindih, selain menemukan reruntuhan peradaban-peradaban Minoan, Mycenaean, dan Indus, dan mendapati bahwa bahasa yang dipakai dalam tulisan “Linier –B” adalah bahasa Yunani.

Temuan dan ciptaan terpenting yang dibuat selama seratus tahun terakhir adalah dalam ilmu kedokteran dan bedah. Kemajuan penggunaan obat bius (ditemukan pada 1840-an) memungkinkan para ahli bedah melakukan operasi-operasi yang sebelumnya mustahil, dan ini berpouncak pada transplantasi organ. Nyamuk diketahui sebagai pembawa demam kuning pada 1881 dan malaria pada 1897-9, dan temuan-temuan ini memungkinkan pencegahan terhadap kedua penyakit tersebut. DDT (dichloro-diphenyl-trichloreothane) ditemukan pada 1942 untuk membunuh serangga, yang merupakan pesaing pokok non-manusia bagi manusia untuk menguasai biosfir.

Temuan-temuan dan ciptaan-ciptaan Barat ini merupakan buah yang hebat dari semangat, imajinasi, dan akal manusia, tetapi pengaruh-pengaruh temuan dan ciptaan tersebut pada kehidupan manusia bersifat ambivalen. Misalnya, teknik aviasi Barat yang baru, jika digabungkan dengan temuan bahan peledak Cina yang lebih dahulu, memungkinkan negara-negara yang suka berperang menjatuhkan bom-bom dari udara. Senjata pemusnah ini dapat menyapu bersih baik tentara musuh maupun penduduk sipil yang telah, dengan perjuangasn keras sejak berakhirnya abad ke-17, dibedakan demi melindungi penduduk sipil dalam keadaan perang.

Kurang dari setengah abad setelah ditemukannya elektron pada 1897, dan hanya tiga belas tahun setelah ditemukannya netron pada 1932, dua bom berkekuatan amat besar dengan pemecahan nucleus-nukleus dan atom-atomnya dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Mobil memberi manusia mobilitas supertinggi yang tidak pernah dicapai sebelumnya, dan ini berakibat pada perluasan kota ke wilayah-wilayah pedesaan dan pada kemacetan jalan. Pada 2009, asap buangan mobil dan pesawat terbang mengancam rusaknya atmosfir bumi sehingga tidak dapat dihirup oleh manusia.

Penurunan angka kematian dan bertambah panjangnya usia harapan hidup berkat kemajuan ilmu kedokteran dan bedah yang luar biasa adalah berita gembira yang ditanggapi secara tak menyenangkan. Penurunan angka kematian, yang lebih cepat daripada penurunan angka kelahiran, menyebabkabn pertambahan penduduk dunia semakin tinggi. Kecanggihan medis untuk memperpanjang usia manusia menimbulkan pro dan kontra. Pertanyaan apakan perpanjangan ini akan atau tidak akan menciptakan kejahatan dalam kasus ini atau itu menimbulkan persoalan-persoalan moral yang sebelumnya tak terbayangkan oleh para dokter, pasien, keluarga, dan tenam-teman pasien.

Sebelum meletusnya Revolusi Industri, dua peran pokok pemerintah adalah menegakkan dan menjaga hukum dan ketertiban dalam negeri, dan memerangi pemerintah-pemerintah dan negara-negara asing. Kondisi kerja dan kehidupan sebuah kelas sosial baru, yakni kaum buruh pabrik mekanis, yang tidak manusiawi akibat Revolusi Industri memaksa pemerintah memainkan peran ketiganya: menjamin kesejahteraan sosial rakyatnya. Undang-undang pertama tentang perlindungan buruh pabrik dibuat di Inggris pada 1802. Di Jerman antara 1883 dan 1889, Bismarck memperluas peran sosial pemerintah dengan membuat undang-undang yang menjamin pemberian asuransi kepada orang-orang sakit, para korban kecelakaan, manula (manusia lanjut usia), dan orang-orang lemah lainnya. Standar-standar kemanusiaan Jerman yang baru ini ditiru oleh Inggris sebelum pecahnya Perang Dunia I.

Pengakuan bahwa pemerintah berkewajiban mencukupi kesejahteraan rakyatnya adalah sebuah kemajuan etis yang baik dalam bidang politik. Sekarang, sebagian besar negara industri menjadi sebuah organisasi kesejahteraan, selain organisasi penegak hukum dan penggelar perang. Akan tetapi, negara kesejahteraan (welfare state) masih menjadi sebuah isu kontroversial. Penyediaan layanan-layanan publik bagi mayoritas penduduk miskin menuntut pemungutan pajak pendapatan tambahan yang tinggi terhadap minoritas penduduk yang kaya. Oleh karena itu, penentangan kelompok minoritas terhadap undang-undang tentang jaminan kesejahteraan rakyat bukannya tidak membawa kepentingan tertentu, sehingga keberatan mereka yang bersifat etis dan psikologis itu mengundang kecurigaan.

Keberatan mereka adalah bahwa negara kesejahteraan akan melemahkan semangat para penerima layanan publik tersebut, dan pada akhir abad ke-20 pengalaman menunjukkan bahwa keberatan yang kedengarannya bagus itu sebagian dipicu oleh berbagai peristiwa. Di sejumlah negara yang telah begitu jauh memberikan layanan publik bagi kesejahteraan rakyat, pemahaman bahwa manusia itu sendirilah yang bertanggung jawab untuk mencukupi hidupnya melemah, standar kecakapan kerja menurun, dan –yang lebih membingungkan—kenaikan standar hidup diimbangi dengan menurunnya norma kejujuran. Selain itu, tumbuhlah sebuah minoritas miskin residual –sebagian adalah imigran sementara atau permanen dari negara-negara miskin—dengan kehidupan, terutama perumaham mereka, yang sangat buruk.

Di negara-negara yang masih didominasi oleh sektor ekonomi swasta dan yang pemerintahannya “demokratis” (yakni parlementer), undang-undang tentang kesejahteraan rakyat dengan dukungan serikat-serikat kerja memungkinkan mayoritas pekerja industri mengubah perimbangan daya tawar antara mereka dan kelas menengah. Para pekerja di kantor-kantor layanan publik yang bertugas memenuhi kebutuhan-kebutuhan material harian rakyat sekarang memiliki daya tawar yang sangat kuat. Para pekerja yang dimaksud adalah buruh pelabuhan, penambang, dan buruh di instansi-instansi penyedia listrik dan air dan pembuangan sampah. Sementara itu,daya tawar guru melemah, sebab guru tidak dapat segera melumpuhkan kehidupan masyarakat dengan mogok kerja, meskipun dalam jangka panjang peran sosial mereka setidaknya sama besar dengan peran buruh.

Para pedagang dengan daya tawar yang tinggi menjadi penguasa tertinggi dalam rezim ekonomi swasta. Mereka menentang gagasan untuk membatasi kebebasan penawaran kolektif. Keinginan mereka untuk mengeksploitasi daya tawar mereka yang semakin tinggi demi keuntungan mereka sendiri adalah alamiah, dan ini juga selaras dengan filosofi laissez-faire, yang pertama-tama diteriakkan oleh para pengusaha kelas menengah tetapi merugikan buruh industri. Sekarang, jelaslah bahwa mekanisme kerja secara progresif di seluruh dunia membuat kehidupan ini tidak toleran terhadap siapa saja, jika mekanisasi itu tidak diimbangi dengan peningkatan intervensi pemerintah secara progresif juga (inilah sosialisme, sebuah ideologi yang diimani kaum buruh industri secara lancing).

Jika serikat-serikat kerja yang memiliki posisi tawar yang strategis menegaskan kekuatan mereka di negara-negara yang berpemerintahan parlementer, di Uni Sovyet buruh industri dan buruh tani diatur oleh pemerintahan yang otoriter. Pemerintah Uni Sovyet menganut ideologi Marx tetapi tidak mengubah praktik-praktik pendahulunya, Tsar. Lenin (Vladimir Ilyich Ulianov, 1870-1924), salah seorang tokoh besar abad ke-19, mengguling rezim yang dibangun di atas kekuatan tentara dengan mendirikan rezim yang lebih kuat tetapi sama karakternya. Lenin dan para penerusnya di Kremlin juga mengikuti langkah Peter Agung dalam memodernisasi teknologi Rusia secepat mungkin.

Revolusi Rusia pada 1917 dimotori oleh minoritas intelligentsia Marxis sayap (“mayoritarian”) Bolshevik dan dibantu oleh kaum petani. Kaum petani Rusia ingin memiliki tanah, sedangkan kaum petani Prancis telah memperolehnya selama Revolusi Prancis pada 1798-97. Akan tetapi, di Rusia Komunis tanah dengan cepat dinasionalisasi dan digarap dalam unit-unit yang berskala besar. Tujuan kebijakan ini sama dengan tujuan dibuatnya Enclosure Acts di Inggris, yaitu untuk meningkatkan produktivitas. Namun, di Uni Sovyet sampai sebelum berhembusnya glasnost dan perestroika yang dihembuskan pemimpin terakhirnya, Mikail Gorbachev, kebijakan tersebut tetap mendapatkan perlawanan pasif dari kaum petani.

Dengan cara otoriter, Uni Sovyet, sebagaimana Inggris pada waktu itu, adalah sebuah negara kesejahteraan, yang berkebalikan dengan rezim Tzar sebelumnya di Rusia. Misalnya, pemberantasan buta huuruf telah dilakukan secara besar-besaran, dan kekayaan telah didistribusikan secara lebih merata. Akan tetapi, semua negara kesejahteraan, apapun warna ideologis mereka, tetap menjadi negara-negara penggelar perang. Dua perang dunia, 1914-18 dan 1939-45, melebihi perang-perang saudara di Cina pada 1850-73 dalam hal jumlah korban dan besarnya kerusakan yang ditimbulkan. Semua perang itu jahat, termasuk perang-perang singkat Bismarckian dengan tujuan-tujuan yang terbatas. Kejahatan dua perang dunia pada abad ke-20 diperburuk oleh “genosida” (pemusnahan penduduk sipil). Dalam Perang Dunia I, pasukan Turki melakukan genosida terhadap penduduk Armenia, sedangkan dalam Perang Dunia II tentara Jerman melakukannya terhadap kaum Yahudi.

Insiden-insiden dalam Perang Dunia itu yang memperlihatkan kejahatan dan kedunguan manusia dan masih bisa dibaca oleh anak cucu kita secara jelas adalah perlawanan rakyat Turki pada 1919-22 terhadap para pemenang Perang Dunia I, dan perlawanan rakyat Inggris pada 1940-1 terhadap tentara Jerman yang saat itu menjadi pemenang untuk sementara waktu. Rakyat kedua bangsa ini memiliki semangat untuk melawan, meskipun mereka menghadapi kebengisan dan tidak melihat kemungkinan untuk mengelak dari kekalahan dan kehancuran. Mereka beruntung memiliki pemimpin-pemimpin –Kamal Ataturk dan Winston Churchill—yang membangkitkan semangat bersama untuk mengatasi kesulitan pada saat yang genting itu.

Ataturk memimpin rakyat Turki bukan hanya untuk memenangkan perang demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka, tetapi juga untuk melakukan Westernisasi yang revolusioner guna melanjutkan apa yang telah dirintis oleh Mahmud II. Ataturk, seperti Lenin, adalah seorang intelligentsia yang menumbangkan rezim yang membentuk kelas ini di negaranya. Ataturk juga bertindak seperti Lenin dalam menggunakan kekerasan untuk menuntaskan pekerjaan penting. Mahatma Gandhio (1869-1948) juga seorang intelligentsia yang melakukan revolusi politik. Namun strateginya adalah non-kekerasan dan non-kerja sama, dan tujuan ekonominya adalah, bukan mengantarkan India ke dunia industri dengan segenap peralatan mekaniknya, melainkan memotong ikatan-ikatan ekonomi India dari dunia industry tersebut.

Rakyat India tidak memenuhi seruan Gandhi untuk kembali ke metode-metode produksi industr pramekanis, dan akhirnya mereka gagal mewujudkan ideal dan praktik Gandhi untuk menghindari penggunaan kekerasan. Ketika, pada 1947, Inggris pergi dari India dan Kerajaan India-Inggris dibagi menjadi Uni India dan Pakistan, orang-orang Hindu dan Muslim saling melakukan genosida sembari saling memisahkan diri. Pada akhirnya, inilah biaya penghapusan imperialisme Barat di anak benua India yang harus dibayar mahal.

Lantas, apa dampak imperialisme Barat, yang merupakan salah satu ciri menonjol dalam sejarah ekumene?

Penguasa-penguasa Barat yang menjajah rakyat non-Barat bersalah atas berbagai perilaku kejam mereka –misalnya, pembunuhan rakyat India oleh pasukan Inggris di Amritsar pada 1919, dan luka dan cacat yang menimpa orang-orang yang masih bisa bertahan hidup. Akan tetapi, penghapusan kerajaan-kerajaan kolonial juga disertai dengan perilaku kejam terhadap rakyat yang diberi kemerdekaan. Di anak benua India, pembantaian orang-orang Muslim dan Hindu secara timbal balik pada 1947 kemudian disusul di Bangladesh dengan pembantaian serupa antara kaum Muslim yang berbahasa Urdu dan yang berbahasa Bengali. Sebelum tentara India menyerang tentara Pakistan di Bangladesh, telah ada rasa permusuhan di perbatasan barat antara dua negara-penerus Kerajaan India-Inggris itu. Kevakuman akibat dihapusnya kerajaan-kerajaan kolonial Eropa Barat membuka jalan pecahnya perang-perang saudara dan aksi-aksi kekerasan terhadap penduduk sipil Vietnam, Sudan Selatan, Burundi, Kongo, dan Nigeria. Meledaknya aksi kekerasan ini adalah biaya pembebasan politik yang harus dibayar. Kerajaan-kerajaan kolonial ini dipaksakan kepada penduduk taklukan demi tujuan-tujuan pendiri kerajaan itu sendiri. Namun, pembentukan kerajaan-kerajaan kolonial ini mempunyai sebuah dampak insidental, yaitu memberi penduduk taklukan perdamaian domestik selama rezim-rezim asing itu masih berkuasa.

Pada akhir abad ke-20 wilayah-wilayah non-Eropa di bawah kekuasaan negara-negara Eropa Barat telah berkurang sehingga tinggal beberapa semenanjung dan pulau, kecuali wilayah-wilayah taklukan Portugal di daratan utama Afrika. Akan tetapi, di Afrika Selatan, orang-orang asli Eropa yang independen secara politis masih menguasai mayoritas penduduk Afrika, dan di Palestina rumah-rumah dan harta benda orang-orang pribumi Arab Palestina diambilalih oleh warga Israel imigran. Selain itu, di sejumlah negara Afrika, kekuasaan Eropa Barat telah digantikan oleh dominasi sekelompok penduduk lokal Afrika atas tetangga-tetangga mereka yang lemah. Cengkraman bekas Kekaisaran Rusia dan Cina atas penduduk Asia non-Rusia dan non-Cina memperkenalkan rezim-rezim komunis kepada mereka. Kerajaan-kerajaan kolonial darat milik dua negara kontinental ini hidup lebih lama daripada kerajaan-kerajaan kolonial transmarine milik negara-negara Eropa Barat yang seumur jagung.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa secara politis ekumene terbagai menjadi negara-negara lokal yang berdaulat, sedangkan di bidang teknologi dan ekonomi ekumene menjadi sebuah satu-kesatuan global. Ketidaksesuaian di bidang politik pada satu pihak dan di bidang teknologi dan ekoniomi pada pihak lain ini adalah akar penderitaan umat manusia. Maka, sebenarnya sekarang ini dibutuhkan suatu bentuk pemerintahan global untuk menjaga perdamaian antara sebuah komunitas lokal dan komunitas lainnya, dan untuk membangun kembali keseimbangan antara manusia dan bagian dari biosfir lainnya. Sebab, sekarang ini keseimbangan tersebut telah dirusak oleh semakin besarnya kekuatan material manusia akibat dari Revolusi Industri.

Kebesaran dan impersonalitas peristiwa-peristiwa yang berskala global itu menakutkan. Generasi yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan kelangsungan hidup umat manusia justru mengancamnya dengan memecah belah keutuhan kehidupan dunia jadi semakin banyak bagian yang lebih kecil. Bertambah banyaknya negara lokal berdaulat seiring dengan bertambah banyaknya “disiplin” akademis, dan halm ini membuat dunia bisnis tidak bisa diatur dan informasi tidak bisa dimengerti. Kekacauan ini tidak sedang diatasi, tetapi justru dibiarkan menggurita sampai pada tingkat yang sama sekali tidak bisa dikendalikan.

Umat manusia sedang mengalami krisis yang sama buruknya dengan dua perang dunia terdahulu. Keadaan ini sangat membingungkan. Senyatanya, manusia masih mempunyai harapan untuk bertahan hidup di boisfir ini selama 2.000 juta tahun mendatang, jika perilakunya tidak terlalu cepat membuat biosfir ini segera tak bisa ditinggali lagi. Kini, manusia mempunyai kekuatan material untuk membuat biosfir ini segera tak bisa ditinggali lagi. Karenyanya, mungkin orang-orang yang masih bisa menghir upudara segar sebentar lagi akan dilibas oleh bencana buatan manusia yang menghancurkan biosfir dan manusia beserta seluruh bentuk kehidupan lainnya.

Masa depan biosfir ini tidak diketahui karena ia belum datang. Potensi-potensi biosfir ini sesungguhnya tak terbatas. Maka, masa depan tidak dapat diprediksi dengan menghitung-hitung masa lampau. Apa yang telah terjadi kemarin niscaya dapat terulang kembali, jika kondisi-kondisinya tetap sama. Akan tetapi, masa lampau tidak mesti terulang; keterulangan ini hanyalah salah satu dari kemungkinan-kemungkinannya yang tak diketahui jumlahnya. Sebagian kemungkinan tidak terlihat karena tidak memiliki preseden, dan memang sebelumnya tidak ada preseden yang mengindikasikan betapa besarnya kekuasaan manusia atas biosfir selama dua abad lebih (sejak 1763). Dalam situasi yang membingungkan ini, hanya ada satu prediksi yang pasti benar. Manusia, anak dari bumi sang ibu pertiwi, tidak akan membunuh ibunya sendiri jika ia peduli kepadanya. Dan, hukumaan atas pembunuhan ini, jika benar-benar terjadi, adalah pembinasaan diri manusia itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Adorno, T.W. 1950. The Authoritarian Personality. New York: W.W. Norton

Anderson, Benedict R. O’G. 1970. “The Idea of Power in Javanese Culture”. In Claire Holt (ed.), Culture and Politics in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press.

Anderson, B. 1983. Imagined Communities. London: Verso.

Apter, David E. 1963. “Political Religion in the New Nations” . In Clifford Geertz (ed.) Old Societies and New States. New York: The Free Press.

Apter, David. E. 1985. Pengantar Analisa Politik Jakarta: LP3ES.

Asad, Talal. 1983. “Anthropological Conceptions of Religion: Reflections on Geertz”. In Man No. 2, 1983.

Ayoob, M. 1996. “State making, state breaking, and state failure. In Crocker and Hampson (eds) Manging Global Chaos: Sources of and Responses to International Conflict. Washington, DC: Creative Associates International Inc.

Azar, E. 1979. “Peace amidst development”. International Interactions, 6 (2): 203-40

Azar, E. 1986. Protracted international conflict: ten propositions. In Azar and Burton, International Conflict Resolution: Theory and Practice. Sussex: Weatsheaf.

Azar, E. 1990. The Management of Protracted Social Conflict: Theory and Cases. Aldershot: Dartmouth.

Azar, E. 1991. “The analysis and management of protracted social conflict. In Volkan, Montville and Julius (eds). The Psychodynamics of International Relationship, vol. II. Lexington, MA: D.C. Heath.

Azar, E. and Cohen, S. 1981. “The transition from war to peace between Israel and Egypt. Journal of Conflict Resolution, 7 (4): 317-36.

Azar, E., Jureidini, P. and McLauren, R. 1978. “Protracted social conflict: theory and prasctice in the Middle East”. Journal of Palestine Studies 8 (1): 41-60.

Bendix, Reinhard, 1980. King or People: Power and the Mandate To Rule. Berkeley: University of California Press.

Berger, Peter L. 1986. The Capitalist Revolution. New York: Basic Books.

Binford, L.R. 1968. “Post Pleistocene adaptation”. In L.R. & S. Binford (ed.), New Perspectives in Archaelogy. Chicago: Aldine Publishing Co.

Bloomfield, L. and Leiss, A. 1969. Controlling Small Wars: A Strategy for the 1970s. New York: Knopf.

Bloomfield, L. and Moulton, A. 1997. Managing International Conflict: From Theory to Policy. New York: St Martin’s Press.

Bogna, R. & S.J. Taylor. 1975. Introduction to Qualitative Research Methods. New York: John Wiley.

Boulding, K. 1989. Three Faces of Power. Newbury Park, C.A.: Sage.

Brewer, Anthony. 1984. A Guide to Marx’s Capital. Cambridge, Eng; Melbourne: Cambridge U.P.

Brown, M. (ed). 1993. Ethnic Conflict and International Security. Princeton University Press.

Brown, M. (ed). 1996. The International Dimensions of Internal Conflict. Cambridge,MA: MIT Press.

Bull, H. and Waston, A. 1984. The Expansion of International Society. Oxford: Clarendon Press.

Buzan, B. 1991. People States and Fear: An Agenda for International security Studies in the Post-Cold War Era (2nd edn) Boulder, CO: Lynne Rienner.

Chazan, N., Mortimer, R. Ravenhill, J. and Rothchild, D. 1992. Politics and Society in Contemporary Africa. Boulder, CO: Lynne Rienner.

Chubin, S. 1993. “The South and the New World Order. Washington Quarterly, 16 (4): 87-107.

Clark, I. 1997. Globalization and Fragmentation: International Relations in the Twentieth Century. Oxford: Oxford University Press.

Curle, A. 1971. Making Peace. London: Tavistock.

Cohen, Jean L. & Andrew Areto. 1994. Civil Society and Political Theory. Cambridge, Massachussets: The MIT Press.

Conflict Management Group. 1993. Methods and Strategies in Conflict Prevention: Report of an Expert Consultation in Connection with the Activities of the CSCE High Commissioner on National Minoroties. Cambridge,MA: Conflict Management Group.

Connolly, William E. 1967. Political Science and Ideology. New York: Antherton Press.

Creative Associates. 1997. Preventing and Mitigating Violent Conflicts. Washington, DC: Creative Associates International, Inc.

Dahrendorf, Ralf. 1994. “Class and Calss Conflict in Industrial Society”. In David B. Grusky (ed.), Social Statification: Class, Race, and Gender in Sociological Perspective. Boulder-San Francisco-Oxford: Westview Press.

Darby, J. 1998. Scorpions in a Bottle: Conflicting Cultures in Northern Ireland. London: Minoruty Rights Publications.

Davies, J., Harff, B. and Speca, A. 1997. Dynamic Data for Conflict early Warning: Synergy in Early Warning. Toronto: Prevention/Early Warning Unit, Center for International and Security Studies.

Davies, N. 1996. Europe: A History. Oxford: Oxford University Press.

de Nevers, R. 1993. “Democratization and Ethnic conflict. In Brown (ed): 61-78.

Deutsch, M. 1973. The Resolution on Conflict: Constructive and Destructive Precesses. New Haven: Yale University Press.

Diamond, Larry & Marc F. Plattner. 1994. Nationalism, Ethnic Conflict, and Democracy. The Johns Hopkins University Press.

Esty, D. et al. 1995. State Failure Task Force Final Report. Vol. 1: Science Applications International Corporation Inc.

Fisher, Ronald J. 1997. Interactive Conflict Resolution. Syracuse, New York: Syracuse University Press.

Francis, D. 1994. “Power and Conflict Resolution”. International Alert, Conflict Resolution Training in the North Caucasus Georgia and the South of Russia. London: International Alert, 11-20 April 1994.

Galtung, J. 1969. “Conflict as a way of life”. In Freeman (ed.), Progress in Mental Health. London: Churchill.

Galtung, J. 1996. Peace by Peaceful Means: Peace and Conflict Development and Civilization. London: Sage.

Garstin, L.H. 1954. Each Age Is A Dream: A Study in Ideology. New York: Old Oregon.

Geertz, Clifford. 1965. “Ideology as a Cultural System”. In David After (ed.), Ideology and Discontent. New York: The Free Press.

Geertz, Clifford. 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Glazer, N. 1983. Ethnic Dilemmas 1964-1982. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Goodenough, W.H. 1957. “Cultural Anthropology and Linguistics”. In P. Garvin (ed.), Report of the Seventh Annual Round Table Meeting on Linguistics and Language Study. Monograph Series on Language and Linguistics, 9. Washington, D.C.: Georgetown University.

Goodenough, W.H. 1961. “Cultural Evolution”. In Daedalus 90.

Gurr, T. 1993. Minorities at Risk: A Global View of Ethnopolitical Conflict. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Gurr, T. 1998. ”Assessing risks of future ethnorebellions”. In Gurr (ed), Peoples Versus States. Washington: United States Institute of Peace.

Gurr, T. and Harff, B. 1994. Ethnic Conflict in World Politics. Boulder, CO: Westview Press.

Gurr, T. and Harff, B. 1996. Early Warning of Communal Conflicts and Genocide: Linking Empirical Research to International Responses. Tokyo: United Nations University.

Haryono, A. 1986. Kamus Penemu. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.

Helman, G. and Ratner, S. 1992-3. “Saving failed states”. Foreign Policy, 89 (Winter): 3-30.

Holsti, K. 1996. The State, War, and the State of War. Cambridge: Cambridge University Press.

Horowitz, D. 1985. Ethnic Groups in Cinflict. Berkeley, CA: University of California Press.

Horowitz, D. 1991. “Making moderation pay: the comparative politics of ethnic conflicts management. In Mintville (ed), Cinflict and Peacemaking in Multiethnic societies. New York: Lexington Books.

Huntington, S. 1997. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York: Simon and Schuster.

Ilchman, Warren F & Norman Thomas Uphoff. 1969. The Political Economy of Change. Berkeley: University of California Press.

Jackson, R. 1990. Quasi-states, Sovereignty, international Relations and the Third World. Cambridge: Cambridge University Press.

Jongman, A. and Schmid, A. 1998. World Conflict and Human Right Map. Leiden: Leiden University.

Keesing, Roger M. 1981a. ”Theories of Culture”. In Ronald W. Casson (ed.), Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives. New York: Macmillan Publishing Co.,Inc.

Keesing, Roger M. 1981b. Cultural Anthropology: A Contemporary Perspective I, Secon Edition. CBS College Publishing.

Kennedy, P. 1993. Preparing for the Twenty First Century. London: Harper Collins.

Kerma, C. 1974. Creative Tension: The Life and Thought of Kenneth Boulding. Ann Arbor: Michigan.

Kim, S. and Russett, B. 1996. “The new politics of voting alignments in the United Nation General Assembly. International Organization, 50: 629-52.

Kriesberg L. 1982. Social Conflicts. Englewood Cliffs,N.J.: Prentice-Hall

Leach, Edmund. 1986. Social Anthropology. Glasgow: Fontana Press.

Lederach, J. 1995. Preparing for Peace: Conflict Transformation Across Culture. New York: Syracuse University Press.

Leech, Geoffrey, 1981. “Colour and Kinship: Two Case Study in Universal Semantics”. In Ronald W. Casson (ed.), Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives. New York: Macmillan Publishing Co., Inc.

Lichbach, M. 1989. “Än evaluation of ‘does economic inequality breed conflict?’ studies”. World Politics, 41 (4): 431-71.

Lijphart, A. 1995. “Self-determination versus pre-determination of ethnic minorities in power-sharing system”. In Kymlicka (ed), The Rights of Minority Cultures. Oxpord: Oxpord University Press.

Mannheim, Karl. 1979 (1936). Ideology & Utopia. London & Henley: Routledge and Kegal Paul

Mansfield, E. and Snyder, J. 1995. “Democratization and the danger of war. International Security, 20 (1): 5-38.

McGarry, J. and O’Leary, B. (eds) 1993. The Politics of Ethnic Conflict RegulationI. London: Routledge.

Merkl, Peter H. 1967. Continuity and Change. New York: Harper and Row.

Miall, Hugh; Oliver Ramsbotham; & Tom Woodhouse. 1999. Contemporary Conflict Resolution. Cambridge: Polity Press.

Mitchell, C. 1981. The Structure of International Conflict. London: Macmillan.

Montesquieu. 1992. Surat-surat Dari Persia (Terjemahan dari bahasa Prancis oleh Okke Zaimar). Jakarta: Dian Rakyat.

Moore, Wilbert E. 1961. “The Social Framework of Economic Development”. In R. Braibanti & J.J. Spengler (ed.), Tradition, Values, and Socio-Economic Development. Durham, Nort Carolina: Duke University Press.

Munck, R. 1986. The Difficult Dialogue: Marxism and Nationalism. London: Zed Books.

Nye, J. 1993. Understanding International Conflicts; An Introduction to Theory and History. New York: Harper Collins.

Palombara, Joseph La. 1966. “Decline of Ideology: A Dissent and an Interpretation”. In American Political Science Review LX, 1, March 1966.

Pennock, J. Roland. 1979. Demicratic Political Theory. Princeton: Princeton University Press.

Posen, B. P. 1993. “The security dilemma and ethnic conflict. In Brown (ed).: 103-24.

Pye, Lucian W. 1965. “Introduction: Political Culture and Political Development”. In Lucian W. Pye and Siney Verba (ed.), Political Culture and Political Development. Princeton: Princeton University Press.

Rogers, P. and Raamsbotham,O. 1999. “Peace research — past and future. Political Studies (forthcoming).

Rejai, Mostafe. 1971. “Political Ideology: Theoritical and Comparative Perspectives”. In Mostafe Rejai (ed.), Decline of Ideology? Chicago: Aldine-Atherton.

Ryan,S. 1990. Ethnic Conflict and International Relations. Brookfield,V.T.: Dartmouth.

Sartori, Giovanni. 1969. “Politics, Ideology, and Belief Sysytem”. In American Political Science Review 3, No.2. June 1969.

Schwartz, T. 1978. “Where is the Culture? Personality as the Distributive Locus of Culture”. In G.D. Spindler (ed.), The Making of Psychological Anthreopology. Berkeley: University of California Press.

Schmid, A. 1997. “Ëarly Warning of Violent Conflict”. In P. Schmid (ed), Violent Crime and Conflict. Milan: ISPAC.

Sherman, F. 1987. Pathway to Peace: The United Nations and the Road to Nowhere. Pennsylvania: Pennsylvania State University.

Sisk, T. 1996. Power Sharing and International Mediation in Ethnic Conflict. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Smith, A. 1986. The Ethnic Origins of Nations. Oxford: Blackwell.

Smith, A. 1995. Nations and Nationalism in Global Era. Cambridge: Polity Press.

Snow, D. 1996. Uncivil Wars: International Security and the New Internal Conflicts. Boulder, CO: Lynne Rienner.

Suganami, H. 1996. On the Causes of War. Oxford: Clarendon Press.

Toynbee, Arnold. 1976. Mankind and Mother Earth: A Narrative History of the Word. New York and London: Oxford University Press.

van der Merwe, H. 1999. Pursuing Justice and Peace in South Africa. London: Routledge.

Weber, Max. 1978. Economy and Society. 2 volumes. Edited by Guenther Roth and Claus Wittich. Berkeley: University of California Press.

Weidner, Edward. 1968. “Development Change and the Social Sciences: Conclusion”. In. A Gallaher, Jr. , Perspectives in Developmental Change. Lexington: University of Kentucky Press.

Zartman, W. 1997. “Toward the resolution of international conflicts. In Zartman and Rasmussen (eds), Peacemaking in International Conflict: Methods and Techniques. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Zartman, W. (ed) 1996. Elusive Peace: Negotiating an End to Civil Wars. Washington, DC: Brookings Institution.

BUDAYA POLITIK DAN KONFLIK: SUATU TINJAUAN PUSTAKA

November 3, 2010

1. Konsep Budaya

Kroeber dan Kluckhohn (1952) memperlihatkan batapa ambiguitisnya konsep budaya. Beberapa antropolog menganggap budaya sebagai perilaku sosial. Bagi yang lain, budaya sama sekali bukanlah perilaku. Bagi sebagian orang, kapak, batu, dan tembikar; tarian dan musik; mode dan gaya merupakan budaya. Sementara itu, bagi yang lain lagi, tidak ada objek material bisa dijadikan budaya.

Salah satu definisi tertua mengenai budaya dikemukakan oleh E.B. Tylor (1871), bahwa budaya adalah: “…complex whole which include knowledge, belief, arts, morals, laws, custom, and other capabilities and habbits aquired by man as member of society.”

Linton (1945) mendefinisikan budaya sebagai: “… the configuration of learned behavior and results of behavior whose component elements are shared and transmitted by members of a particular society”

Kroeber dan Parson membatasi budaya sebagai: “… transmitted and created content and ppattens of value, ideas and other symbolic-meaningful systems as factors in the shaping of human behavior and the artifacts prodused through behavior”

Menurut Judistira K. Garna (1996:99), konsep Kroeber dan Kluckhohn (1952) yang mengatakan bahwa budaya adalah “pola, eksplisit dan implisit, tentang dan untuk perilaku yang dipelajari dan diwariskan melalui simbol-simbol yang merupakan prestasi khas manusia, termasuk perwujudannya dalam benda-benda budaya”, lebih modern dibandingkan dengan konsep kultur (Jerman) dan civilization (peradaban Inggris dan Perancis), yang berlaku pada saat itu. Goodenough (1957) telah mengemukakan bahwa kebanyakan definisi dan pemakaiannya telah mengaburkan perbedaan penting antara pola untuk dan pola dari perilaku. Kenyataannya, kata Goodenough, para pakar antropologi berbicara tentang dua tatanan semesta yang sangat berbeda jika mereka menggunakan istilah budaya, dan terlalu sering mereka mondar-mandir antara kedua pengertian itu.

Pertama, budaya digunakan untuk mengacu pada “pola kehidupan suatu masyarakat: kegiatan dan pengaturan material dan sosial yang berulang secara teratur” yang merupakan kekhususan suatu kelompok manusia tertentu (Goodenough, 1961:521-528). Dalam pengertian ini, istilah budaya telah mengacu ke dalam fenomena benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang bisa diamati “di sana”. Kedua, istilah budaya dipakai untuk mengacu pada sistem pengetahuan dan kepercayaan yang disusun sebagai pedoman manusia dalam mengatur pengalaman dan persepsi mereka, menentukan tindakan, dan memilih di antara alternatif yang ada. Pengertian budaya yang demikian ini mengacu pada dunia gagasan.

Apabila para pakar arkeologi berbicara tentang budaya masyarakat tani Asia Tenggara Purba sebagai suatu sistem adaptasi, maka mereka menggunakan konsep tersebut menurut pengertian yang pertama. Itu adalah cara kehidupan dalam ekosistem yang merupakan kekhususan masyarakat tertentu. “Budaya ialah semua cara yang bentuknya tidak di bawah kendali keturunan, yang berfungsi membantu penyesuaian individu dan kelompok terhadap masyarakat ekologinya.” (Binford, 1968:323).

Roger M. Keesing (1981a) membatasi budaya sebagai suatu sistem pemikiran, yang mencakup sistem gagasan yang dimiliki bersama, sistem konsep, aturan serta makna yang mendasari dan diungkapkan dalam tata cara kehidupan manusia. Budaya yang didefinisikan seperti itu mengacu pada hal-hal yang dipelajari manusia, bukan hal-hal yang mereka kerjakan dan perbuat. Sebagaimana yang dikatakan Goodenough (1961:522), pengetahuan ini memberikan: “patokan guna menentukan apa, …guna menentukan bisa jadi apa, …guna menentukan bagaimana kita merasakan, …guna menentukan apa yang harus diperbuat tentang hal itu, dan …guna menentukan bagaimana melakukannya”. Konsep pemikiran mengenai budaya yang demikian ini bukanlah sesuatu yang baru, Kluckhohn dan Kelly mengajukan definisi budaya berupa “rancangan hidup” sejalan dengan definisi Goodenough. Namun, Keesing keberatan karena hal itu tidaklah berarti tanpa masalah filsafat; dan untuk itu banyak orang merasa segan untuk mempostulasikan entitas “mentalistik” demikian. Kesulitan yang mula-mula timbul dalam mengkaji budaya, menurut Keesing (1981b) ialah bahwa makala tidak terbiasa melakukan analisis pola budaya. Karenanya, banyak orang sering terjebak ke dalam etnosentrisme dalam memandang budaya orang lain.

Selanjutnya, budaya tidak terdiri atas benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang dapat diamati, dihitung, dan diukur saja, melainkan terdiri atas gagasan dan makna yang dimiliki bersama. Clifford Geertz (1992) memberikan contoh menarik tentang kejapan mata (tidak sengaja) dan kedipan mata yang disengaja. Sebagai peristiwa lahiriah, keduanya mungkin serupa, karena pengukuran kedua kedipan itu tidak mungkin menemukan perbedaan. Kedipan yang satu adalah tanda, kode yang mengandung makna yang sama bagi orang Amerika; namun, mungkin tidak akan bisa dimengerti oleh orang Eskimo atau Aborigin. Hanya dalam kesemestaan makna yang dimiliki bersama, bunyi-bunyi dan peristiwa-peristiwa fisik bisa dipahami dan selanjutnya bisa meneruskan informasi.

Keesing (1981b) menuturkan suatu cerita antropologi yang bisa memberikan gambaran tentang corak makna budaya. Seorang wanita Bulgaria menjamu makan teman-teman suaminya (suaminya adalah orang Amerika). Salah seorang tamu adalah seorang mahasiswa dari Asia. Setelah para tamu menghabiskan isi piringnya, ia bertanya kepada para tamu jika ada yang ingin tambah lagi –karena di Bulagria, tuan rumah akan merasa malu apabila membiarkan tamunya masih lapar. Si mahasiswa Asia menerima tawaran tambah lagi, berturut-turut sampai tiga kali. Akhirnya, ketika ia sedang menyantap tambah yang keempat kalinya, si mahasiswa Asia terkulai di lantai. Namun, di negerinya, hal itu lebih baik daripada menghina nyonya rumah karena menolak makanan yang telah disediakan. Seorang nyonya rumah yang menawarkan tambah sampai dua atau tiga kali bukanlah bagian dari budaya bangsa Bulgaria; tetapi dasar konseptual yang terletak di belakang tindakannya, pola dari makna yang menjadikannya terpahami, adalah budaya Bulgaria. Budaya bangsa Bulgaria adalah sesuatu yang dipelajari, sesuatu yang berada di benak orang Bulgaria, dengan begitu budaya itu tidak dapat dikaji atau diamati secara langsung. Si wanita Bulgaria itu juga tidak dapat mengisahkan premis-premis dan prinsip-prinsip yang menjadi dasar perilakunya. Banyak sekali aturan tersembunyi dari pemahamannya, sebagaimana tersembunyi dari pemahaman kita.

Bila berkata bahwa budaya Bulgaria merupakan suatu sistem pemikiran, bahwa itu dinyatakan di benak orang Bulgaria, menurut Keesing (1981b), kita telah membuat masalah filsafat yang sulit. Apakah itu berarti bahwa budaya pada dasarnya merupakan sistem kejiwaan yang terdapat di benak setiap orang? Apakah budaya Bulgaria itu “ada di benak” setiap orang Bulgaria?

Goodenough (1961) akan mengiyakan pertanyaan di atas. Namun, seperti dinyatakan Keesing, akan membawa ke masalah filsafat yang sulit sekali. Geertz berpendapat bahwa makna-makna budaya adalah umum dan realisasinya terdapat pada masing-masing pemikiran orang. Suatu sandi untuk berkomunikasi ada dalam pengertian yang berada di luar pengetahuan perseorangan tentang hal itu. Sebuah kuartet Beethoven ada dalam pengertian yang menembus individu-individu yang mengetahuinya, memainkannya, dan mencetak buku musiknya.

Persoalan-persoalan ini menjadi lebih jelas apabila melihat salah satu sistem pengetahuan budaya, yaitu bahasa; seperti bahasa Sunda. Apakah bahasa Sunda terdiri atas semua versi yang sedikit berlainan dari dialek-dialek yang diketahui oleh setiap individu, atau apakah sebagai suatu sistem, sesuatu yang berada di atas dan melampaui pengetahuan tiap individu?

Dikatakan “di atas dan melampaui” pengetahuan masing-masing individu adalah karena : Pertama, bahasa Sunda sudah ada sebelum orang dalam lingkungan berbahasa Sunda dilahirkan dan belajar bahasa tersebut. Dengan demikian, bahasa Sunda itu ada di antara perorangan dan bukan di dalam diri perorangan. Kedua, tidak seorang pun mengetahui semua kata-kata dalam bahasa Sunda atau penggunaannya. Ketiga, bahasa Sunda sebagai sistem dalam beberapa hal menembus ragam perorangan setiap individu, ini bisa meliputi ucapan, penggunaan tatabahasa, dan sebagainya, walaupun hal-hal tersebut bersifat personal, dan bukan bagian dari bahasa. Keempat, cara bahasa mengalami perubahan tampaknya tidak bergantung kepada apa yang masing-masing individu ketahui dan bagaimana mereka menggunakannya. Kelima, bahasa Sunda sebagai suatu sandi akan tetap lestari, melalui buku-buku dan rekaman-rekaman, walaupun para penuturnya meninggal.

Namun tulisan adalah penemuan manusia yang belum begitu lama, dan perekaman suara adalah sesuatu yang mutakhir. Sekian banyak bahasa orang Indian dan orang Aborigin punah sama sekali, dan bahasa-bahasa itu hanya lestari sebagai sistem pengetahuan di benak beberapa orang, yang selanjutnya punah ketika penutur terakhir meninggal. Banyak pakar bahasa modern sekarang yakin bahwa memahami bagaimana bahasa mengalami perubahan, harus melihat pada ragam bahasa yang ada, pada apa yang “diketahui” oleh setiap individu – secara tidak sadar – tentang bahasanya. Jadi, dalam pengertian ini, bahasa terletak di benak setiap orang, bukan melayang-layang di atas masyarakat.

Suatu hal yang penting, yaitu bahwa semua bahasa ternyata mempunyai rancangan susunan dasar yang sama, dan ada alasan kuat untuk menarik suatu kesimpulan bahwa rancangan ini kebanyakan didasarkan pada pemrograman logika dan susunan benak kita. Apabila beranggapan bahwa bahasa berada pada masyarakat dan bukan di benak penuturnya, maka akan tergoda untuk percaya bahwa adanya suatu bahasa angan-angan adalah sesuatu yang mungkin. Pada kenyataannya, hanya bagian yang sangat kecil dari bahasa yang telah ditemui dalam masyarakat manusia yang dapat dipelajari dan digunakan oleh makhluk berotak seperti manusia.

Para pakar, seperti halnya Geertz (1992), berpendapat bahwa budaya adalah sistem dari tujuan masyarakat, bukannya sandi perorangan di benak setiap anggota masyarakat –menunjuk ke arah pengertian “budaya Bulgaria” yang telah ada sebelum dan terlepas dari kelahiran setiap orang Bulgaria. Bahwa budaya –seperti misalnya bahasa Bulgaria– terdiri atas kaidah-kaidah yang menembus benak-benak perorangan, dan sebagai suatu sistem konseptual, budaya Bulgaria tersusun dan mengalami perubahan menurut cara-cara yang tidak mudah dipahami jika memandangnya sebagai suatu susunan yang diketahui oleh setiap orang Bulgaria.

Pandangan ini mendapat tantangan dari Schwartz (1978) dan Talal Asad (1983). Schwartz yang menyodorkan “model distribusi budaya” mengatakan bahwa distribusi budaya di antara para anggota masyarakat menembus keterbatasan perorangan dalam penyimpangan, penciptaan, dan penggunaan masa budaya. Model distribusi budaya memperhitungkan, baik keragaman maupun kebersamaan. Keragaman yang meningkatkan inventaris budaya, tetapi adalah persamaan yang menjawab taraf komunikabilitas (kemampuan untuk berkomunikasi) dan koordinasi (Schwartz, 1978:427).

Pandangan distribusi budaya seperti ini dapat menghitung berbagai segi pandang yang berbeda tentang tata cara kehidupan perempuan dan pria, muda dan tua, spesialis dan non-spesialis. “Budaya” dipandang sebagai himpunan pengetahuan yang masing-masing orang memiliki andil menurut cara dan taraf yang berbeda. Schwartz (1978:472) menguraikan bahwa:

pengetahuan pakar garis keturunan, di Manus (sebuah pulau di Papua Nugini) …tersedia guna mengartikan berbagai peristiwa yang terjadi, dan kalau dia mati tanpa mewariskan pengetahuan ini kepada anak didiknya, budaya yang bersangkutan mengalami perubahan yang sangat berarti.”

Di sini sampai pada inti persoalan, bahwa di dalam masyarakat Manus dan Bulgaria yang sesungguhnya, pengetahuan tentang dunia yang tersusun di benak masing-masing orang beragam dari orang yang satu ke orang yang lain; dari sub kelompok ke sub kelompok yang lain; dari daerah satu ke daerah yang lain; ragam menurut umur, jenis kelamin, pengalaman hidup, dan visi. Namun, setiap orang memiliki sandi yang sama, yang terutama tersembunyi di bawah sadar, yang memungkinkan mereka mampu berkomunikasi, hidup dan bekerja di dalam kelompok, antisipasi dan menafsirkan perilaku mereka satu sama lain. Mereka membagi dunia yang berisi makna yang umum, walaupun titik pandang masing-masing orang berbeda. Di dalam menjelaskan “budaya”, para pakar antropologi berusaha menangkap apa yang dimiliki bersama, sandi dari kaidah-kaidah yang dimiliki bersama, dan makna-makna umum. Kita menguraikan suatu sistem budaya atau suatu budaya jika fokus kita tertuju pada unsur-unsur yang umum dari sandi yang berlaku di dalam masyarakat (seperti halnya jika pakar bahasa berbicara tentang “bahasa Sunda” dan bukan dialek atau ragam perorangan). Dalam dunia nyata, pengetahuan yang diuraikan sebagai budaya, selalu didistribusikan di antara individu di dalam masyarakat.

Sementara itu menurut Talal Asad (1983), konsep kebudayaan yang dikemukakan oleh Geertz itu menggambarkan hubungan antara simbol-simbol budaya dan kehidupan sosial sebagai suatu “hubungan satu arah”, bahwa simbol-simbol budaya menginformasikan, mempengaruhi, dan membentuk kehidupan sosial. Dengan melihat simbol-simbol budaya sebagai sesuatu yang sui generis (terbentuk dengan sendirinya), sama sekali tidak ditunjukkan dalam konsep Geertz ini bagaimana nilai-nilai budaya dipengaruhi oleh pengalaman manusia dalam kehidupan sehari-hari. Pendapat Asad seperti ini secara tajam mengungkapkan kelemahan konsep kebudayaan yang bersifat interpretatif. Untuk menutupi kelemahan konsep Geertz tersebut, Asad menunjuk “teori praktek”, yang mungkin dapat mengisi kelemahan itu.

Teori praktek ini menekankan “keterlibatan si subjek” dalam proses konstruksi budaya. Seperti dikemukakan Asad, kelemahan pendekatan interpretatif adalah tidak dijelaskannya bagaimana, misalnya, seorang Bugaria sebagai “subjek” dapat ikut membentuk nilai-nilai budaya Bulgaria. Teori praktek mencoba menjelaskan hal ini dengan mengatakan bahwa di antara manusia dengan kebudayaannya terdapat suatu proses interaksi terus-menerus, bahwa manusia mencoba mengolah dan mengkonstruksi simbol-simbol budaya demi kepentingannya dalam kondisi sosial, ekonomi, dan politik tertentu. Usaha-usaha manusia untuk mengkonstruksi simbol atau nilai budaya itulah yang disebut “praktek” (practice).

Implikasi dari konsep budaya demikian ialah, bahwa simbol-simbol ataupun nilai-nilai yang terkandung dalam suatu kebudayaan senantiasa bersifat cair, dinamik, dan sementara, karena keberadaannya bergantung pada praktek pelakunya yang berada pada konteks sosial tertentu, yang sudah barang tentu mempunyai kepentingan tertentu pula. Akibat lain dari pendekatan praktek adalah, bahwa suatu kebudayaan hanya dapat terwujud dalam kaitannya dengan “subjek”, yaitu melalui prakteknya; dan salah satu praktek yang sangat unik, karena secara langsung mengkonstruksi kebudayaan adalah “wacana” (discourse). Wacana adalah bentuk penuturan verbal yang berkaitan erat dengan kepentingan si penutur. Jadi, dalam kasus tamu Bulgaria itu, tawaran tuan rumah Bulgaria itu dalam konteks sebagai tuan rumah yang berkepentingan untuk tidak mengecewakan tamunya.

Dengan pengertian konsep praktek, dapat dilihat bahwa setiap wacana tentang kebudayaan tidak terlepas dari kepentingan dan kekuasaan. Dalam suatu masyarakat, umumnya terdapat sejumlah wacana tentang kebudayaan bersangkutan, yang bisa saja saling bertentangan. Namun, biasanya salah satu di antaranya akan menjadi wacana dominan apabila memperoleh dukungan kekuasaan.

Adapun menurut Keesing (1981b), “budaya” selalu merupakan suatu komposisi, suatu abstraksi yang diciptakan untuk menyederhanakan analitik. Untuk tujuan lain, seperti halnya para pakar bahasa, bisa menjelaskan keragaman regional, lokal, atau sub-kelompok sebagai “sub-budaya”; dan ini pun suatu abstraksi dari pelbagai corak keragaman pengetahuan perorangan. Keesing membuat penyederhanaan semacam itu agar dapat menangkap dan menjelaskan unsur-unsur yang dimiliki bersama dari pengetahuan yang didistribusikan secara sosial, sebagai suatu sistem. Namun berbahaya jika abstraksi yang diciptakan ini dianggap mempunyai bentuk nyata, suatu keberadaan, suatu wujud dan penyebab, yang sebenarnya tidak ada. Banyak orang cenderung berbicara tentang “budaya” seolah-olah sebagai suatu pelaku menyebab (“budaya mereka menyebabkan mereka mempunyai pandangan luas”) atau makhluk yang sadar (“budaya Barat menghargai individualitas”). Mereka berbicara seolah-olah “budaya” bisa bertindak (“budaya mereka telah beradaptasi dengan lingkungan barunya”) atau berbicara seolah-olah “budaya” itu semacam kelompok, bahwa seseorang bisa bergabung (“anggota dari budaya lain”). Kita, demikian Keesing, perlu menjaga diri dari godaan untuk menganggap budaya sebagai sesuatu yang nyata dan memperlakukannya sebagai suatu “benda nyata”. Dengan demikian hendaklah ingat bahwa ini adalah suatu abstraksi yang berguna, dari pengetahuan yang berserakan pada orang-orang di dalam masyarakat.

2. Konsep Budaya Politik

Politik (politica), menurut Plato dan Aristoteles adalah suatu usaha untuk mencapai masyarakat politik (polity) yang baik. Di dalam polity semacam itu manusia akan hidup bahagia karena memiliki peluang untuk mengembangkan bakat, hidup dengan rasa kemasyarakatan yang akrab, dan hidup dalam suasana moralitas yang tinggi. Kini batasan politik semacam itu telah terdesak oleh definisi-definisi lain yang lebih menekankan pada “upaya” (means) untuk mencapai masyarakat yang baik, seperti kekuasaan, pembuatan keputusan, kebijakan, dan alokasi nilai. Pengertian politik sebagai usaha untuk mencapai suatu masyarakat yang lebih baik, yang oleh Merkl (1967: 13) disebut sebagai “usaha dalam mencapai suatu tatanan sosial yang baik serta keadilan” –walaupun samar-samar– tetap hadir sebagai latar belakang suatu tujuan kegiatan politik. Namun, perlu disadari bahwa persepsi mengenai “baik” dan “adil” dipengaruhi oleh nilai-nilai dan ideologi masing-masing.

Di sini hanya perlu ditekankan bahwa dalam penyelenggarannya, kegiatan politik, di samping segi-segi baik, juga mencakup segi-segi negatif, karena manusia sebagai penyelenggara politik memiliki dua tabiat yang kontras, yaitu naluri baik dan buruk, rasa cinta dan benci, setia dan khianat, bangga dan malu, sabar dan marah (Apter, 1985:5). Budaya politik merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat, dengan ciri-ciri khas. Istilah “budaya politik” mencakup masalah legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses pembuatan kebijaksanaan pemerintah, kegiatan partai –partai politik, serta gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah.

Kehidupan politik mencakup segala sesuatu yang mengatur kekuasaan masyarakat dalam mengarahkan kehidupan anggota-anggotanya pada tujuan yang dikehendaki bersama. Namun, kegiatan politik tidak hanya terbatas pada kepentingan atau kekuasaan politik; melainkan memasuki pula dunia keagamaan, kegiatan ekonomi dan sosial, kehidupan pribadi dan kehidupan masyarakat. Budaya politik langsung mempengaruhi kehidupan politik dan penentuan keputusan nasional dan regional yang menyangkut pola pengalokasian sumber-sumber masyarakat untuk membangun ekonomi.

Budaya politik merupakan sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh masyarakat, namun harus disadari bahwa tidak ada satu masyarakat pun yang setiap anggotanya mempunyai satu budaya politik yang sama dan seragam, termasuk negara sosialis sekalipun. Lucian Pye (1965:15) mengatakan bahwa di dalam semua sistem politik selalu terdapat perbedaan yang fundamental antara kebudayaan pemimpin serta pemegang kekuasaan dengan kebudayaan massa rakyat, baik rakyat yang dalam kondisi dieksploitasi maupun rakyat yang dianggap terhormat dan dihargai. Sekalipun masyarakatnya mempunyai kehidupan demokrasi yang tinggi, perbedaan tersebut tetap ada, walaupun pemimpin-pemimpin politik mencoba meyakinkan bahwa mereka sejiwa dan mengemban suara rakyat.

Dengan demikian, dalam setiap masyarakat terdapat budaya politik rakyat kecil di samping budaya politik elite. Masing-masing memiliki perbedaan, apalagi di negara-negara Dunia Ketiga. Para elite merupakan orang-orang yang memiliki pendidikan yang tinggi; sementara rakyat kecil sebaliknya, bahkan lebih parah lagi karena mereka mungkin saja buta huruf dan tidak memahami lingkungan politik dan mudah terbawa arus politik yang kuat. Massa rakyat umumnya pengikut, tidak memiliki basis kekuatan kecuali apabila mereka diorganisasikan.

Pada kasus Indonesia, Benedict R. O’G Anderson (1970: 50) menulis bahwa kebudayaan Indonesia cenderung membagi masyarakat secara tajam antara kelompok elite dengan kelompok massa. Bagi seorang Indonesia tidak ada pilihan lain, apabila tidak menjadi pemimpin, ia harus menjadi orang biasa sebagai pengikut. Pendapat Anderson setidaknya masih dapat dilihat pada sebagian besar rakyat Indonesia di zaman Reformasi ini.

Berbicara tentang budaya politik, harus pula membicarakan tentang ideologi, karena ideologi sebagai bagian dari budaya politik. Pada umumnya istilah “ideologi dipakai untuk mencerminkan suatu pandangan hidup atau sikap mental. Secara khusus, ideologi diartikan sebagai “suatu perangkat pandangan serta sikap-sikap dan nilai-nilai, atau suatu orientasi berpikir tentang manusia dan masyarakat (Adorno, 1950:2).

Sebagai suatu pola pemikiran, ideologi bukan hanya dapat dimiliki oleh seseorang, namun juga dimiliki bersama oleh anggota masyarakat secara luas. Adorno (1950) mengatakan, bahwa kita dapat berbicara tentang seluruh ideologi dari seseorang atau ideologi dalam bidang-bidang tertentu, misalnya politik, ekonomi, agama, golongan minoritas, dan sebagainya. Ideologi dapat pula berkembang bebas tanpa bergantung pada seseorang; dan ideologi-ideologi tersebut hidup sebagai akibat dari latar belakang sejarah masyarakat yang bersangkutan, dan dari pancingan peristiwa-peristiwa baru yang timbul di dalamnya.

Adapun isi ideologi (Garstin, 1954:4) pada umumnya terdiri atas:

(1) pola pemikiran atau falsafah tentang alam semesta, seperti kegaiban jagat, pacuan sejarah, dan nasib manusia; (2) gagasan tentang makna hidup di dunia, atau analisis tentang kondisi kehidupan manusia masa kini menurut pandangan filsafat.; (3) pengharapan yang terumus pada tujuan hidup, atau proyeksi tentang masa depan; dan (4) analisis tentang tindak manusia yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang diramalkan dan yang harus terjadi di masa yang akan datang.

Studi tentang ideologi biasanya mengungkapkan hakekat ideologi yang sangat kompleks, karena ada yang melihat bahwa ideologi itu negatif, di samping ada yang melihatnya netral. Hal yang bersikap negatif biasanya melihat bahwa ideologi yang diperjuangkan orang banyak disebabkan oleh faktor-faktor emosi dan pemikiran ekstrim serta tidak rasional. Selain dari itu, ideologi juga penuh dengan mitos (myth), sistem kepercayaan, dan nilai-nilai yang mengarah pada gerakan-gerakan berisi tentang konsep manusia maupun masyarakat, legitimasi maupun kekuasaan, yang mengakar dan merupakan kebiasaan yang saling menguatkan (Rejai, 1971:10).

Bagaimanapun pandangan orang, dan apapun bedanya antara ideologi yang dipegang dengan realitas yang ada, studi tentang ideologi tetap bermanfaat, karena ideologi selalu bekerja pada kehidupan manusia dan menentukan perilaku politik.

Studi klasik yang dilakukan oleh Karl Mannheim (1979) tentang ideologi menunjukkan bahwa pikiran manusia selalu diwarnai oleh pikiran-pikiran sosial yang hidup di masyarakat. Persepsi manusia tentang realitas maupun tingkah lakunya dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran tersebut. Clifford Geertz (1965:47-48) pun sependapat dengan Mannheim, dan lebih jauh mengatakan bahwa manusia sebenarnya dihambat / dilemahkan oleh keyakinan yang subjektif. Manusia hidup dengan prasangkanya dan sekaligus objektivitasnya. Untuk itu, Geertz menyebut sebagai “Paradoks Mannheim” dan merupakan dilema yang tidak terselesaikan, tetapi, secara keseluruhan Geertz benar, bahwa hal itu merupakan ironi kecil dari sejarah intelektual modern yang istilah “ideologi” itu sendiri menjadi sangat diidiologisasi.

Sifat paradoks dari ideologi ini dipertajam oleh Joseph La Palombara (1966:5) yang mengatakan bahwa ideologi dapat saja bersifat dogmatik, namun tidak selalu demikian; yang dapat saja bersifat khayalan (utopia) meskipun tidak seharusnya; dapat pula penuh dengan retorika, tetapi tidak selalu. Pelombara cenderung melihat kenyataan peranan negatif maupun positif dari ideologi dalam kehidupan manusia; dengan demikian, baginya ideologi merupakan konsep yang netral.

Namun bukan hanya Palombara saja yang melihat ideologi dalam kerangka yang lebih luas. William E. Connolly (1967:2) pun demikian, dengan pandangannya bahwa ideologi adalah suatu kumpulan keyakinan tentang lingkungan sosial politik, yang mencoba menerangkan pada kita bagaimana suatu sistem diorganisasi, cita-cita apa yang harus diperjuangkan, lembaga dan saluran mana yang dapat dimanfaatkan secara efektif. Lebih lanjut Connolly mengatakan bahwa ideologi dapat mengandung asumsi dan keyakinan yang mungkin belum diuji kebenarannya, namun pada taraf tertentu langsung diyakininya. Hal ini akan lebih mungkin terjadi apabila ilmu dan data empirik masih langka di masyarakat itu.

Dalam usaha memahami lebih jauh tentang ideologi marilah lihat dua masalah berikut:

  1. Masalah objektivitas dan subjektivitas dalam studi ilmiah yang mempertanyakan tentang peranan ideologi, prasangka, atau praduga dalam usaha mencari kebenaran.
  2. Masalah peranan ideologi dalam proses politik yang sesunguhnya terjadi di masyarakat.

Bagi Sartori (1969:389) dibedakan antara “ideologi dalam ilmu” dengan “ideologi dalam politik”. Massalah yang pertama berhubungan dengan pertanyaan apakah pikiran dan pengetahuan manusia diarahkan oleh ideologi. Kalau demikian, sampai di mana pengaruh tersebut perlu dibatasi agar persyaratan objektivitas dalam kegiatan ilmiah masih dapat dijamin. Kedua memandang ideologi sebagai sumber utama yang menentukan pola dan arah proses sosial dan politik di masyarakat; dalam hal ini masalah ideologi dilihat dari fungsinya dalam sistem politik yang ada.

Apabila Sartori membahas ideologi dari sudut polaritas antara masalah teori intelektual (kegiatan ilmiah) dan masalah praktis (kegiatan politik praktis), maka Geertz tidak melihat perbedaan pemakaian ideologi dalam kegiatan teori maupun praktis. Geertz menekankan perbedaan antara pemikiran yang bersifat ideologi dengan pemikiran yang bersifat ilmiah, baik dalam kegiatan teori maupun kegiatan praktis (Geertz, 1965: 71 – 72). Geertz berpendapat bahwa kedua pola pemikiran tersebut mempunyai kesamaan pula, yaitu keduanya berusaha mengetehui persoalan sebenarnya yang terjadi dalam kenyataan dan ingin memperoleh fakta yang benar. Namun konflik antara keduanya tetap ada, karena ilmu masih tetap mempertanyakan kembali kebenaran di dalamnya dan asumsi-asumsi dasarnya sebelum hal-hal tersebut diterapkan.

Apabila klasifikasi (taksonomi) Geertz bersifat psiko-budaya, maka Mannheim (1979 : 40) membuat klasifikasi secara sosiologi, yang mengatakan bahwa waktu terjadi krisis terhadap ketentraman sosial politik masyarakat, maka biasanya muncul paling sedikit dua kekuatan yang saling bertentangan, yaitu kelompok yang memerintah dan kelompok yang merasa tertindas. Setiap kelompok memilih ideologinya yang kontras. Kelompok penguasa cenderung mempertahankan ideologi yang dianggap berlaku, sedangkan kelompok tertindas menanamkan pemikiran yang utopis. Perbedaan kedua kelompok itu adalah sebagai berikut:

  1. apabila kelompok penguasa mencoba mengurangi konflik sambil berusaha memelihara status-quo pada sistem sosial, ekonomi, dan politik, maka kelompok tertindas selalu tidak puas dengan kondisi yang ada di masyarakat, dan mereka berusaha meningkatkan konflik dalam rangka merombak sistem yang ada;
  2. apabila kelompok penguasa memelihara pemikiran-pemikiran yang ada karena dianggap sesuai dengan kondisi masyarakat di segala zaman dan situasi, maka kelompok tertindas selalu mencari ide-ide yang sama sekali baru guna mengembangkan masyarakat ideal;
  3. apabila perkembangan pikiran kelompok penguasa terikat pada interest dari unsur-unsur yang ada pada kelompok penguasa sehingga pemikiran itu mengaburkan persepsinya tentang kondisi yang sebenarnya terjadi di masyarakat; maka pada kelompok tertindas, meski juga terikat pada interes dan interpretasi kaum tertindas, namun mereka lebih suka kepada konflik untuk memperbesar pengaruh di masyarakat –walaupun dengan konflik itu bisa menimbulkan perpecahan dan melemahkan pengaruhnya.

Mannheim menyadari bahwa kedua kelompok tidak hanya memelihara pemikiran yang realisitik, namun juga utopis. Misalnya, kelompok penguasa merintis ide-ide masa depan yang bersifat transendental, yang harus duperjuangkan, namun tidak boleh mempengaruhi secara langsung status quo. Di sini memperlihatkan adanya jurang yang lebar antara retorika dengan realita. Hal ini menumbuhkan dengan subur idealis-idealis dan utopis-utopis pada massa rakyat. Ini berarti pula, pilihan dan ruang gerak para penguasa yang terdiri atas kelompok yang berekonomi kuat dan politikus kuat semakin sempit. Kecenderungan ini akan terjadi apabila ideologi kelompok-kelompok di masyarakat dipenuhi dengan impian-impian (utopis) yang tidak realistik.

Kerangka analisis yang disajikan Mannheim tersebut sangat berguna, terutama tentang perbedaan-perbedaan penting antara budaya politik kelompok elite dan massa rakyat. Namun perlu dikemukakan di sini bahwa kedua kelompok tersebut tidak selalu saling bertentangan. Malah dalam kenyatannya seringkali para elite mengambil peranan penting dalam pembentukan budaya politik yang dapat mempersatukan semua kelompok masyarakat untuk pembangunan nasional. Selain dari itu, juga perembesan yang intensif dari perubahan sosial telah menimbulkan disorientasi di antara massa rakyat, sehingga mereka semakin membutuhkan kepemimpinan elite dalam memberikan orientasi baru tentang masalah-masalah hidup, sehingga rakyat dapat memakainya untuk menghadapi persoalan-persoalan baru dan untuk berpartisipasi secara tepat dalam pembangunan nasional (Geertz, 1965: 65).

Dalam hal ini Apter menambahkan bahwa massa rakyat mengharapkan para elite pemerintahan dapat mengatur dan menyediakan segala kebutuhan hidup mereka. Bila memang masyarakat merasa bahwa peranan mereka tidak banyak dalam menentukan tingkat produktivitas nasional, maka terpaksa pemerintah mengambil peranan utama. Hal ini membawa akibat, kepemimpinan pemerintah cenderung mempertajam sentralisasi serta monopolistik dalam mengatur kegiatan ekonomi. Selain dari itu, rakyat akan pasif dalam menghadapi pembangunan ini. Dalam kondisi yang demikian, masyarakat hanya aktif apabila ada mobilisasi massa untuk patuh mengikuti pemimpin sepenuhnya. Atau, apabila ada inisiatif masyarakat dalam mengembangkan kewirausahaan, maka kegiatan tadi cenderung terorientasi pada pencarian perlindungan bantuan dan subsidi pemerintah. Itu pula yang terjadi di Indonesia sejak Orde Baru berkuasa.

Pemerintahan yang kuat yang disertai sifat pasif dari rakyatnya, biasanya mempunya budaya politik yang menurut Apter bersifat political religion (agama politik). Politik yang dikembangkan berdasarkan ciri-ciri agama cenderung mengatur secara ketat setiap aspek kehidupan anggota masyarakatnya (Apter, 1963:59). Budaya politik tersebut merupakan usaha campuran politik dengan ciri-ciri keagamaan, yang, kedua bidang kehidupan tersebut merupakan kekuatan paling dominan dalam masyarakat tradisional di negara-negara Dunia Ketiga. Beberapa gejala paradoks hampir selalu dijumpai pada agama politik, yaitu pemerintahannya kuat dan tegas namun justru memancing ketidakstabilan politik; pengendalian terhadap sentralisasi sangat kuat namun justru sulit memobilisasi masyarakat secara luas –hanya kelompok-kelompok masyarakat tertentu saja yang dapat dimobilisasi; adanya perubahan oreintasi yang pesat ke arah pembangunan, tetapi ikatannya kepada tradisi semakin kuat –karena sifat-sifat agama umumnya berorientasi ke masa lampau; penggunaan kekerasan yang meningkat untuk menghadapi oposisi, namun justru menyuburkan antagonisme dan pembekuan terhadap kreativitas yang dibutuhkan guna mendekung pembangunan. Tidak semua gejala yang bertentangan itu benar-benar terjadi,namun potensi ke arah timbulnyan konflik-konflik tersebut selalu ada pada budaya politik yang bersifat agama politik.

Lebih jauh Apter menegaskan bahwa kondisi politik yang terlalu sentralisasi dengan peranan birokrasi atau militer yang terlalu kuat, akan banyak mempengaruhi perilaku anggota masyarakat dan akhirnya mempengaruhi terhadap pembangunan nasional. Kemudian Edward Weidner (1968: 240) menambahkan bahwa kondisi sosial, politik, dan intelektual yang diciptakan elite pada akhirnya merupakan faktor penentu arah, corak, dan sasaran yang dicapai oleh proses pembangunan di negara berkembang. Strategi-strategi pembangunan dari pemerintah, universitas, dunia usaha, dan organisasi lainnya pada dasarnya merupakan variabel-variabel independen. Mereka adalah perencana perubahan. Sebaliknya, bidang pembangunan –ekonomi, sosial, politik, teknologi– sebenarnya merupakan variabel dependen. Namun banyak jenis variabel lain yang menyusup dan mempengaruhi kedua kelompok variabel di atas. Salah satu di antaranya ialah lingkungan politik yang mungkin paling luas pengaruhnya.

Budaya politik para elite dalam kurun waktu tertentu mungkin tetap kuat pengaruhnya, atau bahkan berkurang, yang menurut Wilbert E. Moore (1961: 519-520) bahwa nilai-nilai mungkin agak lambat perubahannya, dan nilai-nilai tersebut sering berfungsi sebagai penghambat perubahan. Beberapa macam nilai dapat berubah, menyesuaikan diri dengan kondisi yang sedang terjadi di masyarakat; dan malah ada pula yang hilang lenyap.

Warren F. Ilchman dan Norman Thomas Uphoff (1969:214) menambahkan bahwa apabila budaya politik dianggap sebagai proses alamiah dari infrastruktur politik, maka hal itu tidak berarti bahwa pertumbuhan budaya politik tidak mengandung campur tangan atau pengaruh manusia. Namun, apabila budaya politik serta kondisi yang diciptakannya merupakan warisan yang harus diterima oleh setiap generasi sebagai “pemberian alam” (natural endowment), maka budaya politik tersebut sulit berubah, kecuali aspek-aspek pinggirannya saja. Perubahan besar dapat terjadi apabila ada suatu peristiwa yang memang bertujuan untuk merombak norma-norma yang ada, dan benar-benar menyentuh dasar-dasar kehidupan masyarakat banyak.

Mannheim (1979) membedakan ideologi ke dalam tiga jenis utama. Pertama, ideologi yang dapat muncul kalau seseorang atau sekelompok orang tidak menyadari lagi inkongruensi atau ketidakcocokan di antara gagasan yang ada padanya dengan kenyataan konkret yang tengah dihadapi. Kedua, ideologi juga muncul kalau sekelompok orang dapat menyingkapkan ketidakcocokan itu, tetapi mereka justru tidak melakukannya karena ada kepentingan yang bersifat pragmatis atau emosional, yang barangkali akan dirugikan kalau ketidakcocokan itu dibuka kedoknya. Ketiga, ideologi juga terbentuk kalau orang melakukan penipuan secara sengaja demi untuk mempertahankan diri atau untuk mencapai suatu tujuan dan kepentingan tertentu.

Secara lebih antropologis, tindakan seseorang dalam dunia sosial biasanya dibimbing oleh norma dan nilai-nilai yang ada dalam dunia simboliknya. Dalam bidang moral dan keagamaan hal itu berarti bahwa perbuatan seseorang diandaikan mengikuti apa yang dia percayai sebagai baik dan benar. Namun demikian, kalau dalam prakteknya dia ternyata tidak sanggup melakukan apa yang dia percayai, dia akan cenderung mempercayai saja apa yang dilakukannya.

Secara umum suatu pemikiran dinamakan ideologis apabila pemikiran tersebut tidak mencerminkan situasi yang konkret, namun pada saat yang bersamaan pemikiran ini dapat diintegrasikan secara harmonis dengan kehidupan umum yang terdapat dalam situasi tersebut (Kleden, 2001:xxix). Kleden mengambil contoh dari sejarah Eropa, kalangan gereja, dan khususnya kalangan klerus selama abad pertengahan, yang mengajarkan bahwa memang ada semacam Firdaus yang menanti setiap orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi Firdaus itu tidak berada di sini, namun dalam dunia yang lain, yang berbeda dari dunia tempat kita hidup sekarang ini. Selama Firdaus itu ditempatkan di suatu dunia lain, maka pemikiran ini dapat diintegrasikan dengan kehidupan Kristen Abad Pertengahan, dan berfungsi sebagai semacam ideologi yang justru memperkuat struktur sosial, yang ditandai oleh peranan yang amat dominan dari gereja. Namun demikian, menjelang berakhirnya Abad Pertengahan, ketika struktur sosial yang bersifat eklesiastik ini mulai goyah, muncul gerakan yang dengan penuh semangat ingin mewujudkan Firdaus itu dalam bentuk millenial kingdom (kerajaan seribu tahun) di dunia ini, hanya dengan bermodalkan harapan, emosi dan kepercayaan yang bersifat ekstatik. Pada saat ini, gagasan tentang Firdaus itu berubah dari ideologi menjadi utopia.

Perbedaan pokok antara ideologi dan utopia ialah bahwa sekalipun keduanya sama-sama mengandung pandangan yang penuh distorsi tentang keadaan konkret yang sedang dihadapi, namun ideologi cenderung mempertahankan dan memperkuat status quo, sedangkan utopia akan mengguncang struktur sosial yang ada. Berdasarkan perspektif waktu, dan tempat suatu ideal dalam waktu, Mannheim (1979 ) membedakan empat macam utopia.

Pertama, chiliasme , yaitu pandangan utopian yang menolak proses sejarah; karena itu, ruang dan waktu dalam pandangan ini dinafikan. Ciri dari tiap chiliasme adalah terfokusnya perhatian hanya pada masa sekarang di tempat ini, yang dianggap bukan produk masa lampau, dan bukan juga persiapan untuk masa depan, melainkan suatu absolute presentness, yang penuh makna dan berkah, dan harus direbut dengan seketika. Hal yang membedakan chiliasme dari jenis utopia lainnya ialah bahwa sumber kekuatannya bukanlah pada ide-ide yang diyakini, melainkan pada energi yang bersifat orgiastik dan ekstatik. Di sini terlihat kesamaan yang mencolok antara faham chiliasme dan gerakan mistik, yaitu kepercayaan akan adanya kairos (the God of Opportunity), yaitu masa kini yang dianggap dipenuhi oleh keabadian, namun masa kini yang penuh makna dan berkah itu tidak pula dianggap sebagai akhir zaman yang dijanjikan dalam eskatologi. Itulah sebabnya, mengapa chiliasme menolak dan bertentangan dengan milenarianisme yang justru berharap pada datangnya Ratu Adil di masa depan. Revolusi yang dijalankan dengan penuh gairah, tidak dianggap sebagai jalan terakhir mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara rasional, melainkan dijadikan prinsip kreatif untuk mewujudkan masa kini yang dirahmati. Pemberontakan-pemberontakan petani biasanya digerakkan oleh motif-motif chiliastik, karena penderitaan yang mereka alami seringkali sudah terlalu berat untuk memungkinkan mereka menunggu dan mengharapkan datangnya masa depan yang lebih baik.

Kedua, konservatisme, yaitu jenis utopia yang menempatkan segala ideal di masa lampau. Kaum konservatif pada dasarnya tidak terdorong untuk memikirkan gagasan. Mereka hidup tenang dalam suatu struktur sosial yang sudah menguntungkan mereka, dan yang mereka pandang sebagai sudah sewajarnya demikian. Perhatian kepada gagasan dan pemikiran baru muncul tatkala mereka harus berhadapan dengan kelas oposisi yang mempertanyakan posisi dominan dari kaum konservatif ini dalam struktur sosial yang ada. Ide-ide konservatif kemudian muncul secara ex post facto dan berfungsi sebagai pembenaran terhadap posisi sosial yang mereka nikmati. Karena itulah utopia kaum koinservatif selalu mengambil bentuk kontra-utopia. Perbedaan utama dengan utopia liberal ialah bahwa liberalisme menekankan Sollen, yaitu apa yang harus dilakukan, tingkah laku yang harus diubah atau diperbaharui dan struktur sosial yang harus mengalami rekonstruksi yang menyeluruh. Sebaliknya, kaum konservatif justru menekankan Sein, yaitu membenarkan dan mempertahankan apa yang sudah ada. Dalam pandangan konservatif, gagasan kaum liberal mungkin bagus dan bermanfaat, tetapi masih mengawang dan belum teruji dalam praktek dan belum terwujud dalam kenyataan. Kebebasan dan kemungkinan yang dipuja-puja kaum liberal itu, dalam kenyataannya selalu terbtas sifatnya. Menurut kaum konservatif, akan lebih bijaksana apabila berpegang pada apa yang sudah ada daripada mengimpikan segala sesuatu yang belum tentu dapat dilaksanakan. Itulah sebabnya bahwa kaum konservastif dengan conservative quietism-nya, biasanya berhasil menjinakkan ide-ide pembaharuan, bahkan tidak jarang dengan menggunakan cara-cara yang irasional.

Ketiga, utapia liberalisme atau liberalisme humanitarian, yang muncul dari rasa tidak puas atau bahkan dari konflik dengan tertib masyarakat yang ada. Cara kerja kaum liberal adalah menyusun suatu konsep yang dianggapnya benar, dan dapat menjadi pegangan dan ukuran untuk membangun suatu masyarakat baru yang lebih baik di masa depan, yang berlainan dari susunan masyarakat yang ada yang dianggapnya tidak benar. Orientasi waktu kaum liberal bukanlah masa lampau (seperti yang ada pada kaum konservatif), bukan juga masa kini (yang ada pada kaum chiliast), tetapi masa depan. Apabila kaum chiliast cenderung menolak kebudayaan dan semua pencapaian melalui pendidikan, sebagai pemenuhan yang bersifat prematur dari hasrat terdalam yang hanya terpuaskan dalam kairos, maka kaum liberal sebaliknya, mereka dapat menghargai kebudayaan dan hasil-hasil pendidikan, sambil memandang dirinya sebagai pengeritik yang bertugas memberikan gagasan dan norma-norma etis yang akan memperbaiki kebudayaan yang ada. Di sini kaum chiliast memandang dirinya sebagai creative destroyer yang harus menghancurkan semuanya, supaya membiarkan keabadian masuk ke dalam masa kini tanpa terhalang (Mannheim, 1979:198)

Chiliasme mengandalkan semangat yang berkobar dan terserapnya orang ke dalam ekstase, sementara kaum liberal mengandalkan gagasan dan konsep-konsep rasional. Ide kaum liberal pada dasarnya bergerak di antara konsepsi visioner kaum chiliast yang mengandalkan campur tangan langsung dari Tuhan, dan gagasan kaum konservatif yang sibuk memikirkan bagaimana mempertahankan posisi dominan mereka dalam struktur sosial yang ada. Dilihat dari perspektif stratifikasi sosial, maka chiliasme adalah utopia kaum tani yang tertindas, konservatisme adalah utopia kaum feodal yang menguasai pemilikan tanah, sedangkan liberalisme adalah utopia kaum borjuasi baru dan kaum intelektual. Adapun motor yang menggerakkan semangat kaum liberal adalah pandangan sejarah yang unilinear yang dibimbing oleh the idea of progress, berupa kepercayaan bahwa keadaan sekarang dan struktur sosial yang ada, akan bergerak manuju kondisi yang semakin hari semakin rasional. Saat terpenuhinya harapan (yang oleh kaum chiliast ditempatkan di masa kini), oleh kaum liberal ditempatkan di masa depan pada suatu titik kulminasi dari evolusi sejarah. Gagasan ini jelas sangat diperkuat oleh perkembangan kapitalisme, yang sangat mengutamakan rasionalitas, dan menguatnya Darwinisme sosial yang mendapatkan ilhamnya dari teori evolusi. Perkembangan suatu spesies biologis dari bentuk yang kurang sempurna ke arah bentuk yang semakin sempurna, diandaikan berjalan paralel dengan perkembangan struktur sosial dari susunan yang kurang rasional ke arah susunan yang lebih rasional.

Keempat, utopia sosialis, yang mempunya kesamaan yang mencolok dengan utopia liberal dalam hal perspektif waktu. Keduanya berorientasi ke masa depan, dengan perbedaan utama, bahwa masa depan kaum liberal bersifat indeterminate, yaitu bersifat terbuka dan tidak tentu kapan tercapainya, sedangkan masa depan kaum sosialis diberi kerangka dan batas-batas yang lebih spesifik berupa keruntuhan sistem kapitalisme dan berakhirnya kebudayaan kapitalis. Keduanya menentang utopia konservatif yang menerima dan mempertahankan tertib sosial yang sudah ada sebagai ideal yang terbaik, dan sekaligus juga menolak entusiasme chiliastik yang percaya bahwa energi yang ekstatik dapat menciptakan masa sekarang yang baru sama sekali secara mendadak. Perbedaan pokok dengan kaum liberal ialah penolakan kaum sosialis bahwa keadaan dapat diperbaiki hanya dengan mengusulkan gagasan-gagasan etis sebagaimana diyakini oleh kaum liberal. Menurut paham kaum sosialis, perubahan yang benar barulah tercapai kalau struktur sosial diubah sama sekali, melalui hilangnya kesenjangan antara mereka yang menguasai alat-alat produksi material dengan mereka yang hanya dapat memberikan tenaga kerja. Ide dalam pengertian kaum sosialis bukanlah sarana yang mengubah sejarah, karena ide-ide itu sendiri adalah produk sejarah, dan lahir dari posisi sosial seseorang dalam struktur sosial yang ada. Keadilan baru tercapai kalau segala jenis ketidaksederajatan diakhiri, karena ketidaksederajatan adalah sumber utama ketidakadilan.

3. Kesederajatan dan Ketidaksederajatan

Struktur politik, dan khususnya struktur kekuasaan politik, selalu menimbulkan ketidaksamaan dan ketidaksederajatan (inequality). Reinhard Bendix ( 1980) mencoba membuktikan dan melukiskan kenyataan ini dalam survei historis dan sosiologis yang luas, yang mencakup lima negara (Jepang, Rusia, Kerajaan Jerman dan Prusia, serta Inggris). Dari studinya itu, Bendix (1980:16) menemukan, bahwa “authority and inequality are basic dimensions of all social structures”, dan juga “where authority is present, inequality between rulers and ruled will accur”.

Kekuasaan, menurut Bendix, mengalami berbagai perubahan bentuk, tetapi dalam pola dasarnya dapat disederhanakan ke dalam dua bentuk utama. Pertama, kekuasaan raja (bersama kekuasaan kaum bangsawan) yang dianggap berasal dari Tuhan atau kekuatan supernatural, dan karena itu dibenarkan oleh kehendak Ilahi. Penyelidikan Bendix tentang kekuasaan raja dan aristokrasi di lima negara tersebut mencakup kurun waktu 11 abad, yaitu antara tahun 500 sampai dengan abad ke-16. Kedua, mandat untuk memerintah yang diberikan oleh rakyat dan dibenarkan oleh rakyat. Sejarah perkembangan mandat untuk memerintah atau demokrasi di Barat dimulai dengan revolusi-revolusi yang terjadi di Inggris dan Perancis pada abad ke-17, disusul revolusi industri di Inggris pada abad ke-18, kemudian oleh gerakan reformasi di Jerman dan Jepang pada abad ke-19, dan dilanjutkan oleh revolusi kaum Bolsevik pada abad ke-20. Peralihan dari dua bentuk kekuasaan itu berhubungan dengan soal siapa yang menjadi unsur pembenaran dan pengesahan kekuasaan tersebut. Dalam kerajaan, seorang raja berlindung di balik dalil vox Dei vox populi (suara Tuhan adalah suara rakyat), sedangkan dalam demokrasi berlaku dalil vox populi vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan).

Apa pun wujud dan bentuknya, kekuasaan, sebagaimana ditunjuk oleh studi Bendix, akan dengan sendirinya menghasilkan ketidaksederajatan (inequality), yang dalam prakteknya dibenarkan karena adanya legitimasi, yaitu keyakinan umum bahwa kekuasaan yang dijalankan itu bukan hanya absah sifatnya, tetapi merupakan kekuasaan yang layak dan pantas dijalankan. Dalam sistem kerajaan, ketidaksamaan dan ketidaksederajatan itu diterima mungkin karena adanya perasaan hormat dan ketundukan kepada kehendak Tuhan yang dianggap menampakkan diri dalam pribadi dan tindakan seorang raja. Dalam sistem demokrasi ketidaksamaan dan ketidaksederajatan itu diterima karena struktur sosial selalu mengimplikasikan adanya hierarki dalam hak dan kewajiban.

Dalam arti itu, ketidaksederajatan adalah kenyataan yang tidak dapat dielakkan. Hal yang masih dapat dicegah ialah keadaan bahwa ketidaksederajatan itu menyebabkan terjadinya terlalu banyak ketidakadilan (injustice). Ketidaksederajatan terbentuk dari perbedaan hak, misalnya hak pengusaha (yang harus mendapatkan untung agar usahanya dapat berjalan terus) dan hak buruh (yang harus mendapat upah yang layak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkannya dan biaya kebutuhan hidupnya). Ketidaksederajatan ini akan berubah menjadi ketidakadilan apabila upah minimum buruh sebagaimana ditetapkan oleh undang-undang tidak dipenuhi dan tidak dilaksanakan oleh pengusaha. Ketidakadilan juga akan terjadi kalau buruh menuntut upah sedemikian tingginya, sehingga pengusaha itu hampir tidak memperoleh keuntungan sama sekali, sehingga tidak sanggup melakukan investasi dan reinvestasi untuk pengembangan usaha selanjutnya.

Para penganut marxisme ortodoks barangkali tidak akan menerima distingsi ini yang dicoba dibuat di antara ketidaksederajatan (inequality) dan ketidakadilan (injustice). Asumsi dasar marxisme ortodoks ialah anggapan bahwa keuntungan pengusaha hanya didapat dari kesanggupan atau kelihaian memperlakukan buruh secara tidak adil, dengan cara membayar kepada buruh kurang dari apa yang menjadi hak buruh. Kapitalisme –menurut Marx— adalah sistem ekonomi yang hanya dapat hidup dan berkembang karena adanya nilai lebih (surplus value), berupa bagian upah buruh yang menjadi hak buruh, tetapi tidak dibayarkan kepada buruh, dan malah dicaplok oleh pengusaha untuk memupuk modalnya dan memperbesar keuntungannya. Semua ini terjadi karena adanya ketidaksederajatan antara para pengusaha yang merupakan kelas pemilik alat produksi dan kelas buruh yang hanya memiliki tenaga kerja. Masyarakat adil baru tercipta kalau ketidaksederajatan itu dapat dihilangkan oleh revolusi sosial yang menghilangkan kelas-kelas sosial. Sebagaimana terbukti kemudian, keinginan Marx untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas itu lebih merupakan suatu harapan dan impian etis yang bersifat utopian, tetapi hampir tidak ada contoh soalnya dalam kenyataan sejarah dan kenyataan sosiologis. Di negara-negara komunis segera terlihat ketidaksederajatan yang amat mencolok antara mereka yang menjadi anggota partai dan pimpinan partai, yang diberikan berbagai fasilitas dan privilese, dengan anggota masyarakat biasa.

Pertentangan antara keinginan akan terciptanya kesederajatan menyeluruh dan kenyataan sosiologis yang kuat tentang selalu hadirnya ketidaksederajatan adalah pertentangan yang dalam catatan sejarah sudah berusia sejak sejarah manusia dapat ditelusuri. Ketika pada abad ke-4 sebelum Masehi di dalam negara kota Athena mulai diperkenalkan dan dipraktekkan gagasan kemerdekaan politik dan kesamaan setiap warga, maka sekurang-kurangnya dua pertiga dari seluruh penduduk Athena berada dalam status budak belian. Dalam masa modern setelah berkembangnya filsafat sosial di Eropa pada paro kedua abad ke-18 hingga abad ke-19, terlihat bahwa tokoh-tokoh pembela kesederajatan ini, dalam hidupnya sehari-hari, tidak dapat menghindar dari ketidaksederajatan yang secara teoritis tidak mereka benarkan. Filosof Perancis, Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), penganjur kebebasan alamiah untuk setiap orang, lepas dari ikatan kebudayaan dan pendidikan, tercatat sebagai seorang aristokrat yang manja dan eksentrik. Thomas Jefferson di Amerika (1743-1826) yang menganjurkan gagasan kesamaan atau kesedarajatan semua orang, yang kemudian dimasukkan ke dalam Declaration of Independence Amertika Sertikat, ternyata selama hidup hingga akhir hayatnya adalah seorang pemilik budak belian. Demikian pula Karl Marx (1818-1883), yang dianggap nabi mayarakat tanpa kelas, melewatkan tiga puluh tahun terakhir hidupnya dalam lingkungan kelas menengah yang menyenangkan di Highgate dan mempekerjakan beberapa pelayan di rumahnya.

Dalam kaitan itu, menurut Edmund Leach (1986:81), rumusan “semua orang dilahirkan sama sederajat” (all men are born equal) dalam pakteknya ditafsirkan sebagai “semua orang semacam kita dilahirkan sama sederajat” (all men who are people like us are born equal). Prasangka-prasangka yang tersembunyi dalam rumusan itu harus diperiksa kembali, baik prasangka yang berhubungan dengan kelas sosial, gender, tingkat usia dan pendidikan, maupun latar belakang kebudayaan.

Selama masa penjajahan Belanda di Hindia Belanda sampai dengan diterapkannya Politik Etis pada awal abad ke-20, orang-orang yang dianggap sama sederajat tentulah orang-orang kulit putih, sedangkan pribumi sebagai bangsa terjajah tidak dianggap sama sederajat. Hal ini tampak dari istilah gelijkstelling / gelijkgesteld, yaitu status yang diberikan kepada orang-orang pribaumi melalui suatu prosedur hukum yang membuatnya sama sederajat dengan orang-orang Belanda. Dalam pola hubungan sosial yang bersifat patron-klien maka yang dianggap sama sederajat adalah mereka yang termasuk dalam kelompok patron (seperti para priayi), sedangkan kelompok klien (seperti wong cilik) tidak dianggap sama sederajat. Begitu pula tuduhan kaum feminis yang mengingatkan kita akan prasangka-prasangka gender dalam hubungan ini. Yaitu, bahwa tekanan tradisi patriarki yang masih sangat kuat dalam berbagai masyarakat, sering mengakibatkan bahwa yang dianggap dan diperlakukan sama sederajat biasanya hanya laki-laki dewasa, sedangkan perempuan dan anak-anak tidak termasuk di dalamnya. Sama pula halnya dalam masyarakat dengan elitisme yang kuat, yang dianggap sama sederajat adalah anggota suatu elite, sedangkan mereka yang berada di luar lingkaran tersebut tidak dianggap sama sederajat.

Inkongruensi ini sudah dimulai sejak awalnya di Athena pada abad ke-4 sebelum Masehi, ketika demokrasi mulai diperkenalkan dalam negara kota tersebut. Pada masa itu di Athena dikenal dua komunitas yang amat berbeda, yaitu polis (city-state, negara kota) yang merupakan wilayah publik dan politik, dan oikos atau rumah tangga yang merupakan wilayah privat atau komunal. Apa yang dinamakan pengelompokkan politik atau kehidupan politik hanya terwujud dalam polis, yang diatur dalam peraturan-peraturan hukum (ethos). Sebaliknya, rumah tangga atau oikos diatur oleh kebijaksanaan kepala keluarga atau kepala komunitas. Pertemuan antara masyarakat dengan negara sebagai suatu peristiwa politik hanya terjadi dalam polis atau negara kota, sedangkan kehidupan rumah tangga dan kehidupan komunal diperlakukan sebagai unsur residual yang ditampung dalam oikos. Kebebasan politik dan kesederajatan berlaku bagi anggota polis, tetapi kaum perempuan, anak-anak, dan hamba sahaya tidak mempunyai kebebasan politik dan tidak diperlakukan sama sederajat karena mereka hanya anggota oikos yang berada di luar hukum (Cohen & Areto, 1994:84-86).

Inkongruensi ini sendiri dapat dipandang dari beberapa perspektif yang dapat memberi makna yang berbeda-beda. Dari segi ilmiah (sosiologis) harapan akan terciptanya suatu kesederajatan yang menyeluruh bisa saja dianggap sebagai wishful thingking. Sebaliknya, dari segi filsafat sosial gagasan tentang kesederajatan yang menyeluruh ini tidak boleh dibuang begitu saja, karena tanpa adanya cita-cita tersebut tidak akan ada kontrol terhadap melebarnya jurang antara kaya-miskin, dan tidak ada pula landasan kuat untuk memperjuangkan keadilan yang lebih baik. Peter L. Berger (1986: 194-209) menunjukkan dalam uraiannya tentang kapitalisme, bahwa aspek mitis yang diilhami oleh harapan akan kesamaan dan kesederajatan inilah yang menyebabkan bahwa marxisme sebagai doktrin politik bisa saja mati, tetapi marxisme sebagai suatu mitos tentang masa depan yang lebih adil tetap akan terus hidup.

Tidak mengherankan bahwa banyak intelektual –baik di negara maju maupun di negara berkembang– yang hidup dalam masyarakat kapitalis, tertarik kepada sosialisme, terutama kepada segi-seginya yang bersifat fideistis, sebagaimana dimaksudkan oleh Gramsci, yaitu inspirasi yang berhubungan dengan spiritualitas, moral dan semangat kuasi-religius. Salah satu akibat yang dibawa oleh pertumbuhan kapitalisme adalah gejala yang oleh Max Weber dinamakan Entzauberung der Welt atau disentchantment of the world, yaitu hilangnya daya pesona dunia, karena tersingkirnya imaji-imaji mito-puitis akibat tekanan sekularisasi dalam kapitalisme secara umum dan industrialisasi secara khusus. Hutan tinggal menjadi sumber kayu untuk bahan mebel atau bahan bangunan, dan bukan lagi tempat orang menjalankan ritual, yang berhubungan dengan kepercayaan akan adanya roh-roh yang menjaga pohon dan bunga di rimba. Kekeringan inspirasi mitis yang diakibatkan oleh kapitalisme kemudian diimbangi oleh mitos-mitos baru yang dibawa oleh sosialisme berupa harapan akan terwujudnya masa depan yang lebih adil, persaudaraan antara semua orang yang tidak lagi dibeda-bedakan berdasarkan posisinya secara sosial, dan hilangnya konflik dan kekerasan, karena tidak ada lagi perjuangan kelas untuk memperebutkan alat-alat produksi (Berger, 1986).

4. Konflik

Banyak pakar ilmu sosial yang memberikan batasan atau definisi tentang konflik, namun semuanya memiliki esensi yang sama. Deutsch (1973) mengatakan bahwa konflik muncul kapan saja ketika kegiatan yang tidak cocok terjadi. Sementara itu, Mitchell (1981) mendefinisikan konflik sebagai hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki, atau yang merasa memiliki sasaran-sasaran yang tidak sejalan. Adapun Kriesberg (1982) mengatakan bahwa sebuah konflik muncul ketika dua pihak atau lebih percaya bahwa mereka mempunyai tujuan yang tidak cocok. Kemudian, Hugh Miall, Oliver Ramsbotham, dan Tom Woodhouse (1999:5) mendefinisikan konflik dengan lebih rinci seperti berikut:

Conflict is an intrinsic and inevitable aspect of social change. It is an expression of the heterogeneity of interests, values and beliefs that arise as new formations generated by social change come up against inherited constraints.”

Teori konflik mulai muncul di Amerika pada tahun 1960-an. Sebenarnya, kemunculan teori konflik merupakan kebangkitan kembali berbagai gagasan yang diungkapkan oleh Karl Marx (1818-1883) dan Max Weber (1864-1920). Walaupun keduanya adalah teoritisi konflik dan saling bersepakat dalam beberapa hal penting, namun keduanya mengembangkan versi teori konflik yang agak berbeda. Karena itu, teori konflik modern terpecah menjadi dua tipe pokok, yaitu teori konflik neo-marxian dan teori konflik neo-weberian. Versi neo-marxian lebih dikenal dan berpengaruh daripada versi neo-weberian.

Hal yang sama bagi semua teori konflik adalah penolakan terhadap gagasan bahwa masyarakat cenderung kepada beberapa konsensus dasar atau harmoni, di mana struktur masyarakat bekerja untuk kebaikan setiap orang. Para teoritisi konflik memandang konflik dan pertentangan –ke-pentingan dari berbagai individu dan kelompok yang saling bertentangan– sebagai determinan utama dalam pengorganisasian kehidupan sosial. Dengan kata lain, struktur dasar masyarakat sangat ditentukan oleh upaya yang dilakukan oleh berbagai individu dan kelompok untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas yang akan memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan mereka. Karena sumber daya ini, dalam kadar tertentu selalu terbatas, maka konflik untuk mendapatkannya selalu terjadi. Marx dan Weber menerapkan gagasan umum ini dalam teori mereka dengan cara yang berbeda, yang mereka pandang menguntungkan.

Marx berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang terstruktur antara berbagai individu dan kelompok muncul terutama melalui terbentuknya hubungan pribadi dalam produksi. Sampai pada titik tertentu dalam evolusi kehidupan manusia, hubungan pribadi dalam produksi mulai menggantikan kepemilikan komunal atas kekuatan-kekuatan produksi. Dengan demikian, masyarakat terpecah menjadi kelompok yang memiliki dan yang tidak memiliki kekuatan produksi –menjadi kelas-kelas sosial. Dalam masyarakat yang telah terbagi berdasarkan kelas, kelas sosial yang memiliki kekuatan produksi dapat mensubordinasikan kelas sosial yang lain dan memaksa kelompok tersebut untuk bekerja memenuhi kepentingan mereka sendiri. Jadi, kelas dominan menjalin hubungan dengan kelas yang tersubordinasi dalam sebuah proses eksploitasi ekonomi. Secara alamiah, kelas yang tersubordinasi ini akan marah karena dieksploitasi dan terdorong untuk memberontak terhadap kelas dominan serta menghapuskan hak-hak istimewa mereka. Tetapi kelas dominan, karena mengetahui adanya kemungkinan pemberontakan dari kelas bawah, menciptakan aparat politik yang kuat –negara yang mempu menekan pemberontakan tersebut dengan kekuatan.

Dengan demikian, Marx memandang eksistensi hubungan pribadi dalam produksi dengan kelas-kelas sosial sebagai elemen kunci dalam banyak masyarakat. Dia percaya bahwa hubungan-hubungan kelas sosial memainkan peranan yang krusial dalam membentuk pola-pola sosial suatu masyarakat, seperti sistem politik dan agama. Dia juga berpendapat bahwa pertentangan antara kelas dominan dengan kelas yang tersubordinasi memainkan peranan sentral dalam menciptakan bentuk-bentuk penting perubahan sosial. Sebenarnya, menurutnya, sejarah dari semua masyarakat yang ada sampai saat ini adalah sejarah pertentangan kelas.

Strategi konflik marxian modern pada dasarnya merupakan formalisasi dan elaborasi dari gagasan-gagasan di atas. Beberapa prinsip utama strategi ini adalah sebagai berikut:

  1. Kehidupan sosial pada dasarnya merupakan arena konflik atau pertentangan di antara dan dalam kelompok-kelompok yang bertentangan.
  2. Sumber-sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik merupakan hal penting, yang berbagai kelompok berusaha merebutnya.
  3. Akibat tipikal dari pertentangan ini adalah pembagian masyarakat menjadi kelompok yang determinan secara ekonomi dan kelompok yang tersubordinasi.
  4. Pola-pola sosial dasar suatu masyarakat sangat ditentukan oleh pengaruh sosial dari kelompok yang secara ekonomi merupakan kelompok yang determinan.
  5. Konflik dan pertentangan sosial di dalam dan di antara berbagai masyarakat melahirkan kekuatan-kekuatan yang menggerakkan perubahan sosial.
  6. Karena konflik dan pertentangan merupakan ciri dasar kehidupan sosial, maka perubahan sosial menjadi hal yang umum yang sering terjadi.

Harus diperjelas bahwa strategi konflik marxian secara esensial lebih merupakan strategi materialis ketimbang idealis. Hal ini tidak mengherankan, karena kenyataan menunjukkan bahwa Marx pengusul gagasan teoritis yang bersifat materialistis dan konflik ini. Para teoritisi konflik marxian memandang konflik sosial muncul terutama karena adanya upaya untuk memperoleh ekses kepada kondisi material yang menopang kehidupan sosial, dan mereka melihat kedua fenomena ini sebagai determinan krusial bagi pola-pola sosial pada suatu masyarakat.

Titik persimpangan antara Marx dan Weber adalah menyangkut pandangan materialisme yang belakang ini. Weber percaya bahwa konflik terjadi dengan cara yang lebih luas daripada sekadar kondisi-kondisi material dasar ( Collins, 1985). Weber mengakui bahwa konflik dalam memperebutkan sumber daya ekonomi merupakan ciri dasar kehidupan sosial, tetapi dia berpendapat bahwa banyak tipe konflik yang lain yang juga terjadi. Dia menganggap konflik dalam arena politik sebagai sesuatu yang sangat fundamental. Baginya, kehidupan sosial dalam kadar tententu merupakan pertentangan untuk memperoleh kekuasaan dan dominasi oleh sebagian individu dan kelompok tertentu terhadap yang lain, dan dia tidak menganggap pertentangan untuk memperoleh kekuasaan ini hanya semata-mata didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan ekonomi. Sebaliknya, dia melihatnya, dalam kadar tertentu sebagai tujuan pertentangan itu sendiri. Weber berpendapat bahwa pertentangan untuk memperoleh kekuasaan tidak hanya terbatas pada organisasi politik formal, tetapi juga terjadi di dalam setiap tipe kelompok, seperti organisasi keagamaan dan pendidikan. Tipe konflik kedua yang seringkali ditekankan oleh Weber adalah konflik dalam hal gagasan dan cita-cita. Dia berpendapat bahwa orang seringkali tertantang untuk memperoleh dominasi dalam hal pandangan dunia mereka, baik itu doktrin keagamaan, filsafat sosial, ataupun konsep tentang gaya hidup kultural yang terbaik. Lebih dari itu, gagasan dan cita-cita tersebut bukan hanya dipertentangkan, tetapi dijadikan senjata atau alat dalam pertentangan lainnya, misalnya pertentangan politik. Jadi, orang dapat berkelahi untuk memperoleh kekuasaan, dan pada saat yang sama, berusaha saling meyakinkan satu sama lain bahwa bukan kekuasaan itu yang mereka tuju, tetapi kemenangan prinsip-prinsip yang secara etis dan filosofis benar.

Jelaslah, Weber bukanlah seorang materialis ataupun idealis. Dalam kenyataannya, dia biasa disebut sosiolog modern sebagai contoh seorang pemikir yang mengkombinasikan pola penjelasan materialis dan idealis dalam pendekatan sosiologis yang bersifat menyeluruh. Jadi, Weber berpendapat bahwa gagasan bukan semata hasil dari kondisi-kondisi material yang ada, tetapi keduanya seringkali memiliki signifikansi kausalnya sendiri-sendiri.

Marx dan Weber juga bersimpangan jalan menyangkut kemungkinan untuk memecahkan konflik dasar dalam masyarakat masa depan. Marx berpendapat bahwa karena konflik pada dasarnya muncul dalam upaya meperoleh akses terhadap kekuatan produksi, sekali kekuatan ini dikembalikan kepada kontrol seluruh masyarakat, maka konflik dasar tersebut akan dapat dihapuskan. Jadi, sekali kapitalisme digantikan dengan sosialisme, kelas-kelas akan terhapuskan dan pertentangan kelas akan berhenti. Weber memiliki pandangan jauh lebih pesimistik dalam hal ini. Dia percaya bahwa pertentangan merupakan salah satu prinsip kehidupan sosial yang sangat kukuh dan tidak bisa dihilangkan. Dalam satu tipe masyarakat masa depan, baik kapitalis, sosialis, maupun tipe lainnya, orang-orang akan tetap selalu bertarung memperebutkan berbagai sumber daya. Karena itu, Weber menduga bahwa pembagian atau pembelahan sosial adalah ciri permanen dari semua masyarakat yang sudah kompleks, walaupun tentu saja akan mengambil bentuk-bentuk dan juga tingkat kekerasan yang secara substransial sangat bervariasi.

Walaupun pendekatan konflik Marxian dan Weberian telah dianut oleh banyak sosiolog modern, tidak berarti pendekatan ini mendapat dukungan universal. Namun demikian, Disertasi ini lebih condong kepada pendekatan yang dilakukan oleh Weber.

Suatu kebiasaan khas dalam konflik adalah pemberian prioritas yang tinggi guna mempertahankan kepentingan pihaknya sendiri. Apabila kepentingan A bertentangan dengan kepentingan B, maka A cenderung mengabaikan kepentingan B, atau secara aktif menghancurkannya.

Setidaknya ada lima pendekatan terhadap konflik, yang dibedakan oleh tinggi rendahnya perhatian, baik kepada diri sendiri ataupun kepada orang lain. Pertama, gaya “pertikaian”, yaitu apabila seseorang mempunyai keperdulian yang tinggi terhadap kepentingannya sendiri namun terhadap kepentingan orang lain keperduliannya rendah. Kedua, gaya mengalah, yaitu mengimplikasikan perhatian yang lebih terhadap kepentingan pihak lain ketimbang kepentingan diri sendiri. Ketiga, gaya menghindari konflik dan mengundurkan diri; gaya ini menunjukkan keperdulian yang rendah bagi diri sendiri dan bagi pihak lain. Keempat, adalah menyeimbangkan perhatian pada diri sendiri dengan pihak lain, mencari kompromi dan mencoba mengakomodasikan kepentingan kedua belah pihak. Alternatif kelima, memberikan penghargaan yang tinggi bagi kepentingan diri sendiri dan kepentingan pihak lain; ini mengimplikasikan penegasan yang kuat terhadap kepentingan sendiri, tetapi juga menyadari aspirasi dan kebutuhan pihak lain, berusaha untuk mencari hasil penyelesaian masalah secara kreatif (Ibid, 1999:6).

Apa yang terjadi ketika pendekatan konflik bagi kedua belah fihak dipertimbangkan secara bersama-sama? Pihak-pihak yang bertikai biasanya cenderung melihat kepentingan mereka sebagai kepentingan yang bertentangan secara diametrikal. Hasil yang diperoleh adalah hasil kalah-menang (satu pihak kalah, pihak yang lain menang) atau kompromi (mereka membagi perbedaan-perbedaan yang ada). Namun, dalam konflik dengan kekerasan, biasanya kedua-duanya sama-sama kalah (Fisher, 1997:1-5).

Jika tidak ada yang mampu memaksakan sebuah hasil atau bersedia untuk kompromi, pihak yang bertikai dapat memaksakan biaya yang sangat besar pada masing-masing pihak, yang pada akhirnya semua pihak berakhir dalam keadaan lebih buruk dibandingkan dengan jika mereka menggunakan strategi yang lain. Ketika yang bertikai menyadari hal ini, biasanya timbul motif kuat –yang didasarkan pada kepentingan sendiri— untuk mencapai hal yang lain, umpamanya berkompromi untuk mencapai penyelesaian dengan hasil menang-menang. Spektrum hasil yang seperti ini dapat lebih luas dibandingkan dengan apa yang diharapkan oleh pihak-pihak yang bertikai.

Secara tradisional, tugas penyelesaian konflik adalah membantu pihak-pihak yang merasakan situasi yang mereka alami sebagai sebuah situasi zero-sum (keuntungan diri sendiri adalah kerugian pihak lain) agar melihat konflik sebagai keadaan non-zero-sum (dimana kedua belah pihak dapat memperolah hasil atau keduanya dapat sama-sama tidak memperoleh hasil), kemudian membantu pihak-pihak yang bertikai ke arah hasil yang positif. Gambar 1 di bawah ini menunjukkan beragam hasil yang mungkin terjadi pada konflik antara Cain (Kabil) dan Abel (Habil).




Titik mana saja yang menuju ke kanan lebih baik bagi Abel. Setiap titik yang menuju ke atas lebih baik bagi Cain. Dalam kitab suci, yang menang adalah yang dibantu oleh Tuhan. Cain melihat situasi sebagai konflik zero-sum: pada angka 1 (hasil terbaiknya) dia memperoleh perkenan Tuhan, pada angka 2 (hasil paling jelek pada dirinya) Tuhan berpihak pada Abel. Semua kemungkinan yang lain terletak pada garis 1 sampai dengan 2 di mana Tuhan membagi perkenan-Nya, kurang lebih sama antara dua saudara ini. Angka 3 menggambarkan sebuah posisi komrpomi yang mungkin terjadi. Tetapi ada diagonal lain yang menggambarkan hasil bukan zero-sum, yang lebih menarik jika ditinjau dari perspektif penyelesaian konflik, yaitu kerugian bersama yang sebenarnya terjadi (titik 0) ketika Abel dibunuh oleh Cain, dan Cain kehilangan pertolongan Tuhan, sedangkan keuntungan bersama tidak mereka peroleh (angka 4) jika masing-masing menjadi pelindung saudaranya sendiri.

Bagaimana mungkin kedua belah pihak membingkai kembali posisi mereka jika mereka secara diametris bersebrangan? Salah satu gagasan klasik dalam penyelesaian konflik adalah membedakan antara posisi pihak yang bertikai dengan kepentingan serta kebutuhan tersembunyi mereka. Sebagai contoh, dua tetangga bertikai tentang sebatang pohon. Masing-masing dari mereka mengklaim bahwa pohon tersebut berada di tanah milik merka. Tidak ada kompromi yang mungkin dicapai, karena pohon tidak mungkin digergaji menjadi dua. Tetapi kepentingan salah seorang dari mereka adalah memanfaatkan buah pohon tersebut, dan kepentingan pihak lain adalah keteduhan yang diberikannya. Ryan (1990) mengatakan bahwa kepentingan sering kali lebih mudah direkonsiliasikan dibandingkan dengan posisi, karena biasanya ada sejumlah posisi yang mungkin memuaskan kepentingan yang tersembunyi, dan beberapa posisi tersebut dapat saling mengisi. Persoalannya akan menjadi lebih sulit jika konflik terjadi atas nilai-nilai –yang sering kali tidak dapat dinegosiasikan– atau hubungan yang perlu diubah untuk menyelesasikan konflik, meskipun ada prinsip yang sama dalam mencari tingkat kecocokan yang lebih dalam yang mendasari motif-motif mereka. Sejumlah analis membatasi dengan mengidentifikasi kepentingan dasar manusia (sebagai contoh: identitas, keamanan, kebertahanan untuk hidup) sebagai akar motif yang lain. Konflik yang sulit didamaikan dilihat sebagai akibat dari pengabaian terhadap kebutuhan semacam ini, dan konflik hanya dapat diselesaikan ketika kebutuhan itu dipenuhi. Argumen yang menimbulkan harapan dari analisis ini adalah ketika kepentingan dapat merupakan subjek bagi kelangkaan relatif, namun tidak demikian halnya dengan kebutuhan dasar relatif (sebagai contoh: keamanan bagi satu pihak diperkuat oleh keamanan yang lain). Sepanjang konflik diterjemahkan ke dalam bahasa kebutuhan (seperti konflik yang terjadi di Banten), sebuah hasil yang memuaskan kedua belah pihak akan dapat ditemukan.

Dalam beberapa peristiwa konflik, seringkali dibutuhkan peran pihak ketiga, yang dalam intervensinya diharapkan dapat mengubah dinamika konflik. Dalam hal ini, masukan pihak ketiga dapat mengubah struktur konflik dan menimbulkan sebuah pola komunikasi yang berbeda. Dengan demikian, memungkinkan pihak ketiga menyaring atau melihat kembali pesan-pesan, sikap dan perilaku mereka yang berkonflik. Intervensi ini dapat mengurangi spiral umpan balik.

Pihak ketiga itu harus “mempunyai kekuasaan”, ketika dia memberikan dorongan bagi penyelesaian konflik. Istilah “kekuasaan” memiliki dua makna. Di satu pihak istilah ini bermakna kekuasaan untuk memerintah, menertibkan, melaksanakan –kekuasaan yang memaksa atau kekuasaan yang “keras”. Di lain pihak istilah ini bermakna kekuasaan untuk melahirkan kerja sama, untuk melegitimasi, untuk memberi inspirasi –kekuasaan yang perpuasif atau kekuasaan yang “lunak”. Kekuasaan yang keras selalu penting dalam konflik dengan kekerasan; tetapi sebaliknya, kekuasaan yang lunak penting dalam konflik yang dikelola secara damai. Kenneth Boulding (1989) menamakan kekuasaan yang pertama sebagai “kekuasaan yang mengancam” (“do what I want or I will do what you don’t want”). Mengikuti para ahli teori manajemen-kerja negosiasi, lebih jauh ia membedakan dua bentuk kekuasaan lunak, yaitu “pertukaran kekuasaan”. Ini diasosiasikan dengan pendekatan tawar menawar dan kompromi (“do what I want and I will do what you want”), dan “kekuasaan integratif” yang diasosiasikan dengan persuasi dan pemecahan masalah jangka panjang yang bersifat transformatif (“together we can do something that is better for both of us”). Para pemecah konflik mencoba menggeser penekanan dari penggunaan kekuatan atau kekuasaan ancaman menuju ke penggunaan kekuasaan yang dapat dipertukarkan dan diintegrasikan.

Pihak ketiga, seperti para politisi dan pemerintah, dapat menggunakan semua bentuk kekuasaan ini. Dilihat dari segi intervensi pihak ketiga adalah berguna untuk membedakan antara mediator yang berkuasa, atau “mediator dengan otot”, yang membawa sumber kekuasaan mereka, dengan mediator yang tidak mempunyai kekuasaan, yang perannya ditentukan hanya untuk komunikasi dan fasilitas. Diplomasi jalur I melibatkan jabatan pemerintah atau perwakilan antarpemerintah, yang dapat menggunakan jasa, media, dan teknik yang baik dalam memberi imbalan atau hukuman atau memaksakan hasil tertentu, yang secara tipikal ada bersama-sama dengan garis menang-kalah atau garis tawar menawar (antara angka 1, 3, dan 2 dalam Gambar 1 di atas). Diplomasi jalur II, sebagai kebalikannya, melibatkan mediator bukan pejabat pemerintah yang tidak mempunyai kemampuan untuk memberikan penghargaan atau hukuman. Mereka bekerja dengan pihak-pihak atau dengan konstituen mereka untuk memfasilitasi kesepakatan, mendorong pihak-pihak yang terlibat untuk melihat keadaan yang sulit sebagai sesuatu yang terletak sepanjang garis kalah-kalah atau menang-menang (antara angka 0, 3, dan 4 dalam Gambar 1 di atas) dan untuk menemukan hasil yang saling menguntungkan.

Secara garis besar, konflik dapat dibedakan atas konflik simetris dengan konflik tidak simetris. Konflik kepentingan antara fihak-fihak yang relatif sama adalah contoh konflik simetris. Namun konflik dapat juga muncul antara pihak-pihak yang tidak sama, seperti konflik antara minoritas dengan mayoritas, sebuah pemerintahan yang sudah mapan dengan kelompok pemberontak, seorang majikan dengan karyawannya. Ini adalah konflik yang tidak simetris. Di sini, akar konflik terletak bukan pada masalah atau kepentingan tertentu dalam struktur dan hubungan antara mereka. Karenanya, struktur peran dan hubungan ini tidak dapat diubah tanpa menimbulkan konflik.

Penyelesaian konflik klasik, menurut sebagian pakar konflik, berlaku hanya pada konflik simetris. Dalam konflik yang strukturnya tidak simetris yang kuat selalu menang, sedangkan pihak yang lemah selalu kalah. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik jenis ini adalah dengan mengubah strukturnya, tetapi hal ini tidak menjadi keinginan pihak yang lebih kuat. Sehingga di sini tidak ada hasil menang-menang, dan pihak ketiga harus menggabungkan kekuatan dengan pihak yang lemah untuk menghasilkan pemecahan.

Akan tetapi, dari sudut pandang lain, konflik yang tidak simetris bahkan menimbulkan korban pada masing-masing pihak. Menindas harus bersipat menindas, meskipun tidak begitu menindas seperti ketika menjadi pihak yang ditindas. Ada resiko bagi pihak yang kuat dalam mempertahankan diri mereka sendiri dalam kekuasaan dan menjaga pihak yang lemah tetap berada di bawah. Dalam sebuah konflik tidak simetris yang akibatnya sangat keras, resiko hubungan menjadi sesuatu yang tidak dapat ditahan oleh kedua belah pihak. Hal ini kemudian membuka kemungkinan bagi penyelesaian konflik melalui pergeseran dari struktur hubungan yang sudah ada menuju ke struktur hubungan yang lain.

Peran pihak ketiga adalah membantu dengan transformasi ini, jika perlu berkonfrontasi dengan pihak yang kuat. Ini bermakna mentransformasikan hubungan yang tidak damai, hubungan yang tidak seimbang ke dalam hubungan yang penuh damai dan dinamis. Gambar 2 di bawah memperlihatkan bagaimana jalan dari hubungan yang tidak damai menuju ke hubungan yang damai, yang dapat melibatkan peningkatan sementara dalam konflik ketika orang-orang menyadari kekuasaan yang tidak seimbang mempengaruhi mereka (tingkatan 1, pendidikan atau kehati-hatian), mengorganisasi diri mereka sendiri dan mengartikulasikan keluhan mereka (tingkatan 2, konfrontasi), mensejajarkan diri dengan mereka yang mempunyai kekuasaan yang lebih besar (tingkatan 3, negosiasi), dan akhirnya bergabung dalam restrukturasi hubungan yang lebih adil dan lebih pantas (tingkat 4, resolusi).



Banyak cara yang dapat didekati tanpa menggunakan paksaan. Ada taktik a la Gandhi: “mengatakan yang benar pada kekuasaan”, mempengaruhi dan membujuk para pemegang kekuasaan. Kemudia ada taktik memobilisasi gerakan massa, meningkatkan solidaritas, melakukan demonstrasi, menuntut perubahan. Meningkatkan kesadaran konflik di antara pendukung eksternal dan internal fihak yang kuat untuk dapat memperlemah rezim (seperti yang terjadi pada tahun 1998 ketika mahasiswa menentang Orde Baru). Struktur kekuasaan yang tidak setara adalah tidak stabil, karena dipengaruhi oleh beragam jenis penopang; karenanya menghilangkan penyangganya dapat meruntuhkan struktur yang tidak seimbang. Taktik yang lain adalah memperkuat dan memberdayakan pihak yang lemah. Pihak yang lemah dapat menarik diri dari hubungan yang tidak seimbang dan mulai membangun hubungan yang baru, yakni pendekatan institusi paralel. Cara damai menggunakan kekuasaan yang lunak untuk bergerak ke arah hubungan yang lebih seimbang.

Pada akhir tahun 1960-an, Galtung (1969, 1996:72) mengajukan sebuah model konflik yang berpengaruh, yang meliputi konflik yang simetris ataupun konflik yang tidak simetris. Dia mengatakan bahwa konflik dapat dilihat sebagai sebuah segi tiga, dengan kontradiksi ‘Contradiction’ (C), sikap ‘Attitude’ (A), dan perilaku ‘Behaviour’ (B) (lihat Gambar 3 di bawah).



Di sini kontradiksi (contradiction) yang merujuk pada dasar situasi konflik, yang termasuk “ketidakcocokan tujuan” yang ada atau yang dirasakan oleh pihak-pihak yang bertikai, menurut Mitchell (1981:18) disebabkan oleh “ketidakcocokan antara nilai sosial dan struktur sosial”. Dalam sebuah konflik yang tidak simetris, kontradiksi ditentukan oleh pihak-pihak yang bertikai, hubungan mereka dan benturan kepentingan inheren antara mereka dalam berhubungan. Sikap (attitude) yang dimaksud termasuk persepsi pihak-pihak yang bertikai dan kesalahan persepsi antara mereka dan dalam diri mereka sendiri. Sikap ini dapat positif atau negatif, tetapi dalam konflik dengan kekerasan, pihak-pihak yang bertikai cenderung mengembangkan stereotipe yang merendahkan masing-masing, dan sikap ini sering kali dipengaruhi oleh emosi seperti ketakutan, kemarahan, kepahitan, dan kebencian. Sikap tersebut termasuk elemen emotif (perasaan), kognitif (keyakinan), dan konatif (kehendak). Para analis yang menekankan aspek subjektif ini dikatakan mempunyai pandangan ekspresi terhadap sumber-sumber konflik. Perilaku (behaviour) adalah komponen ketiga. Perilaku dapat termasuk kerja sama atau pemaksaan, gerak tangan atau tubuh yang menunjukkan persahabatan atau permusuhan. Perilaku konflik dengan kekerasan dicirikan oleh ancaman, pemaksaan, dan serangan yang merusak. Para analis yang menekankan aspek objektif mengatakan bahwa sumber konflik itu adalah hubungan struktural, kepentingan material, dan perilaku yang bertentangan.

Galtung berpendapat bahwa tiga komponen harus muncul bersama-sama dalam sebuah konflik total. Sebuah struktur konflik tanpa sikap atau perilaku yang bersifat konflik merupakan sebuah konflik laten (atau konflik struktural). Galtung melihat konflik sebagai proses dinamis yang ketiga komponennya, yaitu struktur, sikap, dan perilaku secara konstan berubah dan mempengaruhi satu sama lainnya. Ketika kepentingan pihak-pihak yang bertikai masuk ke dalam formasi konflik, maka muncullah konflik, yang salah satu di antara mereka akan menjadi penindas. Kemudian pihak-pihak yang bertikai mengorganisasikan diri di sekitar struktur ini untuk mengejar kepentingan mereka. Mereka mengembangkan sikap yang membahayakan dengan perilaku yang bersifat konflik. Dengan begitu formasi konflik mulai tumbuh dan berkembang. Sebagaimana yang biasa terjadi, konflik dapat melebar, menarik pihak-pihak yang berada di luar, sehingga terseret masuk ke dalam konflik itu. Hal ini seringkali merumitkan tugas menyelesaikan konflik asal atau konflik inti. Bagaimanapun juga pada akhirnya, dalam penyelesaian konflik harus melibatkan seperangkat perubahan dinamis yang memungkinkan penurunan perilaku konflik, perubahan sikap, dan mentransformasikan hubungan atau kepentingan yang berbenturan, yang berada dalam inti struktur konflik.

Gagasan yang berhubungan dengan gagasan Galtung, adalah perbedaan antara kekerasan langsung (anak-anak dibunuh), kekerasan struktural (anak-anak mati dalam kemiskinan), dan kekerasan budaya (apapun yang membutakan kita atau membenarkan bentuk kekerasan). Kita dapat mengakhiri kekerasan langsung dengan perubahan perilaku konflik, kekerasan struktural dengan memindahkan kontradiksi struktural dan ketidakadilan, serta kekerasan budaya dengan mengubah sikap.

Model lain dalam mendekati konflik adalah Dinamika Konflik. Model ini melihat formasi konflik muncul dari perubahan sosial, kemudian membawanya menuju pada proses transformasi konflik kekerasan atau konflik tanpa kekerasan. Kemudian melahirkan perubahan sosial di mana individu atau kelompok yang ditekan atau disingkirkan dapat muncul untuk mengartikulasikan kepentingan mereka dan menantang norma-norma dan struktur kekuasaan yang ada.

Sebagai respon terhadap pola konflik tidak simetris yang berlaku, model transformasi konflik yang diperkenalkan oleh Curle di atas (Gambar 2) telah dikembangkan lebih jauh oleh Francis (1994) seperti Gambar 4 di bawah.



Asimetri yang inheren dalam situasi kekuasaan yang tidak seimbang dan kebutuhan yang tidak terpenuhi –yang akhirnya membawa pada konfrontasi terbuka– berkurang dengan meningkatnya kesadaran, mobilisasi, dan pemberdayaan. Mobilisasi dan konfrontasi lanjutan dapat mengikuti, atau transformasi kemampuan penyelesaian konflik dapat cukup jauh menjangkau guna mengakomodasi perubahan sosial dan politik secara damai di masa depan dalam sebauh proses pelembagaan yang disepakati. Elemen yang ada dalam kotak besar pada Gambar 4 adalah elemen yang secara tradisional dilihat sebagai penyelesaian konflik, tetapi elemen-elemen ini dapat juga dilihat guna memainkan peran pelengkap dalam proses transformasi hubungan tidak simetris yang lebih besar (van der Merwe, 1999: 1-8).

Akhirnya, adalah berharga juga memperhatikan bahwa tujuan penyelesaian konflik adalah bukan untuk menghilangkan konflik, yang tampaknya mustahil dan, seperti yang dibuat menjadi jelas dalam model Curle tentang trasformasi konflik yang tidak simetris, seringkali tidak dikehendaki. Tujuan penyelesaian konflik pada penelitian ini adalah mentransformasi konflik dengan kekerasan yang ada atau yang berpotensi untuk ada menjadi proses perubahan sosial atau politik yang penuh damai (tanpa kekerasan). Ini adalah tugas yang tidak mungkin berakhir karena bentuk-bentuk dan sumber-sumber baru konflik terus bermunculan.

Bandung, 16 Februari 2009

DAFTAR PUSTAKA

Adorno, T.W. 1950. The Authoritarian Personality. New York: W.W. Norton

Anderson, Benedict R. O’G. 1970. “The Idea of Power in Javanese Culture”. In Claire Holt (ed.), Culture and Politics in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press.

Anderson, B. 1983. Imagined Communities. London: Verso.

Apter, David E. 1963. “Political Religion in the New Nations” . In Clifford Geertz (ed.) Old Societies and New States. New York: The Free Press.

Apter, David. E. 1985. Pengantar Analisa Plitik Jakarta: LP3ES.

Asad, Talal. 1983. “Anthropological Conceptions of Religion: Reflections on Geertz”. In Man No. 2, 1983.

Ayoob, M. 1996. “State making, state breaking, and state failure. In Crocker and Hampson (eds) Manging Global Chaos: Sources of and Responses to International Conflict. Washington, DC: Creative Associates International Inc.

Azar, E. 1979. “Peace amidst development”. International Interactions, 6 (2): 203-40

Azar, E. 1986. Protracted international conflict: ten propositions. In Azar and Burton, International Conflict Resolution: Theory and Practice. Sussex: Weatsheaf.

Azar, E. 1990. The Management of Protracted Social Conflict: Theory and Cases. Aldershot: Dartmouth.

Azar, E. 1991. “The analysis and management of protracted social conflict. In Volkan, Montville and Julius (eds). The Psychodynamics of International Relationship, vol. II. Lexington, MA: D.C. Heath.

Azar, E. and Cohen, S. 1981. “The transition from war to peace between Israel and Egypt. Journal of Conflict Resolution, 7 (4): 317-36.

Azar, E., Jureidini, P. and McLauren, R. 1978. “Protracted social conflict: theory and prasctice in the Middle East”. Journal of Palestine Studies 8 (1): 41-60.

Bendix, Reinhard, 1980. King or People: Power and the Mandate To Rule. Berkeley: University of California Press.

Berger, Peter L. 1986. The Capitalist Revolution. New York: Basic Books.

Binford, L.R. 1968. “Post Pleistocene adaptation”. In L.R. & S. Binford (ed.), New Perspectives in Archaelogy. Chicago: Aldine Publishing Co.

Bloomfield, L. and Leiss, A. 1969. Controlling Small Wars: A Strategy for the 1970s. New York: Knopf.

Bloomfield, L. and Moulton, A. 1997. Managing International Conflict: From Theory to Policy. New York: St Martin’s Press.

Bogna, R. & S.J. Taylor. 1975. Introduction to Qualitative Research Methods. New York: John Wiley.

Boulding, K. 1989. Three Faces of Power. Newbury Park, C.A.: Sage.

Brewer, Anthony. 1984. A Guide to Marx’s Capital. Cambridge, Eng; Melbourne: Cambridge U.P.

Brown, M. (ed). 1993. Ethnic Conflict and International Security. Princeton University Press.

Brown, M. (ed). 1996. The International Dimensions of Internal Conflict. Cambridge,MA: MIT Press.

Bull, H. and Waston, A. 1984. The Expansion of International Society. Oxford: Clarendon Press.

Buzan, B. 1991. People States and Fear: An Agenda for International security Studies in the Post-Cold War Era (2nd edn) Boulder, CO: Lynne Rienner.

Chazan, N., Mortimer, R. Ravenhill, J. and Rothchild, D. 1992. Politics and Society in Contemporary Africa. Boulder, CO: Lynne Rienner.

Chubin, S. 1993. “The South and the New World Order. Washington Quarterly, 16 (4): 87-107.

Clark, I. 1997. Globalization and Fragmentation: International Relations in the Twentieth Century. Oxford: Oxford University Press.

Curle, A. 1971. Making Peace. London: Tavistock.

Cohen, Jean L. & Andrew Areto. 1994. Civil Society and Political Theory. Cambridge, Massachussets: The MIT Press.

Conflict Management Group. 1993. Methods and Strategies in Conflict Prevention: Report of an Expert Consultation in Connection with the Activities of the CSCE High Commissioner on National Minoroties. Cambridge,MA: Conflict Management Group.

Connolly, William E. 1967. Political Science and Ideology. New York: Antherton Press.

Creative Associates. 1997. Preventing and Mitigating Violent Conflicts. Washington, DC: Creative Associates International, Inc.

Dahrendorf, Ralf. 1994. “Class and Calss Conflict in Industrial Society”. In David B. Grusky (ed.), Social Statification: Class, Race, and Gender in Sociological Perspective. Boulder-San Francisco-Oxford: Westview Press.

Darby, J. 1998. Scorpions in a Bottle: Conflicting Cultures in Northern Ireland. London: Minoruty Rights Publications.

Davies, J., Harff, B. and Speca, A. 1997. Dynamic Data for Conflict early Warning: Synergy in Early Warning. Toronto: Prevention/Early Warning Unit, Center for International and Security Studies.

Davies, N. 1996. Europe: A History. Oxford: Oxford University Press.

de Nevers, R. 1993. “Democratization and Ethnic conflict. In Brown (ed): 61-78.

Deutsch, M. 1973. The Resolution on Conflict: Constructive and Destructive Precesses. New Haven: Yale University Press.

Diamond, Larry & Marc F. Plattner. 1994. Nationalism, Ethnic Conflict, and Democracy. The Johns Hopkins University Press.

Esty, D. et al. 1995. State Failure Task Force Final Report. Vol. 1: Science Applications International Corporation Inc.

Fisher, Ronald J. 1997. Interactive Conflict Resolution. Syracuse, New York: Syracuse University Press.

Francis, D. 1994. “Power and Conflict Resolution”. International Alert, Conflict Resolution Training in the North Caucasus Georgia and the South of Russia. London: International Alert, 11-20 April 1994.

Galtung, J. 1969. “Conflict as a way of life”. In Freeman (ed.), Progress in Mental Health. London: Churchill.

Galtung, J. 1996. Peace by Peaceful Means: Peace and Conflict Development and Civilization. London: Sage.

Garna, Judistira K. 2001. Pendekatan Etnografi ke Arah Kebijakan Kebudayaan dalam Perkembangan Peradaban Indonesia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Antropologi dan Sosiologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran. Bandung: Departemen Pendidikan Nasional – UNPAD.

Garna, Judistira K. 1999. Metode Penelitian: Pendekatan Kualitatif. Bandung: Primaco Akademika c.v.

Garna, Judistira K. 1996. Ilmu-ilmu Sosial: Dasar-dasar Posisi. Bandung: Penerbit Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

Garstin, L.H. 1954. Each Age Is A Dream: A Study in Ideology. New York: Old Oregon.

Geertz, Clifford. 1965. “Ideology as a Cultural System”. In David After (ed.), Ideology and Discontent. New York: The Free Press.

Geertz, Clifford. 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Glazer, N. 1983. Ethnic Dilemmas 1964-1982. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Goodenough, W.H. 1957. “Cultural Anthropology and Linguistics”. In P. Garvin (ed.), Report of the Seventh Annual Round Table Meeting on Linguistics and Language Study. Monograph Series on Language and Linguistics, 9. Washington, D.C.: Georgetown University.

Goodenough, W.H. 1961. “Cultural Evolution”. In Daedalus 90.

Gurr, T. 1993. Minorities at Risk: A Global View of Ethnopolitical Conflict. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Gurr, T. 1998. ”Assessing risks of future ethnorebellions”. In Gurr (ed), Peoples Versus States. Washington: United States Institute of Peace.

Gurr, T. and Harff, B. 1994. Ethnic Conflict in World Politics. Boulder, CO: Westview Press.

Gurr, T. and Harff, B. 1996. Early Warning of Communal Conflicts and Genocide: Linking Empirical Research to International Responses. Tokyo: United Nations University.

Helman, G. and Ratner, S. 1992-3. “Saving failed states”. Foreign Policy, 89 (Winter): 3-30.

Holsti, K. 1996. The State, War, and the State of War. Cambridge: Cambridge University Press.

Horowitz, D. 1985. Ethnic Groups in Cinflict. Berkeley, CA: University of California Press.

Horowitz, D. 1991. “Making moderation pay: the comparative politics of ethnic conflicts management. In Mintville (ed), Cinflict and Peacemaking in Multiethnic societies. New York: Lexington Books.

Huntington, S. 1997. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York: Simon and Schuster.

Ilchman, Warren F & Norman Thomas Uphoff. 1969. The Political Economy of Change. Berkeley: University of California Press.

Jackson, R. 1990. Quasi-states, Sovereignty, international Relations and the Third World. Cambridge: Cambridge University Press.

Jongman, A. and Schmid, A. 1998. World Conflict and Human Right Map. Leiden: Leiden University.

Keesing, Roger M. 1981a. ”Theories of Culture”. In Ronald W. Casson (ed.), Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives. New York: Macmillan Publishing Co.,Inc.

Keesing, Roger M. 1981b. Cultural Anthropology: A Contemporary Perspective I, Secon Edition. CBS College Publishing.

Kennedy, P. 1993. Preparing for the Twenty First Century. London: Harper Collins.

Kerman, C. 1974. Creative Tension: The Life and Thought of Kenneth Boulding. Ann Arbor: Michigan.

Kim, S. and Russett, B. 1996. “The new politics of voting alignments in the United Nation General Assembly. International Organization, 50: 629-52.

Kleden, Ignas. 2001. Menulis Politik: Indonesia Sebagai Utopia. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Kriesberg L. 1982. Social Conflicts. Englewood Cliffs,N.J.: Prentice-Hall

Leach, Edmund. 1986. Social Anthropology. Glasgow: Fontana Press.

Lederach, J. 1995. Preparing for Peace: Conflict Transformation Across Culture. New York: Syracuse University Press.

Leech, Geoffrey, 1981. “Colour and Kinship: Two Case Study in Universal Semantics”. In Ronald W. Casson (ed.), Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives. New York: Macmillan Publishing Co., Inc.

Lichbach, M. 1989. “Än evaluation of ‘does economic inequality breed conflict?’ studies”. World Politics, 41 (4): 431-71.

Lijphart, A. 1977. Democracy in Plural Societies. New Haven, CT: Yale University Press.

Lijphart, A. 1995. “Self-determination versus pre-determination of ethnic minorities in power-sharing system”. In Kymlicka (ed), The Rights of Minority Cultures. Oxpord: Oxpord University Press.

Magnis-Suseno, Franz. 1988. Etika Politik: Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.

Mannheim, Karl. 1979 (1936). Ideology & Utopia. London & Henley: Routledge and Kegal Paul

Mansfield, E. and Snyder, J. 1995. “Democratization and the danger of war. International Security, 20 (1): 5-38.

McGarry, J. and O’Leary, B. (eds) 1993. The Politics of Ethnic Conflict RegulationI. London: Routledge.

Merkl, Peter H. 1967. Continuity and Change. New York: Harper and Row.

Miall, Hugh; Oliver Ramsbotham; & Tom Woodhouse. 1999. Contemporary Conflict Resolution. Cambridge: Polity Press.

Mitchell, C. 1981. The Structure of International Conflict. London: Macmillan.

Moore, Wilbert E. 1961. “The Social Framework of Economic Development”. In R. Braibanti & J.J. Spengler (ed.), Tradition, Values, and Socio-Economic Development. Durham, Nort Carolina: Duke University Press.

Munck, R. 1986. The Difficult Dialogue: Marxism and Nationalism. London: Zed Books.

Nye, J. 1993. Understanding International Conflicts; An Introduction to Theory and History. New York: Harper Collins.

Palombara, Joseph La. 1966. “Decline of Ideology: A Dissent and an Interpretation”. In American Political Science Review LX, 1, March 1966.

Pennock, J. Roland. 1979. Demicratic Political Theory. Princeton: Princeton University Press.

Posen, B. P. 1993. “The security dilemma and ethnic conflict. In Brown (ed).: 103-24.

Pye, Lucian W. 1965. “Introduction: Political Culture and Political Development”. In Lucian W. Pye and Siney Verba (ed.), Political Culture and Political Development. Princeton: Princeton University Press.

Rogers, P. and Raamsbotham,O. 1999. “Peace research — past and future. Political Studies (forthcoming).

Rauf, Maswadi. 1996. “Konflik Politik dan Integrasi Nasional”. Dalam Saafroedin Bahar dan A.B. Tangdililing (ed.), Integrasi Nasional: Teori, Masalah dan Strategi. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Rejai, Mostafe. 1971. “Political Ideology: Theoritical and Comparative Perspectives”. In Mostafe Rejai (ed.), Decline of Ideology? Chicago: Aldine-Atherton.

Ryan,S. 1990. Ethnic Conflict and International Relations. Brookfield,V.T.: Dartmouth.

Sartori, Giovanni. 1969. “Politics, Ideology, and Belief Sysytem”. In American Political Science Review 3, No.2. June 1969.

Schwartz, T. 1978. “Where is the Culture? Personality as the Distributive Locus of Culture”. In G.D. Spindler (ed.), The Making of Psychological Anthreopology. Berkeley: University of California Press.

Schmid, A. 1997. “Ëarly Warning of Violent Conflict”. In P. Schmid (ed), Violent Crime and Conflict. Milan: ISPAC.

Sherman, F. 1987. Pathway to Peace: The United Nations and the Road to Nowhere. Pennsylvania: Pennsylvania State University.

Sisk, T. 1996. Power Sharing and International Mediation in Ethnic Conflict. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Smith, A. 1986. The Ethnic Origins of Nations. Oxford: Blackwell.

Smith, A. 1995. Nations and Nationalism in Global Era. Cambridge: Polity Press.

Snow, D. 1996. Uncivil Wars: International Security and the New Internal Conflicts. Boulder, CO: Lynne Rienner.

Suganami, H. 1996. On the Causes of War. Oxford: Clarendon Press.

Suharto, 2001. Banten Masa Revolusi, 1945-1949: Proses Integrasi dalam Negara kesatuan Repulbik Indonesia. Disertasi UI.

van der Merwe, H. 1999. Pursuing Justice and Peace in South Africa. London: Routledge.

Weber, Max. 1978. Economy and Society. 2 volumes. Edited by Guenther Roth and Claus Wittich. Berkeley: University of California Press.

Weidner, Edward. 1968. “Development Change and the Social Sciences: Conclusion”. In. A Gallaher, Jr. , Perspectives in Developmental Change. Lexington: University of Kentucky Press.

Zartman, W. 1997. “Toward the resolution of international conflicts. In Zartman and Rasmussen (eds), Peacemaking in International Conflict: Methods and Techniques. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Zartman, W. (ed) 1996. Elusive Peace: Negotiating an End to Civil Wars. Washington, DC: Brookings Institution.

STRATIFIKASI SOSIAL MASYARAKAT TRADISIONAL: SEBUAH PENGANTAR SOSIOLOGI EKONOMI

Juni 9, 2009

BAB 1

PENDAHULUAN

1. Batasan

Sosiologi adalah kajian ilmiah tentang kehidupan sosial manusia. Sosiolog berusaha mencari tahu tentang hakekat dan sebab-sebab dari berbagai pola pikiran dan tindakan manusia yang teratur dan dapat berulang. Berbeda dengan psikolog, yang memusatkan perhatiannya kepada karakteristik pikiran dan tindakan seorang individu, sosiolog hanya tertarik kepada pikiran dan tindakan yang dimunculkan seseorang sebagai anggota suatu kelompok atau masyarakat. Namun, perlu diingat, sosiologi adalah disiplin ilmu yang luas dan mencakup banyak hal, dan ada banyak jenis sosiologi yang mempelajari sesautu yang berbeda dengan tujuan yang berbeda-beda.

Secara konvensional, sosiologi dibagi dua, yaitu  sosiologi mikro dan sosiologi makro. Sosiologi Mikro menyelidiki berbagai pola pikiran dan perilaku yang muncul dalam kelompok-kelompok yang relatif berskala kecil. Sosiolog mikro tertarik kepada berbagai gaya komunikasi verbal dan non-verbal dalam hubungan sosial face-to-face, proses pengambilan keputusan oleh para hakim, formasi dan integrasi kelompok perkawanan, dan pengaruh keanggotaan seseorang dalam suatu kelompok terhadap pandangan dunianya.

Sebaliknya, Sosiolog makro mengkaji berbagai pola sosial berskala besar. Ia memusatkan perhatiannya kepada masyarakat sebagai keseluruhan dan berbagai unsur pentingnya, seperti ekonomi, sistem politik, pola kehidupan keluarga, dan bentuk sistem keagamaannya. Ia juga memusatkan perhatiannya kepada jaringan kerja dunia dari berbagai masyarakat yang saling berintegrasi.

Perhatian buku ini cenderung kepada sosiologi makro, karena akan mengakaji ekonomi dan politik secara  makro-sosiologis dalam pengertian yang  luas. Di sini akan dilakukan pengujian sistematik tentang kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan penting di antara berbagai masyarakat, dan  juga memperhatikan sifat-sifat perubahan yang dialami berbagai masyarakat tersebut. Oleh karena itu, kajiannya banyak menggunakan berbagai konsep, teori, dan temuan dari  ilmu sosial yang berbeda, yaitu Antropologi dan Sejarah.

Antropologi adalah bidang kajian yang sangat luas tentang manusia. Ia sebenarnya merupakan disiplin ilmu gabungan yang terdiri dari empat sub-bidang yang berbeda, meski mempunyai keterkaitan yang dekat. Antropologi budaya bertujuan memahami pola-pola kehidupan sosial yang terorganisasi di kalangan masyarakat pra-industrial atau tribal. Perhatian utama antropologi budaya adalah pembuatan berbagai etnografi atau laporan deskriptif yang rinci tentang cara-cara hidup masyarakat tribal yang hidup pada zaman sekarang. Namun, perhatian antropologi budaya tentu saja lebih dari sekadar deskripsi tentang berbagai kebudayaan belaka. Banyak di antara mereka yang menghabiskan banyak waktu untuk berusaha membangun teori yang bertalian secara logis tentang pola-pola budaya yang berbeda-beda. Karena itu, upaya antropologi budaya bersifat menjelaskan dan juga deskriptif.

Antropologi fisik pada dasarnya memusatkan diri kepada upaya memahami perjalanan evolusi biologis menusia dengan memanfaatkan catatan tentang sisa-sisa kehidupan manusia purbakala yang sudah memfosil. Antropologi Linguistik mengkaji sifat dan formasi berbagai bahasa manusia dan hubungan antara berbagai bahasa dan pola kehidupan sosial ini. Arkeologi adalah cabang antropologi yang memusatkan diri kepada peninggalan manusia kuno. Dengan mengkaji peninggalan manusia terdahulu, arkeolog ingin mempelajari berbagai pola kehidupan sosial mereka dan juga berbagai perubahan sosial penting yang terjadi di masa lalu. Sub-sub bidang antropologi ini mempunyai hubungan dekat satu dengan yang lainnya, dan praktisi dari salah satu sub-bidang ini sering kali memanfaatkan  temuan-temuan dari salah satu atau lebih sub-bidang lain.

Sejarah adalah bidang kajian yang sangat luas dan beragam dan berkepentingan mendeskripsikan serta menjelaskan apa yang telah terjadi di masa lalu, dan banyak sejarawan mengkaji berbagai aspek karakteristik kehidupan sosial masyarakat di masa lalu.

Banyak temuan dan teori sejarah dan antropologi yang menjadi bagian penting buku ini. Berbagai temuan dan teori ini dihubungkan dengan berbagai temuan dan teori yang dihasilkan para sosiolog tentang sifat masyarakat industrial kontemporer. Hasilnya adalah sosiologi makro (ekonomi dan politik) yang didasarkan atas kajian komparatif dan historis yang sangat luas. Hanya melalui pendekatan yang luas inilah, sifat dan rangkaian sebab akibat dalam kehidupan sosial manusia dapat dimengerti secara tepat. Inilah sebenarnya tujuan utama penelitan sosiologis.

Seperti dikatakan sebelumnya, sosiologi adalah kajian ilmiah tentang kehidupan sosial. Karakteristik ilmu yang paling distinktif adalah pendekatannya yang bersifat empirik. Para ilmuwan menuntut agar semua pernyataan yang diklaim sebagai kebenaran tunduk kepada pengujian yang cermat dan diuji dengan fakta yang diperoleh melalui observasi terhadap alam. Klaim atas kebenaran dikatakan valid atau sahih dalam arti ilmiah bukan karena ia mempunyai alasan yang secara intuitif masuk akal, atau karena disampaikan oleh seorang  atau kelompok orang yang terhormat atau memiliki otoritas. Ia dikatakan valid hanya sejauh ia sesuai dengan fakta yang sudah diketahui.

Banyak ilmuwan yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan pekerjaan dasar yang bersifat deskriptif: melakukan identifikasi, karakterisasi atau klasifikasi terhadap berbagai gejala yang diamati. Namun, tujuan ilmu bukanlah membuat deskripsi semata, kegiatan tersebut hanyalah tahap awal dari penelitian ilmuah. Tujuan akhir ilmu adalah menjelaskan: identifikasi sebab-sebab dasar gejala yang diteliti. Penjelasan ilmiah dalam sosiologi dilakukan melalui konstruksi berbagai strastegi teoritis dan teori. Strategi teoritis adalah rangkaian yang sangat global yang terdiri dari asumsi-asumsi dasar, konsep dan prinsip-prinsip yang mengarahkan. Ia dirancang untuk diterapkan terhadap gejala sosial dalam pengertian yang paling luas. Tujuannya adalah melahirkan teori-teori spesifik dan mendorong berbagai macam penelitian untuk menguji teori tersebut. Teori adalah sebuah pernyataan spesifik atau serangkaian pernyataan spesifik yang saling berhubungan  yang dirancang untuk menjelaskan gejala tertentu. Dengan demikian sebuah teori jauh lebih sempit dan spesifik dari strategi teoritis. Strategi teoritis umumnya diterapkan terhadap serangkaian gejala dan terdiri dari sangat banyak teori yang saling berkaitan. Walaupun berbagai teori yang saling berkaitan ini diterapkan terhadap gejala-gejala yang berbeda, namun mempunyai banyak kesamaan, karena semuanya berasal dari rangkaian asumsi, konsep, dan prisip yang secara global sama.

Sosiolog melakukan pengujian empiris baik terhadap strategi teoritis maupun terhadap teori. Sebuah strategi teoritis dikatakan baik hanya sejauh ia melahirkan teori-teori spesifik yang ditegakkan atas pengujian empiris yang cermat. Kita dapat sangat yakin kepada sebuah strategi teoritis yang telah melahirkan dan terus akan melahirkan banyak teori yang kuat (well-supported). Sebaliknya, strategi teoritis yang hanya didukung oleh teori-teori yang tidak begitu kuat dan banyak di antaranya yang tidak berlaku dinilai lemah. Strategi teoritis semacam ini tidak cukup meyakinkan dan tidak banyak membantu dalam teoritisasi dan penelitian lebih lanjut.

Penting dicatat, semua strategi teoritis memuat paling tidak beberapa teori yang ditolak sebagai sebuah kesalahan, tetapi penolakan  terhadap satu teori bukan merupakan dasar yang cukup untuk menolak sebuah strategi teoritis secara keseluruhan. Sejauh sebuah strategi teoritis didukung oleh banyak teori yang kuat, maka mempertahankannya dapat dibenarkan, tanpa mempersoalkan fakta bahwa sebagian teorinya tidak dapat diterima.

Kini, terdapat sejumlah strategi teoritis yang berbeda-beda dalam sosiologi makro. Semua strategi teoritis ini, tentu saja, mempunyai pendukung dan penyanggahnya masing-masing. Namun itu menandakan bahwa Sosiologi sebagai llmu terus berkembang.

2.  Stratesi Teoritis

a.  Stategi Idealis

Para sosiolog telah lama berdebat tentang kelebihan relatif pendekatan idelais dibanding materialis dalam mengkaji kehidupan sosial manusia. Pendekatan idealis berusaha menjelaskan ciri dasar kehidupan sosial dengan merujuk kepada daya kreatif pikiran manusia. Pendukung pendekatan ini percaya bahwa keunikan manusia terletak dalam fakta bahwa manusia memberikan makna-makna simbolik bagi tindakan-tindakan mereka. Manusia menciptakan rangkaian gagasan dan cita-cita yang rinci dan menggunakan susunan mental ini dalam mengarahkan pola perilaku mereka. Berbagai karakteristik pola perilaku yang berbeda-beda dalam masyarakat yang berbeda dilihat sebagai hasil serangkaian gagasan dan cita-cita yang berbeda pula. Namun, para idealis biasanya tidak banyak memberikan perhatian kepada problem bagaimana serangkaian gagasan dan cita-cita yang berbeda tersebut muncul pada saat pertama kalinya, dan inilah kelemahan serius teori mereka.

Salah satu versi idelisme kontemporer yang paling terkenal terdapat pada karya antropolog Perancis, Claude Levi-Strauss (1963). Ia mengajukan sebuah pendekatan dalam kajiannya terhadap berbagai masyarakat, yang dikenal dengan strukturalisme. Gagasan pokok di belakang pendekatan ini adalah bahwa manusia, di mana pun juga, mempunyai kecenderungan untuk berpikir dalam kaitan dengan pertentangan kembar (binary-oppsitionsI), atau tegasnya pasangan konsep yang saling bertentangan. Kecenderungan berpikir dalam kaitan pertentangan kembar ini diyakini sangat melekat dalam pikiran manusia. Pertentangan kembar dasar meliputi juga pasangan-pasangan, seperti lelaki/perempuan, alam/kebudayaan, bumi/langit, mentah/matang, tanah/air, dan seterusnya. Organisasi masyarakat pun pada dasarnya, menurutnya, mengikuti pola pertentang kembar yang sangat penting dalam kebudayaan atau masyarakat yang ada kini.

Sherry Ortner (1974) menerapkan teori strukturalis untuk menjelaskan peranan jenis kelamin dalam berbagai kebudayaan dunia. Secara khusus dia berusaha menjelaskan mengapa wanita secara universal merupakan jenis kelamin yang  tersubordinasi –mengapa dalam setiap masyarakat, wanita dan aktivitas mereka dinilai rendah. Penjelasan atas kenyataan ini, menurutnya, meliputi pertentangan kembar “álam-kebudayaan”, sebuah pertentangan yang mendasar dalam semua masyarakat. Dalam pikiran manusia, wanita diasosiasikan dengan “älam” dan lelaki dengan “kebudayaan”. Wanita dilihat lebih dekat dengan alam, baik dalam kaitannya  dengan proses pisik maupun aktivitasnya. Wanita mengalami menstruasi, hamil, menyusui, dan mempunyai hubungan dekat  dengan anak-anak; dengan fakta ini membuat wanita tampak lebih dekat dengan alam dibandingkan dengan lelaki. Sebaliknya, lelaki dilihat lebih dekat dengan kebudayaan, karena mereka lebih dekat dengan berbagai aktivitas budaya –seperti politik dan agama- dimana manusia mengatasi (trancend) alam. Karena secara universal manusia meletakkan kebudayaan di atas alam, maka secara universal wanita dipandang rendah.

Versi idealisme lainnya terdapat pada tulisan-tulisan Talcott Parsons (1937, 1966). Ia mengatakan bahwa setiap masyarakat adalah jalinan makna, kepercayaan, dan nilai yang dianut bersama. Kepercayaan dan nilai suatu masyarakat dapat membentuk struktur cara-cara dasar mereka dalam mengorganisasikan kehidupan sosialnya. Sebagai contoh, ia melihat masyarakat Barat modern sebagai sangat terorganisasi dengan bingkai dasar nilai-nilai kekristenan dan demokrasi liberal. Ia percaya bahwa karena orang Barat telah mengembangkan sistem nilai politik dan keagamaan ini, mereka mampu memecahkan problem kemasyarakatan tertentu yang masih menimpa banyak masyarakat lain, yang anggotanya hidup dengan nilai dan kepercayaan yang sangat berbeda.

b. Strategi Materialis

Para materialis menolak keras berbagai jenis teori idealis. Alih-alih memberikan prioritas kepada gagasan dan cita-cita sebagai sebab atas suatu tindakan, mereka berusaha menjelaskan ciri-ciri dasar kehidupan masyarakat dalam kaitannya dengan kondisi praktis-material dari eksistensi manusia. Kondisi-kondisi ini  meliputi sifat lingkungan fisik, tingkat teknologi, dan sistem organisasi ekonomi. Para materialis melihat berbagai faktor ini sebagai  pembentuk prasyarat dasar eksistensi manusia. Bagian terpenting  dari kehidupan manusia adalah adaptasi terhadap lingkungan fisik, dan ini  harus dilakukan dengan menciptakan teknologi dan sistem ekonomi. Sekali teknologi dan sistem ekonomi diciptakan, maka ia akan menentukan sifat pola-pola sosial lain yang dilahirkan masyarakat manusia. Jenis teknologi dan sistem ekonomi yang berbeda akan melahirkan jenis pola-pola sosial yang berbeda pula. Bahkan, para materialis umumnya menganggap gagasan dan cita-cita manusia berasal dari pola-pola sosial yang diciptakan sebelumnya. Sebagaimana para idealis, mereka juga mengakui  kapasitas kreatif pikiran manusia. Namun, mereka berpendapat bahwa gagasan dan cita-cita bukanlah sesuatu yang lahir dengan sendirinya, tertapi lahir sebagai respon terhadap berbagai kondisi material dan sosial yang telah mapan.

Pendekatan materialis terhadap kehidupan sosial mulai muncul melalui karya teoritisi sosial Jerman, Karl Marx (1818-1883) dan Friedrich Engels (1820-1895). Marx dan Engels (1846) mengembangkan apa yang disebut sebagai “konsepsi materialis tentang sejarah”, yang kemudian dikenal dengan materialisme historis (sering pula disebut Materialisme Dialektis). Ini adalah pendekatan teoritis terhadap kehidupan sosial yang dikembangkan sebagai perlawanan langsung terhadap idealisme yang saat itu banyak berkembang dalam filsafat Jerman. Walaupun materialisme historis dibangun terutama sebagai alat untuk memahami masyarakat  kapitalis modern, Marx dan Engels menganggapnya dapat diterapkan juga terhadap seluruh kahidupan masyarakat menusia, baik masa lalu maupun masa kini.

Marx dan Engels  membagi masyarakat manusia ke dalam dua komponen pokok. Salah satu di antaranya disebut sebagai infrastruktur, kadang-kadang disebut juga pola produksi. Selanjutnya infrastruktur dibagi ke dalam dua kategori: kekuatan-kekuatan produksi dan hubungan-hubungan produksi. Kekuatan-kekuatan produksi terdiri atas bahan mentah yang diperlukan masyarakat dalam produksi ekonomi, yaitu tingkat teknologi yang tersedia dan sifat khusus dari berbagai sumber alam, seperti kualitas tanah. Hubungan-hubungan produksi merujuk kepada pemilikan atas kekuatan-kekuatan produksi. Marx dan Engels mengatakan bahwa pada sebagian masyarakat, kekuatan-kekuatan produksi dimiliki secara komunal oleh seluruh masyarakat, tetapi dalam masyarakat lain pemilikan pribadi atas kekuatan produksi telah terjadi. Kelompok yang memegang kekuatan produksi dapat memaksa kelompok lain bekerja untuk mereka. Mereka juga mengatakan bahwa beberapa bentuk hubungan pribadi dalam produksi yang berbeda terjadi dalam berbagai masyarakat yang berbeda.

Komponen penting lain dalam masyarakat menusia yang diidentifikasi Marx dan Engels adalah suprastruktur. Komponen ini terdiri atas semua aspek kehidupan masyarakat yang tidak termasuk ke dalam infrastruktur, seperti politik, hukum, kehidupan keluarga, agama, serta gagasan dan cita-cita. Mereka berpendapat bahwa infrastruktur dan suprastruktur masyarakat saling berkaitan. Walaupun dinyatakan bahwa suprastruktur terkadang dapat mempengaruhi infrastruktur, mereka mengatakan bahwa arus utama hubungan kausal itu bergerak dari infrastruktur ke suprastruktur. Dengan kata lain, mereka percaya bahwa pola-pola pikiran dan tindakan manusia yang terdapat dalam suprastruktur masyarakat pada umumnya dibentuk oleh ciri-ciri infrastruktur masyarakat tersebut. Mereka juga memandang bahwa perubahan sosial dalam suprastruktur terjadi karena adanya perubahan yang telah terjadi di dalam infrastruktur masyarakat. Inilah esensi materialisme mereka.

Materialisme Marx dan Engels lama ditolak oleh banyak sosiolog sebagai strategi yang lemah dalam mengkaji kehidupan sosial. Namun, akhir-akhir ini, pandangan ini bangkit kembali secara meyakinkan, dan banyak sosiolog kontemporer mengikuti prinsip dasar hubungan kausal materialistis yang diajukan oleh Marx dan Engels. Bagaimanapun juga, banyak sosiolog kontemporer yang tetap menolak prinsip ini, baik secara keseluruhan maupun sebagian saja. Para idealis kontemporer umumnya menolak secara keseluruhan, dengan lebih suka membalikkan arah hubungan kausal yang dianut dalam strategi Marxian. Namun sebagian dari mereka hanya menolak sebagiannya saja, dengan menyatakan bahwa ia memang mempunyai validitas tetapi juga terlampau menyederhanakan hakekat realitas sosial. Para sosiolog ini seringkali mengusulkan penggabungan strategi materialis dengan strategi idealis. Mereka berpendapat bahwa kehidupan sosial adalah hasil bersama dari kondisi material dan juga gagasan dan cita-cita.

c. Fungsionalisme

Stretegi teoritis yang dikenal dengan fungsionalisme muncul menjadi bagian dari analisis sosiologis pada tahun 1940-an. Strategi teoritis ini mencapai masa kejayaannya pada tahun 1950-an. Pada saat itu fungsionalisme menjadi strategi teoritis standar yang diikuti mayoritas sosiolog, dan hanya sebagian kecil menentangnya. Namun, mulai tahun 1960-an dominasinya mendapat tantangan keras dan teori-teorinya semakin dipertanyakan. Akan tetapi, meskipun mayoritas sosiolog saat ini tampak tidak menganjurkan pendekatan fungsional dalam mengkaji kehidupan sosial, fungsionalisme masih tetap didukung secara serius oleh kelompok minoritas yang signifikan secara sosiologis. Dalam kenyataannya, sejak awal tahun 1980-an, seorang fungsional terkemuka muncul, yaitu  J.C. Alexander (1982, 1984, 1985).

Secara esensial, prinsip-prinsip pokok fungsionalisme adalah sebagai berikut: (1) Masyarakat merupakan sistem yang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan saling bergantung, dan setiap bagian tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap bagian-bagian lainnya. (2) Setiap bagian dari sebuah masyarakat eksis karena bagian tersebut memiliki fungsi penting dalam memelihara eksistensi dan stabilitas masyarakat secara keseluruhan; karena itu eksistensi satu bagian tertentu dari masyarakat dapat diterangkan apabila fungsinya bagi masyarakat sebagai keseluruhan dapat diidentifikasi. (3) Semua masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya, yaitu mekanisme yang dapat merekatkannya menjadi satu; salah satu bagian penting dari mekanisme ini adalah komitmen para anggota masyarakat kepada serangkaian kepercayaan dan nilai yang sama. (4) Masyarakat cenderung mengarah kepada suatu keadaan ekuilibrium atau homeostatis, dan gangguan pada salah satu bagiannya cenderung menimbulkan  penyesuaian pada bagian lain agar tercapai harmoni atau stabilitas. (5) Perubahan sosial merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat, tetapi bila itu terjadi juga, maka perubahan itu pada umumnya akan membawa kepada konsekuensi yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan.

Para penganut fungsionalisme telah memperlihatkan minat kepada perdebatan antara penganut materialisme dengan penganut idealisme, meskipun sebagian kecil dari mereka telah secara eksplisit memilih berpihak kepada salah satunya. Walaupun sebagian fungsionalis sangat berpihak kepada pandangan idealis, kebanyakan mereka mengambil posisi di tengah-tengah, dengan berargumentasi bahwa baik faktor material maupun faktor gagasan dan cita-cita, keduanya mempunyai pengaruh yang krusial kepada sifat dasar pola-pola sosial. Posisi ini konsisten dengan klaim tipikal  penganut fungsionalisme bahwa masyarakat merupakan sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung, yang saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Adapun kritik penting yang diarahkan kepada fungsionalisme dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Fungsionalisme cenderung terlalu menekankan bahwa masyarakat menusia itu bersifat harmonis, stabil, dan merupakan sistem yang terintegrasi dengan baik
  2. Karena penekanan yang berlebihan kepada harmoni dan stabilitas, fungsionalis cenderung mengabaikan konflik sosial, yang merupakan ciri dasar dari kebanyakan masyarakat.
  3. Dengan terlalu melebih-lebihkan harmoni sosial dan meremehkan konflik sosial, fungsionalis cenderung mengarah kepada bias konservatif dalam mengkaji kehidupan sosial; yakni mereka cenderung mendukung perlunya mempertahankan segala pengaturan yang ada dalam sebuah masyarakat.
  4. Dalam mengkaji sebuah masyarakat mereka pada umumnya hanya mengkaji satu titik masa tertentu (masa kini), sehingga menerapkan pendekatan yang jelas-jelas a-historis dalam mengkaji kehidupan sosial.
  5. Karena fungsionalis mengabaikan dimensi historis dalam mengkaji kehidupan sosial, mereka sangat sulit menerangkan perubahan sosial.

Perlu dibedakan antara fungsionalisme dengan analisis fungsional (functional-analysis).  Fungsionalisme mencakup prinsip-prinsip substantif dasar yang telah disebutkan di atas. Sementara analisis fungsional berbeda secara distinktif dengan itu. Analisis fungsional menyajikan taktik metodologis dasar yang mengasumsikan bahwa fenomena tertentu harus dianalisis dan dipahami dari sudut pandang signifikansi adaptifnya, yakni dari titik yang menguntungkan dari kegunaannya dalam memenuhi tujuan atau sasaran tertentu. Analisis fungsional sering digunakan dalam ilmu-ilmu sosial terlepas dari prinsip-prinsip fungsionalisme di atas.  Dalam kenyataannya, para teoritis sosial yang sangat menentang fungsionalisme seringkali menggunakan bentuk-bentuk analisis fungsional dalam membangun teori mereka. Karl Marx, misalnya, ditolak keras oleh fungsionalisme modern, tetapi dia seringkali menggunakan sebuah tipe analisis fungsional. Ketika dia menegaskan bahwa gagasan dan cita-cita suatu masyarakat harus dipahami dalam kaitannya dengan tujuan-tujuan yang mendukung kelompok sosial yang kuat, dia jelas menggunakan analisis fungsional.

Cara berpikir yang lain tentang perbedaan antara fungsionalisme dengan analisis fungsional adalah dengan mengetahui tingkatan analisis yang digunakan oleh masing-masing. Ciri pokok fungsionalisme adalah gagasan tentang kebutuhan masyarakat (societal needs). Para fungsionalis percaya bahwa masyarakat sangat serupa dengan organisme biologis, karena mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar masyarkat dapat melangsungkan keberadaannya atau setidaknya agar dapat berfungsi dengan baik. Ciri-ciri dasar kehidupan sosial –struktur sosial–  muncul untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ini. Walaupun gagasan tentang kebutuhan masyarakat ini mungkin terlihat dan sangat masuk akal; namun melalui pemeriksaan ternyata sulit dipahami, kalau tidak benar-benar bersifat mistik. Pemikiran yang cermat akan menunjukkan bahwa masyarakat tidak dapat mempunyai kebutuhan dalam pengertian yang sebenarnya, hanya individu yang mempunyainya. Walaupun betul bahwa orang mengembangkan kebutuhan tertentu sebagai hasil dari kehidupan bersama, kebutuhan ini masih berupa kebutuhan dari sesuatu yang kongkrit; kebutuhan orang yang berdarah-daging, dan hukan kebutuhan dari abstraksi yang disebut masyarakat. Analisis fungsional mengakui pembedaan yang krusial ini dan  menjadikannya dasar dari pola penelitiannya. Mereka yang menggunakan analisis fungsional (tetapi tidak menganut fungsionalisme) menyatakan bahwa tujuan atau sasaran yang dipenuhi oleh fenomena sosial tertentu selalu merupakan tujuan atau sasaran orang-orang atau kelompok sosial yang kongkret. Analisis fungsional mengakui bahwa apa yang kita sebut sebagai masyarakat bukan merupakan sebuah entitas yang berdiri sendiri, namun sebagai suatu kumpulan orang yang berinbteraksi dengan cara-cara tertentu untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan hasrat mereka.

Ktirik utama terhadap fungsionalisme yang disebutkan di atas itu valid; namun ia tidak berlaku bagi analisis fungsional.

d.  Strategi Teoritis Konflik

Teori konflik mulai muncul di Amerika pada tahun 1960-an. Sebenarnya, kemunculan teori konflik merupakan kebangkitan kembali berbagai gagasan yang diungkapkan oleh Karl Marx dan Max Weber (1864-1920). Walaupun keduanya adalah teoritisi konflik dan saling bersepakat dalam beberapa hal penting, namun keduanya mengembangkan  versi teori konflik yang agak berbeda. Karena itu, teori konflik modern terpecah menjadi dua tipe pokok, yaitu teori konflik neo-marxian dan teori konflik neo-weberian. Versi neo-marxian lebih dikenal dan berpengaruh daripada versi neo-weberian.

Hal yang sama bagi semua teori konflik adalah penolakan terhadap gagasan bahwa masyarakat cenderung kepada beberapa konsensus dasar atau harmoni, di mana struktur masyarakat bekerja untuk kebaikan setiap orang.   Para   teoritisi   konflik   memandang   konflik   dan pertentangan –ke-pentingan dari berbagai individu dan kelompok yang saling bertentangan– sebagai determinan utama dalam pengorganisasian kehidupan sosial. Dengan kata lain, struktur dasar masyarakat sangat ditentukan oleh upaya yang dilakukan oleh berbagai individu dan kelompok untuk mendapatkan sumber daya yang terbatas yang akan memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan mereka. Karena sumber daya ini, dalam kadar tertentu selalu terbatas, maka konflik untuk mendapatkannya selalu terjadi. Marx dan Weber menerapkan gagasan umum ini dalam teori sosiologi mereka dengan cara yang berbeda, yang mereka pandang menguntungkan.

Marx berpendapat bahwa bentuk-bentuk konflik yang terstruktur antara berbagai individu dan kelompok muncul terutama melalui terbentuknya hubungan pribadi dalam produksi. Sampai pada titik tertentu dalam evolusi kehidupan manusia, hubungan pribadi dalam produksi mulai menggantikan kepemilikan komunal atas kekuatan-kekuatan produksi. Dengan demikian, masyarakat  terpecah menjadi kelompok yang memiliki dan yang tidak memiliki kekuatan produksi –menjadi kelas-kelas sosial. Dalam masyarakat yang telah terbagi berdasarkan kelas, kelas sosial yang memiliki kekuatan produksi dapat mensubordinasikan kelas sosial yang lain dan memaksa kelompok tersebut untuk bekerja memenuhi kepentingan mereka sendiri. Jadi, kelas dominan menjalin hubungan dengan kelas yang tersubordinasi dalam sebuah proses eksploitasi ekonomi. Secara alamiah, kelas yang tersubordinasi ini akan marah karena dieksploitasi dan terdorong untuk memberontak terhadap kelas dominan serta menghapuskan hak-hak istimewa mereka. Tetapi kelas dominan, karena mengetahui adanya kemungkinan pemberontakan dari kelas bawah, menciptakan aparat politik yang kuat –negara yang mempu menekan pemberontakan tersebut dengan kekuatan.

Dengan demikian, Marx memandang eksistensi hubungan pribadi dalam produksi dengan kelas-kelas sosial sebagai elemen kunci dalam banyak masyarakat. Dia percaya bahwa hubungan-hubungan kelas sosial memainkan peranan yang krusial dalam membentuk pola-pola sosial suatu masyarakat, seperti sistem politik dan agama. Dia juga berpendapat bahwa pertentangan  antara kelas dominan dan kelas yang tersubordinasi memainkan peranan  sentral dalam menciptakan bentuk-bentuk penting perubahan sosial. Sebenarnya, menurutnya, sejarah dari semua masyarakat yang ada sampai saat ini adalah sejarah pertentangan kelas.

Strategi konflik marxian modern pada dasarnya merupakan formalisasi dan elaborasi dari gagasan-gagasan di atas. Beberapa prinsip utama strategi ini adalah sebagai berikut:

  1. Kehidupan sosial pada dasarnya merupakan arena konflik atau pertentangan di antara dan dalam kelompok-kelompok yang bertentangan.
  2. Sumber-sumber daya ekonomi dan kekuasaan politik merupakan hal penting, yang berbagai kelompok berusaha merebutnya.
  3. Akibat tipikal dari pertentangan ini adalah pembagian masyarakat menjadi kelompok yang determinan secara ekonomi dan kelompok yang tersubordinasi.
  4. Pola-pola sosial dasar suatu  masyarakat sangat ditentukan oleh pengaruh sosial dari kelompok yang secara ekonomi merupakan kelompok yang determinan.
  5. Konflik dan pertentangan sosial di dalam dan di antara berbagai masyarakat melahirkan kekuatan-kekuatan yang menggerakkan perubahan sosial.
  6. Karena konflik dan pertentangan merupakan ciri dasar kehidupan sosial, maka perubahan sosial menjadi hal yang umum yang sering terjadi.

Harus diperjelas bahwa strategi konflik marxian secara esensial lebih merupakan strategi materialis ketimbang idealis. Hal ini tidak mengherankan, karena kenyataan menunjukkan bahwa Marx pengusul gagasan teoritis yang bersifat materialistis dan konflik ini. Para teoritisi konflik marxian memandang konflik sosial muncul terutama karena adanya upaya untuk memperoleh ekses kepada kondisi material yang menopang kehidupan sosial, dan mereka melihat kedua fenomena ini sebagai determinan krusial bagi pola-pola sosial pada suatu masyarakat.

Titik persimpangan antara Marx dan Weber adalah menyangkut pandangan materialisme yang belakang ini. Weber percaya bahwa konflik terjadi dengan cara yang lebih luas daripada sekadar kondisi-kondisi material dasar (R. Collins, 1985a). Weber mengakui bahwa konflik dalam memperebutkan sumber daya ekonomi merupakan ciri dasar kehidupan sosial, tetapi dia berpendapat bahwa banyak tipe konflik yang lain yang juga terjadi. Dia menganggap konflik dalam arena politik sebagai sesuatu yang sangat fundamental. Baginya, kehidupan sosial dalam kadar tententu merupakan pertentangan untuk memperoleh kekuasaan dan dominasi oleh sebagian individu dan kelompok tertentu terhadap yang lain, dan dia tidak menganggap pertentangan untuk memperoleh kekuasaan ini hanya semata-mata didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan ekonomi. Sebaliknya, dia melihatnya, dalam kadar tertentu sebagai tujuan pertentangan itu sendiri. Weber berpendapat bahwa pertentangan untuk memperoleh kekuasaan  tidak hanya terbatas pada organisasi politik formal, tetapi juga terjadi di dalam setiap tipe kelompok, seperti organisasi keagamaan dan pendidikan.  Tipe konflik kedua yang seringkali ditekankan oleh Weber adalah konflik dalam hal gagasan dan cita-cita. Dia berpendapat bahwa orang seringkali tertantang untuk  memperoleh dominasi dalam hal pandangan dunia mereka, baik itu doktrin keagamaan, filsafat sosial, ataupun konsep tentang gaya hidup kultural yang terbaik. Lebih dari itu, gagasan dan cita-cita tersebut bukan hanya dipertentangkan, tetapi dijadikan senjata atau alat dalam pertentangan lainnya, misalnya pertentangan politik. Jadi, orang dapat berkelahi untuk memperoleh kekuasaan, dan pada saat yang sama, berusaha saling meyakinkan satu sama lain bahwa bukan kekuasaan itu yang mereka tuju, tetapi kemenangan prinsip-prinsip yang secara etis dan filosofis benar.

Jelaslah, Weber bukanlah seorang materialis ataupun idealis. Dalam kenyataannya, dia biasa disebut sosiolog modern sebagai contoh seorang pemikir yang mengkombinasikan pola penjelasan materialis dan idealis dalam pendekatan sosiologis yang bersifat menyeluruh. Jadi,  Weber berpendapat bahwa gagasan bukan semata hasil dari kondisi-kondisi material yang ada, tetapi keduanya seringkali memiliki signifikansi kausalnya sendiri-sendiri.

Marx dan Weber juga bersimpangan jalan menyangkut kemungkinan untuk memecahkan konflik dasar dalam masyarakat masa depan. Marx berpendapat bahwa karena konflik pada dasarnya muncul dalam upaya meperoleh akses terhadap kekuatan produksi, sekali kekuatan ini dikembalikan kepada kontrol seluruh masyarakat, maka konflik dasar tersebut akan dapat dihapuskan. Jadi, sekali kapitalisme digantikan dengan sosialisme, kelas-kelas akan terhapuskan dan pertentangan kelas akan berhenti. Weber memiliki pandangan jauh lebih pesimistik dalam hal ini. Dia percaya bahwa pertentangan merupakan salah satu prinsip kehidupan sosial yang sangat kukuh dan tidak bisa dihilangkan. Dalam satu tipe masyarakat masa depan, baik kapitalis, sosialis, maupun tipe lainnya, orang-orang akan tetap selalu bertarung memperebutkan berbagai sumber daya. Karena itu, Weber menduga bahwa pembagian atau pembelahan sosial adalah ciri permanen dari semua masyarakat yang sudah kompleks, walaupun tentu saja akan mengambil bentuk-bentuk dan juga tingkat kekerasan yang secara substransial sangat bervariasi.

Walaupun pendekatan konflik Marxian dan Weberian telah dianut oleh banyak sosiolog modern, tidak berarti pendekatan ini mendapat dukungan universal.

e.  Strategi Teoritis Evolusioner

Strategi teoritis evolusioner adalah strategi yang berusaha mendeskripsikan dan menjelaskan rangkaian-rangkaian perubahan sosial yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Evolusionis pada umumnya berpendapat bahwa banyak masyarakat yang telah mengalami perubahan-perubahan yang umumnya serupa dari zaman dahulu sampai sekarang, dan mereka berusaha keras mengidentifikasi sifat-sifat perubahan ini dan menjelaskan mengapa perubahan itu terjadi.

Erik Olin Wright (1983) memberikan konsepsi tentang teori evolusioner yang lebih tepat. Dia mengatakan bahwa semua teori evolusioner mengandung beberapa karakteristik berikut:

  1. Mereka mengorganisasikan sejarah ke dalam sebuah tipologi tahap-tahap.
  2. Mereka mengasumsikan  bahwa penyusunan tahap ini menunjukkan arah kecenderungan perkembangan yang dialami masyarakat.
  3. Mereka mempostulatkan bahwa probabilitas terjadinya gerakan ke tahap yang lebih lanjut (“lebih maju”) melebihi probabilitas terjadinya gerakan ke tahap sebelumnya (“lebih rendah”).
  4. Mereka mengidentifikasi adanya mekanisme atau serangkaian mekanisme yang konon dapat menjelaskan gerakan dari satu tahap ke tahap lainnya.

Selanjutnya, Wright menjelaskan bahwa teori-teori evolusioner itu tidak memerlukan asumsi bahwa rangkaian tahap-tahap itu ketat dan berlaku sama bagi setiap masyarakat, atau bahwa evolusi sosial merupakan semacam proses otomatis yang menyingkapkan tendensi-tendensi atau potensionalitas laten yang melekat dalam setiap masyarakat. Mereka juga tidak memerlukan asumsi bahwa gerakan ke arah yang lebih maju selalu terjadi. Gerak mundur (regressi) diakui sebagai kejadian yang mungkin saja terjadi, dan diakui sepenuhnya bahwa bagi banyak masyarakat dan pada banyak zaman dalam sejarah, kondisi yang tidak berubah dalam jangka waktu yang panjang (sebagai kebalikan dari transformasi sosial) merupakan urutan normal bagi segala sesuatu. Adalah penting dikatakan bahwa pandangan ini dapat dipertahankan dan sangat dimengerti, karena masih ada miskonsepsi tentang hakekat teori-teori evolusioner.

Beberapa pendekatan evolusioner terhadap kehidupan sosial sangat popule,r baik di kalangan sosiolog maupun antropolog yang hidup pada paruh kedua abad XIX. Dalam kenyatannya, teori evolusioner mendominasi kedua disiplin ilmu ini pada saat itu. Salah seorang  evolusioner terkemuka adalah  filosif dan sosiolog Inggris, Herbert Spencer (1820-1903), yang mengembangkan sebuah teori evolusi sosial yang sangat mirip dengan teori evolusi biologis Darwin. Spencer berusaha memahami proses terjadinya segala sesuatu di alam semesta dengan merediksi ke dalam prinsip universal tunggal yang disebut “hukum evolusi”. Menurut hukum ini, segala sesuatu di alam semesta ini memiliki kecenderungan “berkembang dari keadaan yang tidak tentu, kacau, dan seragam kepada keadaan yang  dapat ditentukan, teratur, dan beragam”. Apa yang dimaksudkannya adalah bahwa segala sesuatu cenderung berkembang dari bentuk yang sederhana dan tidak terspesialisasi menjadi bentuk yang terspesialisasi dan kompleks. Ia melihat kecenderungan universal ini sebagai kunci utama dalam melihat semua teka-teki besar alam semesta. Ia menganggap evolusi masyarakat manusia sebagai tidak lain dari sebuah contoh kecil dari tendensi kosmologis yang melekat pada sifat alam semesta.

Evolusionis terkemuka lainnya adalah ahli hukum dan antropolog amatir Amerika, Lewis Henry Morgan (1818-1881). Morgan banyak memberi perhatian kepada evolusi teknologis. Dia membagi sejarah manusia ke dalam tiga tahap besar, yaitu kebuasan, barbarisme, dan peradaban. Tahap kebuasan adalah tahap pada saat  orang menggantungkan hidupnya dengan berburu binatang liar dan meramu tanaman liar. Transisi ke tahap barbarisme ditandai dengan domestikasi berbagai binatang dan tanaman tersebut serta adanya perbaikan tambahan dalam teknologi yang digunakan. Munculnya tahap peradaban menandai transisi dari “masyarakat primitif” (ia menyebutnya Societas)  ke “masyarakat sipil” (ia menyebutnya civitas). Morgan memandang perkembangan alpabet fonetik dan tulisan sebagai karakteristik utama tahap ini.

Gagasan para evolusionis ini terasa provokatif, namun gagasan-gagasan tersebut mengandung sejumlah kekeliruan yang patut dipertanyakan. Salah satunya adalah kecenderungan menggunakan deskripsi transformasi evolusioner semata sebagai penjelasan bagi transformasi itu sendiri. Kecenderungan ini adalah karakteristik yang menonjol dalam karya Spencer. Spencer berpendapat bahwa evolusi sosial  adalah sesuatu yang melekat pada semua masyarakat, dan tampak menganggap observasi ini cukup menjelaskan mengapa evolusi sosial terjadi. Tetapi sekadar untuk dicatat bahwa evolusi cenderung terjadi tanpa menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Catatan lain dalam pemikiran evolusionis abad XIX adalah etnosentrisme mereka. Mereka memandang masyarakat mereka sendiri (peradaban Barat) lebih unggul dari semua masyarakat lainnya, dengan menyatakan bahwa masyarakat pada tahap-tahap evolusioner awal menunjukkan penilaian yang rendah kepada masyarakat mereka sendiri. Dengan demikian, mereka mengklaim bahwa evolusi sosial merupakan indikasi bagi kemajuan, bagi perbaikan secara umum dalam rasionalitas, kebahagiaan  dan moralitas manusia. Mereka cenderung melihat peradaban Barat sebagai titik akhir evolusi sosial, sebagai puncak milenium kemajuan manusia. Inilah pandangan yang secara tegas ditolak oleh banyak sosiolog dan antropolog modern sekarang ini. Karena beberapa cacat ini dan cacat lainnya, pemikiran evolusionos menghadapi kritik tajam yang muncul menjelang akhir abad XIX. Ketika kritik terhadapnya memuncak, evolusionisme akhirnya diabaikan oleh banyak ilmuwan sosial. Sepanjang beberapa dekade awal abad XX, para ilmuwan sosial mengalihkan perhatian kepada pertanyaan dan problem selain yang menyangkut perubahan sosial jangka panjang. Tetapi evolusionisme tidaklah mati sama sekali, ia hanya tertidur. Pada awal tahun 1940-an, ia bangkit kembali secara signifikan, dan seluruh problem yang menyangkut perubahan evolusioner jangka panjang kembali menyibukkan pikiran banyak ilmuwan sosial. Pendekatan-pendekatan evolusioner terhadap kehidupan sosial sekarang dianut banyak sosiolog dan antropolog.

Meskipun demikian, sekarang tidak ada strategi evolusioner tunggal dalam mengkaji masyarkat manusia. Banyak teori evolusioner yang berbeda-beda, kebanyakan di antaranya dapat ditempatkan dalam salah satu dari dua strategi evolusioner yang berbeda, yaitu strategi evolusioner fungsionalis dan strategi evolusioner materialis. Walaupun kedua strategi ini bersifat evolusioner dalam arti yang dikatakan di atas, keduanya sebenarnya lebih banyak perbedaan daripada persamaannya. Asumsi-asumsi yang mereka buat tentang  berbagai peristiwa evolusioner dan cara mereka menjelaskannya menunjukkan perbedaan mencolok yang penting diketahui.

Strategi evolusioner fungsionalis mencakup penerapan pendekatan fungsionalis dalam mengkaji evolusi sosial (A.D. Smith, 1973). Dalam strategi ini evolusi sosial dipandang terutama sebagai sebuah proses diferensiasi sosial, proses meningkatnya kompleksitas masyarakat. Ketika masyarakat bergerak maju, mereka mengembangkan diversitas bagian-bagian yang semakin bertambah, dan bagian-bagian ini saling terkait satu dengan lainnya secara rumit. Meningkatnya diferensiasi yang terjadi akan mengakibatkan semakin besarnya kapasitas adaptif. Dengan adanya diversitas internal yang semakin meningkat, masyarakat menjadi semakin mampu melakukan adaptasi  secara berhasil dengan lingkungan mereka. Implikasinya jelas bahwa masyarakat yang lebih kompleks lebih unggul dari masyarakat yang kurang komplkes.

Para pemikir evolusioner fungsionalis pada umumnya memandang evolusi sosial sebagai hasil dari berbagai kebutuhan masyarakat yang bersifat fungsional sebagai sistem yang menyeluruh. Oleh karena itu, evolusioner dianggap mengarah kepada konsekuensi-konsekuensi yang menguntungkan bagi seluruh masyarakat. Pandangan ini merupakan ciri yang sangat menonjol dari karya Talcott Parsons (1966), teoritisi evolusioner fungsionalis yang paling terkemuka. Parsons mengklaim, misalnya, bahwa evolusi stratifikasi sosial –ketidaksamaan dalam kekayaan dan kekuasaan—merupakan hasil utama dari evolusi sosial, karena menimbulkan konsekuensi-konsekuensi menguntungkan bagi para anggota masyarakat secara keseluruhan. Dia percaya bahwa anugrah yang tidak sama bagi anggota masyarakat merupakan alat yang memotivasi beberapa individu untuk memperoleh posisi tanggung jawab dan kewenangan yang penting. Para individu dan kelompok yang memiliki hak-hak istimewa akan memanfaatkan posisi kewenangan mereka untuk melakukan berbagai aktivitas yang akan menguntungkan para anggota masyarakat lainnya. Karena itu, Parsons memandang munculnya stratifikasi sosial sebagai “terobosan” evolusioner yang penting.

Pendekatan evolusioner fungsional hampir tidak melakukan perbaikan terhadap gagasan-gagasan pokok teoritisi evolusioner abad XIX, dan ia cenderung melahirkan cacat-cacat yang sama. Sebagai contoh, strategi evolusioner fungsionalis cenderung memandang masyarakat Barat kontemporer sebagai masyarakat yang paling mampu melakukan adaptasi dibandingkan dengan semua masyarakat lainnya, yang pada umumnya adalah masyarakat yang berskala kecil, sederhana, dan memiliki kapasitas adaptif yang rendah. Pandangan ini sangat etnosentris. Lebih-lebih pendekatan  evolusioner fungsionalis jelas menghadapi kritik yang sama dengan yang dihadapi fungsionalisme secara umum, karena ia hanya menyajikan penerapan fungsionalisme dalam mengkaji proses-proses evolusioner. Sebagaimana fungsionalis lainnya, evolusionis fungsinalis terlampau menekankan harmoni masyarakat, meremehkan tingkat dan daya guna konflik sosial, dan berpendirian bahwa ciri-ciri masyarakat muncul karena keperluan fungsional. Karena itu, sebagaimana fungsionalis menyajikan pendekatan yang lemah dalam mengkaji perubahan sosial jangka panjang.

Stratregi evolusioner materialis beda lagi. Pendekatan ini mencakup penerapan sebuah strategi materialis yang menyeluruh dalam memahami evolusi sosial. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa perubahan sosial pada umumnya berawal dari kondisi-kondisi material yang menopang sebagai kehidupan. Perubahan-perubahan ini, sekali terjadi, akan memulai perubah-an-perubahan yang saling berangkai dalam pola-pola sosial sebuah masyarakat dan dalam gagasan dan cita-citanya. Berbeda dengan evolusionis fungsionalis, evolusionis materialis tidak mengasumsikan bahwa perubahan-perubahan evolusioner akan mengarah kepada bentuk-bentuk adaptasi masyarakat yang lebih baik. Mereka tidak berasumsi bahwa perubahan evolusioner membawa kepada keuntungan yang bertambah bagi semua masyarakat. Sebaliknya, mereka menekankan bahwa perubahan-perubahan tersebut mungkin akan membawa kepada merosotnya kualitas hidup bagi kebanyakan anggota masyarakat. Evolusionis materialis berpendirian bahwa konflik dan pertentangan merupakan unsur penting yang sangat menentukan dalam kehidupan sosial manusia, dan mereka percaya bahwa berbagai gejala ini sangat berkaitan dengan proses perubahan evolusioner. Mereka berbendapat bahwa konflik dan pertentangan merupakan sebab-sebab dan akibat-akibat dari evolusi sosial. Dengan  demikian ada afinitas yang kuat antara strategi evolusioner materialis dengan strategi konflik marxian.

f. Eklektisisme

Kebanyakan ilmuwan sosial menganut salah satu atau lebih strategi teoritis yang baru saja kita dibacarakan. Mereka menggunakan strategi yang dianggap lebih tepat sebagai alat yang kurang lebih eksklusif dan memberi orientasi bagi pemikiran dan membimbing upaya-upaya penelitian mereka. Namun, sejumlah ilmuwan sosial yakin bahwa secara intelektual tidak dapat dibenarkan hanya bersikukuh pada satu pendekatan tertentu. Para ilmuwan ini mengkalim bahwa lebih baik mengakui kegunaan semua pendekatan yang ada. Pandangan ini dikenal sebagai eklektisisme. Mereka yakin bahwa masing-masing pendekatan memberikan pemahaman terhadap realitas yang valid secara parsial, dan apabila semua pendekatan ini digunakan dengan melakukan kombinasi, maka sebuah pemahaman yang lebih lengkap akan tercapai. Salah satu versi eklektisisme berpendirian bahwa masalah-masalah yang berbeda harus diterangkan dengan menggunakan pendekatan yang berbeda pula. Sementara penganut eklektisisme yang lain bertindak lebih jauh dari itu, dan mengklaim bahwa setiap masalah tertentu harus ditengkan dengan menggunakan pendekatan ganda. Sebagian mereka ada yang lebih ekstrim lagi. Mereka berpendirian bahwa apa yang disebut dengan “kebenaran” ilmiah itu tidak ada, dan karena itu tidak ada penjelasan yang ‘tepat’ bagi sebuah gejala. Berbagai pendekatan teoritis yang berbeda-beda dapat dikatakan membentuk cara pandang –yang kurang lebih sama-sama valid—  bagi gejala tersebut.

Para penganut pendirian ini suka berpikir bahwa pendirian mereka lebih dapat dipertanggungjawabkan karena ia terbuka, dan penolakan terhadap pandangan eklektisisme merupakan indikasi dogmatisme dan kekakuan. Apa yang gagal diakui oleh penganut pandangan ini adalah, bahwa mereka tidak lebih terbuka dari pihak yang mereka kritik karena bersikap dogmatis.

Mereka sendiri berpegang teguh kepada pandangan-poandangan tertentu secara ironi, mereka perpegang teguh kepada pandangan bahwa tidaklah dapat dibenarkan bagi seseorang berpegang kepada sesuatu pandangan tertentu. Dengan demikian, pertanyaan tentang keterbukaan sikap dan dogmatisme adalah isu yang tidak benar.

Problem utama dengan eklektisisme adalah karena pendirian tersebut akan membawa kepada kekacauan teoritis yang gawat (Harris, 1979; Sanderson, 1987). Karena berbagai strategi teoritis yang berbeda menggunakan asumsi-asumsi dan prinsip-prisnsip yang tidak hanya berbeda tetapi seringkali kontradiktif, menerima semua strategi yang valid berarti menerima adanya kontradiksi internal. Sebagai contoh, seseorang tidak mungkin menjadi teoritisi fungsionalis dan teoritisi konflik secara sekaligus dalam waktu yang sama, karena kedua strategi ini menawarkan interpretasi yang bertentangan tentang realitas sosial. Problem kontradiksi internal dan inkonsistensi hanya akan menjadi semakin buruk bila lebih dua pendekatan dipakai secara bersamaan.

Tujuan utama ilmu  adalah untuk mencapai pemahaman yang koheren dan utuh terhadap semua gejala yang relevan (Maxwell, 1974a,b). Penjelasan yang koheren dan utuh dicapai apabila penjelasan atas suatu gejala sangat terkait dengan penjelasan bagi gejala-gejala yang lain. Semakin sedikit prinsip yang digunakan, dan semakin besar jumlah dan keragaman gejala-gejala yang diterangkan oleh prinsip-prinsip ini, maka semakin baik penjelasan yang ia berikan. Eklektisisme langsung menyimpang dari tujuan ini, dan karena itu merupakan strategi yang lemah bagi pengembangan ilmu. Tujuan ini hanya bisa dicapai apabila para ilmuwan mengikatkan diri kepada strategi tertentu dan berusaha menjelaskan gejala dengan strategi tersebut sejauh yang dapat dilakukan. Tentu saja, tidak ada strategi teoritis yang dapat menjelaskan segala hal. Dari waktu ke waktu berbagai strategi lain dimanfaatkan untuk menjelaskan fenomena tertentu. Tetaapi melakukan ini tidaklah harus menganut elektisisme; ini sekadar mengakui bahwa betapa kompleks dan beragamnya gejala-gejala sosial yang dikaji seorang ilmuwan.

 

 

 

 

BAB 2

EVOLUSI MANUSIA

1. Prinsip-prinsip Evolusi

Gagasan tentang evolusi yang menerangkan bahwa bentuk-bentuk kehidupan berkembang dari satu bentuk ke bentuk lain melalui mata rantai tranformsi dan modifikasi yang tidak pernah putus, sebenarnya bukanlah Darwin yang pertama kalinya mengemukakannya. Gagasan itu  diperkirakan sudah ada sejak zaman Yunani Kuno. Banyak pelopor sebelum Darwin, termasuk kakeknya sendiri, mengakui adanya keragaman dan diversitas kehidupan dengan mengajukan hipotesis tentang modifikasi evolusioner. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Darwin bukan orang satu-satunya yang mempercayai adanya evolusi. Keistimewaan sumbangan Darwin terhadap pemikiran evolusioner terletak pada mekanisme yang menurutnya menentukan evolusi tersebut. Mekanisme ini ia sebut seleksi alam. Gagasan tentang evolusi melalui seleksi alam ini merupakan gagasan utama dalam bukunya yang sangat terkenal, Origin of Species, dan prinsip teoritis ini akhirnya diterima oleh semua biolog dan antropolog fisik modern sebagai kunci untuk menjelaskan proses-proses evolusioner.

Darwin telah mencapai pemahaman yang koheren, meski tidak lengkap, tentang evolusi, walaupun dia tidak mengetahui tentang proses hereditas (pewarisan karakter). Ketika dia menerbitkan bukunya itu (1859), ilmu genetika belum ada. Baru Gregor Mondel-lah  yang mengemukakan prinsip-prinsip yang menentukan pewarisan karakter berdasarkan serangkaian eksperimen terhadap tanaman kacang, dan menerbitkan temuannya itu pada tahun 1865. Namun hasil karyanya tidak mendapatkan perhatian serius, dan Darwin serta para ilmuwan pengikutnya terpaksa mempertahankan teori seleksi alamnya  dari kritik yang menyerangnya tanpa pengetahuan  yang memadai tentang proses hereditas. Kenyataan ini mengakibatkan teori ini berada dalam posisi mudah diserang sepanjang abad XIX, dan mengakibatkan ia tidak banyak mendapat dukungan secara intelektual.

Nemun, kenyataan ini segera berubah.pada pergantian ke abad XX, prinsip-prinsip hereditas yang telah dikemukakan Mendel dibangkitkan kembali dan diterapkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih definitif tentang bagaimana seleksi alam berlangsung secara nyata. Pada awal 1930-an, ilmu genetika telah meluas ke kajian tentang sifat hereditas dalam seluruh populasi makhluk hidup, dan ilmu yang sekarang dikenal dengan genetika populasi terbentuk. Hal ini memberikan dorongan yang sangat kuat bagi teori seleksi alam, dan gagasan besar Darwin sejak saat itu dapat dipertahankan dan diuraikan secara jauh lebih definitif. Biologi evolusioner dan genetika populasi kemudian bergabung menjadi “sintesis modern” atau disebut dengan teori evolusi sintetika modern (Dobzhansky, 1962; Huxley, 1942; Simpson, 1949, 1953).

Teori sintetika modern, atau kadang-kadang disebut juga neo-darwinisme, memberikan landasan intelektual penting, dan melaluinya para biolog evolusioner kontemporer memahami proses evolusi biologis. Namun, sejak awal tahun 1970-an sebagian evolusionis mulai menantang sebagian asumsi landasan intelektual tersebut. Sebagai contoh, Niles  Eldredge dan Stephen Jay  Gould (1972); serta Gould dan Eldredge (1977) menantang asumsi neo-darwinis yang menyatakan bahwa modifikasi-modifikasi evolusioner berlangsung lamban dan bertahap. Sebagai gantinya, dia mengajukan perspektif yang mereka sebut theory of  punctuated  equilibrium. Perspektif ini menyatakan bahwa evolusi biologis terjadi dengan modifikasi yang cepat dan tiba-tiba, berlawanan dengan yang terjadi pada organisme yang tidak berubah.  Namun, tantangan ini masih sangat kontroversial dan belum dapat diterima oleh kebanyakan biolog evolusioner.

Karena buku ini tidak bertugas menerangkan evolusi biologis secara menyeluruh –dan memang penulis juga bukan seorang biolog–  maka kita akan langsung beralih kepada permasalahan evolusi yang berhubungan dengan tujuan buku ini.

2.  Evolusi Manusia

Perkembangan terpeniting dalam evolusi yang terjadi pada manusia adalah perkembangan kebudayaan, yang kehadirannya membedakan manusia dari semua makhluk lainnya. Munculnya kebudayaan jelas sangat berkaitan dengan evolusi otak dan perkembangan kemampuan belajar. Namun, lebih khusus lagi, kebudayaan dimungkinkan berkembang oleh perkembangan pola komunikasi manusia yang unik, yaitu komunikasi simbolik. Walaupun semua makhluk melakukan komunikasi –yakni, mentransmisikan informasi tertentu secara behavioral— namun hanya manusia yang melakukannya dengan menggunakan simbol-simbol.

a.  Komunikasi Simbolik

Sistem komunikasi non-manusia sangat bervariasi dan menggunakan berbagai organ tubuh. Sebagaimana komunikasi manusia, komunikasi binatang terdiri dari unsur vokal dan non-vokal. Pada tingkat non-vokal, komunikasi  terjadi melalui penggunaan  indera pencium, peraba, dan penglihatan. Lebah madu mengkomunikasikan informasi adanya sumber makanan baru dengan melakukan “tarian mengibas-ngibas” yang membentuk angka delapan (E.O. Wilson, 1975). Sejumlah primata dan mamalia lainnya menandai daerah teritorial mereka dengan mengencinginya untuk mengecilnya nyali  makhluk lain yang bermaksud merambahnya. Simpanse saling bertepuk tangan dan muka serta berciuman dengan penuh perasaan (Jolly, 1972). Pada tingkat vokal, beberapa primata dan mamalia lainnya mengeluarkan berbagai suara yang masing-masing mengandung informasi.

Walaupun sangat bervariasi, semua sistem komunikasi non-manusia memiliki satu ciri dasar, yaitu semua didasarkan atas penggunaan tanda (sign) dan isyarat (signal). Ciri tenpenting sebuah tanda adalah hubungan antara tanda tersebut dengan makna yang ingin disampaikannya diletakkan secara genetik. Tarian lebah madu, lenguh sapi, lolongan serigala, semuanya merupakan tindakan komunikasi yang terprogram secara genetik dengan batas-batasnya yang ketat. Dengan demikian, tanda merupakan mekanisme komunikasi yang bersifat tertutup, atau non-produktif; maknanya telah ditentukan secara ketat sebelumnya, dan tidak ada makna baru yang dapat ditambahkan.

Berbeda dengan komunikasi manusia yang didasarkan atas simbol-simbol. Simbol berbeda dengan tanda, karena maknanya yang bersifat arbitrer. Makna sebuah simbol ditentukan oleh mereka yang menggunakannya dengan cara tertentu, dan dengan demikian simbol tidak terlalu terbatas sebagaimana tanda. Berlawanan dengan tanda, simbol bersifat terbuka dan produktif. Simbol-simbol dapat memiliki makna yang baru atau berbeda (bahkan memiliki beberapa makna sekaligus) bergantung kepada penggunaan dalam konteks apa pemakainya meletakkannya. Baik tanda maupun simbol keduanya menyampaikan informasi, tetapi karena sifatnya yang terbuka, produktif, maka simbol dapat menyampaikan informasi secara lebih efisien. Simbol bukan hanya membuat komunikasi semakin efisien, ia juga dapat mengkomunikasikan informasi dalam jumlah yang lebih banyak dan lebih kompleks dibandingkan dengan yang dapat dilakukan oleh tanda.

Simbol-simbol tertentu memberikan unsur pembentuk bagi kepandaian yang khas manusia, yaitu kepandaian berbahasa.  Bahasa dapat didefinisikan sebagai penataan berbagai simbol yang kompleks. Dengan perkembangan bahasa, manusia melintasi sebuah pintu gerbang evolusioner.

Hockett dan Ascher (1964) mencirikan empat karakteristik utama bahasa yang sebenarnya (true-language). Pertama, bahasa mengandung kualitas keterbukaan (openness). Simbol-simbol yang merupakan unsur pembentuk bahasa dapat mengambil makna yang baru dan bermacam-macam, sebagai lawan dari sistem tanda yang maknanya sudah ditentukan sebelumnya. Di samping itu, pembicara dapat mengutarakan ungkapan-ungkapan baru yang belum pernah diucapkan atau didengar sebelumnya. Ini membuat bahasa menjadi produktif karena ia mempu melahirkan ungkapan-ungkapan baru, makna-makna baru, dan kombinasi baru dari berbagai ungkapan dan makna yang baru. Kedua,  bahasa dikarakterisasikan dengan ciri yang disebut displacement. Displacement merujuk kepada kemampuan membicarakan sesuatu yang tidak ada di depan mata, sesuatu yang ada di masa lalu atau masa depan, atau untuk sesuatu yang tidak pernah ada. Sebaliknya, tanda terikat kepada situasi tertentu yang relevan dengan pengungkapannya. Hockett dan Ascher mencatat, misalnya, bahwa siamang tidak mengeluarkan panggilan untuk makan kecuali bila mereka sudah menemukan makanan. Ketiga, dualitas susunan merupakan karakteristik khusus bahasa. Di satu pihak, bahasa merupakan susunan serangkaian unit suara dasar, masing-masing tidak bermakna apabila tidak dihubungkan dengan yang lain. Dan di pihak lain, merupakan susunan yang mengkom-binasikan unit-unit suara yang terpisah itu ke dalam urutan yang telah disepakati sehingga membuatnya bermakna. Sistem tanda jarang mempunyai dualitas seperti itu, dan setiap pengungkapan mengandung satu makna, dan sudah ditentukan sebelumnya. Keempat, bahasa ditransmisikan dengan belajar. Transmisi ini jelas bertolak belakang dengan transmisi sistem simbol yang berlangsung secara genetik.

b.  Asal Usul Bahasa

Tidak diketahui dengan pasti kapan dan bagaimana bahasa  muncul untuk pertama kalinya. Para ahli bahasa banyak berbeda pendapat tentang kapan bahasa mulai tercipta. Sebagian menandangnya sebagai perkembangan evolusioner yang relatif baru munculnya, barangkali tidak lebih dari 100.000 tahun yang lalu, sementara sebagian yang lainnya yakin bahwa bahasa telah berkembang sejak sejuta tahun yang lalu.

Karya terkenal yang berusaha mengetahui asal-usuh bahasa adalah karya Hockett dan Ascher (1964). Kedua ilmuwan ini berusaha mendeskripsikan proses tahap demi tahap sejak sistem penyebutan tertutup nenek moyang berkembang menjadi bahasa yang sebenarnya. Mereka memulai dengan mendeskripsikan ciri-ciri dasar  yang terkandung dalam sebuah sistem penyebutan, yang masing-masing ada hubungannya dengan situasi yang terjadi secara berulang-ulang dan penting secara biologis. Situasi tersebut meliputi, antara lain, penemuan makanan, pendeteksian bahaya, keinginan berkawan, penunjukkan tempat tinggal seseorang, hasrat seks, dan terjadinya penderitaan. Ketika nenek moyang kita keluar dari hutan dan mulai hidup di alam datar, maka tangan, yang sebelumnya diperlukan untuk memanjat dan berayun di hutan, dapat dipergunakan untuk keperluan lain. Tangan dipergunakan untuk berbagai tujuan, seperti membuat dan membawa senjata dan peralatan kasar, membawa makanan yang diperoleh. Selanjutnya, ini mengakibatkan mulut, yang semula dipergunakan untuk membawa sesuatu, dapat digunakan untuk sesuatu pekerjaan yang lain. Hockett dan Ascher berpendapat bahwa kegunaan baru mulut adalah berbicara.

Pada titik evolusioner sejarah inilah Hockett dan Ascher memandang awal munculnya bahasa. Mereka memandang bahasa muncul dari “pembukaan” sistem penyebutan. Adalah memungkinkan, misalnya, membayangkan sebuah situasi dimana urutan huruf, katakanlah ABCD, memberikan makna “äda makanan di sini”, sementara rangkaian EFGH berarti “äda bahaya”. Dapat dipahami bahwa dalam satu situasi di mana ada makanan dan juga bahaya, mungkin melahirkan ungkapan baru, ABGH, yang berari “makanan dan bahaya”. Hockett dan Ascher mengatakan bahwa ini sangat menyerupai tahap awal yang diperlukan dalam pembukaan sistem penyebutan, dan dengan demikian merupakan tahap awal ke arah bahasa yang sebenarnya.

Tentu saja, ungkapan baru ABGH itu sendiri hanyalah sebuah sebutan baru dan bukan simbol; mungkin dapat disebut penyebutan gabungan. Namun, sebutan baru tersebut adalah sebutan yang lebih rumit, karena ia mentransmisikan lebih banyak informasi dengan cara yang lebih efisien. Akhirnya, Hoclett dan Ascher berpendapat bahwa seluruh sistem penyebutan gabungan  tersebut pasti berkembang, sistem tersebut pasti telah ditransmisikan kepada generasi baru dengan mengandalkan pengajaran. Sistem tersebut, yang disebut Hockett dan Ascher sebagai pra-bahasa, pasti telah berfungsi sebagai tali penghubung antara sistem penyebutan yang tertutup pada masa yang lebih awal dengan bahasa yang sebenarnya.

Pra-bahasa ini, walaupun melahirkan sejenis “sistem penyebutan terbuka”, tidak mengandung salah satu unsur penting bahasa sebenarnya, yaitu dualitas susunan. Akhirnya, dengan perkembangan lebih lanjut dari sistem penyebutan dalam kaitannya dengan jumlah dan kerumitan penyebutan, ini juga berkembang. Ciri-ciri dasar suara menunjukkan serangkaian komponen fonologis dasar yang dapat dikombinasikan ke dalam susunan yang telah disepakati dan memberikan makna-makna yang telah  dilekatkan secara arbitrer. Hockett dan Ascher memandang bahwa yang terpenting dalam proses ini adalah bahwa ini telah terjadi sekitar sejuta tahun yang lalu. Dengan mengembangkan sebuah sistem bahasa yang sebenarnya, umat manusia telah melintasi apa yang hanya dapat dianggap sebagai ambang pintu perjalanan evolusioner yang kritis.

c. Signifikansi Fungsional Bahasa

Evolusi bahasa merupakan evolusi yang mempunyai signifikansi krusial bagi umat manusia, karena ia meratakan jalan bagi munculnya kebudayaan, sehingga sistem peralatan, pikiran dan tindakan kompleks yang telah memberikan  kepada manusia cara-cara beradaptasi yang sangat efektif. Sehubungan dengan itu, Leslie White (1949:33) menegaskan bahwa kemampuan penggunaan simbollah yang melahirkan kebudayaan dan penggunaan simbollah yang dapat mempertahankan kebudayaan. Tanpa simbol, tidak akan ada kebudayaan. Dengan simbol  itulah kebudayaan disimpan dan ditransmisikan. Simbol yang dimaksud adalah simbol yang kompleks, yang disebut bahasa.

Sebagian ilmuwan menyatakan bahwa penekanan kepada simbol-simbol sebagai basis kebudayaan ini merefleksikan bentuk tersembunyi dari idealisme. Carolyn Fluehr-Lobban (1986), misalnya, mengkontraskankan penekanan kepada simbol yang diberikan White dengan argumen Frederich Engels tentang peran buruh –manipulasi lingkungan alam melalui penggunaan alat-alat—  dalam penciptaan kebudayaan. Dia menjelaskan bahwa teori Engels adalah teori meterialis yang mengungguli posisi idealis White. Ini adalah argumen yang meragukan.

Teori White tidak dalam posisi idealis. Posisi idealis adalah posisi yang menyatakan bahwa kandungan khas konstruksi simbolik manusia –bentuk tertentu yang diambil dalam waktu dan tempat tertentu– lah  yang membentuk kebudayaan. Walaupun posisi White sebagai orang yang menekankan bahwa kapasitas general manusia  untuk melakukan simbolisasilah  yang memungkinkan munculnya kebudayaan; sesungguhnya kapasitas untuk menyimpan dan mentransmisikan informasilah yang memungkinkan kebudayaan muncul dan terakumulasi sepanjang waktu. Posisi ini benar-benar konsisten dengan penekanan Engels kepada peran buruh dan pembuatan peralatan. Dalam kenyataannya, sebagaimana telah ditegaskan, pembuatan alat manusiawilah yang menggerakkan sebuah rantai peristiwa dalam evolusi manusia, yang akhirnya mengakibatkan munculnya kemampuan melakukan simbolisasi.

d. Komunikasi Simbolik

Hasil usaha mengajarkan dasar-dasar bahasa kepada kera yang dilakukan baru-baru ini telah melahirkan keraguan akan keunikan kapasitas manusia dalam melakukan simbolisasi. Banyak ilmuwan menyimpulkan dari hasil pengajaran tersebut bahwa komunikasi simbolik bukanlah monopoli manusia, dan karena itu, jarak lebar antara manusia dengan makhluk hidup lainnya tidak selebar yang dulu diyakini orang.

David Premack (1970) mengajarkan sejenis simbol kepada seekor simpanse muda yang bernama Sarah. Sarah diminta untuk meletakkan sejumlah potongan plastik pada sebuah papan tulis bermagnet, masing-masing potongan plastik tersebut berisi satu kata, dan rangkaiannya akan menyajikan sebuah kalimat. Sarah tampaknya dapat menggunakan sekitar 130 kata. Lebih dari itu, dalam sebuah eksperimen jangka panjang yang terkenal dalam pengajaran bahasa, Gardner and Gardner (1969) berusaha mengajar simpanse Washoe sebuah sistem  yang lebih rumit dan rinci. Washoe diajari penggunaan Bahasa Tanda Amerika untuk Deaf (Ameslan). Dia diajarai bahasa ini dengan sistem hadiah dan melalui bimbingan langsung, dan dia juga mencari sejumlah kata dengan observasi langsung. Dia akhirnya menguasai kosa kata lebih dari 1000 kata; di samping itu, dia mampu menguntai  kata-kata ini menjadi satu ke dalam sejumlah kalimat pendek. Beberapa eksperimennya yang lebih baru mengajarkan dasar-dasar kemampuan berbahasa kepada gorila. Psikolog Francine Peterson dari Universitas Stanford sangat berhasil mengajari Koko, seekor gorila betina muda, Ameslan. Pada laporan terakhir, Koko telah mengasai hampir 300 kosa kata dan mampu mengkombinasikannya ke dalam beberapa kalimat panjang (J.A. Hill, 1978).

Hasil dari berbagai eksperimen ini tampak bertentangan dengan argumen bahwa simbolisasi, dan dengan demikian juga bahasa, adalah kapasitas unik manusia. Semua kera besar jelas mampu menggunakan, secara terbatas, dasar-dasar  sistem komunikasi simbolik. Namun, tampaknya tidaklah bijaksana terlampau cepat membuat kesimpulan yang tergesa-gesa dan dramatis dengan mendasarkan diri kepada temuan-temuan tersebut. Harus diingat bahwa kera-kera ini diajari penggunaan simbol-simbol oleh manusia, bukan oleh kera yang lain. Walaupun kera sudah belajar menggunakan sebagian kecil simbol, mereka tidak menciptakannya. Sejauh yang kami ketahui, hanya manusialah yang menggunakan simbol-simbol.

3.  Masyarakat dan Kebudayaan

a.  Pola Organisasi Masyarakat

Suatu spesies makhluk hidup bersifat sosial apabila para anggotanya hidup bersama, berinteraksi, dan bergantung satu sama lain untuk mempertahankan hidupnya. Manusia adalah makhluk sosial karena mereka hidup bersama dalam berbagai kelompok yang terorganisasi yang kita sebut masyarakat. Namun ini bukan khas manusia saja, karena banyak sekali spesies makhluk hidup yang hidup bermasyarakat, dan pola organisasi masyarakat tersebut tidak terbatas pada spesies yang disebut lebih maju. Banyak serangga yang hidup bersama dalam kelompok-kelompok sosial yang kompleks, masing-masing anggotanya sangat saling bergantung satu sama lainnya dalam mempertahankan hidup. Ringkas kata, kehidupan sosial merupakan gejala yang sangat umum dalam kehidupan makhluk hidup.

Meskipun demikian, kehidupan sosial tidaklah terdistribusi secara acak di antara berbagai spesies makhluk hidup. Status evolusioner suatu spesies melahirkan hubungan langsung dengan kelaziman pola organisasi masyarakat. Semakin bertahan hidup suatu spesies dalam skala kehidupan  phylogenetik, semakin besar kemungkinan memperthankan kehidupan sosial yang terorganisasi. Dengan demikian, walaupun hanya sebagian serangga yang hidup bermasyarakat, kebanyakan binatang mamalia bersifat sosial dan semua primata menjalankan kehidupan mereka dalam kerangka kemasyarakatan.

Namun, adalah kesalahan serius apabila menganggap bahwa masing-masing masyarakt lebah, simpanse, dan manusia sama secara fundamental. Sifat khas  dasar berbagai kehidupan sosial menunjukkan perbedaan yang mencolok satu sama lainnya. Kehidupan sosial lebah, semut, dan tawon bersifat kompleks dan rumit, tetapi perilaku sosial spesies tersebut sepenuhnya diatur oleh mekanisme instingtual. Kehidupan sosial serangga terprogram dengan serangkaian respons perilaku yang sudah baku. Belajar sebenarnya tidak berperan sama sekali dalam tindakan meraka.

Deskripsi tentang dasar perilaku sosial semacam itu tidak berlaku bagi primata non-manusia. Sebagai contoh, walaupun kebanyakan kehidupan sosial simpanse ditentukan secara genetik, penelitian baru-baru ini menunjukkan dengan jelas bahwa belajar memainkan peranan yang signifikan dalam perilaku sosial mereka. Peranan belajar dalam hal ini merupakan sebuah ilustrasi dari prinsip umum bahwa semakin besar kompleksitas evolusioner sebuah organisme, semakin besar pengaruh belajar (van der Berghe, 1978).

Prinsip ini membantu memahami dasar kehidupan sosial manusia, karena dalam spesies manusialah peranan belajar melebihi peranan yang dimainkan faktor-faktor biologis  dalam menentukan perilaku sosial. Tetapi, tidaklah cukup sekadar mengklaim bahwa perilaku sosial manusia sangat ditentukan oleh kegiatan belajarnya. Perlu ditegaskan  bahwa perilaku manusia dipelajari melalui kebudayaan, dan dengan demikian, masyarakat manusia berbeda dengan masyarakat berbagai spesies lainnya, merupakan sistem yang diatur secara kultural.

b.   Adaptasi Manusia

Konsep kebudayaan tidak dapat diabaikan dalam mengkaji perilaku manusia dan masyarakatr manusia. Sayangnya tidak ada kesepakatan universal tentang makna konsep ini. Kroeber dan Kluckhohn dalam bukunya, Culture: A Critical Review of Concepts and Definition (1952) memperlihatkan batapa ambiguitisnya konsep budaya. Beberapa antropolog menganggap budaya sebagai perilaku sosial. Bagi yang lain, budaya sama sekali bukanlah perilaku. Bagi sebagian orang, kapak, batu, dan tembikar; tarian dan musik; mode dan gaya merupakan budaya. Sementara itu, bagi yang lain lagi, tidak ada objek material bisa dijadikan budaya.

Salah satu definisi tertua mengenai budaya dikemukakan oleh antropolog Inggris, E.B. Tylor (1871). Ia mengatakah bahwa budaya adalah:

“…complex whole which include knowledge, belief, arts, morals, laws, custom, and other  capabilities and habbits aquired by man as member of society.”

Linton (1945) mendefinisikan budaya sebagai:

“… the configuration of learned behavior and results of behavior whose component elements are shared and transmitted by members of a particular society”

Sementara itu, Kroeber dan Parson membatasi budaya sebagai:

“… transmitted and created content and  ppattens of value, ideas and other symbolic-meaningful systems as factors in the shaping of human behavior and the  artifacts prodused through  behavior”

Menurut  Judistira K. Garna (1996:99),  konsep Kroeber dan Kluckhohn (1952) yang mengatakan bahwa budaya adalah “pola, eksplisit dan implisit, tentang dan untuk perilaku yang dipelajari dan diwariskan melalui simbol-simbol yang merupakan prestasi khas manusia, termasuk perwujudannya dalam benda-benda budaya”,  lebih modern bila dibandingkan dengan konsep kultur (Jerman) dan civilization (peradaban Inggris dan Perancis), yang berlaku pada saat itu.

Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa ada empat karakteristik utama kebudayaan. Pertama, kebudayaan mendasarkan diri kepada sejumlah simbol. Simbol sangat esensial bagi kebudayaan karena ia merupakan mekanisme yang diperlukan untuk menyimpan dan mentransmisikan  sejumlah besar informasi yang membentuk kebudayaan. Kedua, kebudayaan itu dipelajari dan tidak bergantung kepada pewarisan biologis dalam transmisinya. Ketiga, kebudayaan adalah sistem yang dipikul bersama oleh para anggota suatu masyarakat; yakni ia merupakan representatif dari para anggota masyarakat yang dipandang lebih secara kolektif daripada secara individual. Walaupun ada perbedaan tingkat penerimaan berbagai anggota masyarakat terhadap pola kebudayaan mereka, kebudayaan secara definisi adalah presentatif dari para anggota masyarakat yang dipandang secara kolektif. Keempat,  kebudayaan cenderung terintegrasi.  Berbagai bagian atau komponen kebudayaan cenderung menyatu sedemikian rupa sehingga konsisten satu dengan lainnya, di samping konflik, friksi, dan kontradiksi yang juga ada.

Signifikansi riel kebudayaan adalah sifat adaptifnya. Kebudayaan telah menciptakan bagi manusia sebuah alat adaptasi baru terhadap kondisi kehidupannya, dan pola adaptasi ini jauh melebihi adaptasi biologis. Pada tingkat Phylogenetik yang lebih rendah, masyarakat itu sendiri merupakan mekanisme adaptif yang berkembang dari proses evolusi biologis yang panjang. Ketika masyarakat berkembang ke tingkat kompleksitas yang lebih tinggi, dan ketika berbagai kondisi dikembangkan untuk lahirnya sistem simbol dari sistem penyebutan, kebudayaan itu sendiri muncul sebagai sebuah hasil evolusioner. Ketika semua ini terjadi, tahapan telah sampai kepada perkembangan sosio-kultural di mana kebudayaan menyainginya, dan akhirnya menggantikan biologi sebagai basis utama adaptasi manusia.

c.   Khas Manusia

Penemuan baru-baru ini, yang menunukkan bahwa sebagian primata non-manusia seringkali menggunakan berbagai bentuk alat yang sangat sederhana, membuat sejumlah pengamat untuk menentang sebuah kebijaksanaan (wisdom) konvensional bahwa kebudayaan adalah milik khas manusia. Simpanse, misalnya, telah menunjukkan bahwa mereka menggu-nakan sebatang rumput sebagai alat sederhana untuk mengeluarkan anai-anai dari lubangnya. Bahkan ternyata simpanse membuat atau membentuk alat ini sebelum menggunakannya (Jolly, 1972). Telah ditemukan bahwa kelompok-kelompok kera macaque Jepang telah mengembangkan praktek mencuci kentang segar dan gandum sebelum mereka memakannya. Praktek-praktek ini dipelajari oleh anggota kelompok lain, walaupun dengan cara pengamatan dan bukan dengan cara pengajaran langsung (Jolly, 1972).

Bentuk penggunaan alat yang sangat sederhana ini harus dipandang sebagai bentuk awal kebudayaan. Bentuk penggunaan tersebut berbeda pada kelompok-kelompok yang ada dalam spesies yang sama, dan karena itu mereka belajar dan mengikuti pola perilaku yang tidak dapat dianggap sebagai hasil pewarisan biologis. Namun, tidaklah tepat untuk menarik kesimpulan dramatis tentang kebudayaan non-manusia. Walaupun primata non-manusia memiliki beberapa unsur awal kebudayaan, dan dengan demikian pembedaan antara manusia dengan primata lainnya harus dianggap sebabagi pembedaan kuantitatif, perbedaan kuantitatif ini begitu besar sehingga layak untuk mengatakan bahwa kebudayaan adalah hasil manusia yang unik untuk semua tujuan praktis. Dalam pengertian teknis, manusia bukan hanya makhluk yang berkebudayaan, tetapi tentu saja mereka mem-punyai kelebihan luar biasa dalam menciptakannya dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Tidak ada peneliti yang pernah menemukan sekelompok simpanse yang menyembah dewa-dewaa, melamar penganten perempuan dengan membayar sesuatu, atau membuat lukisan pada dinding-dinding gua.

d.  Transmisi Kebudayaan

Karena kemampuan khas manusia untuk belajar, kebanyakan sosiolog dan antropolog sangat menekankan proses sosialisasi. Sosialisasi adalh proses di mana manusia berusaha menyerap isi kebudayaan yang berkembang di tempat kelahirannya. Kebanyakan ilmuwan sosial ini percaya bahwa proses inilah di mana generasi tua banyak sekali menghabiskan waktunya untuk mentransmisikan kebudayaan kepada generasi penerusnya, dan generasi penerusnya biasanya banyak sekali menerima kesan dari berbagai upaya pengajaran tersebut. Karena itu, sulit menolak bahwa proses sosialisasi merupakan aspek krusial pengalaman manusia di mana saja, dan dengan demikian konsep sosialisasi adalah konsep yang penting secara sosiologis. Namun,  mengakui semua ini tidak sama artinya dengan menyetujui bahwa konsep tersebut mempunyai nilai teoritis yang penting. Dengan kata lain, walaupun sosialisasi merupakan bagian fundamental dari kehidupan manusia di mana saja, mengandalkan adanya proses ini tidak dapat banyak membantu mengapa sistem kultural bertahan sepanjang waktu. Dan ia tidak membantu kita sama sekali menjelaskan bagaimana dan mengapa kebudayaan mengalami perubahan, atau tegasnya, bagaimana ia muncul pertama kali.

Masalah yang rumit dan agak kabur ini memerlukan beberapa penjelasan. Cara yang sangat menyenangkan dalam mendekati masalah ini adalah yang dilakukan oleh George Homans (1984). Sebagaimana ditujukkan Homans, banyak sosiolog yang menjelaskan perilaku manusia sebagai “äkibat kebudayaan”. Mereka berpendapat bahwa orang bertindak dan berpikir dengan cara tertentu karena mereka telah disosialisasikan ke dalam kebudayaan tertentu yang mereka terima sebagai sesuatu yang benar, tepat, dan wajar. Walaupun penjelasan ini benar dalam kadar tertentu, namun ia terlalu menyederhanakan masalah. Homans menyebut mereka yang mengandalkan penjelasan tentang perilaku manusia dengan cara semacam ini sebagai “penipu kebudayaan” (culturevulture). Keberatannya kepada “penipu kebudayaan” sangat berdasar dan jelas. Sebagaimana yang ia katakan, apa yang diabaikan penjelasan ini adalah apa yang benar-benar ingin kita jelaskan terlebih dahulu, yaitu mengapa kebudayaan secara orisinal mengambil bentuk tertentu. Dengan kata lain, tidaklah baik mengatakan bahwa orang menyerap isi kebudayaan mereka, ketika yang perlu dijelaskan adalah bagaimana ia menjadi jenis kebudayaan tertentu yang kepadanya menusia menjadi terikat secara emosional dan memandang sangat perlu ditransmisikan.

Keberatan Homans kepada penipu kebudayaan sangat beralasan, ketika kita menyadari bahwa masalah paling fundamental yang ingin dijelaskan oleh sosiolog adalah bagaimana dan mengapa kebudayaan berubah. Apakah kita dapat mengandalkan proses sosialisasi? Bagaimanapun juga, perubahan sebenarnya terjadi tanpa adanya sosialisasi, dan ia lebih merupakan  modifikasi ketimbang pemeliharaan isi kebudayaan tertentu. Bagaimana kita dapat menjelaskan perubahan dengan menggunakan sebuah konsep yang secara eksplisit dirancang untuk menjelaskan tidak adanya perubahan?

Tetapi ketika kita membahas tentang kontiunitas dan  stabilitas pun, bukan perubahan, maka konsep sosialisasi tersebut tampaknya tidak membantu. Sebagaimana diakui Homans dan banyak sosiolog serta antropolog, yang sebenarnya menjelaskan kontinuitias kebudayaan dari satu generasi ke generasi selanjutnya bukanlah proses sosialisasi, tetapi kenyataan bahwa anggota masyarakat penerusnya memberikan respon dan beradaptasi dengan sejumlah kenyataan historis yang sama dengan kenyataan yang dihadapi generasi sebelumnya. Ketika kenyataan-kenyataan historis ini berubah, maka orang akan mengubah cara mereka memberikan respon dan beradaptasi, walaupun berhadapan dengan tekanan keras dari para pendahulu mereka agar mempertahankan pola-pola responsi lama.

Dengan demikian, sosialisasi merupakan bagian pengalaman manusia yang senantiasa ada dan bersifat universal. Dengan menggunakan konsep sosialisasi, kita dapat belajar tentang keinginan kuat generasi tua untuk mentransmisikan isi kebudayaan kepada keturunan mereka. Pada tingkat kehidupan sehari-hari dan saling interaksi antarindividu yang bersifat mikro-sosiologis, konsep ini mungkin sangat bernilai. Tetapi bagi sosiologi makro, ia tidak membantu sama sekali secara teoritis dan dalam menjelaskan sesuatu. Ia tidak dapat menjelaskan tentang struktur makro masyarakat dan transmisi struktur makro sepanjang zaman.

e.  Etnosentrisme dan Relativisme Kultural

Ciri dasar kehidupan manusia yang segera disadari oleh para antropolog dan sosiolog yang serius adalah tingkat diversitas yang luar biasa banyaknya dalam sistem sosiokultural. Para ilmuwan sosial seringkali berhadapan dengan berbagai kebudayaan yang sangat berbeda dengan kebudayaan mereka sendiri.  Perasaan takut dan shock yang sering dialami oleh para antropolog yang berkerja di lapangan ketika pertama kali berhadapan dengan kebudayaan yang sangat berbeda dideskripsikan secara gamblang oleh Napoleon Chagnon, ketika ia pertama kali bertemu dengan  suku Indian Yanomamo di Amerika Selatan (Chagnon, 1983:10-11). Kejutan budaya yang dialami Chagnon tidak terbatas bagi ilmuwan sosial profesional saja. Ia dapat saja dialami oleh semua orang yang tiba-tiba menghadapi cara hidup yang sangat berbeda dengan cara hidupnya sendiri. Reaksi yang lahir dari gejala ini adalah apa yang disebut dengan etnosentrisme, yaitu kecenderungan seseorang untuk memandang hidupnya sendiri sebagai cara hidup yang paling unggul dari semua cara hidup yang lain. Jadi, Chagnon tercekam atas apa yang ia saksikan karena kebudayaan industrial Barat hampir tidak membekalinya untuk menghadapi gejala semacam: busur ditarik, ketelanjangan, ingus hijau yang mengalir dari hidung, dan kekotoran ketika ia mendatangi suku tersebut sebagai seorang tamu. Pada tingkat yang sangat substansial, kita adalah hasil dari kebudayaan kita sendiri, dan sebenarnya kita dikondisikan untuk menganggap cara hidup kita sendiri sebagai cara yang paling menyenangkan, dan kebudayaan lain dipandang memberikan gaya hidup yang kurang menyenangkan.  Etnosentrisme adalah gejala universal manusia. Suku Yanomamo sendiri tidak terlepas dari hal itu. Chagnon melaporkan bahwa karena dia bukan orang Yanomamo, mereka cenderung menganggapnya kurang manusiawi. Yanomamo adalah  salah satu dari banyak masyarakat  dunia yang suka bermusuhan dan perang, namun ketika Chagnon menceritakan kepada mereka tindakan orang Amerika dalam perang Vietnam, mereka secara moral merasa jijik dan menganggap perilaku semacam itu sebagai biadab dan tidak menusiawi.

Etnosentrisme melahirkan problem khusus dalam melakukan penelitian pada kebudayaan lain, karena, jika cukup kuat, ia akan menjadi penghalang yang serius untuk dapat melakukan kajian yang objektif dan akurat. Seandainya Chagnon tidak dapat mengendalikan etnosentrisme, dia tidak akan pernah mampu menyelesaikan proyek penelitiannya dengan baik. Antropolog dan sosiolog  telah melawan masalah ini dengan mengembangkan doktrin yang berlawanan yang dikenal dengan relativisme kultural. Relativisme kulutural ini merupakan doktrin yang menyatakan bahwa tidak ada kebudayaan yang secara inheren lebih superior atau inferior dari kebudayaan yang lain. Tetapi karena setiap kebudayaan merupakan solusi adaptif terhadap problem-problem fundamental menusia, maka semua kebudayaan “sama-sama sah”. Penganut relativisme kultural percaya bahwa standar suatu kebudayaan tidak dapat digunakan untuk mengevaluasi kebudayaan yang lain, dan karena itu standar untuk mengevaluasi kebudayaan hanyalah standar yang dimiliki kebudayaan itu sendiri. Jika doktrin ini kita terapkan untuk menilai nilai susila pembunuhan terhadap perempuan (pembunuhan secara selektif terhadap anak perempuan) di kalangan suku Yanomamo, semua kita dapat berkata, “walaupun salah menurut kita, itu betul menurut mereka, dan tidak dapat dikutuk secara kategoris”. Dan kita akan memberikan pengakuan bahwa pembunuhan tersebut “benar” bagi suku Yanomamo karena ia menyajikan solusi adaptif atas problem eksistensi manusia.

Sebagai sebuah perspektif moral atau etis, relativisme kultural telah banyak menerima kritik keras, dan ia tidak membentuk sebuah sistem etika yang memuaskan (Kohlberg, 1971; Patterson, 1977). Problem-problem yang menyertainya sudah banyak diketahui. Sebagai salah satu contohnya, ia dapat dengan cepat  jatuh ke dalam “penyakit yang sekaligus obatnya” (Kohlberg, 1971). Yakni, ia akan mengakibatkan adanya  “persetujuan terhadap praktek-praktek yang pada dasarnya tidak manusiawi” (Hatch, 1983:81). Misalnya, perspektif penganut relativisme kultural yang ketat akan mendesak kita mengesahkan praktek-praktek seperti pengusiran yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina, penyerangan Amerika Serikat terhadap Irak, perbudakan, Gang pemerkosa wanita pada suku Yanomamo, dan banyak lagi gejala kultural yang secara moral terasa menjijikkan jika dipandang dengan standar yang masuk akal –semuanya atas nama toleransi terhadap cara hidup yang lain. Di samping itu, relativisme kultural tampak mengekalkan semacam  “tirani adat” dengan meninggalkan sedikit sekali atau tidak ada sama sekali ruang bagi otonomi individu (Hatch, 1983).

Dalam kenyataannya, batas-batas relativisme kultural tampak jelas hanya bagi banyak relativis kultural sendiri, sebagian mereka melanggar prinsip mereka sendiri dalam praktek yang mereka lakukan, walaupun mereka secara formal mengakui relativisme kultural. Misalnya, Ruth Benedict, salah seorang arsitek utama relativisme kultural pada dekade awal abad XX, secara konsisten mengurangi pendirian relativismenya sendiri. Dalam bukunya yang terkenal, Pattern of Culture (1943), ia dengan jelas menunjukkan preferensinya kepada sifat-sifat kultural tertentu, di antara yang lainnya, dengan memperlihatkan rasa tidak suka tertentu kepada berbagai kebudayaan yang di dalamnya kekuatan memainkan peranan penting.

Elvin Hatch (1983) menganjurkan suatu cara bagi relativisme kultural untuk mengatasi kekurangan-kekurangan dasarnya sambil mempertahankan apa yang dipandang bernilai dan untuk mengembangkan toleransi. Ia mengajukan apa yang disebut “prinsip humanistik” sebagai alat untuk menilai kebudayaan lain. Prinsip ini menyatakan bahwa berbagai kebudayaan dapat dievaluasi dalam kaitannya dengan, apakah ia membahayakan orang atau tidak, baik dengan cara penyiksaan, pengorbanan, perang, represi politik, eksploitasi, dan seterusnya. Prinsip ini juga menilai kebudayaan dengan melihat seberapa baik ia menyediakan keperluan material bagi para anggotanya, misalnya sejauh mana manusia bebas dari kemiskinan, kekurangan gisi, penyakit, dan seterusnya. Terlepas pari kepentingan ini, kebudayaan tidak dapat dinilai bermakna.

Walaupun usulan Hatch tampak merupakan perbaikan terhadap relativisme kultural, sayangnya persoalan etis yang rumit itu tidak dapat dipecahkan dengan mudah. Sangat diragukan bahwa versi relativisme kulturalnya Hatch yang sudah banyak dimodifikasi tersebut inipun dapat diambil sebagai filsafat etis yang dapat diterima sebagai yang banar. Namun, di samping penolakan  kepada kedua versi relativisme kultural ini,  harus diakui bahwa relativisme kultural ada gunanya dan diperlukan sebagai semacam premis yang secara praktis memberikan panduan dalam melakukan eksplolasi sifat berbagai sistem sosiokultural. Karena itu ia mempunyai nilai metodologis, jika tidak etis. Ia mempunyai nilai metodologis karena ia mengharuskan pengujian terhadap pola-pola budaya dalam kaitannya dengan karakter adaptifnya. Tanpa relativisme kultural sebagai alat metodologis, kita akan berhadapan dengan berbagai budaya lain yang mempunyai serangkaian penyangga kultural, yang hasilnya pasti akan  mengekalkan ketidaktahuan, daripada menerangkan cara kerja dasar dari berbagai sistem sosiokultural.

f.   Subkultur dan Budaya Tandingan

Istilah kebudayaan (culture)  biasanya digunakan untuk menyebut seluruh cara hidup suatu masyarakat yang dipandang sebagai sebuah keutuhan. Namun, dalam sistem sosiokultural masyarakat yang sangat kompleks, seperti masyarakat industrial Barat, penting untuk mengakui  sifat pola-pola budaya yang beragam yang ada dalam masyarakat tersebut. Untuk alasan ini, para sosiolog mengembangkan konsep subkultur dan budaya tandingan.

Subkultur  adalah budaya yang lebih kecil yang ada dalam kerangka kebudayaan yang lebih besar. Anggota subkultur mengikuti pola budaya khas yang dalam beberapa hal berbeda dengan budaya yang ada dalam kerangka budayanya yang lebih besar, namun pada saat yang sama umumnya menerima dan mengikuti pola budaya yang lebih besar. Para mahasiswa, misalnya, membentuk subkultur dalam arti bahwa mereka bertindak dan berpikir dengan cara yang berbeda dalam beberapa hal dari kebudayaan Indonesia sebagai sebuah keseluruhan. Kelompok-kelompok etnis yang beragam dalam masyarakat industrial yang kompleks –kelompok-kelompok yang dibedakan  atas dasar asal budaya dan suku bangsa–  memperlihatkan pola-pola subkultur yang berbeda karena mereka mengikuti cara bertindak dan berpikir yang agak unik. Para profesor, dokter, buruh pabrik, artis, dan atlet profesional juga membentuk perbedaan-perbedaan subkultur tertentu; perbedaan-perbedaan ini muncul karena perbedaan pekerjaan. Banyak subkultur yang lain terdapat dalam masyarakat yang kompleks, tentu saja, dengan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti ras, agama, wilayah, dan kelas sosial yang berfungsi sebagai kriteria penting untuk pembeda subkultural.

Sebagaimana subkultur, budaya tandingan memiliki pola budaya berbeda yang ada dalam kebudayaan yang lebih luas. Namun, berbeda dengan sibkultur, anggota budaya tandingan biasanya tidak mengikuti pola budaya yang dominan. Sebagai gantinya, budaya tandingan cenderung didasarkan atas perlawanan terhadap, atau penolakan terhadap pola yang dominan tersebut. Sebagian budaya tandingan pada dasarnya bersifat revolusioner sehingga mereka dianggap sebagai usaha melakukan perubahan fundamental dalam kebudayaan yang dominan. Namun, kebanyakan budaya tandingan tidak diilhami oleh maksud-maksud revolusioner semacam itu, sebaliknya, mereka pada umumnya merupakan lingkaran terorganisasi yang menarik diri dari arus utama kehidupan budaya. Dalam kategori ini dapat dimasukkan kelompok-kelompok seperti “hippies” pada tahun 1960-an. Salah satu budaya tandingan yang paling baru muncul di masyarakat Indonesia adalah kelompok “berambut punk” pada tahun 1980-an.

BAB 3

EVOLUSI  SOSIOKULTURAL

1.   Sistem Sosiokultural

Berbagai cara mengkompartementalisasikan berbagai sistem sosio-kultural telah diajukan oleh para ilmuwan sosial. Namun, buku ini memakai prosedur yang serupa dengan prosedur yang dikembangkan Marvin Harris (1979), yang telah menyajikan skema kompartementalisasi yang menguraikan perbedaan terkenal yang dibuat oleh Marx antara infrastruktur dan suprastruktur. Skema ini adalah alat analisis yang sangat berguna untuk memahami struktur dan sistem sosiokultural yang berlaku.

Komponen Dasar Sistem Sosiokultural

Superstrutur                    Ideologi umum 

Ideologis                         Agama

Ilmu pengetahuan

Kesenian

Kesusastraan

Struktur Sosial                Ada (atau tidak ada) stratifikasi sosial

Ada (atau tidak ada) stratifikasi rasial dan etnis

Politik (polity)

Pembagian kerja secara seksual dan ketidaksamaan secara seksual

Keluarga dan kekerabatan

Pendidikan

Infrastruktur Material      Teknologi

Ekonomi

Ekologi

Demografi

Ekonomi

Ekologi

Demografi

Kepolitikan (polity)

Teknologi

a.  Infrastruktur Material

Infrasruktur material berisi bahan-bahan dan bentuk-bentuk sosial yang berkaitan dengan upaya manusia mempertahankan hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya. Infrastruktur sebuah masyarakat adalah komponen yang paling dasar dalam pengertian bahwa tanpa itu, maka dia tidak akan mungkin bertahan secara fisik. Infrastruktur ini terdiri dari empat sub unit dasar, yaitu:

  1. Teknologi. Teknologi  terdiri atas informasi, peralatan, teknik, yang dengannya manusia beradaptasi dengan lingkungan fisiknya (Lenski, 1970). Ia tidak hanya berisi peralatan atau objek yang bersifat fisik atau kongkret, tetapi juga pengetahuan yang dapat diaplikasikan manusia dengan cara tertentu. Dengan demikian, kursi, bantal, dan mobil adalah unsur-unsur  teknologi, tetapi pengetahuan tentang bagaimana menjinakkan dan memelihara tanaman dan binatang liar juga termasuk teknologi.
  2. Ekonomi. Ekonomi suatu masyarakat adalah  sistem yang teratur di mana barang dan jasa dihasilkan, didistribusikan, dan dipertukarkan di antara para individu dan masyarakat. Produksi merujuk kepada berbagai hal, sepeti barang apa yang diproduksi, oleh siapa, alat dan teknik apa yang digunakan, dan siapa yang memiliki bahan-bahan dasar yang masuk ke dalam proses produksi. Distribusi meliputi cara barang-barang yang telah diproduksi itu dialokasikan ke berbagai individu dan kelompok dalam masyarakat. Pertukaran dilakukan apabila para individu atau kelompok menyerahkan sesuatu yang berharga kepada orang lain sebagai ganti barang berharga lain yang dia peroleh darinya. Cara sebuah masyarakat mendistribusikan barang dan jasa umumnya bergantung kepada cara barang dan jasa tersebut diproduksi.
  3. Ekologi. Ekologi meliputi seluruh lingkungan fisik yang terhadapnya manusia harus beradaptasi. Ia meliputi sifat-sifat tanah, sifat iklim, pola hujan, sifat kehidupan tanaman dan binatang, serta tersedianya sumber daya alam. Dalam pengertian yang ketat, ekologi bukanlah bagian dari sistem sosiokultural; ia merupakan lingkungan eksternal yang terhadapnya sistem sosiokultural harus menyesuaikan diri. Namun, karena faktor ekologis seringkali merupakan determinal krusial bagi berbagai aspek kehidupan sosial, maka di sini ekologi diperlukan sebagai komponen dasar sistem sosiokultural.
  4. Demografi. Faktor demografi adalah faktor yang meliputi sifat dan dinamika penduduk manusia. Kepadatan dan jumlah penduduk, pertumbuhan, kemerosotan, atau stabilitasnya, serta komposisi umur dan jenis kelamin merupakan hal yang penting diketahui dalam mengkaji suatu masyarakat. Faktor demografis juga mencakup teknik pengaturan penduduk atau pengendalian kelahiran dan intensitas penerapan teknik tersebut.

b.  Struktur Sosial

Komponen sistem sosiokultural berisi pola-pola kehidupan sosial yang teratur yang dipakai di kalangan para anggota suatu masyarakat, selain pola-pola sosial yang termasuk dalam infrastruktur.  Harus dicatat bahwa struktur sosial selalu merujuk kepada pola perilaku aktual, sebagai lawan dari kesan-kesan atau konsepsi-konsepsi mental yang dimiliki orang tentang pola-pola tersebut. Dengan kata lain, struktur sosial berisi apa yang dilakukan orang secara aktual, bukan apa yang mereka katakan telah mereka lakukan, bukan pula apa yang mereka pikir mereka lakukan, atau yang mereka pikir harus mereka lakukan. Untuk tujuan ini, struktur sosial berisi enam sub unit:

  1. Ada (atau tidak adanya) stratifikasi sosial. Stratifikasi sosial merujuk kepada adanya kelompok-kelompok dalam masyarakat yang tidak sama kekayaan dan kekuasaannya. Tidak semua masyarakat memiliki stratifikasi sosial. Dalam mengkaji sebuah masyarakat, sangat penting mengetahui apakah ada stratifikasi di dalamnya atau tidak; jika ada, sifat dan tingkat stratifikasi tersebut harus pula diketahui secara pasti.
  2. Ada (atau tidak adanya) stratifikasi etnis dan rasial. Ini merujuk kepada apakah ada atau tidak ada kelompok-kelompok dalam masyarakat yang mungkin dibedakan berdasarkan karakteristik rasial atau etnis; dan jika ada, apakah masing-masing kelompok menempati posisi sama antara satu dengan lainnya. (Kelompok-kelompok rasial adalah kelompok yang bisa dibedakan atas dasar karakteristik-karakteristik yang bisa dilihat secara fisik; kelompok etnis adalah kelompok yang memperlihatkan perbedaan-perbedaan kultural). Banyak masyarakat dalam sejarah manusia yang tidak mempunyai stratifikasi rasial atau etnis. Namun pada beberapa ratus tahun yang lalu, stratifikasi rasial/etnis telah menjadi ciri penting dari banyak masyarakat yang kompleks.
  3. Politik. Ini merujuk kepada cara-cara terorganisasi sebuah masyarakat dalam memelihara hukum dan aturan internal, juga cara-cara mengatur dan melakukan hubungan antarmasyarakat. Semua masyarakat mempunyai sistem politik, walaupun sifat sistem tersebut sangat bervariasi dari masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.
  4. Pembagian kerja secara seksual dan ketidaksamaan secara seksual. Ini meliputi cara di mana lelaki dan perempuan dialokasikan pada tugas dan peran tertentu dalam pembagaian kerja sosial. Ia juga mencakup cara dan tingkat sejauh mana lelaki dan perempuan menduduki posisi tingkatan, kekuasaan, dan hak-hak yang tidak sama dalam sebuah masyarakat. Walaupun pembagian kerja secara seksual dan ketidaksamaan secara seksual merupakan kenyataan universal,  sangat banyak variasi bentuknya di antara berbagai masyarakat.
  5. Keluarga dan kekerabatan. Semua masyarakat mempunyai sistem keluarga dan kekerabatan, atau pola-pola sosiokultural yang teratur yang mengatur pelaksanaan perkawinan dan reproduksi. Namun, sekali lagi, sifat khas sistem ini sangat bervariasi dari masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya. Lebih dari itu, sub-sub kultur yang berbeda dalam suatu masyarakat seringkali memperlihatkan perbedaan pola keluarga dan kekerabatan.
  6. Pendidikan. Pendidikan adalah sistem pengajaran kultural atau intelektual yang formal atau semi formal. Kebanyakan masyarakat mempunyai sistem pendidikan yang tidak begitu formal, tetapi tidak ada masyarakat yang tidak mengembangkan prosedur untuk mentransmisikan pengetahuan, keterampilan, atau nilai kepada generasi berikutnya.

c.  Suprastruktur Ideologis

Suprastruktur ideologis meliputi cara-cara yang telah terpolakan, yang dengan cara tersebut para anggota masyarakat berpikir, melakukan konseptualisasi, menilai, dan merasa, sebagai lawan kata dari apa yang mereka lakukan secara aktual. Kalau struktur merujuk kepada perilaku, maka suprastruktur merujuk kepada pikiran. Suprastruktur mencakup beberapa sub komponen berikut:

  1. Ideologi umum. Ini merujuk kepada karakteristik kepercayaan, nilai dan norma yang menonjol dalam suatu masyarakat atau dalam beberapa bagian dari suatu masyarakat. Kepercayaan memberikan asumsi-asumsi kognitif tentang apa yang benar dan apa yang salah. Kepercayaan ini menyangkut hakekat alam semesta, teknik pendidikan anak yang bagaimana yang menghasilkan anak-anak berkepribadian sehat, perbedaan-perbedaan apa  yang ada antara lelaki dengan perempuan, dan masih sangat banyak lagi. Nilai adalah konsepsi tentang sesautu yang bernilai yang didefinisikan secara sosial. Ia menentukan pemahaman kita tentang apa yang baik dan buruk, indah atau jelek, disukai atau tidak disukai, dan seterusnya. Norma menunjukkan standar atau aturan bersama yang berkaitan dengan tindakan sosial yang pantas dan tidak pantas. Ia adalah perintah dan larangan yang berusaha ditanamkan suatu masyarakat ke dalam diri para anggotanya. Semua masyarakat menciptakan kepercayaan, nilai, dan norma, tetapi diversitas gejala ini sangat besar.
  2. Agama. Agama berisi kepercayaan dan nilai bersama yang bersinggungan dengan kayakinan akan adanya kekuatan dan kekuasaan sesuatu yang bersifat supernatural. Adanya kekuatan dan kekuasaan sesuatu yang adikodrati itu umumnya dianggap secara langsung mencampuri jalannya suatu masyarakat, atau paling tidak, mempunyai hubungan tidak langsung dengannya. Seperti banyak komponen sistem sosiokultural lainnya, agama merupakan ciri universal kehidupan sosial manusia.
  3. Ilmu (sains-science). Ilmu  adalah serangkaian teknik untuk memperolah pengetahuan  dengan mendasarkan kepada observasi dan pengalaman (yaitu pengumpulan bukti-bukti faktual, demonstrasi, dan pembuktian dan lain-lain). Ia tidak hanya meliputi teknik dan prosedur untuk menghasilkan pengetahuan, tetapi juga bangunan akumulatif pengetahuan itu sendiri. Dengan memahaminya seperti ini, ilmu  bukanlah bagian kebudayaan yang bersifat universal, tetapi hanya berkembang di tempat dan dalam waktu tertentu.
  4. Kesenian. Kesenian adalah komponen sosiokultural yang bersifat universal. Ia berisi kesan-kesan atau pengungkapan-pengungkapan simbolik yang mempunyai nilai estetis, emosional, atau intelektual bagi para anggota suatu masyarakat atau bagian dari suatu masyarakat. Kesan-kesan dan pengungkapan-pengungkapan simbolik yang dibicarakan ini bersifat fisik.
  5. Kesusastraan. Kesusastraan juga berisi kesan-kesan atau pengungkapan-pengungkapan simbolik yang mempunyai nilai estetis, emosional, atau intelektual. Namun, dalam hal ini kesan-kesan atau pengungkpan-pengungkapan  lebih bersifat verbal (lisan maupun tulisan) daripada bersifat fisik. Dengan pemahaman seperti ini, mite, legenda, dan drama Shakespeare semuanya dianggap sebagai kesusastraan.

2.  Hakikat Evolusi Sosiokultural

a.   Evolusi Sosiokultural

Suatu problem yang berkaitan dengan penggunaan istilah evolusi untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadi dalam berbagai sistem sosiokultural adalah, bahwa makna harfiyah istilah itu sendiri menyesatkan. Sebagaimana dinyatakan oleh Elman Service (1971), istilah ini berasal dari bahasa Latin, evolutis, yang berarti “pembukaan gulungan”. Ini jelas menyiratkan bahwa evolusi mencakup suatu “pembentangan” atau “perkembangan”, sebuah proses di mana sistem sosiokultural mulai menyadari kemungkinan-kemungkinan potensial yang sejak awal melekat di dalam dirinya. Ia menyiratkan bahwa evolusi adalah gerakan ke arah “tujuan” akhir, bahwa berbagai masyarakat  berkembang dengan cara yang sama sehingga embrio yang matang menjadi organisme yang sehat yang hidup di luar tubuh induknya. Masalahnya adalah, karena evolusi sosiokultural tidak sama dengan pengertian di atas. Sebagaimana dalam hal evolusi biologis, tidak ada “tujuan” akhir  bagi evolusi sosikultural. Tidak ada “perkembangan” ke arah keadaan akhir.

Untuk menghindari salah pengertian tentang hakikat evolusi sosiokultural, perlu diperjelas makna harfiyah istilah tersebut dan bahaya-bahaya yang ada di dalamnya. Sebagai upaya awal untuk mendekati pemahaman tentang istilah ini, di sini evolusi sosiokultural didefinisikan sebagai sebuah proses perubahan di mana satu bentuk sosiokultural beralih ke bentuk yang lain. Dengan mengkonseptualisasikannya seperti ini, evolusi sosiokultural adalah sebuah proses perubahan yang lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif. Perubahan kuantitatif adalah perubahan dari jumlah yang kurang menjadi jumlah yang lebih atau sebaliknya. Sebaliknya, perubahan kuantitatif adalah perubahan di mana suatu jenis atau bentuk baru menggantikan jenis atau bentuk lama. Tentu saja, perubahan kualitatif itu sendiri adalah hasil dari serangkaian perubahan kuantitatif yang terjadi sebelumnya. Ketika perubahan-perubahan kuantitatif terakumulasi dalam waktu tertentu, maka ia akhirnya akan menghasilkan suatu transformasi yang kita istilahkan dengan perubahan kualitatif. Namun, kita dapat dengan sungguh-sungguh berbicara tentang transformasi evolusioner sampai tingkat perubahan kualitatif dapat tercapai. Dengan demikian, peralihan suatu masyarakat dari masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada kegiatan meramu dan berburu ke masyarakat yang meggantungkan hidup pada kegiatan pertanian, merupakan sebuah perubahan evolusioner, begitu juga dengan peralihan dari pertanian ke industri. Demikian juga, munculnya pembagian kelas sosial dalam suatu masyarakat yang tidak pernah ada sebelumnya, adalah sebuah perubahah evolusioner. Namun, pertambahan jumlah desa dalam suatu masyarakat bukanlah perubahan evolusioner apabila desa-desa baru tersebut hanyalah tiruan dari desa-desa yang sudah ada.

Tetapi, ada pengertian tentang evolusi yang agak lebih dari pengertin yang disiratkan dengan gagasan tentang perubahan kualitatif. Karena itu, untuk melengkapi definisi  tentang evolusi sosiokultural di atas, kita perlu menambahkan bahwa perubahan yang dimaksud adalah perubahan yang menunjukkan arah yang pasti. Yang dimaksud adalah, bahwa evolusi sosiokultural adalah perubahan terpola yang metampakkan sebuah kecenderungan yang bersifat linear. Sebagai contoh, perubahan-perubahan pada tingkat teknologi yang menambah kecanggihan dan efesiensi peralatan dan teknik produksi, yang menunjukkan kecenderungan yang terarah. Kecenderungan itu juga diindikasikan oleh pertambahan, tingkat, dan intensitas ketidaksamaan kelas sosial.

Banyak penganut evolusioner berpendapat bahwa arah kecenderungan utama dalam evolusi sosiokultural adalah bertambahnya kompleksitas masyarakat (Parsons, 1966; 1977). Robert Carneiro (1972), misalnya, menyatakan bahwa dalam kenyataannya inilah yang dimaksud dengan evolusi –perubahan yang mengarah kepada semakin kompleksnya masyarakat–  dan bahwa pemakaian konsep yang lain akan melemahkan dan mengurangi pengertiannya. Namun, walaupun harus diakui bahwa kompleksitas masyarakat yang terus meningkat merupakan dimensi penting dalam evolusi sosial, tidak dapat dibenarkan menganggapnya sebagai satu-satunya dimensi, atau dimensi yang terpenting. Evolusi sosiokultural mempunyai banyak dimensi, dan dengan demikian memiliki banyak arah kecenderungan, dan kita tidak akan membatasi  diri untuk hanya menganlisis satu dimensi saja.

Evolusi sosiokultural meliputi, baik seluruh sistem sosiokultural maupun komponen-komponen terpisah dari sistem tersebut. Yang biasanya terjadi adalah bahwa perubahan berawal dari satu komponen (atau sub komponen) dan perubahan ini menimbulkan perubahan-perubahan pada komponen yang lain. Seluruh mata rantai sebab dan akibat bergerak sehingga akhirnya menghasilkan transformasi pada seluruh sistem sosiokultural.

Sebagian ilmuwan telah menegaskan perbedaan antara istilah sejarah dan evolusi. Yang paling terkenal dalam hal ini adalah Leslie White (1945). Argumen White adalah bahwa sejarah berkaitan dengan berbagai peristiwa atau perubahan yang unik, sementara evolusi meliputi pola-pola karakteristik perubahan masyarakat manusia secara umum. Menurut pandangan ini, sejarah membatasi perhatian seseorang kepada detil-detil tertentu dalam perubahan historis yang terjadi dalam suatu masyarakat, sedangkan evolusi meliputi analisis seseorang terhadap karakteristik-karakteristik perubahan yang teratur dan sistematik dari semua atau hampir semua masyarakat.  Walaupun ada justifikasi terhadap pembedaan yang dibuat White, pembedaan ini agak artifisial dan berlebihan. Semua perubahan dalam sistem sosiokultural dapat dianggap evolusioner sejauh ia meliputi transformasi yang bersifat kualitatif dan terarah pada seluruh atau salah satu atau lebih bagian-bagiannya. Ini benar, apakah perubahan-perubahan tersebut terjadi hanya pada satu masyarakat atau apakah ada perubahan yang sama yang terjadi dalam ratusan masyarakat (Harris, 1968). Namun, walaupun benar, paling tidak menurut semangat pernyataan White, kita akan berusaha memahami transformasi-transformasi evolusioner penting yang menandai sejumlah besar masyarakat dunia.

Kecermatan khusus harus diberikan untuk menghindari identifikasi evolusi sosiokultural dengan kemajuan (progress). Ini adalah kesalahan besar para evolusionis terkemuka abad XIX. Para pemikir ini cenderung menafsirkan perbaikan dalam rasionalitas, moralitas, dan kebahagiaan manusia sebagai evolusi, dan karena kesalahan ini mereka dikritik secara tepat oleh para ilmuwan yang muncul belakangan. Istilah kemajuan adalah konsep moral dan harus tidak boleh dipakai pada data yang dikumpulkan dalam usaha ilmiah untuk memahami pola-pola dasar perubahan evolusioner. Karena semua masyarakat memberikan, dalam kadar tertentu, solusi adaptif terhadap berbagai kebutuhan dasar manusia, adalah kesalahan yang sangat serius mengasumsikan bahwa sebagian masyarakat lebih unggul  dari masyarakat lain hanya karena ia terjadi lebih belakangan dalam sejarah atau karena ia secara evolusioner lebih kompleks.

b.  Evolusi Paralel, Konvergen, dan Divergen

Evolusi sosiokultural bukanlah proses tungga yang terjadi dengan cara yang sama pada seluruh masyarakat. Sebagaimana evolusi biologis, evolusi sosiokultural mempunyai karakter “ganda”(Sahlins, 1960). Pada satu sisi, ia merupakan proses yang meliputi transformasi menyeluruh pada masyarakat manusia. Ia memperlihatkan suatu karakter umum dan pola terarah dalam semua masyarakat yang mengalaminya. Proses ini biasanya dikenal dengan evolusi umum (general evolution). Di sisi lain, evolusi sosiokultural memperlihatkan diversifikasi adaptif yang mengikuti banyak garis yang berbeda-beda dalam banyak masyarakat. Rincian-rincian spesifik dari perubahan evolusioner umumnya berbeda dari satu masyarakat dengan masyarakat yang lainnya. Pola perubahan ini secara tipikal disebut evolusi spesifik (spesific evolution) (Sahlins, 1960).

Pembedaan ini dapat lebih diperjelas dengan memperkenalkan tiga konsep tambahan yaitu evolusi paralel, konvergen, dan divergen (Harris, 1968). Evolusi paralel terjadi apabila dua atau lebih masyarakat berkembang dengan cara yang sama dan pada tingkat yang pada dasarnya sama. Sebagai contoh, mulai sekitar 10.000 tahun yang lalu komunitas-komunitas manusia di berbagai wilayah dunia secara independen mulai memelihara tanaman dan binatang serta menopang hidup mereka dengan bertani daripada meramu dan berburu. Penerapan pertanian dalam berbagai komunitas ini menimbulkan perubahan-perubahan yang sangat serupa dalam seluruh pola sosiokulturalnya.  Evolusi konvergen terjadi ketika berbagai masyarakat yang semula berbeda, berkembang dengan cara yang membuat mereka semakin serupa. Amerika Serikat dan Jepang, misalnya, telah berkembang mengikuti garis konvergen dalam seratus tahun yang lalu. Evolusi divergen terjadi ketika berbagai masyarakat yang semula sama berkembang mengikuti garis yang semakin berbeda. Contoh paling baik untuk gejala ini adalah hasil dari perbandingan antara Jepang dan Indonesia (Geertz, 1963). Kedua masyarakat ini sangat serupa pada awal abad XVII, tetapi sekarang keduanya sangat berbeda: Jepang adalah bangsa industrial modern dengan standar hidup yang tinggi, sementara Indonesia adalah negara miskin dan terbelakang.

Namun, bukti yang kuat menunjukkan bahwa evolusi paralel dan konvergen merupakan gambaran yang lebih dominan dalam sejarah manusia ketimbang evomusi divergen (Harris, 1968).

c.  Kontinuitas, Devolusi, dan Kepunahan

Evolusi sosiokultural merupakan ciri yang melekat pada kehidupan sosial, dan tidak ada masyarakat yang sama sekali statis atau tidak berubah. Namun, ada beberapa contoh masyarakat yang barangkali tidak mengalami perubahan signifikan selama ribuan tahun. Gejala ini dikenal dengan kontinuitas sosiokultural. Banyak masyarakat peramu dan pemburu, misalnya, yang dapat bertahan sampai sekarang, dan kebanyakan mereka barangkali tidak mengalami perubahan penting selama ratusan atau ribuan tahun.

Karena itu harus dipertanyakan mengapa sebagaian masyarakat mengalami berbagai transformasi besar, tetapi masyarakat lain tidak mengalaminya. Evolusi sosiokultural adalah sebuah hasil adaptif terhadap berbagai kondisi yang sedang berubah. Masyarakat berkembang untuk memenuhi berbagai permintaan dan kebutuhan baru. Dalam situasi yang tidak berubah, pola sosiokultural yang ada mencukupi untuk memecahkan problem dasar eksistensi manusia, dan tidak ada perubahan evolusioner yang perlu terjadi. Jadi, sebagaimana evolusi, kontinuitas merupakan sebuah proses adaptif. Keduanya akan terjadi bergantung apakah kondisi yang melatarbelakanginya yang diperlukan bagi eksistensi dan kesejahteraan manusia mengalami perubahan atau tetap sama seperti semula.

Kebanyakan masyarakat manusia dalam kadar tertentu ditandai oleh stabilitas ataupun transformasi evolusioner.  Namun, dalam beberapa kasus, suatu masyarakat dapat mengalami perubahan devolusioner, yaitu berubah menyurut ke bentuk yang mempunyai karakter tahap evolusioner sebelumnya. Ini dapat berarti menurunnya kompleksitas masyarakat, atau mungkin hilangnya kohesi sosial. Ilustrasi yang sangat baik untuk kejadian seperti ini dapat diperoleh dari deskripsi tentang suku Ik di Uganda yang dibuat oleh Colin Turnbull (1972). Suku Ik adalah masyarakat pemburu dan peramu yang telah mengalami penderitaan ekonomi ketika tradisi berburu yang masih hidup beralih ke perternakan yang diprogramkan oleh pemerintah Uganda. Peristiwa ini mempercepat keruntuhan sistem sosiokultural suku Ik. Dengan hilangnya cara-cara menopang hidup mereka yang bersifat tradisional, dan karena peralihan ke pertanian sulit atau tidak mungkin dilakukan, suku Ik mengalami kemerosotan substansial dalam jumlah penduduk, kehilangan basis kohesi politik, dan bahkan mengalami erosi dalam hubungan antara para anggota keluarga. Hasilnya adalah cara hidup dengan ikatan sosial antara semua anggota masyarakat sudah hancur.

Contoh lain dari tranformasi devolusioner adalah runtuhnya kekaisaran Reomawi pada abad V Masehi. Roma telah menciptakan kekaisaran yang sangat besar, yang meluas dari Mesir di sebelah selatan sampai kepulauan Inggris di utara. Berbagai wilayah kekuasaan tersebut dihubungkan dengan sistem jalan yang sangat bagus, dan kekaisaran tersentralisasi secara ekonomi, politik dan militer. Ketika kekaisaran akhirnya runtuh setelah kemerosotan yang berlangsung lama dan pelan-pelan, Eropa menyusut menjadi wilayah luas yang dipenuhi dengan desa-desa atau kerajaan-kerajaan kecil yang berdiri sendiri secara ekonomi.

Tentu saja, sebagian masyarakat akan mengalami penyusutan secara menyeluruh. Proses ini dikenal dengan  kepunahan sosiokultural. Nasib seperti ini telah terjadi pada banyak masyarakat pemburu dan peramu yang hidup sekarang ini, begitu juga pada berbagai masyarakat yang kompleksitas evolusionernya lebih tinggi. Sebuah sistem sosiokultural dapat menjadi punah karena musnahnya para anggota masyarakatnya secara fisik ataupun karena keterserapannya dalam masyarakat lain melalui penaklukan politik. Kedua proses ini sering terjadi dalam masyarakat manusia, terutama sejak munculnya kapitalisme modern pada abad XVI. Sebagai contohnya, Amerika Selatan pernah  dipenuhi dengan ratusan suku Indian. Dengan kemunculan dan ekspansi peradaban Amerika yang baru, kebanyakan anggota suku-suku ini terbunuh dalam  perang berdarah. Mereka yang tersisa akhirnya dikumpulkan di tempat-tempat penampungan, dan cara hidup mereka yang asli umumnya hilang.

d.   Adaptasi – Adaptedness

Buku ini menekankan karakter adaptif dari evolusi sosiokultural, dengan demikian, banyak sekali menggunakan konsep adaptasi sosiokultural. Sayangnya, konsep adaptasi sangat banyak diperselisihkan dalam sosiologi modern. Sebagian sosiolog menolak sama sekali konsep ini, dengan menyatakan bahwa ia secara inheren merupakan konsep fungsionalis yang jelas mempunyai konotasi konservatif (Zeitlin, 1973; Giddenss, 1981). Para sosiolog ini lalu mengusulkan agar konsep tersebut dibuang. Namun perombakan radikal tersebut tidak perlu dilakukan. Yang diperlukan bukan pembuangan terhadap konsep tersebut, tetapi klarifikasi yang cermat tentang pengertiannya.

Titik awal yang menentukan adalah seringkali pembedaan yang terlupakan antarta adaptasi (adaptation) dan keadaan di mana masyarakat telah beradaptasi (adaptedness). Elliott Sober (1984) telah menegaskan bahwa pembedaan ini penting untuk berpikir tentang evolusi biologis, dan argumennya dapat diperluas kepada evolusi sosiokultural. Perbedaan kedua konsep ini secara esensial adalah  perbedaan antara asal-usul suatu trait (ciri, sifat) sosiokultural dan konsekuensi-konsekuensi trait tersebut terhadap  individu (dan keturunan mereka) yang melahirkannya.  Kita mungkin dapat berkata bahwa adaptasi adalah suatu trait sosial yang muncul  sebagai akibat adanya kebutuhan, tujuan dan hasrat para individu. Dengan mengatakan seperti ini, trait ini membawa kepada suatu bentuk adaptedness, untuk mengatakan bahwa trait tersebut secara aktual efektif dalam memuaskan kebutuhan, tujuan dan hasrat individu yang melahirkannya sebagai sebuah adaptasi.  Sekarang, biasanya keduanya –adaptasi dan adaptedness— saling berhubungan, tetapi seringkali ada perkecualian di sini, dan perkecualian ini sangat signifikan dalam melakukan analisis sosiologis. Untuk mengilustrasikan perbedaan ini, kita dapat memandang adaptasi yang secara aktual membawa kepada adaptedness, dan tidak sebaliknya, paling tidak dalam perjalanan yang panjang.

Para petani India yang beragama Hindu selama beratus-ratus tahun menganggap  lembu sebagai binatang suci yang tidak boleh disembelih dan dikonsumsi. Gejala yang sangat menarik dan seringkali ganjil ini dapat dianggap sebagai sebuah adaptasi yang diciptakan para petani Hindu dalam mengatasi kondisi-kondisi teknologis, demografis, ekonomis, dan ekologis yang mereka hadapi. Dari semua yang tampak, adaptasi ini membawa kepada adaptedness, sehingga, karena keadaan mereka, para petani Hoindu tersebut jauh lebih baik memiliki kepercayaan itu daripada tidak. Jadi, adaptasi dan adaptedness saling berhubungan.

Namun,  pertimbangkanlah dua contoh lain di mana adaptasi membawa kepada akibat yang berbeda. Pada zaman modern ini, ukuran jumlah keluarga cenderung besar di banyak negara yang lebih miskin, karena di negara-negara ini kebanyakan orang hidup dengan bentuk pertnian tradisional. Petani dalam masyarakat ini menginginkan keluarga yang besar jumlahnya karena dengan memiliki banyak anak, semakin banyak menambah tanaga petani, dan semakin banyaknya petani, maka semakin mempunyai kesempatan yang besar untuk  memperbaiki produktivitas pertanian dan tingkat kesejahteraan ekonomi mereka. Karena itu, keluarga besar adalah sebuah adaptasi menurut pandangan setiap pasangan petani itu, dan adaptasi ini dapat membawa kepada adaptedness. Namun, sesuatu yang bersifat adaptif untuk sementara waktu bagi sepasang petani mungkin tidak adaptif bagi semua pasangan dalam jangka panjangnya. Efek menyeluruh dari keluarga besar petani ini adalah tingkat pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi bagi masyarakat secara keseluruhan, dan hasil akhir dari proses ini adalah semakin besarnya beban penduduk terhadp sumber daya yang ada, sehingga standar hidup bagi masing-masing pasangan petani semakin rendah. Jadi, apa yang semula merupakan adaptasi, secara paradoksal berakhir dengan  maladaptif dalam jangka panjang. Biolog Garret Hardin (1968) memberikan nama bagi proses ini dan proses serupa lainnya dengan nama grafik: ”Tragedi Bersama”.

Contoh lain dari jenis proses ini adalah ekspansi pendidikan dalam berbagai masyarakat modern. Sebab utama ekspansi pendidikan modern  adalah kompetisi di kalangan individu untuk memperoleh sertifikat pendidikan. Para individu berusaha memperoleh serifikat ini karena nilai ekonomisnya –yaitu kemampuannya untuk memperoleh pekerjaan yang diinginkan. Ketika semakin banyak individu yang memperoleh diploma dan ijazah, maka nilainya segera merosot karena meningkatnya penawaran para pemegang sertifikat tersebut di kalangan penduduk. Apa yang harus dilakukan seseorang dengan ijazah yang sudah menjadi murah? Mereka dapat menurunkan pilihan pekerjaannya, atau mereka tetap bertahan lebih lama di sekolah dan memperoleh ijazah yang lebih tinggi. Jika banyak orang memilih tindakan yang kedua, maka pendidikan terus meluas, dan nilai ijazah untuk memperoleh pekerjaan terus menurun, yang keduanya menunutut adanya gelombang pencarian ijazah yang baru, dan siklus tersebut terus berlanjut. Apa yang kita lihat di sini adalah proses melingkar yang berjalan sendiri. Dan jelaslah bahwa sebuah proses yang semula merupakan adaptasi –sebagai respon individu untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya—tetapi akhirnya melahirkan konsekuensi-konsekuensi  maladaptif dalam jangka panjang  –ijazah semakin murah, semakin banyak waktu yang dihabiskan sekolah, dan seterusnya.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa konsep adaptasi adalah konsep yang sulit dan kabur, sehingga harus dipahami secara bijaksana. Contoh-contoh ini juga berhubungan dengan peringatan lain tentang pemakaian konsep tersebut, yaitu agar ia tidak dikacaukan dengan beberapa ajaran tentang apa yang “baik” atau “disukai secara moral”.  Klaim tentang adaptasi adalah sebuah penilaian ilmiah tentang bagaimana berbagai jenis pola sosiokultural muncul, bertahan, dan berubah. Sebaliknya klaim tentang “kebaikan” sangat berbeda dengan itu. Ia adalah penilaian tentang apakah kita suka atau menyetujui sesuatu yang dilakukan orang. Dengan demikian, adalah sangat mungkin untuk secara sempurna mengidentifikasi sebuah pola sosiokultural sebagai sebuah adaptasi (dan adaptif) serta merasakan kejijikan moral terhadap pola tersebut. Sebagai contoh, suku Indian Yanimamo di Amerika Selatan secara teratur saling membunuh dalam perang berdarah dan membunuh sejumlah anak perempuan mereka, namun praktek tersebut dapat dipandang sebagai praktek yang sangat adaptif (Harris, 1974; 1987). Memahami kenyataan ini berarti membuat statemen ilmiah, dan bukan penilaian apakah ia dapat diterima secara moral.

Kita juga perlu memperoleh kejelasan tentang jenis unit tempat konsep adaptasi diterapkan –tentang apa yang beradaptasi.  Sebagian sosiolog  menyatakan bahwa adaptasi itu terjadi pada keseluruhan sistem sosiokultural. Ini dibenarkan, terutama oleh fungsionalis dan evolusionis fungsionalis (Parsons, 1966; 1971). Tetapi pendapat semacam itu tidak tepat. Sebagaimana telah disebutkan bahwa sistem sosiokultural tidak dapat diperbandingkan dengan organisme atau orang perorangan; ia tidak mempunyai hasrat dan kebutuhan, dan dengan demikian ia tidak dapat beradaptasi dengan sesuatu. Karena hanya orang perorangan yang mempunyai hasrat dan kebutuhan, maka hanya orang perorangan yang dapat  merupakan unit adaptasi. Tentu saja, kita kadang-kadang berbicara tentang, apakah sebuah trait sosiokultural bersifat adaptif atau tidak bagi sekelompok orang atau bahkan bagi masyarakat secara keseluruhan. Tetapi ketika kita membicarakannya, maka jelas bahwa kita hanya dapat merujuk kepada sekumpulan individu, dan dari sudut pandang masing-masing individulah adaptasi  atau adaptedness  dinilai.

Ini mendorong kita untuk mengakui titik krusial lain yang ditekankan oleh para teoritisi konflik, yaitu bahwa sebuah pola sosiokultural yang adaptif mungkin tidak menguntungkan secara sama bagi semua individu atau kelompok dalam sebuah masyarakat. Seringkali terjadi sebuah pola yang menguntungkan sebagian individu atau kelompok merupakan pola yang maladaptif bagi sebagian yang lain. Memang, jika masyarakat semakin kompleks secara evolusioner, maka semakin sering ini terjadi. Kapitalisme industrial pada masa awal, misalnya, adaptif bagi para pemilik perusahaan yang kaya, tetapi sangat maladaptif bagi ribuan pekerja pabrik yang mati karena kelaparan, kurang gisi, dan penyakit (Engels, 1845). Dan ini sangat berbeda dengan kapitalisme modern sebagai pola yang adaptif bagi sekelompok kecil penduduk dunia. Adalah sangat penting mengakui bahwa sama sekali tidak tepat mengklaim bahwa adaptedness adalah kualitas yang meningkat sepanjang evolusi sosiokultural. Banyak para evolusionis yang menyamakan evolusi sosiokultural dengan adaptedness yang lebih baik, dengan menyatakan bahwa secara evolusioner, masyarakat-masyarakat yang lebih belakangan telah meningkatkan “kapitalis adaptif” mereka. Gagasan ini diajukan dengan sangat serius oleh Parsons dan para evolusionis fungsionalis lainnya, tetapi gagasan ini juga didukung oleh sebagian  evolusionis materialis (Childe, 1936; White, 1959). Namun buku ini menolak pandangan tersebut, yang cenderung kepada etnosentrisme dan sulit didukung dengan kriteria objektif ilmiah (Granovetter, 1979). Bentuk-bentuk sosiokultural baru muncul sebagai adaptasi, tetapi adaptasi yang dipilih ini lebih bersifat adaptasi yang lebih baru daripada adaptasi yang lebih baik.

Akhirnya,  harus diakui bahwa tidak semua pola sosiokultural merupakan adaptasi, dan dengan demikian konsep adaptasi tidak memiliki daya serap universal. Tetapi walaupun kita tidak dapat menggunakan konsep ini pada setiap tempat dan waktu, kita masih jauh lebih baik jika memilikinya daripada tidak. Memang, dengan memiliki pandangan tentang adaptasi sebagai unsur yang mengarahkan, kita akan berada pada posisi mengenali trait-trait sosiokultural mana yang bukan merupakan adaptasi dan mengapa demikian.

e.  Perbedaan Evolusi Biologis dengan Evolusi Sosiokultural

Para ilmuwan sosial sejak lama tertarik kepada hubungan antara  evolusi biologis dan evolusi sosiokultural. Kedua proses ini mempunyai persamaan dan juga perbedaan signifikan, dan barangkali ada gunanya membahasnya secara garis besar..

Dua kesamaan dasar antara kedua jenis evolusi ini dapat dikenali. Pertama, baik evolusi biologis maupun sosiokultural, keduanya merupakan proses adaptif (juga, dalam pengertian adaptasi dan adaptedness). Bentuk biologis baru, sebagaimana pola  sosiokultural baru, pada umumnya muncul sebagai adaptasi terhadap keadaan yang berubah. Kedua, kedua bentuk evolusi tersebut memiliki karakter “ganda” yang diidentifikasi oleh Marshall Sahlins: keduanya memperlihatkan kecenderungan yang mengarah mengikuti berbagai pengaruh yang ada pada banyak jalur-jalur yang spesifik.

Kita dapat beranjak lebih jauh dan berkata bahwa proses evolusi paralel, divergen dan konvergen berlaku baik kepada evolusi biologis  maupun evolusi sosiokultural. Ini benar secara teknis, tetapi ia bisa juga menyesatkan, karena kebanyakan evolusi biologis ternyata merupakan evolusi divergen (istilah biologisnya cladogenesis). Kebanyakan evolusi biologis meliputi radiasi adaptif berbagai spesies pada tingkat phylogenetik yang sama, dan peralihan evolusioner ke tingkat-tingkat phylogenetik yang baru relatif jarang terjadi (Stebbins, 1969; 1974).  Sebaliknya, kebanyakan evolusi sosiokultural merupakan evolusi konvergen dan paralel. Ini berarti bahwa evolusionis biologis menghabiskan banyak waktu mereka untuk mengkaji munculnya bentuk-bentuk kehidupan yang unik, sementara evolusionis sosial memusatkan perhatian mereka kepada munculnya pola-pola sosiokultural yang sama di berbagai kawasan dunia (Sanderson, 1990).

Perbedaan kedua meliputi sejauh mana evolusi sosiokultural dapat dikatakan didasarkan atas sebuah proses seleksi alam.  Karena banyak evolusi sosiokultural mencakup seleksi terhadap trait-trait yang adaptif, ia juga mencakup semacam proses seleksi alam (Carneiro, 1985). Namun, ini hanya benar secara garis besarnya saja. Secara lebih ketat, cara kerja seleksi alam dalam dunia biologis sangat berbeda dengan cara yang berlaku pada kehidupan sosial. Perbedaannya meliputi sumber perbedaan yang mendasari perbedaan cara kerjanya. Kita telah melihat bahwa dalam evolusi biologis berbagai variasi yang diseleksi untuk dipelihara atau dihambat            -mutasi genetik- muncul dengan cara-cara yang betul-betul acak. Walaupun sebagian evolusionis sosial menyatakan bahwa variasi sosiokultural juga muncul dengan cara yang sama (Campbell, 1965; Langton, 1979), kenyataannya  sangat berbeda. Banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa kebanyakan inovasi sosiokultural dilakukan secara sengaja dan sama sekali tidak acak.

Dua perbedaan lain antara  evolusi dalam dua kenyataan ini juga penting. Salah satunya berkaitan dengan kecepatan perubahan. Evolusi sosiokultural jauh lebih cepat, dan diperkirakan terjadi  pada 99% sejarah manusia (hampir tiga juta tahun), pada jangka waktu itu yang selainnya berubah dengan sangat lamban. Ternyata evolusi sosiokultural berkembang dengan sendirinya, sehingga kecepatan perubahannya sekarang sangat tinggi (kecepatan evolusi sosiokultural  yang luar biasa ini  jelas terkait dengan kenyataan bahwa berbagai perbedaan sosiokultural lebih bersifat disengaja dan bertujuan daripada acak). Akhirnya, ada proses evolusioner sosiokultural yang dikenal dengan diffusi, yang tidak ada paralelnya dalam dunia biologi. Diffusi meliputi penyebaran trait sosiokultural dari saru sistem sosiokultural ke sistem sosiokultural yang lain. Ini dapat terjadi melalui peminjaman secara sengaja atau melalui pemaksaan sejumlah trait oleh masyarakat yang lebih kuat terhadap yang lebih lemah. Diffusi sering kali dilakukan untuk penemuan, dalam arti bahwa suatu masyarakat dapat mengambil dari masyarakat lain apa yang dianggap penting untuk mengembangkan diri sendiri (Ingold, 1986). Tidak ada persamaan proses ini dalam dunia alamiah. Organisme tidak dapat meminjam gen dari organisme lain untuk mengatasi kondisi lingkungannya yang berubah.

3.  Pendekatan Materialis Terhadap Strukitur dan Evolusi Ssosiokultural

Pertanyaan terpenting tentang sistem sosiokultural  menyangkut sebab-sebab adanya kekhasan dan terjadinya perubahan. Pendekatan materilis  kontemporer dalam mengkaji kehidupan sosial menemukan pijakan dalam “konsepsi materialis tentang sejarah” yang dikemukakan Marx dan Engels. Bagaimanapun juga, versi  modern dari strategi materialis adalah elaborasi substansial terhadap gagasan mereka. Sebagaimana Marx dan Engels, materialis kontemporer melihat berbagai faktor material, seperti teknilogi dan ekonomi sebagai termasuk sebab musabab utama dalam kehidupan sosial. Tetapi mereka juga memperluas pengertian tentang faktor-faktor material, sehingga mencakup variabel-variabel ekologis dan demografis, dan mereka memandangnya sebagai sebab musabab penting tambahan dalam berbagai gejala sosiokultural. Dengan demikian, materialisme kontemporer merupakan versi lebih kompleks dan canggih dari versi Marxian aslinya. Juru bicara kontemporer yang paling gencar bagi strategi teoritis materialis adalah Marvin Harris (1974; 77; 79), yang gagasan-gagasannya meletakkan dasar bagi banyak argumen teoritis materialis yang dikembangkan dalam buku ini.

Pendekatan materialis adalah sebuah strategi teoritis umum yang dirancang untuk menjelaskan ciri-ciri dasar sistem sosiokultural dan perubahan-perubahan evolusioner yang bersifat paralel, divergen, dan konvergen yang dialami ciri-ciri dasar tersebut. Ia juga dirancang untuk menjelaskan kontinuitas, devolusi, dan kepunahan sosiokultural. Dalam kenyatannya, seluruh kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan sosiokultural mempunyai arena aplikasinya sendiri-sendiri. Karena pendekatan materialis merupakan sebuah strategi teoritis,  “banyak terori” materialis spesifik yang termasuk di dalamnya.

a.  Sifat Umum Pendekatan Materialis

Pendekatan teoritis materialis yang dipakai dalam buku ini  menegaskan bahwa infrastruktur masyarakat merupakan penentu utama bagi strukturnya, dan pada giliran berikutnya, struktur merupakan penentu superstrukturnya. Yakni, kondisi-kondisi infrastruktur merupakan penentu utama pola-pola dasar perilaku interpersonal suatu masyarakat, dan pola-pola perilaku ini pada gilirannya melahirkan pola-pola pemikiran khas yang memberikan justifikasi dan interpretasi terhadap kenyataan-kenyataan perilaku. Karena itu, berbagai gagasan menemukan asal-usulnya dalam pola-pola perilaku kongkrit yang secara sistematis dilakukan oleh para anggota suatu masyarakat, dan pola-pola perilaku ini berkesesuaian dengan kondisi-kondisi infrastrutural di mana orang memecahkan problem dasar eksistensi manusia.

Tentu saja, pendekatan materialis adalah suatu cara menjelaskan, baik struktur maupun evolusi sistem sosiokultural. Sebagai sebuah pendekatan terhadap evolusi, ia menyatakan bahwa perubahan biasanya berawal dari satu atau lebih faktor infrastruktural. Perubahan-perubahan dalam infrastruktural selanjutnya melahirkan perubahan-perubahan yang mempengaruhi bagi struktur maupun suprastruktur. Jadi, perubahan dalam pola berpikir biasanya bergantung kepada perubahan-perubahan yang terjadi sebelumnya dalam pola perilaku, dan pola perilaku ini sendiri pada umumnya merupakan akibat dari perubahan-perubahan infrastruktural yang terjadi sebelumnya.

Stretegi meterilis menyatakan bahwa faktor-faktor infrastruktural merupakan penentu utama, tetapi bukan satu-satunya, berbagai gejala struktural dan suprastruktural. Sebenarnya, superstruktur dan struktur  memiliki independensi parsial dari infrastruktur, dan ia kadang-kadang dapat berlaku sebagai kekuatan-kekuatan kausal pada dirinya sendiri. Namun dampak struktur dan superstruktur terhadap infrastruktur lebih kecil daripada sebaliknya.

Satu kelebihan utama pendekatan materialis ialah, karena ia memberikan serangkaian prioritas penelitian agar logis bagi pengkajian terhadap kehidupan sosiokultural. Sebagaimana dinyatakan Marvin Harris (1979), ia mengarahkan peneliti untuk memulai penelitiannya tentang faktor-faktor penentu gejala-gejala sosiokultural dengan mempertimbangkan kondisi-konsi infrastruktural. Bisa saja kondisi-kondisi ini memberikan kunci untuk menjelaskan gejala yang dipersoalkan. Jika sebuah penelitian yang tekun gagal mengungkapkan dampak kausal dari faktor-faktor infrastruktural, seorang peneliti dibenarkan mengalihkan pengujian kepada kondisi-kondisi struktural sebagai sebab-sebab yang mungkin bagi suatu gejala. Kegagalan menemukan sebab-sebab struktural, selanjutnya, membolehkan peneliti untuk memeriksa kemungkinan ada sebab-sebab yang bersifat superstruktural. Dengan demikian, sebab-sebab superstruktural mungkin dicari hanya setelah peneliti gagal menunjukkan berlakunya sebab-sebab infrastruktural dan struktural.  Jenis pendekatan ini jauh lebih baik daripada dengan pendekatan lain yang dipakai oleh para peneliti lain, yaitu yang membalikkan prosedur yang bergerak dari superstruktur ke struktur ke infrastruktur, atau yang mengasumsikan bahwa ketiga komponen tersebut mempunyai pengaruh kausal timbal balik satu sama lain.

Pembahasan singkat tentang pendekatan materialis ini sangat menyederhanakan hakikat sebab musabab dalam sistem sosiokultural. Ia tidak mempertajam, misalnya, faktor atau faktor-faktor infrastruktural khusus yang  secara kausal paling penting dalam situasi yang ada. Namun, adalah tidak mungkin untuk mengungkapkan pengaruh ini secara abstrak. Dengan mengandalkan gejala yang sedang diteliti, suatu faktor (atau kombinasi faktor-faktor) infrastruktural barangkali merupakan sebab utama yang terpenting.  Dalam kasus tertentu, faktor teknologi mungkin merupakan faktor terpenting sementara dalam kasus ini, faktor ekologis, demografik, dan ekonomi dapat dipandang sebagai faktor utama. Spesifikasi untuk menentukan pernyataan  yang tepat tentang sebab infrasturktural, hanya dapat diberikan  setelah melalui penelitian terhadap gejala-gejala sosiokultural yang kongkrit.

Berkaitan dengan problem di atas, fakta menunjukkan bahwa hubungan-hubungan kausal ada di dalam, dan bukan hanya di antara, berbagai komponen sosiokultural itu sendiri. Faktor ekologis dan demografik, misalnya, termasuk determinan utama terhadap tingkat teknologi, dan tingkat teknologi selanjutnya merupakan faktor penting yang mempengaruhi sistem ekonomi. Lebih dari itu, ada stratifikasi sosial, yang merupakan unsur struktur sosial, merupakan faktor penentu penting bagi unsur-unsur  struktur yang lain. Walaupun berbagai problem ini disinggung di sini, namun bukan merupakan upaya untuk memasukkan semua hubungan kausal yang ada di dalam dan di antara komponen-komponen dasar sosiokultural, ke dalam formulasi pandangan  materialis kita yang abstrak. Melakukan ini akan membuatnya sulit dipakai, dan dengan demikian mengurangi kegunaannya sebagai sebuah alat analisis yang bersifat umum.

b.  Prioritas Logis Infrastruktur

Ada dua cara pokok pendekatan materialis terhadap kehidupan sosial dapat ditunjukkan sebagai strategi yang lebih baik dibandingkan dengan strategi lain yang sekarang ada dalam ilmu sosial. Salah satu cara adalah  menundukkan strategi materialis kepada pengujian empiris yang rinci dan ketat terhadap sejumlah besar perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan sosiokultural. Jika sebuah strategi materialis berhasil menjelaskan sejumlah besar perbedaan dan persamaan ini, maka kegunaan teoritis pendekatan ini dapat dikukuhkan.  Buku ini mengambil posisi bahwa pengujian empiris yang ketat semacam itu telah dilakukan dalam skala yang cukup luas, dengan hasil yang cukup memuaskan, sehingga kebergunaan pendekatan ini tidak dapat lagi diragukan secara serius. Suatu pendekatan materialis tidak dapat menjelaskan semua gejala sosiokultural yang relevan, tetapi memang tidak ada pendekatan yang dapat berbuat seperti itu. dalam satu peristiwa. Pendekatan materialis jauh lebih berhasil memberikan penjelasan daripada pesaingnya yang lain; ini merupakan justifikasi yang cukup untuk pemakainya sebagai strategi teoritis yang bersifat umum.

Cara lain untuk menjustifikasi pilihan ini adalah, karena strategi materialis lebih mendasarkan dirinya kepada dasar-dasar logis daripada empiris. Dinyatakan bahwa faktor-faktor  infrastruktural mempunyai prioritas kausal yang logis atas faktor-faktor struktural dan superstruktural. Materialis memandang variabel-variabel infrastruktural lebih utama karena ia membantu cara-cara dasar di mana manusia memecahkan problem kehidupannya yang paling dasar.  Sebelum manusia dapat memformulasikan aturan perkawinan, mengorganisasikan sistem politik dan membangun konsep keagamaan yang abstrak, mereka harus mengorganisasikan cara bagaimana mereka dapat bertahan hidup.

4.  Prinsip- Prinsip Strategi Teoritis Evolusi Materialis

Pendekatan evolusioner materialis terhadap kehidupan sosial  memiliki beberapa prinsip penting yang berfungsi sebagai tema-tema yang mengarahkan seluruh kelanjutan buku ini.

a.  Prinsip Adaptasi sosiokultural

Prinsip adaptasi sosiokultural menyatakan bahwa berbagai gejala sosiokultural merupakan konsekuensi adaptif terhadap kebudayaan  dan hasrat dasar manusia. Ini berarti bahwa pola-pola sosial umumnya diciptakan oleh manusia, sebagai respon rasional terhadap masalah-masalah dasar yang harus mereka pecahkan. Ketika sifat dari masalah-masalah ini berubah,  respon terhadapnya pun berubah pula.  Semua peringatan  yang telah kita bicarakan tentang pemakaian istilah adaptasi dan adaptedness sepenuhnya berlaku dalam aplikasi prinsip ini.

b.  Prinsip Konflik

Prinsip konflik sebenarnya berasal dari strategi teoritis konflik, tetapi ia juga secara tipikal memainkan peran penting dalam pemikiran banyak materialis. Prinsip ini menyatakan bahwa konflik atau pertentangan  di antara berbagai individu dan kelompok untuk memperebutkan sumber daya yang terbatas, merupakan kejadian yang senantiasa ada dalam kehidupan sosial, dan bahwa konflik tersebut merupakan determinan penting bagi pola-pola sosiokultural dasar. Konflik sangat sering terjadi untuk memperebutkan sumber daya material yang menopang kehidupan manusia. Konflik tersebut sering membawa kepada stratifikasi sosial, yaitu formasi pola-pola sosiokultural di mana sebagian kelompok memenangkan dominasi ekonomi dan politik terhadap yang lain. Pola-pola stratifikasi sosial yang muncul memainkan peran signifikan dalam pembentukan berbagai aspek kehidupan sosiokultural lainnya.

Prinsip konflik menegaskan bahwa orang-orang umumnya bertindak untuk memaksimalkan kepentingan mereka sendiri, apakah sebagai individu atau sebagai anggota kelompok sosial yang lebih besar. Di bawah banyak kondisi, usaha untuk memaksimalkan kepentingan individu atau kelmpok tersebut mengakibatkan lahirnya konflik dan dominasi, serta subordinasi pola ekonomi dan politik yang terstruktur. Pola-pola ini seringkali melahirkan konflik dan pertentangan  yang lebih dalam. Para individu seringkali bekerja sama satu sama lain karena mereka menyadari bahwa kerja sama tersebut penting bagi kelangsungan hidup dan kesejahteraan mereka. Gejala ini diberi nama kerja sama antagonistik atau kepentingan diri yang tercerahkan (Lenski, 1966).

c.  Prinsip Determinisme Infrastruktural

Prinsip determinan infrastruktural, prinsip terpenting dari semua prinsip strategi evolusioner materialis, sudah dibahas. Ia menegaskan bahwa faktor-faktor infrastruktural  merupakan penentu utama bagi penataan struktural dan superstruktural. Ia dirancang untuk menjelaskan seluruh rentang perbedaan dan persamaan  yang lahir dari kontinuitas, devolusi, dan kepunahan sosiokultural.

d.  Prinsip Integrasi Sosiokultural

Prinsip integrasi sosiokultural merujuk kepada kecenderungan  komponen-komponen pokok sistem sosiokultural untuk menyatu ke dalam keseluruhan sistem yang kurang lebih konsisten. Satu jenis infrastruktur tertentu hanya cocok dengan sejumlah terbatas struktur dan superstruktur. Walaupun tidak mungkin membuat prediksi yang tepat tentang sifat struktur dan superstruktur berdasarkan pengetahuan tentang infrastruktur, adalah memungkinkann untuk mengindikasikan struktur dan infrastruktur yang jarang atau tidak akan pernah terdapat pada  infrastruktur tertentu. Sebagai contoh, pemerintahan-pemerintahan yang tersentralisasi tidak pernah ditemukan di kalangan masyarakat pemburu dan peramu, tetapi semua masyarakat industrial modern menerapkannya. Demikian juga, masyarakat yang menopang hidup mereka dengan pertanian sederhana untuk memenuhi persediaan makanan mereka, biasanya memiliki kelompok kekerabatan yang rumit yang disebut clan, tetapi kelompok keluarga semacam itu tidak pernah ditemukan dalam masyarakat industrial modern.


BAB 4

POLA-POLA TEKNOLOGI SUBSISTENSI PRA-INDUSTRIAL

Untuk dapat bertahan hidup, semua masyarakat harus membangun sistem teknologi dan ekonomi. Teknologi dan ekonomi adalah dua bidang yang sangat terkait dalam semua masyarakat, tetapi tidak berarti keduanya sama. Teknologi suatu masyarakat terdiri atas peralatan, teknik, dan pengetahuan, yang diciptakan anggotanya untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginan mereka. Sedangkan ekonomi suatu masyarakat berisi cara-cara yang diorganisasikan secara sosial, dengan cara tersebut barang dan jasa diproduksi dan didistribusikan. Bab ini memulai pembahasan tentang evolusi teknologi, yang di sini dikonsepsikan sebagai teknologi sumsistensi, atau teknologi yang secara langsung berkaitan dengan usaha menopang hidup. Pembahasan dibatasi dalam  lima jenis teknologi subsistrensi dan diatur menurut urutan evolusioner yang umum, yaitu berburu dan meramu, hortikultura sederhana, hortikultura intensif, agrarisme atau pertanian intensif, dan pastoralisme. Yang menjadi perhatian di sini adalah sifat-sifat teknologi subsistensi ini sekaligus juga alasan mengapa teknologi subsistensi yang satu menggantikan yang lain dalam sejarah evolusioner spesies manusia.

1.  Masyarakat Pemburu dan Peramu

Sekitar 99% dari sejarah perjalanan hidupnya, umat manusia menopang hidup mereka sepenuhnya dengan berburu binatang liar dan meramu hasil dari tanaman liar. Monopoli cara hidup berburu dan meramu dalam kehidupan manusia tidak berakhir sampai 10.000 tahun yang lalu, ketika sebagian masyarakat mulai menopang hidupnya dengan pertanian. Dalam waktu 10.000 tahun berjalan, masyarakat pemburu-peramu semakin berkurang, dan hanya sedikit yang tersisa sekarang. Kebanyakan mereka terdapat  di lokasi-lokasi geografis yang relatif terpencil, seperti di wilayah kering dan semi kering Australia, daerah hutan pusat hujan dan padang pasir sebelah selatan Afrika dan Kutub Utara. Masyarakat ini mungkin tidak akan bertahan dalam beberapa dasawarsa lagi,. Dan pada awal abab XXI, cara hidup berburu dan meramu ini diperkirakan  akan hanya merupakan peninggalan sejarah yang diketahui melalui etnografi dan arkeologi.

Kebanyakan pengetahuan kita tentang masyarakat pemburu-peramu sekarang ini didasarkan atas karya penelitian lapangan yang dilakukan  pada masyarakat pemburu-peramu yang masih bertahan hingga sekarang. Tidak dapat diketahui secara pasti, sejauh mana berbagai masyarakat ini menyerupai  keadaan masyarakat pemburu dan peramu pada masa-masa pra-sejarah. Pastilah ada sejumlah perbedaan, tetapi mungkin juga terdapat banyak kesamaan yang mencolok. Dalam peristiwa tertentu, deskripsi tentang cara hidup berburu dan meramu yang diikuti, didasarkan terutama kepada hasil penelitian etnografik kontemporer.

Kehidupan peramu dan pemburu dalam kelompok-kelompok kecil dikenal dengan kelompok lokal (lokal bands). Kelompok-kelompok ini berjumlah sekitar 25 sampai 50 orang lelaki, perempuan, dan anak-anak yang bekerja sama dalam upaya menopang kehidupan mereka. Masing-masing kelompok lokal kurang lebih otonom secara politik, dan secara ekonomi merupakan unit yang hidup dengan swasembada. Namun, banyak kelompok lokal yang  dihubungkan dengan ikatan perkawinan ke dalam unit kultural yang lebih luas, yang kadang-kadang dikenal dengan suku. Suku adalah jaringan berbagai kelompok yang semua anggotanya mengikuti pola kultural yang sama dan berbicara dengan bahasa yang sama pula. Lebih dari itu, komposisi masing-masing kelompok lokal berubah secara konstan. Orang seringkali berpindah  dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain. Gerak perpindahan itu dapat terjadi karena perkawinan atau kebutuhan untuk menciptakan keseimbangan yang lebih baik antara jumlah penduduk dan persediaan makanan.

Para pemburu-peramu umumnya menggantungkan diri kepada pengumpulan sebagian besar makanan mereka. Richard Lee (1968) memperkirakan bahwa masyarakat pemburu-peramu kontemporer memperoleh hampir 65% makanan mereka dari mengumpulkan berbagai jenis makanan, dan dia percaya bahwa gambaran ini banyak kesamaannya dengan berbagai aktivitas subsistensi masyarakat peramu-pemburu masa pra-sejarah. Namun, biasanya lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk aktivitas berburu, dan daging adalah makanan yang nilainya jauh lebih tinggi.

Karena pemburu-peramu lebih merupakan pengumpul ketimbang penghasil makanan, mereka harus mengembara ke wilayah geografis yang luas dalam usaha mencari makanan. Dengan demikian, mereka umumnya  nomadik, dan jarang membangun tempat permanen.

Penemuan teknologi masyarakat pemburu-peramu sangat terbatas. Alat dan senjata yang digunakan secara langsung untuk menopang hidup umumnya terdiri dari tombak, busur dan anak panah, jaring dan parangkap yang digunakan untuk berburu, dan tongkat penggali untuk meramu. Alat-alat tersebut kasar dan sederhana, umumnya terbuat dari batu, kayu, tulang, atau bahan alamiah lainnya. Biasanya hanya sedikit atau tidak ada teknik untuk penyimpanan atau pemeliharaan, dan dengan demikian, makanan biasanya dikonsumsi secara langsung atau dalam jangka waktu yang pendek.

Struktur masyarakat pemburu-peramu paling sederhana dibanding-kan dengan semua masyarakat manusia. Pembagian kerja didasarkan atas umur dan perbedaan jenis kelamin secara sangat ketat. Tanggung jawab utama untuk menopang hidup biasanya jatuh kepada orang-orang yang berusia setengah baya, dan para anggota masyarakat muda dan tua kurang dibebani tanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan  subsisten kelompok.  Berburu dilkakukan oleh para lelaki, dan meramu oleh para perempuan. Walaupun perempuan kadang-kadang juga berburu atau memasang perangkap untuk binatang-binatang yang kecil, mereka tidak pernah telibat dalam berburu binatang besar. Demikian juga, lelaki kadang-kadang melakukan aktivitas meramu, tetapi mereka adalah peramu penting dalam masyarakat  yang bukan pemburu-peramu. Masyarakat peramu-pemburu terkenal tidak begitu terspesialisasi dalam pekerjaan selain tugas-tugas subsistensi. Tidak ada “pembuat panah” atau “pembuat busur” spesialis. Setiap lelaki membuat semua alat-alat yang dibutuhkan dalam usaha subsistensi. Demikian juga kaum perempuan.

Unit subsistensi utama di kalangan pemburu-peramu adalah keluarga, dan karena itu kehidupan ekonomi dapat diistilahkan bersifat familistik (Service, 1966). Namun, masing-masing keluarga dalam setiap kelompok lokal disatukan dalam sebuah unit ekonomi yang menyeluruh. Walaupun masing-masing keluarga memenuhi kebutuhan subsistensinya sendiri-sendiri, mereka juga memberikan kontribusi secara signifikan bagi subsistensi keluarga lain dalam kelompoknya.

Masyarakat pemburu-peramu sangat dikenal dalam  hal kegagalan mereka menghasilkan surplus ekonomi, kelebihan barang melebihi keperluan subsistensi. Banyak yang percaya bahwa hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan mereka melakukan itu, sebuah ketidakmampuan yang dikarenakan kehidupan marginal dan genting. Penelitian kontemporer menunjukkan hal yang sebaliknya. Para ilmuwan sosial sekarang  pada umumnya setuju bahwa kegagalan menghasilkan surplus disebabkan tidak adanya kebutuhan untuk itu. Karena sumber daya alam selalu tersedia untuk diambil, maka alam itu sendiri menjadi sejenis gudang yang sangat besar.

Para ilmuwan sosial biasanya menggambarkan masyarakat pemburu-peramu dalam ungkapan yang sangat negatif. Secara luas diyakini bahwa mereka menjalani kehidupan  yang genting dan sulit, suatu kehidupan di mana orang harus bekerja keras dan lama sekadar untuk memenuhi taraf kehidupan subsistensi yang sederhana. Namun, dalam waktu seperempat abad terakhir,  para ilmuwan sosial secara radikal membuang pandangan tentang masyarakat pemburu-peramu seperti ini. Sahlins (1972), misalnya, memandang mereka sebagai suatu “masyarakat asli yang makmur”. Dengan istilah ini, yang dimaksud bukan berarti mereka kaya dan menikmati pemilikan  material yang melimpah ruah, tetapi bahwa mereka dapat memenuhi semua kebutuhan dan keinginan material mereka dengan kerja minimum. Untuk menilai pernyataan Sahlins ini, kita perlu melihat secara cermat standar hidup masyarakat pemburu-peramu dan berapa lama dan keras mereka bekerja.

Di samping adanya kenyataan bahwa sebenarnya semua masyarakat pemburu-peramu kontemporer berada di lingkungan marginal, lingkungan ini seringkali berubah menjadi lingkungan yang sangat berlimpah dengan sumber daya. Sebagai contoh, Richard Lee (1968) manyatakan bahwa masyarakat !Kung San (tanda ! diletakkan untuk suara ceklekan dalam bahasa)  di Afrika bagian selatan mampu menggantungkan hidup kepada berbagai ragam sumber makanan yang cukup baik. Sumber makanan pokok mereka adalah mongongo, dan ribuan pon biji ini membusuk setiap tahun tanpa dipungut. Lebih dari itu, habitat !Kung  mengandung 84 spesies tanaman lain yang juga dapat dimakan, dan kegiatan meramu yang dilakukan oleh !Kung tidak pernah menghabiskan semua tanaman yang tersedia pada satu wilayah. Demikian juga, James Woodburn (1968) telah menunjukkan bahwa masyarakat Hadza, Tanzania, menikmati sejumlah binatang yang sangat berlimpah, dan dia berpendapat bahwa hampir tidak dapat dibayangkan mereka akan mengalami kelaparan. Jadi, tampaknya masyarakat !Kung dan  Hadza mencapai standar hidup yang sangat mencukupi keperluan subsisten dasar manusia.

Kesan ini dikuatkan oleh survey yang dilakukan Mark Cohen (1989) dalam usaha mengkaji makanan dan gisi di kalangan banyak kelompok pemburu-peramu.  Peninjauan yang dilakukan Cohen terhadap berbagai  kajian manunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat  pemburu-peramu umumnya menikmati makanan yang sangat memenuhi standar gisi. Beberapa kelompok, seperti !Kung, mungkin jarang memperoleh sejumlah kalori yang cukup, tetapi makanan mereka dilimpahi protein hewani dan berbagai bahan makanan bergisi. Tampak juga, bahwa kebanyakan masyarakat pemburu-peramu menderita kelaparan dan kurang makan secara musiman, dan kadang-kadang bencana kelaparan terjadi. Namun, bukan hal yang tidak biasa terjadi pada masyarakat maju lainnya. Penduduk pertanian menetap juga mengalami kesulitan semacam ini, dan sangat mungkin terjadi dalam ukuran yang lebih besar.

Jika masyarakat pemburu-peramu umumnya menikmati kananan yang mencukupi, seberapa lama dan keras mereka harus bekerja untuk memperolehnya? Sejumlah bukti menunjukkan bahwa kebanyaka kelompok ini tidak bekerja keras dan dalam waktu lama. Dengan memeriksa data yang terkumpul tentang berbagai aktivitas subsistensi kelompok pemburu-peramu Arnhem Land di Australia bagian utara, Sahlins menyatakan bahwa kelompok-kelompok tersebut tidak bekerja keras atau secara terus-menerus, sehingga pencarian kebutuhan subsistensi hanya dilakukan sebentar-sebentar, dan banyak sekali waktu luang yang tersedia. Dengan cara yang sama, Lee (1979) mengkalkulasi bahwa rata-rata orang dewasa pada masyarakat !Kung menghabiskan hanya 17 jam per minggu untuk aktivitas mencari makanan. Woodburn (1968) menunjukkan bahwa masyarakat  Hadza memperoleh makanan yang cukup dengan relatif mudah, dan kahidupan bagi mereka bukanlah pergumulan eksistensi yang sulit. Dia percaya bahwa mereka menghabiskan waktu dan energi yang lebih sedikit dalam memenuhi kebutuhan subsistensi dibandingkan dengan tetangga mereka yang hidup bertani.

Kajian-kajian lain tentang aktivitas subsistensi masyarakat pemburu-peramu tidak banyak dilakukan, paling tidak karena tidak terpublikasi secara luas.  Kalau data Lee tentang pola kerja masyarakat !Kung dikumpulkan pada musim kering, John Yellen (1977) mengkaji sekelompok masyarakat !Kung pada musim hujan. Dia menemukan bahwa selama musim hujan tahun itu, mereka bekerja lebih lama, walaupun tidak jelas secara pasti seberapa lamanya.  Data Yellen secara pasti menguji data yang diperoleh oleh Lee, tetapi tidak dapat dikatakan meruntuhkan tesis dasarnya tentang masyarakat asli yang makmur. Walaupun kita anggap bahwa !Kung bekerja pada musim hujan dua kali lebih keras daripada musim kering, maka sepanjang tahun mereka hanya menghabiskan waktu mencari makanan rata-rata sekitar 25 jam perminggu.

Kim Hill, Hillard Kaplan, Kristen Hawkes dan Ana Magdalena Hurtado (1985)  telah menganalisis berbagai aktivitas subsistensi masyarakat Ache di Paraguay. Mereka menemukan bahwa lelaki Ache menghabiskan banyak waktu mereka untuk berburu  -mungkin sebanyak 40-50 jam perminggu—dan mereka menyimpulkan analisis ini dari gambaran Sahlins, bahwa masyarakat pemburu-peramu yang bekerja sedikit, tidak benar. Namun, kajian ini harus dilihat dalam konteks yang tepat. Ache adalah masyarakat hutan tropis, dan binatang biasanya diperkirakan sangat langka pada lingkungan ini (Harris, 1977). Maka tidaklah mengherankan, bahwa lelaki Ache menghabiskan begitu banyak waktu untuk berburu. Ache bukanlah kasus yang baik untuk membuat generalisasi yang luas tentang pola kerja masyarakat pemburu-peramu.

Akan tampak, setelah semua dikatakan dan dianalisis, bahwa tesis Sahlins tentang masyarakat asli yang makmur sangat memadai. Ini tampaknya benar, terutama ketika kita menyadari bahwa kebanyakan yang kita tahu tentang standar hidup dan pola kerja pemburu-peramu didasarkan atas kelompok-kelompok pemburu-peramu kontemporer. Karena hampir semua kelompok ini hidup di lingkungan-lingkungan marginal, maka masyarakat pemburu-peramu masa pra-sejarah, yang kebanyakan mereka  berada di lingkungan yang lebih baik, tentu juga hidup lebih baik. Kita harus menghindari meromantisasi gaya hidup pemburu-peramu sebagai gaya hidup sorga primitif. Jelas, itu adalah oversimplikasi yang sulit diterima. Namun, peramu-pemburu memang hidup jauh lebih baik dari apa yang biasa kita bayangkan. Sebagaimana disimpulkan Elizabeth Cashdan (1989:26), sekarang memungkinkan untuk “membongkar dengan yakin stereotipe  lama bahwa masyarakat pemburu-peramu harus bekerja sepanjang waktu hanya untuk memperoleh makan yang cukup.” Dan juga memungkinkan untuk membongkar dengan yakin stereotipe lama bahwa masyarakat pemburu-peramu tidak memperoleh makanan yang baik.

  1. 2. Masyarakat Hortikultura Sederhana

a.  Revolusi Neolitik

Walaupun masyarakat pemburu-peramu mungkin sudah mengetahui sejak 10.000 tahun yang lalu bagaimana cara menjinakkan (domesticate) tanaman dan binatang, belum sampai 10.000 tahun yang lalu sebagian mereka mulai hidup menetap di desa-desa dengan mempraktekkan pertanian. Transisi manusia ke pola kehidupan pertanian (bahasa teknisnya, hortikultura) dikenal  dengan Revolusi Neolitik. Sebenarnya, istilah revolusi neolitik agak menyesatkan, karena tidak ada transisi revolusioner yang bersifat tunggal. transisi ke pertanian terjadi secara independen di beberapa bagian dunia yang berbeda dan dalam waktu yang berbeda..

Penerapan pertanian terjadi pada pertama kalinya di Timur Tengah. Tanaman terpenting yang  didomestikasikan adalah  gandum dan gerst (barley), sementara binatang piaraan terpenting adalah biri-bri, kambing, dan babi. Proses domestikasi tersebut tampaknya mengikuti munculnya desa-desa permanen yang diorganisasi di saat memanen tanaman liar seperti gandum dan gerst. Setelah munculnya pertanian di Timur Tengah, ia menyebar melalui difusi ke Eropa, walaupun tanaman yang didomestikasikan banyak mengalami perubahan agar sesuai dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Namun, begitulah keadaan saat itu, sebelum komunitas pertanian menjadi umum di Eropa, dan 5.500 tahun yang lalu pertanian menjadi umum dilakukan di seluruh kepulauan Britania.

Komunitas pertanian muncul secara independen di dua wilayah Dunia Lama (Old World) yang lain, yaitu Cina dan Asia Tenggara. Kehidupan desa menetap tampak muncul di Cina 6.000 tahun yang lalu, walau belum dapat dipastikan kapan awalnya. Tanaman dan binatang yang didomestikasikan adalah biji-bijian dan babi, serta padi dan kedelai didatangkan kemudian. Pertanian di Asi Tenggara sudah mulai sejak 9.000 tahun yang lalu, dan tanaman pokok  yang didomestikasikan adalah padi, kedelai, dan ubi rambat.

Pertanian juga diterapkan secara independen di dua wilayah Dunia Baru (New World), yaitu di Mesoamerika dan Peru. Asal-usul pertanian di dunia baru diperkirakan mulai 9.000 tahun yang lalu, walaupun kehidupan desa menetap  belum berkembang luas sampai beberapa ribu tahun kemudian. Tanaman terpenting yang didomestikasikan adalah maize (semacam jagung), nenek moyang sejenis tanaman yang bernama teosinte. Secara umum, tanaman di Dunia Baru sangat berbeda dengan tanaman yang berkembang di Dunia Lama. Di samping maize, termasuk juga bunga bakung, qouinoa, buncis berbiji besar, labu, tomat, kentang, lada Chile, dan kakao. Berlawanan dengan Dunia Lama, Dunia Baru umumnya jarang  mendomestikasikan binatang, tampaknya ini disebabkan oleh jarangnya species yang cocok untuk keperluan tersebut. Satu-satunya binatang yang benar-benar penting disomestikasikan di Peru (Dunia Baru) adalah lama, sekitar 5.500 tahun yang lalu.

b.  Masyarakat Hortikultur Sederhana Kontemporer

Masyarakat pertanian yang pertama tidaklah menopangkan hidupnya dengn pertanian yang sebenarnya, tetapi dengan hortikultura sederhana. Sejumlah masyarakat hortikultura sederhana tetap bertahan sampai masa dunia modern. Kebanyakan mereka terdapat di Melanesia, rangkaian kepulauan di Pasifik Selatan (umumnya dikatakan termasuk New Guinea) dan di beberapa wilayah Amerika Selatan. Penelitian etnografik yang luas telah dilakukan terhadap masyarakat ini, dan hasil penelitian telah memberikan dasar pada pembahasan buku ini.

Masyarakat hortikultura sederhana tinggal di desa-desa kecil, biasanya terdiri dari 100 – 200 orang. Walaupun desa-desa yang secara substansial lebih besar dari ini ada, tetapi jarang terjadi. Setiap desa pada dasarnya berdiri sendiri secara ekonomi dan politik. Namun ikatan antardesa yang penting juga ada. Perkawinan sering terjadi antarindividu yang berasal dari desa yang berbeda, dan orang yang tinggal di desa-desa terpisah sering kali bersama-sama dalam berbagai upacara seremonial. Para anggota dari desa-desa yang berhubungn secara kultural dan bahasa, secara kolektif membentuk sebuah suku, sebuah unit sosiokultural yang bisa terdiri dari puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu orang.

Kebanyakan  masyarakat hortikultura sederhana tinggal di lingkungan berhutan lebat dan mempraktekkan teknik penanaman yan dikenal dengan tebas-dan-bakar  (biasa juga disebut ladang berpindah). Teknik bertanam ini dimulai dengan penebasan sebidang hutan dan kemudian membakar hasil tebasan yang sudah dikumpulkan. Abu yang tertinggal berfungsi sebagai pupuk, dan biasanya tidak ada tambahan pupuk yang lain.  Kemudian bibit ditanam di ladang yang sudah dibersihkan ini  (biasanya besarnya tidak lebih dari satu are) dengan bantuan tongkat penggali, tongkat panjang yang ujungnya tajam dan keras. Ladang yang telah ada mungkin ditanami hanya dengan satu jenis bibit, tetapi praktek yang lebih umum adalah menanam beberapa bibit tambahan di samping tanaman utama (Sahlins, 1968). Tugas membersihkan dan mempersiapkan ladang umumnya jatuh kepada kaum lelaki, sementara tugas menanam dan memanen  umumnya dipandang sebagai tanggung jawab kaum perempuan.

Karena abu kayu yang dibakar umumnya merupakan satu-satunya pupuk, penanaman dengan cara tebas-dan-bakar berkaitan dengan kesuburan tanah yang berjangka pendek. Abu yang dihasilkan lenyap karena hujan dalam jangka waktu satu atau dua tahun, dan karena alasan inilah sebidang tanah hanya bisa ditanami untuk jangka waktu itu. ia kemudian harus dibiarkan dan tidak ditanami lagi dalam waktu yang cukup lama agar hutan dapat tumbuh kembali, dengan demikian memungkinkan untuk menghasilkan abu lagi.  Periode pengosongan itu biasanya berlangsung 20-30 tahun. Ketika hutan sudah lebat, maka proses menebas, membakar, dan menanami dapat dimulai kembali.

Karena sistem tebas-dan-bakar memerlukan periode kosong yang panjang, maka masyarakat yang mempraktekkannya harus memiliki tanah yang jauh lebih luas daripada tanah yang sedang ditanami pada saat tertentu. Tuntutan  penggunaan tanah ini meletakkan batas-batas kepadatan penduduk, dan masyarakat hutan tropik yang hidup dengan cara seperti ini menjaga kepadatan penduduk mereka  tak kurang dari 10 orang permil persegi (Sahlins, 1968).

Tumbuhan yang ditanam sebagian besar adalah tanaman yang dapat dimakan. Namun, sejumlah masyarakat tersebut juga mempunyai binatang yang telah didomestikasikan. Babi yang telah didomestikasikan, misalnya, terdapat di seluruh Melanesia. Tetapi kebanyakan masyarakat hortikultura sederhana jarang mendomestikasikan binatang, dan kelompok-kelompok banyak mengandalkan kegiatan berburu atau mencari ikan untuk persediaan protein hewani mereka.

Masyarakat hortikultura sederhana menghasilkan makanan yang lebih banyak untuk setiap bidang tanah dibandingkan masyarakat pemburu dan peramu. Sebagian mereka bahkan menghasilkan surplus ekonomi dalam jumlah kecil. Namun tidak dapat disimpulkan dari kenyataan ini bahwa mereka menikmati standar hidup yang lebih tinggi.

3.  Masyarakat Hortikultura Intensif

Banyak masyarakat hortikultura sederhana yang diantarkan oleh revolusi neolitik dalam waktu tertentu kepada  kehidupan masyarakat horti-kultura intensif. Tidak dapat diragukan bahwa ratusan masyarakat hortikultura intensif telah ada selama beberapa ribu tahun dalam sejarah manusia. Sampai masuknya Eropa pada akhir abad XVIII, masyarakat tersebut tersebar ke seluruh Polynesia, rangkaian pulau yang luas di Pasifik Selatan, meliputi kepulaian Hawai, Tahiti, dan Tonga, dan masih banyak lagi. Sebelum akhir abad XIX, mereka merambah seluruh bagian sub-sahara Afrika yang luas. Amerika Selatan dan Asia Tenggara juga merupakan kawasan di mana banyak masyarakat hortikultura intensif bertempat tinggal. Namun, sekarang mereka tinggal sedikit. Kebanyakan mereka terdapat di berbagai bagian sub-sahara Afrika, dan mungkin di beberapa bagian Amerika Selatan dan Asia Tenggara. Seperti masyarakat hotikulutra sederhana, masyarakat hortikultura intensif menggantungkan hidupnya pada hasil kebun sendiri, dan mereka menanam dengan metode tebas-dan-bakar. Sebagian memelihara binatang ternak, karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan berburu dan menangkap ikan. Tetapi, masyarakat hortikultura intensif berbeda dengan masyarakat hortikultura sederhana dalam beberapa hal penting. Satu perbedaan prinsip adalah panjangnya waktu penggunaan ladang sebelum dijadikan ladang kosong. Masyarakat hortikultura sederhana umumnya membiarkan ladang mereka kosong sampai 20 atau 30 tahun sebelum menanamnya kembali. Sebaliknya, masyarakat hortikultura intensif memperpendek periode kosong menjadi sekitar 5 sampai 6 tahun. Kompensasi atas penurunan kesuburan tanah karena ditanami lebih sering, masyarakat hortikultura intensif selanjutnya memupuki tanah dengan menambahkan  semacam humus atau pupuk kandang.

Pemendekan periode kosong menimbulkan efek yang nyata, yakni berubahnya hutan yang lebat menjadi semak-semak. Tanah yang sudah dibersihkan dari semak-semak harus dipersiapkan untuk ditanami dengan cara yang tidak perlu sesulit membersihkan tanah dari hutan. Dengan demikian, kebanyakan masyarakat hortikultura intensif telah menemukan atau menggunakan cangkul untuk mempersiapkan tanah untuk ditanami.

Sebagian masyarakat hortikultura intensif mempergunakan unsur-unsur teknologi di samping atau sebagai pengganti metode yang ada. Masyarakat hortikultura intensif Polynesia, misalnya, walaupun tidak pernah menggunakan cangkul, membuat ladang berjenjang dan beririgasi. Maka jelaslah bahwa masyarakat hortikultura intensif telah mencapai tingkat perkembangan teknologi yang melebihi teknologi yang dicapai masyarakat hortikultura sederhana. Juga jelas, bahwa orang bekerja lebih keras dan lebih lama dalam sistem hortikultura intensif. Mempersiapkan ladang  dengan cangkul, membuat ladang berjenjang dan beririgasi membutuhkan dan menghabiskan lebih banyak kegiatan. Karena orang bekerja lebih keras dan lebih ama, dan karena ladang yang ada ditanami lebih sering, maka jelaslah mengapa pola teknologi subsistensi ini disebut sebagai hortikultura intensif.

Dibandingkan dengan hortikultura sederhana, hortikultura intensif sangat produktif untuk masing-masing unit ladang.  Masyarakat hortikultura intensif, ternyata, menghasilkan surplus ekonomi yang nyata, dan surplus ini digunakan untuk menopang sekelompok orang yang tidak terlibat langsung dalam produksi pertanian. Dalam banyak masyarakat hortikultura intensif, anggota kelas ini dipandang, paling tidak secara teoritis, sebagai pemilik semua tanah, dan dalam semua masyarakat semacam itu mereka mengarahkan banyak aktivitas ekonomi.  Standar hidup mereka lebih tinggi dari semua orang yang lainnya. Standar hidup kebanyakan masyarakat hortikultura intensif sulit ditentukan, tetapi dapat dilihat bahwa standar hidup mereka berbeda sedikit dari yang terdapat pada masyarakat hortikulktura sederhana. Namun tidak boleh dilupakan, bahwa masyarakat hortikultura intensif bekerja lebih keras hanya untuk mencapai hasil material yang kurang lebih sama.

4.  Masyarakat Agraris

Masyarakat agraris pertama muncul kira-kira 5.000 sampai 6.000 tahun yang lalu di Mesir dan Mesopotamia, dan agak belakangan sedikit di Cina dan India. Masyarakat agraris belum lama terdapat di banyak bagian dunia. Sejak masyarakat agraris muncul untuk pertama kalinya, sampai sekarang mayoritas manusia hidup secara agraris. Sejauh menyangkut cara hidup ini sekarang, pada umumnya bentuknya sudah sangat berubah pada berbagai masyarakat yang, paling tidak secara parsial, telah mengalami industrialisasi dan menjadi bagian dari ekonomi kapitalis. Karena itu, tidak ada lagi masyarakat  agraris murni yang tersisa di dunia sekarang. Lantas, seperti apakah bentuk masyarakat agraris di masa lalu?

Masyarakat agraris menyandarkan hidup kepada pertanian murni. Tanah dibersihkan dari semua tanaman dan ditanami dengan menggunakan bajak dan binatang-binatang dipergunakan untuk menarik bajak. Ladang dipupuk secara besar-besaran, terutama dengan pupuk kandang. Ketika tanah ditanami dengan cara ini, maka ia  dapat dipergunakan secara agak berkesinambungan. Dengan demikian, periode kosong sangat pendek atau bahkan tidak ada lagi. Para petani sering menanami sebidang tanah tertentu setiap tahun, dan dalam beberapa kasus, panen dapat dipungut dari ladang yang sama lebih dari sekali dalam setahun.

Sejumlah masyarakat agraris sudah ada di berbagai wilayah dimana curah hujan cukup untuk menumbuhkan tanaman. Masyarakat agraris di seluruh Eropa, misalnya, adalah masyarakat pertanian tadah hujan. Tetapi di banyak masyarakat lain, iklim kering dan semi kering telah membuat pertanian tadah hujan tak mungkin berkembang, dan para petani harus membangun  sistem irigasi untuk mengairi pertanian. Para petani di Mesir Kuno, Mesopotamia, Cina, dan India, misalnya, mempraktekkan pertanian irigasi.

Para petani bekerja lebih banyak  daripada anggota berbagai tipe masyarakat sebelumnya (Minge-Klevana, 1980). Tugas membersihkan tanah, membajak, menabur dan memanen, memelihara binatang, dan seterusnya memerlukan tenaga kerja yang banyak. Apabila sistem irigasi harus dibangun, maka orang pun bekerja lebih keras. Karena usaha mereka, para petani menghasilkan lebih banyak hasil untuk tiap unit tanahnya dibandingkan dengan penghasilan masyarakat hortikultura, dan kebanyakan menghasilkan surplus ekonomi. Tetapi, usaha dan juga surplus ekonomi yang makin besar tidak menghasilkan standar hidup yang lebih tinggi. Sebenarnya standar hidup mereka rendah, dalam keadaan tertentu lebih rendah daripada yang dinikmati oleh anggota masyarakat hortikultura.

Kebanyakan  anggota masyarakat agraris adalah para petani (peasants). Mereka adalah produsen utama, orang yang menanami ladang, dari hari ke hari. Eric Wolf (1966) menyebut mereka penanam tergantung (dependent cuktivator), karena mereka berada dalam hubungan ketergan-tungan politik ekonomi atau subordinat kepada para pemilik tanah. Mereka sendiri seringkali tidak punya tanah, tetapi hanya dibolehkan memakai. Dalam pengertian ini, mereka hanyalah para penyewa tanah. Dalam kasus di mana para petani mempunyai tanah sendiri, mereka jauh dari penguasaan penuh atas nasib produk dari tanah mereka. Tetapi tidak semua produsen utama dalam masyarakat agraris adalah petani. Sebagian adalah para budak. Budak berbeda dari petani, karena mereka secara hukum dimiliki dan dapat diperjualbelikan. Dalam sebagian masyarakat agraris, misalnya di Romawi dan Yunani Kuno, para budak melebihi jumlah petani.

5. Masyarakat Pastoralis

Pastoralisme  (atau nomadisme pastoralis) mulai muncul kira-kira 3.000 – 3.500 tahun yang lau sebagai adaptasi subsistensi yang sangat terspesialisasi terhadap lingkungan kering atau semi kering. Walau muncul lebih belakangan dari pertanian murni, teknologi subsistensi ini secara evolusioner tidak lebih tinggi, atau lebih maju dari teknologi subsistensi pertanian, tetapi hanya merupakan adaptasi khas di beberapa wilayah di mana pertanian tidak mungkin atau sangat sulit dilakukan. Masyarakat pastoralis menggantungkan kehidupannya kepada sekumpulan binatang gembalaan. Mereka menggembalakan sekumpulan  binatang sepanjang tahun, dan berpindah secara musiman bersama kumpulan gembala/ternak mereka untuk mencari padang rumput (pasture). Karena itulah mereka dinamakan nomadisme pastoralis. Binatang yang paling umum dipelihara adalah biri-biri, kambing, onta, sapi, dan kadang-kadang rusa kutub. Sebagian kelompok pastoralis menggantungkan hidup mereka hanya pada satu spesies binatang, sementara yang lain memelihara beberapa spesies. Sebagian masyarakat pastoralis, yang kadang-kadang disebut masyarakat pastoralis “sejati”, tidak melaksanakan aktivitas pertanian sama sekali. Kelompok-kelompok ini memperoleh produk pertanian melalui hubungan dagang dengan tetangga mereka yang menjalankan pertanian. Namun, tidak jarang terjadi kelompok pastoralis juga  menjalankan pertanian untuk melengkapi makanan yang diperoleh  dari peternakan binatang mereka; tetapi ini selalu sangat bersifat sekunder di samping kegiatan menggembala.

Kebanyakan masyarakat pastoralis terdapat di wilayah-wilayah kering  di Asia Barat Daya, Afrika Utara, dan padang rumput Afrika Timur. Biri-biri, kambing, dan onta adalah binatang yang paling umum diternakkan di Asia dan Afrika Utara, sementara Afrika Timur terkenal dengan peternakan sapi. Pastoralisme  juga terdapat di wilayah-wilayah hutan di Eurasia Utara, dan di sini peternak rusa kutub mendominasi.

Masyarakat Pastoralis hidup dan melakukan perpindahan dalam kelompok-kelompok yang relatif kecil, biasanya tidak lebih dari 100 – 200 anggota. Kepadatan penduduk sangat rendah, biasanya kurang dari lima orang per-mil persegi.

Kebanyakan makanan masyarakat pastoralis, tentu saja, berasal dari peternakan hewan mereka, terutama dengan susu, daging, dan darah. Di Afrika Timur, misalnya, banyak kelompok pastoral memiliki campuran darah dan susu sebagai makanan pokok. Walaupun produk-produk pertanian mencukupi makanan mereka, tapi bagi sekelompok lain hanya melakukan itu pada tingkat yang sangat kecil.

6.  Evolusi  Teknologi Pra-Industri

Sekarang kita harus mempertimbangkan sebuah pertanyaan krusial tentang bagaimana menerangkan evolusi teknologi pra-industrial dari satu tahap ke tahap selanjutnya.

Pernah dipercaya secara luas oleh para ilmuwan sosial bahwa semua jenis teknologi berkembang dengan sendirinya, dengan kekuatan independennya sendiri. Menurut pandangan mereka, perubahan-perubahan teknologi terjadi sebagai hasil kumulatif kekuatan inventif spesies manusia. Di samping itu, dirasakan bahwa kapanpun bentuk teknologi baru muncul, orang secara otomatis mengadopsinya karena mereka menyaksikan manfaat yang diberikan.

Banyak ilmuwan sosial telah meninggalkan pandangan tentang perubahan teknologi seperti ini. Sebagai gantinya, mereka mengikuti pandangan yang diajukan Ester Boserup (1965; 1981), yang menyatakan bahwa  orang tidak mempunyai keinginan inheren untuk meningkatkan tingkat teknologi mereka. Dia mempostulatkan bahwa orang ingin hidup dengan cara seserhana dan semudah mungkin. Kecenderungan mereka adalah memenuhi kebutuhan subsistensinya dengan bekerja sesedikit mungkin. Karena menggunakan teknologi baru secara aktual mengakibatkan manusia bekerja lebih keras, mereka tidak akan beralih ke metode baru tanpa kondisi khusus yang memaksa untuk melakukannya. Boserup percaya bahwa kondisi penting yang memaksa manusia untuk meningkatkan teknologinya adalah tekanan penduduk. Tekanan penduduk muncul ketika pertumbuhan penduduk menekan sumber makanan. Ketika jumlah mulut  yang harus diberi makan bertambah, satu titik akhirnya dicapai dimana orang  mulai menghabiskan sumber makanan dan mengalami penurunan tajam dalam standar hidup merka. Boserup menegaskan bahwa pada titik inilah manusia mulai mengintensifkan produksi. Mereka menggunakan bentuk teknologi baru dan bekerja lebih keras serta lama untuk memproduksi lebih banyak makanan untuk memberi makan lebih banyak orang. Masyarakat hortikultura sederhana, misalnya, mulai menggunakan teknik-teknik masyarakat hortikultura intensif. Begitu juga masyarakat hortikultura intensif mungkin berpindah ke pertanian yang menggunakan bajak.

Harus disadari bahwa argumen Boserup tidak mengasumsikan bahwa peralihan ke teknologi yang lebih intensif akan membawa ke standar hidup yang lebih baik. Evolusi dari satu tingkat teknologi  ke tingkat teknologi yang lain pada umumnya bersinggungan dengan penurunan standar kehidupan. Argumennya jelas bahwa penerapan pertanian yang lebih intensif diperlukan untuk mempertahankan  standar hidup setinggi mungkin di bawah tekanan jumlah penduduk yang semakin besar.

Mark Cohen (1977; 1985) percaya bahwa argumen Boserup relevan untuk memahami asal-usul peranian di seluruh dunia. Cohen menyatakan bahwa  masyarakat pemburu-peramu barangkali sejak lama sudah mengerti bagaimana mendomestikasikan tanaman dan hewan, tetapi mereka baru menggunakannya setelah waktu berjalan sekitar  mungkin 6.000 tahun setelah itu. Tampaknya, mereka tidak melihat adanya keuntungan mempraktekkan pertanian dan mungkin mereka melihatnya sebagai cara hidup yang lebih baik ketimbang mengumpulkan makanan dari gudang alamiah. Memang, ketika masyarakat pemburu-peramu kontemporer ditanyai etnograf tentang mengapa mereka tidak mempraktekkan pertanian, mereka biasanya menjawab begini, “Mengapa kami harus bekerja lebih keras untuk hidup yang tidak lebih baik dari hidup kami sekarang?” Richard Lee (1979), misalnya, menanyai suku !Kung bernama /Xashe tentang mengapa orang !Kung tidak ikut mempraktekkan pertanian yang dilakukan tetangga mereka, dan /Xashe menjawab, “Mengapa kami menanam ketika begitu banyak biji mongongo di dunia?” Jika masyarakat pemburu-peramu kuno sudah tahu bagaimana menanam bibit tetapi mengelak melakukannya, apa yang akhirnya memaksa mereka untuk beralih ke cara hidup pertanian? Cohen percaya bahwa alasannya adalah “krisis makanan” yang disebabkan pertambahan penduduk. Dia berpendapat bahwa kelompok pemburu-peramu di beberapa wilayah dunia akhirnya kehilangan kemampuan lingkungan mereka untuk menopang standar hidup yang layak. Apabila ini terjadi, mereka dipaksa untuk memproduksi makanan sendiri untuk mengatasi “krisis makanan”. Mereka akhirnya bersedia bekerja keras, karena mereka akan memperoleh sesuatu dengan cara tersebut.

Teori Cohen tentang asal-usul pertanian tidak sepenuhnya disetujui oleh para arkeolog modern, yang paling berkompeten untuk menilainya. Meski teori tersebut sangat masuk akal dalam hubungan dengan apa yang kita tahu tentang sikap masyarakat pemburu-peramu modern tentang  praktek pertanian, dan sejumlah antropolog dan arkeolog modern telah mengembangkan beberapa teori tentang asal-usul pertanian dengan memberikan peran signifikan kepada tekanan penduduk (Binford, 1968; Flannery, 1973; Harner, 1970; Harris, 1977). Tetapi, walaupun masih banyak keraguan tentang sebab awal munculnya pertanian, ilmuwan sosial lebih tahu pasti tentang peranan tekanan penduduk terhadap intensifikasi produksi pertanian. Boserup sendiri memberikan bukti kuat tentang perubahan tingkat kepadatan penduduk terhadap pola produksi ekonomi. Sebagai contoh, dia menunjukkan fakta pertambahan penduduk Jepang dari sekitar 1.600 ke sekitar 1.850 yang diikuti oleh perubahan intensitas produksi (1965:6). Boserup juga menyatakan bahwa penurunan kepadatan penduduk diikuti oleh regresi aktual dalam teknik penanaman.

Banyak penelitian tambahan yang mendukung pandangan  bahwa takanan penduduk adalah sebab utama evolusi teknologi pra-industri. Peningkatan sistem produksi pertanian yang intensif tampaknya muncul sebagai respon terhadap jumlah penduduk yang meningkat di berbagai wilayah dunia seperti Amerika Selatan, New Guinea, Mesoamerika Kuno, dan Mesopotamia Kuno (Carneiro, 1968; Clarke, 1966; Sanders, 1972; Adams, 1972).

Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya, walaupun teori demografik tentang intensifikasi pertanian telah banyak mendapat sambutan, sebagian ilmuwan sosial tetap mengajukan kritik. George Cowgill (1975) dan Benjamin White (1982), misalnya, menyatakan bahwa teori tersebut secara tidak tepat mengasumsikan adanya kecenderungan alamiah penduduk manusia untuk bertumbuh. White menyatakan bahwa pertambahan penduduk tidak bersifat alamiah atau otomatis, tetapi bergantung kepada berbagai keadaan sosial, ekonomi, dan politik. Dia berpendapat bahwa karena tidak ada kecenderungan inheren dalam pertambahan penduduk manusia, maka tekanan penduduk tidak dapat diandalkan secara logis sebagai sebab kamajuan dalam tingkat teknologi pertanian.

Tetapi walaupun benar bahwa perubahan demografik dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, tidaklah berati tidak ada kecenderungan inheren bagi pertambahan penduduk di kebanyakan masyarakat pra-industrial. Ada bukti kuat bahwa masyarakat pra-industrial memberikan perhatian yang sangat besar kepada upaya pengaturan jumlah penduduk, dan ini menunjuk-kan bahwa mereka bangkit melawan realitas biologis yang potensial. Secara khusus, adanya pembunuhan terhadap anak perempuan di berbagai belahan dunia, merupakan bukti kuat dari kebutuhan manusia untuk mengendalikan jumlah mereka.

Perubahan demografik berinteraksi dengan cara yang sangat kompleks dengan berbagai komponen sistem sosiokultural, tetapi hal ini hampir tidak dapat dianggap sebagai sebab universal dalam evolusi sosiokultural. Peristiwa evolusioner yang lebih baru, seperti Revolusi Industrial atau pemiskinan dua pertiga penduduk dunia kontemporer, muncul karena disebabkan beberapa sebab yang berbeda-beda. Tetapi, pada tingkat pra-industrial, pertambahan penduduk tampaknya merupakan taruhan terbaik kita sebagai rangsangan kritis bagi kemajuan teknologi subsistensi. Paling tidak, belum ada orang yang mengajukan teori yang meyakinkan seperti teori tekanan penduduk.

BAB 5

SISTEM EKONOMI PRA-KAPITALIS

1. Pendahuluan

Setiap masyarakat mempunyai sistem ekonomi yang terjalin sangat dekat  dengan pola teknologi subsistensinya. Namun,  ada perbedaan krusial antara ekonomi dan teknologi. Teknologi meliputi alat, teknik, dan pengetahuan yang dimiliki para anggota masyarakat, dan digunakan dalam proses pemenuhan kebutuhan hidup. Aktivitas ekonomi tidak mungkin ada tanpa teknologi. Ekonomi berisi hubungan-hubungan sosial yang mengorganisasikan produksi, distribusi, serta pertukaran barang dan jasa dalam suatu masyarakat. Produksi adalah proses yang diorganisasikan secara sosial di mana barang dan jasa diciptakan. Pertanyaan tentang siapa yang memiliki kekuatan-kekuatan produksi dan bagaimana mereka memutuskan penggunaan kekuatan-kekuatan ini adalah pertanyaan yang menyangkut produksi. Distribusi adalah proses alokasi barang dan jasa yang diproduksi oleh masyarakat –siapa mendapat apa, bagaimana dan mengapa. Pertukaran barang dan jasa adalah proses perpindahan sesuatu yang berharga dengan memperoleh pengembalian sesuatu yang lain, misalnya pertukaran hadiah atau barang jualan di sebuah pasar.

Bab ini membahas sistem ekonomi yang ada sebelum berkembang-nya ekonomi pasar kapitalis dunia, atau, jika ada sekarang, memperlihatkan karakteristik ekonomi yang non-kapitalis. Perhatian utama buku ini adalah memperlihatkan cara-cara yang membedakan dan menyamakan antara sistem ekonomi pra-kapitalis dan sistem ekonomi kapitalis.

2.  Produksi Untuk Dipakai – Dijual

Semua barang mempunyai dua jenis nilai yang berbeda, yang umum dikenal dengan nilai guna dan nilai tukar. Nilai pakai sebuah barang adalah kegunaannya secara langsung, manfaatnya diperoleh pemakainya ketika ia mempergunakannya menurut cara yang diinginkannya. Sebagai contoh, nilai guna sebuah sepatu adalah manfaat bagi pemakainya sebagai alat yang melindungi kaki, menjaga kaki tetap hangat dan kering. Demikian juga, nilai guna sebuah mobil adalah kegunaannya sebagai kendaraan pengangkut.

Tetapi sepatu, mobil, dan semua benda lainnya juga mempunyai jenis nilai lain  yang disebut nilai tukar. Nilai tukar barang-barang ini adalah nilai barang yang akan diperoleh ketika ia dipertukarkan dengan barang lain. Sebagai contoh, jika seseorang setuju memberikan 300 pasang sepatu kepada seseorang sebagai ganti dari mobil, maka nilai tukar mobil dalam situasi ini adalah 300 pasang sepatu. Dengan cara lain, kita dapat mengatakan bahwa nilai tukar sepatu adalah 1/300 nilai tukar mobil. Nilai tukar dapat diperhitungkan menurut barang berharga yang lain, atau dengan perantaraan medium tukar, yaitu uang. Dalam masyarakat kapitalis yang didasarkan kepada pasar, nilai tukar hampir semua dikalkulasikan dengan uang, tetapi dalam masyarakat pra-kapitalis, nilai tukar barang sering kali dihitung dengan barang lain selain jenis uang.

Walaupun semua barang dalam semua sistem ekonomi mempunyai nilai tukar dan nilai guna, sistem ekonomi itu sendiri cenderung diorganisasikan, terutama, menurut salah satu dari dua jenis nilai ini. Masyarakat pra-kapitalis diorganisasikan melalui berbagai aktivitas di mana produksi barang untuk nilai guna adalah perhatian satu-satunya produsen. Dalam kasus ini, barang diproduksi agar dapat dikonsumsi, bukan agar dapat ditukarkan dengan barang lain. Apabila jenis aktivitas ini mendominasi tindakan ekonomi, maka sistem ekonomi produksi untuk dipakai (production-for-use-economy) dinyatakan berlaku.

Sebaliknya, kapitalisme modern, memproduksi sejumlah besar barang terutama untuk nilai tukarnya, untuk sejumlah uang yang akan diberikannya  bagi produsen kapitalis ketika barang tersebut dijual di pasar.  Tentu saja barang-barang ini mempunyai nilai guna; kalau tidak, tidak ada orang yang terterik membelinya. Tetapi ia bukan nilai yang utama. Motivasi kapitalis modern untuk memproduksi barang lebih berhubungan dengan nilai tukar daripada nilai gunanya. Dengan demikian, kapitalisme modern adalah suatu ekonomi produksi untuk dijual (production-for-exchange economy) atau ekonomi di mana produksi untuk dijual lebih diprioritaskan dari produksi untuk dipakai.

Tidak bisa dibenarkan anggapan bahwa sistem ekonomi produksi untuk dipakai tidak mempunyai nilai produksi untuk dijual. Sebenarnya sistem ekonomi ini juga menjalankan produksi untuk dijual, paling tidak dalam kadar yang kecil. Jelaslah bahwa produksi untuk dijual memainkan peran yang sangat sekunder dalam berbagai jenis ekonomi ini. Tak bisa dibenarkan juga anggapan bahwa sistem ekonomi produksi untuk dipakai  hanya dapat  memenuhi kebutuhan subsistensi para anggotanya saja. Sebaliknya, banyak sistem ekonomi kapitalis menghasilkan kekayaan yang sangat besar dan menandai ketidaksamaan ekonomi di kalangan para anggotanya. Namun, titik tekannya adalah bahwa kekayaan dan ketidaksamaan tidak muncul dari hubungan produksi untuk dijual, tetapi dari hubungan produksi untuk dipakai. Hanya dalam kapitalisme modern terdapat kekayaan dan ketidaksamaan ekonomi yang besar muncul terutama dari hubungan produksi untuk dijual.

3.  Pola Pemilikan dalam Masyarakat Pra-Kapitalis

Ketika mempertimbangkan bagaimana barang diproduksi dalam semua masyarakat, pertanyaan pentingnya adalah, siapa yang memiliki kekuatan-kekuatan produksi –yakni, siapa yang memiliki berbagai sumber daya yang paling signifikan dalam melakukan berbagai aktivitas produksi. Dalam kapitalisme modern, kekuatan-kekuatan produksi vital pada prinsipnya dimiliki oleh sebagian penduduk yang kecil sekali jumlahnya, dan kelompok kapitalis kecil ini mengarahkan seluruh proses produksi ekonomi. Dalam masyarakat sosialis modern, seperti Korea Utara dan Kuba, pemilikan kekuatan-kekuatan produktif berada di tangan pemerintah, yang mengklaim mengarahkan produksi untuk kebaikan seluruh masyarakat. Dengan demikian, baik dalam kapitalisme modern maupun sosialisme modern, proses produksi sangat ditentukan oleh oprang-orang atau kelompok-kelompok yang memiliki sumber daya penting.

Dalam masyarakat pra-kapitalis juga, produksi ekonomi ditentukan oleh keinginan dan pilihan para pemilik kekuatan-kekuatan produksi. Ada gunanya membedakan empat pola pemilikan dalam masyarakat pra-kapitalis, yaitu: Komunisme Primitif, pemilikan oleh keluarga besar (lineage ownership), pemilikan oleh pemimpin (chiefly ownership), dan pemilikan  seigneurial. Berbagai jenis pemilikan ini tidak mencakup seluruh pola pemilikan kekayaan dalam ekonomi pra-kapitalis, dan ada variasi penting dalam masing-masing jenis pemilikan ini, tetapi berbagai jenis yang disebutkan ini kurang lebih representatif dari berbagai cara pengorganisasian pemilikan kekayaan di dunia pra-kapitalis.

a.  Komunisme Primitif

Pada pertengahan abah XIX, Karl Marx berspekulasi bahwa pola kehidupan ekonomi paling awal dalam sejarah manusia adalah apa yang diistilahkannya sebagai komunisme primitif. Dengan istilah ini, yang dimaksud Marx adalah  suatu jenis masyarakat, yang untuk memenuhi kebutuhan  subsistensinya dengan berburu dan meramu atau bentuk-bentuk pertanian sederhana, dan semua sumber daya alam yang penting dimiliki secara bersama. Pemilikan peribadi atas berbagai sumber daya oleh individu atau kelompok kecil tidak ada dalam jenis masyarakat ini.

Walaupun banyak ilmuwan sosial yang menantang  pandangan Marx ini, ilmu sosial kontemporer memberikan bukti kuat bahwa pandangan Marx pada dasarnya tepat. Mayoritas masyarakat pemburu-peramu yang dikaji oleh para antropolog modern, menunjukkan pola pemilikan setara atas sumber daya secara akurat dikarakterisasikan oleh pandangan Marx tentang komunisme primitif. Walaupun kebanyakan aktivitas ekonomi dalam masyrakat pemburu-permu berpusat seputar keluarga, semua individu dalam masyarakat tersebut mempunyai akses yang sama terhadap sumber daya alam yang diperlukan untuk subsistensi mereka. Tidak ada orang di antara kelompok pemburu-peramu yang dapat digusur oleh orang atau kelompok lain. Mereka mempunyai kesempatan yang sama dalam memburu binatang, meramu tumbuhan, memanfaatkan telaga, atau berkemah di atas tanah. Dengan demikian, setiap orang memiliki berbagai sumber daya ini secara kolektif. Dalam kenyataannya, sebagian masyarakat pemburu-peramu tidak membatasi pemilikan sumber daya ini kepada anggota kelompok lokalnya sendiri, namun mereka memberikan akses yang sama terhadap berbagai sumber daya yang ada kepada semua indivudu atau kelompok yang membutuhkan (Woodburn, 1968). Bahkan dalam contoh-contoh di mana sumber daya dapat “dimiliki”  secara pribadi oleh keluarga tertentu, namun secara tipikal tidak ada pembatasan yang ditentukan terhadap keluarga lain untuk menggunakannya. Di kalangan masyarakat !kung, misalnya, telaga seringkali dikatakan “dimiliki” oleh keluarga tertentu, tetapi keluarga ini tidak menghalangi keluarga lain memanfaatkannya (Lee, 1968; 1972).

Adalah benar bahwa dalam masyarakat pemburu-peramu, barang seperti permata dan benda seni dimiliki secara pribadi, tetapi kenyataan ini tidak membatalkan  pernyataan bahwa komunisme primitif adalah pola pemilikan utama dalam masyarakat pemburu-peramu. Permata dan benda seni bukan bagian dari kekuatan-kekuatan produksi, seperti yang disebut Marx sumber daya yang diperlukan untuk produksi ekonomi. Tetapi ia merupakan barang yang secara lebih tepat disebut sebagai kekayaan pribadi. Karena tidak digunakan dalam proses produksi, sifat pemilikan ini tidak relevan bagi tesis Marxian tentang komunisme primitif. Apalagi kemudian kita menemukan bahwa kekayaan pribadi jarang disimpan sebagai milik pribadi; tetapi menggilirkannya di kalangan para anggota kelompok, dan dengan demikian berguna bagi seluruh komunitas.

b.  Pemilikan oleh Keluarga Besar

Di kalangan banyak masyarakat hortikultura, komunisme primitif dalam pengertian yang ketat biasanya tidak ada. Sebagai gantinya, masyarakat hortikultura yang lemah memiliki pola pemilikan yang dapat disebut dengan sangat baik sebagai pemilikan  oleh keluarga besar (lineage ownership). Pemilikan ini terjadi ketika kelompok keluarga berskala besar, yang dikenal dengan lineage (atau kadang-kadang clan), memiliki kekayaan secara bersama. Tentu saja, dalam masyarakat tersebut bentuk kekayaan yang paling penting adalah tanah. Ketika keluarga besar memiliki tanah secara bersama, maka para anggota kelompok tersebut berpartisipasi dalam pemanfaatan tanah tersebut hanya karena mereka anggota keluarga besar tersebut.  Hak mereka untuk menggunakan tanah hanya diberikan oleh keluarga besar dalam bentuk kerja bersama; pemimpin keluarga besar, yang bertindak sebagai wakil dari keluarga besar secara keseluruhan, memberikan hak-hak ini.

Pemilikan oleh keluarga besar serupa dengan komunisme primitif dalam hal bahwa keduanya bukan merupakan bentuk pemilikan kekayaan pribadi. Kekayaan masih dimiliki dan digunakan secara bersama. Tetapi ada perbedaan penting antara komunisme primitif dan pemilikan oleh keluarga besar. Pemilikan  oleh keluarga besar lebih eksklusif  atau lebih terbatas karena membuat pemilikan dan penggunaan sumber daya berharga  bergantung kepada keanggotaan kelompok keluarga. Dalam berbagai masyarakat yang menganut pemilikan oleh keluarga besar, tidak semua anggota masyarakat mempunyai akses yang sama terhadap kekuatan-kekutan produksi, walaupun semua anggota adalah anggota keluarga besar yang sama. Dengan demikian, pemilikan oleh keluarga besar selangkah meninggalkan komunisme primitif dan menuju kepada pemilikan pribadi. Namun, ia lebih dekat dengan komunisme primitif daripada dengan pemilikan pribadi, karena dalam pemilikan oleh keluarga besar yang sebenarnya, para anggota keluarga besar itu sendiri mempunyai akses yang relatif sama terhadap sumber daya.

c.   Pemilikan oleh Pemimpin

Pemilikan oleh pemimpin adalah variasi evolusioner dari pemilikan oleh keluarga besar. Pola ini biasanya terdapat pada masyarakat hortikultura yang lebih intensif, walaupun juga terdapat  pada sebagian kecil masyarakat pemburu-peramu. Pemilikan oleh pemimpin muncul ketika seorang individu yang kuat –seorang pemimpin—yang merupakan pemimpin keluarga besar, atau seluruh desa, atau jaringan desa-desa yang luas, menyatakan pemilikan pribadi atas tanah yang ada dalam kekuasaannya dan berusaha menggusur hak-hak menggunakan tanah pada orang-orang yang hidup di atasnya. Untuk menggunakan tanah, orang-orang ini harus mengikuti batasan-batasan produksi tertentu, seperti menyerahkan sebagian hasil panen mereka kepada pimpinannya.

Sebenarnya, pemilikan atas semua tanah yang ada   oleh seorang pemimpin tidak benar-benar terjadi. Hak pemilikan  pemimpin tidaklah “senyata” yang bisa diungkapkan. Masyarakat  Kpelle Liberia di Afrika Barat adalah masyarakat hortikultura intensif dengan pola pemilikan oleh pemimpin, namun hak pemilikan pemimpin sangat terbatas. Gibbs (1965:200-201) menjelaskan tentang masyarakat Kpelle, bahwa secara formal, tanah dikatakan “dimiliki” oleh pemimpin tertinggi, yang membaginya menjadi bagian-bagian kepemimpinan untuk setiap kota, dengan menggunakan pohon kapuk dan kola, anak sungan dan bukit-bukit sebagai perbatasannya. Setiap pemimpin kota membagi tanah di kotanya menjadi empat bagian, dengan menggunakan tanda-tanda perbatasan yang sama. Bagian-bagian ini, selanjutnya dibelah lagi mejadi petak-petak untuk setiap “keluarga”  atau keluarga besar yang tidak terkenal. Karena semua orang dalam berhak atas pemanfaatan bagian tanah yang ada, pemimpin keluarga besar tidak dapat menolak membaginya untuk masing-masing pimpinan rumah tangga di keluarga besar tersebut. Sekali tanah itu dipetak-petak, maka ia tetap menjadi milik keluarga besar dan kembali kepada sesepuh wilayah atau “pemiliknya” semula hanya bila keluarga besar tersebut habis sama sekali, atau terjadi berbagai peristiwa yang tidak umum. Dengan demikian, walaupun seorang pemimpin kota, sesepuh wilayah, atau kepala keluarga besar, seperti pimpinan tertinggi, dikatakan “pemilik tanah”, masing-masing sebenarnya adalah pengurus, pemegang tanah bagi mereka yang diwakili.

Sebenarnya, dalam situasi sehari-hari, pimpinan rumah tangga yang kepadanya tanah telah dialokasikan, juga disebut sebagai pemilik tanah. Dia yang memutuskan bibit apa yang akan ditanam selama waktu tertentu dan berapa bagian dari tanah tersebut yang akan dibiarkan kosong. Kebanyakan ladang dimiliki secara individu oleh para pimpinan rumah tangga dan dikerjakan dengan bantuan kelompok rumah tangga petani atau kelompok yang bekerja bersama.

Dengan demikian, walaupun para pemimpin adalah  pemilik resmi di kalangan masyarakat Kpelle, kekuasaan para pemimpin tampak sangat terbatas. Karena orang biasa adalah pembuat keputusan harian dalam hal pemanfaatan produktif tanah, maka orang-orang ini adalah juga pemiliknya.

d.  Pemilik Seigneurial

Walaupun pemilikan oleh pemimpin menghadirkan perkembangan  signifikan  ke arah pemilikan pribadi, ia banyak memiliki karakteristik pemilikan oleh kaluarga besar, dan tidak dapat dikatakan sebagai pola pemilikan pribadi yang sebenarnya. Pemilikan pribadi yang sebenarnya tercapai melalui evolusi menjadi pemilikan  seigneurial. Pemilikan seigneurial muncul makala sekelompok kecil orang, umumnya dikenal sebagai tuan tanah (bahasa Prancisnya:  seignuers), mengkalim pemilikan pribadi atas sebidang tanah yang di atasnya hidup dan bekerja para petani dan budak yang membayar rente, pajak, dan berbagai pengabdian tenaga kepada para tuan tanahnya. Tidak ada hal yang dibuat-buat dalam hal jenis pemilikan ini, karena para tuan tanah mempunyai kekuasaan tak terbatas terhadap orang lain dalam memanfaatkan tanah, dan orang tersebut seringkali tidak menentukan  keputusan harian  tentang bagaimana tanah harus dipergunakan secara produktif.

Pemilikan seigneurial merupakan karakteristik kebanyakan masyarakat agraris berskala besar, walaupun kadang-kadang terdapat juga di beberapa masyarakat hortikultura intensif tertentu. Jelasklah bahwa pola ini berhubungan dengan pola produksi pertanian yang sangat intensif. Pada masyarakat Eropa zaman pertengahan, di bawah sistem ekonomi politik yang dikenal dengan feodalisme, pemilikan seigneurial berlaku selama beberapa abad antara jatuhnya kekaisaran Romawi dan muncul kapitalisme modern. Mengikuti Max Weber (1978; aslinya 1923), Eric Wolf (1966) menyebut karakteristik jenis pemilikan seigneurial masyarakat Eropa zaman pertengahan dengan pemilikan patrimonial. Dalam jenis pemilikan ini, tanah dimiliki secara pribadi oleh kelas tuan tanah yang mewarisinya melalui garis keluarga dan secara pribadi mengatur penanamannya. Wolf mengidentifikasi jenis lain dari pemilikan seigneurial yang disebut pemilikan prebendal.  Pemilikan prebendal ada ketika tanah dimiliki oleh pemerintah yang kuat dan menunjuk para pejabat untuk mengawasi penanamannya dan menarik hasil darinya.  Seperti dikatakan Wolf, pemilikan prebendal pada umumnya berhubungan  dengan adanya negara birokratis terpusat –seperti Kekaisaran Sasanid Persia, Kekaisaran Ottoman, Kekaisaran Mogul di India, dan Cina Tradisional. Pengorganisasian politik kekaisaran ini berusaha membatasi hak pewarisan tanah dan menarik upeti, dan sebagai gantinya menegaskan hak penuh pemerintah, raja lalim, yang tidak mengakui semua kekuasaan yang berada di bawahnya.

e.  Pemilikan Lawan Penguasaan

Evolusi hak atas kekayaan merupakan gerakan yang terus menerus berlangsung dari hak-hak komunal menuju ke hak-hak pribadi, dari hak setiap orang untuk memanfaatkan sumber daya vital sampai hanya sebagian orang yang memanfaatkan sepenuhnya sumber daya yang tersedia. Tetapi untuk memahami secara jelas apa saja dimensi penting dari pemilikan ini, perlu dihindari konsep pemilikan yang sempit dan legalistik, yaitu konsep pemilikan sebagai “hak milik”. Yang penting bukanlah hak milik, tetapi penguasaan (kontrol). Sebagai contoh, keluarga tertentu dalam masyarakat !Kung memiliki telaga, yakni memiliki “hak milik” atasnya. Tetapi pemilikan ini bukan dalam pengertian “hak milik”, karena mereka tidak memiliki kemampuan dan kecenderungan untuk mencegah keluarga lain memanfaatkan telaga tersebut. Dengan demikian, di kalangan masyarakat !Kung, penguasaan atas telaga bersifat komunal, dan inilah dimensi yang terpenting. Dalam nada yang sama, di Eropa zaman pertengahan terdapat banyak petani bebas yang memiliki tanah sendiri, yakni, mempunyai “hak milik”. Namun para petani ini secara efektif tidak dapat menguasai secara penuh tanah mereka sendiri, karena kelas tuan tanah memegang hak administratif untuk memungut pajak terhadap mereka dan menguasai mereka dalam hal yang lainnya. Dengan demikian, para petani memiliki tanah sendiri, tetapi tuan tanah sangat menguasainya. Sekali lagi, penguasalah yang menentukan apa yang terjadi dalam sebuah sistem produksi, dan kapan pemilikan dan penguasaan tidak berkaitan, yang terakhir inilah yang harus menjadi perhatian para ilmuwan sosial.

4.  Pola Distribusi dalam Masyarakat Pra-Kapitalis

Evolusi pola pemilikan kekayaan dalam masyarakat pra-kapitalis berhubungan erat dengan evolusi pola distribusi sumber daya. Semakin mempribadi sistem pemilikan, semakin tidak merata sistem distribusi. Adalah berguna membicarakan empat pola distribusi utama dalam masyarakat pra-kapitalis, yaitu  resiprositas (reciprocity), redistribusi murni (pure redistribution), redistribusi parsial (partial redistribution), dan ekspropriasi.

a.  Resiprositas

Resiprositas adalah kewajiban membayar kembali kepada orang lain atas apa yang mereka berikan atau lakukan untuk kita, atau dalam tindakan nyata membayar kembali kepada orang lain. Ada dua jenis resiprositas, yaitu  balanced resiprocity dan generalized resiprosity. Balanced resiprosity terjadi apabila para individu diwajikan memberikan pengembalan yang setara, seringkali langsung, kepada orang lain. Balanced resiprosity dapat diidentifikasi dengan kenyataan bahwa individu dengan sengaja dan terbuka mengkalkulasi apa yang mereka berikan kepada orang lain dan secara terbuka dinyatakan sifat pengembalian yang akan diperoleh. Setiap pihak yang berinteraksi mengharapkan keuntungan, tetapi ada harapan yang jelas akan adanya keuntungan timbal balik, dan jarang ada ëksploitasi.

Generalized reciprosity terjadi apabila para individu diwajibkan memberikan kepada orang lain tanpa mengharapkan pengembalian yang setara atau langsung. Berlawanan  dengan balanced reciprosity, generalized resiprosity tidak menggunakan kesepakatan terbuka atau langsung antara pihak-pihak yang terlibat. Ada harapan yang bersifat umum  bahwa pengembalian setara atau hutang ini akan tiba saatnya, tetapi tidak ada batas waktu tertentu untuk pengembalian, juga tidak ada spesifikasi mengenai bagaimana pengembalian itu dilakukan. Istilah pengembalian dalam generalized  reciprosity sangat semar.

Marvin Harris (1974) menyatakan bahwa seseorang dapat mengatakan generalized reciprosity adalah bila pola distribusi berlaku dengan mencatat apakah orang mengatakan “Terima kasih”. Sebagaimana yang ditulis Harris (1974:124), apabila generalized reciprisity merupakan pola distributif, adalah tidak sopan secara terus terang mengucapkan  terima kasih setelah menerima benda material atau jasa. Di kalangan masyarakat Semai, Malaysia Tengah, misalnya, tidak pernah ada orang yang menyatakan terima kasih atas daging yang diberikan pemburu dengan bagian yang betul-betul sama untuk semua kawannya. Robert Dentan, yang hidup bersama masyarakat Semai, menemukan bahwa mengatakan terima kasih sangat tidak sopan karena ucapan itu menunjukkan bahwa anda tidak mengkalkulasi besarnya potongan daging yang diberikan kepada anda, atau anda tidak merasakan surprise oleh keberhasilan dan kemurahan hati sang pemburu.

Seseorang juga dapat mengatakan bahwa mengatakan terima kasih tidak sopan apabila generalized reciprosity merupakan pola distribusi yang berlaku, karena dalam pola seperti ini memberikan sesuatu kepada orang lain adalah tugas sosial, bukan tindakan kemurahan hati.

Walaupun generalized reciprosity terjadi dalam kadar tertentu dalam semua masyarakat, ia membentuk esensi dasar dalam kehidupan ekonomi masyarakat pemburu-peramu, di mana ia seringkali berlaku. Masyarakat pemburu-peramu terkenal dengan pembagian makanan yang berlaku umum. Para individu secara teratur memberikan makanan kepada orang lain dan menerima makanan sebagai pengembaliannya. Ketika seorang lelaki kembali ke perkemahan dengan binatang yang telah dibunuhnya, dia akan membaginya menjadi beberapa bagian dan membagikannya, biasanya pertama-tama kepada anggota keluarganya dan kemudian kepada anggota kelompok yang lain. Begitu juga, para wanita secara teratur memberikan bagian-bagian makanan yang mereka ramu. Ketika seorang pemburu memberikan daging kepada orang lain, dia hanya berharap akan mendapatkan pengembalian pada saat yang lain. Pemburu mungkin memberikan kepada orang lain berkali-kali tanpa terjadi pengembalian dan tanpa menyebut-nyebutnya. Dia mengerti bahwa kesempatan itu sangat baik, sehingga tindakannya akhirnya akan memperoleh balasan. Kegagalan memberikan balasan hanya akan menjadi sebab keprihatinan  dan konflik apabila tampak bahwa seseorang hanya menjadi “tukan bonceng” orang lain.

Apabila generalized reciprosity  merupakan ciri yang merasuk ke dalam kehidupan ekonomi, berbagi dan kerendahan hati individu menjadi kebiasaan sosial yang diwajibkan.

Satu alasan mengapa generalized reciprosity merupakan pola distribusi yang dominan dalam masyarakat pemburu-peramu, adalah karena adanya kecenderungan untuk berbagi di kalangan manusia yang belum terkena pengaruh buruk kekayaan pribadi. Namun, penjelasan ini tampak meragukan karena ia mengungkapkan gambaran yang terlalu romantik tentang masyarakat pemburu-peramu. Alasan yang lebih masuk akal adalah, adanya keperluan akan bentuk kerja sama yang dekat di kalangan anggota kelompok tersebut. Para peramu-pemburu sangat saling bergantung satu sama lainnya agar dapat bertahan hidup. Walaupun sumber daya pada umumnya tidak terlalu terbatas, namun ketersediannya sangat fluktuatif. Dengan demikian, seorang lelaki mungkin saja menghadapi nasib sial yang panjang dalam perburuannya. Jika orang lain tidak memberikan daging kepadanya selama masa itu, maka dia tidak akan bisa mendapatkan apa-apa. Mereka memberikan daging kepadanya karena mereka tahu bahwa mereka pun pada akhirnya akan mengalami nasib sial dalam perburuan, dan selama waktu itu mereka berharap akan menerima daging darinya. Karena itu, memberi orang lain secara teratur adalah membantu menjamin kesejahtraannya sendiri dalam jangka panjang (Weissner, 1982; Cashden, 1985). Dengan demikian, generalized reciprosity adalah contoh khusus dari gejala yang pada bagian sebelumnya kita identifikasikan sebagai kepentingan diri yang tercerahkan. Tidak ada sesuatu yang mengherankan dalam kenyataan bahwa masyarakat pemburu-peramu memperlihatkan penghinaan yang sangat tajam kepada seseorang yang kompetitif, mementingkan diri sendiri dan sombong. Orang semacam ini adalah ancaman langsung  atas kesejahteraan ekonomi orang lain, dan harus ditekan dengan keras agar mengubah cara hidupnya.

b.  Redistribusi Murni

Proses lain di mana barang disirkulasikan dalam masyarakat pra-kapitalis dikenal dengan distribusi murni. Ketika redistribusi terjadi, produk digilirkan dari satu rumah tangga ke sumber pusat dan kemudian dikembalikan lagi ke rumah-rumah tangga  dengan cara yang sistematik. Redistribusi berbeda dengan resiprositas, karena redistribusi adalah proses yang lebih formal yang meliputi perpindahan barang  ke tangan seseorang  atau suatu kelompok  yang merupakan titik pusat alokasi barang-barang tersebut.

Dikenal ada dua jenis redistribusi, yaitu redistribusi murni dan redistribusi parsial (Moseley and Wallerstein, 1978), kadang-kadang disebut redistribusi egaliter dan redistribusi berstratifikasi (Harris, 1975). Dalam redistribusi murni, proses redistribusi berlaku sempurna, dalam arti bahwa agen-agen redistribusi merealokasikan semua barang  tanpa  mengambil jatah ekstra untuk dirinya sendiri.  Dengan demikian, redistribusi murni berhubungan dengan kesamarataan ekonomi. Dalam redistribusi parsial, proses redistribusi berlaku tidak sempurna lantaran agen redistribusi mengambil bagian tertentu untuk dirinya sendiri. Dengan demikian, redistribusi parsial berhubungan dengan ketidakmerataan ekonomi.

Sistem ekonomi redistribusi murni, yang sangat umum dihubungkan dengan masyarakat  hortikultura, cara berlakunya agak berbeda-beda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Salah satu versi ekonomi redistributif  berlaku luas pada beberapa masyarakat hortikultura sederhana di Melanesia. Masyarakat ini memiliki orang-orang yang sangat ambisius, yang dikenal dengan orang besar. Orang-orang besar  adalah para individu yang mencari prestise dan kemasyhuran melalui peranan mereka sebagai pengorganisasi produksi ekonomis. Orang besar yang bercita-cita tinggi ini pada umumnya memulai karier dengan menanami kebun yang lebih besar dan memelihara peternakan babi yang lebih banyak. Dia melakukan ini dengan bantuan para keluarga dan tetangga dekat, yang bertaruh untuk keberhasilannya. Jika dia berhasil dalam usahanya meningkatkan produktivitas kebun dan peternakannya, dia akhirnya akan mengakumulasikan bahan makanan yang cukup untuk mengadakan pesta besar, yang pada saat itu bahan makanan ini akan diredistribusikan kepada anggota desa lain. Prestise dan kemasyhuran jatuh ke tangannya melalui pengadaan pesta yang sukses. Tetapi biasanya ada individu lain di desanya dengan keinginan yang sama untuk mengadakan pesta sendiri. Apabila ia secara konsisten mampu mengadakan pesta yang lebih besar daripada yang diadakan pesaingnya, dia biasanya dianggap sebagai orang besar desa dan memperoleh prestise yang tinggi. Tetapi jika ia tersendat dalam usahanya ini, maka statusnya akan lenyap dengan segera, dan akan digantikan oleh pesaing lain yang mengalahkannya. Juga, dia diharapkan akan bermurah hati dalam ditribusi berbagai produk dan memberikan penekanan kepada kesejahteraan seluruh desa. Orang besar yang tidak cukup murah hati dan terlalu banyak menyimpan untuk dirinya sendiri seringkali dibunuh.

Pencarian akan status yang tinggi pada sekelompok orang besar Melanesia yang bercita-cita tinggi ini menimbulkan konsekuensi-konsekuensi ekonomi yang nyata. Pencarian itu sangat memungkinkan produktivitas ekonomi membawa kepada peningkatan secara umum dalam kuantitas produk kebun, binatang ternak, ikan, dan berbagai produk ekonomi lainnya (Oliver, 1955). Sirkulasi barang juga meningkat secara substansial, karena persiapan pesta menyebabkan banyak terjadi pertukaran barang dan jasa. Di samping itu, biasanya ada peningkatan nyata dalam konsumsi banyak barang  oleh anggota seluruh desa. Jadi, proses penyelenggaraan pesta yang kompetitif adalah bagian vital dari sistem ekonomi hortikultura masyarakat Melanesia.

Para juru-bicara-Kaoka, suatu kelompok hotikultura sederhana di Melanesia, dikarakterisasikan sebagai suatu sistem  redistribusi orang besar klasik (Hogbin, 1964). Ungkapan asli untuk seorang pemimpin yang memiliki prestise dan kemasyhiuran adalah mwame-kama, secara harfiyah berarti “órang besar”. Penduduk asli pada umumnya setuju bahwa pada satu saat tertentu hanya ada satu orang besar yang sebenarnya dalam sebuah desa. Dia biasanya adalah seorang lelaki yang berumur lebih dari 40 tahun, terjamin kemakmurannya dan bermartabat, tinggal di rumah yang dibangun dengan sangat kukuh, sangat ramah tamah dan dihormati oleh desa-desa lain.

Untuk memperoleh dukungan keluarga dan tetangga, dalam rangka membentangkan karir untuk menjadi orang besar, seseorang harus kuat, juga lembut, cekatan, industrius, dan pengorganisasi yang baik. Ambisi seseorang untuk mengejar karir tersebut biasanya menjadi tampak pada awal usianya yang ketiga puluh. Ketika seseorang cenderung berusaha keras menjadi orang besar, dia memulai dengan menanami kebun yang lebih besar, sebuah tugas yang untuk itu dia mendapatkan bantuan dari para keuarga dekatnya. Dia juga berusaha meningkatkan jumlah ternah babinya. Apabila pada saat itu kebunnya subur dan dia mempunyai sekitar 10 babi yang gemuk serta beberapa babi yang lebih kecil, orang tersebut mulai mengatakan bahwa ia ingin membangun tempat tinggal yang baru, yang lebih besar dan lebih baik dari biasanya. Tindakan ini biasanya dianggap sebagai pernyataan kepada orang banyak bahwa dia adalah calon orang yang paling terhormat di kampungnya. Perayaan menandai akhir pekerjaan pembangunan tempat tinggal, yang disebut para juru-bicara-Kaoka sebagai “pesta untuk menggeser saingan”, ini sangat rumit.

Usaha untuk menjadi orang besar di desa  memerlukan pesta yang makin banyak dan makin besar. Jika seseorang dapat melanjutkan ke tingkat ini, dia akhirnya mungkin akan menjadi orang besar di desanya. Namun, sekalipun dia sudah berhasil, dia tidak akan pernah berhenti untuk memperoleh kemenangan. Segera setelah ukuran kebun dan binatang ternaknya mulai menyusut, dia akan turun menjadi orang yang tidak penting. Dia selalu berhadapan dengan para pesaing yang menunggu merebut tempatnya ketika dia tidak mampu terus meningkatkan produktivitas ekonominya.

Bagaimana menerangkan evolusi sistem redistribusi tersebut? Harris, 1974; 1977) berpendapat bahwa orang besar adalah seorang pengintensif ekonomi. Perannya adalah meningkatkan tingkat produksi di balik apa yang tampak. Harris percaya bahwa peningkatan dalam tingkat produksi ini memiliki signifikansi adaptif bagi kelompok hortikultura berskala kecil. Sebagaimana diterangkannya bahwa dalam situasi setiap orang memiliki ekses yang sama kepada alat-alat subsistensi,  pesta kompetitif tersebut berfungsi praktis untuk melindungi tenaga kerja dari menyurut ke tingkat produktivitas yang tidak menawarkan batas-batas keamanan dalam berbagai krisis, seperti perang dan kegagalkan panen.

Michael Harner (1975) memberikan penjelasan serupa, meski sedikit berbeda. Dia menteorisasikan bahwa sistem orang besar merupakan poroduk dari kelangkaan tenaga kerja. Apabila orang menanami tanah dengan metode hortikultura sederhana, hamparan tanah yang luas biasanya tidak tersedia, dan tenaga kerjanya, lebih dari tanahnya, merupakan sumber daya yang langka. Dalam kondisi kelangkaan tenaga kerja, peran orang besar bangkit sebagai mekanisme penting untuk mencapai kekuasaan dan prestise. Dengan demikian, Harner memusatkan perhatian kepada evolusi sistem orang besar dari titik pandang keuntungan bagi individu, sementara penjelasan Harris menekankan keuntungan masyarakat luas dari sistem orang besar. Meski demikian, penjelasan mereka tampak saling melengkapi daripada saling bertentangan; yakni, dalam situasi khusus ini, kepentingan diri individu dan kebutuhan ekonomi masyarakat secara bersamaan terpenuhi melalui berbagai aktivitas sosial yang sama.

Dengan memberikan penjelasan Harris tentang sistem orang besar, akan mudah dipahami mengapa orang besar tidak terdapat di kalangan mayarakat pemburu-peramu. Orang besar dalam masyarakat pemburu-peramu akan merupakan maladaptif secara ekonomi, karena mereka akan mengeksploitasi sumber daya alam melebihi perkembangan  pemulihan alamiahnya, dan dengan demikian  akan menghancurkan dasar-dasar ekologis dan ekonomis masyarakat pemburu-peramu. Jadi, penghargaan yang sangat besar terhadap pribadi-pribadi tertentu yang sangat menguntungkan  bagi banyak masyarakat hortikultura akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang mengenaskan bagi masyarakat pemburu-peramu.

c.  Redistribusi Parsial

Sistem redistribusi parsial sangat umum terdapat dalam suatu masyarakat di mana hortikultura intensif merupakan pola teknologi dan pemilikan oleh pemimpin merupakan pola hak atas kekayaan. Pemilikan oleh pemimpin merupakan aspek vital dari redistribusi parsial.

Marshall Sahlins (1963)  menyoroti perbedaan penting antara redistribusi murni dan redistribusi parsial dengan membandingkan sistem distribusional masyarakat Melanesia dan Polynesia. Sebagaimana yang ia katakan, kebanyakan masyarakat Melanesia mengembangkan hortikulutura berskala kecil dan sistem orang besar, sementara kebanyakan masyarakat Polynesia dikarakterisasikan dengan hortikultura intensif dan redistribusi parsial.

Orang besar dalam masyarakat Melanesia adalah orang-orang yang mencari prestise dan kemasyhuran dengan mengadakan pesta yang rumit. Namun, mereka hanya mempunyai sedikit sekali kekuasaan real terhadap para pemilihnya, presatise dan kemasyhuran mereka pun runtuh dengan cepat apabila pesta rumit mereka menyusut.  Sebaliknya, para pemimpin masyarakat Polynesia dilantik secara resmi melalui suatu sistem suksesi yang diwariskan. Para pemimpin ini memegang kekuasaan yang cukup kuat terhadap para pengikutnya, dan mereka mempunyai pengaruh ekonomi penting terhadap sejumlah besar orang awam. Salah satu tujuan mereka yang terpenting adalah memproduksi dan mempertahankan surplus ekonomi yang konstan. Mereka melaksanakan ini dengan memaksa orang untuk memberikan sebagian hasil penennya. Ini membawa kepada bentunya “perbendaharaan umum”, sebuah gudang besar yang dikuasai oleh pemimpin mereka. Pemanfaatan gudang ini meliputi banyak hal. Pemimpin menopang hidupnya beserta keluarga dari gudang tersebut. Mereka juga menggunakannya untuk tujuan lain, seperti mengadakan pertunjukan mewah bagi tamu yang dihormati, melaksanakan proyek kepentingan umum yang besar, seperti membuat irigasi, membangun candi, mensponsori kampanye militer, dan mendukung sejumlah besar para fungsionaris politik dan pejabat administratif. Di samping itu, beberapa bagian gudang tersebut juga diredistribusikan kepada orang-orang lain ketika dibutuhkan, dan pemimpin diharapkan bersikap murah hati untuk itu. Mereka yang tidak cukup murah hati atau menuntut banyak atas hasil panen rakyat kadang-kadang dibunuh.

Sistem redistribusi parsial masyarakat Polynesia bersifat redistributif, dalam arti bahwa mencakup arus barang berkesinambungan antara pemimpin dan rakyatnya. Namun, dalam kasus ini arus barang adalah arus yang tidak sama. Rakyat jelas memberi lebih banyak daripada yang mereka terima. Walaupun jelas sama pada prinsipnya dengan sistem redistribusi murni pada masyarakat hortikultura berskala kecil, sistem redistribusi yang diintensifkan pada masyarakat hortikultura yang maju ini berperan dalam melahirkan sistem ketidakmerataan ekonomis. Dengan demikian, mereka membentuk perkembangan evolusioner yang nyata melebihi tingkat redistribusi murni.

Harner (1975) mengemukakan bahwa faktor kunci di balik hasil evolusioner yang signifikan ini adalah keterbatasan tanah. Ketika tekanan penduduk memaksa kelompok hortikultura berskala kecil untuk mengembangkan metode penanaman yang lebih intensif, jelas tanah sedang menjadi sumber daya yang terbatas. Memang, inilah sebabnya mengapa setiap unit tanah tertentu harus ditanami secara lebih intensif. Keterbatasan tanah, dalam pandangan Harner, adalah akibat kompetisi yang semakin meningkat untuk mendapatkan tanah yang berharga, dan sebagian orang akhirnya mendapatkan ekses yang lebih besar daripada orang lain. Orang besar, dengan dasar kekuasaan yang relatif lemah mengandalkan usaha sendiri dan dibantu suka rela dari para pengikutnya, berubah menjadi pemimpin, yang dasar kekuasaannya semakin diperkuat melalui pengusaan mereka atas tanah.

d.  Ekspropriasi Surplus dan Eksploitasi

Ekspropriasi surplus adalah sebuah pola redistribusi yang paling umun terdapat dalam masyarakat agraris, yang diorganisasikan dalam sistem pemilikan kekayaan yang bersifat seigneurial. Ia terjadi apabila kelas tuan tanah memaksa kelas produsen yang bergantung secara ekonomi untuk menghasilkan surplus dari ladang mereka dan menyerahkan surplus tersebut kepadanya. Surplus tersebut ditarik dalam bentuk bunga pinjaman, berbagai jenis pajak, dan berbagai jenis pengabdian berupa tenaga.

Sebagian mereka yang mempelajari ekonomi pra-kapitalis, terutama sejarawan ekonomi Karl Polanyi (1957), tidak membedakan antara  ekspropriasi surplus dan redistribusi parsial. Sebagai gantinya, mereka menggunakan konsep redistribusi untuk diterapkan kepada  dua jenis aktivitas ekonomi tersebut. Namun, ini tampaknya sebagai kesalahan serius dan sangat menyesatkan. Ada beberapa perbedaan krusial antara ekspropriasi surplus dan redistribusi parsial, di sini disajikan dua hal penting. Perama, tuan tanah mempunyai kekuasaan yang jauh lebih besar daripada para pemimpin, dan mereka menggunakan kekuasaan ini untuk meletakkan lebih banyak beban ekonomi terhadap petani produsen daripada beban yang dapat diletakkan para pemimpin terhadap pengikut mereka. Kedua, arus barang dan jasa antara tuan tanah dengan petani  lebih senjang daripada arus barang berharga antara para pemimpin dengan orang awam. Arus barang berharga antara tuan tanah dengan petani jarang dideskripsikan sebagai redistribusi, karena sedikit sekali arus balik dari tuan tanah kepada petani.  Memang, arus barang berharga umumnya bersifat satu arah saja, yaitu dari petani ke tuan tanah. Walaupun dalam beberapa situasi tertentu ada kemiripan antara redistribusi parsial dan ekspropriasi  surplus, namun dalam banyak kasus tidaklah sulit untuk menyatakan apakah ekspropriasi surplus  atau redistribusi parsial yang terjdi dalam suatu masyarakat.

Di dalam sistem feodalisme Eropa abad pertengahan, ekspropriasi surplus merupakan pola redistribusi yang dominan. Para petani membayar rente khusus kepada para tuan tanah untuk menggunakan tanah mereka yang dibayar dengan hasil panen (rent in kind) atau dengan uang (cash rent), atau kombinasi keduanya. Pada masa-masa awal zaman feodal, rent in kind merupakan bentuk standar pembayaran rente; tetapi setelah sistem feodalisme berkembang pada abad tengah akhir, cash rent mulai menggantikan  rent in kind. Karena petani memproduksi untuk dirinya sendiri dan juga untuk tuan tanah, dia dan juga keluarganya harus  bekerja semakin keras untuk memenuhi beban ekonomi yang diletakkan di pundaknya. Para petani juga memikul beban ekonomi  dalam bentuk berbagai macam pajak. Sebagai contoh, petani harus membayar pajak untuk menggiling hasil panen mereka di penggilingan tuan tanah, pajak lain adalah untuk membakar roti mereka di oven tuan tanah, dan pajak lainnya adalah untuk memancing di kolam ikan tuan tanah. Karena para petani tidak mepunyai semua ini, mereka jatuh ke dalam ketergantungan kepada tuan tanah mereka. Jenis beban ekonomi ketiga yang dibebankan ke pundak petani Eropa abad pertengahan adalah pengabdian berupa tenaga. Para petani diminta menghabiskan begitu banyak hari kerja untuk bekerja di tanah milik tuan tanah, menggarap tanah dan memelihara ternak. Beban ini seringkali sangat memberatkan dan membuat petani tidak punya waktu untuk memenuhi kebutuhan subsistensi keluarganya, seperti mengerjakan tanahnya sendiri.

Di masa Romawi Kuno, sistem ekspropriasi surplus juga ada, tetapi sistem ini lebih mengandalkan tenaga para budak daripada petani. Persediaan budak yang sangat banyak diperoleh melalui penaklukan politik terhadap negeri orang lain. Tenaga budak jauh lebih murah daripada tenaga petani, dan karena itu merupakan bentuk tenaga kerja yang utama dalam masyarakat Romawi (Cameron, 1973). Banyak perkebunan masyarakat Romawi yang memiliki sejumlah besar budak untuk menggarapnya; Pliny, misalnya, menyebutkan sebuah perkebunan yang memiliki 4117 budak (Cameron, 1973). Ketika budak lebih merupakan bentuk tenaga kerja yang lebih penting daripada bentuk tenaga kerja petani, maka sistem ekspropriasi surplus lebih langsung dan terlihat jelas. Sebagai contoh, untuk mengkalkulasi pendapatan mereka, para tuan tanah Romawi hanya menentukan jumlah kekayaan yang dihasilkan para budak untuk mereka dan menguangkan untuk biaya mencari dan memelihara tenaga kerja budak.

Banyak ilmuwan yang menggunakan istilah eksploitasi untuk hubungan tuan tanah dengan petani, tuan tanah dengan budak, dan dalam kadar tertentu, pimpinan dengan rakyatnya. Pada saat yang sama, yang lain menolak penggunaan istilah ini. George Dalton, misalnya, menyatakan bahwa istilah tersebut sangat berprasangka dan ditunggangi emosi dan digunakan oleh mereka yang menyukai sistem ekonomi tertentu hanya untuk mengutuk. Karena Dalton percaya istilah ini digunakan hanya untuk menyebutkan ketidaksetujuan daripada melakukan analisis ilmiah, dia mengusulkan agar istilah tersebut dibuang dari kosa kata ilmuwan sosial. Namun, Dalton juga mengemukakan bahwa apabila istilah ini digunakan juga, maka itu bergantung kepada penilaian subjektif, apakah eksploitasi benar-benar terjadi atau tidak –yakni, apakah diri mereka sendiri  dieksploitasi atau tidak.

Jadi, Dalton yakin bahwa definisi dan kalkulasi objektif terhadap eksploitasi tidak mungkin tercapai, dan bahwa eksploitasi hanya dapat dikatakan ada jika ada orang menganggapnya ada. Dengan kata lain, jika seorang petani merasa tidak dieksploitasi oleh tuan tanahnya, maka dia tidak dieksploitasi.

Pendekatan Dalton terhadap eksploitasi sepenuhnya  subjektif dan tidak dapat diterima. Mengatakan bahwa eksploitasi tidak ada apabila orang tidak merasa dieksploitasi sangat serupa dengan mengatakan bahwa orang tidak menderita sakit hati jika mereka pikir mereka tidak sakit hati. Seperti sakit hati, eksploitasi adalah sebuah gejala objektif, dan karena itu harus dikonseptualisasikan dan diukur dengan kriteria objektif, bukan dengan pikiran dan perasaan  subjektif orang (Moore, 1966; Zeitlin, 1973).

Berikut ini ditawarkan definisi objektif tentang eksploitasi: eksploitasi terjadi apabila satu pihak terpaksa memberikan kepada pihak lain lebih dari yang mereka terima sebagai imbalannya. Ada dua aspek yang harus ditekankan dalam definisi ini. Pertama, eksploitasi secara jelas terjadi hanya  apabila dua pihak yang berhubungan menerima keuntungan yang tidak rata sebagai hasil hubungan mereka. Kedua, keuntungan yang tidak rata harus terjadi karena salah satu pihak  terpaksa untuk memberikan atau melakukan sesuatu. Yakni, satu pihak tidak secara suka rela terlibat dalam hubungan, atau jika ada kesukarelaan, adalah karena hubungan  alternatifnya tidak memberikan perbaikan dalam situasi ekonomis pihak tersebut.

Tetapi, sumber daya apa yang tidak pernah diberikan tuan tanah kepada para petani? Sebagaimana ditunjukkan Harris (1980), itu adalah penggunaan tanah secara bebas dan tidak dibatasi. Apabila mereka melakukan ini, maka hubungan antara tuan tanah dengan petani tidak akan tidak berimbang secara ekonomi, karena para petani kemudian tidak akan diwajibkan membayar rente, pajak, dan memberikan pelayanan kepada tuan tanah; dan pastilah mereka tidak akan berbuat begitu. Situasi ekonomi petani dengan demikian akan membaik, sementara kondisi tuan tanah akan merosot. Dengan kata lain, walaupun para tuan tanah menyediakan barang-barang berharga dan jasa bagi para petani, mereka tidak memberikan akses yang tidak terbatas atas sumber daya yang paling bernilai dalam masyarakat agraris. Jadi, tampaknya, adil untuk menyimpulkan bahwa petani menerima keuntungan yang tidak rata sebagai hasil dari hubungan mereka dengan para tuan tanah, mereka berbuat begitu karena ada di bawah tekanan tertentu, dan mereka terlibat dalam hubungan tersebut tidak secara sukarela atau karena tidak ada (atau mungkin sangat kurang) alternatif yang menarik. Oleh karena itu, tampaknya masuk akal untuk menyimpulkan bahwa petani dieksploitasi oleh tuan tanah.

Kemudian, apakah rakyat juga diekspolitasi oleh para pemimpin mereka? Mungkin ya, paling tidak dalam kadar tertentu, walaupun tampaknya kadar eksploitasi secara substansial lebih kurang dari hubungan petani-tuan tanah. Dalam kenyataan, tampaknya adil untuk menyatakan bahwa eksploitasi yang sangat awal, dalam pengertian yang evolusioner, terjadi juga dalam masyarakat hortikultura intensif dengan pola pemilikan dan sistem redistribusi parsial. Sistem orang besar dan redistribusi murni, dan juga sistem  generalized reciprocity dan balanced reciprocity, dikenal sebagai jarang mengandung unsur-unsur eksploitatif murni. Dalam kenyataannya, tampaknya inilah satu-satunya jenis sistem ekonomi dimana eksploitasi  tidak tampak sebagai bagian  dari kehidupan sosial yang sudah terstruktur.

5.  Munculnya Pasar-pasar Ekonomi

Institusi ekonomi yang dikenal sebagai pasar ada ketika orang menawarkan barang dan jasa untuk dijual kepada orang lain, dengan cara yang kurang lebih sistematis dan terorganisasi. Penting dibedakan antara pasar (market) dan tempat pasar (marketplace). Tempat pasar adalah bentuk fisik di mana barang dan jasa dibawa untuk dijual dan pembeli bersedia membeli barang dan jasa. Dalam masyarakat pra-kapitalis, tempat pasar adalah tempat fisik yang terdapat di sejumlah tempat yang ditentukan dalam masyarakat. Tetapi dalam kapitalisme modern, tempat pasar adalah  “tersebar”, yakni tersebar luas di seluruh masyarakat. Sebaliknya, pasar bukanlah tempat fisik, tetapi sebuah institusi sosial, atau serangkaian hubungan sosial yang terorganisasi di seputar proses membeli dan menjual sesuatu yang berharga.

a.  Hubungan Masyarakat dengan Pasar

Paul Bohannan dan George Dalton (1962) membedakan tiga jenis masyarakat dalam hubungannya dengan pasar, yaitu masyarakat tanpa pasar, masyarakat pasar periferal, dan masyarakat yang didominasi pasar.

Masyarakat tanpa pasar tidak mempunyai pasar maupun tempat pasar. Walaupun ada beberapa transaksi ekonomi yang didasarkan atas pembelian dan penjualan, namun itu hanya bersifat kasual, sedikit dan jarang terjadi. Karena masyarakat tanpa pasar tidak memiliki pasar, kebutuhan subsistensi tidak dipenuhi dengan prinsip-prinsip pasar, tetapi oleh mekanisme resiprositas dan redistribusi. Masyarakat !Kung, juru-bicara-Kaoka, dan Yanimamo adalah masyarakat tanpa pasar, karena sebenarnya mereka memang masyarakat pemburu-peramu dan hortikultura.

Masyarakat pasar periferal mempunyai tempat pasar, tetapi prinsip-prinsip pasar jelas tidak berfungsi untuk mengatur kehidupan ekonomi. Dalam masyarakat semacam ini, orang mungkin sering terlibat dalam aktivitas tempat pasar, sebagai pembeli ataupun penjual; tetapi aktivitas ini merupakan gejala ekonomi yang sangat sekunder. Orang tidak memenuhi keperluan subsistensinya melalui aktivitas tempat pasar, tetapi melalui resiprositas, redistribusi, dan eksproriasi. Dalam masyarakat pasar periferal, kebanyakan orang tidak memproduksi sesuatu untuk pasar atau dijual di pasar, atau mereka melakukannya hanya sebagai orang pasar sesekali.

Pasar periferal sangat sering terdapat  di kalangan masyarakat hortikultura, dan hampir universal dalam masyarakat agraris. Masyarakat Aztecs, masyarakat hortikultura yang sangat intensif yang mendominasi Mexico selama abad XV dan XVI, mempunyai pasar-pasar periferial yang cukup luas dan penting (Beals and Hoijer, 1971). Di seluruh kota kekaisaran Aztecs ada pasar-pasar besar, dan pasar-pasar ini dihubungkan satu dengan lainnya dan dengan ibu kota Aztecs, Tenochtitlan dengan sistem dagang keliling. Pasar besar terdapat di pinggiran kota Tenochtitlan, berlangsung lima hari sekali. Para calon pembeli datang ke pasar ini dari bermil-mil di sekitarnya untuk membeli berbagai barang yang ditawarkan di situ: emas, perak, permata, pakaian, coklat, tembakau, kulit binatang, alas kaki, budak, buah dan sayuran, garam, madu, peralatan, tembikar, perabot rumah tangga, dan banyak lagi barang lainnya.

Pasar-pasar periferal juga signifikan dalam masyarakat Eropa abad pertengahan (Heilbroner, 1985). Pasar di kota-kota kecil Eropa abad pertengahan adalah tempat di mana para petani akan membawa sebagian hasil panennya untuk dijual. Para pedagang dan pengrajin yang tinggal di berbagai kota ini, bagaimanapun juga, lebih penting bagi kehidupan pasar. Para pedagang dan pengrajin ini membuat barang untuk dijual di pasar-pasar dan menopang hidup mereka dari hasil penjualan tersebut. Eropa abad pertengahan juga mempunyai jenis aktivitas pasar yang khas, yang dikenal dengan pekan raya (fair). Ini adalah sejenis pasar keliling, yang biasanya diadakan setahun sekali di mana para pedagang dari seluruh Eropa datang menjual produk mereka. Pekan raya dilaksanakan bersamaan dengan hari keramat, perayaan keagamaan, dan ektivitas ekonomi yang intens. Pada pekan raya, para pedagang membawa sejumlah besar barang yang bermacam-macam untuk dijual, seperti sutera, kuda, obat, rempah-rempah, buku dan kertas dari kulit, dan masih banyak lagi (Heilbroner, 1985).

Masyarakat yang didominasi pasar memiliki baik pasar maupun tempat  pasar  (yaitu  pasar-pasar  yang “tersebar”) dan  prinsip-prinsip  pasar –prinsip membeli dan menjual barang menurut kekuatan permintaan dan penawaran–  yang menentukan semua keputusan penting dalam produksi, distribusi, dan pertukaran. Dalam masyarakat ini, berbagai jenis resirpositas dan redistribusi mungkin juga ada, tetapi sangat kurang signifikan. Satu-satunya masyarakat yang didominasi pasar adalah masyarakat yang dikarakterisasikan oleh kapitalisme modern. Namun, di sini perhatian kita  adalah kepada jenis karakteristik aktivitas pasar periferal yang sangat berkembang pada kebanyakan masyarakat agraris dan umumnya berlokasi di kota-kota.

b.  Aspek Pasar dalam Masyarakat Pra-Kapitalis

(1) Manufacturing  dan Serikat Buruh. Dalam masyarakat pra-kapitalis di mana manufacturing terjadi sebagai aktifitas  ekonomi  substansial –biasa-nya dalam skala kecil– umumnya terbatas pada rumah pengrajin dan beberapa toko kecil yang berlokasi di tempat pasar (Sjoberg, 1960). Workshop yang paling besar pun di masyaakat pra-kapitalis akan sangat kecil menurut standar manufakturing modern. Dengan tidak adanya pasar massa untuk barang-barang, dan dengan demikian sangat terbatas untuk pembentukkan modal, unit produktif pastilah tetap kecil.

Bentuk-bentuk spesialisasi pra-kapitalis terjadi lebih dalam kaitannya dengan produk daripada dengan proses produksi. Setiap pengrajin membentuk seluruh produksinya sendiri, dari awal sampai akhir. Sebagaimana yang dikatakan Gideon Sjoberg (1960:197), “Spesialisasi dalam produk seringkali mengakibatkan pengrajin menghabiskan seluruh waktunya untuk memproduksi barang-barang sejak dari bahan baku material; jadi, kita mempnyai tukang emas, tukang tembaga, tukang perak, penenun sutera, penenun wool, dan seterusnya, yang masing-masing mempunyai serikat kerja sendiri”. Di samping itu, pengrajin pra-kapitalis biasanya berfungsi sekaligus sebagai pedagang yang menjual produk akhirnya.

Sebenarnya, dalam masyarakat pra-kapitalis berskala kecil dengan sektor menufacturing yang signifikan, para pedagang dan pengrajin diorganisasi ke dalam organisasi kerja yang dikenal dengan serikat kerja. Berbagai serikat kerja dispesialisasikan menurut pekerjaan; mereka memasukkan semua orang yang melakukan pekerjaan yang sama atau cabang suatu pekerjaan yang sangat spesialis sebagai anggotanya. Sjoberg (1960), misalnya, menyebutkan satu persatu serikat pekerja berikut ini hanya di sebuah kota pra-kapitalis, Beijing pada tahun 1920-an: Para tukang  (Sacred  lu Pan Society), pengancing sepatu (Sawers of Boots and Shoes Guild; atau Double  Thread Guild),  toko jam (The Clock Watch Commercial Guild Association), toko kulit (Five Sages Hide and Skins Guild), pedagang sayuran (Green  or Fresh Vegetable Guild), tukang pangkas (Beauty the Face Guild), dan pelayan (Tea Guild).

Fungsi serikat kerja yang paling penting adalah menciptakan dan memelihara suatu monopoli atau jenis aktivitas ekonomi tertentu. Hak untuk memperoleh hampir semua pekerjaan  yang berkaitan dengan manufacturing atau perdagangan atau bahkan jasa, hanya mungkin melalui keanggotaan di dalam serikat kerja  yang menguasainya (Sjoberg, 1960:190).  Dalam menjalankan kekuasaan monopolistik atas berbagai pekerjaan, serikat kerja melakukan berbagai aktivitas. Sebagaimana ditunjukkan Sjoberg, mereka menentukan seleksi personal untuk suatu pekerjaan; melatih anggota, biasanya melalui hubungan guru-cantrik; meletakkan standar pekerjaan  para anggota; mengontrol output yang dihasilkan anggota; melindungi anggota dari pembatasan yang semena-mena yang mungkin dikenakan oleh lembaga pemerintahan atau keagamaan; dan membantu anggota mendirikan toko atau membeli bahan baku yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Jelasklah, serikat kerja memainkan peranan krusial dalam kehidupan pengrajin dan pedagang pra-kapitalis. Sebenarnya, secara kasar tujuan dasarnya dapat diperbandingkan dengan serikat buruh dan organisasi bisnis dan profesional zaman modern ini.

(2)  Penentuan Harga. Dalam kapitalisme modern, harga barang dan jasa ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran yang abstrak. Seseorang pergi  ke toko dan menemukan harga pasti yang ditetapkan  untuk suatu barang tertentu. Namun, harga dalam setting pra-kapitalis, tidak ditetapkan dengan cara seperti ini, tetapi ditetapkan oleh apa yang biasanya disebut tawar-menawar. Tawar-menawar tejadi apabila calon pembeli menanyakan berapa harga yang diminta penjual atas suatu barang, penjual menjawab, dan kemudian pembeli menawarkan harga lain, yang biasanya lebih murah daripada yang telah disebutkan penjual. Pembeli dan penjual kemudian tawar-menawar harga sampai akhirnya sebuah kesepakatan tercapai  atau pembeli pergi dengan perasaan tidak suka.

Tawar-menawar adalah pola tipikal penentuan harga dalam masyarakat di mana pasar massa tidak ada, dan dengan demikian pembeli dan penjual mempunyai sedikit pengetahuan tentang harga suatu barang. Di samping itu, karena tawar-menawar menghabiskan banyak waktu, waktu jelas bukan merupakan sumber daya yang berharga dan langka, sebagaimana dalam kapitalisme modern. Oleh karena itu, tawar-menawar hanya dapat terjadi dalam setting di mana orang jarang terburu-buru menyelesaikan tugas sehari-hari mereka.

(3)  Aktivitas Ekonomi Non-rasionalitas. Kapitalisme modern adalah jenis sistem ekonomi yang sangat rasional dalam pengertian bahwa ada keragaman teknik canggih yang digunakan dalam melakukan bisnis –ber-bagai teknik dirancang untuk memaksimalkan produktivitas ekonomi dan pertumbuhan. Dengan demikian, masyarakat kapitalisme modern menggunakan bentuk-bentuk akuntansi, keuangan, organisasi tempat kerja, dan pemasaran yang lebih maju dalam menjalankan aktivitas bisnis mereka, dan berbagai prosedur ini menentukan keberhasilan.

Namun, dalam pasar pra-kapitalis, pengorganisasian aktivitas ekonomi yang rasional itu pada umumnya tidak ada (Sjoberg, 1960). Aktivitas ekonomi non-rasionalitas (jangan dicampuradukkan dengan “ïrrasionalitas”) ini diekspresikan ke  dalam berbagai cara. Salah satunya, para pengrajin dan pedagang biasanya tidak mengikuti jadwal kerja yang mengikat secara ketat menurut jam. Sebaliknya, mereka sering mulai bekerja pada jam yang berbeda-beda dalam suatu hari, sesuai dengan sifat  dari aktivitas non-ekonomi lain yang dilakukan. Di samping itu, manufacturing pra-kapitalis dikarakterisasikan  oleh sedikitnya sinkronisasi usaha. Para pekerja dalam satu sektor manufacturing hanya sedikit mengetahui apa yang terjadi di berbagai sektor lain, dan mereka mengetahuinya sedikit apabila suatu usaha  untuk mengkoordinasikan  berbagai aktivitas mereka dengan aktivitas lain terjadi di berbagai sektor lain ini. Akhirnya, pemasaran barang dalam masyarakat pra-kapitalis tidak begitu terstandardisasi. Sebagai contoh, pedagang jarang memeriksa atau mensortir produk mereka, dan tidak begitu tegas standardisasi timbangan  dan ukuran.  Sebagaimana dikatakan Sjoberg, kurangnya standardisasi ini  berkaitan dengan tidak adanya pasar massa, dan dengan demikian sifat aktivitas pasar sangat mempribadi.

BAB 6

SIMPULAN

1. Sifat Dasar Stratifikasi Sosial

Perbedaan penting antara konsep ketidaksamaan sosial (social inequality) dengan stratifikasi sosial harus dipahami dengan jelas. Kelalaian memahami perbedaan penting ini akan membuat bingung tentang apakah struktur sosial benar-benar universal dalam kehidupan sosial.

Ketidaksamaan sosial  berkenaan dengan adanya perbedaan derajat dalam pengaruh atau prestise sosial antarindividu dalam suatu masyarakat tertentu. Ada dua segi penting dari definisi ini. Pertama, ketidaksamaan sosial hanya mengenai perbedaan antarindividu dalam pengaruh sosial, yaitu  aksi seorang  individu akan diikuti atau ditiru oleh individu lainnya; atau prestise,  yaitu apabila individu dihormati dan dihargai. Jadi, ketidaksamaan bukan berkenaan dengan derajat kekuasan atau kekayaan. Ketidaksamaan ada dan dapat terjadi dalam masyarakat tanpa perbedaan kekayaan atau pendapatan individu atau kelompok. Kedua, ketidaksamaan sosial mengimplikasikan ketidaksamaan antarindividu, bukan antar suatu kelompok yang berlainan. Apabila terjadi ketidaksamaan, individu mencapai kedudukan tertentu yang berbeda, tetapi mereka tetap sebagai indivudu bukan sebagai kelompok. Jadi, dapat dipahami, ketidaksamaan sosial adalah hal yang universal dalam masyarakat manusia, karena itu tidak ada masyarakat tanpa perbedaan antarindividu.

Berbeda dengan ketidaksamaan sosial, stratifikasi sosial berkenaan dengan adanya dua atau lebih kelompok bertingkat (ranked groups) dalam satu mesyarakat tertentu, yang anggota-anggotanya mempunyai kekuasaan, hak-hak istimewa, dan prestise yang tidak sama pula. Definisi tentang stratifikasi ini dipengaruhi oleh konsep tentang masyarakat stratifikasi (stratified societies) yang dikembangkan oleh antropolog Morton Fried. Menurut Fried (1967:186), masyarakat stratifikasi adalah masyarakat di mana anggota-anggota yang sama jenis kelamin dan umurnya tidak mendapat pendapatan atau penghasilan yang sama. Inti gagasan dalam definisi Fried adalah perbedaaan akses dalam memanfaatkan sumber daya. Ini jelas melampaui fakta ketidaksamaan dalam pengaruh, kekuasaan, dan hak-hak istimewa. Kekuasaan meliputi kapasitas beberapa individu untuk memerintah individu lainnya, walaupun di luar kehendaknya. Hak-hak istimewa berkenaan dengan kekayaan dan keuntungan material lainnya. Perbedaan dalam hak-hak istimewa juga merupakan bagian dari sistem stratifikasi, dan biasanya dalam masyarakat terstratifikasi ketidaksamaan prestise berasal dari ketidaksamaan kekuasaan dan hak-hak istimewa.

Karakteristik penting lain dari stratifikasi adalah  bahwa ia melibatkan kelompok, bukan individu. Tingkat kekuasaan, hak istimewa, dan prestise individu dalam masyarakat terstratifikasi bergantung pada keanggotaannya dalam kelompok-kelompok sosial, bukan pada karakteristik personalnya. Kelompok-kelompok yang tingkatannya berbeda-beda membentuk strata social (tunggal=stratum), atau lapisan sistem sosial-kultural secara menyeluruh, yang bersifat turun temurun. Karena itu, dalam masyarakat terstratifikasi, individu dilahirkan dalam suatu stratum sosial tertentu yang memberikan suatu kedudukan sosial dan identitas tanpa memperhatikan karakteristik personal mereka. Stratifikasi yang bersifat turun temurun ini jelas melahirkan ketidaksamaan. Dalam masyarakat tidak terstratifikasi, ketidaksamaan yang timbul (di luar umur dan jenis kelamin) terutama disebabkan oleh usaha dan kemampuan individual daripada penempatan sosial yang turun temurun.

Tidak diragukan lagi bahwa stratifikasi merupakan karakteristik universal masyarakat manusia. Tidak ada suatu masyarakat yang mana anggotanya sama (equal). Tetapi, ada juga masyarakat yang kurang terstratifikasi. Stratifikasi cenderung ditemukan pertama kali pada masyarakat-masyarakat yang telah berkembang pada tingkat perkembangan teknologi hotrikultural intensif; walaupun kadang-kadang hal ini ditemukan di masyarakat yang lebih primitif.  Namun, di samping fakta ini, ia merupakan ciri-ciri umum dalam banyak masyarakat, dan memang universal di semua masyarakat yang kompleks.

2. Stratifikasi Sosial dalam Perspektif Evolusioner

a. Ketidaksamaan Tanpa Stratifikasi

(1) Masyarakat Pemburu dan Peramu Sebagaimana telah diketahui, masyarakat pemburu dan peramu tidak terstratifikasi. Karakteristik perekonomian mereka tertumpu pada asas timbal balik, dengan kebersamaan dan kerja sama intensif seluruh anggota. Pemburu dan peramu pada umumnya menimbulkan “komunisme primitif”: prinsip tak memiliki (setidaknya hak untuk memakai) adalah komunal dan individu dapat memanfaatkan  sumber daya alam untuk kesejahteraannya. Karakteristik masyarakat pemburu dan peramu, tidak ditentukan oleh ketidaksamaan hak istimewa, dan karena itu tidak terdapat strata sosial.

Namun, ketiadaan strata sosial tidaklah berarti ada kesamaan derajat anggota dalam masyarakat pemburu dan peramu. Ketidaksamaan tetap terjadi, terutama ketidaksamaan prestise atau pengaruh sosial yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti umur, jenis kelamin, dan karakteristik personal tertentu. Telah umum diketahui, bahwa laki-laki cenderung mendapat status yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita di antara pemburu dan peramu, begitu juga dengan anggota mansyrakat yang tua sering  mendapat penghormatan dan penghargaan lebih dibandingkan dengan yang masih muda. Di samping itu, mempunyai ciri-ciri atau kelebihan tertentu dapat menaikkan prestise. Seseorang yang mahir berburu, yang gagah berani, atau yang bijaksana selalu mendapat prestise tertinggi. Individu-individu seperti ini selalu dianggap sebagai pemimpin karena mereka dianggap paling dapat dipercayai dan dipatuhi di antara mereka.

Walau bagaimanapun, pengaruh dan prestise seseorang dalam masyarakat pemburu peramu tidak mengakibatkan mempunyai hak-hak istimewa khusus. Perlu diketahui juga bahwa pengaruh atau prestise dicapai dengan kemampuan dan usaha individu, tidak disebabkan oleh mekanisme sosial yang turun temurun. Prestise adalah  kegagalan dan keberhasilan personal. Individu harus sungguh-sungguh dalam mempertahankan kehormatan. Apabila kemampuan dan usaha-usaha yang dilakukan gagal, maka statusnya akan turun dan individu lain akan menggantikannya. Jadi, sebenarnya masyarakat pemburu dan peramu memberi kesempatan dan memperbolehkan individu untuk mencapai status tertinggi. Pada masyarakat seperti ini, penghargaan terhadap status sosial, usaha dan keterampilan tertentu berhubungan erat satu sama lain. Fakta ini berlainan dengan masyarkat yang mempunyai tingkat  stratifikasi yang lebih tinggi.

Penting diketahui bahwa derajat prestise dalam masyarakat peramu-pemburu lebih mudah dicapai dibandingkan dengan sifat prestise dalam masyarakat tingkat lain. Masyarakat pemburu dan peramu benci akan kesombongan dan pemuliaan diri, dan mereka memberikan sangsi yang berat terhadap individu yang demikian. Dalam masyarakat tersebut haruslah tercipta kesejahteraan umum dan kesamaan sosial. Dengan demikian, masyarakat ini dapat dikatakan sebagai masyarakat egaliter.

(2) Masyarakat Hortikultura. Masyarakat hortikultura sederhana mempunyai peluang yang lebih banyak bagi terciptanya ketidaksamaan sosial dibandingkan dengan masyarakat pemburu-peramu. Ketidaksamaan tentu merupakan karakteristik masyarakat hortikultura, bukan ketidaksamaan dalam arti hak istimewa dan kekayaan, tetapi ketidaksamaan dalam prestise. Dengan demikian, masyarakat hortikultura sederhana tidak terstratifikasi, tetapi lebih kepada apa yang disebut Freid sebagai “masyarakat bertingkat”. Menurut Frank (1967:109), masyarakat bertingkat  adalah masyarakat di mana posisi kedudukan (status) tinggi terbatas, sehingga tidak semua individu yang mempunyai kemampuan dapat mencapainya. Dengan kata lain, di dalam masyarakat bertingkat, terdapat sistem rangking prestise dengan beberapa posisi kedudukan tinggi yang terbatas, yang tidak memberikan keuntungan material.

Seperti telah dibahas di atas, masyarakat hortikultura sederhana pada umumnya menunjukkan perekonomian yang bergantung pada redistribusi yang egaliter. Sistem rangking prestise dalam masyarakat ini sangat erat kaitannya dengan pola redistribusi ini. Dalam banyak masyarakat hortikultura sederhana, individu bekerja keras, berkorban untuk dan juga meminta pertolongan sanak keluarganya.  Pada kahirnya, barulah dapat mengumpulkan hasil yang berarti dari ladang dan tanah mereka. Hasil ini kemudian digunakan untuk mengadakan pesta besar ketika datangnya waktu redistribusi secara umum. Individu yang berulang kali dapat menunjukkan keberanian mereka dalam mengadakan pesta yang berhasil, akan menduduki tingkat tertinggi. Ia kemudian akan membuat sangat iri, dihargai, dan dikagumi oleh masyarakat. Individu ini berkedudukan sebagai “örang besar” (big man).

Sebagai pengakuan terhadap orang besar ini suku Siuai memujanya dengan puji-pujian. Mereka juga sangat menghargai nama dan orang yang meduduki jabatan tinggi tersebut. Ia pada umumnya tidak dipanggil dengan nama pribadi, tetapi dengan nama keluarga atau cukup dengan mumi (orang besar) saja. Bahkan dalam surat keterangan, namanya tidak digunakan, tetapi menggunakan nama kelompoknya atau memakai nama salah satu pembantunya. Penghargaan atas namanya ini bahkan berlanjut setelah kematiannya.

b.  Timbulnya Strastifikasi Sosial

(1)  Masyarakat Hortikultura Intensif. Stratifikasi sosial timbul pada saat terjadi transisi menuju masyarakat hoirtikultura intensif.  Masyarakat ini seringkali menampilkan strata atau kelas sosial yang turun temurun, suatu ciri khas masyarakat terstratifikasi. Tiga strata sosial utama ( yakni pemimpin, sub-peminpin, massa) merupakan pola yang biasa terjadi. Jadi, perbedan kedudukan atau status pada masyarakat hortikultura sederhana, pada masyarakat hortikultura intensif ditransformasikan menjadi  ketidaksamaan, yang berarti perbedaan akses untuk pendapatan. Hal ini akan terlihat pada beberapa kelompok orang yang dipisahkan oleh kedudukan sosial, kekuasaan, pakaian dan hiasan, pola konsumsi barang dan jasa, keterlibatan dalam produksi ekonomi, adanya waktu untuk bersenang-senang, dan pola gaya hidup keseluruhan. Keanggotaan di dalam kelompok-kelompok ini didapat secara turun-temurun dan tidak berhubungan dengan kemakmuran atau kemampuan individual. Status sosial ditentukan oleh hubungan darah/keturunan dengan penguasa atau raja.

Namun, karena penguasa dan massa dihubungkan oleh tali kekerabatan, sistem stratifikasi yang terjadi memiliki batas-batas yang pasti. Tali kekerabatan berfungsi untuk memperlunak sifat dan akibat-akibat dari ketidaksamaan, dan penguasa tetap diharapkan dermawan akan hartanya dan  selalu memperhatikan kesejahteraan umum.  Menurut Lenski (1966), “ëtika redistribusi” tetap berlaku dalam masyarakat seperti ini; untuk mencegah penguasa menguasainya secara berlebihan. Walaupun kelas penguasa menikmati hak-hak istimewanya, para penguasa tetap dianggap sebagai “pemberi nafkah” yang harus terus menerus memperhatikan kebutuhan dan keinginan sanak keluarganya yang jauh di dalam kelas massa.

(2) Masyarakat Agraris. Dengan beralihnya masyarakat hortikultura intensif kepada masyarakat agraris, maka batas-batas yang terbentuk sebelumnya pada sistem stratifikasi menjadi hilang. Hilangnya etika redistribusi dan meregangnya tali kekerabatan di antara anggota kelas-kelas sosial yang berbeda, berhubugan erat dengan munculnya bentuk stratifikasi sosial yang ekstrim, di mana mayoritas masyarakat terseret ke dalam kemiskinan dan degradasi. Salah satu ciri kuat dalam masyarakat agraris adalah jurang yang luas dalam kekuasaan, hak istimewa, dan prestise yang terjadi antara kelas dominan dan subordinatnya. Tentu saja, masyarakat agraris adalah masyarakat yang paling terstratifikasi di antara semua masyarakat pra- industri.

Sistem stratifikasi agraris umumnya terdiri atas strata sosial berikut: (1) elite ekonomi-politik yang terdiri atas penguasa dan keluarganya serta kelas tuan tanah; (2) kelas penyewa; (3) kelas pedagang; (4) kelas rohaniwan; (5) kelas petani; (6) kelas seniman; (7) kelas “sampah masyarakat”. Empat kelas yang disebut pertama dianggap kelompok kelas yang memiliki hak-hak istimewa. Tetapi kelompok-kelompok yang memiliki hak istimewa terpenting tentu saja elit ekonomi politik: kelas penguasa dan pemerintah. Para petani, seniman, dan kelas terakhir merupakan kelas bawah, tetapi karena petani merupakan kelas terbesar, ia juga merupakan kelas yang paling tereksploitasi.

Pemerintah dalam masyarakat agraris –raja, penguasa, kaisar atau apapun namanya- adalah orang yang secara resmi menjadi pemimpin politik. Kelas penguasa terdiri atas mereka yang mempunyai tanah dan menerima ketuntungan dari pemilikan tersebut. Kenyataannya, kelas penguasa dan pemerintah biasanya merupakan tuan tanah sekaligus penguasa politik, dan hal ini merupakan hubungan penting antara kedua segmen kehidupan elite tersebut. Jumlah populasi mereka tidak lebih dari satu atau dua persen dari populasi keseluruhan tetapi menerima kira-kira ½ sampai 1/3  dari seluruh  kekayaan masyarakat.  Hubungan spesifik antara penguasa dengan kelas pemerintah bervariasi antara satu masyarakat agraris dengan masyarakat agraris lainnya. Dalam beberapa masyarakat, kekuasaan dan kekayaan penguasa berkurang  dan dibatasi oleh kelas pemerintah, dan kelas pemerintah tersebut memegang kekuasaan politik utama. Keadaan ini ditemukan, misalnya, di Eropa abad pertengahan. Dalam masyararakat agraris lain, seperti di Turki zaman Ottoman atau Moghul India, kekuasaan politik terkonsentrasi di tangan penguasa yang juga merupakan tuan tanah. Dalam keadaan seperti ini, hak prerogatif kelas pemerintah (dalam hal kekuasaan, pemilikan dan pengawasan atas tanah serta kekayaan) menjadi terbatas.

Terlepas dari hubungan khusus antara penguasa dengan kelas pemerintah, masing-masing kelas menikmati kekuasaan yang besar, hak-hak istimewa dan prestise dibandingkan dengan kelas-kelas lain. Surplus perekonomian hampir bisa dipastikan mengalir ke tangan alat ekonomi politik. Penguasa dalam masyarakat agraris umumnya menguasai kekayaan dalam jumlah besar. Di akhir abad XIV, misalnya, raja-raja Inggris memiliki pendapatan kira-kira 135.000 gulden per tahun, jumlah yang sama dengan 85% pendapatan gabungan antara 2.200 bangsawan dan para pengawal kerajaan. Bahkan beberapa  penguasa birokrat kerajaan mendapat bagian yang lebih besar lagi. Pada akhir abad XIX, di Cina, porsi untuk kelas pemerintah Cina (termasuk segmen Manchu dari kelas ini) diperkirakan menerima 645 juta tael per tahun, atau 24% dari GNP. Dengan rata-rata 450 tael per keluarga, segmen Cina dari kelas penguasa mempunyai pendapatan per tahun 20 kali lebih besar daripada masyarakat Cina lainnya.

Di bawah kelas penguasa  dan pemerintah dalam masyarakat agraris adalah strata sosial yang disebut kelas pengabdi. Kelas ini terdiri dari para fungsionaris, seperti pegawai pemerintahan, tentara profesional, pelayan rumah tangga, dan personel lain yang langsung mengabdi kepada kelas penguasa dan pemerintah. Lenski memperkirakan bahwa kelas ini terdiri atas 5% dari keseluruhan populasi masyarakat agraris. Peran penting dari kelas ini adalah sebagai penengah hubungan antara elite dengan massa. Menurut Lenski, kelas ini terdiri atas para pegawai yang pekerjaan sehari-hari mentransfer surplus ekonomi kepada kelas penguasa dan pemerintah. Hak-hak istimewa dan status sosial dari kelas ini sangat bervariasi, sebagian anggota dari kelas ini menikmati hak istimewa lebih banyak daripada beberapa kelas pemerintah yang berpangkat rendah. Anggota lain dari kelas tersebut tidak menikmati hak-hak istimewa sama sekali; kedudukan mereka dalam masyarakat ini sedikit lebih baik daripada kelas petani. Rata-rata kelas pengabdi ini menyumbangkan keuntungan yang besar bagi kekayaan yang dikuasai para atasan mereka.  Walaupun kelas pengabdi ini adalah kelas pelayan, kedudukan mereka masih lumayan baik karena dekat dengan kelas yang memiliki hak-hak istimewa dibandingkan dengan kelas yang jauh sama sekali.

Kelas pedagang merupakan kelas yang juga mempunyai hak istimewa. Pedagang, tentu saja berkecimpung dalam aktivitas perdagangan yang merupakan bagian penting dari perekonomian kota masyarakat agraris. Kelas pedagang sangat diperlukan oleh kelas elite karena menyediakan barang-barang mewah. Walaupun banyak pedagang yang tetap miskin, banyak juga yang menimbun harta mereka, dan bahkan sedikit dari mereka lebih kaya daripada kelas pemerintah. Namun di luar keuntungan material, para pedagang mempunyai prestise yang rendah. Dalam status tradisional Jepang dan Cina, misalnya, pedagang ditempatkan pada urutan paling bawah, bahkan di bawah kelas petani dan seniman. Dalam zaman pertengahan Eropa, pedagang mempunyai status lebih baik, tetapi mereka tetap dianggap lebih rendah oleh kelas pemerintah. Para pedagang sadar atas rendahnya status mereka, dan banyak yang berusaha menaikkannya untuk menyamai kelas pemerintah dengan meniru gaya hidup kelas tersebut.

Walaupun kelas rohaniwan dalam masyarakat agraris selalu terstratifikasi secara internal, umumnya kelas tersebut mendapat kedudukan yang istimewa. Tentu saja, rohaniwan sering memiliki kekayaan dalam masyarakat agraris, dan pola hubungan mereka sangat dekat pada kelas penguasa dan pemerintah. Di Mesir pada abad XII SM, dan Prancis pada abad XVIII, para rohaniwan mempunyai 15% dari seluruh tanah. Pada masa pre-reformasi di Swedia, gereja memiliki 21%, sementara di Ceylon, pendeta Budha menguasai 1/3 tanah. Hak-hak istimewa yang dimiliki rohaniwan ini disebabkan oleh persekutuan mereka dengan kelas elite. Kelas elite umumnya mencari rohaniwan untuk mendukung tindakan-tindakan eksploitatif dan penindasan mereka. Para rohaniwan kemudian mendapat imbalannya. Walaupun demikian, hak-hak istimewa rohaniwan bukannya tidak rapuh. Para elite politik sering melakukan penyitaan terhadap rohaniwan, yang menunjukkan hubungan antara rohaniwan dengan kelas eilte kadang-kadang goyah. Tambahan pula, tidak semua rohaniwan kaya dan mempunyai status tinggi. Pada abad pertengahan di Eropa, misalnya, rohaniwan terbagi menjadi pendeta tinggi dan bawah. Jika pendeta kelas atas hidup dalam hak-hak istimewa dengan latar belakang kemuliaannya, maka pendeta kelas bawah –yang jamaahnya adalah para pelayan– mempunyai gaya hidup yang sama dengan orang kebanyakan.

Dalam banyak masyarakat agraris, populasi terbesar adalah para petani. Sebagai suatu kelas, para petani mempunyai status ekonomi, politik, dan sosial yang lebih rendah. Keadaan perekonomian mereka pada umumnya serba kekurangan, walaupun kadar eksploitasi terhadap mereka bervariasi dari satu masyarakat ke masyarakat agraris lainnya. Beban umum yang menimpa para petani adalah pajak, sebagai alat utama  yang memisahkan surplus produksi dari mereka sendiri. Beban dan beratnya pajak sangat bervariasi. Selama era Tokugawa di Jepang, tinggi pajak hasil panen bervariasi dari 30%-70%. Di Cina kira-kira 40%-50% dari total produksi pertanian yang diklaim sebagai hak milik tuan tanah.

Banyak beban berat lain yang harus ditanggung petani selain pajak. Salah satunya adalah convee, atau kerja paksa. Sistem ini memaksa para petani untuk bekerja seharian untuk penguasa mereka dan negara. Di Eropa pada zaman pertengahan, misalnya, para petani dipaksa untuk mengerjakan tanah penguasa  pada hari-hari tertentu sepanjang tahun. Selama pembangunan  “The Great Wall” di Cina, para petani dipaksa bekerja hampir selama usia dewasa mereka. Di Sumedang Jawa Barat, Pangeran Kornel atas pesanan atasannya, Jendral Daendels, pada awal abad ke XIX memaksa para petaninya untuk mengerjakan jalan “Cadas Pangeran”. Beban para petani tidak berhenti pada kerja paksa dan pajak. Jika penguasa pengoperasikan penggilingan, tungku pembakaran  dan pembuatan arak, para petani diharuskan untuk menggunakannya dan membayarnya dengan layak. Dalam beberapa masyarakat agraris, penguasa dapat bebas mengambil apapun yang ia sukai milik sang petani tanpa membayar. Di Eropa pada abad pertengahan, apabila seseorang mati, maka penguasa dapat menyatakan bahwa itu adalah hasil dari kejahatan petani. Kemudian,  apabila anak gadis petani melangsungkan pernikahan tanpa sepengatahuan atau tidak direstui oleh penguasa, maka ayah si gadis terkena denda. Lebih jauh lagi, para bupati berhak memaksa calon istri atau bahkan istri petani yang dikehendaki untuk “dikawininya”. Untuk yang terakhir ini dikenal kisahnya di Cianjur Jawa Barat pada zaman bupati Wiratanudatar III, atau Dalem Dicondre (dibunuh pakai senjata condre).

Jelas bahwa kehidupan petani jelata sangat menyedihkan, hidup dalam keadaan kekurangan, para petani kekurangan makanan dari segi kualitas, kuantitas, dan jenisnya. Alat-alat rumah tangga sangat kurang, dan umumnya para petani tidur di tanah berselimutkan jerami. Kadang-kadang situasi begitu sulit untuk tinggal menetap. Petani terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya mencoba hidup dengan jalan lain.

Akibat dari rendahnya tingkat perekonomian yang diderita, para petani menduduki status yang paling bawah dalam seluruh masyarakat agraris. Perbandingan kualitas hidup petani dan elite bagaikan bumi dengan langit. Kelompok elite menganggap petani sebagai kelompok yang sangat rendah, bahkan sering diperlakukan tidak manusiawi. Dalam beberapa masyarakat agraris, petani diklasifikasikan persis seperti pengelompokkan ternak. Mereka sekadar dapat hidup, tidak dapat menikmati pendidikan, mengembangkan diri, dan terjebak oleh status mereka.

Di bawah kelas petani masih terdapat dua kelas lagi dalam tatanan masyarakat agraris. Salah satunya adalah kelas seniman, atau pengrajin, suatu kelas yang diperkirakan Lenski, 3-7% dari seluruh populasi.  Para seniman biasanya berasal dari para petani yang kehilangan hak milik. Walaupun pendapatan petani dan seniman tumpang tindih, pendapatan seniman biasanya lebih buruk daripada petani. Ternyata, banyak dari mereka hidup dalam kelaparan. Kelas paling bawah dari masyarakat agraris adalah apa yang disebut sebagai “sampah masyarakat”. Kelas ini diperkirakan sekitar 5-10%, dijumpai di daerah perkotaan. Mereka terdiri dari pengemis, pencuri, pelanggar hukum, pekerja serabutan, atau personal lain yang disebut Lenski (1966:281) sebagai “terpaksa hidup di bawah belas kasihan dan sedekah orang lain”. Kelompok ini hidup dalam perekonomian yang sangat rendah, kurang gisi dan sakit-sakitan, dan mempunyai angka kematian tinggi. Anak-anak petani miskin yang tidak mewarisi apa-apa sering jatuh ke dalam kelas yang malang ini.

Kedudukan seseorang dalam tatanan sosial masyarakat agraris ditentukan secara turun temurun. Banyak yang meninggal tetap sebagai anggota kelas dimana ia dilahirkan. Ini tidak berarti bahwa mobilitas sosial tidak mungkin atau tidak ada, mobilitas sosial  tetap terjadi dalam jumlah kecil. Namun, mobilitas ke atas jarang terjadi, lebih banyak mobilitas ke bawah. Seperti telah dibahas di atas, anak-anak petani yang tidak mewarisi apapun dari kedua orang tua sering menjadi seniman atau gelandangan. Sehingga kesempatan atau kemungkinan perbaikan kualitas hidup / kedudukan dalam masyarakat agraris sangat sulit.

Daftar Pustaka

Abbot, P. dan Wallace, C. 1990. An Introduction to Sociology: Feminist Perspective. London: Routledge.

Berger, P. 1966. Invitation to Sociology. London: Penguin.

Bohannan, Paul and George Dalton (eds.) 1962. Markets in Africa. Evanston, III: Northwestern University Press.

Boserup, Ester. 1965. The Condotions of Agricultural Growth. Chicago: Aldine.

Calvert, P. dan Calvert S. 1992. Sociology Today. Hemel Hempstead: Harvester Wheatsheaf.

Chagnon, Napoleon. 1983. Yanomamo: The Fierce People. New York: Holt, Rinehart, and Wiston.

Cohen, Mark N. 1977. The Food Crisis in Prehistory. New Haven: Yale University Press.

Collins, Randall. 1988. Theoretical Sociology. San Diego: Harcourt Brace Jovanovich.

Collin, Randal. 1985. Three Sociological Traditions. New York: Oxpord University Press.

Craib, I. 1968. Modern Social Theory. London: Heinemann.

Dahlberg, Frances. 1981. Women the Gatherer. New Haven: Yale University Press.

Dalton, George. 1967. Tribal and  Peasant Economies. Austin: University of Texas Press.

Fried, Morton. 1967. The Evolution of Political Society. New York: Random House.

Giddens, A.  1982. Sociology. Basingstoke: Macmillan.

Harner, Michael. 1970. “Populatiopn Pressure and the Social Evolution of Agriculturalist”. Southwestern Journal of Anthropology 26: 67-86.

Harris, Marvin. 1968. The Rise of Anthropology Theory. New York: Harper and Row.

Harris, Marvin. 1974. Cow pigs, War and Witches: The Riddles of Culture. New York: Random House.

Harris, Marvin. 1977. Cannibals and King: The Origins of Cultures. New York: Random House.

Harris, Marvin. 1979. Cultural Materialism: The Struggle for a Science of Culture. New York: Random House.

Harris, Marvin and Eric B. Ross. 1987. Death, Sex and Fertility: Population Regulation in Preindustrial and Developing Societies. New York: Columbia University Press.

Hatch, Elvin. 1983. Culture ang Morality: The Relativity of Values in Anthropology. New York: Columbia University Press.

Hockett, Charles F. and Robert Ascher. 1964. “The Human Revolution”. Current Anthropology 5: 135-168.

Hodges, Richard. 1988. Primitive and Peasant Markets. Oxford: Blackwell.

Lee, Richard B. 1979. The !Kung San: Man, Woman and Work in a Foraging Society. New York: Cambridge University Press.

Lenski, Gerhard E. 1966. Power and Privilege: A Theory of Social Stratification. New York: McGraw-Hill.

Marsh, I., dkk. 1996. Sociology ini Focus. Ormskirk: Causeway Press.

Marshall, G. 1990. In Praise of Sociology. London: Unwin Hyman .

Mills, C.W., 1959. The Sociological Imagination. New York: Oxford University Press.

Moore, S. 1987. Sociology Alive. Cheltenham: Stanley Thornes.

Nisbet, R. The Sociological Tradition. London: Heinemann.

O’Donnell, M. 1992. A New Introduction to Sociology. London: Thomas Nelson.

Patterson. Orlando. 1982. Slavery and Social Death: A Comparative Study. Cambridge, Mass: Harvard University Press.

Plattner, Stuart (ed.) 1989. Economic Anthropology. Stanford, Calif: Stanford University Press.

Popkins, Samuel L. 1979. The Rational Peasant. Berkeley: University of California Press.

Ritzer, George. 1988. Sociological Theory. New York: Knopf.

Sahlins, Marshall. 1958. Social Stratification in Polynesia. Seattle: University of Washington Press.

Sahlins, Marshall, 1972. Stone Age Economics. Chicago: Aldine.

Sanderson, Stephen K. 1990. Social Evolutionosm: A Critical History. Oxpord: Balckwell.

Scott, James C. 1976. The Moral Economy of the Peasant. New Haven: Yale University Press.

Scott, J. 1995. Sociological Theory. Cheltenham: Edward Elgar.

Slattery, M. 1993. Key Ideas in Sociology. London: Sage Publication.

Swingewood, A. 1984. A Short History of Sociological Thought. London: Macmillan.

Tucker, Robert C. (ed.). 1978. The Marx-Engels Reader. New York: Norton.

Zeitlin, Irving M. 1973. Rethinking Sociology: A Critique of Contemporary Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.