Cigiringsing yang tiada bising

Kampung halamanku kini di Cigiringsing, yang, dari tempat ini aku bisa memandang Bandung dari atas. Rasa syukurku telah sepantasnyalah disampaikan kepada Maha Pemberi, karena tidak semua orang diberi rezeki berupa tempat tinggal yang pemandangannya demikian indah serta cuacanya demikian sejuk, dan situasinya demikian damai. Maka untuk itu aku tuliskan sebuah puisi:

ANUGRAH TUHAN

cinta-Mu telah mengantarku
pada rumah yang indah
dengan hiasan di mata cerah
kelap-kelip lampu malam Kota Kembang

cinta-Mu telah menelan hatiku
pada gairah hidup segar
dengan matahari pagi nan binar
ceria tawa anak-anak tercinta buah kasih

bulan, bintang, dan lampu-lampu di atas Bandung
cerah terlihat bagai gambaran jiwaku
dekapan malam mengatupkan mata
jiwa mengembara ke alam nyata

cinta-Mu telah membawaku pada keindahan
pada senyum penuh kasih istriku
pada canda riuh-rendah anak-anakku
serta sinar mata penuh do’a tulus bunda

cinta-Mu
dan itulah anugrah-Mu, Tuhanku…

Bandung yang indah permai kini menjadi lambang tanah Sunda yang diburu  setiap orang yang mencari kehidupan dan kenikmatan. Kadang aku prihatin dan sedih, maka bersenandunglah aku melalui puisiku:

TANAH SUNDA

bila udara kenikmatan
adalah udara Nusantara
maka udara inti ejakulasi
adalah udara Tanah Sunda

bila denyut Nusantara
adalah denyut nadi Jakarta
maka katup jantung Indonesia
adalah lemah cai Sunda

dan,
berbondong-bondong orang
mengayun langkah indah
dalam udara
dan denyut Sunda

Bandung yang semakin seksi ini semakin diburu oleh  orang, karena di dalamnya seluruh kenikmatan Nusantara bisa dirasakan di sini. Bandung, kota Parahyangan, semakin lama semakin panas dan merangsang. Oleh karena itu, diilhami oleh Priangan si Jelita-nya Ramadhan K.H. (Alm.) kutulis puisi:

PRIANGAN

reguklah kenikmatan
dari tubuhku
yang molek
dan anggun

maka:
mengakanglah
tubuh-tubuh yang perkasa
dengan cinta dan cita-cita
di atas selangkangan
Priangan nan jelita

Tapi, dalam balutan keindahan  Bandung ini, terdapat luka-luka hati warganya yang terpaksa menerima keadaan yang tidak dikehendakinya. Mereka banyak yang tergusur dari tanahnya, tempat lahir dia dan nenek moyangnya, tempat bermain dan bercanda kala kanak-kanak dulu. Kini tinggal kenangan yang menyesakkan. Aku bersenandung dengan hati yang mendung:

tanah ini indah, sayang
dengan semilir angin
dari bukit yang rimbun dedaunan
tangkai-tangkai padi menguning melambai
mengajak bercengkrama
tentang nasib tanah yang dipijaknya
yang sebentar lagi ditanami gedung megah

tanah ini indah, sayang
dengan kehangatan sinar mentari
dan senandung merdu burung nuri
pipit memadu kasih dalam gesekan daun padi
getaran cinta berahi Dewi Sri
sementara lenguh lembu serak tanda sedih
sebentar lagi traktor kan memusnahkan kuningnya padi

tanah ini indah, sayang
dengan lambaian merah putih
dan hiruk-pikuk pekik ‘merdeka’
lika-liku jalan dengan mobil-mobil mewah
tuan tanah versi 63 tahun Indonesia
kemerdekaan versi konglomerat dan politikus muda
dengan backing orang tua dan kakeknya

tanah ini indah, sayang
tetapi, kini bukan tanahku lagi
bahkan diriku pun bukan milikku
bila aku dan tanah ini milikku
tentu aku bisa mengatakan “tidak!”
kala gubukku digusur dengan harga murah
dan tawa dipaksa ditukar linangan air mata

tanah ini indah, sayang….

Memang, belakangan ini Bandung semakin riuh, banyak masalah yang harus diselesaikan guna mengembalikan citranya yang dulu pernah disandangnya: Paris van Java.

dulu kau indah bagai mawar
senyummu merekah bagai rembulan
pipimu merah tersinari mentari
langkahmu anggun bagai sang Dewi

dulu aku berdebar kala dekat denganmu
harum tubuhmu melenakan hatiku
tutur sapamu menentramkan kalbuku

dan, kini setelah lama
aku terkesima kembali berjumpa

siangmu mendung tiada senyum
kembangku pecah, warnanya pucat
pada usiamu kini tubuhmu takterawat

Tapi, Bandung dari Cigiringsing tetap kelihatan indah!

Cag, ah……..

Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: