STUDI TERHADAP MASYARAKAT INDONESIA

Setiap generasi menulis sejarahnya sendiri berdasarkan perspektif dan optiknya sendiri. Baik jiwa zaman maupun ikatan kebudayaannya menuntut agar dilakukan rekonstruksi sejarah komunitasnya yang lebih memadai serta sesuai dengan situasi generasinya. Dengan demikian baik sudut pandangan maupun pendekatan atau problematiknya lebih dicocokkan dengan konteks situasional, maka dalam menghadapi setiap hasil rekonstruksi sejarah sangat perlu menyoroti pengarang serta latar belakang  dunia intektualnya, sehingga sifat dan hakikat karya itu lebih mudah diidentifikasikan.
Kajian kesejarahan, seperti juga halnya dengan studi keilmuan lainnya, umumnya bercorak monografis, yang ingin mempelajari satu-dua tema pokok –apapun mungkin corak tema pokok itu— yang telah dirumuskan dengan jelas. Tentu bisa juga dibayangkan bahwa kajian monografis tersebut berangkat dari pertanyaan pokok yang jelas, pendekatan metodologi tertentu, dan tidak jarang, dari asumsi teoritis yang tertentu pula.  Berbagai corak kajian monografis telah dihasilkan tentang Indonesia. Kalau sekiranya kita hanya membatasi tinjauan pada karya monografi yang diterbitkan sesudah Perang Dunia II saja –agar tak jauh-jauh melihat ke belakang— maka beberapa corak kajian dapat dibedakan.
Pertama, dan yang paling menonjol, ialah monografi tentang sejarah politik. Seri monografi sejarah Mataram dari de Graaf adalah contoh yang mudah diingat, karena telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Seri monografi ini bukan saja satu-satunya yang paling lengkap mengisahkan sejarah politik Mataram, sejak awal sampai terpecah menjadi dua, tetapi juga dengan jelas memperlihatkan bagaimana secara metodologis sumber-sumber Jawa, yang tampak sepintas lalu serba aneh dan mitologis itu, bisa dipakai sebagai sumber untuk mengadakan rekonstruksi sejarah naratif, yang berkisah. Dipersenjatai dengan pengetahuan yang mendalam tentang bahasa, filologi, dan kebudayaan Jawa, de Graf mencoba mencari “fakta” sejarah di balik segala macam corak symbol cultural dari sumber asli itu. Ia mengujinya dengan sumber-sumber Belanda, baik hasil perjalanan, buku harian, atau laporan VOC. Dalam usaha membandingkan sumber asli dengan sumber Belanda ini, ia boleh dianggap sebagai pelopor. Sikapnya yang tidak apriori terhadap sumber domestik ini dipertahankannya dengan baik ketika ia mengadakan serangan balik terhadap sikap skeptic Berg, yang cenderung menilai semua sumber Jawa itu tak lain daripada ekspresi kultural belaka. Kepeloporannya ini diikuti –dengan lebih canggi–  oleh Merle Ricklefs dalam bukunya yang terkenal, Sultan Mangkubumi, yang menceritakan proses yang biasa disebuit sebagai “perang suksesi”, Perjanjian Giyantiyang membagi dua Mataram, dan sejarah awal kesultanan Yogyakarta, di bawah pemerimntah Hamengkubuwono I. sambil lalu tetapi mendalam juga, Ricklefs juga membicarakan dampak pembagian Mataram terhadap kesadaran kultural dan pandangan kesejarahan Jawa. Setelah buku ini, Recklefs juga telah melanjutkan kajiannya tentang kesunanan Surakarta dan kesultanan Yogyakarta. Dengan sikap penghargaan terhadap sumber domestik yang sama, Peter Carey juga telah melakukan seri studi  tentang Dipenogoro dan zamannya.dari sudut jumlah tentu sudah bisa diduga bahwa studi tentang zaman modern dan kontemporer, yaitu periode dari tahun 1900sampai sekarang, sangat dominan.apalagi kalau dalam  corak  sejarah  politik  ini  dimasukkan  pula –dan memang semestinya— sejarah militer. Nasotion menulis sebelas jilid tentang sejarah Perang Kemerdekaan, di samping buku-buku lain yang menyangkut sejarah kemiliteran di Indonesia. Studi tentang revolusi saja entah berapa banyaknya.
Kedua, sejarah intelektual atau pemikiran. Harus diakui bahwa pada umumnyastuidi ini masih pada tahap analisis filologis teks-teks yang bahkan serba terputus satu dengan yang lainnya.maka kitapun berkenalan dengan berbagai studi  tentang babad, serat, piwulang, suluk,  dan sebagainya. Dan memang studi-studi tersebut meskipun sama  sekali tidak melupakan konteks sejarah dari teks yang dipelajari dan sangat bermanfaat dalam proses rekonstruksi sejarah, tidak mempunyai claim menulis sejarah. Soebardi umpamanya,pernah menulis disertasi yang diterbitkan tentang Serat Cabolek, karangan Jasadipura, pujangga abad ke-18 dari kraton Surakarta. Dari studi filologis ini, kita juga bisa mengetahui perjalanan pemikiran tentang hubungan Islam dengan “negara”. Dari artikel panjang Drewes tentang Serat Darmagandul –sebuah serat yang cukup menghebohkan dan sempatm menimbulkan kerawanan social ketika diterbitkan oleh sebuah penerbit di Kediri–  kita bisa mengetahui  corak pemikiran lain tentang Islam dan “kejawaan”. Tetapi karya Zoetmulder tentang Sastra Jawa Kuno, Kalangwan, bisa disebut sebagai usaha yang paling serius untuk memperkenalkan sejarah pemikiran Jawa Kuno. Tulisan Moertono tentang State and statecraft boleh juga dianggap sebagai sejarah pemikiran politik Jawa. Bertolak dari teks-teks Jawa, yang tersimpan dalam Perpustakaan Radyapustaka, Surakarta, Nancy Florida dapat juga memperlihatkan bahwa penajaman batas-batas intelektual antara “kejamen” dan “Islam” lebih banyak merupakan “konstruksi kolonial”. Hal yang sama juga bisa dilihat Laurie Sears setelah menganalisis cerita wayang. Dengan pemakaian pendekatan post-modernis tentang Jawa, John Pamberton juga telah menyumbangkan cara pemahaman baru tentang dinamika pemikiran Jawa.
Ketiga, sejarah sosial. Dalam tradisi penulisan sejarah akademis di tanah air kita, sejarah sosial praktis berarti tiga hal. Pertama, penulisan tentang perubahan sosial –tentang urbanisasi dan proses urbanisme, pelebaran diferensiasi kerja, mobilitas sosial— yang tentu melibatkan kemungkinan perubahan status, dan sebagainya. Tulisan Burger tentang “perubahan struktur di Jawa”, yang diterbitkan dalam beberapa nomor majalah Indonesie, dan satu-dua tulisan Sartono, mengenai pendidikan perubahan status, untuk sekadar menyebuit beberapa nama, berada di wilayah ini. Meskipun  dimaksud sebagai studi sosiologi, karya Selo Soemardjan tentang “perubahan sosial di Yogyakarta” tentu bisa juga dicatat. Beberapa karya mutakhir yang terbit di negeri Belanda, seperti umpamanya disertasi seorang sejarawan muda, van den Doel tentang birokrasi yang secara puitis diberi judul De Stille Macht, bisa digolongkan ke dalam kategori ini. Kedua, sejarah agraris, yang membicarakan dinamika hubungan antara petani dengan tanah mereka dalam menghadapi intervensi kekuatan luar yang keras mengancam, adalah sasaran kajian dari sekian banyak disertasi S3 dalam ilmu sejarah yang diajukan di UGM. Umumnya studi sejarah agraris ini bercorak sosial-ekonomis. Jadi boleh juga disebut sebagai sejarah sosial-ekonomis. Soalnya ialah kajian ini paling dekat hubungannya dengan sejarah ekonomi, yang sampai sekarang tahap perkembangannya masih sangat awal. Ketiga, sebagai sejarah ‘non-elite’ atau sejarah dari mereka yang “diam”. Inilah natara lain dihasilkan oleh Sartono dalam studinya tentang pemberontakan petani. Sambil lalu tentu bisa dikatakan bahwa kini semakin terasa betapa pentingnya kita mengetahui dinamika (atau keresahan?) dari “mereka yang diam” ini.
Beberapa corak studi sejarah yang lain masih pada tahap awal. Sejarah kebudayaan masih terpenggal-penggal atas berbagai aktivitas kebudayaan. Sebagian  masih erat kaitannya dengan arkeologi. Sebagian lain, yang disebut sejarah kesenian, masih belum terbebas dari pengetahuan tentang seni per se. Sejarah sastra masih belum jauh beranjak dari penyusunan kronologi para pengarang dan karya mereka. Sejarah maritim masih merupakan bagian yang disinggung sambil lalu dalam sejarah politik atau sosial. Tetapi kesemua cabang ini telah mulai memperlihatkan tanda-tanda awal pendewasaan. Perkembangan kritik sastra yang sejak akhir tahun 1970-an semakin marak, dengan segala macam semiotik, hermeneutik, struktural genetik, dan entah apa lagi, bukan saja telah mempengaruhi cara melihat teks sastra dan usaha melihat sejarah sastra tetapi juga memberi inspirasi bagi sejarah kebudayaan pada umumnya. Dan begitulah seterusnya.
Namun, seorang sejarawan terkemuka Perancis, Denys Lombard telah mengadakan studi sejarah –yang di Indonesia belum umum dilakukan–  yang mencakup seluruh corak di atas. Hasil penelitiannya ditulis dalam tiga jilid buku yang diberi judul Nusa Jawa Silang Budaya.
Dilihat sepintas lalu maka studi Lombard ini adalah sebuah usaha yang amat ambisius.  Karena dengan studinya ini ia berusaha dan cukup berhasil, untuk mencakup keseluruhan data yang dimunculkan oleh studi di atas –jika bukan secara eksplisit, setidaknya terpantul secara implisit. Jika tidak dengan jelas dia katakan masalahnya, setidaknya terbayang bahwa ia mengetahui persoalannya.  Malah lebih daripada itu, Lombard juga membicarakan lingkungan alam dan geografis dengan  memadai. Alam dan geografi ini bukanlah sekadar stage  atau panggung tempat berlangsungnya “sejarah”, tetapi adalah pula bagian dari proses sejarah. Dari studi ini kelihatan pula bahwa Lombard berusaha dengan sepenuhnya untuk memahami dan memakaikan berbagai disiplin. Ia bercerita tentang masalah bangunan dan arsitektur sama lancarnya dengan ia berkisah tentang sastra atau tentang lalu lintas ekonomi ataupun tentang gaya hidup yang antara lain diwujudkan dalam kebiasaan berpakaian dan perkembangan mode. Memang pada tingkatnya yang paling ideal pendekatan Lombard ini menjadikan ilmu sejarah, seperti kata Braudel dengan bangga, “sebuah pasar bersama dari ilmu-ilmu kemanusiaan”. Hasrat seperti ini pulalah sesungguhnya yang menjadi tekad  Lucien Febvre dan Marc Bloch ketika mereka menerbitkan majalah  Annales (1929), yang kemudian dipakai sebagai nama “mazhab” penulisan sejarah yang mereka pelopori. Dengan majalah Annales, mereka ingin membongkar dinding-dinding yang membatasi sejarah dari kajian sosial dan ekonomi, bukan dengan teori yang serba meninggi, tetapi dengan “fakta dan contoh”.
Namun satu hal yang paling menonjol dan yang segera tampak kalau studi Lombard dibandingakn dengan corak studi sejarah yang biasa kita kenal, ialah bahwa studi ini sepertti menghindari “peristiwa” atau “kejadian” –yaitu hal-hal yang biasa menjadi unsur utama dalam setiap studi sejarah. Bukankah hal utama yang dimasalahkan  oleh sejarawan adalah  penyelesaian masalah kronikel yang bisa menjawab bertanyaan “aapa, di mana, bila, dan siapa”? keempat pertanyaan pokok ini adalah unsur utamauntuk menentukan sebuah even atau evenement, “kejadian-kejadian” yang direkonstruksi dan diterangkan. Bahkan studi Sartono tentang “mereka yang diam” itu berkisar pada  “kejadian-kejadian” yang direkonstruksi dan diterangkan. Buku Lombard memang kadang-kadang bercerita, hanya saja cerita itu bukanlah tentang “kejadian” sebagai event yang harus direkonstruksi dan diterangkan, tetapi sebagai bagian atau ilustrasi atau bukti dari kehadiran dan keberlakuan sebuah bentukan struktural yang diperagakannya. Jika “kejadian” atau event telah diperlakukan sebagai “surface history” atau lapisan atas sejarah saja, maka janganlah diharapkan studi ini akan muncul dengan heroes atau culprits. Actor sejarah dan kejadian dan peristiwa yang unik tak lagi memainkan peranan penting untuk menerangkan situasi sosial. Pendekatan ini sebenarnya,lagi-lagi kata Braudel, “melampaui individu dan kejadian tertentu yang khas”. Lombard pun mengatakan juga bahwa, “Bagi sejarawan mentalitas, yang lebih menarik adalah kelompok atau masyarakat cendikiawan, yang memungkinkan penggambaran suatu suasana atau suatu arah perkembangan”. (I, 73).
Dalam sejarah pemikiran sejarah dan historiografi, pendekatan ini bisa dilihat sebagai penolakan terhadap kecenderungan neo-Kantian, yang setelah membedakan dua corak pengetahuan, yaitu Naturwissenschaft dengan Geisteswissenschaft, mengatakan bahwa jika yang pertama bisa memberikan erklaren (“keterangan”) maka yang kedua memberikan verstehen (“pemahaman”). Verstehen, menurut Diltheys dan juga Collingwood, ialah kesediaan dan kemampuan sang sejarawan untuk merasakan atau menghidupkan kembali dalam perasaannya (Erlebnis, menurut istilah Dilthey), seakan-akan dialah aktor sejarah yang dikisahkannya itu. Tetapi bagi pendekatan dan teori sejarah mazhab Annales yang dipakai Lombard, hal ini tidak bisa dikatakan “scientific”, karena semuanya sangat bergantung pada kemampuan imajinasi sang sejarawan –jadi sesuatu yang sifatnya sangat individual bahkan subjektif. Bagi mazhab Annales, perilaku individu dalam sejarah hanya bisa dimengerti dalam konteks masyarakat, bukan dari ilmu jiwa, atau sejenisnya.  Bukankah individu itu berbuat dalam konteks peranannya sebagai bagian dari denyut masyarakatnya? Masyarakat ini mewujudkan  dirinya dalam hal-hal yang konkret yang bisa kita amati, seperti tak ubahnya kita mengamati gejala alam. Masyarakat terwujud dalam pranata dan kelembagaan dan peninggalan material yang konkret. Inilah yang pernah disebut oleh Durkheim, salah seorang pelopor sosiologi modern, sebagai “faktor sosial”, sesuatu yang bisa dipahami dari dirinya sendiri.
Verstehen (Perancis, comprendre), kata Lucien Fervre, tidaklah langsung bisa didapatdari savior atau “pengetahuan”. ”Pemahaman” tentang perilaku manusia, katanya seperti menyambung Durkheim, hanyalah mungkin didapatkan dalam sebuah konteks keterkaitan, dalam corak hubungan dari kejadian-kejadian perilaku itu. Jadi, “pemahaman” tentang perilaku manusia dalam bentuknya yang konkret itu sesungguhnya meniscayakan adanya keterangan  kausalitas.
Andai saja kecenderungan Weberian yang sangat menonjol di kalangan sejarawan Indonesia, yang agak sadar teori, bisa dikesampingkan sebentar, dan berusaha memahami karya Lombard dari sudut pendekatan yang dipakainya –sesuatu yang lebih Durkhaimian daripada Weberian— maka kita pun akan terdorong juga untuk berdecak menyatakan rasa kagum. Ia seakan-akan dengan patuh mengikutikeharusan ideal yang dinukilkan oleh Lucien Febvre tentang bagaimana sejarah harus ditulis.semuanya, kata sang peletak dasar histoire totale  ini: ”Kata, tanda, pemandangan, titel, (hak tanah), hamparan padang, gerhana bulan,.. dengan satu kata, segala sesuatu yang dimiliki manusia, tergantung pada manusia, melayaninya, menyatakan dirinya dan menandai kehadirannya, aktivitas, selera dan bentuk keberadaan” (Febvre, 1973:34). Dan Lombard memang berusaha sejauh mungkin melaksanakannya.
Tetapi hal ini dilakukannya bukan karena patuh saja. Ia  melakukannya, karena memang ia tidak saja melihat sejarah –atau lebih tepat kenyataan sejarah, seperti yang dikatakan oleh Febvre— adalah sesuatu yang bersifat multidimensional, tetapi juga hirarkis. Dalam  susunan hirarki ini, maka kejadian dan peristiwa, apalagi kejadian politik, berada di tingkat yang paling rendah, sedangkan struktur berada di tingkat yang tertinggi. Kalau dalam sejarah politik, yang berkisah tentang dinamika yang terjadi dalam wilayah kekuasaan, bahkan juga dalam sejarah pemikiran atau intelektual, yang menguraikan tahap-tahap dalam perenungan manusia tentang hakikat alam, manusia, dan masyarakat, dengan segala keterkaitannya, menjadikan struktur sebagai latar belakang untuk menerangkan kejadian dan peristiwa, maka tidak demikian halnya dengan corak penulisan sejarah yang dipakai Lombard. Struktur  bukanlah latar belakang atau background, tetapi foreground. Struktur  adalah sejarah itu sendiri.
Kalau struktur telah menjadi foreground –sesuatu yang dari sudut dimensi waktu bisa sangat longgar— tidaklah mengherankan jadinya jika Lombard, bila perlu atau bila kejelasan uraian tentang struktur menghendakinya, bisa mondar-mandir melampaui berbagai lapisan waktu, yang biasanya dijadikan para sejarawan yang menekankan event sebagai tonggak-tonggak yang harus diperhatikan dengan baik. Begitulah umpamanya ketika ia berbicara tentang kerajaan konsentrik di zaman kuno, Lombard bisa saja mengulang kembalikisah Hamengkumuwono IX yang seakan-akan mendengar suara “eyangnya”untuk tak terlalu memperhatikan isi kontrak kesultanan dengan pemerintah Hindia Belanda.
Tetapi bagaimanakah harus diterangkan pendekatan Lombard yang memulai sejarahnya dari periode yang paling mutakhir, yaitu “batas-batas pembaratan”? Setelah lebih dulu menguraikan perubahan yang pelan dari situasi geografis –mulai dari keadaan geologis yang menetap sampai dengan tumbuhnya kota-kota dan terbentangnya jaringan jalan dan sebagainya— seraca agak mendadak terasa, Lombard memperkenalkan dirinya kembali. Ia  adalah orang Eropa yang datang ke Jawa. Ia   bercerita mengapa orang Eropa tertarik pada Jawa dan bagaimana komunitas Eropa mulai terbentuk dan selanjutnya bagaimana proses “pembaratan” terjadi di kalangan pribumi. Dalam proses ini, Lombard, si Eropa, telah menjadi bagian dari struktur yang dibentuknya. Maka kita pun menemukan pula sikap akademis selanjutnya dari pendekatan sejarah yang dipakai Lombard, yaitu meniadakan pembedaan dua corak realitas –yang dilihat dan dialami oleh aktor sejarah, yang berbuat atau berada dalam situasi kesejarahan yang direkonstruksi, dan yang diamati oleh pengamat alias sejarawan. Realitas adalah apa yang telah diungkapkan itu, terlepas daripada sang aktor melihatnya atau tidak. Yang jelas dualisme realitas ditiadakan.
Studi Lombard memperlihatkan juga perkembangan baru dari mazhab Annales. Dalam salah satu tulisannya, salah seorang tokoh mazhab ini yang paling terkemuka, LeRoy Ladurie, pernah membagi sejarah mazhab ini atas dua periode. Pertama, periode sebelum 1945, ketika “sejarah struktural kualitatif” sangat dominan. Kedua, setelah 1945, di saat “sejarah kuantitatif dari conjonctures” memegang peranan penting. Dan ia adalah salah seorang tokoh utama di dalam periode kedua. Kalau periode pertama lebih mementingkan sejarah sosial dan sejarah mentalitas, maka yang kedua lebih kepada masalah sosial-ekonomi dan demografis. Dengan segala macam angka tentang turun naiknya kecenderungan ekonomi, tentu bisa juga dibayangkan betapa membosankannya tulisan corak kedua ini bagi mereka yang ingin membaca karya sejarah sebagai sebuah karya literer. Dalam dua jilid bukunya, yang berjudul Southeast Asia in the Age of Commerce, Tony Reid menulis sejarah Asia Tenggara seperti halnya Braudel mempelajari Dunia Laut Tengah, sebagai contoh karya periode kedua. Tetapi, sudah sejak akhir tahun 1970-an atau awal 1980-an, sejalan dengan perkembangan teori yang terjadi di luar mazhab Annales, seperti munculnya tulisan-tulisan Foucault, Roland Barthes, Derrida, dan lain-lain, yang mempersoalkan kembali hakikat sejarah dan makna teks dan simbol, dan sebagaimnya, kecenderungan baru, yang seakan-akan kembali ke asal –ke perhatian Bloch dan Febvre—  yaitu  sejarah sosial dan mentalitas. Dan Lombard berada dalam kecenderungan baru, yang kembali ke asal ini.
Ia menulis l’histoire des mentalites Jawa. Dengan studi ini ia ingin menjawab pertanyaan pokok, bagaimanakah secara historis perilaku masyarakat Jawa bisa dipahami? Maka, seperti telah disinggung di atas, yang direkonstruksinya adalah proses pembentukan struktur mentalite sosial, bukan uurutan peristiwa dengan para aktornya. Dengan begini bisa jugalah dipahami mengapa ia memulai buku dengan lebih dulu membicarakan lapisan waktu yang paling mutakhir, ketika Jawa harus berhadapan dengan dunia asing, yang sekaligus memperkenalkan kolonialisme dan konsep “modernitas” yang baru. Dan struktur mentalitas yang telah terbentuk itu diterangkannya ke belakang, ketika corak encounter lain, yang juga telah memberikan lapisan kultural yang fundamental, terbentuk. Tampaknya Lombard menyetujui sepenuhnya pendapat  Braudel yang mengatakan bahwa “ada beberapa unsur yang permanen dan selalu hidup dalam wilayah peristiwa kebudayaan yang sedemikian luas”.
Setiap aliran dalam ilmu pengetahuan , termasuk sejarah, tentu saja tak terbebas dari kritik. Memang berbagai kritik telah dilancarkan. Ada yang mengatakan, karena aliran ini asyik mengumpulkan semua dan membicarakan semua, maka studi yang dihasilkan oleh sejarawan dari aliran ini tidak mempunyai fokus yang jelas, bahkan juga kehilangan kekhasan. Ada pula yang mengatakan bahwa pendekatan ini sangat “deskriptif dan taksonomis”. Dalam perdebatannya dengan majalah Annales Raymond Aron, sosiolog dan pemikir sosial dan sejarah Perancis yang terkenal, mengatakan bahwa baginya mazhab ini tak berhasil mengatasi hubungan antara struktur dan peristiwa, karena itu ia lebih baik berpaling saja kepada Max Weber. Tentu perlu juga dicatat bahwa Aron memang sangat kritis terhadap teori Durkheim, yang telah mempengaruhi Bloch dan Febvre. Berbagai macam kritik lain telah juga dilontarkan. Tetapi,  bukankah sejarah sebenarnya adalah wilayah perdebatan? Sekali sejarah telah berhenti diperdebatkan maka yang terjadi tidaklah didapatkannya  accepted history secara konsensus, tetapi terhentinya kegairahan intelektual. Dengan ini berarti pula terhentinya proses pembebasan imajinasi dari tirani waktu.

STUDI TERHADAP MASYARAKAT INDONESIA
BERDASARKAN WAKTU
1000 TAHUN NUSANTARA

1000
1006 :
Sriwijaya menghancurkan ibu kota Kerajaan Mataram di Jawa sebagai balasan atas serangan Mataram pada 992. Raja Mataram, Dharmawangsa tewas. Menantu Dharmawangsa, Airlangga menyelamatkan diri ke Jawa Timur.
Perdaganghan Jawa-Maluku-Sumatra-Malaka sudah ramai.
1019:
Airlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan. Hukum dibukukan dalam kitab Siwasasono. Kali Brantas dibendung. Pemeluk Hindu maupun Budha di Kahuripan dilindungi. Toleransi antar-umat beragama berkembang.
Saudara Airlangga, Anak Wungsu mengembangan kebudayaan Jawa Kuno di Bali.
Kesenian wayang mulai berkembang.
1030:
Empu Kanwa menulis Arjuna Wiwaha (Perkawinan Arjuna).
1042:
Airlangga membagi Kahuripan menjadi Jenggala dan Panjalu (Kediri) demi anak-anaknya.
1049:
Airlangga wafat.
1069:
Penulisan naskah Rawiaton Sabeu’ah di Aceh.

1100
1125:
Empu Panuluh menulis Hariwangsa dan Gatotkacasraya.
Empu Dharmaja menggubah Smaradhahana (Kidung Cinta).
1150:
Jayabaya berkuasa di Kediri setelah menaklukkan Jenggala.
1157:
Jayabaya memerintahkan Empu Sedah menggubah Bharata Yudha untuk membenarkan aneksasi Kediri atas Jenggala.

1200
1200:
Pembukaan sawah lahan basah di dataran tinggi Jawa Timur (Tumapel, Lumajang, Blambangan). Semula sawah basah hanya dikembangkan di dataran rendah yang relatif datar.

1222:
Ken A(ng)rok mendirikan Singasari. Sebelum berkuasa, Ken Arok merebut kekuasaan di Tumapel, Kediri, dari Tunggul Ametung. Kudeta pertama di Tumapel.
1227:
Putra Tunggul Ametung, Anusapati jadi raja Singasari setelah membunuh Ken Arok.
1247:
Tohjaya membunuh Anusapati.
1250:
Tohjaya terbunuh dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Jaya Wisnuwardhana, putra Anusapati.
1268:
Kertanegara menjadi raja di Singasari setelah ditabalkan lebih dulu sebagai putra mahkota oleh Wisnuwardhana. Sinkretisme Hindu dengan Budha berkembang.
1275:
Kertanegara melancarkan ekspedisi Pamalayu untuk menyerang Kerajaan Melayu di Jambi. Jambi minta bantuan kepada Kubilai Khan pada 1281.
1284:
Kertanegara menguasai Bali.
1289:
Utusan Kubilai Khan mengundang Kertanegara datang ke Peking sebagai tanda tunduk kepada Mongol. Kertanegara menolak, dan merusak wajah sang utusan.
1290:
Kertanegara menguasai Sriwijaya.
1291:
Marco Polo singgah di Kalimantan, Sumatra, dan Malaka, dalam perjalanan ke Venesia.
1292:
Kertanegara tewas dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Jayakatwang. Menantu Kertanegara, Wijaya mendapat izin Kertanegara untuk tinggal di Desa Tarik. Balatentara Mongol mendarat di Tuban pada bulan November untuk menghukum Kertanegara.
1293:
Pasukan Wijaya dan Mongol menyerang Kediri. Tentara Mongol menggunakan mesiu ketika bertempur. Penggunaan mesiu pertama dalam perang di Jawa. Raden Wijaya  balik menyerang balatentara Mongol.
1294:
Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit dan ditabalkan sebagai raja.
1295:
Islam masuk Kerajaan Pasai.
1297:
Raden Wijaya mengirim utusan ke Beijing untuk berdamai. Kubilai Khan senang dan tidak lagi menuntut Raja Jawa datang ke Beijing.

1300
1309:
Jayanegara menjadi raja Majapahit. Ra Kuti memberontak, tetapi bisa ditumpas berkat kesetiaan pasukan Bhayangkara pimpinan Gajah Mada.
1328:
Tanca membunuh Jayanegara. Konon Tanca balas dendam karena Jayanegara mencabuli istrinya.
1329:
Tribhuanatunggadewi Jayawinsnuwardhani jadi wali negeri Majapahit.
1331:
Gajah Mada diangkat sebagai Patih Majapahit.
1333:
Majapahit menyerang Pajajaran. Setahun kemudian menyerang Bali.

1347:
Atas nama Majapahit, Adityawarman menguasai Pagaruyung, Sumatra Barat.
1350:
Mahapatih Gajah Mada mengucapkan Amukti Palapa dalam acara penabalan Hayam Wuruk sebagai Raja Majapahit.
1357:
Majapahit  membantai seluruh (pasukan) pengiring calon pengantin Dyah Pitaloka dari    Pajajaran yang sedianya akan dinikahkan dengan Hayam Wuruk. Pembantaian itu terkenal dengan sebutan Perang Bubat.
1364:
Gajah Mada meninggal.
1365:
Empu Prapanca menulis Deca-Warnana atau lebih terkenal sebagai Negara Kertagama.
1367:
Empu Tantular mulai menggubah Arjunawijaya.
1377:
Armada laut Majapahit menyerbu Palembang.
1389:
Hayam Wuruk meninggal digantikan oleh  Wikramawardhana.
Empu Tantular menyelesaikan Sutasoma.

1400
1400:
Islam masuk ke Aceh.
1406:
Perang Paregreg antara Wikramawardhana melawan Wirabumi untuk merebut tahta Majapahit.
1414:
Masjid pertama berdiri di Ambon.
1426:
Kelaparan melanda Jawa.
1447:
Kertawijaya jadi Raja Majapahit. Pada 1451 Kertawijaya terbunuh dan Rajasawardana naik tahta.
1475:
Islam masuk Ternate dan  Tidore.
1478:
Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak.

1500
1509:
Portugis tiba di Malaka.
1511:
Armada Portugis menyerang Malaka.
1512:
Pengembara Portugis, Francisco Serrao menjelajah sampai ke Maluku dan memberi kabar tentang kekayaan alam Nusantara kepada Magellan.
1515:
Potugis sampai di Pulau Timor.
1518:
Sebuah naskah berbahasa Sunda memberi istilah tulis untuk batik.
1522:
Utusan Gubernur Portugis di Malaka, Henrique Leme mendapat izin Pajajaran untuk mendirikan benteng di Sunda Kalapa.
Banten minta pertolongan Portugis melawan Demak.
1524:
Nurullah (Fatahillah) menyebarkan Islam di Pajajaran.
Penguasa Demak mulai menggunakan gelar Sultan.
1526:
Portugis mendirikan benteng di Timor.
1527:
Majapahit runtuh.
Walisongo menyebarkan Islam.
Portugis datang ke Sunda Kalapa, tetapi diusir oleh Fatahillah. Fatahillah mengganti Sunda Kalapa menjadi Jayakarta.
1529:
Raja Portugis dan Spanyol sepakat Maluku jadi milik Portugis, sementara Filipina untuk Spanyol.
1546:
Misionaris Katolik Franciscus Xaverius menjelajahi Morotai, Ambon, dan Ternate.
1577:
Ki Ageng Pamanahan mendirikan Kotagede.
1580:
Penulis mistik besar Aceh, Hamzah Fansuri menulis  Asrarul Arifin, Syarabul Asyikin, dan Al-Muntahi.
1581:
Ki Ageng Pamanahan menguasai Mataram untuk menggenapi janji Joko Tingkir.
1583:
Pementasan pertama wayang gedong pada era Sultan Hadiwijaya di Kesultanan Pajang.
1596:
Ekspedisi Belanda pimpinan Conelis de Houtman tiba di Banten.

1600
1600:
Elizabeth I of England meresmikan East India Company.
Bukhari menulisTajus Salatin (Mahkota Raja-raja). Isi buku sering disejajarkan dengan Il Principe, karya  Machiavelli (Italia).
1602:
Pengusaha-pengusaha Belanda membentuk  Vereenigde Oost-Indische Conpagnie (VOC).

1611:
VOC mendirikan pos di Jayakarta.
1615:
Koran Memorie der Nouvelles terbit atas perintah Gubwernur Jenderal JP Coen. Cikal bakal Koran di Nusantara walau masih ditulis tangan.
1617:
VOC mendirikan sekolah pertama untuk warga Eropa di Jayakarta.
1619:
VOC mengubah Jayakarta menjadi Batavia, sebagai kenangan  untuk Uni Provinsi-provinsi Nederland (Republik Bataaf) yang melawan pendudukan Spanyol.
Kecuali yang berasal dari Eropa, VOC mengelompokkan penduduk Batavia berdasarkan ras, asal daerah, dan pekerjaan.
1620:
VOC memberi hak istimewa  kepada Siauw Bing Kong dan Gouw Tjai untuk menimbang barang. Subkontrak pertama VOC kepada kelompok non-Eropa.
1621:
De Tragedie van Banda. Banda Neira dihancurkan oleh VOC dalam pertempuran selama dua minggu.
1624:
Sultan Agung menghancurkan Madura. Sebagian besar penduduknya dipindah ke Jawa.
1625:
Surabaya dihancurkan oleh Sultan Agung.
1628:
Serangan pertama Mataram ke Batavia.
1629:
Serangan kedua Mataram ke Batavia.
Tanaman tebu diperkenalkan di Banten.
1640:
Nuruddin al-Raniri menulis Bustan al-Salatin (Taman Raja-raja).
Perdebatan tentang paham Islam  antara Nuruddin al-Raniri (paham ortodoks) melawan Hamzah Fansuri dan Syamsuddin  Sumatrani dari Pasai (paham wujudiyah).
1641:
Musik keroncong mulai berkembang di Batavia.
Pertama kali istilah batik muncul dalam literatur Eropa di Daghregister, Batavia.
1645:
Sultan Agung membangun makam Raja Mataram di Imogiri.
1648:
Pementasan pertama wayang klitik.
1650:
Phoa Bing Ham menyudahi pembangunan  Molenvliet (sekarang Gajah Mada), di Batavia.
1651:
Sekolah Latin di Batavia dengan sistem in de kost (numpang tinggal).
1659:
Tjitboek (semacam almanak) karya Kornelis Pijl, buku pertama yang dicetak di Batavia.
1663:
VOC memilah warga Ambon menjadi Ambon Islam dan Ambon Kristen. Kedua kelompoik diperlakukan berbeda.
Ulama Aceh, Abdurrauf Singkel menyelesaikan Mir’at  at-Tullab.
1668:
Industri percetakan mulai berkembang di Jawa.
1669:
VOC memperkenalkan kopi Caffea Arabica  di Jawa.

1700
1709:
Gubernur Jenderal Van Hoorn pulang ke Belanda dengan membawa harta hasil korupsi selama berkuasa di Batavia. Korupsi merajalela karena pelaku tidak dihukum.
1719:
Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon mewajibkan warga non-Eropa menyembah sambil jongkok jika berpapasan dengan petinggi VOC. Warga Eropa hanya diwajibkan menundukkan kepala.
1735:
Kantor arsip VOC berdiri di Batavia.
Pasar Tanahabang di Batavia berdiri.
1737:
VOC mendirikan sekolah untuk anak-anak Cina miskin.
1740:
De Chinezenmoord, pembantaian warga Cina di Batavia. Sekurangnya 10.000 orang tewas.
1743:
Gubernur Jenderal Van Imhoff mendirikan Academie der Marine (Sekolah Maritim).
1744:
Surat Kabar Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementes terbit pada bulan Agustus. Koran itu sering disebut sebagai koran pertama yang dicetak walaupun pada 1712 sudah ada koran yang terbit di Batavia. Dua tahun kemudian Bataviasche Nouvelles dilarang terbit oleh pemerintah.
1746:
Kantor pos pertama di Batavia.
Katalog Bataviasche Apotheek berisi daftar obat tradisional yang digunakan di Batavia terbit.
1749:
Parlemen Belanda (Staten Generaal) menunjuk Raja Willem IV  sebagai penguasa tertinggi VOC.
1750:
Alat penyosoh gabah mekanik yang bertenaga dua-tiga ekor lembu, berkapasitas    150 kg beras/hari diperkenalkan untuk mengganti lesung tradisional (30 kg/hari).
1755:
Perjanjian Giyanti membagi Mataram menjadi Kasunanan (Surakarta) dan Kasultanan (Yogyakarta).
1756:
Hamengkubuwono I pindah ke Keraton Ngayogyakarta.
1759:
VOC memberi perlakuan khusus kepada Cina Peranakan (Geschoren Chineezen) supaya tidak membaur dengan Bumiputera (Inlanders). Tetapi, kedua kelompok malah semakin membaur.
1760:
Pementasan pertama wayang orang.

1778:
Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Perhimpunan Batavia untuk Kesenian dan Ilmu Pengetahuan) berdiri.
1786:
Panduan wisata pertama karya Hofhout terbit.
1797:
Nederlands Zendelinggenootschap (Perserikatan Misionaris Nederland) berdiri.
1799:
Pada 31 Desember VOC bubar setelah dinyatakan bangkrut oleh Pemerintah Nederland. Sebanyak 40 kelompok masyarakat bentukan VOC di Batavia melebur hingga tinggal kelompok Eropa, Cina, dan Bumiputera. Dari 128.000 penduduk Batavia, hanya 600 orang dari golongan Eropa.

1800
1800:
Istilah djagoeng untuk Zea mais muncul dalam Plakaatboek, dipetik dari kata “jawa agung” atau “jawawut besar”.
1808:
Daendels memulai pembangunan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) Anyer-Panarukan.
Pembangunan pangkalan angkatan laut di Surabaya.
1810:
Koran Bataviasche Koloniale Courant terbit atas dorongan Daendels. Koran pertama yang memuat iklan dan bisa dianggap cikal bakal koran modern di Hindia-Belanda.
1811:
Belanda menyerah kepada Inggris di Tuntang. Thomas Stamford Raffles mulai berkuasa di Batavia. Raffles mengelompokkan penduduk jadi dua, Eropa dan Bumiputera.
Yogyakarta dan Surakarta menyewakan tanah kepada swasta, meniru cara Daendels.
1813:
Raffles memperkenalkan pajak tanah (land-rent) untuk mengganti kewajiban menyerahkan hasil bumi warisan Belanda. Upaya itu gagal karena banyak penduduk buta huruf.
1814:
Tim peneliti Inggris melaporkan keberadaan Candi Borobudur dan Candi Prambanan ke Eropa untuk pertama kali.
Serat Centini mulai ditulis atas perintah KGPAA Amengkunagara III.
1815:
Gunung Tambora di Sumbawa meletus, melontarkan 80 km kubik materi vulkanik. Abu letupan menghalangi sinar matahari sehingga salju turun di utara AS pada musim panas, semacam efek musim dingin nuklir. Korban tewas 92.000 orang, sebagian besar karena kelaparan.
Sicietiet Harmonie jadi klab pertama di Batavia.
Raja Willem IV mengeluarkan UU Pemerintahan untuk Negeri Jajahan (Regingsreglement).
1816:
Inggris menyerahkan Hindia-Belanda kepada Belanda.
1817:
Raffles menerbitkan History of Java.
Caspar Georg Carl Reinwardt merancang Kebun Raya Bogor.
1818:
Sekolah rendah Eropa berbahasa Belanda untuk golongan Eropa, Timur Asing, dan Bumiputera terkemuka (Europeesche Lagereschool) berdiri di Batavia.
1819:
Tabung termometris pertama untuk vaksinasi tiba di Batavia dari London.
1820:
Afdeling voor Inlandse Zaken (Jawatan Urusan Bumiputera) berdiri.
1821:
Penyakit kolera mewabah di Jawa menyusul gagal panen padi.
Schouwburg teater Batavia berdiri.
1823:
Percetakan swasta pertama di Hindia-Belanda.
1824:
Traktat London, 17 Maret. Semenanjung Malaka jadi milik Inggris, sementara Riau milik Belanda.
Nederlandsche Handel-maatschappij-NHM (Perusahaan Dagang Negeri Belanda) berdiri.
Sekolah kejuruan Instituut voor de Opvoeding van Jonge-Jufvrouwen untuk wanita golongan Eropa berdiri.
1825:
Perang Jawa antara Diponegoro melawan Belanda berkecamuk sejak 20 Juli sampai 23 Maret 1930. Belanda tidak sanggup menutup biaya perang sebesar 20 juta gulden hingga tertarik dengan gagasan  Cultuurstelsel (Tanam Paksa).
1826:
Bibit teh dari Jepang ditanam di Kebun Raya Bogor.
1830:
Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch memulai Tanam Paksa di Jawa (kecuali Surakarta dan Yogyakarta), Sumatra Barat, dan Sulawesi Utara. Aturan wajib kerja 66 hari untuk petani molor sesuka hati penguasa.
Pelat cetak pertama untuk huruf Jawa.
Kapal uap pertama singgah di Nusantara.
Koninklijk Nesderlands Indische Leger-KNIL (Tentara Kerajaan Hindia-Belanda) berdiri pada 4 Desember.
1832:
Institut Bahasa Jawa (Instituut voor de  Javaansche Taal) di Surakarta atas prakarsa Nederlands Zendelinggenootschap.
1833:
Istilah rupiah mulai dipakai untuk mata uang yang beredar.
1834:
Sekolah pendidikan guru (Kweekschool) swasta pertama di Ambon.
1836:
Regeringsreglement (RR) 1836 menghapus pasal tentang pendidikan rakyat dari RR sebelumnya. Bosch yakin Tanam Paksa tidak memerlukan rakyat terdidik.
1837:
Gubernur Jenderal Dominique Jacques de Eerens mewajibkan pegawai Belanda di Nusantara punya ijazah bahasa Melayu dan satu bahasa Nusantara.
1840:
Pustokorojo Purwo  oleh Ronggowarsito.
Babad Giyanti oleh Josodipuro.

1841:
Hoei membuka perkebunan teh di Bagelen.
FJH Baijer mendirikan bengkel mesin modern swasta pertama di Surabaya.
1842:
J Munnich membuat foto Istana Gubernur Jenderal di Batavia. Foto pertama di Jawa.
1843:
Kelaparan di Cirebon akibat Tanam Paksa.
1846:
Wabah penyakit berkecamuk di Jawa sampai 1850.
Raja Ali Haji Gurindam Dua Belas.
1848:
Pohon sawit (Elaeis guinaeensis) ditanam untuk pertama kali di Bogor.
Keputusan Raja Nederland tanggal 30 September 1848 Nomor 95 tentang sekolah dasar negeri untuk golongan Bumiputera.
1849:
Abdullah bin Abdukl Kadir Munsyi mengeritik orang Melayu yang mengabaikan bahasa sendiri lewat Hikayat Abdullah.
N.V. Oost Borneo Maastchappij membuka tambang batubara pertama di Pengaran, Kalimantan Timur.
1850:
Natuurkundige Vereeniging in Nederlandsch-Indie (Perkumpulan Ilmu Alam Hindia Belanda).
Kelaparan di Jawa akibat Tanam Paksa. Penduduk Jawa sudah merosot 60% akibat Tanam Paksa dan wabah.
Batik dengan teknik cap mulai diproduksi.
Vaksinasi cacar di Hindia Belanda dilakukan oleh mantra kesehatan yang beragama Islam.
1851:
Sekolah Dokter Jawa (School voor Inlandsche Geneeskundigen) di Batavia.
Sekolah pendidikan guru negeri (Kweekschool) pertama di Surakarta.
1852:
Bibit singkong dari Suriname ditanam di Bogor.
1853:
Pabrik pengurai gula dan sirup pertama berdiri di Jawa.
1854:
Kina mulai ditanam di Priangan oleh Hasskarl.
Gulden menjadi mata uang tunggal di Hindia Belanda.
Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (1796-1854), merintis gaya penulisan “aku”.
Regeringsreglement 1854 memilah penduduk Hindia Belanda menjadi Eropa, Timur Asing (Cina, Moor, Arab), dan Bumiputera.
1855:
Bromartani, Koran berbahasa dan beraksara Jawa pertama.
1856:
Saluran telegraf pertama Batavia-Buitenzorg (Bogor).
Sekolah kejuruan (Ambachtsschool) swasta pertama di Batavia berdiri.
1857:
Pelukis Kerajaan Belanda, Raden Saleh Sjarief Bestaman menyelesaikan lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro yang merupakan revisi atas lukisan J.W. Piene-man. Adegan penangkapan diubah sedemikian rupa sehingga mencerminkan antipati Raden Saleh terhadap penindasan Belanda.
1859:
Pemerintah Belanda melarang perbudakan di Hindia Belanda.
Belanda dan Inggris menetapkan batas Kalimantan di sebelah barat.

1860:
Douwes Dekker menerbitkan Max Havelaar of De Koffivellingen der Nederlandsche Handelmaatschappy (Pelelangan Kpi dari Maskapai Dagang Belanda) atau Max Havellar, dengan nama samara Multatuli dari bahasa Latin yang artinya “saya telah banyak menderita”.
Hindia Belanda membuka impor beras.
Sekolah menengah negeri Gymnasium Willem III untuk golongan Eropa di Batavia.
1862:
Tanam paksa lada berakhir.
1864:
Prangko Hindi9a Belanda pertama.
Tanam paksa cengkeh dan pala berakhir.
Belanda mengadakan riset penanaman karet di Jawa dan Sumatra.
Jalur kereta api Semarang-Tanggung diresmikan.
1865:
Tanam paksa nila, teh, dan kayu manis berakhir.
Belanda memperkenalkan tembakau di Deli, Sumatra.
Sekolah Raja (Hoofdenschool) berdiri di Tondano.
1866:
Tanam paksa tembakau berakhir.
1867:
Sekolah Menengah Atas (HBS- Hogere Burger-school) untuk Eropa dan bumiputera terkemuka.
1868:
Belanda membuka tambang minyak di Cirebon. Penambangan minyak pertama di Jawa.
1870:
Pemerintah mengeluarkan Undang-undang Gula (SuikerWet) dan Undang-undang Agraria (Agrarische Wet).
Swastanisasi di sector pertanian mulai berkembang.
Saluran kabel telegraf bawah laut Batavia-Singapura.
Krisis kop[i di Jawa.
1871:
Traktat Sumatra membatalkan penghormatasn Belanda atas kedaulatan Aceh.
Undang-undang tentang Pendidikan di Hindia Belanda.
1872:
Benjamin Frederick Matthes menerbitkan jilid pertama buku Sureq I La Galigo dalam aksara Bugis. Penyusunnya adalah Arung Pancana Toa.
1873:
Perang berkecamuk di Aceh sampai 1903.
Nederlandsch-Indische Spoorwegsmaatschappij (Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda) berdiri.
1875:
Haji Djamari memperkenalkan rokok kretek. Nama “kretek” diambil dari suara cengkeh terbakar “kretek…kretek…”.

1876:
Karet mulai ditanam di Jawa.
Sekolah Rendah Pertama untuk wanita golongan Eropa di Batavia.
1877:
Artikel Pieter Brooshoof di emarangsche Courant berjudul Geef Indie wat Indies is (Kembalikan kepada rakyat Hindia Belanda apa yang merupakan miliknya).
1878:
Tanam paksa gula berakhir.
1880:
Koelie Ordonnantie (Peraturan Kuli) keluar. Majikan boleh menghukum kuli yang dikontrak bila perjanjian kontrak dilanggar.
Pangkalan angkatan laut dibangun di Tanjungpriok.
1882:
Hama menghancurkan tanaman tebu di Jawa.
1883:
Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus. Ledakannya setara 5.000 megatos bom hidrogen. Gelombang pasang (tsunami) setinggi 30 meter menerpa pesisir Lampung dan Banten. Korban tewas setidaknya 36.000 jiwa.
1884:
Krisis gula tebu di Jawa.
Ekspor kopra pertama dari Jawa.
Lim Kim Hok menerbitkan buku Tatabahasa Melayu, pertama yang dibuat oleh non-Belanda.
1885:
Penambangan timah di Bangka dan Belitung, dan minyak bumi di Langkat, Sumatra.
1886:
Dr. Eykman mendirikan Laboratorium Anatomi Patologis dan Bakteriologi.
1887:
Krisis ekonomi melanda Jawa.
1890:
Dordtsche Petroleum Mij. Berdiri untuk mengelola lading minyak di Rembang, Surabaya, Cepu.
1891:
Belanda dan Inggris menetapkan batas Kalimantan di sebelah timur.
Eugene  Dubois menemukan fosil Pithecanthropus erectus di Trinil.
1896:
Seruan Ir. Hendrikus Hubertus van Kol, Geen roof meer ten bate van Nederland (Berhentilah merampok Hindia Belanda demi kepentingan Nederland).
1898:
Belanda membujuk uleebalang di Aceh melawan pemimpin Islam.
Lapangan golf pertama dibangun di Surabaya.
Indische Bond, perhuimpunan Indo berdiri.
1899:
Conrad Theodor van Deventer menulis Een Eereschuld (Utang Budi) di De Gids.
1900
1900:
Sekolah Rendah di Bandung, Magelang, dan Probolinggo untuk mempersiapkan Bumiputera sebagai pegawai.
Tiong Hoa Hwee Koan, perhimpunan Tionghoa berdiri.
Pemutaran film bisu pertama di Batavia pada awal Desember.
1901:
Ratu Wilhelmina mengumumkan Poliitik Etis untuk Hindia Belanda. Nama dinukil dari tulisan Brooshoolf Die Etische Koers in de Koloniale Politiek.
Ejaan Van Ophuysen berlaku.
Dinas Arkeologi berdiri untuk mengurus candi di Jawa.
Pengalihan Tata Niaga Candu (Opium Regie) ke tangan pemerintah mendorong pengusaha Tionghoa menanamkan modal di sector lain.
1902:
Belanda mengakhiri larangan naik haji.
School Tot Opleiding Van Indische Artsen – STOVIA (Sekolah Dokter Bumi Putera) berdiri.
Volkscredietwezen (Jawatan Pegadaian dan Sistem Perkreditan Rakyat) berdiri.
1903:
Landbouwschool (sekolah pertanian) pertama berdiri.
UU tentang desentralisasi kekuasaan (kleine decentraliastie) di Hindia Belanda.
1904:
Belanda dan Portugis membagi Timor menjadi dua.
Johannes B van Heutsz menjadi Gubernur Jenderal. Tak lam,a kemudian mengganti Lange Verklaring (Perjanjian Panjang) dengan Korte Verklaring (Perjanjian Pendek).
1905:
Serikat Buruh  pertama untuk pekerja pembangunan jaringan kereta api berdiri.
Jamiyat Cheir, organisasi warga keturunan Arab pertama, berdiri di Batavia.
Jepang mengalahkan Rusia. Runtuh sudah mitos tentang bangsa Eropa yang tak terkalahkan.
1906:
Pembukaan perkebunan karet di Sumatra.
Majalah olahraga Hindia Belanda Indische Sport terbit.
Technnisch Onderwijs (sekolah teknik) Konongin Wilhelmina School berdiri di Batavia.
1907:
Novelis Bumiputera pertama, Tirto Adhi Soerjo mendirikan Koran dagang berbahasa Melayu, Medan Prijaji dengan modal F 75.000 yang berasal dari pemodal Bumiputera. Pada 1903, Torto Adhi Soerjo sudah menerbitkan Koran Soenda Berita, tetapi tidak berumur panjang karena tidak sukses sebagai bisnis.
Volksschool (sekolah desa) berbahasa daerah kelaas dua pertama.
1908:
VSTP (Serikat Buruh Jalan Kereta Api) menerima anggota Bumiputera.
Bapai Pustaka berdiri.
JM Gantvoort mendirikan biro pariwisata yang resmi di Batavia.
Hollandsch Chineescheschool, sekolah rendah untuk golongan Timur Asing dengan bahasa pengantar Belanda berdiri.
Budi Oetomo berdiri.
Indische Vereeniging berdiri di Nederland.
1909:
Kliring antarbank pertama.
Sekolah Hukum (Rechtsschool)  pertama berdiri.
1910:
Ekspedisi Belanda di Pulau Komodo melaporkan keberadaan Varanus  komodoensis.
Koran berbahasa Cina Sin Po  terbit.
Saluran telepon pertama Batavia-Surabaya.
1911:
Abendanon menerbitkan surat-surat RA Kartini dengan judul Door Duis-ternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
1912:
Serika Dagang Islam didirikan  oleh Kiai Haji Samanhudi.
Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah.
Keuangan Hindia Belanda dan Nederland mulai dipisah.
Indische Partij didirikan oleh Douwes Dekker, Tjipto Mangunkuusumo, dan Ki Hajar Dewantoro dengan cita-cita: “Hindia Bebas dari Nederland”. Mereka menggunakan teknik penggalangan massa secara besar-besaran (rally massa) pada hari deklarasi. Rally massa pertama di Hindia Belanda.
JJ Pangemanan mendirikan organisasi pemuda Roekoen Minahasa.
1913:
Kartini Fonds didirikan di Belanda untuk membantu pendidikan perempuan di Jawa.
Soewardi Soerjaningrat menulis Als in eens Nederlander was (Seandainya Saya Warga Negara Belanda) di De Express.
1914:
MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) untuk Bumiputer dan Timur Asing.
Solah Bumiputera berbahasa pengantar Belanda Hollandsch Inlandscheschool (HIS) pertama untuk golongan Bumiputera dari bangsawan, pegawai negeri, dan tokoh terkemuka.
HJFM Sneevliet mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV).
Organisasi pemuda Pagoejoeban Pasoendan terbwentuk di Batavia.
Perdebatan antara Soetatmo Soeriokoesoemo yang mempertahankan paham nasionalisme Jawa melawan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang membela paham nasionalisme Hindia.
Candi Borobudur mulai direstorasi.
1915:
Sekolah menengah umum  Algemeene Middelbareschool (AMS) pertama. Bagian A untuk kebudayaan, bagian B untuk pengetahuan alam.
Organisasi pemuda se-Jawa mendirikan Tri Koro Dharmo. Suku Jawa demikian domonan sampai-sampai pelajar Sunda dan Madura enggan bergabung.
1916:
Staten-Generaal di Belanda mengizinkan pembentukan Volksraad di Hindia Belanda.
1917:
Organisasi wanita Aisyiyah berdiri.
Organisdasi pemuda se-Sumatra Jong-Sumatranen Bond berdiri.
Indische Vereeniging, Chung Hwa Hui, dan Perhimpunan Indologi membentuk Perserikatan Pelajar Indonesia (Indonesische Verbond van Studeerenden).
Gerakan kepanduan De Nederlandsch-Indische Padvinders berdiri pada 4 September.
Tanam paksa kopi berakhir.
1918:
Volksraad bersidang. Sebanyak 36 % anggota adalah Bumiputera. Masa demokrasi terbatas.
Organisasi pemuda Sarekat Soematra didirikan di Batavia.
Tri Koro Dharmo mengubah nama jadi Jong Java.
Organisasi Jawa Dwipa berkampanye menentang feodalisme Jawa. Pemakaian bahasa Jawa kromo  dianjurkan diganti Jawa ngoko.
Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum mengumumkan “Janji 18 November” (November Belofte) tentang pemberian otonomi kepada Hindia Belanda.
TK Suprana mendirikan usaha “Djamoe Djago” di Wonigiri dan memperkenalkan jamu berwujud serbuk. Awal industri jamu di Indonesia.
“Peristiwa Garut”. Haji Hasan dan keluarga dibunuh polisi setelah menolak menyerahkan padi kepada penguasa. Sejak itu penguasa Hindia Belanda mulai menghadapi pergerakan kebangsaan dengan kekerasan.
Polisi Rahasia (Algemeene Recherchedients) dibentuk.
Kerusuhan antar-suku meletus di Kudus pada 13 Oktober. Persaingan bisnis antara pengusaha rokok kretek Bumiputera dengan Tionghoa jadi salah satu sebab.
Eksperimen pertama untuk pemancar radio di Malabar, Jawa Barat.
1919:
KLM membuka penerbangan Amsterdam-Batavia.
1920:
Technische Hoogeschool (sekarang Institut Teknologi Bandung) berdiri di Bandung.
M Yamin, kumpulan puisi Tanah Air.
Organisasi pemuda Persarikatan Madoera berdiri di Surabaya.
Organisasi pemuda Sarekat Ambon berdiri di Semarang.
Lakon ketoprak politik Babad Ki Ageng Mangir oleg Tjipto Mangoenkoesoemo. Kesenian ketoprak mulai berkembang sebagai media pergerakan kebangsaan.
ISDV mengubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia.
1921:
Organisasi pemuda Persatuan Timor berdiri di Makasar.
Orservatorium Boscha berdiri di Lembang.
1922:
Marah Roesi menerbitkan Sitti Noerbaja.
Ki Hadjar Dewantoro mendirikan Nationaal Onderwijs Taman Siswa.
Indische Vereeniging berubah menjadi Indonesische Vereeniging.
1923:
Lembaga Pasteur pindah dari Batyavia ke Bandung.
Organisasi pemuda Kaoem Betawi berdiri di Batavia.
Pernyataan asas Indonesische Vereeniging tentang: kedaulatan rakyat dalam pemerintahan bangsa Indonesia, percaya pada kemampuan sendiri, dan persatuan.
1924:
Layanan pos udara pertama dari Batavia ke Amsterdam.
Sekolah Hukum Tinggi (Rechts Hogeschool) berdiri di Jakarta.
Buku Gedenkboek Indonesische Vereeniging 1908-1923 terbit di Nederland. Pada sampul luar terdapat gambar bendera merah-putih ddan di bagian tengah  ada kepala banteng.
1925:
BRV (Bataviasche Radio Vereeniging) pemancar radio pertama di Batavia berdiri di Waltevreden, di Hotel Des Indes.
Perhimpunan Indonesia (PI) berdiri.
Jong Islamieten Bond berdiri.
Pementasan pertama wayang kancil oleh Bo Liem.
1926:
Kiai Haji Hasjim Asjari mendirikan Nahdatul Ulama.
Loetoeng Kasaroeng, film bisu pertama yang diproduksi di Hindia Belanda.
Kiai Iljas memperkenalkan pelajaran huruf latin di Tebu Ireng.
Rencana PKI memberontak terbongkar setelah kawat rahasia dari Abdoelmoetalib jatuh ke tangan pemerintah. Pemberontakan pertama melawan kolonialis Belanda oleh partai politik.
Pidato Mohammad Hatta selaku Ketua PI “Struktur Perekonomian Dubnia dan Pertentangan Kekuasaan” (Ecinimische weerldbouw en machtstegenstellingen).
“KOnvensi Hatta-Samaoen”. Intinya, PI sebagai partai rakyat kebangsaan Indonesia dan PKI mengakui kepemimpinan PI.
1927:
Soekarno mendirikan PNI (Perserikatan Nasional Indonesia).
Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Poliitik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) didirikan, dan diresmikan pada Juli 1928. Semua organisasi menerima cita-cita kebangsaan di atas kedaerahan, lapisan social, dan agama.
1928:
Poeteosan Congres Pemoeda Pemoeda Indonesia: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Lagu Indonesia Raya dilantunkan oleh WR Soepratman.
Saluran telepon internasional Batavia-Belanda dibuka.
Indonesie Vrij, pledoi Hatta di Nederland.
Dr. Soetomo, Dr. Samsi, dan Ir. Anwari mendirikan bank untuk orang Indonesia bernama “Bank Nasional Indonesia” di Surabaya.
1929:
Kelompok pandu bergabung dalam “Persaudaraan Antara Pandu Indonesia” kecuali Hizbul Wathan.
Pertunjukan film “bersuara” pertama di Princesse Schouwburg, Surabaya.
1930:
“Indonesia Menggugat”, pledoi Soekarno di Pengadilan Negeri (Landraad) Bandung.
1931:
Kioninklijke  Nederlandsch Indische Luchtvaart Mij – KNILM (Maskapai Penerbangan Kerajaan Hindia Belanda) berdiri.
1932:
Soekarno merumuskan konsep “Nasionalisme-Marhaenistis”.
1933:
Poedjangga Baroe oleh Sutan Takdir Alisjahbana.
Ter Haar, Oppenoorth, von Koeningswald menemukan fosil  Pithecantropus soloensis di Ngandong, Blora.
Awak kapalasal Eropa dan Indonesia di kapal  De Zeven Provicien memberontak karena penurunan gaji, tetapi pers asing mengaitkan dengan pergerakan kemerdekaan.
Kelompok pergerakan kebangsaan mendirikan Solose Radio Vereeniging (SRV).
1936:
Kereta api malam pertama dengan trayek Batavia-Surabaya. Bis untuk umum mulai beroperasi.
“Petisi Soetardjo”. Soetardjo Kartohadikoesoemo mengajukan petisi ke Volksraad berisi permohonan kepada Ratu dan Staten General supaya menetapkan konferensi untuk merumuskan pemberian otonomi bertahap kepada Hindia Belanda antara wakil Hindia Belanda dan Nederland dengan kedudukan sederajat.
1937:
Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi) berdiri. Ketua: Agus Djaja, Sekretaris: Soedjojono.
Kantor Berita Antara berdiri.
Kelompok “Dardanella” tampil di Rangoon, di hadapan Jawaharlal Nehru. Rombongan stambul Indonesia pertamayang tampil di mancanegara.
1938:
Orang asing pertama sampai di Lembah Baliem, Irian.
Armijn Pane menerjemahkan Door Duisternis Tot Lich (Habis Gelap Terbitlah Terang) ke bahasa Melayu.
Organisasi radio non-pemerintah “Perikatan Perkumpulan  Radio Ketimuran” (PPRK) diasahkan sebagai badan hukum.
1939:
Gabungan Politik Indonesia (GAPI) berdiri.
1941:
Von Koeningswald menemukan fosil Meganthropus palaeojavanicus.
1942:
Jepang menduduki Indonesia.
Chairil Anwar menulis puisi Nisan.
1943:
Jepang menyekap misionaris Kristen asal Eropa. Agama Kristen mulai berkembang dengan corak Nusantara.
Tan Malaka menenerbitkan Madilog (Materialisme-Dialektika-Logika).

1944:
Istilah “rupiah” mulai dipakai untuk menggantikan “gulden” sebagai nama mata uang di Indonesia.
1945:
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Tentara Keamanan Rakyat dibentuk.
Akademi Militer Tangerang berdiri.
Perang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia mulai berkecamuk di Nusantara.
1946:
Ibu kota RI pindah ke Yogyakarta.
Kabinet RI dirombak dengan tambahan Departemen Agama.
Oeang Republik Indonesia menjadi mata uang RI.
Persatuan Wartawan Indonesia berdiri.
1947:
Ejaan Soewandi berlaku.
1948:
Idrus menulis Kesusastraan Indonesia.
Pekan Olahraga Nasional pertama di Solo.
PKI memberontak di Madiun.
1949:
Konferensi Meja Bundar.
Universitas Gadjah Mada berdiri di Yogyakarta.
Presiden RI Soekarno kembali ke Jakarta sebagai Presiden Reopublik IndonesiaSerikat (RIS).
Nilai tukar rupiah dipatok Rp 3,8 per dolarAS.
1950:
“Gunting Sjafruddin”. Semua uang NICA dan De Javasche Bank digunting. Potongan sebelah kiri jadi alat pembayaran yang sah  dengan nilai separuh dari nilai awal.
Usmar Ismail mendirikan Perfini dadn membuat film Long March Siliwangi dan Enam Djam di Djogdja.
NV Garuda Indonesia Airways berdiri.
Pemerintah mengharuskan wanita Bali berpakaian lebih lengkap bila berada di tempat umum.
1951:
Garuda Pancasila menjadi lambang negara RI.
1952:
Nilai tukar rupiah ditetapkan Rp 11,40 per dolar AS.
1953:
Agama mulai jadi mata pelajaran di sekolah.
Per 1 Juli De Javasch Bank menjadi Bank Indonesia.
1955:
Konferensi Asia Afrika di Bandung.
Pemilihan Umum multipartai untuk memilih anggota Parlemen dan Konstituante. Sebanyak 39 juta pemilih memberikan suara. Awal demokrasi parlementer.
1957:
SOB (Staat van Oorlog Beleg). Negara dinyatakan dalam keadaan darurat.
1958:
Indonesia merebutPiala Thomas, lambang supremasi bulu tangkis dunia beregu putra untuk pertama kali.
Jenderal AH Nasution mengemukakan gagasan tentang peran social-politikABRI dalam Dies Natalis Akademi Militer (AMN).
1959:
Ejaan Melindo.
Nilai rupiah merosot 90% setelah pemerintah memangkas nilai rupiah (sanering) per 24 Agustus.
Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Era Demokrasi Terpimpin.
1960:
Lima dari delapan anak-anak Koeswoyo mendirikan Kus Bros. Mereka adalah Koesjono (Jon, 27 tahun), Koestono (Tony, 23), Koesnomo (Nomo, 20), Koesyono (Yon, 17), dan Koesroyo (Yok, 16). Pada 1963 berubah menjadi Kus Bersaudara, alalu Koes Bersaudara (1965), dan akhirnya Koes Plus (1969).
Music dangdut mulai berkembang. Kelompok yang memainkannya dikenal sebagai “Orkes Melayu”.
1962:
Took Serba Ada Sarinah berdiri di Jl MH Thamrin Jakarta. Muda-mudi memanfaatkan Sarinah sebagai ajang cuci-mata.
Siaran pertama Televisi Republik Indonesia.
1963:
Pemerintah memperkenalkan celana pendek  untuk penduduk Irian Jaya.
1964:
Pemerintah menetapkan nilai rupiah Rp 250 per dolar AS.
1965:
Istilah “mahasiswa” mulai menggantikan “pemuda” dalam perbincangan politik.
“Pembantaian Uang”. Rp 1.000 dinilai Rp 1.
“Gerakan 30 September”. PKI dituduh sebagai pelaku gerakan.
1966:
Soekarno menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto lewatSurat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Namun naskah asli Supersemar tidak jelas rimbanya.
Anak-anak muda membuat stasiun pemancar radio amatir, cikal bakal radio siaran swasta.

1967:
Soeharto menjadi Presiden RI kedua.
UU PMA berlaku, disusul UU PMDN. Keduanya menguntungkan pemodal baru, tidak kepada pemodal lama. Pemodal lama, yang umumnya pribumi, cemburu kepada pemodal baru yang umumnya Tionghoa.
1968:
Taman Ismail Marzuki didirikan oleh Gubernur DKI Ali Sadikin dan beberapa seniman.
Rudy Hartono menyabet  gelar All England yang pertama.
1969:
Konsep Pelita (Pembangunan Lima Tahun) mulai dijalankan.
1970:
Penjadwalan kembali utang Indonesia. Pembayaran utang pokok mulai 1970 sampai 1999.
Nilai tukar rupiah ditetapkan Rp 378 per dolar AS.
Bahasa prokem mulai mewabah di Jakarta.
1971:
Nilai tukar rupiah menjadi Rp 415 per dolar AS menyusul pembebasan dolar AS dari ikatannya dengan emas berdasarkan aturan Bretton Woods.
1972:
Ejaan Yang Disempurnakan berlaku.
1973:
Perang di Timur Tengah memicu harga minyak bumi naik (oil shock).
Piala Citra dilombakan dalam Festival Film Indonesia di Jakarta.
1974:
Malapetaka Lima belas Januari (Malari).
Pembangunan pemukiman secara besar-besaran di Depok untuk kelas menengah. Era Perumnas dimulai.
Presiden Soeharto mencetuskan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Prasetya Pancakarsa) dan menjadi Ketetapan MPR  pada 1978.
1975:
Indonesia merebut Piala Uber, lambang supremasi bulutangkis dunia beregu putri.
Pasukan RI masuk ke Timor Timur.
1976:
Timor Timur jadi bagian RI.
Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) berdiri.
Roket Delta 2914 membawa Satelit Palapa A1 mengorbit bumi di 108 derajat Bujur Timur.
1977:
Bursa Efek Jakarta dibuka.
1978:
Indonesia menganut “Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali” per 15 November. Rupiah ditetapkan Rp 625 per dolar AS.
1979:
Oil Shock kedua.
1980: program “ABRI Masuk Desa” mulai dijalankan.
1981:
Pramoedya Ananta Toer menerbitkan Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, dua novel pertama dari Tetralogi. Novel ketiga Jejak Langkah (1985), dan keempat Rumah Kaca (1988).
1983:
Penembak Misterius (Petrus) membunuh preman-preman di pelosok Indonesia.
Nilai tukar rupiah ditetapkan  Rp 970 per dolar AS.
1984:
Kewajiban menggunakan Pancasila sebagai asas tunggal organisasi di Indonesia.
Bank Indonesia menerbitkan “Sertifikat Bank Indonesia”.
Kerusuhan di Tanjungpriok.
1985:
Indonesia menerima penghargaan FAO (Food ang Agriculture Organization) atas sukses swasembada beras.
Bank Indonesia memperkenalkan “Surat Berharga Pasar Uang”.
1986:
Nilai tukar rupiah Rp 1.644 per dolar AS.
1987:
Laporan tentang kasus HIV (human immunodeficiency virus)/ AID (acquired immunodeficiency syndrome) pertama di Indonesia.
Gedung bioskop dengan beberapa layar sekaligus (Cineplex) mulai berkembang.
“Gebrakan Sumarlin I”. Pemerintah mewajibkan empat BUMNmenarik deposito senilai Rp 1,3 trilyun untuk membeli SBI.
1988:
Becak dilarang beroperasi di Jakarta per April 1990 menurut Perda No.11/1988.
Paket Kebijakan 27 Oktober 1988. Salah satu butir memperkenankan bank swasta berdiri dengan modal disetor Rp 10 milyar. Jumlah bank tabungan segera melonjak jadi 220 dari 111.
1989:
Orang asing diizinkan masuk ke Timor Timur.
Siaran televise swasta pertama (RCTI).
1990:
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) berdiri.
1991:
Aparat keamanan menembaki pelayat di Santa Cruz, Timor Timur.
“Gebrakan Sumarlin II”. Pemerintah mewajibkan 12 BUMN menarik deposito senilai Rp 8 trilyun untuk membeli SBI.
1992:
Susy Susanti mempersembahkan medali emas  pertama  untuk Indonesia dari cabang bulu tangkis tunggal putri; kemudian disusul Alan Budikusumah untuk emas kedua dari cabang bulu tangkis tunggal putra pada Olimpiade Barcelona.
Tsunami setinggi 26 meter menyapu Flores. Lebih dari seribu orang tewas.
1994:
Usaha Internet Service Provider (ISP) mulai berkembang di Jakarta. Sampai 1995 setidaknya  ada 14.000 pemakai internet di Indonesia. Sebanya 10.000 orang di Jakarta, 1.000 orang di Bandung, dan 3.000 orang di Suirabaya.
Perrtemuan pemimpin negarta APEC di Bogor, mendeklarasikan perdagangan bebas mulai 2002.
1995:
Keputusan Presiden No 82-83 tahun 1995 tentang pembukaan lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan dengan dalih mempertahankan swasembada pangan. Proyek itu tidak hanya gagal, bahkan merusak struktur tanah gambut.

1996:
Kerusuhan di Jakarta (27 Juli), Situbondo (10 Oktober), Tasikmalaya (26 Desember), dan Sanggau Ledo (30 Desember).
Kasus HIV pertama pada bayi.
1997:
Kebakaran hutan melanda Kalimantan. Asap kebakaran menyebar ke negara tetangga.
Gagal panen di berbagai pelosok Nusantara karena El Nino dan La Nina.
Rupiah dibebaskan dari ikatan dengan dolar AS pada 14 Agustus jam 09.00. nasib rupiah diserahkan ke tangan pasar. Nilai tukar rupiah l;angsung melemah 10% pada hari itu juga. Awal krisis ekonomi.
1998:
Presiden Soeharto menandatangani Letter of Intent di hadapan Direktur IMF Michael Camdessus.
Nilai tukar rupiah mencapai Rp 16.000 per dolar AS pada Februari 1998. Masyarakat panik dan memborong barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Empat mahasiswa Universitas Tri Sakti, Jakarta, gugur tertembak setelah berdomontrasi.
Kerusuhan 13-15 Mei meletus di Jakarta dan Solo dengan sasaran suku Tionghoa.
Mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR menuntut Sidang Istimewa MPR. Presiden Soeharto mundur dari jabatan.  Bachruddin Jusuf Habibie menjadi Presiden RI ketiga.
Pemerintah mengumumkan 40 juta orang rawan pangan. Indonesia memerlukan impor beras 3,5 juta ton menurut FAO.
1999:
Pemilu pada 7 Juni. Pemilu kedua setelah 1955 yang dinilai terlaksana secara jujur dan adil. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memperoleh suara terbanyak.
Kiai Haji Abdurrahman Wahiod menjadi Presiden RI pertama yang terpilih lewat pemungutan suara. Calon presiden dari PDIP, Megawati Sukarniputri kalah suara, tetapi menang dalam pemilihan wakil presiden. Kerusuhan sempat meletus di Bali dan Solo menyusul kekalahan Megawati.
Timor Timut merdeka lewat referendum yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Adullah, Taufik, dkk. 1993. Film Indonesia Bagian I (1900-1950).Jakatra: Dewan Film Nasional.
Geertz, Clifford, 1963. Agricultural Involution: The Processes of Ecological Change in Indonesia.. University of California Press.
Lombard, Denys, 1996. Nusa Jawa Silang Budaya. Jakarta: Gramedia Putaka Utama.
Mestoko, Sumarsono, dkk. 1985. Pendidikan di Indonesia dari Jaman ke Jaman. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Moerdowo, RM. 1982. Wayang: It’s Significance in Indonesia Society. Jakarta: Balai Pustaka.
Pieter Creutzberg dan JTM van Laanen., 1987. Sejarqah Statistik Ekonomi Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Poesponegoro, m.d. dan Notosusanto, Nugroho, 1984. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Redaksi KPG, 1998 &1999. Illustration Database: Krisis Ekonomi, Jilid I sampai XII. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Simbolon, Parakitri T, 1995. Menjadi Indonesia I. Jakarta, Kompas.
Simbolon, Parakitri T, 1999. Pesona Bahasa Nusantara Menjelang Abad ke-21. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Smith, Edward C, 1983. Sejarah Pembreidelan Pers Indonesia. Jakarta: Grafiti Pres.
Soebagyo. 1977. Sejarah Pers Indonesia. Jakarta: Dewan Pers.
Tim Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976/1977. Sejarah Seni Rupa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tim Penulis LP3ES, 1995. Bank Indonesia: Dalam Kilasan Sejarah Bangsa. Jakarta: LP3ES.
Tim Redaksi, 1980. Ensiklopedi Indonesia Jilid 1-7. Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve.
Tim Redaksi, 1998. Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 1-18. Jakarta: Cipta Adi Pustaka.
Toa, Arung Pancana, 1995. I La Galigo; menurut naskah NBG 188. Jakarta: Djambatan.
Toer, Pramoedya A., dkk, 1999. Kronok Revolusi Indonesia Bagian I  (1945). Jakartya: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Toer, Pramoedya A. dkk, 1999. Kronik Revolusi Indonesia Bagian II (1946). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).
Zoetmulder, P.J. 1983. Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.
Majalah/Suratkabar:
Scientific American, Far Eastern Economic Review, National Geographic, Kompas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: