RINDU

Istriku, rinduku padamu adalah rindunya angsa akan telaga, tempat berenang dan menenggelamkan kepala sambil mata terbuka tuk melihat ikan berenang bebas kian-kemari. Pada relung-relung dasar terlalu gelap untuk dilihat, namun kuyakin di sana ada denyut yang mengakibatkan hidupnya harapan dan cinta yang tak menenggelamkan. Di telaga kutemui pelabuhan perahu cinta yang biduknya berayun-ayun pelan tidak memabukkan, dan di sana kutambatkan harapan yang tumbuh disela-sela batu hitam yang selalu basah karena diperciki riak air bening yang hijau membiru.

 

Istriku, rinduku padamu adalah rindu jam akan detaknya yang jarumnya takhenti berputar mengelilingi porosnya dan tak pernah bosan meski sedetik. Dengan teratur jam berkerja sama dengan hari dan bulan sehingga menghasilkan tahun, tapi takpernah mengeluh meski jalan yang dilaluinya hanya putaran yang itu ke itu. Sedetik sampai sehari, setahun sampai sewindu, bahkan selama rotasi bumi masih berjalan, jam masih tetap berdetak, meski hari telah larut dan seluruh makhluk telah mendengkur lelap.

 

Istriku, rinduku padamu adalah rindu pagi dengan hangatnya mentari, yang bisa menghilangkan penyakit kuning para bayi, dan para dewasapun memanfaatkan tuk menjemur tubuhnya dengan menghamparkan handuk di pasir pantai lalu telentang atau tengkurap agar kulitnya sedikit gelap. Hangatnya mentari pagi adalah hangat yang menghantarkan harumnya bunga-bunga di taman hati yang menyegarkan raga, jiwa, dan sanubari. Hangatnya mentari pagi adalah hangat yang penuh enerji.

 

Istriku, rinduku padamu adalah rindu bulan pada terangnya yang menyoroti kegelapan malam; sehingga anak-anakpun berani bermain di halaman rumah dengan riang gembira sambil bersenda-gurau disaksikan orang tuanya dari beranda. Terang bulan-penuh menyoroti bumi dengan ketenangan dan keteduhan sehingga alam memberikan kedamaian hati penduduk bumi.

 

Istriku, rinduku padamu adalah rindunya mata pada hijau daun, yang menyegarkan pandangan dan memancarkan kilauan ceria. Hijau daun yang menyerap panas mentari adalah juga menyerap nafsu angakara murka setiap makhluk yang ada di bawahnya sehingga penduduk bumi aman tenteram dan damai. Hijau daun adalah kesejukan kala bayu menggoyang dan menyisir sehingga suara bergemerisik bagai musik yang dimainkan dengan penuh perasaan, dan melenakan seluruh kepengapan jiwa.

 

Istriku, rinduku padamu adalah rindunya seorang sumafir di padang pasir pada seteguk air, yang bisa mengembalikan energi sehingga kaki bisa kembali melangkah setelah seharian penat karena dehidrasi. Air adalah kehidupan, yang tanpanya alampun bisa tanpa makna. Dengan air, bijipun jadi kecambah, lalu menjadi pohon yang menjadi pasak bumi, sehingga alam pun layak dihuni.

 

Istriku, rinduku padamu adalah rindunya Adam pada Hawa yang terpisah pada saat turun dari jannah. Rindu Adam pada belahan jiwanya bisa menggetarkan seluruh jiwa alam. Rindu Adam pada pasangannya telah diwariskan kepada seluruh turunannya. Rindu Adam adalah takdir dari Tuhan.

 

Dan, kini, istriku, aku merindukanmu…………..

 

15 Oktober 2010.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: