SATIRE (2)

Hari Sabtu dan Minggu adalah hari-hariku. Artinya, kedua hari itu tidak boleh ada yang mengganggu. Segala kegiatan pada hari itu adalah kegiatan yang sifatnya pribadi. Bahkan istri dan anakku pun tidak boleh ikut campur.

Pih, katanya Mamih hari ini mau ke Nenek. Papih mau mengantar, kan?” Anakku yang paling besar bertanya.

Kamu tahu hari ini hari apa?” Aku balik bertanya.

Hari Sabtu,” jawab anakku polos.

Artinya Papih tidak boleh ada yang mengganggu!” Suaraku sengaja ditinggikan.

Jadi Mamih pergi dengan siapa, dong?” Mata anakku memandang dengan penuh harap.

Biasanya juga Mamih pergi sendiri…”

Iya Pih, tadi subuh Mang Kalim nelepon, katanya Ibu sakit,” tiba-tiba istriku sudah ada di belakangku dan ikut bicara. “Saya bilang hari ini kita akan ke sana, sekalian dengan anak-anak.” Istriku matanya berbinar-binar optimis.

Mamih kan tahu ini adalah hari istirahatku, setelah lima hari Papih bekerja…”

Istirahat apa Pih. Kan Papih setiap Sabtu dan Minggu itu pergi bukan istirahat. Kalau istirahat itu diam di rumah, bukan malah pergi dengan teman-teman Papih.” Suara istriku tinggi.

Ya itulah cara istirahat Papih.” Jawabku enteng.

Iya, Papih enak “istirahat” dengan teman-teman Papih, sementara Mamih seminggu penuh di rumah mengurus segala keperluan anak-anak dan Papih. Apa Mamih tidak berhak minta perhatian sehari dalam seminggu dari Papih?” Istriku mulai marah.

Tapi kan Papih pun berhak refreshing dari pekerjaan kantor…”

Ya, refreshing dengan teman-teman kantor, pergi dengan teman-teman kantor pula. Apanya yang refreshing, setiap hari bertemu dengan orang itu-itu juga. Sementara ibuku sekarang sakit dan butuh perhatian dari satu-satunya anaknya, namun menantu satu-satunya tidak memperhatikannya…” Istriku mulai sembab, dan tiba-tiba pintu dibantingnya.

Kalau melihat istriku demikian, akupun jadi naik darah. Apa tidak cukup aku memperhatikan keluargaku? Segala keperluan hidup keluargaku aku cukupi. Bahkan bukan hanya sekadar cukup, ini sudah berlebihan bagi ukuran rata-rata bangsa Indonesia. Rumah besar, mobil bagus, emas dan berlian bercepuk-cepuk. Bahkan kalau istriku pergi kondangan, seluruh tubuhnya gemercingan dari suara emas yang beradu yang dipakainya, seperti toko emas berjalan. Kini tiba-tiba istriku menuntut hari privasiku. Jelas aku keberatan, meski alasannya mau menengok ibunya, yaitu mertuaku.

Ya, istriku memang anak tunggal. Dan istriku pun bukan anak orang melarat. Ayahnya adalah pengusaha ongol-ongol terbesar se-Asia Tenggara. Sementara ibunya adalah pengusaha sukses cilok yang sudah terkenal dari Sabang sampai Meroke. Hidupnya tidak pernah kesusahan. Sebaliknya, aku hanyalah anak seorang petani melarat yang nekat pergi ke kota untuk mengadu nasib. Lalu aku berhasil magang menjadi salesman ongol-ongol. Rupanya keberuntungan sedang mengikutiku, sampai pada suatu hari owner perusahaan ongol-ongol memintaku untuk memperdalam ilmu pemasaran melalui kuliah di sebuah PTS. Bea siswa diberikan oleh perusahaan.

Beres kuliah dengan gelar sarjana S1, aku ditawari bekerja di sebuah perusahaan asing. Tawaran yang sangat menarik ini tidak bisa diambil begitu saja, karena aku masih tersangkut dengan perjanjian beasiswaku, yaitu aku harus mengabdikan ilmuku dua kali lama kuliah di perusahaan pemberi beasiswa. Nah, pada saat aku mulai kerja kembali, aku bertemu dengan seorang gadis cantik. Pada saat hatiku bergetar oleh daya tarik enerji cinta yang dipantulkan matanya ke mataku, ternyata akhirnya menjadikan dua hati saling tarik menarik bagai magnet negative dan magnet positif: bersatulah dua hati dalam sebuah rumah tangga. Nah, si gadis cantik itu adalah istriku, yang ternyata anaknya pemilik perusahaan ongol-ongol, pemberi beasiswa itu.

Istrikulah yang berhasil meyakinkan orang tuanya agar aku bisa bekerja di perusahaan asing, tempatku sekarang bekerja. Meskipun istriku anak tunggal, tapi aku berhasil membawanya pergi ke kota lain, sementara perusahaan ayah-ibunya hanya diurus oleh beliau-beliau saja. Tapi karena loyalitas pelanggannya demikian tinggi, perusahaannya terus maju. Lalu, sampai pada suatu ketika, ayah mertuaku meninggal. Beberapa waktu kemudian ibu mertuaku merasa sangat kehilangan yang mengantarkan beliau kepada sakit yang berkepanjangan. Perusahaannya pun jadi terbengkalai. Atas saranku, perusahaannya dijual. Dan kini, ibu mertuaku hanya tinggal dengan para pembantunya.

Bukannya aku tidak menunjukkan rasa terima kasih kepada mertuaku yang telah menyekolahkan sampai jenjang S1 dan mengizinkan aku bekerja di perusahaan asing setelah sebelumnya anaknya pun dinikahkan kepadaku. Tidak sama sekali. Aku pun masih tetap menghormati beliau. Namun cara terima kasih dan penghormatanku bukan selalu datang kepadanya untuk menengok atau bersilaturrahim. Cara terima kasihku yaitu dengan memanjakan anaknya, yaitu istriku, dengan berbagai kemewahan. Apapun keinginan istriku akan kukabulkan, asal jangan mengganggu hari privasiku. Hanya itu keinginanku. Tidak lebih dan tidak kurang.

Kudengar istriku di kamar menangis. Bersamaan dengan itu, mobil temanku datang.

Hei! Kamu melamun saja.” Amran, temanku menyapa sambil mengagetkanku.

Tidak, aku tidak melamun. Bagaimana umpannya sudah membeli?” Tanyaku.

Sudah. Tuh ada di mobil. Ngomong-ngomong belum ada yang datang?”

Tiba-tiba HP-ku bergetar. Saat kuangkat, di seberang sana teman yang lain memberitahu bahwa mereka tidak akan mampir dulu ke rumah, tapi menunggu di jalan simpang.

Ya sudah, yu kita berangkat,” ajak Amran.

Akhirnya kami pun berangkat naik mobil Amran. Sementara di kamar istriku masih menangis. Biarkanlah, dia harus tahu bahwa meskipun aku suaminya aku masih memiliki privasi yang harus dihormati oleh seluruh keluargaku. Privasiku adalah hak pribadiku.

Mobil yang disopiri Amran membelah pagi Sabtu menuju tempat yang menjadi kesukaanku. Bukan tempat selingkuhan, karena aku adalah tipe suami yang setia; bukan pula tempat berjudi, karena aku adalah orang yang paling takut rugi. Tujuan kami adalah kolam. Kolam pemancingan!

 

Bandung, 4 Januari 2010.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: