KAJIAN SOSIOLOGI POLITIK TERHADAP PERADABAN ISLAM 570-1768

I. Muhammad sebagai seorang Rasul dan Negarawan (570-632)

Islam lahir bersamaan dengan lahirnya sejarah Arab. Islam dibawa oleh Nabi Muhammad, seorang pribadi yang sempurna dari segala aspek. Ia adalah seorang jenius yang memiliki kepribadian yang mulia sejak remaja. Bahkan untuk itu semua, Hart mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah “Manusia Nomor Satu” sejak manusia diciptakan hingga kiamat nanti.

Hampir 2000 tahun sebelum Nabi Muhammad lahir, Arabia sudah merupakan kawasan yang biasa dilalui, dengan unta Arab sebagai alat transportasi domestiknya. Pada saat itu ide-ide serta institusi-institusi sudah masuk ke semenanjung ini dari Fertile Crescent yang berdekatan dengannya di utara. Dampak dari infiltrasi ini bersifat kumulatif; dan pada masa Nabi Muhammad, akumulasi kekuatan spiritual di Arabia siap untuk meledak. Namun kekuatan itu tidak akan menemukan saluran jika Nabi Muhammad tidak lahir untuk mengarahkannya. Sebaliknya, seandainya Nabi Muhammad dilahirkan sebelum Arabia ‘matang’, maka visi, tekad, dan kebijaksanaannya pun mungkin tidak akan menang.

Semenanjung Arabia adalah sebuah anak benua. Wilayah ini mempunyai daya tarik yang sama dengan semenanjung India dan Eropa. Tetapi, tidak seperti kedua semenanjung ini, Semenanjung Arabia kering, kecuali di dataran tinggi di ujung tenggaranya (Yaman dan Asir), di sini terdapat musim hujan, dan merupakan replika dari dataran tinggi Writrea-Abyssinia di Ethiopia sekarang, di pinggiran Laut Merah Afrika.

Kota kelahiran Nabi Muhammad, Makkah, berada pada ketinggian yang relatif rendah di dataran tinggi yang menonjol di atas pantai Laut Merah Arabia, dan berada di luar jangkauan musim hujan. Makkah bukannya tanpa hujan. Kota ini biasa dihuni karena adanya mata air abadi –yang menghasilkan air zam-zam. Tetapi, persediaan air zam-zam tidak mencukupi bagi penduduk kota untuk mengolah lahan pertanian atau mengolah peternakan, yang, sampai saat ini, merupakan satu-satunya sumber kehidupan bagi penduduk dari sebagian besar tiga perempat wilayah Arabia yang bisa didiami. Masyarakat urban di sekitar mata air zam-zam di Makkah harus hidup dengan berdagang, dan perdagangan ini harus dilindungi oleh ajaran agama dalam menghadapi godaan nomad pedalaman yang sering merampas perniagaan dalam karavan-karavan pedagang urban itu.

Semenjak domestikasi unta, Yaman dihubungkan dengan Palestina dan Syria melalui jalur darat. Jalur ini melalui Makkah. Ketika bangunan suci (Ka’bah) yang dihormati didirikan di dekat mata air di Makkah, penduduk Makkah mengadakan pekan raya tahunan yang cukup menguntungkan mereka, karena para pedagang yang sedang ziarah haji bisa melakukan transaksi perdagangan selama gencatan senjata. Masa damai ini dihormati karena mengabaikan gencatan senjata merupakan pelanggaran.

Meskipun penduduk Arabia pada saat itu jarang –dan sampai sekarangpun masih demikian, dalam agregat (daerah tempat tinggal: kampung dan kota) jumlahnya banyak karena sangat luasnya semenanjung dan padang rumput yang melandai dari dataran tinggi barat ke tepi pantai Teluk Persia dan lembah Euphrates. Di Arabia, alam sangat tidak bersahabat bagi manusia sampai, pada abad ke-20, manusia menemukan minyak mineral di bawah permukaan. Sejak saat itu, penduduk Arabia, di luar Yaman, selalu lapar, dan masuknya peradaban secara bertahap ke Arabia di atas punggung unta dibarengi oleh peledakan penduduk Arabia.

Semua bahasa Semit berasal dari Arabia dan disebarkan, di luar Arabia, oleh para imigran dari semenanjung. Bahasa Semit Yaman diperkenalkan ke dataran tinggi Eritrea-Abyssinia pada waktu yang tidak diketahui. Bahasa Akkadia diperkenalkan ke lembah sungai Tigris-Euphrates, bahasa Cannanite ke Palestina dan Syria, dan kemudian secara berturut-turut bahasa Amorite dan Aramaic diperkenalkan ke dua wilayah tanduk Fertile Crescent sebelum kaum imigran berbahasa Arab mulai mengikuti jejak orang-orang berbahasa Semit sebelumnya.

Pada abad ke-8 SM, gelombang pertama orang-orang Arab dari Arabia dipukul mundur oleh orang-orang Assyria. Pada abad ke-2 SM, monarki Seleucid gagal memukul mundur gelombang kedua orang-orang Arab, dan kali ini kaum imigran Arab berhasil menetap di Syria dan Mesopotamia. Gelombang besar-besaran sesudah meninggalnya Nabi Muhammad pada 632 M, dan gelombang berikutnya pada abad ke-11 M, berhasil menguasai Fertile Crescent dan Afrika Utara. Sekarang, turunan bahasa Aramaic, bahasa Syria, bahasa yang digunakan sebelum bahasa Arab di Fertile Crescent, hampir musnah di sana; bahasa Coptic, yang diturunkan dari bahasa Mesir era Fir’aun, sudah musnah di Mesir, kecuali untuk keperlua liturgi; di Afrika Barat Laut, bahasa asli Berber, karena kemajuan bahasa Arab, hanya digunakan di dataran tinggi dan gurun pasir.

Gerakan tandingan institusi dan ide-ide yang memasuki semenanjung juga semakin intensif pada masa Nabi Muhammad. Tiga dewa yang disembah pada abad ke-2 dan ke-3 M di Hatra di Mesopotamia Timur Laut dan di oasis Palmyra, di pelosok utara gurun pasir Arabia, juga masuk ke Hejaz (dataran tinggi Arabia Barat Laut). Yudaisme, mungkin pertama kali diperkenalkan oleh pengungsi-pengungsi perang Roma-Yahudi tahun 66-70 M dan 132-135 M. Mereka berhasil meraih pengikut di Hejaz di Oasis Tayma’, Khaybar, dan Yathrib (Madinah, ‘kota’ Nabi Muihammad) dan juga di Yaman. Agama Kristen juga berhasil meraih pengikut di Yaman. Pada abad ke-6 M Yaman juga terseret dalam persaingan dagang dan politik antara Kerajaan Roma Timur dan Kerajaan Persia. Pada tahun sebelum 523 dan sekali lagi sejak sekitar 528 hingga 571 Yaman berada di bawah kekuasaan Kerajaan Aksum, yang Kristen, dan karenanya menjadi negara satelit Kerajaan Roma Timur. Sejak sekitar 571 sampai 630 Yaman berada di bawah kekuasaan Persia. Pada tahun yang tidak diketahui dengan pasti dalam tiga perempat abad ke-6 M Raja Muda Kerajaan Aksum dari Yaman mencoba bergerak ke Makkah.

Kehidupan Nabi Muhammad, sekitar 570-632, berada dalam rentang waktu dua kali Perang Roma-Persia terakhir dan paling sengit tahun 572-591 dan 604-628. Masing-masing kerajaan ini sudah mempekerjakan orang-orang Arab sebagai pengawal barisannya menghadapi kerajaan musuh. Ibukota Kerajaan Persia di Arab adalah Hirah, dekat Kufah, lokasi wilayah Arab Muslim di masa depan. Dinasti Arab Ghassan mengawal barisan Kerajaan Roma Timur di Syria. Dalam perang Roma-Persia, orang-orang Arab bekerja pada kedua kerajaan ini sebagai tentara bayaran. Mereka tidak hanya mendapatkan upah, tetapi juga latihan dan pengalaman militer, dan mereka membelanjakan sebagian upan mereka untuk perlengkapan –misalnya untuk membeli baju tameng baja dan mengembangbiakkan kuda perang. Kuda keturunan Arab yang bagus merupakan tour de force. Di Arabia kuda keturunan ini sampai sekarang, menjadi saingan unta yang sudah dijinakkan. Di luar perbatasan Arabia sesudah meninggalnya Nabi Muhammad, kuda Arab membawa pasukan-penakluk Arab ke Loire dan Volga serta Jaxartes.

Pada masa Nabi Muhammad, Makkah tertutup dari peradaban Levant dan Iran dari semua arah, dan Nabi Muhammad sendiri mulai menghadapi peradaban Kerajaan Roma Timur. Ketika orang-orang Arab mengabdi pada orang-orang Roma Timur dan Persia sebagai tentara bayaran, orang-orang Arab ini berbisnis dengan mereka sebagai pedagang. Nabi Muhammad sendiri membawa karavan dari Makkah ke Damaskus dan pada saat kembali ia bekerja kepada calon istrinya, saudagar perempuan Makkah, Khadijah. Kemungkinan perjalanan dagangnya dilakukan pada tahun-tahun damai antara 591 dan 604. Perdagangan Makkah dengan Kerajaan Roma Timur terancam pada saat kaisar Persia Khusro II mulai menyerbu dan menduduki secara berturut-turut Mesopotamia, Syria, Palestina, dan Mesir.

Pengalaman Nabi Muhammad menerima wahyu pertama dari Tuhan sekitar 610. Wahyu itu diturunkan Tuhan kepada Nabi Muhammad dalam bentuk percakapan dengan Malaikat Jibril. Muhammad mendengar Jibril mendikte kata-kata kepadanya dan mendengar Jibril memerintahkan kepadanya untuk menyebarkan kata-kata tersebut kepada umat manusia. Mula-mula Nabi Muhammad tidak yakin akan kebenaran pengalaman ini, tetapi, karena pengalaman ini menghujam dan perintahnya wajib, pada akhirnya Muhammad yakin dan bersedia. Inti dari pesan yang disampaikan Nabi Naabi Muhammad adalah tidak ada tuhan kecuali Tuhan ( menurut Nurcholis Madjid, Allah, ekuivalen dengan sebutan orang-orang Kristen berbahasa Syria untuk Tuhan, Alaha). Menurut pesan Nabi Muhammad, kewajiban pertama dan paling mendasar yang dituntut Tuhan dari manusia adalah penyerahan diri (Islam). Salah satu sari perintah khusus adalah yang kaya dan kuat harus mengasihi pada yang miskin dan lemah –misalnya anak yatim dan janda.

Pesan ini tidak mendapat sambutan baik di Makkah maupun di Nazareth. Makkah adalah negara-oasis oligarkis yang pemimpinnya, Bani Quraisy, hidup dengan berdagang, sebagaimana pemimpin-pemimpin Palmyra pada abad ke-2 dan ke-3 M. Mereka adalah pelaku bisnis swasta yang efesien dan kejam. Mereka sadar bahwa keberhasilan usaha mereka bergantung pada kewibawaan perlindungan mereka. Mereka khawatir bahwa, jika seruan Nabi Muhammad pada monotheisme dibiarkan, Ka’bah, yang menjadi rumah pantheon (patung-patung dewa), akan kehilangan kewibawaannya dan kemudian perdagangan Makkah akan sepi karena ajaran agama yang sangat diperlukan ini kehilangan pamornya. Orang-orang Quraisy tersinggung oleh dakwah Nabi Muhammad.

Selama dua belas tahun berdakwah di Makkah dengan menanggung penderitaan, ia hanya berhasil menarik sedikit pengikut, dan mereka juga mengalami nasib yang sama sehingga pada akhirnya Nabi Muhammad memerintahkan mereka untuk mencari perlindungan di kerajaan Kristen Aksum. Pada 622 kehidupan Nabi Muhammad mengalami perubahan yang dramastis ke arah yang lebih baik. Beberapa utusan dari negara oasis pertanian Yathrib secara mengejutkan mengundangnya untuk pindah ke Yathrib dan mengambil alih pemerintahan. Yathrib terpecah karena sengketa politik yang gagal diatasi oleh penduduk Yathrib sendiri. Pada 622 Nabi Muhammad pergi dari Makkah ditemani sahabatnya, Abu Bakar. Mereka menghindari pengejaran, dan, di Yathrib, Nabi Muhammad menjalankan misi politik secara luar biasa. Penduduk Yathrib tidak salah dalam manilai kemampuannya. Meskipun sejauh ini pengalaman pemerintahannya terbatas pada pengaturan aliran agama kecil yang dianiaya, ia terbukti mampu mengatasi situai baru. Dalam bidang pemerintahan yang lebih luas yang ditanganinya sebagai pemimpin Yathrib yang dipilih, Nabi Muhammad mengadakan rekonsiliasi kelompok-kelompok Yathrib dengan orang-orang Makkah yang baru masuk Islam yang bergabung dengan Nabi di Yathrib. Mayoritas penduduk Yathrib non-Yahudi nampaknya segera menjadi Muslim, dan agama baru mereka merupakan ikatan efektif antara penduduk setempat dan kaum pendatang.

Negara-negara yang berdaulat terlibat perang, dan Nabi Muhammad, yang sekarang menjadi penguasa, tidak ragu-ragu memerangi orang-orang Makkah. Situasi politik di masa Nabi Muhammad berbeda dari situasi politik di masa Nabi Isa ketika Nabi Isa menyerah untuk ditawan. Nabi Isa adalah warga Kerajaan Roma, dan jika ia menjadi pemberontak maka pemberontakannya akan menelan banyak korban Yahudi, tanpa ada kemungkinan kemenangan militer. Nabi Muhammad mempunyai kemungkinan menang, dan ia menang.

Nabi Muhammad menjadikan Yathrib sebagai basis strategis untuk memerangi Makkah, karena Yathrib berada di jalur darat antara Makkah dan Syria. Karavan-karavan dari Makkah menjadi tidak aman. Pada 630 Makkah tunduk. Nabi Muhammad memberikan ketentuan-ketentuan yang meringankan kepada suku-suku Quraisy, dan ia mensucikan Ka’bah dan haji dengan memasukannya ke dalam institusi Islam. Pada 632, tahun Nabi mangkat, kedaulatan pemerintahannya diakui di seluruh Arabia, sampai di perbatasan selatan padang rumput suku-suku Arab yang setia kepada Kerajaan Roma Timur atau Kerajaan Persia. Salah satu syarat dari ketundukan politik Nabi Muhammad adalah menganut Islam, tetapi dalam banyak kasus syarat ini tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh –tidak terkecuali di Makkah. Perang yang dijalani Nabi Muhammad antara 622 dan 632 adalah kecil dibandingkan dengan perang Roma-Persia tahun 604-628, tetapi dampak gabungan dari perang besar di Selatan dan perang-perang kecil di Arabia adalah meluas.

Nabi Muhammad tahu bahwa umat Yahudi dan Kristen adalah ‘Masyarakat Kitab’, artinya mereka memiliki kitab suci yang berisi keterangan dan perintah yang, mereka yakini dan Nabi Muhammad sendiri percaya kepada mereka, bahwa itu merupakan wahyu dari Tuhan. Nabi Muhammad percaya bahwa al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya adalah wahyu yang terakhir dari Tuhan. Karena monotheisme adalah kebenaran pokok yang terdapat dalam al-Qur’an, juga dalam kitab suci Yahudi dan Injil, adalah masuk akal jika Nabi Muhammad berharap memperoleh simpati dan dukungan dari marga-marga Arab di Yathrib yang sudah menganut Yudhaisme. Namun demikian, adalah naif jika Nabi Muhammad mengharapkan orang-orang Yahudi Yathrib meninggalkan agama mereka dan beralih memeluk Islam dengan alasan bahwa al-Qur’an adalah kitab tempat Tuhan menyampaikan wahyunya kepada orang-orang berbahasa Arab. Nabi Muhammad bukannya tidak mengetahui bahwa dulu pun pada zaman Yesus orang-orang Yahudi dengan keras menolak meninggalkan Yudhaisme dan beralih ke agama Kristen.

II Sepeninggal Nabi: Abu Bakar – Banu Umayyah (633-750)

Ketika Nabi Muhammad mangkat, banyak yang meragukan apakah Islam akan terus hidup dan tetap eksis. Kesimpulan orang-orang Arab akan keberhasilan Nabi Muhammad sama dengan kesimpulan Nabi Muhammad sendiri, dan ini identik dengan kesimpulan Constantine akan kemenangannya pada 312. Tuhan yang memberikan keberhasilan kepada orang yang setia kepada-Nya telah menunjukkan bahwa tidak ada tuhan yang menyamai-Nya dalam kekuasaan. Di Oikumene Dunia Lama sampai barat India tidak ada orang atheis baik pada abad ke-4 maupun abad ke-5 M, meskipun boleh jadi hanya terdapat sedikit orang yang percaya kepada tuhan pada masa itu yang konsepsinya tentang sifat dan tindakan Tuhan atau tuhan-tuhan yang gaib (lawan tuhan yang kasat mata seperti patung). Umat dan pengikut Nabi Muhammad yakin bahwa tuhan Muhammad, Allah, adalah Mahakuasa, tetapi mereka kesal dengan kewajiban-kewajiban –misalnya salat dan zakat- yang dibebankan kepada mereka oleh Islam. Di Arabia di luar Yathrib dan Makkah, reaksi atas berita meninggalnya Muhammad adalah pemberontakan yang meluas di bawah kepemimpinan nabi atau nabi-nabi lokal yang mengklaim dipilih olah Allah untuk umat mereka sendiri.

Pemberontakan ini berhasil diatasi oleh kekuatan gabungan Yathrib dan Makkah. Penduduk Yathrib berusaha mempertahankan untuk oasis mereka privilege sebagai ibukota –privilege yang diperoleh Yathrib karena menjadi ‘kota’ (Nabi). Orang-orang Makkah yang tidak hijrah ke Madinah berusaha mempertahankan tempat suci yang secara ekonomi menguntungkan dan haji yang oleh Muhammad dimasukkan ke dalam institusi Islam. Pemberontakan ini dipatahkan oleh kemampuan suku Quraisy. Pada 633 Quraisy terbukti, sebagaimana pendahulu mereka Palmyra pada 260, mampu menjalankan bidang-bidang yang kurang mereka kenal –pemerintahan, organisasi, dan diplomasi- sebagaimana mereka mahir dalam menjalankan bisnis komersial nenek moyang mereka. Sebagian Quraisy yang menyelamatkan keadaan ini untuk Islam dan untuk negara Islam pada 633 adalah mereka yang masuk Islam dengan setengah hati dan baru pada masa-masa akhir, antara lain Khalid bin Walid, panglima perang Islam yang paling gigih dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, pengganti kelima Nabi Muhammad dalam kepemimpinan negara Islam. Namun demikian, kekuatan gabungan Madinah dan Makkah tidak akan cukup kuat untuk menundukkan kembali wilayah Arabia lain jika Khalifah Abu Bakar tidak membuka pintu alternatif yang menarik bagi para pemberontak.

Inisiatifnya atau inisiatif steering committee informal negara Islam yang telah memilihnya, Abu Bakar meminta kaum pemberontak untuk mengalihkan senjata mereka, di bawah kepemimpinan negara Islam, terhadap dua kerajaan dekat Arabia di utara. Dua kerajaan ini muncul dari perang dahsyat Roma-Persia tahun 604-628; keduanya akan menjadi sasaran empuk serangan yang dilancarkan oleh kekuatan bersatu seluruh Arabia; dan, meskipun kedua kerajaan ini mengalami kehancuran ekonomi di mata warganya sendiri, keduanya masih merupakan kue lezat di mata orang-orang Arab. Di sini Abu Bakar mengambil petunjuknya dari Nabi Muhammad sendiri. Ia membangun loyalitas dengan memberikan kesempatan memperoleh rampasan –tujuan orang-orang Arab yang sangat miskin yang mempunyai nafsu tak pernah terpuaskan. Gabungan antara godaan dan koersi ini berhasil membelokkan pemberontak-pemberontak Arab dari pemberontakan pada penaklukan asing.

Kecepatan dan jangkauan penaklukan negara Islam mengagumkan. Dari kerajaan Roma Timur orang-orang Arab Muslim menaklukan Syria, Mesopotamia (Jazirah), Palestina, dan Mesir pada 641. Dari Kerajaan Persia mereka menaklukan Irak pada 637 dan seluruh Iran, sampai sejauh timur laut termasuk Mery, pada 651. Pada 651 Kerajaan Persia Sasanid jatuh. Pada 653 penduduk Armenia dan Georgia (keduanya bekas warga Roma, bekas warga Armenia Persia, dan Georgia) tunduk pada negara Islam dengan syarat-syarat yang meringankan. Antyara 647 dan 698 pasukan Arab menaklukkan Afrika Barat Laut dari Roma Timur, dan pada 710-712 mereka menjatuhkan kerajaan Visigoth. Kecuali ujung barat laut Sepanyol, mereka menaklukkan semua dominion Visigoth, termasuk bekas wilayah Visigoth di Gaul barat daya. Pada waktu yang bersamaan tahun 711 pasukan Arab menaklukkan Sind dan Punjab selatan, sampai Multan.

Pada 661-671 pasukan Arab manaklukkan Tokharistan (sekarang Afganistan Uzbekistan) yang menjadi bagian kerajaan Persia dari rampasan Kerajaan Hun Ephthalite. Penaklukan ini mempunyai arti penting strategis. Ia menempatkan negara Islam melingkupi jalur darat antara India dan Cina melalui lembah sungai Oxus-Jaxartes. Pada 706-715 pasukan Arab mencoba menaklukkan Transoksania, yang menjadi bagian kerajaan Turki dari rampasan Kerajaan Ephthalite. Di sini pergerakan tentara Arab terhambat, tetapi di Transoksania mereka kembali menyerang. Mereka bertempur secara gigih di sana sebagaimana di Afrika Barat Laut, dan pada 739-741 mereka akhirnya menaklukkan seluruh Transoksania. Namun demikian, di empat fron lain mereka menemui perlawanan sengit yang gagal diatasi.

Pasukan Arab gagal menaklukkan Asia Kecil sesudah mereka menaklukkan Syria. Pada 741 mereka dipaksa bertahan di sepanjang tepi Pegunungan Amanus. ‘Kaum Mardaite’ dari Amanus di mata orang Arab adalah ‘pemberontak’ tetapi bagi kerajaan Roma Timur mereka adalah orang-orang yang setia. Pada 677 mereka berhasil menguasai Libanon untuk sementara. Tentara Arab pada akhirnya memang berhasil menggeser perbatasan ke luar Amanus yaitu ke Taurus, tetapi mereka tidak pernah menanamkan kekuasaan secara tetap di luar garis tersebut. Khalifah ke-5, Muawiyyah (661-680) menyadari bahwa, untuk menaklukkan Asia Kecil dan menjatuhkan Kerajaan Roma Timur, tentara Arab harus merebut Konstantinopel, dan untuk merebut Konstantinopel mereka harus merampas komando laut Meditterrania dari Roma Timur. Pada 669 Muawiyyah membangun dermaga, dan pada 674-678 pasukannya mengepung Konstantinopel dari laut dan darat, tetapi pengepungan ini menjadi bencana bagi tentara Arab. Dermaga Roma Timur dilengkapi dengan napalm (mesiu Yunani), dan dengan perlengkapan untuk meledakkannya, dijalankan oleh seorang teknisi pelarian Syria. Pengepungan Konstantinopel kedua pada 717-718 juga sama-sama gagal. Pada 732 pasukan Arab gagal menaklukkan Gaul. Sebelum mencapai Loire, mereka dipukul mundur di Poitier. Pada 737/8 mereka gagal menaklukkan kerajaan nomad Khazar, antara Volga dan Don.

Penaklukkan Arab Muslim, dengan demikian, menemui batas-batasanya, tetapi panaklukan ini terjadi secara cepat dan luas karena alasan yang sama sebagaimana penaklukkan Vandal dan penaklukan Alexander Yang Agung. Ketiganya menyerang kerajaan yang secara militer lemah tapi mempunyai jaringan komunikasi yang penting bagi kepentingan mereka. Penaklukan Arab pada abad ke-11 mengakhiri efek penaklukkan Alexander di wilayah yang sama pada abad ke-4 SM. Tentara Arab mengakhiri kekuasaan Yunani di Levant yang, pada 633, dipertahankan selama 963 tahun.

Pasukan Arab ditolong oleh sikap penganut Kristen Monophysite Kerajan Roma Timur. Mereka tidak menyesali pergantian penguasa mereka; pengikut Nestorian Kerajaan Persia Sasanid juga tidak mempunyai perasaan loyalitas yang aktif pada bekas pimpinan Iran mereka. Orang-orang Iran Zoroastrian sendiri segera meninggalkan perjuangan mempertahankan kemandirian politik mereka, meskipun kereka adalah warga Kerajaan Persia dan Zoroastrianisme adalah agama nasional mereka. Di Afrika Barat Laut kaum Berber menjalin hubungan baik dengan tentara Arab di wilayah Roma Timur. Kaum Berber adalah pendukung utama Donatist, yang masih berseteru dengan rezim Kerajaan Roma ketika Constantine I pindah ke agama Kristen.

Sebaliknya, di Asia Kecil, yang penduduknya setia pada Kerajaan Roma Timur dan pada Kristen Chalcedonian, tentara Arab mendapat perlawanan sengit dan pergerakannya terhambat. Mereka juga terhambat –meskipun untuk sementara- di Transoksania, yang penduduknya pada waktu itu pemeluk Budhis Mahayana. Alexander juga mendapat perlawanan sengit di Transoksania. Di Khorasan dan Tokharistan (bekas Parthia dan Bactria), penduduk Iran setempat menjalin hubungan baik dengan orang-orang Arab, seperti halnya di Bactria nenek moyang mereka menjalin hubungan baik dengan orang-orang Yunani sesudah Kerajaan Persia Achemenia ditundukkan oleh Alexander. Sepanjang sejarah, semua penduduk yang tinggal di wilayah perbatasan dunia yang berdekatan dengan padang rumput Eurasia mempunyai kepentingan yang sama dalam menangkis serbuan nomad-nomad pedalaman.

Penaklukkan Arab juga dipermudah oleh ajaran dalam al-Qur’an bahwa ’Masyarakat Kitab’ juga harus dihormati dan dilindungi jika mereka tunduk pada Pemerintah Islam dan bersedia membayar pajak tambahan. Manfaat ajaran ini diperluas tidak hanya berlaku bagi orang-orang Yahudi dan Kristen tetapi juga berlaku bagi kaum Zoroastrian, dan akhirnya juga umat Hindu. Orang-orang Arab menyerahkan pengumpulan pajak yang dibayarkan oleh orang-orang non-muslim kepada petugas-petugas fiskal setempat. Di bekas wilayah Sasanid terdapat dekhan (petugas desa). Petugas ini terus mencatat pendapatan pajak dalam bahasa Yunani atau Pahlevi sampai kekuasaan Khalifah Abdul Malik (685-705). Abdul Malik mengubahnya menjadi bahasa Arab, tetapi penggantinya Walid I di Mesir mengakhiri penggunaan bahasa resmi Coptic, yang sebelumnya digunakan bersama-sama dengan bahasa Yunani. Adapun pejabat atau petugas fiskal setempat, meskipun sekarang diminta mengerjakan tugas mereka dalam bahasa Arab, tetapi diizinkan menduduki jabatannya; mereka tidak diganti oleh orang-orang Arab.

Pasukan Arab yang mempertahankan wilayah-wilayah taklukan negara Islam ditempatkan di kanton-kanton. Sebagian kanton (wilayah bagian) ini ada di perbatasan; sebagian di perbatasan antara Arabia dan ujung selatan Fertile Crescent. Sebagian besar berada di lokasi-lokasi baru, bukan di dalam atau di dekat kota-kota; dan meskipun kanton-kanton Arab menarik penduduk non-Arab, kontak sosial antara orang-orang Arab dan penduduk setempat jarang terjadi selama fase pertama sejarah Kekhalifahan Islam, dan penyebaran Islam terjadi lebih lambat daripada ekspansi wilayah-wilayah negara Islam. Di Arabia, Islam adalah wajib, tetapi di wilayah-wilayah taklukkan dakwah Islam, alih-alih dilakukan secara paksa, tidak diupayakan dengan sungguh-sungguh.

Pasukaan Arab Muslim di wilayah-wilayah taklukkan tidak missionary-minded. Sikap mereka pada agama mirip dengan sikap bekas tuan-tuan Kristen Arya di negara-negara pengganti Kerajaan Roma Barat di Jerman. Mereka menjadikan agama mereka sebagai lambang nasional yang berguna untuk membedakannya dari penduduk taklukkan beragama Kristen atau Zoroastrian. Bagi penduduk taklukkan Kekhalifahan Islam, pindah ke Islam secara finansial menarik sebagai cara yang mungkin untuk memperoleh status fiskal yang cukup menguntungkan dalam ‘keluarga’ Muslim; tetapi, karena status ini kurang memberatkan, Departemen Keuangan Islam menentang konversi ini, dan ketika konversi agama ini terjadi, ia berusaha mencabut pengaruh fiscal mereka. Perang sipil tahun 747-750, pada saat dinasti Umayyah digantikan oleh dinasti Abbasiyah di semua wilayah kecuali di ujung barat Afrika Barat Laut dan di Spanyol, merupakan tuntutan orang-orang yang baru masuk Islam akan hak-hak mereka untuk menikmati kesamaan di muka hukum dengan kaum Muslain keturunan Arab. Revolusi ini digerakkan di, dan diarahkan dari, kanton-kanton Arab di Kufah Irak, tetapi pemberontakan ini dilancarkan dari Khorasan, di mana orang-orang yang baru masuk Islam jumlahnya banyak dan di mana percampuran penduduk-tentara Arab setempat terejadi secara intensif. Namun demikian, orang-orang Khorasan yang pertama-tama terdorong untuk memberontak bukanlah penduduk Iran setempat; mereka adalah kelompok orang-orang Arab yang menetap yang dirugikan karena merosotnya stastus mereka di bawah rezim Umayyah.

Perubahan dinasti yang merupakan isu superficial dalam perang sipil 747-750 merupakan masalah yang menimbulkan perselisihan dalam suksesi Nabi Muhammad dalam kapasitas politiknya sebagai pemimpin Negara Islam. Nabi Muhammad sendiri tidak meninggalkan putra dan tidak menunjuk seorang pengganti. Sepupu dan menantu Nabi, Ali, mengklaim bahwa ia adalah penerus yang sah karena ia dan istrinya, putri Nabi Muhammad, Fatimah, adalah kerabat langsung Nabi Muhammad. Jika Ali berhasil merealisasikan klaimnya ini, Kekhalifahan Islam akan menjadi monopoli keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana kepemimpinan masyarakat Kristen Yahudi menjadi urusan keluarga ketika , sesudah Yesus maninggal, ia diambil alih oleh saudara Yesus, James, bukan oleh murid senior Yesus, Peter. Tetapi manajemen Negara Muslim Arab diambil alih, sesudah Nabi Muhammad meninggal, oleh steering committee informal. Dalam memilih pengganti Muhammad, komite ini mengecewakan Ali selama tiga kali dengan tidak menunjuknya; ketika dalam pemilihan ketiga, Ali ditunjuk, secara politik ia terbukti tidak kompeten; dan, sesudah terbunuhnya Ali pada 661, warisan politik Nabi Muhammad direbut oleh Mu’awiyyah , putra dari salah satu musuh Quraisy Nabi Muhammad yang paling keras.

Ibu Mu’awiyyah adalah Hindun, yang, sebagaimana istri pertama Nabi Muhammad, Khadijah, adalah saudagar perempuan Makkah. Hindun dan putranya Muawiyyah bukanlah kerbat Nabi Muhammad, kecuali semua Quraisy dianggap bersaudara satu sama lain. Mu’awiyyah adalah orang Quraisy yang paling ahli dari generasinya. Ali tidak dapat menyamainya dalam masalah politik, dan Ali serta putranya Husein, cucu Nabi Muhammad, mengalami kematian tragis dengan cara kekerasan. Mu’awiyyah mendirikan dinasti yang berkuasa dari 601 sampai 750 di Damaskus dan dari 756 sampai 1031 di Spanyol. Tapi dinasti Umayyah ini tidak pernah mendapatkan pengakuan secara bulat dalam legitimasinya.

Jadi, dalam struktur politik Negara Islam, telah terjadi perpecahan segera setelah meninggalnya Nabi Muhammad, dan perpecahan ini tidak pernah berakhir. Kelompok yang paling bersemangat untuk melancarkan revolusi menentang Umayyah tahun 747 adalah pengikut setia Ali dan keturunannya, tetapi, dalam hal ini, mereka terganjal, sebagaimana Ali sendiri selama menjabat Khalifah yang berlangsung singkat dan penuh gejolak (656-661). Abu’l al-Abbas Al-safah ‘sang Jagal’, yang pada 749 di Kufah berhasil diterima sebagai Khalifah menggantikan Khalifah Umayyah Syria terakhir Marwan II. Ia bukan dari keluarga Umayyah, melainkan anggota keluarga Ali. Tetapi Abu’l al-Abbas bukan keturunan langsung Ali dan istrinya, Fatimah; ia adalah keturunan paman Ali dan Nabi Muhammad, Abbas, tetapi yang belakangan masuk Islam, sebagaimana keluarga Umayyah Abu Sufyan dan putranya, Mua’awiyyah.

III Banu Abbasiyah (750-945)

Revolusi pada 750 mengubah karakter Negara Islam. Dari 633-750 negara ini menjadi sasaran ‘kekuasaan’ Arab Muslim yang mempunyai hak istimewa, yang menguasai banyak penduduk non-Muslim dan sebagian kecil orang-orang non-Arab yang masuk Islam yang jumlahnya semakin bertambah. ‘Kekuasaan’ Arab Muslim sekarang digantikan oleh ‘kekuasaan’ Muslim yang masih minoritas dan masih mempunyai hak istimewa, tetapi merupakan komunitas Muslim dari semua bangsa. Masyarakat Islam (ummah) bersifat umum. Ia bisa mencakup semua penduduk Negara Islam dan bahkan seluruh umat Islam. Merosotnya ‘kekuasaan’ Arab pada 750 semakin jelas pada 813, ketika Makmun, putra Harun al-Rasyid –Khalifah Abbasiyah kelima, merampas bagian wilayah saudaranya, Amin, yang meliputi sebagian besar penduduk Arab Kerajaan.

Bagi Negara Islam, harga yang harus dibayar dengan mengakhiri identifikasi komunitas Islam dengan bangsa Arab adalah transformasi pemerintahan ke jenis otokrasi Persia Sasanid. Orang-orang Arab adalah anarchic-minded, dan ini berlaku bukan hanya bagi penduduk nomad pedalaman Arab tetapi juga berlaku bagi penduduk yang menetap di oasis di seluruh Arab sendiri dan di daerah-daerah tempat tinggal suku-suku Arab yang menang dalam perang. Sejarawan Yunani Theophanes (menulis sekitar 810-813) menyebut pemimpin Negara Islam ‘Presiden Dewan’. Ini adalah gambaran yang tepat akan status empat khalifah pertama (Khulafa ur-Rasyidin); dan pengganti-pengganti Umayyah juga bukan otokrat dalam hubungannya dengan sesama orang Arab. Kekuatan politik dan militer mereka tergantung pada bantuan Arab. Bangsa Arab setia pada kelompoknya dan cepat melakukan serangan. Mereka harus dipuji dan dibujuk oleh Mu’awiyyah dan penerus-penerusnya. Merosotnya bangsa Arab telah melepaskan Abbasiyyah dari rintangan ini untuk menjalankan otoritas mereka. Kaum Muslim non-Arab sekarang sama derajatnya dengan orang Arab di hadapan non-Muslim, tetapi mereka tidak mempunyai hak istimewa –yang sekarang tidak lagi dimiliki oleh orang Arab sendiri- berupa tidak terikat pada Pemerintah.

Bahasa Arab tidak ikut mengalami kemerosotan sebagaimana bangsa Arab. Di bawah Abbasiyyah, bahasa Arab terus menjadi bahasa pemerintahan Negara Islam, dan, tentu saja juga menjadi bahasa puisi Arab, meskipun penyair atau pengkaji tata bahasa Arab sekarang tidak mesti keturunan Arab. Makmun yang menjadi khalifah dari 813 hingga 833 mengandalkan dukungan militer dan politik Iran, tetapi ia mendorong penerjemahan karya-karya filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab, sebagian langsung dari karya asli Yunani, sebagian dari hasil terjemahan bahasa Syria dan bahasa Yunani. Pejabat-pejabat non-Arab Negara Islam didorong menguasai dua bahasa sebelum akhir abad ke-7. Mereka adalah nenek moyang para penerjemah yang direkrut pada abad ke-9. Salah satu jalur transmisi adalah Harran, kota di Mesopotamia tempat agama Babylonia pra-Kristen dan pra-Islam yang telah ter-Yunanikan bertahan sampai abad ke-9. Jalur lain adalah Jund-i-Shahpuhr di Khuzistan (Elam lama). Jund-i-Shahpuhr dibangun oleh Kaisar Sasanid Shahpuhr I sebagai tempat para tawanan yang dibawanya dari Syria. Ia menjadi pusat ilmu kedokteran mazhab Nestorian.

Membanjirnya terjemahan dari bahasa Yunani dan Syria ke dalam bahasa Arab pada abad ke-9 menunjukkan bahwa pada waktu itu sudah terdapat masyarakat pembaca bahasa Arab yang aktif. Pusat kebudayaan Arab yang sedang tumbuh ini adalah Baghdad, di tepi kiri sungai Tigris, tidak jauh dari Ctessiphon, bekas ibu kota Kerajaan Persia Sasanid dan ibu kota kerajaan sebelumnya, Parthia Arsacid. Baghdad dibangun pada 762 sebagai ibu kota Kekhalifahan Abbasiyyah. Baghdad menjadi kota kosmopolitan sebagaimana Ch’ang-an satu setengah abad sebelumnya. Perkembangan bahasa Arab melalui kehidupan intelektual di Baghdad pada abad ke-9 menjadikan bahasa Arab sebagai lingua franca budaya bagi seluruh Dunia Islam, dari lembah sungai Oxus-Jaxartes sampai Atlantik.

Bahasa Arab sekarang mulai menggantikan beberapa bahasa yang ada di Kekhalifahan Islam sebagai bahasa sehari-hari. Dalam hal ini, bahasa Arab gagal mencapai pengaruhnya di Persia. Bangsa Persia mempertahankan bahasa nenek moyang mereka, meskipun mereka menulisnya dalam alpabet Arab dan memperkaya kosa katanya dengan kata-kata yang dipinjam dari bahasa Arab. Bahasa Persia baru (Farsi) ini menjadi sarana bagi karya-karya besar. Adalah lebih mudah bagi bahasa Arab untuk menggantikan bahasa saudara Semitnya, bahasa Syria, yang menjadi bahasa ibu petani di sekitar Fertile Crescent pada waktu penaklukan Arab. Bahasa Arab secara bertahap menyebar menggantikan bahasa Copyic di Mesir, dan lebih cepat lagi di Afrika Barat Laut menggantikan dialek Berber. Bangsa Berber secara budaya terbelakang, dan mereka segera menerima bahasa Arab dan Islam. Di lain pihak, petani di Fertile Crescent dan di Mesir tetap setia pada agama Kristen, dan dalam tahap ini, bahasa Arab tidak mengalami kemajuan yang berarti di kalangan mereka.

Fermentasi intelektual abad ke-9 dalam masyarakat Islam didorong oleh kebutuhan untuk melengkapi Islam dengan perangkat intelektual yang sudah dimiliki oleh agama-agama masyarakat non-Muslim di Kekhalifahan Islam. Islam jelas membutuhkan sistem hukum dan sistem teologi yang memadai bagi sebagian masyarakat di Kekhalifahan yang meliputi pusat-pusat peradaban kuno dan sudah matang. Ambisi untuk menjadikan bangsa Arab ke dalam ‘Masyarakat Kitab’ adalah salah satu cita-cita Nabi Muhammad.

Hukum Islam harus dibangun di atas dicta Nabi Muhammad, dan bahan-bahan mentahnya tidak memadai. Al-Qur’an terdiri atas Firman Tuhan berupa nasihat spiritual yang terjalin dengan aturan-aturan ad hoc yang diberikan Nabi Muhammad dalam kapasitasnya sebagai Rasul dan pemimpin politik masyarakat Islam di Madinah. Materi hukum dalam al-Qur’an harus dilengkapi dengan laporan-laporan ucapan Nabi Muhammad (Hadist). Laporan-laporan ini harus diverifikasi, dan gap yang masih ada harus diisi dengan analogi dan aplikasi adaptasi setempat, yang, di wilayah-wilayah Roma, boleh jadi berarti hukum Roma yang berlaku di propinsi-provinsi. Antara tahun 750 sampai 900, kumpulan tradisi yang sudah diklasifikasi disempurnakan, dan dibangunlah emat mazahb hukum Islam. Bagi Muslim Sunni (yaitu kaum ortodoks), berbeda dari Shi’I (sektarian, yaitu kelompok Ali), empat mazhab hukum ini pada akhirnya dinyatakan sah. Masyarakat Muslim setempat kemudian bebas memilih mengikuti mazhab yang dikehendakinya.

Teologi Islam dipengaruhi oleh agama Kristen, demikian menurut kaum Oriental. Alasan mereka, sebagian karena teologi Kristen yang rumit sudah eksis, dan sebagian karena kepercayaan pada keesaan dan ketunggalam Tuhan menciptakan masalah bagi dua agama ini. Doktrin bahwa al-Qur’an diciptakan (makhluk), bukan tidak diciptakan (Khaliq) merupakan bandingan Islam dari konsepsi Arya tentang hubungan antara Pribadi Pertama dan Kedua dari Trinitas Kristen. Doktrin ini diberlakukan pada 827 oleh Khalifah Makmun dan dibatalkan pada 847 oleh Khalifah Mutawakkil. Dalam mensikapi pandangan teologis ini, dua khalifah di atas bertindak ultra vires; karena seorang khalifah adalah penerus Nabi dalam bidang politik saja. Masalah-masalah yang timbul dalam bidang teologi diselesaikan bagi kaum Muslim, sebagaimana bagi kaum Yahudi, oleh konsensus ahli hukum. Monotheisme Yahudi dan Islam yang masih murni tidak membutuhkan kredo yang dikembangkan dari filsafat Yunani. Namun demikian, akses kaum Muslim, dalam terjemahan, pada karya-karya filsafat Yunani mendorong sebagian pemikir Muslim untuk mensintesiskan filsafat Yunani dengan Islam. Dalam beberapa ratus tahun yang berakhir pada 945 filosof Basrah al-Kindi (meninggal 873) dilanjutkan oleh filosof Muslim keturunan Turki, al-Farabi (meninggal 950).

Revolusi pada 750 adalah akhir dari ekspansi Kerajaan Islam dan juga awal dari akhir persatuannya. Dengan pertimbangan keterlibatan bangsa Arab dalam pering sipil ketika mereka menjadi pemimpin-pemimpin Negara Islam dengan hak-hak istimewa, adalah mengagumkan bahwa mereka berhasil bukan saja melakukan dan mempertahankan daerah taklukan yang luas tetapi juga memperluasnya hingga awal jatuhnya rezim Umayyah. Abbasiyyah tidak berhasil mengambilalih domain kerajaan Islam. Pada 756 orang yang berhasil lolos dari istana Umayyah bersekutu dengan masyarakat Muslim Sunni di Semenanjung Iberia. Antara 757 dan 786, tiga Negara Khawarij didirikan di wilayah Berber di Aljazair dan di tepi selatan Pegunungan Atlas. (Khawarij, yaitu “separatis”, adalah kelompok yang memisalkan diri dari Ali karena Ali berdamai dengan Muawiyyah). Pada 788 kerajaan Ali didirikan di Maroko Utara. Di Ifriqiyah (Tunisia) dinasti Aghlabiyah Arab Suni didirikan pada 800, yang kurang setia pada Abbasiyyah, dan digantikan pada 909 oleh dinasti Fatimiyyah yang didukung oleh satu suku Berber, yang menolak legitimasi Abbasiyyah dan ingin menjadikan seluruh dunia Islam dibawah kekuasaannya.

Bagi Abbasiyyah, kemunduran –agama dan politik—di dominion-dominion Iran lebih serius, karena Iran adalah sumber kekuatan mereka. Ketika orang-orang Iran mendapati gereja Zoroastrian Kerajaan Sasanid yang sudah mapan secara spiritual tidak memuaskan, mereka segera menganut Manichaenisme dan salah satu alirannya Mazdakisme. Mereka juga tidak menganggap Islam memuaskan, meskipun mereka lebih bersedia untuk memeluk Islam dibandingkan dengan orang-orang yang beragama Kristen. Abu Muslim, agen Kerajaan Ali, yang merekayasa tumbangnya dinasti Umayyah, membawa harapan-harapan di Iran bahwa akan lahir rezim Muslim Si’I, atau mungkin rezim Mazdak atau Zoroastrian, yang sesuai dengan rakyat Iran. Ketika pada 749 kekhalifahan direbut oleh Abbasiyyah, dan ketika pada 754 Khalifah Abbasiyyah kedua, Mansur (berkuasa 754-775) menghukum mati Abu Muslim, orang yang berjasa atas tahta Abbasiyyah. Kebencian orang Iran menyulut berbagai pemberontakan. Sinbadh pengikut Magi memimpin pemberontakan pada 755/6, Ustadhsis pada 766-768, Muqanna, nabi palsu, pada 777-783/4. Sementara itu, agama-agama non-Islam dan bentuk-bentuk Isam non-ortodoks tumbuh di Iran, dan juga di Irak, pada Era Abbasiyyah.

Bagi Muslim, menjadi sufi adalah menggoda, tetapi berbahaya. Al-Hallaj dihukum mati pada 922 karena menyatakan kesamaan wujudnya dengan wujud Tuhan. Seorang pengikut Mazdak, Babak, memimpin pemberontakan di Iran Barat dari 816-838. Dari 869 sampai 883, budak-budak kulit hitam, yang didatangkan untuk memperoleh kembali tanah di hilir lembah sungai Tigris-Euphrates, melakukan pemberotakan di bawah kepemimpinan Khawarij. Daerah pedalaman Iran antara pegunungan Elburz dan pantai selatan Laut Caspia tetap tidak tertaklukan oleh pasukan Arab, tetapi pada akhirnya menganut Islam, bukan dalam bentuk Sunni tetapi Si’I Zaidiyah. Wilayah ini berada di wilayah kekuasaan Shi’I Zaidiyah dari 864 sampaim 928. Pada dan sesudah 932, Buwayhiyah, aliran Shi’I yang berbeda dari Zaidiyah, dan yang datang dari ujung Barat Laut wilayah yang berdiri sendiri di sepanjang pantai Caspia, menyerbu Iran barat. Pada 945 mereka menduduki Baghdad dan menjadikan Khalifah Abbasiyyah sebagai boneka mereka.

Semenjak kekuasaan Khalifah Mu’tasim (833-842), Abbasiyyah menjadi boneka pengawal-budak Turki mereka, penerus bangsa Khurasan Iran yang pada mulanya membawa Abbasiyyah ke tampuk kekuasaan. (Meskipun kerajaan-padang rumput Turki terpecah pada 581 dan bubar pada 630-637, orang-orang Turki sendiri bertahan, dan banyak suku-sukunya terus menduduki sebagian besar padang rumput Eurasia). Pengawal-budak Turki kekhalifahan Abbasiyyah paling tidak adalah pemeluk Islam Sunni. Wangsa Samaniyyah Iran, yang menguasai Tokharistan, lembah sungai Oxus-Jaxartes, dan Khurasan dari 847 sampai 995, adalah keturunan orang-orang Zoroastrian yang pindah ke Islam Sunni, dan mereka juga bersikap hati-hati sebagaimana Aghlabiyyah di Afrika Barat Laut untuk berpura-pura mengkui kerdaulatan kekhalifahan Abbasiyyah. Penduduk Baghdad sendiri pada 945 dibawah pengaruh Buwayhiyyah Iran Shi’I menunjukkan fiksi kedaulatan Abbasiyyah atas masyarakat Muslim Sunni.

Fiksi ini, pada kenyataannya, tidak bisa dipertahankan lagi ketika, pada 929, jabatan ‘Khalifah’ dipegang oleh Abd-al-Rahman III, pemimpin cabang dinasti Umayyah di pengasingan di Semenanjung Iberia. Ketika domain masyarakat Islam Sunni dibagi antara dua penguasa, masing-masing mengklaim menjadi penerus Nabi Muhammad yang sah dalam bidang politik, maka jelas tidak ada lagi Negara Islam yang bahkan warganya meliputi anggota masyarakat Muslim Sunni, apalagi secara politik berdiri sendiri dari Islam ortodoks.

Pada tahun 750-945, kemenangan Muslim satu-satunya, dengan satu pengecualian, dicapai oleh pemerintahan Muslim Barat atau perjuangan individu. Di daratan Negara Umayyah Pengasingan di Semenanjung Iberia menyerah. Pada 803 ia kehilangan tidak hanya wilayah terakhirnya di utara Pyrennes tetapi juga Catalonia di selatannya. Tetapi pada 826 atau 827, kebangkitan Muslim, muncul dari Umayyah Spanyol, menaklukkan Creto dari Kerajaan Roma Timur, dan pada 827-902 Aghlabiyyah menaklukkan dari Kerajaan Roma Timur seluruh Sicilia kecuali satu benteng pertahanannya. Disintegrasi Kerajaan Charlemagne pada abad ke-9 meneri kaum Muslim Sicilia dan Spanyol jalan masuk untuk melakukan serangan laut ke Italia. Mereka hampir berhasil menaklukan Italia dari wilayah Transalpine Kristendom Barat dengan menduduki jalur-jalur sepanjang Alpine, dan mereka hampir menyerang Bulgaria melalui Apulia dan Dalmatia ketika Kerajaan Roma Timur menghalanginya pada 868-876.

Satu kemenangan bersejarah Abbasiyyah adalah atas Cina di Sungai Talas pada 751, sesudah Abbasiyyah menggulingkan Umayyah. Adaikata Cina memenangkan pertempuran ini, mereka bisa memperoleh kembali lembah sungai Oxus-Jaxartes untuk Cina dan Buhisme, dan keturunan kepala biara turun-temurun (parmak, Sansekerta pramukha) ‘Biara Baru’ Budhis di Balkh tidak akan menjadi ‘Barmakids’ yang mengabdi bagi Kerajaan Abbasiyyah selama 40 tahun yang berakhir pada 803. Seandainya kaum Muslim kalah pada 751, bangsa Tokharistan yang ambisius ini tidak akan pernah pindah ke Islam, dan kita bisa menduga bahwa mereka akan pindah dari Zoroastrianism ke Budhisme untuk memainkan peran penting dalam pembaharuan keuangan dinasti T’ang Cina sesudah bencana yang menimpa Cina pada 755-763.

Sesungguhnya, di Asia Tengah Islam tidak mundur; ia menyebar. Pada masa kekuasaan Khalifah Abbasiyyah Muqtadir (908-932), ketika dinasti Abbasiyyah mengalami kemerosotan politik sampai titik terendah, bangsa Bulgar Volga, penduduk berbahasa Turki yang tinggal di sekitar pertemuan Volga dan Kama, di tepi jauh padang rumput Eurasia, meminta Muqtadir untuk mengirimkan utusan, pasti sudah memeluk Islam. Utusan tiba di ibukota, Bulghar, pada 922. Pada 960 orang-orang Turki Qarluq (‘manusia salju’), yang waktu itu menguasai padang rumput, di utara Farghanah, wilayah di mana Abbasiyyah memaksa Cina untuk meninggalkannya pada 751, pindah ke Islam Sunni mengikuti tetangga-tetangga Muslim mereka di Transoxania. Tetangga-tetangga ini tidak lagi menjadi warga Abbasiyyah; mereka adalah penduduk Samaniyah yang merdeka. Bangsa Qarluq melakukan ekspansi ke lembah sungai Tarim dan membawa serta Islam. Jadi, ketika Negara Islam Bersatu terpecah menjadi beberapa bagian, Islam sendiri berhasil menarik banyak pengikut di luar perbatasan yang telah dicapai oleh Negara Islam Bersatu di masa puncak kejayaannya.

IV Dinasti Buwayhiyah: Massa Genting (945-1110)

Disintegrasi Kerajaan Abbasiyyah , yang dimulai pada abad ke-9, tidak bisa dihindari. Karenyanya, Baghdad pada 945 dikuasai oleh Buwayhiyah sebagai suatu Negara pengganti kekhalifahan Abbasiyyah. Dinasti Buwayhiyah bukanlah yang pertama yang menjadi penguasa wilayah Abbasiyyah de facto tanpa mengusir Khalifah, tetapi ia adalah yang pertama yang menduduki provinsi metropolitan Abbasiyyah Irak dan membangun kontrol langsung atas kekhalifahan sendiri. Buwayhiyah adalah orang-orang Iran dari Gilan, dan kekuasaan mereka atas Kekhalifahan Abbasiyyah merupakan puncak dari pencapaian bangsa Iran secara progrisif dalam kekuasaan politik di Negara Islam dengan mengalahkan bangsa Arab. Kecenderungan ini nampak dalam revolusi tahun 747-750 yang memungkinkan Abbasiyyah merampas kekhalifahan, dan kemudian dalam kemenangan Khalifah Makmun atas saudaranya Amin pada 813. Namun demikian, di samping sebagai bangsa Iran, Buwayhiyah adalah Shi’I, dan kerenanya kedatangan mereka di Baghdad pada 945 nampaknya menunjukkan gerak mundur selesainya revolusi 747-750 dalam bidang keagamaan. Dalam menjalankan revolusi Shi’I berharap bahwa revolusi akan menyebabkan Umayyah digantikan oleh dinasti Ali. Dalam hal ini harapan mereka tidak terwujud. Sekarang, dua abad kemudian, harapan mereka yang sudah tertunda lama nampaknya akan terwujud.

Di Afrika Barat Laut pada 909 Aghlabiyah digulingkan oleh anggota keluarga yang mengaku keturunan Ali dan Fatimah. Aghlabiyah adalah Arab dan Suni yang mengakui Abbasiyyah sebabagi penguasa hanya pada lahirnya saja. Fatimiyah juga Arab, tetapi tentara mereka adalah Berber Kutamah. Fatimiyah ingin menggantikan Abbasiyyah, dan kemenangan mereka adalah kemenangan bagi suku Berber dan bagi kelompok Ismai’li (Tujuh Imam) dari aliran Syi’ah. Pada 914 mereka mencoba menaklukan Mesir, namun gagal, tetapi mereka berhasil pada tahun 969. Sementara itu pada 890 Qarmatiyah, masyarakat Syi’I dari golongan Tujuh Imam sebagaimana Fatimiyah, mencoba mendirikan sebuah Negara di Irak. Abbasiyyah berhasil mengusir Qarmatiyah dari Fertile Crescent pada 903-906, tetapi Qarmatiyah telah menemukan basis operasi yang aman di Arabia Timur Laut, di Hasa dan di Pulau Bahrain. Dari sana mereka menyerbu bukan hanya Irak tetapi Makkah. Mereka mengambil Hajar Aswad dari Ka’bah pada 930. Kelompok Syi’ah lain, Zaidiyah, yang berkuasa di Pantai Kaspia Iran dari 864-928, mendirikan Negara kedua pada 897 di Yaman. Syi’I Ismailiyah menguasai Multan pada 977 dan sebagian Sind pada 985. Pada periode belakangan ini, wilayah Dunia Islam yang mempunyai kedudukan penting yang masih berada di bawah kekuasaan Sunni adalah Negara pengganti Abbasiyah yaitu Samaniyah Iran di Transoxania dan Khurasan serta kekhalifahan Umayyah di pengasingan Semenanjung Iberia; dan Umayyah secara politik bermusuhan dengann Abbasiyah dan Si’ah. Pada 985 muncul tanda-tanda seolah-olah Dunia Islam akan terbagi antara Iran dan Berber dan jika disatukan kembali, maka penyatuannya adalah Syi’I Ismailiyah dari Dinasti Fatimiyyah.

Selain itu, Shi’I Isma’iliyah dan Iran unggul dalam bidang budaya dan politik. Penyair besar Firdausi (934-1920), filosof Ibnu Sina (980-1037), dan ilmuwan Biruni (973-1048) adalah Iran. Dari sekitar 970 dan seterusnya, Ikhwan al-Safa, masyarakat Isma’iliyah dari Basrah, menghasilkan ensiklopedia, dan pada 973 Isma’iliyah Fatimiyah mendirikan sekolah teologi di Masjid al-Azhar di ibu kota mereka yang baru, Kairo. Secara umum, perpecahan politik Abbasiyah membuahkan karya literatus dan seni.

Peradaban Islam versi Iran mulai berkembang; ia mewujudkan dirinya dalam literatur Persia Baru (Farsi); tetapi, sebelum akhir abad ke-11, harapan lain yang tumbuh sekitar 985 ternyata tidak menjadi kenyataan. Pada 1085 pemerintah Sunni sekali lagi berkuasa di seluruh Dunia Islam kecuali Mesir, dan, meskipun Mesir masih di bawah kekuasaan Shi’ah Fatimiyah, masyarakat Sunni Mesir tidak mengadopsi versi Islam penguasanya. Pada 1085 Dinasti Abbasiyah masih berkuasa di Baghdad dan masih di bawah pengawasan, tetapi sejak 1055, pemimpin-pemimpinnya bukan lagi Dinasti Buwaihiyah Shi’ah Iran, tetapi bangsa Saljuk Turki yang Sunni. Turki menggantikan Iran sebagai penguasa Dunia Islam di seluruh kawasan Asia kecuali di Semenanjung Arabia.

Shi’ah gagal meraih kesempatan pada 656-661 dan pada 747-750. Pada 969-1055 ia gagal lagi. Fatimiyyah dan Qarmatiyah tidak bekerja sama satu sama lain. Meskipun keduanya adalah kelompok Syi’ah Isma’iliyah, Qarmatiyah menitikberatkan pada perjuangan keadilan sosial, sedangkan perhatian utama Fatimiyah adalah mempertahankan hak ketuhanan mereka yang turun temurun. Fatimiyah dan Qarmatiyah juga tidak cocok satu sama lain. Buwayhiyah sendiri menjaga jarak dengan keduanya. Buwayhiyah adalah kelompok Shi’ah dari kelompok non-Ismai’li. Mereka lebih suka menjadi pemimpin-pemimpin Abbasiyah daripada menjadi anggota masyarakat Fatimiyah, dan, bagi Buwaihiyah, ini menjadi satu-satunya pilihan. Banyak kelompok Shi’ah non-Isma’ili yang setuju dengan kelompok yang lain dan dengan masyarakat Sunni untuk tidak bersedia di bawah kekuasaan Isma’ili. Isma’iliyah, setelah kecewa karena gagal menjadi Penguasa Dunia Islam, membalasnya dengan mengorganisasikan kelompok rahasia, sekitar 1090, Kelompok Pembunuh. Korban pertama mereka adalah Nizam al-Mulk, menteri Sunni Kerajaan Turki Saljuk yang menggantikan Buwayhiyah dari Iran.

Bagi masyarakat Dunia Islam, abad ke-10 dan 11 adalah masa pergolakan. Pecahnya negara persatuan Islam menyebabkan pecahnya hukum dan tatanan domestik. Rezim Buwayhiyah di Baghdad dan Rezim Saljuk yang menggantikannya, mencoba melakukan perbaikan, tetapi sifatnya hanya lokal dan sementara. Dunia Islam sekarang menjadi sasaran penyerbuah tentara Kristen, dan suku-suku barbar nomad pedalaman yang tidak serius memeluk Islam.

Roma Timur menguasai Kreto pada 961, Tarsos pada 965, dan Antioch pada 969, tahun di mana Fatimiyah menduduki Mesir. Selama seratus tahun berikutnya Fatimiyah dan Roma Timur bersaing untuk merebut Syiria, sampai keduanya diusir, pertama oleh Turki Saljuk, dan kemudian pada 1098-1099, oleh Pasukan Salib Kristen Barat. Pasukan Noman menaklukkan Sicilia antara 1060 dan 1090. Pasukan Castilia merebut Toledo pada 1085.

Penderitaan dan kehancuran yang lebih meluas dilakukan oleh suku-suku nomad –Turki, Arab, Berber—yang sekarang bebas bergerak. Pada 999 negara pengganti Iran Samaniyah dari dinasti Abbasiyah dibagi, dengan batas sepanjang garis sungai Oxus, antar dinasti Turki Ghuz (yang didirikan pada 962 di Ghazni di Afganistan sekarang) dengan Turki Qarluk (yang memeluk Islam pada 960). Sejak awal abad ke-9, orang-orang Turki memasuki Dunia Islam secara individu sebagai tentara-budak, dan sudah belajar bagaimana menggulingkan kekuasaan tuan mereka. Pada 999 seluruh gerombolan Nomad Turki yang bebas, Qarluk, menetap dalam jumlah besar di wilayah Islam untuk pertama kalinya. Suku Qarluk segera diikuti oleh suku Ghuz, yang dipaksa bergerak ke barat oleh Qipchaq. Satu gerombolan Ghuz, yang beralih ke Sunni dan dipinpin oleh anggota Saljuk, mengalahkan sesama suku Turki Ghaznavid pada 1040 dan menduduki Khurasan. Ambisi suku Saljuk adalah merebut kerajaan untuk diri mereka sendiri, dan dalam hal ini mereka berhasil untuk sementara ketika mereka menggantikan Buwayhiyah sebagai penguasa Abbasiyah di Baghdad pada 1055. Suku-suku yang mengikuti jejak nomad Saljuk menginginkan padang rumput dan harta rampasan. Suku Saljuk melakukan konpirasi dengan penduduk Arab dan Iran yang baru mereka taklukkan untuk mengusir suku-suku Turki nomad. Mereka membiarkan suku-suku nomad tersebut tinggal di Armenia pada 1046 dan di Asia Kecil sesudah 1071. Tetapi, sebelum gerakan nomad-nomad ini mulai menghancurkan Negara-negara Kristen, mereka lebih dulu memporakporandakan Iran.

Dua suku nomad pedalaman diserbu di Afrika Bara Laut oleh Fatimiyah sebagai pembalasan atas turunnya raja muda mereka di sana pada 1047. Di Afrika Barat Laut kebun zaitun, yang menjadi wilayah ini makmur di era Carthagia dan Roma, selamat dari penaklukan Vandal dan penaklukan Arab pertama. Kehancuran yang disebabkan oleh penyerbuan Arab yang kedua tidak bisa diperbaiki. Ini bukanlah operasi militer, tetapi migrasi besar-besaran suku-suku nomad. Suku-suku nomad Arab yang bergerak ke barat ini tidak sampai di Atlantik. Perjalanan mereka dihalangi oleh Nomad Berber dari Sahara yang dipimpin oleh persaudaraan agama, Murabitun. Mereka adalah Sunni puritan. Ketika pada 1086 dan 1090 mereka menyebrangi Spanyol dan melengserkan pengganti dinasti Umayyah Spanyol yang gagal menahan gerak maju pasukan Castilia, Kaum Muslim Spanyol mendapati, meski sudah terlambat, bahwa dominasi kaum Kristen Spanyol hanya merupakan kejahatan kecil.

Di lembah sungai Mediterrania Barat di Syria, perbatasan politik Islam mundur ke balakang akibat penyerbuan pasukan Kristen Barat. Namun demikian, pernah juga perbatasan ini bergerak ke depan sampai India dan Asia Kecil. Dinasti Turki Ghaznafiyah menaklukkan wilayah non-Islam yang tidak pernah berada di bawah kekuasaan Samaniyah atau Abbasiyah. Mahmud Ghazni membawa seluruh lembah sungai Indus di bawah kekuasaan Muslim Sunni. Ia menumbangkan rezim Muslim Shi’I Isma’iliyah di Multas dan Sind, di samping memerangi umat Hindu. Dinasti Saljuk yang berkuasa di Iran dan Irak untuk semetara, medirikan Negara Muslim Sunni di jantung wilayah Roma Timur Asia Kecil, yang berlangsung selama 231 tahun (1077-1308).

Pasukan Turki memasuki Dunia Islam via Iran, dan mereka baru memasuki Iran secara besar-besaran ketika Iran membangun peradaban Islam versi Iran yang brilian. Turki mempertahankan bahasa nenek moyang mereka, tetapi mereka mengambil peradaban Islam model Iran. Ia adalah peradaban di mana Islam disebarkan ke tenggara ke India dan ke barat laut ke Kristendom Ortodoks Timur. Ekspansi Islam dengan kendaraan dua peradaban tetangga ini pada dan sesudah abad ke-11 jauh lebih ekstensif dibandingkan kontraksi Islam yang terus terjadi di Barat dan pernah terjadi di Syria.

Domain Islam dengan demikian meluas pada waktu Negara Kestuan Islam mengalami perpecahan. Dalam teori, Negara kesatuan (unitary state) merupakan kerangka politik yang harus ada bagi agama; tetapi pengalaman berbicara lain. Ini menunjukkan bahwa Islam bisa bertahan dan menyebar tanpa memerlukan dukungan pemerintah pusat. Pengalaman ini mempunyai dua akibat penting. Ia mengubah konsepsi Muslim akan sifat Tuhan dan sifat hubungan manusia dengan Tuhan, dan ia menimbulkan gelombang pertama masuknya masyarakat non-Muslim dari Negara-negara pengganti Negara Persatuan Islam yang sudah mati ke dalam Islam secara massal.

Motif politik dari konversi agama secara massal ini adalah jelas. Masyarakat bekas Negara Persatuan Islam yang mayoritas non-Muslim dilindungi oleh Pax Islamica yang diberlakukan pada mereka. Ketika Negara Persatuan Islam pecah, masyarakatnya –Muslim dan non-Muslim—mencari perlindungan alternatif. Mereka melihat bahwa agama Islam mempunyai kekuatan bertahan yang lebih besar dibandingkan Negara Islam, dan ini menggerakkan masyarakat non-Muslim dari Negara yang sedang mengalami perpecahan untuk mengadopsi agama bekas penguasa mereka. Menjadi Muslim sekarang menawarkan keamanan yang lebih besar bagi individu dibandingkan menjadi bekas warga Negara yang gagal menangani kekacauan di masa krisis. Pendorong untuk masuk ke dalam agama Islam sekarang lebih dari sekadar memperoleh persamaan fiskal dan politik.

Bentuk Islam yang menjanjikan kelangsungan hidup adalah ortodoksi Sunni. Buwayhiyah Shi’I mengakui adaanya dukungan besar pada Sunni ketika mereka gagal menggulingkan Khalifash Abbasiyyah; karena meskipun kekhalifahan ini tidak lagi menjadi pemerintahan Negara Persatuan Muslim Sunni secara efektif, ia tetap menjadi simbol institisional dan solidaritas psikologis dan sosial masyarakat Muslim Sunni, terlebih lagi, Sunnah, berbeda dengan Shi’ah versi Isma’ili, menjadi lebih tanggap pada kebutuhan manusia. Tuhan dalam pengalaman Nabi Muhammad adalah Tuhan Israel dari Perjanjian Lama. Ia tidak bisa didekati dan tidak mempunyai sekutu; dan kerananya, bagi Muslim Sunni Oertodoks, upaya kaum Mistik untuk menjembatani jarak antara Tuhan dan manusia patut dicurigai. Hal ini merupakan penghinaan atas transensdensi Tuhan. Umat Muslim abad ke-11 yang belum terpelajar, tentu saja, tidak mengetahui bahwa Tuhan Perjanjian Lama diubah menjadi Tuhan Bapa oleh Nabi-nabi Israel dan Judah dan oleh para penerus Nabi Pharisees dan Kristen. Tetapi Tuhan yang mencintai dan dicintai ini adalah Tuhan yang didambakan oleh bekas warga Negara Persatuan Islam ketika Negara ini terpecah-pecah, dan kebutuhan ini dipenuhi oleh ulama-ulama sufi Iran dan Khuirasan, Ghazali (1058-1111).

Ghazali, sebagaimana Agustine, adalah guru besar yang sukses yang bersedia melepas jabatannya; tetapi berbeda dengan Agustine, Ghazali tidak melibatkan diri dalam kontoversi politik agama. Ia menyendiri selama 11 tahun (1095-1106) untuk mendalami sufisme dengan pengalaman langsung hubungan mistik dengan Tuhan. Ghazali tidak menolak ortodoksi Sunni, tetapi ia memperkayanya dengan menyuntikan mistisisme ke dalamnya, dan, ketika masyarakat Sunni pada akhirnya mengikuti kepemimpinannya, Islam Sunni mengambil titik baru yang memberinya kesempatan untuk bangkit kembali. Ghazali memperoleh dukungan masyarakat dengan menolak dan memerangi dua gerakan yang tidak populer. Shi’isme Ismai’li dan filsafat rasionalis.Isma’ili tidak poluler karena mereka adalah kaum revolusioner bawah tanah yang keras. Para filosof tidak populer karena pemikiran bebas dianggap barang mewah yang terlalu mahal di masa genting. Dengan mengusir dua kelompok momok ini, Gaazali menjinakkan mistisisme bagi Islam Sunni; dan, seandainya mistisisme juga dibuang, Sunnah mungkin gagal memperoleh simpati masyarakat.

V Penyebaran (1110-1291)

Pada abad ke-12 dan 13 Islam tidak hanya bertahan; ia terus menyebar. Ini merupakan prestasi luar biasa, mengingat Dunia Islam sekarang mengalami perpecahan politik dan ia diserbu; pertama di lembah sungai Mediterrania oleh pasukan Kristen Barat, dan kemudian di Asia oleh Mongol. Satu-satunya wilayahn politik yang dimiliki Kristen Barat dengan mengalahkan Islam adalah di Semenanjung Iberia dan di Sicilia, dan di dua wilayah ini, penduduk Muslim hidup di bawah kekuasaan Kristen. Mengenai Mongol, mereka gagal menaklukan Syria dan Mesir, dan pemimpin-pemimpin mereka serta suku-suku nomad yang mengikuti jejak mereka di tiga wilayah paling barat Kerajaan Jengis Khan masuk Islam: Golden Horde, di belahan barat padang rumput Eurasia, pada 1279 (dan secara difinitif pada 1313); Il Khan dari Iran dan Irak pada 1295; Chaghatayid di Transoxania dan di lembah sungai Tarim serta wilayah padang rumput di sekitarnya pada 1326 (meskipun tidak semuanya). Sebelum penaklukan Mongol atas belahan barat padang rumput Eurasia, penduduk nomad Turki Qipchaq adalah pagan, dan penduduk Bulgaria Volga, di utara mereka, merupakan masyarakat Muslim yang terisolasi. Pada 1237 pasukan Mongol menyerbu Bulgaria di Volga dalam perjalanan mereka ke Rusia dan ke Eropa; tetapi, dalam hal ini, Islam, alih-alih lenyap di wilayah ini, mampu terus melebarkan sayapnya. Penaklukan Muslim atas India Utara, dari Bukit Khaibar sampai Bengal, antara 992 dan 1202, sudah disebutkan. Di Barat Murabitun gagal menaklukan Toledo, yang direbut Kristen pada 1085; tetapi, pada arah yang berlawanan, Murabitun berhasil menancapkan kakinya untuk Islam di selatan Sahara, sekarang Nigeria Utara.

Pembangunan muara pantai Kristen Barat di sepanjang Pantai Syria pada 1098-1099, dengan pelabuhan yang maju, di timur Euphrates, di Edessa (Urfah), merupakan ancaman serius bagi Dunia Islam. Pasukan yang ikut serta dalam Perang Salib Pertama jumlahnya sedikit (mungkin kurang dari 20.000 orang), dan, sesudah penaklukan Yerusalem pada 1099, pasukan yang tinggal untuk mempertahankan wilayah yang sudah ditaklukan lebih sedikit. Tetapi mereka berhasil melakukan konsolidasi. Tripoli (Tarabulus), yang pada abad ke-10 berhasil menghadapi kaisar-kaisar Roma Timur Nicephorus II Phocas dan John Tzimisces, meyerah pada Frank pada 1109. Ketika pada 1116 Raja Frank dari Yerusalem, Baldwin I, menduduki Aqabah dan Isle de Graye di Teluk Aqabah, ia memutuskan komunikasi darat Dunia Islam antara jalur Asia dan Afrika.

Situasi ini diselamtakan untuk Islam oleh Panglima Turki dinasti Saljuk, Imad-al-Din Zenghi, yang ditunjuk gubernur Mawsil (Mosul) pada 1127. Pada 1114 Zenghi menganeksasi Aleppo, Homs, dan pos terdepan pasukan Salib Edessa. Pada 1154 putra Zenghi merebut Damaskus. Pada 1161-1170 ia memenangkan persaingan dengan Raja Amaury dari Yerusalem untuk menguasai Fatimiyah dari Mesir. Pada 1171 panglima Nur al-Din dari Kurdi Salah-ad-Din (Saladin) menumbangkan dinasti Fatimiyah dan membangun kembali Sunnah sebagai agama resmi Mesir. Kerajaan Nur-al-Din mengalami disintegrasi ketika ia meninggal pada 1174, tetapi Salah-al-Din menaklukannya kembali untuk dirinya dengan bantuan Kekhalifahan Abbasiyah. Pada 1187 ia mengalahkan Frank di Hatim Galilee dan merebut kembali Yerusalem. Perang Salib Ketiga (1189-1192) gagal mengusir Salah-al-Din, meskipun Frederich I dan raja-raja Perancis dan Inggris semuanya bergabung di dalamnya.(tetapi Frederick meninggal dalam perjalanan). Kerajaan Salah-al-Din bertahan ketika pendirinya meninggal pada 1193 dan juga tetap berdiri ketika dinastinya bubar pada 1250 –tahun di mana Frank, untuk ketiga kalinya, gagal mengulangi langkah Raja Amaury dari Yerusalem untuk menduduki Mesir, yang sekarang menjadi benteng dan gudang senjata Islam.

Pada 1250 warisan Salah-al-Din diambil alih dari dinastinya oleh konsorsium budak-budak militer Turki. Peralihan kekuasaan sekarang berlangsung, bukan dari ayah kepada anak, tetapi dari budak yang menjadi raja kepada budak. Sebuah rezim dengan konstitusi yang sama sudah berdiri di Delhi. Di sana panglima yang menaklukkan India Utara di Tenggara Punjab, Muhammad Ghori, menunjuk raja muda bekas budak, dan pengganti raja muda-budak kedua ini menjadi penguasa dominion-dominion Ghori di India ketika, pada 1215, dinasti Ghori sendiri ditumbangkan oleh penguasa Khawarizmi yang sebelumnya menjadi budak dinasti Saljuk.

Transoxania dan Iran Tenggara, yang makmur di bawah kekuasaan Abbasiyyah dan dinasti penerusnya Samaniyah, mengalami penderitaan pada dekade awal abad ke-11 karena masuknya nomad-nomad Turki yang dipimpin oleh panglima-panglima perang Istana Saljuk. Pada 1141 Transoxnia diduduki oleh detasemen pelarian dari Khitan (Qarakhitay), yang pada 1124-1125 telah ditempatkan di Cina Utara dan Manchuria oleh Jurched. Penduduk Khitan bukanlah Muslim, tetapi merupakan kekuatan yang maju. Penderitaan yang dialami Transoxania ketika di bawah kekuasaan mereka lebih kecil dibandingkan di bawah penguasa-penguasa Muslim dan Khawarizmi, yang mengusir Khitan dari Trasoxania pada 1210. Seluruh wilayah utara laut Dunia Islam porak poranda ditinggalkan penduduknya ketika panglima perang Mongol Jenghis Khan menyerbu dominion-dominion Khawarismi pada 1220-1221.

Intervensi Jenghis Khan telah menyelamatklan Irak dari ancaman invasi Khawarizmi yang mungkin sama menghancurkannya dengan penyerbuan Khawarizmi dan Jenghis Khan atas Transoxania. Lepasnya wilayah timur Seljuk oleh bekas budak Khawarizmi pada 1194 telah menjadikan Khalifah Abbasiyyah Nasir (berkuasa 1180-1225) benar-benar merdeka. Ia menggunakan kebebasan manuvernya untuk menduduki kembali wilayah di Iran Barat Daya, untuk memberikan dukungan moral kepada Salah al-Din dan penerus-penerusnya, dan mengubah gerakan rakyat, futuwwah, menjadi gerakan moral di bawah perlindungan Abbasiyyah.

Futuwwah adalah salah satu dari beberapa institusi baru Islam yang memungkinkan Islam bertahan dalam menghadapi ujian penaklukan Mongol. Yang lain adalah kelompok persaudaraan darwis, yang pertama adalah Qadiriyah, didirikan pada abad ke-12 oleh Abd al-Qadir Jailani dari Gitan. Sebagian besar pendiri persaudaraan darwis berasal dari wilayah Timur Laut Dunia Islam. Praktik agamanya mengambil bentuk dorongan pada kenikmatan spiritual, dan, terlepas dari apakah mereka dukun-dukun Turki yang berkedok, mereka jelas berpengaruh pada orang-orang Turki yang masuk Islam, yang pada mulanya pelaksanaan agamanya masih terbatas. Pendiri paling terkemuka orde darwis adalah Jalal ad-Din Rumi, pendiri Mevlevis. Ia dilahirkan di Balkhan Tokharistan pada 1207, persis sebelum badai Khawarizmi dan Mongol menyapu wilayah ini. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya (1207-1273) di Qoniyah, ibu kota Kesultanan Rum Saljuk, dan di sanalah ia menulis puisi mistiknya dalam bahasa Persia Baru. Penyair Persia lain, Sa’di dari Shiraz, hidup (sekitar 1184-1291), bukan di tempat pengasingan yang damai, tetapi terus dalam pengejaran. Ia berumur seratus tahun lebih dalam abad paling keras dari Sejarah Dunia Islam.

Wilayah Kerajaan Saljuk di Asia Kecil (Rum) mempunyai kekuatan bertahan yang lebih besar dibandingkan wilayah utama kerajaan ini di Timur Euphrates. Rum Saljuk berhasil menghalau badai Perang Salib Pertama; pada 1178 ia berhasil menggagalkan upaya yang terlambat dari Kerajaan Roma Timur untuk menaklukannya kembali; dan ia tetap bertahan dari kekalahannya oleh Mongol pada 1243, meskipun pada akhirnya kerajaan ini harus tunduk pada kekuasaan Mongol. Di Asia Kecil Rum membangun masyarakat berbahasa Turki yang diilhami peradaban Islam versi Iran. Sultan-sultan Rum berhasil memindahkan suku Turki nomad yang dibawa oleh pasukan Saljuk ke perbatasan antara Dunia Islam dan Kerajaan Roma Timur, serta kelompok berikutnya yang lari dari pasukan Mongol pada abad ke-13. Meskipun Rum, tidak seperti Mesir Mamluk dan Syria, kemudian dikalahkan oleh Mongol dan berada di bawah kekuasaan mereka, ia juga menyediakan perlindungan bagi Islam dalam krisis Sejarah Islam ini.

Jadi, ketika pada 1256 Raja Besar Mongol; yang berkuasa Khan Mongke memerintahkan saudaranya Hulegu untuk menyelesaikan penaklukan yang belum sempat dirampungkan Jenghis Khan atas Dunia Islam, Islam mampu bertahan dari kehancuran Irak, penyerbuan dan perampasan kota Baghdad, dan jatuhmnya kekhalifahan Abbasiyah pada 1258.

Pada 1256 penerus-penerus Salah al-Din dari kalangan budak (Mamluk) menunjukkan bahwa pasukan Mongol bukannya tak terkalahkan; mereka berhasil menghancurkan garda depan tentara Hulegu di Palestina. Jenderal Mongol, yang terbunuh, adalah pengikut Kristen Nestoria, dan ia diterima oleh Raja Kristen Armenis Sicilia dan oleh Raja Kristen Antoich; tetapi masyarakat Frank di Acre memberi jalan kepada tentara Mamluk. Pasukan Mamluk mengusir tiga invasi berikutnya yang dilancarkan ke Syria oleh Il Khan Mongol dari Iran dan Irak, dan mereka membuat Acre, muara pantai Kristen Barat terakhir di Syria pada 1291.

Baik orang-orang Kristen Barat maupun orang-orang Kristen Nestoria di dominion-dominion Il Khan sama-sama mengharapkan bahwa seluruh Dunia Islam bisa ditklukkan, dan Islam sendiri dilenyapkan, oleh persekutuan besar antara Kristendom Barat dan Kerajaan Mongol. Utusan Paus dan utusan Prancis sampai di ibukota Mongol Raya Qaraqorum, dekat ujung timur padang rumput Eurasia, dan pasukan Mongol mengajukan tawaran kepada orang-orang Kisten Barat, tetapi tidak dicapai kesepakatan. Para pemimpin wilayah Barat Kerajaan Mongol memilih Islam daripada Kristen. Sesudah masuknya Il Khan Ghazan ke dalam Islam, pada 1295, penduduknya yang beragama Islam melakukan pembalasan kepada penduduk Kristen. Di Dunia Islam wilayah Asia konversi besar-besaran orang-orang Kristen ke dalam Islam, yang dimulai pada abad ke-11 pada waktu Volkerwanderung pasukan Turki di bawah kepemimpinan Saljuk, sekarang memperoleh dorongan baru, dan komunitas Kristen Nestoria dan Monophysite, yang pernah menjadi penduduk mayoritas di Fertile Crescent, berkurang jumlahnya sampai mereka menjadi kelompok minoritas.

Di ujung Dunia Islam yang berlawanan, penduduk Muslim di wilayah-wilayah yang ditaklukan oleh Kristen Barat juga berkurang jumlahnya dan pada akhirnya habis. Baik kaum Murabitun Berber nomad dari Sahara maupun penerus mereka kaum Muwahid Berber dari daratan tinggi Atlas sama-sama gagal menahan gerak maju militer Kristen Barat di Semenanjung Iberia. Kordoba jatuh pada 1236 dan Seville pada 1248. Sesudahn itu, kekuasaan Muslim di semenanjung ini terbatas di perbatasan alam sekitar Granada. Namun demikian, tentara Muwahid berhasil mengusir tentara Norma Sicilia dari muara pantai yang mereka duduki di Ifriqiyah sesudah tumbangnya Murabitun di sana pada 1140. Pada tahapan ini, tidak ada wilayah Islam Afrika yang jatuh kecuali untuk sementara di bawah kekuasaan Kristen Barat.

Namun demikian, wilayah Barat dimana peradaban Islam tumbuh sesudah terjadinya titik balik abad ke-11 di bidang militer bukanlah Afrika, tetapi Semenanjung Iberia. Di sana, tumbangnya kekhalifahan Umayyah di Kordoba mempunyai dampak budaya yang sama sebagaimana tumbangnya kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad bagi Iran. Di semenanjung ini juga, semakin banyaknya istana-istana lokal yang berdiri meningkatkan jumlah pekerja seni dan sastra yang potensial. Di Negara-negara pengganti kekhalifahan Kordoba puisi tumbuh dengn pesat. Pada waktu penaklukkan Kristen atas Andalusia, semenanjung ini melahirkan filosof, Ibnu Rushd (Averosses, 1126-1198), yang sezaman dengan Ibnu Sina (Avicenna), dan seorang mistikus, Ibnu Arabi (1165-1240) yang menguatkan tour de force Ghazali dalam menjadikan mistisisme sebagai unsur ortodoksi Islam Sunni yang bisa diterima. Sumbangan semenajung ini pada kebudayaan Islam sama dengan sumbangan Ifriqiyah sebelumnya pada kebudayaan Kristen Barat.

VI Kesultanan Turki Ustmani (Ottoman), Safawi, dan Timuria (1291-1555)

Pada tahun 1555, Dunia Islam lebih luas daripada tahun 1291, dan bagian terluasnya adalah yang saat itu secara politik tercakup dalam tiga kerajaan: Kesultanan Turki Utsmani (Ottoman) di Levant –kawasan Mediterrania Timur, yang meliputi negeri-negeri yang bertapal batas laut antara Mesir dan Yunani; Kesultanan Safawi di Iran; dan Kesultanan Timuria (yang secara salah disebut Mughal) di India. Suatu rentetan kesengsaraan yang luar biasa terjadi antara tahun 1220 (saat penyerbuan Jenghis Khan terhadap Transoxania) dan 1405 (saat kematian Timur Lenk).

Pada tahun 1555 Dataran Tinggi Deccan –yang pada tahun 1294 mulai ditaklukkan oleh orang-orang Islam penguasa India Selatan—berada di bawah pemerintahan Muslim sampai ke selatan sejauh Sungai Kistna dan Tungrabhadra. Pada saat yang sama, Eropa Tenggara berada di bawah pemerintahan Muslim sampai suatu garis yang mencakup semuanya selain daerah yang paling barat di Hungaria. Perluasan-perluasan Dunia Islam ini, sebagaimana perluasan terdahulu ke India Utara, dilakukan dengan kekerasan senjata. Di India sebagai keseluruhan, seperti halnya di Eropa Tenggara, sebagian besar penduduk yang ditaklukan itu masih tidak berpindah agama ke dalam Islam. Akan tetapi, di jantung Dunia Islam, perpindahan agama secara msssal ke dalam Islam pada abad ke-12 dan 13 menyebabkan penduduk non-Muslim, yang tadinya mayoritas di sini, menjadi minorotas kecil. Ke beberapa arah, Dunia Islam diperluas dengan konversi agama dan bukan dengan penaklukan.

Mislnya, Nubia (yang hingga tahun 1291 menjadi Kristen Monofisit selama delapan abad) beralih ke Islam secara bertahap sebagai hasil dari infiltrasi suku-suku Arab dari Mesir pada abad ke-14 dan sesudahnya. Orang-orang Nubia yang mempertahankan bahasa leluhur mereka pun memilih Islam. Di Sudan Barat, Islam terus memenangi konversi sejak abad ke-11, saat Islam memperoleh pijakan pertamanya ke selatan Sahara. Di semenajung Malaya dan Indonesia, Islam memenangi konversi di abad ke-15 secara damai sebagaimana pendahulu-pendahulunya: Hinduisme dan Budhisme. Di kawasan ini, Islam tidak menyingkirkan pengaruh budaya India yang terlah ada di sana selama lebih dari seribu tahun; Islam hanya melapisi sebagai pernis. Di China, komunitass-komunitas Muslim di Yunnan dan Kansu tetap bertahan dari rejim Mongol yang berkuasa sebentar saja. Yang tertua di antara tiga kerajaan Islam yang hidup berdampingan pada 1555 adalah Kesultanan Ustmani. Intinya adalah keberadaan awalnya pada tahun 1300. Pada tahun 1353 kerajan ini memperoleh pijakan pertamanya di Eropa, yang lalu menjadi keberuntungannya. Pada tahun 1402 kerajaan ini telah menegakkan pemerintahannya secara langsung ataupun taklangsung di hampir seluruh kawasan ini di Asia, sebagaimana di Eropa, yang sebelumnya dikuasai oleh kekaisaran Romawi Timur sebelum tahun 1071. Pada tahun 1402, kekuasaan Utsmani di Asia Kecil dirontokkan oleh Timur Lenk dan kemudian retak menjadi tiga pecahan yang bersaing. Namun, di wilayah Eropanya, dan bagian-bagian Asianya, disatukan kembali oleh Sultan Muhammad (Mehmet) I (memerintah 1402-1421). Monumennya adalah Masjid Hijau yang sangast elok di Bursa. Muhammad II (memerintah 1451-1481) ‘Sang Penakluk’ (Constantinople) mengkonsilidasi institusi dan wilayah Kesultanan Utsmani-nya. Salim I (memerintah 1512-1520) mengubah kesultanan ini dengan memperluas ke arah timur dan selatan. Ia menjadikannya Negara-negara Kerajaan Mamluk dan sekaligus Negara-Penerus Kekaisaran Romawi Timur. Pada tahun 1555, di bawah Sulaiman I, kesultanan ini mencapai puncaknya dan belum ada yang melampauinya.

Kerajaan Safawi muncul sebagai meteor pada tahun 1500-1513, namun pada tahun 1513 mencapai batas Timur Laut berdampingan dengan kaum pengembara Uzbek, sebuah bagian Siberia Barat dari Gerombolan Emas yang telah merebut Lembah Oxus-Jaxartes dari orang-orang Timuria sedikit demi sedikit pada abad ke-15. Selama empat tahun (1511-1514) pendiri Kerajaan Safawi, Syah Isma’il, merongrong Kesultanan Utsmani dengan pengulangan malapetaka yang pernah ditimbulkan padanya oleh Timur Lenk pada tahun 1402. Namun pada tahun 1514, di pertempuran Chaldiran, timur laut Danau Van, Utsmani memukul Safawi yang pada waktu itu (1515) Kerajaan Safawi masih terhuyung-huyung. Kesultanan Utsmani mencaplok Diyarbakar pada tahun 1516 dan Irak pada tahun 1534-1536. Akan tetapi, pada tahun 1555, Safawi masih menguasai semua selain sudut barat laut Iran.

Pada tahun 1555, Humayun si raja Timuria menaklukan kembali Kerajaan Delhi, yang pernah ditaklukan bapaknya, Babur, pada tahun 1526; padahal sebelumnya, yaitu pada tahun 1512-1513 Babur gagal menaklukkan kembali dominion-dominion leluhurnya di Trasoxania dari bangsa Uzbek. Pada tahun 1512-1513 Babur bersekutu dengan Isma’il, yang kini terancam oleh Salim I, Sultan Utsmani di kawasan seberang. Keduanya berdamai dengan bangsa Uzbek dengan ketentuan Khorasan diperuntukkan bagi Isma’il sedangkan Transoxania dan Tokharistan bagi Uzbek. Babur harus menarik diri ke Kabul dan di sana menunggu peluangnya untuk mendapatkan konpensasi di India atas kegagalannya untuk mengambil kembali Transoxania.

Bangunan tiga kerajaan tersebut masing-maasing adalah tour de force. Sebuah Negara takdapat eksis tanpa memiliki pembayar-pajak pertanian, industri, dan perdagangan serta tanpa memiliki pasukan yang berdisiplin dan loyal. Namun, sejak sekitar pertengahan abad ke-11, Dunia Islam ditimpa gangguan-gangguan dari kaum pengembara Muslim-penggembala. Afrika Barat Laut dan Andalusia dibanjiri oleh kaum pengembara Arab dan Berber; Irak dan Jazirah (Mesopotamia) oleh pengembara kaum Arab lain; lembah Oxus-Jaxartes, Iran, Arminia, dan Asia Kecil oleh kaum pengembara Turkmenia. Telah disebut bahwa orang-orang Turkmenia ini datang dalam dua gelombang. Yang pertama dipimpin oleh orang-orang Saljuk di abad ke-11 dan gelombang kedua melarikan diri dari bangsa Mongol pada abad ke-13. Kemampuan pembayaran-pajak dan produktivitas penduduk pemukim mengalami pukulan dengan adanya kaum penghembara Muslim-penggembala ini; dari kekejaman yang dilakukan oleh kaum pengembara Mongol-penggembala; dan dari kekejaman berikutnya yang dilakukan oleh Timur Lenk di pedalaman Dunia Islam antara tahun 1380 dan 1405.

Timur Lenk dan para prajuritnya bukan pengembara; mereka kaum Muslim Transoxania yang menetap; namun Timur Lenk berperilaku brutal seperti Mongol, dan, kecuali untuk serangannya ke Rusia pada tahun 1395, semua korbannya orang Islam. Di samping menghakimi kaum pengembara Muslim dari ke-Khan-an Chaghatay dan Gerombolan Emas, Timur Lenk merampas Baghdad pada tahun 1393, merampas Delhi, ibu kota India Utara Muslim, pada tahun 1398/1399, merampas Aleppo dan Damaskus pada tahun 1401, dan memisahkan dominion-dominion Asia dari Kesultanan Utsmani pada tahun 1402. Penampilan Timur Lenk adalah destruktif dan negative. Selepas kematiannya pada tahun 1402, kerajaannya sendiri lambat laun menciut sampai titik penghabisan, dengan meninggalkan pekerjaan pembangunan kembali Dunia Islam secara politik untuk dilakukan oleh tangan-tangan yang lebih konstruktif.

Pada saat kematian Timur Lenk, Negara-negara di Dunia Islam yang masih ‘penting’ hanyalah Kerajaan Mamluk di Mesir dan Syria dan Kerajaan Bahmania di Deccan. Irak belum pulih dari penaklukkan oleh Mongol tahun 1258. Sampai saat itu Irak setara dengan Mesir secara ekonomi. Irak merupakan salah satu dari dua kawasan penghasil makanan utama bagi daerah sekitarnya sejak beberapa abad sebelumnya. Pada tahun 1358, sistem irigasi Irak macet dan belum diperbaiki.

India Utara, seperti Mesir, selamat dari bangsa Mongol, tetapi tidak selamat dari Timur Lenk, dan, bahkan sebelum serbuan desteruktif Timur Lenk, Kerajaan Delhi gagal menyatukan India Muslim. Seusai penaklukan Deccan oleh kaum Muslim India Utara, yang dimulai pada 1294, Raja Delhi, Muhammad bin Tughluq, membuat percobaan yang gagal pada tahun 1327-1329 untuk memindahkan ibu kota kerajaan Kesatuan India Islam dari Delhi ke Deogari di Deccan. Sesudah ia kembali ke Delhi, kerajaannya rontok. Sekitar tahun 1336, ujung semenanjung ini, sampai selatan sejauh sungai Kistna dan Sungai Tungrabhadra, disatukan dalam Kerajaan Hindu Vijayanagar yang anti-Muslim. Pada tahun 1347, dominion-dominion Islam di Deccan, sampai selatan garis ini, dibentuk menjadi sebuah kerajaan Islam independen yang diperintah oleh dinasti Bahmania. Antara tahun 1482 dan 1512, Kerajaan Bahmania pecah menjadi lima negara yang panuh dengan percekcokan.

Pada tahun 1564, empat dari lima negara tersebut bersekutu melawan Vijayanagar, dan mereka berhasil menumbangkan Negara Hindu merdeka terakhir yang masih ada ini pada tahun 1565. Pada bidang politik, Hinduisme kini tenggelam hampir di mana-mana di seluruh penjuru sub-benua ini, tetapi di bidang-bidang lain, Hinduisme masih hidup sepenuhnya. Secara kreatif ia menanggapi dampak religius Islam. Pada abad ke-15, Kabir menyajikan intuisinya, dalam bahasa Hindi, tentang realitas spiritual terdalam yang terlukis samara-samar baik dalam Hinduisme maupun Islam. Kabir adalah perintis jalan bagi Nanak (1469-1539), pendiri komunitas dan agama Sikh.Akbar, raja Mughal Timuria (memerintah 1556-1605), memiliki seorang warga Hindu, Tulsi Das, yang menyusun Ramayana dalam bahasa Hindi, bahasa yang hidup pada mayoritas penduduk India Utara. Syair ini menjadi sama terkenalnya, di kalangan orang-orang yang berbahasa tutur Hindi, dengan gubahan dari empat pujangga utama Persia-Baru di kalangan orang-orang yang berbahasa tutur Farsi.

Pada tahun 1405, Mesir Mamluk masih utuh. Timur Lenk dan orang-orang Mongol telah menyerbu Syria, yang merupakan lereng kubu pertahanan Mesir, tetapi mereka belum mencapai Mesir itu sendiri. Sistem irigasi Mesir masih berjalan teratur. Negeri ini mempunyai penduduk pembayar pajak yang produktif, padat; negeri ini diurusi dan dipertahankan oleh suatu pasukan yang sesuai keperluan, berdisiplin, dan terlatih, yang terdiri dari prajurit budak yang mula-mula diimpor dari padang rumput Qipchaq dan kemudian dari Kaukasus. Penduduknya beralih agama secara progresif dari Kristen Monofisit ke Islam sampai kaum Kristen menjadi minoritas kecil; namun di bawah kekuasaan Mamluk, sebagaimana rejim-rejim Islam sebelumnya, orang-orang Kristen Mesir terus memainkan peran penting dalam urusan publik semisal pengumpul pajak. Dengan demikian, di Mesir Mamluk, mayoritas penduduk yang Muslim itu dipertahankan dan diurusi oleh orang-orang asing dan dipajaki oleh kaum pribumi yang non-Muslim.

Di bagian Asia dari Dunia Islam, di luar wilayah kekuasaan Muslim India dan Mamluk Mesir, problemnya pada tahun 1300 dan seterusnya adalah bagaimana menegakkan kembali sruktur politik yang stabil walau ada kaum pengembara Turkmenia yangh kuat. Orang-orang yang berpotensi mendirikan Negara-negara Islam baru di kawasan ini adalah para kepala suku pengembara ini. Kecakapan perang suku-suku ini merupakan basis bagi kekuasaan pemimpin-pemimpin mereka, dan mereka harus terus bergantung padanya kecuali jika mereka bisa mendapatkan penggantinya yang efektif. Seraya menantikan hal ini, para kepala suku itu harus berusaha menundukkan kaum pengembara pengikut mereka itu dengan menjinakkan mereka, dengan menyibukkan mereka, dan akhirnya dengan mendorong mereka untuk melepaskan seruan leluhur mereka, yaitu pengembaraan padang rumput, dan untuk menjadi petani dan pengrajin.

Di Asia Kecil, problem tersebut diatasi secara parsial oleh sultan-sultan Saljuk Rum di abad ke-12. Mereka menempatkan orang-orang Turkmenia pengikut mereka di tanah perbatasan Asia antara Rum dan Kekaisaran Romawi Timur yang menyusut, untuk menjalankan Perang Suci Islam (jihad) di sana melawan kaum non-Muslim. Sultan-sultan Saljuk itu membangun suatu masyarakat pemukim di pedalaman dominion-dominion mereka. Masyarakat tersebut terdiri dari petani-petani setempat, yang dulunya berbahasa tutur Yunani dan yang dulunya Kristen, yang bertahan dari orang-orang Turkmenia yang melintasi negeri mereka, dari dari imigran-imigran dari Iran. Namun, di abad ke-13, orang-orang Saljuk Rum ini terkena serangan pukulan balik. Pengungsi Kekaisaran Romawi Timur, yang menancapkan ibu kotanya di Nicaea selepas direbutnya Constantinople pada tahun 1204 oleh petualang-petualang Kristen Barat, menaruh perhatian pada bekas dominionnya di Asia dan bahkan memperluasnya kembali dengan meyingkirkan Saljuk Rum. Kemudian Rum dibanjiri dengan gelombang kedua migrasi ke Barat oleh kaum pengembara Turkmenia. Pada tahun 1243, Kesultanan Rum dikalahkan oleh orang-orang Mongol dan dijadikan jajahan mereka. Pada tahun 1273, suatu pemberontakan terhadap Mongol di sini dipamkan secara ganas, dan para Il Khan Mongol mengendalikan Rum secara ketat. Sementara itu, pendudukan kembali orang-orang Yunani Nicaea terhadap Consdtantinople pada tahun 1261 telah mengalihkan perhatian mereka dari milik-milik mereka di Asia Kecil. Akibatnya, antara tahun 1261 dan 1300, kaum Turkmenia memperoleh kekuasaan atas hampir seluruh Asia Kecil dengan menyingkirkan baik kekaisaran Romawi Timur maupun Kesultanan Saljuk Rum. Negara kaum pemukim Turki di Asia Kecil ini diruntuhkan oleh orang-orang Turkmenia setempat atau oleh para Il Khan Mongol yang merupakan tuan tanahnya atau oleh keduanya sebelum rontoknya para Il Khan itu pada tahun 1335 dan sebelum digantikannya rejim mereka oleh kekuasaan suku-suku Turkmenia setempat lainnya yang sebelumnya merupakan warga negara yang tidak tunduk kepada para Il Khan.

Kemudian para kepala suku Turkmenia yang merebut kekuasaan dari para Il Khan dari Kaum Seljuk Rum itu semuanya ingin menjadi penguasa kerajaan-kerajaan kecil pemukim yang bertipe Rum tersebut. Yang paling sukses di antara pemimpin-pemimpin yang ambisius itu ialah Utsmani. Menjelang berakhirnya abad ke-13, mereka telah ditempatkan oleh sultan-sultan Saljuk Rum dalam suatu posisi penting di lembah hilir Sungai Sangarios (Sakkaria), berhadapan dengan tiga kota Yunani: Nikomedheia (Ismit), Nicaea (Isnik), dan Brusa (Bursa). Utsmani mengambil alih Bursa pada tahun 1326, Isnik pada 1331, dan Ismit pada 1337. Direbutnya Ismit membuka jalan ke pesisir Bosphorus di bagian Asia; direbutnya Bursa membuka jalan bagi penaklukan pada tahun 1344 terhadap Karasi, kerajaan kecil Turkmenia terdekat di Barat. Karasi telah menguasai pesisir Dardanelles di bagian Asia. Ketika pada tahun 1353 Utsmani merebut sebuah tanjung Eropa di Gallipoli (Kallipolis), mereka mengikuti kaisar-kaisar Yunani Nicaea, yang telah menyerbu Thrace pada tahun 1235 dan yang pada tahun 1247 mengepung Constantinople dari sisi darat, sebagaimana yang kemudian dilakukan oleh Utsmani, ketika pada tahun 1361 mereka mengambil alih Andrianople (Edirne).

Kaum Utsmani membangun kekuasaan mereka sebagian dengan menjinakkan suku-suku Turkmenia dan sebagian dengan memikat sedikit orang yang berpindah agama (ke dalam Islam) yang secara militer kurang berharga, dan (mendapat) banyak pekerja produktif dan pembayar pajak yang tetap Kristen yang secara ekonomi lebih berharga, di kawasan-kawasan yang mereka rebut dari Dunia Kristen. Penaklukan-penaklukan ini memberi kaum Utsmani suatu ketersediaan warganegara pemukim Kristen yang sebanding dengan ketersediaan warganegara pemukim Hindu bagi para pembangun kerajaan Muslim India. Sumber kekuatan ekonomi ini tidak terletak pada bantuan kerajaan-kerajaan kecil lain manapun yang tersebar di Asia Kecil yang didirikan oleh para kepala suku Turkmenia, bukan pula pada bantuan Safawi.

Orang-orang Turkmenia itu dijinakkan dengan mendatangkan wakil-wakil (Darwisy) dari tarekat-tarekat religius Muslim bagi pemimpin-pemimpin mereka, tetapi, bagi pembangun kerajaan Muslim sekuler ini merupakan kebijakan yang membahayakan. Para Darwisy ini disambut hangat oleh orang-orang Turkmenia karena mereka menggantikan posisi cenayang-cenayang Turkmenia pra-Islam. Namun cenayang-cenayang yang berbusana Muslim ini merupakan bid’ah di mata ‘bangunan mapan’ kaum Sunni religius. Kadang-kadang, bukannya menjinakkan orang-orang Turkmenia, mereka malah mengaktifkan kembali pergolakan tradisional mereka. Misalnya, pada tahun 1416, ketika Sultan Muhammad I belum menyelesaikan pengangkatan kembali Kesultanan Utsmani setelah kejatuhannya yang sementara pada tahun 1402 lantaran Timur Lenk, pemberontakan-pemberontakan serempak yang besar-besaran di kawsan Utsmani di Bulgaria Timur Laut dan di Asia Kecil Barat (di Sarukhan dan Aydin, kerajaan-kerajaan kecil Turkmenia Asia yang sebelumnya telah takluk lagi) dipimpin oleh Syaikh Badruddin dari Simar di Germiyan. Badruddin adalah seorang ulama yang ahli dalam Hukum Islam Sunni yang menjadi sufi yang revolusioner dan sangat tidak ortodoks. Ia menyeru kaum Muslim dan Kristen untuk menyatukan kekuatan dalam mengikuti dia dalam melawan rezim Utsmani. Pemberontakan Badruddin dipadamkan, tetapi terekatnya tetap bertahan sampai abad ke-17. Pada tahun 1416, mayoritas pemberontak itu ialah orang-orang Turkminia yang tidak puas.

Suku-suku Turkmenia non-Utsmani di Asia Kecil itu marah lantaran ditaklukkan oleh orang-orang Utsmani pada abad ke-14 dan ditaklukan lagi oleh mereka sesudah sementara dibebaskan oleh Timur Lenk. Pada tahun 1511, Kesultanan Utsmani nyaris tumbang lagi lantaran pemberontakan yang meluas di Asia Kecil oleh orang-orang Turkmenia Syi’I Imam-Duabelas pendukung Syah Isma’il, pendiri Kerajaan Syafawi. Pemberontakan ini ditumpas secara ganas oleh Salim I pada tahun 1512-1513. Pasukan Syafawi asli terdiri dari kesatuan imigran Syi’I dari kerajaan-kerajaan kecil Turmenia di Asia Kecil yang telah jatuh di bawah kekuasaan Utsmani. Sesudah wafatnya Syah Isma’il pada tahun 1524, pergolakan Qizilbasy (‘kepala-kepala merah’, disebut begitu lantaran tutup kepala mereka) ini menjadi gangguan bagi penerus-penerus Isma’il, walaupun syah-syah kerajaan Safawi ini merupakan pemimpin spiritual resmi tarekat Sufi yang di dalamnya resimen-resimen kesukuan pasukan Qizilbasy terdaftar.

Para pembangun Kesultanan Utsmani tidak bersandar pada suku Turkmenia manapun –dan bahkan tidak bersandar pada mereka sendiri. Mereka mendorong orang-orang Turkmenia untuk bergerak memasuki dominion-dominion Utsmani yang meluas di Eropa. Akan tetapi, untuk mempertahankan dominion-dominion mereka di Eropa maupun di Asia, dan untuk mengawaki pasukan di medan perang, dinasti Utsmani itu menarik sumber daya manusia lain. Sebuah milisi kavaleri feodal dibiayai dengan pendapatan-pendapatan dari ongkos sewa, yang para penyewa penghasil-pendapatan itu memiliki hak-hak yang dirumuskan dan ditetapkan oleh Negara, sebagaimana orang-orang kavaleri menerima pendapatan. Juga, sebagaimana dinasti Abbasiyah dan Ayyubiyah pendahulu mereka, orang-orang Utsmani ini memelihara pasukan tetap yang terdiri atas budak-budak. Pada asalnya, mereka dibeli dari luar negeri atau direkrut dari tawanan-tawanan perang, seperti prajurit-budak Abbasiyah dan Ayyubiah, namun, sebelum berakhirnya abad ke-14, dinati Utsmani itu mulai mengangkat pengurus rumah tangga-budak Padishah dengan mewajib-militerkan anak-anak petani pribumi Kristen, yang sebagian besar merupakan orang-orang Serbia, Kroasia, dan Albania. Institusi yang tidak manusiawi tetapi efesien ini dibangun oleh Murad II (memerintah 1421-51).

Pada asalnya, para budak wajib militer pribumi ini dipekerjakan hanya selaku prajurit (atau ‘janizari’, Yeni Ceri, yang bermakna ‘pasukan baru’). Para pegawai negeri Utsamni itu direkrut mula-mula dari kalangan warga Negara Muslim merdeka di kesultanan ini. Muhammad II mulai merekrut pegawai pemerintahannya, juga, dari kalangan budak-budaknya; dan, bisa kita simpulkan bahwa sampai saat itu, membagi para wamil anak-anak menjadi ichoghlanlar (‘anak-anak dalam negeri’) dan ajemi oghlanlar (‘anak-anak asing’) telah menjadi kebiasaan. Para ichoghlan berfungsi sebagai pesuruh Padishah, dan mereka diberi pendidikan yang lama dan tidak tanggung-tanggung –secara intelektual di samping secara fisik dan militer– yang menjadikan mereka mampu memegang jabatan tertinggi Negara atau, yang terendah, untuk menjadi pelayan di kavaleri rumahtangga. Para ajemi oghlan akhirnya menjadi janizari.

Pelatih budak-budak imperial pada kedua tingkatan itu sangat kompetitif dan selektif. Semua anggota rumah tangga budak dibayar, walau dengan jumlah berlainan. Perpidahan agama ke Islam tidak diwajibkan, karena ini tak terelakan. Warga Negara Utsmani Muslim yang terlahir merdeka, termasuk dari anak-anak budak imperial, dihalangi dari pendaftaran ke dalam rumah tangga budak imperial. Jadi ketika pemerintahan kesultanan ini dimonopoli rumah tangga budak, orang-orang Utsmani Muslim yang terlahir merdeka tidak diikutsertakan dalam pembagian tugas pemerintahan di negeri mereka sendiri. Pemerintahan ini berada di tangan budak-budak eks-Kristen yang terdidik cermat dan sangat berdisiplin. Inilah salah satu sebab utama suksesnya Kesultanan Utsmani.

Leluhur atau pendiri dinasti Safawi ialah Syaihk Safi al-Din Ishaq (1252-1334) dari Ardebil di sudut tenggara Azerbaijan. Ia seorang pendiri terekat, bukan Negara, dan tidak ada bukti bahwa dia itu Syi’I. Yang pertama dari keturunan dan penerusnya yang tergolong Syi’I pastilah Khwaja Ali, cucunya. Dia seorng Syi’I dari aliran Imam Dua Belas, bukan dari aliran Isma’ili Imam-Tujuh yang tidak populer yang pada abad ke-10 diwakili oleh dinasti Fatimiah dan oleh orang-orang Carmathian, dan belakangan oleh orang-orang Assassin (para pembunuh). Kaum Assassin di Iran Barat telah dibinasakan pada tahun 1257 oleh Hulegu si jagoan perang Mongol. Orang Safawi pertama yang berpolitik dan berperang ialah Syaihk Junaid, anak cicit Safi al-Din dan kakek Syah Isma’il. Tahun naik takhtanya, 1447, adalah tahun kematian Syakh Rukh (putra dan penerus Timur Lenk), yang diikuti oleh pecahnya Kerajaan Timuria. Junaid menikahi saudari Uzun Kasan, sang Khan dari orang-orang Turkmenia Aq Qoyunlu (‘domba putih’), yang merupakan penerus-penerus Timur Lenk di Azerbaijan dan Diyarbakar.

Aq Qoyunlu memiliki seorang wazir (perdana menteri) berkebangsaan Iran, dan Syah Isma’il mengambil alih jabatannya ketika pada tahun 1502 ia membubarkan pegawai-pegawai aq Qoyunlu dari pejabat ini. Akan tetapi, Syah Isma’il sendiri dan pengikut-pengikut Qizilbasy-nya, seperti Aq Qoyunlu, berbahasa tutur bahasa Turki –bahkan sampai saat itu, begitu pula seluruh penduduk Azerbaijan. Sebelum masa Syah Isma’il, pusat-pusat Syi’isme Imam Dua Belas adalah Irak Barat Daya dan Jabal Amil (ujung selatan dari Republik Libanon saat ini). Iran didominasi Sunni. Empat Pujangga Persia Baru yang paling terkenal –Firdausi, Sa’di, Hafiz, Jami—semuanya Sunni. Akan tetapi,. Syah Isma’il secara keras memaksakan Syi’isme Imam Dua Belas bagi semua warga negaranya; orang-orang Iran menerima agama paksaan baru mereka dengan kepatuhan yang mengejutkan, dan akhirnya menjadi ciri khas nasionalisme Iran baru, walau niat Syah Isma’il pendiri kerajaan yang berbahasa tutur Turki ini hanyalah memperluas dominion-dominionnya dan memropagandakan agama leluhurnya.

Sampai tahun 1555 Kesultanan Utsmani diurusi oleh rumah tangga budak Padishah. Di Iran, cucu dan penerus kedua Syah Isma’il yang senama dengannya berada di dalam kekuasaan trentara-tentara Turkmenia Qizilbasy. Humayun Timuria baru saja menaklukan kembali India Utara dengan sepasukan petualang-petualang dari banyak bagian dari Dunia Islam. Humayun dan Babur (ayah Hunayun) ialah Sunni, tetapi masing-masing pernah meminta bantuan dari kaum Safawi Syi’I. ‘Kekuasaan’ Muslim di India diungguli oleh banyaknya warga Negara yang beragama Hindu sehingga tidak bisa memperturutkan hati dalam percekcokan-percekcokan sekitar domestik. Di India Islam, bala bantuan Muslim dari sekte manapun selalu disambut hangat.

Di Dunia Islam sampai bagian barat dari India, berdirinya kerajaan Syi’ah Imam Dua Belas di Iran dan Irak pada tahun 1500-1513 secara mengejutkan memiliki efek berupa penyekatan kaum Sunni di Levant dari sesama mereka di Asia Tengah. Pada tahun 1475, kesultanan Utsmani mencaplok koloni-koloni Genoa di Crimea, dan kekuasaan Utsmani diterima oleh ‘Tartar’ Crimea, negara-penerus Gerombolan Emas. Akan tetapi, di seberang parang rumput Eurtasia, Ivan IV (‘sang Mengerikan’, Kaisar Rusia Moskwa) memotong komunikasi-komunikasi antara kesultanan Utsmani dan khan-khan Uzbek Sunni di lembah Uxus-Jaxartes dengan mencaplok Kazan pada tahun 1552 dan Astrakhan pada tahun 1556. Pada tahun 1516-1517, Kesultanan Utsmani menaklukkan dan mencaplok Kerajaan Mamluk Mesir. Akan tetapi, antara tahun 1498 dan 1515, Portugis menguasai Samudra Hindia, sedangkan Utsmani tidak lebih berhasil daripada Mamluk yang pada tahun 1508-1517 berusaha merampas penguasaan laut dari tangan Portugis, walaupun Utsmani (sebagaimana Mamluk) mengambil keuntungan dari operasi darat di pedalaman. Pada tahun 1538, sebuah armada Utsmani gagal mengambil Diu dari Portugis. Pada tahun 1539, Sultan Gujarat yang juga Muslim, yang mulanya menjadi sekutu Mamluk namun kemudian menjadi sekutu Utsmani, terpaksa membuat perdamaian dengan Portugis. Pada tahun 1551, orang-orang Utsmani menghentikan upaya mereka untuk merebut penguasaan Samudra Hindia dari tangan Portugis.

Pada tahun 1542, pasukan-pasukan Utsmani dan Portugis saing bertempur di Abyssinia. Kaum Muslim setempat membantu Utsmani, kaum Kristen setempat membantu Portugis. Abyssinia hampir tidak pernah mengambil bagian dalam urusan internasional sejak negeri ini memberi suaka bagi beberapa pengikut Nabi Muhammad di Makkah sebelum hijrahnya Nabi Muhammad ke Yasrib. Penaklukan berikutnya terhadap Mesir oleh orng-orang Arab Muslim menyekat kaum Kristen Monofisit di Nubia dan Abyssinia dari rekan Kristen mereka lainnya. Namun, pada dan sesudah abad keempatbelas, ketika Nubia berpindah agama ke dalam Islam, agama Kristen Monofisit masih bertahan di Abyssinia. Sejak abad ke-7, bahasa para pemukim (dari Yaan) yang berbahasa tutur Semit di ujung utara dataran tinggi Abyssinia menyebar ke selatan. Agama Kristen Mobnofisit menyebar secara bersamaan dengan bahasa ini, namun agama Kristen harus bersaing dengan agama Yahudi, yang mencegah agama Kristen dalam memperoleh pijakan di sini. Sejak abad ke-13, Kerajaan Kristen Monofisit Abyssinia menjadi lebih unggul dari agama Yahudi di dataran tinggi ini, tetapi Islam menyebar di sekitar lereng timur dan selatan dataran tinggi ini. Pada tahun 1529-1542, kaum Muslim dari tenggara ini menaklukkan hampir seluruh Abyssinia Krisrten. Nasibnya kelihatannya ditentukan oleh kemenangan pasukan Utsmani atas Portugis pada tahun 1541. Akan tetapi, Utsmani kemudian menarik diri. Pada tahun 1543, Kaum Kristen Abyssinia memperoleh kemenangan yang menentukan dengan bantuan orang-orang Portugis yang selamat. Abyssinia bangkit menghancurkan dan mengosongkan kawasan ini, yang kemudian sebagian besar dibanjiri oleh suatu Volkerwanderung dari para penyembah berhala dari Galla yang bergerak ke dataran tinggi tersebut dari tenggara dan selatan.

Pada tahun 1555, tiga kerajaan Isam besar mendominasi pusat Oikoumene Dunia Lama dari Aljazair sampai India Utara. Kesultanan Utsmani merupakan yang tertua dan terkuat di antara ketiganya. Sekalipun begitu, Utsmani tidak menyelamatkan Kerajaan Granada, tanjung Muslim terakhir yang bertahan di semenanjung Iberia. Granada takluk pada tahun 1492 kepada sebuah kerajaan Kristen Barat yang bersatu, yaitu Castile dan Aragon. Utsmani juga tidak mencaplok Maroko, Negara Muslim paling barat di Afrika Barat Daya. Bukannya memotong jalur perairan Atlantik Portugis dengan pesisir Maroko, sebaliknya Utsmani dipotong jalur perairannya dengan pesisir Gujarat oleh Portugis. Selain itu, Utsmani gagal mencegah orang-orang Rusia yang menduduki aliran Volga dari Kazan turun hingga laut Kaspia. Karena itu, Utsmani gagal melakukan kontak dengan rekan mereka sesama Sunni di Lembah Oxus Jaxartes.

Walaupun begitu, Dinia Islam telah menampilkan prestasi luar biasa dalam bertahan hidup dari malapetaka Mongol, dan dalam pemulihannya ia tidak terbatas dalam bidang politik. Selama masa tahun 1300-1555, Iran menghasilkan dua pujangga terakhir dari empat pujangga besar Persia Baru, yaitu Hafiz (wafat 1389) dan Jami (1414-1492), sedangkan Afrika Utara-Barat menghasilkan seorang peneliti terkemuka tentang struktur sejaran manusia, yaitu Ibn Khaldun, walau, semasa hidupnya, Afrika Barat Laut itu merupakan Negara yang berada dalam kekacauan politik. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa tak satupun dari tiga tokoh yang mewakili budaya Islam tersebut yang merupakan orang dari suku-suku Utsmani, dan bahwa dua pujangga besar Persia Baru terakhir itu hidup dan meninggal sebelum penaklukan oleh Safawi dan pengkonversian Iran (dari Sunni ke Syi’I).

VII Arus Balik (1555-1768)

Selama satu setengah abad (1555-1707), tiga kekhalifahan Islam besar –Utsmani, Safawi, dan Mughal Timuria—hidup saling berdampingan dan masing-masing menguasai sebagian besar Dunia Islam. Kekhalifahan Utsmani lebih tua sekitar 200 tahun daripada Kerajaan Safawi, dan sekitar 250 daripada Kekhalifahan Mughal Timuria, jika kita menghitung berdirinya kekhalifahan ketiga pasca-Mongol ini sejak masuknya kembali Humayun ke Delhi pada 1555, bukan sejak invasi ayahnya, Babur, ke India pada 1525-6. Pada 1555, kekhalifahan Utsmaniyah berada pada puncak kekuasaannya dan kemudian mulai mundur. Kekhalifahan Mughal Timuria di India berada pada puncak kekuasaan ketika diperintah oleh Akbar (1556-1605) dan Jahangir (1605-27). Dan, Syah Abbas I (1588-1629) mengantarkan kekhalifahan Safawi pada masa kejayaannya.

Kemunduruan kekhalifahan Utsmaniah disebabkan oleh inflasi keuangan dan inflasi pegawai di rumah budak Padishah secara bersamaan. Inflasi keuangan menimbulkan krisis ekonomi dan kemudian kekacauan di antara pegawai publik setelah mengetahui gaji mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kekacauan ekonomi dan sosial ini dilantarbelakangi oleh aliran perak ke Ekumene Dunia Lama dari penambangan-penambangan yang dilakukan Kerajaan Spanyol di Amerika, dan aliran perak ini berada di luar kendali pemerintahan Utsmaniah. Akan tetapi, kekacauan-kekacauan yang berimbas ke Kekhalifahan Utsmaniah tidak akan parah seandainya ketertiban di rumah budak Padishah tidak dirusak oleh mengendornya peraturan bahwa anak-anak budak kerajaan tidak berhak menjadi pekerja seperti ayah mereka yang budak dan lahir sebagai orang Kristen, karena mereka lahir sebagai orang merdeka dan Muslim.

Pada mulanya, peraturan ini hanya dikecualikan kepada anak-anak para anggota kavaleri. Sulaiman I (berkuasa 1520-66) mulai meluaskan privilese ini kepada anak-anak para janizary. Konsesi ini diperkuat pada 1566 oleh Salim II, dan Murad II (berkuasa 1574-95) yang mengundangkan bahwa semua Muslim bebas mempunyai hak-hak politik. Kinsekuensinya, antara 1566 dan 1598, jumlah janizary yang tercatat dalam daftar gaji membengkak dari sekitar 12.000 menjadi 101.600 –belum lagi 150.000 calon janizary yang tidak mendapat bayaran dan menunggu diangkat.

Ichoghlanlar, yang mempekerjakan pegawai administratif tinggi, masih direkrut dari orang-orang yang beragama Kristen, tetapi praktik ini ditinggalkan pada abad ke-17,. Kini, pemerintrah Utsmaniyah menuntut kecakapan penduduknya yang beragama Kristen tanpa perlu memperbudak atau mengislamkan mereka. Sementara itu, janizary tidak lagi menjadi kekuatan militer yang efesien dan berubah jadi kelompok urban yang bergolak.

Meski demikian, kekuatan militer Utsmaniah tidak lantas melemah. Baghdad, yang dibangun ulang pada 1623 oleh Syah Abbas I untuk kekhalifahan Safawi, direbut kembali pada 1638 oleh Murad IV (1632-40) untuk kekhalifahan Utsmaniyah. Pada 1682, orang-orang Osmanlis menyerbu Vienna untuk kedua kalinya, tetapi gagal. Kegagalan mereka, sekali lagi, untuk menguasai Vienna menyebabkan mereka sangat terpukul yang sebenarnya telah mereka alami sejak diruntuhkannya Bayezid oleh Timur Lenk pada 1402.

Pada 1689, serangan balik Monarki Habsburg mencapai daerah hulu sungai Vandar. Meskipun orang-orang Osmanlis bersatu padu pada 1690, mereaka terpaksa menyerahkan Hungaria dan Kroasia Utsmaniah kerpada Monarki Habsburg, wilayah Peloponnesos kepada Venice pada 1699, dan Azov (yang direbut pada 1694) kepada Russia pada 1700. Namun, kekhalifahan Utsmaniyah merebut kembali Azov pada 1711 dan Peloponnesos, ditambah Tenos, pada 1715. Pada 1768, Kekhalifahan Utsmaniyah masih menguasai Bosnia dan Belgrade, juga dua kerajaan Rumania sampai ke utara Danube bawah. Senyatanya, Kekhalifahan Utsmaniah menyamai pendahulunya, yakni Kekaisaran Romawi Timur, dalam hal kemampuannya memulihkan diri dari kekacauan-kekacauan yang tampak seolah-olah tidak mungkin diatasi.

Selain itu, kemunduran militer dan pemerintahan kekhalifahan Utasmaniyah tidak mengganggu kreativitas arsitekturalnya. Masjid Sultan Ahmad I di Istambul, yang dibangun pada 1609-18, memiliki kehebatan tersendiri, dan tidak rusak selama Kekhalifahan Utsmaniyah berkonfrontrasi dengan Aya Sophia. Akan tetapi, tidak ada bangunan publik Utsmaniyah kecuali Masjid Hijau Mahmud I di Bursa yang sebanding dengan Masjid-i-Syah di Isfahan yang dibangun oleh Syah Abbas pada 1612-37, atau dengan Taj Mahal di Agra yang dibangun oleh Syah Jahan pada 1632-53. Masjid-i-Syah bukann hanya indah, tetapi juga unik dan serasi dengan bangunan-bangunan indah tua di sebelah Maidan-i-Syah. Ada juga bangunan-bangunan cantik di kota baru yang dibangun Syah Abbas pada 1569-76, yaitu Fatihpuri (Fathpur Sikri atau Fatehpur Sikri). Namun, Fatihpuri mirip dengan akropolis-akropolis di Athena. Fatihpuri adalah sekumpulan bangunan yang masing-masing menarik tetapi tidak saling serasi, seperti bangunan-bangunan Maidan-i-Syah.

Pada zaman yang sama, Mughal Timuria dan kekaisaran-kekaisaran Safawi tidak melebihi kekhalifahan Utsmaniyah hanya dalam bidang arsitektur. Mughal Timuria dan kekaisaran Safawi melahirkan dua penguasa besar, yaitu Khalifah Syah Abbas I dan Khalifah Akbar, yang visi mereka berbeda dengan visi khalifah-khalifah Padishah Utsmaniyah yang sezaman.

Akbar mengakui bahwa sebuah kekuasaan Muslim di India tidak dapat bertahan lama jika tidak mewadahi aspirasi warganya yang beragama Hindu. Pada 1564, dia menghapus pajak bagi kaum non-Muslim. Dia memperlihatkan kekuasaannya kepada orang-orang Hun dan Gujarat keturunan Rajput dengan mencaplok Chitor (daerah yang konon takdapat dituntudukan ternyata akhirnya dikalahkan dengan pasukan artileri) pada 1567-8. akan tetapi, setelah mengintimidasi orang-orang Rajput, Akbar berdamai dengan mereka, dan tindakan yang disebut terakhir ini cukup bijaksana karena mereka adalah kaum Hindu yang paling suka berperang sebelum munculnya orang-orang Maratha dan Sikh. Rajasthan, tempat orang-orang Rajput tinggal sejak kaum Muslim menaklukkan lembah Jumna-Gangga pada abad ke-12, adalah sebuah daerah, dari semua daerah lain di India, yang terdekat dengan Delhi tempat kaum Hindu memiliki otonomi.

Namun, sikap damai Akbar terhadap penduduknya yang beragama Hindu tidak dilatari semata-matan oleh alasan-alasan politik. Sikap ini sebagian didasari oleh ambisinya untuk meruntuhkan rintangan-rintangan tradisional yang membelenggu agama-agama besar. Akbar menyelenggarakan serangkaian diskusi antara wakil-wakil Islam, Hindu, Zoroaster, dan Kristen Katolik Roma. Pada 1582, dia mengumumkan sebuah “agama” baru, Din-i-Ilahi ‘Agama Tuhan’, yang diharapkan dapat menyatukan semua agama kuno dengan mentransendensikan masing-masingnya.

Hal pertama yang dilakukan Akbar adalah konsolidasi dan ekspansi kekhalifahannya. Akbar belajar dari kemampuan Kaisar Bengali Afghanistan, Syer Syah Sur –yang mengusir ayah Akbar, Humayun, dari India pada 1539-40—dalam mengatur pemerintahan dan keuangan. Dalam kekuasaannya yang berlangsung singkat (1540-5), Syer Syah berhasil menciptakan pemerintahan, pengelolaan keuangan, dan layanan pos yang sangat baik, dan aset-aset ini diwarisi oleh Akbar.

Sementara itu, Syah Abbas I kurang beruntung dibandingkan dengan Akbar. Dia harus membangun kembali dasar-dasar struktur kekhalifahan Safawi. Dia mewarisi penduduk urban dan petani yang berbahasa Farsi yang telah dipaksa masuk Syi’ah oleh pendahulunya, Syah Isma’il. Dia juga mewarisi tentara Turki ekspatriat yang sulit dikendalikan, yakni para pengungsi Syi’ah dari Kekhalifahan Utsmaniah dan Mamluk. Dia menguasai orang-orang Turki dengan meminta loyalitas sebagian di antara mereka dan menciptakan sebuah angkatan perang seperti model rumah budak Padishah Utsmaniah, termasuk resimen-resimen musketeer dan artileri. Angkatan perang ini tidak sekuat milik Kekhalifahan Utsmaniyah, tetapi karena Khekhalifahan Utsmaniyah tengah mengalami kemunduran, model baru angkatan perang Abbas I cukup efektif untuk merebut kembali banyak wilayah kekhalifahan Safawi yang dikuasai oleh Osmanlis sejak 1514. Pada 1662, Abbas I juga berhasil merebut kembali Hormuz dari Portugal. Dia mengganti Hormuz dengan sebuah pelabuhan baru, Bandar Abbas, di wilayah utama kekuasaannya.

Pada 1598, Abbas I memindahkan ibu kotanya ke Isfahan. Kota ini berada di luar jangkauan tentara Utsmaniyah, tetapi dapat dijangkau oleh penduduk Afghan Safawi di pojok timur laut khalifahan mereka. Seperti orang-orang Kurdi di perbatasan yang disengketakan oleh Kekhalifahan Safawi dan Utsmaniyah, penduduk Afghan adalah masyarakat pegunungan yang gemar berperang dan berbahasa ibu Iran non-Farsi. Dua penduduk ini tidak menyerah pada tekanan Syah Isma’il agar memeluk Syi’ah Imam Dua Belas. Mereka juga tidak bersahabat dengan penguasa Safawi, dan pada 1722 sekelompk pemberontak Afghan menduduki Isfahan.

Kekhalifahan Safawi tercerai berai, dan pada 1724 kekhalifahan Utsmani dan kekaisaran Russia sepakat untuk membagi provinsi-provinsi barat yang ditinggalkan oleh tetangga mereka yang kalah. Namun, pada 1729 tentara yang dipimpin oleh seorang Turki Khorasani, Nadir Quli, berhasil memukul mundur pemberontak Afghan itu ke pegunungan-pegunungan tempat tinggal mereka semula, dan akhirnya merebut kembali semua wilayah eks-Safawi yang telah diduduki orang-orang Russia dan Osmanlis.

Di tempat-tempat lain, Nadir mengambil inisiatif untuk menyerang. Pada 1739, dia menguasai Delhi, dan pada 1740 menduduki Uzbekistan sampai tepi selatan Sungai Oxus. Pada 1736, dia mengangkat dirinya sebagai Syah dan berusaha mengembalikan Iran jadi Suni. Akan tetapi, pemerintah Utsmaniyah menolaknya, dan penduduk Iran tetap beraliran Syi’ah yang telah menjadi agama nasional mereka selama dua abad terakhir. Pada 1747, Nadir Syah terbunuh, dan Iran yang ditinggalkannya mengalami kekacauan politik.

Kekhalifahan Mughal Timuria pun mengalami disintergasi. Penerus kedua Akbar, Syah Jahan (berkuasa 1628-58), meninggalkan kebijakan Aakbar untuk berdamai dengan penduduk Hindu dan pada saat yang sama menyerang Negara-negara Muslim yang merdeka di Deccan. Penerus Syah Jahan, Aurangzeb (berkuasa 1659-1707), melangkah lebih jauh lagi. Dia membunuh guru Sikh kesembilan, Teg Bahadur, pada 1675; kembali menarik pajak dari kaum non-Muslim pada 1678; dan menyebabkan orang-orang Rajput, beserta sekutu-sekutu Mughal, mengangkat senjata melawan dirinya pada 1680-1.

Pada 1689-91, Aurangzeb menguasai daerah selatan jazirah India sampai ke ujungnya. Ini menyebabkan orang-orang Huindu menyerang balik dirinya secara dahsyat. Rakyat Maratha memiliki banyak benteng pertahanan alam di Ghats Barat, dan mereka juga memiliki pemimpin nasional, Shivaji (1627-80). Pada 1670, beberapa kavaleri Maratha menarik upeti di daerah kekuasaan Mughal untuk pertama kalinya, dan tindakan ini sulit dipahami. Pada 1674, Shivaji mengangkat dirinya sebagai seorang penguasa Hindu yang independent. Setelah kematian Aurangzeb pada 1707, disintegrasi kekhalifahan Mughal berlangsung cepat. Orang-orang Maratha datang ke Delhi pada 1737; Nadir Syah menguasai Delhi pada 1739; dan Ahmad Syah Durrani Abdali Afghan –pendiri Negara penerus yang berumur panjang dari Kekhalifahan Nadir Syah yang berumur pendek- menguasai Delhi pada 1757 dan mengalahkan orang-orang Maratha di medan perang pada 1758-61.

Selama fase selanjutnya dalam sejarah India, kekalahan orang-orang Maratha oleh pasukan Afghan tidak setelah kekalahan Perancis dari Inggris pada saat yang bersamaan. Bahkan sebelum Inggris berhasil meluluhlantakkan Perancis, orang-orang Maratha telah mulai mengambil langkah untuk mewarisi kekuasaan Mughal. Pada 1757-65, sebuah Maskapai India Timur milik Inggris menguasai Bengali, Bihar, dan Orissa dengan berpura-pura sebagai penarik pajak provinsi bagi pemerintah imperial Mughal.

Penerus Kekhalifahan Mughal di India adalah Maskapai India Timur milik Inggris dan akhirnya Kerajaan Inggris, tetapi dengan menguasai Kush Hindu, Negara Afghan Abdali yang didirikan opleh Ahmad Syah pada 1747 masih bertahan sampai 1970-an di beberapa wilayah yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Mughal dan Nadir Syah. Di ujung lain Dunia Islam, Maroko telah memerdekakan diri dari kekuasaan Kekhalifahan Utsmaniyah dan kerajaan Sepanyol. Pada 1579, pasukan Maroko menghabisi pasukan tentara Portugal yang mencoba menginvasinya. Pada 1591, mereka menyebrangi Gurun Sahara dan mendirikan sebuah kerajaan kolonial di Sudan Barat. Prestasi ini lebih besar daripada yang dicapai oleh pasukan Cossack dalam menyebrangi Gurun Ural pada saat yang sama.

Pasukan Maroko, sebagaimana pasukan Cossack, berhasil meraih prestasi tersebut karena dilengkapidengan senjata api, yang tidak dimiliki oleh musuh-musuhnya. Keunggulan persenjataan –baik artileri maupun senjata laras pendek- juga membuat militer Osmanlis menang atas pasukan Safawi. Keunggulan militer Maroko di Sudan Barat –dan keunggulan angkatan laut Utsmaniyah di Laut Mediterrania yang menguasai minoritas-minoritas di dominion-dominion Utsmaniyah yang benar-benar independen di Algeria, Tunisia, dan Tripolitania- terutama disebabkan oleh bala bantuan asing, bagi kaum Muslim lokal, yang menguasai ketrampilan-ketrampilan teknologis mutakhir Barat Kristen. Bantuan asing ini termasuk para pengungsi Muslim dari Sepanyol, tawanan perang Kristen Barat yang masuk Islam, dan imigran Barat yang telah “mengubah Turki” karena ini merupakan kesempatan bagi mereka yang mendapatkan pekerjaan yang tidak didapat di negeri asal mereka.

Perlu dicatat bahwa kemenangan Peter Agung atas Swedia diperoleh berkat kemajuan teknologi Russia yang menyamai Barat. Akan tetapi, teknologi Barat belum sampai pada tingkat kemajuan yang dapat mengalahkan musuh-musuh mereka yang ingin menguasai wilayah mereka meskipun persenjataannya tidak selengkap teknologi Barat. Artileri Mughal, sekalipun sebagian dibantu oleh pasukan Barat, tidak mampu menembus benteng pertahanan alami Maratha di Ghats. Pasukan Osmanlis, yang sendirian melawan pasukan-pasukan bersenjata Barat, Rusia, dan Iran, tidak dapat mencegah tumbuhnya kekuatan Wahhabi di Arab Tengah, yang terisolasi dari dominion-dominion Utsmaniyah oleh lingkaran gurun pasir. Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-92) adalah pengikut fanatik mazhab Hambali yang puritan dalam Islam Sunni. Abdul Wahhab bergabung dengan keluarga Sa’ud –penguasa kecil di sebuah oasis sempit di Arab Tengah- dan membuat mereka jadi pengikutnya pada 1745. Pada 1773, keluarga Sa’udi Wahhabi berhasil menguasai daerah Arab Tengah selebihnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: