SATIRE(3)

 

Apa arti sebuah nama? Tentu saja nama mempunyai arti bagi pemilik nama itu. Nama bukan hanya sekadar untuk membedakan seseorang dari orang lain. Buktinya banyak orang yang memiliki nama yang persis sama. Nama bukan hanya sekadar untuk memperlihatkan status sosial seseorang. Buktinya banyak nama orang yang terpandang sama dengan nama seorang jelata.

Kata para ulama dan rohaniawan, apabila kita memiliki anak, berilah nama yang baik, karena nama itu merupakan do’a dalam kehidupan orang yang memiliki nama itu. Namun, tidak sedikit orang tua memberikan nama bagi anaknya sembarangan saja. Bisa karena sembarangan disengaja maupun tidak disengaja karena tidak tahu atau karena keliru.

Siapa nama anaknya?” Saya bertanya kepada seorang lelaki yang baru saja statusnya berubah menjadi seorang ayah.

Belum tahu, karena saya kira anak yang akan lahir itu perempuan. Eh, ternyata laki-laki. Kalau untuk nama perempuan sudah saya persiapkan. Kalau anak Bapak perempuan atau laki-laki?” Dia balik bertanya.

Alhamdulillah laki-laki,” jawab saya berbinar-binar.

Sudah diberi nama?”

Sudah, Syahidin.”

Hebat, namanya bagus sekali. Artinya apa, Pak?”

Orang yang berjuang di jalan Allah.”

Aduh, indah sekali namanya. Saya jadi terilhami, anak saya akan saya beri nama yang mirip dengan nama anak Bapak,” katanya sambil langsung masuk ke ruang perawatan ibu yang baru melahirkan.

Sewaktu aku mau melihat bayiku dari kaca jendela yang sudah dibukakan gordengnya oleh perawat, saya kembali bertemu dengan si bapak baru itu.

Sudah diberi nama, Pak?”

Sudah, Pak, mirip dengan nama anak Bapak. Hanya dibalik hurufnya. Kalau anak Bapak namanya Syahidin, anak saya diberi nama Hasidin,” jawabnya dengan bangga.

Meg, nafas saya terganjal rasanya. Si bapak baru itu apakah tidak tahu arti dari kata “hasidin”? Bukankah artinya adalah orang yang hasud? Saya istigfar dalam hati.

Saya jadi ingat dulu waktu bekerja di Sumatra tahun 1980-an. Di kantorku ada seorang cleaning service. Yang membikin tercengang adalah namanya waktu saya tanya.

Didi,” jawabnya.

Hanya Didi saja?”

Didi Yahudi,” jawabnya pelan.

Rupanya ia tahu bahwa namanya itu mengandung “sesuatu” yang “salah”.

Ayahku memberi nama seperti itu. Di ijazah SD pun tertulis demikian. Jadi saya harus bagaimana, karena tidak bisa diubah lagi. Terpaksa meskipun malu, nama itu tetap saya sandang, terutama dalam administrasi kepegawaian.” Dia menerangkan dengan panjang lebar.

Yang lebih tercengang lagi sewaktu saya mau membikin KTP di kelurahan. Ternyata lurahnya itu bernama Bedul Lahab! Pasti nama itu terambil dari Abu Lahab.

Nama itu terambil dari ayat al-Qur’an,” teman saya mencoba menjawab keheranan saya. “Ingat, warga di sini itu orang-orang yang dekat dengan agama, jadi setiap nama orang itu diusahakan harus terambil dari ayat al-Qur’an,” lanjutnya.

Benar, kata Yahudi atau Abu Lahab itu ada dalam al-Qur’an. Tapi, bukankah Yahudi itu selalu berhubungan dengan bangsa yang selalu berkhianat? Lebih-lebih Abu Lahab; dalam al-Qur’an meskipun ia adalah paman Nabi, tapi ia adalah musuh Nabi yang dikisahkan khusus dalam satu surah sebagai orang yang pasti masuk neraka karena kedurhakaannya.

Duh, ternyata memilih nama itu memang sulit kalau harus disesuaikan dengan sifat orang yang menyandang nama itu. Benar, kita sering bertemu dengan orang yang namanya demikian indah namun akhlaknya jauh dari keindahan. Namanya terdiri dari kumpulan nama-nama Nabi, misalnya Muhammad Musa, Muhammad Yunus, Muhammad Nuh, Muhammad Khaidir, Muhammad Isa Ibrahim, dan sebagainya; namun sering tingkah lakunya jauh dari sifat para nabi yang disandang pada namanya. Malahan sering sekali kita bertemu dengan orang yang memiliki nama nabi tapi sesungguhnya ia adalah seorang koruptor kakap, tukang zinah, tukang khianat, dan tukang bohong.

Kasarnya, kita sering bertemu dengan orang yang memiliki nama mulia, tapi tingkah lakunya berlawanan. Nama Umar, tapi kelakuan Abu Jahal; nama Ali tapi kelakuan Mu’awiyah.

Waktu saya dalam kereta menuju Yogyakarta, saya berkenalan dengan seorang laki-laki setengah baya. Memakai kopiah hitam yang sudah kelabu dan berpantalon “putih tua” (warna putihnya sudah kekuning-kuningan). Saya mengulurkan tangan sambil menyebutkan nama: “Raden Mas Tubagus Andi Silalahi.”

Rugimin,” ia menyebutkan namanya sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang sudah ompong.

Dalam hati saya bergumam, kasihan sekali orang ini, sudah “rugi”, “min” pula. Apa yang ia miliki….

 

Bandung, 4 Januari 2010.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: