SATIRE (5)

 

Kamu sudah mau menikah, padahal belum bekerja?” Dudung heran waktu aku memberitahukan bahwa dua bulan lagi akan menikahi pacarku.

Sudah, aku sudah bekerja,” jawabku.

Di mana?”

Ya di rumah. Aku kan punya bengkel kerja,” aku menerangkan.

Kalau di rumah bukan bekerja namanya. Kata pacarku pun bekerja itu di kantor, jadi PNS, jadi polisi atau jadi tentara.” Katanya tanpa emosi.

Aku tidak berbakat jadi PNS; apalagi jadi polisi dan tentara,” jawabku datar.

Pacarmu tidak keberatan kamu bukan pekerja kantoran?” Kembali Dudung bertanya.

Pacarku itu bukan tipe istri pegawai kantoran; tapi tipe istri seorang wiraswasta,” jawabku takacuh.

Berbahagialah kamu. Aku sendiri belum bisa melamar pacarku, karena ia menuntut aku jadi PNS dulu.” Dudung menghiba.

Kamu kan punya toko, tidak usah jadi PNS pun hidupmu sudah sejahtera…”

Kalau ukurannya hanya uang sih, memang begitu. Tapi pacarku selalu berpikir tentang harga diri. Katanya, kalau jadi PNS akan banyak orang yang menghormati, karena memiliki kedudukan….” Kata Dudung perlahan.

Lalu kamu sudah berusaha untuk jadi PNS?” Aku bertanya penasaran.

Sudah. Tiga bulan yang lalu aku sudah ikut tes, namun hasilnya belum diumumklan. Seminggu yang lalu ada orang yang datang, katanya panitia penerimaan PNS. Dia menjanjikan, kalau ingin lulus katanya harus menyediakan uang dua puluh lima juta. Dia bisa memperjuangkan.” Katanya lagi.

Apa? Duapuluh lima juta? Kalau aku punya uang segitu banyak, akan kugunakan sebagai penambah modal, bukan malahan diberikan kepada orang lain yang belum tentu juntrungnya.” Kataku yakin.

Ya itulah, akupun berpikir demikian. Kalau aku sekarang memberi uang demi PNS, berarti aku harus mengurangi modal dagangku. Bisa-bisa aku bangkrut. Padahal kamupun tahu, aku berdagang kan sejak SMP. Dari sanalah aku membiayai sekolahku dan sekolah adik-adikku.” Dia kelihatan murung.

Lagi pula, kalau kamu nyogok, dosa.”

Iya, kemarin di pengajian, Ustad Harun pun menerangkan, bahwa yang nyogok dan yang disogok serta penghubungnya sama-sama berdosa dan pasti masuk neraka. Naudzubillahi min dzalik!” Jawabnya.

Memangnya pacar kamu belum diberi pengertian?” Tanyaku penasaran.

Sudah. Tapi tetap saja dia menyuruh aku mencoba dulu ikut tes,”

Terus sekarang sudah ikut tes, bagaimana kalau dalam pengumuman kelulusan namamu tidak ada?”

Bagiku tidak masalah. Tapi bagi keberlangsungan hubunganku barangkali akan jadi kendala.” Matanya menerawang jauh.

Emangnya kamu tidak memiliki yang lain selain dia?” Aku memancing.

Dia kan satu-satunya pacarku sejak SMA.” Jawabnya.

Itu sih salah kamu. Sebaiknya pacar itu jangan hanya satu, misalnya lima. Calon presiden, gubernur, atau bupatipun harus banyak, padahal masa kerjanya hanya lima tahun. Apalagi ini calon istri, yang masa kerjanya seumur hidup. Sehingga apabila ada masalah semacam ini tidak kelimpungan, masih banyak pilihan,” kataku bercanda. Padahal akupun tidak pernah memiliki pacar yang lain. Cinta pertamaku adalah calon istriku ini. Mudah-mudahan saja menjadi cinta terakhir. Mudah-mudahan pula nanti setelah berumah tangga kami selalu dilimpahi dengan berbagai kebahagiaan.

Manusia memang aneh. Sering menuntut hal-hal yang tidak sesuai dengan kepribadian orang yang dituntutnya. Contohnya Dudung; dia kan seorang wirausahawan tulen. Sejak sekolah di SMP dia sudah berusaha,membuka warung di rumahnya, maksud saya di rumah orang tuanya. Bukan warung kepunyaan orang tuanya. Jauh sebelum pergi sekolah, pada saat orang lain masih dibuai mimpi indah (barangkali juga mimpi yang mengerikan!) Dudung sudah pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan dagangannya. Pada saat dia ada di sekolah, dagangannya ditunggui oleh orang tuanya, dan pada saat dia sudah ada di rumah kembali dialah yang mengurus dagangannya itu. Sekarang dia sudah memiliki toko yang cukup besar dan banyak pelanggannya, tiba-tiba dituntut oleh pacarnya agar dia banting setir jadi pegawai orang lain demi suatu gengsi. Padahal, meskipun dia lulus jadi PNS, belum tentu dia bahagia, karena jiwa dia adalah jiwa bebas seorang wirausahawan.

Aku juga sering berpikir, apakah sudahi saja hubunganku dengannya lalu mencari yang lain. Masa tidak ada yang mau?” Dia menjawab gurauanku itu.

Iya Dung, pikiran itu harus terus dikembangkan,” aku memberi semangat.

Tapi di pihak lain, aku kan sudah demikian lama berhubungan dengan dia. Rasanya tidak tega.”

Nah, itulah kebaikan hatimu. Tapi kebaikan yang semacam itu akan menjadi bumerang bagi dirimu sendiri.”

Ya, akupun juga berpikir seperti itu,” jawabnya pelan.

Ingat, Dung, jodoh itu tidak ditentukan oleh lamanya berpacaran. Bisa saja seseorang sudah berpacaran lama tapi menikahnya dengan orang lain, yang baru bertemu beberapa bulan, atau bahkan beberapa hari saja.” Saya mencoba memberikan pencerahan.

Berbicara tentang panitia penerimaan PNS itu, pacarku bilang bahwa sebaiknya turuti saja…”

Jangan! Ingat kata Ustad tadi. Tuhan pun menyuruh kita berusaha dengan cara yang baik dan halal. Artinya, dalam mencari rezeki prosesnya harus diperhatikan. Karena kalau prosesnya tidak benar, maka rezeki yang kita makan meskipun itu gaji kita, tetap tidak halal! Kita jadi PNS karena nyogok, maka semua rezeki yang didapat karena ke-PNS-an kita, itu haram! Bayangkan, berapa tahun kita PNS, selama itu pulalah rezeki yang kita dan keluarga kita makan adalah rezeki yang haram!” Aku mencoba menerangkan, bagaikan seorang ustad.

Sejauh itukah?” Dudung bengong.

Ya. Keharaman itu timbul karena jabatan kita didapat dengan cara nyogok; padahal kalau kita tidak nyogok kita tidak mendapatkan pekerjaan itu. Orang lain yang berhak yang akan mendapatkannya. Artinya kita telah menyabot hak orang lain. Di sanalah keharamannya: kita telah mengambil hak orang lain!” Aku menerangkan dengan semangat.

Astagfitullah al-‘Adzim.” Dudung istigfar.

Kata Iman Syafi’i, makanan yang haram itu akan mempengaruhi tingkah laku orang yang memakannya,” sambungku. “Beliau menerangkan dalam kitabnya yang terkenal, AL-UMM, bahwa apabila sanak keluarga kita memiliki tingkah laku yang tidak senonoh atau moralnya yang tidak terpuji, janganlah menyalahkan lingkungan pergaulannya. Tapi bertanyalah pada diri kita, sudah diberi makan apa dan dari mana (dan bagaimana cara mendapatkan rezekinya), sehingga mereka memiliki akhlak yang tidak terpuji?”

Subhanallah! Jadi bukan hanya lingkungan yang mewarnai akhlak manusia itu?” Wajah Dudung merah, seperti mau menangis.

 

Bandung, 13 Januari 2010.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: