EKOLOGI POLITIK

KATA PENGANTAR

Perlahan-lahan, umat manusia terbiasa dengan cuaca yang berubah dan cenderung menjadi ekstrem. Mengikuti pemberitaan, masih segar dalam ingatan bagaimana China dan Pakistan dihantam banjir dahsyat berkepanjangan, menelan korban ratusan nyawa. Sementara itu, di Rusia gelombang panas menimbulkan kebakaran hutan hebat. Sementara itu, di Tanah Air sendiri, pelajaran sekolah dasar yang membagi negeri dalam dua musim—kemarau dan hujan—sulit dipercaya lagi karena April-Oktober yang harusnya musim kemarau diwarnai hujan dengan curah tinggi.

Mengamati fenomena itu, mantan reporter lingkungan The New York Times, Andrew C Revkin, menulis, (cuaca) yang ekstrem itu kini sudah jadi lumrah/biasa (IHT, 9/9). Kalau hanya itu, meski merisaukan, manusia masih bisa berupaya menanggulangi. Yang lebih serius, menurut Revkin, ekstremitas cuaca ini hanya pendahulu (preview) dari fenomena mendatang—yang tentunya lebih hebat—bila emisi (karbon) tak bisa dikendalikan.

Jika ini merupakan ”kebenaran yang tak mengenakkan” seperti dikatakan Al Gore, memang itulah yang kini dirasakan manusia, yang gencar menyemprotkan karbon ke udara semenjak dimulainya Revolusi Industri di pertengahan abad ke-18.

Seperti juga disinggung Revkin, sejak berpuluh tahun lalu, ilmuwan telah meramalkan bahwa di dunia yang telah dipanaskan gas-gas rumah kaca, cuaca yang berpotensi mendatangkan bencana—seperti gelombang panas, kekeringan, dan banjir—akan terjadi dengan frekuensi kian meningkat. Dalam lingkup lokal, frekuensi terjadinya hujan lebat disertai petir atau puting beliung hebat bisa menjadi salah satu rujukan.

Menanggapi fenomena cuaca ekstrem yang dipicu pemanasan global ini, sebetulnya manusia telah mengambil langkah. PBB menyelenggarakan Konferensi Perubahan Iklim, meskipun bangsa-bangsa tampaknya masih dibelenggu kepentingan nasional masing-masing, sehingga kesepakatan global untuk pengurangan emisi masih sulit dicapai.

Desember ini di Meksiko akan berlangsung pertemuan internasional untuk mencapai kesepakatan pemangkasan karbon. Berdasarkan pengalaman Konferensi Kopenhagen tahun silam, nuansa pesimisme mulai muncul.

Selain mengupayakan pemangkasan emisi karbon, manusia juga mengupayakan pemanfaatan energi baru lebih ramah lingkungan meskipun penggunaan bahan bakar fosil yang memancarkan karbon masih dominan hingga kini. Ini pula yang oleh sebagian kalangan dilihat sebagai pilihan lebih masuk akal dibandingkan dengan pemangkasan emisi karbon secara drastis dan segera.

Pandangan yang disebut terakhir itu muncul dari penulis buku Cool It: The Skeptical Environmentalist’s Guide to Global Warming, Bjorn Lomborg, yang kini juga menjadi Kepala Pusat Konsensus Kopenhagen. Dalam artikelnya di Project Syndicate (The Jakarta Post, 14/9), Lomborg menyebutkan hasil yang diperoleh dari pertemuan para ekonom yang diminta mengkaji ongkos yang harus dibayar untuk menanggulangi emisi karbon.

Dalam laporan berjudul ”Smart Solutions to Climate Change” yang terbit bulan ini dimuat pula pemikiran ekonom iklim Richard Tol yang menegaskan bahwa janji besar pemangkasan karbon yang drastis, segera, merupakan strategi yang salah.

Lebih jauh ditambahkan, agar peningkatan suhu terjaga di bawah 2 derajat celsius, seperti yang dijanjikan negara-negara industri (G-8), pengurangan emisi yang harus dilakukan pada pertengahan abad ini adalah 80 persen. Dengan itu, kerugian akibat iklim yang bisa dihindari adalah 1,1 triliun dollar AS. Namun, pada sisi lain, upaya itu juga akan menghambat pertumbuhan dengan kerugian 40 triliun dollar AS per tahun.

Itu sebabnya, menurut Lomborg, strategi yang lebih jitu dari pemangkasan karbon adalah peningkatan secara besar-besaran riset dan pengembangan energi alternatif.

Di tengah berbagai keruwetan akibat ongkos, akibat perbedaan pendapat yang tajam antarnegara dalam penerapan strategi, ada lagi pandangan lain yang dikemukakan terkait emisi karbon dan pemanasan global.

Mengutip laporan sampul jurnal triwulanan The American Scholar, kolumnis George Will (Newsweek, 20/9) menulis bahwa ”Bumi tidak peduli jika Anda mengendarai sebuah (mobil) hibrida”. Di dalam jurnal tersebut ada juga esai yang ditulis oleh salah seorang peraih Hadiah Nobel Fisika tahun 1998, yakni Robert B Laughlin, yang kalimat kuncinya dikutip di awal tulisan ini.

Merusak Bumi yang tua ini, menurut Laughlin, jauh lebih mudah dibayangkan daripada dilaksanakan. Sebelum ini sudah ada banyak letusan gunung berapi, tumbukan meteor, semua perusakan dengan kedahsyatan melebihi apa yang bisa dilakukan oleh manusia, toh Bumi masih baik-baik saja.

Menarik memang fakta yang dikemukakan oleh Will. Bahkan, ketika manusia membakar habis semua bahan bakar fosil dan emisi karbonnya memenuhi atmosfer, Bumi akan mampu melarutkan sebagian besar karbon tersebut, mungkin setelah satu milenium, ke lautan. Kalau sudah dilarutkan, tingkat konsentrasi karbon paling hanya sedikit lebih tinggi daripada saat ini. Sisa karbon dioksida di atmosfer kemudian akan ditransfer ke batuan hingga dalam puluhan atau ratusan ribu tahun konsentrasi gas rumah kaca ini di laut dan udara akan kembali ke tingkat sebelum manusia muncul.

Dalam kurun waktu manusia, itu proses sepanjang masa. Namun, dalam skala geologi yang jutaan tahun, itu bak sekejap mata.

Apa yang diuraikan George Will di The American Scholar menjelaskan bagaimana Bumi memiliki dayanya sendiri untuk memulihkan diri. Satu yang tak dapat dilakukan adalah membalik kepunahan biodiversitas, seperti memunculkan kembali dinosaurus.

Persisnya di sini pula manusia didorong untuk berbuat baik terhadap Bumi, karena tanpa kesadaran itu, bisa jadi spesies manusia sendiri yang akan punah sebagaimana dinosaurus dan spesies lain yang sudah punah sebelum ini. Tentu Bumi juga memiliki suratan nasibnya dalam konteks evolusi Matahari, tetapi itu baru akan terjadi lebih dari satu miliar tahun mendatang.

Dengan demikian, mengerjakan hal yang baik bagi Bumi jelas pertama-tama ditujukan untuk pengamanan pelestarian Homo sapiens dan keragaman hayati.

Tulisan ini dibuat guna menyadarkan kita sebagai warga dunia, bahwa dunia ini semakin rentan karena ulah tangan-tangan manusia yang serakah. Manusia, yang memang memiliki sifat dasar egois, ingin menguasai seluruh alam ini tanpa memperhitungkan bahwa apabila alam ini dirusak demikian parah, akan ikut memusnahkan dirinya sendiri.

Jelas, isi tulisan ini jauh dari sempurna, karena selain tipis, referensinya juga sangat sedikit. Malahan ada referensi yang belum sempat tertuliskan, karena antara waktu penyusunan dan naik cetak sangat sempit. Namun, bukan itu alasan yang paling utama. Yang jelas, memang pengetahuan penulis sangat minim.

Tulisan ini ini ditulis dengan menggunakan pendekatan historis, antropologis, dan sosiologis.  Oleh karena itu, membaca tulisan ini membutuhkan kejelian dalam membacanya, karena akan terasa sedikit membosankan sebab ada paragraf-paragraf diulang-ulang; hal ini tidak bisa dihindari agar pemahamannya tidak terpotong-potong.

Seperti disebutkan di atas, tulisan ini jauh dari sempurnya. Tiada yang lebih diharapkan dari pembaca selain memaafkan penulis yang telah berani menampilkan ketidaksempurnaan ini. Namun, semoga di balik ketidaksempurnaan ini ada manfaat yang bisa ditarik para pembaca.

Semoga kita selalu mendapatkan perlindungan dari-Nya. Amin.

Bandung, September 2009.

BAB I

PENDAHULUAN

Dunia yang kita diami ini semakin lama semakin terancam kelestariannya. Bukan karena dunia memang sudah tua, namun karena ulah manusia yang menempatinya. Manusia telah merusak alam tempat mereka tinggal. Darat dan laut mereka eksploitasi tanpa mengindahkan masa depan anak-cucu mereka. Hutan digunduli, dan setiap harinya dunia kehilangan 10 ha hutannya karena dibabat manusia. Lautnya pun tidak disisakan. Pantai direklamasi sampai terumbu karangnya tempat biota laut hidup dan mencari makan musnah. Atau kalau bukan karena reklamasi pantai, maka laut dirusak terumbu karangnya oleh tangan-tangan serakah pencari ikan dengan bom atau racun. Contohnya, Indonesia memiliki terumbu karang terluas di dunia, yaitu 7.500 km, tapi yang baik tinggal 7%, 63% rusak parah, dan yang musnah 30%. Itu semua bukan karena alam, tetapi karena ulah manusia yang serakah dan tidak menghiraukan masa depan.

Buku ini, meskipun tipis, mencoba menguraikan akar permasalahan keserakahan manusia tersebut sehingga mereka berani menghancurkan satu-satunya alam tempat berpijaknya. Dimulai dengan uraian tentang biosfir dan ekumene. Hal ini penting, agar kita menyadari bahwa makhluk yang diberi nama oleh Teilhard de Chardin sebagai biosfir ini akan habis apabila manusia tidak memelihara alam sebagaimana mestinya. Dan, apabila biosfir musnah, maka musnah pula isi bumi ini, alias kiamat!

Keserakan manusia semakin menjadi-jadi setelah terjadi Revolusi Industri di Inggris lalu dipolitisasi oleh Negara. Perusakan atas nama kepentingan “pembangunan” dilakukan oleh sebuah Negara, baik di dalam negerinya sendiri maupun di negeri orang. Mereka tidak mau tahu bahwa meskipun perusakan itu dilakukan di negeri orang (lain) tapi dampaknya akan mengglobal, karena negaranya ada pada bulatan bumi yang sama. Sehingga apabila di belahan bumi lain rusak alamnya akan mempengaruhi iklim seluruh permukaan bumi. Manusia harus menyadari bahwa alam itu akam membentuk peradaban manusia, bukan sebaliknya. Oleh karena itulah maka di sini pun akan dibahas tentang ekumene, meskipun tidak terlalu lengkap.

Meskipun Revolusi Industri telah berlalu beberapa abad yang lampau, namun dampaknya akan terus terasa. Sekarang kita bisa merasakan bagaimana gerahnya bumi kita ini. Daerah yang tadinya sejuk –seperti Bandung—kini terasa panas. Apalagi daerah yang tadinya panas, semakin menyengat. Alam dan peradaban itu sesungguhnya saling mempengaruhi. Manusia yang menghargai alam dan mengelola alam dengan baik adalah manusia yang memiliki peradaban yang tinggi. Tetapi, karena kemajuan ilmu semakin menumbuhkan rasa kepenasaran manusia untuk mengembangkan keserakahannya dan egoismenya, maka timbullah keinginan untuk menguasai alam dan seluruh isinya, termasuk manusia di luar dirinya. Akibatnya, terjadilah perang di mana-mana. Ekumene, tempat peradaban manusia bersemi, terancam kelestariannya. Keserakahan manusia yang menciptakan budaya modern yang tidak menghargai sesama makhluk, baik manusia maupun non-manusia.

Demikian pentingnya permasalahan pelestarian alam ini, maka dalam buku yang tipis ini kita akan membahas tentang biosfir, ekumene, dan kebudayaan. Kebudayaan penting dibahas secara teoritis, supaya kita tahu mengapa manusia suka merusak alam, dan meskipun sudah banyak terjadi bencana yang ditimbulkannya, manusia tidak jera-jeranya terus saja –malahan secara sistematis— memporakporandakan bumi yang satu ini tanpa memikirkan bahwa anak-cucunya juga membutuhkannya. Kebudayaan modern ini bermula dari Revolusi Industri di Inggris. Oleh karena itulah, maka dalam pembahasannya, yang menjadikan objek dalam buku ini adalah negara yang secara langsung bersinggungan dengan Revolusi Industri. Indonesia, meskipun pernah dijajah oleh Belanda, tidak dibahas karena penjajah Belanda tidak mengakibatkan rakyat jajahannya memiliki budaya modern. Lain dengan Inggris dan Prancis, misalny.

BAB II

BIOSFIR SEBAGAI SARANA KEHIDUPAN

 

Biosfir adalah istilah yang diciptakan oleh Teilhard de Chardin, yang merujuk ke sebuah lapisan tanah kering, air, dan udara yang tipis yang menyelimuti sekeliling bola bumi. Sekarang ini biosfir merupakan satu-satunya habitat –yang selalu bisa diakses—bagi seluruh spesies kehidupan di muka bumi ini.

Volume biosfir secara rijid terbatas, dan hanya berisikan persediaan sumber-sumber yang terbatas pula, sehingga berbagai spesies kehidupan harus menata diri untuk mempertahankan hidupnya. Sebagian sumber –yang terbatas ini– bisa diperbaharui, dan sebagian lainnya tidak tergantikan. Spesies apapun yang memanfaatkan sumber-sumber yang dapat diperbaharui ataupun menguras sumber-sumber yang tidak dapat diganti, berarti sedang berusaha memusnakan dirinya sendiri. Jumlah spesies yang telah punah dan meninggalkan jejak-jejak dalam catatan geologis sangat banyak dibandingkan dengan jumlah yang masih bisa bertahan hidup.

Dalam hal luasnya, biosfir sangatlah kecil. Batas atasnya mungkin sama dengan ketinggian maksimum stratosfir yang masih bisa dilalui pesawat terbang. Batas bawahnya adalah kedalaman di bawah permukaan bagian solidnya yang masih bisa ditambang dan dibor oleh para insinyur. Ketebalan biosfir, antara dua batas itu, cukup tipis bila dibandingkan dengan panjang radius bola bumi yang dilapisinya, seperti kulit halus pada manusia. Dan bola bumi ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan palnet-palnet besar matahari lainnya. Bola bumi ini juga jauh sekali jaraknya dari palnet-planet tersebut yang “mengelilingi” matahari dalam ortbitnya masing-masing, yang sebenarnya tidak berbentuk bulat tetapi elips. Selanjutnya, matahari kita hanyalah salah satu dari matahari-matahari yang nyaris tidak terhingga jumlahnya yang membentuk galaksi kita, dan galaksi kita juga hanyalah salah satu dari galaksi-galaksi yang jumlahnya tidak diketahui (semakin banyak galaksi yang diketahui seiring dengan semakin canggihnya teleskop kita). Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan dimensi-dimensi bagian dari kosmos fisik yang kita ketahui, dimensi-dimensi biosfir kita tak terhingga kecilnya.

Biosfir tidak sama tuanya dengan planet bumi yang diselimutinya. Biosfir adalah sebuah pertumbuhan yang tidak normal –orang bisa menyebutnya dengan lingkaran atau kerak—yang terjadi lama setelah lapisan kulit palnet bumi ini cukup dingin bagi komponen-komponennya, yang aslinya berupa gas untuk mencair dan memadat. Hampir bisa dipastikan bahwa hanya biosfirlah yang kini ada dalam tata surya kita, dan mungkin dalam tata surya kita ini tidak ada biosfir lain yang telah atau akan ada. Tentu saja tata surya ini, seperti biosfir kita, hanya sejumput yang sangat kecil dari bagian kosmos fisik yang telah diketahui. Mungkin matahari-matahari lain –yang banyak jumlahnya—memiliki planet-planet. Dan, di antara planet-planet ini ada sebagian yang, seperti planet-planet kita juga, mengelilingi matahari-mataharinya dengan suatu jarak di mana mereka, seperti planet-planet kita, dapat menumbuhkan biosfir-biosfir yang membungkus permukaannya. Tetapi, kalaupun sesungguhnya ada potensi biosfir-biosfir lain, kita tidak percaya begitu saja bahwa biosfir-biosfir ini benar-benar bisa didiami oleh makhluk-makhluk hidup, seperti biosfir kita. Dalam sebuah habitat yang potensial bagi kehidupan, potensialitas ini tidak selalu teraktualisasikan.

Konfigurasai fisik dari materi yang terstruktur secara organik telah diketemukan. Tetapi, sebagaimana telah diketahui sebelumnya, muatan-muatan fisik dari kehidupan, kesadaran, dan tujuannya tidak sama seperti juga kehidupan, kesadaran dan tujuan itu sendiri. Kita tidak tahu bagaimana atau mengapa kehidupan, kesadaran, dan tujuan telah ada mengitari permukaan planet kita. Namun kita mengetahui bahwa konstituen-konstituen material biosfir kita telah diredistribusikan secara spasial dan disusun kembali secara kimiawi akibat interaksi antara organisme hidup dan materi anorganik. Kita mengetahui bahwa terciptanya organisme-organisme “primnitif” menjadi filter yang menyaring radiasi yang secara terus-menerus membombardir biosfir kita dari matahari dan sumber-sumber eksternal lain, sehingga kekuatan radiasi tersebut bukan hanya dapat ditoleransi tetapi juga ramah terhadap bentuk-bentuik kehidupan yang “lebih tinggi” (istilah “lebih tinggi” ini berarti lebih dekat dengan bentuk kehidupan spesies homo sapiens –sebuah penggunaan kata yang sifatnya relatif dan subjektif).

Kita juga mengetahui bahwa materi yang terkandung di dalam biosfir telah dan selalu bertukar tempat atau “didaur ulang” antara bagiannya yang, pada suatu momentum, tidak bernyawa sekaligus bernyawa. Dan, dalam bagian yang bernyawa, sebagian berupa flora dan sebagian lagi fauna. Dalam bagian yang berupa fauna, sebagian anggotanya non-manusia dan sebagian lagi manusia. Biosfir ini ada dan bertahan hidup berkat keseimbangan kekuatan-kekuatan sensitif yang mengatur dan mempertahankan diri. Konstituen-konstituen dari biosfir ini bersifat interdependen, dan manusia bergantung pada hubungannya dengan biosfir sisanya, sama seperti konstituen-konstituen kekinian yang lain.

Dengan berpikir, manusia dapat membedakan dirinya dari menusia lain, dari bagian biosfir lain, dan dari bagian alam semesta yang bersifat fisik dan spiritual. Watak manusia, termasuk kesadaran dan suara hati secara fisiknya, juga terletak di dalam biosfir, dan kita tidak mempunyai bukti bahwa manusia individual atau umat manusia secara keseluruhan memiliki, atau dapat memiliki, eksistensi yang melampaui kehidupannya sendiri di biosfir ini. Jika biosfir berhenti menjadi habitat bagi kehidupan, maka manusia, sejauh pengetahuan kita, akan mengalami kepunahan yang kemudian juga akan menimpa setiap bentuk kehidupan lain.

Pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki sekarang menunjukkan sebuah kesimpulan bahwa habitat warga biosfir di permukaan planet bumi akan selalu dibatasi oleh selimut ini sebagai tempat kehidupan dalam bentuk yang kita kenal. Meskipun mungkin ada biosfir-biosfir lain yang bisa ditinggali oleh warga biosfir kita, kita tidak akan mungkin menjangkau dan mengkoloninya karena kemungkinan ini tidak bisa dinalar. Senyatanya, fantasi ini hanyalah utopia.

Jika kita berkesimpulan bahwa biosfir kita, yang selama ini menjadi satu-satunya habitat kita, juga merupakan satu-satunya habitat fisik yang selama ini kita miliki, maka sebenarnya kesimpulan tersebut mengingatkan kita untuk mengkonsentrasikan pikiran dan upaya pada biosfir ini: untuk meneliti sejarahnya, meramalkan prospeknya, dan untuk melakukan segala sesuatu yang dapat menjamin bahwa biosfir ini –bagi kita biosfir satu-satunya—akan tetap bisa ditempati sampai akhirnya tidak bisa ditempati lagi (uninhabitable) akibat kekuatan-kekuatan kosmis yang berada di luar kendali kita.

Kekuatan material manusia kini telah meningkat sedemikian pesat, sehingga dapat membuat biosfir menjadi tidak bisa ditempati lagi. Hal ini akan menghasilkan akibat yang mematikan dalam jangka waktu yang dapat diperkirakan, jika penduduk bumi ini tidak mengambil langkah-langkah bersama yang tepat dan hati-hati untuk mengurangi polusi dan eksploitasi yang membebani biosfir ini, karena kerakusan manusia yang berpikiran cupet. Di lain pihak, kekuatan material manusia tidak akan mampu untuk menjamin bahwa biosfir akan tetap bisa ditinggali jika kita sendiri tidak menahan diri untuk tidak merusaknya.

Kita harus menyadari, bahwa karena keterbatasannya, biosfir ini tidak sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri. Persediaan energi fisik biosfir –yang menjadi sumber materi kehidupan dan juga sumber kekuatan fisik yang ada di dalam alam tak bernyawa yang kini telah dimanfaatkan manusia—tidak berasal dari dalam biosfir sendiri. Energi fisik ini telah dan selalu dipancarkan ke biosfir dari matahari, dan juga dari sumber-sumber kosmis lain, dan peran biosfir ketika menerima radiasi vital dari luar batas-batasnya sekedar bersifat selektif.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa biosfir ini menyaring radiasi yang membombardirnya. Biosfir meloloskan sinar-sinar yang memberi kehidupan dan menolak sinar-sinar yang mematikan. Tetapi radiasi yang melimpah di biosfir dari sumber-sumber eksternal ini akan terus melimpah ruah selama filternya tidak aus dan sejauh sumber-sumber radiasi itu tetap tidak berubah; dan matahari kita, seperti setiap matahari lain dalam kosmos bintang selalu mengalami perubahan sepanjang masa. Dimungkinkan bahwa, di kelak kemudian hari, sebagian perubahan kosmis ini, baik di matahari atau bintang-bintang lain akan mengubah proses radiasi yang diterima oleh biosfir sehingga membuat biosfir ini tidak bisa ditempati lagi. Jika biosfir kita ini terancam oleh bencana semacam ini, tampaknya kekuatan material manusia tidak akan mungkin cukup untuk menahan perubahan yang mematikan dalam sandiwara kekuatan-kekuatan kosmis ini.

Sekarang mari kita bahas komponen-komponen biosfir dan sifat hubungan-hubungan di antara mereka. Ada tiga komponen biosfir; pertama, materi yang tak pernah kunjung hidup meskipun memperoleh sebuah struktur organik; kedua, materi organik; ketiga, materi tak bernyawa yang pernah hidup dan pernah bersifat organik serta masih mempertahankan sebagian sifat dan kekuatan organiknya. Kita mengetahui bahwa biosfir ini lebih muda usianya daripada planet yang diselimutinya. Kita juga mengetahui bahwa, di dalam biosfir ini, kehidupan dan kesadaran tidak dimiliki oleh materi yang diasosiasikan dengan keduanya. Lapisan materi yang kini menjadi sebuah biosfir dahulu pernah sepenuhnya tidak bernyawa dan tidak sadar, sebagaimana sebagian terbesar materi bola bumi sekarang ini. Kita tidak tahu bagaimana atau mengapa bagian dari bahan material biosfir ini pada akhirnya menjadi tidak bernyawa, juga tidak tahu bagaimana atau mengapa, pada fase terkemudian, bagian materi yang hidup ini menjadi sadar. Kita dapat mengajukan pertanyaan balik yang sama: bagaimana dan mengapa kehidupan dan kesadaran menjelma? Tetapi atas dasar pertanyaan balik ini masih juga jauh dari diri kita.

Komponen eks-organik biosfir sangat besar, dan komponen ini menjadi sebagian sumber terpenting bagi berlangsungnya hidup manusia. Sebelumnya, sudah merupakan pengetahuan yang jamak bahwa batu-batu dan pulau-pulau karang dihasilkan oleh beribu-ribu binatang sangat kecil yang bertumpuk-tumpuk memadat dan menjadi batu tiruan. Selama berpuluh-puluh abad, proses yang dilakukan oleh binatang-binatang sangat kecil ini membentuk areal tanah kering yang cukup besar di dalam biosfir yang bisa ditempati oleh bentuk-bentuk kehidupan non-akuatik. Makhluk-makhluk hidup yang sangat kecil tetapi banyak sekali dan tidak kenal lelah ini telah membentuk sebuah agregat area daratan terpencil yang lebih kokoh daripada kekuatan aktivitas vulkanik tak bernyawa yang dahsyat, yang menandingi binatang-binatang kecil dalam membuat batu karang di bawah air, hingga tersembullah sebuah pulau di atas permukaan air laut.

Kini juga telah menjadi pengetahuan bersama bahwa batu bara adalah produk dari sisa-sisa pepohonan yang telah mati. Demikian juga, bahwa tanah yang subur berasal dari olahan tubuh-tubuh cacing dan peran berjenis-jenis bakteri yang menempatinya, yang dengan cara demikian mempertinggi kemampuan tanah untuk menyediakan makanan bagi tumbuh-tumbuhan. Tetapi, orang awam masih saja terkejut jika seorang geolog mengatakan kepadanya, bahwa batu kapur yang merusak mata dan terdapat di sebagian puncak gunung adalah hasil dari timbunan kerang atau tulang bianatang-binatang laut selama berabad-abad di dasar laut; dan bahwa timbunan-timbunan horizontal materi yang pernah bersifat organik direbahkan –dalam pengertian skala waktu para geolog—oleh kontraksi kerak bumi hingga dikerutkan menjadi bentuk-bentuk seperti yang sekarang ini. Orang awam ini lebih terkejut lagi jika dikatakan bahwa timbunan-timbunan obat pencahar subterranean yang banyak sekali mungkin merupakan materi eks-organik –katakanlah sejenis batu bara yang berbeda dengan bijih besi atau granit; bahan-bahan yang tidak pernah melewati fase organik dalam konfigurasi molekul-molekul konstituennya.

Jumlah materi eks-organik yang luar biasa banyak di biosfir ini menarik perhatian kita untuk mencermati beberapa aspek sejarah kehidupan yang membingungkan (yang disebut secara salah sebagai “evolusi”, yang berarti tidak asli, padahal sekadar “hamparan” dari sesuatu yang telah ada secara laten). Kehidupan telah terdiferensiasikan menjadi sejumlah genera (bentuk jamak dari genus) dan spesies yang berbeda-beda, dan setiap spesies direpresentasikan dengan sejumlah anggotanya. Berlipatgandanya spesies dan anggotanya ini menjadi syarat yang memungkinkan adanya kemajuan kehidupan dari yang relatif sederhana dan lemah menjadi organisme yang relatif kompleks dan kuat. Tetapi harga yang harus dibayar oleh kemajuan melalui pembagian dan diferensiasi ini adalah persaingan dan perseteruan.

Masing-masing spesies, dan masing-masing anggota dari setiap spesies, bersaing dengan yang lainnya untuk mendapat konstituen-konstituen biosfir, baik yang tidak bernyawa atau bernyawa, yang bagi spesies tertentu, merupakan sumber dalam arti sarana yang efektif untuk mempertahankan kehidupan. Dalam sebagian kasus, persaingan ini terjadi secara tidak langsung. Satu spesies, atau satu anggota spesies, membunuh spesies lain bukan dengan cara memangsa atau membasminya, tetapi dengan merebut banyak sekali suatu sumber yang, bagi kedua pesaing itu, merupakan salah satu kebutuhan hidup. Ketika anggota-anggota spesies fauna non-manusia ini saling berhadapan untuk memperebutkan makanan, air, atau pasangan lawan jenis, maka yang kalah dianggap meminta seperempat bagian dan akan menerimanya dari sang pemenang sebagai pengganti kekalahannya. Umat manusia hanya dianggap sebagai fauna yang saling bertarung sampai mati dan membunuh kaum perempuan, anak-anak, orang tua, dan lakli-laki “musuhnya”. Bentuk kekejaman manusia yang aneh ini dilanggengkan di Vietnam, dan kekejaman ini diabadikan –makanya sangat dikutuk—dalam karya seni terkenal yang digubah selama 5.000 tahun terakhir: misalnya, lukisan Narmer; relief gelap Eannatum; the stele of Naramsin dan monumen-monumen karya para penerus Assyria yang berusaha menyamainya; epos Yunani Homerik; dan tiang Trajan.

Oleh karena itu, proses maju kehidupan ini pada titik terbaiknya menjadi bersifat parasitik dan pada titik terburuknya menjadi bersifat predator. Dunia fauna menjadi parasit bagi dunia flora; binatang (biasanya non-laut) tidak akan hidup bila tumbuhan tidak ada sebagai sumber udara dan makanan pemberi hidupnya. Sebagian spesies binatang mempertahankan hidupnya dengan cara membunuh dan mengganyang binatang-binatang dari spesies lain; dan manusia menjadi salah satu karnivora semenjak diturunkan dari tempat berlindungnya di atas pepohonan dan menginjakkan kakinya di tanah untuk mengambil kesempatan membunuh atau dibunuh. Korban-korban dari proses maju kehidupan ini adalah spesaies-spesies yang telah musnah dan beberapa yang masih bisa bertahan hidup tetapi secara terus menerus disembelih. Manusia telah membudidayakan beberapa spesies binatang untuk diperas hasilnya –susu atau madu—selama binatang-binatang itu masih hidup dan kemudian dibunuh secara kasar untuk diambil dagingnya sebagai makanan, juga tulang, urat, kulit, dan bulunya sebagai bahan baku berbagai peralatan dan pakaian.

Umat manusia juga saling memangsa. Kanibalisme dan perbudakan telah dipraktekkan di masyarakat yang sangat maju –kanibalisme ini banyak terdapat di Meso-Amerika pra-Kolombia, misalnya, dan perbudakan di masyarakat Graeco-Yunani, Islam, dan Barat Modern. Seorang budak adalah manusia yang diperlakukan seolah-olah menjadi binatang piaraan, dan perlakuan aneh manusia pada binatang ini secara implisit diakui oleh gerakan untuk menghapuskan praktek perbudakan manusia selama dua abad terakhir. Lebih dari itu, pembebasan budak secara yuridis tidak benar-benar membebaskan mereka, karena seorang manusia yang bebas secara yuridis masih dapat dieksploitasi dengan hina. Sebuah kolonus Romawi abad ke-4 yang secara nominal bebas, dan juga sebuah Decurion Romawi kontemporer, secara de facto kurang bebas dibandingkan dengan seorang budak penggembala atau pimpinan budak atau juru tulis budak di rumah tangga kerajaan, atau dibandingkan dengan seorang mamluk (kata Arab ini berarti “direduksi menjadi sekedar benda”). Orang-orang kulit hitam di Amerika Serikat yang dibebaskan secara yuridis pada tahun 1862, dengan alasan yang jelas, sebagian besar dari mereka kini justru merasa lebih buruk dibanding satu abad yang lalu, bahwa hak-hak asasi mereka ditolak oleh masyarakat kulit putih sebagai sesama warga negara –meskipun tahun 2009 presiden terpilih Amerika Serikat dari kalangan kulit hitam.

Kekejaman manusia yang paling keji adalah pembunuhan dalam bentuk ritual pengorbanan manusia. Pembunuhan telah banyak dikecam ketika motifnya iri hati atau kebencian pribadi. Pembunuhan sebagai hukuman juga telah ditolak secara progresif. Bukan hanya dendam kesumat pribadi tetapi juga eksekusi resmi sekarang telah dihapus di beberapa negara. Pembunuhan ritual juga dilarang dalam kasus-kasus persembahan korban manusia kepada dewa-dewa, di mana dewa-dewa itu dianggap sebagai dewa suatu sumber daya alam –misalnya dewa hujan, dewa panen, dewa ternak; tujuan pengorbanan itu untuk memperahankan kehidupan manusia. Namun demikian, sejak manusia menguasai alam non-manusia, dewa-dewa yang disembah secara taat dan fanatik, dan tanpa sesal itu telah digantikan oleh kekuasaan kolektif terorganisasi yang dengannya manusia menguasai alam non-manusia.

Negara-negara yang berdaulat telah menjadi puncak objek penyembahan manusia selama 5.000 tahun terakhir; dan objek-objek ini menjadi dewa-dewi yang meminta dan menerima banyak sekali pengorbanan manusia. Negara-negara yang berdaulat terus saja saling berperang, dan dalam peperangan ini masing-masing negara membutuhkan anak-anak muda terpilih untuk membunuh penguasa-penguasa negara “musuhnya” dengan resiko dirinya dibunuh oleh korban-korban yang diincarnya. Masih hangat dalam ingatan, dalam Perang Irak, tentara Amerika Serikat dan sekutunya yang menyerang Negara merdeka Irak, telah membunuh atau dibunuh dalam perang yang bukan hanya dianggap absah, tetapi juga bernilai guna bagi kemenangan penyerangnya. Pembunuhan dalam perang, juga dalam eksekusi hukuiman mati, secara paradoks dimaafkan sebagai “bukan pembunuhan”.

Apakah proses maju kehidupan di biosfir ini telah menjadi begitu dihargai di atas penderitaan? Apakah seorang manusia lebih bernilai daripada sebatang pohon, atau sebatang pohon lebih berharga daripada sejentik amuba? Proses maju kehidupan hanya akan mengunggulkan sebagian spesies, jika kita mengukur keunggulan ini dengan kekuasaan semata. Sejauh ini, manusia adalah spesies yang paling kuat, tetapi manusia itu sendiri berwatak jahat. Manusia itu khas dalam watak jahatnya, begitu juga manusia khas ketika menyadari apa yang sedang diperbuat dan dipilihnya.

Penyair William Blake, yang memandang makhluk hidup secara tradisional sebagai hasil ciptaan dewa mirip manusia, sangat terpesona dengan penciptaan harimau. Tetapi, seekor harimau, tidak seperti manusia dan dewa pencipta hipotetis, tidaklah berdosa. Ketika seekor harimau memuaskan rasa laparnya dengan cara membunuh dan memangsa korbannya, ia tidak merasa bersalah. Di lain pihak, akan menjadi suatu perbuatan yang sangat buruk, tidak sewajarnya dan tidak bermakna, jika seorang dewa menciptakan seekor haramau untuk memangsa kambing dan manciptakan manusia untuk membunuh haramau, serta menciptakan basil dan virus untuk mempertahankan kelangsungan spesiesnya dengan cara membunuh manusia en mase.

Makanya sepintas lalu, proses maju kehidupan tampak jahat –jahat secara objektif, sekalipun kita membuang kepercayaan bahwa kejahatan ini telah diciptakan dengan sengaja oleh seorang dewa yang pasti lebih jahat dari manusia yang juga mempunyai kekuatan. Namun demikian, penilaian sepintas lalu terhadap konsekuensi-konsekuensi dari proses maju kehidupan ini memberi kesaksian bahwa, selain ada kejahatan di dalam biosfir ini, juga ada hati nurani yang menyalahkan dan membenci kejahatan tersebut.

Hati nurani ini terletak di dalam diri manusia. Kebencian hati nurani menusia terhadap kejahatan terbukti ketika manusia juga mampu berbuat kebaikan. Kita pun mengetahui dari pengalaman bahwa manusia dapat, dan kadang-kadang melakukannya, berbuat tidak egois dan tidak untuk kepentingannya sendiri sampai mengorbankan diri demi saudara-saudartanya. Kita juga mengetahui bahwa pengorbanan diri tidaklah menjadi kebenaran eksklusif manusia. Motif klasik pengorbanan diri adalah cinta seorang ibu kepada anak-anaknya, dan ibu manusia tidaklah sendirian dalam mengorbankan diri. Cinta pengorbanan diri ibu juga diketemukan dalam spesies-spesies mamalia lain serta burung.

Lebih jauh lagi, semua spesies yang mempertahankan kehidupannya dengan cara mereproduksi diri bekerja sama di antara dua anggotanya yang berlawanan jenis kelamin yang tidak secara langsung menguntungkan individu-individu itu, tetapi memberikan jasa bagi spesiesnya untuk menjaga dari kepunahan. Dengan sebuah pandangan panoramik, kita juga bisa melihat bahwa jalinan antara berbagai spesies hidup tidak semata-mata berupa persaingan dan konflik. Ketika hubungan antara dunia flora dan dunia fauna dalam satu aspek berupa pihak yang dieksploitasi dan parasit-preditor, dalam aspek lain dua dunia ini berlaku sebagai mitra yang bekerja demi kepentingan bersama untuk menjaga biosfir ini agar tetap bisa ditinggali oleh flora dan fauna. Jalinan kerja sama ini menjamin, misalnya, distribusi dan sirkulasi oksigen dan karbon dioksida dalam sebuah gerakan ritmis yang memungkinkan adanya kehidupan.

Makanya proses maju kehidupan di biosfir ini tampak dengan sendirinya menunjukkan dua kecenderungan yang saling antitetis dan bertentangan. Ketika seorang manusia meneliti sejarah biosfir sampai saat sekarang, dia menemukan bahwa biosfir telah melahirkan kejahatan dan kebaikan, kesalahan dan kebenaran. Dua kecenderungan ini tentu saja merupakan konsep-konsep eksklusif manusia. Hanya makhluk yang memiliki kesadaran yang dapat membedakan antara buruk dan baik, serta dapat memilih antara perbuatan yang salah dan yang benar. Konsep-konsep ini tidak dikenal oleh makhluk-makhluk hidup non-manusia, dan mereka dianggap buruk atau baik hanya oleh penilaian manusia.

Apakah ini berarti bahwa ukuran-ukuran etis dibuat secara arbitrer oleh kekuasaan manusia, dan bahwa kekuasaan ini tidak relevan dengan fata-fakta kehidupan dan oleh karenannya merupakan utopia? Kita mungkin terpaksa berkesimpulan seperti ini, jika manusia hanya menjadi pengamat dan penilai yang melihat dan menilai biosfir dari luar. Pastinya manusia adalah seorang pengamat sekaligus penilai. Peran-peran ini merupakan akibat wajar dari fakultas kesadarannya dan kekuatan serta kebutuhan berikut yang tidak terhindarkan untuk menentukan pilihan-pilihan etis dan membuat penilaian-penilaian etis. Namun manusia juga merupakan sebuah cabang pohon kehidupan. Kita adalah salah satu hasil dari proses maju kehidupan. Hal ini berarti bahwa ukuran dan penilaian etis manusia inheren di dalam biosfir dan oleh karenanya dalam keseluruhan realitas yang salah satu bagiannya adalah biosfir ini. Makanya kehidupan dan kesadaran, kebaikan dan keburukan tidak kurang realnya dibandingkan dengan ukuran-ukuran materi dalam biosfir. Meskipun kita menebak bahwa materi merupakan sebuah konstituen primordial dari realitas, tetap saja kita tidak memiliki alasan untuk menduga bahwa manifestasi-manifestasi non-material dari realitas tidak bersifat primordial.

Walaupun demikian, dalam proses maju kehidupan di biosfir ini, kesadaran telah menampakkan diri pada diri manusia dalam kurun yang relatif belakangan, dan sekarang kita telah menyadari, secara perlahan dan samar-samar, bahwa kehadiran manusia membawa ancaman bagi kemampuan biosfir untuk tetap bisa ditinggali bagi seluruh bentuk kehidupan, termasuk umat manusia itu sendiri.

Sampai saat ini, persaingan dan konflik yang merupakan satu aspek dari proses maju kehidupan telah menyebabkan punahnya banyak spesies, dan juga mengakibatkan kematian premature yang kejam dan menyakitkan bagi anggota seluruh spesies yang tidak terhingga jumlahnya. Manusia telah mengorbankan dirinya, selain menimbulklan kematian spesies predator pesaingnya dan mamusnahkan sejumlah spesies tanaman. Bahkan ikan hiu, bakteri dan virus tidak lagi menjadi tandingan bagi manusia sebagai antagonisnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini kehancuran spesies-spesies tertentu dan anggota individual spesiesnya tidak terlihat membawa ancaman bagi keberlangsungan hidupnya sendiri. Kini kepunahan sebagian spesies hidup telah membuka kesempatan bagi spesies lain untuk tumbuh.

Manusia menjadi spesies yang paling berhasil di antara seluruh spesies lain dalam menguasai konstituen-konstituen biosfir lain, baik yang tak bernyawa maupun yang bernyawa. Ketika fajar kesadarannya menyingsing, manusia menjumpai dirinya sebagai rahmat bagi alam non-manusia; dia berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa alam non-maniusia, dan dia mencapai kemajuan secara progresif untuk tujuan ini. Selama 10.000 tahun yang silam, manusia menentang seleksi alam dengan cara menawarkan seleksi manusia agar bisa meraih kekuasaan tersebut. Dia membudidayakan tanaman dan binatang demi kepentingannya sendiri, dan dia berusaha membuang sebagian spesies lain yang dianggap tidak berguna. Dia menamakan spesies yang tidak diinginkannya itu sebagai “makhluk-makhluk liar dan hina”, dan ketika memberikan julukan pejoratif ini, sebenarnya dia sedang berusaha sekuat-kuatnya untuk membasmi makhluk-makhluk tersebut. Sejauh ini, manusia telah berhasil menggantikan seleksi alam dengan selekasi manusia, manusia telah mereduksi sejumlah spesies.

Namun demikian, selama fase pertama kariernya, yang berjalan sangat panjang, manusia tidak berbuat banyak seperti yang dilakukan sebagian makhluk hidup mitranya dari spesies lain. Piramida di Guzah dan Teotihuacan, dan gunung-gunung buatan manusia di Cholula dan Sakai, mengecilkan candi-candi dan katedral-klatedral serta “gedung-gedung pencakar langit” pada zaman selanjutnya, namun monument-monumen manusia yang paling masif masih relatif kecil dibandingkan dengan hasil kerja binatang-binatang kecil yang telah membentuk pulau-pulau karang. Menjelang fajar peradaban, sekitar 5.000 tahun yang lalu, manusia telah menyadari keunggulan kekuatannya di biosfir ini. Sebelum permulaan tahun Masehi, manusia telah mengetahui bahwa biosfir adalah sebuah selimut terbatas yang melingkupi permukaan sebuah bintang, yakni bola bumi. Sejak abad ke-15, bangsa-bangsa Eropa telah merekrut dan mendiami sebagian permukaan tanah biosfir yang dulunya masih jarang penduduknya. Sekalipun begitu, sampai generasi sekarang, manusia terus saja berperilaku seolah-oleh persediaan sumber-sumber biosfir yang tidak dapat diperbaharui, seperti bahan tambang, tidak akan habis, dan seolah-olah laut dan udara tidak bisa terkena polusi.

Yang benar adalah bahwa, sampai dua puluh lima tahun ketiga abad ke-20, manusia masih saja memandang rendah peningkatan kekuasaan modernnya yang mempengaruhi biosfir. Peningkatan ini diakibatkan oleh dua perkembangan baru: pertama, aktivitas penelitian ilmiah yang sistematis dan terencana serta penerapannya menjadi teknologi canggih; kedua, pemanfaatan energi fisik yang nyata atau laten dalam konstituen-konstituen biosfir tak bernyawa demi tujuan-tujuan kemanusiaan. Misalnya, energi air yang selalu mengalir ke bawah menuju laut yang sebelumnya berasal dari air laut yang naik ke atmosfir sebagai uap hujan. Semenjak pecahnya Revolusi Industri di Inggris dua ratus tahun yang lampau, daya gravitasi air, yang sebelumnya lebih kecuil manfaatnya dibanding penggilingan padi, telah dipergunakan untuk menjalankan mesin pabrik berbagai jenis komoditas material. Kekuatan air juga telah ditingkatkan dengan cara dikonversi menjadi kekuatan arus dan listrik. Listrik dapat dihasilkan dari kekuatan fisik air terjun alami atau buatan, tetapi air tidak dapat dikonversi menjadi uap tanpa dipanasi dengan pembakaran bahan bakar, dan semua ini telah digunakan bukan hanya untuk mengkonversi kekuatan air menjadi kekuatan uap dan listrik, tetapi juga untuk menggantikan penggunaan kekuatan air dalam bentuknya yang paling potensial sekalipun. Lebih dari itu, arang kayu sebagai bahan bakar pelengkap telah digantikan dengan bahan bakar yang tidak dapat diperbaharui: batu bara, minyak tanah, dan kemudian uranium.

Uranium, bahan bakar yang baru dieksploitasi paling belakangan, mengeluarkan energi atom, tetapi, untuk memanipulasi kekuatan raksasa ini, manusia sejak tahun 1945 telah memulai reka-upayanya yang berakibat fatal bagi Phaethon setengah dewa mitis ini ketika manusia merampas kereta dewanya yang suci, yakni matahari. Kuda-kuda yang menarik kereta Helios meloncat tidak keruan ketika mengetahui bahwa saisnya diambil alih oleh tangan-tangan makhluk yang lemah. Kuda-kuda itu berjumpalitan semuanya, dan biosfir akan terbakar menjadi kerak jika Zeus tidak menyelamatkannya dari kehancuran dengan cara cepat-cepat menyemburkan halilintar yang menyambar remplacant anak dewa matahari yang lancung itu. Mitos Phaethon adalah sebuah alegori resiko yang manimpa manusia karena bermain-main dengan energi atom. Masih ditunggu apakah manusia akan mampu mamanfaatkan kekuatan materi yang dahsyat ini tanpa tertimpa kemalangan. Daya materinya tidak ada yang menandingi, tetapi sampah radioaktif ekornya beracun. Kini manusia telah membuat kekacauan dengan suatu proses yang dengannya biosfir –dewi bumi kehidupan– telah terisi oleh radiasi sinar matahari yang memberi kehidupan, bukannya mematikan. Prestasi teknologi ilmiah manusia ini, bersama dengan dampak-dampak Revolusi Industri sebagai prestasi sebelumnya yang lebih rendah, kini telah mengancam biosfir menjadi tidak lagi bisa ditempati.

Oleh karena itu, kita sekarang berdiri di titik balik sejarah biosfir dan sejarah pendek salah satu produk dan warganya, yakni manusia. Umat manusia adalah anak-anak pertama dari dewi bumi yang bisa menaklukkan ibunda kehidupannya ini dan merebutnya secara paksa dari tangan ayah kehidupan, yaitu matahari sebagai kekuatan yang menakutkan. Manusia telah membiarkan kekuatan ini terlepas dari biosfir, telanjang dan marah, untuk pertama kalinya sejak biosfir menjadi habitat kehidupan. Kini kita tidak tahu apakah manusia mau atau mampu menghindari perusakan Phaethon demi dirinya sendiri dan sesama makhluk-makhluk hidup lain.

Manusia adalah spesies hidup pertama di biosfir kita yang telah menggenggam kekuasaan untuk menghancurkan biosfir dan akibatnya memusnahkan diri sendiri. Sebagai organisme psikomatik, manusia adalah pelaku, seperti setiap bentuk kehidupan lain, bagi hukum alam yang tidak dapat ditawar-tawar. Manusia, seperti sesama makhluk hidup lain, adalah bagian integral dari biosfir, dan, jika biosfir kemudian dibuat menjadi tidak bisa ditempati lagi, manusia beserta seluruh sapesies lain akan punah.

Biosfir mampu melabuhkan kehidupan karena merupakan sebuah campuran yang bisa mengatur diri antara komponen-komponen yang saling melengkapi, dan, sebelum kelahiran manusia, tidak ada satupun komponen biosfir –organik, eks-organik atau anorganik— yang memperoleh kekuatan untuk merusak keseimbangan permainan kekuatan-kekuatan yang lembut teratur yang dengannya biosfir menjadi rumah kehidupan yang ramah. Spesies hidup pra-manusia yang terlalu lemah atau terlalu agresif untuk mengikuti irama biosfir dimusnakan oleh permainan irama ini jauh sebelum kelemahan atau agresivitasnya menjadi ancaman yang mengacaukan irama biosfir sebagai tempat bergantung bagi kehidupannya dan kehidupan semua spesies lain. Biosfir jauh lebih kuat daripada warga pra-manusianya.

Manusia adalah warga biosfir pertama yang lebih kuat daripada biosfir itu sendiri. Pencapaian kesadaran manusia telah memungkinkannya untuk membuat pilihan-pilihan dan oleh karenanya bisa merancang serta menerapkan rancangan-rancangnnya untuk mencegah alam agar tidak memusnahkan manusia sebagaimana alam telah memusnahkan spesies lain yang menyulitkan dan mengancam biosfir secara keseluruhan. Manusia dapat bertahan hidup sampai dia bahkan telah merusak biosfir jika memilih untuk merusaknya, tetapi, jika sekali lagi memang ini pilihannya dia tidak bisa mengelak dari pembalasan yang akan menimpanya. Seandainya manusia merusak biosfir, maka dia justru akan memusnakan dirinya serta semua bentuk kehidupan psikosomatik lain di depan wajah ibu kehidupan, dewi bumi.

Dari sini kita dapat melakukan sebuah penelitian retrospektif atas sejarah pertemuan antara dewi bumi dan manusia, anak-anaknya yang paling kuat dan enigmatik, selama ini. Enigma ini tersembunyi di dalam fakta misterius bahwa manusia di antara warga biosfir lain adalah juga warga dari realitas lain –sebuah realitas spiritual yang non-material dan tidak bisa dilihat. Dalam biosfir ini, manusia adalah makhluk psikosomatik yang berbuat di sebuah dunia materi dan terbatas. Di dunia aktivitas ini, tujuan manusia, semenjak sadar, ialah untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa lingkungan non-manusianya, dan dalam keseharian kita manusia telah menuai keberhasilan atas usahanya –mungkin sampai dia tidak mampu melakukannya sendiri. Namun rumah lain yang ditempati manusia, yakni dunia spiritual, juga merupakan bagian integral dari total realitas. Dunia spiritual ini berbeda dari biosfir karena bersifat non-materi dan tidak terbatas. Dalam kehidupan spiritualnya manusia mengetahui bahwa misinya adalah untuk berusaha, bukan menjadi penguasa material atas lingkungan non-manusia, tetapi untuk menjadi penguasa spiritual atas dirinya sendiri.

Dua tujuan yang saling berlawanan, dan dua ideal berbeda yang dengannya menginspirasikan dua tujuan tersebut, telah dipaparkan dalam karya-karya terkenal. Tujuan klasik manusia untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa biosfir salah satunya tertuang dalam Qur’an surat an-Nahl ayat 13:

Dan segala yang diciptakn-Nya

Bagimu di bumi

Yang aneka ragam warnanya,

Semua itu merupakan tanda

(Kekuasaan Tuhan)

Bagi orang yang menerima peringatan.

Jika seorang manusia kehilangan jiwanya, dia akan berhenti menjadi manusia; karena esensi manusia adalah kesadaran atas kehadiran spiritual di balik fenomena, dan jiwalah, bukan organisme psikomatik, yang bisa menghubungkan manusia dengan spiritual, atau bahkan identik dengannya dalam pengalaman mistik.

Karena hidup, sebagaimana dia menjalani kehidupan sewajarnya, di biosfir sekaligus di dunia spiritual, manusia sebenarnya seorang amfibi, dan, di masing-masing dunianya di mana dia tinggal, manusia memiliki sebuah tujuan. Akan tetapi, manusia tidak dapat memburu kedua tujuan tersebut secara sekaligus, atau menjadi kedua ahli itu sepenuh hati. Salah satu tujuannya dan salah satu keseriusannya harus lebih didahulukan, atau bahkan harus diperlakukan secara eksklusif jika keduanya memang tidak bisa disandingkan dan direkonsiliasikan (biosfir atau spiritual?). Manakah yang harus dipilih? Perdebatan tentang masalah ini berlangsung secara terbuka di India semasa generasi Budha sekitar pertengahan millennium terakhir sebelum Masehi. Sementara di Barat perdebatan yang terbuka terjadi pada generasi St. Francis dari Assisi abad ke-13. Pada kesempatan tersebut, mengambil kedua pilihan yang saling berlawanan tersebut berarti mengambil jalan antara yang ditempuh oleh seorang ayah dan seorang anak. Isu ini yang diperdebatkan secara implisit sejak terbitnya fajar kesadaran; karena salah satu kebenaran dasar yang tersingkap oleh kesadaran manusia adalah ambivalensi moral watak manusia. Namun demikian, di sebagian besar waktu dan tempat sampai sekarang ini,orang-orang menghindar untuk membuka suatu persoalan yang mendiorong Budha dan St. Francis memutuskan ikatan-ikatan alamiahnya dengan keluarga mereka. Hanya pada generasi kitalah pilihan ini menjadi tak terhindarkan bagi umat manusia secara keseluruhan.

Pada generasi kita, persaingan antarmanusia untuk menguasai seluruh biosfir sedang menebarkan ancaman kekalahan bagi kamauan-kemauan manusia dengan cara merusak biosfir dan memusnahkan kehidupan, termasuk kehidupan manusia itu sendiri. Sejak abad ke-13 manusia Barat tampaknya telah menghargai Fransesco Bernardone, seorang santa yang menanggalkan warisan bisnis kekayaan keluarganya dan dihormati dengan stigma Kristus karena dukungannya pada Perempuan Miskin. Tetapi teladan yang diikuti oleh orang barat ini bukanlah St. Francis, orang Barat berusaha melebihi ayah sang santa, yakni Pietro Barnardone, seorang saudagar pakaian besar yang berhasil. Sejak meletusnya Revolusi Industri, manusia modern telah mendedikasikan dirinya secara lebih obsesif dibandingkan para pendahulunya dalam mencari tujuan yang telah digariskan sebelum kelahirannya.

Tampaknya seolah-olah manusia tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari pembalasan kekuasaan dan kerakusan materi jahatnya, kecuali dia dapat mengubah hatinya yang akan mendorongnya untuk menjauhi tujuan keduniawian dan mengikuti ideal yang sebaliknya. Penderitaannya sekarang akibat perbuatannya sendiri menghadapkan dirinya pada sebuah tantangan yang kokoh. Dapatkah manusia mengajak dirinya untuk menerima, sebagai aturan perilaku praktis bagi orang-orang dengan moralitas sewajarnya, ajaran-ajaran yang didakwahkan dan dipraktekkan oleh orang-orang saleh, yang sampai sekarang masih dipandang sebagai nasihat-nasihat kesempurnaan utopis bagi l’homme moyen sensual? Perdebatan panjang tentang isu ini yang tampaknya mendekati klimaks pada zaman kita sekarang merupakan tema sejarah kekinian pertemuan antara manusia dengan dewi bumi.

BAB III

EKUMENE SEBAGAI LANDASAN PERADABAN

Ekumene (Oikoumene) adalah sebuah istilah Yunani yang sudah menjadi kata sehari-hari pada Zaman Hellenis dalam sejarah Yunani. Ekumene berkembang, pertama-tama ke barat dan kemudian ke timur, dari domain aslinya membentang sampai laut Aegean. Ekspansinya ke arah barat sampai di pantai-pantai Atlantik di Eropa dan Afrika Barat Laut serta di pulau terbesar di Eropa Barat yang tidak berpantai, yakni Inggris. Ekspansi selanjutnya ke arah timur dibuka oleh penaklukan Aleksander Agung dan keruntuhan Kerajaan Persia Pertama, dan zaman pasca Aleksander dalam sejarah Helenis adalah masa ketika istilah “Ekumene” menjadi lazim. Makna harfiahnya adalah “Yang Didiami (bagian dari dunia)”, tetapi dalam prakteknya, orang-orang Yunani yang membuat dan menggunakan kata ini membatasi penerapannya pada wilayah dari bagian dunia yang didiami oleh apa yang disebut masyarakat “beradab”. Para anggota masyarakat jenis ini menyebut dirinya “beradab” sampai zaman kita sekarang, ketika pengalaman kita yang mengerikan dan memalukan atas kekejaman-kekejaman manusia telah mengajarkan kepada kita bahwa keberadaban tidak pernah menjadi sebuah fakta yang sungguh-sungguh terjadi, namun hanyalah suatu upaya atau cita-cita yang, hingga kini, selalu jauh dari sasarannya yang ambisius.

Bahkan dalam penggunaan aslinya yang terbatas, dimana orang-orang barbar di pinggir-pinggir peradaban diabaikan, ekumene Yunani pasca Aleksander hanya mencakup domain-domain peradaban yang telah akrab di mata orang-orang Yunani itu sendiri. Semenjak setidaknya awal generasi sejarawan Herodotus pada abad ke-5 SM, orang-orang Yunani kurang begitu menyadari keberadaan peradaban “Hyperborean” yang menjalin kontak dengan negara-negara-kota kolonial Yunani di sepanjang pantai utara Laut Hitam, melalui jalan kecil yang melintasi padang rumput Eurasia yang merupakan daerah pedalaman kontinental koloni-koloni maritim Yunani. Kita bisa menduga bahwa, sekalipun mereka disebut “orang-orang Hyperborean”, mereka menempati, bukannya “di luar Angin Utara”, tetapi bagian timur padang rumput tadi, dan mereka sebenarnya adalah orang-orang Cina, yang dikenal oleh orang-orang Yuanni dan Romawi pasca Aleksanderian sebagai “Seres” atau “Sinae”.

Sebelum sebagian besar dunia Graeco-Romawi bersatu secara politik dalam kerajaan Romawi, sutera diimpior ke dunia Graeco-Romawi melalui darat dan laut; tetapi apa yang disebut orang-orang “beradab” di ujung timur dan barat Dunia Kuno ini hanya sedikit mengetahui eksistensi mereka, demikian juga sebaliknya. Orang-orang Cina yang sama dengan “Ekumene” Yunani adalah “Semua yang berada di bawah langit, tetapi, bagi orang Cina, Ta Ch’in, replika Kerajaan Cina yang besar di ujung barat benua, sama kaburnya dengan orang-orang Sinae atau Seres atau Hyperborean bagi masyarakat Yunani dan Romawi. Dua ekstrimitas di benua ini saling berhubungan secara lambat –mula-mula bersifat sementara. Pada abad ke-13 melalui kerja sama di seluruh pantai di padang Eurasia di Kerajaan Mongol yang besar sekali tetapi usianya pendek, dan kemudian bersifat permanen semenjak sebelum berakhirnya abad ke-15 melalui pengembaraan laut oleh orang-orang Eropa Barat. Sementara itu, peradaban-peradaban Meso-Amerika dan Andean di Amerika Selatan tidak dikenal oleh penduduk Dunia Kuno sampai pendaratan pertama Columbus di Amerika yang menghadap ke Samudra Atlantik. Namun peradaban-peradaban Meso-Amerika dan Peru telah merekah menjadi kekuasaan besar klasik pada permulaan era Kristen, sedangkan periode anteseden “formatif” kebudayaan-kebudayaan tinggi Amerika mungkin telah dimulai –di Meso-Amerika—pada permulaan peradaban-peradaban Dunia Kuno kecuali Sumero-Akkadia dan Mesir Fir’aun.

Jika kita menggunakan istilah Ekumene dalam pengertian harfiah habitat manusia, kita dapat melihat bahwa luas ekumene yang sebenarnya lebih besar daripada wilayah dunia “beradab” yang dikenal oleh orang-orang Yunani dan Romawi, tetapi kita juga dapat melihat bahwa Ekumene yang komprehensif ini jauh lebih kecil dibanding biosfir kita. Sebagian terbesar dari permukaan biosfir berupa laut, dan selubung udaranya merupakan sebagian terbesar dari volume biosfir. Laut dipercaya sebagai habitat asli kehidupan, dan sampai sekarang laut masih kaya dengan flora dan fauna. Nenek moyang manusia telah mengetahui bagaimana cara melintasi permukaan sungai dan laut dengan perahu dan kapal, dan bagaimana cara menyelam –tidak terlalu dalam dan lama— di bawah permukaan laut; tetapi di atas, atau di dalam air; manusia hanyalah seorang pelancong; mereka bukan warga air –senyatanya mereka bukanlah spesies akuatik.

Pada abad ke-20, manusia telah menciptakan pesawat terbang; tetapi dalam mengarungi udara, manusia telah didahului bertahun-tahun yang lampau oleh serangga, burung, kelelawar, meski tidak ada kelelawar, burung, serangga atau manusia yang dapat hidup di udara sebagaimana ikan dan spesies mamalia air hidup di air. Di udara, tidak ada spesies hidup yang bisa menjadi lebih dari sekedar pelancong. Sebuah spesies bersayap mungkin bergantung pada bakat kemampuannya di udara untuk melangsungkan kehidupannya, tetapi tidak dapat melepaskan dasar-dasar kerja kelautan atau akuatik. Bahkan burung-burung dapat bertengger di atas kabel-kabel telepon dan membuat sarang dari tanah liat untuk merawat anak-anaknya.

Ekumene manusia seluruhnya berada di atas permukaan tanah biosfir, meskipun warga manusia di Ekumene kadang bergerak melewari permukaan air, dan sekarang juga melintasi udara, dalam melakukan perjalanan dari satu tempat ke tampat lain di Ekumene ini. Akan tetapi, Ekumene sangat tidak bisa menjadi co-existensive dengan permukaan tanah dan luas wilayahnya, di pesisir daratan kering, bergelombang sebagaimana diilustrasikan oleh kekeringan mematikan yang terjadi di Sahel, yakni sabuk pedalaman Savanah di Afrika antara bekas ujung selatan Sahara dan ujung utara hutan hujan tropis. Wilayah Ekumene yang bergelombang ini sebagian disebabkan oleh perubahan-perubahan fisiografis dan iklim yang tidak diciptakan manusia dan bahkan belum bisa dimodifikasi dengan kemampuan manusia yang ada, dan sebagian lagi disebabkan oleh perilaku manusia, baik yang disengaja maupun tidak. Agen-agen non-manusia yang telah membentuk ekumene menguasai manusia sampai 10.000-12.000 tahun terakhir.

Dalam sejarah planet bumi, perubahan-perubahan fisiografis dan iklim selama proses pembentukan planet ini besar sekali. Barangkali perubahan-perubahan ini merupakan yang paling ekstrim dan paling keras di permukaan bola bumi ini. Relik-relik tumbuhan dan binatang yang telah memfosil di lapisan kerak bumi yang pada zaman geologis berada di atas permukaan bumi sebelum munculnya manusia, menunjukkan bahwa daerah-daerah yang kini beriklim dingin atau sub-artik dahulunya beriklim tropis. Mengenai perubahan-perubahan iklim regional ini, terdapat beberapa alternatif penjelasan. Salah satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa sumbu bola bumi telah melengkung tajam, dan bahwa titik-titik di permukaan bumi yang kini menjadi kutub utara dan selatan dahulunya pernah berada tepat di atau di dekat ekuator; tetapi jika ini benar, maka kita mengalami kesulitan untuk mengetahui bagaimana bumi berusaha mempertahankan regularitas gerak rotasi dan orbit eliptikalnya tanpa terlempar oleh pergeseran sikap berdirinya yang niscaya itu. Penjelasan alternatif menyebutkan bahwa benua-benua yang ada sekarang mungkin telah bergerak melintasi permukaan bumi, seolah-olah seperti rakit-rakit yang bertebaran di sebuah rawa, bukannya seperti batu ubin yang bercokol di karang. Teori pergeseran continental ini, sebagaimana teori pergantian kutub, masih diperdebatkan dan mungkin tidak bisa diverifikasi, tetapi dalam bentuk tertentu tampaknya banyak diikuti dan dipercaya dengan pertimbangan bahwa, tidak seperti teori alternatif, teori pergeseran tersebut mendalilkan, bukan sebuah reorientasi keseluruhan bola bumi, tetapi sekedar perubahan konfigurasi kerak bumi.

Namun demikian, enigma tentang fosil-fosil tropis yang kini merupakan zona-zona non-tropis adalah masalah zaman geologis yang selama berjuta-juta tahun mendahului kemunculan hominid pertama. Fenomena iklim yang berbarengan dengan kemunculan hominid di biosfir ini merupakan serangkaian periode glasial yang bergantian dengan proses pelumeran selama zaman pleistosin –yaknia selama 2 juta tahun terakhir. Glasiasi terbaru (menjadi gegabah kalau kita berasumsi bahwa ini merupakan glasiasi pungkasan sepanjang zaman) melapangkan jalan terjadinya pencairan sekitar 12.000 atau 10.000 tahun yang silam.

Selama piriode-periode glasial, bongkahan-bongkahan es tampaknya tidak pernah menutupi selain bagian kecil dari permukaan tanah biosfir. Wilayah yang terglasiasi ini sebagian besar berada di dua kutub dunia, dengan beberapa bidang glasiasi terisolir di gunung-gunung tinggi yang tidak jauh dari ekuator. Namun demikian, glasiasi parsial ini sementara waktu terkecualikan dari sebagian tanah subur Ekumene (misalnya di Skane, di bagian kepulauan Denmark, di Midlothian, dan di Caithness) yang sangat produktif setelah diolah. Lebih dari itu, glasiasi-glasiasi lokal mengubah rasio antara laut dan daratan sehingga menjadi lebih banyak daratan. Begitu besar volume air terkumpul sementara dan tidak bergerak di dalam bongkahan-bongkahan es, sehingga permukaan laut turun cukup banyak di seluruh wilayah bumi. Dasar laut-laut yang dangkal tersembul ke atas dan kering; laut-laut yang sempit menjadi semakin sempit; beberapa selat terjembatani oleh tanah genting. Jika diukur dengan kedalaman tengah laut dan rasio laut-daratan di permukaan planet bumi ini, dampak global dari glasiasi-glasiasi lokal tersebut cukup kecil; tetapi dampak ini terasa cukup besar jika dilihat sebagai kesempatan ekspansi Ekumene manusia di sebuah zaman di mana sarana transportasi manusia tidak lebih dua kakinya dan di mana seni membuat kapal dan navigasi masih sangat belia.

Bahkan ketika kita bisa melakukan migrasi dengan mudah, berkat turunnya permukaan laut untuk sementara, keberanian hominid awal dalam memperluas Ekumene mengagumkan di mata manusia sekarang. Ini disebabkan, dalam satu setengah abad terakhir, kita telah menciptakan serangkaian alat angkut bermesin yang dimulai dengan kapal mesin dan rel kereta api lalu disusul dengan kendaraan darat bermesin dan pesawat terbang. Kita tidak akan begitu terkejut dengan ekspansi hominid ketika kita melihat prestasi-prestasi primata non-hominid terkait. Prestasi-prestasi primata non-hominid ini telah menjajah Amerika, Asia beserta semenanjung dan pulaunya yang tak berpantai. Di lain pihak, tidak ada genus dari keluarga hominid kecuali genus homo, dan tidak ada spesies dari gernus homo selain homo sapien yang telah mencapai benua Amerika lewat laut dari Afrika Timur dekat ekuator dan bagian selatan. Seluruh warga manusia pra-Columbian yang masih bertahan hidup di Amerika berasal dari wakikl-wakil homo sapien yang menuju Amerika lewat darat dari pedalaman selama glasiasi terbaru yang menimbulkan kesulitan itu. Orang-orang Amerika pra-Columbian datang dari pelosok timur laut Asia melalui sebuah tanah genting sementara yang kemudian tenggelam di bawah selat-selat Behring; hanya orang-orang Amerika pra-Columbian dan pionir-pionir Norse dari pelosok timur Eropa Asia yang telah berhasil melintasi Samudra Atlantik.

Jika homo sapien, seperti hominid-homonid sesamanya yang kini telah punah, pertama muncul di Afrika Timur yang beriklim tropis, maka jarak geografis yang dilalui oleh perjalanan kakinya dari sana menuju Tierra del Fuego pasti cukup panjang, demikian juga waktu tempuhnya. Lebih dari itu, manusia, seperti fauna lain, bersifat mobil; dia tidak diam saja di bumi, seperti kebanyakan flora biosfir; namun flora ini telah menyebar ke segala penjuru sama luasnya dengan penyebaran fauna untuk menyebarkan dirinya. Akan tetapi, ketika semua ini telah dipaparkan, ternyata rentang ekspansi yang dilakukan oleh manusia Zaman Batu luar biasa. Manusia telah sampai di Tierra del Fuego dan juga Australia setidaknya pada awal circa 6.000 SM, meskipun, bahkan ketika permukaan laut berada di titik terendah, perjalanan darat dari Asia ke Australia terhalangi oleh lautan selebar 30 mil antara Kalimantan dan Sulawesi. Tour de force manusia Zaman Batu yang paling mengagumkan adalah kolonisasi Polynesia, termasuk Pulau Easter. Dalam 500 tahun terakhir, orang-orang Eropa Barat dan jajahan-jajahannya di luar negeri telah mengeksplorasi seluruh permukaan biosfir. Mereka telah mencapai kutub utara dan selatan. Namun, kecual di dua daerah kutub ini, mereka menemukan tempat-tempat baru yang belum didiami oleh warga manusia pra-Eropa.

Zaman dulu, karena hidup di daerah-daerah tropis di mana tidak ada dedaunan yang menutupi tubuh telanjangnya dari sengatan matahari, manusia perlu menutupi tubuhnya dengan bulu tiruan; dan mereka juga perlu mengenakan pakaian untuk mempertahankan kehidupannya di daerah-daerah dingin atau sub-artik yang membuat beku tubuh manusia. Pemburu anjing laut Eskimo dan penggembala nomaden Arab menyelimuti tubuhnya tebal-tebal, orang Eskimo denga kulit dan orang Badui dengan pakaian wol. Penguasaan manusia atas api memungkinkan untuk memperluas Ekumenenya lebih jauh lagi. Pada saat sekarang, teknologi modern sedang dipakai untuk memperluas areal eksploitasi, jika bukan areal habitasi, menuju utara Rusia dan Kanada.

Bongkahan-bongkahan es yang menutupi pedalaman Greenland dan jauh lebih banyak permukaan benua antartik masih di luar batas-batas Ekumene, dan demikian juga sebagian kantong hutan hujan tropis, tanah pegunungan yang diselimuti salju, dan gurun pasir kering. Namun manusia tampaknya lebih mampu hidup di wilayah beriklim yang luas daripada makhluk primata lain.

Luas konfigurasi Ekumene belum berubah secara mencolok sejak resesi glasia terakhir sekitar 12.000 atau 10.000 tahun yang silam. Permukaan tanah kering biosfir yang bisa ditempati hanya berisi sebuah benua, yakni Asia, beserta jazirah-jazirah dan pulau-pulaunya yang tak berpantai. Jazirah-jazirah Asia paling menonjol adalah Eropa, Arab, India, dan Indo-Cina. Jazirah Indo-Cina merupakan yang terbesar di atara keempat jazirah tersebut karena membentang dari Malaya sampai Australia dan Selandia Baru. Sebenarnya, bagian tengahnya melengkung dan sebagian tenggelam, dan Australia kini terpisah dari daratan pokok Asia oleh lautan sempit kepulauan Indonesia –kawasan selat dan pulau yang rumit sekali. Tiga pulau tanpa pantai Asia terbesar adalah Afrika dan dua Amerika. Pulau yang paling jauh adalah Antartika. Afrika dihubungkan ke Asia oleh tanah genting Suez, dan Amerika Selatan ke Amerika Utarq oleh tanah genting Panama. Dua tanah genting ini telah berubah menjadi selat-selat tiruan sejak ditembus oleh terusan-terusan buatan manusia. Selat alamiah yang terpenting adalah Selat Malaka, yang menjadi pemisah antara Samudra Hindia dan Pasifik.

Jalur-jalur komunikasi terbaik untuk mengantar penumpang atau muatan dari satu bagian ekumene ke bagian lainnya berada di luar batas-batas ekumene; karena media yang pakling kondusif adalah udara dan air; dan elemen-elemen ini bisa dilewati tetapi tidak bisa didiami. Sebelum terciptanya kereta api uap sebagai pengangkut dengan relnya pada abad ke-19, tranportaasi air (sungai dan alut) lebih cepat dan murah daripada tranportasi darat. Sebelum terciptanya rel kereta api, kekuatan penggerak perjalanan dan transportasi manusia adalah otot manusia itu sendiri dan binatang. Di lain pihak, di air, kekuatan otot manusia untuk mendayung perahu telah dilengkapi dengan layar yang memanfaatkan kekuatan angin sebelum menyingsing fajar peradaban. Angin merupakan kekuatan fisik tak bernyawa pertama yang dimanfaatkan oleh manusia; angin juga kekuatan alam pertama yang dicampakkan. Manusia menjadi kelebihan sumber daya ketika kekuatan-kekutan fisik tak bernyawa lain dimanfaatkan untuk mengoperasikan mesin.

Pada masa trasnsportasi air, garis komunikasi utama ditentukan oleh konfigurasi permukaan air di biosfir ini. Jalur air yang paling berharga adalah selat (selian Selat Malaka, ada pula terusan sempit yang menghubungkan Laut Hitam dengan Aegean, Selat Gibraltar, Selat Dover, dan terusan yang menghubungkan Laut Baltik dengan Laut Utara). Jalur air di daerah pedalaman yang berfungsi adalah sungai-sungai berarus lambat. Contoh klasiknya adalah sungai Nil di bawah Air Terjun Pertama. Di atas bentangan sungai Nil ini, sebuah perahu layar dapat bergerak begitu saja ketika ada di bagian hilir dan mengibarkan layar ketika ada di bagian hulu, karena di Mesir angin utara berhembus. Lebih dari itu, setelah Mesir terbuka bagi orang luar, tidak ada pemukiman atau lahan manusia atau bahkan pertambangan di Mesir yang jauh dari jalur air. Sebelum terciptanya rel kereta api, sarana komunikasi di Mesir lebih baik dari negara manapun.

Pada masa transfortasi air, permukaan tanah ekumene yang penting adalah yang menjadi rute pengangkutan dari satu laut atau sungai ke laut atau sungai lain. Mesir itu sendiri merupakan sebuah rute pengangkutan, sejak hulu Nil sampai Mediterraean, dan, dari sungai Nil sampai pantai Laut Merah, ada sebuah rute pengangkutan pendek dari lengan Delta paling timur sampai Suez melalui Wadi Tumilat, dan lainnya melalui Wadi Hammamat dari Coptos, di Mesir Atas, sampai Qusayr Lama (Leukos Limen). Sebenarnya rute pangangkutan yang melintasi Tanah Genting Suez antara Laut Merah dan Mediterranean adalah bagian dari sebuah area rute pengangkutan lebih luas yang mencakup Mesir ke barat dan Irak ke timur. Di area ini, Mediterranean, yang merupakan sebuah bendungan air Samudra Hindia, saling terpisahkan oleh tanah kering yang sempit, dan jalur dari Mediterranean sampai Laut Merah melalui sungai Nil ditiru oleh jalur ke Teluk Persia melalui Eufrat.

Jalur-jalur kuminikasi yang unik ini membuat Mesir dan Asia Barat Daya menjadi pusat “geopolitik” Ekumene di Dunia Kuno. Tentu saja tidaklah kebetulan jika daerah ini juga merupakan tempat lahirnya kebudayaan Neolitik pertama, dan kemudian dua peradaban paling awal. Dua rute pengangkutan lain juga memiliki nilai penting sejarah yang tinggi: rute antara sungai-sungai yang bermuara keLaut Baltik dan yang bermuara ke Laut Kaspia dan Laut Hitam, dan rute yang melintasi daratan Cina Utara antara daerah-daerah Yangtse rendah, Hwai, Sungai Kuning dan Pei Ho –sebuah rute pengangkutan yang telah diubah menjadi jalan sungai dengan cara menggali Terusan Agung. Namun demikian, rute-rute Cina dan Rusia berada di pinggir Ekumene Dunia Kuno. Nilai penting historis rute-rute ini diungguli oleh rute tengah antara Mediterranean dan Samudra Hindia.

Di rute Mesir dan Asia Barat Daya yang dominan ini, lalu lintas berfokus pada dua “jalan lingkar”. Salah satunya ada di Syria, antara tonjolan barat sungai Eufrat dan pojok timur laut Laut Mediterranean; jalan lingkar lainnya ada di Afganistan sekarang ini, sebuah hamparan Barisan Hindu Kush yang ditembus oleh jalan-jalan yang menghubungkan lembah-lembah atas sungai Oxus dan Jaxartes dengan lembah atas sungai Indus. Syria bagian utara dihubungkan oleh rute laut dan darat dengan Mesir; oleh laut dengan seluruh pantai Mediterranean dan bendungan-bendungannya dan, melalui tanah genting Gibraltar, dengan Samudra Atlantik; oleh darat, naik ke lembah utara jauh dua hulu sungai Eufrat, dengan Pintu-pintu Kaspia dan Lembah Oxus-Jaxartes dan India, dan, melaui Selat Malaka, dengan Samudra Pasifik. Afganistan dihubungkan dengan Mesopotamia dan Syria bagian utara dan melintasi padang rumput Eurasia; dengan Cina via Sinkiang; dengan India melalui jalan-jalan yang menembus Barisan Sulaiman.

Sebelum menciptakan rel-rel kereta api dan pesawat terbang, lalu lintas yang bertitik temu di, dan memencar dari, dua “jalan lingkar” tersebut di atas menggunakan transportasi air, lewat sungai atau laut yang memungkinkan. Ketika orang-orang dan muatan terpaksa berjalan lewat darat pada masa sebelum dimulainya mekanisasi, manusia berada dalam genggaman kekuasaan tanah lapang. Gunugn-gunung dapat dielakkan atau diatasi; hutan-hutan, baik yang dingin maupun tropis, merupakan penghalang besar; padang-padang rumput menjadi luar biasa kondusif. Sebenarnya, tiga kawasan padang rumput tiga terbesar yang saling bersambungan –Eurasia, Arab, dan Afrika Utara- menjadi hampir sama kondusifnya dengan laut itu sendiri ketika manusia membudidayakan binatang-binatang pengangkutan: keledai, kuda, dan, di atas semuanya, onta. Dengan bantuan bunatang tunggangan, binatang pembawa muatan, dan binatang penarik, manusia dapat melintasi padang rumput nyaris sama cepatnya dengan ketika manusia menyeberangi laut; tetapi penggunaan kedua sarana angkutan itu membutuhkan keteraturan dan disiplin. Sebuah karavan, seperti seekor biri-biri, harus memiliki seorang kapten, dan atruan-aturannya harus ditaati.

Bahkan ketika padang-padang rumput, serta laut dan sungai yang dilayari, dimanfaatkan untuk menjadi jalur komunikasi antarbagian Ekumene yang berbeda, media transportasi milik manusia ini tetap tidak mencukupi sampai terbitnya fajar Zaman Mesin. Bahkan dengan sarana-sarana yang tidak mencukupi ini, kerajaan-kerajaan hidup bersama dan dijalankan secara bersama dan berhasil, serta agama-agama yang para juru dakwahnya berusaha mengkonvensikan seluruh manusia memperoleh dan mempertahankan para pemeluknya di wilayah yang lebih luas di banding wilayah kerajaan sekular manapun. Kerajaan Persia Pertama, Kerajaan Cina, Kerajaan Romawi, Kekhalifahan Arab, dan tiga agama besar –Budha, Kristen dan Islam—adalah monumen-monumen kejayaan kekuasaan-kekuasaan manusia atas rintangan-rintangan fisik. Tetapi batas-batas keberhasilan mereka juga menunjukkan batas-batas sejauh mana praktek kehidupan masyarakat-masyarakat manusia tanpa bantuan alat-alat komunikasi mekanis yang telah diciptakan sejak permulaan abad ke-19.

Bukti paling kuat atas keterbatasan alat komunikasi sebelum permulaan abad mesin adalah sejumlah bahasa yang berbeda, dengan lokalitasnya di daerah-daerah Ekumene yang berlainan, yang tidak saling memiliki kesamaan.kata-kata adalah hasil dari sebuah fakultas manusia yang universal. Tidak pernah ada sebuah komunitas manusia yang tidak mempunyai kata-kata. Dua fakta ini secara bersamaan menunjukkan bahwa, sebelum homo sapien menyebar ke seluruh jengkal tanah biosfir dari Afrika Timur di khatulistiwa (jika daerah ini merupaakan tempat pemunculan pertama spesies genus homo), manusia secara keseluruhan pasti sedang dalam proses membuat bahasa, tapi belum sepenuhnya mampu mengembangkan potensialitasnya ini. Hipotesis ini akan menerangkan bagaimana semua komunitas manusia mempunyai bahasa, tapi bahasa-bahasa mereka, tidak seperti manusia yang berbicara dengannya, tidak seluruhnya saling bersaudara secara nyata. Tentu saja, hanya manusia, yang kita kenal melalui relik-relik selain tulang dan alat-alat, yang merupakan seluruh wakil dari satu-satunya spesies yang masih bertahan hidup. Kita tidak tahu, dan kita tidak mempunyai alat untuk menyibaknya, apakah spesies genus homo lain atau genera dari keluarga hominid belajar untuk berbicara, atau apakah kemampuan berbicara ini hanya khas homo sapien.

Bahasa-bahsa yang diketahui dan dipakai oleh komunitas-komunitas berbeda dari spesies kita sendiri memliki luas jangkauan yang berbeda-beda pula.

Di hutan-hutan tropis di Afrika Barat, sebelum hutan-hutan ini dibabad oleh orang-orang luar yang masuk ke Afrika ada berbagai bahasa yang kiranya tidak saling berhubungan secara dekat. Jangkauan masing-masing bahasa tersebut sangat terbatas. Warga kedua desa yang hanya dipisahkan oleh beberapa mil hutan mungkin tidak dapat saling berkomunikasi dengan kata-kata secara baik. Lingua franca mereka adalah gerak bisu. Bahasa-bahasa vokal yang kini hidup di Afrika Barat berasal dari luar: Bahasa Hausa, sebagai contoh, dari padang Afrika Utara dan bahasa Francis serta Inggirs dari daerah pantai.

Berkebalikan dengan hutan yang relatif sulit ditembus, laut mengantarkan bahasa-bahasa Melayu ke arah timur laut sampai di Philipina dan ke arah barat daya sampai di Madagaskar. Laut juga telah mengantarkan penyebaran bahasa Polynesia ke seluruh pulau Oceania, sama jauhnya jarak dari benua Asia dengan jarak antara pulau Easter dan Selandia Baru. Laut Mediterranean pernah mengantarkan penyebaran bahasa Punic, Yunani, dan Latin di sekitar pantai-pantainya, dan Samudra Atlantik menyebarkan bahasa Spanyol, Portugis, Inggris, dan Prancis dari Eropa Barat ke Amerika. Padang rumput juga mengantarkan penyebaran bahasa-bahasa nyaris sejauh yang dilakukan laut. Mula-mula bahasa-bahasa Indo-Eropa dan kemudian bahasa-bahasa Turki telah melintasi padang Eurasi dan menyebar melampaui pantai-pantainya dengan arah yang berlawanan. Bahasa Arab menyebar dari jazirah Arab melintasi padang Afrika Utara sampai ke pantai Samudra Atlantik.

Diseminasi bahasa melaui media non-manusia yang kondusif ini diperkuat oleh penyebaran manusia yang sengaja dalam bentuk aktivitas misionaris keagamaan, penaklukan militer, organisasi politik, dan perdagangan. Suku-suku dan para pengeran kerajaan Aramae tidak berdaya secara politik; mereka ditaklukkan oleh orang-orang Assyria; namun bahasa Aramaik tersebar ke seluruh Asia Barat Daya, dan huruf Aramaik tersebar sampai ke Mongolia dan Mansyuria, akibat penggunaan bahasa Aramaik di lingkungan pemerintahan Assyria dan Kerajaan Persia Pertama serta penggunaan liturgisnya oleh gereja-gereja Kristen Nestoria dan Manichae. Di lain pihak, keberhasilan bahasa Yunani dalam menggantikan bahasa Aramaik sebagai lingua franca di Asia Barat Daya dan Mesir merupakan akibat penaklukkan militer Kerajaan Persia Pertama oleh Alexander Agung, dan penaklukan militer juga menjadi agen penyebarluasan bahasa-bahasa romantik ke arah tumur sampai Rumania dan ke arah barat sampai Cile dari daerah kecil yang berbahasa asli Latin membentang ke bawah sampai sungai Tiber Italia.

Dalam sejarah Ekumene, rezim-rezim yang berbeda memainkan peran kepemimpinan pada waktu yang berbeda-beda pula. Jika Afrika Timur bagian khatulistiwa dan selatan sebenarnya merupakan tempat kelahiran hominid dan, di tengah-tengahnya, kelahiran spesies sapien dari genus homo, maka Afrika Timur dan Ekumene awalnya memiliki batas-batas yang sama. Sebelum berakhirnya Zaman Palaeolitik Tinggi, Ekumene telah meluas dari Afrika Timur melewati sebagian besar benua Asia, dan umat manusia sedang menjajah Amerika. Pada fase ini, peran kepemimpinan rezim-rezim tersebut tampak telah sampai di pinggiran selatan bongkahan es Eropa Utara, di mana para pemburu zaman Palaeolitik Tinggi menemukan hewan yang melimpah ruah sebelum es mencair. Namun demikian, keunggulan Eropa pada zaman ini mungkin hanyalah sebuah ilusi akibat kurangnya informasi yang kita miliki. Jika jejak-jekak yang ditinggalkan oleh manusia Palaeolitik Tinggi pada akhirnya diketemukan secara lengkap di belahan dunia selebihnya sebagaimana yang terlah ditemukan di Eropa, maka gambaran ini bisa jadi tampak lain.

Kita dapat meresa lebih pasti bahwa, pada Zaman Neolitik, peran kepemimpinan ini dimainkan oleh Asia Barat Daya dan batas-batas paling utara lembah Nil, dan bahwa Sumer –tanah baru di lembah rendah Tigris dan Eufrat—adalah tempat kelahiran perdagangan paling awal, meskipun, selama zaman Neolitik, bagian Asia Barat Daya ini tidak bisa ditempati. Abad k-13 ketika tanah baru yang melimpah ruah ini akhirnya tidak lagi produktif, menjadi saksi peran kepemimpinan di Ekumene yang dimainkan oleh Mongolia selama dua generasi pendek, berkat kondusivitas padang Eurasi dan mobilitas, keberanian serta kedisiplinan para penggembala nomaden Eurasia. Orang-orang Mongol itu menundukkan seluruh daerah penting benua Asia; hanya jazirah-jazirah dan pulau-pulaunya yang tak berpantai yang tetap tak terjamah. Kemudian, pada abad ke-15, peran pemimpin di Ekumene diambilalih oleh Eropa Barat ketika pasukan laut mereka menguasai samudranya –sebuah media kondusif yang jauh lebih luas daripada padang Eurasia.

Ketika, pada abad ke-20, Eropa Barat kehilangan hegemoni ekumenisnya karena dua perang saudara, peran kepemimpinan beralih ketangan Amirika Serikat. Tapi tampaknya seolah-olah kuasa pengaruh Amerika di Ekumene akan berlangsung sama singkatnya dengan kuasa pengaruhn Mongol sebelumnya. Masa depan masih menjadi teka-teki, tetapi kelihatannya dalam babak sejarah Ekumene selanjutnya peran kepemimpinan mungkin berpindah dari Amerika ke Asia Timur.

BAB IV

DAMPAK REVOLUSI INDUSTRI :

SEBUAH KAJIAN EKOLOGI POLITIK

Selama 1763-1871 yang luar biasa, terjadilah sebuah peristiwa terpenting dan fenomenal, yakni meningkatnya kekuasaan manusia yang drastis dan tiba-tiba atas sesama manusia dan alam semesta non-manusia. Peningkatan kekuasaan manusia ini dicapai berkat inovasi sosial dan inovasi teknologi. Efesiensi tentara dan buruh induistri meningkat karena mereka berdisiplin tinggi dan bekerja dengan mesin-mesin dan senjata-senjata yang tingkat kemampuannya sangat tinggi yang tidak pernah ada sebelumnya, serta karena pekerjaan mereka diatur secara baik.

Tentara professional yang berdisiplin mulai dibentuk di Barat menjelang berakhirnya abad ke-17. Dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya pada abad ke-18, rezimentasi yang telah diterapkan di barak-barak militer kemudian diterapkan dalam pabrik-pabrik, dan sebuah teknik yang telah dipakai untuk memberi lubang-lubang senjata diterapkan untuk membuat piston-piston pada mesin-mesin uap. Dalam bidang non-militer, peningkatan kekuasaan manusia yang tiba-tiba ini menjustifikasi sebuah revolusi, yakni revolusi teknologi dan ekonomi, meskipun permulaannya tidak diketahui secara persis sebagaimana meletusnya revolusi politik atau revolusi perang.

Revolusi tekbnologi dan ekonomi yang dimulai di Inggris pada seperempat ketiga abad ke-18 mengubah kehidupan pertanian, peternakan, dan industri. Padatahun 1871, revolusi ini telah menyebar ke luar Inggris hingga Eropa continental dan mulai masuk ke Amerika Utara dan Jepang. Pada awal millennium ke-2 ini, revolusi industri ini masih terus berlangsung dan belum tampak kapan akan berakhir. Namun, apa yang tampak jelas adalah bahwa pada saat itu Revolusi Industri telah membalikkan hubungan antara manusia dan biosfir.

Manusia, tentu saja, telah mengukuhkan keberadaannya di biosfir ini, tetapi sampai sekarang mereka, seperti semua makhluk hidup lain di biosfir ini, harus hidup dalam batas-batas toleransi biosfir. Spesies apa pun yang hidup melampaui batas-batas toleransi ini pasti beresiko musnah. Senyatanya, semua spesies, termasuk manusia, hidup di sini atas kemurahan hati biosfir. Akan tetapi, sekarang Revolusi Industri menyebabkan biosfir ini justru beresiko dimusnahkan oleh manusia. Mengingat manusia tinggal di biosfir ini dan tidak mungkin hidup tanpanya, daya upaya manusia untuk membuatnya tak bisa ditempati lagi sebenarnya merupakan ancaman yang dibuat oleh manusia terhadap kelangsungan hidupnya sendiri.

Peningkatan daya manusia selama dekade-dekade terakhir pada abad ke-18 terbatas di Inggris, tetapi prestasi Inggris ini telah disamai oleh prestasi negara-negara Barat lain pada 1871. Hal ini membuat Barat secara keseluruhan lebih maju daripada semua negara lain di ekumene ini. Dominasi dunia oleh Barat tersebut merupakan peristiwa terpenting kedua pada 1763-1871. Peristiwa terpenting ketiga adalah reaksi di sejumlah negara non-Barat terhadap tekanan yang dilakukan Barat. Peristiwa terpenting keempat atau terakhir yang patut dicatat adalah bergolaknya masalah-masalah domestik Barat sendiri. Dan, Revolusi Industri tidak dapat digambarnya hanya oleh salah satu peristiwa terpenting terasebut. Walaupun dimulai di sebuah negara Barat, Revolusi Industri merupakan sebuah peristiwa yang terjadi di biosfir yang sangat luas.

Tujuan para perancang Revolusi Pertanian dan Industri di Ingris adalah meningkatkan produksi kekayaan materi secara maksimal. Periastiwa ini berlangsung pada saat yang tepat, karena, satu generasi sebelumnya, jumlah penduduk Inggris dan beberapa negara Barat lain mulai bertambah secara cepat seperti pertambahan penduduk di Cina sejak abad ke-17. Akan tetapi para perancang revolusi tersebut tidak berniat mencukupi kebutuhan kolektif masyarakat mereka; peningkatan produksi itu dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan secara individual. Mereka berhasil meningkatkan GNP secara dramatis, tetapi juga meningkatkan ketidakmerataan distribusi keuntungan dan distribusi kepemilikan tanah dan tanaman sebagai instrumen-instrumen produksi.

Beberapa cara kerja tradisional yang relative tidak efesien –misalnya, pertanian berskala kecil dan kombinasi antara pertanian jenis ini dan industri berskala kecil pula, terutama pemintalan dan penenunan– macet total. Produksi, baik pertanian maupun industri, sekarang ditata dalam unit-unit berskala besar dengan peralatan yang canggih dan mahal. Perubahan-perubahan simultan ini mulai mendorong perpindahan penduduk dari desa-desa ke kota-kota industri baru. Pada saat yang sama, urbanisasi ini merenggut independensi ekonomi sebagian besar migran yang sebelumnya hidup mandiri. Seiring dengan pertambahan penduduk yang cepat, persentasi buruh yang hanya mampu menjual jasa (tenaga) meningkat tajam jika dibandingkan dengan persentase majikan dan orang yang bekerja mandiri.

Perubahan keadaan hidup dan kerja, serta perubahan distribusi pendapatan dan kekayaan menyebabkan naiknya GNP tetapi harus dibayar dengan terciptanya ketidakadilan dan penderitaan. Tidak ada standar objektif untuk menilai adil-tidaknya undang-undang parlemen yang mengatur pengalokasian dan pembatasan tanah yang sebelumnya milik umum jadi milik pribadi. Pembagian keuntungan industri di antara pemilik pabrik, investor dan juga buruh juga diperselisihkan. Yang jelas adalah bahwa pembatasan tanah jadi milik pribadi ini menyebabkan banyak pemilik tanah-tanah yang sempit di pedesaan tidak dapat memperoleh penghidupan dari tanah-tanah mereka itu, dan bahwa, ketika para bekas petani ini menjadi buruh industri, mereka juga hampir tidak mungkin hidup denga upah mereka.

Inilah konsekuensi-konsekuensi manusiawi yang paradoksal dan menyedihkan dari peningkatan produksi kekayaan materi. Penyebab dari masalah-masalah sosial ini adalah tujuan para pemilik pabrik dalam mendirikan pabrik mereka yang menandai bergeraknya roda Revolusi Industri. Stimulus yang mendorong mereka adalah sifat rakus, dan sifat rakus ini sekarang tidak bisa dikendalikan oleh norma-norma tradisional, yakni hukum, adat istiadat, dan hati nurani.

Dalam sebuah buku yang berpengaruh, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776), seorang professor Skotlandia, Adam Smith, menggariskan bahwa, jika setiap individu diberi kebebasan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya sendiri, masyarakat secara keseluruhan akan mencapai tingkat kemakmuran yang tertinggi. Sayangnya, syarat-syarat yang Adam Smith sendiri paparkan berkenaan dengan tesisinya itu diabaikan, dan bagaimanapun tesis tersebut tidak masuk akal. Peningkatan produktivitas melalui permainan bebas yang mewadahi sifat rakus disertai dengan pemborosan dan kekacauan dalam kompetisi, dan kompetisi ekonomi yang tak terbatas menciptakan jauh lebih banyak korban daripada pemenang.

Buruh industri menjadi kelas social baru yang teralienasi dari masyarakatnya yang menuntut kelas tersebut eksis tetapi tidak menyediakan aturan main yang adil. Satu-satunya senjata yang dimiliki buruh pabrik untuk mempertahankan diri adalah daya tawar kolektif terhadap majikan-majikan mereka. Syarat terbentuknya daya tawar kolektif yang kuat adalah solidaritas monolitik. Karenya, buruh terpaksa tunduk pada sebuah tirani mereka sendiri untuk melawan tirani majikan-majikan mereka yang mengungkung mereka. Para blackleg (buruh yang tetap bekerja ketika rekan-rekannya mogok) yang mengkhianati kekuatan kolektif mereka diintimidasi. Di Inggris, kekuatan kolektif buruh setelah dilarang pada 1799 dilegalkan pada 1824-5. Dan, sebenarnya perang antarkelas telah dimulai bersamaan dengan meledaknya Revolusi Industri, dan perang ini menyebar dari Inggris ke negara-negara lain.

Majikan dan pemilik pabrik sebagai musuh-musuh buruh bukan hanya berwatak bengis, tetapi juga pintar, berani, dan sulit dikalahkan. Richard Arkwright (1732-92), penemu mesin pintal, yang beroleh kekayaan dengan mematenkan temuan-temuan yang mungkin kini bukan hanya miliknya, lebih khas daripada James Watt (1736-1819), seorang penemu yang beruntung mendapatkan banyak mitra yang memungkinkan memperoleh sejumlah hadiah materi berkat kejeniusannya. Kebanyakan penemu, yang menjadi modal penting bagi Revolusi Industri, membuka kemungkinan bagi para memilik pabrik yang lebih cekatan untuk mendapatkan keuntungan materi. Kebanyakan penemu ini mencoba-coba cara membuat temuan-temuan secara empiris.

Watt adalah perkecualian: dia menguasai sain dan tekonologi seperti bertemu dengan jodohnya. Inspirasinya yang ditemukan di Universitas Glasgow berbuah di pabrik Matthew Boulton di Brimingham. Watt tidak mengenyam bangku kuliah, tetapi dia memperoleh keuntungan intelektual berkat persahabatannya dengan sorang profesor kimia, Joseph Black (1728-99). Pada abad ke-19, para akademisi ilmu kimia, khususnya di universitqas-universitas Jerman, mulai menerapkan ilmu mereka ke dalam proses-proses industri secara langsung dan sistematis.

Penyempurnaan-penyempurnaan mesin uap yang menentuklan oleh Watt membuat mesin ini sangat berguna untuk produksi industrial dan penambahan daya tarik lokomotiof, serta untuk pemompaan, yang sebelumnya telah banyak dipergunakan. Kapal uap pertama berlayar pada 1807, dan kereta uap pertama diluncurkan pada 1829. Mesin uap adalah sebuah mesin, dan penggunaan mesin adalah cirri teknologis yang mencolok dalam Revolusi industri.

Sebenarnya, alat-alat perlengkapan hidup sama tuanya dengan umur umat manusia itu sendiri, tetapi sebuah alat hanya melengkapi daya otot masnusia tanpa pernah bisa menggantikan tempatnya. Misalnya, daya tangan manusia dilengkapi dengan tombak, sekop, dayung, atau panah, tetapi alat-alat ini hanya bermanfaat ketika dipergunakan oleh manusia. Sebuah mesin membebaskan manusia dari pekerjaan fisik. Mesin ini bekerja untuk menusia dengan skala dan kecepatannya melampaui kemampuan fisik manusia. Ketika seorang manusia telah membuat sebuah mesin, dia cukup memencet tombol untuk menghidupkannya, kemudian mengawasi dan menjaganya agar tetap bekerja dengan baik. Sampan digerakkan dengan kekuatan fisik tangan manusia yang dibantu dengan dayung. Kapal layar digerakkan oleh angin, dan orang yang menjalankannya tidak membutuhkan kekuatan fisik untuk mendorongnya. Kapal layar adalah sebuah mesin, demikian juga –dengan definisi yang sama—senapan (yang berbeda dengan busur panah).

Kapal layar diciptakan pada sekitar 5.000 tahun sebelum dimulainya Revolusi Industri di Inggris, tetapi, sebelum terjadinya Revolusi Industri, penggunaan mesin –yang berbeda dari penggunaan alat-alat [non mesin]—masih jarang. Sekarang, penggunaan mesin telah menjadi biasa, dan bentuk-bentuk energi fisik non-makhluk hidup yang ditiru dalam mesin tidak terbatas pada angin, air, letusan [gunung], dan uap. Pada 1844, listrik berhasil digunakan untuk mengirim pesan lewat telegraf. Penemuan alat-alat logam menciptakan sebuah pekerjaan baru, yaitu pandai besi. Penemuan mesin uap menciptakan pekerjaan baru lain, ayaitu tukang mesin.

Kekuatan angin dan air memiliki dua kelebihan: bersih dan tidak pernah habis. Berbeda halnya, uap harus dihasilkan dengan membakar bahan bakar, dan asap sebagai hasil sampingan dari pembakaran itu mengotori udara. Polusi ini niscaya dan mengerikan, tetapi polusi tersebut masih ditoleransi sejauh tidak lebih dari sekadar gangguan lokal. Belum sampai dua abad Revolusi Industri bergulir, umat manusia telah menyadari bahwa dampak-dampak dari mesinisasi mengancam biosfir. Polusi global, bukan lokal, dapat membuat biosfir tidak bisa ditempati lagi oleh semua spesies, dan manusia tidak mungkin lagi tinggal di sana jika sumber-sumber daya alam yang tidak tergantikan habis, padahal manusia tidak bisa hidup tanpa sumber-sumber ini.

Sebelum terjadi Revolusi Industri, manusia telah merusak beberapa bagian dari biosfir ini. Sebagai contoh, manusia membuat tanah-tanah di lereng bukit jadi tandus karena menebangi pohon-pohon sebagai tempat menyimpan air bagi tanah tersebut. Manusia merusak hutan lebih cepat daripada mereboisasinya, dan dia menambang logam-logam yang sama sekali tidak tergantikan. Sebelum, meniru energi fisik alam semestas kedalam mesin-mesin yang berskala sangat besar, sebenarnya menusia tidak mempunyai kuasa untuk merusak dan menghancurkan biosfir tanpa bisa memperbaikinya lagi. Pada saat itu, udara dan air masih menjadi sumber daya alam yang tak terbatas, dan persediaan kayu dan logam masih sangat banyak dibandingkan dengan kekuatan manusia untuk menghabiskannya. Saat itu, setelah menusia menghabiskan satu tambang dan membabat habis sebuah hutan, selalu ada tambang-tambang baru dan hutan-hutan perawan lain yang menunggu untuk dieksploitasi. Namun, dengan Revolusi Industri, manusia menjatuhkan ancaman terberat yang pernah ada terhadap biosfir. Termasuk terhadap manusia itu sendiri.

Sebelum Revolusi Industri, orang-orang Barat telah mulai menguasai sesama manusia. Pada abad ke-16, orang-orang Spanyol menundukkan penduduk Meso-Amerika dan Andean dan melenyapkan peradaban mereka. Selama 1757-64, Maskapai India Timur milik Inggris menguasai Bengali, Bihar, dan Orissa. Pada 1799-1818, maskapai Inggris ini menaklukkan seluruh anak benua India sampai ke sebelah tenggara sungai Sutlej. Mereka melakukannya secara leluasa karena menguasai laut dan arena. Pada 1809 membuat perjanjian dengan Rajit Singh, seorang pendiri Kerajaan Sikh, yang di dalamnya kedua belah pihak menerima sungai Sutlej sebagai batas antara wilayah-wilayah taklukkan mereka. Pada 1845-9, maskapai Inggris tersebut meneruskan upaya menaklukkan dan aneksasi terhadap Kerajaan Sikh di Punjab. Sementara itu, pada 1768-74, Rusia mengalahkan Kekhalifahan Ustmaniyah secara telak ;pada 1798 Prancis menduduki Mesir, dan pada 1830 mulai menaklukkan Algeria; pada 1840 tiga Negara Barat dan Rusia mengalahkan seorang raja muda Utsmaniyah yang berani di Mesir, yaitu Muhammad Ali, dari arah Syria dan Palestina. Pada 1839-42, maskapai Inggrias tersebut mengalahkan Cina secara dramatis. Dan, pada 1853, sebuah skuadron laut Amerika memaksa pemerintah Tokugawa untuk menerima pendaratannya ke Jepang. Jepang tahu bahwa dirinya tak berdaya untuk mencegah tamu tak diundang ini dengan kekuatan senjata.

Keberhasilan militer negara-negara Barat dan sebuah negara Ortodoks Timur yang telah terbaratkan, yakni Rusia, harus dutebus dengan kekalahan-kekalahan mereka pada waktu kemudian. Pada abad ke-17, Portugal dikalahkan oleh pasukan Jepang dan Abyssinia. Sepasukan Inggris yang menginvasi Afganistan pada tahun 1839-42 dihancurleburkan. Namun, pada 1817, negara-negara Barat itu dan Rusia telah mendominasi seluruh dunia.

Sebelum Revolusi Industri di Inggris, Tsar Rusia, Peter Agung, telah mengetahui bahwa satu-satunya cara yang dapat menyelamatkan negara non-Barat dari dominasi Barat adalah menciptakan sebuah tentara model baru seperti tentara-tentara Barat yang dibentuk pada zaman Peter. Peter juga menyadari bahwa tentara ala Barat ini harus didukung dengan teknologi, perekonomian, dan pemerintahan a la Barat juga. Kegemilangan dominasi militer Barat dan Rusia yang telah terbaratkan atas negara-negara non-Barat antara 1757 dan 1853 menggerakkan penguasa sebagian Negara yang merasa terancam untuk meniru apa yang telah dilakukan Peter Agung.

Contoh-contoh penguasa ternama yang melakukan westernisasi pada abad pertama sejak bergulirnya Revolusi Industri di Inggris adalah Rajit Singh (berkuasa 1799-1838), pendiri Negara Sihk penerus, di Punjab, kekhalifahan Afgan Abdali; Muhammad Akli, raja Padishah Utsmaniyah di Mesir sejak 1805 sampai 1848; Mahmud II, raja Padishah Ustmaniyah (berkuasa 1808-39); Raja Mongkut di Thailan (berkuasa 1851-68); dan sejumlah pimpinan Jepang yang, atas nama kekaisarannya, menghancurkan rezim Tokugawa dan mengambilalih pemerintah Jepang pada 1868. Para permimpin yang melakukan Westernisasi ini lebih berpengaruh dalam sejarah ekumene daripada pemimpin-pemimpin Barat saat itu. Mereka berhasil membatasi dominasi Barat dengan mengkapanyekan cara hidup Barat modern di negara-negara non-Barat.

Jika prestasi-prestasi semua negara Barat tersebut di atas luar biasa, para perancang Revolusi Meiji di Jepang pun sangat berhasil. Mereka adalah anggota-anggota kelas militer tradisional yang memiliki privilese, meskipun hidup miskin, yaitu samurai. Shogun Tokugawa ambruk setelah memberikan sedikit perlawanan. Kemudian, mayoritas samurai rela untuk melepaskan privilese mereka. Sekelompok kecil dari mereka yang memberontak pada 1877 dikalahkan dengan mudah oleh sebuah pasukan Jepang a la Barat baru yang beranggotakan para petani terlatih yang sebelum 1868, dilarang memiliki senjata.

Muhammad Ali dan Mahmud II tidak mengawali langkahnya dengan mulus. Sebagaimana Peter Agung, mereka merasa tidak dapat mulai membentuk tentara a la Barat sebelum membubarkan tentara tradisional mereka. Peter membasmi Streltsy Moskwa (“Pasukan Pemanah”) secara masal pada 1698-9; Muhammad Ali melenyapkan orang-orang Mamluk Mesir pada 1811, dan Mahmud II menghapus para janizary Utsmaniyah pada 1826. Semua tentara a la Barat yang baru ini menunjukkan sepak terjang yang bagus. Muhammad Ali mulai membangun angkatan daratnya yang baru pada 1819 dan angkatan lautnya pada 1821.

Pada 1825, semasa kauasaan Mahmud II. pasukan petani Mesir yang terlatih dengan baik nyaris berhasil menguasai kembali parapengacau Yunani yang berani tetapi tidak disiplin. Orang-orang Yunani ini bisa selamat berkat intervnsi Prancis, Inggris, dan Rusia yang menghancurkan pasukan Mesir dan Turki pada 1927 dan memaksa anak Muhammad Ali, Ibrahim, mengevakuasi orang-orang Yunani pada 1828. Pada 1833, Ibrahim menaklukkan Syria tetapi gagal masuk ke Istambul hanya karena intervensi Rusia demi kepentingan Mahmud II. Tentara Muhammad Ali lebih kuat daripada tentara Mahmud II, karena dia mulai membentuknya lebih awal. Mahmud II tidak dapat memulainya sebelum 1826, tahun ketika dia menghapuskan janizary. Namun, dalam perang Rusia-Turki pada 1828-9, tentara petaninya dengan model baru yang terlatih ini melakukan perlawanan yang jauh lebih liat daripada tentara Utsmaniah kuno dalam perang Rusia-Turki pada 1768-74, 1787-92, dan 1806-12.

Rajit Singh, sebagaimana tokoh yang sezaman dengannya, Muhammad Ali, merekrut bekas pasukan Napoleon sebagai perlatih militer. Inggris berhasil mengalahkan pasukan Sikh yang terlatih a la Barat pada 1845-6 dan lagi pada 1848-9, tetapi dua perang ini dimenangkan Inggris dengan usaha yang lebih keras dan korban yang lebih banyak daripada penaklukkan mereka sebelumnya atas seluruh India kecuali Punjab.

Para penguasa non-Barat yang melaksanakan westernisasi negara-negara mereka tidak dapat melakukan hanya dengan bantuan segelintir penasihat dan pelatih Barat. Mereka harus menemukan atau menciptakan sekelompok pribumi mereka jadi sebuah kelas yang berpendidikan Barat yang dapat menghadapi orang-orang Barat dalam kedudukan yang kurang lebih setara dan dapat menjadi mediator antara Barat dan rakyat mereka yang belum terbaratkan. Pada abad ke-17 dan 18, pemerintah Utsmaniyah mendapatkan kelas baru seperti ini yang siap pakai, yakni penduduk Ustmaniyah Yunani yang telah mengenal Barat karena mereka menempuh pendidikan di sana atau menjalin hubungan dagang dengan orang-orang Barat.

Peter Agung di Rusia, Muhammad Ali di Mesir, dan maskapai Inggris di India harus menciptakan kelas mediator yang juga mereka butuhkan. Di Rusia kelas ini disebut intelligentsia, sebuah kata serapan dari bahasa Prancis yang mendapat akhiran dari bahasa Rusia. Selama 1763-1871, kelas intelligentsia tumbuh di setiap negara yang jatuh ke tangan kekuasaan Barat atau menyelamatkan diri dari penderitaan semacam ini dengan melakukan westernisasi untuk mempertahankan independensi politiknya. Seperti para pemilik pabrik dan buruh industri yang tumbuh di Inggris pada abad itu, kaum intellegetsia non-Barat adalah sebuah kelas baru, dan pada 1970-an kelas ini mengukuhkan perannya yang besar dalam sejarah umat manusia.

Intelligentsia dibentuk oleh pemerintah untuk memenuhi tujuan-tujuan pemerintah itu sendiri, tetapi kelas ini segera menyadari bahwa dirinya memegang posisi kunci di dalam masyarakatnya, dan dalam setiap kasus, kelas ini kemudian melangkah ke jalur yang independen. Pada 1821, invasi pangeran Yunani eks-Utasmaniyah, Aleksander Ypsilantis, atas kekhalifahan Utsmaniyah memberi pelajaran pada pemerintah Utsmaniyah bahwa kaum intelligentsia-nya tidak bisa diandalkan lagi. Pada 1825, konspirasi para petinggi militer Rusia yang berpendidikan Barat untuk menentang Tsar Nicholas I, tetapi kaum intelligentsia menunjukkan isyarat untuk tumbuh kembali. Ini terjadi bukan hanya di Rusia tetapi juga di sejumlah negara lain yang telah melakukan westernisasi.

Hidup di antara dua dunia –inilah peran kaum intelligentsia— adalah sebuah laku spiritual, dan di Rusia pada abad ke-19 laku spiritual ini melahirkan kesusastraan adi luhung yang tidak tertandingi pada zaman itu. Novel-novel Turgenev (1818-83), Dostoyevsky (1821-81), dan Tolstoy (1828-1910) merupakan kekayaan sastra dunia.

Dibandingkan dengan Revolusi Industri di Inggris dan pengaruh Barat di negara-negara non-Barat, bidang-bidang kultural dan politik Barat pada 1763-1871 dinomorduakan –sangat buruk meskipun sebenarnya bidang-bidang ini berkembang jika dilihat dari sejarah perkembangan kedua bidang tersebut dalam konteks global. Pada abad ini, tokoh-tokoh seni peradaban Barat adalah orang-orang Jerman. Immanuel Kant (1724-1804) adalah filosof Barat terbesar, dan Goethe (1749-1832) adalah penyair Barat terbesar pada abad ini. Dua tokoh Jerman termasyhur ini lebih bersinar daripada dua meteor Inggris yang brilian, Shelley (1792-1822) dan Keats (1795-1821). Mozart (1756-91) dan Beethoven (1770-1827) membawa musik klasik Barat ke puncak kejayaannya. Perlu dicatat bahwa keunggulan budaya Jerman itu pada zaman modern dalam sejarah Barat berkebalikan dengan kekuatan politik dan kemakmuran ekionominya. Musik Jerman berkembang setelah berakhirnya Perang Tiga Puluh Tahun, tetapi kemudian layu setelah berdirinya Reich Kedua.

Dalam bidang sains, Edward Jenner (1749) membuktikan pada 1798 bahwa kekebalan terhadap penyakit cacar dapat diperoleh dengan vaksinasi, dan pada 1857 Louis Pasteur (1822-95) membuktikan keberadaan bakteri. Sebelum panyakit cacar dan bakteri diketahui, dua preditor yang memangsa manusia dan binatang piaraan ini telah menelan lebih banyak koraban jiwa daripada binatang-binatang karnivora yang telah manusia tundukkan pada zaman Palaeolitik Tinggi. Setelah teridentifikasi, akhirnya bakteri juga dapat diatasi oleh manusia. Sekarang tidak ada musuh yang mematikan bagi manusia di biosfir ini kecuali manusia itu sendiri.

Aplikasi sains jadi teknologi membuat manusia semakin dan semakin hebat. Aplikasinya jadi pengobatan preventip menyebabkan pertambahan populasi manusia di bosfir ini sangat akseleratif; dan penurunan angka kematian yang lebih cepat daripada angka kelahiran disusul dengan pemakaian alat-alat kontrasepsi. Pada tahun yang sama, 1798, ketika Jenner membuktikan kemanjuran vaksinasi cacar, T.R. Malthus menerbitkan bukunya, Essay on Population, dan buku ini mengilhami Charles Darwin (1809-82) untuk memaparkan konsepnya tentang perjuangan untuk mempertahankan hidup (struggle for life) sebagai sub judul dari The Origin of Species (1859).

Satu abad sebelum Darwin, Buffon menyempal dari doktrin tradisional agama-agama Yahudi bahwa berbagai spesies makhluk hidup telah diciptakan sekali untuk selamanya, sebagai entitas-entitas yang berbeda dan kekal, oleh Tuhan yang Mahakuasa. Tesis Buffon bahwa keanekaragaman spesies merupakan hasil dari proses perubahan dalam rentang waktu yang lama diikuti dalam bidang geologi oleh Charles Lyell (1797-1875), yang karyanya, Principles of Geology (1830-3), juga telah dibaca Darwin. Tesis Darwin mengejutkan kaum Kristen Ortodoks. Kata-kata “seleksi” dan “kelangsungan ras-ras yang lebih kuat” (preservation of favoured reces) mengindikasikan mitos Yahudi tentang “orang-orang terpilih”. Meskipun Darwin membuang postuilat tentang Tuhan Sang Pencipta, dia menggantinya dengan hipotesis tentang seleksi alam impersonal pada serangkaian mutasi yang teramati tetapi tidak terjelaskan.

Gagasan revolusioner Darwin bukanlah penjelasannya tentang mekanisme perubahan biologis, tetapi pembuktiannya bahwa hidup di biosfir ini bersifat dinamis, bukan statis. Darwin membuktikan dalam biologi apa yang telah Hegel (1770-1831) tunjukkan dalam filsafat. Hegel menggambarkan hidup dalam proses perubahan dalam dimensi waktu. Dia menerjemahkan fenomena perilaku seksual –yang melahirkan keturunan dengan ciri-ciri yang berasal dari masing-masing induknya—ke dalam istilah-istilah intelektual: tesis, antitesis, dan sintesis. Mendel (1822-84) menemukan hukum-hukum genetika; dia dapat merumuskan hukum-hukum ini secara kuantitatif. Dia mempublikasikan temuan-temuannya ini pada 1864-6, tetapi temuan-temuannya tetap tidak dikenal sampai Darwin dibicarakan banyak orang. Temuan-temuannya itu tetap diabaikan sampai 1900.

Dalam bidang militer dan politik, abad ini menjadi saksi atas kemerdekaan Amerika Serikat setelah mengalami Perang Revolusi (1776-83); pemulihan persatuan dan kesatuan setelah Perang Sipil (1861-5); dan ekspansi geografisnya ke Amerika Utara menyusuri pantai-pantai (1783-1853). Abad yang sama juga manyaksikan upaya Prancis pada 1797-1815 melalui Napoleon untuk menyatukan kembali Dunia Barat secara politis di bawah dominasi Prancis yang sebelumnya pernah dilakukan Louis XIV dalam peperangan 1667-1713. Akibat dari kegagalan Napoleon adalah terbentuknya negara nasional Italia pada 1859-70 dan Jerman pada 1866-71. Maka, pada abad tersebut, penataan politik Dunia Barat sebagai sekumpulan negara nasional yang berdaulat dan merdeka mengalami kemajuan, tetapi upaya untuk menyatukan Barat secara politis justru menyebabkan kemunduran.

Perluasan territorial Prancis oleh Napoleon jauh lebih besar daripada yang pernah dilakukan oleh Louis XIV. Namun, dalam interval antara dua masa ekspansi militer Prancis yang berurutan ini, luas Dunia Barat bertambah sebanding dengan perluasan wilayah-wilayah taklukkannya. Louis XIV lebih berhasil dalam menguasai Dunia Barat dengan ukuran yang lebih sempit pada 1700 daripada Napoleon dalam menguasai Duinia Barat dengan ukuran yang jauh lebih luas pada1800. Sementara itu, Rusia, India, dan Amerika Utara telah dikuasai oleh Barat; wilayah geografis Rusia secara militer sebenarnya tak terbatas. Saat itu, wilayah-wilayah taklukkan Barat telah menjadi kekuatan ekonomi yang menentukan. Dan, selama perang-perang Napoleon, semua wilayahn taklukan ini berada dalam kekuasaan ekonomi Inggris berkat kemenangan atas Prancis di lautan.

Bekas koloni-koloni Inggris di Amerika Utara telah memerdekakan diri secara politis, tetapi mereka tetap mencari keuntungan melalui hubungan dagang dengan Inggris. Demikain juga yang terjadi di bekas koloni-koloni Spanyol dan Portugal di Amerika, ketika mereka meraik kemerdekaan secara insidental akibat invasi Napoleon ke Semenanjung Iberia. Sumber-sumber material di luar Barat adalah bahan bakar perang bagi Inggris dan juga buah dari kemenangannya atas Napoleon. Pada 1821, bekas dominion-dominion Spanyol di Amerika, dan bekas dominion Portugal, yakni Brasil, menyusul kemerdekaan Amerika Serikat secara politis. Namun, secara ekonomis, negara-negara Amerika Latin menjadi, dan Amerika Serikat terus menjadi, bagian pasar luar negeri bagi produk-produk industri mekanis Inggris.

Beberapa revolusi yang meletus di Dunia Barat selama 1763-1871 memiliki ciri yang berlainan. Revolusi Industri di Inggris bersifat teknologis, ekonomis, sosial, bukan politis, meskipun mempunyai imbas politis non-revolusi ketika pada 1832 sebuah plakat reformasi yang dikeluarkan parlemen Inggris mulai mengalihkan kekuasaan politiknya dari para pemilik tanah pedesaan ke kelas menengah urban. Revolusi yang mengubah bekas koloni-koloni Inggris di Amerika Utara jadi Amerika Serikat bukanlah revolusi teknologi, ekonomi, atau sosial, tetapi revolusi politik. Revolusi Prancis yang dimulai pada 1789 bersifat politik, ekonomi, dan sosial. Revolusi Prancis ini mengalihkan kekuasaan politik dari raja ke kelas menengah urban, dan mengalihkan kepemilikan tanah dari kaum aristokrat ke kaum petani secara besar-besaran.

Di Inggris pada saat yang sama, para pemilik tanah yang sempit dipaksa jadi kaum buruh tani yang berupah, atau dipaksa keluar dari tempat tinggalnya di pedesaan untuk menjadi buruh industri yang berupah juga. Sebaliknya, di Amerika Serikat, para pemilik tanah tetap bertahan dan bahkan menguasai tanah-tanah yang masih perawan sampai ke barat, yang diikuti oleh para imigran yang haus tanah dari desa-desa Eropa. Amerika Serikat tetap merupakan, dan Prancis menjadi, sebuah komunitas warga yang mandiri kecuali sebagian besar budak hitam Afrika di negara-negara bagian selatan Amerika Serikat dan sebagian kecil buruh urban yang seragam di Prancis.

Perbudakan atas orang-orang Afrika dan importasi mereka ke permukiman-permukiman Eropa di Amerika sama buruknya dengan akibat penemuan “Dunia Baru” Eropa Barat oleh Columbus sebagai penaklukan atau pengusiran penduduk Amerika pra-Columbus. Selama 1763-1871, status yuridis perbudakan dihapus di sebagian besar Amerika: di Haiti antara 1793 dan 1803, di seluruh kerajaan kolonial Prancis pada 1848, dan di kerajaan kolonial Brasil pada 1833, di Amerika Serikat pada 1863, dan di Brasil secara perlahan-lahan antara 1871 dan 1888. Penghapusan perbudakan di Haiti dilakukan dengan revolusi dan perang selama sepuluh tahun, sedangkan di Amerika Serikat dengan perang saudara pada 1861-5. Namun, penghapusan perbudakan, baik dengan cara damai maupun kekerasan, meninggalkan masalah ekonomi dan sosial.

Di Amerika Serikat, dan di Prancis sampai 1871, para pekerja industri yang berupah masih menjadi penduduk minoritas. Pembukaan tanah-tanah perawan di Amerika Serikat dan penguasaan tanah yang luas oleh kaum petani di Prancis menyelamatkan dua negara Barat ini dari migrasi massif para pekerja bekas warga desa di kota-kota. Di Inggris migrasi seperti ini merupakan konsekuensi dari Enclosure Act. Akan tetapi, di Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris buruh industri tetap teralienasi dari “kemapanan” kelas menengah, dan mereka tidak dapat memperbaiki nasib mereka baik dengan cara damai maupun kekerasan.

Kelas menengah yang merancang Revolusi Prancis pada 1789 mengeksploitasi kebencian golongan proletariat urban, tetapi mereka tidak melakukan apapun untuk mengurangi penderitaan golongan proletariat itu. Alih-alih mengurangi penderitaan, dalam hal ini mereka justru berperilaku seperti musuh-musuh mereka di Inggris. Kelas menengah Prancis memangkas belenggu-belenggu tradisional terhadap kebebasan usaha ekonomi swasta., yang sebelumnya melindungi kelompok masyarakat ekonomi lemah. Slogan laissez-faire, laissez-passer –yakni, hapus pembatasan terhadap produksi industri dan hapus bea cukai untuk transportasi barang-barang—menggema di Prancis, tetapi segera saja sebuah undang-undang yang melarang tuntutan-tuntutan tersebut dibuat di Prancis pada 1791, delapan tahun sebelum pembuatan undang-undang serupa di Inggris.

Di Prancis upaya-upaya golongan ploretariat Paris untuk mengubah revolusi politik jadi revolusi sosial dilumpuhkan oleh kekuatan militer pada 1795, 1848, dan 1871. Gerakan kaum buruh urban Prancis dimentahkan oleh kelas menengah dan kaum petani. Di Inggris buruh industri menaruh harapan pada unionisme perdagangan dan reformasi politik yang telah lebih maju daripada apa yang telah dicapai pada 1832. Gerakan Chartis pada 1837-48 semata-mata bertujuan politik, dan, meskipun Chartisme lama kelamaan mereda, reformasi politik lanjutan terjadi di Inggris pada1867-72. Akan tetapi, pemberian hak suara kepada kelas pekerja industri Inggris, seperti pembebasan budak secara yuridis di Amerika, mengecewakan mereka karena tidak segera menghasilakn perbaikan kehidupan mereka secara mendasar.

Kesengsaraan kaum buruh industri dan persetujuan kelas menengah secara diam-diam atas ketidakadilan sosial; ini membangkitkan kemarahan Karl Marx (1818-83) dan mendorongnya untuk menciptakan agama Yahudi keempat, yakni Marxisme. Marxisme –sebagaimana Budhisme— secara teoritis bersifat atheistic, tetapi –sebagaimana Darwinisme— menciptakan tiruan bagi Yahweh, Tuhan Yahudi. Tuhan tiruan buatan Darwin adalah alam semesta, yang aksi selektifnya melanggengkan “ras-ras yang lebih kuat”. Tuhan tiruan buatan Marx adalah “keniscayaan historis” (historical necessity), dan “orang-orang terpilihnya” adalah golongan ploretariat industrial. Marx coba menghibur golongan proletariat yang sedang menderita dengan menunjukkan keniscayaan sebuah revolusi yang baik yang di dalamnya konflik antara kelas proletariat dan kelas menengah akan berakhir dengan terbentuknya masyarakat tanpa kelas.

Walau Marx tidak sempat menyaksikan terhapusnya ketidakadilan sosial, seorang filantropis Jenewa yang sezaman dengannya, Hendri Dunant (1828-1910), berhasil mengurangi penderitaan tentara-trentara yang sedang bertempur dengan melahirkan Konvensi Jenewa pertama pada 1864 dan membentuk Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross).

Selama 1763-1871, Inggris memainkan peran utama, baik dalam kebaikan maupun keburukan, bukan hanya di Barat tetapi juga di seluruh dunia. Dalam babakan sejarah Barat sebelumnya, Inggris keluar sebagai pemenang perang atas Prancis untuk menguasai Amerika Utara dan India. Dengan kemenangan ini, Inggris membuka jalan bagi bekas koloni-koloninya di Amerika Utara untuk menumbangkan kekuasaan Inggris dan menjadi Amerika Serikat yang merdeka dengan wilayah seluas Kerajaan Rusia. Inggis sendiri kini menyatukan seluruh anak benua India secara politis untuk pertama kalinya dalam sejarah, dan berhasil menegakkan kembali cengkramannya ketika pasukan India Maskapai India Timur meraih kemenangan pada 1857-9.

Inggris juga membagi keuntungan, atau tanggung jawab, dengan Rusia dan Spanyol setelah mengalahkan Napoleon. Kegagalan upaya terakhir untuk menyatukan Dunia Barat secara politik menjadikan Dunia Barat terbagi-bagi jadi sejumlah Negara lokal merdeka yang berdaulat pada abad ketika Revolusi Industri melengkapi banyak negara dengan alat-alat perang yang luar biasa destruktif. Ketika menyerang dan mengalahkan Cina pada 1839-42, Inggris memberikan pukulan yang mematikan pada sebuah rezim yang telah memberikan kedamaian dan stabilitas bagi banyak sekali penduduk Cina selama hampir dua millennium.

Tindakan-tindakan Inggris ini luar biasa, tetapi yang paling luar biasa pada periode ini adalah tindakannya dalam melahirkan Revolusi Industri. Dalam membidani lahirnya Revolusi Industri, ingris merobohkan perimbangan kekuatan antara biosfir dan manusia, dan hal ini pada akhirnya menciptakan daya manusia untuk membuat biosfir tidak dapat ditinggali oleh semua bentuk kehidupan, termasuk manusia itu sendiri.

Pada awal milenium kedua ini, solah-olah biosfir terancam bahaya banjir, polusi, dan, mungkin pada puncaknya, tidak mungkin lagi ditempati lagi oleh bentuk kehidupan apa pun akibat ulah salah satu makhluk dan penghunuinya sendiri, yaitu manusia. Kalau kita melihat ke belakang, tampaknya bahwa kekuasaan manusia atas biosfir telah meningkat dengan cepat. Sebelum menjadi “manusia”, manusia tidak mempunyai senjata dan baju besi yang telah terpasang di tubuhnya, tetapi dia dikaruniai akal yang dapat berpikir dan membuat rencana,. Dia memiliki dua organ fisik, akal dan tangan, yang merupakan instrumen material bagi pemikiran, rencana, dan upaya untuk mencapai tujuan dengan aksi fisik.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa alat-alat kehidupan sama tuanya dengan pemikiran manusia. Kemampuan untuk membuat dan menggunakan alat-alat memungkinkan manusia memenangkan persaingan hidup di biosfir ini selama Zaman Palaeolitik Tinggi, mungkin 70.000/40.000 tahun yang lampau, manusia menguasai biosfir, tetapi baru pada awal Revolusi Industri –dua ratus tahun yang lampau—manusia menjadi penguasa yang dominan. Dalam dua abad terakhir, manusia telah memperbesar kekuasaan materialnya sehingga dia mengancam keselamatan biosfir, tetapi, sayangnya, dia tidak mengasah potensi spiritualnya. Kesenjangan antara kekuasaan material dan spiritual semakin lebar, dan ini sungguh memprihatinkan. Mengasah potensi spiritual manusia adalah satu-satunya cara yang memungkinkan untuk menyelamatkan biosfir –dan manusia itu sendiri—dari kehancuran akibat kerakusannya yang telah dilengkapi dengan kemampuan yang luar biasa.

Pada akhir abad kedua puluh, dampak kemampuan destruktif manusia yang luar biasa itu ditunjukkan oleh sejumlah gejala. Populasi manusia di biosfir bertambah sangat cepat, dan pertambahan penduduk itu terkonsentrasi di kota-kota besar. Karena mayoritas penduduk masih miskin, pertumbuhan kota-kota tersebut terutama berupa proliferasi kota-kota kecil kumuh yang parisitis yang ditempati oleh kaum migran pengangguran, dan memiliki kemungkinan untuk menjadi pengangguran, dari desa-desa sebagai tempat tinggal dan kerja meyoritas umat manusia sejak ditemukannya pertanian pada awal Zaman Neolitik.

Kota-kota ini menyebarkan perangkap ke seluruh dunia yang berupa alat-alat mekanis melalui jalur darat dan udara secara cepat. Penduduk minoritas yang memproduksi komoditas-komoditas industri, atau bahan-bahan makanan dan bahan-bahan mentah organik, dengan proses-proses mekanis yang semakin canggih dan berdaya tinggi ini mengotori air dan udara yang menyelimuti biosfir dengan limbah-limbah buangan, belum lagi ketika mereka merusak flora dan fauna (manusia dan non-manusia) dengan operasi-operasi militer yang sangat destruktif.

Pada 1871 dan mungkin bahkan 1944, sebelum ditemukannya teknologi untuk memecah atom, masih sulit dipahami jika seluruh laut dan atmosfir bumi dapat terkena polusi yang mematikan akibat tindakan sebuah produk biosfir, yaitu manusia. Kemampuan manusia untuk membuat biosfir tak dapat ditinggali lagi tampak jelas dalam pemusnahan sejumlah spesies non-manusia yang belum dijinakkan. Sementara itu, manusia itu sendiri dan binatang-binatang peliharaan tidaklah kebal dari ancaman tersebut. Sebagian dari mereka juga sedang teracuni oleh bahan-bahan yang dihasilkan secara taksengaja dari aktivitas-aktivitas manusia yang disengaja.

Pertumbuhan fisik kota-kota tersebut terasa luar biasa. Ankara dan Athena telah berubah dari kota-kota kecil menjadi megalopolises sejak 1922, daerah pedesaan Jepang yang indah di dekat Selat Shimonoseki telah berubah jadi jalan-jalan dan rumah-rumah. Di Indonesia, Bandung yang merupakan kota kecil dan berhawa sejuk kini menjadi kota metropolitan yang sesak penduduk dan panas.

Bagi penduduk Barat, Agustus 1914 menjadi awal sebuah trauma. Periode 1914-sekarang adalah masa kesengsaraan bagi seluruh umat manusia akibat perbuatan mereka sendiri. Dalam periode ini, dua perang dunia meletus sebagai sebuah kejahatan yang mahadahsyat dan mematikan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Genosida dilakukan orang-orang Turki terhadap penduduk Armenia, orang-orang Jerman terhapat Yahudia, orang-orang Hindu terhadap orang-orang Muslim India dan sebaliknya, orang-orang Serbia terhadap Muslim Chechna. Orang-orang Palestina, Tibet, dan mayoritas penduduk pribumi Afrika di bagian selatan juga menjadi korban.

Salah satu dari apa yang disebut “perang agama” masih berkecamuk secara liar di Irlandia Utara. Kelas menengah Barat, seperti kaum migran non-Barat dari desa-sdesa ke kota-kota kumuh, mengalami kemunduran hidup yang sangat mencolok. Adapun periode 1871-1913 mungkin merupakan zaman keemasan dalam memori orang-orang Barat kelas menengah. Namun, jika periode 1871-2009 secara keseluruhan ditinjau kembali, tampak jelas bahwa optimisme yang merebak selama 1871-1913 telah hilang.

Orang-orang Barat tidak ingin melihat berakhirnya perang; sebagian dari mereka –misalnya di Jerman dan negara-negara Balkan— berharap tidak hanya meletusnya kembali peperangan tetapi juga coba-coba memicunya. Akan tetapi, perang-perang yang terbayang dalam benak orang-orang Jerman yang sangat gemar berperang adalah perang-perang pendek semacam perang Bismarckian, bukan perang-perang Napoleon yang panjang, atau Perang Tiga Puluh Tahun yang dahsyat pada tahun 1618-48 di Jerman, atau perang saudara yang hebat pada 1861-5 di Amerika Serikat.

Perang Cina-Jepang pada 1894-5, perang Spanyol-Amerika pada 1898, Perang Afrika Selatan pada 1899-1902, dan Perang-perang Balkan pada 1912-13 senyatanya bersifat lokal dan pendek. Bahkan, Perang Rusia-Turki pada 1877-8 dan Perang Rusia-Jepang pada 1904-5 hanyalah konflik-konflik regional yang tidak meliputi banyak wilayah dunia. Kerusakan dan kehancuran hidup manusia yang luas akibat berbagai penindasan (1850-73) rezim T’ai-p’ing dan pemberontakan-pemberontakan lain di Cina terhadap rezim Manchu tidak lagi di klim oleh orang-orang Barat sebagai penderitaan khas masyarakat Oriental ketika dan di mana masyarakat itu belum dikuasai oleh kaum Kristen.

Prestasi-prestasi yang mendasari optimisme di atas sebenarnya cukup mengesankan. Namun, setiap prertasi tersebut tidak sempurnya dan di dalamnya mengandung bibit-bibit kerkacauan. Pada tahun 2000-an, ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan itu amat jelas, tetapi antara 1871 ddan 1914 tidak begitu mudah dilihat.

Misalnya, pembebasan budak di Rusia pada 1861, dan mulai –pada 1871—di hapusnya perbudakan di negara perbudakan terakhir, Brasil, tampak seperti tonggak-tonggak sejarah yang agung menuju milenum baru. Akan tetapi, pembebasan budak-budak di Rusia tidak memuaskan kerakusan mereka atas kepemilikan tanah, dan pembebasan budak-budak hitam secara yuridis pun tidak serta merta menghapus prasangka, diskriminasi, dan konflik rasial. Sementara itu, buruh industri yang telah bebas secara yuridis tidak juga melakukan revolusi sosial Marxis di manapun, tetapi di negara-negara Barat kehidupan ekonomi mereka membaik secara pelan-pelan, dan perbaikan kehidupan mereka ini disertai dengan perbaikan kondisi-kondisi kerja mereka.

Namun, pekerjaan mekanis semakin tidak memuaskan secara spiritual seiring dengan setiap jengkal kemajuan teknologi. Penemuan ban-berjalan dan perakitan mesin meningkatkan produktivitas dan menurunkan “harga” spiritualitas yang mengubah menusia jadi komponen-komponenm mesin “yang diatur secara ilmiah”. Kehidupan buruh industri kini secara material lebih baik, tetapi sekalipun telah disogok untuk menjadi budak-budak pabrik seperti ini, mereka masih teralienasi secara spiritual dari masyarakatnya yang menuntut kelas sosial baru ini untuk memenuhi tujuan-tujuan kelas menengah.

Terbentuknya negara nasional Jerman dan Italia secara utuh pada 1870-1 tampak menstabilkan struktur politik ekumene. Negara nasional yang berdaulat sekarang dianggap sebagai sebuah unit politik standar, dan sejak 1871 tidak ada perang lagi kecuali Perang Rusia-Jepang pada 1904-5, yang melibatkan dua kekuasaan besar atau lebih. Perang Rusia dengan Turki pada 1877-8 dan dengan Jepang pada 1904-5 masing-masing berakhir tanpa melibatkan Ingris. Lembah Oxus-Jaxartes dan Turkmenistan, sampai ke perbatasan-perbatasan Barat Laut Afganistan, telah dianeksasi oleh Rusia pada 1865-85, dan saat itu Perang Rusia-Inggris tidak jadi meletus.

Antara 1881 dan 1904, semua negara Afrika, kecuali dua negara yang masih bebas dari kekuasaan Eropa Barat pada 1871 berada di bawah kendali Inggris, Prancis, Jerman, Belgia, atau Portugal secara langsung atau tidak langsung tanpa timbul peperangan di antara negara-negara itu dalam bersaing menguasai wilayah Afrika. Abyssinia (setelah bernama Ethiopia, yang awalnya menembati daerah Sudan Timur sekarang ini) turut ambil bagian dalam perebutan wilayah Afrika ini, dan berhasil mengalahkan Italia secara terlak pada 1896. Liberia, sebuah pemukiman kolonial bagi budak-budak hitam Amerika yang telah bebas, tetap merdeka berkat perlindungan Amerika Serikat. Namun, semua negara dan penduduk Afrika lainnya kehilangan kemerdekaannya.

Setelah kekalahn Cina yang telak dari Jepang pada 1894-5, Inggris, Rusia, Jerman, dan Prancis mulai membagi-bagi wilayah Cina di antara mereka sendiri, sebagaimana mereka telah membagi-bagi wilayah Afrika. Di Asia Timur, seperti di Afrika, mereka tidak sampai saling berperang selama berbagi daerah kekuasaan.

Hal tersebut tampaknya merupakan pertanda baik bagi terciptanya perdamaian antara dua kekuasaan besar. Setelah Kaisar Jerman, Willian II memecat Bismarck pada 1890, dia mulai menunjukkan isyarat-isyarat provokatif. Meskipun demikian, seolah-olah ekumene terus hidup damai dan tertib berkat kerja sama dua kekuasaan besar tersebut. Sekarang terdapat delapan negara besar, dan hanya tiga di antaranya –Rusia, Amerika Serikat, dan Jepang—yang berada di luar Eropa. Walaupun negara-negara Eropa itu berdaulat, pada 1911 tak sebuah negara Eropa pun kecuali Rumania dan Turki meminta agar orang asing yang masuk ke wilayah mereka membawa paspor. Di pedalaman Yunani, orang dapat menukar uang emas dengan uang perak Prancis, Italia, Belgia, atau Yunani. Batas-batas politik belum menjadi batas-batas atau hambatan-hambatan moneter bagi pertualang-petualang pribadi.

Akan tetapi, ada beberapa tanda yang manakutkan dalam gambaran damai tersebut. Prancis tidak terima dengan wilayahnya yang hilang yang terpaksa diserahkannya kepada Jerman pada 1871. Penduduk wilayah ini juga tidak senang menjadi warga Reich Jerman Kedua; wilayah ini masih berstatus sebagai Reichsland; pemerintah kekaisaran Jerman memberikan status otonom bagi salah satu bagian milik Reich; Bismarck dihantui dengan “mimpi buruk koalisi”, dan setelah dia “jatuh”, mimpi buruk itu segera menjadi kenyataan. Prancis dan Rusia segera membuat sebuah perjanjian yang dilengkapi dengan konvensi militer pada 1892-3; Prancis dan Inggris membuat perjanjian pada 1904; dan Rusia dan Inggris melakukannya pada 1907. Pada 1898, Jerman mulai bersaing dengan Inggris di laut. Rencana-rencana yang kompetitif untuk mobilisasi dan operasi-operasi laut dan militer selanjutnya sedang disusun oleh lima negara Eropa tersebut dan Rusia.

Semenjak berdirinya Italia dan Jerman sebagai negara nasional yang utuh pada 1870-1, negara nasional dianggap sebagai sebuah unit politik yang alamiah, normal, dan benar. Namun, anggapan ini tidak kuat mengingat orang-orang Eropa Timur belum memperoleh negara-negara nasional sendiri meskipun orang-orang Eropa Barat, termasuk orang-orang Belgia yang dwibahasa dan Swis yang catur bahasa, telah memiliki negara-negara nasional sendiri. Orang-orang Polandia, sebagai contoh, tidak mempunyai negara merdeka sendiri; mereka adalah penduduk Rusia, Prusia, atau Austria. Negara-negara nasional Yunani, Bulgaria, Serbia, dan Rumania berusaha mendapatkan “wilayah-wilayah tak tertebus” yang masih dikuasai oleh Utsmaniyahdan Habsburg.

Monarki Habsburg yang multinasional sebagai salah satu dari delapan negara besar merupakan anomali di sebuah dunia yang menjadikan negara-negara nasional sebagai unit-unit politik standar. Di Kekaisaran Rusia, sekitar sepertiga penduduknya bukanlah orang-orang yang berkebangsaan Rusia Agung. Negara nasional Jerman meliputi penduduk minoritas Polandia, Denmark, dan Prancis yang belum terasimilasi. Italia masih memiliki “wilayah-wilayah yang tak tertebus” (istilah ini berasal dari bahasa Italia) di perbatasannya dengan monarki Habsburg. Pendeknya, “prinsip penentuan jadi negara sendiri”, yang memberikan stabilitas politik bagi Eropa Barat setelah berlaku di sini pada 1871, sekarang menjadi sebuah ideal yang eksplosif dan subversif di Eropa Timur.

Dan struktur politik ekumene di malam meletusnya Perang Dunia I tersayat-sayat oleh kegagalan Eropa Timur menyesuaikan diri dengan negara-negara nasional Eropa Barat yang sampai sekarang menjadi standar yang diterima secara luas. Akan tetapi, keadaan politik dunia tetap genting sekalipun, sebelum 1914, semua “wilayah-wilayah tak tertebus” telah disatukan dengan negara-negara nasional berdasarkan kehendak mereka sendiri, dan sekalipun semua wilayah taklukan telah berubah menjadi negara-negara nasional yang berdaulat. Ekumene telah terbagi-bagi secara politis jadi unit-unit lokal yang saling independen, dan, karenyanya, terseret ke dalam sebuah konflik yang tak terselesaikan antara tuntutan-tuntutan politik manusia dan kebutuhan-kebutuhan ekonomi mereka.

Negara nasioanal lokal adalah sebuah ideal politik bagi masyarakat Barat dan masyarakat-masyarakat lain yang terus bertambah jumlahnya yang mengadopsi lembaga-lembaga [politik] Barat. Kekuatan nasionalisme orang-orang Barat ditunjukkan oleh perlawanan mereka yang berhasil terhadap upaya-upaya suksesif Charles V, Philip II, Louis XIV, dan Napoleon untuk menyatukan Wilayah Kristen Ortodoks Timur secara politis sebagaimana pada masa Theodosius I dan Charlemagne. Namun, ideal poliitik negara nasional menjadi sebuah anakronisme ekonomi sejak timbulnya ekumene baru melalui penguasaan teknik navigasi oleh orang-orang Cina, Portugal, dan Spanyol pada abah ke-15. Univikasi ekonomi ekumene, yang telah dimulai oleh orang-orang Portugal dan Spanyol, didorong selangkah lebih maju oleh Revolusi Industri di Inggris.

Sampai saat itu, kebanyakan barang yang diperjualbelikan dalam perdagangan dunia adalah barang-barang mewah. Namun, akibat Revolusi Industri, perdagangan tersebut semakin merncakup barang-barang kebutuhan hidup. Para pengusaha Inggris yang membidani lahirnya Revolusi Industri memperoleh keuntungan dari investasi mereka dalam pembuatan mesin-mesin dengan melakukan “lokakarya dunia” di Inggris. Sejak saat itu, Inggris secara gencar mengekspor produk-produk manufaktur, dan mengimpor bahan-bahan mentah dan makhluk, dalam skala global. Perdagangan dunia ini melanggengkan ketegangan-ketegangan global ketika, pada 1871, Jerman, Amerika Serikat, dan negara-negara lain mencabut mobnopoli Inggris dengan mengikuti langkah-langkah para pengusahanya.

Awal unifikasi ekonomi ekumene ditandai dengan penemuan kapal layar Portugal yang dapat berlayar dalam jangka waktu lama. Penyempurnaan-penyempurnaan kapal layar ini dirayakan dengan pembentukan Uni Telegraf Internasional (International Telegraphic Union) pada 1864 dan Uni Pos Internasional (International Postal Union) pada 1875. Pada saat itu, umat manusia bersandar pada unifikasi ekonomi global, tetapi tetap enggan, dalam bidang politik, untuk meninggalkan pertikaian antarnegara. Keadaan yang canggung ini terus berlangsung sekalipun menimbulkan malapetaka yang disebabkannya sejak 1914. Dislokasi masalah-masalah kemanusiaan sebagai konsekuensinya menjadi luar biasa ekstrim sehingga kini mengancam kelumpuhan seluruh umat manusia kecuali minoritas petani dan peternak yang masih bertahan hidup dengan apa yang mereka hasilkan atau kumpulkan untuk mereka sendiri, tanpa terpengaruh oleh pasar dunia.

Tubuh, tinggi, dan kecepatan kapal layar Barat modern disempurnakan selama setengah abad (1840-90), ketika ia kalah bersaing dengan kapal uap, pesaingnya yang telah diciptakan oleh Revolusi Industri. Zaman ini juga merupakan zaman terakhir bagi musik “klasik” Barat, yang mencapai puncak kejayaannya pada pergantian abahd ke-18 menuju abad ke-19 dalam karya-karya Beethoven. Gaya lukisan Barat modern mencapai puncaknya ketika, setelah 1600, keunggulannya diambil alih dari orang-orang Italia dan Fleming oleh orang-orang Spanyol dan Belanda. Kapal layar “klasik” dicampakkan setelah Watt secara pasti menyempurnakan kapal uap.

Gaya lukisan naturalis digusur oleh penemuan fotografi. Selama 43 tahun (1871-1913) yang kelihatannya tenang dan makmur, para pelukis dan komposer secara sengaja memecahkan sebuah tradisi panjang dan mencari-cari bentuk-bentuk ekspresi yang sangat berbeda. Jelaslah bahwa mereka merasakan gaya seni “klasik” mereka telah berakhir, seperti penambangan batu bara yang ketinggalan zaman atau kedinastian Cina yang usang. Pada pada akhir abahd ke-20, tampak bahwa para seniman Barat mulai menyadari, selama berlangsungnya iklim yang tenang, badai yang menghantam generasi Barat mendatang. Seniman-seniman itu memiliki antene psikis yang sensitif terhadap, dan dapat merasakan, peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.

Jika kita coba secara seimbang mengulas balik pengalaman-pengalaman dan perilaku-perilaku umat manusia pada periode 1871-1913, hal pertama yang harus dicatat adalah banyaknya penemuan dan penciptaan yang luar biasa. Orang-orang Barat telah membuat temuan-temuan dan ciptaan-ciptaan berharga selama tiga abad sebelumnya, dan pada awal abad ini mereka telah melampaui prestasi-prestasi temuan dan ciptaan sebelumnya. Freud (1856-1939) menjelaskan perilaku bawah sadar dalam psikis manusia. Einstein (1879-1955) membuktikan bahwa fisika Newton memiliki keterbatasan dalam menjelaskan realitas. Einstein melebarkan sayap fisika dengan mengakui bahwa proses pengamatan adalah proses interaksi. Pengamat adalah bagian dari kosmos fisik yang geraknya dalam ruang dan waktu sedang diamatinya.

Penemuan keberadaan dan sifat elektron oleh J.J. Thomson pada 1897 menunjukkan bahwa kata “atom” adalah sebuah nama yang salah. Sebuah atom terbukti bukanlah sebuah entitas yang tak terbagi; ia adalah miniature tata surya. Strukturnya ditemukan oleh Ernest Rutherford (1871-1937) pada 1904. Dia mengidentifikasi nucleus atom, dan dia berhasil memecahnya pada 1919. Komposisi nucleus itu sendiri diungkap oleh penemuan James Chadwick tentang keberadaan dan sifat netron pada 1932. Temuan-temuan dalam fisika ini telah mendorong para fisikawan, atas inisiatif Niels Bohr (1885-1962), untuk mengakui sebuah kebenaran epistimologis. Sebuah peristiwa yang identik dapat dialami dengan dua cara yang bukan hanya berbeda tatapi tidak saling kompitabel dan tidak dapat dialami secara simultan. Namun, kedua cara ini sahih dan sangat diperlukan.

Karet dipakai untuk membuat bola bagi olahraga-olahraga keras di Meso-Amerika sebelum Cortes mendarat di sana. Minyak tanah menjadi sebuah bahan rahasia bagi senjatam mematikan Kekaisaran Romawi Timur, yaitu “api Yunani”. Periode 1871-1913 menyaksikan dua bahan mentah ini yang digunakan, secara berurutan, untuk membuat ban dan sebagai bahan bakar mesin-mesin pembakaran-dalam. Hal ini memungkinkan pembuatan mobil dan pesawat terbang yang dapat menempuh perjalanan panjang, dan temuan aviasi ini membuat manusia jadi makhluk di biosfir yang mampu terbang selain serangga, burung, dan kelelawar.

Manusia pun telah membuat sebuah kemajuan yang dramatis dalam eksplorasi geografis dan historis. Orang-orang Barat telah sampai di kedua kutub bumi dan juga mendarat di satelit bumi, bulan. Mereka menggali delapan Troy yang ditemukan tumpang tindih, selain menemukan reruntuhan peradaban-peradaban Minoan, Mycenaean, dan Indus, dan mendapati bahwa bahasa yang dipakai dalam tulisan “Linier –B” adalah bahasa Yunani.

Temuan dan ciptaan terpenting yang dibuat selama seratus tahun terakhir adalah dalam ilmu kedokteran dan bedah. Kemajuan penggunaan obat bius (ditemukan pada 1840-an) memungkinkan para ahli bedah melakukan operasi-operasi yang sebelumnya mustahil, dan ini berpouncak pada transplantasi organ. Nyamuk diketahui sebagai pembawa demam kuning pada 1881 dan malaria pada 1897-9, dan temuan-temuan ini memungkinkan pencegahan terhadap kedua penyakit tersebut. DDT (dichloro-diphenyl-trichloreothane) ditemukan pada 1942 untuk membunuh serangga, yang merupakan pesaing pokok non-manusia bagi manusia untuk menguasai biosfir.

Temuan-temuan dan ciptaan-ciptaan Barat ini merupakan buah yang hebat dari semangat, imajinasi, dan akal manusia, tetapi pengaruh-pengaruh temuan dan ciptaan tersebut pada kehidupan manusia bersifat ambivalen. Misalnya, teknik aviasi Barat yang baru, jika digabungkan dengan temuan bahan peledak Cina yang lebih dahulu, memungkinkan negara-negara yang suka berperang menjatuhkan bom-bom dari udara. Senjata pemusnah ini dapat menyapu bersih baik tentara musuh maupun penduduk sipil yang telah, dengan perjuangasn keras sejak berakhirnya abad ke-17, dibedakan demi melindungi penduduk sipil dalam keadaan perang.

Kurang dari setengah abad setelah ditemukannya elektron pada 1897, dan hanya tiga belas tahun setelah ditemukannya netron pada 1932, dua bom berkekuatan amat besar dengan pemecahan nucleus-nukleus dan atom-atomnya dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Mobil memberi manusia mobilitas supertinggi yang tidak pernah dicapai sebelumnya, dan ini berakibat pada perluasan kota ke wilayah-wilayah pedesaan dan pada kemacetan jalan. Pada 2009, asap buangan mobil dan pesawat terbang mengancam rusaknya atmosfir bumi sehingga tidak dapat dihirup oleh manusia.

Penurunan angka kematian dan bertambah panjangnya usia harapan hidup berkat kemajuan ilmu kedokteran dan bedah yang luar biasa adalah berita gembira yang ditanggapi secara tak menyenangkan. Penurunan angka kematian, yang lebih cepat daripada penurunan angka kelahiran, menyebabkabn pertambahan penduduk dunia semakin tinggi. Kecanggihan medis untuk memperpanjang usia manusia menimbulkan pro dan kontra. Pertanyaan apakan perpanjangan ini akan atau tidak akan menciptakan kejahatan dalam kasus ini atau itu menimbulkan persoalan-persoalan moral yang sebelumnya tak terbayangkan oleh para dokter, pasien, keluarga, dan tenam-teman pasien.

Sebelum meletusnya Revolusi Industri, dua peran pokok pemerintah adalah menegakkan dan menjaga hukum dan ketertiban dalam negeri, dan memerangi pemerintah-pemerintah dan negara-negara asing. Kondisi kerja dan kehidupan sebuah kelas sosial baru, yakni kaum buruh pabrik mekanis, yang tidak manusiawi akibat Revolusi Industri memaksa pemerintah memainkan peran ketiganya: menjamin kesejahteraan sosial rakyatnya. Undang-undang pertama tentang perlindungan buruh pabrik dibuat di Inggris pada 1802. Di Jerman antara 1883 dan 1889, Bismarck memperluas peran sosial pemerintah dengan membuat undang-undang yang menjamin pemberian asuransi kepada orang-orang sakit, para korban kecelakaan, manula (manusia lanjut usia), dan orang-orang lemah lainnya. Standar-standar kemanusiaan Jerman yang baru ini ditiru oleh Inggris sebelum pecahnya Perang Dunia I.

Pengakuan bahwa pemerintah berkewajiban mencukupi kesejahteraan rakyatnya adalah sebuah kemajuan etis yang baik dalam bidang politik. Sekarang, sebagian besar negara industri menjadi sebuah organisasi kesejahteraan, selain organisasi penegak hukum dan penggelar perang. Akan tetapi, negara kesejahteraan (welfare state) masih menjadi sebuah isu kontroversial. Penyediaan layanan-layanan publik bagi mayoritas penduduk miskin menuntut pemungutan pajak pendapatan tambahan yang tinggi terhadap minoritas penduduk yang kaya. Oleh karena itu, penentangan kelompok minoritas terhadap undang-undang tentang jaminan kesejahteraan rakyat bukannya tidak membawa kepentingan tertentu, sehingga keberatan mereka yang bersifat etis dan psikologis itu mengundang kecurigaan.

Keberatan mereka adalah bahwa negara kesejahteraan akan melemahkan semangat para penerima layanan publik tersebut, dan pada akhir abad ke-20 pengalaman menunjukkan bahwa keberatan yang kedengarannya bagus itu sebagian dipicu oleh berbagai peristiwa. Di sejumlah negara yang telah begitu jauh memberikan layanan publik bagi kesejahteraan rakyat, pemahaman bahwa manusia itu sendirilah yang bertanggung jawab untuk mencukupi hidupnya melemah, standar kecakapan kerja menurun, dan –yang lebih membingungkan—kenaikan standar hidup diimbangi dengan menurunnya norma kejujuran. Selain itu, tumbuhlah sebuah minoritas miskin residual –sebagian adalah imigran sementara atau permanen dari negara-negara miskin—dengan kehidupan, terutama perumaham mereka, yang sangat buruk.

Di negara-negara yang masih didominasi oleh sektor ekonomi swasta dan yang pemerintahannya “demokratis” (yakni parlementer), undang-undang tentang kesejahteraan rakyat dengan dukungan serikat-serikat kerja memungkinkan mayoritas pekerja industri mengubah perimbangan daya tawar antara mereka dan kelas menengah. Para pekerja di kantor-kantor layanan publik yang bertugas memenuhi kebutuhan-kebutuhan material harian rakyat sekarang memiliki daya tawar yang sangat kuat. Para pekerja yang dimaksud adalah buruh pelabuhan, penambang, dan buruh di instansi-instansi penyedia listrik dan air dan pembuangan sampah. Sementara itu,daya tawar guru melemah, sebab guru tidak dapat segera melumpuhkan kehidupan masyarakat dengan mogok kerja, meskipun dalam jangka panjang peran sosial mereka setidaknya sama besar dengan peran buruh.

Para pedagang dengan daya tawar yang tinggi menjadi penguasa tertinggi dalam rezim ekonomi swasta. Mereka menentang gagasan untuk membatasi kebebasan penawaran kolektif. Keinginan mereka untuk mengeksploitasi daya tawar mereka yang semakin tinggi demi keuntungan mereka sendiri adalah alamiah, dan ini juga selaras dengan filosofi laissez-faire, yang pertama-tama diteriakkan oleh para pengusaha kelas menengah tetapi merugikan buruh industri. Sekarang, jelaslah bahwa mekanisme kerja secara progresif di seluruh dunia membuat kehidupan ini tidak toleran terhadap siapa saja, jika mekanisasi itu tidak diimbangi dengan peningkatan intervensi pemerintah secara progresif juga (inilah sosialisme, sebuah ideologi yang diimani kaum buruh industri secara lancing).

Jika serikat-serikat kerja yang memiliki posisi tawar yang strategis menegaskan kekuatan mereka di negara-negara yang berpemerintahan parlementer, di Uni Sovyet buruh industri dan buruh tani diatur oleh pemerintahan yang otoriter. Pemerintah Uni Sovyet menganut ideologi Marx tetapi tidak mengubah praktik-praktik pendahulunya, Tsar. Lenin (Vladimir Ilyich Ulianov, 1870-1924), salah seorang tokoh besar abad ke-19, mengguling rezim yang dibangun di atas kekuatan tentara dengan mendirikan rezim yang lebih kuat tetapi sama karakternya. Lenin dan para penerusnya di Kremlin juga mengikuti langkah Peter Agung dalam memodernisasi teknologi Rusia secepat mungkin.

Revolusi Rusia pada 1917 dimotori oleh minoritas intelligentsia Marxis sayap (“mayoritarian”) Bolshevik dan dibantu oleh kaum petani. Kaum petani Rusia ingin memiliki tanah, sedangkan kaum petani Prancis telah memperolehnya selama Revolusi Prancis pada 1798-97. Akan tetapi, di Rusia Komunis tanah dengan cepat dinasionalisasi dan digarap dalam unit-unit yang berskala besar. Tujuan kebijakan ini sama dengan tujuan dibuatnya Enclosure Acts di Inggris, yaitu untuk meningkatkan produktivitas. Namun, di Uni Sovyet sampai sebelum berhembusnya glasnost dan perestroika yang dihembuskan pemimpin terakhirnya, Mikail Gorbachev, kebijakan tersebut tetap mendapatkan perlawanan pasif dari kaum petani.

Dengan cara otoriter, Uni Sovyet, sebagaimana Inggris pada waktu itu, adalah sebuah negara kesejahteraan, yang berkebalikan dengan rezim Tzar sebelumnya di Rusia. Misalnya, pemberantasan buta huuruf telah dilakukan secara besar-besaran, dan kekayaan telah didistribusikan secara lebih merata. Akan tetapi, semua negara kesejahteraan, apapun warna ideologis mereka, tetap menjadi negara-negara penggelar perang. Dua perang dunia, 1914-18 dan 1939-45, melebihi perang-perang saudara di Cina pada 1850-73 dalam hal jumlah korban dan besarnya kerusakan yang ditimbulkan. Semua perang itu jahat, termasuk perang-perang singkat Bismarckian dengan tujuan-tujuan yang terbatas. Kejahatan dua perang dunia pada abad ke-20 diperburuk oleh “genosida” (pemusnahan penduduk sipil). Dalam Perang Dunia I, pasukan Turki melakukan genosida terhadap penduduk Armenia, sedangkan dalam Perang Dunia II tentara Jerman melakukannya terhadap kaum Yahudi.

Insiden-insiden dalam Perang Dunia itu yang memperlihatkan kejahatan dan kedunguan manusia dan masih bisa dibaca oleh anak cucu kita secara jelas adalah perlawanan rakyat Turki pada 1919-22 terhadap para pemenang Perang Dunia I, dan perlawanan rakyat Inggris pada 1940-1 terhadap tentara Jerman yang saat itu menjadi pemenang untuk sementara waktu. Rakyat kedua bangsa ini memiliki semangat untuk melawan, meskipun mereka menghadapi kebengisan dan tidak melihat kemungkinan untuk mengelak dari kekalahan dan kehancuran. Mereka beruntung memiliki pemimpin-pemimpin –Kamal Ataturk dan Winston Churchill—yang membangkitkan semangat bersama untuk mengatasi kesulitan pada saat yang genting itu.

Ataturk memimpin rakyat Turki bukan hanya untuk memenangkan perang demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka, tetapi juga untuk melakukan Westernisasi yang revolusioner guna melanjutkan apa yang telah dirintis oleh Mahmud II. Ataturk, seperti Lenin, adalah seorang intelligentsia yang menumbangkan rezim yang membentuk kelas ini di negaranya. Ataturk juga bertindak seperti Lenin dalam menggunakan kekerasan untuk menuntaskan pekerjaan penting. Mahatma Gandhio (1869-1948) juga seorang intelligentsia yang melakukan revolusi politik. Namun strateginya adalah non-kekerasan dan non-kerja sama, dan tujuan ekonominya adalah, bukan mengantarkan India ke dunia industri dengan segenap peralatan mekaniknya, melainkan memotong ikatan-ikatan ekonomi India dari dunia industry tersebut.

Rakyat India tidak memenuhi seruan Gandhi untuk kembali ke metode-metode produksi industr pramekanis, dan akhirnya mereka gagal mewujudkan ideal dan praktik Gandhi untuk menghindari penggunaan kekerasan. Ketika, pada 1947, Inggris pergi dari India dan Kerajaan India-Inggris dibagi menjadi Uni India dan Pakistan, orang-orang Hindu dan Muslim saling melakukan genosida sembari saling memisahkan diri. Pada akhirnya, inilah biaya penghapusan imperialisme Barat di anak benua India yang harus dibayar mahal.

Lantas, apa dampak imperialisme Barat, yang merupakan salah satu ciri menonjol dalam sejarah ekumene?

Penguasa-penguasa Barat yang menjajah rakyat non-Barat bersalah atas berbagai perilaku kejam mereka –misalnya, pembunuhan rakyat India oleh pasukan Inggris di Amritsar pada 1919, dan luka dan cacat yang menimpa orang-orang yang masih bisa bertahan hidup. Akan tetapi, penghapusan kerajaan-kerajaan kolonial juga disertai dengan perilaku kejam terhadap rakyat yang diberi kemerdekaan. Di anak benua India, pembantaian orang-orang Muslim dan Hindu secara timbal balik pada 1947 kemudian disusul di Bangladesh dengan pembantaian serupa antara kaum Muslim yang berbahasa Urdu dan yang berbahasa Bengali. Sebelum tentara India menyerang tentara Pakistan di Bangladesh, telah ada rasa permusuhan di perbatasan barat antara dua negara-penerus Kerajaan India-Inggris itu. Kevakuman akibat dihapusnya kerajaan-kerajaan kolonial Eropa Barat membuka jalan pecahnya perang-perang saudara dan aksi-aksi kekerasan terhadap penduduk sipil Vietnam, Sudan Selatan, Burundi, Kongo, dan Nigeria. Meledaknya aksi kekerasan ini adalah biaya pembebasan politik yang harus dibayar. Kerajaan-kerajaan kolonial ini dipaksakan kepada penduduk taklukan demi tujuan-tujuan pendiri kerajaan itu sendiri. Namun, pembentukan kerajaan-kerajaan kolonial ini mempunyai sebuah dampak insidental, yaitu memberi penduduk taklukan perdamaian domestik selama rezim-rezim asing itu masih berkuasa.

Pada akhir abad ke-20 wilayah-wilayah non-Eropa di bawah kekuasaan negara-negara Eropa Barat telah berkurang sehingga tinggal beberapa semenanjung dan pulau, kecuali wilayah-wilayah taklukan Portugal di daratan utama Afrika. Akan tetapi, di Afrika Selatan, orang-orang asli Eropa yang independen secara politis masih menguasai mayoritas penduduk Afrika, dan di Palestina rumah-rumah dan harta benda orang-orang pribumi Arab Palestina diambilalih oleh warga Israel imigran. Selain itu, di sejumlah negara Afrika, kekuasaan Eropa Barat telah digantikan oleh dominasi sekelompok penduduk lokal Afrika atas tetangga-tetangga mereka yang lemah. Cengkraman bekas Kekaisaran Rusia dan Cina atas penduduk Asia non-Rusia dan non-Cina memperkenalkan rezim-rezim komunis kepada mereka. Kerajaan-kerajaan kolonial darat milik dua negara kontinental ini hidup lebih lama daripada kerajaan-kerajaan kolonial transmarine milik negara-negara Eropa Barat yang seumur jagung.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa secara politis ekumene terbagai menjadi negara-negara lokal yang berdaulat, sedangkan di bidang teknologi dan ekonomi ekumene menjadi sebuah satu-kesatuan global. Ketidaksesuaian di bidang politik pada satu pihak dan di bidang teknologi dan ekoniomi pada pihak lain ini adalah akar penderitaan umat manusia. Maka, sebenarnya sekarang ini dibutuhkan suatu bentuk pemerintahan global untuk menjaga perdamaian antara sebuah komunitas lokal dan komunitas lainnya, dan untuk membangun kembali keseimbangan antara manusia dan bagian dari biosfir lainnya. Sebab, sekarang ini keseimbangan tersebut telah dirusak oleh semakin besarnya kekuatan material manusia akibat dari Revolusi Industri.

Kebesaran dan impersonalitas peristiwa-peristiwa yang berskala global itu menakutkan. Generasi yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan kelangsungan hidup umat manusia justru mengancamnya dengan memecah belah keutuhan kehidupan dunia jadi semakin banyak bagian yang lebih kecil. Bertambah banyaknya negara lokal berdaulat seiring dengan bertambah banyaknya “disiplin” akademis, dan halm ini membuat dunia bisnis tidak bisa diatur dan informasi tidak bisa dimengerti. Kekacauan ini tidak sedang diatasi, tetapi justru dibiarkan menggurita sampai pada tingkat yang sama sekali tidak bisa dikendalikan.

Umat manusia sedang mengalami krisis yang sama buruknya dengan dua perang dunia terdahulu. Keadaan ini sangat membingungkan. Senyatanya, manusia masih mempunyai harapan untuk bertahan hidup di boisfir ini selama 2.000 juta tahun mendatang, jika perilakunya tidak terlalu cepat membuat biosfir ini segera tak bisa ditinggali lagi. Kini, manusia mempunyai kekuatan material untuk membuat biosfir ini segera tak bisa ditinggali lagi. Karenyanya, mungkin orang-orang yang masih bisa menghir upudara segar sebentar lagi akan dilibas oleh bencana buatan manusia yang menghancurkan biosfir dan manusia beserta seluruh bentuk kehidupan lainnya.

Masa depan biosfir ini tidak diketahui karena ia belum datang. Potensi-potensi biosfir ini sesungguhnya tak terbatas. Maka, masa depan tidak dapat diprediksi dengan menghitung-hitung masa lampau. Apa yang telah terjadi kemarin niscaya dapat terulang kembali, jika kondisi-kondisinya tetap sama. Akan tetapi, masa lampau tidak mesti terulang; keterulangan ini hanyalah salah satu dari kemungkinan-kemungkinannya yang tak diketahui jumlahnya. Sebagian kemungkinan tidak terlihat karena tidak memiliki preseden, dan memang sebelumnya tidak ada preseden yang mengindikasikan betapa besarnya kekuasaan manusia atas biosfir selama dua abad lebih (sejak 1763). Dalam situasi yang membingungkan ini, hanya ada satu prediksi yang pasti benar. Manusia, anak dari bumi sang ibu pertiwi, tidak akan membunuh ibunya sendiri jika ia peduli kepadanya. Dan, hukumaan atas pembunuhan ini, jika benar-benar terjadi, adalah pembinasaan diri manusia itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Adorno, T.W. 1950. The Authoritarian Personality. New York: W.W. Norton

Anderson, Benedict R. O’G. 1970. “The Idea of Power in Javanese Culture”. In Claire Holt (ed.), Culture and Politics in Indonesia. Ithaca, New York: Cornell University Press.

Anderson, B. 1983. Imagined Communities. London: Verso.

Apter, David E. 1963. “Political Religion in the New Nations” . In Clifford Geertz (ed.) Old Societies and New States. New York: The Free Press.

Apter, David. E. 1985. Pengantar Analisa Politik Jakarta: LP3ES.

Asad, Talal. 1983. “Anthropological Conceptions of Religion: Reflections on Geertz”. In Man No. 2, 1983.

Ayoob, M. 1996. “State making, state breaking, and state failure. In Crocker and Hampson (eds) Manging Global Chaos: Sources of and Responses to International Conflict. Washington, DC: Creative Associates International Inc.

Azar, E. 1979. “Peace amidst development”. International Interactions, 6 (2): 203-40

Azar, E. 1986. Protracted international conflict: ten propositions. In Azar and Burton, International Conflict Resolution: Theory and Practice. Sussex: Weatsheaf.

Azar, E. 1990. The Management of Protracted Social Conflict: Theory and Cases. Aldershot: Dartmouth.

Azar, E. 1991. “The analysis and management of protracted social conflict. In Volkan, Montville and Julius (eds). The Psychodynamics of International Relationship, vol. II. Lexington, MA: D.C. Heath.

Azar, E. and Cohen, S. 1981. “The transition from war to peace between Israel and Egypt. Journal of Conflict Resolution, 7 (4): 317-36.

Azar, E., Jureidini, P. and McLauren, R. 1978. “Protracted social conflict: theory and prasctice in the Middle East”. Journal of Palestine Studies 8 (1): 41-60.

Bendix, Reinhard, 1980. King or People: Power and the Mandate To Rule. Berkeley: University of California Press.

Berger, Peter L. 1986. The Capitalist Revolution. New York: Basic Books.

Binford, L.R. 1968. “Post Pleistocene adaptation”. In L.R. & S. Binford (ed.), New Perspectives in Archaelogy. Chicago: Aldine Publishing Co.

Bloomfield, L. and Leiss, A. 1969. Controlling Small Wars: A Strategy for the 1970s. New York: Knopf.

Bloomfield, L. and Moulton, A. 1997. Managing International Conflict: From Theory to Policy. New York: St Martin’s Press.

Bogna, R. & S.J. Taylor. 1975. Introduction to Qualitative Research Methods. New York: John Wiley.

Boulding, K. 1989. Three Faces of Power. Newbury Park, C.A.: Sage.

Brewer, Anthony. 1984. A Guide to Marx’s Capital. Cambridge, Eng; Melbourne: Cambridge U.P.

Brown, M. (ed). 1993. Ethnic Conflict and International Security. Princeton University Press.

Brown, M. (ed). 1996. The International Dimensions of Internal Conflict. Cambridge,MA: MIT Press.

Bull, H. and Waston, A. 1984. The Expansion of International Society. Oxford: Clarendon Press.

Buzan, B. 1991. People States and Fear: An Agenda for International security Studies in the Post-Cold War Era (2nd edn) Boulder, CO: Lynne Rienner.

Chazan, N., Mortimer, R. Ravenhill, J. and Rothchild, D. 1992. Politics and Society in Contemporary Africa. Boulder, CO: Lynne Rienner.

Chubin, S. 1993. “The South and the New World Order. Washington Quarterly, 16 (4): 87-107.

Clark, I. 1997. Globalization and Fragmentation: International Relations in the Twentieth Century. Oxford: Oxford University Press.

Curle, A. 1971. Making Peace. London: Tavistock.

Cohen, Jean L. & Andrew Areto. 1994. Civil Society and Political Theory. Cambridge, Massachussets: The MIT Press.

Conflict Management Group. 1993. Methods and Strategies in Conflict Prevention: Report of an Expert Consultation in Connection with the Activities of the CSCE High Commissioner on National Minoroties. Cambridge,MA: Conflict Management Group.

Connolly, William E. 1967. Political Science and Ideology. New York: Antherton Press.

Creative Associates. 1997. Preventing and Mitigating Violent Conflicts. Washington, DC: Creative Associates International, Inc.

Dahrendorf, Ralf. 1994. “Class and Calss Conflict in Industrial Society”. In David B. Grusky (ed.), Social Statification: Class, Race, and Gender in Sociological Perspective. Boulder-San Francisco-Oxford: Westview Press.

Darby, J. 1998. Scorpions in a Bottle: Conflicting Cultures in Northern Ireland. London: Minoruty Rights Publications.

Davies, J., Harff, B. and Speca, A. 1997. Dynamic Data for Conflict early Warning: Synergy in Early Warning. Toronto: Prevention/Early Warning Unit, Center for International and Security Studies.

Davies, N. 1996. Europe: A History. Oxford: Oxford University Press.

de Nevers, R. 1993. “Democratization and Ethnic conflict. In Brown (ed): 61-78.

Deutsch, M. 1973. The Resolution on Conflict: Constructive and Destructive Precesses. New Haven: Yale University Press.

Diamond, Larry & Marc F. Plattner. 1994. Nationalism, Ethnic Conflict, and Democracy. The Johns Hopkins University Press.

Esty, D. et al. 1995. State Failure Task Force Final Report. Vol. 1: Science Applications International Corporation Inc.

Fisher, Ronald J. 1997. Interactive Conflict Resolution. Syracuse, New York: Syracuse University Press.

Francis, D. 1994. “Power and Conflict Resolution”. International Alert, Conflict Resolution Training in the North Caucasus Georgia and the South of Russia. London: International Alert, 11-20 April 1994.

Galtung, J. 1969. “Conflict as a way of life”. In Freeman (ed.), Progress in Mental Health. London: Churchill.

Galtung, J. 1996. Peace by Peaceful Means: Peace and Conflict Development and Civilization. London: Sage.

Garstin, L.H. 1954. Each Age Is A Dream: A Study in Ideology. New York: Old Oregon.

Geertz, Clifford. 1965. “Ideology as a Cultural System”. In David After (ed.), Ideology and Discontent. New York: The Free Press.

Geertz, Clifford. 1992. Tafsir Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Glazer, N. 1983. Ethnic Dilemmas 1964-1982. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Goodenough, W.H. 1957. “Cultural Anthropology and Linguistics”. In P. Garvin (ed.), Report of the Seventh Annual Round Table Meeting on Linguistics and Language Study. Monograph Series on Language and Linguistics, 9. Washington, D.C.: Georgetown University.

Goodenough, W.H. 1961. “Cultural Evolution”. In Daedalus 90.

Gurr, T. 1993. Minorities at Risk: A Global View of Ethnopolitical Conflict. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Gurr, T. 1998. ”Assessing risks of future ethnorebellions”. In Gurr (ed), Peoples Versus States. Washington: United States Institute of Peace.

Gurr, T. and Harff, B. 1994. Ethnic Conflict in World Politics. Boulder, CO: Westview Press.

Gurr, T. and Harff, B. 1996. Early Warning of Communal Conflicts and Genocide: Linking Empirical Research to International Responses. Tokyo: United Nations University.

Haryono, A. 1986. Kamus Penemu. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.

Helman, G. and Ratner, S. 1992-3. “Saving failed states”. Foreign Policy, 89 (Winter): 3-30.

Holsti, K. 1996. The State, War, and the State of War. Cambridge: Cambridge University Press.

Horowitz, D. 1985. Ethnic Groups in Cinflict. Berkeley, CA: University of California Press.

Horowitz, D. 1991. “Making moderation pay: the comparative politics of ethnic conflicts management. In Mintville (ed), Cinflict and Peacemaking in Multiethnic societies. New York: Lexington Books.

Huntington, S. 1997. The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York: Simon and Schuster.

Ilchman, Warren F & Norman Thomas Uphoff. 1969. The Political Economy of Change. Berkeley: University of California Press.

Jackson, R. 1990. Quasi-states, Sovereignty, international Relations and the Third World. Cambridge: Cambridge University Press.

Jongman, A. and Schmid, A. 1998. World Conflict and Human Right Map. Leiden: Leiden University.

Keesing, Roger M. 1981a. ”Theories of Culture”. In Ronald W. Casson (ed.), Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives. New York: Macmillan Publishing Co.,Inc.

Keesing, Roger M. 1981b. Cultural Anthropology: A Contemporary Perspective I, Secon Edition. CBS College Publishing.

Kennedy, P. 1993. Preparing for the Twenty First Century. London: Harper Collins.

Kerma, C. 1974. Creative Tension: The Life and Thought of Kenneth Boulding. Ann Arbor: Michigan.

Kim, S. and Russett, B. 1996. “The new politics of voting alignments in the United Nation General Assembly. International Organization, 50: 629-52.

Kriesberg L. 1982. Social Conflicts. Englewood Cliffs,N.J.: Prentice-Hall

Leach, Edmund. 1986. Social Anthropology. Glasgow: Fontana Press.

Lederach, J. 1995. Preparing for Peace: Conflict Transformation Across Culture. New York: Syracuse University Press.

Leech, Geoffrey, 1981. “Colour and Kinship: Two Case Study in Universal Semantics”. In Ronald W. Casson (ed.), Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives. New York: Macmillan Publishing Co., Inc.

Lichbach, M. 1989. “Än evaluation of ‘does economic inequality breed conflict?’ studies”. World Politics, 41 (4): 431-71.

Lijphart, A. 1995. “Self-determination versus pre-determination of ethnic minorities in power-sharing system”. In Kymlicka (ed), The Rights of Minority Cultures. Oxpord: Oxpord University Press.

Mannheim, Karl. 1979 (1936). Ideology & Utopia. London & Henley: Routledge and Kegal Paul

Mansfield, E. and Snyder, J. 1995. “Democratization and the danger of war. International Security, 20 (1): 5-38.

McGarry, J. and O’Leary, B. (eds) 1993. The Politics of Ethnic Conflict RegulationI. London: Routledge.

Merkl, Peter H. 1967. Continuity and Change. New York: Harper and Row.

Miall, Hugh; Oliver Ramsbotham; & Tom Woodhouse. 1999. Contemporary Conflict Resolution. Cambridge: Polity Press.

Mitchell, C. 1981. The Structure of International Conflict. London: Macmillan.

Montesquieu. 1992. Surat-surat Dari Persia (Terjemahan dari bahasa Prancis oleh Okke Zaimar). Jakarta: Dian Rakyat.

Moore, Wilbert E. 1961. “The Social Framework of Economic Development”. In R. Braibanti & J.J. Spengler (ed.), Tradition, Values, and Socio-Economic Development. Durham, Nort Carolina: Duke University Press.

Munck, R. 1986. The Difficult Dialogue: Marxism and Nationalism. London: Zed Books.

Nye, J. 1993. Understanding International Conflicts; An Introduction to Theory and History. New York: Harper Collins.

Palombara, Joseph La. 1966. “Decline of Ideology: A Dissent and an Interpretation”. In American Political Science Review LX, 1, March 1966.

Pennock, J. Roland. 1979. Demicratic Political Theory. Princeton: Princeton University Press.

Posen, B. P. 1993. “The security dilemma and ethnic conflict. In Brown (ed).: 103-24.

Pye, Lucian W. 1965. “Introduction: Political Culture and Political Development”. In Lucian W. Pye and Siney Verba (ed.), Political Culture and Political Development. Princeton: Princeton University Press.

Rogers, P. and Raamsbotham,O. 1999. “Peace research — past and future. Political Studies (forthcoming).

Rejai, Mostafe. 1971. “Political Ideology: Theoritical and Comparative Perspectives”. In Mostafe Rejai (ed.), Decline of Ideology? Chicago: Aldine-Atherton.

Ryan,S. 1990. Ethnic Conflict and International Relations. Brookfield,V.T.: Dartmouth.

Sartori, Giovanni. 1969. “Politics, Ideology, and Belief Sysytem”. In American Political Science Review 3, No.2. June 1969.

Schwartz, T. 1978. “Where is the Culture? Personality as the Distributive Locus of Culture”. In G.D. Spindler (ed.), The Making of Psychological Anthreopology. Berkeley: University of California Press.

Schmid, A. 1997. “Ëarly Warning of Violent Conflict”. In P. Schmid (ed), Violent Crime and Conflict. Milan: ISPAC.

Sherman, F. 1987. Pathway to Peace: The United Nations and the Road to Nowhere. Pennsylvania: Pennsylvania State University.

Sisk, T. 1996. Power Sharing and International Mediation in Ethnic Conflict. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Smith, A. 1986. The Ethnic Origins of Nations. Oxford: Blackwell.

Smith, A. 1995. Nations and Nationalism in Global Era. Cambridge: Polity Press.

Snow, D. 1996. Uncivil Wars: International Security and the New Internal Conflicts. Boulder, CO: Lynne Rienner.

Suganami, H. 1996. On the Causes of War. Oxford: Clarendon Press.

Toynbee, Arnold. 1976. Mankind and Mother Earth: A Narrative History of the Word. New York and London: Oxford University Press.

van der Merwe, H. 1999. Pursuing Justice and Peace in South Africa. London: Routledge.

Weber, Max. 1978. Economy and Society. 2 volumes. Edited by Guenther Roth and Claus Wittich. Berkeley: University of California Press.

Weidner, Edward. 1968. “Development Change and the Social Sciences: Conclusion”. In. A Gallaher, Jr. , Perspectives in Developmental Change. Lexington: University of Kentucky Press.

Zartman, W. 1997. “Toward the resolution of international conflicts. In Zartman and Rasmussen (eds), Peacemaking in International Conflict: Methods and Techniques. Washington, DC: United States Institute of Peace.

Zartman, W. (ed) 1996. Elusive Peace: Negotiating an End to Civil Wars. Washington, DC: Brookings Institution.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: