SATIRE (4)

Taufik Hidayat jadi pahlawan? Mana mungkin?” Endun protes waktu saya menyebutkan contoh pahlawan.

Mengapa tidak mungkin? Bukankah ia telah mengharumkan nama bangsa lewat bulutangkis? Berarti dia pahlawan. Pahlawan nasional kita!” Saya membela diri.

Ya engga mungkin lah, karena yang disebut pahlawan itu harus meninggal dulu,” jawabnya ringan.

Kamu tahu dari siapa?”

Tuh, ahli sejarah yang bilang demikian. Yang aku maksud adalah Asvi Warman Adam dari LIPI. Nih, di Koran ini Beliau menerangkan bahwa: Pahlawan nasional berasal dari orang yang gugur dalam perjuangan menentang penjajahan atau membela bangsa dan negara. Atau bisa juga tokoh yang semasa hidupnya memperlihatkan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi yang luar biasa bagi pembangunan serta kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Artinya, Taufik Hidayat bisa saja jadi pahlawan apabila dia sudah meninggal!” Endun nyerocos sambil memegang Koran yang ada tulisan ahli sejarah itu.

Oh, jadi pahlawan itu harus meninggal dulu? Kalau demikian ogah aku jadi pahlawan,” jawabku sambil bercanda.

Lagian siapa yang akan mengangkatmu jadi pahlawan. Tidak memiliki keterampilan apa-apa yang bisa mengangkat nama dan martabat negara.”

Berarti pahlawan itu harus orang istimewa, dong?”

Ya iya lah. Masa ada pahlawan yang konyol. Hanya syaratnya harus meninggal dulu.”

Tapi dulu zaman Daud Yusuf jadi Mendikbud dia pernah memproklamirkan ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’ bagi guru-guru. Salah dong dia, karena yang diproklamirkannya itu guru-guru yang masih hidup.”

Wah, menurut saya sih, Daud Yusuf memakai logika yang keliru. Mana ada pahlawan yang memakai tanda jasa? Paling-paling ahli warisnya yang memakai tanda jasa tersebut. Itu kalau pahlawan memakai definisi Pak Asvi.”

Tapi kan pada zaman Orba banyak orang yang memakai logika keliru,” saya menjawab dengan semangat.

Kamu punya contohnya?”

Banyak. Salah satunya, di sini saya masih memakai terminologi pahlawan. Lawan pahlawan adalah musuh, pemberontak, penjahat. Pokoknya yang jelek-jelek dan kalah. PKI adalah contohnya. Yang namanya PKI setelah G30S-nya jelas diharamkan di negeri ini. Tapi kan harusnya “keharaman” itu hanya berlaku bagi para pelakunya, tidak bagi orang lain. Anehnya, pemerintah Orba menurunkan fatwa dosa turunan bagi anggota PKI.”

Dosa turunan yang bagaimana? Aku enggak paham?” Endun bertanya.

Maksudnya adalah, setiap orang yang orang tuanya, kakeknya, atau orang yang memiliki hubungan darah dengannya ketahuan sebagai anggota PKI, maka otomatis dia pun ikut tersangkut. Sehingga semua hak hidupnya selalu diawasi oleh negara. Untuk jadi PNS tidak mungkin. Bahkan di swasta pun orang takut menerimanya meskipun keterampilannya memungkinkan.” Saya menerangkan panjang lebar.

Tapi kan bukan dia yang jadi anggota PKI-nya?” Endun heran.

Ya, itulah yang berlaku. Yang lebih gila lagi, saya punya teman yang ayahnya seorang doktor lulusan dari luar negeri. Pekerjaannya baik, tidak pernah mengecewakan kantornya. Tapi pada suatu ketika dia dipanggil oleh bosnya untuk disuruh memilih: tetap bekerja tapi bercerai dengan istrinya, atau tetap dalam pernikahan dengan istrinya tapi dipecat dari kantor. Ayah teman saya itu bertanya, apa kesalahan dia dan istrinya? Jawaban bosnya, kesalahannya adalah mengawini istrinya itu. Kata bosnya, dia mendapatkan tekanan dari pemerintah untuk mengajukan pilihan itu, karena katanya teman dekat mertuanya itu gembong komunis. Otomatis mertuanya juga turut dicurigai terlibat G30S PKI. Yang aneh, mertuanya itu sudah meninggal tahun 1964, jadi setahun sebelum G30S.” Saya menerangkan dengan semangat.

Kok bisa?” Endun tambah bengong.

Berbagai pembelaan dan fakta dikemukakan, tapi tetap pilihan itu harus diambil. Kalau bercerai, anaknya sudah banyak. Tidak bercerai, dia harus bekerja apa dan di mana? Akhirnya dia memilih keluar dari PNS. Dia mempertahankan rumah tangganya meski harus menanggung penderitaan yang seharusnya tidak ditimpakan kepadanya. Bayangkan, yang dosanya orang lain, hanya karena dekat dengan mertuanya, maka setiap orang yang memiliki hubungan darah dengan mertuanya harus menanggung dosa! ”

Wah, itu dolim namanya!” Endun emosi.

Ya itulah logika zaman Orde Baru. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi di tanah tercinta ini.”

Lalu, orang-orang yang menggunakan logika gila itu jadi apa sekarang?” Tanya Endun penasaran.

Ada yang pensiun dengan kekayaan yang melimpah; ada yang sudah meninggal dan jadi pahlawan; ada yang jadi tokoh masyarakat yang “dihormati”. Pokoknya kedudukan mereka masih terhormat.”

Mengapa yah, mereka berani berbuat seperti itu, membikin orang sengsara. Apakah mereka pada saat itu tidak menyadari bahwa suatu ketika perbuatannya itu akan diminta pertanggungjawaban di Pengadilan Tuhan?” Endun bicara sambil menerawang.

Ya, logikanya mungkin tidak dipakai. Atau bahkan mungkin mereka tidak percaya ada Pengadilan Tuhan nanti di Akhirat. Atau mungkin mereka percaya bahwa Tuhan tidak akan menghukum mereka karena mereka sedang menjalankan perintah atasannya. Atau, bahkan mereka tidak percaya ada kehidupan setelah kematiannya itu.”

Wah enggak mungkin itu. Kan mereka pasti telah ditatar Pancasila. Ditatar P4.”

Bahkan mereka penatar P4!”

 

Bandung, 6 Desember 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: